• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Quality of Work Life terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Quality of Work Life terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH QUALITY OF WORK LIFE TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT TK II

PUTRI HIJAU KESDAM I/BB MEDAN

TESIS

Oleh

MUCHTI YUDA PRATAMA 107032114/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

THE INFLUENCE OF QUALITY OF WORK LIFE ON THE PERFORMANCE OF THE NURSES WORKING AT

LEVEL II PUTRI HIJAU HOSPITAL KESDAM I/BB MEDAN

THESIS

By

MUCHTI YUDA PRATAMA 107032114/IKM

MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

PENGARUH QUALITY OF WORK LIFE TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT TK II

PUTRI HIJAU KESDAM I/BB MEDAN

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

MUCHTI YUDA PRATAMA 107032114/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(4)

Judul Tesis : PENGARUH QUALITY OF WORK LIFE

TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT TK II PUTRI HIJAU

KESDAM I/BB MEDAN Nama Mahasiswa : Muchti Yuda Pratama Nomor Induk Mahasiswa : 107032114

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Kerja

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E)

Ketua Anggota

(Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(5)

Telah diuji

Pada tanggal : 19 Juli 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E Anggota : 1. Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S

(6)

PERNYATAAN

PENGARUH QUALITY OF WORK LIFE TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT TK II

PUTRI HIJAU KESDAM I/BB MEDAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Juli 2012

(7)

ABSTRAK

Quality of work life merupakan masalah yang semestinya mendapat perhatian dari Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Hal ini merujuk pada pemikiran bahwa quality of work life dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangan para perawat pelaksana terhadap rumah sakit.

Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross sectional yang bertujuan menganalisis pengaruh quality of work life yaitu keterlibatan karyawan, pengembangan karir, penyelesaian masalah, komunikasi, fasilitas yang tersedia, rasa aman terhadap pekerjaan, keselamatan lingkungan kerja, kompensasi yang seimbang, dan rasa bangga terhadap institusi terhadap kinerja perawat pelaksana. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Subjek penelitian ini berjumlah 79 orang perawat pelaksana berpendidikan D3 dan S1 keperawatan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi linier berganda.

Hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel yang signifikan yaitu keterlibatan karyawan (ρ=0,001), pengembangan karir (ρ=0,000), kompensasi yang seimbang (ρ=0,012), dan rasa bangga terhadap institusi (ρ=0,034). Sedangkan penyelesaian masalah (ρ=0,437), komunikasi (ρ=0,389), fasilitas yang tersedia (ρ=0,606), rasa aman terhadap pekerjaan (ρ=0,549), dan keselamatan lingkungan kerja (ρ=0,929) tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,644, artinya keterlibatan karyawan, pengembangan karir, kompensasi yang seimbang, dan rasa bangga terhadap institusi memberikan pengaruh sebesar 64,4% terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

Disarankan kepada manajemen Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan agar lebih memperhatikan perawat pelaksana pada penyelesaian masalah, komunikasi, fasilitas yang tersedia, rasa aman terhadap pekerjaan, dan keselamatan lingkungan kerja seperti: memberikan kesempatan kepada perawat pelaksana untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, mengadakan pertemuan rutin, mengadakan program konseling dan program rekreasi, jadwal pengaturan dinas, dan memberikan jaminan keamanan kerja bagi perawat pelaksana.

(8)

ABSTRACT

Quality of work life is a problem which should have been paid attention by the management of Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan because quality of work life is regarded as being able to improve the participation and contribution of the nurses working here to this hospital.

The purpose of this analytical survey study with cross-sectional design conducted at Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan was to analyze the influence of quality of work life including employees’ involvement, career development, problem solving, communication, facilities available, job security, work environment safety, balanced compensation, and institutional pride on the nurses working at this hospital. The subject of this study was 79 nurses with qualification of D3 and S1 in nursing who are working for this hospital. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with multiple linear regression tests.

The result of multiple linear regression tests showed that the significant variables were employees’ involvement (p = 0.001), career development (p = 0.000), balanced compensation (p = 0.012), and institutional pride (p = 0.034), while problem solving (p = 0.437), communication (p = 0.389), facilities available (p = 0.606), job security (p = 0.549), and work environment safety (p = 0.929) did not have any influence on the performance of working nurses. The value of determination coefficient was 0.644 which meant that employees’ involvement, career development, balanced compensation, and institutional pride gave their influence for 64.4% to the performance of the nurses working for Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan.

The management of Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan is suggested to pay more attention to the nurses working at this hospital especially in terms of problem solving, communication, facilities available, job security and work environment safety by among other things, giving an opportunity to the nurses to accomplish the problems related to their job, having routine meetings, providing counseling and recreation programs, arranging job schedule, and providing job security to the nurses working at this hospital.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat,

hidayah dan anugerah yang diberikanNya sehingga penulis mampu menyelesaikan

tesis yang berjudul Pengaruh Quality of Work Life terhadap Kinerja Perawat

Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

Selama proses penulisan tesis ini, tidak sedikit tantangan serta suka dan duka

yang dilalui oleh penulis, terlepas dari itu maka penulis ingin menyampaikan terima

kasih kepada:

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat, Fakultas Kesehatam Masyarakat Universitas Sumatera Utara, dan

Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu

Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Utara.

4. Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E, selaku ketua komisi pembimbing dan

Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S, selaku anggota komisi pembimbing yang penuh

dengan perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan

(10)

5. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes dan Hj. Masnely Lubis, S.Kep, M.A.R.S, selaku

penguji tesis yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari

proposal hingga penulisan tesis ini.

6. Kolonel Ckm dr. Dubel Meriyenes, Sp.B selaku Kakesdam I/BB Medan, Kolonel

Ckm dr. Mochamad Munif selaku Kepala Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam

I/BB Medan dan Mayor Ckm Zulfikar, SKM selaku Kepala Instaldik Rumah

Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan yang telah memberikan ijin dalam

melakukan penelitian.

7. Zulkarnain, Ph.D, Psikolog dan Ferry Novliadi, S.Psi, M.Si yang telah bersedia

meluangkan waktu untuk mendiskusikan tesis ini. Terima kasih atas perhatian,

masukan, dan bimbingannya.

8. Kedua orang tua penulis yaitu Bapak Bambang Hermanto dan Ibu Yusniati yang

selalu berdoa, memberikan semangat, motivasi, dukungan materil, dan tidak

pernah menyerah dalam hal apapun demi kehidupan penulis dari dalam

kandungan sampai sekarang, tanpa mereka berdua penulis tidak akan bisa seperti

sekarang ini.

9. Mbak Hera, Mas Adi, Rindu Diva Kesuma, Puput dan adinda Fitriani Pramita

Gurning yang telah menjadi inspirasi dalam penulisan tesis ini, terima kasih atas

waktu dan kebersamaan kita selama ini, terima kasih atas motivasinya yang telah

(11)

10.Bang Patar, bang Harto, Meli, Noni, Minda, dan Aswin yang telah menjadi

keluarga baru di kelas Kesehatan Kerja 2010, terima kasih atas kebersamaan kita

selama ini sampai berhari-hari di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, dan Malang.

11.Kak Dahlia, kak Nana, kak Abdi, kak Sudar, kak Eva, dan bang Nanda yang telah

memberikan semangat dalam menjalani studi ini, sehingga penulis akhirnya dapat

menyelesaikan tesis ini.

12.Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis yang

tidak tersebutkan, penulis ucapkan terima kasih sebesar-besarnya telah membantu

penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan

dalam penulisan tesis ini, semua itu adalah kesalahan dan kekhilafan dari penulis.

Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, amin.

Medan, Juli 2012 Penulis

(12)

RIWAYAT HIDUP

Muchti Yuda Pratama, lahir pada tanggal 16 Mei 1986 di Batang Kuis

Kabupaten Deli Serdang, anak kedua dari dua bersaudara dari Bapak Bambang

Hermanto dan Ibu Yusniati.

Pada tahun 1992-1998, sekolah di SD Negeri No. 104230 Tanjung Sari

dengan status berijazah. Tahun 1998-2001 SMP Tunas Karya Batang Kuis dengan

status berijazah. Tahun 2001-2004 SMA Negeri 1 Tanjung Morawa dengan status

berijazah. Tahun 2004-2008 S1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Bangsa Medan

dengan status berijazah. Tahun 2004-2010 S1 Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara dengan status berijazah.

Pada tahun 2010 melanjutkan pedidikan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan

Masyarakat, Minat Studi Kesehatan Kerja di Universitas Sumatera Utara, bekerja

sejak tahun 2006 sampai sekarang sebagai Fasilitator di Medan Outbound Training,

bekerja sejak tahun 2010 sampai sekarang sebagai Dosen di STIKes Medistra Lubuk

(13)

DAFTAR ISI

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 59

3.6. Metode Pengukuran ... 62

3.7. Metode Analisis Data ... 64

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 65

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 65

(14)

Kesdam I/BB Medan ... 73

4.4. Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 87

4.5. Analisis Bivariat ... 95

4.6. Analisis Multivariat ... 97

BAB 5. PEMBAHASAN ... 99

5.1. Pengaruh Quality of Work Life terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 99

5.2. Pengaruh Keterlibatan Karyawan terhadap Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 99

5.3. Pengaruh Pengembangan Karir terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 101

5.4. Pengaruh Kompensasi yang Seimbang terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 102

5.5. Pengaruh Rasa Bangga terhadap Institusi terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 106

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 108

6.1. Kesimpulan ... 108

6.2. Saran ... 108

(15)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.1. Jumlah Sampel Perawat Pelaksana Pegawai Militer dan Perawat Pelaksana Pegawai Negeri Sipil di Rumah Sakit Tk II Putri

Hijau Kesdam I/BB Medan ... 52

3.2. Hasil Uji Validitas Variabel Keterlibatan Karyawan ... 54

3.3. Hasil Uji Validitas Variabel Pegembangan Karir ... 55

3.4. Hasil Uji Validitas Variabel Penyelesaian Masalah ... 55

3.5. Hasil Uji Validitas Variabel Komunikasi ... 56

3.6. Hasil Uji Validitas Variabel Fasilitas yang Tersedia ... 56

3.7. Hasil Uji Validitas Variabel Rasa Aman terhadap Pekerjaan ... 57

3.8. Hasil Uji Validitas Variabel Keselamatan Lingkungan Kerja ... 57

3.9. Hasil Uji Validitas Variabel Kompensasi yang Seimbang ... 58

3.10. Hasil Uji Validitas Variabel Rasa Bangga terhadap Institusi ... 58

3.11. Hasil Uji Validitas Variabel Kinerja ... 59

3.12. Aspek Pengukuran Variabel Bebas ... 62

3.13. Aspek Pengukuran Variabel Terikat ... 63

4.1. Kualifikasi Tenaga Dokter ... 68

4.2. Kualifikasi Tenaga Paramedis ... 69

4.3. Kualifikasi Tenaga Non Medis ... 70

4.4. Kualifikasi Ruangan Rawat Inap ... 71

(16)

4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Keterlibatan Karyawan ... 75

4.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pengembangan Karir ... 77

4.8. Distribusi Responden Berdasarkan Penyelesaian Masalah ... 78

4.9. Distribusi Responden Berdasarkan Komunikasi ... 79

4.10. Distribusi Responden Berdasarkan Fasilitas yang Tersedia ... 80

4.11. Distribusi Responden Berdasarkan Rasa Aman terhadap Pekerjaan .... 82

4.12. Distribusi Responden Berdasarkan Keselamatan Lingkungan Kerja ... 83

4.13. Distribusi Responden Berdasarkan Kompensasi yang Seimbang ... 85

4.14. Distribusi Responden Berdasarkan Rasa Bangga terhadap Institusi .... 86

4.15. Distribusi Kinerja Responden dalam Pengkajian di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 88

4.16. Distribusi Kinerja Responden dalam Diagnosis di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 90

4.17. Distribusi Kinerja Responden dalam Rencana Tindakan di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 91

4.18. Distribusi Kinerja Responden dalam Pelaksanaan Tindakan di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 92

4.19. Distribusi Kinerja Responden dalam Evaluasi Tindakan di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan ... 93

(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Komponen Kinerja Individual ... 31

2.2. Teori Cascio Mengenai Quality of Work Life ... 49

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 115

2. Output Validitas dan Reliabilitas Data ... 121

3. Keluaran (Output) SPSS ... 127

4. Master Data Penelitian ... 153

(19)

ABSTRAK

Quality of work life merupakan masalah yang semestinya mendapat perhatian dari Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Hal ini merujuk pada pemikiran bahwa quality of work life dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangan para perawat pelaksana terhadap rumah sakit.

Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross sectional yang bertujuan menganalisis pengaruh quality of work life yaitu keterlibatan karyawan, pengembangan karir, penyelesaian masalah, komunikasi, fasilitas yang tersedia, rasa aman terhadap pekerjaan, keselamatan lingkungan kerja, kompensasi yang seimbang, dan rasa bangga terhadap institusi terhadap kinerja perawat pelaksana. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Subjek penelitian ini berjumlah 79 orang perawat pelaksana berpendidikan D3 dan S1 keperawatan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi linier berganda.

Hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel yang signifikan yaitu keterlibatan karyawan (ρ=0,001), pengembangan karir (ρ=0,000), kompensasi yang seimbang (ρ=0,012), dan rasa bangga terhadap institusi (ρ=0,034). Sedangkan penyelesaian masalah (ρ=0,437), komunikasi (ρ=0,389), fasilitas yang tersedia (ρ=0,606), rasa aman terhadap pekerjaan (ρ=0,549), dan keselamatan lingkungan kerja (ρ=0,929) tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,644, artinya keterlibatan karyawan, pengembangan karir, kompensasi yang seimbang, dan rasa bangga terhadap institusi memberikan pengaruh sebesar 64,4% terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

Disarankan kepada manajemen Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan agar lebih memperhatikan perawat pelaksana pada penyelesaian masalah, komunikasi, fasilitas yang tersedia, rasa aman terhadap pekerjaan, dan keselamatan lingkungan kerja seperti: memberikan kesempatan kepada perawat pelaksana untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan mereka, mengadakan pertemuan rutin, mengadakan program konseling dan program rekreasi, jadwal pengaturan dinas, dan memberikan jaminan keamanan kerja bagi perawat pelaksana.

(20)

ABSTRACT

Quality of work life is a problem which should have been paid attention by the management of Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan because quality of work life is regarded as being able to improve the participation and contribution of the nurses working here to this hospital.

The purpose of this analytical survey study with cross-sectional design conducted at Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan was to analyze the influence of quality of work life including employees’ involvement, career development, problem solving, communication, facilities available, job security, work environment safety, balanced compensation, and institutional pride on the nurses working at this hospital. The subject of this study was 79 nurses with qualification of D3 and S1 in nursing who are working for this hospital. The data obtained were analyzed through univariate analysis, bivariate analysis with Chi-square test, and multivariate analysis with multiple linear regression tests.

The result of multiple linear regression tests showed that the significant variables were employees’ involvement (p = 0.001), career development (p = 0.000), balanced compensation (p = 0.012), and institutional pride (p = 0.034), while problem solving (p = 0.437), communication (p = 0.389), facilities available (p = 0.606), job security (p = 0.549), and work environment safety (p = 0.929) did not have any influence on the performance of working nurses. The value of determination coefficient was 0.644 which meant that employees’ involvement, career development, balanced compensation, and institutional pride gave their influence for 64.4% to the performance of the nurses working for Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan.

The management of Level II Putri Hijau Hospital Kesdam I/BB Medan is suggested to pay more attention to the nurses working at this hospital especially in terms of problem solving, communication, facilities available, job security and work environment safety by among other things, giving an opportunity to the nurses to accomplish the problems related to their job, having routine meetings, providing counseling and recreation programs, arranging job schedule, and providing job security to the nurses working at this hospital.

(21)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang

rumah sakit disebutkan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Berdasarkan

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 983 tahun 1992

rumah sakit umum mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara efektif

dan efisien, mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara

serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan

upaya rujukan. Untuk melaksanakan tugas tersebut perlu didukung oleh sumber daya

manusia kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Salah satu

sumber daya manusia kesehatan yang melaksanakan tugas pelayanan di rumah sakit

adalah tenaga perawat.

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran

yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan

masyarakat Indonesia. Salah satu profesi yang mempunyai peran penting di rumah

sakit adalah keperawatan. Keperawatan adalah salah satu profesi di rumah sakit yang

berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan

(22)

bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu

tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu di

rumah sakit (Aditama, 2004).

Perawat merupakan sumber daya manusia terpenting di rumah sakit karena

selain jumlahnya dominan yang mencapai 55-65%, perawat juga merupakan profesi

yang memberikan pelayanan yang konstan dan terus menerus selama 24 jam kepada

pasien setiap hari. Oleh karena itu pelayanan keperawatan sebagai bagian integral

dari pelayanan kesehatan jelas mempunyai kontribusi yang sangat menentukan

kualitas pelayanan di rumah sakit. Sehingga setiap upaya untuk meningkatkan

kualitas pelayanan rumah sakit harus juga disertai upaya untuk meningkatkan kualitas

pelayanan keperawatan (Yani, 2007).

Masalah perawat yang sering timbul di rumah sakit menyangkut pelayanan

perawat meliputi kinerja dan sikap perawat dalam menjalankan perannya, diantaranya

adalah mengenai keterampilan, keramahan, disiplin, perhatian, tanggung jawab yang

kurang terlaksana dengan baik karena rendahnya motivasi kerja. Masalah-masalah

yang terjadi di lingkungan pekerjaan akan berdampak pada kinerja perawat di rumah

sakit (Rivai, 2005).

Menurut Dessler (2001), kinerja rumah sakit sebagai suatu unit pelayanan

kesehatan sebagaimana institusi lainnya dapat dinilai dengan membandingkan kinerja

aktual para pegawainya dengan standar yang ditetapkan, hal ini senada dengan

(23)

menilai hasil karya karyawan dalam suatu organisasi melalui instrumen penilaian

kinerja. Handoko (2001) juga mengatakan bahwa penilaian kinerja perlu dilakukan

untuk berbagai hal seperti perbaikan kerja, penyesuaian kompensasi, keputusan

penempatan, kebutuhan penelitian, dan pengembangan berhubungan dengan

pelaksanaan kerja karyawan.

Menurut Antonius (2011), salah satu pemicu rendahnya kinerja perawat dalam

memberikan asuhan keperawatan adalah belum adanya penghargaan atas hasil kerja

perawat, kondisi pekerjaan yang kurang baik, dan tuntutan kerja terhadap kinerja

perawat dirasa tidak cukup sebanding dengan kompensasi yang diberikan rumah

sakit. Salah satu upaya untuk dapat meningkatkan kinerja perawat adalah dengan

memberikan penghargaan, meningkatkan kesejahteraan perawat dan memberikan

kesempatan perawat untuk mengembangkan diri atau dengan cara-cara yang lain

dalam usaha

Dalam lingkungan kerja, pelaksanaan tugas yang baik dan profesional dapat

terwujud dengan menumbuhkan budaya kerja yang baik. Lingkungan kerja yang

kondusif sangat penting diciptakan oleh perusahaan agar karyawan merasa nyaman

dalam melaksanakan tugas dan mencapai kinerja terbaik. Perasaan nyaman dan

kondisi yang menyenangkan dalam lingkungan kerja dapat didefenisikan sebagai

quality of work life (Kondalkar, 2009). Penting bagi perusahaan untuk membuat

karyawan merasa nyaman dengan pekerjaan dan lingkungan kerja sehingga mereka

(24)

sangat berharga, maka perusahaan bertanggung jawab untuk memelihara quality of

work life dan membina karyawan agar bersedia memberikan sumbangannya secara

optimal untuk mencapai tujuan perusahaan (Pruijt, 2003).

Quality of work life menjadi isu penting dalam organisasi kesehatan. Dari

hasil penelitian di Kanada, dilaporkan bahwa krisis perawat yang dialami dapat

ditanggulangi dengan menyusun strategi yang dilakukan oleh Advisory Committee on

Health Human Resource (ACHHR), dimana peningkatan quality of work life perawat

diidentifikasi sebagai penyelesaian masalah krisis perawat di Kanada. American

Nurses Association (ANA) melalui National Database of Nursing Quality Indicators

(NDNQI) telah melakukan survei terhadap 76.000 perawat untuk mengetahui

elemen-elemen yang memengaruhi kepuasan kerja perawat. Dimana hasil dari survei tersebut

akan menjadi rekomendasi untuk ANA’S National Center of Nursing Quality (NCNQ)

untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan keselamatan

pasien, kualitas pelayanan keperawatan, dan quality of work life

Menurut Cascio (2003), quality of work life didefinisikan sebagai persepsi

karyawan tentang kesejahteraan mental dan fisiknya ketika bekerja. Ada dua

pandangan mengenai maksud dari quality of work life. Pertama, quality of work life

adalah sejumlah keadaan dan praktek dari organisasi. Sementara yang kedua, quality

of work life adalah persepsi karyawan bahwa mereka ingin merasa aman, puas, dan

(25)

Cascio (2003) menguraikan sembilan komponen quality of work life yang

terdiri dari keterlibatan karyawan, pengembangan karir, penyelesaian masalah,

komunikasi, fasilitas yang didapat, rasa aman terhadap pekerjaan, keselamatan

lingkungan kerja, kompensasi yang seimbang, dan rasa bangga terhadap perusahaan.

Quality of work life

Menurut Harvey dan Brown dalam Usman (2009), pada prinsipnya quality of

work life perlu diciptakan oleh organisasi untuk memberikan keseimbangan pada

karyawan dalam melaksanakan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Quality of work life

mencoba untuk memperbaiki kualitas kehidupan para pekerja, tidak dibatasi pada

perubahan konteks suatu pekerjaan tetapi juga termasuk memanusiakan lingkungan

kerja untuk memperbaiki martabat dan harga diri para pekerja.

yang baik juga memengaruhi secara langsung motivasi dan

kepuasan kerja karyawan, sehingga meningkatkan komitmen terhadap pekerjaan dan

akan menurunkan angka turn over karyawan dan tingkat ketidakhadiran (Zulkarnain,

2011).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa quality of work life sangat

memengaruhi kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat. Menurut hasil survei dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

pada tahun 2006 sekitar 50,9% perawat yang bekerja di empat provinsi di Indonesia

mengalami stres kerja, sering pusing, lelah, tidak bisa beristirahat karena beban kerja

terlalu tinggi dan menyita waktu, gaji rendah tanpa insentif memadai (Nursalam,

(26)

lembur terus menerus atau bekerja tanpa dukungan yang memadai cenderung untuk

tidak masuk kerja dan mengalami kondisi kesehatan yang

Penelitian yang dilakukan oleh Bruce dkk (1999) menemukan adanya

hubungan antara kinerja dan quality of work life yang membandingkan 88 perusahaan

yang diidentifikasi sebagai perusahaan terbaik di Amerika dengan 88 perusahaan

yang tergabung dalam Standard and Poor’s one Hundred (S&P 100). Sampel dari

perusahaan terbaik mewakili perusahaan dengan praktek kualitas kerja yang tinggi

sementara perusahaan dalam S&P 100 digunakan sebagai kelompok pengendali

untuk tujuan perbandingan. Temuan dalam studi empiris mereka menemukan bahwa

perusahaan dengan praktek kualitas kerja yang tinggi akan menikmati pertumbuhan

yang tinggi.

buruk.

Quality of work life seperti yang ditunjukkan penelitian sebelumnya juga

menunjukkan bahwa kualitas kehidupan bekerja juga berpengaruh terhadap kinerja

karyawan yang diukur dengan produktivitas, rendahnya turnover serta meningkatnya

kepuasan kerja. Kontribusinya tidak hanya pada kemampuan perusahaan untuk

merekrut sumber daya manusia yang handal tetapi juga meningkatkan daya saing

perusahaan.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa quality of work life mempunyai

dampak positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan (Lau dan May, 1998).

Adanya quality of work life juga menumbuhkan keinginan para karyawan untuk tetap

(27)

antara praktek quality of work life dengan kinerja karyawan (Elmuti dan Kathawala,

1997).

Quality of work life merupakan masalah utama yang patut mendapat perhatian

organisasi (Lewis dkk, 2001). Hal ini merujuk pada pemikiran bahwa quality of work

life dipandang mampu untuk meningkatkan peran serta dan sumbangan para

karyawan terhadap organisasi.

Dasar objektif quality of work life yang efektif adalah peningkatan keadaan

kerja terutama dari sisi perspektif pekerja dan keberhasilan organisasi yang

berasaskan sisi perspektif manajemen. Suatu keadaan yang bersifat menguntungkan

bagi pihak pekerja maupun bagi pihak manajemen akan dihasilkan jika ada hubungan

yang positif antara quality of work life dengan pencapaian dari pada suatu bisnis.

Hasil qualitiy of work life yang positif akan memperoleh beberapa hal seperti

berkurangnya tingkat ketidakhadiran, rendahnya turnover dan meningkatnya tingkat

kepuasan kerja (Zulkarnain, 2011).

Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan merupakan salah satu

rumah sakit milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Kota Medan yang

menerima pasien umum. Berdasarkan rencana strategis Rumah Sakit Tk II Putri Hijau

Kesdam I/BB Medan tahun 2010-2014 pada Bab III tentang tugas dan fungsi rumah

sakit disebutkan bahwa dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat

(28)

keluarganya, tetapi juga menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat

umum.

Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan memiliki visi menjadi

rumah sakit dambaan warga TNI dan masyarakat di Kawasan Barat Negara Kesatuan

Republik Indoneisa, dengan misi yaitu memberikan dukungan dan pelayanan

kesehatan yang tepat, cepat, akurat bagi pasien dinas secara professional dan turut

berperan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan memberikan pelayanan

pendidikan kesehatan yang bermanfaat dan optimal.

Perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam

I/BB Medan yang juga merupakan ujung tombak pelayanan terhadap pasien juga

harus menciptakan quality of work life yang baik. Dengan qualitiy of work life yang

baik maka akan didapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, memiliki

komitmen dan berdedikasi tinggi, sehingga perawat sebagai pemberi pelayanan

terhadap masyarakat dapat memenuhi tuntutan masyarakat sebagai pengguna jasa

rumah sakit.

Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya kinerja perawat pelaksana di

ruang rawat inap. Hal tersebut berdampak kepada pencapaian BOR Rumah Sakit Tk Begitu juga dengan tenaga perawat pelaksana di rumah sakit merupakan

bagian integral dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan asuhan

keperawatan di rumah sakit. Baik buruknya kinerja suatu rumah sakit dipengaruhi

oleh kinerja dari para perawat, sedangkan kinerja perawat dipengaruhi oleh motivasi

(29)

II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan yang rendah, yaitu pada tahun 2010 sebesar 50%

dan tahun 2011 sebesar 48%, yang merupakan indikator yang umum digunakan untuk

mengukur kinerja rumah sakit dengan standar yang ditetapkan oleh Depkes RI (2005)

sebesar 60-85%. Ini berarti bahwa BOR Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB

Medan belum mencapai standar yang ditetapkan oleh Depkes RI.

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan pada bulan Februari 2012 di

ruang rawat inap Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan terhadap 10

orang kepala ruangan yang diobservasi dan didukung wawancara, ditemukan

Kritikan atau masukan dari pasien mengenai kinerja perawat pelaksana pada

pasien rawat inap di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan diperoleh

dari hasil wawancara, yaitu dari 10 orang pasien menyatakan bahwa perawat kurang

disiplin seperti kurang perhatian terhadap keluhan pasien, perawat kurang ramah,

perawat sering tidak berada di ruangannya pada saat bekerja, dan perawat bekerja

tidak sesuai pada saat waktu masuk bekerja, yaitu sering datang terlambat dan pada

saat pulang bekerja, yaitu sering pulang lebih cepat dari jadwal yang sudah perawat

dalam melaksanakan tugasnya (asuhan keperawatan) sering tidak terselesaikan

dengan baik, dari 10 dokumentasi keperawatan, untuk kegiatan pengkajian 72%

dilaksanakan, kegiatan penegakan diagnosis 75% dilaksanakan, kegiatan perencanaan

54% dilaksanakan, kegiatan pelaksanaan 52% dilaksanakan, dan kegiatan evaluasi

(30)

ditentukan. Hasil wawancara terhadap pasien menggambarkan fenomena bahwa

kinerja perawat pelaksana belum optimal.

Quality of work life merupakan masalah yang semestinya mendapat perhatian

Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Dari hasil observasi dan

wawancara diperoleh bahwa perawat pelaksana merasakan lingkungan kerja yang

kurang nyaman, komunikasi masih menganut sistem komando sehingga perawat

pelaksana belum dilibatkan dalam pembuatan kebijakan, keselamatan lingkungan

kerja yang berkaitan dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit

belum optimal, dan perawat yang ingin melanjutkan pendidikan formal ke jenjang

yang lebih tinggi hanya diberikan ijin belajar dengan biaya ditanggung sendiri. Ini

membuktikan bahwa quality of work life perawat pelaksana masih rendah. Quality of

work life pada dasarnya untuk mencari cara dalam meningkatkan kualitas kehidupan

perawat pelaksana dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik atau tercapainya

kinerja perawat pelaksana yang baik.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti

bagaimanakah pengaruh quality of work life terhadap kinerja perawat pelaksana di

Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

Apakah ada pengaruh quality of work life terhadap kinerja perawat pelaksana

(31)

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh quality of work life

terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB

Medan.

1.4. Hipotesis

Ada pengaruh quality of work life terhadap kinerja perawat pelaksana di

Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.

1.

1.5. Manfaat Penelitian

Sebagai bahan masukan untuk Rumah Sakit Tk II Putri Hijau Kesdam I/BB

Medan dalam menentukan kebijakan peningkatan kinerja perawat pelaksana

yang berkaitan dengan quality of work life

2. Sebagai bahan masukan dan informasi dalam pengembangan sumber daya

manusia, khususnya tentang quality of work life perawat pelaksana dan

masukan terhadap peningkatan kinerja perawat pelaksana dalam mengatasi

permasalahan di rumah sakit.

dalam meningkatkan kinerja

(32)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Quality of Work Life

2.1.1. Pengertian Quality of Work Life

Menurut Walton dalam Kossen (1987) mengatakan bahwa quality of work life

(kualitas kehidupan bekerja) atau disingkat QWL adalah seberapa efektifnya

organisasi memberikan respon pada kebutuhan–kebutuhan karyawan.

Menurut Cascio (2003), quality of work life karyawan merupakan salah satu

tujuan penting dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pegawai. Cascio (2003)

mengatakan bahwa quality of work life dapat didefinisikan sebagai persepsi karyawan

tentang kesejahteraan mental dan fisiknya ketika bekerja. Ada dua pandangan

mengenai maksud dari quality of work life. Pertama, quality of work life adalah

sejumlah keadaan dan praktek dari organisasi (contoh: pengayaan penyelia yang

demokratis, keterlibatan pekerja, dan kondisi kerja yang aman). Sementara yang

kedua, quality of work life adalah persepsi karyawan bahwa mereka ingin rasa aman,

mereka merasa puas, dan mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang

sebagai layaknya manusia.

Menurut Lau & May (1998), quality of work life didefinisikan sebagai strategi

tempat kerja yang mendukung dan memelihara kepuasan karyawan dengan tujuan

untuk meningkatkan kondisi kerja karyawan dan organisasi serta keuntungan untuk

(33)

tingkat kepuasan yang tinggi dari individu yang menikmati bentuk pekerjaannya

dalam organisasi.

Quality of work life mengungkapkan pentingnya penghargaan terhadap

manusia dalam lingkungan kerjanya. Dengan demikian peran penting dari quality of

work life adalah mengubah iklim organisasi agar secara tehnis dan manusiawi

membawa kepada quality of work life yang lebih baik (Luthans, 1995). Quality of

work life merumuskan bahwa setiap proses kebijakan yang diputuskan oleh

perusahaan merupakan sebuah respon atas apa yang menjadi keinginan dan harapan

karyawan mereka, hal itu diwujudkan dengan berbagi persoalan dan menyatukan

pandangan mereka (perusahaan dan karyawan) ke dalam tujuan yang sama yaitu

peningkatan kinerja karyawan dan perusahaan.

Menurut Robins dalam Islam & Siengthai (2009) mendefinisikan quality of

work life sebagai suatu proses dimana organisasi memberikan respon kepada

kebutuhan karyawan dengan mengembangkan mekanisme yang mengijinkan

karyawan untuk berbagi dalam membuat keputusan yang membentuk kehidupan

kerjanya. Elemen-elemen penting dari quality of work life adalah keamanan kerja,

kepuasan kerja, sistem penghargaan yang baik, keuntungan karyawan, ketelibatan

karyawan dan performansi organisasi.

Menurut Vein Heskett dalam Rethinam & Ismail (2008) mendefinisikan

quality of work life sebagai perasaan karyawan terhadap pekerjaannya, kerabatnya

dan organisasi yang mengarah pada pertumbuhan dan keuntungan organisasi.

(34)

melakukan pekerjaan yang akan mengarah pada lingkungan pekerjaan yang

produktif. Menurut Lau dkk (dalam Rethinam & Ismail, 2008) menyatakan bahwa

quality of work life sebagai lingkungan kerja yang mendukung dan mempromosikan

kepuasaan dengan memberikan penghargaan, keamanan kerja dan kesempatan

pengembangan karir kepada karyawan.

Quality of work life didefinisikan sebagai kondisi yang menyenangkan dan

keadaan yang menguntungkan bagi karyawan, kesejahteraan karyawan dan

pengelolaan sikap terhadap pekerja operasional yang sama baiknya dengan karyawan

secara umum (Islam dan Siengthai, 2009). Quality of work life adalah dinamika

multidimensional yang meliputi beberapa konsep seperti jaminan kerja, sistem

penghargaan, pelatihan dan karier peluang kemajuan, dan keikutsertaan di dalam

pengambilan-keputusan (Lau dan Bruce dalam Considine dan Callus, 2001). Quality

of work life merupakan teknik manajemen yang mencakup gugus kendali mutu, job

enrichment, suatu pendekatan untuk bernegosiasi dengan karyawan, hubungan

industrial yang serasi, manajemen partisipatif dan bentuk pengembangan

organisasional (French, 1990).

Jewell & Siegall (1998) mengemukakan bahwa berbagai macam komponen

dari kesejahteraan karyawan secara umum yang lebih penting adalah lingkungan

kerja yang aman dan sehat, hubungan yang baik dengan supervisor, dukungan dan

persahabatan rekan sekerja, kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan

individu, derajat kepuasan dengan situasi kerja, dan kesempatan untuk bertumbuh dan

(35)

individu, pekerjaan, organisasi global dan multidimensi ini adalah kualitas kehidupan

bekerja.

2.1.2. Komponen Quality of Work Life

Menurut Cascio (2003), usaha perusahaan untuk memperbaiki quality of work

life adalah usaha untuk memperbaiki komponen berikut ini :

1. Keterlibatan karyawan (Employee participation), contohnya dengan

membentuk tim peningkatan kualitas, membentuk tim keterlibatan karyawan,

dan mengadakan pertemuan partisipasi karyawan.

2. Pengembangan karir (Career development), contohnya dengan mengadakan

pendidikan dan pelatihan, evaluasi kinerja dan promosi. Manfaat

pengembangan karir adalah :

a. Mengembangkan prestasi karyawan

b. Mencegah terjadinya karyawan yang minta berhenti untuk pindah kerja

dengan cara meningkatkan loyalitas karyawan.

c. Sebagai wahana untuk memotivasi karyawan agar dapat mengembangkan

bakat dan kemampuannya.

d. Mengurangi subjektivitas dalam promosi

e. Memberikan kepastian hari depan

f. Sebagai usaha untuk mendukung organisasi memperoleh tenaga yang

(36)

3. Rasa bangga terhadap institusi (Pride), contohnya perusahaan memperkuat

identitas dan citra perusahaan, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan lebih

peduli terhadap lingkungan.

4. Kompensasi yang seimbang (Equitable compensation), contohnya perusahaan

memberikan gaji dan keuntungan yang kompetitif. Menurut Hasibuan (2000)

besarnya kompensasi mencerminkan status, pengakuan, dan tingkat

pemenuhan kebutuhan yang dinikmati oleh karyawan bersama keluarganya.

Tujuan pemberian kompensasi adalah :

a. Ikatan kerja sama antara karyawan dan pemberi kerja

b. Kepuasan kerja dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan

c. Sebagai motivator

d. Program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi

yang kompetitif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena turnover

relatif kecil

e. Disiplin karyawan akan lebih baik

f. Karyawan dapat dihindarkan dari pengaruh serikat buruh dan lebih

berkonsentrasi pada pekerjaannya

5. Rasa aman terhadap pekerjaan (Job security), contohnya program pensiun

dan status karyawan tetap.

6. Fasilitas yang didapat (Wellness), contohnya jaminan kesehatan, program

rekreasi, program konseling. Konseling adalah setiap aktivitas di tempat kerja

(37)

untuk membantu individu lainnya memikul tanggung jawab dan mengelola

pembuatan keputusan mereka apakah hal ini terkait dengan pekerjaan atau

pribadi, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan diri. Aktivitas

konseling sebagai bagian dari kehidupan untuk bekerja secara normal.

7. Keselamatan lingkungan kerja (Save environment), contohnya perusahaan

membentuk komite keselamatan, tim gawat darurat, dan program

keselamatan.

Menurut Hariandja (2002), secara umum kewajiban perusahaan dalam

meningkatkan keselamatan kerja terdiri dari :

a. Memelihara tempat kerja yang aman dan sehat bagi pekerja

b. Mematuhi semua standar dan syarat kerja

c. Mencatat semua peristiwa kecelakaan yang terjadi yang berkaitan dengan

keselamatan kerja.

8. Penyelesaian masalah (Conflict resolution), contohnya manajemen membuka

jalur formal untuk menyampaikan keluhan atau permasalahan.

9. Komunikasi (Communication), komunikasi secara terbuka baik melalui

manajemen langsung maupun melalui serikat pekerja, pertemuan grup.

Bentuk komunikasi organisasi secara umum dibedakan menjadi dua yaitu

komunikasi formal dan non formal. Bentuk komunikasi formal adalah bentuk

hubungan komunikasi yang diciptakan secara terencana, melalui jalur-jalur

formal dalam organisasi, yang melekat pada saluran-saluran yang ditetapkan

(38)

ini adalah berupa komunikasi yang ada di luar struktur, biasanya melalui

saluran-saluran non formal yang munculnya bersifat insidental, menurut

kebutuhan atau kepentingan interpersonal yang baik, atau atas dasar kesamaan

kepentingan.

Menurut Nawawi (2008), terdapat sembilan aspek pada Sumber Daya

Manusia di lingkungan perusahaan yang perlu diciptakan, dibina dan dikembangkan.

Kesembilan aspek tersebut adalah komunikasi, penyelesaian konflik, pengembangan

karier, partisipasi pekerja, kebanggaan, kompensasi yang layak, keselamatan

lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja. Kesembilan aspek tersebut dapat

dijelaskan sebagai berikut :

1. Di lingkungan setiap dan semua perusahaan, pekerja sebagai SDM memerlukan

komunikasi yang terbuka dalam batas-batas wewenang dan tanggung jawab

masing-masing. Komunikasi yang lancar untuk memperoleh

informasi-informasi yang dipandang penting oleh pekerja dan disampaikan tepat pada

waktunya dapat menimbulkan rasa puas dan merupakan motivasi kerja yang

positif. Untuk itu perusahaan dalam menyampaikan informasi dapat dilakukan

dalam bentuk pertemuan atau secara langsung pada setiap pekerja, atau

melalui pertemuan kelompok, dan dapat pula melalui sarana publikasi

perusahaan seperti papan buletin, majalah perusahaan dan lain-lain.

2. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua pekerja memerlukan

pemberian kesempatan pemecahan konflik dengan perusahaan atau sesama

(39)

loyalitas, dedikasi serta motivasi kerja karyawan. Untuk itu perusahaan perlu

mengatur cara penyampaian keluhan keberatan secara terbuka atau melalui

proses pengisian fomulir khusus untuk keperluan tersebut. Disamping itu

dapat ditempuh pula dengan kesediaan untuk mendengarkan review antar

karyawan yang mengalami konflik, atau melalui proses banding (appeal) pada

pimpinan yang lebih tinggi dalam konflik dengan top manajemen atasannya.

3. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua karyawan memerlukan

kejelasan pengembangan karir masing-masing dalam menghadapi masa

depannya. Untuk itu dapat ditempuh melalui penawaran untuk memangku

suatu jabatan, memberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau

pendidikan di luar perusahaan atau pada lembaga pendidikan yang lebih

tinggi. Di samping itu dapat juga ditempuh melalui penilaian kerja untuk

mengatur kelebihan dan kekurangannya dalam bekerja yang dilakukan secara

obyektif. Pada gilirannya berikut dapat ditempuh dengan mempromosikannya

untuk memangku jabatan yang lebih tinggi di dalam perusahaan tempatnya

bekerja.

4. Di lingkungan perusahaan, karyawan perlu diikutsertakan dalam pengambilan

keputusan dan pelaksanaan pekerjaan, sesuai dengan posisi, kewenangan dan

ajabatan masing-masing. Untuk itu perusahaan dapat melakukannya dengan

membentuk tim inti dengan mengikutsertakan karyawan, dalam rangka

memikirkan langkah-langkah bisnis yang akan ditempuh. Di samping itu

(40)

tidak sekedar dipergunakan untuk menyampaikan perintah-perintah dan

informasi-informasi tetapi juga memperoleh masukan, mendengarkan saran

dan pendapat karyawan.

5. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap karyawan perlu dibina dan

dikembangkan perasaan bangganya pada tempat kerja, temasuk juga pada

pekerjaan atau jabatannya. Untuk keperluan itu, perusahaan berkepentingan

menciptakan dan mengembangkan identitas yang dapat menimbulkan rasa

bangga karyawan terhadap perusahaan. Dalam bentuk yang sederhana dapat

dilakukan melalui logo, lambang, jaket perusahaan dan lainnya. Di samping

itu rasa bangga juga dapat dikembangkan melalui partisipasi perusahaan

terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengikutsertakan

karyawan, kepedulian terhadap masalah lingkungan sekitar dan

mempekerjakan karyawan dengan kewarganegaraan dari bangsa tempat

perusahaan melakukan operasional bisnis.

6. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua karyawan harus

memperoleh kompensasi yang adil/wajar dan mencukupi. Untuk itu

diperlukan kemampuan menyusun dan menyelenggarakan sistem dan struktur

pemberian kompensasi langsung dan tidak langsung (pemberian upah dasar

dan berbagai keuntungan/ manfaat) yang kompetitif dan dapat

mensejahterakan karyawan sesuai dengan posisi/jabatannya di perusahaan dan

(41)

7. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua karyawan memerlukan

keamanan lingkungan kerja. Untuk itu perusahaan berkewajiban menciptakan

dan mengembangkan serta memberikan jaminan lingkungan kerja yang aman.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain dengan membentuk komite

keamanan lingkungan kerja yang secara terus menerus melakukan

pengamatan dan pemantauan kondisi tempat dan peralatan kerja guna

menghindari segala sesuatu yang membahayakan para pekerja, terutama dari

segi fisik. Kegiatan lain dapat dilakukan dengan membentuk tim yang dapat

memberikan respon cepat terhadap kasus gawat darurat bagi karyawan yang

mengalami kecelakaan. Dengan kata lain perusahaan perlu memiliki program

keamanan kerja yang dapat dilaksanakan bagi semua karyawannya.

8. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua karyawan memerlukan rasa

aman atau jaminan kelangsungan pekerjaannya. Untuk itu perusahaan perlu

berusaha menghindari pemberhentian sementara para karyawan,

menjadikannya pegawai tetap dengan memiliki tugas-tugas reguler dan

memiliki program yang teratur dalam memberikan kesempatan karyawan

mengundurkan diri, terutama melalui pengaturan pensiun.

9. Di lingkungan suatu perusahaan, setiap dan semua karyawan memerlukan

perhatian terhadap pemeliharaan kesehatannya, agar dapat bekerja secara

efektif, efisien dan produktif. Untuk itu perusahaan dapat mendirikan dan

(42)

program pemeliharaan kesehatan, program rekreasi dan program

konseling/penyuluhan bagi para pekerja/ karyawan.

2.1.3. Kriteria Quality of Work Life

Walton dalam Kossen (1987) mengatakan bahwa quality of work life adalah

persepsi pekerja terhadap suasana dan pengalaman pekerja di tempat kerja mereka.

Suasana pekerjaan yang dimaksudkan adalah berdasarkan kepada delapan kriteria,

yaitu:

a. Kompensasi yang mencukupi dan adil

Gaji yang diterima oleh individu dari kerjanya dapat memenuhi standar gaji yang

diterima secara umum, cukup untuk membiayai suatu tingkat hidup yang layak

dan mempunyai perbandingan yang sama dengan gaji yang diterima orang-orang

lain dalam posisi yang sama.

b. Kondisi-kondisi kerja yang aman dan sehat

Individu tidak ditempatkan dalam keadaan yang dapat membahayakan fisik dan

kesehatan mereka, namun pada kondisi pekerjaan yang meminimalisasi luka-luka

dan resiko kesehatan. Waktu kerja yang layak sesuai dengan jadwal yang telah

ditetapkan. Begitu juga umur yang disesuaikan dengan tugas yang

dipertanggungjawabkan kepada mereka.

c. Kesempatan untuk mengembangkan dan menggunakan kapasitas manusia

Pekerja diberi autonomi, kerja yang mereka lakukan memerlukan berbagai

kemahiran, mereka juga diberi tujuan dan perspektif yang diperlukan tentang

(43)

dalam menjalankan tugas yang diberikan, dan pekerja juga terlibat dalam

membuat perencanaan.

d. Peluang untuk pertumbuhan dan mendapatkan jaminan

Suatu pekerjaan dapat memberi sumbangan dalam menetapkan dan

mengembangkan kapasitas individu. Kemahiran dan kapasitas individu itu dapat

dikembangkan dan dipergunakan dengan sepenuhnya, selanjutnya peningkatan

peluang kenaikan pangkat dan promosi dapat diperhatikan serta mendapatkan

jaminan terhadap pendapatan.

e. Rasa memiliki

Individu merasa bagian dari suatu tim dan tidak diisolasi dari kelompok, individu

saling mendukung satu sama lain dan terdapat rasa hubungan kemasyarakatan

serta hubungan antara perseorangan. Organisasi mengutamakan konsep

egalitarianism, adanya mobilitas untuk bergerak ke atas, sehingga lingkungan

kerja secara relatif bebas dari prasangka buruk.

f. Hak-hak karyawan

Hak pribadi seorang individu harus dihormati, memberi dukungan kebebasan

bersuara dan terwujudnya pelayanan yang adil serta keleluasaan pribadi.

g. Pekerja dan ruang hidup secara keseluruhan

Kerja juga memberikan dampak positif dan negatif terhadap ruang kehidupan

seseorang. Selain berperan di lingkungan kerja, individu juga mempunyai peranan

di luar tempat kerja seperti sebagai seorang suami atau bapak dan ibu atau isteri

(44)

h. Tanggung jawab sosial organisasi

Organisasi mempunyai tanggung jawab sosial. Organisasi haruslah

mementingkan pengguna dan masyarakat secara keseluruhan semasa menjalankan

aktivitasnya. Organisasi yang mengabaikan peranan dan tanggung jawab

sosialnya akan menyebabkan pekerja tidak menghargai pekerjaan mereka.

2.1.4. Bentuk-Bentuk Quality of Work Life

Quality of work life mempengaruhi kualitas kehidupan karyawan. Quality of

work life merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh managemen sumber daya

manusia untuk memartabatkan karyawannya dalam lingkungan kerja (Kossen, 1987).

Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperbaiki kualitas

kehidupan bekerja bagi karyawan adalah:

a. Participation

Partisipasi karyawan dalam proses membuat keputusan yang berkaitan dengan

pekerjaannya dan lingkungan kerjanya dapat memperbaiki kualitas kehidupan

bekerjanya. Partisipasi ini ada dua bentuk yaitu partisipasi horizontal yaitu interaksi

karyawan dengan teman sekerja dan tim; dan partisipasi vertical yaitu keterlibatan

dalam membuat keputusan dengan atasan. Kedua partisipasi ini dapat meningkatkan

kualitas kehidupan bekerja karyawan. Tujuannya adalah untuk menyediakan

lingkungan dimana karyawan memiliki kebebasan dan otonomi dalam membuat

pilihan yang berkaitan dengan lingkungan kerjanya dan menyesuaikan

kepribadiannya dengan tuntutan kerja sebagaimana halnya dengan menyesuaikan

(45)

b. Job redesign

Efektivitas dan efisiensi dalam penyelesesaian tugas dan proses kerja

membutuhkan koordinasi yang tinggi dan kontrol yang kuat terhadap karyawan.

Penelitian sebelumnya menemukan dampaknya terhadap lingkungan kerja seperti

mempengaruhi motivasi karyawan, kepuasan kerja dan performa kerja yang

berimplikasi negatif terhadap organisasi dan menurunkan Quality of work life. Oleh

karena itu, penelitian selanjutnya menemukan bahwa mendesain ulang kerja dalam

batasan produksi dapat meningkatkan kualitas kehidupan bekerja dan

mempertahankan atau meningkatkan produktivitas. Tujuannya adalah untuk

menyesuaikan karakteristik pribadi karyawan dengan karakteristik pekerjaan.

Salah satu bentuk job redesign adalah job enrichment, dimana dengan

meningkatkan tanggung jawab karyawan baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan

pengontrolan pekerjaan, dan dengan memberikan kesempatan untuk membuat

keputusan tentang metode dan prosedur yang akan dilaksanakan, atau dengan

memberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan klien atau departemen

lain, semuanya dapat meningkatkan kualitas kehidupan bekerja. Dimensi job

enrichment mempengaruhi aspek psikologis individu yang kemudian menghasilkan

konsekuensi pribadi dan pekerjaan seperti performa kepuasan, ketidakhadiran

menurun serta meningkatkan motivasi internal karyawan.

c. Team building

Tim merupakan salah satu bentuk kelompok, dimana setiap anggota menganut

(46)

dan goal. Kerja tim dapat meningkatkan dan memaksimalkan kerjasama anggota tim

dan meningkatkan pembelajaran karyawan untuk mempelajari keahlian karyawan lain

terutama cara efisien dalam meningkatkan produksi.

2.1.5. Dampak Quality of Work Life

Rhonen (1981) mengatakan bahwa pengukuran quality of work life akan

berdampak pada:

a. meningkatkan sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya dan terhadap

perusahaan,

b. meningkatkan produktivitas dan motivasi intrinsik karyawan,

c. meningkatkan efektifitas perusahaan dan kompetitif perusahaan dalam menghadapi

bisnis global.

2.2. Kinerja

2.2.1. Pengertian Kinerja

Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan

karyawan. Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak pekerja

memberi kontribusi kepada perusahaan yang antara lain termasuk kuantitas, output,

kualitas output, kehadiran di tempat kerja dan sikap kooperatif (Mathis & Jackson,

2009). Kinerja merupakan suatu kesuksesan di dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

Kinerja sendiri dalam pekerjaan yang sesungguhnya tergantung pada kombinasi

(47)

Menurut Prawirosentono (2000) bahwa kinerja merupakan hasil karya yang

dapat dicapai seseorang atau kelompok dalam rangka upaya mencapai tujuan

organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing untuk

mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan

sesuai dengan moral dan etika.

Menurut Mangkunegara (2002), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan

kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan

tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Moeheriono (2009) memberikan definisi

kinerja merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu

program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi

organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi.

Wibowo (2007) mengatakan bahwa performance sering diartikan sebagai

kinerja, hasil kerja atau prestasi kerja. Kinerja mempunyai makna yang lebih luas,

bukan hanya menyatakan sebagai hasil kerja, tetapi juga bagaimana proses kerja

berlangsung. Implementasi kinerja dilakukan oleh sumber daya manusia yang

memiliki kemampuan, kompetensi, motivasi, dan kepentingan.

Sedarmayanti (2009) mengatakan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang

dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai

dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai

tujuan organisasi berhubungan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai

dengan moral dan etika. Rivai (2005) menyatakan bahwa kinerja adalah kesediaan

(48)

menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang

diharapkan. Cascio (2003) mengemukakan bahwa kinerja merujuk kepada pencapaian

tujuan karyawan atas tugas yang diberikan.

Menurut Soeprihanto (2001) kinerja adalah hasil kerja seseorang karyawan

selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai standar target/sasaran atau

kriteria yang telah disepakati bersama. Sedangkan menurut Mathis dan Jackson

(2009) kinerja adalah apa yang dilakukan karyawan, sehingga ada yang

mempengaruhi organisasi antara lain : 1) Kuantitas out put, 2) Kualitas out put, 3)

Jangka waktu out put, 4) Kehadiran di tempat kerja, dan 5) Sikap koperatif.

2.2.2. Pengukuran Kinerja

Menurut Moeheriono (2009) kinerja dapat diketahui dan diukur jika individu

atau sekelompok karyawan telah mempunyai kriteria atau standar keberhasilan tolak

ukur yang ditetapkan oleh organisasi. Oleh karena itu, jika tanpa tujuan dan target

yang ditetapkan dalam pengukuran, maka kinerja pada seseorang atau kinerja

organisasi tidak mungkin dapat diketahui bila tidak ada tolak ukur keberhasilannya.

Ilyas (2001) mengemukakan bahwa penilaian kinerja adalah suatu proses

menilai hasil karya personal dalam suatu organisasi melalui instrumen kinerja dan

pada hakikatnya merupakan suatu evaluasi terhadap penampilan kerja personal dan

membandingkannya dengan standar baku penampilan. Menurut Sofyandi (2008)

penilaian kinerja merupakan proses organisasi dalam mengevaluasi pelaksanaan kerja

karyawan. Dalam penilaian kinerja dinilai kontribusi karyawan kepada organisasi

(49)

Sofyandi (2008) mengatakan bahwa penilaian kinerja adalah proses organisasi

dalam mengevaluasi pelaksanaan kerja karyawan. Dalam penilaian kinerja dinilai

kontribusi karyawan kepada organisasi selama periode waktu tertentu.

Dharma (2005) mengemukakan bahwa faktor-faktor tingkat kinerja meliputi :

mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektifitas biaya dan inisiatif. Sementara

karakteristik individu yang memengaruhi kinerja meliputi: umur, jenis kelamin,

pendidikan, lama kerja, penempatan kerja dan lingkungan kerja (rekan kerja, atasan,

organisasi, penghargaan dan imbalan).

2.2.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja

Menurut Dessler (2006), beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk

mengukur kinerja adalah sebagai berikut :

1. Kualitas, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan

kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.

Mutu pekerjaan merupakan proses menghasilkan suatu produk yang berjalan

dengan sempurna, seluruh pekerjaan dilaksnakan secara rapi, sempurna, dapat

diterapkan dan akurat. Indikator yang dapat dipakai untuk menilai mutu

pekerjaan adalah selalu menganalisis data, persiapan diri dalam bekerja,

motivasi, pengembangan diri, patuh pada standar yang ditetapakan, rapi,

tertib, tidak menghindari umpan balik, puas dengan perencanaan yang dapat

dikerjakan dan berusaha menjadi yang terbaik.

2. Kuantitas, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah dalam rupiah,

(50)

dalam hal ini berarti mempertimbangkan jumlah produk yang dihasilkan

dalam waktu tertentu dibandingkan dengan hasil yang seharusnya dicapai

sesuai dengan standar atau dibandingkan dengan hasil pekerjaan orang lain.

Penilaian jumlah pekerjaan dilakukan menggunakan indikator umpan balik,

umpan balik dari rekan, atasan dan bawahan, orientasi waktu dan menghargai

produk dengan imbalan yang sewajarnya.

3. Ketepatan waktu adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan tepat

waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan koordinasi hasil lain serta

waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut.

Gibson (1997), menyatakan terdapat 3 kelompok variabel variabel yang

memengaruhi kinerja dan perilaku yaitu :

a. Variabel individu, yang meliputi kemampuan dan keterampilan, fisik maupun

mental, latar belakang, pengalaman dan demografi, umur dan jenis kelamin,

asa usul dan sebagainya. Kemampuan dan keterampilan merupakan faktor

utama yang memengaruhi kinerja individu, sedangkan demografi mempunyai

hubungan tidak langsung pada perilaku dan kinerja.

b. Variabel organisasi, yakni sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan

desain pekerjaan.

c. Variabel psikologis, yakni persepsi, sikap, kepribadian, belajar, kepuasan

(51)

Kinerja yang baik tentu saja merupakan harapan bagi semua perusahaan dan

institusi yang mempekerjakan karyawan, sebab kinerja karyawan ini pada akhirnya

diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Menurut Mathis & Jackson (2009:113), banyak faktor yang mempengaruhi

kinerja karyawan. Tiga faktor utama yang mempengaruhi individu dalam bekerja

adalah: (1) kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan, (2) tingkat usaha yang

dicurahkan, (3) dukungan organisasi. Hubungan ketiga faktor ini diakui secara luas

dalam literatur manajemen sebagai: Kinerja (Performance-P) = Kemampuan

(Ability-A) x Usaha (Effort-E ) x Dukungan (Support-S).

Gambar 2.1. Komponen Kinerja Individual Menurut Mathis & Jackson (2009) Kemampuan individual

- Bakat - Minat

- Faktor kepribadian

Dukungan organisasional - Pelatihan dan

pengembangan - Peralatan dan

teknologi S d ki j Kinerja individual

(termasuk kuantitas dan kualitas) Usaha yang dicurahkan - Motivasi

(52)

Kinerja individual dapat ditingkatkan dengan adanya ketiga faktor dalam diri

karyawan, akan tetapi kinerja berkurang jika salah satu faktor dikurangi atau tidak

ada.

2.2.4. Unsur-unsur Penilaian Kinerja

Unsur-unsur kinerja atau prestasi kerja para karyawan akan dinilai oleh setiap

perusahaan tidak selalu sama, namun pada dasarnya unsur-unsur yang dinilai tersebut

mencakup hal-hal sebagai berikut (Simamora, 2004):

a. Efisiensi Kinerja

Efisiensi kinerja adalah karyawan selalu berusaha menampilkan hasil kerja yang

lengkap dan tidak melakukan kesalahan.

b. Efektivitas Kinerja

Efektivitas kinerja adalah melakukan sesuatu dengan tepat atau kemampuan untuk

menentukan tujuan yang tepat.

c. Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah kemampuan karyawan untuk menyelesaikan tugas tepat

waktu sesuai dengan ketentuan perusahaan, karyawan bersedia bekerja lembur jika

pekerjaan yang ditugaskannya belum selesai, karyawan berusaha mempelajari

hal-hal baru yang belum diketahuinya yang menyangkut pekerjaan, karyawan selalu

mencari jalan keluar atas masalah pekerjaan yang dihadapinya dan karyawan selalu

(53)

d. Kerjasama

Kerjasama karyawan adalah suatu kondisi dimana setiap karyawan saling bertukar

pikiran dan saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaannya.

e. Loyalitas

Loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan terhadap perusahaan. Setiap

karyawan merasa memiliki perusahaan (sense of belonging) yang tinggi sehingga

karyawan akan selalu setia bekerja.

f. Komunikasi

Komunikasi karyawan adalah komunikasi karyawan dengan atasan dan sesama

rekan kerja.

g. Suasana Kerja

Suasana kerja karyawan adalah keadaan tempat bekerja karyawan yang

mendukung untuk membantu menyelesaikan setiap pekerjaannya.

h. Disiplin

Disiplin adalah kepatuhan karyawan akan aturan yang ditentukan oleh perusahaan,

disiplin akan waktu bekerja dan frekuensi kehadiran.

2.2.5. Tujuan Penilaian Kinerja

Menurut Nawawi (2008), penilaian kinerja sebagai salah satu kegiatan

Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) memiliki tujuan yang sangat luas,

karena keterkaitannya dengan banyak kegiatan MSDM lainnya.

(54)

Berikut ini akan dijelaskan beberapa versi perumusan tujuan umum penilaian

kinerja yaitu :

a. Penilaian kinerja bertujuan untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan para

pekerja, dengan memberikan bantuan agar setiap pekerja mewujudkan dan

mempergunakan potensi yang dimilikinya secara maksimal dalam

melaksanakan misi organisasi/ perusahaan melalui pelaksanaan pekerjaan

masing-masing.

Tujuan di atas jelas memberikan pengakuan bahwa setiap pekerja memiliki

potensi yang belum diwujudkannya secara nyata, lebih besar daripada yang

sudah digunakannya dalam bekerja. Setiap pekerja harus dibantu agar

potensinya dapat digunakan secara maksimal dalam usaha mencapai tujuan

bisnis organisasi/perusahaan. Untuk itu diperlukan kegiatan penilaian kinerja

untuk mengetahui potensi yang dimiliki para pekerja, agar dapat memberikan

bantuan secara tepat dalam usaha mengembangkannya.

b. Penilaian kinerja bertujuan untuk menghimpun dan mempersiapkan informasi

bagi pekerja dan para manajer dalam membuat keputusan yang dapat

dilaksanakan, sesuai dengan bisnis organisasi/perusahaan di tempatnya

bekerja.

Setiap pekerja termasuk para manajer dalam bekerja selalu dihadapkan

dengan keharusan mengambil keputusan, yang berhubungan dengan bidang

bisnis organisasi/perusahaan. Keputusan itu hanya akan dirumuskan secara

Gambar

Gambar 2.1. Komponen Kinerja Individual Menurut Mathis & Jackson (2009)
Gambar 2.2. Teori Cascio Mengenai Quality of Work Life (2003)
Tabel 3.1. Jumlah Sampel Perawat Pelaksana Militer dan Perawat Pelaksana
Tabel 3.12. Aspek Pengukuran Variabel Bebas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Kinerja Karyawan Bagian Keuangan Rumah Sakit di Kabupaten Temanggung dengan Quality of Work Life ( QWL)

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan Quality of Work Life (QWL) terhadap kinerja karyawan pada

Untuk menganalisis pengaruh Quality of work life terhadap loyalitas karyawan yang dimediasi oleh Employee engagement. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

bahwa tingkat work-life balance dan kepuasan kerja pada perawat tergolong..

Manajemen Penggajian dan Pengupahan Untuk Karyawan Perusahaan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.. Kamus Besar

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan desain cross-sectional study di RSUP Haji Adam Malik dengan jumlah sampel

Jenis penelitian ini adalah metode survey analitik secara kuantitatif dengan desain cross sectional yang bertujuanuntukmengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja perawat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh antara Pengembangan Karir bagian dari Quality Of Work Life (X1) dan Penyelesaian Konflik bagian dari