Mekanisme Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (Ppn) Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

60  11 

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUGAS AKHIR

MEKANISME PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR

O L E H

NAMA : ONES HOTMAN SIMANJUNTAK NIM : 102600127

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Menyelesaikan Studi pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan

s

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan kasih karunia yang begitu melimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini dengan baik.

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan studi pada Program studi D-III Administrasi Perpajakan, pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini berjudul : ”MEKANISME PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR”.

Dalam penulisan laporan ini penulis banyak menerima bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. DR. Badaruddin, M.Si. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

(3)

3. Ibu Arlina, S.H, M.Hum. Selaku Sekretaris Program Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara dan selaku Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi saran dan masukan pada penulis sehingga laporan ini dapat terselesaikan.

4. Bapak Dian Lestari Marpaung, SE. Selaku Supervisor lapangan saya yang telah banyak memberi saran dan masukkan pada penulis sehingga laporan ini dapat terselesaikan.

5. Seluruh staff pegawai Program Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

6. Seluruh staff pengajar yang terlibat dalam proses perkuliahan Program Diploma III Administrasi Perpajakan stambuk 2010 FISIP USU.

(4)

Opung Keluarga Sibarani atas doa dan perhatian besar kepada penulis semoga opung panjang umur selalu \m/.

8. Teman- temanku semua, seluruh Administrasi Perpajakan stambuk 2010 kecuali ocha.

9. Sahabatku OS FAMILY MEDAN antara lain : Bang Ben alias Bg Hoddy Guna Hutapea, S. Sos, Lek Osland alias Oland L. M. Limbong, A. Md, Edok, Buat gadis- gadisku sahabatku yang ada dalam kehidupanku yang tak bisa disebutin satu persatu.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, masih banyak terdapat kekurangan baik dari isi maupun penyajiannya.. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kesempurnaan laporan tugas akhir ini. Namun demikian penulis telah berusaha dengan keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan penulis miliki.

Akhir kata penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang ikut serta dalam membantu penulis dalam penyelesaian laporan tugas akhir ini. Semoga laporan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Medan, Januari 2014

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL DAN BAGAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri ... 1

B. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri ... 3

1. Tujuan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ... 3

2. Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ... 4

C. Uraian Teoritis ... 5

1. Definisi Pajak ... 5

2. Fungsi Pajak ... 6

3. Pengertian Wajib Pajak ... 6

4. Pajak Pertambahan Nilai ... 6

5. Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai ... 7

D. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri ... 8

E. Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri ... 8

1. Tahapan Persiapan ... 8

2. Studi Literatur ... 8

(6)

5. Analisis Data dan Evaluasi ... 9

F. Metode Pengumpulan Data ... 9

1. Studi Pustaka (liberary research) ... 10

2. Observasi (Observation) ... 10

G. Sistematika Penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ... 10

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK/ LOKASI PKLM ... 12

A. Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 12

1. Sejarah Singkat Berdirinya KPP Pratama Medan Timur ... 12

2. Struktur Organisasi KPP Pratama Medan Timur ... 17

B. Tugas dan Fungsi KPP Pratama Medan Timur ... 19

C. Deskripsi dan Aktivitas KPP Pratama Medan Timur ... 20

1. Sub. Bagian Umum ... 21

2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) ... 21

3. Seksi Pelayanan ... 22

4. Seksi Penagihan ... 22

5. Seksi Pemeriksaan ... 23

6. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan ... 23

7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) ... 24

8. Kelompok Jabatan Fungsional ... 25

D. Gambaran Jumlah Pegawai KPP Pratama Medan Timur ... 25

(7)

BAB III GAMBARAN DATA PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI .. 29

A. Pajak Pertambahan Nilai ... 29

B. Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai ... 29

C. Subjek Dan Objek Pajak Pertambahan Nilai ... 29

D. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak ... 32

E. Saat Terutang Pajak Pertambahan Nilai ... 33

F. Mekanisme Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai ... 36

G. Tempat Terutang Pajak Pertambahan Nilai ... 37

H. Dasar Pengenaan Pajak ... 38

I. Faktur Pajak ... 39

BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI DATA ... 43

A. Prosedur Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Dikantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 43

B. Proses Pemungutan PPN Dan PPnBM ... 45

C. Kendala Dan Masalah Yang Dihadapi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 47

D. Upaya Yang Dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur 48 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... 50

(8)
(9)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

Tabel II.1 Jumlah Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ... 26

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri

Dalam mewujudkan pembangunan yang adil dan merata di segala bidang yang diperlukan adalah adanya sumber pemerintahan yang menunjang peningkatan sumber penerimaan negara yang diperlukan untuk membiayai pengeluaran rutin dan untuk membiayai pembangunan. Untuk mencapai target yang telah ditentukan oleh pemerintah melalui anggaran-anggaran yang telah disusun, maka pemerintah mengupayakan agar sumber pajak dapat terus meningkat dari tahun ketahunnya dengan cara memberikan penjelasan kepada masyarakat.

Pajak merupakan penerimaan negara terbesar setelah migas. Dimana penerimaan negara dari sektor pajak setiap tahun terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dimana rencana pendapatan negara dari sektor pajak terus meningkat. Pendapatan negara dari sektor pajak inilah yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pembangunan nasional yang sedang berjalan.

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak sebagai aparat mempunyai tugas yang cukup berat dalam memenuhi pendapatan negara yang telah ditetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

(11)

pemerintah telah berulangkali melakukan pembaharuan undang-undang perpajakan. Dahulu sebelum adanya tax reform dimana sistem Official Assesment (UU No. 6 Tahun 1986) diganti menjadi Self Assesment (UU No.28 Tahun 2007)

Dalam sistem Self Assesment wajib pajak diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus di bayar.

Namun, masih ada wajib pajak yang lalai dalam melaksanakan kewajiban dalam membayar pajak. Bagi wajib pajak yang lalai melaksanakan kewajiban perpajakanya akan dikeluarkan penetapan dan ketetapan sesuai dengan ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP). Penetapan dan ketetapan pajak ini merupakan dasar penagihan pajak.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Barang dan Jasa merupakan pajak yang dikenakan atas barang maupun jasa. Pajak Pertambahan Nilai hanya dikenakan dan dipungut beberapa kali pada berbagai mata rantai jalur perusahaan. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dilaksanakan berdasarkan sistem faktur, sehingga atas penyerahan barang atau jasa wajib dibuat Faktur Pajak sebagai bukti transaksi penyerahan barang dan jasa yang terutang pajak.

(12)

tugas dan tanggung jawab serta kesempatan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, maka penulis mencoba meneliti dan membahas untuk menuangkan dan mengangkatnya menjadi sebuah karya ilmiah yang berjudul: “Mekanisme Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada Kantor Pelayanan Pajak Patama Medan Timur.”

B. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1. Tujuan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM)

Secara teoritis Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) merupakan kegiatan intrakulikuler yang dilakukan mahasiswa secara mandiri dengan cara praktis di lapangan yang langsung berhubungan dengan teori keahlian yang diterima dari para dosen Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam melaksanakan Praktik Kerja Lapangan Mandiri ini adalah :

1.1Untuk mengetahui Mekanisme Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

(13)

2. Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) 2.1 Bagi Mahasiswa

a. Mengimplementasikan mekanisme pelaporan Pajak Pertambahan Nilai yang diperoleh di bangku perkuliahan,

b. Mengetahui lebih dalam tentang Pajak Pertambahan Nilai,

c. Meningkatkan interaksi baik dengan petugas ataupun pegawai pajak maupun dengan wajib pajak mengenai Pajak Pertambahan Nilai,

d. Menambah ilmu dan wawasan dalam hal Pajak Pertambahan Nilai,

e. Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan keterampilan dalam hal kepabean,

f. Sebagai wadah untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dengan dibekali keahlian keterampilan dan pengalaman yang diperoleh sewaktu melaksanakan Praktik Kerja Lapangan Mandiri.

2.2 Bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

a. Sebagai sarana untuk mempererat hubungan yang positif antara Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur dengan program studi Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU,

(14)

2.3 Bagi program Diploma III Administrasi Perpajakan FISIP USU

a. Hubungan kerja sama Universitas Sumatera Utara dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur,

b. Membuka interaksi antara mahasiswa, dosen dan instansi pemerintahan di bangku perkuliahan,

c. Rasa ikut serta masyarakat membangun negara,

d. Guna meningkatkan profesionalisme, memperluas wawasan serta menetapkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu, khususnya dibidang perpajakan,

e. Membangun image yang baik terhadap sumber daya manusia yang dihasilkan dari lembaga pendidikan nasional, khususnya Universitas Sumatera Utara

C. Uraian Teoritis 1. Definisi Pajak

Defenisi pajak menurut Rochmat Soemitro mengatakan, Pajak adalah iuran rakyat, pada negara berdasarkan undang-undang yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat jasa timbal balik, yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Resmi, 2008:1).

(15)

2. Fungsi Pajak

Terdapat dua fungsi pajak, yaitu :

a. Fungsi Budgetair, adalah pajak berfungsi salah satu sumber penerimaan Negara untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan Negara.

b. Fungsi Reglured, adalah sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan tertentu diluar bidang keuangan (Resmi, 2008:3).

3. Pengertian Wajib Pajak

Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayaran pajak, pomotongan pajak dan pemungutan pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. (Pasal 1 ayat 2 UU KUP).

4. Pajak Pertambahan Nilai

(16)

5. Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai Pajak Pertambahan Nilai itu ada berapa macam: 5.1.Pajak Tidak Langsung

Beban pajak dipikul oleh konsumen akhir. Pengusaha akan menggeser beban pajak kepada pembeli sesuai dengan mata rantai produksi dan distribusi sampai ke konsumen akhir melalui pengenaan pajak secara bertingkat pengusaaha menggeser beban melalui pengkreditan pajak (Resmi, 2008:1).

5.2. Pajak Konsumsi

Pemikul beban pajak berakhir pada konsumen. 5.3. PPN Bersifat Netral

Pengenaan PPN didasarkan pada ”destination principle” dan hanya dikenakan atas nilai tambahan lainnya.

5.4. PPN dipungut di tempat Barang atau Jasa tersebut dikonsumsi 5.5. Pajak Objektif

PPN hanya dikenakan bila terdapat faktor objektif, yaitu; keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakai pajak (Resmi, 2008:1).

5.6. PPN akan mendahulukan Objek, Baru Kemudian mencari Subjektifnya

5.7. Sistem Faktur

(17)

D. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri

Melalui Praktik Kerja Lapangan Mandiri, penulis ingin mengetahui beberapa masalah sebagai berikut :

1. Mekanisme pelaporan pajak pertambahan nilai, 2. Objek pajak pertambahan nilai,

3. Kendala ataupun masalah dalam mekanisme pelaporan pajak pertambahan nilai,

4. Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi pelaksanaan pelaporan pajak pertambahan nilai.

E. Metode Praktik Kerja lapangan Mandiri

Untuk mendapatkan dan mengumpulkan data sesuai dengan metode yang di gunakan sebagai berikut:

1. Tahapan Persiapan

Hal ini berkaitan dengan persiapan yang dibutuhkan mahasiswa mulai dari peninjauan objek dan lokasi, mencari bahan untuk pembuatan proposal, permohonan surat jalan/ surat permohonan dari fakultas, dan lain sebagainya.

2. Studi Literatur

(18)

3. Observasi Lapangan

Penulis melakukan pengamatan secara langsung tentang kondisi serta keadaan dari kantor tempat dimana penulis melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan Mandiri.

4. Pengumpulan Data

Penulis melakukan pengumpulan data untuk menunjang keberhasilan dari topik yang dibahas. Dalam hal ini data-data bersumber dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

a. Data Primer adalah data yang diperoleh dari pihak-pihak yang mengetahui tentang objek kajian Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM).

b. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi ilmiah, seperti buku perpajakan, Undang-Undang Perpajakan yang bertujuan untuk pengumpulan laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM).

5. Analisis dan Evaluasi Data

Setelah memperoleh data yang dibutuhkan penulis akan menganalisa, mengevaluasi data dan mengelompokkan data tersebut yang kemudian akan di interpretasikan secara objektif, jelas dan sistematis sehingga lebih mudah untuk menarik kesimpulan dari data tersebut.

F. Metode Pengumpulan Data

(19)

1. Studi pustaka (liberary research)

Pengumpulan data mengenai prosedur permohonan penundaan nilai melalui bahan bacaan seperti buku, majalah, surat kabar, dan undangan.

2. Observasi (observation)

Mengumpulkan data dengan cara observasi yaitu meninjau secara langsung ke lapangan dan melakukan interview atau wawancara dengan key person untuk memperoleh data yang diperlukan mengenai pajak pertambahan nilai.

G. Sistematika Penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri

Untuk mempermudah pemahaman dalam laporan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ini, penulis membagi dalam lima bab pembahasan yang terdiri dari : BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini diberikan gambaran mengenai keseluruhanisi laporan ini. Bab ini terdiri dari latar belakang PKLM, tujuan dan manfaat PKLM, uraian teoritis, ruang lingkup PKLM, metode PKLM, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan laporan PKLM.

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK LOKASI PRAKTIK KERJA

LAPANGAN MANDIRI

(20)

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA ATAS PROSEDUR PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK MEDAN TIMUR

Pada bab ini penulis akan membahas tentang bagaimana prosedur pelaporan pajak pertambahan nilai pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI

Dalam bab ini penulis akan menganalisis data yang ada, kemudian akan di evaluasi serta memberikan interprestasi untuk menjawab perumusan masalah yang diajukan.

BAB V PENUTUP

Bab ini adalah kesimpulan dari uraian-uraian dari bab-bab sebelumnya serta saran dari penulis yang merupakan sumbangan pemikiran penulis yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan. DAFTAR PUSTAKA

(21)

BAB II

GAMBARAN UMUM OBJEK / LOKASI PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM)

A. Gambaran Umum Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

1. Sejarah Singkat Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

Di zaman penjajahan Belanda, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dinamakan Kantor Belasting dan kemudian berubah menjadi Kantor Inspeksi Keuangan (setelah merdeka) yang kemudian berubah menjadi Kantor Inspeksi Pajak (KIP) dengan induk organisasinya pada saat Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Selanjutnya, pada tahun 1976 di Sumatera Utara didirikan tiga Kantor Inspeksi Pajak yaitu :

1. Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan, 2. Kantor Inspeksi Pajak Medan Utara, dan 3. Kantor Inspeksi Pajak Pematang Siantar.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat maka dirasakan perlu adanya tambahan kantor untuk melayani masyarakat di dalam membayar pajak. Oleh karena itu, didirikan Kantor Inspeksi Pajak Medan Timur (sekarang KPP Pratama Medan Timur dan KPP Medan Kota).

(22)

267/KMK.01/1989 telah diadakan perubahan yang menyuluruh pada Direktorat Jenderal Pajak yang mencakup reorganisasi Kantor Inspeksi Pajak (KIP) diganti nama menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) serta dibentuk pula Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.

Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur didirikan pada tanggal 1 April 1994 berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep-758/KMK.01/1993 tanggal 3 Agustus 1993. Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur merupakan pemekaran dari tiga Kantor Pelayanan Pajak, yaitu :

1. Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat, 2. Kantor Pelayanan Pajak Medan Utara, dan 3. Kantor Pelayanan Pajak Medan Selatan.

Terhitung mulai tanggal 1 April 1994 Kantor Pelayanan Pajak berubah menjadi empat wilayah kerja yaitu :

1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur, 2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Utara, 3. Kantor Pealayanan Pajak Pratama Medan Barat, dan 4. Kantor Pelayanan Pajak Medan Binjai.

(23)

Pada tahun 2002 tersebut dibentuk dua KPP Wajib Pajak Besar atau Large Tax Office (LTO). KPP ini menangani 300 Wajib Pajak Besar Indonesia dan hanya

mengadministrasikan dua jenis pihak, yaitu : Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Pada tahun 2003 dibentuk 10 Kantor Pelayanan Pajak khusus yaitu : 1. Kantor Pelayanan Pajak Badan Usaha Milik Negara (KPP BUMN), 2. Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Modal Asing (KPP PMA), 3. Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Badan dan Orang Asing, dan 4. Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Masuk Bursa.

Kemudian, pada tahun 2004 dibentuk pula KPP Madya atau Medium Tax

Office (MTO). Sedangkan KPP modren yang menangani Wajib Pajak terbanyak

adalah KPP Pratama dan Small Tax Office (STO).

KPP Pratama baru dibentuk pada tahun 2006 s.d 2008. Perbedaan utama antara STO dengan LTO maupun MTO antara lain adalah dengan adanya Seksi Ekstensifikasi pada STO sehingga dapat dikatakan pula STO merupakan ujung tombak bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menambah rasio perpajakan di Indonesia.

Saat ini Kantor Pelayanan Pajak modren terbagi dari tiga jenis yaitu : 1. Kantor Pelayanan Pajak Besar,

2. Kantor Pelayanan Pajak Madya, dan 3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama.

(24)

1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

1.1 Kecamatan Medan Deli 1.2 Kecamatan Medan Labuhan 1.3 Kecamatan Medan Belawan 1.4 Kecamatan Medan Marelan

2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

2.1 Kecamatan Medan Tembung 2.2 Kecamatan Medan Kota 2.3 Kecamatan Medan Perjuangan

3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

3.1 Kecamatan Medan Kota 3.2 Kecamatan Medan Amplas 3.3 Kecamatan Medan Area 3.4 Kecamatan Medan Denai

4. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

(25)

4.4 Kecamatan Medan Tuntungan 4.5 Kecamatan Medan Polonia 4.6 Kecamatan Medan Johor

5. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Barat, dengan ruang lingkup meliputi dari :

5.1 Kecamatan Medan Helvetia 5.2 Kecamatan Medan Sunggal 5.3 Kecamatan Medan Petisah

6. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Binjai, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

6.1 Kota Binjai

6.2 Kabupaten Langkat

7. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Lubuk Pakam, dengan ruang lingkup meliputi daerah :

7.1 Kabupaten Deli Serdang

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia diputuskan bahwa Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur dimekarkan menjadi dua Kantor Pelayanan Pajak, yaitu Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Kota dan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

(26)

membina keharmonisan kerja agar dapat dilaksanakan dengan teratur dan baik untuk mencapai tujuan secara maksimal.

Adapun struktur organisasi yang digunakan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur adalah struktur organisasi linier dan staff yang berada di bawah seseorang koordinasi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I, dimana seluruh pegawainya adalah Pegawai Negeri Sipil di bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Kantor Pelayanan Pajak dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu tipe A dan tipe B. Kantor Pelayanan Pajak tipe A merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang tergolong dalam skala besar dan biasanya berada di ibukota provinsi, sedangkan Kantor Pelayanan Pajak tipe B merupakan Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya tidak melebihi dari wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak tipe A dan biasanya berada di kota madya dan kabupaten. Sehingga, berdasarkan penggolongan tersebut maka KPP Pratama Medan Timur dapat digolongkan sebagai KPP tipe A karena wilayahnya berkedudukan di wilayah ibukota Provinsi Sumatera Utara.

Namun, berdasarkan SK Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 162/KMK.01/1997 tanggal 10 April 1997 tentang peningkatan KPP tipe B menjadi tipe A, maka KPP tipe B tidak ada di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Sumatera Utara I.

(27)

fungsional (yang berada diluar struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak) yakni terdiri dari :

1. Sub Bagian Tata Usaha (TU)

2. Seksi Tata Usaha dan Perpajakan (TUP) 3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) 4. Seksi Pajak Penghasilan Orang Pribadi 5. Seksi Pajak Penghasilan Badan

6. Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan

7. Seksi Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya 8. Seksi Penagihan

9. Seksi Penerimaan dan Keberatan

10. Seksi Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan

Namun, setelah adanya modrenisasi perpajakan pada tahun 2006, KPP Pratama yang berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Cara Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak, maka KPP Pratama terbagi menjadi beberapa seksi, antara lain :

1. Sub Bagian Umum

2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi 3. Seksi Pelayanan

4. Seksi Penagihan

(28)

7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I s.d IV 8. Seksi Jabatan Fungsional

B. Tugas dan Fungsi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur mempunyai tugas melaksanakan penyuluhan, pelayanan, pengawasan Wajib Pajak di bidang Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak tidak langsung lainnya, selain PBB Pedesaan dan Perkotaan (P2) dalam wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugasnya, KPP Pratama Medan Timur menyelenggarakan fungsi :

1. Pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, pengamatan proposal potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, pendataan objek dan subjek, serta penilaian objek Pajak Bumi dan Bangunan

2. Penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan

3. Pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan serta penerimaan surat lainnya

4. Penyuluhan Perpajakan

5. Pelaksanaan registrasi Wajib Pajak 6. Pelaksanaan Ekstensifikasi

(29)

11. Pelaksanaan instensifikasi 12. Pembetulan ketetapan pajak

13. Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selain PBB Pedesaan dan Perkotaan

14. Pelaksanaan administrasi kantor

C. Deskripsi dan Aktivitas Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur terletak di Jalan Suka Mulya Nomor 17 A Medan. KPP Pratama Medan Timur dipegang oleh seorang kepala kantor yang mempunyai tugas koordinasikan penyusunan rencana kerja KPP, mengkoordinasikan penyusunan rencana penerimaan pajak berdasarkan potensi yang ada dan mengkoordinasikan segala hal yang bersangkutan dengan rencana kerja yang telah ditargetkan oleh Kantor Wilayah yang bersangkutan. Kepala kantor tersebut membawahi sepuluh seksi dan satu kelompok jabatan fungsional. Gambaran dari tugas masing-maing bagian kerja tersebut adalah :

1. Sub. Bagian Umum

Sub. Bagian Umum mempunyai tugas umum sebagai berikut : 1.1 Penerimaan dokumen di KPP

1.2 Pemprosesan dan penatausahaan dokumen masuk

1.3 Pelaksanaan pelantikan, sumpah, dan serah terima jabatan serta pengambilan sumpah Pegawai Negeri Sipil (PNS)

(30)

1.5 Pemusnahan dokumen, penyusunan laporan berkala KPP dan pembuatan laporan tahunan

2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI)

Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas umum sebagai berikut :

2.1 Penyusunan rencana penerimaan pajak berdasarkan potensi pajak, perkembangan ekonomi, dan keuangan

2.2Penatausahaan penerimaan PBB non- elektronik

2.3Pemprosesan dan penatausahaan dokumen masuk di Seksi PDI

2.4 Pembuatan dan penyampaian Surat Perhitungan dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak lain

2.5 Pembentukan dan pemanfaatan Bank Data dan lain-lain 3. Seksi Pelayanan

Seksi Pelayanan mempunyai tugas umum sebagai berikut :

3.1 Penatausahaan surat, dokumen, dan laporan Wajib Pajak pada Tempat Pelayanan Terpadu (TPT)

3.2 Penyelesaian pemindahan Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) lama dan baru

3.3 Penyelesaian permohonan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

(31)

3.6 Penerbitan Surat Teguran penyampaiannya SPT Masa dan SPT Tahunan PPh

3.7 Pelaksanaan pemenuhan permintaan konfirmasi dan klarifikasi dan lain- lain.

4. Seksi Penagihan

Seksi Penagihan mempunyai tugas umum sebagai berikut :

4.1 Pemrosesan dan penatausahaan dokumen masuk di Seksi Penagihan 4.2 Penatausahaan Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagihan

Pajak (STP) beserta bukti pembayarannya

4.3Penerbitan STP Bunga Penagihan, Surat Teguran Penagihan, Surat Paksa, dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP) serta Surat Keputusan Pencabutan Sita

4.4 Penyelesaian Usulan Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak 4.5 Pembuatan Usulan Pencegahan dan Penyenderaan terhadap Wajib

Pajak tertentu dan lain-lain 5. Seksi Pemeriksaan

Seksi Pemeriksaan mempunyai tugas umum sebagai berikut : 5.1 Penyelesaian SPT Tahunan PPh Lebih Bayar

5.2 Penyelesaian Permohonan Pengembalian Kelebihan Pembayaran PPnBM

(32)

6. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempunyai tugas umum sebagai berikut : 6.1 Pendaftaran objek pajak baru dengan penelitian kantor maupun

lapangan

6.2 Penerbitan Surat Himbauan untuk ber- NPWP

6.3 Pencarian data potensi perpajakan dalam rangka pembuatan Monografi Fiskal

6.4 Penyelesaian permohonan penundaan pengembalian SPOP (Surat Pemberitahuan Objek Pajak) dan mutasi sebagian atau seluruhnya objek dan subjek PBB

6.5 Penerbitan daftar nominatif untuk usulan SP2 (Surat Perintah Pemeriksaan) Ekstensifikasi dan lain- lain

7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon)

Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) yang biasanya terdiri atas empat bagian mempunyai tugas umum sebagai berikut :

7.1 Penyelesaian permohonan penggunaan nilai buku dalam rangka penggabungan usaha, pengambilalihan usaha atau pemekaran usaha 7.2 Penerbitan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) dan

Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB)

(33)

7.4 Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan

7.5 Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diterima atau diporoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan

7.6 Pembuatan Surat Pemberitahuan perubahan besarnya angsuran PPh Pasal 25 (Dinamisasi) dan lain-lain

8. Kelompok Jabatan Fungsional

Mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing- masing berdasarkan perundang- undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari sejumlah jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya. Setiap kelompok dikoordinasikan oleh pejabat fungsional senior yang ditunjuk oleh Kepala Wilayah dan Kepala KPP Pratama yang bersangkutan.

D. Gambaran Jumlah Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

(34)

Tabel II.1

Jumlah Pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

No. Unit

Jumlah Pegawai (orang)

1 Kepala Kantor 1

2 Sub Bagian Umum 6

3 Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) 9

4 Seksi Penagihan 4

5 Seksi Pelayanan 16

4 Seksi Pemeriksaan 15

6 Seksi Ekstensifikasi 4

7 Seksi Pengawasan dan Konsultasi I 8 8 Seksi Pengawasasn dan Konsultasi II 6 9 Seksi Pengawasan dan Konsultasi III 7 10 Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV 7

Jumlah 83

(35)

Bagan II.1

STRUKTUR ORGANISASI

KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN TIMUR

(36)

E. Visi dan Misi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

Keberhasilan program modrenisasi di lingkungan DJP, tidak hanya dapat membawa perubahan paradigma dan perubahan perilaku pegawai DJP. Tetapi lebih jauh juga dapat memberikan dampak positif terhadap percepatan penerapan praktik- praktik “good governance” pada institusi pemerintah secara keseluruhan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Direktorat Jenderal Pajak telah mencanangkan visi dan misi sebagai pedoman dalam melakukan setiap kegiatan. Adapun visi dan misi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Visi : Menjadi instansi pemerintah yang menyelenggarakan sistem

administrasi perpajakan modren yang efektif, efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi.

2. Misi : Menghimpun penerimaan dalam negeri dari sektor pajak yang

(37)

BAB III

GAMBARAN DATA PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI

A. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di daerah pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sangat dipengaruhi oleh perkembangan transaksi bisnis serta pola konsumsi masyarakat objek dari Pajak Pertambahan Nilai atas nilai tambah (added value) yang timbul efek pengenaan pajak berganda dapat dihindarkan (Resmi, 2008:1).

B. Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai

Undang-Undang yang mengatur pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah Undang-Undang nomor 8 tahun 1983 tentang pajak Pertambahan Nilai Barang dan jasa an Pajak penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali di ubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009.

C. Subjek Dan Objek Pajak Pertambahan Nilai 1. Subjek pajak

Dalam buku “Perpajakan Indonesia” (Waluyo,2006:57-68) secara garis besar subjek pajak adalah pihak-pihak (orang atau badan) yang menerima penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja.

(38)

barang, mengimpor barang, mengekspor barang melakukan usaha perdangangan,memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean.

2. Objek Pajak

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas

1. Penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha kena pajak.

a. Barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang kena Pajak b. Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Brang kena Pajak

Tidak Berwujud

c. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean

d. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaanya 2. Impor Barang Kena Pajak

a. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai b. Tanpa memperhatikan apakah dilakukan dalam rangka kegiatan usaha

atau pekerjaannya atau tidak,tetap dikenai pajak

3. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak.

Dengan syarat-syarat sebagai berikut:

(39)

4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah Pabean didalam Daerah Pabean.Untuk dapat memberikan perlakuan yang sama dengan impor barang Kena Pajak

5. Pemanfaatan Barang Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam daerah pabean jasa yang berasal dari luar daerah pabean yang dimanfaatkan oleh siapapun didalam daerah pabean dikenai Pajak Pertambahan Nilai.

6. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud Oleh Pengusaha kena Pajak

7. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud Oleh Pengusaha Kena Pajak 8. Pengusaha melakukan ekspor barang kena pajak berwujud/barang kena

pajak tidak berwujud hanya pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi pengusaha kena pajak.

9. Ekspor Jasa Kena Pajak Oleh Pengusaha Kena Pajak.Termasuk dalam pengertian ekspor jasa kena pajak adalah penyerahan jasa kena pajak dari dalam daerah pabean keluar daerah pabean oleh pengusaha kena pajak yang menghasilkan dan melakukan ekspor barang kena pajak berwujud atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesanan diluar daerah pabean.

10. Kegiatan Membangun sendiri yang dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.

(40)

D. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

Pengusaha yang melakukan penyerahan sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perundang-undangan kecuali pengusaha kecil yang batasanya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, wajib melaporkan usahanya unutk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak dan wajib memungut,menyetor,dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas barang mewah yang terutang.

Pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena pajak dan/atau penyerahan jasa kena pajak didalam daerah pabean dan/atau melakukan ekspor barang kena pajak berwujud,ekspor jasa kena pajak,dan/atau ekspor barang kena pajak tidak berwujud di wajibkan:

a. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak; b. Memungut pajak yang terutang;

c. Menyetorkan pajak petambahan nilai yang masi harus dibayar dalam hal pajak keluaran lebih besar dari pajak pemasukan yang dapat dikreditkan serta menyetorkan pajak penjualan atas barang mewah yang terutang;

d. Melaporkan perhitungan pajak.

Kewajiban diatas tidak berlaku untuk pengusaha kecil yang batasanya di tetapkan oleh mentri keuangan

(41)

E. Saat Terutang Pajak Pertambahan Nilai

Pemungutan PPN atau PPnBM menganut prinsip akrual, artinya terutangnya pajak terjadi pada saat penyerahan barang kena pajak/jasa kena pajak meskipun pembayaranya belum diterima

Terutangnya pajak terjadi pada saat :

1. Penyerahan barang kena pajak

a. Saat barang kena pajak diserahkan secara langsung pada pembeli b. Saat barang kena pajak diserahkan secara langsung kepada penerima

barang(untuk pemberian Cuma-Cuma, pemakain sendiri, penyerahan pusat kecabang).

c. Saat barang kena pajak diserahkan kepada juru kirim atau jasa angkutan.

d. a. Saat harga atas penyerahan Barang Kena Pajak diakui sebagai piutang / penghasilan.

b. Saat diterbitkan faktor penjualan. 2. Penyerahan Jasa Kena Pajak

a. Saat harga atas penyerahan jasa pajak diakui sebagai piutang / penghasilan

(42)

d. Saat mulai tersedianya fasilitas / kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian atau seluruhnya dalam pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak

3. Impor Barang Kena Pajak

Saat Barang Kena Pajak tersebut dimasukkan kedalam Daerah Pabean 4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud / Jasa Kena Pajak dari

Luar Daerah Pabean

Saat yang diketahui terjadi lebih dahulu dari peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

a. Secara nyata digunakan oleh pihak yang memanfaatkannya b. Dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkannya

c. Saat harga jual dan/atau penggantian diganti oleh pihak yang menyerahkan

d. Harga perolehan dibayar, baik sebagian atau seluruhnya, oleh pihak yang memanfaatkan

e. Ditandatanganinya kontrak / perjanjian atau saat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak

5. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud

Saat Barang Kena Pajak dikeluarkan dari daerah Pabean

6. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak

(43)

7. Saat Lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak

a. Atas barang kena pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada pembubaran perusahaan, saat terutangnya PPN adalah pada saat yang terjadi lebih dahulu sebagai berikut :

1. Saat ditandatanganinya akte pembubaran oleh Notaris

2. Saat berakhirnya jika waktu berdirinya perseroan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar (AD) Perusahaan

3. Saat tanggal penetapan pengadilan perseroan dibubarkan

4. Saat diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau sudah dibubarkan, berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan data atau dokumen yang ada

b. Atas kegiatan membangun sendiri saat terutangnya PPN adalah pada saat mulai dibangunnya bangunan

c. Atas penyerahan kepada pemungut PPN :

1. Saat terutangnya PPN adalah pada saat disampaikan tagihan 2. Kontraktor Migas dan Panas Bumi, saat terutangnya PPN adalah

pada saat sama dengan penyerahan Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak

(44)

Pajak terutang saat pembayaran dalam hal :

a. Pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau jasa Kena Pajak

b. Pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud / Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean

F. Mekanisme Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai

Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 menganut kredit pajak (credit method) serta metode faktur pajak (invoice method). Dalam metode ini pajak Pertambahan Nilai (PPN) dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau jasa Kena Pajak (JKP) oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP).

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dipungut secara bertingkat pada setiap jalur produksi dan distribusi.unsur pengenaan pajak berganda atau pengenaan pajak atas pajak dapat dihindari dengan di terapkanya mekanisme pengkreditan pajak masukan (metode kredit pajak).

Mekenisme pengenaan PPN dapat digambarkan sebagai berikut:

(45)

merupakan pajak keluaran.sebagai bukti telah memungut PPn,PKP penjual wajib membuat faktur pajak.

c. Apabila dalam suatu masa pajak (jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwin) jumlah pajak keluaran lebih besar dari pada jumlah pajak masukan, selisihnya harus disetor ke kas negara.

d. Apabila dalam satu masa pajak jumlah pajak keluaran lebih kecil dari pada pajak masukan, selisihnya dapat di restusi (diminta kembali) atau kompensasi ke masa pajak berikutnya.

e. Pelaporan penghitungan PPN dilakukan setiap masa pajak dengan menggunakan Surat Pemberi Tahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN).

G. Tempat Terutang Pajak Pertambahan Nilai

Adapun yang menjadi tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai adalah

1. Pengusaha kena pajak yang melakukan:

a. Penyerahan barang kena pajak / jasa Kena Pajak didalam daerah pabean

b. Ekspor barang kena pajak berwujud/tidak berwujud/Jasa Kena Pajak 2. Berutang pajak ditempat tinggal atau berdudukan dan /atau tempat

(46)

3. Dalam hal IMPOR,terutang pajak di barang kena pajak dimasukan dan di pungut oleh Dirjen Bea dan Cukai.

4. Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena pajak tidak berwujud dan/atau Jasa kena Pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean terutang pajak di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha.

H. Dasar Pengenaan Pajak

Untuk menghitung besarnya pajak (PPN dan PPnBM) yang terutang perlu adanya dasar pengenaan pajak (DPP).adapun yang menjadi DPP adalah:

1. Pemakaian sendiri Barang kena Pajak dan/atau Jasa kena Pajak adalah harga jual atau Penggantian setelah dikurangi Laba Kotor (HPP);

2. Pemberian Cuma-Cuma Barang kena Pajak adalah harga jual atau penggantian setelah dikurangi laba kotor (HPP);

3. Penyerahan media suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata; 4. Penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film; 5. Penyerahan harga jual produk tembakau adalah perkiraan harga jual eceran; 6. Barang kena pajak adalah berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut

tujuan semula tidak untuk diperjual belikan,yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan,adalah harga pasar wajar;

(47)

8. Penyerahan Barang Kena Pajak melalui pedagang perantara adalah harga yang disepakati antara pedagang perantara dengan pembeli;

9. Penyerahan Barang Kena Pajak dari juru lelang adalah harga lelang;

10.Penyerahan jasa pengriman adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih;

11.Penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya di tagih.

I. Faktur Pajak

Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan barang kena pajak atau penyerahan jasa kena pajak.

1. Pengusaha kena pajak membuat faktur pajak untuk setiap:

a. Penyerahan barang kena pajak di daerah pabean ekspor BKP berwujud; b. Penyerahan jasa kena pajak di daerah pabean;

c. Ekspor BKP tidak berwujud dan/atau d. Ekspor JKP

2. Faktur pajak yang dimaksud pada ayat (1) harus dibuat pada: a. Saat penyerahan BKP atau penyerahan JKP

(48)

d. Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan Menteri Keuangan 3. Pengusaha kena Pajak dapat membuat 1 (satu) faktur pajak meliputi seluruh penyerahan kepada pembeli barang kena pajak atau penerima jasa kena pajak yang sama selama 1 (Satu) bulan kalender.

4. Faktur pajak harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan.

Dalam faktur pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau keterangan Jasa kena Pajak yang paling sedikit memuat:

a. Nama, alamat, dan nomor pokok wajib pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa kena Pajak;

b. Jenis barang atau jasa,jumlah harga jual atau penggantian,dan potongan harga;

c. Pajak Pertambahan Nilai yang dipunggut;

d. Kode,nomor seri,dan tanggal pembuatan faktur pajak; e. Nama dan tanda tangan yang berhak menerima faktur pajak; f. Pajak atas penjualan barang mewah yang dipungut;

g. Direktur Jendral Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu yang kedudukanya dipersamakan dengan faktur pajak.

(49)

Bentuk dan ukuran formulir faktur pajak disesuaikan dengan kepentingan PKP. Dan pengadaan formulir.faktur pajak dilakukan sendiri oleh PKP. Faktur pajak harus di isi secara lengkap, jelas, benar dan sesuai dengan keterangan sebagai mana yang di maksud dalam pasal 13 ayat (5) UU PPN, serta ditanda tangani oleh pejabat/kuasa yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak. Faktur pajak yang tidak di isi secara lengkap dan benar dan/atau tidak di tandatangani merupakan Faktur Pajak cacat.

Apabila dalam suatu masa pajak pengusaha kena pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga dilakukan penyerahan yang tidak terutang pajak,sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuanya,jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak.

Dalam hal terjadi pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan,peleburan,pemekaran,pemecahan,dan pengambilalihan usaha,pajak masukan atas barang kena pajak yang di alihkan dan belum dikreditkan oleh pengusaha kena pajak yang menerima pengalihan,sepanjang faktur faktur pajaknya diterima setelah terjadinya pengalihan dan pajak Masukan tersebut belum dibebankan sebagai biaya atau kapitalisasi.

(50)
(51)

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Prosedur Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang atau jasa di dalam daerah pabean oleh orang pribadi atau badan. PPN tergolong sebagai pajak yang objektif, karena penekanaanya mula-mula kepada obyeknya terlebih dahulu,baru kemudian kepada subyeknya,siapupun subyeknya (masyarakat yang mampu maupun masyarakat yang kurang mampu),akan dikenakan PPN,selama mengkonsumsi Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) di daerah Pabean.

Sehubungan dengan mulai diberlakunya UU PPN yang baru 1 April 2010, maka untuk perubahan dan ketentuan dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan undang-undang Nomor 42 Tahun 2009,maka Dirjen Pajak telah mengeluarkan aturan baru mengenai bentuk,isi dan tata cara penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) yaitu dengan peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-14/PJ/2010 tentang perubahan kedua atas Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor

(52)

SE-43/PJ/2010.Berikut ini disampaikan hal-hal yang diatur oleh PER-14/PJ/2010 dan SE-43/PJ/2010 tersebut.

Dalam prosedur pelaporan Pajak Pertambahan Nilai terlebih dahulu diketahui siapa yang wajib membayar/menyetor dan melaporkan PPN/PPnBM,apa saja yang wajib disetor oleh PKP dan pemungut PPN dan PPnBM dimana tempat pembayaran pajak, kapan saat pembayaran PPN/PPnBM,kapan saat pelaporan PPN/PPnBM dan apa saja sarana yang digunakan untuk pembayaran/penyetoran pajaknya.

Untuk membayar PPN dan PPnBM digunakan formulir Surat Setoran Pajak (SSP) yang tersedia di kantor pelayanan pajak dan kantor penyuluhan dan pengamatan potensi perpajakan di seluruh Indonesia.PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP,harus dilaporkan dalam SPT Masa dan dilaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

(53)

di tanda tangani oleh penggurus atau direksi untuk Wajib Pajak Badan ,wajib pajak yang namanya tercantum dalam kartu NPWP dan SK PKP bagi wajib pajak orang pribadi dan dalam hal harus di tanda tangani oleh pihak lain selain tersebut diatas maka harus di lampirkan surat kuasa khusus.disampaikan langsung Kekantor Pelayanan Pajak dimana pengusaha dikukuhkan sebagai PKP/Kantor penyuluhan Pajak setempat paling lambat 20 hari setelah masa pajak berakhir.

Pengusaha wajib pajak,wajib menyerahkan faktur pajak setiap penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak,setiap penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak,serta saat pengusaha kena pajak menyampaikan kepada bendahara pemerintah sebagai pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

B. Proses Pemungutan PPN Dan PPnBM

(54)

Pihak yang menyerahkan BKP atau JKP disebut PKP sebelum menjadi PKP,mereka adalah pengusaha yang menghasilkan barang ,mengimpor barang,mengekspor barang,melakukan usaha perdagangan,melakukan usaha jasa,memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar negeri ,atau memanfaatkan jasa dari luar negeri,maka itu dikenal dengan PKP PPN barang,PKP PPN impor,PKP PPN ekspor,PKP PPN pedagang eceran,PKP PPN pemanfaatan barang tidak berwujud dari luar negeri,PKP PPN jasa,serta PKP PPN pemanfatan jasa dari luar negri.

Fungsi diatas menentukan,karena PKP harus aktif melaporkan,memungut dan menyetor sebagainya,karena yang berhadapan dengan PKP adalah pembeli atau penerima jas.PKP tidak terbatas dengan pihak menyerahkan BKP atau JKP termasuk juga Direktorat Jendral Bea dan Cukai,orang pribadi tertentu,badan tertentu dan instansi pemerintah yang di tunjuk.

Maka PKP yang di tunjuk adalah yang memungut PPN dan PPnBM atas penyerahan BKP atau JKP yang berhak memungut ini adalah orang pribadi atau badan yang memanfaatkan barang yang tidak berwujud dari luar daerah pabean ke dalam daerah pabean,dan orang pribadi atau jasa yang melakukan pemanfaatan dari luar daerah pabean dan didalam daerah pabean.

(55)

yang tidak dapat di indentifikasi dibuat faktur pajak sederhana,walaupun tidak dapat dibuat sebagai faktur pajak masukan.

Karena bervariasi,maka sebagai pihak yang berhak memungut dan melapor PPN dan PPnBM juga bervariasi.Oleh karena itu,yang berkewajiban melaporkan dan menyetorkan ke kantor Pelayanan pajak meliputi: Pengusaha Kena Pajak,Bendaharawan Pemerintah,misalnya BUMN, BUMD, Pertamina, Bank milik Pemerintah dan sebagainya, PKP yang terkait dengan tranksaksi dengan Bulog,Direktorat Jendral Bea dan Cukai.

Para pemungut PPN dan PPnBM setiap bulanya wajib melakukan penyetoran PPN dan PPnBM dan melaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak,baik langsung dengan meyampaiakan lembar ke-3 SSP,atau menyampaikan SPT masa PPN dengan melampirkan lembar ke-3 SSP. Maksud pemerintah memberi kemudahan di bidang perpajakan khususnya PPN dan PPnBM adalah utuk memberikan fasilitas yang benar-benar diperlukan terutama untuk hasilnya sektor-sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional.

C. Kendala Dan Masalah Yang Dihadapi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

(56)

Medan Timur. Dalam pelaporan Pajak Pertambahan Nilai juga memliki kendala yang terjadi di setiap wilayah,karena sering mengalami keterlambatan pelaporan ke kantor pusat.Hal ini menyebabkan Kantor Pusat selalu membuat revisi terhadap laporan SPT masa PPN.

Selain itu kendala yang timbul di pihak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur dikarenakan banyaknya wajib pajak yang sudah tidak lagi menjadi pengusaha kena pajak yang dikarenakan wajib pajak sudah meninggal dunia dan tidak di beritahukan oleh piha keluarga,wajib pajak yang masih aktif tapi tidak melaporkan pajak,wajib pajak yang tidak sesuai syarat menjadi pengusaha kena pajak,badan usaha atau pun perusahaan yang telah di tutup atau bangkrut tetapi tidak memberitahukan kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur.

D. Upaya Yang Dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

Adapun usaha yang dilakukan oleh pihak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur dalam rangka meningkatkan pelayanan,penertiban adalah dengan cara mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya membayar pajak. menerbitkan surat himbauan untuk menerbitkan SPT masa,serta melakukan regristasi ulang pengusaha Kena Pajak untuk mengetahui wajib pajak yang masih aktif menjadi Pengusaha kena Pajak,

(57)

pajak perlu menetapkan peraturan Direktorat Jendral Pajak tentang regristasi ulang Pengusaha kena pajak Tahun 2012. Yang di maksud dengan:

Regristasi ulang pengusaha kena pajak adalah suatu program yang bertujuan meningkatkan pelayanan, penertiban administrasi, pengawasan dan menguji pemenuhan objektif dan subjektif pengusaha kena pajak.

Setelah melakukan regristasi ulang di lakukan verifikasi yaitu serangkaian kegiatan penguji pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif atau penghitungan dan pembayaran pajak, berdasarkan permohonan wajib pajak, atau berdasarkan data dan informasi perpajakan yang dimiliki atau diperoleh Direktur Jendral Pajak,dalam menerbitkan surat ketetapan pajak menerbitkan/menghapus nomor pokok wajib pajak dan atau mengukuhkan pengusaha kena pajak (PKP).

Regristasi ulang Pengusaha Kena Pajak dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha Kena pajak Terdaftar. Jangka waktu melakukan regristasi ulang Pengusaha kena Pajak di mulai sejak Februari sampai dengan 31 Agustus.regristasi dilakukan kepada selurah pengusaha kena pajak yang terdaftar.

(58)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan uraian bab yang ada maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

2. Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas konsumsi barang atau jasa di daerah pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sangat di pengaruhi dengan perkembangan transaksi bisnis secara pola konsumsi masyarakat yang menjadi objek pajak Pertambahan Nilai. Perkembangan ekonomi sangat baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional terus menciptakan jenis serta pola baru transaksi bisnis yang baru.

(59)

4. Dalam menghadapi kendala yang terjadi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur meningkatkan pelayanan, penertiban, administrasi, pengawasan, dan untuk menguji pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif pengusaha kena pajak, perlu menetapkan peraturan Direktur Jendral Pajak tentang Regristasi Ulang Pengusaha Kena Pajak.

B.Saran

Penulis selaku mahasiswa Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Universitas Sumatera Utara ingin menyampaikan beberapa saran kepada Bapak/Ibu pegawai Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur yang tidak lebih banyak bertujuan agar kita semua dapat meningkatkan pelayanan kepada seluruh masyarakat Indonesia Khususnya para Wajib pajak yang telah sadar akan kewajibannya. Adapun saran tersebut adalah:

1. Pentingnya peningkatan pendekatan lebih kepada wajib pajak di kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur yang belum sadar akan kewajibanya sebagai warga negara yang telah berpenghasilan diatas PTKP dalam membayar pajak

2. Diharapkan kepada pihak kepegawain perpajakan untuk terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada wajib pajak dalam hal melaksanakan kewajibanya agar masyarakat lebih peduli untuk membayar pajak

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo. 2006. Perpajakan Edisi revisi. CV Andi Offset: Yogyakarta. Resmi, Siti. 2008. Perpajakan teori dan kasus. PT Salemba Empat: Jakarta. S.R Soermarso. 2007. Perpajakan. Salemba Empat:Jakarta.

Figur

Tabel II.1
Tabel II 1. View in document p.34

Referensi

Memperbarui...