• Tidak ada hasil yang ditemukan

MOTIVASI KERJA PADA WANITA YANG TELAH MENIKAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MOTIVASI KERJA PADA WANITA YANG TELAH MENIKAH"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Motivasi Kerja pada Wanita yang Telah Menikah”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dan selaku dosen wali yang telah mendukung dan memberi pengarahan sejak awal perkuliahaan hingga selesainya skripsi ini. 2. Yudi Suharsono, S.Psi, M.Si dan Siti Maimunah, S.Psi, MM, MA, selaku

pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Bapak Hendra Wijaya dan ibu Amelia Susanti selaku orangtua saya beserta keluarga besar dirumah yang tak henti-hentinya memberikan do’a dan dukungan kepada penulis agar semuanya berjalan dengan baik dan lancar. 4. Kepada saudara Andiansyah dan mbak Devi yang sudah bersedia membantu

jalannya penelitian ini. Sahabat-sahabatku yang baik, Ana Nihla, Riska Silvi, Dina, Agnes, Danang, Okta, Irham, Canggih, Agus, Anggi, Ngepi, Yusi, Enchur, Iwud, Yuliana yang telah banyak menemani peneliti dalam suka dan duka.

5. Para karyawan/ibu-ibu terhormat yang telah bersedia menjadi subjek penelitian.

6. Teman-teman kelas C Psikologi UMM 2009 yang telah menjadi teman kerja sama penulis selama kuliah.

7. Teman-teman angkatan 2009 yang telah mewarnai kehidupan penulis dengan berbagi ilmu, pengalaman, dan semangat.

8. Teman, sahabat, sekaligus kakak, Arifin yang telah membuat penulis lebih banyak belajar lagi mengenai kehidupan.

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(4)

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanya milik Allah sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran untuk menjadikan penelitian selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Meski demikian, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti, khususnya pembaca pada umumnya.

Malang, 28 April 2014

Penulis,

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN ... i

SURAT PERNYATAAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

ABSTRAK ... 1

PENDAHULUAN ... 2

Motivasi Kerja ... 3

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian ... 5

Subjek Penelitian ... 6

Variabel dan Instrumen penelitian ... 6

Prosedur dan Metode Analisis Data... 6

HASIL PENELITIAN... 7

Deskripsi Data ... 7

DISKUSI ... 8

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 10

REFERENSI ... 11

(6)

DAFTAR GAMBAR

Halaman GAMBAR 1

Proses Model Hubungan Antara Kebutuhan ERG ... 4 GAMBAR 2

Presentase Motivasi Kerja Berdasarkan Aspek ... 7 GAMBAR 3

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman LAMPIRAN 1

Skala Motivasi Kerja... 15 LAMPIRAN 2

Tabulasi Hasil Penelitian... 18 LAMPIRAN 5

(8)

REFERENSI

Alsa, Asmadi. (2010). Pendekatan kuantitatif & kualitatif serta kombinasinya dalam penelitian psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Amseke, F.V. (2012). Iklim organisasi dan motivasi kerja sebagai predictor terhadap kepuasan kerja pegawai dinas perindustrian dan perdagangan Nusa Tenggara Timur di Kupang. Tesis, Program Studi Magister Sains Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Arnolds, C.A., Boshoff, C. (2002). Compensation esteem valence and job performance an empirical assessment of alderfer's erg theory. International Journal of Human Resource Management, 13 (4), 697-719.

Azwar, Saifuddin. (2007). Metode Penelitian. Yogyakarta : PustakaPelajar. Cai, Lixin (2010). Work choices of married woman. Visiting Researcher Paper.

ISBN 978-1-74037-301-2.

Corell, S., Benard, S., Paik, I. (2007). Getting a job : Is there a motherhood penalty?. Amrican Journal of Sociology, 112 (5), 1297-1338.

Damanik, I. (2003). Analisis faktor-faktor pendorong perempuan bekerja dan tidak bekerja (studi kasus, rumah tangga petani dan nelayan di desa latuhala kota Ambon). Media gizi dan keluarga, 27 (2) : 7-16.

Domenico, K, H, J., Desirae, M. (2006). Career aspirations of women in the 20th century. Journal of Career and Technical Education, 22(2), Fall, 2006. Harmandini, F. (2013). Jangan takut berhenti bekerja. Retrieved December 20,

2013, from

http://female.kompas.com/read/2013/05/06/10164817/jangan.takut.berhenti. bekerja.

Heath, C. (1999). On the social psychology of agency relationships: lay theories of motivation overemphasize extrinsic incentives.Organizational Behavior and Human Decision Processes,78(1): 25-62

Hofsede, G. (2001). Culture’s consequences : comparing values, behaviors, institutions, and organizations across nation. USA : Library of Congres Cataloging in Publication Data.

Irja, D. (2008). Hubungan antara motivasi kerja dengan efektivitas kerja pengawas sekolah di kota Pekanbaru. Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 8 (2), 66-72. Lillard, L., Waite, L. (2000). Marriage, divorce, and the work and earning careers

of spouses. Working paper, WP 2000-003.

(9)

McGraw-Munandar, S.C.U. (1985). Emansipasi dan peran ganda wanita indonesia. Jakarta:Penerbit UI.

Munandar, A.S. (2010). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta : Universitas Indonesia.

Parveen, N. (2009). Investigating occupational stress among married and unmarried working women in Hyderabad city. Bahria Journal of Professional Psychology, 5, 21-37.

Pinder, C.C. (1998). Work motivation in organizational behavior. Upper Saddle River, NJ : Prentice Hall.

Remi, A.J., Adegoke, A.A.I., Toyosi, D.S. (2011). An empirical study motivational factors of employess in Nigeria. International Journal of Economics and Finance, 3 (5), 227-233.

Saqina, A. (2013). Komnas PA : Kasus penculikan anak meningkat. Retrieved

December 20, 2013, from

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/02/03/mhn2fm-komnas-pa-kasus-penculikan-anak-meningkat

Smither. (1998). The psychologycal of work and human performance. New York : Longman.

Syafitri, A S. (2013). Jangan asal pilih pengasuh anak. Retrieved December 20,

2013, from

http://health.kompas.com/read/2013/02/08/17065149/Jangan.Asal.Pilih.Pen gasuh.Anak.

Teas, J. Widmer, E. (2000). Married women’s employment over the life course : attitudes in cross-national perspective. Social Forces, 78 (4), 1409-1436. Thapa, S. (2008). Earnings inequality among women : does marriage matter?.

Tesis. Department of Sociology and the Faculty of the Graduate School of Wichita State University.

Van Niekerk, W.P. (1987). Eietydse bestuur (Contemporary management). Durban: Butterworth.

Wijono, S. (2010). Psikologi industri dan organisasi (dalam suatu bidang gerak psikologi sumber daya manusia). Jakarta : Kencana Prenada Media Grup. Winarsunu, T. (2009). Statistik dalam penelitian psikologi & pendidikan. Malang:

(10)

2

Dewasa ini banyak ibu rumah tangga yang memutuskan untuk berkerja meskipun

telah memiliki anak dan mempunyai pekerjaan rumah tangga yang tentunya tidak

bisa ditinggalkan. Dengan ini, mau tidak mau mereka harus membagi waktuya

dengan baik, sebagai istri yang mengurus anak dan suami atau sebagai wanita

yang bekerja. Beberapa kritik menyebutkan bahwa wanita yang bekerja adalah ibu

yang lalai. Karyawan perempuan tidak dianggap serius oleh bos, kolega, atau

masyarakat. Berkarir menimbulkan tantangan bagi perempuan karena tanggung

jawab keluarga mereka. Wanita diharapkan untuk melakukan tugas sebagai istri

dan ibu, selain untuk memenuhi tanggung jawab profesional mereka. Beberapa

wanita mengalami perasaan bersalah atau merasa egois jika mereka menaruh

minat pertama pada karir mereka. Karena pekerjaan perempuan dan tuntutan

keluarga yang simultan, tuntutan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap

karir perempuan (Domenico, Desirae, 2006).

Dari total populasi 112 juta jumlah pekerja di Indonesia (data Badan Pusat

Statistik tahun 2012), saat ini ada 43 juta pekerja perempuan yang membantu

pertumbuhan ekonomi Indonesia (Harmandini, 2013). Itu artinya, jumlah pekerja

perempuan hampir sama besarnya dengan pekerja laki-laki. Hal ini menimbulkan

resiko baru pada wanita yang sudah berkeluarga terutama dalam pola pengasuhan

anak, pilihan yang sering ditempuh adalah memberikan pengasuhan anak kepada

pembantu rumah tangga, meskipun sangat beresiko dari segi tumbuh kembang

anak maupun keamanan anak. Sebagai contoh, jumlah kasus penculikan terhadap

anak selalu meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan catatan Komisi Nasional

Perlindungan Anak (Saqina, 2013). Selain itu ada juga bayi yang tewas di tangan

pengasuhnya sendiri (Syafitri, 2013).

(11)

3

mempengaruhi meningkatnya jumlah pekerja wanita adalah karena pendapatan

pasangan, selain itu pendidikan, kesehatan, dan usia anak juga berpengaruh

signifikan. Motivasi kerja menurut Pinder (1998), adalah himpunan kekuatan

internal dan eksternal yang memulai perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan

dan menentukan bentuk, arah, intensitas dan durasi. Menurut Alderfer, ada 3

hirarki kebutuhan (motivasi), yaitu

existence

atau kebutuhan keberadaan,

relatedness

atau kebutuhan relasi dan

growth

atau kebutuhan pertumbuhan.

Menurut cara pandang psikologi industri dan organisasi, motivasi adalah

dorongan yang menggerakkan orang-orang untuk melaksanakan pekerjaan

mereka. Motivasi kerja yang tinggi dihasilkan dari keinginan para pekerja untuk

berprestasi dan bekerja dengan kemampuan terbaiknya (Smither, 1998). Apalagi

saat ini para pekerja wanita yang menikah banyak dipersepsi negatif bahwa

mereka kurang maksimal dalam bekerja. Bahkan dalam sebuah penelitian

mengungkapkan bahwa wanita yang belum menikah lebih besar peluangnya

dalam pencapaian kesuksesan karir daripada wanita yang sudah menikah dan

mempunyai anak (Lillard & Waite, 2000).

Wanita yang telah menikah dan bekerja tentunya harus mempunyai pengaturan

waktu yang bagus agar diantara kesibukan mengurus rumah tangga dan pekerjaan

di kantornya agar dapat berjalan dengan lancar dan imbang. Menurut Munandar

(1985), tidak jarang ibu-ibu yang bekerja diliputi rasa kehawatiran atau rasa

bersalah karena bekerja, anak-anak mereka akan kurang mendapat perhatian.

Namun tidak semua wanita yang sudah menikah bisa mempunyai pengaturan

waktu yang baik dan seimbang antara rumah tangga dan pekerjaanya, karena

dengan kesibukan di rumah, tentunya wanita juga tidak akan fokus dalam

melakukan pekerjaannya di kantor (Thapa, 2008). Namun jumlah pekerja wanita

akhir-akhir ini mengalami peningkatan, dengan begitu dapat ditarik kesimpulan

bahwa ada wanita yang berhasil menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi

pekerja dan ada pula yang gagal sebagai ibu rumah tangga dan menjadi pekerja.

Referensi

Dokumen terkait

Makna kerja pada wanita karir yang telah berumah tangga dapat didefinisikan sebagai nilai atau konsep yang menggerakkan wanita yang berkecimpung dalam

52 Saya tidak sependapat jika keinginan untuk memiliki karier yang lebih tinggi dijadikan alasan seorang wanita tidak menikah. 53 Saya bersedia mendengarkan cerita- cerita

Bagi tenaga kerja wanita yang belum berkeluarga masalah yang timbul.. berbeda dengan yang sudah berkeluarga yang sifatnya lebih

Makna kerja pada wanita karir yang telah berumah tangga dapat didefinisikan sebagai nilai atau konsep yang menggerakkan wanita yang berkecimpung dalam

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kualitas tidur dengan performansi kerja pada wanita yang berkeluarga.. Peneliti berhipotesis bahwa ada hubungan positif

Kesimpulan : Kejadian TB pada wanita di Kabupaten Brebes berpeluang atau berisiko lebih besar pada wanita yang paritas tinggi, mempunyai riwayat kontak, paparan polusi

Berdasarkan uraian permasalahan yang telah dipaparkan serta kenyataan yang ada bahwa tuntutan untuk memiliki keturunan pada seorang wanita yang sudah menikah cukup

Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa wanita lebih dewasa dan lebih matang secara emosional dibandingkan laki-laki sedangkan menurut beberapa teori yang yang telah