Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan

43 

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

MIGRASI INTERNASIONAL DAN IMPLIKASINYA

TERHADAP PEMBERANTASAN KEMISKINAN

Malla Dewi Agisty

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan (Studi Kasus: Tenaga Kerja Wanita di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Malla Dewi Agisty

(4)

ABSTRAK

MALLA DEWI AGISTY, Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan. Dibimbing oleh MANUNTUN PARULIAN HUTAGAOL.

Program penempatan tenaga kerja diluar negeri memberikan dampak positif terhadap negara yaitu meningkatnya jumlah remitansi dan devisa. Migrasi internasional melalui remitan dapat mengurangi kemiskinan, namun kemiskinan juga dapat memengaruhi seseorang untuk melakukan migrasi internasional. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor apa yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional dengan pendekatan

binary logistic regression, sedangkan untuk menganalisis pemanfaatan remitan dan implikasinya terhadap kemiskinan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan data primer 100 wanita usia kerja di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang. Hasil menunjukan bahwa umur, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan di daerah asal dan birokrasi memengaruhi wanita usia kerja untuk melakukan migrasi internasional. Sebagian besar Tenaga Kerja Wanita (TKW) tidak memanfaatkan remitan kearah ekonomi produktif karena

potensial saving masih rendah. Potensi remitan mengurangi kemiskinan relatif kecil.

Kata Kunci: Binary Logistic, Kemiskinan, Migrasi Internasional, Remitan, TKW

ABSTRACT

MALLA DEWI AGISTY, Analysis of the Factors Influencing International Migration and Implication Toward Against Poverty. Supervised by MANUNTUN PARULIAN HUTAGAOL

Employment programs abroad provide a positive impact on the State, increase the amount of remittances and foreign exchange. International migration through remittances can reduce poverty, however poverty can also influence a person to undertake international migration. This study was conducted to analyze factors that influence women's decision to migrate internationally with binary logistic regression approach, while to analyze the utilization of remittances and their implications for poverty using descriptive methods. This study used primary data of 100 women of working age at Pabuaran village, Pabuaran district, Subang regency. The results showed that age, marital status, education level, income in the region of origin and the bureaucracy affect women of working age for international migration. Most of women worker did not use remittances towards productive economy because potensial saving is low. Potential remittance reduce poverty relatively small.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ilmu Ekonomi

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

MIGRASI INTERNASIONAL DAN IMPLIKASINYA

TERHADAP PEMBERANTASAN KEMISKINAN

Malla Dewi Agisty

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan

Nama : Malla Dewi Agisty NIM : H14090115

Disetujui oleh

Diketahui oleh

Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec Ketua Departemen

Tanggal Lulus: ( )

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan (Kasus: Tenaga Kerja Wanita di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang). Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Manuntun Parulian Hutagaol, Ph.D selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran dan kritik terhadap penelitian ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Wiwik Rindayanti selaku penguji utama dan kepada Ibu Laily Dwi Arsyianti, M.Sc selaku penguji Komisi Pendidikan yang telah memberikan masukan berupa saran dan kritik sehingga skripsi ini dapat menjadi lebih baik. Terima kasih penulis ucapkan kepada Kepala Desa Pabuaran beserta aparat desa yang telah membantu selama masa penelitian. Tidak lupa, ucapan terima kasih kepada seluruh responden yang bersedia memberikan informasi terkait dengan penelitian ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, Lussi dan Agung serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2013

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 3

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Peneitian 4

Ruang Lingkup Penelitian 4

TINJAUAN PUSTAKA 4

Teori Migrasi 4

Migrasi Internasional dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya 4 Hubungan Migrasi Internasional, Remitan dan Kemiskinan 6

Kerangka Pemikiran 7

Hipotesis 8

METODE PENELITIAN 8

Sumber dan Jenis Data 8

Lokasi dan Waktu Penelitian 9

Metode Pengumpulan Data 9

Metode Analisis Data 9

Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional 10

Definisi Operasional Variabel 10

Tahap Analisis Model 11

Analisis Pemanfaatan Remitan dan Impilkasinya terhadap Kemiskinan 12

HASIL DAN PEMBAHASAN 12

Gambaran Umum 12

Karakteristik Responden 13

Pengujian Statistik Analisis Regresi 15

Hasil Estimasi Model 16

Pemanfaatan Remitan dan Implikasinya terhadap Kemiskinan 19

SIMPULAN DAN SARAN 21

Simpulan 21

Saran 21

DAFTAR PUSTAKA 22

(10)
(11)

DAFTAR TABEL

1 Perkembangan remitansi TKI di luar negeri tahun 2009 - 2012 2 2 Karakteristik responden yang memutuskan bermigrasi internasional 14 3 Karakteristik responden yang tidak memutuskan migrasi internasional 15 4 Ringkasan estimasi regresi faktor-faktor yang memengaruhi migrasi

internasional 16

5 Pemanfaatan remitan 19

6 Potensial saving yang diterima responden 20

DAFTAR GAMBAR

1 Penempatan tenaga kerja di luar negeri berdasarkan jenis kelamin tahun

2007 - 2012 2

2 Faktor-faktor yang terdapat pada daerah asal, daerah tujuan dan

rintangan antara 5

3 Kerangka Pemikiran 7

4 Presentase kemiskinan 20

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil Uji G 24

2 Hasil Uji Hosmer and Lemeshow Umur 24

3 Nagelkerke R-square dan Log Likehood 24

4 Uji signifikansi 25

5 Kuisioner penelitian 1 27

(12)
(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh suatu Negara. Tingginya pertumbuhan angkatan kerja membuat permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia semakin rumit. Jumlah pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2012, jumlah pengangguran atau pencari kerja di Indonesia sebanyak 7.24 juta orang atau 6.14% dari angkatan kerja yang ada. Angka tersebut masih jauh di atas tingkat penganggur alami sebesar 4-5%. Jumlah pengangguran akan naik apabila laju penyerapan tenaga kerja lebih rendah daripada laju angkatan kerja. Jumlah pengangguran dan pencari kerja di Indonesia cukup tinggi namun ketersediaan lapangan pekerjaan dalam negeri tidak mencukupi.

Jumlah pengangguran yang besar dapat menimbulkan kemiskinan. Kemiskinan pada umumnya lebih banyak dinikmati oleh masyarakat pedesaan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin di pedesaan mencapai18 juta orang dan jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 10 juta orang. Hal yang menyebabkan kemiskinan di daerah pedesaan adalah lapangan pekerjaan yang terbatas dan pendapatan yang diterima cukup rendah. Strategi kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi kemiskinan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi mayoritas penduduk miskin (pro-poor growth) terutama melalui kegiatan yang dapat membuka kesempatan kerja dan keselamatan usaha bagi kelompok masyarakat miskin (Adisasmita, 2005).

Dalam rangka menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan, pemerintah membuka kesempatan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya memutuskan untuk bekerja di luar negeri atau menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Perpindahan tenaga kerja dari negara-negara berkembang keluar negeri pada dasarnya disebabkan oleh adanya perbedaan ekonomi antar negara, rendahnya tingkat upah ditambah dengan sulitnya memperoleh pekerjaan yang memadai di negara-negara berkembang. Adanya kesempatan kerja dan tingginya tingkat upah di negara-negara maju cenderung mendorong perpindahan tenaga kerja dari negara berkembang ke negara maju (Mulyadi, 2006). Migrasi Internasional merupakan salah satu fenomena yang banyak terjadi di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok tenaga kerja diluar negeri. Terbukti dengan jumlah penempatan tenaga kerja di luar negeri yang cukup besar setiap tahunnya.

(14)

2

memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pekerjaan. Dapat dijelaskan dengan grafik berikut ini.

Sumber: Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan (PUSDATINAKER) (diolah)

Gambar 1 Penempatan Tenaga Kerja di Luar Negeri Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2007-2012

Migrasi dan kemiskinan mempunyai hubungan yang erat.Migrasi dapat dianggap sebagai sebuah alternatif untuk keluar dari jerat kemiskinan. Migrasi, dengan pendapatan yang diperoleh darinya, juga mempunyai andil dalam pengentasan kemiskinan, minimal di tempat asal para migran.Sebaliknya, dalam kondisi tertentu, kemiskinan justru menciptakan alasan yang mendasari orang melakukan migrasi (ILO, 2003). Migrasi internasional dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan melalui pengiriman uang atau remitansi. Menurut Pusdatinaker, pada tahun 2011 jumlah remitan yang diterima Indonesia mencapai 6.73 miliar dollar AS sedangkan pada tahun 2012 jumlah remitan TKI telah mencapai 6.32 miliar dollar AS. Penerimaan remitan mengalami sedikit penurunan namun jumlah remitan masih cukup besar. Jumlah tersebut belum mencakup jumlah remitansi secara keseluruhan karena sebagian besar TKI mengirim remitan secara informal (bukan melalui bank atau badan usaha yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia), perkembangan remitansi dapat dijelaskan dengan tabel berikut ini:

Tabel 1 Perkembangan Remitansi TKI di Luar Negeri Tahun 2009 – 2012

Tahun Remitansi (miliar USD)

2009 6.617

2010 6.734

2011 6.731

2012 6.382

Sumber: Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan (diolah)

Salah satu Provinsi pengirim TKI terbesar adalah Jawa Barat. Menurut Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, TKI yang berasal dari Jawa Barat pada tahun 2011 sebesar 144 183 orang. Angka tersebut merupakan

2007 2008 2009 2010 2011 2012

(15)

3 yang terbesar di seluruh Indonesia. Salah satu penyumbang TKI terbesar di Jawa Barat adalah Kabupaten Subang. Jumlah remitansi yang diterima Kabupaten Subang melebihi jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya sendiri. Menurut Pusat Data dan Analisa Pembangunan Jawa Barat, PAD Kabupaten Subang pada tahun 2011 sebesar 82.5 Miliar Rupiah sedangkan jumlah remitan yang diterima mencapai 252.2 Miliar Rupiah. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 57.48 Miliar rupiah.

Perumusan Masalah

Migrasi Internasional dapat berdampak positif dan negatif bagi negara. Migrasi Internasional berdampak positif bagi negara berupa remitansi dan devisa. Remitansi ini berguna untuk peningkatan pendapatan keluarga di pedesaan karena pada umumnya TKW yang bekerja diluar negeri berasal dari pedesaan. Dampak negatif dari migrasi internasional adalah resiko kemungkinan kekerasan yang dialami TKW Indonesia dan resiko tidak memperoleh upah yang sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara tujuan. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar TKW bekerja di sektor informal dan merupakan tenaga kerja tidak terampil. Program penempatan TKI dan TKW diluar negeri diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dalam negeri dan mengurangi jumlah pengangguran sehingga pada akhirnya dapat mengurangi angka kemiskinan.

Jika migrasi internasional menjadi salah satu alternatif yang tepat dalam mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, maka penting untuk menganalisis peluang keputusan bermigrasi internasional, sehingga dapat diketahui kebijakan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan migrasi internasional. Migrasi internasional melalui remitansi dapat mengeluarkan seseorang dari kemiskinan apabila pemanfaatan dari remitan tersebut dipergunakan secara benar. Fakta yang terjadi keadaan ekonomi pasca menjadi TKI dan TKW masih memprihatinkan. Jumlah TKW yang lebih besar dibandingkan TKI dan wanita merupakan pengatur keuangan dalam keluarga menjadi aspek yang penting untuk diteliti. Berdasarkan permasalahan mengenai TKW yang berada di Kabupaten Subang dengan studi kasus Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran maka dirumuskan masalah sebagai berikut; faktor-faktor apa yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional? Bagaimana pemanfaatan remitan yang dilakukan oleh TKW? Apakah dengan remitan yang diperoleh dari migrasi internasional dapat mengeluarkan ekonomi keluarga dari kemiskinan?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menjawab perumusan masalah, yaitu:

1. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional.

(16)

4

Manfaat Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai Tenaga Kerja Wanita di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Selain itu, penelitian ini ingin memberikan masukan bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan keberadaan Tenaga Kerja Wanita di luar negeri baik dari segi keamanan dan kondisi ekonomi pasca menjadi TKW. Tenaga Kerja Indonesia ini sangat berperan dalam meningkatkan devisa negara.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini membahas mengenai fakor-faktor yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional dan implikasinya terhadap pemberantasan kemiskinan di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Responden yang diteliti adalah wanita usia kerja yang pernah bermigrasi internasional dan yang tidak memutuskan utnuk bermigrasi internasional.

TINJAUAN PUSTAKA

Teori Migrasi

Migrasi adalah suatu bentuk gerak penduduk geografis, spasial atau teritorial antara unit-unit geografis yang melibatkan perubahan tempat tinggal yaitu dari tempat asal ke tempat tujuan.Orang yang melakukan migrasi disebut migran. Secara umum ada dua jenis migrasi yaitu migrasi internal dan migrasi internasional (Rusli, 1995). Menurut arsyad (1993) migran ini dipengaruhi oleh banyak faktor dan kompleks. Oleh karena migrasi merupakan suatu proses memilih (selective process) yang mempengaruhi individu-individu dengan karakteristik-karakteristik ekonomi, sosial, pendidikan, dan demografis tertentu. Dalam hal ini teori difokuskan pada teori migrasi internasional.

Migrasi Internasional dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya

(17)

5 dan dari negara-negara surplus tenaga kerja ke negara-negara kekurangan tenaga kerja (Mulyadi, 2006).

Todaro (1998) menyatakan bahwa arus migrasi berlangsung sebagai tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan antara daerah asal dan daerah tujuan. Menurut model Todaro, para migran membandingkan pasar tenaga kerja yang tersedia bagi mereka di daerah asal dan daerah tujuan, kemudian memilih salah satu yang dianggap mempunyai keuntungan maksimum yang diharapkan (expected gains). Para migran membandingkan pendapatan di daerah asal dan daerah tujuan. Pendapatan di daerah tujuan yang lebih tinggi yang mendasari keputusan mereka melakukan migrasi internasional.

Beberapa teori yang mengacu pada paradigma ekonomi mengenai pengambilan keputusan bermigrasi adalah; (1) teori Neoclassical Economic Macro yang menjelaskan perpindahan para pekerja dari negara yang kelebihan tenaga kerja dan kekurangan modal menuju ke negara yang kekurangan tenaga kerja tetapi memiliki modal besar. Kemudian (2) teori Neoclassical Economic Micro, yang menyarankan kepada para migran potensial agar dalam pengambilan keputusan bermigrasi mempertimbangkan biaya dan keuntungan perpindahan ke daerah tujuan yang memiliki potensi lebih besar dibandingkan daerah asalnya. Teori lainnya yaitu, (3) teori Segmented Labour Market yang menyatakan, bahwa pekerja melakukan migrasi karena ditentukan oleh tingginya permintaan pasar kerja di negara lain (Massey et al, 1993). Beberapa teori mejelaskan dalam hal yang berbeda, menurut Lee (1975) ada empat faktor yang menyebabkan orang melakukan migrasi, yaitu:

1. Faktor-faktor daerah asal

2. Faktor-faktor yang terdapat pada daerah tujuan 3. Rintangan antara

4. Faktor-faktor individual.

Gambar 2 Faktor-faktor yang terdapat pada daerah asal, daerah tujuan dan rintangan antara (Lee, 1975)

(18)

6

terdapat di daerah tujuan yaitu pendapatan di daerah tujuan, kemudahan memperoleh pekerjaan di daerah tujuan. Rintangan antara meliputi hambatan-hambatan yang dihadapi ketika bermigrasi. Sedangkan faktor-faktor individual meliputi umur, status pernikahan, dan jumlah tanggungan.

Minat bermigrasi dipengaruhi latar belakang individu, latar belakang struktural dan place utility. Faktor latar belakang individu meliputi variabel umur, status perkawinan, lama tinggal di kota, status pekerjaan di desa, pemilikan tanah di desa, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan di daerah tujuan dan besarnya pendapatan di kota. Faktor latar belakang struktural meliputi variabel karakteristik kota tempat kerja migran dan letak kota terhadap desa asal sedangkan faktor place utility meliputi variabel nilai yang diharapkan, kepuasan dan kesukaan hidup di kota daripada di desa (Listyarini, 2011).

Menurut Mantra (1985) orang yang berumur muda dan belum berumah tangga lebih banyak mengadakan mobilitas daripada orang yang sudah berumur lanjut dan berstatus kawin. Jumlah anak/tanggungan berpengaruh terhadap keputusan orang bermigrasi karena jumlah pendapatan yang diperoleh di daerah asal tidak mencukupi kebutuhan maka kemungkinan mendapatkan pendapatan yang lebih besar dengan bekerja di luar negeri (Rahmawati, 2010). Adanya korelasi yang positif antara kesempatan memperoleh pendidikan dan migrasi. Orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan migrasi daripada yang pendidikannya lebih rendah. Selama bertahun-tahun presentase migrasi yang terbanyak adalah kaum miskin, tidak memiliki tanah, dan tidak mempunyai keterampilan. Para migran ini tampaknya datang dari semua tingkat sosio-ekonomis yang sebagian besar adalah sangat miskin karena memang sebagian besar orang-orang pedesaan adalah miskin (Arsyad,1993).

Migrasi internasional menghasilkan remitan yang berguna untuk meningkatkan taraf hidup keluarga dalam skala mikro. Sedangkan dalam skla makro remitan berfungsi sebagai peningkatan devisa negara. Menurut BNP2TKI (2011) Remitan merupakan transfer atau uang kiriman dari luar negeri. Remitan dapat dibedakan menjadi dua yaitu transfer atau kiriman dari luar negeri (inward remittance) dan transfer atau kiriman uang dari dalam negeri (outward remittance)

Hubungan Migrasi Internasional, Remitan dan Kemiskinan

Migrasi terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga dan perkembangan ekonomi wilayah pedesaan. Total pendapatan rumah tangga secara nyata dipengaruhi oleh besarnya remitan (Susilowati, 2008). Dalam beberapa studi ditemukan bahwa remitansi memiliki dampak yang besar terhadap kondisi makroekonomi, seperti efeknya terhadap pendapatan nasional di negara berkembang hingga mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran. Remitan secara general mengurangi tingkat dan keparahan kemiskinan. Secara frequently memimpin dalam meningkatkan akumulasi sumber daya manusia, perluasan kesehatan dan pengeluaran untuk pendidikan (Bank Dunia, 2012).

(19)

7 pengurangan kemiskinan di negara berkembang. Menurut BPS, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia berada di pedesaaan. Pada umumnya keluarga miskin di pedesaan tidak atau kurang mampu memenuhi salah satu fungsi dasar dalam kehidupan manusia yaitu fungsi ekonomi. Beberapa penyebab dari kondisi ini adalah terbatasnya lapangan kerja yang menampung mereka, tanah pertanian tandus di daerah asal, tingkat pendidikan rendah dan keterbatasan keterampilan hidup.

Masyarakat pedesaan yang mengalami masalah tersebut berusaha mencari pekerjaan diluar desa dengan jalan melakukan migrasi sebagai upaya menambah penghasilan bagi keluarga. Dengan penghasilan yang diperoleh mereka berusaha mengirim sebagian dari penghasilannya untuk keluarga. Remitan yang dikirim diharapkan mampu mempengaruhi kondisi kesejahteraan keluarga berupa adanya perubahan dalam taraf hidup keluarga seperti pemenuhan kebutuhan hidup yaitu kebutuhan fisik keluarga yang meliputi kebutuhan pangan, peningkatan gizi keluarga, peningkatan kesehatan dan pendidikan (Kuntari, 2010).

Kerangka Pemikiran

Kemiskinan dan keterbatasan lapangan kerja di pedesaan menyebabkan penduduk di desa banyak yang melakukan migrasi. Migrasi terbagi menjadi dua yaitu migrasi internal dan migrasi internasional. Fenomena migrasi internasional banyak terjadi di negara berkembang salah satunya Indonesia. Migrasi internasional berdampak positif bagi negara yaitu devisa dan remitansi. Dampak negatifnya adalah kekerasan yang sering dialami TKW Indonesia dan resiko pembayaran upah yang tidak semestinya. Permasalahannya adalah apakah dengan migrasi internasional dapat mengeluarkan seseorang dari kemiskinan.

Pemanfaatan remitan menjadi faktor yang penting sehingga kita dapat mengetahui penggunaannya, apakah remitan digunakan untuk kegiatan ekonomi produktif atau habis dengan konsumsi saja. Hal yang harus ditemukan jawabannya adalah potensial saving yang diterima responden dapat mencukupi untuk melakukan investasi atau tidak. Investasi dapat beguna untuk kelangsungan kehidupan keluarga sehingga dapat keluar dari lingkaran kemiskinan. Hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan apakah migrasi internasional tersebut tetap dapat dipertahankan atau dilarang. Jika masih dapat dipertahankan maka penting untuk menganalisis faktor-faktor apa yang memengaruhi migrasi internasional.

(20)

8

Migrasi Penduduk

Gambar 3 Kerangka Pemikiran

Hipotesis

1. Umur berpengaruh negatif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

2. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

3. Jumlah tanggungan berpengaruh positif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

4. Luas pemilikan lahan pertanian di daerah asal berpengaruh negatif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

5. Pendapatan di daerah asal berpengaruh negatif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

6. Status pekerjaan di daerah asal berpengaruh negatif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

7. Status Pekerjaan berpengaruh negatif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

8. Birokrasi berpengaruh positif terhadap keputusan TKW untuk melakukan migrasi internasional

Migrasi Internal

Implikasi Kebijakan Kemiskinan dan terbatasnya

lapangan kerja

Migrasi Internasional

Faktor-faktor yang memengaruhi migrasi internasional Pemanfaatan remitan dan

implikasinya terhadap kemiskinan

(21)

9

METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara kepada wanita usia kerja yang berada di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Subang dan kantor kelurahan mengenai data kependudukan. Selain itu, data tenaga kerja dan kemiskinan.diperoleh melalui Badan Pusat Statistik Jawa Barat dan Kabupaten Subang.

Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pemilihan objek penelitian dilakukan secara

purposive sampling yaitu Jawa Barat merupakan pengirim TKI terbanyak di seluruh Indonesia. Kabupaten Subang merupakan pengirim TKI terbesar ke empat di Jawa Barat. Alasan memilih Desa Pabuaran Kecamatan Pabuaran karena desa ini sering melakukan migrasi internasional dan kedekatan tempat tinggal dengan lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan selama Januari-Juni 2013.

Metode Pengumpulan Data

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja wanita yang berdomisili di Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang. Jumlah wanita usia kerja di Desa Pabuaran adalah 3 493 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik pengambilan sample non-probabilitas yaitu purposive dan

snowball sampling. Purposive sampling yaitu teknik memilih sampel berdasarkan pertimbangan karakteristik yang cocok yang diperlukan untuk menjawab penelitian (Juanda, 2009). Sedangkan snowball sampling merupakan teknik penentuan sample penelitian dengan mengikuti informasi-informasi dari sample sebelumnya. Dalam penelitian ini jumlah sampel yang akan diteliti dihitung menggunakan rumus Slovin

Dimana :

n = jumlah sampel N = jumlah populasi

e = toleransi kesalahan dalam menetapkan sampel 10% atau 0,10

(22)

10

Sampel yang diambil dalam menjawab faktor-faktor apa yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional sebanyak 100 responden yang terdiri dari 40 responden yang memutuskan bermigrasi internasional dan 60 responden kontrol yang belum pernah melakukan migrasi internasional tetapi memiliki potensi untuk melakukan migrasi internasional. Alasan pengambilan responden kontrol sebanyak 60 orang karena populasi responden kontrol yang lebih banyak dibandingkan responden utama. Responden kontrol ini berguna sebagai pembanding untuk mengetahui peluang keputusan bermigrasi internasional. Sedangkan sampel yang diambil untuk menjawab pemanfaatan dan pengaruh remitan terhadap pengurangan tingkat kemiskinan hanya 40 responden yang memutuskan melakukan migrasi internasional.

Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini akan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Pengolahan data menggunakan bantuan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0. Dua alat analisis yang relevan digunakan sesuai dengan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Wanita untuk Melakukan Migrasi Internasional

Metode analisis data yang digunakan adalah Logistic Regression Model. Model regresi logistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi logistik dengan dua pilihan (Binary Logistic Regression) yaitu regresi logistik dengan dua kategori atau binominal pada variabel dependennya. Bentuk model umum yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

MIG = α1+ β1UM+ β2TP + β3JT + β4LHN+ β5PD+β6PK+β7SP+ β8BIR +εi

Dimana :

MIG : Keputusan bermigrasi ke luar negeri (1 jika pernah bermigrasi, 0 jika tidak bermigrasi)

α1 : Intersep

β1—β8 : Koefisien Regresi

UM : Umur (tahun)

TP : Tingkat Pendidikan (1 untuk SD, 2 untuk SMP,3 untuk SMA dan 4 untuk perguruan tinggi)

JT : Jumlah Tanggungan (jiwa)

LHN : Luas Pemilikan Lahan Pertanian di daerah asal (m2) PD : Pendapatan di daerah asal (Rupiah)

PK : Status Pekerjaan di Daerah Asal (1 untuk bekerja,0 untuk tidak bekerja)

SP : Status Pernikahan (0 untuk janda, 1 untuk menikah dan 2 untuk belum menikah)

BIR : Birokrasi (1 untuk mudah dan 0 untuk sulit)

(23)

11

Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Keputusan migrasi didefinisikan sebagai keputusan migrasi wanita usia kerja ke luar negeri, Diukur dengan model Logit Binary dengan 2 kategori: 1= memutuskan untuk bermigrasi dan 0=tidak memutuskan untuk bermigrasi. 2. Variabel bebas (Independent Variable)

1. Umur didefinisikan sebagai umur responden dalam satuan tahun

2. Tingkat Pendidikan didefinisikan sebagai pendidikan terakhir yang pernah ditempuh oleh responden (1 untuk SD, 2 untuk SMP,3 untuk SMA dan 4 untuk perguruan tinggi)

3. Jumlah tanggungan didefinisikan sebagai jumlah orang yang menjadi tanggungan dalam keluarga

4. Luas pemilikan lahan pertanian didefinisikan sebagai luas lahan pertanian yang dimiliki responden dan atau keluarga responden (suami/orang tua) sebagai sember penghasilan responden, yang dinyatakan dalam satuan meter persegi

5. Pendapatan di daerah asal didefinisikan sebagai penghasilan rata-rata satu bulan yang diterima responden dalam satuan rupiah

6. Status Pekerjaan didefinisikan sebagai status mata pencaharian responden di daerah asal, dinyatakan dalam variable dummy (1=jika bekerja dan 0=jika tidak bekerja)

7. Status pernikahan didefinisikan sebagai status perkawinan responden, dinyatakan dalam variable dummy (0= jika janda, 1= jika menikah dan 2 jika belum menikah.

8. Birokrasi didefinisikan sebagai persyaratan dan prosedur menjadi TKW, dinyatakan dalam variabel dummy (1= jika mudah dan 0= jika sulit)

Tahap Analisis Model

1. Pengujian kesesuaian model (goodness-of fit)

Pengujiaan goodness of fit dapat dilakukan dengan Hosmer and Lemeshow Test, dengan melihat nilai chi-square-nya. Hipotesis untuk menilai model fit adalah:

H0= Tidak ada perbedaan antara model dengan data yang diamati H1= Ada perbedaan antara model dengan data yang diamati

(24)

12

2. Uji Keseluruhan (UJI G)

Dengan melihat Omnibus Tests of Model Coefficients. Hipotesis untuk melihat model

H0 : model tidak mampu menjelaskan Y H1 : Model sudah mampu menjelaskan Y

Jika p-value kurang dari alpha 5% maka tolak H0 artinya model sudah mampu menjelaskan Y.

3. Uji signifikansi dari parameter

Untuk menentukan justifikasi signifikansi statistik bagi masing-masing variabel yang diuji adalah dengan mendasarkan pada nilai wald-ratio (X²-Wald).Interpretasi dari wald-ratio mirip dengan uji t statistik yang digunakan untuk mengukur tingkat signifikansi dalam regresi linier. Jika tingkat signifikansi

kurang dari α = 0,01; α = 0,05 dan α = 0,10 maka variabel independent yang

diamati berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Sebaliknya,

jika signifikansi lebih dari α = 0,01; α = 0,05 dan α = 0,10 maka parameter tersebut sama dengan 0. Berarti, variabel independent berpengaruh tidak signifikan secara statistik terhadap variabel dependent.Parameter dengan tingkat signifikansi yang negatif, menurunkan probabilitas terpilihnya pilihan terhadap kategori referensi.Sedangkan parameter dengan tingkat signifikansi yang positif menaikkan probabilitas terpilihnya pilihan terhadap kategori referensi (Ghozali, 2006).

2. Analisis Pemanfaatan Remitan TKW dan Implikasinya terhadap Kemiskinan

Metode yang digunakan untuk menganalisis pemanfaatan remitan dan implikasinya terhadap pemberantasan kemiskinan adalah metode deskriptif. Sampel dalam analisis ini adalah migran yakni Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang pernah bekerja di luar negeri dan saat ini berada di daerah asal (Pabuaran) dengan ketentuan lama bekerja sama dengan atau lebih dari dua tahun. Alasan ditentukannya lama waktu migran karena diasumsikan bahwa selama waktu tersebut jumlah remitan yang dimanfaatkan oleh migran dan keluarganya akan menunjukkan hasil berupa investasi dan masa kontrak TKW umumnya adalah dua tahun. Jumlah TKW yang dijadikan sampel sebanyak 40 orang yang pernah melakukan migrasi internasional.

(25)

13 Garis kemiskinan yang diukur melalui pengeluaran perkapita dijadikan patokan untuk mengukur miskin/tidak miskin TKW yang telah kembali ke Indonesia. Pengaruh remitan terhadap pengurangan kemiskinan dianalisis dengan menghitung potensial saving yang diterima keluarga. Remitan dapat mengeluarkan seseorang dari kemiskinan apabila pemanfaatan dari remitan dipergunakan secara benar yaitu dengan cara investasi. Perhitungan potensial saving dengan cara pendapatan yang diperoleh keluarga ditambah dengan remitan lalu dikurangi dengan kebutuhan minimum yang diperlukan keluarga dalam sebulan. Sehingga, dari hasil yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan yaitu apakah potensial saving yang diterima keluarga mencukupi untuk investasi/tabungan. Jika nilai sisa dari pendapatan dan remitan dikurangi pengeluaran lebih dari nol maka memiliki potensial saving. Potensial saving

dapat diturunkan menadi potensi investasi. Jika hasil sisa perbulan tersebut dikalikan 12 bulan, maka dalam setahun dapat diperoleh hasil yang dapat digunakan untuk membeli lahan atau membuka usaha. Jika hasil tersebut besar maka remitan memiliki potensi investasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum

Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205 176.95 ha atau 6.34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini terletak di antara 107º 31' sampai dengan 107º 54' Bujur Timur dan 6º 11' sampai dengan 6º 49' Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertambah menjadi 30 kecamatan. Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara.

Desa Pabuaran merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, dengan batas – batas administrasi wilayah desa yaitu: sebelah utara berbatasan dengan Desa Gempol Sari, sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Desa Salam Jaya, sebelah barat berbatasan dengan Desa Kadawung. Luas Desa Pabuaran yaitu 875 Ha berupa daratan. Sebagian besar tanah di Desa Pabuaran yaitu sebanyak 514 Ha dimanfaatkan untuk persawahan, sedangkan 88 Ha dan sisanya digunakan untuk permukiman penduduk dan prasarana umum lainnya.Secara administratif, Desa Pabuaran terdiri dari 6 dusun, 5 RW, dan 53 RT.

(26)

14

usia kerja di Desa Pabuaran sebanyak 3 493 orang. Adanya kendala bahwa migran yang ke luar desa tidak seluruhnya melakukan pemberitahuan terlebih dahulu ke kantor Desa Pabuaran, sehingga sulit didapat data yang pasti mengenai jumlah populasi tenaga kerja wanita yang memutuskan bermigrasi internasional.

Karakteristik Responden

Karakteristik responden terbagi menjadi dua yaitu karakteristik responden yang pernah bermigrasi internasional dan karakteristik responden yang tidak memutuskan untuk melakukan migrasi internasional.

Tabel 2 Karakteristik Responden yang Bermigrasi Internasional

(27)

15

Karakteristik responden yang bermigrasi internasional didominasi oleh wanita usia produktif yaitu usia 21-40 tahun dan memiliki status pernikahan. Rata-rata responden memiliki jumlah tanggungan lebih dari dua dan tidak mempunyai pekerjaan di daerah asal sebelum peri bekerja diluar negeri.Pendapatan didaerah asal yang diterima perbulan seluruhnya berada dibawah 1 000 000 rupiah. Sebagian besar responden mempunyai lahan seluas 0-100 m2. Pendidikan terakhir yang ditempuh responden sebagian besar adalah Sekolah Dasar. Hampir seluruh responden yang bermigrasi internasional mengatakan bahwa birokrasi menjadi TKW adalah mudah.

Tabel 3 Karakteristik Responden yang Tidak Bermigrasi Internasional

(28)

16

Karakteristik responden yang tidak bermigrasi internasional juga didominasi oleh wanita usia produktif yaitu usia 21-50 tahun dan memiliki status pernikahan. Rata-rata responden memiliki jumlah tanggungan lebih dari dua dan mempunyai pekerjaan di daerah asal. Pendapatan rata-rata yang diperoleh perbulan masih dibawah 1 000 000 rupiah namun 40% sisanya telah memiliki pendapatan di atas 1 000 000 rupiah. Sebagian besar responden mempunyai lahan seluas 0-100 m2. Pendidikan yang ditempuh rata-rata adalah Sekolah Dasar. Sebagian besar responden yang tidak bermigrasi internasional mengatakan bahwa birokrasi menjadi TKW adalah sulit.

Pengujian Statistik Analisis Regresi

Pengujiaan goodness of fit dapat dilakukan dengan Hosmer and Lemeshow Test, dengan melihat nilai chi-square-nya.Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai chi-square sebesar 3,205 dengan nilai sig sebesar 0,921. Nilai sig (p-value) diatas 0.05 berarti H0 diterima, bisa dikatakan data empiris sama dengan model atau model fit dengan data. Hasil pendugaan parameter menyatakan bahwa model dapat mengklasifikasikan responden yang tidak bermigrasi sebesar 93.3% dan sebesar 85% yan melakukan migrasi internasional. Secara keseluruhan model mampu mengklasifikasikan responden yang bermigrasi ataupun yang tidak bermigrasi sebesar 90%.

Tabel 4 Ringkasan Estimasi Regresi Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi Internasional

Observed Migrate Predicted Migrate Percentage Correct

(0=tidak bermigrasi) (1=bermigrasi)

(0=tidak bermigrasi) 56 4 93.3

(1=bermigrasi) 6 34 85.0

Overall Percentage 90.0

(29)

17

Hasil Estimasi dan Pembahasan

Persamaan regresi logistik dapat dirumuskan dengan bentuk persamaan regresi sebagai berikut:

MIG= 14.027 - 0.25 UM - 3.816 SP (1) – 2.267 TP - 0.624 PD+ 3.545 BIR Berdasarkan hasil estimasi lima variabel berpengaruh signifikan memengaruhi migrasi internasional yaitu umur, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan dan birokrasi. Tiga variabel lainnya yaitu status pekerjaan, jumlah tanggungan dan kepemilikan lahan tidak berpengaruh signifikan pada keputusan bermigrasi internasional. Variabel umur menunjukkan angka koefisien yaitu -0.25 (pvalue 0.009) artinya variabel umur berpengaruh negatif dan signifikan pada taraf nyata 5%terhadap keputusan bermigrasi internasional.Nilai odds ratio umur sebesar 0.779 artinya peluang responden yang berumur lebih tuasatu tahun melakukan migrasi internasional lebih rendah 0.779 kalidibanding responden yang lebih muda (satu tahun), cateris paribus. Berarti kecenderungan orang yang bermigrasi adalah orang yang berumur lebih muda. Hal ini sesuai dengan hipotesis dalam penelitian ini yang menduga bahwa umur berpengaruh negatif dan signifikan terhadap keputusan migrasi internasional. Penelitian Zhao (1999) juga mengemukakan bahwa semakin tua umur, semakin kecil kemungkinan individu untuk melakukan migrasi sirkuler, karena biaya psikologis untuk melakukan penyesuaian menghadapi lingkungan kerja dan tempat tinggal yang baru semakin besar

Status pernikahan menunjukkan angka koefisien -3.816 (pvalue

0.048).artinya variabel status pernikahan berpengaruh negatif dan signifikan pada taraf nyata 5% terhadap keputusan bermigrasi internasional. Nilai odds ratio

status pernikahan sebesar 0.22.artinyapeluang responden yang berstatus menikah melakukan migrasi 0.22 kali lebih rendah dari orang yang berstatus janda. Dari hasil estimasi dapat disimpulkan bahwa migrasi internasional lebih banyak diminati tenaga kerja wanita yang tidak mempunyai status pernikahan (janda). Status janda menjadikan wanita berperan dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga namun disisi lain peran wanita sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga menjadi alasan untuk tidak berminat melakukan migrasi. Ikatan pernikahan dan kekerabatan dianggap sebagai ―hambatan‖ responden dalam melakukan migrasi. Hasil estimasi ini sesuai dengan hipotesis awal bahwa status pernikahan diduga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap peluang keputusan bermigrasi.

Dari hasil estimasi variabel tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan pada taraf nyata 5% dengan angka koefisien yaitu -2.267 (pvalue

(30)

18

bermigrasi.Terdapat ketidaksesuaian tanda antara hasil estimasi dengan hipotesis awal.

Semakin tinggi tingkat pendidikan responden maka peluang keputusan bermigrasi akan berkurang. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka tenaga kerja akan mencari pekerjaan yang lebih baik atau memilih bekerja pada sektor formal. Berdasarkan informasi penempatan tenaga kerja, sebagian besar tenaga kerja wanita khususnya dari Indonesia bekerja pada sektor informal di luar negeri. Peluang pekerjaan di luar negeri yang banyak ditawarkan adalah pekerjaan pada sektor informal yang sebagian besar ditempati oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Variabel pendapatan di daerah asal menunjukkan angka koefisien yaitu -0.624 (pvalue 0,075) artinya variabel pendapatan berpengaruh negatif dan signifikan pada taraf nyata 10% terhadap keputusan bermigrasi internasional. Hal ini sesuai dengan hipotesis dalam penelitian ini. Nilai odds ratio variabel pendapatan sebesar 0.536 artinya peluang responden yang melakukan migrasi internasional 0.536 kali lebih tinggi untuk responden yang berpendapatan rendah dibandingkan responden yang berpendapatan tinggi. Tanda koefisien (-) menunjukkan semakin rendah upah akan semakin besar peluang wanita usia kerja untuk melakukan migrasi internasional, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori Todaro yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat upah antara desa dan kota. Para migran memprediksikan bahwa pendapatan yang diharapkan di kota akan lebih banyak. Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi seseorang untuk bermigrasi adalah sulitnya memperoleh pendapatan di daerah asal dan kemungkinan untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik di daerah tujuan.

Variabel birokrasi menunjukkan angka koefisien sebesar 3.545 (pvalue

0.000) yang berarti birokrasi berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5%. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal. Nilai odds ratio variabel birokrasi sebesar 34.65 artinya peluang responden yang melakukan migrasi internasional jika proses birokrasi mudah adalah 34.65 kali dari peluang bermigrasi jika proses birokrasinya sulit. Birokrasi dalam hal ini berarti persyaratan dan prosedur dalam pencalonan TKW. Birokrasi yang mudah meningkatkan keputusan bermigrasi internasional TKW di Desa Pabuaran. Biaya menjadi TKW yang gratis bahkan calon TKW akan diberi uang awal oleh PJTKI jika mereka mau bekerja di luar negeri.

Variabel jumlah tanggungan menunjukkan angka koefisien sebesar 0.062 (pvalue 0.916).yang berarti jumlah tanggungan berpengaruh positif dan tidak signifikan pada taraf nyata 5%. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yaitu variabel jumlah tanggungan diduga berpengaruh positif dan signifikan.Besar kecilnya jumlah tanggungan responden tidak mempengaruhi keputusan untuk melakukan migrasi internasional.

(31)

19 tenaga kerja wanita desa Pabuaran ke luar negeri. Tidak hanya responden yang tidak bekerja saja yang memutuskan bermigrasi ke luar negeri, banyak juga responden yang sudah bekerja tetapi masih memutuskan untuk bermigrasi ke luar negeri.Hal ini karena sebagian besar responden baik yang bekerja maupun tidak bekerja menyatakan bahwa mereka mendapat informasi baik dari kenalan, keluarga dan PJTKI setempat mengenai lowongan pekerjaan yang banyak di luar negeri. Responden yang memiliki pekerjaan di daerah asal tetap ingin bermigrasi karena penghasilan yang mereka dapatkan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Variabel kepemilikan lahan menunjukan tanda negatif dan tidak signifikan pada taraf nyata 5% yaitu nilai koefisien sebesar 0.558 (p-value 0.692). Kepemilikan lahan tidak berpengaruh terhadap keputusan bermigrasi internasional. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa walaupun responden memiliki lahan dan mendapatkan penghasilan dari lahan tersebut, tidak menghalangi keputusan mereka untuk melakukan migrasi internasional. Hal ini disebabkan pendapatan yang diperoleh dari menggarap lahan tersebut sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Pemanfaatan Remitan dan Implikasinya terhadap Pemberantasan Kemiskinan

Sebagian besar responden memilih negara-negara Timur Tengah sebagai negara tujuan migrasi yaitu sebesar 85% dan 15% sisanya adalah Negara Asia lainnya. Jenis pekerjaan responden di luar negeri, sebesar 92% adalah pembantu rumah tangga. 8% lainnya bekerja sebagai office girl, buruh pabrik, dan pelayan restaurant. Hal ini membuktikan bahwa kebanyakan tenaga kerja wanita Indonesa bekerja di sektor informal.

Rata-rata responden mengirim remitan sebesar 1 600 000 rupiah per bulan. Sebesar 52% responden menggunakan uang remitan untuk konsumsi sehari-hari. 22% responden menggunakan uang remitan untuk investasi pendidikan dan konsumsi. Investasi pendidikan dalam hal ini adalah biaya pendidikan anak. Sisanya digunakan untuk investasi ekonomi, seperti membeli sawah, tanah, emas dan modal usaha. Sebagian besar TKW tidak menggunakan uang remitan untuk investasi ekonomi. Mereka hanya menggunakan uang remitan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Dapat dijelaskan dengan tabel berikut ini:

Tabel 5 Pemanfaatan Remitan

Penggunaan Jumlah Persentase (%)

Konsumsi 21 52

Investasi Pendidikan 2 5

Investasi Pendidikan dan Konsumsi 9 22

Investasi Ekonomi 3 8

Investasi Ekonomi dan Konsumsi 4 10

Investasi Ekonomi dan Investasi Pendidikan 1 3

(32)

20

tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak, baik didalam maupun diluar negeri sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan. Dalam Pasal 3 tertulis penempatan dan perlindungan calon TKI/TKW bertujuan untuk:

1. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.

2. Menjamin dan melindungi calon TKI/TKW sejak di dalam negeri, di negara tujuan, sampai kembali ke tempat asal di Indonesia.

3. Meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya.

Tujuan ketiga merupakan hal yang penting. Menurut ILO (2003) jika pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai perwujudan dari tingkat pekerjaan dan pendapatan yang lebih tinggi, tabungan dan investasi yang lebih banyak dan juga pengentasan kemiskinan secara mantap, maka uang kiriman dari para pekerja migran dapat dilihat sebagai suatu mekanisme yang efektif dalam menyalurkan secara langsung uang tunai ke tangan orang miskin. Hal itu akan membantu mereka keluar dari kemiskinan. Remitan membuat pendapatan yang diterima keluarga meningkat namun setelah menerima remitan dan kembali ke Indonesia kondisi ekonomi eks TKW sebagiannya masih berada dalam lingkaran kemiskinan. Dengan menggunakan garis kemiskinan dapat diukur TKW tersebut masih berada dalam lingkaran kemiskinan atau tidak. Garis kemiskinan Kabupaten Subang sebesar 243 311 rupiah yang diukur melalui pengeluaran perkapita.

Gambar 4 Presentase kemiskinan

Sebesar 27% eks TKW masih berada dibawah garis kemiskinan.Sisanya sebesar 73% sudah berada diatas garis kemiskinan. Hal ini membuktikan bahwa remitan tidak dapat sepenuhnya mengurangi kemiskinan. Remitan berhasil secara

general meningkatkan taraf hidup keluarga namun sebagiannya tidak dapat memanfaatkannya secara benar sehingga dekat dengan kemiskinan. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan jalan pemanfaatan remitan untuk aktivitas ekonomi produktif yaitu investasi ekonomi sehingga dapat memberikan pengaruh dalam pengentasan kemiskinan.

Pertanyaannya adalah apakah dengan nominal remitan yang diperoleh dapat layak digunakan untuk investasi. Dari hasil analisis sebesar 10% responden, dengan uang remitan yang diterima, tidak dapat mencukupi untuk melakukan

(33)

21

saving atau investasi karena uang yang diterima habis untuk konsumsi. Sedangkan sisanya sebesar 90% memiliki sisa uang yang dapat digunakan untuk tabungan dan investasi. Hasil yang dapat digunakan untuk investasi memiliki rentang dari 1 000 000 rupiah hingga 3 300 000 rupiah.

Tabel 6 Potensial Saving yang Diterima Responden Jumlah Uang (Rupiah) Jumlah Responden

(orang) 000 rupiah per bulan. Dengan potensial saving sebesar 1 600 000 rupiah per bulan maka dalam setahun keluarga dapat menyisihkan uang sebesar Rp 19 200 000. Jumlah tersebut tidak dapat mencukupi untuk membeli lahan (menggarap sawah). Sehingga sebagian hanya dapat menggadai sawah dan sebagian lainnya memanfaatkannya untuk modal usaha seperti membuka warung/toko dalam skala kecil. Dengan adanya remitan keluarga memiliki potensi investasi namun potensi investasi yang diperoleh masih relatife kecil. Potensial saving yang relatif rendah dikarenakan pendapatan yang diperoleh dari migrasi internasional masih cukup kecil dan sebagiannya menggunakan uang tersebut untuk membayar hutang atau memperbaiki rumah. Migrasi Internasional masih dapat dipertahankan sebagai alternatif peningkatan pendapatan keluarga di pedesaan namun masalah yang masih dihadapi yaitu sebagian besar TKW bekerja di sektor informal, sehingga upah yang diterima masih cukup rendah. Penempatan di sektor formal harus lebih ditingkatkan agar remitan yang diperoleh semakin besar dan dapat digunakan untuk investasi yang lebih baik.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai analisis faktor-faktor yang memengaruhi migrasi internasional dan implikasinya terhadap pemberantasan kemiskinan diperoleh beberapa kesimpulan yaitu :

1. Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wanita untuk melakukan migrasi internasional adalah umur, status pernikahan, tingkat pendidikan, pendapatan di daerah asal dan birokrasi.

(34)

22

pendapatan keluarga namun potensi remitan mengeluarkan keluarga dari kemiskinan masih sangat kecil.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka disarankan kebijakan sebagai berikut:

1. Pemerintah seharusnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kualitas pendidikan agar tenaga kerja yang bekerja di luar negeri terdidik dan terampil.

2. Penempatan tenaga kerja di sektor formal harus lebih ditingkatkan dibandingkan penempatan di sektor informal. Jumlah remitan yang diterima disektor formal lebih besar dibandingkan dengan sektor informal sehingga TKW dapat mengelola remitan tersebut kearah ekonomi produktif yaitu investasi

3. Birokrasi dalam hal ini pelayanan dan persyaratan yang mudah serta tidak berbelit-belit untuk calon tenaga kerja migran diluar negeri juga diperlukan.

4. Pemerintah dan PJTKI harus lebih memperhatikan keamanan dan perlindungan TKW yang berada diluar negeri.

5. Jika pemerintah ingin mengurangi migrasi internasional maka pemerintah perlu menciptakan lapangan pekerjaan lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Adisassmita, H R. 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta(ID):Graha Ilmu

[World Bank] 2012.Economic Implication of Remittances and Migration.World Bank. [Internet] [diunduh 2013 Mei 13] Tersedia pada:

[ILO] 2003..Migrasi, Peluang dan Tantangan Program Strategi Pengentasan Kemiskinan.ILO. [Internet] [diunduh 2013 Juni 13] Tersedia pada: http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/publication/wcms_125291.pdf

Arsyad, L. 1993. Ekonomi Pembangunan. Jakarta(ID): Gunadarma. [BPS] Badan Pusat Statistik. Sakernas 2012. BPS

[BPS] Badan Pusat Statistik. Data Kemiskinan 2012. BPS

(35)

23 [Disnaker] Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat. Jumlah

TKI 2011. Disnaker

Ghozali, I. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.Semarang(ID): Badan Penerbit Universitas Diponegoro

[IPB] Institut Pertanian Bogor. 2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Ed Ke-3. Bogor (ID): IPB

Irawaty, Tuty. 2011. Migrasi Internasional Perempuan Desa dan Pemanfaatan Remitan di Desa Pusaka Jaya, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor

Juanda, B. 2009.Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis.Bogor(ID): IPB Press Kuntari, S. 2010. Kontribusi Remiten Migran Sirkuler dalam Peningkatan

Kesejahteraan Keluarga. Jurnal PKS Vol. IX, No. 31, Maret 2010; 32-51 Lee, E S. 1975. Suatu Teori Migrasi. Seri Terjemahan No. 3 Yogyakarta: Pusat

Penelitian Studi Kependudukan Universitas Gajah Mada.

Listyarini, N. 2011.Faktor-faktor Individual yang Mempengaruhi Minat Migrasi Tenaga Kerja Wanita Kabupaten Pati Jawa Tengah Ke Malaysia (Studi Kasus: Kecamatan Sukolilo Kecamatan Gabus dan Kecamatan Tayu) [skripsi]. Semarang (ID): Fakultas Ekonomi Universitas Dipenogoro Mantra, I.B. 1985.Pengantar Studi Demografi. Yogyakarta(ID): Nur Cahaya Massey, et al. 1993. Theories of International Migration: A Review and Appraisal.

Population and Development Review, 19 (3): 431-466

Mulyadi, S. 2006. Ekonomi sumberdaya manusia dalam perspektif pembangunan.Jakarta(ID): PT Raja Grafindo Persada

Purnomo, D. 2009. Fenomena Migrasi Tenaga Kerja dan perannya bagi pembangunan daerah asal: Studi Empiris di Kabupaten Wonogiri.

Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyyah Surakarta.Vol. 10, No.1, Juni 2009, hal. 84 – 102

[Pusdalisbang] Pusat Data dan Analisa Pembangunan Jawa Barat. Data Remitansi Kabupaten Subang

[Pusdatinaker] Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan. Data Penempatan TKI di Luar Negeri

Richard, et al. 2005.Do International Migration and Remittances ReducePoverty in Developing Countries.World Development. Vol. 33, No. 10, pp. 1645– 1669

Rusli, S. 1995. Pengantar ilmu kependudukan. Jakara(ID):LP3ES

Susilowati, S H. 2008. Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian Bogor

Todaro, M P. 1998. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga

(36)

24

Lampiran 1 Uji G

Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig. Step 1 Step 94.378 9 .000

Block 94.378 9 .000

Model 94.378 9 .000

Classification Tablea

Observed

Predicted MIG

Percentage Correct tidak

bermigrasi Bermigrasi

Step 1 MIG tidak bermigrasi 56 4 93.3

Bermigrasi 6 34 85.0

Overall Percentage 90.0

a. The cut value is .500

Lampiran 2 Uji Hosmer and Lemeshow Hosmer and Lemeshow Test

Step Chi-square Df Sig.

1 3.205 8 .921

Lampiran 3 -2 Log Likelihood

Model Summary

Step -2Log likelihood

Cox & Snell R Square

Nagelkerke R Square

1 40.225a .611 .826

(37)

25

a. Constant is included in the model. b. Initial -2 Log Likelihood: 134.602

c. Estimation terminated at iteration number 3 because parameter estimates changed by less than .001.

Lampiran 4 Hasil signifikansi model

(38)

26

Step number: 1

Observed Groups and Predicted Probabilities

(39)

27

Lampiran 5 Kuisioner Penelitian 1

KUISIONER PENELITIAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MIGRASI INTERNASIONAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMISKINAN

(KASUS: TKW DI DESA PABUARAN, KECAMATAN PABUARAN KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT)

Pewawancara :

Hari/Tanggal Wawancara :

Jam :

Identitas Responden

1. Nama Responden :

2. RT :

3. RW :

Karakteristik Responden

1. Apakah anda pernah bekerja di luar negeri menjadi TKW?

a. iya b. Tidak

2. Umur :

3. Status Pernikahan : 1. .Janda2.Menikah 3.Belum Menikah 4. Jumlah tanggungan :

5. Pendidikan Terakhir : 1. SD 4. Perguruan Tinggi 2. SMP

3. SMA 6. Apakah anda bekerja ?

a. Iya b. Tidak

(40)

28

a. Iya b. Tidak

Jika iya, berapa luasnya?

8. Menurut anda bagaimana persyaratan/prosedur menjadi TKW?

a. Mudah b. Sulit

Lampiran 6 Kuisioner Penelitian 2

KUISIONER PENELITIAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MIGRASI INTERNASIONAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMISKINAN

(KASUS: TKW DI DESA PABUARAN, KECAMATAN PABUARAN KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT)

Pewawancara :

Hari/Tanggal Wawancara :

Jam :

Identitas Responden

1. Nama Responden :

2. RT :

3. RW :

Karakteristik Responden

1. Apakah anda pernah bekerja di luar negeri menjadi TKW?

a. iya b. Tidak

2. Umur :

3. Status Pernikahan : 1. .Janda2.Menikah 3.Belum Menikah 4. Jumlah tanggungan :

(41)

29 3. SMA

6. Apakah anda bekerja ?

a. Iya b. Tidak

Jika Bekerja, apa jenis pekerjaan anda? 7. Apakah anda mempunyai lahan?

a. Iya b. Tidak

Jika iya, berapa luasnya?

8. Menurut anda bagaimana persyaratan/prosedur menjadi TKW?

a. Mudah b. Sulit

9. Umur ketika bermigrasi :

10. Status Pernikahan ketika bermigrasi : 11. Jumlah tanggungan ketika bermigrasi :

12. Negara Tujuan :

13. Pekerjaan Sebelumnya :

14. Pendapatan Sebelumnya :

15. Pekerjaan saat menjadi TKW : 16. Pendapatan saat menjadi TKW:

17. Pekerjaan setelah menjadi TKW: 18. Pendapatan setelah menjadi TKW: 19. Pekerjaan suami : 20. Pendapatan suami : 21. Pendapatan Tambahan lainnya:

22. Lama menjadi TKW : Dari tahun: Sampai tahun: 23. Biaya menjadi TKW :

24. Uang kiriman setiap bulan : 25. Periode pengiriman remitan: 26. Penggunaan uang kiriman

1. Investasi (emas, tanah, sawah, modal usaha) 2. Bayar hutang

(42)

30

27. Sebelum menjadi TKW apakah anda memiliki lahan? a. Iya b. Tidak

Jika iya, berapa luasnya?

28. Berapa rata-rata pengeluaran keluarga dalam sebulan?

(43)

31 RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor tanggal 23 Agustus 1991 dengan nama lengkap Malla Dewi Agisty.Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.Penulis menamatkan sekolah dasar di SDN Polisi I Bogor, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 7 Bogor pada tahun 2003. Pada tahun 2009 penulis menamatkan pendidikan sekolah menengah atas pada SMAN 4 Bogor dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Figur

Gambar 1 Penempatan Tenaga Kerja di Luar Negeri Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 1 Penempatan Tenaga Kerja di Luar Negeri Berdasarkan Jenis Kelamin . View in document p.14
Tabel 1 Perkembangan Remitansi TKI di Luar Negeri Tahun 2009 – 2012
Tabel 1 Perkembangan Remitansi TKI di Luar Negeri Tahun 2009 2012 . View in document p.14
Gambar 3  Kerangka Pemikiran
Gambar 3 Kerangka Pemikiran . View in document p.20
Tabel 2 Karakteristik Responden yang Bermigrasi Internasional
Tabel 2 Karakteristik Responden yang Bermigrasi Internasional . View in document p.26
Tabel 3 Karakteristik Responden yang Tidak Bermigrasi Internasional
Tabel 3 Karakteristik Responden yang Tidak Bermigrasi Internasional . View in document p.27
Tabel 4 Ringkasan Estimasi Regresi Faktor-faktor yang Memengaruhi Migrasi
Tabel 4 Ringkasan Estimasi Regresi Faktor faktor yang Memengaruhi Migrasi . View in document p.28

Referensi

Memperbarui...