Faktor faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Wonosobo

100  43  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA

TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DI DESA

DIENG WETAN KECAMATAN KEJAJAR

KABUPATEN WONOSOBO

SKRIPSI

disusun sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Ainuddin Mukhlis

NIM. 3201407020

JURUSAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia

Ujian Skripsi pada :

Hari :

Tanggal :

Pembimbing I

Drs. Hariyanto, M.Si.

NIP. 19620315 198901 1 001

Pembimbing II

Drs. Suroso, M.Si.

NIP. 19600402 198601 1 001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Geografi

(3)

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada

Hari : Kamis

Tanggal : 22 September 2011

Penguji Utama

Drs. Tukidi

NIP. 19540310 198303 1 002

Pembimbing I

Drs. Hariyanto, M.Si.

NIP. 19620315 198901 1 001

Pembimbing II

Drs. Suroso, M.Si.

NIP. 19600402 198601 1 001

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Subagyo, M.Pd.

(4)

iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang ditulis di dalam skripsi ini benar-benar skripsi saya

sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

Pendapat atau temuan yang terdapat di dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk

berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, September 2011

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO:

Bikin hidup kita lebih hidup (Ainuddin Mukhlis)

Perjalanan hidup takkan berhenti meski daratan telah habis ku jejaki, lautan telah usai ku arungi dan langit yang luas telah aku jelajahi (Ainuddin Mukhlis)

Cintailah alam, maka alam pun akan mencintai kita (Ainuddin Mukhlis)

PERSEMBAHAN:

Skripsi ini ku persembahkan untuk

Bapak dan Ibu serta kakak-kakakku tersayang, Terima kasih atas kasih sayang, dukungan, motivasi

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,

taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

judul : Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan

masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo ini

dengan baik.

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, dorongan dan bimbingan

dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis

ucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat :

1. Drs. Apik Budi Santoso, M.Si, Ketua Jurusan Geografi atas segala bimbingan

dan arahan selama menjadi mahasiswa Geografi

2. Drs. Hariyanto, M.Si, Pembimbing I dan Drs. Suroso, M.Si, Pembimbing II atas segala arahan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Para Dosen dan karyawan Jurusan Geografi atas ilmu yang telah diberikan

selama menempuh studi serta abntuan dan motivasinya.

4. Kepala Desa dan seluruh keluarga besar Desa Dieng Wetan Kecamatan

Kejajar Kabupaten Wonosobo yang telah membantu dalam penelitian di ini.

5. Keluarga besar Jurusan Geografi, Pend. Geografi 2007 Terima kasih untuk

semua yang sangat indah,

6. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan menjadi amal

kebaikan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka

dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat

(7)

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri

khususnya dan berguna bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, September 2011

Penulis

(8)

viii

ABSTRAK

Ainuddin Mukhlis. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Skripsi. Jurusan Geografi. FIS. UNNES. Pembimbing I. Drs. Hariyanto, M.Si. Pembimbing II. Drs. Suroso, M.Si

Kata kunci: Faktor-faktor Rendahnya Tingkat Pendidikan

Sebagian besar masyarakat di Desa Dieng Wetan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Dieng masih berpendidikan rendah, sekitar 1357 jiwa atau 62,53% masyarakat Dieng tingkat pendidikannya SD, tibak/belum tamat SD, dan tidak pernah sekolah, hanya terdapat 22 jiwa atau 1,01% saja dari jumlah penduduk Desa Dieng Wetan yang melanjutkan sampai jenjang Akademi dan Perguruan Tinggi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Desa Dieng Wetan. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat usia sekolah yaitu 841 jiwa, dengan jumlah sampel 84 jiwa. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat yang meliputi motivasi individu, kondisi sosial, kondisi ekonomi keluarga, motivasi orang tua, budaya dan aksesibilitas. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis frekuensi.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa motivasi individu dalam pendidikan memiliki skor rata-rata 11,68 (rendah); faktor kondisi sosial 16,05 (sedang); faktor ekonomi keluarga 26,38 artinya kondisi ekonomi keluarga tinggi; motivasi orang tua dalam mendukung pendidikan anak sangat rendah dengan skor rata-rata 10,39; budaya pendidikan dalam masyarakat memiliki skor rata-rata 14,02 atau rendah; dan faktor aksesibilitas tergolong tinggi dengan skor rata-rata 20,84.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Desa Dieng Wetan antara lain faktor motivasi individu, faktor motivasi orang tua, dan faktor budaya. Faktor sosial tidak begitu berpengaruh terhadap rendahnya tingkat pendidikan masyarakat . Sedangkan faktor kondisi ekonomi keluarga dan faktor aksesibilitas tidak mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat.

(9)

ix

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan ... 12

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ... 25

B. Populasi ... 25

C. Sampel dan teknik pengambilan sampel ... 25

D. Variabel Penelitian ... 27

(10)

F. Metode Pengumpulan Data ... 29

G. Metode Pengolahan Data ... 30

H. Metode Analisis Data ... 35

I. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Gambaran Umum Daerah Penelitian... 38

B. Hasil Penelitian ... 42

C. Pembahasan ... 49

BAB V PENUTUP A.Simpulan ... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 61

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan Tahun 2009 ... 3

2. Penduduk Menurur Tingkat Pendidikan (10 tahun keatas) di Desa Dieng Wetan Tahun 2009 ... 4

3. APK dan APM Kabupaten Wonosobo dan Kecamatan Kejajar ... 5

4. Klasifikasi pendapatan orang tua ... 18

5. Populasi dan Sampel ... 29

6. Kriteria Motivasi Individu ... 35

7. Kriteria Kondisi Sosial ... 35

8. Kriteria Kondisi Ekonomi Keluarga ... 36

9. Kriteria Motivasi Orang Tua ... 36

10. Kriteria Budaya ... 37

11. Kriteria Aksesibilitas ... 37

12. Penggunaan Lahan Desa Dieng Wetan ... 42

13. Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan ... 43

14. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Individu terhadap Pendidikan ... 44

15. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Sosial terhadap Pendidikan ... 45

16. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Ekonomi Keluarga terhadap Pendidikan46 17. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Orang Tua terhadap Pendidikan ... 47

18. Frekuensi Tentang Faktor Budaya terhadap Pendidikan ... 49

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Teori Pebelitian ... 26

2. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 39

3. Peta Administrasi Desa Dieng Wetan ... 41

4. Kondisi lahan di Desa Dieng Wetan ... 42

5. Diagram Mata Pencaharian Masyarakat Dieng Wetan ... 43

6. Seorang anak SD yang membantu orang tuanya bekerja di ladang. .... 52

7. Kegiatan sehari-hari masyarakat Dieng yang menggambarkankondisi sosial dan kegiatan ekonomi masyarakat ... 53

8. Kondisi jalan di Dieng (kanan) dan Mikrobus yang merupakan salah satu alat transportasi yang ada di Dieng (kiri)... 57

9. Kegiatan penelitian kepada orang tua dan anaknya ... 84

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kisi-kisi Instrumen ... 62

Lampiran 2. Instrumen penelitian ... 64

Lampiran 3. Tabulasi Validitas dan Reliabilitas ... 72

Lampiran 4. Perhitungan Validitas dan Reliabilitas ... 74

Lampiran 5. Daftar Responden ... 76

Lampiran 6. Tabulasi Hasil Penelitian ... 79

Lampiran 7. Uji Normalitas... 82

Lampiran 9. Foto-foto Penelitian ... 86

Lampiran 10. Surat Ijin Penelitian ... 87

(14)
(15)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan yang dilakukan oleh seseorang tidaklah terbatas oleh tempat

dan waktu. Kegiatan pendidikan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Seperti tercantum dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang

SISDIKNAS bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan

dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Pada pasal 3 juga

disampaikan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi

kehidupan masa yang akan datang karena dengan pendidikan yang lebih baik

dapat diharapkan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga mampu dalam

mengembangkan taraf hidupnya.

Menurut Ki Hajar Dewantoro, pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup

tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala

kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan

(16)

yang setinggi-tingginya. Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting dan

harus diutamakan demi tercapainaya tujuan nasional yaitu mencerdaskan

kehidupan bangsa, yang tentunya akan diikuti oleh peningkatan sumberdaya

manusia yang berkualitas menuju pembangunan nasional yang berkelanjutan.

(Hasbullah, 2009:4)

Kelangsungan pendidikan seseorang tidaklah lepas dari faktor-faktor yang

mempengaruhi di sekitarnya. Salah satunya adalah di lingkungan keluarga,

keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi seorang anak mendapatkan

pendidikan. Disebut sebagai lingkungan pendidikan pertama karena sebelum

manusia mengenal lembaga pendidikan yang lain, keluarga merupakan lembaga

pendidikan yang pertama dan utama, karena proses pendidikan terjadi sejak

manusia lahir bahkan sejak masih dalam kandungan yang dapat mempengaruhi

karakter anak. Oleh karena itu, peranan orang tua sangatlah penting untuk

mendukung kelangsungan pendidikan anak baik dorongan moral maupun material

sangatlah penting bagi seorang anak untuk dapat mengenyam pendidikan

setinggi-tingginya. Kondisi sosial ekonomi keluarga dan dorongan keluarga terhadap

pendidikan akan berpengaruh pada pendidikan seseorang.

Desa Dieng Wetan merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan

Kejajar Kabupaten Wonosobo yang memiliki potensi besar dalam bidang

pertanian. Daerah ini terletak di salah satu bagian dari deretan pegunungan Dieng

(17)

Tabel 1. Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan Tahun 2009

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)

1. Petani Sendiri 671 57,16 %

Sumber : BPS, Kecamatan Kejajar Dalam Angka 2010

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Dieng sebagian besar bertumpu pada

sektor pertanian yang mereka tekuni yaitu sebesar 68,49% atau sekitar 804 orang.

Secara keseluruhan, jumlah penduduk di Desa Dieng adalah 2.170 jiwa

dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 658 KK. (BPS Kab. Wonosobo, 2009).

Hasil pertanian di daerah Dieng yang baik telah meningkatkan kesejahteraan

mereka. Jika dilihat dari tahapan Keluarga Sejahtera (KS), diketahui bahwa

banyaknya keluarga yang termasuk dalam tahapan keluarga sejahtera III (KS III)

dan Keluarga Sejahtera III+ (KS III+) adalah sebanyak 263 keluarga atau sekitar

39,97% dari jumlah keluarga yang ada. Sedangkan rata-rata tingkat tahapan

keluarga sejahtera III dan Keluarga Sejahtera III+ Kecamatan Kejajar adalah

sebesar 28,63 %. Ini menunjukkan bahwa keluarga di Desa Dieng Wetan jauh

lebih sejahtera dibandingkan dengan rata-rata tingkat kesejahteraan desa-desa di

Kecamatan Kejajar. (BPS, Kejajar dalam angka tahun 2010). Namun dibalik

kesejahteraan masyarakat Dieng yang tinggi, ternyata kesadaran masyarakat akan

(18)

membantu orang tuanya di sawah daripada harus bersekolah, Hal ini karena

mereka lebih ingin mengikuti jejak orang tua mereka sebagai petani.

Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Dieng masih

berpendidikan rendah, sekitar 1357 jiwa atau 62,53% masyarakat Dieng tingkat

pendidikannya SD, tidak/belum tamat SD, dan tidak pernah sekolah, serta hanya

22 jiwa atau 1,01% saja dari jumlah penduduk Desa Dieng Wetan yang

melanjutkan sampai jenjang Akademi dan Perguruan Tinggi. Lebih jelasnya dapat

kita lihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Penduduk menurut Tingkat Pendidikan (10 th keatas) di Desa Dieng Wetan tahun 2009

No. Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

1. SD 958 jiwa 44,15 %

2. SLTP 221 jiwa 10,18 %

3. SLTA 224 jiwa 10,32 %

4. AKD / PT 22 jiwa 1,01 %

5. Tidak / Belum Tamat SD 342 jiwa 15,76 %

6. Tidak Pernah Sekolah 57 jiwa 2,63 %

Jumlah 1.844 jiwa

Sumber : BPS, Kecamatan Kejajar dalam angka 2010

Kecamatan Kejajar merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten

Wonosobo yang memiliki tingkat pendidikan yang tergolong rendah. Kondisi ini

dapat dilihat dari angka partisipasi murni (APM) pendidikan SD, SMP dan SMA

di Kecamatan kejajar yang masih lebih rendah dibandingkan rata-rata APM di

(19)

Tabel 3. Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Wonosobo dan Kecamatan

Sumber : Kemendiknas Tahun 2009 (www.psp.kemdiknas.co.id)

Pekerjaan orang tua sebagai petani juga sangat menyita banyak waktu

untuk anak-anaknya. Keberadaan kondisi sosial ekonomi mempunyai dampak

yang sangat luas dalam berbagai sendi kehidupan baik pada diri sendiri maupun

pada anggota keluarga termasuk anak-anaknya baik berkaitan dengan pemenuhan

kebutuhan primer yang berupa pangan, sandang dan papan maupun kebutuhan

sekunder termasuk didalamnya pendidikan. Kesibukan orang tua sebagai petani

tentunya akan banyak menghabiskan tenaga dan pikiran mereka di tempat mereka

bekerja, sehingga mereka kurang dapat meluangkan waktu mereka untuk

mengajari anak-anak mereka belajar, bahkan hanya sekedar bermain dan

bercengkrama. Kurangnya perhatian orang tua yang kurang pada pendidikan

anak-anaknya juga disebabkan oleh tingkat pendidikan orang tua sendiri yang

sangat rendah, sehingga mereka merasa kesulitan dan tidak bisa untuk mengajari

anak-anak mereka saat belajar. Terkadang orang tua justru mengajak berbicara

anak-anak mereka tentang pekerjaan mereka sebagai petani, hal ini menyebabkan

semakin tertanamnya budaya petani pada anak-anak mereka yang akan membawa

mereka tertarik untuk mengikuti jejak orang tuanya dibandingkan dengan

menggapai pendidikan setinggi mungkin.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud mengadakan

(20)

Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan yaitu faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya

tingkat pendidikan masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar

Kabupaten Wonosobo?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di

Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo.

D. Manfaat

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Manfaat dari penelitian ini antara lain :

1. Manfaat Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan

pembaca sebagai penambah ilmu pengetahuan serta dapat menjadi masukan bagi

semua pihak yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai permasalahan

(21)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi orang tua, dapat menjadi peringatan agar memberikan perhatian dan

peranan yang lebih dalam mengarahkan dan mendukung baik secara

moral maupun material terhadap pendidikan anak-anaknya, dalam upaya

peningkatan sumberdaya manusia Indonesia.

b. Bagi Instansi pemerintahan, memberikan informasi mengenai masalah

pendidikan yang terdapat di Desa Dieng agar dapat dicarikan jalan

keluarnya, serta menjadi himbauan bagi instansi pemerintah yang

bersangkutan untuk lebih memperhatikan kondisi pendidikan di daerah

terpencil.

c. Bagi masyarakat, menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya

pendidikan.

d. Bagi penulis, penelitian ini dilakukan untuk menerapkan ilmu

pengetahuan yang telah di dapatkan semasa kuliah.

E. Penegasan Istilah

Penegasan istilah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk membatasi

ruang lingkup permasalahan yang diteliti sehingga jelas batas-batasnya, untuk

menghindari adanya kesalahan dalam penafsiran judul skripsi, maka dibutuhkan

penegasan istilah sebagai berikut :

1. Faktor-faktor pendidikan

Faktor-faktor pendidikan dalam penelitian ini semua faktor yang

(22)

mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan yang dimaksud antara lain

kondisi sosial keluarga, kondisi ekonomi keluarga, motivasi masyarakat untuk

bersekolah, motivasi orang tua, budaya, dan aksesibilitas.

2. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah pengertian sesuai yang

tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003: pasal 13 yaitu jenjang

pendidikan formal yang ditempuh oleh seorang anak yang terdiri atas pendidikan

dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

3. Masyarakat

Masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat usia

sekolah. Masyarakat usia sekolah adalah seluruh masyarakat yang berusia sekolah

(23)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003:

pasal 1).

Menurut Langeveld, pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh,

perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada

pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap

melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa

(atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup

sehari-hari, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa

(Hasbullah, 2009:2).

Daoed Joesoef menegaskan, bahwa pengertian pendidikan mengandung

dua aspek yakni sebagai proses dan sebagai hasil/produk. Proses yang dimaksud

adalah proses bantuan, pertolongan, bimbingan, pengajaran, dan pelatihan.

sedangkan yang dimaksud dengan hasil/produk adalah manusia dewasa, susila,

bertanggung jawab, dan mandiri (Munib, 2007:33).

(24)

Ki Hajar Dewantara menyatakan, bahwa pendidikan umumnya berarti

daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),

pikiran (intelek), dan tubuh anak (Munib, 2007:32). Di dalam buku yang lain, Ki

Hajar Dewantara juga menyatakan bahwa pendidikan yaitu tuntunan di dalam

hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun

segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia

dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan

stinggi-tingginya (Hasbullah, 2009:4).

Dari beberapa pengertian pendidikan yang ada, maka dapat disimpulkan

bahwa pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yaitu

berupa pengaruh, perlindungan, bantuan, bimbingan dan pelatihan yang diberikan

kepada anak untuk pengembangan potensi diri di dalam proses pendewasaannya.

B. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang ditempuh oleh

seseorang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan

pendidikan tinggi (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003: pasal 13). Dalam UU RI

No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada bab VI menjelaskan bahwa jenjang

pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan

(25)

1. Pendidikan dasar

Pendidikan dasar dijabarkan dalam pasal 17 Undang-undang Sistem

Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003. Pendidikan dasar adalah pendidikan

yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Bentuk satuan pendidikan dasar

yang menyelenggarkan program pendididkan 6 tahun terdiri atas Sekolah Dasar

(SD) dan Madrasah Ibidaiyah (MI), sedangkan bentuk satuan program pendidikan

3 tahun setelah 6 tahun adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah

Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

2. Pendidikan menengah

Pendidikan menengah dijabarkan dalam pasal 18 Undang-undang Sistem

Pendidikan Nasional N0. 20 Tahun 2003. Pendidikan menengah adalah lanjutan

pendidikan dasar yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan

menengah kejuruan. Bentuk satuan pendidikan menengah terdiri atas Sekolah

Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) dan bentuk lain yang sederajat. Pendidikan menengah umum adalah

pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan perluasan

pengetahuan dan peningkatan keterampilan siswa. Pendidikan menengah kejuruan

adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan

pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu.

3. Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi dijabarkan dalam pasal 19 dan pasal 20 Undang-undang

Sistem Pendidikan Nasional N0. 20 Tahun 2003. Pendidikan tinggi adalah jenjang

(26)

diploma, sarjana, magister spesialis, doktor yang disediakan oleh pergururan

tinggi. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidiakn tinggi disebut

perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi,

institute atau universitas.

C. Keluarga Sejahtera

Menurut BKKBN (1999:16) dalam buku Pedoman Keluarga Sejahtera,

tingkat kesejahteraan keluarga dibagi dalam lima tahapan keluarga sejahtera,

antara lain :

1. Keluarga Prasejahtera yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi

kebutuhan dasarnya (basic needs) secara minimal, seperti kebutuhan akan

pengajaran agama, pangan, sandang, papan dan kesehatan.

2. Keluarga Sejahtera I ( KS I ) yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat

memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi

seluruh kebutuhan sosial psikologisnya (socio psychological needs), seperti

kebutuhan akan pendidikan, keluarga berencana, interaksi dalam keluarga,

interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi.

3. Keluarga Sejahtera II ( KS II ) yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah

dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi deluruh

kebutuhan sosial psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi seluruh

kebutuhan perkembangannya (developmental needs) seperti kebutuhan untuk

menabung dan memperoleh informasi.

4. Keluarga Sejahtera III ( KS III ) yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat

(27)

kebutuhan pengembangannya. Namun belum dapat memberikan sumbangan

(kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat, seperti secara teratur

(waktu tertentu) memberikan sumbangan dalam bentuk material dan

keuangan untuk kepentingan sosial kemasyarakatan serta berperan serta

secara aktif dengan menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan/

yayasan-yayasan sosial, keagamaan, kesenian, olahraga, pendidikan dan sebagainya.

5. Keluarga Sejahtera III plus ( KS III+ ) yaitu keluarga-keluarga yang telah

dapat memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat dasar, sosial psikologis,

maupun yang bersifat pengembangan serta telah dapat pula memberikan

sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan

1. Motivasi individu

Motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat

dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu

guna pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Gates dan kawan-kawan

mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan

psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya

dengan cara tertentu (Djali, 2008:101).

Motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor yang ikut

menentukan keberhasilan dalam belajar. besar kecilnya pengaruh tersebut

tergantung pada intensitasnya. Klausmeier menyatakan bahwa perbedaan

(28)

prestasi yang dicapai oleh berbagai individu. Semakin besar motivasi

seseorang untuk terus berprestasi, maka dia akan terus mencoba menggapai

pendidikan mereka ke jejang yang lebih tinggi (Djali, 2008:110).

Bentuk motivasi pendidikan yang terdapat pada individu dapat kita

lihat dari beberapa hal, antara lain :

a. Keinginan untuk menempuh pendidikan

Keinginan untuk menempuh pendidikan merupakan modal awal bagi

seseorang untuk terus menempuh pendidikan. Tidak adanya unsur terpaksa

pada anak untuk bersekolah menjadikan anak menikmati dan mengerti akan

pentingnya pendidikan yang dijalaninya. Manusia pada dasarnya memiliki

keinginan untuk memperoleh kompetensi dari lingkungannya, sehingga akan

mucul suatu suatu rasa percaya diri bahwa dia mampu untuk melakukan

sesuatu. Apabila seseorang mengetahui bahwa dia merasa mampu terhadap

apa yang dia pelajari maka dia akan percaya diri untuk menggapai

kompetensi yang ingin dia dapatkan (Rifa’i, 2010:168-169).

b. Cita-cita

Hal yang dapat menjadi motivasi dan tujuan seorang anak menjalani

jenjang pendidikan mereka adalah karena adanya cita-cita yang ingin mereka

raih. Cita-cita yang terdapat pada anak akan memberikan gambaran bagi

mereka jalan mana yang harus dia tempuh untuk dapat mewujudkannya, dan

salah satu jalannya adalah dengan menempuh pendidikan. Hal ini di tegaskan

oleh Achmad Rifa’i (2010:158) bahwa salah satu motif seseorang melakukan

(29)

merupakan suatu bentuk cita-cita. Motif anak yang dibawa ke dalam suatu

situasi belajar sangat berpengaruh terhadap bagaimana mereka belajar dan

apa yang mereka pelajari.

2. Kondisi Sosial

Kondisi sosial berarti keadaan yang berkenaan dengan

kemasyarakatan yang selalu mengalami perubahan-perubahan melalui proses

sosial. Proses sosial terjadi karena adanya interaksi sosial. Interaksi sosial

dapat membentuk suatu norma-norma sosial tertentu dalam kelompok

masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Sherif, bahwa interaksi sosial

antaranggota suatu kelompok dapat menimbulkan suatu norma sosial dalam

masyarakat yang berlaku dalam masyarakat tersebut (Gerungan, 2009:110).

Kondisi sosial dalam penelitian ini adalah:

a. Kondisi lingkungan keluarga

Kondisi sosial keluarga akan diwarnai oleh bagaimana interaksi sosial

yang terjadi diantara anggota keluarga dan interaksi sosial dengan masyarakat

lingkungannya. Interaksi sosial di dalam keluarga biasanya didasarkan atas

rasa kasih sayang dan tanggung jawab yang diwujudkan dengan

memperhatikan orang lain, bekerja sama, saling membantu dan saling

memperdulikan termasuk terhadap masa depan anggota keluarga, salah

satunya dalam penyelenggaraan pendidikan anak. Interaksi sosial dalam

keluarga turut menentukan pula cara-cara tingkah laku seseorang dalam

(30)

Menurut Slameto (2003:62), relasi antar anggota keluarga yang

terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu relasi anak

dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain pun turut

mempengaruhi pendidikan anak. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan

itu penuh dengan kasih saying dan perhatian, ataukah sikap yang terlalu keras

dan acuh tak acuh dan sebaginya.

b. Kondisi lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat dapat mempengaruhi pola pemikiran dan

norma serta pedoman yang dianut oleh seseorang dalam suatu masyarakat,

karena di dalam masyarakat terjadi suatu proses sosialisasi. hal ini juga

terdapat dalam dunia pendidikan, seseorang yang berada di lingkungan

masyarakat yang mementingkan pendidikan maka dia juga akan terpengaruh

untuk ikut mementingkan pendidikan. begitu juga sebaliknya, jika seseorang

berada pada lingkungan masyarakat yang menganggap pendidikan tidak

penting maka dia juga dapat terpengaruh dan ikut beranggapan bahwa

pendidikan kurang penting. Lewat proses sosialisasi, seorang individu

menghayati, mendarahdagingkan (internalize) nilai-nilai, norma dan aturan

yang dianut kelompok dimana ia hidup (Ihromi, 2004:68).

3. Kondisi Ekonomi Keluarga

Ekonomi dalam dunia pendidikan memegang peranan yang cukup

menentukan. Karena tanpa ekonomi yang memadai dunia pendidikan tidak

akan bisa berjalan dengan baik. ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi

(31)

keadaan ekonomi dapat membatasi kegiatan pendidikan (Made Pidarta,

2007:255-256).

Faktor Ekonomi keluarga banyak menentukan dalam belajar anak.

Misalnya anak dalam keluarga mampu dapat membeli alat-alat sekolah

lengkap, sebaliknya anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat membeli

alat-alat itu. Dengan alat-alat serba tidak lengkap inilah maka hati anak-anak menjadi

kecewa, mundur, putus asa sehingga dorongan belajar mereka kurang

(Ahmadi, 2007:266).

Menurut Gerungan (2009:196), keadaan ekonomi keluarga tentulah

berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak, apabila diperhatikan bahwa

dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi

anak di keluarganya itu lebih luas, ia akan mendapat kesempatan yang lebih

luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat ia

kembangkan apabila tidak ada prasarananya.

Beberapa kondisi ekonomi yang mempengaruhi pendidikan anak

adalah:

a. Pendapatan

Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers dalam Rokhana.

(2005:8), yaitu seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang baik

dari pihak lain maupun dari hasil sendiri. Pendapatan adalah pendapatan yang

diperoleh seluruh anggota keluarga yang bekerja. Jadi yang dimaksud

(32)

yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua

dan anggota keluarga lainnya.

Pendapatan seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya

sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan survey dari Badan Pusat Statistik

(BPS) tahun 2009, tingkat pendapatan rumah tangga di pedesaaan

berdasarkan pengeluaran setiap bulan dari penduduk, maka dapat

diklasifikasikan sebagai berikut.

Tabel 4. Klasifikasi Pendapatan Orang Tua No

.

Klasifikasi pendapatan Jumlah pendapatan

1. Pendapatan sangat tinggi > Rp. 3.100.000,-

2. Pendapatan tinggi Rp. 2.400.000,- - Rp. 3.099.000

3. Pendapatan menengah Rp. 1.700.000,- – Rp. 2.399.000,-

4. Pendapatan sedang Rp. 1.000.000,- - Rp. 1.699.000,-

5. Pendapatan rendah < Rp. 1.000.000,-

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2009

Ekonomi dalam dunia pendidikan memegang peranan yang cukup

menentukan. Karena tanpa ekonomi yang memadai dunia pendidikan tidak

akan bisa berjalan dengan baik. ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi

bukan merupakan pemegang peranan utama dalam pendidikan, namun

keadaan ekonomi dapat membatasi kegiatan pendidikan (Made Pidarta,

2007:255-256).

Faktor Ekonomi keluarga banyak menentukan dalam belajar anak.

Misalnya anak dalam keluarga mampu dapat membeli alat-alat sekolah

lengkap, sebaliknya anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat membeli

(33)

kecewa, mundur, putus asa sehingga dorongan belajar mereka kurang

(Ahmadi, 2007:266).

b. Jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan

Jumlah anggota keluarga merupakan faktor yang penting dalam

menjamin kesejahteraan keluarga dalam hal pemenuhan kebutuhan seluruh

anggota keluarga, sehingga jumlah anggota keluarga hendaknya dibatasi

menurut kemampuan. Hal ini ditegaskan dalam Undang-undang No. 10

Tahun 1992 Pasal 7 yang menyatakan bahwa setiap penduduk sebagai

anggota keluarga mempunyai hak untuk membangun keluarga sejahtera

dengan mempunyai anak yang jumlahnya ideal, atau mengangkat anak, atau

memberikan pendidikan kehidupan berkeluarga kepada anak-anak serta hak

lain guna mewujudkan keluarga sejahtera. Banyaknya anggota keluarga akan

mempengaruhi pembagian pendapatan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari

yang nantinya juga akan berpengaruh pada pembagian pendapatan untuk

kebutuhan pendidikan. Seluruh anggota keluarga memiliki kebutuhan

masing-masing yang tentunya harus dipenuhi. sehingga semakin banyak

anggota keluarga yang menjadi tanggungan, maka akan semakin kecil

kebutuhan akan pendidikan dapat terpenuhi begitu pula sebaliknya.

4. Motivasi orang tua

Menurut Slameto (2003:61), orang tua yang kurang/tidak

memperhatikan dan memberikan dorongan atau motivasi terhadap pendidikan

anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak

(34)

kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak

menyediakan/melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak

belajar atau tidak, tidak mau tau kemajuan belajar anaknya,

kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak

tidak/kurang berhasil dalam belajarnya. Mungkin hasil yang didapatkan tidak

memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya. Hal ini dapat terjadi pada

anak dari keluarga yang kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurus pekerjaan

mereka atau hal yang lain. Ini menunjukkan bahwa motivasi yang berasal dari

orang tua sangatlah dibutuhkan oleh seorang anak dalam menempuh

pendidikannya.

Motivasi pada orang tua dapat kita ketahui dari hal-hal sebagai

berikut:

a. Kesadaran orang tua akan arti penting pendidikan

Arti penting pendidikan seharusnya sudah dipahami oleh orang tua,

hal ini karena dapat berpengaruh pada pendidikan anak-anak mereka.

Kesadaran orang tua yang baik akan arti penting pendidikan akan

mengarahkan anak-anak mereka untuk menempuh jenjang pendidikan

setinggi-tingginya. Kesadaran akan tanggung jawab mendidik dan membina

anak secara terus-menerus perlu dikembangkan kepada setiap orang tua,

sehingga pendidikan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan yang

dilihat dari orang tua, tetapi telah di dasari oleh teori-teori pendidikan

(35)

b. Tujuan orang tua menyekolahkan anak

Munib (2007:48), mengatakan bahwa setiap kegiatan pendidikan baik

di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat tentu memiliki tujuan

tertentu yang hendak dicapai. Misalnya supaya pandai berbicara, membaca

dan menulis, berhitung dan sebagainya, bertambah cerdas, rajin, teliti, berani

dan sebagainya, bahkan ada orang tua yang mengarahkan anak mereka untuk

menjadi apa yang mereka inginkan. Tujuan orang tua menyekolahkan anak

mereka tentunya bermacam-macam. Hal ini dapat berpengaruh pada tingkat

pendidikan yang dapat ditempuh oleh anaknya.

c. Kesediaan orang tua menyekolahkan anak

Kesedianan orang tua untuk menyekolahkan anaknya merupakan sarat

mutlak bagi terlaksananya pendidikan bagi anak. Karena secara material dan

moral orang tua mempengaruhi tingkat pendidikan anak-anaknya. Seperti

yang disampaikan oleh Hasbullah (2009:45), salah satu tanggung jawab orang

tua dan keluarga terhadap anak-anak mereka adalah memberikan ilmu

pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak,

sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.

5. Budaya

Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya

manusia dalam kehidupan masyarakat yang dapat dijadikan milik diri

manusia dengan belajar. Ini artinya bahwa hampir seluruh tindakan manusia

(36)

masyarakat yang tidak dibiasakan dengan belajar (Koentjaraningrat,

2009:144).

Slameto (2003:64) mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan atau

kebiasaan di dalam keluarga dapat mempengaruhi sikap anak dalam belajar.

Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar

mendorong semangat anak untuk belajar. Di dalam menempuh jenjang

pendidikan, seseorang juga akan mempelajari keadaan yang ada pada dirinya

dan lingkungannya. Sehingga ketika lingkungan di sekitarnya memiliki

budaya dengan pendidikan yang rendah dan sudah merasa cukup, maka hal

tersebut akan dilakukan kembali ke generasi berikutnya. Hal semacam ini

dapat belangsung secara turun-temurun bahkan dapat berkembang menjadi

suatu tradisi dalam masyarakat.

6. Aksesibilitas

Aksesibilitas merupakan suatu konsep yang menggabungkan

(mengkombinasikan): Sistem tata guna lahan secara geografis dengan system

jaringan transportasi yang menghubungkannya, dimana perubahan taa guna

lahan, yang menimbulkan zona-zona dan jarak geografis di suatu wilayah

atau kota,akan mudah dihubungkan oleh penyediaan prasarana atau sarana

angkutan (Black, 1981 dalam Miro, 2005:18).

Menurut Tamin dalam Miro (2005:18), aksesibilitas adalah mudahnya

suatu lokasi dihubungkan dengan lokasi lainnya lewat jaringan transportasi

yang ada, berupa prasarana jalan dan alat angkut yang bergerak di atasnya.

(37)

lokasi tata guna lahan yang saling berpencar, dapat berinteraksi

(berhubungan) satu sama lain. dan mudah atau sulitnya lokasi-lokasi tersebut

dicapai melalui system jaringan transportasinya, merupakan hal yang sangat

subyektif, kualitatif, dan relatif sifatnya. Artinya, yang mudah bagi seseorang

belum tentu mudah bagi orang lain.

Aksesibilitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat

kemudahan pencapaian terhadap suatu wilayah yang meliputi jarak tempuh,

waktu tempuh, fasilitas jalan, dan sarana transportasi. Lebih jelasnya akan

dijabarkan sebagai berikut :

a. Jarak Tempuh

Salah satu variabel yang bisa menyatakan apakah ukuran tingkat

kemudahan pencapaian suatu tata guna lahan dikatakan tinggi atau rendah

adalah jarak fisik dua tata guna lahan (dalam kilometer). Jika kedua tata guna

lahan mempunyai jarak yang berjauhan secar fisik, maka aksesnya dikatakan

rendah (Miro, 2005:19).

b. Waktu Tempuh

Menurut Miro (2005:20), waktu tempuh adalah banyak waktu yang

ditempuh untuk melakukan perjalanan dari rumah menuju sekolah, sehingga

dapat disimpulkan bahwa jarak yang relatif jauh maka secara otomatis waktu

yang ditempuh akan semakin banyak dan juga memerlukan biaya yang

banyak, dengan biaya yang semakin banyak maka motivasi orang tua juga

akan semakin sedikit. Faktor ini sangat ditentukan oleh ketersediaan

(38)

(reliable transportation system). Contohnya adalah dukungan jaringan jalan

yang berkualitas, yang menghubungkan asal dengan tujuan, diikuti dengan

terjaminnya armada yang siap melayani kapan saja.

c. Fasilitas Jalan

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian

jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang

diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas

permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas

permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (UU RI

No. 38 Tahun 2004, pasal 1).

Jalan sebagai bagian dari jasa pelayanan transportasi mempunyai

peranan penting dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan

pertahanan keamanan serta dipergunakan sebesar-besarnya untuk

kemakmuran rakyat (Bina Marga, 2007). Ini menunjukkan bahwa jalan

memiliki peranan penting terhadap semua sektor, tidak terkecuali terhadap

pedidikan. Untuk memperlancar transportasi menuju ke sekolah tentunya

keberadaan jalan beserta kondisinya sangat mempengaruhi kelancaran

mobilitas seseorang menuju sekolah yang mereka tuju.

d. Sarana Transportasi

Menurut Miro (2005:4) transportasi dapat diartikan sebagai usaha

memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek

dari suatu tempat ke tempat lain, dimana di tempat lain objek tersebut lebih

(39)

dalam penelitian ini berkaitan dengan pergerakan seseorang untuk mencapai

sekolah yang dituju. Dibutuhkan sarana transportasi untuk memudahkan

seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sarana transportasi

yang dimaksud adalah fasilitas yang digunakan untuk mengangkut anak ke

sekolah meliputi : jenis transportasi yang digunakan, jumlah angkutan umum,

frekuensi kendaraan dalam 1 hari, serta biaya atau ongkos naik kendaraan

(40)

E. Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian

Masyarakat Usia Sekolah

Kondisi Sosial

Tingkat Pendidikan Masyarakat

(41)

27

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada masyarakat di Desa Dieng Wetan Kecamatan

Kejajar Kabupaten Wonosobo.

B. Populasi

Menurut Sugiyono (2010 : 117), populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat usia sekolah di Desa Dieng

Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Jumlah keseluruhan penduduk Desa

Dieng adalah 2.170 jiwa dan 658 kepala keluarga. Sedangkan jumlah penduduk

usia sekolah di Desa Dieng Wetan yang menjadi populasi dalam penelitian ini

adalah 841 jiwa.

C. Sampel dan teknik pengambilan sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi, apabila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua

yang ada pada populasi (Sugiyono, 2010: 118).

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara proporsional

(42)

sample pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik proporsional

stratified sampling yaitu teknik pengambilan sampel pada populasi yang tidak

homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2010: 120).

Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga

penelitiannya adalah penelitian populasi. Tetapi jika dalam subjeknya lebih dari

100 dapat diambil antara 10% - 15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto, 2006:

134). Penelitian ini akan menggunakan sampel sejumlah 10% dari jumlah

populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 841 jiwa, Sehingga jumlah sampel

pada penelitian ini adalah 84 jiwa.

Menurut Sugiyono (2010 : 130), masing-masing populasi dapat diambil

sampel secara proporsional dengan rumus:

= populasi tiap jenjang

Jumlah total populasi x jumlah sampel

Sehingga dihasilkan jumlah populasi pada tiap jenjang pendidikan sebagai

berikut :

SD = 175 / 841 x 84 = 17,48 = 18 jiwa

SMP = 197 / 841 x 84 = 19,68 = 20 jiwa

SMA = 234 / 841 x 84 = 23,37 = 23 jiwa

(43)

Tabel 5. Populasi dan sampel

Tingkat Pendidikan Populasi Masyarakat Usia Sekolah Sampel

SD 175 jiwa 18 jiwa

SMP 197 jiwa 20 jiwa

SMA 234 jiwa 23 jiwa

Perguruan Tinggi 235 jiwa 23 jiwa

Jumlah 841 jiwa 84 jiwa

Sedangkan dalam penentuan responden yang akan diteliti dilakukan secara

insidental, yaitu masyarakat yang dapat ditemui di lapangan. Sehingga teknik

pengambilan sampel pada penelitian ini adalah proporsional stratified incidental

sampling.

D. Variabel penelitian

Variabel Penelitian menurut Sutrisno Hadi didefinisikan sebagai gejala

yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek

penelitian yang bervariasi (Arikunto, 2006 : 116). Variabel dalam penelitian

adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak, antara lain :

1. Motivasi Individu

a. Keinginan individu untuk menempuh pendidikan

b. Cita-cita

2. Kondisi Sosial

a. Interaksi sosial dalam keluarga

(44)

3. Kondisi Ekonomi Keluarga

a. Pendapatan

b. Jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan

4. Motivasi Orang Tua

a. Kesadaran orang tua akan arti penting pendidikan

b. Tujuan orang tua menyekolahkan anak

c. Kesediaan orang tua menyekolahkan anak

5. Budaya

a. Budaya pendidikan di dalam keluarga

6. Aksesibilitas

a. Jarak Tempuh

b. Waktu Tempuh

c. Fasilitas Jalan

d. Sarana Transportasi

E. Validitas dan reliabilitas instrumen

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan

data yang valid. Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk

mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono. 2007; 172). Suatu instrument

yang valid atau sahih memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya, instrument yang

(45)

Pengukuran validitas instrument dalam penelitian ini menggunakan rumus

yang dikemukakan oleh pearson dalam Arikunto (2006. 170), yaitu rumus

korelasi product moment sebagai berikut.

∑ (∑ ) (∑ )

[ ∑ (∑ ) ] [ ∑ (∑ ) ]

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi product moment

N = jumlah responden

X = skor uji coba tes I

Y = skor uji coba tes II

Untuk menentukan tingkat validitas instrumen, harga rxy dikonsultasikan

dengan r tabel product moment dengan α = 5%. Jika r hitung > r tabel maka

instrumen dinyatakan valid.

Sedangkan reliabilitas digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu

instrument cukup dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data karena instrument

tersebut sudah baik. Dalam penelitian ini untuk menghitung reliabilitas instrument

menggunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut (Arikunto, 2006: 180):

×

( )

Keterangan:

r11 = koefisien korelasi Spearman-Brown

rxy = rxy yang disebutkan sebagai koefisien korelasi antara jumlah skor uji coba

tes I dan uji coba tes II

Untuk menentukan tingkat reliabilitas instrumen selanjutnya adalah harga

r11 dikonsultasikan dengan r tabeldengan α = 5%. Jika r hitung > r tabel maka soal

(46)

F. Metode pengumpulan data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk

memperoleh data yang diperlukan (Nazir, 2005: 74). Adapun metode dan teknik

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan

metode kuesioner.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau

hal-hal lain yang mereka katahui. Kuesioner dipakai untuk menyebut metode

maupun instrument (Arikunto. 2006; 151). Kuesioner dalam penelitian ini

digunakan untuk mengumpulkan seluruh data pada tiap variabel penelitian yaitu

kondisi sosial, kondisi ekonomi, motivasi individu, motivasi orang tua, budaya

dan aksesibilitas. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yaitu

kuesioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih

jawaban yang sesuai dengan kondisi mereka. Penggunaan kuesioner diharapkan

akan memudahkan bagi responden dalam memberikan jawaban, karena pilihan

jawaban telah tersedia.

Untuk menentukan kriteria dalam penilaian instrumen, dapat

menggunakan skala pengukuran. Skala pengukuran yang digunakan dalam

penelitian ini adalah rating scale. Dalam skala model rating scale, responden

tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan,

tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif. Bentuk rating scale dalam

(47)

dibubuhkan nilai pada tiap alternatif jawaban. Pada penelitian ini akan digunakan

5 (lima) kriteria untuk memaparkan kondisi dari hasil penelitian, yaitu :

1. Sangat Tinggi

2. Tinggi

3. Sedang

4. Rendah

5. Sangat Rendah

Sehingga pada tiap alternatif jawaban akan diberikan skor penilaian

terlebih dahulu sebagai berikut :

1. Jawaban “a” skor 5

2. Jawaban “b” skor 4

3. Jawaban “c” skor 3

4. Jawaban “d” skor 2

5. Jawaban “e” skor 1

G. Metode pengolahan data

Seluruh data yang terkumpul dari sumber data, tentunya perlu untuk diolah

agar data-data yang ada dapat tersusun dengan rapi dan mudah untuk di analisa.

Data yang terkumpul dari responden masih berupa data mentah yang tertuang

dalam lembar-lembar instrumen. Kemudian data diolah untuk dimasukkan

kedalam tabel, sehingga data akan tersusun rapi dan mudah untuk diolah pada

tahap selanjutnya. Setelah itu dilakukan Uji normalitas data. Uji normalitas

(48)

distribusi normal ataukah tidak, untuk itu uji normalitas dibutuhkan. Dalam

pengujian normalitas pada penelitian ini, digunakan pengujian dengan alat bantu

pengujian yaitu dengan mengguakan program SPSS.

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan teknik tabulasi

distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi merupakan suatu cara penyajian data

skor ke dalam bentuk tabel. skor-skor tersebut diurutkan dari yang tertinggi ke

yang lebih rendah, atau sebaliknya, dan kemudian dihitung frekuensi

masing-masing skor atau kelas interval skor. penyajian data ke dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi tersebut akan memudahkan kita untuk membaca

(Nurgiyantoro, 2002 :32).

Data yang telah terkumpul nantinya akan di kelompokkan sesuai dengan

kriteria yang telah ada. sehingga untuk mengelompokkan data tersebut dibutuhkan

kelas interval skor. Untuk mendapatkan kelas interval skor maka terlebih dahulu

harus menentukan berapa skor maksimal dan minimalnya. Dengan mengetahui

skor maksimal dan minimal maka kita dapat menentukan rentang skor maksimal

dan minimal. Dari rentang skor tersebut, maka kita dapat menentukan panjang

interval pada tiap kelas interval.

Skor maksimal = skor maksimal tiap item soal x jumlah item soal

Skor minimal = skor minimal tiap item soal x jumlah item soal

Rentang skor = skor maksimal – skor minimal

Panjang interval = rentang skor : jumlah kriteria

Dari hasil pengakumulasian skor tersebut, dapat diklasifikasikan kriteria

(49)
(50)

3. Kondisi Ekonomi Keluarga

Skor maksimal = 5 x 7 = 35

Skor minimal = 1 x 7 = 7

Rentang = 35 – 7 = 28

Interval = 28 : 5 = 5,6 dibulatkan menjadi 6

Tabel 8. Kriteria Kondisi Ekonomi Keluarga

Skor Kriteria

Tabel 9. Kriteria Motivasi Orang Tua

(51)
(52)

H. Metode analisis data

Secara konseptual, analisis deskriptif merupakan metode untuk

menggambarkan data yang dikumpulkan secara sederhana. Salah satunya yaitu

dengan analisis dengan menggunakan frekuensi, yaitu dengan menggunakan tabel

frekuensi. Dengan demikian, tabel ini dapat menjelaskan jumlah atau proporsi

sampel pada suatu karakteristik tertentu (Nasution, 2008 : 118).

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

analisis frekuensi. Data yang telah diolah akan menghasilkan basis data dari

tiap-tiap variabel yaitu berupa data kelompok distribusi frekuensi. Dengan

menggunakan metode ini, distribusi frekuensi data pada tiap variabel akan di

deskripsikan sesuai dengan frekuensi skor yang di dapatkan pada tiap variabelnya.

Kemudian digunakan nilai rata-rata (mean) untuk dapat mengetahui skor

rata-rata pada tiap variabelnya. Nilai rata-rata ini dapat digunakan untuk

mengetahui kondisi pada tiap variabelnya yaitu masuk kedalam kriteria apa,

setelah itu data di analisis secara deskriptif. Penganalisisan data dengan cara ini

dilakukan pada tiap variabel yang diteliti, sehingga nantinya akan ditarik

kesimpulan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya tingkat

(53)
(54)

40

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Desa Dieng Wetan merupakan salah satu desa di Kecamatan Kejajar,

Kabupaten Wonosobo. Secara Astronomis Desa Dieng terletak antara 109o54’34”-

109o55’40” BT – 7o11’49” -7o13’27” LS. Jarak Desa Dieng ke ibukota

Kecamatan Kejajar berjarak 9 km dan 17 km dari ibu kota Kabupaten

Wonosobo. Desa Dieng Wetan merupakan daerah pegunungan dengan

ketinggian 2093 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata di Desa Dieng

Wetan antara 14o-23oC (Kecamatan Kejajar dalam Angka 2010).

Lokasinya berada di dataran tinggi yang kondisinya berbukit-bukit. Dieng

merupakan dataran tinggi tertinggi kedua di dunia setelah dataran tinggi Tibet.

Desa Dieng memiliki luas sekitar 282.000 Ha (28,2 km2) atau sebesar 4,89% dari

luas keseluruhan Kecamatan Kejajar. Secara administratif Desa Dieng Wetan

terdiri dari dua dusun yaitu Dusun Dieng dan Dusun Kalilembu. Desa Dieng

Wetan memiliki batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Batang

Sebelah Timur : Desa Patakbanteng, Desa Jojogan

Sebelah Selatan : Desa Sikunang

Sebelah Barat : Kabupaten Banjarnegara

(55)

41

(56)

42

2. Tata guna lahan

Luas wilayah Desa Dieng Wetan adalah 282,000 Ha dengan penggunaan

lahan sebagai berikut.

Tabel 12. Penggunaan lahan Desa Dieng Wetan

Jenis Penggunaan Lahan Luas lahan (Ha)

Pekarang 10,064

Tegalan/lading 79,936

Hutan Negara 181,000

Rawa/ telaga 9,000

Lainnya 2,000

Jumlah 282,000

Sumber: Kecamatan Kejajar dalam Angka tahun 2010

(57)

3. Kondisi Sosial-Ekonomi

Jumlah penduduk di Desa Dieng Wetan adalah 2.170 jiwa dengan luas

wilayah 2,82 km2 sehingga kepadatan penduduknya adalah770 jiwa/km2. Mata

pencaharian penduduk dapat dilihat dari tabel dan diagram berikut ini.

Tabel 13. Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)

1. Petani Sendiri 671 57,16 %

Sumber : BPS, Kecamatan Kejajar Dalam Angka 2010

Gambar 5. Diagram Mata Pencaharian Masyarakat Desa Dieng Wetan

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Dieng sebagian besar bertumpu

pada sektor pertanian yang mereka tekuni yaitu sebesar 68,49% atau sekitar 804

(58)

Tingkat pendidikan masyarakat Dieng masih dinilai rendah karena banyak

masyarakat Dieng yang hanya berpendidikan sekolah dasar (SD), hal ini

disebabkan karena Sekolah Lanjutan Menengah Pertama (SLTP) yang masih

terbatas. Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Dieng masih

berpendidikan rendah, sekitar 1357 jiwa atau 62,53% masyarakat Dieng tingkat

pendidikannya SD, tidak/belum tamat SD, dan tidak pernah sekolah. Selain karena

SLTP yang terbatas, penduduk yang tidak melanjutkan ke SLTP sangat banyak

karena kebanyakan mereka lebih memilih bekerja (membantu orang tua ataupun

menjadi buruh tani) ataupun melanjutkan ke pondok pesantren, disamping itu ada

juga yang tidak melanjutkan karena keterbatasan ekonomi.

B. Hasil penelitian

1. Motivasi Individu

Tabel 14. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Individu Terhadap Pendidikan

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

21 – 25

Berdasarkan dari hasil penelitian (tabel 14), dapat diketahui bahwa

skor rata-rata untuk motivasi individu masyarakat Dieng wetan terhadap

pendidikan yaitu 11,68 atau dalam kriteria rendah. Artinya bahwa motivasi

individu masyarakat Dieng Wetan pada pendidikan termasuk rendah. Kondisi

(59)

16,67% memiliki motivasi individu yang sangat rendah, 52 orang atau

61,91% memiliki motivasi individu rendah, 4 orang atau 4,76% memiliki

motivasi individu yang sedang, 3 orang atau 3,57% memiliki motivasi tinggi

dan hanya 11 orang atau 13,09% saja yang memiliki motivasi individu yang

sangat tinggi terhadap pendidikan mereka.

Kondisi ini menunjukkan bahwa motivasi individu masyarakat

Dieng untuk mengenyam pendidikan di sekolah hingga jenjang tinggi

sangatlah rendah. Mereka kurang tertarik untuk memiliki pendidikan yanr

tinggi, masyarakat lebih banyak memilih di pesantren atau bekerja daripada

bersekolah formal.

2. Kondisi Sosial

Tabel 15. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Sosial Terhadap Pendidikan

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

26 – 30

tinggi, 50 orang atau 59,52% termasuk dalam kondisi sosial yang sedang, dan

31 orang atau 36,91% termasuk dalam kondisi sosial yang rendah. Rata-rata

skor untuk kondisi sosial masyarakat Dieng Wetan adalah 16,05 atau dalam

kriteria sedang. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sosial masyarakat di

(60)

Kondisi sosial masyarakat Desa Dieng Wetan masih tergolong cukup

baik. Meskipun masyarakatnya adalah masyarakat petani yang memiliki

kesibukan masing-masing, namun hubungan sosial masyarakat terutama di

dalam keluarga dan tetangga terdekat masih cukup baik yaitu terhadap

pendidikan mereka. Kondisi sosial ini berarti kondisi lingkungan keluarga

responden dan kondisi lingkungan masyarakat yang meliputi interaksi antar

anggota keluarga, interaksi dengan anggota masyarakat dan komunikasi antar

keduanya.

3. Kondisi Ekonomi Keluarga

Tabel 16. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Ekonomi Keluarga

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

30 – 35

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 16, menunjukkan bahwa

kondisi ekonomi keluarga di Desa Dieng Wetan termasuk tinggi. Keadaan ini

dapat terlihat dari data penelitian menunjukkan bahwa dari 84 responden

terdapat 2 orang atau 2,38% memiliki kondisi ekonomi sangat tinggi, 79

orang atau 94,05% memiliki kondisi ekonomi keluarga yang tinggi, dan

sisanya sejumlah 3 orang atau 3,57% memiliki kondisi ekonomi keluarga

yang sedang. Jika kita lihat dari skor rata-rata kondisi ekonomi keluarga

(61)

Rata-rata tingkat pendapatan masyarakat disana adalah Rp.

1.700.000,- sampai dengan Rp. 2.399.000,- per bulannya, dengan tingkat

pemenuhan kebutuhan yang terpenuhi meskipun tidak sampai memiliki

tabungan. Namun yang membuat mereka memiliki kondisi ekonomi yang

cukup baik adalah jumlah anggota keluarga yang tidak terlalu banyak yaitu

berkisar 4 sampai 5 orang saja dalam satu keluarga yang menjadikan beban

keluarga tidak terlalu berat. Namun yang terjadi pada masyarakat Dieng

tidaklah demikian. Kondisi ekonomi keluarga yang tergolong baik ini tidak

kemudian turut mendorong masyarakatnya menempuh pendidikan setinggi

mungkin.

4. Motivasi Orang Tua

Tabel 17. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Orang Tua dalam Pendidikan

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

26 – 30

bagi pendidikan seseorang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa

motivasi dari orang tua masih sangat rendah dalam mendukung pendidikan

anak-anak mereka. Berdasarkan tabel 17 terdapat 3 orang atau 3,57% orang

tua memiliki motivasi yang sedang terhadap pendidikan anak, 29 orang atau

(62)

dan terdapat 52 orang atau 61,91% orang tua memiliki motivasi sangat rendah

terhadap pendidikan anak.

Dilihat dari rata-rata skor motivasi orang tua yang didapatkan adalah

10,39 atau masuk dalam kriteria sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa

motivasi orang tua masih sangat rendah dalam mendukung pendidikan

anak-anak mereka. Secara umum orang tua masyarakat Desa memiliki harapan

agar anak-anak mereka dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin,

namun pada kenyataannya orang tua kurang dapat memotivasi anak untuk

bersekolah. Orang tua lebih menyerahkan keinginan bersekolah pada anak.

5. Budaya

Tabel 18. Frekuensi Tentang Faktor Budaya Terhadap Pendidikan

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

30 – 35

Berdasarkanhasil penelitian pada tabel 18, diketahui bahwa budaya

masyarakat Dieng Wetan dalam berpendidikan masih tergolong rendah. Hal

ini dapat di lihat dari 84 responden terdapat 18 orang atau 21,43% memiliki

budaya dalam pendidikan yang sedang, 64 orang atau 76,19% memiliki

budaya dalam pendidikan yang rendah, dan 2 orang atau 2,38% memiliki

kebudayaan yang masuk dalam kriteria sangat rendah. Sehingga dapat

(63)

budaya masyarakat Dieng Wetan terhadap pendidikan masih tergolong

rendah.

Kebiasaan yang sudah melekat di masyarakat Dieng adalah orang

yang berpendidikan tinggi pada akhirnya mereka akan menjadi petani juga.

Hal tersebut membuat masyarakat menjadi tidak tertarik untuk bersekolah

tinggi-tinggi karena mereka menganggap percuma sekolah tinggi-tinggi jika

akhirnya menjadi petani lagi di desa. Anggapan semacam ini sudah

membudaya di masyarakat Dieng.

6. Aksesibilitas

Tabel 19. Frekuensi Tentang Faktor Aksesibilitas Terhadap Pendidikan

Jumlah Skor Kriteria Frekuensi Persentase (%)

26 – 30

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 19, diketahui bahwa tingkat

aksesibilitas Desa Dieng Wetan tergolong tinggi. Dari 84 responden, terdapat

5 orang atau 5,95% menunjukkan bahwa aksesibilitasnya sangat tinggi, 35

orang atau 41,67% menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas Desa Dieng

Wetan termasuk tinggi, 43 orang atau 51,19% menunjukkan bahwa tingkat

aksesibilitasnya sedang, dan hanya 1 orang atau 1,19% menunjukkan bahwa

aksesibilitas Desa Dieng Wetan masuk dalam kriteria rendah. Jika dilihat dari

Figur

Tabel
Tabel p.11
Gambar
Gambar p.12
Tabel 1. Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan Tahun 2009

Tabel 1.

Mata Pencaharian Penduduk Desa Dieng Wetan Tahun 2009 p.17
Tabel 2. Penduduk menurut Tingkat Pendidikan (10 th keatas) di Desa Dieng

Tabel 2.

Penduduk menurut Tingkat Pendidikan (10 th keatas) di Desa Dieng p.18
Tabel 3. Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Wonosobo dan Kecamatan

Tabel 3.

Angka Partisipasi Murni (APM) Kabupaten Wonosobo dan Kecamatan p.19
Tabel 4. Klasifikasi Pendapatan Orang Tua

Tabel 4.

Klasifikasi Pendapatan Orang Tua p.32
Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian

Gambar 1.

Kerangka Teori Penelitian p.40
Tabel 5. Populasi dan sampel

Tabel 5.

Populasi dan sampel p.43
Tabel 6. Kriteria Motivasi Individu

Tabel 6.

Kriteria Motivasi Individu p.49
Tabel 8. Kriteria Kondisi Ekonomi Keluarga

Tabel 8.

Kriteria Kondisi Ekonomi Keluarga p.50
Tabel 10. Kriteria Budaya

Tabel 10.

Kriteria Budaya p.51
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian

Gambar 2.

Kerangka Pemikiran Penelitian p.53
Gambar 2. Peta Administrasi Desa Dieng Wetan

Gambar 2.

Peta Administrasi Desa Dieng Wetan p.55
Tabel 12. Penggunaan lahan Desa Dieng Wetan

Tabel 12.

Penggunaan lahan Desa Dieng Wetan p.56
Gambar 5. Diagram Mata Pencaharian Masyarakat Desa Dieng Wetan

Gambar 5.

Diagram Mata Pencaharian Masyarakat Desa Dieng Wetan p.57
Tabel 14. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Individu Terhadap Pendidikan

Tabel 14.

Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Individu Terhadap Pendidikan p.58
Tabel 15. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Sosial Terhadap Pendidikan

Tabel 15.

Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Sosial Terhadap Pendidikan p.59
Tabel 16. Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Ekonomi Keluarga

Tabel 16.

Frekuensi Tentang Faktor Kondisi Ekonomi Keluarga p.60
Tabel 17. Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Orang Tua dalam Pendidikan

Tabel 17.

Frekuensi Tentang Faktor Motivasi Orang Tua dalam Pendidikan p.61
Tabel 18. Frekuensi Tentang Faktor Budaya Terhadap Pendidikan

Tabel 18.

Frekuensi Tentang Faktor Budaya Terhadap Pendidikan p.62
Tabel 19. Frekuensi Tentang Faktor Aksesibilitas Terhadap Pendidikan

Tabel 19.

Frekuensi Tentang Faktor Aksesibilitas Terhadap Pendidikan p.63
Gambar 6. Seorang anak SD yang membantu orang tuanya bekerja di ladang.

Gambar 6.

Seorang anak SD yang membantu orang tuanya bekerja di ladang. p.65
Gambar 7. Kegiatan sehari-hari masyarakat Dieng yang menggambarkan kondisi

Gambar 7.

Kegiatan sehari-hari masyarakat Dieng yang menggambarkan kondisi p.66
Gambar 8. Kondisi jalan di Dieng (kanan) dan Mikrobus yang merupakan salah

Gambar 8.

Kondisi jalan di Dieng (kanan) dan Mikrobus yang merupakan salah p.70
Tabel Uji Coba Instrumen 1

Tabel Uji

Coba Instrumen 1 p.87
Tabel Uji Coba Instrumen 2

Tabel Uji

Coba Instrumen 2 p.88
Tabel Perhitungan Validitas dan  Reliabilitas

Tabel Perhitungan

Validitas dan Reliabilitas p.89
grafik di bawah ini. titik-titik yang berad dekat dengan garis horizontal menunjukkan bahwa distribusi atau persebaran data-data

grafik di

bawah ini. titik-titik yang berad dekat dengan garis horizontal menunjukkan bahwa distribusi atau persebaran data-data p.97
Grafik Normalitas

Grafik Normalitas

p.98
Gambar 8. Kegiatan penelitian kepada orang tua dan anaknya

Gambar 8.

Kegiatan penelitian kepada orang tua dan anaknya p.100

Referensi

Memperbarui...