HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL
DENGAN KENAKALAN REMAJA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Monica Ardiana
NIM: 099114130
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGTAKARTA
i
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL
DENGAN KENAKALAN REMAJA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh:
Monica Ardiana
NIM: 099114130
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGTAKARTA
v
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PERKEMBANGAN MORAL DENGAN KENAKALAN REMAJA
Monica Ardiana
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif dan signifikan antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 90 siswa-siswi SMA dengan batasan usia 15 tahun sampai 19 tahun. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menyebarkan soal-soal dengan kasus perkembangan moral dan skala perilaku kenakalan remaja. Pengujian reliabilitas untuk soal-soal perkembangan moral menggunakan tekhnik Cohen’s Kappa menghasilkan koefisien sebesar 0.50 dan pengujian reliabilitas skala kenakalan remaja menggunakan tekhnik Cronbach’s Alpha menghasilkan koefisien sebesar 0.925. Hasil uji linearitas dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu variabel tingkat perkembangan moral dan variabel kenakalan remaja linear karena memiliki probabilitas sebesar 0.011 (p<0.05). Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menggunakan metode korelasi Product Moment, diketahui bahwa kedua variabel tersebut memiliki koefisien korelasi sebesar -0.272 dengan signifikansi 0.010. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara tingkat perkembangan moral dengan kenakalan remaja. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat perkembangan moral, maka semakin rendah perilaku kenakalan remaja.
Kata Kunci: tingkat perkembangan moral, kenakalan remaja
vi
THE CORRELATION BETWEEN LEVEL OF
MORAL DEVELOPMENT WITH JUVENILE DELINQUENCY
Monica Ardiana ABSTRACT
The research aimed to found the correlation between the level of moral development and juvenile delinquency. This research hypothesis is between the level of moral development and juvenile delinquency has negative and significant correlation. Subject of this research were 90high school students between 15 until 19 years old. Data collecting was distributing the moral development questions and juvenile delinquency scale. Relibiality test for morality development question using
Cohen’s Kappa technique coefficient result is 0.05 and reliability test for juvenile deliquentcy scale
using Cronbach’s Alpha technique and the coefficient result is 0.925. Result of the linearity test in this research suggesting that two variables, which were moral development and juvenile delinquency, was linear since they have probability by 0.001 (p<0.05). The data was analyzed by Product Moment correlation technique. The result showed that the correlation coefficient is -0.027 and the value of significant is 0.010. This result showed that there is negative correlation between level of moral development and juvenile delinquency. Thus, it can be concluded that more high level of moral development, juvenile delinquency behavior become lower.
viii
KATA PENGANTAR
Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala rahmat dan berkat-Nya yang luar biasa, penulis dapat melalui tantangan dan kesulitan dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Selama menulis skripsi ini, penulis menyadari bahwa ada banyak pihak yang telah membantu dengan caranya masing-masing sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik. Terimakasih atas bimbingan selama masa kuliah ini.
3. Bu Ratri Sunar Astuti, M.Psi selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
4. Ibu Sylvia Carolina MYM., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan mengarahkan saya dalam mengerjakan skripsi hingga selesai. 5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi, terimakasih untuk ilmu-ilmunya dan
perhatiannya selama saya mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma. 6. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi, Ibu Nanik, Mas Gandung, dan Pak Gik
ix
bantuannya sehingga saya dapat mengurus segala administrasi selama masa perkuliahan ini.
7. Bapak, Ibu, Mbk Siska, Dika, Ipus, terimakasih atas penerimaan tanpa syarat yang tidak pernah saya dapatkan dari orang lain, untuk doa dan dukungannya selama ini.
8. Bulek Nunung “ibu kedua”, yang selalu membawa saya dalam doanya terimakasih atas dukungan dan perhatiannya dari saya SD sampai kuliah saat ini. 9. Mbah Kakung dan Mbah Putri yang begitu besar perhatiannya sehingga cucu
tercinta ini akhirnya dapat menyelesaikan skripsi.
10.Keluarga besar Paulus Danuri yang selalu memberikan perhatian dan dorongan, yang kebersamaannya selalu dapat saya banggakan.
11.Seseorang yang selalu di hati saya, Daniel Gatyo, teman terbaik saya. Terimakasih atas bantuannya, semangat, kesabaran, untuk ide-idenya yang luar biasa, tempat kekesalan jika saya bingung skripsi, dan selalu setia menemani saya ke perpus. Pokoknya terimakasih untuk semuanya…
12.Teman-teman kelas C angkatan 2009. Terimakasih untuk kebersamaan selama kuliah ini dari semester 1 yang sudah memberikan tawa dan kegilaan yang tak terlupakan.
13.Terimakasih untuk “The Brother’s”, Ukik, Hani, Fandra, Yoha, Togar, dan Julius. Senang dapat berbagi cerita dengan kalian, “semangat juga untuk skripsinya”. 14.“Ciwik-ciwik”, Arin, Siska, Lita, Indri, Eka. Terimakasih sudah menjadi tempat
x
15.Eli Silalahi dan Agatha Pramesti, teman jauh saya yang selalu berbagi cerita, kita akan selalu menjadi sahabat.
16.Teman-teman Kost Melati. Terimakasih untuk kebersamaan selama ini dan sudah menjadi keluarga kedua.
17.Seluruh teman-teman psikologi yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terimakasih untuk bantuan dan kebersamaannya selama ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu penulis menerima segala masukan dan kritikan yang membangun demi perbaikan penelitian selanjutnya. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, kiranya Tuhan memberkati kita semua. Terimakasih
Yogyakarta, Juni 2014
Penulis,
Monica Ardiana
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB 1: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II: LANDASAN TEORI ... 10
A. Perkembangan Moral ... 10
xii
2. Tahap Perkembangan Moral ... 12
3. Pemilihan Subjek ... 15
4. Defining Issue Test I ... 16
B. Kenakalan Remaja ... 18
1. Definisi Kenakalan Remaja ... 18
2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja ... 20
3. Bentuk Kenakalan Remaja ... 21
4. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja ... 26
C. Hubungan antara Perkembangan Moral dengan Kenakalan Remaja .... 31
D. Skema Penelitian ... 36
E. Hipotesis ... 37
BAB 3: METODOLOGI PENELITIAN ... 38
A. Jenis Penelitian ... 38
B. Identifikasi Variabel Penelitian ... 38
C. Definisi Operasional Penelitian ... 39
1. Perkembangan Moral ... 39
2. Kenakalan Remaja ... 39
D. Populasi dan Sampel ... 40
E. Metode Pengumpulan Data ... 41
1. Defining Issues Test (DIT)... 41
2. Skala Kenakalan Remaja ... 46
xiii
1. Validitas ... 48
2. Seleksi Aitem ... 48
3. Reliabilitas ... 51
G. Metode Analisis Data ... 52
1. Uji Normalitas ... 52
2. Uji Linearitas ... 53
3. Uji Hipotesis ... 53
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54
A. Pelaksanaan Penelitian ... 54
B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 54
C. Deskripsi Data Penelitian ... 55
D. Kategorisasi ... 56
E. Analisis Data Penelitian... 58
1. Uji Normalitas ... 58
2. Uji Linearitas ... 59
3. Uji Hipotesis ... 59
F. Pembahasan ... 61
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 68
1. Bagi Subjek Penelitian... 68
xiv
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Skoring Jawaban Subjek ... 44
Tabel 2. Blueprint Skala Kenakalan Remaja ... 47
Tabel 3. Blueprint Skala Kenakalan Remaja Sebelum Try Out ... 49
Tabel 4. Blueprint Skala Kenakalan Remaja Setelah Try Out ... 50
Tabel 5. Blueprint Penyusunan Ulang Skala Kenakalan Remaja ... 51
Tabel 6. Deskripsi Usia Subjek Penelitian ... 55
Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian ... 55
Tabel 8. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Soal Perkembangan Moral ... 57
Tabel 9. Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Skala Kenakalan Remaja ... 57
Tabel 10. Ringkasan Uji Normalitas ... 58
Tabel 11. Ringkasan Uji Linearitas ... 59
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Skala Uji Coba ... 75
Lampiran 2. Hasil Uji Coba ... 88
Lampiran 3. Skala Penelitian ... 92
Lampiran 4. Uji T Mean Empirik dan Mean Teoritik ... 106
Lampiran 5. Hasil Uji Normalitas ... 108
Lampiran 6. Hasil Uji Linearitas ... 110
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Masa remaja memberi pengaruh besar dalam kehidupan individu. Pengalaman di masa remaja akan mengarahkan kecenderungan perilaku seseorang. Kecenderungan perilaku ini akan dibawa hingga ke tahap perkembangan berikutnya. Masa remaja merupakan periode yang cenderung singkat dibandingkan dengan masa kanak-kanak. Masa remaja awal berlangsung dari usia 13 tahun sampai 16 tahun dan akhir masa remaja berlangsung antara usia 17 sampai 18 tahun (Hurlock, 2002).
jika orang tua lalai dalam menjalankan perannya akan berdampak pada gagalnya tugas perkembangan remaja.
Kegagalan remaja dalam menjalankan tugas perkembangannya biasanya akan mengantarkan remaja pada perilaku-perilaku menyimpang, seperti penolakan dan pembangkangan. Penolakan dan pembangkangan tersebut ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang dapat merugikan dirinya seperti merokok, membolos sekolah, tawuran antar pelajar, mengkonsumsi narkoba, hingga melakukan seks bebas. Tindakan-tindakan ini dikategorikan sebagai kenakalan yang terjadi pada remaja. Santrock (2003) menyatakan bahwa kenakalan remaja adalah sekumpulan berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial.
Kenakalan remaja terdiri dari index offenses dan status offenses. Index offenses adalah kenakalan remaja yang berhubungan dengan tindak kriminal, seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Sedangkan status offenses adalah kenakalan remaja yang tidak terlalu serius, seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, minum-minuman keras, dan keluyuran (Santrock, 2002).
kurun waktu 10 tahun. pada tahun 2001 angka pecandu mencapai 58,9%, sementara pada tahun 2004 angka naik menjadi 63,7% dan sepanjang tahun 2013 meningkat menjadi 77%. Komisi Nasional Anak mengungkapkan kenaikan angka ini tidak lepas dari mudahnya akses anak-anak terhadap rokok yang mudah didapat di mana saja bahkan dapat dibeli secara batangan. Selain itu, remaja yang merokok juga dapat dipengaruhi oleh pergaulan dan ajakan teman sebaya (Pos Kota, 12 Desember 2011).
Kasus geng motor yang kebanyakan anggotanya adalah remaja merupakan contoh index offenses. Salah satu media online menulis berita mengenai penangkapan beberapa geng motor di Indonesia yang kerap membuat keonaran dan kekerasan, seperti aksi pencurian yang disertai dengan kekerasan. Beberapa diantara anggota geng motor ini bahkan remaja putri dan mereka memiliki geng motor sendiri dengan nama “Laser”. Rata-rata mereka merupakan remaja yang putus sekolah dan hanya menganggur di rumah (Vivanews, 17 Mei 2013). Contoh kasus index offenses lainnya adalah pencurian oleh remaja. Di Makassar, polisi menangkap tujuh remaja putra karena melakukan serangkaian tindakan pidana pencurian sebanyak 11 kali sejak Juli 2010. Barang-barang yang dicuri terdiri atas ponsel, kartu perdana, tabung gas, dan kotak salon pengeras suara. Barang-barang yang telah mereka curi kemudian di jual dan uang hasil penjualannya mereka gunakan untuk foya-foya (Cybernews, 30 Agustus 2010).
sekitar 3.100 orang pelaku tindak pidana adalah remaja yang berusia rata-rata 18 tahun. Pada tahun 2008 dan 2009 jumlah tersebut masing-masing meningkat menjadi sekitar 3.300 remaja dan 4.200 remaja.
Kenakalan remaja lebih umum terjadi di kalangan pemuda yang memiliki kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang lebih sedikit, dan sudah merasa frustrasi dengan kehidupan mereka. Selain itu pengaruh dari teman sebaya, komunitas, latar belakang keluarga, pengaruh dari lingkungan sekitar dan sekolah juga dapat menimbulkan kenakalan pada remaja (Rice, 1999). Hasil analisis berkas laporan penelitian kemasyarakatan, Balai Pemasyarakatan (Bapas) mengungkapkan fakta lain. Penelitian menunjukkan bahwa sebesar 60% remaja yang melakukan tindakan pidana adalah remaja yang sudah putus sekolah dan mereka pada umumnya berusia 16-17 tahun.
Selama masa remaja ini, penalaran moral diharapkan mampu membuat remaja untuk menghadapi dilema-dilema moral secara reflektif dan mengembangkan prinsip-prinsip moral pribadi yang dapat bertindak sesuai dengan moral yang diyakini dan bukan merupakan tekanan sosial (Wahareni, 2006). Salah satu model pengembangan dan ada hubungannya dengan kenakalan atau kriminalitas adalah model milik Kohlberg. Karya awal Piaget tentang pertimbangan moral anak mengilhami teori perkembangan kognitif yang lebih dari Kohlberg tentang pemahaman moral.
Kohlberg (1995) membagi moral ke dalam tiga tingkatan dan masing-masing tingkat kemudian dipecah menjadi dua kelompok, dengan total enam tahap perkembangan moral. Perkembangan moral berjalan dengan pelan dan bertahap. Penalaran pada tahap satu dan dua menurun di masa remaja awal, sementara tahap ke tiga meningkat selama masa remaja dan kemudian menurun. Penalaran pada tahap empat meningkat selama masa-masa remaja sehingga ia menjadi respons khas pada masa dewasa awal (Berk, 2012). Tahapan untuk remaja, Kohlberg menyebut tahap ke tiga dan keempat sebagai tahap konvensional ditandai dengan individu yang mengikuti aturan bukan semata untuk kepentingan sendiri, namun karena para remaja meyakini dengan memelihara sistem sosial akan menjaga hubungan positif dan menjaga keteraturan sosial.
(dalam Santrock, 2003) memandang masa remaja merupakan masa dimulainya penggunaan penalaran tingkat konvensional. Tahap konvensional atau tahap kedua dari Kohlberg merupakan tahap yang sesuai dengan remaja usia 16-17 tahun. Ternyata masih banyak remaja khususnya di Indonesia yang melakukan tindakan kenakalan baik yang tidak melanggar hukum dan yang melanggar hukum. Remaja tidak lagi takut terhadap aturan dari orang tua atau masyarakat sehingga dengan mudah remaja melakukan hal-hal yang mereka inginkan dan mengabaikan peraturan yang ada.
Hasil penelitian mengenai perkembangan moral Kohlberg dapat digunakan dalam urusan keadilan oleh remaja ketika melakukan hal yang menyimpang di sekolah. Terkadang remaja mengambil keputusan yang salah dalam menyelesaikan masalah mereka dan harus berurusan dengan guru untuk bertanggungjawab terhadap perbuatannya, sehingga peran perkembangan moral di sini sangatlah penting yaitu untuk mengarahkan remaja ke dalam pengambilan keputusan yang baik. Dengan adanya perkembangan moral yang dimiliki oleh remaja, maka remaja dapat berpikir dan bertindak pada situasi tertentu dengan baik dan dapat mencapai tingkat penalaran moral yang lebih tinggi (Jenn Deluca, 2002)
mereka dilakukan dengan cara yang lebih konvensional. Pada masa awal dewasa, sejumlah kecil individu berpikir dengan cara postkonvensional.
Becker (dalam Soekanto, 1998) menyatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki dorongan untuk melanggar aturan pada situasi tertentu. Tetapi pada kebanyakan orang, dorongan-dorongan tersebut biasanya tidak menjadi kenyataan yang menyimpang. Hal tersebut karena individu biasanya dapat menahan diri dari dorongan-dorongan untuk berperilaku menyimpang. Kemampuan menahan diri inilah yang seharusnya dipelajari individu selama remaja, tetapi ada beberapa remaja yang gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang sudah dimiliki oleh orang lain seusianya selama masa perkembangan.
Keberhasilan dalam pemenuhan tugas perkembangan akan menjadikan remaja sadar dan peka terhadap norma, sehingga remaja mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku. Perkembangan moral yang baik menuntun para remaja untuk dapat memilih dan memutuskan hal-hal yang baik yang bermanfaat sehingga terhindar dari perilaku kenakalan dan dapat mengubah perilaku nakal remaja ke dalam hal yang positif dan dapat mengambil keputusan yang baik dalam menyelesaikan masalah.
Wahareni (2000) menajadi soal-soal perkembangan moral dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan.
Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menduga bahwa kemungkinan remaja yang melakukan tindakan kenakalan disebabkan karena kurangnya nilai-nilai moral yang dimilikinya sehingga remaja tidak dapat memutuskan yang benar dan yang salah dan dapat melakukan perilaku yang menyimpang. Individu dengan tahapan perkembangan moral yang berjalan dengan baik pada anak akan menghantarkan seseorang berperilaku dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Penelitian ini ingin melihat adakah hubungan antara perkembangan moral dengan kenakalan remaja?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perkembangan moral dengan kenakalan yang dilakukan oleh remaja.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
dapat dijadikan referensi atau bahan pembanding bagi penelitian-penlitian lain yang ingin mengkaji masalah yang berkaitan dengan perkembangan moral dan kenakalan remaja.
2. Secara Praktis
1. Siswa-siswi SMA
Penelitian ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi remaja untuk menuntun perilaku mereka sehingga tidak melakukan perilaku yang menyimpang dan dapat memperbaiki tingkah lakunya.
2. Sekolah dan Orang Tua
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Perkembangan Moral
1. Definisi Perkembangan Moral
Istilah moral berasal dari kata Latin mos atau moris yang berarti adat istiadat, kebiasaan, tata cara kehidupan (Gunarsa, 1986). Menurut Hurlock (1986) moral berasal dari kata Latin mores yang berarti budi bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan rakyat. Perilaku moral merupakan perilaku di dalam konformitas dengan suatu tata cara moral kelompok sosial. Sedangkan menurut Kamus Lengkap Psikologi (Kartono dalam Wahareni, 2006) moral berarti: 1) Sesuatu yang menyinggung akhlak, moril, tingkah laku susila, 2) Ciri-ciri khas seseorang atau sekelompok orang dengan perilaku pantas dan baik, 3) Sesuatu yang menyinggung hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.
Ormrod (2002) mengatakan bahwa moral adalah standar umum yang dimiliki seseorang mengenai perilaku yang dianggap benar dan salah. Santrock (1996) menambahkan pengertian moralitas yaitu perilaku proposional ditambah beberapa sifat seperti kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan orang lain.
Pengertian perkembangan moral menurut Santrock (1996) adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Kohlberg (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.
2. Tahap Perkembangan Moral
Pokok pemikiran Kohlberg (Kohlberg, 1995) mengenai tahapan penalaran moral sebagai berikut :
a. Inti moral adalah keadilan. Keadilan disini mempunyai arti bahwa individu dituntut untuk jujur, menghargai dan memperhatikan hak-hak pribadi dan tahap-tahap penalaran moral yang diajukan selalu menuju ke arah maju dalam menerapkan prinsip-prinsip keadilan.
b. Tahap-tahap penalaran menunjukkan cara individu dalam berpikir, termasuk konsitensi penalarannya.
c. Tahap-tahap penalaran moral ini menunjukkan tingkatan seorang individu dalam memecahkan dilema moral yang terjadi kepadanya.
Kohlberg (dalam Santrock, 2003) mendeskripsikan 3 level pemikiran moral, masing-masing level terdiri dari dua tahap, yaitu :
a. Penalaran Prakonvensioanal (preconventional reasoning) adalah level terendah dari penalaran moral. Dalam level ini, baik dan buruk diinterpretasikan berdasarkan hadiah dan hukuman eksternal atau berdasarkan pada objek di luar dari individu yang ditimbulkan oleh tindakan tertentu. Tingkat ini meliputi :
Tahap 1. Orientasi hukuman dan ketaatan ialah tahap pertama dari
dihukum dan dinilai salah bila diberikan hukuman. Seseorang harus patuh pada otoritas karena otoritas tersebut berkuasa dan menuntut mereka untuk taat.
Tahap 2. Individualisme, tujuan, dan pertukaran adalah tahap kedua
dari penalaran moral prakonvensional. Dalam tahap ini, individu berpikir bahwa berusaha memuaskan kepentingannya sendiri adalah layak dan mereka juga membiarkan orang lain untuk bertindak hal yang serupa. Seseorang berpikir bahwa kelayakan tersebut harus memenuhi pertukaran yang adil. Apabila mereka baik terhadap orang lain, maka orang lain akan bersikap seperti mereka. Hubungan antar manusia terkadang dilandasi dengan hubungan timbal balik.
b. Level Konvensional (conventional reasoning) adalah level kedua teori perkembangan moral Kohlberg. Dalam level ini, individu menerapkan standar-standar tertentu, namun standar-standar itu diterapkan oleh pihak lain, misalnya orang tua atau pemerintah. Suatu perbuatan dianggap benar bila sesuai dengan peraturan yang ada dalam masyarakat, tidak mempedulikan lagi akibat-akibat yang langsung dan nyata (kelihatan). Tingkat ini meliputi :
Tahap 3. Orientasi kesepakatan antar pribadi adalah tahap ketiga dari
anak-anak dan remaja akan menilai perbuatan itu baik bila ia dapat menyenangkan orang lain, ia dapat berbuat sesuai yang diharapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat. Tahap ini sering dinilai menurut niatnya.
Tahap 4. Orientasi hukum dan ketertiban adalah tahap keempat
perkembangan moral Kohlberg. Dalam tahap ini, penilaian moral pada pemahaman mengenai keteraturan sosial, hukum, keadilan, dan tugas. Seseorang dipandang bermoral bila ia melakukan tugasnya, menghormati otoritas, dan menjaga tata tertib sosial sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya sendiri.
c. Level Pasca-konvensional (pasca-conventional reasoning) adalah level tertinggi dalam teori tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada level ini, terdapat usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki keabsahan serta dapat diterapkan terlepas dari otoritas atau orang yang berpegangan pada prinsip moral yang universal, yang tidak terkait dengan aturan-atauran setempat atau seluruh masyarakat. Tingkat ini meliputi :
Tahap 5. Kontrak sosial dan hak-hak individu ialah tahap Kohlberg
kewajiban-kewajibannya, tetapi sebaliknya masyarakat juga harus menjamin kesejahteraan individu. Jika individu melanggar kewajiban, ia merasa telah melanggar perjanjian dengan lingkungannya. Hukum yang tidak memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat dapat diubah dengan tata cara yang baik.
Tahap 6. Prinsip etika universal adalah tahap tertinggi dalam teori
perkembangan moral Kohlberg. Dalam tahap ini, seseorang mengembangkan sebuah standar moral berdasarkan hak-hak asasi manusia secara universal. Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah konflik antara hukum dan suara hati, maka seseorang akan bernalar bahwa suara hati sebaiknya diikuti, meskipun keputusannya mungkin berisiko.
Berdasarkan tahap perkembangan moral di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat perkembangan moral Kohlberg meliputi tingkat prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional dan merupakan proses yang terjadi secara bertahap. Tiap tingkatan akan dibagi menjadi dua tahap untuk tiap levelnya sehingga terdapat 6 tahap perkembangan moral.
3. Pemilihan Subjek
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa remaja mulai berpikir secara formal operasional, mereka tidak lagi terikat pada fenomena yang kongkrit dan muncul dengan segera, namun mereka menjadi lebih logis dan abstrak. Tahap kedua dari tahap perkembangan moral Kohlberg yaitu level konvensioanal adalah tahap yang sesuai dengan masa remaja. Remaja melakukan suatu tindakan sudah berdasarkan hukum dan peraturan yang ada dalam masyarakat. Mereka mulai memahami bahwa peraturan itu penting untuk menciptakan kehidupan bersama yang baik.
4. Defining Issue Test 1
Defining Issues Test (DIT) pertama kali dikembangkan pada tahun
1970an (Rest., Cooper., Coder., Masanz & Andersen, 1997). DIT ini dikembangkan oleh Rest yang mengambil latar belakang konsep dari Kohlberg. Awalnya, pengukuran dari Kohlberg dilakukan dengan kertas dan pensil disertai dengan setengah wawancara terstruktur untuk mengukur penalaran moral. Dengan begitu, fokus utama dari pengukuran pada pemahaman dan interpretasi isu-isu moral. Selama tahun 70-an, DIT dipandang sebagai langkah yang dirancang untuk menguji urutan perkembangan Kohlberg dan memberikan kontribusi pada penalaran moral dalam populasi remaja dan dewasa (Thoma dan Dong, 2009).
Defining Issues Test (DIT) merupakan suatu test objektif untuk
kemampuan seseorang untuk memutuskan masalah sosial-moral dengan menggunakan prinsip moral yang dimiliki saat itu. Tujuan dari penelitian mengenai Defining Issues Test (DIT) adalah untuk mengukur cara orang berpikir mengenai isu-isu yang dihadapi dengan isu-isu sosial dari keadilan sosial. Penelitian DIT dilakukan berdasarkan asumsi bahwa tingkatan perkembangan moral dari penilaian moral melibatkan cara-cara tersendiri untuk mendefinisikan dilema moral sosial dan penilaian isu-isu penting didalamnya (Rest, 1979, dalam Richmond, 2001).
Pengungkapan penalaran moral yang universal menggunakan alat ini, alat ini sudah baku untuk mengukur perkembangan penalaran moral. Data yang diperoleh dari pengukuran tahapan penalaran moral berupa skor. Skor tergantung pada suatu tahap dalam profilnya yang menunjukkan tahapan penalaran subjek. Skor yang didapat dari penjumlahan skor kasar dipergunakan sebagai indeks dari perkembangan penalaran moral dalam penelitian yang bersifat korelasional (Wahareni, 2006). DIT terdiri dari 6 cerita dan setiap cerita ada 12 pertanyaan yang menggambarkan perkembangan moral. Jawaban yang diberikan oleh subjek yang mengerjakan DIT menunjukkan secara jelas adanya perbedaan dalam pandangan moral
(Rest, Narvez., Thoma., & Bebeu., 1999).
DIT terdiri dari 6 cerita dan masing-masing cerita terdapat 12 pertanyaan yang menggambarkan penalaran moral.
B. Kenakalan Remaja
1. Definisi Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis yang artinya anak-anak, anak muda, karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquent berasal dari bahasa Latin delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, anti sosial, kriminal, pelanggar peraturan, pembuat ribut, tidak dapat diperbaiki, pengacau, dan sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku kejahatan atau kenakalan anak-anak, merupakan gejala sakit atau patologis secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang (Kartono, 2005).
Menurut Santrock (2002) istilah kenakalan remaja mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran, hingga tindakan-tindakan kriminal. Demi tujuan hukum, dibuat suatu perbedaan antara pelanggaran-pelanggaran indeks (index offenses) dan pelanggaran-pelanggaran status (status offenses). Index
dewasa, seperti perampokan, penyerangan dengan kekerasan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Status offenses adalah tindakan-tindakan yang tidak terlalu serius, seperti lari dari rumah, bolos dari sekolah, minum-minuman keras, dan ketidakmampuan pengendalian diri.
Kenakalan remaja menurut pemerintah yang dijelaskan dalam Badan Koordinasi Pelaksanaan (Instruksi Presiden) atau yang biasa disebut dengan Bakorlak Inpres no.6/1971 adalah kelainan tingkah laku, perbuatan atau tindakan yang bersifat anti sosial yang melanggar norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, kenakalan remaja juga disebabkan karena kegagalan mereka daalam memperoleh penghargaan dari masyarakat tempat mereka tinggal (Willis, 2008).
Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana. Menurut Murdaningsih (dalam Kartono, 1991) kenakalan remaja adalah tingkah laku melawan norma yang diperbuat oleh anak yang belum dewasa, misalnya melakukan perusakan, kenakalan, kejahatan, pengacauan, dan lain-lainnya. Hurlock (1973) menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, tindakan tersebut dapat membuat individu yang melakukanya masuk penjara.
bahkan hukum yang dapat merugikan diri sendiri seperti membolos sekolah, merokok, mengkonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, mencuri, dan melakukan tindak kekerasan.
2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja
Gunarsa (1979) menyatakan bahwa agar dapat membedakan kenakalan remaja dapat diketahui beberapa ciri-ciri pokok kenakalan remaja, yaitu :
1. Dalam pengertian kenakalan, harus terlihat adanya perbuatan atau tingkahlaku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai moral.
2. Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang a-sosial yaitu dengan perbuatan atau tingkahlaku tersebut ia bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya.
3. Kenakalan remaja merupakan kenakalan yang dilakukan oleh mereka yang berumur 13-17 tahun dan belum menikah.
4. Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja saja, atau dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok saja.
Menurut Murdinangsih (dalam Kartono, 1991) menyatakan bahwa sifat-sifat dari remaja yang nakal terletak pada:
1. Adanya infantilisme (sifat seperti anak bayi)
3. Tidak mampu menerima realitas 4. Frustrasi
5. Tidak dapat menguasai-menguasai dorongan nafsunya 6. Mempunyai sikap bermusuhan terhadap dunia sekitarnya
7. Perkembangan emosi yang tidak matang (immature), terkadang emosinya tidak stabil dan amat peka terhadap ketegangan emosional sehingga sering menjadi agresif, bermusuhan, curiga, cemburu, suka bertengkar, serta menimpakan ketidakmampuannya sendiri kepada kesalahan orang lain (ada kecenderungan proyeksi)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri remaja yang nakal adalah dilakukan oleh remaja yang berusia 13-17 tahun, anti sosial atau tidak peka terhadap lingkungan sekitar, tidak mandiri atau tergantung dengan orang tua maupun teman, tidak dapat menahan emosinya sehingga terkadang meunjukkan sikap yang negatif.
3. Bentuk Kenakalan Remaja
Menurut Kartono (2005) bentuk-bentuk perilaku kenakalan remaja dapat dibagi menjadi 4, yaitu :
a. Kenakalan Terisolir
aman dari kelompok gangnya. Namun pada usia dewasa, mayoritas anak delinkuen dengan tipe ini meninggalkan tingkahlaku kriminalnya, paling sedikit 60% dari mereka meninggalkan dan menghentikan perbuatannya di usia 21-23 tahun.
b. Kenakalan Neurotik
Pada umumnya, anak-anak delinkuen dengan tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius, seperti kecemasan, merasa selalu tidak aman, merasa terancam, tersudut dan terpojok, merasa bersalah atau berdosa. Biasanya anak remaja delinkuen tipe ini melakukan kejahatan seorang diri dan mempraktekkan jenis kejahatan tertentu, misalnya suka memperkosa lalu membunuh korbannya, dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Perubahan tingkahlaku mereka berlangsung atas dasar konflik jiwani yang serius, maka mereka akan terus melanjutkan perilaku kejahatannya sampai usia dewasa.
c. Kenakalan Psikopatik
d. Kenakalan Defek Moral
Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Kelemahan dan kegagalan para remaja delinkuen dengan tipe ini adalah mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingkahlakunya yang jahat, tidak mampu mengendalikan dan mengaturnya. Sikapnya sangat dingin dan tanpa afeksi (perasaan). Mereka merasa puas dengan “prestasinya”, namun sering perbuatan mereka
disertai agresivitas yang meledak. Mereka juga selalu bersikap bermusuhan terhadap siapapun juga, karena itu mereka selalu melakukan perbuatan kejahatan.
Gunarsa (1979) menggolongkan kenakalan remaja dalam dua kelompok besar, sesuai dengan kaitannya dengan norma hukum, yaitu :
1. Kenakalan yang bersifat a-moral dan a-sosial dan tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum, antara lain :
a. Berbohong, memutar balikkan kenyataan dengan tujuan menipu orang atau untuk menutup kesalahan
b. Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah
d. Keluyuran, pergi sendiri maupun berkelompok tanpa ada tujuan yang jelas, dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.
e. Memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain, sehingga mudah terangsang untuk menggunakannya. Misalnya, pisau, pistol, silet, dan lain sebagainya.
f. Bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk sehingga mudah terjerat dalam perkara yang benar-benar kriminal.
g. Berpesta pora semalaman suntuk tanpa pengawasan sehingga mudah timbul tindakan-tindakan yang kurang bertanggungjawab.
h. Membaca buku-buku cabul dan kebiasaan menggunakan bahasa yang tidak sopan sehingga seolah-olah menggambarkan kurang perhatian dan pendidikan dari orang dewasa.
2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh orang dewasa, antara lain :
a. Perjudian dan segala macam bentuk perjudian yang mempergunakan uang.
b. Pencurian dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan, seperti pencopetan, perampasan, dan penjambretan.
e. Pelanggaran tata susila, menjual gambar-gambar porno dan film porno, serta pemerkosaan.
f. Pemalsuan uang dan pemalsuan surat-surat keterangan resmi. g. Percobaan pembunuhan
h. Menyebabkan kematian orang, turut tersangkut dalam pembunuhan i. Pengguguran kandungan
j. Penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian seseorang.
Hurlock (1999) berpendapat bahwa kenakalan yang dilakukan oleh remaja terbagi dalam empat bentuk, yaitu :
a. Perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain
b. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain, seperti merampas, mencuri, dan mencopet.
c. Perilaku yang tidak terkendali, yaitu perilaku yang tidak mematuhi orang tua dan guru, seperti membolos, mengendarai kendaraan tanpa ijin, dan kabur dari rumah.
d. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, memperkosa, dan menggunakan senjata tajam.
Jensen (dalam Sarwono, 2002) membagi kenakalan remaja menjadi empat bentuk, yaitu :
b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi : perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
c. Kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain : pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks bebas.
d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah, dan membantah perintah orang tua.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja menurut Santrock (2002) dijelaskan sebagai berikut :
a. Identitas
Erikson mengemukakan masa remaja ada pada tahap krisis identitas harus di atasi, dalam pencarian identitas sebaiknya remaja harus lebih diperhatikan dan diawasi agar orang tua mengetahui perilaku remaja. Perubahan biologis dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian remaja : (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan (2) terjadinya identitas peran, kurang lebih dengan dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan, dan gaya yang dimiliki oleh remaja dengan peran yang dituntut dari remaja. Erikson yakin kenakalan remaja terjadi karena anak remaja gagal mengatasi identitas peran.
b. Pengendalian diri
melakukan kenakalan tidak mengenali hal ini. Hasil penelitian yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa ternyata kontrol diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja.
c. Usia
Munculnya tingkahlaku anti sosial di usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya di masa remaja, namun demikian tidak semua anak yang bertingkahlaku seperti ini nantinya akan menjadi pelaku kenakalan. Hasil penelitian dari McCord yang menunjukkan bahwa pada usia dewasa, mayoritas remaja nakal tipe terisolir meninggalkan tingkah laku kriminalnya, paling sedikit 60% dari mereka menghentikan perbuatannya pada usia 21 sampai 23 tahun.
d. Jenis kelamin
Remaja laki-laki lebih banyak terlibat dalam perilaku anti sosial berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran serius. Menurut Kartono (2005) pada umumnya jumlah remaja laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang 50 kali lipat dibandingkan dengan gang remaja perempuan.
e. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai sekolah
nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah. Mereka tidak memiliki motivasi untuk sekolah.
f. Pengaruh keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orang tua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orang tua dapat memicu timbulnya kenakalan remaja.
g. Pengaruh teman sebaya
Bergaul dengan teman-teman sebaya yang nakal menambah besar risiko menjadi nakal. Pada sebuah penelitian (Santrock, 2002) terdapat 500 remaja di Boston yang tidak melakukan kenakalan, ditemukan persentase yang lebih tinggi pada remaja yang memiliki hubungan reguler dengan teman sebaya yang melakukan kenakalan. h. Kelas sosial ekonomi
Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan remaja berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan kurangnya kesempatan remaja dari kelas sosial rendah untuk mengembangkan keterampilan yang diterima oleh masyarakat.
i. Kualitas lingkungan
memungkinkan remaja mengamati model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka.
Menurut Kartono (2005) faktor yang mendorong remaja melakukan tindakan kenakalan antara lain :
a. Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan b. Meningkatnya agresivitas dan dorongan seksual
c. Salah asuh dan salah didik orang tua sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya.
d. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru.
e. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal
f. Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.
C. Dinamika antara Perkembangan Moral dengan Kenakalan Remaja
Remaja adalah individu yang sedang mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dalam rentangannya terjadi perubahan-perubahan dalam perkembangan pada aspek psikologis, fisik, kognisi, dan sosial.
Setiap masa periode memiliki masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah pada remaja sering kali menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Kebanyakan dari mereka ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dengan menolak bantuan dari orang tua maupun dari guru. Banyak dari remaja tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, karena ketidakmampuan mereka dalam mengatasi masalahnya dengan cara yang mereka yakini sehingga banyak dari remaja pada akhirnya menemukan penyelesain yang tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (Hurlock, 1999)
Adapun bentuk kenakalan remaja menurut Jensen (dalam Sarwono, 2002), yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak orang lain, dan kenakalan yang melawan status. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja terdiri dari lingkungan, identitas, usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas ekonomi sosial, pengaruh teman sebaya, dan kontrol diri (Santrock, 2002).
Banyak remaja yang mulai melupakan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Pergaulan remaja saat ini sudah berubah, remaja lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul bersama teman-teman dibandingkan belajar di rumah. Terkadang jika remaja memiliki masalah, pengaruh teman sebaya sangat besar dibandingkan dengan orang tua karena orang tua tidak dapat mengontrol anaknya jika berada di luar rumah sehingga remaja harus memiliki kontrol diri untuk mengendalikan perilakunya dan membatasi perilaku agar terhindar dari perilaku menyimpang.
tidak mengenal hal ini. Remaja yang nakal mungkin gagal dalam membedakan tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima, atau mereka sebenarnya sudah mengetahui perbedaan antara keduanya namun gagal mengembangkan kontrol yang memadai dalam menggunakan perbedaan itu untuk membimbing tingkah laku mereka (Santrock, 1996).
Menurut Berk (dalam Gunarsa, 2009) kontrol diri adalah kemampuan individu untuk menahan keinginan atau dorongan sesaat yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Sebagian besar dari remaja yang tidak melakukan kenakalan, sekalipun memiliki kecenderungan egoistis dan anti sosial, itu karena memiliki kontrol diri yang kuat dan kepatuhan secara normal terhadap kontrol sosial yang efektif (Kartono, 2005) sehingga dapat mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan tindakan yang negatif atau menyimpang. Remaja yang mampu melakukan kenakalan dikarenakan tidak memiliki kontrol diri yang kuat sehingga dengan mudah melakukan perilaku yang negatif atau menyimpang yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
baik tentu mereka dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang.
Penalaran moral menurut Kohlberg didasarkan pada pendekatan kognitif. Pendekatan kognitif yang dipakai oleh Kohlberg selalu mempertanyakan bagaimana seseorang mengerti akan tanggungjawabnya terhadap lingkungan sosialnya dan bagimana cara memandang tindakan yang seharusnya diambil bila menghadapi masalah dalam situasi tertentu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, remaja harus dapat mengendalikan dirinya sehingga dapat menghadapai masalah di lingkungan sosialnya dan dapat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada.
Dalam perkembangan moral Kohlberg dibagi dalam 3 level yang setiap level terdiri dari 2 tahap, yaitu level yang pertama adalah level prakonvensional dengan tahap orientasi hukuman dan ketaatan dan tahap perbuatan yang benar. Level yang kedua adalah level konvensional dengan tahap orientasi kesepakatan antar pribadi dan tahap orientasi hukum dan ketertiban. Level yang ketiga atau yang terkahir adalah level pasca-konvensional terdiri dari tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi pada keputusan suara hati dan prinsip etika universal. Kohlberg membagi tahapan tersebut berdasarkan penelitian mengenai dilemma moral.
kognitif. Hal ini berarti bahwa individu yang berusia lebih tua lebih memikirkan konsep abstrak dan menarik kesimpulan yang lebih logis mengenai interaksi sosial dibandingkan dengan individu yang masih muda, dalam hal ini adalah remaja.
Kohlberg (dalam Santrock, 2002) menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan pada perspektif kognitif terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkatan dan keenam tahapan moral tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia. Pada penelitian ini aka meniliti mengenai perkembangan moral pada remaja karena pada masa remaja, konsep moral tidak lagi sesempit pada masa anak-anak.
Bila perubahan terjadi, remaja akan berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional, artinya mereka melakukan dan mematuhi sesuatu sesuai dengan aturan-aturan, harapan-harapan, dan konvensi masyarakat atau penguasa. Pada masa remaja, penalaran anak-anak menjadi semakin berkembang dan mereka cenderung kurang dapat menerima disiplin orang tua, menuntut kemandirian yang lebih tegas, yang pada akhirnya menimbulkan kesulitan bagi hubungan antara orang tua dan anak itu sendiri (Kohlberg dan Gilligan dalam Monks, 2002) .
tingkat penalaran moral yang lebih tinggi. Remaja yang memiliki perkembangan moral dapat memilih hal yang baik dan hal yang buruk dalam melakukan tindakan sehingga tidak melakukan tindakan yang menyimpang.
Berdasarkan dari pengertian tentang hubungan antara perkembangan moral dan kenakalan remaja adalah bahwa tinggi rendahnya perkembangan moral akan mempengaruhi kenakalan remaja. Semakin tinggi perkembangan moral yang dimiliki oleh seorang remaja maka remaja akan berperilaku baik dan tidak menyimpang sesuai dengan norma yang ada.
D. Skema Penelitian
Level Perkembangan Moral: 1. Level Prakonvensional 2. Level Konvensional 3. Level Pascakonvensional
Bentuk Kenakalan Remaja
1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain
2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi 3. Kenakalan sosial yang menimbulkan korban
di pihak orang lain
4. Kenakalan yang melawan status
E. Hipotesis
38
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Metode korelasional bertujuan untuk menyatakan hubungan antara variabel yang tidak menunjukkan ketergantungan variabel satu dengan variabel lainnya seperti halnya dalam hubungan sebab akibat (Widi, 2010). Sedangkan pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang diambil menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006). Asumsi dari penelitian kuantitatif adalah bahwa fakta-fakta dari obyek penelitian memiliki realitas dan variabel-variabel yang dapat diidentifikasikan, serta hubungannya dapat diukur.
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel terbagi menjadi dua macam, yaitu variabel bebas (independen variable) dan variabel terikat (dependen variable). Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yang diidentifikasi sebagai berikut :
C. Definisi Operasional Penelitian
1. Perkembangan moral
Perkembangan moral adalah kemampuan seseorang untuk membedakan tindakan atau perbuatan yang benar dan salah disertai dengan beberapa sifat, seperti kejujuran, keadilan, kebaikan, dan penghormatan terhadap kebutuhan orang lain. Suatu tingkah laku dikatakan bermoral jika tingkah laku tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial tempat anak tinggal.
Perkembangan moral diukur dengan menggunakan Defining Issues Test (DIT) yang mengungkap penalaran moral individu. DIT menggunakan tahapan moral Kohlberg yang terdiri dari orientasi hukuman dan ketaatan, individualisme, tujuan, dan pertukaran, orientasi kesepakatan antar pribadi, orientasi hukum dan ketertiban, kontrak sosial dan hak-hak individu, dan prinsip etika universal. Semakin tinggi tahap perkembangan moral yang diperoleh oleh subjek, maka semakin baik perkembangan moralnya, demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah perkembangan moralnya.
2. Kenakalan remaja
sekolah, merokok, mengkonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, mencuri, dan melakukan tindak kekerasan.
Kenakalan remaja diukur dengan menggunakan skala perilaku kenakalan remaja yang mencakup empat bentuk kenakalan remaja menurut Jensen, yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak lain, dan kenakalan yang melanggar status. Semakin tinggi skor kenakalan remaja yang diperoleh, maka remaja lebih cenderung melakukan kenakalan, demikian juga sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka remaja tersebut memiliki perilaku kenakalan yang rendah.
D. Populasi dan Sampel
Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini siswa-siswi SMA kelas 1,2,3. Siswa-siswi SMA termasuk dalam tahapan remaja akhir dengan usia 16 sampai 19 tahun (Santrock, 2002).
dalam penelitian ini adalah convenience sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan kemudahan saja (Noor, 2011).
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan DIT (Defining Issues Test) untuk perkembangan moral dan skala perilaku kenakalan remaja.
1. Defining Issues Test (DIT)
Peneliti menggunakan alat ukur yang pernah digunakan oleh Suhartini (2000). Dalam DIT terdapat 6 cerita yang disusun oleh Kohlberg, masing-masing cerita terdiri dari 12 pernyataan, namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 3 cerita yang berhubungan dengan perkembangan moral. Peneliti tidak memakai semua cerita karena 3 cerita sudah dapat mewakili pertanyaan mengenai perkembangan moral dan dari 6 cerita tersebut ada beberapa cerita yang tidak sesuai dengan budaya di Indonesia. Dalam penelitian ini, 1 cerita terdiri dari 2-5 pertanyaan sehingga jika peneliti menggunakan semua cerita dalam DIT maka terdapat 30 pertanyaan dan hal ini dapat menimbulkan kejenuhan siswa yang dapat mempengaruhi kesungguhan siswa dalam menjawab.
dilakukan oleh seorang suami untuk kesembuhan istrinya, cerita kedua disertai dengan tiga pertanyaan tentang hukuman atau kebebasan untuk tahanan yang melarikan diri, dan cerita ketiga disertai dengan dua pertanyaan mengenai keputusan dokter untuk pasiennya. Setiap responden diharapkan hanya memilih satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan. Pilihan jawaban yang diberikan oleh responden ditafsirkan oleh peneliti dengan mencocokan kunci jawaban dengan tahapan-tahapan perkembangan moral Kohlberg.
Pilihan jawaban responden tersebut dikelompokkan ke dalam tahap-tahap. Langkah selanjutnya adalah menghitung prosentase jumlah jawaban yang telah dikelompokkan ke dalam tahap-tahap perkembangan moral lalu mengalikan hasil perhitungan persentase dengan tahapannya. Hasil dari perkalian tersebut kemudian dijumlahkan, dan hasil penjumlahan merupakan skor perkembangan moral.
Cara penghitungan perkembangan moral tersebut memakai langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengelompokkan jawaban moral yang telah dipilih oleh subyek ke dalam tahap-tahap perkembangan moral.
Tahap 1: Pemikiran moral didasarkan pada hukuman dan kepatuhan Tahap 2: Individualisme dan tujuan, didasarkan pada hadiah atau reward
Tahap 3: Norma interpersonal, individu menganggap rasa percaya, rasa sayang, dan kesetiaan sebagai dasar untuk melakukan penilaian moral
Tahap 4: Moralitas sistem sosial, penilaian moral didasarkan pada pemahaman terhadap aturan, hukum, keadilan, dan tugas sosial. Tahap 5: Hak komunitas dan hak individu, seseorang memiliki
pemahaman bahwa nilai dan hukum adalah relatif dan standar akan berbeda dengan yang dimiliki oleh orang lain.
Tabel 1.
Contoh Skoring Jawaban Subjek
Tahapan Soal
1 2 3 4 5 6
1 X
2 X
3 X
4 X
5 X
6 X
7 X
8 X
9 X
10 X
2. Menghitung persentase jumlah jawaban moral yang telah dikelompokkan ke dalam tahap-tahap.
3. Mengalikan hasil perhitungan persentase jawaban dengan tahapannya. 4. Menjumlahkan seluruh hasil perkalian. Jumlah akhir dari perhitungan
tersebut merupakan skor dari tahap perkembangan moral subjek.
Tahap 1: 3 (XXX) = jawaban subjek Tahap 2: 3 (XXX)
Tahap 4: 4 (XXXX)
10 (XXXXXXXXXX)
Kemudian hasil tersebut dikonversikan dengan persennya, akan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tahap 1: 3 maka 3/10x100 = 30% Tahap 2: 3 maka 3/10x100 = 30% Tahap 3: 4 maka 4/10x100 = 40%
Selanjutnya perhitungan persentase di atas dikalikan dengan tahapannya, maka:
Tahap 1x30 = 30 Tahap 2x30 = 60 Tahap 3x40 = 120 210
Didapatkan jumlah akhir sebesar 210 (dibulatkan) yang merupakan skor dari tahap perkembangan moral.
5. Menentukan tahap perkembangan moral dengan memasukkan jumlah skor yang diperoleh subjek menurut Plagiuso (dalam Suhartini, 2000) :
Tahap 4: 400 Tahap 5: 500 Tahap 6: 600
2. Skala Kenakalan Remaja
Skala kenakalan remaja disusun oleh peneliti berdasarkan empat aspek menurut Jensen (dalam Sarwono, 2002) yaitu kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan materi, kenakalan sosial yang menimbulkan korban di pihak lain, dan kenakalan yang melawan status. Jawaban dalam skala ini bersifat tertutup karena jawaban pertanyaan sudah disediakan dan subyek diminta untuk mengisi hanya satu jawaban yang sesuai dengan dirinya.
Jumlah aitem dalam skala kenakalan remaja berjumlah 47 pernyataan. Setiap pernyataan disediakan dalam empat alternatif jawaban, yaitu Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang (KD), Tidak Pernah (TP). Jawaban “selalu” memiliki skor 1, “sering” memiliki skor 2, “kadang-kadang” memiliki skor 3, dan jawaban “tidak pernah” memiliki skor 4. Semakin tinggi
Tabel 2.
Blue Print Skala Kenakalan Remaja
F. Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2006). Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu pengujian terhadap isi dari skala psikologi dan revisi butir-butir aitem berdasarkan pendapat professional atau professional judgement. Dalam penelitian ini,
professional judgement diperoleh dengan berkonsultasi pada dosen
pembimbing skripsi.
2. Seleksi Aitem
Tabel 3.
Blueprint Skala Kenakalan Remaja Sebelum Try Out
No Aspek Nomor Aitem Jumlah
1 Perilaku yang
menimbulkan korban fisik pada orang lain
1, 2, 3, 17, 18, 19 6 (13%)
4 Perilaku yang melanggar aturan dan status
Pengambilan data untuk uji coba dilakukan pada tanggal 8 Januari 2014 sampai dengan tanggal 17 Januari di SMA Santo Mikael Yogyakarta dengan memberikan proposal beserta surat pengantar dari Fakutas Psikologi kepada Kepala Sekolah untuk mendapatkan persetujuan. Siswa yang digunakan dalam uji coba yaitu berjumlah 46 siswa yang terdiri dari 21 siswa kelas X dan 25 siswa kelas XI.
memiliki korelasi aitem total ≥0.30, sedangkan aitem yang memiliki korelasi
aitem total kurang dari 0.3(<0.3) dianggap tidak memenuhi criteria sehingga harus digugurkan (Azwar, 1999). Setelah dilakukan uji coba dengan 47 soal, didapat hasil 8 aitem yang gugur sehingga terdapat 37 aitem yang baik.
Tabel 4.
Blue Print Skala Kenakalan Remaja Setelah Try Out
No Aspek Nomor Aitem Jumlah
1 Perilaku yang
menimbulkan korban fisik pada orang lain
1, 2, 3, 17, 18, 19 6 (13%)
4 Perilaku yang melanggar aturan dan status
Berikut ini ada skala final untuk penelitian yang sebenarnya setelah disusun ulang oleh peneliti.
Tabel 5.
Blue Print Skala Kenakalan Remaja Setelah Dilakukan Penyusunan Ulang
No Aspek Nomor Aitem Jumlah
1 Perilaku yang
menimbulkan korban fisik pada orang lain
1, 13, 24 3 (7%)
4 Perilaku yang melanggar aturan dan status
dengan 1.00 . Semakin tinggi koefisien reliabilitas yang diperoleh, berarti hasil pengukuran instrumen tersebut semakin dapat dipercaya.
Pengujian reliabilitas skala pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha untuk skala kenakalan remaja dan menghasilkan reliabilitas sebesar 0.925. Untuk soal-soal perkembangan moral menggunakan metode inter-rater. Metode inter-rater adalah pemberian rating yang dilakukan oleh beberapa raters yang berbeda dan independen satu sama lain terhadap kelompok subjek yang sama. Rating yang dilakukan oleh raters lain ditekankan pada konsistensi antar raters (Azwar, 2005). Pada metode inter-rater mencari reliabilitas menggunakan koefisien Cohen’s Kappa dan menghasilkan reliabilitas sebesar 0.50. Fleiss (dalam Widhiarso, 2005) mengkategorikan tingkat reliabilitas antar rater menjadi tiga kategori, yaitu: 1. κ < 0.40 = Buruk
2. 0.40 < κ < 0.75 = Baik 3. κ > 0.75 = Memuaskan
Berdasarkan dari kategori reliabilitas di atas, maka koefisien reliabiltas kappa soal-soal perkembangan moral sebesar 0.50 termasuk dalam kategori baik.
G. Metode Analisis Data
1. Uji Normalitas
2011). Sebaran data dapat dinyatakan berdistribusi normal apabila memiliki signifikansi diatas 0.05 (p>0.05). Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Test.
2. Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara kedua variabel membentuk garis lurus atau tidak. Hubungan kedua variabel dapat dikatakan linear apabila memiliki signifikansi dibawah 0.05 (p<0.05). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan teknik test for liniearity yang terdapat pada program SPSS.
3. Uji Hipotesis
54
BAB 1V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengurus perizinan pada tanggal 20 Februari 2014 ke beberapa SMA swasta di Yogyakarta dengan menyerahkan surat pengantar dari Fakultas Psikologi. Pada tanggal 24 Maret 2014 peneliti mendapatkan ijin melaksanakan penelitian di SMA Bruderan Purworejo. Sebelumnya peneliti bertemu dengan guru BK sekaligus menyerahkan proposal dan contoh dari skala kenakalan remaja dan soal tentang perkembangan moral, kemudian dilakukan kesepakatan untuk menentukan pelaksanaan penelitian. Penelitian dilksanaakan pada tanggal 26-27 Maret 2014 di SMA Bruderan Purworejo dengan 90 siswa yang terdiri dari 45 siswa kelas X dan 45 siswa kelas XI.
B. Deskripsi Subjek Penelitan
Tabel 6.
Deskripsi Usia Subjek Penelitian
Usia Kelas Jenis Kelamin
15 tahun 16 tahun 17 tahun SMA X SMA XI Perempuan Laki-laki
21 43 26 45 45 53 37
C. Deskripsi Data Penelitian
Tabel 7.
Perbandingan Mean Teoritik dan Mean Empirik Perkembangan Moral dan
Kenakalan Remaja
N Mean Teoritik Mean Empirik Sign.
Perkembangan Moral 90 35 42.2 0.000
Kenakalan Remaja 90 97.5 143.7 0.000
tahap ke tiga dan keempat yang termasuk dalam tingkat kedua perkembangan moral.
Variabel kenakalan remaja memiliki mean teoritik sebesar 97.5 dan mean empirik sebesar 143.7. Dari hasil penghitungan diketahui bahwa hasil dari kedua mean tersebut memiliki signifikansi di bawah 0.05, yaitu 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua mean tersebut. Hasil di atas menunjukkan mean empirik kenakalan remaja lebih besar dari mean teoritiknya (143.7 > 97.5). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai kenakalan remaja yang diperoleh tinggi yang berarti kenakalan remaja yang dimiliki subjek dalam penelitian ini rendah.
D. Kategorisasi
Tabel 8.
Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Soal Perkembangan Moral
Rentang Nilai Kategori Frekuensi Presentase
X > 55 Tinggi 17 18.9 %
37 ≤ X ≤ 47.43 Sedang 62 68.9 %
X < 37 Rendah 11 12,2 %
Jumlah 90 100 %
Berdasarkan hasil penghitungan data diketahui bahwa dalam variabel perkembangan moral, subjek yang termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 18.9 %, kategori sedang sebesar 68.9%, dan kategori rendah sebesar 12.2 %.
Tabel 9.
Kategorisasi Subjek Berdasarkan Skor Skala Kenakalan Remaja
Rentang Nilai Kategori Frekuensi Presentase
X < 134.9 Tinggi 9 10 %
134.9 ≤ X ≤ 152.47 Sedang 72 80 %
X > 156 Rendah 9 10 %
Jumlah 90 100 %
E. Analisis Data Penelitian
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, dilakukan pengujian asusmsi terlebih dahulu pada data yang diperoleh. Uji asumsi tersebut terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dari variabel penelitian yang diperoleh berasal dari data yang berdistribusi normal atau tidak. Jika taraf signifikansi berada di atas 0.05 (p>0.05) maka data tersebut berdistribusi normal. Dari hasil penghitungan data, dapat diperoleh hasil dari variabel perkembangan moral sebesar 0.348 dan dari variabel kenakalan remaja sebesar 0.062. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel berdistribusi normal karena p lebih besar dari 0.05 (p>0.05). Berdasarkan hasil tersebut, uji normalitas variabel perkembangan moral dan kenakalan remaja dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 10.
Ringkasan Uji Normalitas (One-Sample-Kolmogorov-Smirnov Test)
Variabel KS-Test Asymp-sig (p) Sebaran
2. Uji Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel dari penelitian mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Dua variabel dapat dikatakan linear atau tidak jika memiliki taraf signifikansi kurang dari 0.05 (p<0.05). Dari penghitungan data, didapat hasil hubungan perkembangan moral dan kenakalan remaja memiliki signifikansi 0.011. Oleh karena itu, kedua variabel memiliki hubungan yang linear karena p lebih kecil dari 0.05 (p<0.05). Hasil dari uji linearitas tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel 11.
Ringkasan Uji Linearitas
Variabel F Sig.
Perkembangan Moral Dan Kenakalan Remaja
(Between Group)
(Combined) 1.136 0.337
Linearity 6.6760 0.011 Defiation from Lineraity 0.824 0.667
3. Uji Hipotesis
Tabel 12.
Ringkasan Uji Hipotesis Perkembangan Moral dan Kenakalan Remaja
Hubungan
Standarlized Coefficient
R R2 Sig (2-tailed)
Perkembangan Moral dan Kenakalan Remaja
-0.272 0.074 0.010