• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluation of Weathering Stage, Soil Development, and Soil Classification at Karangsambung Formation and Melange Lok Ulo complex in Karangsambung, Kebumen, Central Java. Supervised

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Evaluation of Weathering Stage, Soil Development, and Soil Classification at Karangsambung Formation and Melange Lok Ulo complex in Karangsambung, Kebumen, Central Java. Supervised"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

PENILAIAN TINGKAT PELAPUKAN, PERKEMBANGAN,

DAN KLASIFIKASI TANAH PADA FORMASI GEOLOGI

KARANGSAMBUNG DAN KOMPLEK MELANGE LOK ULO

DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

Oleh:

ANDHIKA NUGRAHENI

A24104026

PROGRAM STUDI ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SUMMARY

ANDHIKA NUGRAHENI. Evaluation of Weathering Stage, Soil Development, and Soil Classification at Karangsambung Formation and Melange Lok Ulo complex in Karangsambung, Kebumen, Central Java. Supervised by HIDAYAT WIRANEGARA and ISKANDAR.

Geographically Indonesia is a country that is influenced by Hindia Australia, Eurasia, and Pacific plates interaction. One of the evidence of interaction can be seen in Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. According to Sukendar Asikin (1974), stratigraphy of Karangsambung is Melange Lok Ulo complex, Totogan-Karangsambung formation, Waturondo formation, and Panosogan formation. This research was aimed to study the relation between geologic formation/soil parent material as one of land component with weathering stage, soil development and its soil classification by Soil Taxonomy System.

The research was done with soil morphology description of six soil profiles that located in Karangsambung formation (P1 developed on diabas and P6 develop on Shale) and Melange Lok Ulo complex (P2 developed on phylite, P3 developed on chert, P4 developed on marble, and P5 developed on basalt). Besides that, soil sampling, laboratory analysis, evaluation of weathering stage by mineralogical, chemical, and physical methods, and soil classification by Soil Taxonomy were also conducted.

(3)

RINGKASAN

ANDHIKA NUGRAHENI. Penilaian Tingkat Pelapukan, Perkembangan, dan Klasifikasi Tanah pada Formasi Geologi Karangsambung dan Komplek Melange Lok Ulo di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan

HIDAYAT WIRANEGARA dan ISKANDAR.

Secara geografis Indonesia merupakan negara yang dipengaruhi oleh hasil interaksi lempeng Hindia Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik. Salah satu bukti pertemuan lempeng tersebut dapat dilihat di daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Menurut Sukendar Asikin (1974) stratigrafi daerah Karangsambung meliputi Komplek Melange Lok Ulo, Formasi Totogan-Karangsambung, Formasi Waturondo, dan Formasi Panosogan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara formasi geologi/bahan induk sebagai salah satu komponen lahan dengan tingkat pelapukan dan perkembangan tanah serta klasifikasinya menurut Sistem Taksonomi Tanah.

Penelitian dilakukan dengan pendiskripsian morfologi enam profil tanah yang terletak pada formasi Karangsambung (P1 di atas batuan diabas dan P6 di atas batuan batu lempung) dan Komplek Melange Lok Ulo (P2 di atas batuan filit, P3 di atas batuan rijang, P4 di atas batuan marmer dan P5 di atas batuan basalt). Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel tanah, analisis laboratorium, penilaian tingkat pelapukan tanah secara mineralogi, secara fisik dan secara kimia, serta pengklasifikasian tanah berdasarkan Soil Taxonomy.

(4)

PENILAIAN TINGKAT PELAPUKAN, PERKEMBANGAN, DAN KLASIFIKASI TANAH PADA FORMASI GEOLOGI KARANGSAMBUNG DAN KOMPLEK MELANGE LOK ULO

DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

Skripsi

sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian,

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

ANDHIKA NUGRAHENI A24104026

PROGRAM STUDI ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Penilaian Tingkat Pelapukan, Perkembangan, dan Klasifikasi Tanah pada Formasi Geologi Karangsambung dan Komplek Melange Lok Ulo di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

Nama Mahasiswa : Andhika Nugraheni

Nomor Pokok : A24104026

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Hidayat Wiranegara Dr. Ir. Iskandar NIP. 130 536 666 NIP. 131 664 406

Mengetahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP. 131 124 019

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukoharjo, 5 Januari 1987 dari pasangan Bapak H. Sukamto dan Ibu Hj. Sugiyanti. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ir. Hidayat Wiranegara selaku pembimbing akademik dan pembimbing kesatu dalam penulisan skripsi yang telah banyak memberikan masukan. 2. Dr. Ir. Iskandar selaku pembimbing kedua penulisan skripsi yang telah

banyak memberikan masukan.

3. Dr. Ir. Darmawan, M.Sc selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan.

4. Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung - LIPI, Kebumen yang telah menyediakan fasilitas selama pengambilan sampel tanah.

5. Bapak Sodik, bapak Arif dan bapak Saefudin yang telah banyak membantu dalam pencarian lokasi pengambilan sampel tanah, pencarian literatur serta pengambilan data pendukung di Karangsambung, Kebumen.

6. Ayahanda, Ibunda, mas Agus Nugroho, Agustina Dwi Adianti dan keluarga Om Sriyanto di Bekasi yang telah banyak memberikan nasehat dan dukungan.

7. Andhi dan Ratna selaku teman se-tim penelitian. Terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya.

8. Bu Oktori, Bu Yani, dan Pak Mantri yang telah banyak membantu selama penulis berada di laboratorium.

Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Februari 2009

(8)

DAFTAR ISI

3.4 Penilaian Tingkat Pelapukan ... 11

3.4.1 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Mineralogi ... 11

3.4.2 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Fisik ... 11

3.4.2 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Kimia... 12

3.5 Klasifikasi Tanah ... 12

BAB IV. KEADAAN LOKASI PENELITIAN ... 13

4.1 Lokasi Penelitian ... 13

4.2 Topografi ... 13

4.3 Geologi ... 13

4.4 Vegetasi dan Penggunaan Lahan ... 14

(9)

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 17

5.1 Penilaian Tingkat Pelapukan ... 17

5.2 Penilaian Tingkat Perkembangan Tanah ... 18

5.3 Klasifikasi Tanah ... 19

5.3.1 Profil P1, P5, dan P6 ... 19

5.3.2 Profil P2, P3, dan P4 ... 20

5.4 Kaitan Antara Tingkat Pelapukan, Tingkat Perkembangan, dan Hasil Klasifikasi Tanah dengan Formasi Geologi 21 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 24

6.1 Kesimpulan ... 24

6.2 Saran ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26

LAMPIRAN ... 27

(10)

DAFTAR TABEL

No Halaman

Teks

1. Lokasi Daerah Penelitian ... 13

2. Sifat-Sifat yang Menentukan Tingkat Pelapukan ... 17

3. Hubungan antara Formasi Geologi dengan Nama Tanah ... 22

Lampiran 1. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P1 ... 28

2. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P2 ... 28

3. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P3 ... 29

4. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P4 ... 30

5. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P5 ... 31

6. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P6 ... 31

7. Data Curah Hujan Daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah Tahun 2002-2007 ... 32

8. Sifat Fisika Profil Tanah di Lokasi Penelitian ... 33

9. Sifat Kimia Profil Tanah di Lokasi Penelitian ... 34

(11)

PENILAIAN TINGKAT PELAPUKAN, PERKEMBANGAN,

DAN KLASIFIKASI TANAH PADA FORMASI GEOLOGI

KARANGSAMBUNG DAN KOMPLEK MELANGE LOK ULO

DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

Oleh:

ANDHIKA NUGRAHENI

A24104026

PROGRAM STUDI ILMU TANAH

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

SUMMARY

ANDHIKA NUGRAHENI. Evaluation of Weathering Stage, Soil Development, and Soil Classification at Karangsambung Formation and Melange Lok Ulo complex in Karangsambung, Kebumen, Central Java. Supervised by HIDAYAT WIRANEGARA and ISKANDAR.

Geographically Indonesia is a country that is influenced by Hindia Australia, Eurasia, and Pacific plates interaction. One of the evidence of interaction can be seen in Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. According to Sukendar Asikin (1974), stratigraphy of Karangsambung is Melange Lok Ulo complex, Totogan-Karangsambung formation, Waturondo formation, and Panosogan formation. This research was aimed to study the relation between geologic formation/soil parent material as one of land component with weathering stage, soil development and its soil classification by Soil Taxonomy System.

The research was done with soil morphology description of six soil profiles that located in Karangsambung formation (P1 developed on diabas and P6 develop on Shale) and Melange Lok Ulo complex (P2 developed on phylite, P3 developed on chert, P4 developed on marble, and P5 developed on basalt). Besides that, soil sampling, laboratory analysis, evaluation of weathering stage by mineralogical, chemical, and physical methods, and soil classification by Soil Taxonomy were also conducted.

(13)

RINGKASAN

ANDHIKA NUGRAHENI. Penilaian Tingkat Pelapukan, Perkembangan, dan Klasifikasi Tanah pada Formasi Geologi Karangsambung dan Komplek Melange Lok Ulo di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan

HIDAYAT WIRANEGARA dan ISKANDAR.

Secara geografis Indonesia merupakan negara yang dipengaruhi oleh hasil interaksi lempeng Hindia Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik. Salah satu bukti pertemuan lempeng tersebut dapat dilihat di daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Menurut Sukendar Asikin (1974) stratigrafi daerah Karangsambung meliputi Komplek Melange Lok Ulo, Formasi Totogan-Karangsambung, Formasi Waturondo, dan Formasi Panosogan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara formasi geologi/bahan induk sebagai salah satu komponen lahan dengan tingkat pelapukan dan perkembangan tanah serta klasifikasinya menurut Sistem Taksonomi Tanah.

Penelitian dilakukan dengan pendiskripsian morfologi enam profil tanah yang terletak pada formasi Karangsambung (P1 di atas batuan diabas dan P6 di atas batuan batu lempung) dan Komplek Melange Lok Ulo (P2 di atas batuan filit, P3 di atas batuan rijang, P4 di atas batuan marmer dan P5 di atas batuan basalt). Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel tanah, analisis laboratorium, penilaian tingkat pelapukan tanah secara mineralogi, secara fisik dan secara kimia, serta pengklasifikasian tanah berdasarkan Soil Taxonomy.

(14)

PENILAIAN TINGKAT PELAPUKAN, PERKEMBANGAN, DAN KLASIFIKASI TANAH PADA FORMASI GEOLOGI KARANGSAMBUNG DAN KOMPLEK MELANGE LOK ULO

DI KARANGSAMBUNG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

Skripsi

sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian,

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

ANDHIKA NUGRAHENI A24104026

PROGRAM STUDI ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(15)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Penilaian Tingkat Pelapukan, Perkembangan, dan Klasifikasi Tanah pada Formasi Geologi Karangsambung dan Komplek Melange Lok Ulo di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

Nama Mahasiswa : Andhika Nugraheni

Nomor Pokok : A24104026

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Hidayat Wiranegara Dr. Ir. Iskandar NIP. 130 536 666 NIP. 131 664 406

Mengetahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP. 131 124 019

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukoharjo, 5 Januari 1987 dari pasangan Bapak H. Sukamto dan Ibu Hj. Sugiyanti. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

(17)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ir. Hidayat Wiranegara selaku pembimbing akademik dan pembimbing kesatu dalam penulisan skripsi yang telah banyak memberikan masukan. 2. Dr. Ir. Iskandar selaku pembimbing kedua penulisan skripsi yang telah

banyak memberikan masukan.

3. Dr. Ir. Darmawan, M.Sc selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan.

4. Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung - LIPI, Kebumen yang telah menyediakan fasilitas selama pengambilan sampel tanah.

5. Bapak Sodik, bapak Arif dan bapak Saefudin yang telah banyak membantu dalam pencarian lokasi pengambilan sampel tanah, pencarian literatur serta pengambilan data pendukung di Karangsambung, Kebumen.

6. Ayahanda, Ibunda, mas Agus Nugroho, Agustina Dwi Adianti dan keluarga Om Sriyanto di Bekasi yang telah banyak memberikan nasehat dan dukungan.

7. Andhi dan Ratna selaku teman se-tim penelitian. Terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya.

8. Bu Oktori, Bu Yani, dan Pak Mantri yang telah banyak membantu selama penulis berada di laboratorium.

Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Februari 2009

(18)

DAFTAR ISI

3.4 Penilaian Tingkat Pelapukan ... 11

3.4.1 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Mineralogi ... 11

3.4.2 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Fisik ... 11

3.4.2 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Kimia... 12

3.5 Klasifikasi Tanah ... 12

BAB IV. KEADAAN LOKASI PENELITIAN ... 13

4.1 Lokasi Penelitian ... 13

4.2 Topografi ... 13

4.3 Geologi ... 13

4.4 Vegetasi dan Penggunaan Lahan ... 14

(19)

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 17

5.1 Penilaian Tingkat Pelapukan ... 17

5.2 Penilaian Tingkat Perkembangan Tanah ... 18

5.3 Klasifikasi Tanah ... 19

5.3.1 Profil P1, P5, dan P6 ... 19

5.3.2 Profil P2, P3, dan P4 ... 20

5.4 Kaitan Antara Tingkat Pelapukan, Tingkat Perkembangan, dan Hasil Klasifikasi Tanah dengan Formasi Geologi 21 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 24

6.1 Kesimpulan ... 24

6.2 Saran ... 25

DAFTAR PUSTAKA ... 26

LAMPIRAN ... 27

(20)

DAFTAR TABEL

No Halaman

Teks

1. Lokasi Daerah Penelitian ... 13

2. Sifat-Sifat yang Menentukan Tingkat Pelapukan ... 17

3. Hubungan antara Formasi Geologi dengan Nama Tanah ... 22

Lampiran 1. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P1 ... 28

2. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P2 ... 28

3. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P3 ... 29

4. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P4 ... 30

5. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P5 ... 31

6. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P6 ... 31

7. Data Curah Hujan Daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah Tahun 2002-2007 ... 32

8. Sifat Fisika Profil Tanah di Lokasi Penelitian ... 33

9. Sifat Kimia Profil Tanah di Lokasi Penelitian ... 34

(21)

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

Teks

1. Peta Geologi Daerah Penelitian ... 16

Lampiran

(22)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang dipengaruhi oleh hasil interaksi lempeng Hindia Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik, sehingga Indonesia sangat kaya akan gunung berapi, jalur mineralisasi, serta berbagai bentuk fenomena fisik alam. Akibat adanya pertemuan lempeng-lempeng tersebut, Indonesia merupakan salah satu negara paling labil di dunia. Salah satu bukti pertemuan lempeng Samudra Hindia Australia dengan lempeng Benua Eurasia dapat dilihat di daerah Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Berbagai jenis batuan tua (batuan beku, sedimen dan metamorf) hasil tumbukan lempeng-lempeng tersebut dapat ditemukan di daerah Karangsambung.

Menurut Sukendar Asikin (1974) dalam buku panduan geowisata Karangsambung, stratigrafi daerah Karangsambung meliputi Komplek Melange Lok Ulo, Formasi Totogan-Karangsambung, Formasi Waturondo, dan Formasi Panosogan. Salah satu komplek yang unik di daerah Karangsambung adalah Komplek Melange Lok Ulo, karena di daerah tersebut batuan pra tersier dan tersier awal tercampur aduk secara tektonik, sehingga di daerah tersebut dapat ditemukan batuan beku, sedimen, dan batuan metamorf yang letaknya berdekatan.

Suatu formasi geologi selalu menjelaskan waktu atau umur dan jenis batuan atau bahan induk. Meskipun demikian, tanah yang terbentuk di atas suatu formasi geologi belum tentu berasal dari batuan atau bahan induk yang terdapat pada formasi geologi tersebut. Hal ini dijelaskan oleh adanya proses geologi yang relatif baru, seperti terjadinya penutupan formasi geologi tersebut oleh bahan-bahan yang lebih muda. Akibatnya memungkinkan dijumpai tanah yang mempunyai susunan mineral berbeda dengan susunan mineral yang terdapat dalam formasi geologi di bawahnya.

(23)

membedakan batuan yang satu dengan batuan yang lainnya. Perbedaan karakteristik batuan akan menyebabkan jenis-jenis tanah dengan daya dukung yang berbeda-beda terhadap tanaman. Berdasarkan proses pembentukannya batuan dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Ketiga kelompok batuan ini di permukaan bumi akan berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan yang lain misalnya iklim dan organisme, sehingga mengalami perubahan bentuk melalui pelapukan. Dengan proses pelapukan maka permukaan batuan yang keras menjadi hancur dan berubah menjadi tanah.

Proses perkembangan tanah akan menghasilkan horison-horison genetik pada tubuh tanah yang bersangkutan. Pada tanah-tanah yang telah berkembang akan ditemukan horison-horison A, B, C sedangkan tanah yang belum berkembang kemungkinan akan ditemukan horison A dan C saja. Pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor yaitu bahan induk, iklim, topografi, organisme dan waktu. Lima faktor pembentuk tanah dalam prosesnya saling berpengaruh melalui berbagai reaksi dan taraf intensitasnya, yang akhirnya membentuk tanah tertentu. Pada genesis tanah salah satu faktor dapat mempunyai peranan yang lebih menonjol. Tanah-tanah yang telah terbentuk dapat diklasifikasikan. Sistem pengklasifikasian tanah yang dipakai di Indonesia ada tiga yaitu sistem PPT, FAO UNESCO, dan Sistem Taksonomi Tanah. Namun dalam penelitian ini sistem pengkalsifikasian tanahnya lebih ditekankan pada sistem Taksonomi Tanah karena sistem ini bersifat kuantitatif dan universal.

1.2 Tujuan penelitian

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanah

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan. Horison atau lapisan ini dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai suatu hasil dari proses penambahan, kehilangan, pemindahan, dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alami (Soil Survey Staff, 2006). Sedangkan menurut Jenny (1941 dalam Soepardi, 1983), tanah merupakan fungsi dari iklim, organisme, bahan induk, topografi dan waktu.

2.2 Pelapukan Tanah

Pelapukan merupakan suatu proses perubahan batuan/mineral secara fisik dan kimia. Batuan yang melapuk akan menghasilkan tanah. Proses pelapukan tersebut merupakan disintegrasi dan dekomposisi dari batuan secara fisik dan kimia, yang disebabkan oleh kandungan mineral yang tidak berada pada kondisi yang seimbang di bawah pengaruh suhu, tekanan, dan kelembaban atmosfer/litosfer (Buol, Hole and Mc Cracken, 1973).

Menurut Tan (1993) pelapukan adalah disintegrasi dan alterasi batuan dan mineral oleh proses fisik dan kimia. Pelapukan fisik disebabkan oleh tekanan fisik pada batuan dan mineral. Hal ini menyebabkan batuan mengalami disintegrasi menjadi material yang berukuran lebih kecil, tanpa mengalami perubahan komposisi kimia. Pelapukan kimia disebabkan oleh reaksi kimia dan hasil pelapukan mengalami perubahan kimia.

(25)

Mineral adalah bahan alam homogen dari senyawa anorganik asli, mempunyai susunan kimia tetap dan susunan molekul tertentu dalam bentuk geometrik. Dipandang dari sudut ilmu tanah, mineral penyusun batuan dapat dibagi atas tiga golongan: (1) mineral primer, (2) mineral sekunder, dan (3) mineral aksesori yang terdapat pada hampir semua batuan dan jumlahnya sedikit (Darmawijaya,1990). Mineral primer adalah mineral yang langsung terbentuk dari pengkristalan senyawa-senyawa dalam magma akibat penurunan suhu. Sedangkan mineral sekunder adalah mineral berukuran halus (2µm), terbentuk pada waktu proses pembentukan tanah, merupakan hasil pelapukan kimiawi dari mineral primer ataupun hasil pembentukan baru dalam proses pembentukan tanah sehingga mempunyai susunan kimia dan struktur yang berbeda dengan mineral yang dilapuk (Agus, Fahmuddin, et al; 2004). Goldich (1938 dalam Buol, et al; 1973) mengemukakan deret stabilitas mineral terhadap pelapukan sebagai berikut:

Berdasarkan deret stabilitas mineral tersebut dapat dibedakan mineral yang mudah lapuk dan sukar lapuk. Mineral mudah lapuk yaitu mineral yang mudah melepaskan unsur-unsur penyusunnya karena proses pelapukan. Yang tergolong dalam mineral mudah lapuk yaitu olivin, gelas volkan, hiperstin, augit, dan

Olivin

Piroksen Ca-Feldspar

Amphibol Na-Feldspar

Biotit

Muskovit

Kuarsa

(26)

plagioklas. Sedangkan mineral tahan lapuk (resisten) yaitu kelompok mineral yang tahan terhadap pelapukan fisik maupun kimia. Yang tergolong dalam mineral resisten adalah kuarsa, ilmenit, rutil, dan zirkon (Agus, Fahmuddin, et al; 2004). Makin besar jumlah ikatan Si-O dengan rangkaian jumlah tetrahedra silika yang semakin besar melalui penggunaan bersama atom oksigen, makin besar pula ketahanannya terhadap pelapukan (Tan, 1991).

2.3 Proses Pembentukan Tanah

Batuan yang berada di perut bumi, secara geologis merupakan cikal bakal bahan induk yang sangat menentukan proses pembentukan tanah dan bentang alam (landscape) yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, yakni: iklim, organisme, proses geomorfik yang dominan dan waktu. Dengan demikian logis apabila pada masing-masing formasi geologi akan menghasilkan jenis tanah dan tipe bentukan lahan yang berbeda-beda pula tergantung intensitas faktor yang dominan dalam proses genesisnya. Selanjutnya dengan kondisi jenis tanah dan bentuk lahan yang berbeda ini, akan menghasilkan tutupan vegetasi alami yang berbeda pula, sehingga bentuk ekosistemnya pun akan beragam karakteristik dan keunikannya.

Suatu formasi geologi selalu menjelaskan waktu atau umur dan jenis batuan atau bahan induk. Meskipun demikian, tanah yang terbentuk di atas suatu formasi geologi belum tentu berasal dari batuan atau bahan induk yang terdapat pada formasi geologi tersebut. Hal ini dijelaskan oleh adanya proses geologi yang relatif baru, seperti terjadinya penutupan formasi geologi tersebut oleh bahan-bahan yang lebih muda. Akibatnya memungkinkan dijumpai tanah yang mempunyai susunan mineral berbeda dengan susunan mineral yang terdapat dalam formasi geologi di bawahnya.

(27)

organik ke permukaan tanah, transformasi senyawa-senyawa di dalam tanah, dan pemindahan komponen-komponen di tanah tersebut (Tan, 1991).

2.4 Perkembangan Tanah

Proses perkembangan tanah akan menghasilkan horison-horison genetik pada tubuh tanah yang bersangkutan. Pada tanah-tanah yang telah berkembang akan ditemukan horison-horison A, B, C sedangkan tanah yang belum berkembang kemungkinan akan ditemukan horison A dan C saja.

Menurut Hardjowigeno (2003), proses perkembangan tanah ada empat tahap, yaitu:

1. Tanah muda

Pada tingkat ini proses pembentukan tanah terutama berupa proses pelapukan bahan organik dan bahan mineral, pencampuran bahan organik dan bahan mineral di permukaaan tanah, serta pembentukan struktur tanah karena pengaruh bahan organik (sebagai perekat). Hasilnya adalah pembentukkan horison A dari horison C. Sifat tanah masih didominasi oleh sifat-sifat bahan induknya. Termasuk tanah muda adalah tanah Entisol.

2. Tanah dewasa

Dengan proses lebih lanjut, maka tanah-tanah muda dapat diubah menjadi tanah dewasa yaitu dengan proses pembentukkan horison B. Horison B terbentuk akibat penimbunan liat (iluviasi) dari lapisan atas ke lapisan bawah. Pada tingkat ini tanah mempunyai kemampuan berproduksi tinggi, karena unsur hara di dalam tanah cukup tersedia sebagai hasil dari pelapukan mineral, sedang pencucian unsur hara belum lanjut. Jenis tanah yang termasuk dalam tingkat ini antara lain Inceptisol, Andisol, Mollisol, Vertisol.

3. Tanah tua

(28)

lapuk, dan kandungan bahan organik lebih rendah dari tanah dewasa. Akumulasi liat atau seskuioksida di horison B sangat nyata sehingga membentuk horison argilik (Bt) atau horison spodik (Bs). Apabila tidak ada pencucian liat atau seskuioksida, maka horison E tidak terbentuk sedangkan di horison B tidak terjadi penimbunan liat atau seskuioksida. Walaupun demikian, proses pelapukan berjalan lanjut, sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit dan terbentuklah banyak oksida-oksida besi dan aluminium. Horison ini disebut horison oksik (Bo). Jenis-jenis tanah yang menurut perkembangan horisonnya disebut tanah tua adalah Ultisol, Spodosol, dan Oksisol.

(29)

Berbagai kondisi yang menghambat perkembangan profil tanah:

1. Curah hujan rendah (pelapukan rendah, material terlarut yang tercuci sedikit).

2. Kelembaban relatif rendah (pertumbuhan mikroorganisme seperti alga, fungi, lichenes rendah).

3. Bahan induk mengandung kuarsa yang tinggi dengan kandungan debu dan liat yang rendah (pelapukan lambat, gerakan koloid rendah).

4. Kandungan liat tinggi (aerasi jelek, pergerakan air lambat). 5. Bahan induk resisten misal quarsite (pelapukan lambat).

6. Kelerengan tinggi (erosi menyebabkan hilangnya lapisan top soil, pengambilan air tanah rendah)

7. Suhu dingin (semua aktivitas pelapukan dan mikroba lambat).

8. Akumulasi material secara konstan (material baru menyebabkan perkembangan tanah menjadi baru).

(Anonim, 2008)

2.4 Klasifikasi Tanah

Menurut Sopher dan Baird (1978 dalam Rachim, 2001), klasifikasi tanah adalah penggolongan tanah secara sistematik ke dalam kelas-kelas atas dasar sifat-sifatnya. Sistem pengklasifikasian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem Taksonomi Tanah. Sistem ini merupakan suatu sistem klasifikasi tanah yang bersifat universal. Hampir semua negara di dunia menggunakan sistem ini untuk mengklasifikasikan tanah, meskipun ada sistem lain seperti FAO UNESCO. Indonesia sendiri memiliki sistem klasifikasi tanah tersendiri yaitu Sistem Pusat Penelitian Tanah (1983) yang masih dipakai hingga sekarang. Sistem Taksonomi Tanah dapat diterima semua pihak karena dalam pengklasifikasian tanah berdasarkan pada sifat tanah yang ditemukan di lapangan yang dapat diukur secara kuantitatif yang berhubungan dengan genesis tanah yang membentuk morfologi tanah tersebut, sehingga sistem ini bersifat terbuka untuk tanah-tanah baru yang berbeda dengan tanah-tanah yang ditemukan sebelumnya.

(30)

pengkelasan tanah ditentukan oleh ada tidaknya dan jenis horison penciri klasifikasi, serta sifat penciri klasifikasi yang dimiliki oleh masing-masing tanah. Horison penciri klasifikasi mencakup epipedon dan horison bawah penciri, sedangkan sifat penciri klasifikasi meliputi sifat-sifat penting hasil pedogenesis dan yang mempengaruhi proses pedogenesis.

(31)

BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu penelitian lapang di Laboratorium Alam Geologi Karangsambung (LIPI Karangsambung) dan analisis tanah di laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Penelitian lapang dan pengambilan sampel tanah dilaksanakan selama satu minggu mulai tanggal 13-19 Februari 2008, sedangkan penelitian di laboratorium dilaksanakan mulai tanggal 25 Februari-17 Desember 2008.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah contoh tanah utuh, contoh tanah terganggu dan bahan-bahan untuk analisis sifat fisik, kimia tanah dan mineralogi.

Alat-alat yang digunakan antara lain : (1) pengamatan lapang dan pengambilan contoh tanah: sekop, pisau lapang, munsel, meteran, abneylevel, GPS, ring sample, cutter, plastik, karet, alumunium foil, HCl, dan H2O2, (2)

alat-alat analisis sifat fisik, kimia tanah dan mikroskop polarisasi, dan (3) alat-alat-alat-alat tulis: buku, pensil, bolpoin, spidol, kertas label, penggaris dan penghapus.

3.3 Metode Penelitian

(32)

Parameter morfologi yang diamati adalah horisonisasi, warna, struktur, tekstur, konsistensi, perakaran, dan faktor lingkungan seperti fisiografi, kemiringan lereng, vegetasi, serta iklim. Contoh tanah dari setiap lapisan pada masing-masing profil tanah diambil sebanyak 2 kg untuk dianalisis laboratorium, sedangkan untuk analisis sifat fisik (bobot isi dan kadar air) contoh tanah diambil dengan menggunakan ring sample pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm, pengambilan contoh tanah ini dilakukan secara duplo.

Analisis fisik tanah meliputi tekstur tanah (metode pipet), bobot isi dan kadar air. Analisis kimia meliputi pH H2O (1:1) dan KCl (1:1), C-organik (metode

Walkey & Black, P-tersedia (metode Bray 1), N-total (metode Kjeldhal), Al-dd, KTK dengan NH4OAc pH 7 dan analisis basa-basa dengan NH4OAc pH 7. Selain

analisis sifat fisik dan kimia juga dilakukan analisis mineral fraksi pasir menggunakan metode garis. Analisis fraksi pasir ini digunakan untuk mengetahui peluang ditemukannya mineral mudah lapuk dan mineral sukar lapuk (resisten) dalam 100 butir mineral pasir. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop polarisasi.

3.4 Penilaian Tingkat Pelapukan

3.4.1 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Mineralogi

Penilaian tingkat pelapukan secara mineralogi ditentukan berdasarkan jumlah mineral tahan lapuk dan mudah lapuk yang terkandung di dalam tanah. Semakin banyak jumlah mineral mudah lapuk, maka tingkat pelapukan tanah tersebut semakin lanjut. Tanah-tanah yang relatif tua memiliki kandungan mineral tahan lapuk yang tinggi.

3.4.2 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Fisik

(33)

3.4.3 Penilaian Tingkat Pelapukan Secara Kimia

Tanah-tanah yang sudah mengalami pelapukan lanjut umumnya didominasi oleh mineral-mineral sekunder berukuran liat, seperti oksida-oksida besi dan aluminium. Mineral-mineral tersebut memiliki KTK yang rendah.

3.5 Klasifikasi Tanah

(34)

BAB IV

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan pada 6 profil pewakil di daerah Kebumen, Jawa Tengah. Adapun lokasi pembuatan profil dan koordinat geografisnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Lokasi Daerah Penelitian

Profil Lokasi Koordinat Geografis

P1 Desa Karangsambung,

Daerah penelitian merupakan daerah pertemuan antara lempeng Samudera Hindia Australia dengan Lempeng Benua Eurasia. Daerah penelitian didominasi oleh topografi berbukit dan bergunung.

4.3 Geologi

(35)

Komplek Melange Lok Ulo, Formasi Karangsambung-Totogan, Formasi Waturondo, dan Formasi Panosogan (Asikin, Handoyo, Busono & Gafoer, 1992). Komplek Melange Lok Ulo merupakan satuan batuan bancuh dari berbagai macam batuan sedimen, batuan beku, dan batuan metamorf. Umur Komplek Melange berkisar antara kapur akhir hingga Paleosen. Formasi Karangsambung-Totogan tersusun oleh kelompok batuan sedimen yang tercampur aduk karena proses pelongsoran gaya berat. Bongkah-bongkah batuan sedimen berukuran centimeter hingga ratusan meter tersebar secara acak dalam masa dasar lempung hitam bersisik. Umur Formasi Karangsambung ini sekitar Eosen Oligosen. Formasi Waturanda tersusun oleh breksi vulkanik serta batu pasir dalam perulangan pelapisan yang tebal. Formasi ini diendapkan sebagai endapan turbidit, berumur Miosen awal. Formasi Panosogan terletak selaras di atas Formasi Waturanda, tersusun oleh perlapisan tipis hingga sedang berupa batu pasir, batu lempung, kalkarenit, napal tufaan dan tufa. Bagian bawah Formasi Panosogan dicirikan oleh perlapisan batu pasir-batu lempung, kearah atas komponen karbonatnya semakin tinggi. Daerah penelitian ini terletak pada formasi Karangsambung (Profil P1 dan P6) dan Komplek Melange Lok Ulo (Profil P2, P3, P4, dan P5) (Gambar 1).

4.4 Vegetasi dan Penggunaan lahan

Vegetasi yang ditemukan pada profil P1 yaitu albasia, pisang, jati, dan kelapa. Pada profil P2 dan P3 ditemukan pisang, jati, kelapa. Selain tanaman tersebut pada profil P2 juga ditemukan bambu. Pada profil P4 ditemukan bambu, jati, pisang, talas. Sedangkan pada profil P5 ditemukan pinus dan pada profil P6 ditemukan pisang, albasia, rambutan, nangka, dan jati. Selain vegetasi-vegetasi tersebut juga ditemukan vegetasi khusus yaitu Melastoma sp yang ditemukan pada profil P3, P5, dan P6.

4.5 Iklim

(36)
(37)
(38)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Penilaian Tingkat Pelapukan Tanah

Penilaian tingkat pelapukan tanah ini ditinjau dari segi mineralogi, fisik dan kimia. Adapun sifat-sifat yang menentukan tingkat pelapukan profil-profil tanah ini (profil P1 berkembang dari batuan diabas, P2 batuan filit, P3 batuan rijang, P4 batuan marmer, P5 batuan basalt, dan P6 batuan batu lempung) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sifat-Sifat yang Menentukan Tingkat Pelapukan

Metode Sifat Tanah Profil

P1 P2 P3 P4 P5 P6 Keterangan: Nilai dihitung atas hasil rata-rata beberapa horison

(39)

mineral-mineral sekunder berukuran liat, seperti oksida-oksida besi dan alumunium. Penilaian tingkat pelapukan tanah secara fisik dilihat dari nisbah debu/liat menunjukkan bahwa tingkat pelapukan tanah memiliki urutan P4>P5>P2>P3>P1>P6. Semakin kecil nisbah debu/liat berarti semakin lanjut tingkat pelapukan tanah tersebut. Bahan induk tanah akan berubah ukurannya menjadi semakin halus dengan meningkatnya tingkat pelapukan.

Penilaian dari segi fisik dan kimia relatif sejalan, sedangkan penilaian dari segi mineralogi tidak sejalan dengan kedua penilaian yang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya satu proses yang lebih menghambat atau mendorong proses pelapukan, misalnya proses pencucian. Proses pencucian ini mengakibatkan sifat fisik dan kimia tanah berubah. Urutan tingkat pelapukan dari segi mineralogi relatif lebih bersifat stabil dan langgeng. Hal ini berkaitan dengan definisi pelapukan itu sendiri, yaitu transformasi mineral-mineral dalam batuan menjadi bentuk yang lebih stabil di bawah kondisi suhu, tekanan, dan kelembaban permukaan bumi (Rachim dan Suwardi, 1999). Berdasarkan hasil penilaian ini dapat diketahui bahwa profil P4 yang berada di atas batuan marmer merupakan profil yang telah mengalami pelapukan lanjut, sedangkan profil P6 yang berada di atas batuan batu lempung merupakan profil yang tingkat pelapukannya paling muda. Hal ini disebabkan pada profil P6 memiliki jumlah mineral mudah lapuk paling banyak, sedangkan P4 memiliki jumlah mineral mudah lapuk paling sedikit dan mineral sukar lapuknya banyak.

5.2 Penilaian Tingkat Perkembangan Tanah

Proses perkembangan tanah akan menghasilkan horison-horison genetik pada tubuh tanah yang bersangkutan. Pada tanah-tanah yang telah berkembang akan ditemukan horison-horison A, B, C, sedangkan tanah yang belum berkembang kemungkinan akan ditemukan horison A dan C saja.

(40)

tersebut semakin berkembang. Berdasarkan hasil deskripsi profil, profil P1 memiliki kedalaman efektif 107 cm, P3 100 cm, P4 120 cm dan belum ditemukan bahan induk. Pada profil P1 dan P3 sudah ditemukan horison peralihan dengan bahan induk (horison BC). Sedangkan profil P2 126.5 cm, P5 121 cm, dan P6 123 cm sudah ditemukan bahan induk. Oleh karena itu urutan tingkat perkembangan profil tanah jika dilihat dari tebal kedalaman efektif adalah sebagai berikut: P4>P1>P3>P2>P6>P5. Profil P4 yang berada di atas batuan induk marmer telah mengalami perkembangan tanah paling lanjut, sedangkan profil P5 yang berada di atas batuan basalt, tingkat perkembangan tanahnya paling muda. Hal ini disebabkan karena pada profil P4 selain belum ditemukan bahan induk, pada profil ini juga belum ditemukan adanya horison peralihan. Horison C pada profil ini letaknya masih lebih dalam lagi dari kedalaman penampang profil yang dibuat. Hal ini menunjukkan bahwa profil P4 tingkat perkembangan tanahnya paling lanjut, sedangkan untuk profil P5 memiliki kedalaman efektif yang lebih dangkal dibandingkan profil lainnya dan sudah ditemukan adanya horison C. Hal ini menunjukkan bahwa profil tersebut perkembangan tanahnya masih muda.

5.3 Klasifikasi Tanah 5.3.1 Profil P1, P5, dan P6

Berdasarkan Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2006) diketahui bahwa profil-profil tanah ini memiliki epipedon okrik karena memiliki value warna atau kroma yang terlalu tinggi dan tidak memenuhi definisi dari tujuh epipedon yang lainnya. Disamping itu profil tanah ini juga memiliki horison penciri kambik yang merupakan horison alterasi yang ketebalannya 15 cm atau lebih, mempunyai tekstur pasir sangat halus, pasir sangat halus berlempung, atau yang lebih halus, dan menunjukkan gejala-gejala bukti adanya alterasi dalam bentuk mempunyai struktur tanah atau tidak memiliki struktur batuan pada lebih dari setengah volume tanah dan mempunyai kandungan liat lebih tinggi dibandingkan horison yang terletak di bawahnya. Dengan ciri-ciri tersebut maka tanah ini dimasukkan ke dalam ordo Inceptisol.

(41)

kelembaban tanah tidak kering di sebarang bagiannya, selama 90 hari kumulatif dalam tahun-tahun normal, sehingga pada tingkat subordo termasuk dalam Udepts.

Kejenuhan basa tanah ini tidak lebih dari 60% dan tidak memiliki sifat lain dari subordo, sehingga dimasukkan dalam great group Dystrudepts. Tidak terdapatnya sifat lain selain sifat inti dari great group, sehingga tanah pada profil P1, P5, dan P6 dimasukkan ke dalam subgroup Typic Dystrudepts.

Pada profil P1 dan P5, dalam fraksi yang berdiameter kurang dari 75 mm, terdapat 15% atau lebih partikel-partikel berukuran 0.1 sampai 75 mm dan fraksi tanah halusnya, mengandung liat 18-35%, sedangkan pada profil P6 fraksi yang berdiameter kurang dari 75 mm terdapat kurang dari 15% partikel-partikel berdiameter 0.1 sampai 75 mm. Regim suhu profil-profil tanah tersebut dimasukkan ke dalam regim suhu isohipertermik, aktivitas pertukaran kation profil P1 dan P6 lebih besar dari 0.60, sedangkan pada profil P5 antara 0.40-0.60. Oleh sebab itu profil P1 dimasukkan ke dalam famili Typic Dystrudepts, berlempung halus, isohipertermik, superaktif. Profil P5 dimasukkan ke dalam famili Typic Dystrudepts, berlempung halus, isohipertermik, aktif dan profil P6 dimasukkan ke dalam famili Typic Dystrudepts, berdebu halus, isohipertermik, superaktif.

5.3.2 Profil P2, P3, dan P4

(42)

Berdasarkan data curah hujan, daerah Karangsambung termasuk dalam regim kelembaban udik yaitu suatu regim kelembaban tanah dimana penampang kontrol kelembaban tanah tidak kering di sebarang bagiannya, selama 90 hari kumulatif dalam tahun-tahun normal, sehingga pada tingkat subordo termasuk dalam Udepts.

Kejenuhan basa tanah ini tidak lebih dari 60% dan tidak memiliki sifat lain dari subordo, sehingga dimasukkan dalam great group Dystrudepts. Adanya penurunan kadar karbon organik secara tidak teratur di antara kedalaman 25 cm dan 125 cm di bawah permukaan tanah mineral, maka subgroupnya dimasukkan ke dalam Fluventic Dystrudepts.

Pada profil P3 dan P4, dalam fraksi yang berdiameter kurang dari 75 mm, terdapat 15% atau lebih partikel-partikel berukuran 0.1 sampai 75 mm dan fraksi tanah halusnya, mengandung liat 18-35%, sedangkan pada profil P2 fraksi yang berdiameter kurang dari 75 mm terdapat kurang dari 15% partikel-partikel berdiameter 0.1 sampai 75 mm. Regim suhu profil-profil tanah tersebut dimasukkan ke dalam regim suhu isohipertermik, aktivitas pertukaran kation profil P2 dan P3 lebih besar dari 0.60, sedangkan pada profil P4 0.24-0.40. Oleh sebab itu profil P2 dimasukkan ke dalam famili Fluventic Dystrudepts, berdebu halus, isohipertermik, superaktif. Profil P3 dimasukkan ke dalam famili Fluventic Dystrudepts, berlempung halus, isohipertermik, superaktif. dan profil P4 dimasukkan ke dalam famili Fluventic Dystrudepts, berlempung halus, isohipertermik, semiaktif.

5.4 Kaitan Antara Tingkat Pelapukan, Tingkat Perkembangan, dan Hasil Klasifikasi Tanah dengan Formasi Geologi

(43)

geologi yang sama belum tentu memiliki tingkat pelapukan yang sama. Hal ini disebabkan karena tanah-tanah tersebut dapat saja berasal dari bahan induk yang berbeda. Profil-profil tanah yang diteliti menunjukkan adanya proses vulkanisasi. Proses ini ditunjukkan oleh adanya mineral mudah lapuk (gelas volkan) pada fraksi pasirnya. Berdasarkan sistem klasifikasi tanah ini, maka formasi geologi tidak berhubungan langsung dengan jenis tanahnya sampai tingkat famili, begitu pula dengan tingkat pelapukan, dan tingkat perkembangan tanahnya.

Tabel 3. Hubungan antara Formasi Geologi dengan Nama Tanah

Profil Formasi Geologi Batuan Induk Nama Tanah

Kedalaman efektif

(cm)

P1 Karangsambung Batuan beku Typic Dystrudepts 107

P2 Melange Lok Ulo Batuan metamorf Fluventic Dystrudepts 126.5

P3 Melange Lok Ulo Batuan sedimen Fluventic Dystrudepts 100

P4 Melange Lok Ulo Batuan metamorf Fluventic Dystrudepts 120

P5 Melange Lok Ulo Batuan beku Typic Dystrudepts 121

P6 Karangsambung Batuan sedimen Typic Dystrudepts 123

Profil-profil tanah yang diteliti termasuk tanah dewasa karena pada profil-profil ini telah mengalami proses perkembangan lebih lanjut dari tanah muda, yaitu terjadi proses pembentukan horison B. Horison B terbentuk akibat penimbunan liat dari lapisan atas ke lapisan bawah. Jenis tanah yang termasuk dalam tingkat ini antara lain Inceptisol, Andisol, Mollisol, Vertisol, dsb.

(44)
(45)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Penilaian tingkat pelapukan tanah di lokasi penelitian ditinjau dari segi mineralogi menunjukkan urutan P4>P1>P5>P3>P2>P6, penilaian tingkat pelapukan dari segi kimia adalah P4>P5>P6>P2>P1>P3. Penilaian tingkat pelapukan dari segi fisik adalah P4>P5>P2>P3>P1>P6. Penilaian tingkat pelapukan tanah dari segi fisik dan kimia relatif sejalan, sedangkan penilaian dari segi mineralogi tidak sejalan dengan kedua penilaian yang lain. Urutan tingkat pelapukan dari segi mineralogi relatif lebih stabil dan langgeng. Oleh karena itu urutan tingkat pelapukan dari segi mineralogi lah yang dipakai dalam menentukan tingkat pelapukan profil-profil tanah di lokasi penelitian. Profil P4 yang berada di atas batuan marmer memiliki tingkat pelapukan paling lanjut, sedangkan profil P6 yang berada di atas batuan batu lempung, tingkat pelapukannya paling muda.

2. Tingkat perkembangan tanah daerah penelitian dilihat dari kelengkapan horison genetik dan ketebalan solumnya memiliki urutan P4>P1>P3>P2>P6>P5. Profil P4 yang berada di atas batuan marmer telah mengalami perkembangan paling lanjut, sedangkan profil P5 yang berada di atas batuan basalt, tingkat perkembangannya masih muda.

3. Untuk daerah penelitian formasi geologi tidak berhubungan langsung dengan jenis tanah. Hal ini disebabkan karena adanya proses vulkanisasi yang lebih baru di atas batuan induknya. Proses vulkanisasi ini ditunjukkan oleh adanya mineral mudah lapuk (gelas volkan) pada fraksi pasirnya.

(46)

6.2 Saran

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Fahmuddin, Abdurachman Adimihardja, Sarwono Hardjowigeno, Achmad Mudzakir Fagi, dan Wiwik Hartatik. 2004. Tanah Sawah. Diakses dari http://balittanah.litbang.deptan.go.id pada tanggal 6 Januari 2009 jam 10.39 WIB.

Anonim. 2009. Pembentukan Tanah. Diakses dari http://elisa.ugm.ac.id pada tanggal 7 Januari jam 09.23 WIB.

Asikin S, A. Handoyo, H. Busono & S. Gafoer. 1992. Geologi Lembar Kebumen, Jawa. Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jendral Geologi dan Sumberdaya Mineral, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Indonesia.

Boul, S.W, F.D. Hole and R.J. Mc Cracken. 1973. Soil Genesis and Clasification. Iowa State University Press.

Darmawijaya, M.I. 1990. Klasifikasi Tanah. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Goeswono, Soepardi. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Bogor.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta.

Kim, H. Tan. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Kim, H. Tan. 1993. Principles of Soil Chemistry. Second Edition. Marcel Dekker, Inc. New York.

Mohr, E.C. I & Van Baren. 1960. Tropical Soil. Chapter VI. Mineral Assosiation in Soil. Bruxelles.

Rachim, D.A. dan Suwardi. 1999. Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Jurusan tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

(48)
(49)

Tabel Lampiran 1. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P1

Lokasi : Karangsambung, Kebumen

Batuan induk : Diabas (batuan beku dalam) Fisiografi : Berbukit, intrusi, elevasi 95 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperatur : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

Vegetasi : Albasia, pisang, jati, kelapa Sifat-sifat morfologi tanah

Kedalaman

(cm) Simbol Uraian

0-18 A1 Coklat (7.5 YR 4/4), lempung berliat, struktur gumpal membulat, halus, lemah, gembur (lembab), lekat dan plastis (basah), akar halus cukup banyak, akar sedang cukup banyak, batas berombak, jelas. 18-44 A2 Coklat (7,5 YR 4/4), lempung, struktur gumpal membulat, halus,

lemah, gembur (lembab), lekat dan plastis (basah), akar halus cukup banyak, akar sedang cukup banyak, batas berombak, baur.

44-62 AB Kuning kemerahan (7,5 YR 6/6), lempung berliat, struktur gumpal bersudut, halus, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), akar halus sedikit, akar sedang sedikit, batas rata, baur.

62-88 B Kuning kemerahan (7.5 YR 6/8), lempung berliat, struktur gumpal bersudut, sedang, sedang , teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), akar halus sedikit, akar sedang sedikit, batas berombak, jelas.

88-107 BC Kuning kemerahan (7.5 YR 6/8), lempung liat berpasir, struktur gumpal bersudut, sedang, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas berombak.

Tabel Lampiran 2. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P2

Lokasi : Wonotirto, Karanggayam, Kebumen

Batuan induk : Filit (batuan metamorf)

Fisiografi : Tektonik (daerah kontak antara rijang dan filit), elevasi 92 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperatur : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

(50)

Sifat-sifat morfologi tanah

Kedalaman

(cm) Simbol Uraian

0-12 A Coklat kekuningan (10 YR 5/8), lempung liat berdebu, struktur gumpal membulat, halus, lemah, gembur (lembab), agak lekat dan agak plastis (basah), akar halus sedikit, batas rata, baur.

12-36 B1 Kuning kecoklatan (10 YR 6/8), liat berdebu, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, teguh (lembab), lekat dan agak plastis (basah), batas rata, baur.

36-57 B2.1 Merah kekuningan (5 YR 5/6), liat berdebu, struktur gumpal bersudut, sedang, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas rata, baur.

57-84 B2.2 Merah kekuningan (5 YR 5/6), liat berdebu, struktur gumpal bersudut, halus, sedang , teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas rata, jelas.

84-101 BC Kuning (10 YR 7/6), lempung liat berdebu, struktur gumpal bersudut, halus, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas rata, jelas.

101-126.5 C Kuning kemerahan terang (2,5 YR 6/4), lempung, struktur granular, gembur (lembab), batas rata.

Tabel Lampiran 3. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P3

Lokasi : Wonotirto, Karanggayam, Kebumen

Batuan induk : Rijang (batuan sedimen)

Fisiografi : Tektonik (daerah kontak antara rijang dan filit), elevasi 97 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperatur : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

Vegetasi : Jati, pisang, kelapa

(51)

Sifat-sifat morfologi tanah

Kedalaman

(cm) Simbol Uraian

0-22 A1 Coklat kuat (7,5 YR 5/6), lempung, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, gembur (lembab), agak lekat dan agak plastis (basah), akar halus sedikit, batas rata, baur.

22-50 A2 Coklat (7,5 YR 5/4), lempung berliat, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, gembur (lembab), lekat dan agak plastis (basah), batas rata, jelas.

Tabel Lampiran 4. Hasil deskripsi Sifat Morfologi Profil P4

Lokasi : Totogan , Karangsambung, Kebumen

Batuan induk : Marmer (batuan metamorf) Fisiografi : Tektonik, elevasi 183 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperatur : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

Vegetasi : Bambu, jati, pisang, talas Sifat-sifat morfologi tanah lemah, teguh (lembab), agak lekat dan agak plastis (basah), akar halus sedikit, batas rata, jelas.

51-72 B1.1 Coklat kuat (7,5 YR 5/6), liat, struktur gumpal bersudut, halus, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas rata, baur. 72-108 B1.2 Coklat kuat (7,5 YR 5/6), liat, struktur gumpal bersudut, halus,

sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), batas rata, baur. 108-120 B2 Coklat (7,5 YR 5/4), liat, struktur gumpal bersudut, halus, sedang,

(52)

Tabel Lampiran 5. Hasil Deskripsi Sifat Morfologi Profil P5

Lokasi : Wonotirto, Karanggayam, Kebumen

Batuan induk : Basalt (batuan beku) Fisiografi : Tektonik, elevasi 99 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperature : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

Vegetasi : Pinus

Vegetasi khusus : Melastoma sp Sifat-sifat morfologi tanah akar halus sedikit, batas berombak, jelas.

54-69 B Coklat kemerahan (5 YR 5/3), lempung liat berdebu, struktur gumpal bersudut, halus, sedang, teguh (lembab), lekat dan plastis (basah), akar halus sedikit, batas berombak, jelas.

69-100 C1 Kuning kemerahan (5 YR 7/6), lempung berliat, struktur granular,

Tabel Lampiran 6. Hasil Deskripsi Morfologi Profil P6

Lokasi : Karangsambung, Karangsambung, Kebumen

Batuan induk : Batu lempung bersisik (batuan sedimen) Fisiografi : Tektonik, elevasi 86 m dml

Topografi : Berbukit

Regim temperatur : Isohipertermik Regim kelembaban : Udik

Kelas drainase : Baik

(53)

Sifat-sifat morfologi tanah

Kedalaman

(cm) Simbol Uraian

0-20 A Coklat (7,5 YR 5/4), lempung liat berdebu, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, gembur (lembab), sangat lekat dan sangat plastis (basah), akar halus banyak, batas berombak, baur.

20-39 B Coklat kuat (7,5 YR 5/6), liat berdebu, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, gembur (lembab), sangat lekat dan sangat plastis (basah), akar halus sedang, batas berombak, baur.

39-57 BC Kuning kecoklatan (10 YR 5/4), lempung liat berdebu, struktur gumpal membulat, sedang, lemah, teguh (lembab), sangat lekat dan plastis (basah), akar halus sedikit, batas berombak, jelas.

57-123 C Coklat merah terang (2,5 YR 6/3), liat, struktur granular, gembur (lembab), batas rata.

(54)

Tabel Lampiran 8. Sifat Fisika Profil Tanah di Lokasi penelitian

(55)
(56)
(57)

Lampiran Gambar 1. Penampang Profil Tanah di Lokasi Penelitian

Profil P1 Profil P2 Profil P3

(58)

Lampiran Gambar 2. Penampang Profil Tanah di Lokasi Penelitian

Profil P4 Profil P5 Profil P6

Gambar

Tabel 1. Lokasi Daerah Penelitian
Gambar 1. Peta Geologi Daerah Penelitian
Tabel 2. Sifat-Sifat yang Menentukan Tingkat Pelapukan
Tabel 3. Hubungan antara Formasi Geologi dengan Nama Tanah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr) menggunakan pelarut etanol 96% kemudian dipartisi dengan pelarut

Penelitian yang telah dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui temperatur karbonisasi terbaik, mengetahui luas permukaan terbaik , mengetahui waktu absrorbsi dan

Berdasarkan proses penciptaan itu manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah dan komponen immateri ditiupkan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian dalam metode data mining prediksi menggunakan regresi linier sederhana, pada akhir laporan penulis dapat memberikan

+ahder ohan adalah nama salah satu mentri yang ada didalam 6abinet ilopo$ beliau menjabat sebagai entri Pendidikan dan 6ebudayaan. Pemuda asal Padang$ umatera

Setelah kegiatan pembelajaran melalui Watshapp group dilaksanakan, peserta didik diharapkan dapat : Menjelaskan bentuk- bentuk Interaksis sosial, dapat menjelaskan

Apabila Tertanggung meninggal akibat Kecelakaan dalam masa pertanggungan maka Penanggung akan membayar 200% Uang Pertanggungan sebagaimana yang tercantum dalam

Pada Tabel 5.8 sampai Tabel 5.10 dapat dilihat hasil perhitungan total biaya maintenance dan kerugian yang dikeluarkan serta keandalan yang dicapai dari tiap mesin dan