ONLINE DAN MERDEKA.COM EDISI SEPTEMBER
2014
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh
ZAIDATUL KHOIRONI
NIM : 1110051000134
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
SEPTEMBER 2014
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh: Zaidatul Khoironi
NIM: 1110051000134
Pembimbing:
PROGRAM STTJDI KOMT]NIKASI DAI\[ PEI{YIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAK\ilAH DAI\ ILMU KOMUIVKASI
T'NIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATTJLLAH
JAKARTA
20t5Mll436H
Skripsi berjudul ANALISIS
FRAMING
PEMBERITAAN ISIS (ISLAMIC STATE OF' IRAQ AND SYRIA) PADA REPUBLIKA ONLINE DAN MERDEKA.COMBDISI SEPTEMBER 2014 telah diujikan dalam sidang munaqasyah FakultasIlmu
Dakwah danIlmu
KomunikasiUIN
SyarifHidayatullah Jakarta pada Rabu 27 i|l4.ei 2015. Skripsi ini telah diterima sebagai
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam.
Jakarta,2T Mei2015
Sidang Munaqasyah
Anggota,
I
SJ
st976t1292009121001
Penguji II
19s80910
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1.
Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelarsfata
I di
UIN
SyarifHidayatullah Jakarla.
2.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisanini
telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlakudi
UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.3.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersediamenerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta,24 Mei
Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) pada
Republika Online dan Merdeka.Com Edisi September 2014.
Kelompok gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) belakangan ini makin menghebohkan dunia umat Islam di seluruh dunia, karena disebut-sebut akan menghancurkan Ka’bah. ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar Al-Bahgdadi pada tanggal 9 April 2013, menyusul terjadinya perang saudara di Irak dan Suriah. Isu terkait pemberitaan ISIS menjadi perhatian media massa, tidak terkecuali Republika Online dan Merdeka.Com.
Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana sudut pandang Republika Online dan Merdeka.Com terhadap isu pemberitaan ISIS? Bagaimana Republika Online dan Merdeka.Com membingkai isu pemberitaan ISIS ini dalam beritanya?
ISIS merupakan sebuah kelompok yang dianggap telah melakukan banyak aksi keji. Aksi kekejaman ISIS inilah yang telah menjatuhkan banyak korban jiwa. Republika Online memiliki sudut pandang yang berbeda dengan
Merdeka.Com. Republika Online menyebutkan bahwa sikap Republika Online
mengecam aksi keji yang dilakukan ISIS tersebut. Republika Online juga mengutip pendapat para tokoh-tokoh Negara seperti Perdana Menteri, Presiden, dan juru bicara Departemen Luar Negeri. Berbeda dengan Merdeka.Com, menyatakan adanya kontroversi, bentuk ketidakpahaman seseorang tentang bagaimana menghargai orang lain dengan baik. Merdeka.Com mengecam dan mewaspadai akan bahaya keberadaan ISIS tersebut.
Fokus penelitian ini adalah enam berita yang berkaitan dengan pemberitaan ISIS di Republika Online dan Merdeka.Com edisi September 2014. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dan pendekatan yang dipakai adalah kualitatif untuk menganalisa berita Republika Online dan Merdeka.Com
dengan menggunakan perangkat framing model Robert N. Entman yang menggunakan empat cara yakni problem identification, causal interpretation,
moral evaluation, dan treatment recommendation.
Hasil penelitian menunjukkan Republika Online cenderung melihat isu pemberitaan ISIS sebagai masalah hukum kaena menganggap aksi kekejaman ISIS ini merupakan pelanggaran hukum dengan menimbulkan banyak kerusuhan.
Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT. Dzat pencipta
alam semesta. Rasa syukur tiada henti penulis panjatkan kehadirat-Nya karena
berkat rahmat dan karunia-Nya lah penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
Sholawat serta salam juga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi besar
Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang
senantiasa istiqomah dalam menjalankan sunnahnya.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari arahan, bimbingan,
dorongan dan bantuan dari berbagai pihak yang penuh keikhlasan, baik fisik
maupun psikis, secara moril maupun materil yang banyak membantu dalam
penyusunan skripsi ini hingga selesai. Karena itu dalam kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi. Bapak Dr. Suparto, M.Ed, Ph.D, selaku Wadek I, Ibu
Dr. Roudhonah, M.A selaku Wadek II, dan juga Bapak Dr. Suhaimi, M.Si
selaku Wadek III.
2. Bapak Rachmat Baihaky, M.A, selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam, dan Ibu Fita Faturrokhmah, M.Si, selaku Sekretaris
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
3. Bapak Dr. Rully Nasrullah, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberi
Semoga ilmu-ilmu para Dosen dibalas dengan pahala yang tak terhingga.
5. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
yang telah membantu penulis dalam hal administrasi selama perkuliahan
dan penelitian skripsi ini.
6. Republika Online dan Merdeka.Com, khususnya kepada Bapak Maman
Sudiaman dan Bapak Pandusurya Wijaya, yang di sela kesibukannnya
menyempatkan diri untuk menjadi narasumber dalam penelitian ini.
7. Orang tua penulis, Ayah Abdul Rokib dan Ibu Bunyanih, Nenek Hj.
Muhinah, Nenek Hj. Masturoh, Alm. Kakek H. Matrais, Kakek H. Ebun,
dan Paman terbaik penulis Abdul Khotib yang telah memberikan banyak
inspirasi, serta keluarga penulis lainnya yang amat dicintai. Terima kasih
atas pengorbanan yang tak ternilai, do’a yang tak henti, air mata serta
kasih sayang tulus yang diberikan hingga penulis mampu menyelesaikan
skripsi ini. Dan untuk kedua adik penulis Nazwa Nabila dan Ariyan
Abdillah yang selalu memberikan keceriaan kepada penulis disetiap
harinya.
8. Taufik Nurrahman, yang telah mendukung, mendampingi, menyemangati
tanpa kenal waktu dan selalu menjadi inspirasi penulis. Semoga kita terus
semangat bersama untuk kebaikan.
9. Sahabat-sahabat di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam angkatan
2010, khususnya rekan-rekan kelas E, Hilyatul Aulia, Firda, Zahra,
semoga persahabatan dan tali silaturrahmi kita akan terus terjalin. Terima
kasih atas dukungan dan semangatnya sehingga skripsi ini dapat selesai.
10.Keluarga besar KKN “INSTAN” Kampung Babakan, Garut 2013. Terima
kasih atas ilmu dan pengalamannya.
11.Sahabat-sahabat PRISMA (Persatuan Remaja Islam Masjid Jami’
Al-Marzukiyah), sahabat-sahabat Remaja Majelis Ta’lim Arrahmah, dan para
guru sesepuh serta jama’ah Majelis Ta’lim Al-Ikhlas yang telah
memberikan semangat, dorongan dan do’a yang tulus kepada peneliti
dalam menyelesaikan skripsi ini.
12.Teman-teman grup AMUNISI (Arabian Music Nuansa Islami), yang telah
memberikan keterbatasan sekaligus keleluasaan dan persahabatan
sekaligus persaudaraan.
13.Serta pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namun tidak
mengurangi rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada mereka semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan sehingga besar harapan penulis bagi segenap
pembaca untuk memberikan masukan yang lebih baik. Akhir kata, terima kasih
atas semua kerja samanya dan mohon maaf atas semua salah dan khilaf.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh..
Jakarta, 24 Mei 2015
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10
D. Metodologi Penelitian ... 11
E. Tinjauan Pustaka ... 15
F. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II KERANGKA TEORI A. Media Online ... 18
1. Definisi dan Kraketristik Media Online ... 18
2. Perbedaan Karakteristik Media Online dengan Media Mainstream ... 22
B. Berita sebagai Pembentuk Isu ... 23
1. Definisi Berita ... 23
2. Nilai Berita... 24
3. Jenis Berita... 26
4. Teori Agenda Media ... 30
C. Framing ... 36
1. Definisi Framing ... 36
2. Framing dalam Pemberitaan ... 39
3. Analisis Framing Model Robert N. Entman ... 42
BAB III GAMBARAN UMUM REPUBLIKA ONLINE DAN MERDEKA.COM A. Sejarah Singkat Republika Online... 47
4. Kanal Republika Online ... 52
5. Struktur Organisasi Republika Online ... 54
B. Sejarah Singkat Merdeka.Com... 55
1. Visi dan Misi Merdeka.Com ... 56
2. Kanal Berita ... 57
3. Struktur Organisasi Merdeka.Com ... 58
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA A. Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Republika Online Edisi September 2014 ... 61
B. Analisis Framing Pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Merdeka.Com Edisi September 2014 ... 72
C. Analisis Perbandingan Framing antara Republika Online dan Merdeka.Com ... 82
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 89
B. Saran ... 90
DAFTAR PUSTAKA ... 92
A. Latar Belakang Masalah
Kelompok gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) belakangan
ini makin menghebohkan umat Islam di seluruh dunia, karena disebut-sebut
akan menghancurkan Ka’bah.
ISIS merupakan negara baru yang dideklarasikan oleh Abu Bakar
al-Baghdady pada tanggal 9 April 2013, menyusul terjadinya perang saudara di
Irak dan Suriah. Tentu saja proklamasi kemerdekaan ini masih bersifat
sepihak, dimana Pemerintah Suriah dan Pemerintah Irak tak merestuinya.
Begitu pula Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sama sekali belum
mengakuinya sebagai negara yang berdaulat.
Dalam bahasa Arab, negara ini disebut ماشلاو قارعلا يفةيماساا هلود
(Daulah Islamiyyah fie Iraq wa Syam), atau dalam bahasa Inggris ditulis
dalam beberapa versi. Ada yang menyebutnya Islamic State in Iraq and the
Levant (ISIL), Islamic State in Iraq and Syria (ISIS), dan ada juga yang
menyebutnya Islamic State in Iraq and al-Shām (juga disingkat ISIS).
Meski secara de jure belum diakui negara-negara lain, faktanya ISIS
telah menguasai wilayah seluas 400.000 km2, yang meliputi wilayah di Irak
dan Suriah. Untuk sementara, Kota Raqqah yang berada di Suriah ditetapkan
sebagai ibu kota negara.
ISIS terbentuk dari gejolak dalam negeri di Irak dan Suriah. Diawali
Serikat menyerang Irak karena dianggap membuat senjata pemusnah masal
(meski akhirnya tidak terbukti).
Pasukan Irak pimpinan Presiden (saat itu) Saddam Hussein dengan
mudah dikalahkan Tentara Koalisi Internasional pimpinan AS. Tetapi rakyat
Irak yang terhimpun dalam beberapa kelompok gerilyawan memilih bertahan.
Mereka bahkan melakukan perang gerilya untuk mempertahankan negerinya
dari invasi pasukan asing.
Dua tahun berselang, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2005,
kelompok pejuang mempersatukan diri dan membentuk Majelis Syura
Mujahidin. Berawal dari Majelis Syura Mujahidin inilah akhirnya
dideklarasikan Negara Islam Irak pada tanggal 13 Oktober 2006, dan
mengangkat Abu Umar al-Baghdady sebagai emir atau pemimpinnya.
Abu Umar kemudian meninggal dalam pertempuran, dan posisi emir
digantikan oleh Abu Bakar al-Baghdady sejak 15 Mei 2010. Saat itu
bersamaan dengan terjadinya revolusi di sejumlah negara di Jazirah Arab,
termasuk beberapa negara di Afrika Utara seperti Mesir, Tunisia, dan Libya.
Suriah sebenarnya juga dilanda demonstrasi besar-besaran guna
menurunkan Presiden Bashar Assad, namun upaya itu disambut dengan aksi
kekerasan oleh Tentara Suriah. Akibatnya, rakyat Suriah pun melakukan
perlawaan melalui kelompok-kelompok bersenjata.
Kelompok-kelompok ini mendapat bantuan dari para pejuang di luar
negeri, termasuk dari Negara Islam Irak. Kelompok pejuang rakyat Suriah
dengan Irak, sehingga menyatulah beberapa kota di Irak dan Suriah di bawah
kendali Negara Islam Irak.
Fakta inilah yang mengilhami pendeklarasian Negara Islam Irak dan
Suriah (ISIS) pada 9 April 2013 dengan pemimpin tetap Abu Bakar
Al-Baghdady. Hingga Maret 2014, wilayah yang dikuasai ISIS meliputi 400.000
km2 di dua negara tersebut, atau lebih luas dari beberapa negara Arab seperti
Qatar, Emirat Arab, Bahrain, Yaman, dan Lebanon.1
Al-Baghdadi merupakan orang yang paling dicari oleh Negara Paman
Sam. Apalagi setelah ISIS merilis sebuah video yang menunjukkan
pemenggalan kepala seorang wartawan AS, James Foley (40), pada
pertengahan Agustus 2014. Dalam video itu si pemenggal mengatakan bahwa
pembunuhan terhadap jurnalis AS sebagai balasan serangan udara Negara
Paman Sam itu ke obyek-obyek militer ISIS. Foley ditangkap pengikut
Al-Baghdadi di Suriah 2012.
Si pemenggal, seperti tampak dalam video, mengenakan jubah hitam
sederhana, juga bertutup kepala dan wajah dengan warna yang sama. Sebilah
pisau tergenggam di tangannya. Ia berbicara bahasa Inggris dengan aksen
London. PM Ingris David Cameron meminta kepada masyarakatnya yang
mengenali si pemenggal agar segera melaporkan kepada aparat keamanan.
Selama ini ISIS memang pandai memanfaatkan media online untuk
merilis video propaganda mereka, baik melalui youtube maupun jejaring
sosial lainnya. Ada dua jenis propaganda. Jenis pertama berupa ajakan kepada
umat Islam di seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka. Jenis
1
propaganda kedua adalah dengan ancaman dan teror. Dalam beberapa video
yang dirilis ISIS tampak mayat-mayat yang berserakan. Darah segar kelihatan
di mana-mana membasahi tubuh dan pakaian para korban. Mereka adalah
korban pembantaian kelompok garis keras yan mengklaim diri sebagai
berjuang di jalan Allah itu. Mereka, para korban itu, bisa dari kelompok Syiah,
Sunni, Yazidi, Kurdi, Kristen, dan sebagainya.
Intinya, semua pihak yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan ISIS
dianggap sebagai musuh. Dan sebagai musuh, mereka dianggap halal
darahnya. Apalagi bagi mereka yang menghalangi dan berani melawan sepak
terjang ISIS seperti yang dilakukan AS dengan serangan udaranya. Sebagai
balasan terhadap AS, James Foley adalah korbannya. Ia dipenggal kepalanya
tanpa ampun.
Bukan hanya nyawa yang menjadi korban, tempat-tempat ibadah pun
tak lepas dari keganasan sepak terjang ISIS. Masjid, gereja, obyek wisata, dan
bahkan bangunan pemakaman pun mereka hancurkan rata dengan tanah. Hal
ini mereka lakukan setiap kali mereka berhasil menguasai suatu wilayah baru,
terutama wilayah-wilayah kelompok-kelompok yang berani membangkang
terhadap keberadaan ISIS.2
Kemunculan kelompok ekstrem seperti ISIS (the Islamic State of Iraq
and Syria), Al Nusro dan lain-lain, sudah diprediksi kedatangannya oleh
sahabat Ali bin Abi Thalib. Menurut pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU
Pasarkliwon Surakarta, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, 1.400 tahun
silam, Imam Ali telah mengingatkan akan datangnya gerombolan bengis yang
2
akan mengibarkan panji-panji hitam yang menyerupai panji-panji hitam Imam
Mahdi.
Cicit Muallif Simtuddurar, Habib Ali Al-Habsyi mengatakan :
“Ucapan beliau terekam dalam literatur Hadits Ahlus Sunnah wal
Jama'ah, yakni dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh ulama
besar yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomer 31.530”.
Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah berkata:
“Jika kalian melihat bendera-bendera Hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya Hidayah).
Mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran). Namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah (nama pemimpin mereka, memakai nama julukan dan marga dari asal daerah Baghdad) rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”3
Realitas-realitas yang berkenaan dengan kasus ISIS tersebut dapat
diketahui masyarakat karena pemberitaan media massa. Tentunya kegiatan
jurnalistik yang menjadi bagian cara kerja media massa tidak dapat dipisahkan
dari proses mengolah fakta yang menjadi informasi. Media massa
menginformasikan realitas yang berlangsung di suatu tempat, namun realitas
tersebut sesungguhnya sudah dibentuk, dibingkai, dan dipoles sedemikian
rupa oleh media tersebut. Media melakukan tindakan konstruktif berdasarkan
ideologi yang menjadi landasan media tersebut.
3
Pada akhirnya, realitas sosial tersebut dianggap sebagai “fakta”,
terlepas benar atau tidaknya isi pemberitaan tersebut. Karena individu diyakini
sangat terpengaruh oleh pesan-pesan media karena media dianggap sangat
kuat dalam membentuk opini masyarakat.4 Sebuah keniscayaan, hampir semua
media akan menyeleksi, menonjolkan isu yang ada dan menyembunyikan atau
mengabaikan isu lain, menonjolkan aspek tertentu yang terdapat isu tertentu
dan aspek lainnya disembunyikan bahkan dibuang. Cara pandang atau
perspektif itulah pada akhirnya menentukan fakta yang diambil, bagian mana
yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita
tersebut.
Proses konstruksi realitas tersebut didasarkan pada adanya kepentingan
yang dimiliki oleh masing-masing media tersebut. Tentunya sebuah kebijakan
tidak serta merta sinergi dengan realitas sosial yang ada, bahkan terkadang
bertolak belakang sama sekali. Nilai-nilai yang terdapat pada sebuah
pemberitaan merepresentasikan karakter media itu sendiri, kepentingan
pemilik medianya, sasaran atau target pasar, yang kemudian membentuk
sebuah kebijakan media. Adanya kepentingan itulah memunculkan anggapan
bahwa fakta yang disampaikan dalam sebuah berita bukanlah fakta yang
objektif, melainkan fakta yang sudah dikonstruksi. Kaum konstruksionis
memandang bahwa berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari
konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku jurnalistik. Semua proses
konstruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar,
4
sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir
dihadapan khalayak.5
Sebuah teks, kata Aart Van Zoest, tak pernah lepas dari ideologi dan
memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi.
Menurut Eriyanto, teks, percakapan, dan lainnya adalah bentuk dari praktek
ideologi atau pencerminan ideologi tertentu.6
Media bukan hanya mekanisme sederhana untuk menyebarkan
informasi: media merupakan organisasi kompleks yang membentuk institusi
sosial masyarakat yang penting. Jelasnya, media adalah pemain utama dalam
perjuangan ideologis. Sebagian besar teori komunikasi kritis berhubungan
dengan media terutama karena kekuatan media untuk menyebarkan ideologi
yang dominan dan kekuatannya untuk mengungkapkan ideologi alternatif dan
ideologi yang bertentangan.7
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata
idea dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat, sedangkan
kata logia berasal dari kata logos yang berarti word. Kata ini berasal dari kata
legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjutnya kata logia berarti science
(pengetahuan) atau teori. Jadi, ideologi menurut arti kata ialah pengucapan
dari yang terlihat atau pengutaraan apa yang terumus didalam pikiran sebagai
hasil dari pemikiran.8
5
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LkiS, 2002), h. 68.
6
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), Cet-kelima, h. 60.
7
Stephen, Karen, Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, h. 432.
8
Kasus ISIS menjadi perhatian menarik bagi media massa untuk
membahasnya, tidak terkecuali Repulika Online dan Merdeka.Com. kasus ini
menjadi perhatian, karena kasus tersebut merupakan isu besar dan
menyangkut hajat hidup orang banyak, merugikan negara, berpola pada suatu
konspirasi yang sistemik yang melibatkan banyak pihak, baik aparatur
pemerintahan maupun swasta, baik secara institusi maupun perorangan.
Landasan penulis memilih Republika Online dan Merdeka.Com sebagai objek
penelitian ini adalah karena kedua media tersebut adalah koran nasional yang
mapan dalam segi ekonominya, dan memiliki jumlah pembaca yang banyak
yang menyebar hampir merata ke seluruh bagian di Indonesia.
Media online disini berusaha membentuk opini publik menurut
kehendak media tersebut, setiap media mempunyai cara yang berbeda-beda
dalam menyajikan atau mengkonstruksi suatu realitas. Hal ini dapat terjadi
dikarenakan setiap media memiliki ideologi yang berbeda-beda, sehingga
pengambilan sudut pandang terhadap suatu realitas disesuaikan dengan
ideologi media tersebut.
Penulis menganalisa pemberitaan mengenai kasus ISIS (Islamic State
of Iraq and Syria) di Republika Onlinedan Merdeka.Comdengan
menggunakan analisis framing. Framing adalah pendekatan untuk mengetahui
bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika
menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada
akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan
dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.9 Gagasan
9
mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995.10
Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat
kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana,
serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi
realitas.
Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis
untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa
saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian tersebut tentu saja melalui proses
konstruksi. Disini realitas dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu.
Peristiwa dipahami dengan bentukan tertentu. Hasilnya, pemberitaan media
pada sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang tertentu.11
Model Framing yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
framing Robert N. Entman. Framing, kata Entman, secara esensial meliputi
penseleksian dan penonjolan. Membuat frame adalah menseleksi beberapa
aspek dari suatu pemahaman atas realitas, dan membuatnya lebih menonjol di
dalam suatu teks yang dikomunikasikan sedemikian rupa sehingga
mempromosikan sebuah definisi permasalahan yang khusus, interpretasi
kausal, evaluasi moral, dan atau merekomendasikan penanganannya.12
Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Analisis Framing Pemberitaan ISIS
(Islamic State of Iraq and Syria) PadaRepublika Onlinedan Merdeka.Com
Edisi September 2014”.
10
Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 161.
11
Eriyanto, Analisis Framing, h. 3.
12
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Merujuk pada latar belakang yang peneliti telah paparkan sebelumnya,
maka peneliti membatasi penelitian ini pada tajuk beritayang mengangkat
kasus ISIS padaRepublika Online dan Merdeka.Com edisi September
2014.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka
rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana bingkai pemberitaan ISIS dalam model Robert N.
Entman pada Republika Online?
b. Bagaimana bingkai pemberitaan ISIS dalam model Robert N.
Entman pada Merdeka.Com?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Republika Online dan
Merdeka.Com membingkai pemberitaan mengenai kasus ISIS.
2. Manfaat Penelitian
a. Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangsih dalam
memperkaya ilmu pengetahuan mengenai framing media online dalam
juga diharapkan dapat digunakan sebagai acuan referensi dalam
penelitian selanjutnya.
b. Manfaat Praktis
Sebagai pengetahuan bagi masyarakat untuk memahami
bagaimana pengemasan media terhadap beritanya, sehingga dapat
diketahui kecenderungan nilai-nilai yang dikonstruksi oleh media
dalam pemberitaannya.
D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian adalah salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mencari
suatu kebenaran. Dalam penelitian ilmiah, metode merupakan strategi
yang digunakan untuk mencari kebenaran tersebut.13 Metode penelitian
merupakan strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis
data yang diperlukan untuk menjawab persoalan. Dengan kata lain,
metode penelitian adalah rencana pemecahan persoalan yang sedang
diteliti.14
Metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah metode
penelitian kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N.
Entman. Peneliti menganalisis pemberitaan mengenai kasus ISIS pada
Republika Online dan Merdeka.Com edisi September 2014, dan
menyimpulkan hasil temuan dari analisis tersebut. Hasil dari penelitian ini
bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang bagaimana
13
M. Subana, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah (Bandung: Pustaka Setia, 2005), cet. Ke-2, h. 10.
14
Republika Online dan Merdeka.Com mengkonstruksi kasus ISIS dalam
pemberitaannya dan ideologi yang tercermin dari berita tersebut.
Menurut Lexy J. Moleong penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena apa yang dialami oleh subjek
penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain.
Penelitian ini dilakukan secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam
bentuk kata-kata dan bahasa, pada sutau konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.15
2. Subjek dan Objek Penelitian
Untuk melakukan penelitian yang akurat serta mendapatkan data yang
valid, maka subjek penelitian adalah Republika Online dan Merdeka.Com.
Objek yang dimaksud adalah 3 berita mengenai kasus pada edisi
September 2014. Penulis memilih 3 berita tersebut karena penulis
menganggap 3 berita tersebut sudah mewakili gambaran konstruksi
Republika Online dan Merdeka.Com terhadap kasus ISIS pada edisi
September 2014.
3. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di dua media. Pertama,Republika Online yang
beralamat di Jl. Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510 Telp. (021) 7803747
Fax. (021) 7800649, email: [email protected],
[email protected]. Dan yang kedua Merdeka.Com yang
beralamat di Jl. Tebet Barat IV No.3 Jakarta Selatan, 12810 Email:
[email protected] Telp: (021)83795245 Fax: (021)83795246.
15
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang
digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Pada riset kualitatif ini
yang penulis pakai adalah observasi teks, wawancara, dan juga
dokumentasi. Penelitian ini dengan sengaja memilih informan (dokumen
atau bahan-bahan visual lain) yang dapat memberikan jawaban terbaik
pertanyaan penelitian.16
1) Observasi
Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia
dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya
selain panca indra lainnya seperti telinga, mata, hidung, lidah, dan
kulit. Yang dimaksud metode observasi adalah metode pengumpulan
data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data-data
penelitian ini dapat diamati oleh peneliti. Dalam arti bahwa data
tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti melalui penggunaan
panca indra.17 Penelitian ini menggunakan observasi teks yaitu melalui
data primer dan data sekunder. Data primer, yaitu teks berita seputar
pemberitaan kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Data
sekunder, yaitu berupa buku-buku, koran, maupun tulisan lain yang
berkaitan dengan objek studi ini.
2) Wawancara
16
John W. Creswell, Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif (Jakarta: KIK Press, 2003), h. 143.
17
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.18 Penulis melakukan
wawancara dengan pihak redaksi tentang kebijakan redaksional
Republika Online dan Merdeka.Com dalam mengemas pemberitaan
mengenai kasus ISIS.
3) Studi Kepustakaan (Library Research)
Penulis mengumpulkan dan mempelajari data melalui literatur dan
sumber bacaan, seperti buku-buku yang relevan dengan masalah yang
dibahas dan mendukung penelitian.
5. Teknik Analisis Data
Dalam pemberitaan kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di
Republika Online dan Merdeka.Com, penulis menggunakan teknik analisis
framing model Robert N. Entman, penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui bagaimana kedua media tersebut mengemas beritanya
mengenai kasus ISIS.
Menurut Entman, framing dalam berita dilakukan empat cara, yakni:
pertama, pada identifikasi masalah (problem identification), yaitu
peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa;
kedua, pada identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), yaitu
siapa yang dianggap penyebab masalah; ketiga, pada evaluasi moral
(moral evaluation), yaitu penilaian atas penyebab masalah; dan keempat,
18
saran penanggulangan masalah (treatment recommendation), yaitu
menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang kala
memprediksikan hasilnya.19
6. Pedoman Penulisan
Penulisan dalam penelitian ini mengacu kepada buku Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) karya Hamid
Nasuhi dkk yang diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality
Development and Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.
E. Tinjauan Pustaka
Beberapa skripsi mahasiswa/i yang mengangkat dan menggunakan
metode wacana, di antaranya :
1. “Analisis Framing Berita Kekerasan Terhadap Wartawan SUN TV Di
Okezone.Com”, ditulis oleh Ratna Sari Dewi tahun 2012. Penelitian ini
mengenai bagaimana SUN TV di Okezone.Com membingkai
pemberitaan kekerasan terhadap wartawan. Teori yang digunakan
adalah analisis framing model Robert N. Entman.
2. “Analisis Framing Berita Poligami KH. Abdulllah Gymnastiar Pada
Situs Detik.Com dan Eramuslim.Com”, ditulis oleh Nur Azizah, tahun
2009. Penelitian ini mengenai bagaimana framing berita poligami KH.
Abdullah Gymnastiar pada situs Detik.Com dan EraMuslim.Com, serta
19
bagaimana perbedaan framing kedua situs tersebut. Teori yang
digunakan adalah analisis framing Robert N. Entman.
3. “Analisis Framing Tajuk Rencana Harian Kompas Tentang Konflik
Nuklir Iran”, yang ditulis oleh Naufal Avicenna, tahun 2009.
Penelitian ini mengarah pada bagaimana Tajuk Rencana Kompas
megkonstruksi peristiwa konflik nuklir di Iran dan bagaimana harian
Kompas meramalkan isu nuklir di Iran di masa yang akan datang.
Tinjauan teoritis yang digunakan adalah mengenai Tajuk Rencana dan
Analisis Framing Robert N. Entman.
Penulis memilih ketiga skripsi tersebut karena analisis yang
digunakan adalah analisis framing dengan model Robert N. Entman,
perbedaannya yaitu pada isu yang diangkat berbeda dengan penulis,
media yang menjadi objeknya juga berbeda, pada skripsi ini medianya
adalah Okezone.Com, Kompas, Detik.Com dan EraMuslim.Com.
Sedangkan penulis menggunakan Republika Online dan Merdeka.Com,
maka tentu hasil temuan analisanya juga berbeda.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan terarah, maka penulis
membagi pembahasannya ke dalam lima bab yang dibagi ke dalam sub-sub
bab, dengan penyusunan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan, pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar
belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
BAB II Kerangka Teoritis, bab ini akan menguraikan kajian teoritis
mengenai media online, yang menjelaskan definisi dan perbedaan
karakteristik media online dengan media mainstream. Kemudian menjelaskan
tentang konsep berita, teori agenda media, analisis framing dan analisis
framing model Robert N. Entman.
BAB III Gambaran Umum, bab ini memaparkan mengenai sejarah
singkat, visi dan misi surat kabar tersebut, struktur redaksi dari Republika
Online dan Merdeka.Com.
BAB IV Hasil Temuan dan Analisis Data, bab ini berisi tentang
temuan dan analisa mengenai framing Republika Online dan Merdeka.Com
mengenai kasus ISIS edisi September 2014.
BAB V Penutup, bab ini berisikan mengenai kesimpulan dan saran
A. Media Online
1. Definisi dan Kraketristik Media Online
Media massa memberikan gambaran mengenai alat komunikasi yang
memiliki arah dan tujuan ke berbagai aspek masyarakat secara luas tak
hanya masyarakat kalangan atas saja, melainkan kalangan bawah pun ikut
terlibat. Istilah media massa mengacu kepada sejumlah media yang telah
ada sejak puluhan tahun lalu dan tetap dipergunakan hingga saat ini,
seperti surat kabar, majalah, film, radio, televisi, bahkan media massa
yang saat ini adalah internet.1 Masyarakat dengan mudahnya mendapatkan
berita aktual dengan cepat melalui internet, seperti facebook, twitter, dan
media massa cetak yang masuk ke dalam media online.
Menurut Denis McQuail (2000), media massa memiliki sifat atau
karakteristik yang mampu menjangkau massa dalam jumlah besar dan
luas, bersifat publik dan mampu memberikan popularitas kepada siapa saja
yang muncul di media massa.2
Kata online terdiri dari dua suku kata, yaitu on dan line. Menurut John
M Echols dan Hasan Shadily dalam kamus Inggris Indonesia, kata on
mengandung arti sedang berlangsung. Sdangkan line berarti garis, barisan,
macam, tali, saluran, line, jalan, batas, garis, jurusan, perbentengan,
deretan, dan tema. Online sendiri merupakan bahasa internet yang berati
1
Morissan, Dr. Andy Corry Wardhani, Dr. Farid Hamid U: Teori Komunikasi Massa: Media, Budaya, dan Masayarakat, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 1.
2
informasi dapat diakses di manan saja dan kapan saja selama ada jaringan
internet. Media online bisa menampung berita teks, image, audio, dan
video. Berbeda dengan media cetak yang hanya menampilkan teks dan
image (gambar).
Media online adalah media yang terbit di dunia maya, istilah dunia
maya pertama kali dikenalkan oleh Williams Gibson (1984/1994) dalam
novelnya yang mengartikan dunia maya yaitu realita yang terhubung
secara global didukung komputer, berakses komputer, multidimensi,
artificial, atau virtual (Severin dan James W. Tankard, 2005:445).
Menurut buku Jurnalistik Terapan yang ditulis oleh Syarifuddin Yunus
(2010:27) mengatakan:
“Media online yaitu media internet seperti website, blog, dan lainnya yang terbit/tayang di dunia maya, dapat dibaca dan dilihat di internet. Media online meupakan pemain baru dalam kancah pers Indonesia, menurut beberapa sumber media online di
Indonesia telah tumbuh sejak tahun 1994.”3
Sedangkan menurut Mc Luhan mengatakan:
“Media online adalah gagasan baru dalam bermedia, namun media baru masih mengikut pada media lama dan bahkan sering memanfaatkan media lama sebagai tolak ukur dalam segi isi yang diterapkan di internet. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan kecenderungan koran-koran online untuk mengemas kembali materi-materi dari koran-koran cetak.”4
Beberapa karakteristik umum yang dimiliki online, yaitu:
3
http://ipongnugraha.blogspot.com/2013/05/pengertian-media-online.html diakses pada 06 Februari 2015 pukul 16:08 WIB
4
1. Kecepatan (aktualitas) informasi
Dalam media online, semua kejadian atau peristiwa yang terjadi di
lapangan dapat langsung di upload ke dalam situs web media online, tanpa
harus menunggu hitungan menit, jam atau hari, seperti yang terjadi pada
media elektronik atau media cetak. Dengan demikian mempercepat
distribusi informasi ke pasar (pengakses), dengan jangkauan global lewat
jaringan internet, dan dalam waktu bersamaan .dan umumnya informasi
yang ada tertuang dalam bentuk data dan fakta bukan cerita.
2. Adanya pembaruan (updating) informasi
Informasi disampaikan secara terus menerus, karena adanya
pembaruan (updating) informasi. Penyajian yang bersifat realtime ini
menyebabkan tidak adanya waktu yang diiistemewakan (prime
time) karena penyediaan informasi berlangsung tanpa putus, hanya
tergantung kapan pengguna mau mengaksesnya.
3. Interaktivitas
Salah satu keunggulan media online ini yang paling membedakan
dirinya dengan media lain adalah fungsi interaktif. Model komunikasi
yang digunakan media konvensional biasanya bersifat searah (linear) dan
bertolak dari kecenderungan sepihak dari atas (top-down). Sedangkan
media online bersifat dua arah dan egaliter. Berbagai features yang ada
sepertichatroom, e-mail, online polling/survey, games, merupakan
contoh interactive optionsyang terdapat di media online. Pembaca pun
dapat menyampaikan keluhan, saran, atau tanggapan ke bagian redaksi dan
4. Personalisasi
Pembaca atau pengguna semakin otonom dalam menentukan
informasi mana yang ia butuhkan. Media online memberikan peluang
kepada setiap pembaca hanya mengambil informasi yang relevan bagi
dirinya, dan menghapus informasi yang tidak ia butuhkan. Jadi selektivitas
informasi dan sensor berada di tangan pengguna (self control).
5. Kapasitas muatan dapat diperbesar
Informasi yang termuat bisa dikatakan tanpa batas karena didukung
media penyimpanan data yang ada di server komputer dan sistem global.
Informasi yang pernah disediakan akan tetap tersimpan, dan dapat
ditambah kapan saja, dan pembaca dapat mencarinya dengan mesin
pencari (search engine).
6. Terhubung dengan sumber lain (hyperlink)
Setiap data dan informasi yang disajikan dapat dihubungkan
dengan sumber lain yang juga berkaitan dengan informasi tersebut, atau
disambungkan ke bank data yang dimiliki media tersebut atau dari
sumber-sumber luar. Karakter hyperlink ini juga membuat para pengakses
bisa berhubungan dengan pengakses lainnya ketika masuk ke sebuah situs
media online dan menggunakan fasilitas yang sama dalam media tersebut,
misalnya dalamchatroom, lewat e-mail atau games.5
5
2. Perbedaan Karakteristik Media Online dengan Media Mainstream Media online, termasuk salah satu agen informasi yang banyak dicari
oleh khalayak pada saat ini. Karakteristik yang dimiliki oleh media ini
membius para khalayak yang haus akan informasi.
1. Karakteristik yang paling populer yang dimiliki oleh media online
adalah sifatnya yang real time. Dalam artian, berita, kisah-kisah,
peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian
sedang berlangsung.
2. Karakter lainnya yang membuat media online menjadi begitu banyak
diasumsi adalah sifatnya yang interaktif. Dengan memanfaatkan
hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat
menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain.
Dalam hal ini berarti, pengguna/pembaca dapat menikmati informasi
secara efisien dan efektif namun tetap terjaga dan didorong untuk
mendapatkan pendalaman dan titik pandang yang lebih luas bahkan
berbeda. Interaktifitas juga dapat dilihat dari adanya pemberian feed
back / umpan balik dari pembaca yang membaca sebuah berita melalui
kolom komentar yang disajikan di bawah berita yang dtampilkan.
Sehingga para pembaca dapat memberikan kritik dan sarannya serta
bertukar pikiran dengan pembaca yang lainnya.
3. Selain itu juga, menyertakan unsur-unsur multimedia adalah termasuk
karakteristik lain dari media online yang tidak kalah penting, sehingga
mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya di dalam
suatu berita tidak disertai dengan multimedia baik berupa gambar atau
video bisa jadi berita tersebut diragukan kepercayaanya.
Sedangkan karakteristik yang dimiliki oleh media mainstream :
1. Media Mainstream terpusat pada suatu hal, mengawasi secara ketat,
membakukan norma dan nilai yang lama, mengarahkan perilaku
seseorang untuk menciptakan dukungan kepada pusat kekuasaan.
adapun isi pesan yang disampaikan sangatlah selektif dan saling
berkaitan.
2. Produksi yang dihasilkan itu berupa produksi yang kreatif,
distandarisasi, rutin dan terkontrol. Hubungan yang dimiliki oleh
pemberi pesan dengan penerima pesan memiliki hubungan yang
dominan, manipulatif, dan asimetrik.
3. Jangkauan yang dimiliki oleh media mainstream ini terbilang luas dan
penyebaran informasinya berbentuk vertikal dan searah (monolog),
sehingga peran masyarakat didalamnya tidak termasuk kelompok
yang partisipan akan tetapi termasuk kelompok sasaran. Adapun
contoh dari media mainstream ini adalah televisi, radio, koran,
majalah, dan lain sebagainya.6
B. Berita sebagai Pembentuk Isu
1. Definisi Berita
Berita menjadi informasi yang terbanyak diperoleh bila seseorang
membaca media cetak, bahkan ada yang mengatakan bisa mencapai 90
6
persen, meskipun belum tentu presentasenya seperti itu bila dia
memanfaatkan media elektronik. Walau jumlah berita yang dinikmati
masyarakat begitu banyak, ternyata tidak mudah memmberikan definisi
tentang berita.
Willard C. Bleyer dalam buku Newspaper Writing Editing
mengemukakan bahwa berita adalah sesuatu yang termasa dipilih
wartawan untuk dimuat di surat kabar karena ia dapat menarik
pembaca-pembaca media cetak tersebut.
Sedangkan Romli (2004) mendefinisikan berita merupakan laporan
peristiwa yang memiliki nilai berita (news value) – aktual, faktual,
penting, dan menarik. Berdasarkan berbagai definisi itu, meskipun
berbeda, terdapat persamaan yang mengikat pada berita, meliputi; menarik
perhatian, luar biasa, dan termasa (baru). Karena itu, bisa disimpulkan
bahwa berita adalah informasi atau laporan yang menarik perhatian
masyarakat konsumen, berdasarkan fakta, berupa kejadian dan atau ide
(pendapat), disusun sedemikian rupa dan disebarkan media massa dalam
waktu secepatnya.7
2. Nilai Berita
Syarat berita diminati adalah harus menarik perhatian ‘konsumen’ atau
yang jauh lebih luas, tentu perhatian masyarakat.8 Selain unsur tersebut,
juga terdapat unsur-unsur lain yang tidak terlihat dalam sebuah berita,
tetapi dapat “dirasakan”, unsur itu meliputi hal-hal berikut ini :
7
Mondry, Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 132-133.
8
1. Akurat atau cermat
Suatu berita harus ditulis dengan cermat, baik data, seperti angka dan
nama maupun pernyataan. Karena seorang wartawan perlu melakukan
check dan recheck atau melakukan konfirmasi sebelum menulis berita,
juga harus jeli supaya penulisan deskripsi berita bisa baik pula.
2. Lengkap
Penulisan berita harus lengkap dan utuh sehingga pihak lain tahu
informasinya dengan benar, tetapi bukan berarti menulis berita harus
dipanjang-panjangkan karena itu tidak efisien.
3. Kronologis
Berita sebaiknya ditulis berdasarkan waktu peristiwa agar urutannya
jelas dan lancar, tidak membingungkan pembaca.
4. Magnitude (daya tarik)
Penulisan berita harus dengan mempertimbangkan daya tariknya. Bila
daya tarik informasi yang diperoleh tidak ada, berarti informasi itu
tidak layak dijadikan berita.
5. Balance (berimbang)
Penulisan berita harus balance (berimbang), yang juga diistilahkan
cover both side. Artinya, dalam menulis tidak boleh ada pemihakan
bila terdapat para pihak yang berbeda. Tidak dibenarkan wartawan
atau reporter menulis hanya berdasarkan informasi dari satu pihak saja.
Dia harus berusaha semaksimal mungkin mendapatkan informasi dari
berbagai pihak yang berseberangan, informasi yang seimbang.9
9
3. Jenis Berita
1. Berita keras
Berita keras atau hard news adalah segala informasi penting dan
atau menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena
sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak
audien secepatnya. Dalam hal ini berita keras dibagi ke dalam
beberapa bentuk berita yaitu straight news, features, dan infotainment.
a. Straight News. Straight news berarti berita ‘langsung’ (straught)
maksudnya suatu berita yang singkat (tidak detail) dengan hanya
menyajikan informasi terpenting saja yang mencakup 5W + 1H
(who, what, where, when, why, dan how) terhadap suatu peristiwa
yang diberitakan. Berita jenis ini sangat terikat waktu (deadline)
karena informasinya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan
kepada audien.
b. Feature. Feature adalah berita ringan namun menarik. Pengertian
“menarik” di sini adalah informasi yang lucu, unik, aneh,
menimbulkan kekaguman, dan sebagainya. Pada dasarnya
berita-berita semacam ini dapat dikatakan sebagai softnews karena tidak
terlalu terikat dengan waktu penayangan, namun karena durasinya
singkat (kurang dari lima menit) dan ia menjadi bagian dari
program berita maka feature masuk ke dalam kategori hard news.
c. Infotainment. Kata ‘infotainment’ berasal dari dua kata yaitu
information yang berarti informasi dan entertainment yang berarti
yang memberikan hiburan. Infotainment adalah berita yang
menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang
dikenal masyarakat (celebrity), dan karena sebagian besar dari
mereka bekerja pada industri hiburan seperti pemain film/sinetron,
penyanyi dan sebagainya maka berita mengenai mereka disebut
juga dengan infotainment. Infotainment adalah salah satu bentuk
berita keras karena memuat informasi yang harus segera
ditayangkan.
2. Berita Lunak
Berita lunak atau soft news adalah segala informasi yang penting
dan menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun
tidak bersifat harus segera ditayangkan. Berita yan masuk kategori ini
ditayangkan pada suatu program tersendiri di luar program berita.
Program yang masuk ke dalam kategori berita lunak ini adalah
magazine, current affair, dokumenter, dan talk show.
a. Current Affair. Dari namanya, pengertian current affair adalah
“persoalan kekinian”. Current affair adalah program yang
menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting
yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan
mendalam. Dengan demikian current affair, cukup terkait dengan
waktu dalam hal penayangannya namun tidak seketat hard news,
batasannya adalah bahwa selama isu yang dibahas masih mendapat
b. Magazine. Diberi nama magazine karena topik atau tema yang
disajikan mirip dengan topik-topik atau tema yang terdapat dalam
suatu majalah (magazine). Magazine adalah program yang
menampilkan informasi ringan namun mendalam atau dengan kata
lain magazine adalah feature dengan durasi yang lebih panjang.
Magazine ditayangkan pada program tersendiri yang terpisah dari
program berita. Magazine lebih menekankan pada aspek menarik
suatu informasi ketimbang aspek pentingnya.. suatu program
magazine dengan durasi 30 menit atau satu jam dapat terdiri atas
hanya satu topik atau beberapa topik.
c. Dokumenter. Dokumenter adalah program informasi yang
bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan
dengan menarik. Misalnya program doumenter yang menceritakan
mengenai suatu tempat, kehidupan atau sejarah seorang tokoh atau
kehidupan atau sejarah suatu masyarakat (misalnya suku terasing)
atau kehidupan hewan di padang rumput dan sebagainya. Gaya
atau cara penyajian dokumenter sangat beragam dalam hal teknik
pengambilang gambar , teknik editing dan teknik penceritaannya;
mulai dari yang sederhana hingga yang tersulit. Suatu program
dokumenter adakalanya dibuat seperti membuat sebuah film
sehingga sering disebut dengan film dokumenter.
d. Talk Show. Program talk show atau perbincangan adalah program
yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas
(host). Mereka yang diundang adalah orang-orang yang
berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang
diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah
dibahas.10
Program informasi dalam kategori berita keras atau hard news
dapat dibedakan dengan berita lunak atau soft news berdasarkan sifatnya
[image:39.595.141.508.232.672.2]sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.1
Perbedaan hard news dan soft news11
Hard News
Soft News
Harus ada peristiwa terlebih dahulu
Tidak mesti ada peristiwa terlebih dahulu
Peristiwa harus aktual
Tidak mesti aktual
Harus segera disiarkan
Tidak bersifat segera (timeless)
Mengutamakan informasi terpenting saja
Menekankan pada detail
Tidak menekankan sisi
human interest
Sangat menekankan segi
human interest
Laporan tidak mendalam (singkat)
Laporan bersifat mendalam
Teknik penulisan piramida tegak
Teknik penulisan piramida terbalik
Ditayangkan dalam program berita
Ditanyangkan dalam program lainnya
10
Morissan, Jurnalistik Televisi Mutakhir, (Jakarta: Kencana, 2008), Edisi Pertama, h. 25-28.
11
4. Teori Agenda Media
Sebuah agenda pada dasarnya adalah sebuah daftar hal-hal yang
disusun berdasarkan urutan kepentingannya, dengan yang paling penting
berada di tempat paling atas.12
Agenda setting adalah suatu proses atau efek komunikasi massa di
media terhadap masyarakat dan budaya. Agenda setting menggambarkan
kekuatan pengaruh media yang sangat kuat terhadap pembentukan opini
masyarakat.
Media massa dengan memberikan perhatian pada isu tertentu dan
mengabaikan yang lainnya, akan memiliki pengaruh terhadap pendapat
umum. Masyarakat akan cenderung mengetahui tentang hal-hal yang
diberitakan oleh media massa dan menerima susunan prioritas yang
diberikan media massa terhadap isu-isu yang berbeda. Masyarakat akan
menilai suatu isu menjadi penting apabila media menilai isu tersebut
sebagai penting.
Media massa memiliki kemampuan untuk menyampaikan kepada
masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting
dan kemudian khalayak tidak hanya mempelajari dan memahami isu-isu
pemberitaan tapi juga seberapa penting arti suatu isu atau topik
berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap isu
tersebut. Jadi apa yang dianggap penting dan menjadi dalam suatu agenda
media maka itu pulalah yang juga dianggap penting dan menjadi media
bagi khalayak.
12
Media melakukan seleksi sebelum melaporkan berita dan kemudian
melakukan penciptaan isu di tengah publik terhadap informasi. Media
membuat pilihan apa saja yang akan diberitakan dan tidak. Apa yang
diketahui oleh khalayak pada umumnya merupakan hasil dari buah pikiran
pembentuk opini publik.13
Zucker (1978) menyatakan bahwa menonjolnya isu mungkin menjadi
faktor yang penting dalam apakah terjadi penentuan media atau tidak.
Zucker menyatakan bahwa semakin kurang pengalaman langsung yang
dimiliki publik berkenaan dengan bidang isu tertentu, semakin besar
publik harus bergantung pada media berita untuk informasi tentan bidang
itu. Isu yang dialami langsung oleh publik, seperti pengangguran, adalah
isu yang menonjol (obtrusive issues). Isu yang mungkin tidak dialami
langsung oleh publik, misalnya polusi, adalah isu yang tidak menonjol
(unobtrusive issues).14
Ada 3 proses agenda setting:
1. Media Agenda - dimana isu didiskusikan di dalam media.
2. Public Agenda - ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai
dengan khalayak.
3. Policy Agenda – pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari
pentingnya isu tersebut.
4. Jadi media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan
menekankan topik tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan
13
http://socialmarketingindonesia.blogspot.com/2013/05/agenda-setting-dan-pembentukan-opini.html diakses pada 20 Januari 2015 pukul 12:49 WIB
14
‘agenda’) sehingga membuat publik berpikir bahwa isu yang dipilih
media itu penting.15
Dalam menentukan agenda media, Funkhouser (1973b)
memberikan sebuah daftar lima mekanisme sebagai tambahan untuk arus
peristiwa nyata yang bekerja mempengaruhi besarnya perhatian media
yang mungkin diterima sebuah isu.
1. Adaptasi media terhadap arus peristiwa. Ketika pola yang sama
terus ada, maka hal itu dianggap sebagai “kurang lebih sama” dan
tak lagi dianggap sebagai berita.
2. Pelaporan yang berlebihan tentang peristiwa penting yang tidak
biasa. Beberapa kejadian, seperti tumpahan minyak Santa Barbara,
penting tetapi menerima liputan yang berlebihan karena
keunikannya atau sifatnya yang menimbulkan sensasi.
3. Pelaporan selektif aspek-aspek yang patutu diberikan dari situasi
yang tidak layak diberitakan.misalnya, sebuah penelitian terkenal
menunjukkan leksi detil-detil tertentu, liputan televisi tentang
sebuah parade yang menghormati Jenderal Douglas MacArthur,
tampak lebih menarik daripada kejadian sebenarnya (K. Lang dan
G. E Lang, 1972).
4. Pseudoevent, atau pembuatan peristiwa yang patut dijadikan berita.
Gerakan protes, demonstrasi, protes publik dengan menduduki
tempat, dan trik publisitas adalah contoh-contoh yang pseudeovent
yang bisa membantu memindahkan isu ke agenda pers.
15
5. Rangkuman kejadian, atau situasi yang melukiskan kejadian biasa
dengan cara yang patut dijadikan berita. Contohnya adalah
perilisan laporan umum ahli bedah pada tahun 1964 yang
menunjukkan hubungan antara merokok dengan kanker
paru-paru.16
Shoemaker dan Reese (1991), dengan memanfaatkan karya Herbert
Gans dan Todd Gitlin mengusulkan lima kategori utama pengaruh isi
media :
1. Pengaruh dari pekerja media secara individu. Di antara
pengaruh-pengaruh ini adlaah karakteristik pekerja komunikasi, latar
belakang profesional dan kepribadian, sikap pribadi, dan
peran-peran profesional.
2. Pengaruh-pengaruh rutinitas media. Apa yang diterima media
massa dipengaruhi oleh praktik-praktik komunikasi sheari-hari
communicator/orang penghubung, termasuk deadline/batas waktu
dan kendala waktu lainnya, kebutuhan ruang dalam penerbitan,
struktur piramida terbaik untuk menulis berita, nilai berita, standar
objektivitas, dan kepercayaan reporter pada sumber-sumber berita.
3. Pengaruh organisasi terhadap isi. Organisasi media memiliki
beberapa tujuan, dan menghasilkan uang sebagai salah satu yang
paling umum digunakan. Tujuan-tujuan organisasi media ini bisa
berdampak pada isi melalui berbagai cara.
16
4. Pengaruh terhadap isi dari luar organisasi media. Pengaruh
pengaruh ini meliputi kelompok-kelompok kepentingan yang
melobi untuk mendapatkan persetujuan (atau menentang)
jenis-jenis isi tertetnu, orang-orang yang menciptakan pseudoevent untuk
mendapatkan liputan media, dan pemerintah yang mengatur isi
secara langsung dengan undang-undang pencemaran nama baik dan
ketidaksopanan.
5. Pengaruh ideologi. Ideologi menggambarkan fenomena tingkat
masyarakat. Yang asasi bagi ideologi di Amaerika Serikat adalah
“kepercayaan dalam nilai sistem ekonomi kapitalis, kepemilikan
pribadi, pencapaian laba dengan wiraswasta utnuk kepentingan
pribadi, dan pasar bebas” (hlm. 184). Ideologi yang menyeluruh ini
mungkin memperngaruhi isi media massa dengan banyak cara.
Lima kategori ini bervariasi mulai dari pengaruh pekerja media
secara individu, yang menggambarkan tingkat yang paling “mikro”,
sampai pengaruh ideologi, yang menggambarkan tingkat yang paling
“makro”. Kategori-kategori tersebut membentuk apa yang disebut
Shoemaker dan Reese (1991) sebagai “hierarki pengaruh”, dengan
ideologi menempati pucncak hierarki dan perlahan-lahan turun ke bawah
ke semua tingkat yang lainnya.
Individu-individu tertentu, yang disebut orang-orang yang
mengetahui terlebih dahulu (early recognizer), juga bisa memainkan peran
kunci (Brosius dan Weimann, 1996) dalam menentukan agenda media. Ini
adalah orang-orang yang mengetahui sebuah isu pada tahap-tahap
pekerjaannya melakukan pengamatan dan yang terikat dengan jaringan
kerja organisasi dan sosial.17
Dalam aplikasi penentuan agenda, sebagian peneliti melangkah
melampaui penelitian pembentukan agenda oleh pers untuk
mempertimbangkan bagaimana gagasan-gagasan penentuan agenda
mungkin diterapkan dalam cara-cara untuk membuat masyarakat bertindak
dengan lebih baik. Gurevitch dan Blumler (1990) menyatakan bahwa
demokrasi menuntut media massa terlibat dalam “penentuan agenda yang
bermakna, dengan mengidentifikasi isu-isu kunci sekarang ini, termasuk
kekuatan-kekuatan yan telah membentuk dan mungkin menjelaskan isu-isu
itu” (hlm. 270). Carter, Stamm, dan Heintz-Knowles (1992) menyatakan
“Penelitian penentuan agenda perlu meningkat lebih dari sekedar
memberikan ukuran lebih baik dampak media sekarang ini. Kita perlu
memahami penentuan agenda dengan cukup baik untuk menunjukkan apa
yang mungkin dilakukan media untuk memperbaiki kemaampuan publik
untuk berpikir bersama tentang masalah-masalah bersama” (hlm. 870).
Shaw dan Martin (1992) menyatakan bahwa media, melalui
penentuan agenda, berfungsi untuk memberi kesepakatan yang cukup
memadai pada isu-isu publik untuk memungkinkan sebuah dialog di antara
kelompok-kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Dalam
hal ini, penentuan agenda berfungsi sebagai sebuah peranti pembentuk
konsensus yang memungkinkan demokrasi bekerja.18
17
Werner J. Severin, James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, h. 277-278.
18
C. Framing
1. Definisi Framing
Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif
atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu
dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya
menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan
dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.19 Gagasan
mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995.20
Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat
kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan
wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk
mengapresiasi realitas.
Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana
media mengkonstruksi realitas. Analisis framing juga dipakai untuk
melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media.21
Prinsip analisis framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan
penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang terberitakan
dalam media. Fakta ini tidak ditampilkan apa adanya, namun diberi
bingkai (frame) sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik
(Sudibyo 2001:157). Dalam memberitakan peristiwa tertentu, media lazim
menyeleksi sumber berita, memberikan bobot fakta yang satu lebih dari
19
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), Cet-kelima, h. 162.
20
Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing,h. 161.
21
yang lain, serta mengedepankan perspektif tertentu sehingga sebuah
interpretasi lebih diterima dibanding interpretasi yang lain.22
Dalam analisis framing, yang kita lakukan pertama kali adalah melihat
bagaimana media mengkonstruksi realitas. Peristiwa dipahami bukan
sesuatu yang taken for granted. Sebaliknya, wartawan dan medialah yang
secara aktif membentuk realitas. Berbagai hal yang terjadi, fakta, orang,
diabstraksikan menjadi peristiwa yang kemudian hadir di hadapan
khalayak. Jadi, dalam penelitian framing, yang menjadi titik persoalan
adalah bagaimana realitas/peristiwa dikonstruksi oleh media. Lebih
spesifik, bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi
tertentu. Sehingga yang menjadi titik perhatian bukan apakah media
memberikan negatif atau positif, melainkan bagaimana bingkai yang
dikembangkan oleh media.23
Framing terutama melihat bagaimana pesan/peristiwa dikontsruksi
oleh media. Bagaimana wartawan mengkonstruksi peristiwa dan
menyajikannya kepada khalayak pembaca.
[image:47.595.121.514.213.701.2]Beberapa definisi framing dari para ahli :
Tabel 2.2
Definisi Framing
Robert N. Entman Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga
bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol
dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan
penempatan informasi-informasi dalam konteks
22
Rusmulyadi, Jurnal Komunikasi Islam (Surabaya: Jurusan Komunikasi Dan Penyiaran Islam,