“DESKRIPSI SENI PERTUNJUKAN KOMUNITAS MUSIK
REGGAE DI KOTA MEDAN; STUDI KASUS COCONUT HEAD”
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
NAMA : REZA GUNAWAN SIMANJUNTAK
NIM : 050707023
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI
MEDAN
Kata Pengantar
Pertama sekali, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah memberikan waktu, kesempatan dan
kesehatan kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada orang tua dan keluarga besar saya yang telah memberikan
semangat dan yang selalu setia memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
Di dalam penulisan skripsi ini, penulis sangat mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada setiap dosen yang mengajar di Departemen Etnomusikologi
secara khusus kepada Bapak Irwansyah Harahap sebagai dosen pembimbing I dan
Bapak Kumalo Tarigan sebagai dosen pembimbing II. Penulis menyadari di dalam
penulisan skripsi ini sangat banyak kesalahan dan kelalaian. Dengan rendah hati,
penulis memohon maaf kepada Bapak Dosen Pembimbing I dan kepada Bapak Dosen
Pembimbing II.
Tak lupa juga penulis sangat-sangat mengucapkan banyak terimakasih kepada
Bang Zack sebagai informan utama penulis, dan seluruh personil Coconut Head,
komunitas Reggae Medan Indonesia yang telah memberikan informasi tentang musik
reggae.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada setiap teman-teman yang ada di
Etnomusikologi yang tak dapat penulis sebutkan namanya satu per satu yang turut
membantu penulis di dalam penyusunan skripsi ini dan di dalam pencarian data yang
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan
kesalahan, dan masih jauh dari sempurna. Betapapun sederhananya skripsi ini, penulis
mengharapkan tulisan ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan bermanfaat,
khsusnya di bidang Etnomusikologi.
Besar harapan penulis agar semua pihak dapat memberikan saran dan kritikan
yang sifatnya membangun demi perbaikan skripsi ini.
Penulis,
DAFTAR ISI
1.5.2.3. Metode Penelusuran Data OnLine 1.5.2.4. Perekaman
1.5.2.5. Pemotretan 1.5.3. Kerja Lapangan 1.5.4. Lokasi Penelitian
BAB II Gambaran Umum Musik Reggae
2.1. Sejarah dan Perkembangan Musik Reggae 2.2. Karakteristik Musikal reggae
2.3. Lambang Musik reggae 2.3.1. Daun Marujuana
2.3.2. Dreadlock (Rambut Gimbal) 2.3.3. Warna Merah, Emas, dan Kuning 2.3.4. Uye dan Woyo
3.3. Komunitas Reggae di Kota Medan
3.4. Kegiatan Komunitas Reggae di Kota Medan
BAB IV Seni Pertunjukan Coconut Head 4.1. Sejarah Berdirinya Coconut Head
4.1.1. Profile Coconut Head
4.1.2. Kegiatan Rutinitas Coconut Head 4. 2. Seni Pertunjukan Coconut Head
4.2.1. Gambaran Umum Kegiatan Indonesia Reggae Fest 4.2.1.1. Waktu dan Tempat Pertujukan
4.2.1.2. Pelaksana Kegiatan 4.2.1.3. Pengisi Acara 4.2.2. Pertujukan Coconut Head
4.2.2.1. Persiapan Coconut Head Pra Indonesia Reggae Fest 4.2.2.2. Persiapan Coconut Head Pada Hari Pelaksanaan Acara 4.2.2.3. Alat Musik Yang Dimainkan
4.2.2.4. Peralatan Pendukung 4.2.2.5. Penonton Pertunjukan
4.2.3. Deskripsi Penampilan Personil Coconut Head 4.2.3.1. Pakaian Personil Coconut Head 4.2.3.2. Aksi Panggung Coconut Head 4.2.3.3. Respon Penonton
4.2.5. Tujuan dan Manfaat Pertunjukan 4.2.5.1. Tujuan Pertunjukan 4.2.5.2. Manfaat Pertunjukan BAB V PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Reggae adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sistesis ini jelas menunjukkan keaslian Jamaika
dan memasukkan ketukan putus-putus tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola
vocal yang ”berkotbah” dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari. Tema
yang paling sering dijadikan lirik adalah Rastafari, protes sosial politik, dan pesan
manusiawi.1
Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan
kaum Rastafaria) di Kingson ibu kota Jamaika. Inilah yang menyebabkan gaya rambut
gimbal menghiasi para musisi reggae, awal dan lirik-lirik lagu Reggae sarat dengan
muatan ajaran Rastafari yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya
hidup bohemian. Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga
mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, otomatis mengakibatkan aliran musik Reggae pertama kali dikembangkan di Jamaika pada akhir tahun 1960.
Akar musik ini adalah musik ska dan rockcteady, yang temponya lebih cepat
dibandingkan Reggae. Meskipun kadang-kadang digunakan dalam pengertian yang
lebih luas untuk merujuk kepada sebagian besar jenis musik Jamaika.
Kata “reggae” sebenarnya berasal dari logat Afrika dari kata “ragged” yaitu
gerakan seperti menghentak badan saat orang menari dengan iringan musik ska atau
reggae. Reggae sendiri dipengaruhi oleh musik R&B, rock, alypso, rhumba serta musik khas Jamaika yang disebut Mento yang cenderung memberi tekanan pada
nada-nada lemah serta hentakan ritmik drum yang komplek.
1
satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Maka, gaya rambut gimbal atau
Dreadlock serta lirik-lirik ‘Rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dalam kata lain, Dreadlock dan ajaran Rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya
pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.
Di Indonesia, reggae mulai berkembang di tahun 1980-an hingga sekarang.
Ada beberap
adalah Abreso, yang sudah bernyanyi reggae sejak tahun 1980-an, dan berkisar tahun
1984 mereka telah melakukan rekaman. Dan Abreso inilah yang tercatat sebagai
memainkan musik reggae di Indonesia.2
Perkembangan musik reggae di kota Medan dapat dilihat berdasarkan
munculnya beberapa band reggae, yaitu: Coconut Head, Castello, After Sunset,
Campigna, Black Banana Trees, Wacacau serta Tobasta. Dan di kota Medan terdapat Selain itu, dikenal pula nama Imanes, Toni Q
Rastafarra, Steven and The Coconut Trees dan juga almarhum Mbah Surip. Tony Q
Rastafara dengan group band Rastafara adalah orang yang pertama mempopulerkan
music reggae di Indonesia dengan membawakan lagu-lagu ciptaan Bob Marley dan
lagu-lagu ciptaannya sendiri dan hingga sekarang masih tetap berkarya. Begitu juga
dengan Steven Cocounattreez yang hadir dengan warna musik yang sama di tahun
2000-an.
Di kota Medan juga tidak luput dari pengaruh musik reggae, hal ini dapat
dilihat berdasarkan munculnya band reggae kota Medan yakni Coconud Head,
Campina Reggae, dan lain-lain. Sekarang ini semakin banyak pecinta musik reggae di
kota Medan dan ruang gerak mereka pun tidak sebatas musik, namun berbagai
aktivitas yang diangggap sebagai apresiasi terhadap musik reggae.
suatu komunitas pecinta musik reggae, yaitu REMI (Reggae Medan Indonesia) yang
terdiri dari beberapa kelompok band di dalamnya. Tercatat ada 9 kelompok yang
tergabung dalam komunitas REMI, yaitu: Coconut Head, Castello, After Sunset,
Campigna, Black Banana Trees, Wacacau serta Tobasta.
Penampilan para pecinta music reggae di kota Medan tidak jauh beda dengan
penampilan para pecinta reggae di negara-negara lainnya. Dalam hal ini penampilan
yang dimaksud penulis adalah cara tatanan rambut, assesoris tubuh, misalnya: ikat
rambut, gelang, cincin, kalung, dan cara berpakaian yang berwarna merah, kuning,
hijau. Selain itu pecinta musik reggae di kota Medan juga kerap menggunakan gambar
daun Marijuana yang dipercaya sebagai hippies yang pernah popular di Amerika
Serikat. Sama halnya dengan Coconud Head, group band reggae ini juga
berpenampilan seperti penganut Rastafari.
Menurut vocalis Coconut Head yang kerap di sapa B.T (30 tahun), dikenalnya
musik reggae di Kota Medan sebenarnya sudah sejak tahun 1980-an, namun
munculnya band-band yang beraliran reggae ada sejak tahun 2000-an. Begitu juga
yang telah diungkapkan oleh Chalid, vocalis Sunset (35 tahun) dan Bembeng, gitaris
Sunset (36 tahun), dikenalnya musik reggae di kota Medan sudah sejak tahun 1980-an,
yaitu dikenal lewat media televisi dan radio, serta jaringan internet. Namun group band
yang beraliran reggae muncul pada tahun 2000-an.
Group band reggae di kota Medan yang masih eksis sampai sekarang ini adalah
Coconut Head. Group Band yang berdiri pada tahun 2005 ini mampu mempopulerkan
musik reggae di kota Medan melalui berbagai pentunjukan yang mereka tampilkan di
kota Medan. Selain itu, Coconut Head juga telah dikenal diberbagai daerah di
Head di dunia musik reggae Indonesia adalah dengan di undangnya sebagai salah satu
bintang tamu di Indonesia Reggae Fest 2011 pada tanggal 21 Mei 2011 yang
dilaksanakan di Area Pekan Raya, Jakarta, Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa permasalahan yang menarik untuk
dikaji dari topik penelitian ini; pertama, bagaimana sejarah dan keberadaan reggae
dikota medan. Kedua, bagaimana perkembangan band musik reggae di Kota Medan.
Ketiga, bagaimana ekspresi sosial dan aktivitas komunitas reggae di kota Medan.
Keempat, bagaimana seni pertunjukan yang dilakukan oleh Coconut Head sehingga
mereka dapat mempopulerkan musik reggae di kota medan. Sehingga penulis ingin
menulis skripsi dengan judul ’ Deskripsi Seni Pertunjukan Komunitas Musik Reggae
di Kota Medan; Studi Kasus Ccocnut Head”.
1.2 Pokok Permasalahan
Dari latar belakang yang dikemukakan, ada beberapa permasalahan yang
menarik untuk dikaji dari topik penelitian ini:
1. Bagaimana sejarah singkat musik reggae?
2. Bagaimana sejarah dan keberadaan musik reggae di kota Medan?
3. Bagaimana ekspresi sosial dan aktivitas komunitas reggae di kota Medan?
4. Bagaimana seni pertunjukan Coconut Head pada acara Indonesia Reggae Fest
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah musik reggae di dunia dan di Indonesia
dan secara khusus di Kota Medan
2. Untuk mengetahui bagaimana keberadaan perkembangan musik reggae di
dunia dan di Indonesia dan secara khusus di Kota Medan
3. Untuk mengetahui bagaimana seni pertunjukan Coconut Head di dalam
mengapresiasikan kecintaannya terhadap musik reggae sehingga dapat
mempopulerkan musik reggae di kota Medan.
1.3.2 Manfaat
Diharapkan melalui penelitian ini dapat diketahui kehidupan salah satu
subkultur yang mengisi kemajemukan jenis musik di kota Medan yang menamakan
dirinya sebagai komunitas reggae kota Medan atau Reggae Medan Indonesia (REMI).
Selain itu, secara khusus, tulisan ini merupakan bentuk pengaplikasian ilmu yang
diperoleh penulis selama studi di Departemen Etnomusikologi, Fakultas Sastra,
Universitas Sumatera Utara. Adapun secara umum, tulisan ini dapat merupakan
informasi bagi para pembaca tentang keberadaan musik reggae yang ada di kota
Medan dan komunitasnya.
1.4 Konsep dan Teori
1.4.1 Konsep
Koentjaraningrat (1980:207) menyebutkan bahwa konsep adalah sistem
masyarakat, masing-masing suku bangsa mempunyai istilah dalam musik yang
berbeda dengan suku lain.
Deskriptif, menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah menggambarkan
apa adanya. Kata ”deskriptif” berasal dari bahasa Inggris yaitu ”deskriptive” yang
berarti bersifat menyatakan sesuatu dengan memberikan gambaran melalui kata-kata
atau tulisan. Seeger (1958:184) menyebutkan, penyampaian suatu objek dengan
menerangkannya terhadap pembaca secara tulisan maupun lisan dengan
sedeteil-deteilnya. Berdasarkan kedua kutipan di atas, deskripstif yang dimaksud dalam
penulisan ini adalah bersifat menyatakan dan menyampaikan sesuatu apa adanya
dengan menggambarkannya secara jelas mengenai musik, kegiatan dan penampilan
komunitas pecinta musik reggae di kota Medan.
Seni pertinjukan Indonesia memiliki ciri yang istimewa. Ia adalah sosok seni
pertunjukan yang bersifat sangat lentur. Ia memiliki sifat yang demikian karena
lingkungan masyarakatnya selalu berada pada suatu kurun waktu tertentu, mapan, dan
mengembangkan suatu sosok yang tumbuh sebagai suatu tradisi (Umar Kayam,
2003;3).
Menurut Sal Murgiyanto (1996);156), pertunjukan adalah sebuah komunikasi
yang dilakukan oleh satu orang atau lebih, pengirim pesan merasa tanggung jawab
pada seseorang atau lebih penerima pesan, dan kepada sebuah tradisi seperti yang
mereka pahami bersama melalui seperangkat tingkah laku yang khas. Komunikasi
akan terjadi jika pengirim pesan (pelaku pertunjukan) benar-benar mempunyai maksud
(intention) dan penonton memiliki perhatian (attention) untuk menerima pesan.
Dengan kata lain, dalam sebuah pertunjukan harus ada pemain (performer) penonton
atas, berbagai pertunjukan Coconut Head dapat dikategorikan sebagai seni pertunjukan
dimana dalam pertunjukannya ada pemain, penonton, pesan yang dikirim, dan dengan
penyampaian pesan yang khas.
Pada situs http//id.wikipedia/org.wiki/komunitas dituliskan ”komunitas berasal
dari bahasa latin yaitu ”communitas” yang berarti ”kesamaan” kemudian dapat
diturukan dari communis yang berarti ”sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. :
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi
lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan yang sama. Dalam komunitas manusia
individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya,
preperensi, kebutuhan, resiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa.
Musik adalah salah satu media ungkapan kesenian, musik mencerminkan
kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan
norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal
maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut
struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602) musik adalah ilmu atau seni
menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk
menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada
atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan
keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu).
Berdasarkan pendapat di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwasanya
musik dapat juga disebut sebagai media seni, dimana pada umumnya orang
Oleh karena itulah pengertian musik sangat Universal, tergantung bagaimana orang
memainkannya serta menikmatinya.
Seni musik adalah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan
secara teratur dalam bentuk bunyi. Bisa dikatakan, bunyi (suara) adalah elemen musik
paling dasar. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu:
irama, melodi, dan harmoni. Irama adalah pengaturan suara dalam suatu waktu,
panjang, pendek dan temponya, dan ini memberikan karakter tersendiri pada setiap
musik. Kombinasi beberapa tinggi nada dan irama akan menghasilkan melodi tertentu.
Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang
harmoni.
Kata ”reggae” sebenarnya berasal dari logat afrika dari kata “ragged” yaitu
gerakan seperti menghentak badan saat orang menari dengan iringan musik ska atau
reggae. Pada tulisan ini, maksud dari pada reggae adalah merupakan suatu aliran musik yang berasal dan berkembang di Jamaika dan aliran musik reggae tersebut juga
berkembang pesat di berbagai negara.
1.4.2 Teori
Teori adalah sekumpulan pernyataan yang mempunyai kaitan logis, yang
merupakan cermin dari kenyataan yang ada mengenai sifat-sifat suatu kelas, peristiwa
atau suatu benda. Teori harus mengandung konsep, pernyataan, definisi, baik itu
definisi teoritis maupun operasional dan hubungan logis yang bersifat teoritis dan logis
konsep-konsep, definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang dapat digunakan untuk
eksplorasi dan prediksi.
Berbagai teori dan metode keilmuan dan pendekatan etnomusikologis dengan
didukung dengan pendekatan ilmu-ilmu lainnya sangatlah diperlukan untuk
mengungkapkan permasalahan yang berkaitan dengan musik sebagai produksi dari
tingkah laku manusia (the product of behaviour). Hal ini seperti yang dikatakan oleh
Merriam (1964) di dalam bukunya The Antropology of Music mengatakan bahwa “ The
ultimate interest of man is man himself, and music part of what he does and part of what he studies about” ‘perhatian manusia yang utama adalah manusia itu sendiri, dan musik yang termasuk di dalamnya adalah merupakan bagian yang dikerjakan sebagai dirinya sendiri.’
Meriam ingin mengatakan bahwa dalam mempelajari manusia, salah satu aspek
yang cukup penting untuk mengungkapkannya ialah melalui musik, dimana musik
reggae merupakan ungkapan perasaan untuk lebih merdeka dan bebas dalam berkarya dan menunjukkan identitasnya. Sehingga dengan demikian manusia dan musik adalah
dua hal yang saling bertautan, tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Dengan kata lain musik adalah merupakan produksi dari tata tingkah laku yang
sekaligus menjadi gambaran jiwa dan ekspresi seni masyarakatnya.
Lebih lanjut Maran (2005) mengatakan, tidak ada kebudayaan yang bersifat
statis, setiap individu dan setiap generasi melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan
semua desain kehidupan sesuai kepribadian mereka dan sesuai dengan tuntutan zaman.
Adapun dalam pembahasan terhadap pokok permasalahan dari penelitian ini
• Teori perkembangan musik populer
Untuk membahas bahwa musik reggae sebagai salah satu musik populer yang
selalu berhubungan dengan pertunjukan, media massa dan industri rekaman, Nettl
mengatakan dalam popular Music of The Non-Western World (Manuel, 1998:2) bahwa
musik populer selalu dikaitkan dengan wilayah perkotaan yang diorientasikan kepada
penonton, ditampilkan oleh para profesional yang menghargai hasil karya musiknya,
mempunyai statistika sendiri tentang musik seni dari suatu budaya yang mulai pada
abad ke-20, persebarannya meluas melalui media massa, radio dan industri rekaman.
Jadi jelas bahwa konser-konser musik reggae dalam hal ini sebagai salah satu sub
genre dari musik rock yang sering diadakan, kaset-kaset industri rekaman yang beredar
dan media massa yang juga ikut berpartisipasi adalah hal-hal yang mempengaruhi
perkembangan musik reggae.
Dalam mendeskripsikan musik reggae ini, penulis mengacu pada teori
perkembangan musik populer dimana teori ini akan digunakan untuk melihat sejauh
mana perkembangan musik reggae sebagai salah satu musik popular yang berkembang
di kota Medan. Nettl dalam Eight Urban Musical Cultures: Traditional dan Change
(1978:171) menawarkan dua pola proses kebudayaan, yaitu modernisasi dan
westernisasi. Modernisasi adalah suatu proses pengadaptasian yang menonjolkan tampilan dari Barat dengan tujuan untuk memperluas, dengan tidak menggantikan
elemen-elemen utamanya. Westernisasi adalah suatu proses pembaratan, dimana
budaya barat telah menjadi budaya tempatan atau asli yang menggantikan
elemen-elemen budaya tempatan atau asli tersebut. Berkaitan dengan perkembangan musik
pola pikir mereka yang menyukai musik dan gaya hidup Rastafari yang secara nyata
bukan berasal dari budaya Indonesia, pengaruh westernisasi tercermin dari perwujudan
prilaku sosial dan musikal, serta gaya berpakaian yang mereka tiru.
Shin Nakagawa dalam bukunya Musik dan Kosmos: Sebuah Pengantar
Etnomusikologi (2000:19-20) mengemukakan tentang pluralisme musik yang hidup berdampingan (pluralistic coexistence of music) dimana pluralisme kebudayaan
biasanya terjadi pada masyarakat urban yang anggota masyarakatnya bi- (dua) atau
multietnis. Dua kemungkinan bisa terjadi dalam musik tersebut, pertama, saling
mencampur unsur-unsur musik yang ada menjadi sintesis baru dan kedua,
masing-masing hidup secara berdampingan.
Untuk memperkuat teori bahwa musik reggae berkembang di kota-kota besar
dan menjadi bagian dari kajian Ethnomusikologi, Nettl dalam Recent Directions in
Ethnomusicology (1992:380,384) mengemukakan tentang fenomena Ethnomusicology Urban yang merupakan suatu studi terhadap budaya kaum minoritas dan musik para
imigran. Dalam hal ini dapat dianalisis adalah bahwa gejala urbanisasi memunculkan
istilah Ethnomusicology Urban dengan melihat bagaimana telah terjadi transformasi
kota dalam konteks budaya individu yang melahirkan budaya sentramultikultural di
pusat kota tersebut. Dikaitkan dengan sejarah awal musik Reggae yang berasal dari
musik rock di Barat, hal inilah yang terjadi hingga akhirnya musik rock dan
perkembangannya terus berkembang luas termasuk ke Medan sebagai salah satu kota
besar di Sumatera Utara.
Selanjutnya untuk membahas masalah bahwa dalam bidang musik populer
menganut prinsip “sistem bintang” begitu pula yang terjadi pada musik reggae,
sekuler/duniawi yang produksi dan penggunaannya tidak diasosiasikan secara intrinsik
dengan fungsi-fungsi perputaran kehidupan tradisional yang khusus atau memiliki satu
“sistem bintang”, dimana media mempromosikan pengaguman terhadap suatu
kepribadian yang populer disekitar gaya hidup para musisi, fashion atau kehidupan
pribadi”. Hal ini bertujuan agar antara musisi dan penggemar memiliki jarak dan batas,
dimana nantinya akan mengakibatkan rasa ingin tahu yang berlebihan dari penggemar
terhadap musisi idolanya itu. Akhirnya media massa pun akan sangat berperan untuk
mendekatkan penggemar secara terus menerus tentang semua hal yang dirasa glamour
dalam berita-berita terbaru dari “bintang” tersebut dan tentu akan membuat para
penggemar akan selalu berfantasi akan kehidupan “bintang”nya itu.
Yang lebih relevan lagi, mengenai “sistem bintang” pada musik populer
terhadap sejarah munculnya musik reggae adalah yang seperti dijelaskan oleh Mauly
Purba dan Ben M. Pasaribu (2006:8) dalam buku “Musik Populer”, yaitu suatu cara
untuk mencari kebaruan dengan adanya kebiasaan-kebiasaan dalam musik populer
yang diabaikan seperti: ada lagu instrumental, tanpa vokal sama sekali; ada penyanyi
atau pemain yang dengan sengaja memilih pakaian jelek atau aksesoris dan rambut
yang aneh seolah mengancam; ada lagu yang diambil dari musik klasik atau sumber
lain yang tidak “akrab” dengan kebanyakan pendengar musik populer; ada acord atau
ritme yang aneh. Tetapi biasanya keanehan-keanehan ini hanya berfungsi sebagai
variasi dan musiknya tetap jalan sebagaimana biasanya. Begitu pula halnya yang
terjadi pada musik reggae, banyak hal-hal baru dalam musik dan penampilan atau
penting sebagai media penghubung adalah media massa yang mendekatkan penggemar
dan “bintang”nya.
• Analisis terhadap penyajian pertunjukan
Teori yang digunakan untuk hal ini adalah yang diajukan oleh Alan P. Merriam
dan Andrienne L. Keappler.
Merriam dalam bukunya The Anthropology of Music (1964) mengatakan
bahwa dalam menganalisis suatu penyajian pertunjukan musikal penting diperhatikan
mengenai elemen-elemen, bunyi musikal, konsep-konsep mengenai musik dan tingkah
laku manusia berhubungan dengan bunyi musikal yang mempengaruhi terhadap
konsep-konsep musik.
Di sisi lain, Keappler (1972) menekankan pada etnologi pertunjukan yang
menggabungkan analisi emik dan analisis etik. Analisis emik adalah penggambaran
suatu peristiwa pertunjukan menurut cara pandang masyarakat pendukung itu sendiri.
Analisis etik adalah penggambaran pertunjukan dengan cara pandang teoritis dari
penelitian peristiwa pertunjukan tersebut.
• Teori Difusi
Teori ini mengemukakan bahwa suatu kebudayaan dapat menyebar
kekebudyaan lain melalui kontak budaya. Karena teori ini berpijak pada alasan adanya
suatu sumber budaya, maka sering juga disebut dengan teori monogenesis (lahir dari
suatu kebudayaan). Lawannya adalah teori poligenesis, yang menyatakan bahwa
beberapa kebudayaan mungkin saja memilki persamaan ide, aktivitas, maupun benda.
Tetapi persamaan kebudayaan itu bukan menjadi suatu alasan adanya satu sumber
kebudayaan. Bisa saja persamaan itu secara kebetulan, karena adanya unsur universal
Dalam zaman modern sekarang ini, difusi unsur-unsur kebudayaan yang timbul
di salah satu tempat di muka bumi berlangsung dengan cepat sekali, bahkan seringkali
tanpa kontak yang nyata antara individu-individu. Ini disebabkan karena adanya
alat-alat penyiaran yang sangat efektif, seperti surat kabar, majalah, buku, radio, film dan
televisi (Koentjaraningrat,2002: 246-247). Jadi tidak heran jika seandainya gaya
bermusik dan gaya visual seorang pecinta musik reggae dalam waktu kurang dari
sebulan atau bahkan seminggu telah ditiru oleh remaja di Indonesia karena adanya
televisi, intenet, dan TV kabel.
1.5 Metode Penelitian
Metode di sini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam
proses penelitian. Sedangkan penelitian diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu
pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip
dengan sabar dan hati-hati serta sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis
2003:24).
Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif.
Menurut Nawawi dan Martini (1995:209) penelitian kualitatif adalah rangkaian atau
proses menjaring data (informasi) yang bersifat sewajarnya mengenai suatu masalah
dalam kondisi aspek atau bidang kehidupan tertentu pada objeknya. Selanjutnya
Moleong juga menambahkan bahwa penelitian kualitatif dibagi dalam empat tahap,
yaitu: tahap sebelum ke lapangan (pra lapangan), tahap kerja lapangan, analisis data
dan penulisan laporan.
bersifat deskriptif adalah bertujuan untuk memaparkan secara tepat sifat-sifat suatu
individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu untuk menentukan frekuensi atau
penyebaran dari suatu gejala ke gejala lain dalam suatu masyarakat.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Untuk mencari teori, konsep dan juga informasi yang berhubungan dengan
tulisan ini, yang dapat dijadikan landasan dalam penelitian, maka penulis terlebih
dahulu melakukan studi kepustakaan untuk menemukan literature atau sumber bacaan
yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian lapangan.
Sumber bacaan yang dilakukan dapat berasal dari peneliti luar maupun peneliti
dari Indonesia sendiri. Selain bacaan yang dapat berupa majalah atau Koran, bulletin,
buku ilmiah, jurnal, skripsi sarjana, tesis, berita dan lain-lain, penulis juga
menggunakan buku-buku yang cukup relevan dengan topik permasalahan dalam
penelitian ini, terutama yang menyangkut pada komunitas, gaya hidup dan musik dari
komunitas reggae. Buku-buku tersebut antara lain ialah, The Anthropology of Music,
tulisan Alan P. Merriam, 1964; Theory and Method in Ethnomusicology, karya Bruno
Nettl, 1864; Pokok-pokok Antropologi Budaya, karya T.O. Ihromi, 1987; serta
buku-buku pendukung lainnya yang dianggap relevan dengan topik penelitian ini.
1.5.2 Kerja Lapangan
Kerja lapangan merupakan salah satu metode pengumpulan data yang paling
sehingga data yang diperoleh lebih objektif. Dalam hal ini data yang dibutuhkan dapat
dibagi menjadi dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan
data yang paling utama menjadi kebutuhan peneliti dimana data-data yang diperoleh
dengan melakukan observasi langsung ke lapangan penelitian. Dalam observasi
tersebut dilakukan pula perekaman terhadap informasi utama, seperti perekaman
terhadap kegiatan yang dilakukan oleh street punkers dan wawancara terhadap street
punkers dan orang-orang awam yang di dalamnya banyak menggunakan istilah-istilah
atau terminologi-terminologi setempat melalui teknik atau pendekatan elisitasi
(bertanya langsung kepada informan). Sementara data sekunder yaitu data-data atau
informasi yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mengumpulkan informasi
yang sebanyak-banyaknya dari berbagai bahan bacaan yang terkait dengan topik
penelitian ini.
Selain itu dalam pelaksanan pengambilan data primer ada beberapa tahapan
penting yang perlu dilakukan yaitu:
1.5.2.1 Observasi langsung
1.5.2.2 Wawancara
1.5.2.3 Metode Penelusuran Data Online
1.5.2.4 Perekaman
1.5.2.1 Observasi Langsung
Adapun observasi langsung ini dilakukan uantuk mendapatkan secara langsung
data-data yang dibutuhkan selama berlangsungnya kegiatan yang diamati tersebut.
Selain mengamati kegiatan dari observasi langsung ini penulis dapat langsung
menentukan orang-orang yang dianggap mampu menjadi narasumber dalam
pengumpulan data-data yang dibutuhkan penulis.
Pengamatan atau observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian
digunakan untuk menyebut jenis observasi, yaitu :
a. Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak
menggunakan instrumen pengamatan.
b. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan
pedoman sebagai instrumen pengamatan.
Dalam metode pengamatan setidaknya ada 3 (tiga) macam metode, yaitu :
1. Metode pengamatan bebas. Metode ini menggunakan teknik pengamatan yang mengharuskan si peneliti tidak boleh terlibat dalam
hubungan-hubungan emosi pelaku yang menjadi sasaran penelitiannya. Si peneliti
dalam hal ini tidak ada hubungan apapun dengan para pelaku yang
diamatinya.
2. Metode pengamatan terkendali. Dalam pengamatan terkendali, si peneliti juga tidak terlibat hubungan emosi dan perasaan dengan yang ditelitinya,
seperti halnya dengan pengamatan biasa. Yang membedakannya adalah
kondisi-kondisi yang ada dalam ruang atau tempat kegiatan pelaku itu
diamati dan dikendalikan oleh si peneliti.
3. Metode pengamatan terlibat. Melalui metode pengamatan terlibat si peneliti mempunyai hubungan dengan para pelaku yang diamatinya dalam
melakukan pengumpulan bahan-bahan yang diperlukan. Sasaran dalam
metode pengamatan terlibat adalah orang atau pelaku. Macam-macam
keterlibatan yang ada dalam pengamatan terlibat adalah sebagai berikut :
(1) keterlibatan yang pasif yaitu peneliti tidak melakukan suatu interaksi
sosial dengan para pelaku yang diamatinya. (2) keterlibatan
setengah-setengah yaitu peneliti selain menjadi wadah bagi kegiatan yang diamatinya, peneliti juga menjadi struktur dimana ia sebagian dari
pendukunya. (3) keterlibatan aktif yaitu si peneliti ikut mengerjakan apa
yang dikerjakan oleh para pelaku dalam kehidupan sehari-harinya. (4)
keterlibatan penuh atau lengkap yaitu si peneliti kehadirannya dianggap biasa pada kegiatan yang dilakukan.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode pengamatan
terlibat. Disini penulis bertindak sebagai pengamat total yang dapat masuk ke suatu
tempat dan melakukan pengamatan sebagai seorang peneliti. Melalui pengamatan ini
peneliti dalam mengumpulkan bahan keterangan yang diperlukan tidak perlu
bersembunyi tapi juga tidak mengakibatkan perubahan oleh kehadirannya pada
kegiatan yang diamati. Dalam hal ini, peneliti harus berusaha memperoleh
1.5.2.2 Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara, jawaban responden akan
dicatat atau direkam dengan alat perekam (tape recorder) (Suhartono, 1995:67). Teknik
wawancara yang dilakukan oleh penulis adalah seperti yang dikemukakan oleh
Koentjaraningrat (1985:138-140) mengatakan bahwa wawancara dapat dilakukan
dengan tiga cara yaitu:
1. Wawancara berfokus : pertanyaan tidak mempunyai struktur tertentu dan selalu
berpusat kepada satu pokok permasalahan
2. Wawancara bebas : pertanyaan yang diajukan tidak hanya berpusat pada pokok
permasalahan tetapi beraneka ragam selama masih berkaitan dengan objek
penelitian.
3. Wawancara sambil lalu : pertanyaan dalam hal ini diajukan kepada nara sumber
dalam situasi yang tidak terkonsep ataupun tanpa persiapan. Dengan kata lain
informan dijumpai secara kebetulan.
Dalam hal ini wawancara penulis menggunakan wawancara berfokus dan
wawancara bebas.
1.5.2.3 Metode Penelusuran Data Online
Perkembangan Internet yang sudah semakin maju pesat serta telah mampu
menjawab berbagai kebutuhan masyarakat saat ini memungkinkan para akademisi mau
ataupun tidak menjadikan media online seperti Internet sebagai salah satu medium atau
informasi teoritis maupun data-data primer ataupun sekunder yang diinginkan oleh
peneliti untuk kebutuhan penelitian.
“Pada mulanya banyak kalangan akademisi meragukan validitas data
Online sehubungan apabila data atau informasi itu digunakan dalam karya-karya ilmiah, seperti penelitian, karya tulis, skripsi, tesis maupun
disertasi. Namun ketika media Internet berkembang begitu pesat dengan
sangat akurat, maka keraguan itu menjadi sirna kecuali bagi kalangan
akademisi konvensional –ortodoks yang kurang memahami
perkembangan teknologi informasi sajalah yang masih mempersoalkan
akurasi media online sebagai sumber data maupun sumber informasi
teori. Hal ini disebabkan karena saat ini begitu banyak publikasi teoritis
yang disimpan dalam bentuk online dan disebarkan melalui jaringan
Internet. Begitu pula saat ini, berbagai institusi telah menyimpan data
mereka pada server-server yang dapat dimanfaatkan secara Intranet
maupun Internet. Dengan demikian polemic tentang keabsahan dan
validitas data-informasi online menjadi sesuatu yang kuno, tergantung
pada bagaimana peneliti dapat memilih sumber-sumber data online mana
yang sangat kredibel dan dikenal banyak kalangan”.
Dengan demikian, Burhan Bungin menjelaskan bahwa metode penelusuran
data online yang dimaksud adalah tata cara melakukan penelusuran data melalui media
berupa data maupun informasi teori, secepat atau semudah mungkin, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara akademis.
1.5.2.4 Perekaman
Ada dua jenis perekaman yang penulis lakukan yaitu perekaman audio dan
perekaman video audio. Hal perekaman audio digunakan tape perekam merk Sony
sensitif audio, handphone G.Von, laptop merk Toshiba Satellite L200, michrophone
laptop merk Keenion Mic-309, dan menggunakan software Adobe Audition 1.5.
Sedangkan untuk merekam video digunakan digunakan kamera video Sony Handycam
Wide LCD DCR/DVD808 dengan menggunakan MiniDVD Maxel 60 Minute serta
handphone G.Von.
1.5.2.5 Pemotretan
Untuk mendapatkan dokumentasi dalam bentuk gambar maka penulis
menggunakan kamera digital merk Nikon Coolpix L4, kamera digital merk Samsung,
kamera handphone G.Von, 5 Mega Pixels.
1.5.3 Kerja Laboratorium
Semua data yang di peroleh dilapangan diolah dalam kerja laboratorium
dengan pendekatan etnomusikologi. Dalam mengolah data, penulis melakukan proses
kurang. Dalam tulisan ini, penulis melakukan pendekatan deskriptif guna pengolahan
dan penganalisisan data.
1.5.4 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah komunitas Reggae yang ada di kota. Untuk itu
maka penulis akan melakukan penelitian ke beberapa tempat yang sering dikunjungi
oleh Reggae Community termasuk ke base camp mereka. Penulis juga akan melakukan
penelitian langsung ke beberapa pertunjukan musik Reggae dan akan melakukan
BAB II
GAMBARAN UMUM MUSIK REGGAE
Pada bab ini, penulis akan membahas gambaran umum musik reggae, yaitu:
sejarah singkat musikr reggae, karakter musikal musik reggae, Simbol atau lambang
musik reggae.
2.1. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MUSIK REGGAE
Kata ”reggae” sebenarnya berasal dari logat afrika dari kata “ragged” yaitu
gerakan seperti menghentak badan saat orang menari dengan iringan musik ska atau
reggae. Reggae sendiri dipengaruhi oleh musik R&B, rock, calypso, rhumba serta musik khas Jamaika yang disebut mento yang cenderung memberi tekanan pada
nada-nada lemah serta hentakan ritmik drum yang komplek. Tetapi ada yang membedakan
ska dengan reggae, yaitu tempo musik reggae lebih lambat dan menonjolkan vocal yang berat seperti pada musik-musik chant serta diiringi oleh tetabuhan, cara
bernyanyi dan mistik dari Rastafari (Lihat Bab I alinea kedua hal 1).
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya
tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan
selera musik masyarakat Jamaika dari ska dan rocsteady, yang sempat populer di
kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru
dan rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang
sedang penuh tekanan.
Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Afrika disebut
"Burru" yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut "talking drums" (drum yang
bicara) yang asli dari Afrika Barat. "Jonkanoo" adalah musik budaya campuran Afrika,
Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum, rattle (alat musik berderik) dan
conch tiup. Acara ini muncul saat natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya
mereka berkomunikasi dengan drum dan conch itu.
Tahun berikutnya, Calypso dari Trinidad Calypso & Tobago datang membawa
Samba yang berasal dari Amerika Tengah dan diperkenalkan ke orang-orang Jamaika untuk membentuk sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah
musik sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker, scraper dan
rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada tahun 1920-an dan 1930-an
dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang menarik perhatian seluruh
pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati sajian turisme.
Musik yang luar biasa ini tumbuh dari ska yang menjadi elemen style
American R&B dan Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga ada pengaruh :
folk music, musik gereja Pocomania, Band jonkanoo, upacara - upacara petani, lagu
kerja tanam, dan bentuk mento. Nyahbingi adalah bentuk musik paling alami yang
sering dimainkan pada saat pertemuan-pertemuan Rasta, menggunakan 3 (tiga) drum
tangan (bass, funde dan repeater : contoh ada di Mystic Revelation of Rastafari). Akar
Setelah Jamaica merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahan dan pergerakan
Black Power di US kemudian mendorong bangkitnya Rasta. Berbagai kejadian
monumentalpun terjadi seiring perkembangan ini.
Ska yang sudah muncul pada tahun 1940 – 1950-an sebenarnya disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi olehs swing, rythym & blues dari Amerika. Ska sebenarnya adalah suara big band dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat "bop". Ska kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk
tarian "skankin" pada awal 1960-an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and
the Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai pencipta
"ska". Perkembangan ska yang kemudian melambatkan temponya pada pertengahan
1960-an memunculkan "rocksteady" yang punta tune bass berat dan dipopulerkan oleh
Leroy Sibbles dari group Heptones dan menjadi musik dance Jamaika pertama di
1960-an.3
Teknik para musisi ska dan rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak
ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan
dentum bas dan ritme gitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola
lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi
dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung Ska dan rocksteady memberikan pengaruh penting terhadap perjalanan reggae. Musik yang berasal dari Amerika turut memegang peranan terhadap tumbuh
berkembangnya reggae. Perkembangan reggae`selanjutnya memberikan warna,
bahkan perubahan dalam industry rekaman di Jamaika.
3
penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan
permasalahan sosial politik humanistik dan universal.
Reggae memang adalah musik yang unik bagi Jamaika dan membawa nama Negara ini ke mancanegara. Ironisnya akar reggae berasal dari Orleans R&B. dengan
berpedoman pada iringan gitar pas-pasan dan putus-putus adalah interprestasi mereka
akan R&B dan mampu menjadi popular di tahun 1960-an. Sejak itu, reggae terbukti
bisa sekuat blues dan memiliki kekuatan interprestasi yang juga bisa menjamin dari
rocksteady (dulu) dan bahkan music rock (sekarang). Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan sehari-hari, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja atau
rumah-rumah penduduk. Musik menjadi semacam semangat saat kondisi sulit dan mampu
memberikan kekuatan da pesan tersendiri. Hasilnya, reggae bukan Cuma memberikan
relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai kesatuan dan keseimbanga serta
mampu mengendurkan ketegangan. Saat rekaman Jamaika telah tersebar ke seluruh
dunia, sulit rasanya menyebutkan berapa banyak genre musik popular sebesar reggae
selama dua dekade.
Reggae terus hidup dan melahirkan banyak gaya-gaya baru. Reggae yang telah di terima secara universal terus merambah dan sangat berpengaruh dalam perjalanan
music abad 20. Amerika dan Eropa pada umumnya, adalah yang paling banyak
melahirkan beranekaragam jenis musik dan style yang memiliki keterkaitan sejarah
dengan reggae. “Reggae Putih” menjadi istilah yang berkembang dengan munculnya
banyak musisi reggae kulit putih, misalnya The Police dan UB-40. The Police yang
memadukan rock, punk, jazz, dan reggae sempat melahirkan hits di tahun 1980-an,
Blanc (1979), Ghost in The Machine (1981), dan hit terakhir mereka sebelum “bubar”, Every Breath You Take (1986).
Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers
dengan cepat melambungkan Reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran Reggae di
Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan
dimainkannya irama Reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul
Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama Reggae pun kemudian mempengaruhi
aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian Reggae Hip Hop, Reggae
Rock, Blues, dan sebagainya.
Hadirnya film "The Harder they Come" pada tahun 1973, Reggae tambah
dikenal banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian memang membawa
kesedihan besar buat dunia, namun penerusnya seperti Freddie McGregor, Dennis
Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths dan Rita Marley serta beberapa kerabat keluarga
Marley bermunculan. Rasta adalah jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan
senjata oleh Bob Marley untuk menyebarkan Rasta keseluruh dunia.
Sekarang ini, berbicara tentang reggae pasti tidak akan pernah terlepas dari
sosok Bob Marley. Namanya tercatat sebagai salah satu figur terpenting di dunia music
abad 20. Harus diakui, dikenalnya musik reggae dibelantaran dunia musik sangat
dipengaruhi oleh sosok musisi ini. Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada
tanggal 06 Februari 1945 di Nine Miles, sebuah Desa kecil di Jamaika. Lahir dari
rahim seorang budak bernama Cedella dan seorang ayah kulit putih bernama Norval
Sinclair Marley, satu awal kisah hidup yang bermula dari ironi penindasan kaum kulit
Bob Marley tentunya adalah bintang musik "dunia ketiga" pertama yang jadi
penyanyi group Bob Marley & The Wailers dan berhasil memperkenalkan reggae
lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang sebagai
peninggalan King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley.
Ketenaran Bob Marley sebagai orang yang mempopulerkan musik reggae ke
berbagai mancanegara juga telah mempengaruhi para pecinta musik reggae di
berbagai mancanegara, yaitu banyaknya orang meniru pola hidup, penampilan dan
style Bob Marley. Di bawah ini adalah gambar Bob Marley yang menunjukkan ciri
khasnya pecinta musik reggae yang banyak ditiru oleh pecinta musik reggae.
Gambar 1. Photo Bob Marley
Berdasarkan gambar di atas, dan sejauh pengamatan penulis, bahwa ada
beberapa simbol atau lambang serta warna yang sangat erat hubungannya dengan
musik reggae serta dapat menunjukkan identitas musik reggae tersebut. Dan dapat
dikatakan apabila kita melihat simbol atau unsur tersebut, maka kita akan
menghubungkannya dengan reggae. Adapun simbol atau unsur yang dimaksud pada
2.2. Karakteristik Musikal Reggae
Sama halnya dengan aliran musik lainnya, misalnya aliran musik ”rapp”,
salah satu yang menunjukkan ciri-ciri musik rapp adalah tempo cepat dan cara
bernyanyinya seperti orang yang sedang berbicara dengan cepat. Demikian juga
dengan aliran musik reggae, juga mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu tempo lambat
dan ditandai dengan aksen off-beat, karakter bernyanyinya seperti orang berkotbah.
2.2.1.Drum dan Perkusi
Sebuah standar drum kit yang umumnya digunakan dalam reggae, tapi snare
drum sering disetel sangat tinggi untuk memberikan suara timbales-tipe. Beberapa
drumer reggae menggunakan timbale tambahan atau snare tinggi disetel untuk
mendapatkan suara ini. Cross tongkat teknik pada snare drum yang umum digunakan,
dan drum tom-tom sering dimasukkan ke dalam genderang itu sendiri.
Reggae drumbeats jatuh ke dalam tiga kategori utama: Satu drop, Rockers dan Steppers. Dengan turunnya Satu, penekanannya adalah sepenuhnya pada ketukan
ketiga bar (biasanya di snare, atau sebagai pinggiran tembakan dikombinasikan dengan
bass drum). satu Beat benar-benar kosong, yang tidak biasa dalam musik populer. Ada
beberapa kontroversi tentang apakah reggae harus dihitung sehingga mengalahkan ini
jatuh pada tiga, atau apakah itu harus dihitung setengah lebih cepat, sehingga jatuh
pada dua dan empat. Penekanan pada mengalahkan tiga adalah di semua drumbeats
reggae, tetapi dengan Rockers memukul, penekanan juga pada mengalahkan satu
(biasanya pada bass drum).
Karakteristik yang tidak biasa dari reggae drum adalah bahwa drum mengisi
lainnya digunakan dalam reggae. Bongos sering digunakan untuk bermain bebas,
improvisasi pola, dengan penggunaan berat Afrika-gaya cross-irama. Cowbells,
kastanyet dan pelopor cenderung memiliki lebih peran pasti dan pola yang ditetapkan.
2.2.2. Bas
Gitar bass sering memainkan peran yang sangat dominan dalam reggae, dan
drum dan bass sering disebut Riddim (irama). Beberapa penyanyi reggae telah merilis
lagu yang berbeda direkam selama Riddim yang sama. Peran sentral dari bass bisa
sangat didengar dalam musik dub – yang memberikan peran yang lebih besar untuk
drum dan bass, mengurangi vokal dan instrumen lainnya untuk peran perifer. Suara
bass di reggae adalah tebal dan berat, dan menyamakan kedudukan sehingga frekuensi
atas dikeluarkan dan frekuensi yang lebih rendah ditekankan. Garis bass sering
merupakan riff dua-bar sederhana yang berpusat di sekitar catatan yang tebal dan
terberat.
2.2.3. Gitar
Gitar di reggae biasanya memainkan akord pada ketukan dua dan empat, seorang tokoh
musik yang dikenal sebagai pelacur atau ‘bang’ itu. Memiliki sangat basah, pendek
dan gatal memotong suara, hampir seperti alat musik perkusi. Kadang-kadang ganda
memotong digunakan ketika gitar masih memainkan beats off, tetapi juga memainkan
2.2.4. Keyboard
Dari akhir 1960-an hingga awal 1980-an, piano umumnya digunakan dalam
reggae untuk melipatgandakan pelacur ritme gitar itu, memainkan akord dalam gaya staccato untuk menambah tubuh, dan sesekali bermain ekstra mengalahkan, berjalan
dan riff. Bagian piano banyak diambil alih oleh synthesizer pada 1980-an, meskipun
synthesizer telah digunakan dalam peran perifer sejak tahun 1970 untuk bermain
melodi insidental dan countermelodies. band yang lebih besar mungkin termasuk baik
sebagai keyboardist tambahan, untuk menutup atau mengganti garis tanduk dan
melodi, atau kibor utama mengisi peran-peran ini pada dua atau lebih keyboard.
Shuffle reggae-organ adalah unik untuk reggae.
2.2.5. Tanduk
Tanduk bagian sering digunakan dalam reggae, sering bermain perkenalan dan
kontra-melodi. Instrumen termasuk dalam bagian tanduk khas reggae termasuk
saksofon, terompet atau trombone. Dalam beberapa kali lebih, tanduk nyata
kadang-kadang diganti pada reggae oleh synthesizer atau sampel direkam. Bagian tanduk
sering diatur sekitar tanduk pertama, memainkan melodi melodi sederhana atau
counter. Tanduk pertama biasanya disertai dengan tanduk kedua memainkan frase
melodi yang sama dalam unision, satu oktaf lebih tinggi. Tanduk ketiga biasanya
memainkan melodi satu oktaf dan seperlima lebih tinggi dari tanduk pertama. Tanduk
terkadang punchier, frase keras yang dimainkan untuk tempo up dan suara yang lebih
agresif.
2.2.6. Vokal
Vokal di reggae kurang dari ciri khas genre dari pada instrumentasi dan irama,
karena hampir setiap lagu dapat dilakukan dalam gaya reggae. Namun, sangat umum
bagi reggae yang akan dinyanyikan dalam logat Jamaika, Inggris Jamaika, dan dialek
2.2.7. Iyric.
Reggae terkenal karena tradisi kritik sosial dalam lirik, walaupun banyak lagu-lagu reggae membahas lebih ringan, mata pelajaran yang lebih pribadi, seperti cinta
dan bersosialisasi. Banyak band reggae awal ditutupi Motown jiwa atau Atlantik dan
lagu-lagu funk. Beberapa lyrics reggae upaya untuk meningkatkan kesadaran politik
dari para penonton, seperti dengan mengkritik materialisme, atau dengan
menginformasikan pendengar tentang subyek kontroversial seperti Apartheid. Banyak
lagu-lagu reggae mempromosikan penggunaan mariyuana (juga dikenal sebagai
ramuan, ganja, atau sensimilia), dianggap sebagai sakramen dalam gerakan Rastafari.
Ada banyak seniman yang memanfaatkan tema-tema keagamaan dalam musik mereka
– apakah itu membahas topik agama tertentu, atau hanya memberikan pujian kepada
nasionalisme hitam, anti-rasisme, anti-kolonialisme, anti-kapitalisme dan kritik
terhadap sistem politik dan “Babel”.
Berikut ini adalah aransement lagu Bob Marley yang berjudul “One Love”
(lampiran 1). Berdasarkan aransement tersebut, kita dapat melihat pola ritme dari
beberapa alat musik yang menjadi ciri khas dari musik reggae. Selain itu, syair yang
juga merupakan karakteristik reggae dapat kita lihat pada aransemet tersebut, dimana
syair lagu One Love adalah menyuarakan “Perdamaian”.
2.3. Lambang Musik Reggae
Lambang adalah tanda pengenal yang tetap menyatakan keadaan atau sifat
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990;403). Dalam hal ini, lambang musik reggae
yang dimaksud berbeda dengan lambang suatu negara, di mana lambang suatu negara
haruslah di di dukung dengan Pedoman dan Dasar-dasar Negara serta undang-undang
yang berlaku di negara tersebut. Pada lambang musik reggae, beberapa lambang yang
dimaksud adalah:
1. Daun Marijuana
2. Dreadlock (Rambut Gimbal) 3. Warna Merah, Emas Kuning, Hijau
4. Singa
Selain berupa gambar, music reggae juga mempunya kata yang kerap
digunakan para penggemar reggae sebagai kata salam terhadap sesama, yaitu “Uye”
dan Woyo”.
2.3.1. Daun Marijuana
Gambar 2. Gambar marijuana dengan warna cirikhas reggae
Marijuana, atau yang lebih dikenal dengan ganja adalah tumbuhan budidaya
penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya,
yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang
berkepanjangan tanpa sebab). Oleh sebab itu, di Indonesia marijuana merupakan
narkoba kelas 1 (satu). Berbeda dengan negara Jamaika, dimana marijuana di Jamaika
dianggap sebagai ”rumput kearifan” oleh kaum Rastafarian, dan dapat membantu
penggunanya dalam mencapai kebijaksanaan. Orang-orang Rastafarian menggunakannya sebagai bagian dari ritus-religius yang dimaksudkan untuk menjalani
kedalaman spiritual bagi setiap jiwa, dan Pencipta.
Bob Marley adalah seorang musisi yang menyampaikan sabda-sabda lewat
lagu-lagunya kepada orang-orang secara khusus kepada Rastafarian. Marilah kita
Gambar 3. Photo Bob Marley
Pada gambar di atas kita dapat melihat beberapa photo Bob Marley yang
sedang menghisap daun marijuana yang sudah tersaji seperti rokok.
Dari uraian di atas, maka gambar daun marijuana dapat dikatakan sebagai
simbol atau lambang dari musik Reggae.
2.3.2. Dreadlock (Rambut Gimbal)
Gambar 4. Beberapa Photo dengan gaya rambut Dreadlock
Dreadloack adalah simbol atau sebagai bentuk ungkapan semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas. Dalam
ajaran Rastafari, Dreadlock mengandung makna sebagai akar Rasta.
Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok
Tutankhamen, seorang firaun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut
gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak
beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang
tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas
tradisional.4
Gambar 5. Tali pinggang Gambar 6. Selendang Gambar 7. Gelang Gaya hidup Bob Marley dengan rambut dreadlock-nya, menjadi titik perhatian
dalam fenomena reggae. Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada
akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi
ikon baru yang dipuja-puja. Sejalan dengan perkembangan musik reggae, maka
dreadlock merupakan simbol atau lambang musik reggae. Dan saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara salah kaprah orang
menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit
(locks) itu
2.3.3. Warna Merah, Emas Kuning, Hijau
Di bawah ini adalah beberapa gambar assesoris tubuh atau benda-benda yang
Gambar 8. Bendera Gambar 9. Topi
Warna merah, emas kuning, hijau adalah lambang gerakan Rastafari, dan
kesetiaan kaum Rasta terhadap Haile Selassie, Ethopia, dan Afrika dan bukan kepada
negara modern manapun di mana mereka kebetulan tinggal. Menurut kaum Rastafarian
warna ”merah” melambangkan darah para martir, warna ”emas” melambangkan
kekayaan dan kemakmuran, dan warna ”hijau” melambangkan tetumbuhan di Afrika.
Sama halnya dengan daun marijuana dan rambut gimbal (Dreadlock), warna
merah, emas kuning, hijau juga dianggap sebagai simbol atau lambang musik reggae.
Hal ini dapat kita lihat pada beberapa contoh gambar di atas yang menunjukkan
beberapa assesoris yang memakai warna merah, emas, hijau.
2.3.4. Uye dan Woyo
Kata ”uye” dan ”woyo” adalah kata salam ”damai” bagi para penggemar musik
reggae. Sebenarnya kata ini tidak hanya diucapkan kepada sesama penggemar musik reggae, tetapi dapat juga diucapkan kepada semua orang, karena motto musik reggae itu sendiri adalah ”Cinta Damai”.
Kata ini sering sekali kita dengarkan pada banyak lagu-lagu reggae, misalnya
pada lagu-lagu Bob Marley, Coconut Head, Kamuajo, Day Afternoon, dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, kata ”uye” dan ”woyo” dianggap sebagai salah satu ciri
khas juga sebagai identitas musik reggae.
Singa adalah simbol “Haile Selassie”. Yesus kristus digambarkan sebagai
“Singa dari Yehuda” dalam Alkitab, dan untuk alasan ini, Haile Selassie dipandang
sebagai reinkarnasi dari Yesus. Namun, dalam urutan Nyabinghi dan Bobo Shanti
sub-divisi, Singa dari Yehuda dipandang sebagai simbol Tuhan atau Jah, karena itu Haile
Selassie dianggap sebagai Tuhan atau Jah.
BAB III
PERKEMBANGAN MUSIK REGGAE DI KOTA MEDAN
3.1. Perkembangan Musik Reggae di Indonesia
Sebelum menulis bagaimana perkembangan musik reggae di Indonesia,
penulis terlebih dahulu membahas bagaimana sejarah masuknya dan perkembangan
musik reggae di Indonesia
Koentjaraningrat (2002;246-247) mengatakan, Dalam zaman modern
sekarang ini, difusi unsur-unsur kebudayaan yang timbul di salah satu tempat di muka
bumi berlangsung dengan cepat sekali, bahkan seringkali tanpa kontak yang nyata
antara individu-individu. Ini disebabkan karena adanya alat-alat penyiaran yang sangat
efektif, seperti surat kabar, majalah, buku, radio, film dan televisi. Berkembangnya
musik Reggae di Indonesia secara umum dikenal lewat radio dan televisi. Namun
sejarah reggae di Indonesia banyak orang yang tidak mengetahui bahkan musisi
reggae kurang paham, jika ditanya siapa band awal mula yang pertama kali memainkan musik reggae. Sekitar tahun 1980, musik reggae mulai dikumandangkan
di Indonesia, band tersebut adalah Abreso sebuah band dengan genre reggae, beberapa
tahun kemudian muncul Asian Roots yang merupakan turunan dari band sebelumnya,
kemudian ada Asian Force dan, Jamming.
Musik Reggae di Indonesia mulai berkembang. Hal ini dapat kita lihat
melalui munculnya band-band beraliran musik reggae. Berikut ini adalah data band
Tabel 1. Data band reggae di Indonesia 1980-1999
Selain itu, masih di era tahun 1980-an, ada lagu ”Dansa Reggae” ciptaan
Melky Goeslow yang dinyanyikan oleh Nola Tilaar. Lagu tersebut cukup populer di
masa itu karena salah satu lagu reggae yang mengajak masyarakat dari berbagai latar
belakang kultural bisa beramai-ramai menikmati reggae.
Dalam Kamus Besar indonesia (1990;380), ”komunitas” adalah kelompok
orang yang hidup dan saling berinteraksi dalam tempat tertentu. Untuk lebih
mengembangkan musik reggae di Indonesia, beberapa penggemarnya dengan
menyatukan pikiran, visi dan komitmen yang sama, pada tanggal 06 Mei 2007
dibentuklah komunitas reggae, yaitu ”Indonesia Reggae Society” sebagai wadah bagi
para penggemar musik reggae. Adapun visi dan misi Indonesia reggae Society adalah
mengembangkan musik reggae di Indonesia sebagai musik perdamaian dan
persaudaraan di negeri yang indah ini dalam satu hati dan satu jiwa. Salah satu cara
Indonesia Reggae Society di dalam mengembangkan musik reggae di Indonesia adalah
dengan membuat berbagai kegiatan. Berikut ini adalah 3 (tiga) kegiatan awal dan 3
(tiga) kegiatan terakhir yang sudah di lakukan oleh Indonesia Reggae Society.5
3 (tiga) kegiatan awal yang dilakukan oleh Indonesia Reggae Society
1. Jakarta Reggae Vaganza 1st, Minggu 06 Mei 2007 di Jakarta
Keterangan:
Pada acara inilah diresmikan berdirinya Indonesia Reggae Society.
Gambar 10. Poster Kegiatan
2. Jakarta Reggae Vaganza 2st, Minggu, 15 Juli 2007 di Jakarta
Gambar 11. Poster Kegiatan
5
3. Jam Session Reggae, 28 Juli 2007, di Jakarta
Gambar 12. Poster Kegiatan
3 (tiga) kegiatan terakhir Indonesia Reggae Society
1. The Reggae Sound, 25 Maret 2011, Jakarta
Gambar 14. Poster Kegiatan
2. Indonesia Reggea Fest, 21 Mei 2011, di Jakarta
Keterangan:
Kegiatan ini merupakan kegiatan Indonesia Reggae Society terbesar dan mendapat Rekor Muri dan juga di hadiri oleh Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yodoyono.
3. Konser Amal Untuk Reboisasi Lereng Gunung Merapi
Gambar 14. Poster Kegiatan
Dari data di atas, musik reggae akan semakin dikenal dan semakin
memasyarakat di Indonesia oleh karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
Indonesia Reggae Society. Berikut ini adalah daftar 92 band reggae yang telah
bergabung dengan Indonesia Reggae Society. (http/indoreggae.com/band.html).
Seiring dengan perkembangannya, reggae merupakan salah satu jenis aliran
musik yang sudah tidak asing lagi, meskipun komunitas musik reggae di Indonesia
terbilang tidak terlalu banyak, sayangnya, meskipun menyuarakan perdamaian, banyak
pula yang memandang negatif terhadap komunitas penggemar reggae. Sepintas,
penampilan para penggemar musik reggae ini seakan menunjukan gaya hidup yang
penampilannya. Ditambah lagi dengan adanya pandangan negatif yang selama ini
muncul. Musik reggae terkesan identik derngan ganja, mariyuana, serta seks bebas.
Dewasa ini musik reggae semakin maju di industri musik Indonesia dengan
semakin banyaknya grup band reggae. Dari segi banyaknya grup band reggae dapat
dilihat bahwa tidak semua pemusik reggae harus bertatanan rambut gimbal. Seperti
Souljah salah satunya, yang memainkan musik reggae tetapi tidak berpenampilan
dengan gaya rambut gimbal.
Keterangan:
Beberapa musisi reggae dengan rambut yang tidak gimbal.
Gambar 10. Big Mountain
Tidak hanya pemusik, pecinta reggae juga banyak yang tidak berambut gimbal,
semua tergantung bagaimana masing-masing orang menghayati musik reggae itu
sendiri. Menikmati ataupun bermain musik reggae tidak harus berambut gimbal, tidak
juga harus masuk ke suatu komunitas karena musik bersifat universal.
Jika kita melihat dari aspek sosialnya, pandangan masyarakat terhadap musik
reggae selalu identik dengan tatanan rambut gimbal dan rambut gimbal di mata masyarakat selalu diartikan negatif. Kesan negatif yang lain, penggemar reggae selalu
Dalam perkembangannya, band-band reggae di Indonesia, membangun
karakter ke-indonesia-an, dengan karya cipta reggae yang mengadopsi lokalitas,
mengeksplor musikalitas etnik dan lirik berbahasa daerah seperti yang berkembang di
Bali dan Papua. Membangun kesadaran nation dalam lirik berbahasa Indonesia,
dengan menjelajah keindahan pastoral, dan problematika sosial-urban yang sangat
politis. Disamping itu, memupuk solidaritas global dengan menciptakan lirik
berbahasa Inggris.
Di Indonesia, penggemar musik reggae disebut ”Reggaeman”, yaitu berasal
dari dua kata, ”reggae” dan ”man”. ”Reggae’ adalah jenis aliran musik dan ”man”
adalah berasal dari bahasa Inggris yang artinya orang (laki-laki). Jadi jika diartikan
”Reggaeman” adalah ”para pecinta musik reggae”.
Seperti yang telah dituliskan pada bab II, kata untuk menyapa sesama pecinta
musik reggae adalah ”uye” dan ”woyo”. Begitu juga pada Reggaeman atau pecinta
musik reggae di Indonesia. Jika kita perhatikan, dalam sebuah pertunjukan, group
band reggae akan selalu menyapa penggemarnya dengan ”uye....” atau ”woyo...” Tidak
hanya pada pertunjukan, selain itu jika terjadi pertemuan antar sesama Reggaeman,
mungkin saja di jalanan atau di tempat-tempat lainnya, mereka juga akan saling
menyapa ”uye..” atau ”woyo...”.
Keragaman etnik dan budaya Indonesia yang sangat limpah secara musikalitas
sangat mendukung tumbuh dan berkembangnya musik reggae. Keunikan ini yang
membuat legenda musik reggae dunia jatuh hati pada Tony Q Rastafara, reggaeman
Indonesia yang telah merampungkan kerjasama dalam pembuatan album World
bersama beberapa musisi reggae legendaris dunia. Kini sedang proses pembuatan
album bersama Mark Miller dan Fully Fullwood serta acapkali diundang pada ajang
festival reggae internasional.
Sekitar tahun 2007, seorang bernama Mbah Surip tiba-tiba menjadi sangat
populer oleh karena lagu ciptaannya yang beraliran musik reggae. Tidak hanya
membuat dirinya populer, namun musik reggae itu sendiri juga menjadi populer.
Nama Mbah Suriplah yang banyak dianggap sebagai musisi reggae yang mampu
mempopulerkan musik reggae di seluruh lapisan masyarakat. Hal ini karena lagu-lagu
mbah Surip cukup sederhana dan enak untuk didengarkan. Salah satu lagu Mbah Surip
yang cukup terkenal adalah lagu Tak Gendong. Lagu ini
mulai anak-anak hingga orang tua. Penampilan Mbah Surip dengan topi warna
warninya pun tak jarang ditiru oleh penggemarnya.
Berikut ini adalah photo Mbah Surip semasa hidupnya dan photo band reggae
yang berasal dari Indonesia dan Luar Indonesia.
.
Gambar 13. Beachman
Dari gambar di atas, dapat kita simpulkan, penampilan atau style pada musisi
reggae di Indonesia, memiliki kesamaan dengan musisi reggae di luar Indonesia. Artinya, simbol-simbol musik reggae dimana-mana adalah sama.
3.2. Perkembangan Musik Reggae di Kota Medan.
Seperti yang telah diungkapkan oleh Nettl dalam popular Music of The
Non-Western World (Manuel, 1998:2) bahwa musik populer selalu dikaitkan dengan wilayah perkotaan yang diorientasikan kepada penonton, ditampilkan oleh para
profesional yang menghargai hasil karya musiknya, mempunyai statistika sendiri
tentang musik seni dari suatu budaya yang mulai pada abad ke-20, persebarannya
meluas melalui media massa, radio dan industri rekaman. Di kota Medan, Sama halnya
dengan perkembangan musik reggae di Indonesia, di mana musik reggae sudah
dikenal sejak tahun 1980-an, yaitu melalui media televisi dan radio. Namun, pada saat
itu belum ada penyanyi atau band yang membawakan musik reggae. Hal ini juga