• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Framing Pemberitaan Isis (Islamic State Of Iraq And Syria) Pada Republika Online Dan Merdeka.Com Edisi September 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Framing Pemberitaan Isis (Islamic State Of Iraq And Syria) Pada Republika Online Dan Merdeka.Com Edisi September 2014"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

ONLINE DAN MERDEKA.COM EDISI SEPTEMBER

2014

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh

ZAIDATUL KHOIRONI

NIM : 1110051000134

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

SEPTEMBER 2014

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh: Zaidatul Khoironi

NIM: 1110051000134

Pembimbing:

PROGRAM STTJDI KOMT]NIKASI DAI\[ PEI{YIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAK\ilAH DAI\ ILMU KOMUIVKASI

T'NIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATTJLLAH

JAKARTA

20t5Mll436H

(3)

Skripsi berjudul ANALISIS

FRAMING

PEMBERITAAN ISIS (ISLAMIC STATE OF' IRAQ AND SYRIA) PADA REPUBLIKA ONLINE DAN MERDEKA.COMBDISI SEPTEMBER 2014 telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas

Ilmu

Dakwah dan

Ilmu

Komunikasi

UIN

Syarif

Hidayatullah Jakarta pada Rabu 27 i|l4.ei 2015. Skripsi ini telah diterima sebagai

salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam.

Jakarta,2T Mei2015

Sidang Munaqasyah

Anggota,

I

SJ

s

t976t1292009121001

Penguji II

19s80910

(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar

sfata

I di

UIN

Syarif

Hidayatullah Jakarla.

2.

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan

ini

telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

di

UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

3.

Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta,24 Mei

(5)

Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) pada

Republika Online dan Merdeka.Com Edisi September 2014.

Kelompok gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) belakangan ini makin menghebohkan dunia umat Islam di seluruh dunia, karena disebut-sebut akan menghancurkan Ka’bah. ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar Al-Bahgdadi pada tanggal 9 April 2013, menyusul terjadinya perang saudara di Irak dan Suriah. Isu terkait pemberitaan ISIS menjadi perhatian media massa, tidak terkecuali Republika Online dan Merdeka.Com.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana sudut pandang Republika Online dan Merdeka.Com terhadap isu pemberitaan ISIS? Bagaimana Republika Online dan Merdeka.Com membingkai isu pemberitaan ISIS ini dalam beritanya?

ISIS merupakan sebuah kelompok yang dianggap telah melakukan banyak aksi keji. Aksi kekejaman ISIS inilah yang telah menjatuhkan banyak korban jiwa. Republika Online memiliki sudut pandang yang berbeda dengan

Merdeka.Com. Republika Online menyebutkan bahwa sikap Republika Online

mengecam aksi keji yang dilakukan ISIS tersebut. Republika Online juga mengutip pendapat para tokoh-tokoh Negara seperti Perdana Menteri, Presiden, dan juru bicara Departemen Luar Negeri. Berbeda dengan Merdeka.Com, menyatakan adanya kontroversi, bentuk ketidakpahaman seseorang tentang bagaimana menghargai orang lain dengan baik. Merdeka.Com mengecam dan mewaspadai akan bahaya keberadaan ISIS tersebut.

Fokus penelitian ini adalah enam berita yang berkaitan dengan pemberitaan ISIS di Republika Online dan Merdeka.Com edisi September 2014. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dan pendekatan yang dipakai adalah kualitatif untuk menganalisa berita Republika Online dan Merdeka.Com

dengan menggunakan perangkat framing model Robert N. Entman yang menggunakan empat cara yakni problem identification, causal interpretation,

moral evaluation, dan treatment recommendation.

Hasil penelitian menunjukkan Republika Online cenderung melihat isu pemberitaan ISIS sebagai masalah hukum kaena menganggap aksi kekejaman ISIS ini merupakan pelanggaran hukum dengan menimbulkan banyak kerusuhan.

(6)

Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT. Dzat pencipta

alam semesta. Rasa syukur tiada henti penulis panjatkan kehadirat-Nya karena

berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

Sholawat serta salam juga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi besar

Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang

senantiasa istiqomah dalam menjalankan sunnahnya.

Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari arahan, bimbingan,

dorongan dan bantuan dari berbagai pihak yang penuh keikhlasan, baik fisik

maupun psikis, secara moril maupun materil yang banyak membantu dalam

penyusunan skripsi ini hingga selesai. Karena itu dalam kesempatan ini penulis

ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan

Ilmu Komunikasi. Bapak Dr. Suparto, M.Ed, Ph.D, selaku Wadek I, Ibu

Dr. Roudhonah, M.A selaku Wadek II, dan juga Bapak Dr. Suhaimi, M.Si

selaku Wadek III.

2. Bapak Rachmat Baihaky, M.A, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan

Penyiaran Islam, dan Ibu Fita Faturrokhmah, M.Si, selaku Sekretaris

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

3. Bapak Dr. Rully Nasrullah, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberi

(7)

Semoga ilmu-ilmu para Dosen dibalas dengan pahala yang tak terhingga.

5. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

yang telah membantu penulis dalam hal administrasi selama perkuliahan

dan penelitian skripsi ini.

6. Republika Online dan Merdeka.Com, khususnya kepada Bapak Maman

Sudiaman dan Bapak Pandusurya Wijaya, yang di sela kesibukannnya

menyempatkan diri untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini.

7. Orang tua penulis, Ayah Abdul Rokib dan Ibu Bunyanih, Nenek Hj.

Muhinah, Nenek Hj. Masturoh, Alm. Kakek H. Matrais, Kakek H. Ebun,

dan Paman terbaik penulis Abdul Khotib yang telah memberikan banyak

inspirasi, serta keluarga penulis lainnya yang amat dicintai. Terima kasih

atas pengorbanan yang tak ternilai, do’a yang tak henti, air mata serta

kasih sayang tulus yang diberikan hingga penulis mampu menyelesaikan

skripsi ini. Dan untuk kedua adik penulis Nazwa Nabila dan Ariyan

Abdillah yang selalu memberikan keceriaan kepada penulis disetiap

harinya.

8. Taufik Nurrahman, yang telah mendukung, mendampingi, menyemangati

tanpa kenal waktu dan selalu menjadi inspirasi penulis. Semoga kita terus

semangat bersama untuk kebaikan.

9. Sahabat-sahabat di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam angkatan

2010, khususnya rekan-rekan kelas E, Hilyatul Aulia, Firda, Zahra,

(8)

semoga persahabatan dan tali silaturrahmi kita akan terus terjalin. Terima

kasih atas dukungan dan semangatnya sehingga skripsi ini dapat selesai.

10.Keluarga besar KKN “INSTAN” Kampung Babakan, Garut 2013. Terima

kasih atas ilmu dan pengalamannya.

11.Sahabat-sahabat PRISMA (Persatuan Remaja Islam Masjid Jami’

Al-Marzukiyah), sahabat-sahabat Remaja Majelis Ta’lim Arrahmah, dan para

guru sesepuh serta jama’ah Majelis Ta’lim Al-Ikhlas yang telah

memberikan semangat, dorongan dan do’a yang tulus kepada peneliti

dalam menyelesaikan skripsi ini.

12.Teman-teman grup AMUNISI (Arabian Music Nuansa Islami), yang telah

memberikan keterbatasan sekaligus keleluasaan dan persahabatan

sekaligus persaudaraan.

13.Serta pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namun tidak

mengurangi rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada mereka semua.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, terdapat

banyak kekurangan dan kesalahan sehingga besar harapan penulis bagi segenap

pembaca untuk memberikan masukan yang lebih baik. Akhir kata, terima kasih

atas semua kerja samanya dan mohon maaf atas semua salah dan khilaf.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..

Jakarta, 24 Mei 2015

(9)

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 10

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

D. Metodologi Penelitian ... 11

E. Tinjauan Pustaka ... 15

F. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II KERANGKA TEORI A. Media Online ... 18

1. Definisi dan Kraketristik Media Online ... 18

2. Perbedaan Karakteristik Media Online dengan Media Mainstream ... 22

B. Berita sebagai Pembentuk Isu ... 23

1. Definisi Berita ... 23

2. Nilai Berita... 24

3. Jenis Berita... 26

4. Teori Agenda Media ... 30

C. Framing ... 36

1. Definisi Framing ... 36

2. Framing dalam Pemberitaan ... 39

3. Analisis Framing Model Robert N. Entman ... 42

BAB III GAMBARAN UMUM REPUBLIKA ONLINE DAN MERDEKA.COM A. Sejarah Singkat Republika Online... 47

(10)

4. Kanal Republika Online ... 52

5. Struktur Organisasi Republika Online ... 54

B. Sejarah Singkat Merdeka.Com... 55

1. Visi dan Misi Merdeka.Com ... 56

2. Kanal Berita ... 57

3. Struktur Organisasi Merdeka.Com ... 58

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Republika Online Edisi September 2014 ... 61

B. Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Merdeka.Com Edisi September 2014 ... 72

C. Analisis Perbandingan Framing antara Republika Online dan Merdeka.Com ... 82

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 89

B. Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 92

(11)

A. Latar Belakang Masalah

Kelompok gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) belakangan

ini makin menghebohkan umat Islam di seluruh dunia, karena disebut-sebut

akan menghancurkan Ka’bah.

ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar

al-Baghdady pada tanggal 9 April 2013, menyusul terjadinya perang saudara di

Irak dan Suriah. Tentu saja proklamasi kemerdekaan ini masih bersifat

sepihak, dimana Pemerintah Suriah dan Pemerintah Irak tak merestuinya.

Begitu pula Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sama sekali belum

mengakuinya sebagai negara yang berdaulat.

Dalam bahasa Arab, negara ini disebut ماشلاو قارعلا يفةيماساا هلود

(Daulah Islamiyyah fie Iraq wa Syam), atau dalam bahasa Inggris ditulis

dalam beberapa versi. Ada yang menyebutnya Islamic State in Iraq and the

Levant (ISIL), Islamic State in Iraq and Syria (ISIS), dan ada juga yang

menyebutnya Islamic State in Iraq and al-Shām (juga disingkat ISIS).

Meski secara de jure belum diakui negara-negara lain, faktanya ISIS

telah menguasai wilayah seluas 400.000 km2, yang meliputi wilayah di Irak

dan Suriah. Untuk sementara, Kota Raqqah yang berada di Suriah ditetapkan

sebagai ibu kota negara.

ISIS terbentuk dari gejolak dalam negeri di Irak dan Suriah. Diawali

(12)

Serikat menyerang Irak karena dianggap membuat senjata pemusnah masal

(meski akhirnya tidak terbukti).

Pasukan Irak pimpinan Presiden (saat itu) Saddam Hussein dengan

mudah dikalahkan Tentara Koalisi Internasional pimpinan AS. Tetapi rakyat

Irak yang terhimpun dalam beberapa kelompok gerilyawan memilih bertahan.

Mereka bahkan melakukan perang gerilya untuk mempertahankan negerinya

dari invasi pasukan asing.

Dua tahun berselang, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2005,

kelompok pejuang mempersatukan diri dan membentuk Majelis Syura

Mujahidin. Berawal dari Majelis Syura Mujahidin inilah akhirnya

dideklarasikan Negara Islam Irak pada tanggal 13 Oktober 2006, dan

mengangkat Abu Umar al-Baghdady sebagai emir atau pemimpinnya.

Abu Umar kemudian meninggal dalam pertempuran, dan posisi emir

digantikan oleh Abu Bakar al-Baghdady sejak 15 Mei 2010. Saat itu

bersamaan dengan terjadinya revolusi di sejumlah negara di Jazirah Arab,

termasuk beberapa negara di Afrika Utara seperti Mesir, Tunisia, dan Libya.

Suriah sebenarnya juga dilanda demonstrasi besar-besaran guna

menurunkan Presiden Bashar Assad, namun upaya itu disambut dengan aksi

kekerasan oleh Tentara Suriah. Akibatnya, rakyat Suriah pun melakukan

perlawaan melalui kelompok-kelompok bersenjata.

Kelompok-kelompok ini mendapat bantuan dari para pejuang di luar

negeri, termasuk dari Negara Islam Irak. Kelompok pejuang rakyat Suriah

(13)

dengan Irak, sehingga menyatulah beberapa kota di Irak dan Suriah di bawah

kendali Negara Islam Irak.

Fakta inilah yang mengilhami pendeklarasian Negara Islam Irak dan

Suriah (ISIS) pada 9 April 2013 dengan pemimpin tetap Abu Bakar

Al-Baghdady. Hingga Maret 2014, wilayah yang dikuasai ISIS meliputi 400.000

km2 di dua negara tersebut, atau lebih luas dari beberapa negara Arab seperti

Qatar, Emirat Arab, Bahrain, Yaman, dan Lebanon.1

Al-Baghdadi merupakan orang yang paling dicari oleh Negara Paman

Sam. Apalagi setelah ISIS merilis sebuah video yang menunjukkan

pemenggalan kepala seorang wartawan AS, James Foley (40), pada

pertengahan Agustus 2014. Dalam video itu si pemenggal mengatakan bahwa

pembunuhan terhadap jurnalis AS sebagai balasan serangan udara Negara

Paman Sam itu ke obyek-obyek militer ISIS. Foley ditangkap pengikut

Al-Baghdadi di Suriah 2012.

Si pemenggal, seperti tampak dalam video, mengenakan jubah hitam

sederhana, juga bertutup kepala dan wajah dengan warna yang sama. Sebilah

pisau tergenggam di tangannya. Ia berbicara bahasa Inggris dengan aksen

London. PM Ingris David Cameron meminta kepada masyarakatnya yang

mengenali si pemenggal agar segera melaporkan kepada aparat keamanan.

Selama ini ISIS memang pandai memanfaatkan media online untuk

merilis video propaganda mereka, baik melalui youtube maupun jejaring

sosial lainnya. Ada dua jenis propaganda. Jenis pertama berupa ajakan kepada

umat Islam di seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka. Jenis

1

(14)

propaganda kedua adalah dengan ancaman dan teror. Dalam beberapa video

yang dirilis ISIS tampak mayat-mayat yang berserakan. Darah segar kelihatan

di mana-mana membasahi tubuh dan pakaian para korban. Mereka adalah

korban pembantaian kelompok garis keras yan mengklaim diri sebagai

berjuang di jalan Allah itu. Mereka, para korban itu, bisa dari kelompok Syiah,

Sunni, Yazidi, Kurdi, Kristen, dan sebagainya.

Intinya, semua pihak yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan ISIS

dianggap sebagai musuh. Dan sebagai musuh, mereka dianggap halal

darahnya. Apalagi bagi mereka yang menghalangi dan berani melawan sepak

terjang ISIS seperti yang dilakukan AS dengan serangan udaranya. Sebagai

balasan terhadap AS, James Foley adalah korbannya. Ia dipenggal kepalanya

tanpa ampun.

Bukan hanya nyawa yang menjadi korban, tempat-tempat ibadah pun

tak lepas dari keganasan sepak terjang ISIS. Masjid, gereja, obyek wisata, dan

bahkan bangunan pemakaman pun mereka hancurkan rata dengan tanah. Hal

ini mereka lakukan setiap kali mereka berhasil menguasai suatu wilayah baru,

terutama wilayah-wilayah kelompok-kelompok yang berani membangkang

terhadap keberadaan ISIS.2

Kemunculan kelompok ekstrem seperti ISIS (the Islamic State of Iraq

and Syria), Al Nusro dan lain-lain, sudah diprediksi kedatangannya oleh

sahabat Ali bin Abi Thalib. Menurut pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU

Pasarkliwon Surakarta, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, 1.400 tahun

silam, Imam Ali telah mengingatkan akan datangnya gerombolan bengis yang

2

(15)

akan mengibarkan panji-panji hitam yang menyerupai panji-panji hitam Imam

Mahdi.

Cicit Muallif Simtuddurar, Habib Ali Al-Habsyi mengatakan :

“Ucapan beliau terekam dalam literatur Hadits Ahlus Sunnah wal

Jama'ah, yakni dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh ulama

besar yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomer 31.530”.

Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah berkata:

Jika kalian melihat bendera-bendera Hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya Hidayah).

Mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran). Namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah (nama pemimpin mereka, memakai nama julukan dan marga dari asal daerah Baghdad) rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”3

Realitas-realitas yang berkenaan dengan kasus ISIS tersebut dapat

diketahui masyarakat karena pemberitaan media massa. Tentunya kegiatan

jurnalistik yang menjadi bagian cara kerja media massa tidak dapat dipisahkan

dari proses mengolah fakta yang menjadi informasi. Media massa

menginformasikan realitas yang berlangsung di suatu tempat, namun realitas

tersebut sesungguhnya sudah dibentuk, dibingkai, dan dipoles sedemikian

rupa oleh media tersebut. Media melakukan tindakan konstruktif berdasarkan

ideologi yang menjadi landasan media tersebut.

3

(16)

Pada akhirnya, realitas sosial tersebut dianggap sebagai “fakta”,

terlepas benar atau tidaknya isi pemberitaan tersebut. Karena individu diyakini

sangat terpengaruh oleh pesan-pesan media karena media dianggap sangat

kuat dalam membentuk opini masyarakat.4 Sebuah keniscayaan, hampir semua

media akan menyeleksi, menonjolkan isu yang ada dan menyembunyikan atau

mengabaikan isu lain, menonjolkan aspek tertentu yang terdapat isu tertentu

dan aspek lainnya disembunyikan bahkan dibuang. Cara pandang atau

perspektif itulah pada akhirnya menentukan fakta yang diambil, bagian mana

yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita

tersebut.

Proses konstruksi realitas tersebut didasarkan pada adanya kepentingan

yang dimiliki oleh masing-masing media tersebut. Tentunya sebuah kebijakan

tidak serta merta sinergi dengan realitas sosial yang ada, bahkan terkadang

bertolak belakang sama sekali. Nilai-nilai yang terdapat pada sebuah

pemberitaan merepresentasikan karakter media itu sendiri, kepentingan

pemilik medianya, sasaran atau target pasar, yang kemudian membentuk

sebuah kebijakan media. Adanya kepentingan itulah memunculkan anggapan

bahwa fakta yang disampaikan dalam sebuah berita bukanlah fakta yang

objektif, melainkan fakta yang sudah dikonstruksi. Kaum konstruksionis

memandang bahwa berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari

konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku jurnalistik. Semua proses

konstruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar,

4

(17)

sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir

dihadapan khalayak.5

Sebuah teks, kata Aart Van Zoest, tak pernah lepas dari ideologi dan

memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi.

Menurut Eriyanto, teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktek

ideologi atau pencerminan ideologi tertentu.6

Media bukan hanya mekanisme sederhana untuk menyebarkan

informasi: media merupakan organisasi kompleks yang membentuk institusi

sosial masyarakat yang penting. Jelasnya, media adalah pemain utama dalam

perjuangan ideologis. Sebagian besar teori komunikasi kritis berhubungan

dengan media terutama karena kekuatan media untuk menyebarkan ideologi

yang dominan dan kekuatannya untuk mengungkapkan ideologi alternatif dan

ideologi yang bertentangan.7

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata

idea dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat, sedangkan

kata logia berasal dari kata logos yang berarti word. Kata ini berasal dari kata

legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science

(pengetahuan) atau teori. Jadi, ideologi menurut arti kata ialah pengucapan

dari yang terlihat atau pengutaraan apa yang terumus didalam pikiran sebagai

hasil dari pemikiran.8

5

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LkiS, 2002), h. 68.

6

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), Cet-kelima, h. 60.

7

Stephen, Karen, Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, h. 432.

8

(18)

Kasus ISIS menjadi perhatian menarik bagi media massa untuk

membahasnya, tidak terkecuali Repulika Online dan Merdeka.Com. kasus ini

menjadi perhatian, karena kasus tersebut merupakan isu besar dan

menyangkut hajat hidup orang banyak, merugikan negara, berpola pada suatu

konspirasi yang sistemik yang melibatkan banyak pihak, baik aparatur

pemerintahan maupun swasta, baik secara institusi maupun perorangan.

Landasan penulis memilih Republika Online dan Merdeka.Com sebagai objek

penelitian ini adalah karena kedua media tersebut adalah koran nasional yang

mapan dalam segi ekonominya, dan memiliki jumlah pembaca yang banyak

yang menyebar hampir merata ke seluruh bagian di Indonesia.

Media online disini berusaha membentuk opini publik menurut

kehendak media tersebut, setiap media mempunyai cara yang berbeda-beda

dalam menyajikan atau mengkonstruksi suatu realitas. Hal ini dapat terjadi

dikarenakan setiap media memiliki ideologi yang berbeda-beda, sehingga

pengambilan sudut pandang terhadap suatu realitas disesuaikan dengan

ideologi media tersebut.

Penulis menganalisa pemberitaan mengenai kasus ISIS (Islamic State

of Iraq and Syria) di Republika Onlinedan Merdeka.Comdengan

menggunakan analisis framing. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui

bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika

menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada

akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan

dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.9 Gagasan

9

(19)

mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995.10

Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat

kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana,

serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi

realitas.

Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis

untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa

saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses

konstruksi. Disini realitas dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu.

Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media

pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu.11

Model Framing yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

framing Robert N. Entman. Framing, kata Entman, secara esensial meliputi

penseleksian dan penonjolan. Membuat frame adalah menseleksi beberapa

aspek dari suatu pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol di

dalam suatu teks yang dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga

mempromosikan sebuah definisi permasalahan yang khusus, interpretasi

kausal, evaluasi moral, dan atau merekomendasikan penanganannya.12

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Analisis Framing Pemberitaan ISIS

(Islamic State of Iraq and Syria) PadaRepublika Onlinedan Merdeka.Com

Edisi September 2014”.

10

Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 161.

11

Eriyanto, Analisis Framing, h. 3.

12

(20)

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Merujuk pada latar belakang yang peneliti telah paparkan sebelumnya,

maka peneliti membatasi penelitian ini pada tajuk beritayang mengangkat

kasus ISIS padaRepublika Online dan Merdeka.Com edisi September

2014.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka

rumusan masalahnya adalah :

a. Bagaimana bingkai pemberitaan ISIS dalam model Robert N.

Entman pada Republika Online?

b. Bagaimana bingkai pemberitaan ISIS dalam model Robert N.

Entman pada Merdeka.Com?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Republika Online dan

Merdeka.Com membingkai pemberitaan mengenai kasus ISIS.

2. Manfaat Penelitian

a. Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangsih dalam

memperkaya ilmu pengetahuan mengenai framing media online dalam

(21)

juga diharapkan dapat digunakan sebagai acuan referensi dalam

penelitian selanjutnya.

b. Manfaat Praktis

Sebagai pengetahuan bagi masyarakat untuk memahami

bagaimana pengemasan media terhadap beritanya, sehingga dapat

diketahui kecenderungan nilai-nilai yang dikonstruksi oleh media

dalam pemberitaannya.

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Penelitian adalah salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mencari

suatu kebenaran. Dalam penelitian ilmiah, metode merupakan strategi

yang digunakan untuk mencari kebenaran tersebut.13 Metode penelitian

merupakan strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis

data yang diperlukan untuk menjawab persoalan. Dengan kata lain,

metode penelitian adalah rencana pemecahan persoalan yang sedang

diteliti.14

Metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah metode

penelitian kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N.

Entman. Peneliti menganalisis pemberitaan mengenai kasus ISIS pada

Republika Online dan Merdeka.Com edisi September 2014, dan

menyimpulkan hasil temuan dari analisis tersebut. Hasil dari penelitian ini

bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang bagaimana

13

M. Subana, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah (Bandung: Pustaka Setia, 2005), cet. Ke-2, h. 10.

14

(22)

Republika Online dan Merdeka.Com mengkonstruksi kasus ISIS dalam

pemberitaannya dan ideologi yang tercermin dari berita tersebut.

Menurut Lexy J. Moleong penelitian kualitatif adalah penelitian yang

bermaksud untuk memahami fenomena apa yang dialami oleh subjek

penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain.

Penelitian ini dilakukan secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam

bentuk kata-kata dan bahasa, pada sutau konteks khusus yang alamiah dan

dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.15

2. Subjek dan Objek Penelitian

Untuk melakukan penelitian yang akurat serta mendapatkan data yang

valid, maka subjek penelitian adalah Republika Online dan Merdeka.Com.

Objek yang dimaksud adalah 3 berita mengenai kasus pada edisi

September 2014. Penulis memilih 3 berita tersebut karena penulis

menganggap 3 berita tersebut sudah mewakili gambaran konstruksi

Republika Online dan Merdeka.Com terhadap kasus ISIS pada edisi

September 2014.

3. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di dua media. Pertama,Republika Online yang

beralamat di Jl. Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510 Telp. (021) 7803747

Fax. (021) 7800649, email: [email protected],

[email protected]. Dan yang kedua Merdeka.Com yang

beralamat di Jl. Tebet Barat IV No.3 Jakarta Selatan, 12810 Email:

[email protected] Telp: (021)83795245 Fax: (021)83795246.

15

(23)

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang

digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Pada riset kualitatif ini

yang penulis pakai adalah observasi teks, wawancara, dan juga

dokumentasi. Penelitian ini dengan sengaja memilih informan (dokumen

atau bahan-bahan visual lain) yang dapat memberikan jawaban terbaik

pertanyaan penelitian.16

1) Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia

dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya

selain panca indra lainnya seperti telinga, mata, hidung, lidah, dan

kulit. Yang dimaksud metode observasi adalah metode pengumpulan

data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data-data

penelitian ini dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data

tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui penggunaan

panca indra.17 Penelitian ini menggunakan observasi teks yaitu melalui

data primer dan data sekunder. Data primer, yaitu teks berita seputar

pemberitaan kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Data

sekunder, yaitu berupa buku-buku, koran, maupun tulisan lain yang

berkaitan dengan objek studi ini.

2) Wawancara

16

John W. Creswell, Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Jakarta: KIK Press, 2003), h. 143.

17

(24)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu.18 Penulis melakukan

wawancara dengan pihak redaksi tentang kebijakan redaksional

Republika Online dan Merdeka.Com dalam mengemas pemberitaan

mengenai kasus ISIS.

3) Studi Kepustakaan (Library Research)

Penulis mengumpulkan dan mempelajari data melalui literatur dan

sumber bacaan, seperti buku-buku yang relevan dengan masalah yang

dibahas dan mendukung penelitian.

5. Teknik Analisis Data

Dalam pemberitaan kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di

Republika Online dan Merdeka.Com, penulis menggunakan teknik analisis

framing model Robert N. Entman, penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui bagaimana kedua media tersebut mengemas beritanya

mengenai kasus ISIS.

Menurut Entman, framing dalam berita dilakukan empat cara, yakni:

pertama, pada identifikasi masalah (problem identification), yaitu

peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa;

kedua, pada identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), yaitu

siapa yang dianggap penyebab masalah; ketiga, pada evaluasi moral

(moral evaluation), yaitu penilaian atas penyebab masalah; dan keempat,

18

(25)

saran penanggulangan masalah (treatment recommendation), yaitu

menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala

memprediksikan hasilnya.19

6. Pedoman Penulisan

Penulisan dalam penelitian ini mengacu kepada buku Pedoman

Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) karya Hamid

Nasuhi dkk yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality

Development and Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.

E. Tinjauan Pustaka

Beberapa skripsi mahasiswa/i yang mengangkat dan menggunakan

metode wacana, di antaranya :

1. “Analisis Framing Berita Kekerasan Terhadap Wartawan SUN TV Di

Okezone.Com”, ditulis oleh Ratna Sari Dewi tahun 2012. Penelitian ini

mengenai bagaimana SUN TV di Okezone.Com membingkai

pemberitaan kekerasan terhadap wartawan. Teori yang digunakan

adalah analisis framing model Robert N. Entman.

2. “Analisis Framing Berita Poligami KH. Abdulllah Gymnastiar Pada

Situs Detik.Com dan Eramuslim.Com”, ditulis oleh Nur Azizah, tahun

2009. Penelitian ini mengenai bagaimana framing berita poligami KH.

Abdullah Gymnastiar pada situs Detik.Com dan EraMuslim.Com, serta

19

(26)

bagaimana perbedaan framing kedua situs tersebut. Teori yang

digunakan adalah analisis framing Robert N. Entman.

3. “Analisis Framing Tajuk Rencana Harian Kompas Tentang Konflik

Nuklir Iran”, yang ditulis oleh Naufal Avicenna, tahun 2009.

Penelitian ini mengarah pada bagaimana Tajuk Rencana Kompas

megkonstruksi peristiwa konflik nuklir di Iran dan bagaimana harian

Kompas meramalkan isu nuklir di Iran di masa yang akan datang.

Tinjauan teoritis yang digunakan adalah mengenai Tajuk Rencana dan

Analisis Framing Robert N. Entman.

Penulis memilih ketiga skripsi tersebut karena analisis yang

digunakan adalah analisis framing dengan model Robert N. Entman,

perbedaannya yaitu pada isu yang diangkat berbeda dengan penulis,

media yang menjadi objeknya juga berbeda, pada skripsi ini medianya

adalah Okezone.Com, Kompas, Detik.Com dan EraMuslim.Com.

Sedangkan penulis menggunakan Republika Online dan Merdeka.Com,

maka tentu hasil temuan analisanya juga berbeda.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan terarah, maka penulis

membagi pembahasannya ke dalam lima bab yang dibagi ke dalam sub-sub

bab, dengan penyusunan sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan, pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar

belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat

(27)

BAB II Kerangka Teoritis, bab ini akan menguraikan kajian teoritis

mengenai media online, yang menjelaskan definisi dan perbedaan

karakteristik media online dengan media mainstream. Kemudian menjelaskan

tentang konsep berita, teori agenda media, analisis framing dan analisis

framing model Robert N. Entman.

BAB III Gambaran Umum, bab ini memaparkan mengenai sejarah

singkat, visi dan misi surat kabar tersebut, struktur redaksi dari Republika

Online dan Merdeka.Com.

BAB IV Hasil Temuan dan Analisis Data, bab ini berisi tentang

temuan dan analisa mengenai framing Republika Online dan Merdeka.Com

mengenai kasus ISIS edisi September 2014.

BAB V Penutup, bab ini berisikan mengenai kesimpulan dan saran

(28)

A. Media Online

1. Definisi dan Kraketristik Media Online

Media massa memberikan gambaran mengenai alat komunikasi yang

memiliki arah dan tujuan ke berbagai aspek masyarakat secara luas tak

hanya masyarakat kalangan atas saja, melainkan kalangan bawah pun ikut

terlibat. Istilah media massa mengacu kepada sejumlah media yang telah

ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap dipergunakan hingga saat ini,

seperti surat kabar, majalah, film, radio, televisi, bahkan media massa

yang saat ini adalah internet.1 Masyarakat dengan mudahnya mendapatkan

berita aktual dengan cepat melalui internet, seperti facebook, twitter, dan

media massa cetak yang masuk ke dalam media online.

Menurut Denis McQuail (2000), media massa memiliki sifat atau

karakteristik yang mampu menjangkau massa dalam jumlah besar dan

luas, bersifat publik dan mampu memberikan popularitas kepada siapa saja

yang muncul di media massa.2

Kata online terdiri dari dua suku kata, yaitu on dan line. Menurut John

M Echols dan Hasan Shadily dalam kamus Inggris Indonesia, kata on

mengandung arti sedang berlangsung. Sdangkan line berarti garis, barisan,

macam, tali, saluran, line, jalan, batas, garis, jurusan, perbentengan,

deretan, dan tema. Online sendiri merupakan bahasa internet yang berati

1

Morissan, Dr. Andy Corry Wardhani, Dr. Farid Hamid U: Teori Komunikasi Massa: Media, Budaya, dan Masayarakat, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 1.

2

(29)

informasi dapat diakses di manan saja dan kapan saja selama ada jaringan

internet. Media online bisa menampung berita teks, image, audio, dan

video. Berbeda dengan media cetak yang hanya menampilkan teks dan

image (gambar).

Media online adalah media yang terbit di dunia maya, istilah dunia

maya pertama kali dikenalkan oleh Williams Gibson (1984/1994) dalam

novelnya yang mengartikan dunia maya yaitu realita yang terhubung

secara global didukung komputer, berakses komputer, multidimensi,

artificial, atau virtual (Severin dan James W. Tankard, 2005:445).

Menurut buku Jurnalistik Terapan yang ditulis oleh Syarifuddin Yunus

(2010:27) mengatakan:

“Media online yaitu media internet seperti website, blog, dan lainnya yang terbit/tayang di dunia maya, dapat dibaca dan dilihat di internet. Media online meupakan pemain baru dalam kancah pers Indonesia, menurut beberapa sumber media online di

Indonesia telah tumbuh sejak tahun 1994.”3

Sedangkan menurut Mc Luhan mengatakan:

“Media online adalah gagasan baru dalam bermedia, namun media baru masih mengikut pada media lama dan bahkan sering memanfaatkan media lama sebagai tolak ukur dalam segi isi yang diterapkan di internet. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan kecenderungan koran-koran online untuk mengemas kembali materi-materi dari koran-koran cetak.”4

Beberapa karakteristik umum yang dimiliki online, yaitu:

3

http://ipongnugraha.blogspot.com/2013/05/pengertian-media-online.html diakses pada 06 Februari 2015 pukul 16:08 WIB

4

(30)

1. Kecepatan (aktualitas) informasi

Dalam media online, semua kejadian atau peristiwa yang terjadi di

lapangan dapat langsung di upload ke dalam situs web media online, tanpa

harus menunggu hitungan menit, jam atau hari, seperti yang terjadi pada

media elektronik atau media cetak. Dengan demikian mempercepat

distribusi informasi ke pasar (pengakses), dengan jangkauan global lewat

jaringan internet, dan dalam waktu bersamaan .dan umumnya informasi

yang ada tertuang dalam bentuk data dan fakta bukan cerita.

2. Adanya pembaruan (updating) informasi

Informasi disampaikan secara terus menerus, karena adanya

pembaruan (updating) informasi. Penyajian yang bersifat realtime ini

menyebabkan tidak adanya waktu yang diiistemewakan (prime

time) karena penyediaan informasi berlangsung tanpa putus, hanya

tergantung kapan pengguna mau mengaksesnya.

3. Interaktivitas

Salah satu keunggulan media online ini yang paling membedakan

dirinya dengan media lain adalah fungsi interaktif. Model komunikasi

yang digunakan media konvensional biasanya bersifat searah (linear) dan

bertolak dari kecenderungan sepihak dari atas (top-down). Sedangkan

media online bersifat dua arah dan egaliter. Berbagai features yang ada

sepertichatroom, e-mail, online polling/survey, games, merupakan

contoh interactive optionsyang terdapat di media online. Pembaca pun

dapat menyampaikan keluhan, saran, atau tanggapan ke bagian redaksi dan

(31)

4. Personalisasi

Pembaca atau pengguna semakin otonom dalam menentukan

informasi mana yang ia butuhkan. Media online memberikan peluang

kepada setiap pembaca hanya mengambil informasi yang relevan bagi

dirinya, dan menghapus informasi yang tidak ia butuhkan. Jadi selektivitas

informasi dan sensor berada di tangan pengguna (self control).

5. Kapasitas muatan dapat diperbesar

Informasi yang termuat bisa dikatakan tanpa batas karena didukung

media penyimpanan data yang ada di server komputer dan sistem global.

Informasi yang pernah disediakan akan tetap tersimpan, dan dapat

ditambah kapan saja, dan pembaca dapat mencarinya dengan mesin

pencari (search engine).

6. Terhubung dengan sumber lain (hyperlink)

Setiap data dan informasi yang disajikan dapat dihubungkan

dengan sumber lain yang juga berkaitan dengan informasi tersebut, atau

disambungkan ke bank data yang dimiliki media tersebut atau dari

sumber-sumber luar. Karakter hyperlink ini juga membuat para pengakses

bisa berhubungan dengan pengakses lainnya ketika masuk ke sebuah situs

media online dan menggunakan fasilitas yang sama dalam media tersebut,

misalnya dalamchatroom, lewat e-mail atau games.5

5

(32)

2. Perbedaan Karakteristik Media Online dengan Media Mainstream Media online, termasuk salah satu agen informasi yang banyak dicari

oleh khalayak pada saat ini. Karakteristik yang dimiliki oleh media ini

membius para khalayak yang haus akan informasi.

1. Karakteristik yang paling populer yang dimiliki oleh media online

adalah sifatnya yang real time. Dalam artian, berita, kisah-kisah,

peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian

sedang berlangsung.

2. Karakter lainnya yang membuat media online menjadi begitu banyak

diasumsi adalah sifatnya yang interaktif. Dengan memanfaatkan

hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat

menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain.

Dalam hal ini berarti, pengguna/pembaca dapat menikmati informasi

secara efisien dan efektif namun tetap terjaga dan didorong untuk

mendapatkan pendalaman dan titik pandang yang lebih luas bahkan

berbeda. Interaktifitas juga dapat dilihat dari adanya pemberian feed

back / umpan balik dari pembaca yang membaca sebuah berita melalui

kolom komentar yang disajikan di bawah berita yang dtampilkan.

Sehingga para pembaca dapat memberikan kritik dan sarannya serta

bertukar pikiran dengan pembaca yang lainnya.

3. Selain itu juga, menyertakan unsur-unsur multimedia adalah termasuk

karakteristik lain dari media online yang tidak kalah penting, sehingga

mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya di dalam

(33)

suatu berita tidak disertai dengan multimedia baik berupa gambar atau

video bisa jadi berita tersebut diragukan kepercayaanya.

Sedangkan karakteristik yang dimiliki oleh media mainstream :

1. Media Mainstream terpusat pada suatu hal, mengawasi secara ketat,

membakukan norma dan nilai yang lama, mengarahkan perilaku

seseorang untuk menciptakan dukungan kepada pusat kekuasaan.

adapun isi pesan yang disampaikan sangatlah selektif dan saling

berkaitan.

2. Produksi yang dihasilkan itu berupa produksi yang kreatif,

distandarisasi, rutin dan terkontrol. Hubungan yang dimiliki oleh

pemberi pesan dengan penerima pesan memiliki hubungan yang

dominan, manipulatif, dan asimetrik.

3. Jangkauan yang dimiliki oleh media mainstream ini terbilang luas dan

penyebaran informasinya berbentuk vertikal dan searah (monolog),

sehingga peran masyarakat didalamnya tidak termasuk kelompok

yang partisipan akan tetapi termasuk kelompok sasaran. Adapun

contoh dari media mainstream ini adalah televisi, radio, koran,

majalah, dan lain sebagainya.6

B. Berita sebagai Pembentuk Isu

1. Definisi Berita

Berita menjadi informasi yang terbanyak diperoleh bila seseorang

membaca media cetak, bahkan ada yang mengatakan bisa mencapai 90

6

(34)

persen, meskipun belum tentu presentasenya seperti itu bila dia

memanfaatkan media elektronik. Walau jumlah berita yang dinikmati

masyarakat begitu banyak, ternyata tidak mudah memmberikan definisi

tentang berita.

Willard C. Bleyer dalam buku Newspaper Writing Editing

mengemukakan bahwa berita adalah sesuatu yang termasa dipilih

wartawan untuk dimuat di surat kabar karena ia dapat menarik

pembaca-pembaca media cetak tersebut.

Sedangkan Romli (2004) mendefinisikan berita merupakan laporan

peristiwa yang memiliki nilai berita (news value) – aktual, faktual,

penting, dan menarik. Berdasarkan berbagai definisi itu, meskipun

berbeda, terdapat persamaan yang mengikat pada berita, meliputi; menarik

perhatian, luar biasa, dan termasa (baru). Karena itu, bisa disimpulkan

bahwa berita adalah informasi atau laporan yang menarik perhatian

masyarakat konsumen, berdasarkan fakta, berupa kejadian dan atau ide

(pendapat), disusun sedemikian rupa dan disebarkan media massa dalam

waktu secepatnya.7

2. Nilai Berita

Syarat berita diminati adalah harus menarik perhatian ‘konsumen’ atau

yang jauh lebih luas, tentu perhatian masyarakat.8 Selain unsur tersebut,

juga terdapat unsur-unsur lain yang tidak terlihat dalam sebuah berita,

tetapi dapat “dirasakan”, unsur itu meliputi hal-hal berikut ini :

7

Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 132-133.

8

(35)

1. Akurat atau cermat

Suatu berita harus ditulis dengan cermat, baik data, seperti angka dan

nama maupun pernyataan. Karena seorang wartawan perlu melakukan

check dan recheck atau melakukan konfirmasi sebelum menulis berita,

juga harus jeli supaya penulisan deskripsi berita bisa baik pula.

2. Lengkap

Penulisan berita harus lengkap dan utuh sehingga pihak lain tahu

informasinya dengan benar, tetapi bukan berarti menulis berita harus

dipanjang-panjangkan karena itu tidak efisien.

3. Kronologis

Berita sebaiknya ditulis berdasarkan waktu peristiwa agar urutannya

jelas dan lancar, tidak membingungkan pembaca.

4. Magnitude (daya tarik)

Penulisan berita harus dengan mempertimbangkan daya tariknya. Bila

daya tarik informasi yang diperoleh tidak ada, berarti informasi itu

tidak layak dijadikan berita.

5. Balance (berimbang)

Penulisan berita harus balance (berimbang), yang juga diistilahkan

cover both side. Artinya, dalam menulis tidak boleh ada pemihakan

bila terdapat para pihak yang berbeda. Tidak dibenarkan wartawan

atau reporter menulis hanya berdasarkan informasi dari satu pihak saja.

Dia harus berusaha semaksimal mungkin mendapatkan informasi dari

berbagai pihak yang berseberangan, informasi yang seimbang.9

9

(36)

3. Jenis Berita

1. Berita keras

Berita keras atau hard news adalah segala informasi penting dan

atau menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena

sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak

audien secepatnya. Dalam hal ini berita keras dibagi ke dalam

beberapa bentuk berita yaitu straight news, features, dan infotainment.

a. Straight News. Straight news berarti berita ‘langsung’ (straught)

maksudnya suatu berita yang singkat (tidak detail) dengan hanya

menyajikan informasi terpenting saja yang mencakup 5W + 1H

(who, what, where, when, why, dan how) terhadap suatu peristiwa

yang diberitakan. Berita jenis ini sangat terikat waktu (deadline)

karena informasinya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan

kepada audien.

b. Feature. Feature adalah berita ringan namun menarik. Pengertian

“menarik” di sini adalah informasi yang lucu, unik, aneh,

menimbulkan kekaguman, dan sebagainya. Pada dasarnya

berita-berita semacam ini dapat dikatakan sebagai softnews karena tidak

terlalu terikat dengan waktu penayangan, namun karena durasinya

singkat (kurang dari lima menit) dan ia menjadi bagian dari

program berita maka feature masuk ke dalam kategori hard news.

c. Infotainment. Kata ‘infotainment’ berasal dari dua kata yaitu

information yang berarti informasi dan entertainment yang berarti

(37)

yang memberikan hiburan. Infotainment adalah berita yang

menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang

dikenal masyarakat (celebrity), dan karena sebagian besar dari

mereka bekerja pada industri hiburan seperti pemain film/sinetron,

penyanyi dan sebagainya maka berita mengenai mereka disebut

juga dengan infotainment. Infotainment adalah salah satu bentuk

berita keras karena memuat informasi yang harus segera

ditayangkan.

2. Berita Lunak

Berita lunak atau soft news adalah segala informasi yang penting

dan menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun

tidak bersifat harus segera ditayangkan. Berita yan masuk kategori ini

ditayangkan pada suatu program tersendiri di luar program berita.

Program yang masuk ke dalam kategori berita lunak ini adalah

magazine, current affair, dokumenter, dan talk show.

a. Current Affair. Dari namanya, pengertian current affair adalah

“persoalan kekinian”. Current affair adalah program yang

menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting

yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan

mendalam. Dengan demikian current affair, cukup terkait dengan

waktu dalam hal penayangannya namun tidak seketat hard news,

batasannya adalah bahwa selama isu yang dibahas masih mendapat

(38)

b. Magazine. Diberi nama magazine karena topik atau tema yang

disajikan mirip dengan topik-topik atau tema yang terdapat dalam

suatu majalah (magazine). Magazine adalah program yang

menampilkan informasi ringan namun mendalam atau dengan kata

lain magazine adalah feature dengan durasi yang lebih panjang.

Magazine ditayangkan pada program tersendiri yang terpisah dari

program berita. Magazine lebih menekankan pada aspek menarik

suatu informasi ketimbang aspek pentingnya.. suatu program

magazine dengan durasi 30 menit atau satu jam dapat terdiri atas

hanya satu topik atau beberapa topik.

c. Dokumenter. Dokumenter adalah program informasi yang

bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan

dengan menarik. Misalnya program doumenter yang menceritakan

mengenai suatu tempat, kehidupan atau sejarah seorang tokoh atau

kehidupan atau sejarah suatu masyarakat (misalnya suku terasing)

atau kehidupan hewan di padang rumput dan sebagainya. Gaya

atau cara penyajian dokumenter sangat beragam dalam hal teknik

pengambilang gambar , teknik editing dan teknik penceritaannya;

mulai dari yang sederhana hingga yang tersulit. Suatu program

dokumenter adakalanya dibuat seperti membuat sebuah film

sehingga sering disebut dengan film dokumenter.

d. Talk Show. Program talk show atau perbincangan adalah program

yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas

(39)

(host). Mereka yang diundang adalah orang-orang yang

berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang

diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah

dibahas.10

Program informasi dalam kategori berita keras atau hard news

dapat dibedakan dengan berita lunak atau soft news berdasarkan sifatnya

[image:39.595.141.508.232.672.2]

sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.1

Perbedaan hard news dan soft news11

Hard News

Soft News

Harus ada peristiwa terlebih dahulu

Tidak mesti ada peristiwa terlebih dahulu

Peristiwa harus aktual

Tidak mesti aktual

Harus segera disiarkan

Tidak bersifat segera (timeless)

Mengutamakan informasi terpenting saja

Menekankan pada detail

Tidak menekankan sisi

human interest

Sangat menekankan segi

human interest

Laporan tidak mendalam (singkat)

Laporan bersifat mendalam

Teknik penulisan piramida tegak

Teknik penulisan piramida terbalik

Ditayangkan dalam program berita

Ditanyangkan dalam program lainnya

10

Morissan, Jurnalistik Televisi Mutakhir, (Jakarta: Kencana, 2008), Edisi Pertama, h. 25-28.

11

(40)

4. Teori Agenda Media

Sebuah agenda pada dasarnya adalah sebuah daftar hal-hal yang

disusun berdasarkan urutan kepentingannya, dengan yang paling penting

berada di tempat paling atas.12

Agenda setting adalah suatu proses atau efek komunikasi massa di

media terhadap masyarakat dan budaya. Agenda setting menggambarkan

kekuatan pengaruh media yang sangat kuat terhadap pembentukan opini

masyarakat.

Media massa dengan memberikan perhatian pada isu tertentu dan

mengabaikan yang lainnya, akan memiliki pengaruh terhadap pendapat

umum. Masyarakat akan cenderung mengetahui tentang hal-hal yang

diberitakan oleh media massa dan menerima susunan prioritas yang

diberikan media massa terhadap isu-isu yang berbeda. Masyarakat akan

menilai suatu isu menjadi penting apabila media menilai isu tersebut

sebagai penting.

Media massa memiliki kemampuan untuk menyampaikan kepada

masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting

dan kemudian khalayak tidak hanya mempelajari dan memahami isu-isu

pemberitaan tapi juga seberapa penting arti suatu isu atau topik

berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap isu

tersebut. Jadi apa yang dianggap penting dan menjadi dalam suatu agenda

media maka itu pulalah yang juga dianggap penting dan menjadi media

bagi khalayak.

12

(41)

Media melakukan seleksi sebelum melaporkan berita dan kemudian

melakukan penciptaan isu di tengah publik terhadap informasi. Media

membuat pilihan apa saja yang akan diberitakan dan tidak. Apa yang

diketahui oleh khalayak pada umumnya merupakan hasil dari buah pikiran

pembentuk opini publik.13

Zucker (1978) menyatakan bahwa menonjolnya isu mungkin menjadi

faktor yang penting dalam apakah terjadi penentuan media atau tidak.

Zucker menyatakan bahwa semakin kurang pengalaman langsung yang

dimiliki publik berkenaan dengan bidang isu tertentu, semakin besar

publik harus bergantung pada media berita untuk informasi tentan bidang

itu. Isu yang dialami langsung oleh publik, seperti pengangguran, adalah

isu yang menonjol (obtrusive issues). Isu yang mungkin tidak dialami

langsung oleh publik, misalnya polusi, adalah isu yang tidak menonjol

(unobtrusive issues).14

Ada 3 proses agenda setting:

1. Media Agenda - dimana isu didiskusikan di dalam media.

2. Public Agenda - ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai

dengan khalayak.

3. Policy Agenda – pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari

pentingnya isu tersebut.

4. Jadi media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan

menekankan topik tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan

13

http://socialmarketingindonesia.blogspot.com/2013/05/agenda-setting-dan-pembentukan-opini.html diakses pada 20 Januari 2015 pukul 12:49 WIB

14

(42)

‘agenda’) sehingga membuat publik berpikir bahwa isu yang dipilih

media itu penting.15

Dalam menentukan agenda media, Funkhouser (1973b)

memberikan sebuah daftar lima mekanisme sebagai tambahan untuk arus

peristiwa nyata yang bekerja mempengaruhi besarnya perhatian media

yang mungkin diterima sebuah isu.

1. Adaptasi media terhadap arus peristiwa. Ketika pola yang sama

terus ada, maka hal itu dianggap sebagai “kurang lebih sama” dan

tak lagi dianggap sebagai berita.

2. Pelaporan yang berlebihan tentang peristiwa penting yang tidak

biasa. Beberapa kejadian, seperti tumpahan minyak Santa Barbara,

penting tetapi menerima liputan yang berlebihan karena

keunikannya atau sifatnya yang menimbulkan sensasi.

3. Pelaporan selektif aspek-aspek yang patutu diberikan dari situasi

yang tidak layak diberitakan.misalnya, sebuah penelitian terkenal

menunjukkan leksi detil-detil tertentu, liputan televisi tentang

sebuah parade yang menghormati Jenderal Douglas MacArthur,

tampak lebih menarik daripada kejadian sebenarnya (K. Lang dan

G. E Lang, 1972).

4. Pseudoevent, atau pembuatan peristiwa yang patut dijadikan berita.

Gerakan protes, demonstrasi, protes publik dengan menduduki

tempat, dan trik publisitas adalah contoh-contoh yang pseudeovent

yang bisa membantu memindahkan isu ke agenda pers.

15

(43)

5. Rangkuman kejadian, atau situasi yang melukiskan kejadian biasa

dengan cara yang patut dijadikan berita. Contohnya adalah

perilisan laporan umum ahli bedah pada tahun 1964 yang

menunjukkan hubungan antara merokok dengan kanker

paru-paru.16

Shoemaker dan Reese (1991), dengan memanfaatkan karya Herbert

Gans dan Todd Gitlin mengusulkan lima kategori utama pengaruh isi

media :

1. Pengaruh dari pekerja media secara individu. Di antara

pengaruh-pengaruh ini adlaah karakteristik pekerja komunikasi, latar

belakang profesional dan kepribadian, sikap pribadi, dan

peran-peran profesional.

2. Pengaruh-pengaruh rutinitas media. Apa yang diterima media

massa dipengaruhi oleh praktik-praktik komunikasi sheari-hari

communicator/orang penghubung, termasuk deadline/batas waktu

dan kendala waktu lainnya, kebutuhan ruang dalam penerbitan,

struktur piramida terbaik untuk menulis berita, nilai berita, standar

objektivitas, dan kepercayaan reporter pada sumber-sumber berita.

3. Pengaruh organisasi terhadap isi. Organisasi media memiliki

beberapa tujuan, dan menghasilkan uang sebagai salah satu yang

paling umum digunakan. Tujuan-tujuan organisasi media ini bisa

berdampak pada isi melalui berbagai cara.

16

(44)

4. Pengaruh terhadap isi dari luar organisasi media. Pengaruh

pengaruh ini meliputi kelompok-kelompok kepentingan yang

melobi untuk mendapatkan persetujuan (atau menentang)

jenis-jenis isi tertetnu, orang-orang yang menciptakan pseudoevent untuk

mendapatkan liputan media, dan pemerintah yang mengatur isi

secara langsung dengan undang-undang pencemaran nama baik dan

ketidaksopanan.

5. Pengaruh ideologi. Ideologi menggambarkan fenomena tingkat

masyarakat. Yang asasi bagi ideologi di Amaerika Serikat adalah

“kepercayaan dalam nilai sistem ekonomi kapitalis, kepemilikan

pribadi, pencapaian laba dengan wiraswasta utnuk kepentingan

pribadi, dan pasar bebas” (hlm. 184). Ideologi yang menyeluruh ini

mungkin memperngaruhi isi media massa dengan banyak cara.

Lima kategori ini bervariasi mulai dari pengaruh pekerja media

secara individu, yang menggambarkan tingkat yang paling “mikro”,

sampai pengaruh ideologi, yang menggambarkan tingkat yang paling

“makro”. Kategori-kategori tersebut membentuk apa yang disebut

Shoemaker dan Reese (1991) sebagai “hierarki pengaruh”, dengan

ideologi menempati pucncak hierarki dan perlahan-lahan turun ke bawah

ke semua tingkat yang lainnya.

Individu-individu tertentu, yang disebut orang-orang yang

mengetahui terlebih dahulu (early recognizer), juga bisa memainkan peran

kunci (Brosius dan Weimann, 1996) dalam menentukan agenda media. Ini

adalah orang-orang yang mengetahui sebuah isu pada tahap-tahap

(45)

pekerjaannya melakukan pengamatan dan yang terikat dengan jaringan

kerja organisasi dan sosial.17

Dalam aplikasi penentuan agenda, sebagian peneliti melangkah

melampaui penelitian pembentukan agenda oleh pers untuk

mempertimbangkan bagaimana gagasan-gagasan penentuan agenda

mungkin diterapkan dalam cara-cara untuk membuat masyarakat bertindak

dengan lebih baik. Gurevitch dan Blumler (1990) menyatakan bahwa

demokrasi menuntut media massa terlibat dalam “penentuan agenda yang

bermakna, dengan mengidentifikasi isu-isu kunci sekarang ini, termasuk

kekuatan-kekuatan yan telah membentuk dan mungkin menjelaskan isu-isu

itu” (hlm. 270). Carter, Stamm, dan Heintz-Knowles (1992) menyatakan

“Penelitian penentuan agenda perlu meningkat lebih dari sekedar

memberikan ukuran lebih baik dampak media sekarang ini. Kita perlu

memahami penentuan agenda dengan cukup baik untuk menunjukkan apa

yang mungkin dilakukan media untuk memperbaiki kemaampuan publik

untuk berpikir bersama tentang masalah-masalah bersama” (hlm. 870).

Shaw dan Martin (1992) menyatakan bahwa media, melalui

penentuan agenda, berfungsi untuk memberi kesepakatan yang cukup

memadai pada isu-isu publik untuk memungkinkan sebuah dialog di antara

kelompok-kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Dalam

hal ini, penentuan agenda berfungsi sebagai sebuah peranti pembentuk

konsensus yang memungkinkan demokrasi bekerja.18

17

Werner J. Severin, James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, h. 277-278.

18

(46)

C. Framing

1. Definisi Framing

Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif

atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu

dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya

menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan

dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.19 Gagasan

mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995.20

Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat

kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan

wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk

mengapresiasi realitas.

Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana

media mengkonstruksi realitas. Analisis framing juga dipakai untuk

melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media.21

Prinsip analisis framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan

penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang terberitakan

dalam media. Fakta ini tidak ditampilkan apa adanya, namun diberi

bingkai (frame) sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik

(Sudibyo 2001:157). Dalam memberitakan peristiwa tertentu, media lazim

menyeleksi sumber berita, memberikan bobot fakta yang satu lebih dari

19

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), Cet-kelima, h. 162.

20

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing,h. 161.

21

(47)

yang lain, serta mengedepankan perspektif tertentu sehingga sebuah

interpretasi lebih diterima dibanding interpretasi yang lain.22

Dalam analisis framing, yang kita lakukan pertama kali adalah melihat

bagaimana media mengkonstruksi realitas. Peristiwa dipahami bukan

sesuatu yang taken for granted. Sebaliknya, wartawan dan medialah yang

secara aktif membentuk realitas. Berbagai hal yang terjadi, fakta, orang,

diabstraksikan menjadi peristiwa yang kemudian hadir di hadapan

khalayak. Jadi, dalam penelitian framing, yang menjadi titik persoalan

adalah bagaimana realitas/peristiwa dikonstruksi oleh media. Lebih

spesifik, bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi

tertentu. Sehingga yang menjadi titik perhatian bukan apakah media

memberikan negatif atau positif, melainkan bagaimana bingkai yang

dikembangkan oleh media.23

Framing terutama melihat bagaimana pesan/peristiwa dikontsruksi

oleh media. Bagaimana wartawan mengkonstruksi peristiwa dan

menyajikannya kepada khalayak pembaca.

[image:47.595.121.514.213.701.2]

Beberapa definisi framing dari para ahli :

Tabel 2.2

Definisi Framing

Robert N. Entman Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga

bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol

dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan

penempatan informasi-informasi dalam konteks

22

Rusmulyadi, Jurnal Komunikasi Islam (Surabaya: Jurusan Komunikasi Dan Penyiaran Islam,

Gambar

Tabel 2.1 Perbedaan hard news dan soft news11
Tabel 2.2 Definisi Framing
Dimensi Perangkat Tabel 2.3 Framing29
Framing Model Robert N. EntmanTabel 2.4 33
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi wacana penegakan hukum oleh Republika pada berita-berita tentang kebakaran hutan dan lahan beserta aspek-aspek

Penelitian ini dilakukan melalui telaah atas majalah Dabiq yang resmi dirilis oleh ISIS dan literatur- literatur ulama hadis, dianalisis secara deskriptif, analitis,

Koni Setiaji, L100090043, Terorisme dalam Bingkai Media (Analisis Framing Pemberitaan Terorisme di Surakarta Pada Headline Koran Solopos Edisi Agustus - September

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji bentuk-bentuk akronim bahasa Indonesia dalam rubrik politik di harian Republika edisi September 2006; (2)

21 Pengumpulan data tersebut berupa artikel berita yang akan diteliti di dalam SKH Jawa Pos pada edisi 13 September 2011 tentang pemberitaan bus Sumber Kencono untuk dianalisis,

Jenis penelitian ini adalah analisis framing, dengan fokus penelitian pada pemberitaan calon Bupati Kediri tahun 2020 yang dimuat di Radar Kediri dan Tribun News edisi 25 Juni

Islamic State of Syria (ISIS) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ISIS sebagai organisasi teroris sebagaimana tercantum dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor

Sumber data utama dalam penelitian ini adalah seluruh teks berita yang berkaitan dengan KUII (Kongres Umat Islam Indonesia) ke VI pada SKH Republika dan Kompas edisi Februari