ANALISIS PENGARUH GDP, INFLASI, NILAI TUKAR RIIL, DAN SUKU BUNGA LUAR NEGERI TERHADAP PENANAMAN MODAL ASING
(PMA) DI INDONESIA (PERIODE 2000:I – 2012:IV)
Oleh
DEVI ANGGRAYNI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI
Pada
Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
ANALISIS PENGARUH GDP, NILAI TUKAR RIIL, INFLASI SERTA SUKU BUNGA LUAR NEGERI TERHADAP PENANAMAN MODAL ASING (PMA)
DI INDONESIA (PERIODE 2000:I – 2012:IV)
Oleh
DEVI ANGGRAYNI
Investasi asing langsung atau PMA merupakan salah satu alternatif pembiayaan berasal dari luar negeri yang dapat digunakan sebagai tambahan pembiayaan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Melihat hal ini maka dilakukan penelitian faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi PMA.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh variabel Gross Domestic Product (GDP), inflasi (INF) nilai tukar riil (RER), dan suku bunga luar negeri (RLN) terhadap PMA selama periode triwulan I tahun 2000 hingga triwulan IV tahun 2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Error Correction Model. Data yang digunakan adalah data sekunder yang merupakan data triwulanan selama periode 2000 : I – 2012 :IV.
Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel GDP berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PMA, variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan
pada α 10% terhadap PMA, nilai tukar riil berpengaruh negatif dan signifikan pada α 10% terhadap PMA. Variabel suku bunga luar negeri berpengaruh positif dan
signifikan pada α 5% terhadap PMA di Indonesia.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI………. ... i
DAFTAR TABEL ………. iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Kerangka Pemikiran ... 13
E. Hipotesis ... 15
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 16
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Investasi ………….. ... 19
B. Hubungan GDP dengan PMA ... 24
C. Hubungan Inflasi dengan PMA ... ... 26
D. Hubungan Nilai Tukar dengan PMA ... 28
E. Hubungan tingkat suku bunga dengan PMA... ... 32
F. Tinjauan Empiris ……... 34
III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data ... 41
B. Definisi Operasional Variabel ... 42
C. Metode Pengumpulan Data ... ... 45
D. Alat analisis ………... 45
1. Uji Stationary ... 47
2. Uji Kointegrasi (Keseimbangan Jangka Panjang)... 49
4. Uji Hipotesis ... 53
a. Uji T (Keberartian Parsial) ... 53
b.Uji F(Keberartian Keseluruhan) ... 54
E. Uji Asumsi Klasik ... 55
1. Uji Normalitas ... 55
2. Uji Autokorelasi …... 56
3. Uji Heteroskedastisitas ... 57
4. Uji Multikolineritas ... 57
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Pembahasan Uji Stationary (Unit Root) ... 59
1. Uji Stationary Data Pada Level ... 59
2. Uji Stationary Data Pada First Difference ... 60
B. Hasil dan Pembahasan Uji Kointegrasi ... 61
C. Hasil dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik ... 63
1. Hasil Uji Normalitas ... 63
2. Hasil Uji Multikolinearitas ... 64
3. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 64
4. Hasil Uji Otokorelasi ... 65
D. Analisis Statistik dan Persamaan kointegrasi ... 66
1. Penaksiran Koefisien Determinasi(R2) ………... 66
2. Uji F (Keberartian Keseluruhan) ... 66
3. Uji t (Keberartian Parsial) ... 67
E. Hasil Pembahasan ECM ……… ……… 69
F. Intepretasi Hasil ... 71
G. Hasil Pengujian Asumsi Klasik ECM ……... 75
1. Hasil Uji Normalitas ... 75
2. Hasil Uji Multikolinearitas ... 76
3. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 76
4. Hasil Uji Otokorelasi ………...…. 77
H. Pembahasan ……... 78
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 84
B. Saran ... 85
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam teori ekonomi pembangunan diketahui bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi dan investasi mempunyai hubungan timbal balik yang positif. Hubungan timbal balik tersebut terjadi oleh karena disatu pihak, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara, berarti semakin besar bagian dari pendapatan yang bisa ditabung, sehingga investasi yang tercipta akan semakin besar pula. Dalam kasus ini, investasi
merupakan fungsi dari pertumbuhan ekonomi (Hindrayani, 2010). Di lain pihak, semakin besar investasi suatu negara, akan semakin besar pula tingkat pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Dengan demikian, pertumbuhan merupakan fungsi investasi.
Dalam konteks pembangunan nasional maupun regional, investasi memegang peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomipenggunaannya investasi diartikan sebagai pembentukan modal tetap domestik. Investasi merupakan salah satu
yaitu dengan tingginya tingkat pendapatan nasional atau laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang tinggi dan stabil (Tulus Tambunan, 2001).
Sejalan dengan perkembangan ekonomi internasional yang semakin pesat, dimana kebutuhan ekonomi antar negara juga semakin terkait telah meningkatkan arus perdagangan barang, uang, serta modal antar negara – negara sedang berkembang. Kondisi ini antara lain didorong oleh adanya peningkatan kapitalisme pasar
keuangan, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, dan suku bunga tinggi (terutama negara-negara berkembang karena suku bunga di negara maju umumnya relatif lebih rendah). Pesatnya kapitalisasi dan mobilisasi modal antar negara tersebut juga merupakan wahana untuk melakukan diversifikasi resiko oleh investor . Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadapi ketidakpastian dari adanya gejolak ekonomi, sosial, dan politik diberbagai negara, sehingga para investor dapat terhindar atau meminimalkan resiko dalam menginvestasikan dananya.
Bagi negara berkembang, pesatnya aliran modal merupakan kesempatan guna
memperoleh pembiayaan pembangunan ekonomi. Bagaimanapun, penanaman modal (domestik ataupun asing) ini merupakan langkah awal kegiatan pembangunan
Pembentukan atau investasi sekarang ini sebagian dilakukan oleh kalangan dunia usaha terutama perusahaan. Apabila perusahaan melihat adanya peluang penanaman modal yang menguntungkan, maka pemiliknya, akan menanam kembali sebagian keuntungannya kedalam perusahaannya sendiri (Samuelson,dkk,1997:81)
Untuk menciptakan produk dan jasa guna memenuhi kebutuhan masyarkat Indonesia, dibutuhkan dana yang tidaklah sedikit. Disinilah peran para investor untuk menutupi kebutuhan dana tersebut. Investor sendiri dibagi menjadi dua yaitu investor dalam negeri dan investor asing. Ketika kebutuhan dana tidak mampu dicukupi oleh investor dalam negeri maka solusi yang dapat dilakukan adalah mengundang investor asing untuk turut menanamkan modalnya di Indonesia. Foreign Direct Investment atau yang biasa di sebut dengan Penanaman Modal Asing (PMA) meliputi investasi ke dalam asset – asset secara nyata berupa pembangunan pabrik-pabrik, pengadaan berbagai macam barang modal, pemebelian tanah, untuk keperluan
produksi,pembelanjaan berbagai peralatan inventaris (Salvatore,1997:469). Menurut Undang-Undang Nomor 25 pasal 1tahun 2007 tentang Penanaman Modal,
Indonesia, terus menunjukkan tren menggembirakan. Bahkan peningkatannya jauh di atas perkiraan pemerintah.
Pemerintah juga mengeluarkan berbagai kebijakan menyangkut masalah PMA, seperti pakto 1993 dan Peraturan Pemerintah (PP) No.20/1994 tentang pemilikan saham dalam rangka PMA yang berisikan masalah tentang diperlonggarnya kepemilikan saham oleh para pemodal asing dan makin terbukanya peluang usaha Indonesia. Baik jumlah proyek maupun nilai investasi terus meningkat. Namun ditengah krisis finansial dunia, maka dampaknya mulai terasa pada tahun 2009 yang lalu.
Realisasi investasi asing atau direct investment nilainya menurun walaupun jumlah proyeknya masih meningkat. Pada tahun 2000 jumlah modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai jumlah 3.041 ribu dollar Amerika untuk sebanyak 15 sektor ekonomi. Angka tersebut terus meningkat sampai tahun 2005 sebesar 8,832,790 ribu dollar Amerika. Artinya selama 4 tahun arus modal asing (PMA) yang masuk
207 proyek dan 253 proyek dengan nilai berturut-turut US$ 4.367 ribu dan US$ 9.216 ribu. Akibat krisis baru terasa sejak akhir 2008 dan selama 3 kuartal tahun 2009. Jumlah realsisasi investasi dalam jumlah proyek masih meningkat yaitu menjadi 1.214 proyek namun nilai investasinya menurun menjadi US$ 10,117 ribu.
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal
Gambar 1. Pergerakan Penanaman Modal Asing di Indonesia (dalam US$.ribu) periode 2000 : I-2012: IV
Keberhasilan dalam menarik investor di pasar modal oleh banyak pihak dinilai belum banyak memberikan dampak positif ke sektor riil. Apabila aliran modal berupa Foreign Direct Investment telah meningkat, barulah dampanya kepada perekonomian secara luas akan mulai terasa. Memasuki tahun 2010 Indonesia berpeluang untuk kembali menjadi tempat investasi yang menarik, karena selama ini besarnya pasar domestik telah terbukti mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.
Peningkatan modal asing di Indonesia yang pada gilirannya menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, disamping karena adanya kebijaksanaan
0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000 9000000 2 000 .1 2 000 .4 2 001.3 2 002 .2 2 003 .1 2 003 .4 2 004 .3 2 005. 2 2 006 .1 2 006 .4 2 007 .3 2 008 .2 2 009 .1 2 009 .4 2
010.3 2011
debirokratisasi dan deregulasi yang meliputi kebijaksanaan penyerdahaan prosedur investasi, desentralisasi beberapa kewenangan penanaman modal, serta peninjauan daftar negatif investasi secara berkala. Majunya Penanaman Modal Asing disuatu negara dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya yang mana peningkatan pendapatan nasional tersebut menggambarkan naik turunnya pertumbuhan ekonomi di suatu Negara (Douglas Nigh :1997) seperti di Indonesia.
Beberapa penelitian terdahulu (Setiyoati,2007) meninjau besar pasar suatu negara dengan melihat produk domestik bruto tiap tahunnya yang mempengaruhi secara signifikan akan masuknya investasi asing langsung di suatu negara.
Sumber: Badan Pusat Statistik
Gambar 2. Pergerakan GDP (dengan harga konstan tahun 2000) di Indonesia periode 2000: I-2011 : IV
Dalam pergerakan laju GDP diatas, membuktikan bahwa gdp di Indonesia terus meningkat dari tahun 2000 sampai 2011. Dari 372,926 milliar rupiah sampai dengan 623,960 milliar rupiah.
Namun perlu diingat bahwa kondisi penanaman modal asing ini masih perlu
menimbangkan jumlah industri yang ada, stabilitas keamanan dan fasilitas – fasilitas pendukung, tingkat nilai kurs, tingkat inflasi serta potensial produksi dan iklim investasi asing langsung (foreign direct investment) (Setiyowati,2007).
Fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing yang stabil akan sangat
mempengaruhi iklim investasi di dalam negeri (Sambodo,2003). Terjadinya apresiasi kurs rupiah terhadap dollar misalnya, akan memberikan dampak terhadap
perkembangan pemasaran produk Indonesia di luar negeri, terutama dalam hal persaingan harga. Apabila terjadi penurunan kurs yang berlebihan, akan berdampak pada perusahaan-perusahaan go public yang menggantungkan faktor produksi terhadap barang-barang impor. Besarnya belanja impor dari perusahaan dapat mempertinggi biaya produksi, serta menurunnya laba perusahaan, yang kemudian akan berdampak pada anjloknya harga perusahaan tersebut.
Sumber: SEKI, Bank Indonesia
Gambar 3. Nilai tukar Riil / RER (Real Exchange Rate) di Indonesia Selama periode 2000 : I -2012 : IV
Secara umum, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil sampai pertengahan September 2008. Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja transaksi berjalan yang masih
mencatat surplus serta kebijakan makroekonomi yang berhati-hati. Namun sejak pertengahan September 2008, krisis global yang semakin dalam telah memberi efek depresiasi terhadap mata uang. Kurs Rupiah melemah menjadi Rp 11.018 per US$ pada bulan November 2008 yang merupakan depresiasi yang cukup tajam, karena pada bulan sebelumnya Rupiah berada di posisi Rp 7.045,- per US$. Dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah secara ’riil’, yang berarti memperhitungkan perubahan harga barang-barang
impor di negara asal. Akibat lemahnya pertumbuhan ekonomi global, pabrik di negara mitra dagang Indonesia, termasuk RRC, kelebihan kapasitas sehingga mereka menurunkan harga barang yang diekspor.
Demikian pula halnya dengan inflasi, tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas (overheated). Artinya, kondisi ekonomi mengalami permintaan atas produk yang melebihi kapasitas penawaran produknya, sehingga harga‐harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga
akan menyebabkan penurunan daya beli uang (purchasing power of money).
Sumber : SEKI, Bank Indonesia
Gambar 4. Pergerakan Inflasi (IHK) di Indonesia Selama periode 2000:I- 2012:IV.
Dalam jangka pendek, tingkat inflasi di Indonesia dapat ditekan di bawah angka 10% setelah sebelumnya mengalami lonjakan yang terduga mencapai 18 persen pada akhir tahun 2005. Lonjakan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dampak negatif dari pengaruh multiplier peningkatan harga minyak bumi dunia pada kisaran 60 sampai 70 dollar AS selama tahun 2005. Seperti kita alami tingginya harga minyak bumi dunia ini membawa implikasi dikeluarkannya kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dan pengurangan subsidi Pemerintah untuk harga BBM tersebut.
Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan semakin memburukjika inflasi
tidak dapat dikendalikan. Inflasi akan menjadi bertambah cepat apabilatidak diatasi.
Inflasi yang bertambah serius tersebut akan mengurangi investasi yang produktif,
mengurangi ekspor, dan menaikkan impor. Kecenderungan iniakan memperlambat
pertumbuhan ekonomi. Menurut Sukirno (1997),keterlambatan pertumbuhan ekonomi
sebagai akibat dari inflasi yang seriusdisebabkan oleh beberapa faktor penting, seperti :
1. Inflasi menggalakkan penanaman modal spekulatif.Pada masa inflasi terdapat
kecenderungan antara pemilik modal untukmenggunakan uangnya dalam investasi
yang bersifat spekulatif. Membelirumah dan tanah serta menyimpan barang yang
berharga akan lebihmenguntungkan daripada melakukan investasi yang produktif.
2. Tingkat bunga meningkat dan tingkat investasi berkurang.
Untuk menghindari kemerosotan nilai modal yang dipinjamkan, otoritasmoneter
akan menaikkan tingkat bunga. Makin tinggi tingkat inflasi makamakin tinggi pula
tingkat bunga yang akan ditentukan. Tingkat bunga yangtinggi akan mengurangi
kegairahan penanam modal untuk mengembangkansektor-sektor yang produktif.
3. Inflasi menimbulkan ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi masa depan. Laju inflasi akan bertambah cepat apabila tidak dikendalikan, sehingga pada akhirnya
akan menimbulkan ketidakpastian dan arah perkembangan ekonomi tidak lagi
dapat diramalkan dengan baik. Keadaan ini akan mengurangi kegairahan
pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.
PMA juga dipengaruhi oleh Suku bunga, karena dengan peningkatan suku bunga sebagai target operasional jangka pendek akan mempengaruhi berbagai variabel seperti suku bunga berjangka lebih panjang, harga aset, variabel ekspektasi, dan nilai tukar. Keseluruhan variabel tersebut kemudian berpengaruh terhadap prefensi
masyarakat, yang tercermin dari perubahan domestic demand. khusunya konsumsi dan investasi (Sabirin: 2000) .
turun maka bunga kredit juga ikut menurun yang membuat pembayaran cicilan kredit menjadi lebih rendah. Karena globalisasi telah merebak di negara berkembang, yang apabila terjadi krisis atau masalah di negara maju maka negara berkembang seperti Indonesia akan terkena dampaknya (Abeng,200).
Sumber : SEKI, Bank Indonesia
Gambar 4. Pergerakan Suku bunga acuan LIBOR Selama periode 2000:I- 2012:IV.
Suku bunga LIBOR akhir 2007 dan awal 2009 pada saat itu krisis moneter sedang menguncang hebat . Suku bunga periode Q III tahun 2007 melonjak menjadi 15.66% . Dan sempat turun pada awal 2008 QI 14.43%.
Dengan demikian investasi adalah keharusan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat, karena investasi pada dasarnya dimaksudkan untuk menambah kapasitas produksi nasional. Dengan bertambahnya kapasitas pendapatan nasional maka bertambah pula kemampuan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang barang dan jasa yang selanjutnya akan meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran
Dari latar yang di jelaskan di atas, diketahui kondisi tersebut berupa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan investasi Penanaman Modal Asing di Indonesia. Faktor tersebut antara lain GDP , Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tingkat inflasi serta Suku bunga dalam negeri.
B.Permasalahan
Investor asing akan mempertimbangkan berbagai hal sebelum menginvestasikan modalnya di Indonesia. Seperti iklim investasi di negara yang akan mereka tanamkan modal, salah satunya dari sisi mako. Di dalam penelitian ini akan melihat faktor-faktor makro ekonomi sebagai faktor-faktor penarik investasi asing langsung yang dimiliki oleh Indonesia. Mengenai variabel ekonomi makro yang sebenarnya berpengaruh terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) dan penelitian ini akan difokuskan pada variabel ekonomi makro yaitu GDP , nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tingkat bunga internasional, tingkat inflasi, terhadap keseimbangan Penanaman Modal Asing. Berdasarkan dari latar belakang maka dapatlah dirumuskan suatu pemasalahan:
1. Bagaimana pengaruh GDP terhadap PMA di Indonesia ? 2. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap PMA di Indonesia?
3. Bagaimana pengaruh nilai tukar riil (RER) terhadap PMA di Indonesia? 4. Bagaimana pengaruh suku bunga luar negeri terhadap PMA di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis :
1. Pengaruh GDP terhadap PMA di Indonesia 2. Pengaruh inflasi terhadap PMA di Indonesia
3. Pengaruh nilai tukar riil (RER) terhadap PMA di Indonesia 4. Pengaruh suku bunga luar negeri terhadap PMA di Indonesia
5. Pengaruh GDP, inflasi, nilai tukar riil dan suku bunga luar negeri secara bersama- sama terhadap PMA di Indonesia
D. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat di jelaskan mengenai hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat:
Investasi Penanaman Modal Asing pada umumnya cenderung untuk mencapai tingkat yang lebih besar, apabila Produk Domestik regional Bruto semakin tinggi.
Meningkatnya GDP dikarenakan tingkat kegiatan ekonomi yang ditentukan oleh permintaan yang disetrtai kemampuan untuk membayar barang-barang dan jasa jasa yang diminta bertambah besar. Sehingga dapat menarik minat investor untuk
Permintaan barang dan ekspor ini menentukan tingkat pengembalian (return) dan keuntungan.
Nilai tukar riil dapat menentukan daya saing ekspor, dimana Dimitrova (2005) mengatakan bahwa nilai tukar yang melonjak secara drastis tak terkendali
menyebabkan kesulitan pada dunia usaha dalam merencanakan usahanya terutama bagi mereka yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri atau menjual barangnya ke pasar ekspor. Oleh karena itu, pengelolaan nilai mata uang yang relatif stabil menjadi salah satu faktor moneter yang mendukung perekonomian secara makro. Pada tingkat ekonomi makro, mata uang terdepresiasi akan mendorong industri ekspornya dan sebaliknya menurunkan nilai impor .
Jika dikaitkan dengan PMA nilai tukar berhubungan negatif, ketika kurs yang rendah sangat menguntungkan oleh para investor karena akan mendorong permintaan barang dan ekspor nilai valuta asing yang tinggi akan mempengaruhi minat investor asing untuk menanamkan modalnya. Apabila terjadi depresiasi rupiah terhadap mata uang asing, bagi para investor asing di Indonesia akan mengalami peningkatan produksi karean permintaan ekspor meningkat. Dalam hal ini diperhatikan harga bahan baku domestic relative murah, maka dapat mendorong proses industrialisasi dalam
menghasilkan barang dan jasa. Dengan kondisi tersebut pihak investor asing tertarik untuk menanamkan modalnya (Sambodo,2003).
Penurunan inflasi akan mempengaruhi harga barang dan jasa relatif stabil
tertarik untuk menanamkan modalnya lebih besar (Suwarno, 2008). Ketika terjadi inflasi, pihak otoritas moneter akan menaikkan tingkat bunga guna menghindari kemerosotan nilai modal yang dipinjamkan. Makin tinggi inflasi maka makin tinggi pula tingkat bunga. Tingkat bunga yang tinggi menyebabkan debitur turun dan mengurangi minat investor untuk mengembangkan sektor-sektor produktif.
Melalui transmisi kebijakan moneter yaitu apabila suku bunga naik (kebijakan moneter ketat) akan mengurangi jumlah uang beredar dan mendorong peningkatan suku bunga jangka pendek. Dan apabila credible akan timbul ekspektasi masyarakat bahwa inflasi akan turun atau suku bunga riil jangka panjang akan meningkat. Kondisi demikian menurunkan permintaan domestik untuk investasi dan konsumsi, Karena kenaikan biaya modal sehingga pertumbuhan ekonomi aksan menurun, demikian pula seblaiknya bila dilakukan pelonggaran moneter (Suramaya,2012). Hubungan dari GDP, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika , inflasi serta Suku bunga luar negeri yang mempengaruhi Foreign Direct Investment (PMA) di
Indonesia selama periode 2000: I-2012:IV dapat digambarkan sebagai berikut :
GDP
Inflasi
Kurs riil PMA
rLn
E. Hipotesis
Berdasarkan tujuan penulisan, kerangka pikir, dan teori, maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah bahwa variabel GDP , tingkat inflasi , dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diduga akan berpengaruh secara signifikan terhadap
keseimbangan Foreign Direct Investment di Indonesia.
1. Diduga GDP berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA di Indonesia. 2. Diduga tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA di
Indonesia.
3. Diduga nilai tukar riil berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap PMA di Indonesia.
4. Diduga tingkat suku bunga luar negeri berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA di Indonesia.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan judul “analisis pengaruh GDP, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan suku bunga luar negeri terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) Di Indonesia (Periode 2000:I – 2012:IV)”, maka variabel –variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penanaman Modal Asing
2. GDP
GDP yang digunakan adalah GDP dengan harga konstan dengan tahun dasar 2000, Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998), tingkat output keseluruhan suatu negara dapat diproksikan oleh Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Oleh karena itu, secara umum investasi tergantung pada nilai PDB yang diperoleh dari seluruh kegiatan ekonomi.
3. Inflasi
Inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga – harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan tingkat harga umum yang terjadi sekali waktu saja, tidaklah dapat dikatakan sebagai inflasi (Nanga,2005)
4. Nilai Tukar Riil
Kurs riil adalah harga relative dari barang-barang kedua negara (Mankiw,2006). Nilai tukar riil dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana produk domestik berkompetisi dengan produk luar negeri dalam hal daya saing. Hal ini menjadikan nilai tukar riil sebagai tolak ukur daya saing produk ekspor suatu negara dalam hal harga dipasar global.
5. Suku bunga
Suku bunga yang digunakan dalam penelitian adalah suku bunga luar negeri yakni suku bunga acuan LIBOR (London Interbank Offered Rate). Suku bunga
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Investasi
Investasi adalah pengeluaran yang ditunjukkan untuk meningkatkan atau
mempertahankan stok barang modal. Stok baranga modal terdirir darin pabrik, mesin, kantor,produk – produk tahan lama lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Investasi sendiri di bedakan menjadi dua bentuk yaitu investasi langsung seperti Penanaman Modal Asing ( Foreign Direct Investement) dan Penanaman Modal Domestik Nasional (PMDN) serta bentuk lainnya yaitu investasi portofolio yaitu lewat bursa saham.
1. Teori Investasi dari Keynes
Pada bukunya The General Theory Of Employment Interest and Money 1936, John Maynard Keynes mendasar teori tentang permintaan investasi atau konsep marjinal kapital (marginal efficiency of capital atau MEC). Sebagai suatu definisi kerja, MEC dapat didefinisikan sebagai tingkat perolehan bersih ynag diharapkan (expected net rate of return) atas pengeluaran kapital tambahan. Tepatnya, MEC adalah tingkat diskonto yang menyamakan aliran perolehan yang diharapkan dimasa yang akan datang dengan biaya sekarang dari kapital tambahan.
Secara matematis, MEC dapat dinyatakan dalaml bentuk formula sebagai berikut :
(2.1) Dimana R adalah perolehan yang diharapkan (expected return) dari suatu proyek, dan Ck adalah biaya sekarang (current cost) dari modal tambahan. Subskrip atau superkrip menggambarkan tahun1,2..k-n
Sedangkan hubungan antara permintaan investasi dan tingkat bunga (r) dengan MEC tertentu, oleh keynes dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut :
I=f(i) (given MEC) (2.2)
2. Teori Investasi Langsung
Penanaman modal asing langsung merupakan investasi yang dilakukan oleh
(employment), (b) alih teknologi, (c) pelatihan manajerial, dan (d) akses ke pasar internasional melalui ekspor. Dilihat dari sasaran penjualan outputnya, perusahaan multinasional dapat dibedakan ke dalam dua kelompok: (a) penanaman modal asing yang berorientasi ke pasar domestik yang biasanya cenderung menggunakan
teknologi produksi yang padat modal, dan (b) penanaman modal asing yang berorientasi ke pasar luar negeri yang yang besarnya cenderung menggunakan produksi berteknologi padat karya karena lebih murah.
Menurut Krugman (1988), yang dimaksud dengan penanaman modal asing langsung adalah arus modal internasional dimana perusahaan dari satu negara memperluas atau mendirikan perusahaan perusahaan. Oleh karena itu tidak hanya terjadi pemindahan sumberdaya, tetapi juga pemeberlakuan kontrol terhadap perusahaan luar negeri. Investasi langsung berati bahwa perusahaan dari negara penanaman modal secara langsung melakukan pengawasan atas aset yang ditanam di negara pengimpor modal. Investasi langsung luar negeri dapat mengambil beberapa bentuk yaitu: pembentukan suatu perusahaan dimana perusahaan dari negara penanam modal memiliki mayoritas saham saham pembentukan suatu perusahaan di negara pengimpor modal-modal atau menaruh aset tetap di negara lain oleh perusahaan nasional dari negara penanaman modal (Jinghan,2003)
3. Teori Pertumbuhan Ekonomi
1993):
a. Menciptakan pendapatan yang sering disebut sebagai dampak permintaan. b. Memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok
modal yang sering sebagai dampak penawaran investasi. Selama investasi netto tetap berlangsung pendapatan nyata dan output akan senantiasa membesar. Model yang dikembangkan oleh Harrod‐ Domar yaitu (Jhingan, 1993):
a. Model Domar
Domar mendasarkan modelnya pada pertanyaan bahwa investasi di satu pihak menghasilkan pendapatan dan di pihak lain menaikkan kapasitas produksi, maka investasi harus meningkat agar kenaikan pendapatan sama dengan kenaikan kapasitas produksi, supaya keadaan full employment dapat dipertahankan. Ia menjawab
pertanyaan ini melalui pendekatan dengan mempererat kaitan antara penawaran agregat dengan permintaaan agregat melalui investasi. Domar menjelaskan kenaikan kapasitas produksi sisi penawaran dianggap sebagai laju pertumbuhan tahunan dari investasi.
permintaan dalam model domar menjelaskan bahwa multiple Keynesian akan terjadi. Misalkan kenaikan rata‐rata pendapatan (Y), sedang kenaikan investasi sama dengan
multiplikator { } 1 kali kenaikan investasi. { }. Untuk mendapatkan
equilibrium pendapatan pada full employment, permintaan agregat harus sama dengan
penawaran agregat. Dengan demikian persamaanakan berubah menjadi .
Persamaan ini menunjukkan bahwa untuk mempertahankan full employment, laju
pertumbuhan investasi autonomous netto harus sama dengan marginal propensity
to saving kali produktifitas modal Ini batas laju kecepatan investasi yang diperlukan untuk menjamin penggunaan kapasitas potensial dalam rangka mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang mantap pada keadaan full employment.
b. Model Harrod
Model Harrod didasarkan pada tiga laju pertumbuhan yaitu:
1) Laju Pertumbuhan aktual (G) ditentukan oleh ratio tabungan dalam ratio output. Laju pertumbuhan akan menunjukkan variasi klasik jangka pendek dalam laju pertumbuhan ekonomi.
2) Laju pertumbuhan terjamin (GW) merupakan laju pertumbuhan pendapatan kapasitas penuh suatu perekonomian.
3) Laju pertumbuhan alamiah (Gr) oleh Harrod dianggap sebagai “optimum
kesejahteraan” dapat juga disebut sebagai laju pertumbuhan potensial.
B. Hubungan GDP dengan PMA
Dalam pandangan teori Keynes suku bunga bukan satu satunya faktor yang
[image:31.612.213.443.472.618.2]menentukan investasi, ada faktor yang berpengaruh terhadapa investasi yaitu situasi perekonomian. Keterangan tersebut dapat kita contohkan sebagai berikut, seorang pengusaha yang memiliki dana yang cukup banyak baik itu berasal dari sakunya sendiri ataupun dari meminjam modal dengan bunga yang rendah, tidak serta merta akan langsung menanamkan modal. Pengusaha tersebut jika dia seorang penanaman modal asing akan melihat ramalan masa depan negara yang akan ditujunya sebagai tempat penanaman modal, artinya apakah keadaan masa depanakan menjamin keuntungan dan kelangsungan dari modal yang ditanamannya, untuk itu investor melihat dari tingkat kestabilan ekonomi negara tersebut antara lain dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan pendapatan nasional negara yang dituju.
gambar 2.1
Hubungan Investasi dan Pendapatan Nasional
Y1 I1
I2
Tingkat investasi
Pendapatan Nasional Y2
Penejelasan tersebut sesuai dengan pandangan pada teori akselerasi yang menyatakan bahwa pendapatan nasional yang semakin meningkat menunjukkan semakin
memerlukan barang modal yang semakin banyak (Sukirno : 2000). Dengan demikian investor perlu melakukan investasi yang lebih tinggi dan lebih banyak modal perlu dipinjam . Secara matematis kedua pandangan tersebut dinotasikan (Dombusch dan Fischer :1997) sebagai berikut :
K = f (er, Y) (2.3)
Dimana, K adalah modal/investasi yang diinginkan er adalah biaya modal (tingkat bunga) dan Y adalah tingkat output . Disamping itu beberapa ekonom
memformulasikan investasi dengan persamaan sederhana sebagai berikut :
I = f ( i, DY ) (2.4)
Dimana I adalah investasi, i adalah tingkat bunga dan DY adalah perubahan output. Secara khusus notasi 2.2 diatas dapat dibentuk berdasarkan turunan fungsi Cobb-Douglas ( Dombusch dan fisher : 1997 ) sebagai berikut :
K , (2.5)
negara adalah faktor politik dan non politik, khusunya untuk faktor non politik berupa besarnya pasar di negara penerima yang diukur dengan pendapatan nasionalanya (Produk Domestik Bruto), (Douglas Nigh :1997).
C. Hubungan tingkat Inflasi dengan PMA
Inflasi adalah keadaan dimana terjadi peningkatan harga umum secara terus menerus. Sedangkan Tingkat Inflasi menggambarkan perubahan harga-harga dalam tahun tertentu. Berdasarkan penjelasan Bank Indonesia tentang inflation targeting (2006), inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan kepada barang lainnya. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinyu.
Indikator yang biasanya digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah
1. Indeks Harga Konsumen. Perhitungan inflasi dapat dinyatakan sebagai berikut :
Dimana :
INFt : Tingkat inflasi pada periode t
INFt: Indeks Harga Konsumen pada periode t
2. Indeks Harga Perdagangan Besar (Whosale Price Index/ Producer Price Index). Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen maka IHPB/ PPI melihat inflasi dari sisi produsen.
3. Indeks Harga Implisit (GDP Deflator)
Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang sederhana, ekonom menggunakan IHI, angka deflator ini diperkenalkan dalam pembahasan PDB/GDP berdasarkan harga berlaku dan konstan, yaitu dengan membandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi nominal dengan pertumbuhan riil. Selisih keduanya merupakan inflasi.
Hyperinflation dalam jangka panjang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan
hal ini akan berakibat pada lesunya sektor investasi yang produktif. Inflasi yang tinggi membuat harga barang dan jasa menjadi mahal, biaya input produksi tentunya akan meningkat. Kondisi ini meneybabkan pelaku usaha mengharuskan
meningkatkan harga pelaku usaha mengharuskan meningkatkan harga outputnya sehingga daya saing rendah. Inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi rendah, akibatnya kegiatan perdagangan lesu dan investor sulit untuk mendapatkan return dan keuntungan.
Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain: 1. Indeks biaya hidup
2. Indeks harga perdagangan besar 3. GNP deflator
Inflasi dapat terjadi melalui dua sisi yaitu dari sisi penawaran (cost-push inflation) dan sisi permintaan (demand-pull inflation). Inflasi dari sisi penawaran terjadi apabila terdapat penurunan penawaran terhadap barang-barang dan jasa-jasa karena adanya kenaikan dalam biaya produksi yang diakibatkan oleh keinginan
meningkatnya tingkat upah riil pekerja karena adanya ekspektasi inflasi dimasa depan akan meningkat. Peningkatan upah ini akan membuat produsen untuk menurunkan tingkat produksinya di bawah tingkat produksi optimum sehingga akan meningkatkan harga dan akan meningkatkan tingkat pengangguran.
D. Hubungan Nilai Tukar dengan PMA
Nilai tukar merupakan suatu nilai yang menunjukkan jumalah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapat satu unit mata uang asing (Sukirno,1996). Biasanya suatu negara akan berusaha untuk mempertahankan nilai tukar yang ditetapkan dalam jangka waktu yang lama. Selama nilai tukar yang ditetapkan tersebut tidak menimbulkan akibat yang kurang menguntungkan, maka negara tersebut tidak melakukan sesuatu perubahan terhadapa nilai tukar yang ditetapkan.
1. Nilai tukar nominal yang merupakan harga relatif dari mata uang dua negara (Mankiw,2000), Menurut Menurut Miskkin (2001), nilai tuker nominal merupakan satuan mata uang asing baik yang berbentuk hard cash maupun dalam bentuk surat berharga.
2. Nilai tukar riil yaitu nilai tukar nominal dikaitkan. dengan barga barang domestik dibagi harga barang luar negeri (Mankiw, 2000). Nilai tukar (exchange rate) diantara dua negara adalah harga dimana penduduk kedua negara saling melakukan perdagangan.
Nilai tukar riil atau kurs riil menyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain. Nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal yang telah diseusaikan dengan tingkat harga. Secara sepesifik, hubungan antara nilai tukar nominal dengan nilai tukar riil dapat ditunjukkan secara matematis sebagai beriku (Batiz,1994) :
Keterangan:
: Kurs riil e : Kurs nominal
P : Harga barang domestik
P* : Harga barang luar negeri
barang-barang luar negeri relatif murah dan barang-barang domestik relatif mahal. Kurs riil jika dikaitkan dengan ekspor bersih maka ketika terjadi kurs rendah, barang-barang domestik relatif mahal dibandingkan harga luar negeri. Penduduk domestik lebih memilih untuk membeli barang produk impor dari pada barang domestik, hal yang sama dilakukan orang luar negeri lebih memilih membeli barang produk luar neger. Peningkatan pennintaan produk domestik ini menyebabkan ekspor bersih meningkat. Hubungan antara kurs riil ( ) dan ekspor bersih (NX) dapat ditulis sebagai
berikut:
NX = NX( )
Persarnaan tersebut menyatakan bahwa ekspor bersih adalah fungsi dari kurs riil.Persamaan 4 menunjukkan hubungan negatif antara neraca perdagangan dalam kurs riil.
Gambar 2.2
Ekspor bersih danKurs Riil
Kurs riil,
NX )
Ekspor Bersih
Gambar tersebut menunjukkan hubungan antara kurs riil dan ekspor bersih,
semakin rendah kurs semakin murah harga barang domestic relative terhadap
barang-barang luar negeri dan semakin besar pula ekspor bersih. Jika dikaitkan
dengan PMA maka kurs yang rendah ini sangat menguntungkan oleh para investor
karena akan mendorong permintaan barang dan ekspor. Permintaan barang dan
ekspor ini menentukan tingkat pengembalian (return) dan keuntungan.
Menurut teori paritas balas jasa menyatakan bahwa balas jasa investasi asing di dalam negeri bersumber pada dua hal yaitu :
1. Perbedaan suku bunga dalam negeri dan luar negeri
2. Perbedaan nilai tukar uang pada saat investasi ditanamkan.
Kedua hal tersebut dapat dinotasikan secara sistematis sebagai berikut (Abu Bakar:2002) :
DI = [ F( 1-rr ) / e ] – ( 1 + rd ) (2.6) Dimana :
DI = Selisih balas jasa investasi di dalam dan diluar negeri
F = Kurs devisa yang berlaku saat investasi akan jatuh tempo di masa datang e = Kurs devisa pada saat investasi mulai ditanamkan
rd = Suku bunga dalam negeri rr = Suku bunga luar negeri
Sedangakan jika kurs rupiah menguat akan membuat disparitas balas jasa membuat investor asing lebih suka menanamkan investasinya di negaranya, sebaliknya jika kurs melemah sehingga disparitas balas jasa akan membesar maka investor akan menanamkan uangnya di luar negeri. Dengan demikian terdapat hubungan yang negatif antara perubahan nilai tukar dollar dengan Foreign Direct Investment.
Disamping kedua hal tersebut, menurut (Budiono,1997), apabila nilai tukar rupiah terdepresiasi maka ekspor Indonesia akan naik dan impor turun (apabila penawaran ekspor dan permintaan ekspor cukup elastis), sebab di pasaran internasional barang kita menjadi kompetitif, dengan meningkatnya/ naiknya permintaan agregat riil sehingga berdampak pada meningkatnya investasi, hal ini akan mendorong masuknya investasi asing ke Indonesia.
E. Hubungan tingkat suku bunga luar negeri dengan PMA
Berbeda dengan yang dilakukan dengan konsumen yang memebelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk membeli barang dan jasa yang mereka butuhkan, penanam-penanam modal melakukan investasi bukan untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi tujuannya untuk mencari keuntungan. Meski demikian berdasarkan berbagai aliran pada ekonomi makro, faktor utama yang mempengaruhi besarnya investasi bukan hanya masalah keuntungan tetapi juga meliputi (Sadono
Sukirno;1997) :
3. Kemajuan teknologi
4. Tingkat pendapatan Nasional dan perubahan-perubahannya 5. Keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan
Namunn semakin majunya sektor perdagangan internasional kini, suku bunga luar negeri memiliki pengaruh luas kepada negara negara berkembang seperti Indonesia. Pada hakekatnya Indonesia sebagai price taker dimana sebagai negara yang dapat dipengaruhi harga dunia. Ketika keadaan krisis pada negara maju maka negara - negara berkembang akan menjadi imbas dari masalah luar tersebut, termasuk kepada investor asing yang menanamkan modalnya di negara berkembang.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas batas suatu negara akan menjadi satu keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang
masuknya produk produk global ke dalam pasar domestik. Perwujudan nyata dari globalisasi (Abeng,2000) :
Globalisasi Produksi, dimana perusahaan berproduksi di berbagai negara,
dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah. Hal ini dikarenakan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang rendah,
Globalisasi pembiayaan, perusahaan global akan mampu memanfaaatkan
akses untuk memperoleh pinjaman atau melakuakn investasi (baik dalalm bentuk portofolio maupun langsung) disemua negara di dunia ini.
Globalisasi tenaga kerja, perusahaan global akan mampu memanfaatkan
tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya. Seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah dimiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang bisa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas. Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan
penyeragaman tarif serta pengahpusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat. Stabilnya peningkatan suku bunga luar di bandingkan dengan suku bunga dalam negeri membuat para investor menginvestasikan dananya dalam bentuk jangka
panjang . Seperti keadaan krisis di negara maju seperti AS banyak para investor yang menanamkan modalnya di Indonesia karena imbal hasil yang diterima nya lebih besar di bandingkan di negaranya (Afrizzal, 2010).
F. Tinjauan Empiris
Penelitian tentang kajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan investasi di Indonesia tahun 1985- 2005 dilakukan oleh Pardamean Lubis
memberikan pengaruh yang positif dan sangat signifikan terhadap permintaan
investasi di Indonesia. Beliau juga menyarankan untuk pengambilan kebijakan antara lain, untuk emningkatkan investasi di Indonesia pemerintah perlu mempertahankan tingkat suku bunga dalam negeri yang relative rendah, agar PMA dan PMDN merasa tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia.
Mulaelatul Khasanah (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis faktor- faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam” bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Penanam Modal Asing di Kota Batam. Penelitian ini memberikan kesimpulan Faktor-faktor yang
mempengaruhi investasi asing (PMA) di Batam yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai tukar nil (RER), upah minimum (UPAH) dan pajak (TAX) yang
secara signifikan berpengaruh nyata pada taraf nyata 5 persen, sedangkan tingkat
inflasi (INF) dan dummy KEK tidak berpengaruh nyata terhadap PMA di Batam.
Sementara itu, dalam penelitian Analisis bebrapa faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesiayang dilakukan oleh Aliyatul Jannah (2010), meyimpulkan Tingkat Suku Bunga Internasional (X
1), Kurs Dollar Amerika (X
Menurut hasil penelitian internasional oleh Robert E. Lipsey, NBER and City University of NY (2010) yang berjudul “Foreign Ownership and Employment Growth in Indonesian Manufacturing “ memiliki kesimpulan bahwa pengusaha asing yang dimiliki Indonesia pada sektor manufaktur tumbuh lebih cepat meningkat dibandingkan perusahaan dalam negeri yang tetap dalam kepemilikan Indonesia selama 1975-2005, mengingat karakteristik lain dari sumberdaya yang ada. Pertumbuhan lebih cepat dikonfirmasi oleh hasil tes beberapa data termasuk
pemeriksaan dekat pengambilalihan perusahaan milik lokal oleh 14 pengusaha asing dan pengusaha lokal. Perusahaan pada investasi yang milik asing selama masa
penelitannya tumbuh rata-rata sekitar 5 persen lebih cepat dari pada perusahaan yang dimiliki domestik. Investasi yang diperoleh oleh orang asing tumbuh sekitar 10
persen lebih cepat sesuai dengan perkiraan fixed effect. Menimbang bahwa perusahaan asing rata-rata jauh lebih besar dari perusahaan domestik.
Menurut penelitian M.Arif Sambodo (2003), pada jdul penelitiannya “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing Di Indonesia” memeliki kesimpulan Secara Umum faktor yang stabil mempengaruhi masuknya investasi asing langsung ke Indonesia, baik sebelum dan saat krisis terjadi adalah tingkat suku bunga dalam dan luar negeri. Sedangkan faktor PDB hanya memperngaruhi
Sedangkan menurut jurnal yang di teliti oleh Imamudin Yuliadi (2009), yang berjudul “Analisis Kesenjangan investasi Asing (PMA) di Provinsi Sulawesi Utara (sebuah
[image:44.612.115.555.413.708.2]evaluasi kebijakan pemekaran wilayah)” memiliki kesimpulan dari penelitiannya yaitu dampak dari kebijakan pemekaran wilayah provinsi Gorontalo dari provinsi Sulawesi Utara dalam jangka pendek relatif belum menunjukkan pengaruh yang berarti namun dalam jangka menengah dan panjang berpengaruh cukup besar terhadap kesenjangan investasi PMA dalam konteks perekonomian di Kawasan Timur Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya disparitas investasi asing di Sulawesi Utara. Disparitas investasi juga disebabkan oleh perbedaan infrastruktur ekonomi antarwilayah di Indonesia.
Tabel 1. Ringkasan Hasil Penelitian Empirik
NO . Judul Penelitan Peneliti dan tahun Penelitian Variable dan alat analisis
Model analisis Kesimpulan
1 Analisis
faktor-faktor yang mempengar uhi Permintaan Investasi di Indonesia Pardamean Lubis (2008) Permintaan investasi -Suku bunga dalam negeri -Pendapatan Nasional Alat analisis: Ordinary Least Square (OLS)
INV = β0+ β1 IR
+ β2 Ln NI + e
Suku bunga dalam negeri (IR) memberikan pengaruh yang negative terhadap permintaan investasi di Indonesia, Pendapatan Nasional (NI) memberikan pengaruh yang positif dan sangat signifikan terhadap permintaan
investasi di Indonesia.
faktor-faktor yang mempengar uhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam Khasanah (2008) Modal Asing di Batam -PDRB -Tingkat Inflasi -Upah minimum regional Batam -Penerimaan pajak Batamummy Kawasan Ekonomi Khusus atau Special Economic Zones
Alat analisis :
Ordinary Least Square
(OLS)
α1PDRBt+ α2RERt+ α3INFt + α4UPAHt+
α5TAXt+KEKD
+ et
penelitian faktor faktor yang mempengaruhi investasi asing (PMA) di Batam yaitu PDRB, ,UPAH,TAX,yang secara signifikan berpengaruh secara nyata pada taraf nyata 5 persen. Sedangkan tingkat inflasi dan dummy KEK tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap PMA di Batam.
3 Analisis
bebrapa faktor-faktor yang mempengar uhi Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia Aliyatul Jannah (2010) -Penanaman Modal Asing di Indonesia -Tingkat Suku bunga Internasional -Kurs AS -Neraca Perdagangan. Alat Analisis: Statistical Package for the Social Sciences (SPSS)
At= ᵝ 0+ ᵝ 1X1t
+ ᵝ 2X2t + ᵝ 3X3t
+ et
Berdasarkan hasil penelitian faktor faktor yang mempengaruhi investasi asing (PMA) di Indonesia yaitu tingkat suku bunga
Internasional, Kurs Dollar Amerika dan neraca perdagangan, yang paling dominan berpengaruh terhadap penanaman modal asing adalah tingkat suku bunga
internasional.
4 Foreign
Ownership and Employme nt Growth in Indonesian Robert E. Lipsey, NBER and City University of NY (2010) - PMA -Tenaga kerja -Perusahaan - Milik perusahaan asing atau perusahaan
∆InLit = InLit -
Init-1 =α + λPlant
it-1 + w ownership
+
tYear_dummy
+ + ind
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa
[image:45.612.115.553.93.710.2]Manufactur ing
pemerintah Alat Analisi :
Ordinary Least Square
OLS
IND_dummyt + +
RReg_dummy+
eit
cepat sekitar 5-10 persen di banding perusahaan yang dimiliki oleh investor dalam negeri. Ini membuktikan bahwa peluang kerja lebih besar di perusahaan yang dimiliki luar negeri
5 Analisis
faktor-faktor yang mempengar uhi Penanaman Modal Asing Di Indonesia M.Arif Sambodo (2003) - PMA - PDB -tingkat suku bunga deposito riil -Nilai tukar rupiah - posisi dana masyarakat di perbankan. Alat analisis :
Error correlation method= ECM
∆It = ᵧ o + ᵧ 1 ∆Rt
+ ᵧ 1 ∆Rt-1 + ᵧ 3
(Rt-1- It-1) + e
Secara Umum faktor yang stabil mempengaruhi masuknya investasi asing langsung ke Indonesia, baik sebelum dan saat krisis terjadi adalah tingkat suku bunga dalam dan luar negeri. Sedangkan faktor PDB hanya memperngaruhi masuknya investasi pada saat krisis terjadi. Tetapi ketika krisi dimulai faktor ini tidak signifikan lagi dalam
mempengaruhinya.
6 Analisis
Kesenjanga n investasi Asing (PMA) di Provinsi Sulawesi Utara(sebu ah evaluasi kebijakan pemekaran wilayah) Imamudin Yuliadi (2009) -PMA,
- tingkat bunga simpanan, -dan Kurs adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Alat analisis : Metode analisis data dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa
Ii = α0 + α1 r +
α2 Kurs dampak dari kebijakan pemekaran wilayah provinsi Gorontalo dari
[image:46.612.116.554.83.711.2]Dalam penelitian ini menggunakan sedikit perbedaaan dengan penelitian sebelumnya dengan menggunakan nilai tukar riil atau Real Exchange Rate (RER) dan suku bunga luar negeri dengan menggunakan suku bunga acuan LIBOR.
metode analisis yaitu analisis kesenjangan investasi, analisis regresi, dan analisis kesenjangan fiskal.
[image:47.612.118.557.75.331.2]III. METODE PENELITIAN
A.Jenis dan Sumber Data
[image:48.612.108.534.417.609.2]Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder menurut runtut waktu (time series) dalam bentuk tahunan. Periode yang digunakan yaitu periode 2000:I- 2012:IV. Adapun data-data tersebut diperoleh dari beberapa sumber seperti Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia (BI), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Penelitian-penelitian terdahulu, artikel-artikel dan sumber-sumber lainnya.
Tabel 2. Deskripsi Data Input
Nama Data Nama Variabel Satuan Pengukuran Sumber Data
PMA LPMA USD Bank Indonesia
GDP LGDP Rupiah BPS
Nilai Tukar Riil LRER BPS dan World
Bank
Tingkat inflasi INF Persen Bank Indonesia
Suku Bunga luar Negeri
RLN
Persen British Bankers' Association
B. Operasionalisasi Variabel
Untuk memberikan kejelasan mengenai penggunaan beberapa variabel dalam penelitian ini, maka perlu diberikan definisi beberapa variabel tersebut, yaitu : 1. Penanaman Modal Asing
Menurut Krugman (1988), yang dimaksud dengan penanaman modal asing langsung adalah arus modal internasional dimana perusahaan dari satu negara memperluas atau mendirikan perusahaan perusahaan.Investasi asing di Indonesia dalam penelitian ini menggunakan data jumlah foreign direct investment atau FDI yaitu penanaman modal asing berasal dari perseorangan ataupun perusahaan-perushaan asing yang secara langsung masuk didalam perekonomian Indonesia tiap tahunnya dalam satuan ribu US$. Penanaman modal asing melalui portofolio tidak termasuk didalam penelitian. Data didapat dari laporan yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal. Data PMA ini diperoleh dari Badan Koordinasi Penanaman Modal pusat Jakarta, selama periode 2000:I-2012:IV.
2. Produk Domestik Bruto
Produk domestik bruto adalah penghitungan nilai output produksi akhir pasar semua barang dan jasa dalam perekonomian di Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Apabila Pengusaha, jika dia seorang penanaman modal asing akan melihat ramalan masa depan negara yang akan ditujunya sebagai tempat
tingkat kestabilan ekonomi negara tersebut antara lain dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan pendapatan nasional negara yang dituju.Yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan PDB harga konstan 2000. Data ini diambil dari situs resmi Badan Pusat Statistik.
3. Nilai tukar riil
adalah nilai tukar nominal yang sudah dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga – harga di dalam negeri dibandingkan harga – harga diluar negeri. Pengukuran nilai tukar riil rupiah menggunakan nilai tukar nominal, index harga konsumen, dan index harga konsumen negara mitra dagang utama Indonesia (Awaluddin,2004). Negara dengan tingkat suku bunga yang relatif lebih tinggi maka nilai mata uangnya akan cenderung menguat. Hal ini terkait dengan penyimpanan uang. jika suatu negara memiliki interest rate yang lebih tinggi maka masyarakat akan cenderung lebih tertarik untuk menyimpan uangnya di negara tersebut. Apabila tingkat bunga menjadi lebih rendah, lebih banyak usaha yang mempunyai tingkat pengembalian modal yang lebih tinggi daripada tingkat suku bunga. Semakin rendah tingkat bunga yang harus dibayar para pengusaha, semakin banyak usaha yang dapat dilakukan para pengusaha.
Amerika Serikat diperoleh dari situs resmi World Bank selama periode 2000:I- 2012:IV.
4. Inflasi
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus.(Boediono,2001:161) Salah satu faktor penting dalam menganalisa dan meramalkan tingkat suku bunga adalah inflasi. Inflasi adalah suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum ( bukan satu macam barang dan sesaat). Perhitungan laju inflasi pada penelitian ini menggunakan konsep inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik selama periode 2000:I-2012:IV
5. Suku bunga Luar negeri
Menurut Laksmono, 2001 (dalam Erawati & Lewelyn, 2002), nilai suku bunga domestik di Indonesia sangat terkait dengan suku bunga internasional. Hal ini disebabkan oleh akses pasar keuangan domestik terhadap pasar keuangan
internasional dan kebijakan nilai tukar yang fleksibel. Suku bunga yang digunakan dalam penelitian ini adalah suku bunga nominal LIBOR 3 bulanan yang
C. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder. Dengan metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan cara melakukan studi pustaka dari berbagai laporan, literatur, penelitian, dan dokumen secara resmi dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik. Data diperoleh menurut runtut waktu (time series) yaitu periode kuartal 2000: I sampai dengan periode 2012: IV, yakni investasi penanaman modal asing di Indonesia sebagai variabel dependentnya dan data GDP Indonesia,inflasi, nilai tukar riil dan suku bunga luar negeri sebagai variabel independent.
D. Alat analsisis
Alat analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode Error Correction Model. Alat analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dalam jangka pendek dan penyesuaian (speed of adjustment) yang cepat untuk kembali ke keseimbangan jangka panjangnya.. Dalam Analisis ini dilakukan dengan bantuan Eviews 4.1 dengan tujuan yang telah dibahas pada bab sebelumnya untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya.
Fungsi Persamaan umum yang akan diamati dalam penelitian ini adalah :
PMA = f( GDP, RER, INF, rLn ) (3.1)
Product (GDP), tingkat inflasi (INF), Real Exchange Rate (RER) dan tingkat suku bunga luar negeri (Rln)
Diperoleh model regresi yang akan diteliti :
PMA = β
0 + β1 GDP1 + β2 RER+ β3 INF + β4rLn + e (3.2)
Persamaan regresi ditransformasikan ke bentuk log linier models, maka persamaan regresi menjadi seperti berikut :
LPMA = β
0 + β1 LGDP1 + β2INF+ β3 LRER +β4rLn + e (3.3)
Dengan variabel – variabel sebagai berikut :
LPMA = Log PMA di Indonesia ( ribu US$) LGDP = Log GDP Indonesia dengan harga konstan(Milliar Rp) INF = Tingkat Inflasi (%) LRER = Log Nilai tukar riil (Rp/US$)
rln = Suku Bunga Luar Negeri (%)
β0 = Intercept
β
1-β4 = Koefisien regresi masing masing variabel penjelas terhadap PMA
e = Error term
Alasan menggunakan analisis regresi dalam transformasi log adalah (Gujarati, 1999) :
1. Parameter (β) dapat langsung menunjukkan koefisien elastisitas, yaitu persentase
2. Gejala heterokedastisitas dapat dikurangi karena transformasi logaritma akan dapat memperkecil skala variabel-variabel yang diukur.
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa pengujian untuk menganalisis data, diantaranya adalah:
1. Uji Stasionary
Uji Unit Root digunakan untuk melihat apakah data yang diamati stationary atau tidak. Data dikatakan stationary bila data tersebut mendekati rata-ratanya dan tidak terpengaruhi waktu. Apabila data yang diamati dalam uji akar-akar unit (unit root test) ternyata belum stationary maka harus dilakukan uji integrasi (integration test) sampai memperoleh data yang stationary.
Pada umumnya data ekonomi time-series sering kali tidak stationary pada level series. Jika hal ini terjadi, maka kondisi stationary dapat tercapai dengan melakukan differensiasi satu kali atau lebih. Apabila data telah stationary pada level series, maka data tersebut adalah integrated of order zero atau I(0). Apabila data stationary pada differensiasi tahap 1, maka data tersebut adalah integrated of order one atau I(1). Terdapat beberapa metode pengujian unit root, dua diantaranya yang saat ini secara luas dipergunakan adalah (augmented) Dickey-Fuller dan Phillips–Perron unit root test. Prosedur pengujian stationary adalah sebagai berikut (Awaluddin: 2004):
2. Jika semua variabel adalah stationary, maka estimasi terhadap model yang digunakan adalah dengan regresi Ordinary Least Square (OLS).
3. Jika dalam uji terhadap level series hipotesis adanya unit root untuk seluruh series diterima, maka pada tingkat level seluruh series adalah non stationary. 4. Langkah selanjutnya adalah melakukan uji unit root terhadap first difference dari
series.
5. Jika hasilnya menolak hipotesis adanya unit root, berarti pada tingkat first difference, series sudah stationary atau dengan kata lain semua series terintegrasi pada orde I(1), sehingga estimasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode kointegrasi.
6. Jika uji unit root pada level series menunjukkan bahwa tidak semua series adalah stationary, maka dilakukan first difference terhadap seluruh series.
7. Jika hasil dari uji unit root pada tingkat first difference menolak hipotesis adanya unit root untuk seluruh series, berarti seluruh series pada tingkat first difference
terintegrasi pada orde I(0), sehingga estimasi dilakukan dengan metode regresi Ordinary Least Square (OLS) pada tingkat first difference-nya.
8. Jika hasil uji unit root menerima hipotesis adanya unit root, maka langkah selanjutnya adalah melakukan differensiasi lagi terhadap series sampai series menjadi stationary, atau series terintegrasi pada orde I(d).
dilakukan dengan menggunakan regresi linier biasa (OLS). Jika hasil uji unit root terhadap level dari variabel-variabel menerima hipotesis adanya unit root, berarti semua data adalah tidak stationary atau semua data terintegrasi pada orde I(1). Jika semua variabel adalah tidak stationary, estimasi terhadap model dapat dilakukan dengan teknik kointegrasi.
2. Uji Kointegrasi (Keseimbangan Jangka Panjang)
Konsep kointegrasi pada dasarnya adalah untuk mengetahui equilibrium jangka panjang di antara variabel-variabel yang diobservasi. Kadangkala dua variabel yang masing-masing tidak stasioner atau mengikuti pola random walk mempunyai
kombinasi linier diantara keduanya yang bersifat stasionary. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebut saling terintegrasi atau ber-cointegrated.
Istilah kointegrasi dikenal juga dengan istilah error, karena deviasi terhadap ekuilibrium jangka panjang dikoreksi secara bertahap melalui series parsial penyesuaian jangka pendek. Ada beberapa macam uji kointegrasi, antara lain: 1. Uji Kointegrasi Engel-Granger (EG)
Penggunaan kointegrasi EG didasarkan atas uji ADF (C, n), ADF (T, 4) dan statistik regresi kointegrasi CRDW (cointegration regression durbin watson). Bentuk umum uji kointegrasi tersebut adalah sebagai berikut:
ADF (C, n) : d(residt) = c + aβ (residt) + bâ d(residt-1) + ut (3.4) ADF (T, 4) : d(residt) = c + aβ (residt) + bâ d(residt-1) + trend + ut (3.5) CDRW: Yt = c + aXt + ut
Dasar pengujian ADF (C, n) dan ADF (T, 4) adalah statistik Dickey-Fuller,
sedangkan uji CDRW didasarkan atas nilai Durbin-Watson Ratio-nya, dan keputusan penerimaan atau penolakannya didasarkan atas angka statistik CDRW.
2. Uji Kointegrasi Johansen
Alternatif uji kointegrasi yang banyak digunakan saat ini adalah uji kointegrasi yang dikembangkan oleh Johansen. Uji Johansen dapat digunakan untuk beberapa uji vektor. Uji kointegrasi ini mendasarkan diri pada kointegrasi system equations. Apabila dibandingkan dengan uji kointegrasi Engle-Granger CDRW, metode Johansen tidak menuntut adanya sebaran data yang normal.
Untuk uji kointegrasi menggunakan hipotesa sebagai berikut: H0 = tidak terdapat kointegrasi
Kriteria pengujiannya adalah:
1. H0 ditolak dan Ha diterima, jika nilai trace statistic > nilai kritis trace 2. H0 diterima dan Ha ditolak, jika nilai trace statistic < nilai kritis trace
3. Model Koreksi Kesalahan (ECM)
Error Correction Model atau ECM pertama kali digunakan oleh Sargan pada tahun 1984 dan selanjutnya dipopulerkan oleh Engle dan Granger untuk mengoreksi ketidakseimbangan (disequilibrium) dalam jangka pendek. Teorema representasi Granger menyatakan bahwa jika dua variabel saling berkointegrasi, maka hubungan antara keduanya dapat diekspresikan dalam bentuk ECM. Model ECM mempunyai beberapa kegunaan namun yang paling utama bagi pekerjaan ekonometrika adalah mengatasi masalah data time series yang tidak statonary dan masalah regresi lancung (spurius regression). Model umum dari metode ECM (Gujarati:2003):
∆yt= α0+ α1∆xt+ α2εt-1 + μt (3.6)
Dengan model data input menjadi :
∆PMA = α0+ α1∆LGDP + α2∆INF+α3∆LRER+ α4∆RLN + α5εt-1 + μt
yang mana:
∆yt = Perubahan variabel y pada perode t α0 = Intersep
α2 = Nilai obsolut dari tingkat keseimbangan.
Jika α2 tidak signifikan, maka y menyesuaikan diri dengan perubahan x pada waktu
[image:59.612.117.513.275.667.2]yang sama. Sebaliknya, jika α2 signifikan berarti bahwa y menyesuaikan diri dengan perubahan x tidak pada waktu yang sama.
Gambar 3.1. Bagan Analisis Data Runtut Waktu (Time Series) (Diadaptasi dari Imam Awaluddin)
DATA
UJI UNIT ROOT
SEMUA DATA TIDAK STASIONARY
SEMUA DATA STASIONARY SEMUA DATA STASIONARY
(1* DIFFERENCE)
UJI UNIT ROOT SEMUA DATA DI 1*
DIFFERENCE KAN
SEMUA STASIONARY = I (d)
MODEL LS
UJI ASUMSI KLASIK
Uji Normalitas,Uji Mulitikolineritas,
Uji Heterokedastisitas, Uji Ototkorelasi MODEL LS
UJI KOINTEGRASI
4. Pengujian Hipotesis A. Secara Parsial (uji t)
Pengujian secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji t yang bertujuan untuk menguji parameter estimasi secara parsial dengan tingkat kepercayaan tertentu dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel independent. Uji signifikansi ini merupakan langkah yang dilakukan untuk menentukan keputusan menerima atau menolak Ho (hipotesis yang salah/hipotesis null) berdasarkan nilai uji yang diperoleh dari data. Sedangkan prosedur pengujian ini adalah (Gujarati:1984):
1. membuat hipotesa null (Ho) dan hipotesa alternatif (Hi) 2. - menghitung t dengan rumus:
- mencari nilai kritis t dari tabel t dengan df dan α yang tertentu
3. keputusan untuk menerima atau menolak Ho didasarkan pada perbandingan t. hitung dan t. tabel (nilai kritis).
Apabila : t.hitung > t.tabel, maka Ho diterima dan Hi ditolak t.hitung < t.tabel, maka Ho ditolak dan Hi diterima
Hipotesis yang digunakan dengan menggunakan taraf nyata sebesar 5%. Perumusan hipotesisnya sebagai berikut :
1. Ho > Ha, Ho diterima Ha ditolak , variabel GDP berpengaruh positif terhadap Penanman Modal Asing
2. Ho < Ha, Ho ditolak Ha diterima variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap Penanaman Modal Asing.
Ho > Ha, Ho diterima Ha ditolak, variabel inflasi berpengaruh positif terhadap Penanaman Modal Asing.
3. Ho < Ha, Ho ditolak Ha diterima variabel nilai tukar riil berpengaruh negatif terhadap Penanaman Modal Asing.
Ho > Ha, Ho diterima Ha ditolak, variabel nilai tukar riil berpengaruh positif terhadap Penanaman Modal Asing.
4. Ho > Ha, Ho diterima Ha ditolak , variabel suku bunga luar negeri berpengaruh positif terhadap Penanman Modal Asing.
Ho < Ha, Ho ditolak Ha diterima, variabel suku bunga luar negeri berpengaruh negatif terhadap Penanman Modal Asing.
B.Pengujian Hipotesis secara serempak (uji F)
Prosedur pengujian uji F adalah sebagai berikut:
1. membuat hipotesa null (Ho) dan hipotesa alternatif (Hi)
2. - menghitung nilai F. hitung :
- mencari nilai kritis (F. tabel); df (k-1, n-k) dimana k = jumlah parameter termasuk intersep n = jumlah observasi
3. keputusan untuk menerima atau menolak Ho didasarkan pada perbandingan F.hitung dan F.tabel. Apabila : F.hitung > F.tabel, maka Ho ditolak dan Hi diterima F.hitung < F.tabel, maka Ho diterima dan Hi ditolak.
E. Uji Asumsi klasik
Uji asumsi klasik dimaksudkan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi, multikolinier, dan heteroskedastisitas dalam hal estimasi karena apabila terjadi penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut maka uji t dan uji F yang dilakukan sebelumnya tidak valid dan secara statistik dapat mengacaukan kesimpulan yang diperoleh.
1. Normalitas (Uji Jarque-Bera)
[ ]
Di mana S= koefisien skewness dan K = koefisien kurtosis. Jika suatu variabel didistribusikan secara normal mka diharapkan nilai statistic JB akan sama dengan nol. Nilai statistic JB ini didasarkan pada distribusi Chi Squares dengan derajat kebebaan (df) 2. Jika nilai probabilitas ρ dari statistic JB besar atau dengan kata lain jika nilai statistic dari JB ini tidak signifikan maka kita menerima hipotesis bahwa residual mempunyai distribusi normal karena nilai statistic JB mendekati nol. Sebaliknya jika nilai probabilitas distribusi normal karena nilai statistic JB tidak sama dengan nol.
2. Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional). Secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun (Gujarati:1984). Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Breusch-Godfrey disebut uji Lagrange Multiplier. Ada tidaknya
autokorelasi didasarkan pada distribusi tabel chi-square (X 2
). Keputusan ada tidaknya autokorelasi ditentukan oleh :
- Jika X 2
hitung < X 2
tabel, maka tidak ada autokorelasi
- Jika X 2
hitung > X 2
3. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan salah satu asumsi OLS jika varian residualnya tidak sama. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan white test yaitu dengan cara meregres logaritma residual kuadrat terhadap semua variabel penjelas. Pada white test terdapat beberapa tahap, antara lain:
- Membuat regresi paersamaan dan mendapatkan residualnya
- Uji dengan chi-square tabel (X 2
)
X 2
= n R 2
Dimana :
n = jumlah observasi
R2 = koefisien determinasi
Keputusan ada tidaknya heteroskedastisitas ditentukan jika:
- X 2
hitung > X 2
tabel, maka ada heteroskedastisitas
- X 2
hitung < X 2
tabel, maka ada homoskedastisitas
4. Multikolinearitas
Multikolinearitas mula-mula ditemukan oleh Ragnar Frisch yang berarti adanya hubungan yang linear yang sempurna atau pasti, diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi (Gujarati:1984).
dinamakan problem