PEMBUATAN BUKU CERITA BERMUATAN KEBENCANAAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT MEMBACA, PRESTASI BELAJAR SAINS DAN SIKAP TANGGAP BENCANA

206 

Teks penuh

(1)

i

PEMBUATAN BUKU CERITA BERMUATAN

KEBENCANAAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT

MEMBACA, PRESTASI BELAJAR SAINS DAN SIKAP

TANGGAP BENCANA

Skripsi

Disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh

Nunik May Wulandari 4201409028

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul Pembuatan Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan untuk Meningkatkan Minat Membaca, Prestasi Belajar Sains dan Sikap Tanggap Bencanatelah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan di sidang panitia skripsi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Hari : Tanggal :

Pembimbing I Pembimbing II

Prof.Dr. Ani Rusilowati, M.Pd Dr. Supriyadi, M.Si

(3)

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian ataupun seluruhnya. Pendapat atau karya orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 14 Juni 2013

(4)

iv

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada:

hari :

tanggal :

Panitia Ujian Skripsi Ketua

Prof. Dr. Wiyanto, M.Si NIP. 196310121988031001

Ketua Penguji

Dr. Suharto Linuwih, M.Si. NIP. 196807141996031005

Sekretaris

Dr. Khumaedi, M.Si. NIP.196306101989011002

Anggota Penguji/ Pembimbing Utama

Prof. Dr. Ani Rusilowati, M.Pd NIP. 196012191985032002

Anggota Penguji/

Pembimbing Pendamping

Dr. Supriyadi, M.Si

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO

 Man jadda wa jadda (barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa)  Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka

mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ( Q.S. Ar Ra’d 11 )

PERSEMBAHAN

Atas rahmat dan ridho ALLAH SWT, Skripsi ini kupersembahkan

1) Ibu dan Bapakku tercinta, terima kasih untuk lantunan do’a, motivasi, perhatian, dan kasih

sayang selama ini.

2) Teman-teman pendidikan Fisika 2009 seperjuangan

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini Penulis menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung Penulis dalam penyelesaian skripsi ini kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang 2. Prof. Dr. Wiyanto, M.Si., Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Alam Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Dr. Khumaedi, M.Si.,Ketua Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang yang

telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan membantu kelancaran ujian skripsi.

4. Bapak Prof. Dr. rer. nat Wahyu Hardyanto, M.Si., dosen wali yang telah memberikan arahan kepada penulis selama menempuh studi.

5. Ibu Prof.Dr. Ani Rusilowati, M.Pd, dosen pembimbing I, Bapak Dr. Supriyadi, M.Si, dosen pembimbing II yang senantiasa mengarahkan dan membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

6. Bapak dan Ibu dosen jurusan Fisika yang telah memberikan bekal ilmu dan pengetahuan selama kuliah.

(7)

vii

8. Ibu Suminem, M.Pd,kepala SD N 3 Ketangirejo yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian

9. Ibu dan Bapakku yang senantiasa sabar dan ikhlas mencurahkan kasih sayang, selalu mendoakan, menasihati, membimbing, dan menyemangati.

10.Sahabat-sahabatku di kos Az Zahra Atika, Reny, Dining, Faya serta keluarga besar kos Az Zahra yang selama ini telah membantu dan memotivasi.

11.Sahabat-sahabatku di Kopma Bu Afri, Bu Tri, Bu Esty, Pak Chayyi, Pak Bichin serta keluarga besar Kopma Unnes 2011-2012 terima kasih atas kasih sayang kalian semua, bantuan, doa serta motivasinya selama ini.

12.Sahabat-sahabatku Santika, Ratna, Septi serta teman-teman Pendidikan Fisika’09 terimaksih atas bantuan, doa, kerjasamanya dan motivasinya.

13.Segenap pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini dan studi penulis.

Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Semarang, 14 Juni 2013

(8)

viii ABSTRAK

Wulandari, Nunik May. 2013. Pembuatan Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan untuk Meningkatkan Minat Membaca, Prestasi Belajar Sains dan Sikap Tanggap Bencana. Skripsi, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Semarang. Dosen Pembimbing I: Prof.Dr. Ani Rusilowati, M.Pd.; Dosen Pembimbing II: Dr. Supriyadi, M.Si.

Kata Kunci: Buku Cerita, Minat Membaca, Prestasi Belajar, Sikap Tanggap Bencana

Rendahnya minat membaca dan peringkat Indonesia diajang internasional, dalam hal kemampuan membaca, sains dan matematika, serta sering terjadinya bencana di Indonesia menuntut terjadinya perubahan dalam dunia pendidikan. Inovasi dalam proses pembelajaran di sekolah perlu dilakukan. Pembelajaran yang meningkatkan kesadaran resiko bencana sehingga berdampak pada pengurangan resiko bencana. Perlu diterapkan inovasi penggunaan media buku cerita dalam pembelajaran diharapkan meningkatkan minat membaca siswa, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana. Buku cerita merupakan media yang menarik dan sesuai dengan perkembangan siswa SD.

Permasalahan dari penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah prototipe buku cerita sains yang dapat meningkatkan minat membaca, belajar sains dan sikap tanggap bencana. (2) Bagaimanakah tingkat kelayakan buku cerita sains yang dikembangkan. (3) Bagaimanakah tingkat keterbacaan buku cerita sains yang dikembangkan. (4) Bagaimanakah signifikansi peningkatan minat membaca siswa yang belajar menggunakan buku cerita sains. (5) Seberapa besar peningkatan prestasi belajar sains yang menggunakan buku cerita sains. (6) Seberapa besar peningkatan sikap tanggap bencana yang belajar menggunakan buku cerita sains.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan dengan jenis pretest-posttest control group desain. Buku cerita bermuatan kebencanaan diuji kelayakan dan keterbacaan dengan menggunakan angket dan tes esai. Data prestasi belajar sains, minat membaca dan sikap tanggap bencana siswa diperoleh dari hasil pre-test dan post-test.

(9)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Penegasan Istilah ... 7

1.6 Sistematika Penulisan Skripsi ... 10

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1Buku Cerita ... 12

2.2Minat Membaca ... 16

2.3Prestasi Belajar ... 20

2.4Sains ... 21

2.5Sikap Tanggap Bencana ... 22

2.6 Tinjauan tentang Materi ... 23

2.7 Kerangka Berfikir... 25

2.8 Hipotesis ... 27

(10)

x

3.2Prosedur Penelitian... 29

3.3 Penentuan Subjek Uji Coba ... 30

3.4 Instrumen Penelitian ... 30

3.4.1 Perangkat Pembelajaran ... 31

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data Hasil Belajar ... 31

3.4.2.1 Tes ... 31

3.4.2.1.1 Tes Essay ... 31

3.4.2.1.1 Tes Pilihan Ganda ... 31

3.4.2.2 Non Tes ... 36

3.4.2.2.1 Dokumentasi ... 36

3.4.2.2.2 Angket ... 36

3.5 Metode Analisis Data ... 39

3.5.1 Analisis Kelayakan Bahan Ajar ... 39

3.5.2 Analisis Keterbacaan Bahan Ajar ... 40

3.5.3 Analisis Minat Membaca ... 40

3.5.4 Analisis Sikap Tanggap Bencana ... 41

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 45

4.1.1 Hasil Prototipe Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan ... 45

4.1.2 Uji Kelayakan... 47

4.1.3 Uji Keterbacaan ... 47

4.1.4 Prestasi Belajar Sains ... 48

4.1.5 Minat Membaca ... 50

4.1.6 Sikap Tanggap Bencana ... 53

4.2 Pembahasan ... 55

4.2.1 Prototipe Buku Cerita ... 55

4.2.2 Uji Kelayakan... 56

4.2.3 Uji Keterbacaan ... 59

4.2.4 Prestasi Belajar Sains ... 60

4.2.5 Minat Membaca ... 62

(11)

xi BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 68

5.2 Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rincian Siswa Kelas IV SD ... 31

Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba ... 34

Tabel 3.3Klasifikasi Daya Pembeda ... 36

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba ... 37

Tabel 4.1 SkorSetiap Aspek Kelayakan Buku Cerita ... 50

Tabel 4.2 Skor Keterbacaan Setiap Cerita ... 50

Tabel 4.3 Data Hasil Prestasi Belajar Siswa ... 51

Tabel 4.4 Data Hasil Minat Membaca Siswa ... 53

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Pre test-Posttest Control Groub Desain ... ... 29

Gambar 3.2 Skema Alur Penelitian ... ... 30

Gambar 4.1 Ilustrasi Saat Terjadi Banjir... ... 47

Gambar 4.2 Sampul Bepan Buku Cerita ... ... 48

Gambar 4.3 Daftar Isi Buku Cerita ... ... 48

Gambar 4.4 Grafik Belajar Kognitif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 52

Gambar 4.5 Grafik Peningkatan Hasil Belajar Sains ... ... 53

Gambar 4.6 Grafik Angket Minat Membaca Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 54 Gambar 4.7 Grafik Peningkatan Minat Membaca ... ... 55

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Nama Siswa Uji Coba ... 72

2. Kisi-kisi Soal Uji Coba ... 73

3. Soal Uji Coba Soal ... 74

4. Kunci Jawaban Uji Coba Soal ... 82

5. Analisis Validitas, Tingkat Kesukaran, dan Daya Beda ... 83

6. Contoh Analisis Perhitungan Reabilitas ... 87

7. Contoh Analisis Perhitungan Tingkat Kesukaran ... 88

8. Contoh Analisis Perhitungan Daya Beda ... 89

9. Analisis Uji Normalitas Soal Uji Coba ... 90

10. Kisi-Kisi Angket Kelayakan ... 91

11. Angket Kelayakan ... 92

12. Analisis Angket Kelayakan ... 94

13. Analisis Indikator Angket Kelayakan ... 95

14. Soal Keterbacaan ... 97

15. Kunci Jawaban Soal Keterbacaan ... 100

16. Analisis Soal Keterbacaan.... ... ... 102

17. Daftar Nama Siswa Kelas Eksperimen ... 103

18. Daftar Nama Siswa Kelas Kontrol ... 104

19. Silabus ... 105

20. RPP Kelas Eksperimen ... 106

21. RPP Kelas Kontrol ... 112

22. Kisi-Kisi Soal Pre Test-Post Test ... 117

23. Soal Pre Test-Post Test ... 118

24. Kunci jawaban Pre Test-Post Test ... 123

25. Daftar Nilai Pre Test Kelas Eksperimen ... 124

26. Daftar Nilai Pre Test Kelas Kontrol ... 125

(15)

xv

28. DaftarNilaiPost Test Kelas Kontrol ... 127

29. NilaiPre test -Post Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 128

30. Analisis Uji NormalitasPre test Kelas Eksperimen ... 129

31. Analisis Uji NormalitasPre test Kelas Kontrol ... 130

32. Analisis Uji VariansPre test ... 131

33. Analisis Uji NormalitasPost TestKelas Eksperimen ... 132

34. Analisis Uji NormalitasPost TestKelas Kontrol ... 133

35. Analisis Uji VariansPost Test ... 134

36. Analisis Uji t(Dua Pihak)Kelas Eksperimen ... 135

37. Analisis Uji t (Dua Pihak) Kelas Kontrol ... 136

38. Analisis Uji t (Pihak Kanan)Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol .... 137

39. Analisis Uji GainKelas Eksperimen ... 138

40. Analisis Uji GainKelas Kontrol ... 139

41. Analisis Uji GainKelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 140

42. Kisi-Kisi Angket Minat Membaca ... 141

43. Angket Minat Membaca ... 142

44. Daftar Nilai Angket Minat Pre test Eksperimen ... 144

45. Daftar Nilai Angket Minat Pre test Kelas Kontrol ... 145

46. Daftar Nilai Angket Minat Post TestEksperimen ... 146

47. Daftar Nilai Angket Minat Post TestKelas Kontrol ... 147

48. Nilai Angket Minat Pre test-Post Test ... 148

49. Analisis Uji NormalitasPre test Eksperimen ... 149

50. Analisis Uji NormalitasPre test Kelas Kontrol ... 150

51. Analisis Uji VariansPre test ... 151

52. Analisis Uji NormalitasPost TestEksperimen ... 152

53. Analisis Uji NormalitasPost TestKelas Kontrol ... 153

54. Analisis Uji VariansPost Test ... 154

(16)

xvi

56. Analisis Uji t (Dua Pihak) Kelas Kontrol ... 156

57. Analisis Uji t (Pihak Kanan)Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol .... 157

58. Analisis Uji GainKelas Eksperimen ... 158

59. Analisis Uji GainKelas Kontrol ... 159

60. Analisis Uji GainKelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 160

61. Analisis Uji Signifikansi Minat Membaca ... 161

62. Kisi-Kisi Angket Sikap Tanggap Bencana ... 163

63. Angket Sikap Tanggap Bencana ... 164

64. Daftar Nilai Angket Sikap Pre testKelas Eksperimen ... 166

65. Daftar Nilai Angket Sikap Pre test Kelas Kontrol ... 167

66. Daftar Nilai Angket Sikap Post testKelas Eksperimen ... 168

67. Daftar Nilai Angket Sikap Post testKelas Kontrol ... 169

68. NilaiAngket Sikap Pre test-Post test ... 170

69. Analisis Uji NormalitasPre test Kelas Eksperimen ... 171

70. Analisis Uji NormalitasPre test Kelas Kontrol ... 172

71. Analisis Uji VariansPre test ... 173

72. Analisis Uji NormalitasPost test Kelas Eksperimen ... 174

73. Analisis Uji Normalitas Post test Kelas Kontrol ... 175

74. Analisis Uji VariansPost test ... 176

75. Analisis Uji t(Dua Pihak)Kelas Eksperimen ... 177

76. Analisis Uji t(Dua Pihak)Kelas Kontrol ... 178

77. Analisis Uji t (Pihak Kanan) ... 179

78. Analisis Uji GainKelas Eksperimen ... 180

79. Analisis Uji Gain Kelas Kontrol ... 181

80. Analisis Uji GainKelas Eksperimen dan kelas kontrol ... 182

81. Surat Keterangan Pembimbing ... 183

82. Surat Penelitian Kelas Eksperimen ... 184

(17)

xvii

(18)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan aspek penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Melalui pendidikan seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik karena terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan merupakan kegiatan pengajaran atau membimbing untuk menyiapkan siswa menghadapi masa depan. Kegiatan itu dilakukan dalam pembelajaran di sekolah, salah satu mata pelajaran di sekolah adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

(19)

Seorang guru harus mempersiapkan media pembelajaran yang lebih inovatif dan menarik sehingga siswa akan lebih berminat mempelajari IPA. Hal ini, sesuai dengan Standar Pendidikan Nasional No. 19 Tahun 2005 bahwa:

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.

Media pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa IPA adalah dengan adanya bahan ajar. Namun, kesadaran pentingnya membaca memang masih sangat rendah. Hal ini sesusai dengan data, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 yang mengeluarkan rilis untuk mengetahui seberapa besar minat penduduk terhadap dua aktivitas, yaitu menonton dan membaca. Survei dilakukan kepada penduduk yang berusia 10 tahun ke atas. Hasilnya, sungguh mengejutkan. Sebesar 90,27 % penduduk menyukai menonton dan hanya 18,94 % yang menyenangi aktivitas membaca surat kabar/majalah. Melihat data diatas ternyata minat membaca anak-anak sangat rendahsehingga mengakibatkan hasil belajar juga rendah.

(20)

Sitanggang (2008:31) minat siswa untuk membaca buku pendidikan sangat minim. Siswa lebih menyukai bacaan yang disertai gambar-gambar lucu atau seru yang biasanya ditemukan pada buku komik atau buku fiksi lainnya.Meningkatkan minat membaca siswa adalah adanya bahan ajar yang inovatif dan menarik sehingga membuat siswa termotivasi.

Menurut Ortlieb (2010:1) bahwa beberapa anaktidak suka membacakarenabuku yang tidakmenarik mengakibatkan banyak siswatidak akan lagiingin membaca. Membacatidak akanmenjadi aktivitas yang menyenangkan, sebaliknya hal ituakan dianggap sebagai pekerjaan.Siswa kelas IV SD rata-rata berusia 9-10 tahun tergolong masih anak-anak. Pada usia itu lebih menyukai buku cerita yang berisi gambar dan tulisan yang berwarna. Buku cerita sangat tepat apabila digunakan dalam pembelajaran sains dengan tidak mengesampingkan inti dari buku cerita yang biasa dibaca oleh anak-anak.

(21)

Masyarakat yang belum memahami kesiapsiagapan bencanamengakibatkan penanganan bencana dan pasca bencana kurang efektif.Kesiapsiagaan merupakan kemampuan untuk melakukan tindakan darurat guna melindungi barang-barang dari kerusakan dan kekacauan akibat bencana. Menurut Astuti (2010:31-32), pengurangan resiko bencana harus disosialisasikan pada masyarakat Indonesia khususnya siswa. Hal ini, disebabkan Indonesia adalah daerah rawan bencana. Indonesia berada pada urutan ke - 7 sebagai negara yang mengalami bencana alam. Indonesia sebagai daerah rawan bencana masih memiliki tiga masalah utama:

1. Masih rendahnya kinerja penanganan bencana

Kinerja penanganan bencana sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kecakapan dalam penanganan bencana melalui pengorganisasian dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

2. Masih rendahnya perhatian terhadap pengurangan resiko bencana

Kewaspadaan sangatlah penting mengingat fakta bahwa jumlah korban jiwa dan kehilangan materi yang tidak sedikit di setiap kejadian bencana sehingga sangat dibutuhkan perhatian dari masyarakat.

3. Masih lemahnya peran sekolah dalam pendidikan mitigasi bencana.

(22)

Persoalan diatas menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat merancang penanganan resiko bencana, karena selama ini penanganan bencana masih kurang efektif. Menurut Astuti (2010: 31-32) untuk mengatasi kekurang efektifan penanganan bencana dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Penanganan bencana tidak lagi menekankan pada aspek tanggap darurat, tetapi menekankan pada keseluruhan manajemen resiko.

2. Perlindungan masyarakat dari ancaman bencana oleh pemerintah merupakan wujud dari perlindungan sebagai hak asasi rakyat, dan bukan semata-mata karena kewajiban pemerintah.

3. Penanganan bencana bukan lagi semata-mata tanggung jawab pemerintah tetapi juga menjadi urusan bersama masyarakat.

Salah satu prioritas aksi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) adalah pentingnya pengetahuan, inovasi, pendidikan untuk membangun budaya keselamatan dan ketahanan pada semua tingkat. Dalam hal ini, penting sekali ditingkatkannya pendidikan melalui integrasi PRB di sekolah baik kurikulumnya maupun budaya keselamatan sekolah (Astuti, 2010:33). Pembelajaran ini dapat meningkatkan kesadaran resiko bencana karena akan berdampak pada pengurangan resiko bencana. Peserta didik mendapatkan pengetahuan tentang masalah dalam menghadapi bencana sehingga bila terjadi bencana alam dapat langsung tanggap dan tidak merasa takut.

(23)

risiko bencana secara individu atau kelompok, 4) Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana, 5) Mengembangkan kesiapan untuk mengurangi dampak yang disebabkan karena terjadinya bencana, 6) Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan mendadak

Berdasarkan uraian diatas penelitian dengan judul “ Pembuatan Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan untuk Meningkatkan Minat Membaca, Prestasi Belajar Sains dan Sikap Tanggap Bencana ” perlu dilakukan.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah prototipe buku cerita sains yang dapat meningkatkan minat membaca, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana ?

2. Bagaimanakah tingkat kelayakan buku cerita sains yang dikembangkan? 3. Bagaimanakah tingkat keterbacaan buku cerita sains yang dikembangkan? 4. Bagaimanakah signifikansi peningkatan minat membaca siswa yang belajar

menggunakan buku cerita sains?

5. Seberapa besar peningkatan prestasi belajar sains yangmenggunakan buku cerita sains?

(24)

1.3

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai ataupun diharapkan adalah: 1. Membuat prototipe buku cerita sainsbermuatan kebencanaan. 2. Menguji kelayakan buku cerita sains yang dikembangkan.

3. Mengetahui tingkat keterbacaan buku cerita sains yang dikembangkan.

4. Mengetahui signifikan peningkatan minat membaca siswa yang belajar menggunakan buku cerita sains.

5. Menentukan besar peningkatan prestasi belajar sains yang menggunakan buku cerita sains.

6. Menentukan besar peningkatan sikap tanggap bencana yang belajar menggunakan buku cerita sains.

1.4

Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian antara lain : 1. Bagi Peneliti

Dapat dijadikan bahan untuk mengembangkan media pembelajaran khususnya buku cerita di masa mendatang.

2. Bagi Guru

Memberikan alternatif pemilihan media bagi guru pada materi sains dan media buku cerita dapat digunakan untuk meningkatkan minat membaca, belajar sains dan kembangkan sikap tanggap bencana.

(25)

Tersedia bahan ajar sains berupa buku cerita yangdapat digunakan untuk meningkatkan minat membaca, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana.

1.5

Penegasan Istilah

a. Buku Cerita

Menurut Stewing (1980:97) dalam Susanto (2011), buku bergambar adalah sebuah buku yang menjajarkan cerita dengan gambar. Kedua elemen ini bekerjasama untuk menghasilkan cerita dengan ilustrasi gambar. Biasanya buku-buku bergambar dimaksudkan untuk mendorong ke arah apresiasi dan kecintaan terhadap buku. Selain ceritanya secara verbal harus menarik, buku harus mengandung gambar sehingga mempengaruhi minat siswa untuk membaca cerita. Oleh karena itu, gambar dalam cerita anak-anak harus hidup dan komunikatif. Gambar dalam cerita anak-anak harus sesuai.Buku cerita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bahan ajar pendamping materi sains yang disusun secara sistematis untuk kegiatan belajar mengajar berbentuk buku cerita.

b. Minat Membaca

(26)

adalah muridtanpa adanya suatu paksaan atau keharusan. Minat membaca yang dimaksud dalam penelitian ini adalah meningkatkan minat membaca dengan cara menggunakan media berupa buku cerita.

c. Sains

IPA merupakan pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah ( Trianto, 2007:100). Melalui pembelajaran IPA diharapkan peseta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah. Sains yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menggunakan media buku cerita agar peserta didik tertarik dengan IPA dan tidak menganggap IPA adalah mata pelajaran yang menyeramkan ataupun sulit. d. Prestasi Belajar

Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik (Slameto,2003).Menurut Nasution, S (1987) dalam Hamdu (2011) prestasi belajar adalah “ kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan

(27)

e. Sikap Tanggap Bencana

Bencana adalah fasilitas fisik setempat serta keteraturan kehidupan sosial secara drastis berubah total. Dalam menghadapi peristiwa bencana alam yang datang secara mendadak, maka dibutuhkan tindakan terhadap bencana harus tepat dan efektif. Menurut Sutton & Tierney (2006) dalam Astuti (2013) adalah kesiapsiagaan menghadapi bencana sendiri didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan hidup saat terjadi bencana, seperti tindakan protektif selama gempa bumi, tumpahan material berbahaya, atau serangan teroris. Kesiapsiagaan juga mencakup tindakan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan untuk melakukan tindakan darurat guna melindungi barang-barang dari kerusakan dan kekacauan akibat bencana. Sikap Tanggap Bencana yang dimaksud dalam penelitian ini adalah meningkatkan sikap tanggap bencana dengan cara menggunakan media berupa buku cerita.

1.6

Sistematika Penulisan Skripsi

1) Bagian Awal

Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman kosong, pernyataan keaslian tulisan, halaman pengesahan, persembahan, motto, prakata, abstrak, daftar isi, daftar tabel dan dafrat lampiran.

2) Bagian Isi

(28)

Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan sistematika penelitian.

BAB II Tinjauan Pustaka

Berisi kajian teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu tentang buku cerita, minat, membaca, sains, belajar, tanggap bencana, tinjauan materi, dan kerangka berfikir.

BAB III Metode Penelitian

Berisi lokasi dan subjek penelitian, desain penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, analisis uji coba instrumen, dan metode analisis data.

BAB IV Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian berupa satu set buku cerita bermuatan kebencanaan yang telah diuji kelayakan dan keterbacaan, hasil analisis prototipe, hasil uji kelayakan, hasil uji keterbacaan, hasil analisis data penguasaan materi, hasil angket minat membaca dan hasil angket sikap tanggap bencana siswa kelas IV SDN 3 Ketangirejo Kabupaten Grobogan setelah diberi buku cerita bermuatan kebencanaan. Selanjutnya dilakukan pembahasan berupa tafsiran hasil penelitian dan mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam teori yang telah ada.

BAB V Penutup

Berisi simpulan dan saran 3) Bagian Akhir

(29)
(30)

13

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Buku Cerita

Media buku cerita merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di sekolah. Pada sekolah umumnya menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan materi khususnya IPA. Padahal dengan metode tersebut siswa cenderung sulit memahami materi yang diberikan dan cepat bosan karena proses pencernaan begitu kompleks dan memiliki banyak istilah-istilah yang sulit dihafalkan dan dipahami. Dengan menggunakan media buku cerita dapat menjadi alternatife bagi guru dalam menyampaikan materi. Menurut Trianto (2007:75), media pembelajaran diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain: (1) bahan yang disajikan menjadi lebih jelas maknanya bagi siswa, dan tidak bersifat verbalistik, (2) metode pembelajaran lebih bervariasi, (3) siswa menjadi lebih aktif melakukan beragam aktivitas, (4) pembelajaran lebih menarik, dan (5) mengatasi keterbatasan ruang.

(31)

Menurut Stewing dalam Susanto (2011), buku bergambar adalah sebuah buku yang menjajarkan cerita dengan gambar. Kedua elemen ini bekerjasama untuk menghasilkan cerita dengan ilustrasi gambar. Biasanya buku-buku bergambar dimaksudkan untuk mendorong ke arah apresiasi dan kecintaan terhadap buku. Selain ceritanya secara verbal harus menarik, buku harus mengandung gambar sehingga mempengaruhi minat siswa untuk membaca cerita. Oleh karena itu, gambar dalam cerita anak-anak harus hidup dan komunikatif.

Sebuah buku cerita dapat berfungsi sebagai tiket ajaib untuk berimajinasi. Buku yang baik dapat mempengaruhi pola pikiran pembacanya. Sebagai contoh, mungkin kebanyakan dari kita masih ingat tentang buku favorit yang sering dibaca. Menurut Johnson (2003), sebuah buku akan memberikan pengalaman yang dapat membantu tugas perkembangan anak sebagai berikut:

1) Emosi positif diciptakan dari rutinitas membaca, yang menghasilkan kedekatan, keintiman, dan rasa aman.

2) Dialog sosial yang interaktif antara anak-anak dan orang dewasa dapat membangun pengetahuan sebelumnya dan memberikan umpan balik yang cepat, pada saat mereka membahas, misalnya ketika membaca buku seri cerita “binatang”.

3) Bahasa yang digunakan untuk label, membandingkan, menjelaskan, dan mengklasifikasikan dapat menciptakan suasana yang mendukung untuk penataan proses berpikir dan pembentukan konsep.

(32)

1) Buku abjad (alphabet book)

Dalam buku alfabet, setiap huruf alphabet dikaitkan dengan suatu ilustrasi objek yang diawali dengan huruf. Ilustrasi harus jelas berkaitan dengan huruf-huruf kunci dan gambar objek dan mudah teridentifikasi. Beberapa buku alphabet diorganisasi pada sekitar tema khusus, seperti peternakan dan transportasi. Buku alfabet berfungsi untuk membantu siswa, menstimulasi dan membantu pengembangan kosakata.

2) Buku mainan (toys book)

Buku-buku mainan menggunakan cara penyajian isi yang tidak biasa. Buku mainan sendiri dari buku kartu papan, buku pakaian dan buku pipet tangan. Buku mainan ini mengarahkan anak-anak untuk memahami teks, dapat mengeksplorasi konsep nomor, kata bersajak dan alur cerita. Buku mainan membantu anak-anak untuk mengembangkan keterampilan kognitif, meningkatkan kemampuan bahasa dan sosialnya, dan untuk mencintai buku. Sikap positif terhadap membaca dapat ditumbuhkan dengan buku ini.

3) Buku konsep (consept books)

(33)

4) Buku bergambar tanpa kata (wordless picture books)

Buku bergambar tanpa kata adalah buku untuk menyampaikan suatu cerita melalui ilustrasi saja. Buku bergambar tanpa kata menjadi berkembang dan popular pada masyarakat generasi muda. Ini terdapat di televisi, komik, dan bentuk visual lainnya dari komunikasi. Alur cerita disajikan dengan gambar yang diurutkan dan tindakan juga digambarkan dengan jelas. Buku bergambar tanpa kata terdiri dari berbagai bentuk, seperti buku berupa buku humor, buku serius, buku informasi atau buku fiksi. Buku ini mempunyai beberapa keunggulan, misalnya untuk mengembangkan bahasa tulis dan lisan secara produktif yang mengikuti gambar. Keterampilan pemahaman juga dapat dikembangkan pada saat anak membaca cerita melalui ilustrasi. Anak-anak menganalisis maksud pengarang dengan mengidentifikasi ide pokok dan memahami ceritanya.

5) Buku cerita bergambar.

(34)

dan tema yang menarik. Buku ini dapat menimbulkan imajinasi orisional dan mempersiapkan stimulus berpikir kreatif.

Buku cerita bergambar dapat memberikan apresiasi bahasa dan mengembangkann komunikasi lisan, mengembangkkan proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan, dan meningkatkan kepekaan seni. Buku cerita bergambar sains merupakan buku yang berisi ilustrasi dan teks tertulis yang berisi pengetahuan tentang gejala-gejala alam.

Menurut Stewing dalam Susanto (2011), ada tiga manfaat buku bergambar, yaitu : (1) membantu masukan bahasa kepada anak-anak, (2) memberikan masukan visual bagi anak-anak, dan (3) menstimulasi kemampuan visual dan verbal anak-anak.

Perlu diketahui bahwa buku bacaan yang baik adalah buku bacaan yang : (a) dapat memberikan nilai tambah positif pada pembacanya. Misalnya, memberi kegembiraan, membantu memecahkan persoalan dan mampu membuka pikiran untuk suatu hal, (b) disampaikan dalam bahasa yang sederhana, enak dibaca dan penulisnya seakan ingin berbagai dengan pembaca, bukan menggurui, (c) gaya penulisannya tidak meledak-ledak, (d) menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, tidak banyak menggunakan istilah asing yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia.(Christantiowati dalam Susanto,2011).

2.2

Minat Membaca

(35)

kesenangan. Menurut Tiemensma (2009) mengatakan bahwa membaca adalah komponen terpenting di abad 21 agar bisa bertahan di era globalisme saat ini.

Slameto (2003:57) mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan beberapa kegiatan yang diminati seseorang disertai dengan rasa sayang. Faktor-faktor yang mendorong minat adalah sebagai berikut. Pertama faktor kebutuhan, karena adanya minat untuk memenuhi kebutuhan itu. Kedua faktor perasaan; perasaan sukses, senang, mendorong timbulnya minat, sedangkan perasaan kecewa, gagal, menghambat atau bahkan menghilangkan minat. Ketiga, faktor lingkungan; maksudnya minat dipengaruhi dorongan untuk diterima atau diakui oleh lingkungan.

Minat dapat tumbuh dari dari individu dan lingkungan. Apabila seseorang telah memiliki minat yang sangat tinggi namun lingkungan tidak mendukung maka hasilnya kurang maksimal. Dan sebaliknya minat kita rendah sedangkan lingkungan kita mendukung hasilnya kurang maksimal juga. Untuk meningkatkan minat membaca berada dalam lingkungan yang mendukung serta memiliki minat membaca yang tinggi. Minat membaca harusnya ditanamkan dari usia dini sehingga menggangap membaca merupakan suatu kebutuhan.

Menurut Karyono (2007: 5) ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan minat baca anak sejak usia ini antara lain dilakukan dengan cara :

(36)

2) Menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli masyarakat. Minat membeli buku masyarakat rendah, karena harga buku-buku saat ini relatif cukup mahal. Dengan demikian apabila harga buku dapat terjangkau, maka minat membeli buku bacaan oleh masyarakat akan menjadi tinggi. Dengan banyak memiliki buku, maka minat membaca buku akan menjadi meningkatkan secara bertahap.

3) Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik.

4) Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca anak-anak. Baik di rumah maupun di sekolah. Di sekolah, guru memberikan tugas kepada siswa untuk menceriterakan kembali buku yang telah dibaca, mengadakan lomba meresensi buku, bedah buku, pameran buku bekerjasama dengan penerbit dan masyarakat pecinta buku. Di rumah oranglah yang harus dapat menciptakan kondisi lingkungan agar anak gemar membaca.

5) Menumbuhkan minat baca sejak dini.

6) Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/kabupaten dengan meli-batkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah. Dengan mewajibkan siswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.

7) Di rumah orang tua memberikan contoh membaca untuk anak-anaknya. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orang tua agar orang tua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya sebagaimana diuraikan berikut ini.

(37)

Bahan bacaan yang siswa sukai secara perlahan-lahan akan membaca buku itu. Awalnya, membaca hanya untuk mengisi waktu luang saja pada saat jam istirahat. Pada akhirnya, membaca akan menjadi kebiasan.

Indikator-indikator minat membaca siswa yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : (1) frekuensi membaca buku, (2) jumlah buku yang dibaca, (3) perasaan senang terhadap buku, (4) jenis buku yang dibaca, (5) ketertarikan dan kepuasan setelah membaca, (6) tempat untuk membaca buku cerita, (7) waktu untuk membaca buku cerita, (8) memahami isi buku cerita, (9) dukungan keluarga, (10) mengambil manfaat setelah membaca buku cerita.

(38)

2.3

Prestasi Belajar

Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik (Slameto, 2003). Prinsip-prinsip belajar antara lain, yaitu :

a. Sesuai materi yang dipelajari

1. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya

2. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya.

b. Syarat keberhasilan belajar

1. Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.

2. Repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian atau ketrampilan atau sikap itu mendalam pada siswa.

Poerwanto dalam Hamdu (2011:92) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “ hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana

yang dinyatakan dalam raport”. Menurut Nasution dalam Hamdu (2011:92) prestasi belajar adalah “ kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir,

(39)

Dari pendapat-pendapat yang telah dikemukan oleh para ahli, prestasi belajar merupakan hasil yang didapatkan atau dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar melalui tes atau evaluasi. Hasil dari evaluasi akan memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Biasanya hasil dari tes atau evaluasi berupa angka atau huruf.

Peningkatan hasil belajar dapat dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan ( penampilan ) sebelum dan sesudah mengikuti proses pembelajaran didalam kelas.

2.4

Sains

IPA merupakan pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah (Trianto, 2007:100).Dalam pembelajaran IPA seharusnya lebih menekankan arti pentingnya pengembangan kemampuan berfikir. Guru memberikan pengetahuan dasar kepada siswa dan siswa dapat mengembangkannya sendiri. Namun, dalam perkembangannya IPA bukanlah kumpulan fakta-fakta ataupun teori (produk ilmiah), tetapi juga munculnya proses untuk mendapatkan produk yaitu metode ilmiah dan sikap ilmiah. Peserta didik masih menganggap lebih penting hasil daripada produk, sehingga dengan adanya pembelajaran IPA peserta didik akan mengetahui pentingnya arti proses.

Menurut Trianto (2007:104) pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: 1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten

(40)

2) menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah.

3) latihan berfikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu sebagai penerapan metamatika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam

4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alats sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan kemampuan IPA dalam menjawab berbagai masalah. Dalam pembelajaran IPA, peserta didik mendapatkan keempat unsur tersebut. Melalui pembelajaran IPA diharapkan peseta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah. Diharapkan menggunakan pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik akan tertarik dengan IPA dan tidak menganggap IPA adalah mata pelajaran yang menyeramkan ataupun sulit.

2.5

Sikap Tanggap Bencana

Bencana adalah fasilitas fisik setempat serta keteraturan kehidupan sosial secara drastis berubah total. Dalam menghadapi peristiwa bencana alam yang dating secara mendadak, maka begitu juga idealnya dengan tanggap untuk pengelolaan bencana alam. Respon terhadap bencana harus tepat dan efektif.

(41)

kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa kerugian harta benda, dan dampak manusia untuk mangatasi masalah bencana belum banyak dilakukan secara sistematik dan suistanable sehingga korban bencana masih menunjukkan angka-angka yang relatife tinggi dalam Astuti (2010).

Menurut Sutton & Tierney dalam Astuti (2013) adalah kesiapsiagaan menghadapi bencana sendiri didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan hidup saat terjadi bencana, seperti tindakan protektif selama gempa bumi, tumpahan material berbahaya, atau serangan teroris. Kesiapsiagaan juga mencakup tindakan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan untuk melakukan tindakan darurat guna melindungi barang-barang dari kerusakan dan kekacauan akibat bencana. Serta kemampuan untuk terlibat dalam kegiatan restorasi dan pemulihan awal pasca bencana.

Dari pendapat-pendapat diatas pendidikan mitigasi bencana sangat penting untuk diajarkan pada siswa-siswa disekolah. Adanya pendidikan disekolah diharapkan siswa tidak merasa asing, takut dan bingung dalam menghadapi bencana alam. Selain itu, siswa-siswa juga tahu pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

2.6

Tinjauan tentang Materi

Lingkungan merupakan tempat bagi sumber daya alam. Jika lingkungan

rusak maka dapat menyebabkan sumber daya alam terganggu. Bagaimanakah agar

(42)

Kerusakan lingkungan dapat menyebabkan ketidakseimbangan sumber

daya alam. Kerusakan lingkungan dapat disebab kan oleh pemanfaatan sumber

daya alam yang berlebihan. Berikut ini adalah contoh pemanfaatan sumber daya

alam yang berlebihan.

1. Penebangan pohon secara liar dan besarbesaran,

2. Perburuan hewan liar.

3. Penggunaan bahan bakar dan energi secara berlebihan.

Contoh-contoh tersebut dapat mengakibatkan kerusakan dan

ketidakseimbangan lingkungan. Penebangan pohon secara liar dan besarbesaran

menyebabkan hutan gundul dan tandus. Perburuan liar menyebabkan kepunahan

pada jenis-jenis hewan. Selain itu, penggunaan bahan bakar dan energi yang

berlebihan menyebabkan sumber daya alam ter sebut cepat habis. Oleh karena itu,

lingkungan dan sumber daya alam harus dilestarikan. Apakah kamu mengetahui

cara pelestarian lingkungan dan persediaan sumber daya alam dengan baik?

Berikut ini adalah beberapa cara agar lingkungan dan persediaan sumber

daya alam baik sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non hayati

dapat tetap lestari.

1. Tidak mengambil sumber daya alam secara besar-besaran.

2. Berusaha mengembalikan keadaan lingkungan kembali seperti keadaan

lingkungan sebelum pengambilan sumber daya alam

3. Pengambilan sumber daya alam harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku

(43)

4. Menghemat penggunaan sumber daya alam agar sumber daya alam tersebut

tetap lestari.

2.7

Kerangka Berpikir

Media pembelajaran merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Melalui media pembelajaran guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran . Sehingga, siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Media pembelajaran dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan.

Buku pelajaran yang dimiliki oleh peserta didik lebih banyak berupa textbook, walaupun terdapat sedikit ilustrasi tapi belum cukup menarik bagi peserta didik. Ada pepatah yang sering kita dengar adalah “Buku adalah jendela dunia”. Karena dengan membaca, kita akan memperoleh pengetahuan, wawasan dan keterampilan. Jika buku adalah jendela dunia, berarti buku memiliki kedudukan penting dalam kehidupan. Meski sudah diakui sebagai sumber ilmu, membaca buku bagi masyarakat Indonesia belum menjadi sebuah kebutuhan.

Kesadaran pentingnya membaca memang masih sangat rendah. Membaca buku wajar dilakukan di sekolah-sekolah. Di luar sekolah, membaca masih dianggap kegiatan yang membosankan. Masyarakat lebih akrab dengan televisi daripada buku. Hal ini dapat terlihat, hampir tiap keluarga memiliki televisi, namun belum tentu mereka memiliki buku-buku bacaan, kecuali pelajaran sekolah. Masyarakat Indonesia lebih banyak membiarkan waktu terbuang.

(44)

Ginting (2005) adalah Minat timbul jika peserta didik tertarik akan sesuatu yang dibutuhkan atau dipelajari bermakna bagi dirinya. Oleh karena itu, minat baca siswa harus ditanamkan dan dibina sejak usia dini, khususnya usia Sekolah Dasar. Dari sinilah, muncul gagasan menggabungkan antara daya tarik buku cerita dengan buku pelajaran sehingga siswa tertarik untuk membacanya.

Media buku cerita sangat tepat apabila digunakan dalam pembelajaran sains. Materi Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat tepat diajarkan melalui media buku cerita. Karena materi ini lebih banyak mengemukakan kegiatan – kegiatan manusia dalam kehidupan. Materi ini banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman peserta didik dalam mengetahui kegiatan-kegiatan yang menyebabkan kerusakan dan pelestarian lingkungan. Salah satu yang dapatmenggangu lingkungan. Misalnya penebangan pohon dihutan menyebabkan hutan menjadi gundul, membuang sampah disungai menyebabkan banjir pada musim penghujan, dan lain-lainnya. Hal – hal tersebut mengakibatkan bencana alam yang merupakan akibat dari tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab.

(45)

adanya bahan ajar ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami materi sumber daya alam, serta menjadi menjaga lingkungan agar tidak terjadi bencana alam. Penanggulangan bencana merupakan kegiatan yang berhubungan erat dengan tahap-tahap pencegahan, kesiapan, dan kesigapan. Dalam hal ini, dengan menyiapkan media pembelajaran yang mampu memberikan pengetahuan tentang bencana.

Dari uraian diatas kita bisa menarik sebuah pernyataan bahwa media buku cerita IPA akan membatu siswa untuk mendapatkan prestasi belajar IPA yang baik dan maksimal. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menciptakan media buku cerita bermuatan kebencanaa materi sumber daya alam dan di dalamnya dapat meningkatkan minat membaca, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana.

2.8

Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Penggunaan buku cerita bermuataan kebencanaan dapat meningkatkan minat membaca siswa kelas IV pada pokok materi Sumber Daya Alam

2. Penggunaan buku cerita bermuataan kebencanaan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV pada pokok materi Sumber Daya Alam

(46)

29

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1

Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development, R&D). Menurut Sugiyono (2008: 297) Penelitian R & Dadalah penelitian yang digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifan produk tertentu. Bentuk desain uji cobanya adalah True Experimental Design dengan jenis Pretest-Posttest Control Group Desain. Pada desain eksperimen ini, sebelumnya kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pre-test(O1) dan pre-test (O3). Menurut Sugiono (2010:303), desain penelitian Pretest-posttest control group desaindapat ditunjukkan pada gambar 3.1 sebagai berikut.

X

Gambar 3.1 Pretest-Posttest Control Groub Desain

Keterangan :

O1 : nilai pre-test(sebelum pembelajaran dengan bahan ajar buku cerita) O2 : nilai post-test(setelah pembelajaran dengan bahan ajar buku cerita) X : bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan materi sumber daya alam O3 : nilai pre-test(sebelum pembelajaran dengan tanpa bahan ajar buku cerita) O4 : nilai post-test (setelah pembelajaran dengan tanpa bahan ajar buku cerita)

3.2

Prosedur Penelitian

O1

O4 O3

(47)

Agar penelitian sesuai dengan tujuan perlu disusun prosedur penelitian. Adapun prosedur penelitian ditunjukkan pada gambar 3.2 sebagai berikut.

Gambar 3.2 Skema Alur Penelitian

3.3

Penentuan Subjek Uji Coba

Subjek uji coba ini adalah SD N 3 Latak dan SD N 3 Ketangirejo tahun pelajaran 2012/2013. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Rincian Siswa Kelas IV SD

No Sekolah Jumlah siswa

Analisis kurikulum dan materi yang akan dikembangkan melalui buku cerita

Merancang bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan mengacu pada RPP yang disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Membuat desain gambar dan cerita untuk buku cerita bermuatan kebencanaan

Validasi Pakar Desain Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan

Uji Coba Produk skala kecil yaitu Uji keterbacaan bahan ajar pada siswa dan uji kelayakan bahan ajar pada guru SD

Bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan materi sumber daya alam yang siap digunakan sebagai bahan ajar pendamping pembelajaran

Revisi Desain Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan

Melakukan uji coba bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan pada siswa kelas IV SD N 3 Ketanggirejo

(48)

1 SD N 3 Ketangirejo 17

2 SD N 3 Latak 20

Jumlah 37

(Sumber: Administrasi kesiswaan SD N 3 Latak dan SD N 3 Ketangirejo Tahun Pelajaran 2012/2013)

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek uji coba adalah siswa Sekolah Dasar dan Guru Sekolah Dasar yaitu SD N 3 Latak dan SD N 3 Ketangirejo. Dosen pembimbing dan guru sekolah dasar menjadi sumber data dalam penilaian dan perbaikan prototipe buku cerita, dan uji coba media tersebut dilakukan pada siswa.

Kelompok eksperimen yaitu kelas IV SD N 3 Ketangirejo yang mendapatkan pembelajaran dengan metode pembelajaran menggunakan media buku cerita bermuatan kebencanaan, sedangkan kelas IV SD N 3 Latak sebagai kelompok kontrol yang mendapatkan pembelajaran tidak menggunakan buku cerita bermuatan kebencanaan.

3.4

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah fasilitas yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang diharapkan agar pekerjaanya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2006:160). Instrumen dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2 yaitu: perangkat pembelajaran dan instrumen pengumpulan data hasil belajar.

(49)

Perangkat pembelajaran ini terdiri atas silabus yang disesuaikan dengan sekolah dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

3.4.2 Instrumen pengumpulan data hasil belajar 3.4.2.1Tes

Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara yang telah ditentukan (Arikunto, 2006:150).Tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar kognitif siswa pokok bahasan Sumber Daya Alam. Soal tes diujicobakan terlebih dahulu pada kelas uji coba, yaitu kelas yang telah memperoleh pelajaran IPA pokok bahasan Sumber Daya Alam dalam hal ini kelas V SD N 3 Ketangirejo. Setelah soal tes dianalisis digunakan sebagai soal pre test dan post test. Soal tes yang digunakan pada penelitian ini yaitu :

3.4.2.1.1 Tes essay

Tes essay digunakan untuk mengetahui tingkat keterbacaan teks bahan ajar sehingga diperoleh informasi bahwa bahan ajar buku cerita tersebut mudah dipahami atau tidak. Tes essay ini terdiri atas 25 butir soal yang merupakan soal yang terdapat pada buku cerita.

3.4.2.1.2 Tes Pilihan Ganda

(50)

yang meliputi aspek pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5) dan evaluasi (C6). Soal tes yang digunakan pada penelitian ini yaitu bentuk objektif tipe pilihan ganda.

Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukurapa yang diinginkan (Arikunto, 2006:168).Validitasdalam penelitian ini adalah validitas isi soal. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila dapat mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi yang diberikan.

Hasil analisis nilai uji coba menunjukkan bahwa semua soal uji coba yang valid. Soal-soal valid tersebut belum tentu dapat dipakai sebagai soal post test, karena selain valid, soal yang dijadikan sebagai soal post test juga harus memenuhi kriteria indeks kesukaran, daya pembeda, dan juga relibilitas.

Taraf Indeks Kesukaran

Untuk memperoleh kualitas soal yang baik, disamping memenuhi kriteria validitas perlu juga dianalisis tingkat kesukarannya. Menurut Arikunto (2006:210) rumus analisis tingkat kesukaran soal adalah :

Keterangan :

= Indeks kesukaran

(51)

= banyak siswa pada kelompok atas = banyak siswa pada kelompok bawah Kriteria :

P > 0,7 = sukar 0,3≤ P ≤ 0,7 = sedang P< 0,3 = mudah

Kriteria indeks kesukaran soal ada tiga berdasarkan harga indeks kesukaran soal. Kriteria-kriteria tersebut yaitu, sukar, sedang, dan mudah. Hasil dari perhitungan indeks kesukaran soal uji coba ditunjukkan pada tabel 3.2 sebagai berikut

Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba Kriteria

Indeks Kesukaran

Nomor Soal Jumlah

Butir Soal

Sukar 3, 13 2

Sedang 1, 7, 10, 11, 12, 16, 17, 18, 19, 23, 24, 25, 27, 32, 33, 34, 36, 40

18

Mudah 2, 4, 5, 6, 8, 9, 14, 15, 20, 21, 22, 26, 28, 29, 30, 31, 35, 37, 38, 39

20

Jumlah 40

Reliabilitas

Reliabel adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Sugiyono, 2006:273). Seperangkat tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat menunjukkan hasil yang relatif atau tetap, artinya apabila tes tersebut dikenakan pada sejumlah

A

JS

B

(52)

subyek yang sama pada waktu lain, maka hasilnya akan tetap sama atau relatif sama. Menurut Arikunto (2006:188) untuk mencari reliabilitas bentuk pilihan ganda menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

r11 : reliabilitas instumen

k : banyaknya butir pertanyaan vt : varians total

p : proporsi subjek yang menjawab betul pada suatu butir (proporsisubjek yang mendapat skor 1)

Berdasarkan analisis realibilitas soal pada Lampiran 6 diperoleh r11 sebesar 0,773. Hal ini menunjukkan instrumen bersifat sangat reliabel, sehingga instrumen ini layak digunakan dalam penelitian untuk mengukur hasil belajar kognitif. Daya Pembeda Soal

Daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal untuk membedakan antara tes yang berkemampuan tinggi dengan tes yang berkemampuan rendah.

(53)

A

= Jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah = Banyaknya siswa pada kelompok atas

= Banyaknya siswa pada kelompok bawah

Kriteria indeks daya pembeba soal ada lima yaitu sangat jelek, jelek, cukup, baik, dan sangat baik. Kriteria daya pembeda ditunjukkan pada tabel 3.3 sebagai berikut.

Tabel 3.3 Klasifikasi Daya Pembeda

Inteval Kriteria

0,00

Kriteria daya pembeda soal ada lima berdasarkan nilai daya pembeda soal tersebut. Kriteria-kriteria tersebut yaitu, tidak baik, jelek, cukup, baik, dan sangat baik. Jumlah butir soal dan nomor soal dengan kriteria tidak baik, jelek, cukup, baik, dan sangat baik dapat dilihat pada Tabel 3.4

(54)

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba Kriteria

Daya Pembeda

Nomor Soal Jumlah

Butir Soal

Sangat jelek 10 1

Jelek 1, 2, 3, 6, 8, 11, 13, 14, 20, 21, 23, 25, 30,

13 Cukup 4, 5, 7, 9, 12, 15, 16, 17, 18, 19, 22, 24,

26, 27, 28, 29, 31, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40

24

Baik 32, 33, 2

sangat baik

Jumlah 40

3.4.2.2Non-tes

3.4.2.2.1 Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 2006:231). Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data mengenai nama-nama siswa anggota sampel dan data nilai ulangan kelas IV SD Negeri 3 Ketangirejo dan SD Negeri 3 Latak. Data nilai digunakan untuk analisis tahap awal.

3.4.2.2.2 Angket

(55)

BelajarSiswa Kelas IV SD Negeri 3 Ketanggirejo dan SD Negeri 3 Latak pada Materi Pokok Sumber Daya Alam. Hasil angket dianalisis secara deskriptif dengan membuat tabel frekuensi jawaban siswa kemudian ditarik kesimpulan. Lembar angket tanggapan dan pedoman penilaiannya. Metode angket yang digunakan untuk menganalisis atau memperoleh data tentang pengujian atau penilaian media.

1) Angket Penilaian Prototipe

Angket penilaian prototipe digunakan untuk mengetahui penilaian secara objektif tentang keefektifan terhadap buku cerita yang telah dihasilkan. Selain itu, guru dapat memberikan saran secara umum untuk perbaikan media buku cerita anak apabila masih terdapat kekurangan.

2) Angket Uji Kelayakan

Angket uji kelayakan digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar buku cerita sains sehingga didapatkan informasi bahwa buku cerita sains ini layak atau tidak digunakan sebagai bahan ajar. Kisi-kisi angket uji kelayakan bahan ajar buku cerita sains ditinjau dari dimensi tampilan, bahasa, dan materi. Angket ini terdiri dari 15 butir pernyataan yang diisi oleh guru SD sebagai responden. Sistem penskoran menggunakan 3 pilihan, yaitu Sangat Baik dengan skor 3, Baik dengan skor 2, dan Kurang baik dengan skor 1.

3) Angket Uji Keterbacaan

(56)

butir pernyataan yang diisi oleh siswa SD sebagai responden. Setiap butir soal merupakan soal yang dibuat dari buku cerita, sehingga dapat dengan mudah dijawab apabila siswa memahami isi cerita.

4) Angket Penilaian minat membaca

Angket penilaian minat digunakan untuk menilai minat siswa secara langsung dari siswa. Metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar minat membaca buku bagi. Kisi-kisi angket uji kelayakan bahan ajar buku cerita sains ditinjau dari dimensi kebutuhan, perasaan, dan lingkungan. Angket ini diberikan kepada siswa sebelum dan setelah membaca buku cerita bermuatan kebencaanan. Angket ini terdiri dari 20 butir pernyataan yang diisi oleh siswa SD sebagai responden. Sistem penskoran menggunakan 3 pilihan, yaitu Ya dengan skor 3, Bingung dengan skor 2, dan Tidak dengan skor 1.

5) Angket penilaian sikap tanggap bencana

(57)

3.5

Metode Analisis Data

Analisis data merupakan langkah paling penting dalam penelitian, karena dalam analisis data dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hipotesis yang sudah diajukan. Analisis data dalam penelitian adalah digunakan untuk menguji pembelajaran menggunakan buku cerita untuk meningkatkan minat membaca, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana.

3.5.1 Analisis Kelayakan Bahan Ajar

Tingkat kelayakan bahan ajar dihitung dengan persamaan berikut:

Keterangan:

% = persentase skor

n = jumlah skor yang diperoleh N = jumlah skor maksimum Kriteria tingkat kelayakan bahan ajar: 0% < nilai ≤ 25% = kurang baik 26% < nilai ≤ 50% = cukup 51% < nilai ≤ 75% = baik

76% < nilai ≤ 100% = sangat baik

3.5.2 Analisis Keterbacaan Bahan Ajar

Untuk mengetahui tingkat keterbacaan teks bahan ajar dihitung dengan mencari proporsi jawaban benar dikalikan 100, secara sistematis:

(58)

Keterangan:

X = besarnya tingkat keterbacaan teks bahan ajar ∑X1 = jumlah proporsi jawaban yang benar

n = banyak siswa

Hasil akhir keterbacaan teks bahan ajar dalam bentuk skor, kemudian dibandingkan dengan kriteria Bormuth sebagai berikut:

<37% = bahan ajar sukar dipahami

37% - 57% = bahan ajar telah memenuhi syarat keterbacaan >57% = bahan ajar mudah dipahami

3.5.3 Analisis Minat Membaca

Hasil tentang minat diperoleh dari angket yang diberikan sebelum dan sesudah menggunakan buku ajar.

Kriteria tingkat minat siswa:

25% < nilai ≤ 43,75% = kurang baik 43,75% < nilai ≤ 62,50% = cukup 62,50% < nilai ≤ 81,25% = baik

81,25% < nilai ≤ 100% = sangat baik 3.5.4 Analisis Sikap Tanggap Bencana

(59)

Kriteria sikap tingkat tanggap bencana siswa: 25% < nilai ≤ 43,75% = kurang baik 43,75% < nilai ≤ 62,50% = cukup 62,50% < nilai ≤ 81,25% = baik 81,25% < nilai ≤ 100% = sangat baik Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang dianalisis terdistribusi normal atau tidak. Menurut Sudjana (2005:273), uji normalitas menggunakan rumus :

Keterangan : 

= chi kuadrat

Ei = frekuensi yang diharapkan Oi = frekuensi pengamatan k = jumlah kelas interval

Jika yang diperoleh berada pada daerah penerimaan Ho, maka datatersebut terdistribusi normal.

Uji Kesamaan Varians

(60)

Keterangan:

s12 = varians kelompok eksperimen s22 = varians kelompok kontrol

Kriteria pengujian adalah terima hipotesis Ho jika : F(1-α)(n1-1)< F < F1/2α(n1-1, n2-1) . Uji t

Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar, minat membaca, dan sikap tanggap bencana kelas ekperimen dan kelas kontrol digunakan uji-t menurut Sugiyono (2008:122) dengan persamaan sebagai berikut :

̅ ̅

Keterangan :

̅ : nilai rata-rata sampel 1 ̅ : nilai rata-rata sampel 2 S1 : simpangan baku sampel 1 S2 : simpangan baku sampel 2

: variansi data kelas eksperimen : variansi data kelas kontrol

Kriteria yang digunakan adalah terdapat perbedaan yang signifikan apabila harga t hitung tidak memenuhi t hitung <t tabel dengan derajat kebebasan untuk tabel distribusi t

adalah (n1+ n2- 2) dengan taraf signifikansi () = 5 %.

2 2 2 1

(61)

Uji Gain ternormalisasi

Untuk mengetahui peningkatan minat membaca siswa, prestasi belajar sains dan sikap tanggap bencana sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran dengan buku cerita sains. Menurut Wiyanto (2008:86) digunakan rumus normal gain sebagai berikut:

Uji signifikansi peningkatan minat membaca

Untuk mengetahui signifikansi peningkatan minat membaca sebelum dan sesudah menggunakan buku cerita bermuatan kebencanaan digunakan rumus t-test. Menurut Arikunto (2006: 311), hipotesis dan rumus t-test yang digunakan adalah: Ho= tidak terdapat peningkatan yang signifikan antara pretest dan post test

Ha= terdapat peningkatan yang signifikan antara pretest dan post test

(62)

Keterangan :

Mx = Nilai rata-rata peningkatan minat membaca kelas kontol My = Nilai rata-rata peningkatan minat membaca kelas eksperimen

Σx12 = Jumlah standar deviasi kelas kontrol

Σy12 = Jumlah standar deviasi kelas eksperimen

(63)
(64)

47

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Penelitian

Setelah mengadakan penelitian dengan menggunakan buku cerita bermuatan kebencanaan materi sumber daya alam, diperoleh data-data sebagai berikut: 4.1.1 Hasil Prototipe Buku Cerita Bermuatan Kebencanaan

Buku cerita bermuatan kebencanaan merupakan bahan ajar pendamping berupa cerita bergambar yang memuat materi sumber daya alam. Buku Cerita ini disusun berdasarkan kurikulum untuk kelas IV SD.

Pada proses pembuatan buku cerita sains langkah pertama adalah pembuatan alur cerita yang sesuai dengan kurikulum dan materi sumber daya alam. Langkah-langkah pada pembuatan ceritameliputi penentuan karakter tokoh, setting atau latar, dan alur cerita. Langkah yang terakhir adalah pembuatan ilustrasi gambar serta pewarnaan sesuai dengan tema bermuatan kebencanaan yaitu hutan dan sungai. Salah satu contoh ilustrasi dalam buku cerita tentang bencana banjir seperti nampak pada Gambar 4.1.

(65)

Bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan terdiri atas 86 halaman yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pendahuluan dan bagian isi. Sampul buku cerita bermuatan kebencanaan disajikan berwarna. Sampul buku cerita bermuatan kebencanaan ditunjukkan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Sampul Depan Buku Cerita

Bagian awal buku cerita berisi daftar isi. Bagian isi berisi cerita bermateri sumber daya alam yang terdiri atas cerita Banjir, Jangan Bakar Hutan Robi, Hutanku Jadi Jalan, Pancing Jadi Obat dan Menggali Pasir. Daftar isi buku cerita bermuataan kebencanaan seperti nampak pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Daftar Isi Buku Cerita DAFTAR ISI

(66)

4.1.2 Hasil Uji Kelayakan

Uji kelayakan dilakukan pada guru SD dengan menggunakan instrumen lembar angket uji kelayakan. Angket uji kelayakan digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar buku cerita bermuatan kebencanaan, sehingga didapatkan informasi bahwa buku cerita ini layak atau tidak digunakan sebagai pendamping bahan ajar. Kisi-kisi angket uji kelayakan bahan ajar buku cerita ditinjau dari dimensi materi, tampilan, dan bahasa. Skor kelayakan yang didapatkan adalah 88,89 %, artinya kelayakan buku cerita bermuatan kebencanaan alam berada pada kategori sangat layak. Skor setiap aspek kelayakan buku cerita bermuatan kebencanaan disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Skor Setiap Aspek Kelayakan Buku Cerita No Aspek Kelayakan Persentase (%) Kriteria

1 Materi 100 % Sangat Layak

2 Tampilan 83,33 % Layak

3 Bahasa 85,19 % Sangat Layak

Total Persentase 88,89 % Sangat Layak

4.1.3 Hasil Uji Keterbacaan

Figur

Tabel 3.1 Rincian Siswa Kelas IV SD ..............................................
Tabel 3 1 Rincian Siswa Kelas IV SD . View in document p.12
Gambar 3.1 Pre test-Posttest Control Groub Desain ....................... ..............
Gambar 3 1 Pre test Posttest Control Groub Desain . View in document p.13
Gambar dalam cerita anak-anak harus sesuai.Buku cerita yang dimaksud dalam
Gambar dalam cerita anak anak harus sesuai Buku cerita yang dimaksud dalam . View in document p.25
Gambar 3.1 Pretest-Posttest Control Groub Desain
Gambar 3 1 Pretest Posttest Control Groub Desain . View in document p.46
Gambar 3.2 Skema Alur Penelitian
Gambar 3 2 Skema Alur Penelitian . View in document p.47
Tabel 3.2 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba
Tabel 3 2 Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran Soal Uji Coba . View in document p.51
Tabel 3.3 Klasifikasi Daya Pembeda
Tabel 3 3 Klasifikasi Daya Pembeda . View in document p.53
Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba
Tabel 3 4 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Uji Coba . View in document p.54
Gambar 4.1. Ilustrasi Saat Terjadi Banjir
Gambar 4 1 Ilustrasi Saat Terjadi Banjir . View in document p.64
Gambar 4.2 Sampul Depan Buku Cerita
Gambar 4 2 Sampul Depan Buku Cerita . View in document p.65
Tabel 4.1 Skor Setiap Aspek Kelayakan Buku Cerita
Tabel 4 1 Skor Setiap Aspek Kelayakan Buku Cerita . View in document p.66
Tabel 4.3 Data Hasil Prestasi Belajar Siswa
Tabel 4 3 Data Hasil Prestasi Belajar Siswa . View in document p.67
Gambar 4.4 Grafik Hasil Belajar Kognitif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Gambar 4 4 Grafik Hasil Belajar Kognitif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol . View in document p.68
Gambar 4.5 Grafik Peningkatan Hasil Prestasi Belajar Sains
Gambar 4 5 Grafik Peningkatan Hasil Prestasi Belajar Sains . View in document p.69
Tabel 4.4 Data Hasil Minat Membaca Siswa
Tabel 4 4 Data Hasil Minat Membaca Siswa . View in document p.70
Gambar 4.7 Grafik Peningkatan Minat Membaca
Gambar 4 7 Grafik Peningkatan Minat Membaca . View in document p.71
Tabel 4.5 Data Sikap Tanggap Bencana Siswa
Tabel 4 5 Data Sikap Tanggap Bencana Siswa . View in document p.72
Gambar 4.8 Grafik Hasil Sikap Tanggap Bencana Kelas Eksperimen dan Kelas
Gambar 4 8 Grafik Hasil Sikap Tanggap Bencana Kelas Eksperimen dan Kelas . View in document p.73
Gambar 4.9 Grafik Peningkatan Hasil Sikap Tanggap Bencana
Gambar 4 9 Grafik Peningkatan Hasil Sikap Tanggap Bencana . View in document p.74
gambar tentang berhubungan kebencanaan alam.
gambar tentang berhubungan kebencanaan alam. . View in document p.78
Tabel Perhitungan Validitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran
Tabel Perhitungan Validitas Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran . View in document p.103
Tabel Perhitungan Validitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran
Tabel Perhitungan Validitas Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran . View in document p.104
Tabel Perhitungan Validitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran
Tabel Perhitungan Validitas Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran . View in document p.105
Tabel Perhitungan Validitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran
Tabel Perhitungan Validitas Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran . View in document p.106
gambaran materi yang
gambaran materi yang . View in document p.131

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (206 Halaman)