ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG
WILAYAH PESISIR KOTA MEDAN STUDI KASUS
KECAMATAN MEDAN BELAWAN
TESIS
Oleh
NINA AYULI
097003013/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
S
E K O L AH
P A
S C
ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG
WILAYAH PESISIR KOTA MEDAN STUDI KASUS
KECAMATAN MEDAN BELAWAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
NINA AYULI
097003013/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR KOTA MEDAN, STUDI KASUS KECAMATAN MEDAN BELAWAN
Nama Mahasiswa : Nina Ayuli Nomor Pokok : 097003013
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc. Ph.D) Ketua
(Ir. Jeluddin Daud, M.Eng) (Dr. Ir. Rahmanta, M.Si) Anggota Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE)(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 18 Agustus 2011
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc. Ph.D
Anggota : 1. Ir. Jeluddin Daud, M.Eng
2. Dr. Ir. Rahmanta, M.Si
ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR DI KOTA MEDAN STUDI KASUS: KECAMATAN MEDAN BELAWAN
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di 6 (Enam) kelurahan di Kecamatan Medan Belawan yaitu: Kelurahan Belawan I,Belawan II, Bahagia, Bahari, Bagan Deli dan Sicanang. Pemanfaatan ruang wilayah pesisir kecamatan Medan Belawan sejalan dengan semakin tinggi nya peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Namun, banyaknya aktivitas ekonomi yang telah berkembang di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan dapat menyebabkan pemanfaatan yang tidak efektif dan efisien ditinjau dari aspek keruangan dan daya dukung sumberdaya yang ada sehingga menimbulkan konflik pemanfaatan ruang. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengevaluasi kesesuaian lahan wilayah pesisir, 2) Menganalisis faktor penyebab terjadinya konflik pemanfaatan ruang, 3)Mengetahui persepsi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penentuan penggunaan lahan, 4)Menentukan prioritas penggunaan lahan, dan 5)Memberikan rekomendasi sebagai dasar pertimbangan pemberian kebijakan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey dengan Data Sekunder diperoleh melalui hasil kuesioner dan wawancara yang mengambil ±10 responden sedangkan Data Primer diperoleh penelusuran pustaka dan instansi-instansi yang ter kait. Analisis data dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis dan Analisis Hirarki Proses (AHP).
Dari hasil analisis evaluasi Kesesuaian lahan dengan Sistem Informasi Geografis (GIS) di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan, maka untuk penggunaan lahan tambak yang Sangat Sesuai dapat ditetapkan di kelurahan sicanang seluas 1.234, 74 Ha dan bahari seluas 208,5 Ha, sedangkan penggunaan lahan untuk industri yang sangat sesuai Belawan I seluas 281,83 Ha dan Belawan II seluas 315,28 Ha dan penggunaan lahan untuk permukiman dan indutri yang sangat sesuai di kelurahan Belawan I dan Belawan II termasuk dalam kategori sangat sesuai. Sedangkan berdasarkan dari hasil analisis AHP terhadap konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara industri dan permukiman di keluarahan Belawan I dan Belawan II maka penentuan prioritas penggunaan lahan untuk industri dan terhadap konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara industri, permukiman, dan tambak di sicanang dan bahagia maka penentuan prioritas penggunaan lahan untuk tambak.
Berdasarkan dari hasil analisis yang telah dilakukan maka saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah perlu adanya dilakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah, karena adanya konflik antar penggunaan lahan dan diperlukannya sosialisasi terhadap masyarakat sebagai persiapan semakin berkembangnya sektor industri dalam menuju perkembangan ekonomi global, dengan cara peningkatan tingkat pendidikan masyarakat.
ANALYSIS POLICY THE USE OF COASTAL AREAS IN MEDAN: STUDY CASE MEDAN BELAWAN SUB-DISTRICT
ABSTRACT
This research was conducted in six villages in Medan Belawan sub-district: Belawan I, Belawan II, Bahagia, Bahari, Bagan Deli, and Sicanang. The use of coastal areas in Medan Belawan sub-district in line with the economic growth of those areas. However, the economic activities caused inefficiency and ineffective spaces and population carrying capacity. Therefore, the purposes of this research were: 1) to evaluate the suitability coastal areas, 2) to analyze factors caused conflicts the use of coastal areas, 3) to know the government, private, community perceptions in the use of coastal areas, 4) to determine priority in the use of coastal areas, 5) to give recommendations to the policy maker.
The method used in this research was survey with secondary data obtained from questionnaires and interviews that taken ± 10 respondents, meanwhile primary data obtained from literature study and related agencies. The data analyzed using geographic information system and Process
The result of land suitability using geographic information system in Medan Belawan coastal areas showed that the land use suitable for fishpond 1.234, 74 Ha in Sicanang, and 208,5 Ha in Bahari, land use suitable for industry 281,83 Ha in Belawan I, and 315,28 Ha in Belawan II, and land use suitable for homes and industry were in Belawan I and Belawan II. The Process
Hierarchy Analysis
Based on the research result, the suggestion can be drawn were a spatial plan revision, and socialization of the importance of regional development by increasing the education level of the community.
Hierarchy Analysis on the conflict in using land for industry and homes in Belawan I and Belawan II showed that the land was suitable for industry, and conflict in using the land for homes, fishpond, industry in Sicanang and Bahagia showed that the land was suitable for fishpond.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji dan syukur bagi ALLAH Rabb alam semesta yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya bagi penulis. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada junjunan dan tauladan kita, Muhammad Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Tesis ini berjudul “Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kota
Medan, Studi Kasus: Kecamatan Medan Belawan”. Maksud dari tesis ini adalah untuk untuk
melengkapi kewajiban dalam memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi
Perencanaan Wilayah dan Pedesaan (PWD) pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian Tesis ini berkat adanya bantuan serta
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang tulus kepada Bapak Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc. Ph.D selaku
Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si dan Bapak Ir. Jeluddin
Daud, M.Eng, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang meskipun sangat sibuk dengan tugas-tugasnya namun tetap berusaha meluangkan waktu untuk membimbing dan
memberikan petunjuk, nasehat dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
2. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE, selaku Ketua Program Studi Perencanaan
Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara,
Medan.
3. Bapak Ir. Supriadi, MS dan Drs. Rujiman, MA selaku Dosen Pembanding yang telah
banyak memberikan masukan dan arahan demi kesempurnaan tesis ini.
4. Seluruh Dosen Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas segala keikhlasannya dalam
5. Dan yang Terutama kepada Ayahanda Ir. Jeluddin Daud, M.Eng dan Ibunda Rita
Astima yang sejak awal telah menanamkan semangat tidak kenal lelah dalam menuntut ilmu, memberikan limpahan kasih sayang, mendo’akan, memberikan motivasi dan
pengertian baik moril dan materil yang tidak putus-putusnya.
6. Kakak- kakak ku (Wilridha, Ainun, Qbunk, Vera), Abang-abang ku (Dodi, Alan,
Moriki, Ite) dan Adik-adik ku (Iman, ghani, Leo, Si “Biru”) terima kasih buat bantuan, celotehan dan semangat nya.
7. Special Thx: Abangda Efendi Pane dan Syaiful Daulay yang selalu setia membantu
dan memberikan masukan dalam pengerjaan Tesis ini.
8. Seluruh mahasiswa PWD Angkatan 2009 dan staf administrasi atas bantuan dan
kerjasama yang telah diberikan selama ini.
9. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu namanya yang turut serta
membatu dalam penyelesaian tesis ini hingga dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
“Tiada Gading Yang Tak Retak”, demikian juga dengan penelitian ini tentu tidak
terlepas dari kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat berterima kasih atas seluruh saran
dan kritik dari berbagai pihak yang berkenan, sehingga tugas akhir ini akan lebih sempurna
dan karena nya dapat bermanfaat.
Medan, Agustus 2011
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Medan pada tanggal 1 Juni 1982, putri kelima dari tujuh bersaudara pasangan dari Ir. H Jeluddin Daud, M.Eng dengan Hj. Rita Astima. Pendidikan Sekolah Dasar di SD IKAL Medan dan tamat pada tahun 1994, Sekolah Pendidikan Menengah Pertama di SMPN 1 Medan dan tamat pada tahun 1997 serta Sekolah Pendidikan Menengah Atas di SMU 2 Medan diselesaikan pada tahun 2000.
Pada tahun 2000 melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Bandung pada Fakultas Teknik jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota/Planologi. Penulis pada Februari 2009 memperoleh gelar Sarjana setelah mempertahankan skripsi yang berjudul “Komparasi Preferensi Bermukim Penghuni Kompleks Perumahan di Wilayah Utara dan Selatan di Kota Medan”.
Di awal 2010 penulis diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sebagai Staf Fasilitasi Penyiapan Lahan.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1. Kebijakan Pembangunan Wilayah Pesisir ... 7
2.2. Tata Ruang Wilayah Pesisir... ……. 8
2.3. Pemanfaatan Ruang ... 9
2.4. Proses Hirarki Analitik (AHP) ... 12
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
3.1. Metode Pendekatan ... 17
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
3.3. Metode Pengumpulan Data ... 21
3.4. Metode Pemilihan Responden ... 22
3.5. Metode Analisis ... 22
3.5.1. Metode Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 22
3.5.2. Metode Proses Hirarki Analitik (AHP) ... 27
BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN ... 38
4.1. Wilayah Studi Kecamatan Medan Belawan ... 38
4.1.1. Letak Geografis ... 38
4.1.2. Kemiringan Tanah ... 40
4.1.3. Iklim ... 42
4.1.4. Kedalaman Efektif Tanah... 42
4.1.5. Jenis Tanah ... 44
4.2. Kependudukan ... 44
4.3. Ekonomi Penduduk ... 45
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47
5.1. Evaluasi Kesesuaian Lahan ... 47
5.1.1. Tambak ... 49
5.1.2. Industri ... 50
5.1.4. Konservasi ... 56
5.2. Konflik Pemanfaatan Ruang ... 58
5.2.1. Konflik antara Industri dan Permukimn………. 60
5.2.2. Konflik antara Industri, Tambak dan Permukiman ... 64
5.3. Analisis Kebijakan ... 6
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
6.1. Kesimpulan ... 74
6.2. Saran ... 75
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
3.1. Matriks Kesesuaian Lahan ……… 25 3.2. Pembobotan dan Pengharkatan Kesesuaian Lahan untuk
Tambak, Industri, Pemukiman dan Konservasi ……… 26 3.3. Faktor dan Aspek Penentuan Prioritas Penggunaan Lahan ….. 30 3.4. Skala Banding Secara Berpasangan ……….. 36 4.1. Luas Wilayah per Kelurahan di Kecamatan Medan Belawan
Tahun 2010 ……… 40 4.2. Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk per Kelurahan
Kecamatan Medan Belawan Tahun 2009 ……….. 44 4.3. Persentase Penduduk Menurut Sumber Mata Pencaharian
Kecamatan Medan Belawan Tahun 2009 ………. 45 5.1. Matriks Parameter Kesesuaian Lahan per Kelurahan
Kecamatan Medan Belawan ………. 49 5.2. Kesesuaian dan Eksisting Lahan untuk Tambak, Industri,
Permukiman dan Konservasi ………. 56 5.3. Hasil Pendapat Stakeholder Pertimbangan Aspek Konflik-1… 60 5.4. Hasil Pendapat Stakeholder Pertimbangan Faktor yang
Berpengaruh Konflik-1 ………. 61 5.5. Analisa Pendapat Stakeholder pada Penentuan Prioritas
Penggunaan Lahan dalam Pemanfaatan Ruang Wilayah
Pesisir ……… 63 5.6. Hasil Pendapat Stakeholder Pertimbangan Aspek Konflik-2 .. 65 5.7. Hasil Pendapat Stakeholder Pertimbangan Faktor yang
Berpengaruh Konflik-2 ………. 65 5.8. Hasil Pendapat Stakeholder pada Penentuan Prioritas
Penggunaan Lahan dalam Pemanfaatan Ruang Wilayah
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
3.1. Diagram Kerangka Pikir ………... 20
3.2. Hirarki Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir ……… 34
4.1. Peta Wilayah Administrasi Kecamatan Medan Belawan ………. 49
4.2. Peta Kelerengan Kecamatan Medan Belawan ……….. 41
4.3. Peta Kedalaman Efektif Tanah …………... 43
4.4. Peta Jenis Tanah ………... 46
5.1. Peta Tambak ………...………. 52
5.2. Peta Industri ……….. 53
5.3. Peta Permukiman ……….. 55
5.4. Peta Konservasi ………. 57
5.5. Hasil Analisis Konflik Kegiatan Industri dan Permukiman ………. 64
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
1 Kuesioner ………... 78
2 Tabulasi Data Kuesioner - AHP ……… 87
3 Hasil Perhitungan Manual Ahp …..………... 88
4 Luas Area Kesesuaian Lahan ……… 89
5 Dokumentasi ……….. 99
ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PESISIR DI KOTA MEDAN STUDI KASUS: KECAMATAN MEDAN BELAWAN
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di 6 (Enam) kelurahan di Kecamatan Medan Belawan yaitu: Kelurahan Belawan I,Belawan II, Bahagia, Bahari, Bagan Deli dan Sicanang. Pemanfaatan ruang wilayah pesisir kecamatan Medan Belawan sejalan dengan semakin tinggi nya peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Namun, banyaknya aktivitas ekonomi yang telah berkembang di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan dapat menyebabkan pemanfaatan yang tidak efektif dan efisien ditinjau dari aspek keruangan dan daya dukung sumberdaya yang ada sehingga menimbulkan konflik pemanfaatan ruang. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengevaluasi kesesuaian lahan wilayah pesisir, 2) Menganalisis faktor penyebab terjadinya konflik pemanfaatan ruang, 3)Mengetahui persepsi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penentuan penggunaan lahan, 4)Menentukan prioritas penggunaan lahan, dan 5)Memberikan rekomendasi sebagai dasar pertimbangan pemberian kebijakan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survey dengan Data Sekunder diperoleh melalui hasil kuesioner dan wawancara yang mengambil ±10 responden sedangkan Data Primer diperoleh penelusuran pustaka dan instansi-instansi yang ter kait. Analisis data dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis dan Analisis Hirarki Proses (AHP).
Dari hasil analisis evaluasi Kesesuaian lahan dengan Sistem Informasi Geografis (GIS) di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan, maka untuk penggunaan lahan tambak yang Sangat Sesuai dapat ditetapkan di kelurahan sicanang seluas 1.234, 74 Ha dan bahari seluas 208,5 Ha, sedangkan penggunaan lahan untuk industri yang sangat sesuai Belawan I seluas 281,83 Ha dan Belawan II seluas 315,28 Ha dan penggunaan lahan untuk permukiman dan indutri yang sangat sesuai di kelurahan Belawan I dan Belawan II termasuk dalam kategori sangat sesuai. Sedangkan berdasarkan dari hasil analisis AHP terhadap konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara industri dan permukiman di keluarahan Belawan I dan Belawan II maka penentuan prioritas penggunaan lahan untuk industri dan terhadap konflik pemanfaatan ruang yang terjadi antara industri, permukiman, dan tambak di sicanang dan bahagia maka penentuan prioritas penggunaan lahan untuk tambak.
Berdasarkan dari hasil analisis yang telah dilakukan maka saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah perlu adanya dilakukan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah, karena adanya konflik antar penggunaan lahan dan diperlukannya sosialisasi terhadap masyarakat sebagai persiapan semakin berkembangnya sektor industri dalam menuju perkembangan ekonomi global, dengan cara peningkatan tingkat pendidikan masyarakat.
ANALYSIS POLICY THE USE OF COASTAL AREAS IN MEDAN: STUDY CASE MEDAN BELAWAN SUB-DISTRICT
ABSTRACT
This research was conducted in six villages in Medan Belawan sub-district: Belawan I, Belawan II, Bahagia, Bahari, Bagan Deli, and Sicanang. The use of coastal areas in Medan Belawan sub-district in line with the economic growth of those areas. However, the economic activities caused inefficiency and ineffective spaces and population carrying capacity. Therefore, the purposes of this research were: 1) to evaluate the suitability coastal areas, 2) to analyze factors caused conflicts the use of coastal areas, 3) to know the government, private, community perceptions in the use of coastal areas, 4) to determine priority in the use of coastal areas, 5) to give recommendations to the policy maker.
The method used in this research was survey with secondary data obtained from questionnaires and interviews that taken ± 10 respondents, meanwhile primary data obtained from literature study and related agencies. The data analyzed using geographic information system and Process
The result of land suitability using geographic information system in Medan Belawan coastal areas showed that the land use suitable for fishpond 1.234, 74 Ha in Sicanang, and 208,5 Ha in Bahari, land use suitable for industry 281,83 Ha in Belawan I, and 315,28 Ha in Belawan II, and land use suitable for homes and industry were in Belawan I and Belawan II. The Process
Hierarchy Analysis
Based on the research result, the suggestion can be drawn were a spatial plan revision, and socialization of the importance of regional development by increasing the education level of the community.
Hierarchy Analysis on the conflict in using land for industry and homes in Belawan I and Belawan II showed that the land was suitable for industry, and conflict in using the land for homes, fishpond, industry in Sicanang and Bahagia showed that the land was suitable for fishpond.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai Negara Kepulauan (Archipilagic State) terbesar di
dunia. Wilayah kepulauan Indonesia sangat luas, luas daratannya adalah 1,92 Juta
Km2, dan luas perairan nusantara dan laut teritorial adalah 3,1 Juta Km2 dan luas
perairan ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif) adalah 2,7 Juta Km2
Pesisir merupakan wilayah yang dinamis dan rawan. Kedinamisan wilayah
pesisir disebabkan oleh karena wilayah tersebut merupakan pertemuan dua ekosistem,
yaitu ekosistem daratan dan ekosistem lautan. Wilayah pesisir mengandung potensi
sumberdaya yang besar, baik hayati maupun non hayati termasuk jasa-jasa
lingkungan.
dan memiliki panjang
garis pantai 80.791 km atau setara dengan 43.670 mil (Statistik Benua Maritim
Indonesia), yang tersebar memanjang di sekitar garis khatulistiwa (equator) bagai
permata zamrud yang sangat indah. Dengan kondisi dan potensi kelautan yang
demikian besar menyebabkan wilayah pesisir dan lautan Indonesia dikenal sebagai
Negara dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar
di dunia dengan memiliki ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang (coral
Sumber daya alam di wilayah pesisir dan laut itu merupakan aset yang
mempunyai arti strategis yang sangat besar dan bersifat menjanjikan (prospektif)
untuk masa depan. Konsekwensi dari dinamika wilayah pesisir yang berpotensi
menyebabkan manusia untuk datang dan berinteraksi dengan ekosistem pesisir
lainnya. Interaksi manusia dengan lingkungan pesisir menyebabkan terjadi
kerawanan-kerawanan karena aktivitas tersebut membutuhkan ruang dan
sumberdaya.
Pemanfaatan sumberdaya daratan mendapat perhatian lebih besar karena
sumber daya penduduk bermukim (berada) di daratan, hal ini didukung oleh fakta
yang menunjukkan bahwa tidak kurang dari 60% penduduk Indonesia bermukm di
kawasan pesisir (DKP, 2002). Daratan tidak dapat dipisahkan dengan lautan
(perairan). Sumberdaya di lautan (perairan) dimanfaatkan pula untuk memenuhi
kebutuhan manusia (misalnya komoditas perikanan laut, kayu bakau dan
lainnya). Orientasi pemanfaatan sumberdaya diarahkan selain kedaratan harus
pula diarahkan ke lautan/perairan. Pembangunan yang dilaksanakan selama
ini masih terkonsentrasi di daratan, sehingga mengakibatkan tekanan kegiatan
pembangunan di darat akan semakin tinggi oleh proses pembangunan dalam
rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam kondisi demikian, maka dapat dikatakan bahwa kemampuan daratan
(daya dukung lahan) untuk menghasilkan bahan kebutuhan masyarakat di masa
mendatang akan melebihi luas daratan yang relatif tetap.
Karena itu pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan merupakan alternatif
yang tepat bagi pembangunan nasional lebih lanjut, dan dapat menjadi salah satu
tumpuan harapan kebutuhan masyarakat di masa mendatang.
Dalam hal pengelolaan kawasan pesisir, pemerintah juga merupakan pihak
yang berkepentingan. Pemerintah memiliki peran yang menentukan dalam
perencanaan pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan. Sampai saat ini, arah
pemanfaatan sumber daya dan ruang di wilayah pesisir sering kali tidak terarah dan
tidak terkendali dengan baik oleh pemerintah. Oleh karena itu hal penting yang
merupakan kebutuhan mendasar adalah suatu pengaturan (perencanaan) ruang
wilayah pesisir yang baik, yaitu suatu perencanaan ruang yang program-programnya
dapat diimplementasikan, dapat diterima oleh masyarakat dan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Masalah pokok dalam
perencanaan tata ruang terletak pada metode penyusunan rencana tata ruang
yang kemudian dapat berlanjut pada pemanfaatan dan pengendalian tata ruang itu
sendiri.
Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Medan 2010 – 2030
menginginkan pengembangan kawasan Utara yang berwawasan
lingkungan/konservasi dan estetika, yaitu dengan menerapkan konsep waterfront city,
penguatan ekosistem bakau (hutan bakau dan penanaman bakau dalam petak tambak),
penataan ruang terbuka hijau dan zona hijau (buffer zone), khususnya
kecamatan medan belawan yang memiliki sebesar 1.029 Ha kawasan pantai berhutan
Kecamatan Medan Belawan yang berada di kawasan Utara kota Medan
merupakan salah satu kawasan pesisir yang berada di kota Medan Propinsi Sumatera
Utara yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dan instansi terkait
lainnya sesuai dengan kepentingan masing-masing. Hal ini didukung dengan adanya
pelabuhan belawan yang merupakan pelabuhan terbesar di pulau Sumatera.
Pelabuhan Belawan merupakan pintu gerbang transportasi laut di Sumatera Utara dan
diproyeksikan sebagai pelabuhan internasional.
Pemanfaatan ruang wilayah pesisir kecamatan Medan Belawan sejalan dengan
semakin tinggi nya peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Namun,
banyaknya aktivitas ekonomi yang telah berkembang di wilayah pesisir Kecamatan
Medan Belawan dapat menyebabkan pemanfaatan yang tidak efektif dan efisien
ditinjau dari aspek keruangan dan daya dukung sumberdaya yang ada sehingga
menimbulkan konflik pemanfaatan ruang.
Konflik pembangunan dan penggunaan lahan yang tidak efektif dan efisien
dapat berpotensi menimbulkan masalah-masalah tata ruang, meliputi:
a. Terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang
telah ditetapkan, dan terjadinya alih fungsi lahan (konversi).
b. Rencana tata ruang yang ada masih bersifat parsial berdasarkan kebutuhan sektor
dan belum terintegrasi, serta hanya terbatas pada wilayah daratan dan belum
mempertimbangankan kondisi sosial budaya masyarakat.
d. Belum adanya tata ruang wilayah pesisir yang dapat digunakan sebagai pedoman
atau acuan bagi praktisi perencana di daerah.
Untuk itu perlu adanya suatu analisis kebijakan yang dapat memberikan
masukan (input) sebagai dasar/bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan
(pemerintah) dalam pemanfaatan ruang dan penetapan kawasan yang optimal dan
proporsional bagi berbagai pengguna lahan (stakeholders) yang berkepentingan.
Sehingga akan tercipta suatu perubahan pola pikir dan pola tindak dari pihak
pemerintah untuk dapat mengadakan berbagai perubahan dan penyempurnaan dalam
membuat kebijakan dan menerbitkan aturan yang mendukung pola pengelolaan
kawasan pesisir yang dikembangkan secara terpadu. Tanpa dukungan kebijakan dan
peraturan pemerintah, maka sistem pengelolaan yang dihasilkan tidak akan memiliki
kekuatan hukum sehingga akan dengan mudah diubah/diganti oleh berbagai pihak
yang ingin mengambil keuntungan sesaat (Savitri dan Khazali,1999).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka diperlukan suatu studi mengenai “Analisis
Kebijakan Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Kota Medan, Studi Kasus:
Kecamatan Medan Belawan” untuk dapat melihat permasalahannya sebagai berikut:
a. Apakah pemanfaatan ruang yang ada telah sesuai dengan kesesuaian lahannya?
b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya konflik pemanfaatan ruang?
c. Bagaimana persepsi pemerintah, swasta dan masyarakat terhadap konflik
d. Kebijakan apa yang sebaiknya dilakukan dalam menyelesaikan konflik
pemanfaatan ruang yang terjadi?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengevaluasi kesesuaian lahan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir.
b. Menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik pemanfaatan
ruang dalam pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir.
c. Mengetahui persepsi pemerinah, swasta dan masyarakat dalam penentuan
penggunaan lahan
d. Menentukan prioritas penggunaan lahan dalam pemanfaatan wilayah pesisir.
e. Memberikan rekomendasi sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan
dalam penentuan kebijakan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
bagi pembangunan daerah dan juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan
bagi pengambil keputusan dalam penentuan kebijakan penyusunan rencana tata ruang
wilayah pesisir, dan sebagai acuan teknik dalam menetapkan suatu kawasan dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebijakan Pembangunan Wilayah Pesisir
Kebijaksanaan Pemerintah yang diatur dalam Undang-undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana Rencana Tata Ruang Propinsi/Kota dan
Kabupaten akan menjadi pedoman untuk perumusan kebijakan pokok pemanfaatan
ruang guna mewujudkan keterpaduan, keterkaitan dan keseimbangan pembangunan
di daratan, wilayah pesisir dan lautan.
Esensi tata ruang menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 adalah
rencana tata ruang, pedoman pemanfaatan ruang, dan cara pengendalian pemanfaatan
ruang (pasal 32,33, dan 34 UU Nomor 26/2007). Perencanaan tata ruang pada
dasarnya merupakan perumusan penggunaan ruang secara optimal dengan orientasi
produksi dan konservasi bagi kelestarian lingkungan. Perencanaan tata ruang wilayah
mengarahkan dan mengatur alokasi pemanfaatan ruang, mengatur alokasi kegiatan,
keterkaitan antar fungsi serta indikasi program dan kegiatan pembangunan.
Perumusan kebijakan tersebut didalam pelaksanaan pembangunan dan
pemanfaatan wilayah pesisir adalah perlunya perencanaan tata ruang berdasarkan
fungsi utama kawasan yang meliputi: (1) Kawasan non budidaya (kawasan
lindung/konservasi), misalnya: suaka alam, konservasi hutan mangrove, taman
nasional, taman wisata alam dan kawasan budidaya, misalnya: kawasan industry,
2.2 Tata Ruang Wilayah Pesisir
Selama masa orde baru, kebijakan pembangunan nasional lebih banyak
diarahkan pada pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya yang ada di daratan.
Kebijakan yang lebih berorientasi ke daratan ini mengakibatkan kurangnya perhatian
pada wilayah pesisir dan lautan. Hal ini dapat dilihat dengan hampir tidak adanya
daerah atau wilayah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir (RTRWP). Di
samping itu, batasan wilayah pesisir hingga saat ini masih menjadi perdebatan bagi
para pakar pesisir di Indonesia, sehingga sering mengakibatkan kesulitan dalam
penyusunan RTRWP.
Tata ruang wilayah pesisir adalah pengaturan penggunaan lahan wilayah
pesisir melalui pengelompokan penggunaan lahan ke dalam unit-unit yang homogeny
ditinjau dari keseragaman fisik, non fisik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan dan
keamanan.
Menurut Dahuri et al. (1996) wilayah pesisir merupakan suatu wilayah
peralihan dan lautan. Batas di daratan meliputi daerah-daerah yang tergenang air
maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut,
seperti pasang-surut, angin laut dan intrusi air laut. Sedangkan batas di laut adalah
daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan, seperti
sedimentasi dan aliran air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi
oleh kegiatan-kegiatan manusia didaratan. Apabila ditinjau dari garis pantai
(cross-shore). Secara implisit definisi diatas menyatakan bahwa pembangunan
wilayah pesisir harus dilakukan secara integrated. Pembangunan wilayah pesisir tidak
boleh dilakukan secara parsial apalagi berorientasi sektoral seperti yang telah
dilakukan selama ini.
Pembangunan yang lebih berorientasi sektoral, yang dilaksanakan lebih dari
enam pelita yang lalu, kurang memperhatikan segi kesesuaian (sustability) dan
keharmonisan (compatibility) ruang. Sehingga tidak jarang terjadi konflik spasial
dalam pemanfaat ruang dan sumberdaya alam antar sektor. Selain itu, pembangunan
yang berorientasi sektoral juga berkontribusi pada ketimpangan pembangunan antar
kawasan, baik antar daerah maupun antar kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan
secara fungsional. Ketidakserasian pembangunan antar sektor dan ketimpangan
pembangunan antar kawasan menyebabkan arah pembangunan daerah menjadi
kurang berdaya guna dan berhasil guna (Ditjen P3K DKP,2000). Oleh karena itu
sangat dibutuhkan adanya konsep tata ruang wilayah pesisir yang dapat
mengakomodir semua kepentingan stakeholders.
2.3 Pemanfaatan Ruang
Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan strategi dalam pemanfaatan ruang
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Adapun aspek-aspek pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan rang mempunyai batasan yang ditegaskan dalam Undang
Beberapa hal yang terkait dengan pemanfaatan ruang tercantum dalam pasal
32,33, dan 34 Undang Undang Nomor: 26 Tahun 2007, yang dapat diuraikan sebagai
berikut:
Pasal 32:
1. Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang
beserta pembiayaannya.
2. Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilaksanakan
dengan pemanfaatan ruang, baik pemanfaatan rang secara vertical maupun
pemanfaatan ruang didalam bumi.
3. Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) termasuk jabaran dari indikasi program utama yang termuat didalam
rencana tata ruang wilayah.
4. Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu
indikasi program utama pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam rencana tata
ruang.
5. Pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
disinkronisasikan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah administratif
sekitarnya.
6. Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
memperhatikan standar pelayanan minimal dalam penyediaan sarana dan
Dalam pemanfaatan ruang pada ruang yang berfungsi lindung, diberikan
prioritas pertama bagi pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerima pengalihan
hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah jika yang bersangkutan akan melepaskan
haknya.Hak prioritas pertama bagi pemerintah dan pemerintah daerah dimaksudkan
agar pemerintah dapat menguasai tanah pada ruang yang berfungsi lindung untuk
menjamin bahwa ruang tersebut tetap memiliki fngsi lindung.
Pemanfaatan ruang untuk suatu kegiatan pembangunan adalah merupakan
suatu pengambilan keputusan yang sangat penting, apabila dikaitkan dengan
lingkungan hidup. Hal tersebut disebabkan bahwa menentukan apa yang dilakukan
oleh penduduk dengan dan pada tanah dimana penduduk tersebut merupakan bagian
yang tidak mudah terlepas dari padanya. Selain dari pada itu pola penggunaan tanah
di suatu wilayah adalah merupakan suatu ruangan sebagai hasil gabungan antara
aktivitas manusia sesuai dengan tingkat teknologi, jenis usaha, kondisi fisik, jumlah
dan keinginan manusia yang ada di wilayah tersebut.
Dalam pemanfaatan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota
dilakukan:
1. Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi rencana tata ruang wilayah dan
rencana tata ruang kawasan strategis. Dalam rangka pelaksanaannya ditetapkan
kawasan budi daya yang dikendalikan dan kawasan budi daya yang di dorong
pengembangannya.
2. Perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur ruang dan pola
mencakup pula program pemulihan kawasan pertambangan setelah berakhirnya
masa penambangan agar tingkat kesejahteraan masyarakat dan kondisi
lingkungan hidup tidak mengalami penurunan.
3. Pelaksanaan pembangunan sesuai dengan program pemanfaatan ruang wilayah
dan kawasan strategis.
Perizinan yang terkait dengan izin pemanfaatan ruang yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan harus dimiliki sebelum pelaksanaan pemanfaatan
ruang.
1. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
dibatalkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan
masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak
melalui prosedur yang benar, batal demi hukum.
3. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi
kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, dibatalkan
oleh Pemerintah dan Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
4. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan rencana
tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah
2.4 Proses Hirarki Analitik (AHP)
Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam Bahasa Indonesia disebut dengan
istilah Proses Hirarki Analitik (PHA) atau Analisis Jenjang Keputusan (AJK),
pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika dari
Universitas Pittsburg, Amerika Serikat pada tahun 1970-an.
Proses Hirarki Analitik (AHP) pada dasarnya didesain untuk menangkap
secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan
tertentu melalui suatu prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala
preferensi diantara berbagai set alternative. Analisis ini ditujukan untuk membuat
suatu model permasalahan yang tidak mempunyai struktur, biasanya ditetapkan untuk
memecahkan masalah-masalah yang terukur (kuantitatif), masalah yang memerlukan
pendapat (judgement) maupun pada situasi yang kompleks atau tidak terkerangka,
pasa situasi dimana data, informasi statistik sangat minim atau tidak ada sama sekali
dan hanya bersifat kualitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman ataupun intuisi.
AHP ini juga banyak digunakan pada pengambilan keputusan untuk banyak kriteria,
perencanaan alokasi sumberdaya, dan penentuan prioritas dari strategi-strategi yang
dimiliki pemain dalam situasi konflik (Saaty, 1993).
AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan
dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu
kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam pengambil keputusan.
Beberapa keuntungan menggunakan AHP sebagai alat analisis adalah (Saaty,
1. AHP memberi model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk beragam
persoalan yang tidak terstruktur.
2. AHP memadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan sistem dalam
memecahkan persoalan komplek.
3. AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam satu sistem
dan tidak memaksakan pemikiran linier.
4. AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah
elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan
unsur yang serupa dalam setiap tingkat.
5. AHP member suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk
mendapatkan prioritas.
6. AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan
dalam menetapkan berbagai prioritas.
7. AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif.
8. AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem
dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan
mereka.
9. AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang
representif dari penilaian yang berbeda-beda.
10. AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan
2.5 Analisa Kebijakan
Kebijakan adalah suatu keputusan yang diikuti langkah langkah tindakan
pelaksanaan yang bersasaran mencapai tujuan yang dimaksudkan, Bullock et.al.,
(1983), sementara pendapat lain menyatakan bahwa kebijakan adalah apapun yang
terpilih, termasuk keputusan untuk tidak melakukan sesuatu, Dye (1978).
Menurut Jan Tinbergen (1987), ada dua unsur pokok dalam kebijakan yaitu:
Pertama tujuan kebijakan (policy objectives) merefleksikan nilai-nilai yang ingin
diwujudkan, dan Kedua peralatan untuk mencapai tujuan (policy instrument) dapat
berupa ketentuan, persyaratan untuk pelaksana, serta prosedur. Kemudian ada tiga
strata kebijakan pokok yang sejajar dengan hirarki organisasi yaitu:
1. Kebijakan strategis diputuskan oleh top management
2. Kebijakan manajerial diputuskan oleh middle management
3. Kebijakan operasional dilakukan oleh pelaksana
Pelaku (orang atau organisasi) yang terlibat dalam kegiatan kebijakan atau
stakeholder secara keseluruhan ada tiga kelompok yaitu:
1. Pembuat policy (perumus dan pemutus) kebijakan
2. Pelaksana keputusan kebijakan
3. Sasaran keputusan kebijakan
Analisa kebijakan mencakup:
1) Determinasi kebijakan: adalah analisis yang berkaitan dengan cara pembuat
2) Isi kebijakan: analisis ini mencakup deskripsi tentang kebijakan tertentu dan
bagaimana ia berkembang dalam hubungannya dengan kebijakan sebelumnya,
atau analisis ini bisa juga didasari oleh informasi yang disediakan oleh kerangka
nilai/teoritis yang mencoba memberikan kritik terhadap kebijakan.
3) Advokasi kebijakan: berupa riset dan argument yang dimaksudkan untuk
mempengaruhi agenda kebijakan di dalam dan atau diluar pemerintahan.
4) Informasi kebijakan: sebentuk analisis yang dimaksudkan untuk member informasi
bagi aktivitas pembuatan kebijakan. Bisa berbentuk anjuran atau riset
eksternal/internal yang terperinci tentang aspek kualitatif dan judgemental dari
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pendekatan
Berdasarkan karakteristik dan dinamika dari kawasan pesisir dan lautan,
potensi dan permasalahan pembangunan serta kebijakan pemerintah untuk sektor
kelautan, maka dalam mencapai pembangunan kawasan pesisir dan lautan secara
optimal dan berkelanjutan, tampaknya hanya dapat dilakukan melalui pengelolaan
wilayah pesisir dan lautan secara terpadu. Hal ini dikarenakan terdapat keterkaitan
ekologis atau hubungan fungsional antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun
antar kawasan pesisir dengan lahan atas dan laut lepas, cepat atau lambat akan
mempengaruhi ekosistem lainnya.
Pertambahan jumlah penduduk yang terus-menerus dan peningkatan
pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir di Kecamatan Medan Belawan itu
mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Hal ini menjadikan
pemanfaatan ruang di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan juga meningkat
dan semakin intensif.
Peningkatan pemanfaatan ruang ini dapat mengakibatkan degradasi
lingkungan wilayah pesisir dan terjadinya perubahan pada suatu ekosistem pesisir
yang cepat atau lambat akan mempengaruhi ekosistem lainnya. Pada prinsipnya
pengelolaan wilayah pesisir berkenaan dengan faktor lingkungan ekologis,
hukum, aturan lokal dan tradisi. Timbulnya masalah dalam pengelolaan tersebut
antara lain karena ketiga faktor tersebut tidak berjalan secara harmonis.
Esensi tata ruang menurut Undang-undang Nomor: 26 Tahun 2007 adalah
Rencana Tata Ruang, Pedoman Pemanfaatan Ruang dan Cara Pengendalian
Pemanfaatan Ruang yang diatur dalam pasal 13, 15 dan 17 UU No.26 Tahun 2007.
Perencanaan tata ruang pada dasarnya merupakan perumusan pemanfaatan
/penggunaan ruang secara optimal dengan orientasi produksi dan konservasi bagi
kelestarian lingkungan.
Perumusan-perumusan kebijakan tersebut di dalam pelaksanaan pembangunan
dan pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan lautan belum secara tajam digariskan
berdasarkan ketentuan hukum misalnya: Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri
dan sebagainya. Sejauh ini belum dapat diidentifikasi persyaratan teknis dan
pemanfaatan ruang yang bersifat umum atau dapat dipakai secara nasional yang
ditetapkan dalam suatu peraturan, kecuali tentang penetapan Kawasan Lindung yang
diatur dalam Keputusan Presiden Nomor: 32 Tahun 1990 dan secara parsial tentang
penetapan hutan lindung berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
837/kpts/UM/II/1980. Sedangkan undang-undang Nomor: 5 Tahun 84 Tentang
Perindustrian, Undang-undang Nomor Tahun 1992 Tentang Perumahan dan
Permukiman dan Peraturan perundang-undang lainnya masih bersifat sektoral dan
belum operasional.
karena masing-masing stakeholders, baik pemerintah: dalam hal ini lembaga/instansi,
maupun pihak swasta dan masyarakat berusaha memanfaatkan sumberdaya yang ada
di wilayah pesisir seoptimal mungkin sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Dalam mempelajari konflik pemanfaatan ruang dilakukan pendekatan analisis
spasial dan analisis konflik. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan metode
Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengevaluasi lahan sehingga diperoleh
kesesuaian lahan. Sedangkan analisis konflik dilakukan dengan pendekatan Proses
Hirarki Analitik (AHP),akan dapat ditentukan prioritas kegiatan pemanfaatan ruang
yang optimal. Berdasarkan hasil kedua analisis tersebut dapat memberikan
rekomendasi sebagai landasan pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan.
TIDAK IYA
Gambar 3.1. Diagram Kerangka Pikir
Kondisi & Potensi Wilayah
Kebijakan Pengelolaan Wilayah
Permasalahan
Penataan Ruang Wilayah Pesisir
Perencanaan Tata Ruang
Pemanfaatan Ruang
Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Penyimpangan Pemanfaatan
Konflik Pemanfaatan Ruang
ANALISIS SPASIAL Kesesuaian Lahan
ANALISIS KONFLIK Prioritas Kegiatan
REKOMENDA SI
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian terletak di wilayah pesisir Kecamatan Medan Belawan
terdiri atas 6 kelurahan, yaitu: Bagan deli, Belawan I, Belawan II, Bahari, Bahagia
dan Sicanang (Gambar 2). Luas wilayah pesisir yang merupakan daerah
studi/penelitian adalah sekitar 26,25 Km2.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan data
sekunder.
1) Data primer diperoleh melalui survey secara langsung di wilayah pesisir
Kecamatan Medan Belawan dengan melakukan kegiatan lapangan yang meliputi:
1. Kegiatan observasi lapangan untuk mengamati keadaan wilayah, jenis-jenis
penggunaan tanah yang ada serta permasalahan dilapangan.
2. Kegiatan wawancara dengan menggunakan kuesioner, yang dilakukan
terhadap responden yang berkaitan dengan materi penelitian yaitu pemerintah,
swasta, dan masyarakat.
2) Data sekunder diperoleh melalui penelusuran pustaka dari berbagai sumber yang
relevan dan data sekunder juga diperoleh dari: Kantor BPS, BPN, Dinas Pertanian,
Perikanan, Perindustrian, Bappeda dan instansi lainnya yang terkait serta data-data
3.4 Metode Pemilihan Responden
Pemilihan responden dilakukan dengan cara purposive sampling atau
pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan responden adalah faktor/pengguna
lahan (stakeholders) terdiri dari Pemerintah, swasta dan masyarakat yang
mempengaruhi pengambilan kebijakan pemanfaatan ruang baik langsung maupun
tidak langsung.
Pemilihan responden dalam AHP, diperoleh dengan melakukan kegiatan
wawancara dengan menggunakan kuesioner yang dilakukan terhadap ± 10 (sepuluh)
responden, terdiri dari pejabat/staf dari lembaga-lembaga pemerintah yang terkait
atau responden yang memiliki keahlian khusus (pakar), responden yang terlibat
langsung, atau responden yang dianggap mempunyai kemampuan dan mengerti
permasalahan terkait dengan pemanfaatan ruang wilayah pesisir di Kecamatan Medan
Belawan.
3.5 Metode Analisis
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan alat analisis,
yaitu:
3.5.1 Metode Sistem Informasi Geografis (SIG)
Pemanfaatan ruang wilayah pesisir secara teknis dilakukan berdasarkan
prinsip-prinsip yang dikembangkan sedemikian rupa, sehingga pemanfaatan ruang
dilihat sebagai dasar pemikiran paling dasar yang digunakan untuk
melakukan/menentukan kawasan dalam penggunaan tanah sesuai dengan kepentingan
berbagai pihak (stakeholders), sedangkan kawasan itu sendiri pada dasarnya adalah
penentuan peruntukkan suatu wilayah dengan memperhatikan kepentingan–
kepentingan sosial ekonomi dan ekologis bagi berbagai pihak (stakeholders) yang
berkompeten secara berimbang. Dalam wacana pembangunan yang berkelanjutan,
maka prinsip yang digunakan dalam pemanfaatan ruang adalah mempertemukan
dimensi kepentingan–kepentingan sosial-ekonomis dengan dimensi ekologis sehingga
kedua dimensi tersebut dapat diakomodir secara proposional dan kepentingan
pembangunan jangka panjang dapat terjamin.
1) Penyusunan Peta Kawasan
Peta Kawasan disusun berdasarkan hasil dari ketika melakukan pemantauan
langsung dilapangan dan hasil konfirmasi serta data-data sekunder dari Pemerintah
Kota Medan yang diperoleh dalam bentuk peta kawasan kondisi saat ini yang
menggambarkan penggunaan kawasan sekarang dan peruntukkan kawasan
sekarang.
Data yang digunakan dalam penyusunan peta kawasan pada dasarnya terdiri
dari dua kategori, yaitu: data spasial dan dan data alfanumerik. Data spasial berupa
data grafis peta dan alfanumerik berupa data tabular. Data spasial yang digunakan
berasal dari peta topografi sebagai peta dasarnya dan peta-peta tematik (peta tata
guna lahan, peta kemiringan/lereng, peta ketinggian, peta kedalaman efektif tanah,
Penyusunan peta kawasan dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis,
sehingga informasi spasialnya dapat diketahui yaitu:
1. Kawasan mana saja yang tersedia bagi kegiatan pembangunan atau
konservasi, atau kawasan mana saja yang dijadikan sebagai kawasan lindung.
2. Kegiatan penggunaan kawasan apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang
tidak diperbolehkan.
3. Konflik yang terjadi antara:
i. Kesesuaian kawasan dengan peruntukkannya
ii. Penggunaan lahan dengan peruntukkannya
iii. Keharmonisan spasial dengan kawasan-kawasan lain disekitarnya
Hasil penyusunan peta kawasan yang telah sesuai dengan peruntukkan
yang seharusnya dapat saja berbeda dengan penggunaan kawasan sekarang,
misalnya: suatu kawasan yang seharusnya diperuntukkan sebagai kawasan
perikanan namun pada kenyataannya digunakan sebagai kawasan industri.
2) Penyusunan Matriks Kesesuaian Lahan
Adapun kriteria yang digunakan dalam penyusunan matriks kesesuaian
masing-masing penggunaan lahan yang dapat digunakan sebagai acuan di setiap
peruntukan lahan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.1 sebagai
Tabel 3.1. Matriks Kesesuaian Lahan
Kriteria
Peruntukkan Lahan
Industri Tambak Pertanian Permukiman Konservasi
Pantai
Kemiringan 2 – 8% 0 – 2% 2 – 8% >2 % 0 – 2%
Ketinggian 5 – 15 m 0 – 5 m 5 – 15 m >5 m <5 m
Jenis Tanah Segala jenis
tanah Alluvial pantai Alluvial, Alluvial hidromorfik kelabu. Segala jenis tanah Alluvial pantai
Ketersediaan Air Air tawar potensi sedang (10 – 15
liter/detik) – tinggi ( >15 liter/detik) Air payau (jarak dari sungai 0- 2.000 m) Air tawar potensi sedang – tinggi atau pada akuifer produktivitas sedang - tinggi
Air tawar kecil – tinggi atau pada akuifer produktivitas kecil - tinggi
Air payau dan air asin permeabilita s
Lokasi < 500 m
dari sarana dan prasarana jalan Tidak jauh dari pantai antara 200 – 4.000 m
- <500 m dari
sarana dan prasarana jalan
<200 m dari garis pantai
Kedalaman Efektif Tanah
30 – 60 cm - > 30 cm - -
Daerah Tidak
tergenang
Tergenang Periodik
- Tidak
tergenang
Tergenang Periodik
Sumber: Dalam Sugiarti, 2000
3) Pembobotan (Weighting), dan Pengharkatan (Scoring)
Pembobotan pada setiap faktor pembatas/parameter ditentukan berdasarkan
pada dominannya parameter tersebut terhadap suatu peruntukkan. Besarnya
pembobotan ditunjukkan pada suatu parameter untuk seluruh evaluasi lahan,
sebagai contoh: kemiringan/kelerangan mempunyai bobot yang lebih tinggi untuk
Pemberian nilai (scoring) ditujukan untuk menilai beberapa faktor
pembatas/parameter/kriteria terhadap suatu evaluasi kesesuaian. Pembobotan
(weighting) dan pemberian nilai (scoring) untuk masing-masing penggunaan
[image:43.612.109.555.252.680.2]lahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2. Pembobotan dan Pengharkatan Kesesuaian Lahan untuk Tambak, Industri, Permukiman, dan Konservasi
No Parameter Harkat Tambak Industri Permukiman Konservasi
B N B N B N B N
1 Kemiringan Lereng
- 0 – 8 - 8 – 15 - 15 – 25 - 25 – 40 - >40 5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8 2 Ketinggian
- 0 – 5 m - 5 – 15 m - 15 – 30 m - 30 – 45 m - > 45 m
5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8 3 Ketersediaan Air
- Sangat Tinggi - Tinggi - Cukup Tinggi - Kurang - Sangat Kurang
5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8
4 Kedalaman Efektif Tanah
- < 25 - 25 – 50 - 50 – 75 - > 75
4 3 2 1 1,0 4 3 2 1 0,8 3,2 2,4 1,6 0,8 0,8 3,2 2,4 1,6 0,8 0,8 3,2 2,4 1,6 0,8 5 Rawan Banjir
- Tidak Pernah - Jarang
- Kadang-kadang - Sering
- Sering Sekali
5 4 3 2 1 1,0 5 4 3 2 1 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8 1,0 4 3,2 2,4 1,6 0,8 0,8 4 3,2 2,4 1,6 0,8
Dari penilaian metode pengharkatan tersebut akan diperoleh nilai dimana
berdasarkan nilai tersebut akan diketahui kelas kesesuaiannya. Pembagian
selang kesesuaian dilakukan berdasarkan selisih nilai terbesar dikurangi nilai
terkecil. Oleh karenanya dalam penelitian ini, kelas kesesuaian dibagi dalam 3
kelas, yang didefinisikan sebagai berikut:
1. Kelas S1 (25 – 17): Sangat Sesuai (Highly Suitable), yaitu:
Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan
tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti
dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi lahan tersebut.
2. Kelas S2 (17 – 9): Sesuai (Suitable), yaitu:
Lahan yang mempunyai pembatas agak berat untuk suatu penggunaan
tertentu yang lestari. Pembatas tersebut akan mengurangi produktivitas
lahan dan keuntungan yang diperoleh.
3. Kelas N (9 – 1):Tidak Sesuai Saat Ini (Currently Not Suitable), yaitu
Lahan yang mempunyai pembatas dengan tingkat sangat berat, akan tetapi
masih memungkinkan untuk dapat diatasi/diperbaiki, artinya masih dapat
ditingkatkan menjadi sesuai, jika dilakukan perbaikan dengan tingkat
pengetahuan/teknologi yang lebih tinggi.
3.5.2 Metode Proses Hirarki Analitik (AHP)
Pada umumnya permasalahan yang sering timbul dalam pengelolaan wilayah
masing-masing komponen yang terlibat. Dalam kasus pemanfaatan ruang wilayah pesisir,
masyarakat setempat menghendekai dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
sebaliknya pihak swasta menghendaki untuk mengeksploitasi sumberdaya yang ada
untuk memperoleh keuntungan sebesar-sebesarnya. Demikian pula hubungan antara
masyarakat setempat, swasta dan pemerintah, dalam hal ini masyarakat dan swasta
menghendaki ketersediaan lahan/ruang untuk berproduksi sesuai dengan
kepentingannya, akan tetapi sebaliknya pihak pemerintah menghendaki pemanfaatan
ruang tersebut sesuai dengan rencana umum tata ruang kota yang sudak ditetapkan.
Dengan adanya beda kepentingan dari beberapa pihak tersebut akan menimbulkan
konflik pemanfaatan ruang. Disisi lain ketiga pihak tersebut mempunyai kepentingan
yang sama, yaitu: bersama-sama menghendaki pemanfaatan sumberdaya di wilayah
pesisir yang berkelanjutan (sustainable).
Selanjutnya untuk dapat menjamin pemanfaatan sumberdaya yang sustainable
tersebut perlu ditentukan titik keseimbangan, dimana semua pihak mendapatkan
keuntungan secara proposional dan untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan
analisis kebijakan yang menghasilkan suatu kebijakan yang dapat digunakan sebagai
dasar bagi pengambil keputusan untuk menetapkan suatu kebijakan dalam
pemanfaatan ruang wilayah pesisir di Kecamatan Medan Belawan.
Proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif.
Peralatan utama AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya
tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992). Dalam pemilihan
prioritas, AHP mampu menangkap secara rasional persepsi manusia dan mampu
mengkonversi faktor-faktor yang tidak terukur (intangible) kedalam aturan yang
biasa, sehingga bisa dibandingkan.
Adapun langkah-langkah analisis data agar dapat menganalisis konflik
pemanfaatan ruang dalam pengelolaan wilayah pesisir di Kecamatan Medan Belawan
adalah sebagai berikut:
Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Kadarsyah
Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998):
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. Dalam
tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas,
detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang
mungkin cocok bagi masalah tersebut. Untuk memecahkan konflik yang terjadi
dan solusi yang diinginkan didalam menentukan prioritas kegiatan pada kawasan
konflik penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang optimal,
maka perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan dalam
mengambil suatu kebijakan yang terdiri dari 4 (empat) aspek pertimbangan.
Adapun faktor-faktor dari keempat aspek tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.3
Tabel 3.3. Faktor dan Aspek Penentuan Prioritas Penggunaan Lahan
Aspek Industri Tambak Permukiman
Ekonomi • Meningkatkan Pendapatan
• Eksploitasi Sumberdaya
• Menumbuhkan sektor informal
• Meningkatkan Pendapatan
• Eksploitasi Sumberdaya
Menumbuhkan sektor
informal
Lingkungan • Pencemaran
• Degradasi Linkungan
• Ketersediaan Lahan
• Ketersediaan Lahan
• Pencemaran
• Ketersediaan Lahan
Sosial • Penyerapan Tenaga kerja • Penyerapan
tenaga Kerja
• Adat dan kebiasaan turun
temurun
• Pencemaran
• Degradasi Linkungan
• Ketersediaan Lahan
Teknologi • Transfer Teknologi
(Meningkatkan Tenaga
kerja terampil.
Aspek Ekonomi, mempengaruhi keputusan akan pemilihan/penentuan prioritas
penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang yang akan dikembangkan. Kriteria
dari aspek ini dijabarkan menjadi 3 faktor yang mungkin terjadi, yaitu sebagai
berikut:
a. Pendapatan (Income)
Kegiatan industri akan menghasilkan pendapatan (income) bagi masyarakat
setempat dan penanaman investasi merupakan aset yang dapat meningkatkan
meskipun kontribusinya tidak sebesar dan seluas yang diberikan oleh kegiatan
industri.
b. Eksploitasi Sumberdaya
Dengan adanya kegiatan industri diharapkan dapat menggali potensi daerah
dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada
secara optimal dan efisien agar tercapai pemanfaatan sumberdaya yang
berkelanjutan (sustainable).
c. Sektor Informal
Dengan adanya kegiatan industri dan permukiman disuatu daerah akan
menumbuhkan sektor informal dapat berupa usaha dibidang perdagangan, jasa
dan transportasi yang sangat menunjang perekonomian penduduk setempat.
Aspek lingkungan, pertimbangan aspek lingkungan dalam menentukan prioritas
kegiatan akan menunjang pemanfaatan sumberdaya yang optimal dan sustainable.
Adapun kriteria dari aspek lingkungan dapat dijabarkan menjadi 3 faktor yang
mungkin terjadi, yaitu sebagai berikut:
a. Pencemaran
Proses industri dalam kegiatan industri menghasilkan limbah industri yang
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, apabila tidak dilakukan
pengelolaan limbah secara benar terlebih dahulu, sehingga limbah yang
dibuang ke saluran, sungai atau laut tidak melebihi batas ambient. Begitu pula
b. Ketersediaan Lahan
Ketersediaan lahan untuk pengembangan kegiatan industri, pertambakan, dan
permukiman harus mengacu pada rencana tata ruang yang ada dan sesuai
dengan kesesuaian lahan agar tidak terjadi konflik dalam pemanfaatan ruang.
Aspek sosial, pertimbangan aspek sosial dalam menentukan prioritas kegiatan
dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir merupakan hal yang tidak kalah
pentingnya dengan aspek-aspek lainnya dalam menentukan kebijakan, karena
kebijakan tersebut akan berdampak positif dan dapat diterima serta mendapat
respons dari masyarakat apabila masyarakat ikut serta menikmati dan merasa
memiliki hasil dari suatu kebijakan. Kriteria dari aspek sosial dapat dijabarkan
menjadi 3 faktor yang mungkin terjadi, yaitu sebagai berikut:
a. Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja yang besar pada kegiatan industri akan berimplikasi
pada pemanfaatan sumber daya manusia setempat, sehingga secara ekonomi
dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Begitu pula dengan kegiatan
pertambakkan dapat menyerap tenaga kerja, meskipun tidak sebesar pada
kegiatan industri. Sedangkan kegiatan permukiman merupakan sumber
kegiatan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan oleh kegiatan industri dan
b. Adat Istiadat dan Kebiasaan Turun Temurun
Kegiatan pertambakan yang diusahakan masyarakat merupakan adat istiadat
dan usaha yang turun temurun, karena sebagian besar lahan pertambakkan yang
dimiliki masyarakat adalah harta warisan dari leluhurnya.
Aspek Teknologi, pertimbangan aspek teknologi dalam penentuan prioritas
kegiatan/penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang sebagai dasar menetapkan
suatu kebijakan adalah karena perkembangan teknologi sangat dibutuhkan dalam
pengembangan wilayah, sehingga menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang ahli dan
trampil.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan utama. Setelah
menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang
berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan
atau menilai alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut. Tiap
kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan
subkriteria (jika mungkin diperlukan). Penyusunan struktur hirarki di wilayah
Gambar 3.2. Hirarki Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir PENENTUAN
PRIORITAS KEGIATAN (PENGGUNAAN
EKONOMI LINGKUNGA
N
SOSIAL TEKNOLOGI
Pendapatan
Eksplotasi Sumberdaya
Sektor Informal
Pencemaran
Degradasi
Ketersediaan Lahan
Tenaga Kerja
Adat & Kebiasaan
Transfer Teknologi
INDUSTRI TAMBAK PERMUKIMA
N Level
1 Tujua
n
Level 2 ASPE
Level 3 Kriteria
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau
kriteria yang setingkat di atasnya.
4.
Matriks yang digunakan bersifat
sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan
informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang
mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk
perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek
ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi. Perbandingan
dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai
tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai
proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas
hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang
akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5. Melakukan perbandingan
berpasangan.
Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah
penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen yang dibandingkan. Hasil perbandingan dari
masing-masing elemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan
perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam
matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi
antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian
dengan elemen yang dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan
berpasangan dan maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat pada
[image:53.612.108.549.212.494.2]Tabel 3.4 berikut:
Tabel 3.4. Skala Banding Secara Berpasangan
Tingkat Kepentingan
Definisi Penjelasan
1 Kedua elemen sama
pentingnya
Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih
penting dari pada elemen lainnya
Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen disbanding
elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting
dari pada elemen lainnya
Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding
elemen yang lainnya. 7 Satu elemen jelas lebih penting
dari elemen lainnya
Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek 9 Satu elemen mutlak lebih
penting dari pada elemen lainnya
Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat
penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan
Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan
Kebalikan Jika untuk aktivitas I mendapat satu angka bila dibandingkan
dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya
bila dibandingkan i
Sumber: Saaty Thomas, 1993
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya
6.
, jika tidak
konsisten maka pengambilan data diulangi.
7.
Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan
Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap kolom dari
matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan
untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap
baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mensdapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hirarki. Yang diukur dalam AHP adalah rasio
konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan
adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati
valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN