• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan dan Pencegahan Aids

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengenalan dan Pencegahan Aids"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PEN GEN ALAN D AN PEN CEGAH AN AI D S

FAZI D AH A. SI REGAR

Fa k u lt a s Ke se ha t a n M a sya r a k a t Un iv e r sit a s Sum a t e r a Ut a r a

I . PEN D AH ULUAN

Penyakit AI DS ( Acquired I m m unodeficiency Syndrom e) m erupakan suat u syndrom e/ kum pulan gej ala penyakit yang disebabkan oleh Ret rovirus yang m enyerang sist em kekebalan at au pert ahanan t ubuh. Dengan rusaknya sist em kekebalan t ubuh, m aka orang yang t erinfeksi m udah diserang penyakit - penyakit lain yang berakibat fat al, yang dikenal dengan infeksi oport unist ik. Kasus AI DS pert am a kali dit em ukan oleh Got t lie b di Am erika Serikat pada t ahun 1981 dan virusnya dit em ukan oleh Lu c M on t a gn ie r pada t ahun 1983.

Penyakit AI DS dew asa ini t elah t erj angkit diham pir set iap negara didunia ( pandem i) , t erm asuk diant aranya I ndonesia. Hingga Novem ber 1996 diperkir akan t elah t erdapat sebanyak 8.400.000 kasus didunia yang t erdiri dar i 6,7 j ut a orang dew asa dan 1,7 j ut a anak- anak. Di I ndonesia berdasarkan dat a- dat a yang bersum ber dari Direkt orat Jenderal P2M dan PLP Depart em en Kesehat an RI sam pai dengan 1 Mei 1998 j um lah penderit a HI V/ AI DS sebanyak 685 orang yang dilaporkan oleh 23 propinsi di I ndonesia. Dat a j um lah penderit a HI V/ AI DS di I ndonesia pada dasarnya bukanlah m erupakan gam baran j um lah penderit a yang sebenarnya. Pada penyakit ini berlaku t eori “Gu n u ng Es“ dim ana penderit a yang kelihat an hanya sebagian kecil dari yang sem est inya. Unt uk it u WHO m engest im asikan bahwa dibalik 1 penderit a yang t erinfeksi t elah t erdapat kurang lebih 100- 200 penderit a HI V yang belum diket ahui.

Penyakit AI DS t elah m enj adi m asalah int ernasional k arena dalam w akt u singkat t erj adi peningkat an j um lah penderit a dan m elanda sem akin banyak negara. Dikat akan pula bahw a epidem i y ang t erj adi t idak saj a m engenai penyakit ( AI DS ) , virus ( HI V) t et api j uga reaksi/ dam pak negat if berbagai bidang sepert i kesehat an, sosial, ekonom i, polit ik, kebudayaan dan dem ografi. Hal ini m erupakan t ant angan yang harus dihadapi baik oleh negara m aj u m aupun negara berkem bang.

Sam pai saat ini obat dan vaksin yang diharapkan dapat m em bant u m em ecahkan m asalah penanggulangan HI V/ AI DS belum dit em ukan. Salah sat u alt ernat if dalam upaya m enanggulangi problem at ik j um lah penderit a yang t erus m eningkat adalah upaya pencegahan yang dilakukan sem ua pihak yang m engharuskan kit a unt uk t idak t erlibat dalam lingkungan t ransm isi yang m em ungkinkan dapat t erserang HI V.

I I . PEN GERTI AN AI D S

Acquired I m m unodeficiency Syndrom e ( AI DS) adalah Syndrom e akibat defisiensi im m unit as selluler t anpa penyebab lain yang diket ahui, dit andai dengan infeksi oport unist ik keganasan berakibat fat al. Munculnya Syndrom e ini erat hubungannya dengan berkurangnya zat kekebalan t ubuh yang prosesnya t idaklah t erj adi seket ika m elainkan sekit ar 5- 10 t ahun set elah seseorang t erinfeksi HI V.

Berdasarkan hal t ersebut m aka penderit a AI DS dim asyarakat digolongkan kedalam 2 kat egori yait u :

1. Penderit a yang m engidap HI V dan t elah m enunj ukkan gej ala klinis ( penderit a AI DS posit if) .

(2)

Menurut Sue n se n ( 1 9 8 9 ) t erdapt 10 j ut a HI V posit if yang dalam wakt u 5-7 t ahun m endat ang diperkirakan 10- 30% diant aranya m enj adi penderit a AI DS.

Pada t ingkat pandem i HI V t anpa gej ala j auh lebih banyak dari pada pendrit a AI DS it u sendiri. Tet api infeksi HI V it u dapat berkem bang lebih lanj ut dan m enyebabkan kelainan im unologis yang luas dan gej ala klinik yang bervariasi.

AI DS m erupakan penyakit yang sangat berbahaya karena m em punyai case fat alit y rat e 100% dalam 5 t ahun set elah diagnosa AI DS dit egakkan, m aka sem ua penderit a akan m eninggal.

I I I . ETI OLOGI AI D S

Penyebab AI DS adalah sej enis vir us yang t ergolong Ret rovirus yang disebut Hum an I m m unodeficiency Virus ( HI V) . Virus ini pert am a kali diisolasi oleh Mont agnier dan kawan- kawan di Prancis pada t ahun 1983 dengan nam a Lym phadenopat hy Associat ed Virus ( LAV) , sedangkan Gallo di Am erika Serikat pada t ahun 1984 m engisolasi ( HI V) I I I . Kem udian at as kesepakat an int ernasional pada t ahun 1986 nam a firus dirubah m enj adi HI V.

Mum an I m m unodeficiency Virus adalah sej enis Ret rovirus RNA. Dalam bent uknya yang asli m erupakan part ikel yang inert , t idak dapat berkem bang at au m elukai sam pai ia m asuk ke sel t arget . Sel t arget virus ini t erut am a sel Lym fosit T, karena ia m em punyai resept or unt uk virus HI V yang disebut CD- 4. Didalam sel Lym fosit T, virus dapat berkem bang dan sepert i ret rovir us yang lain, dapat t et ap hidup lam a dalam sel dengan keadaan inakt if. Walaupun dem ikian vir us dalam t ubuh pengidap HI V selalu dianggap infect ious yang set iap saat dapat akt if dan dapat dit ularkan selam a hidup penderit a t ersebut .

Secara m or t ologis HI V t erdir i at as 2 bagian besar yait u bagian int i ( core) dan bagian selubung ( envelop) . Bagian int i berbent uk silindr is t ersusun at as dua unt aian RNA ( Ribonucleic Acid) . Enzim reverce t ranscript ase dan beberapa j enis prosein. Bagian selubung t erdiri at as lipid dan glikoprot ein ( gp 41 dan gp 120) . Gp 120 berhubungan dengan resept or Lym fosit ( T4) yang rent an. Karena bagian luar virus ( lem ak) t idak t ahan panas, bahan kim ia, m ak a HI V t erm asuk virus sensit if t erhadap pengaruh lingkungan sepert i air m endidih, sinar m at ahari dan m udah dim at ikan dengan berbagai disinfekt an sepert i et er, aset on, alkohol, j odium hipoklorit dan sebagainya, t et api t elat if resist en t erhadap radiasi dan sinar ut raviolet .

Virus HI V hidup dalam darah, savila, sem en, air m at a dan m udah m at i diluar t ubuh. HI V dapat j uga dit em ukan dalam sel m onosit , m akrot ag dan sel glia j aringan ot ak.

I V . M ASA I N KUBASI AI D S

Masa inkubasi adalah wakt u yang diperlukan sej ak seseorang t erpapar virus HI V sam pai dengan m enunj ukkan gej al gej ala AI DS. Wakt u yang dibut uhkan rat a-rat a cukup lam a dan dapat m encapai kurang lebih 12 t ahun dan sem asa inkubasi penderit a t idak m enunj ukkan gej ala- gej ala sakit .

Selam a m asa inkubasi ini pender it a disebut penderit a HI V. Pada fase ini t erdapat m asa dim ana virus HI V t idak dapat t erdet eksi dengan pem er iksaan laborat orium kurang lebih 3 bulan sej ak t ert ular virus HI V yang dikenal dengan “ m asa wndow periode” .

(3)

V . EPI D EM I OLOGI AI D S

Sindrom a AI DS pert am a kali dilaporkan oleh Got t lieb dari Am erika pada t ahun 1981. Sej ak saat it u j um lah negara yang m elaporkan kasus- kasus AI DS m eningkat dengan cepat . Dewasa ini penyakit HI V/ AI DS t elah m erupakan pandem i, m enyerang j ut aan penduduk dunia, pria, wanit a, bahkan anak- anak. WHO m em perkirakan bahwa sekit as 15 j ut a orang diant aranya 14 j ut a rem aj a dan dewasa t erinfeksi HI V. Set iap hari 5000 orang ket ularan virus HI V.

Menurut et im asi WHO pada t ahun 2000 sekit ar 30- 40 j ut a orang t erinfeksi virus HI V, 12- 18 j ut a orang akan m enunj ukkan gej ala- gej ala AI DS dan set iap t ahun sebanyak 1,8 j ut a orang akan m eninggal karena AI DS. Pada saat ini laj u infeksi ( infect ion rat e) pada w anit a j auh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi, 90% akan t erj adi di negara berkem bang, t erut am a Asia.

CARA PEN ULARAN

Secara um um ada 5 fakt or yang perlu diperhat ikan pada penularan suat u penyakit yait u sum ber infeksi, vehikulum yang m em bawa agent , host yang rent an, t em pat keluar kum an dan t em pat m asuk kum an ( port ’d ent rée) .

Virus HI V sam pai saat ini t erbukt i hanya m enyerang sel Lym fosit T dan sel ot ak sebagai organ sasarannya. Virus HI V sangat lem ah dan m udah m at i diluar t ubuh. Sebagai vehikulum yang dapat m em bawa virus HI V keluar t ubuh dan m enularkan kepada orang lain adalah berbagai cairan t ubuh. Cairan t ubuh yang t erbukt i m enularkan diant aranya sem en, cairan vagina at au servik dan darah penderit a.

Banyak cara yang diduga m enj adi cara penularan virus HI V, nam un hingga kini cara penularan HI V yang diket ahui adalah m elalui :

1 . Tr a n sm isi Se k su a l

Penularan m elalui hubungan seksual baik Hom oseksual m aupun Het eroseksual m erupakan penularan infeksi HI V yang paling sering t erj adi. Penularan ini berhubungan dengan sem en dan cairan vagina at au serik. I nfeksi dapat dit ularkan dari set iap pengidap infeksi HI V kepada pasangan seksnya. Resiko penularan HI V t ergant ung pada pem ilihan pasangan seks, j um lah pasangan seks dan j enis hubungan seks. Pada penelit ian D a r r ow ( 1 9 8 5 ) dit em ukan resiko seroposit ive unt uk zat ant i t erhadap HI V cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan t idak t et ap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan bergant i pasangan m erupakan kelom pok m anusia yang berisiko t inggi t erinfeksi virus HI V.

1 .1 . H om ose k su a l

Didunia barat , Am erika Serikat dan Eropa t ingkat prom iskuit as hom oseksual m enderit a AI DS, berum ur ant ara 20- 40 t ahun dari sem ua golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenet al m erupakan perilaku seksual dengan resik o t inggi bagi penularan HI V, khususnya bagi m it ra seksual yang pasif m enerim a ej akulasi sem en dari seseorang pengidap HI V. Hal ini sehubungan dengan m ukosa rekt um yang sangat t ipis dan m udah sekali m engalam i pert ukaran pada saat berhubungan secara anogenit al.

1 .2 . H e t e r ose k su a l

(4)

2 . Tr a n sm isi N on Se k su a l 2 .1 Tr a n sm isi Pa r e nr a l

2 .1 .1 . Yait u akibat penggunaan j arum sunt ik dan alat t usuk lainnya ( alat t indik) yang t elah t erkont am inasi, m isalnya pada penyalah gunaan narkot ik sunt ik yang m enggunakan j arum sunt ik yang t ercem ar secara bersam a- sam a. Disam ping dapat j uga t erj adi m elaui j arum sunt ik yang dipakai oleh pet ugas kesehat an t anpa dist erilkan t erlebih dahulu. Resiko t ert ular cara t ransm isi parent al ini kurang dari 1% .

2 .1 .2 . Darah/ Produk Darah

Transm isi m elalui t ransfusi at au produk darah t erj adi di negara- negara barat sebelum t ahun 1985. Sesudah t ahun 1985 t ransm isi m elalui j alur ini di negara barat sangat j arang, karena darah donor t elah diperiksa sebelum dit ransfusikan. Resiko t ert ular infeksi/ HI V lewat t rasfusi darah adalah lebih dari 90% .

2 .2 . Tr a n sm isi Tr a n spla se n t a l

Penularan dari ibu yang m engandung HI V posit if ke anak m em punyai resiko sebesar 50% . Penularan dapat t erj adi sew akt u ham il, m elahirkan dan sew akt u m enyusui. Penularan m elalui air susu ibu t erm asuk penularan dengan resiko rendah.

V I . PATOGEN ESI S

Dasar ut am a pat ogenesis HI V adalah kurangnya j enis lim posit T helper/ induser yang m engandung m arker CD 4 ( sel T 4) . Lim fosit T 4 m erupakan pusat dan sel ut am a yang t erlibat secara langsung m aupun t idak langsung dalam m enginduksi fungsi- fungsi im unologik. Menurun at au hilangnya sist em im unit as seluler, t er j adi karena HI V secara selekt if m enginfeksi sel yang berperan m em bent uk zat ant ibodi pada sist em kekebalan t ersebut , yait u sel lym fosit T4. Set elah HI V m engikat dir i pada m olekul CD 4, virus m asuk kedalam t arget dan ia m elepas bungkusnya kem udian dengan enzym reverse t ranscrypt ae ia m erubah bent uk RNA agar dapat bergabung dengan DNA sel t arget . Selanj ut nya sel yang berkem bang biak akan m engundang bahan genet ik virus. I nfeksi HI V dengan dem ikian m enj adi irreversibel dan berlangsung seum ur hidup.

Pada awal infeksi, HI V t idak segera m enyebabkan kem at ian dari sel yang di infeksinya t et api t erlebih dahulu m engalam i replikasi ( penggandaan) , sehingga ada kesem pat an unt uk berkem bang dalam t ubuh penderit a t ersebut , yang lam bat laun akan m enghabiskan at au m erusak sam pai j um lah t ert ent u dari sel lym fosit T4. set elah beberapa bulan sam pai beberapa t ahun kem udian, barulah pada penderit a akan t erlihat gej ala klinis sebagai dam pak dari infeksi HI V t ersebut . Masa ant ara t erinfeksinya HI V dengan t im bulnya gej ala- gej ala penyakit (m asa inkubasi) adalah 6 bulan sam pai lebih dari 10 t ahun, rat a- rat a 21 bulan pada anak- anak dan 60 bulan pada orang dewasa.

I nfeksi oleh virus HI V m enyebabkan fungsi kekebalan t ubuh rusak yang m engakibat kan daya t ahan t ubuh berkurang at au hilang, akibat nya m udah t erkena penyakit - penyakit lain sepert i penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakt eri, prot ozoa, dan j am ur dan j uga m udah t erkena penyakit kanker sepert i sarkom a kaposi. HI V m ungkin j uga secara langsung m enginfeksi sel- sel syaraf, m enyebabkan kerusakan neurologis.

V I I . M AN I FESTASI KLI N I S AI D S

(5)

penderit a penyakit lain, nam un secara um um dapat kiranya dikem ukakan sebagai berikut :

• Rasa lelah dan lesu

• Berat badan m enurun secara drast is

• Dem am yang sering dan berkeringat diwakt u m alam

• Mencret dan kurang nafsu m akan

• Bercak- bercak put ih di lidah dan di dalam m ulut

• Pem bengkakan leher dan lipat an paha

• Radang paru- paru

• Kanker kulit

Manifest asi klinik ut am a dari penderit a AI DS pada um um nya ada 2 hal ant ara lain t um or dan infeksi oport unist ik :

1 . M a n ife st a di t u m or dia nt a r a ny a ;

a . Sa r k om a k a posi ; kanker pada sem ua bagian kulit dan organ t ubuh. Frekuensi kej adiannya 36- 50% biasanya t erj adi pada kelom pok hom oseksual, dan j arang t erj adi pada het eroseksual sert a j arang m enj adi sebab k em at ian prim er.

b. Lim fom a ga n a s ; t erj adi set elah sarkom a kaposi dan m enyerang syaraf, dan bert ahan kurang lebih 1 t ahun.

2 . M a n ife st a si Opor t u n ist ik dia n t a r a ny a 2 .1 . M a n ife st a si pa da Pa r u - pa r u

2.1.1. Pneum onia Pneum ocyst is ( PCP)

Pada um um nya 85% infeksi oport unist ik pada AI DS m erupakan infeksi paru- paru PCP dengan gej ala sesak nafas, bat uk kering, sakit bernafas dalam dan dem am .

2.1.2. Cyt om egalo Virus ( CMV)

Pada m anusia virus ini 50% hidup sebagai kom ensial pada paru- paru t et api dapat m enyebabkan pneum ocyst is. CMV m erupakan penyebab kem at ian pada 30% penderit a AI DS.

2.1.3. Mycobact erium Avilum

Menim bulkan pneum oni difus, t im bul pada st adium akhir dan sulit disem buhkan.

2.1.4. Mycobact erium Tuberculosis

Biasanya t im bul lebih dini, penyakit cepat m enj adi m iliar dan cepat m enyebar ke organ lain diluar paru.

2 .2 . M a n ife st a si pa da Ga st r oit e st ina l

Tidak ada nafsu m akan, diare khronis, berat badan t urun lebih 10% per bulan.

3 . M a n ife st a si N e ur ologis

Sekit ar 10% kasus AI DS nenunj ukkan m anifest asi Neurologis, yang biasanya t im bul pada fase akhir penyakit . Kelainan syaraf yang um um adalah ensefalit is, m eningit is, dem ensia, m ielopat i dan neuropari perifer.

V I I I . PEM ERI KSAAN LABORATORI UM D AN D I AGN OSI SI AI D S

Hum an I m m unodefeciency Virus dapat di isolasi dari cairan- cairan yang berperan dalam penularan AI DS sepert i darah, sem en dan cairan serviks at au vagina.

(6)

bila t et ap posit if set elah pengulangan m aka harus dikonfirm asikan dengan t est yang lebih spesifik yait u m et ode West ern Blot .

Dasar dalam m enegakkan diagnosa AI DS adalah :

1. Adanya HI V sebagai et iologi ( m elalui pem eriksaan laborat orium ) . 2. Adanya t anda- t anda I m m unodeficiency.

3. Adanya gej ala infeksi oport unist ik.

Dalam prakt eknya yang dipakai sebagai pet unj uk adalah infeksi oport unist ik at au sarkom a kaposi pada usia m uda kem udian dilakukan uj i serologis unt uk m endet eksi zat ant i HI V ( Elisa, West ern Blot ) .

I X . SI TUASI AI D S D I I N D ON ESI A

Pandem i global AI DS t elah sam pai di I ndonesia. Kasus AI DS pert am a di I ndonesia pada t ahun 1987 seorang wisat awan Belanda yang m eninggal di Bali pada 1988. Enam t ahun kem udian virus HI V t elah t erdet eksi di sem bilan propinsi di I ndonesia.

Menurut dat a Dit j en PPM dan PLP Depart em en Kesehat an hingga bulan Mei 1998 t elah t ercat at 685 kasus HI V/ AI DS, diant aranya 184 penderit a AI DS dan 501 penderit a HI V yang dilaporkan oleh 23 propinsi di I ndonesia. Hal ini berart i t er j adi peningkat an sebanyak 100 kali sej ak t ahun 1987 yang pada wakt u it u baru t ercat at 6 kasus ( lihat t abel 1)

Ta be l. 1

Ju m la h Ka su s H I V / AI D S M e nu r u t Ta h un

Ta hu n AI D S H I V Ju m la h

1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Jan. 1998 Feb. 1998 Mar. 1998 Apr. 1998 Mei. 1998 4 5 4 4 6 18 96 71 69 105 84 2 0 7 6 20 2 2 3 5 12 10 17 16 20 32 34 0 1 2 23 5 6 7 7 9 18 28 113 87 89 137 118 2 1 9 29 25

Tot a l 5 0 1 1 8 4 6 8 5

X . UPAYA PEN CEGAH AN AI D S

Mengingat sam pai saat ini obat unt uk m engobat i dan vaksin unt uk m encegah AI DS belum dit em ukan, m aka alt ernat if unt uk m enanggulangi m asalah AI DS yang t erus m eningkat ini adalah dengan upaya pencegahan oleh sem ua pihak unt uk t idak t erlibat dalam lingkaran t ransm isi yang m em ungkinkan dapat t erserang HI V.

[image:6.612.101.515.383.619.2]
(7)

Ada 2 cara pencegahan AI DS yait u j angka pendek dan j angka panj ang : 1 . Upa y a Pe n ce ga ha n AI D S Ja ngk a Pe n de k

Upaya pencegahan AI DS j angka pendek adalah dengan KI E, m em berikan inform asi k epada kelom pok resik o t inggi bagaim ana pola penyebaran virus AI DS ( HI V) , sehingga dapat diket ahui langkah- langkah pencegahannya.

Ada 3 pola penyebaran virus HI V : 1. Melalui hubungan seksual

2. Melaui darah

3. Melaui ibu yang t erinfeksi HI V kepada bayinya

Ad.1. Pencegahan I nfeksi HI V Melaui Hubungan Seksual

HI V t erdapat pada sem ua cairan t ubuh penderit a t et api yang t erbukt i berperan dalam penular an AI DS adalah m ani, cairan vagina dan darah.

HI V dapat m enyebar m elalui hubungan seksual pria ke w anit a, dari w anit a k e pria dan dari pria ke pria.

Set elah m enget ahui cara penyebaran HI V m elaui hubungan seksual m aka upaya pencegahan adalah dengan cara :

• Tidak m elakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat efekt if, nam un t idak m ungkin dilaksanakan sebab seks m erupakan kebut uhan biologis.

• Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang m it ra seksual yang set ia dan t idak t erinfeksi HI V ( hom ogam i)

• Mengurangi j um lah m it ra seksual sesedikit m ungkin

• Hindari hubungan seksual dengan kelom pok rediko t inggi t ert ular AI DS.

• Tidak m elakukan hubungan anogenit al.

• Gunakan kondom m ulai dari aw al sam pai akhir hubungan seksual dengan kelom pok resiko t inggi t ert ular AI DS dan pengidap HI V.

Ad.2. Pencegahan I nfeksi HI V Melalui Darah

Darah m erupakan m edia yang cocok unt uk hidup virus AI DS. Penularan AI DS m elalui darah t erj adi dengan :

− Transfusi darah yang m engandung HI V.

− Jarum sunt ik at au alat t usuk lainnya ( akupunt ur, t at o, t indik) bekas pakai orang yang m engidap HI V t anpa dist erilkan dengan baik.

− Pisau cukur, gunt ing kuku at au sikat gigi bekas pakai orang yang m engidap virus HI V.

Langkah- langkah unt uk m encegah t erj adinya penularan m elalui darah adalah:

− Darah yang digunakan unt uk t ransfusi diusahakan bebas HI V dengan j alan m em eriksa darah donor. Hal ini m asih belum dapat dilaksanakan sebab m em er lukan biaya yang t ingi sert a peralat an canggih karena prevalensi HI V di I ndonesia m asih rendah, m aka pem eriksaan donor darah hanya dengan uj i pet ik.

− Menghim bau kelom pok resiko t inggi t ert ular AI DS unt uk t idak m enj adi donor darah. Apabila t erpaksa karena m enolak, m enj adi donor m enyalahi kode et ik, m aka darah yang dicurigai harus di buang.

− Jarum sunt ik dan alat t usuk yang lain harus dist erilisasikan secara baku set iap kali habis dipakai.

(8)

− Kelom pok penyalahgunaan narkot ik harus m enghent ikan kebiasaan penyunt ikan obat ke dalam badannya sert a m enghent ikan kebiasaan m engunakan j arum sunt ik bersam a.

− Gunakan j arum sunt ik sekali pakai ( disposable)

− Mem bakar sem ua alat bekas pakai pengidap HI V.

Ad.3. Pencegahan I nfeksi HI V Melalui I bu

I bu ham il yang m engidap HI V dapat m em indahkan virus t ersebut kepada j aninnya. Penularan dapat t erj adi pada w akt u bayi di dalam kandungan, pada wakt u persalinan dan sesudah bayi di lahirkan.

Upaya unt uk m encegah agar t idak t erj adi penularan hanya dengan him bauan agar ibu yang t erinfeksi HI V t idak ham il.

2 . Upa y a Pe n ce ga ha n AI D S Ja ngk a Pa n j a n g

Penyebaran AI DS di I ndonesia ( Asia Pasifik ) sebagian besar adalah karena hubungan seksual, t erut am a dengan orang asing. Kasus AI DS yang m enim pa orang I ndonesia adalah m ereka yang pernah ke luar negeri dan m engadakan hubungan seksual dengan orang asing.

Hasil penelit ian m enunj ukkan bahw a resiko penularan dari suam i pengidap HI V ke ist rinya adalah 22% dan ist ri pengidap HI V ke suam inya adalah 8% . Nam un ada penelit ian lain yang berpendapat bahwa resiko penularan suam i ke ist ri at au ist ri ke suam i dianggap sam a. Kem ungkinan penularan t idak t erganggu pada frekuensi hubungan seksual yang dilakukan suam i ist ri. Mengingat m asalah seksual m asih m erupakan barang t abu di I ndonesia, karena norm a- norm a budaya dan agam a yang m asih kuat , sebet ulnya m asyarakat kit a t idak perlu risau t erhadap penyebaran virus AI DS. Nam un dem ikian kit a t idak boleh lengah sebab negara kit a m erupakan negara t erbuka dan t ahun 1991 adalah t ahun m elewat i I ndonesia.

Upaya j angka panj ang yang harus kit a lakukan unt uk m encegah m eraj alelanya AI DS adalah m erubah sikap dan perilaku m asyarakat dengan kegiat an yang m eningkat kan norm a- norm a agam a m aupun sosial sehingga m asyarakat dapat berperilaku seksual yang bert anggung j awab.

Yang dim aksud dengan perilaku seksual yang bert anggung j awab adalah : a. Tidak m elakukan hubungan seksual sam a sekali.

b. Hanya m elakukan hubungan seksual dengan m it ra seksual yang set ia dan t idak t erinfeksi HI V ( m onogam y) .

c. Menghindari hubungan seksual dengan w anit a- w anit a t una susila.

d. Menghindari hubungan seksual dengan orang yang m em punyai lebih dari sat u m it ra seksual.

e. Mengurangi j um lah m it ra seksual sesedikit m ungkin. f. Mengurangi j um lah m it ra seksual sesedikit m ungkin

g. Hindari hubungan seksual dengan kelom pok resiko t inggi t ert ular AI DS. h. Tidak m elakukan hubungan anogenit al.

i. Gunakan kondom m ulai dari awal sam pai akhir hubungan seksual.

Kegiat an t ersebut dapat berupa dialog ant ara t okoh- t okoh agam a, penyebarluasan inform asi t ent ang AI DS dengan bahasa agam a, m elalui penat aran P4 dan lain- lain yang bert uj uan unt uk m em pert ebal im an sert a norm a- norm a agam a m enuj u perilaku seksual yang bert anggung j awab.

(9)

KESI M PULAN

AI DS m erupakan m asalah kesehat an int ernasional yang perlu segera dit anggulangi. AI DS berkem bang secara pandem i ham pir di set iap negara di Dunia, t erm asuk I ndonesia.

Epidem i yang t erj adi m eliput i penyakit ( AI DS) , virus ( HI V) dan epidem i reaksi / dam pak negat if diberbagai bidang sepert i kesehat an, sosial, ekonom i, polit ik, kebudayaan, dan dem ografi.

Sam pai saat ini obat dan vaksin unt uk m enaggulangi AI DS belum dit em ukan. Unt uk it u alt ernat if lain yang lebih m endekat i dalam upaya pencegahan. Upaya pencegahan dapat dilak ukan oleh sem ua pihak asal m enget ahui cara- cara penularan AI DS.

Penularan AI DS t erj adi m elalui hubungan seksual, parent al dan t ransplasent al, sehingga upaya pencegahan perlu diarahkan unt uk m erubah perilaku seksual m asyarakat ( t erut am a yang m em ilikiki resiko t inggi) , m enghindari infeksi m elalui donor darah, dan upaya pencegahan infeksi per inat al sebelum ibu ham il. Perubahan perilaku dilakukan dengan penyuluhan kesehat an.

D AFTAR PUSTAKA

Berit a AI DS I I I No. 3/ 1994.

Berit a AI DS I I I No. 4/ 1994.

Depart em en Kesehat an RI ” Pet unj uk Pengem bangan Program Nasional Pem berant asan dan Pencegahan AI DS, Jakart a 1992.

Syarifuddin Dj alil “ Pelayanan Laborat orium Kesehat an Unt uk Pem eriksaan Serologis AI DS” AI DS; Pet unj uk Unt uk Pet ugas Kesehat an, Depart em en Kesehat an RI , Jakart a 1989.

Maj alah Suport No 9 / I / Sept em ber 1995.

Maj alah Suport No 23 / I I / Desem ber 1996.

Maj alah Suport No 25 / I I I / Juni 1997.

Maj alah Suport No 32 / I V / Juni 1998.

Maj alah Kesehat an Masyarakat I ndonesia No 6 / XX / 1992.

Soem arsono “ Pat ogenesis, Gej ala klinis dan Pengobat an I nfeksi HI V” AI DS; Pet unj uk Unt uk Pet ugas Kesehat an Depart em en Kesehat an RI Jakart a 1989.

Gambar

Tabel. 1

Referensi

Dokumen terkait

 Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines) Rasa hormat dan perhatian ( respect ) Tekun ( diligence )!. Tanggung jawab ( responsibility

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 55 ayat (2) dan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum, perlu menetapkan

 Kawasan konservasi dan resapan air, pada bagian lereng atas dan tengah perbukitan dari kawasan perencanaan (Srimulyo

[r]

[r]

More selective mapping of Global Health Initiative (GHI) and specifically PEPFAR-funded HIV/AIDS activities should also be completed in order to ensure that activities are

Perlengkapan yang sifatnya intelektual, yaitu yang diwujudkan dalam pencarian informasi sebanyak mungkin mengenai agama dan keyakinaan orang lain, sehingga umat dari masing-masing

Meskipun hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang negatif antara kecanduan bermain game online dan prestasi belajar pada siswa SMP Negeri 4 Salatiga,