• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan kasus-kasus baru yang muncul. Acquired Immuno Deficiency

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. ditemukan kasus-kasus baru yang muncul. Acquired Immuno Deficiency"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Kasus HIV/AIDS di Indonesia saat ini tergolong tinggi. Banyak ditemukan kasus-kasus baru yang muncul. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) sendiri adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Sedangkan HIV (human immunodeficiency virus) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan kekurangan sistem imun dan sampai sekarang belum ada obatnya (wikipedia.org).

Berdasarkan laporan Departemen Kesehatan dari Januari sampai Desember 2011 tercatat 21.031 kasus HIV dan 4.162 kasus AIDS baru di Indonesia. Sedangkan total kumulatif kasus HIV di Indonesia sampai 2011 ada 76.789 kasus dan total kumulatif kasus AIDS sampai tahun 2011 sebanyak 29.879 kasus. Kasus HIV/AIDS ini merupakan fenomena gunung es, masih banyak kasus yang belum terungkap. Setiap tahun selalu ditemukan kasus HIV/ AIDS baru. Di tahun 2011 penularan melalui hubungan seks tidak aman pada heteroseksual merupakan cara penularan yang terbanyak.

(2)

commit to user

Saat ini korban bahkan tidak memandang status, pekerjaan, maupun usia. Tidak hanya kelompok resiko tinggi yang terkena seperti WPS (Wanita Pekerja Seksual) namun saat ini banyak juga ditemukan korban yang berasal dari Ibu rumah tangga dan anak-anak. Bahkan berdasarkan laporan dari Kementrian Kesehatan, di tahun 2011 tercatat jumlah kasus AIDS tertinggi adalah berasal dari Ibu rumah tangga yaitu 622 kasus, diikuti karyawan 587 kasus, wiraswasta 544 kasus, buruh kasar 251 kasus, petani/peternak/nelayan 173 kasus dan penjaja seks 140 kasus (Gambar I.1).

Gambar I.1

Grafik Jumlah Kasus AIDS Menurut Pekerjaan di Indonesia Tahun 2011

Sumber : Laporan Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Tahun 2011 Kementrian Kesehatan RI

Dengan munculnya kasus HIV/AIDS di ibu rumah tangga ini tentu perlu diwaspadai juga bisa menular kepada anak. Pada tahun 2011 tercatat angka penularan dari ibu ke anak 2,7 %. Dengan banyaknya ibu rumah tangga

1 1 2 4 8 26 36 47 78 79 105 123 140 173 251 544 587 622 0 100 200 300 400 500 600 700 Manajer / eksekutif Pramugari / Pilot Turis Tenaga profesional medis Seniman / aktor/ pengrajin Pelaut ABRI/POLRI Tenaga profesional non medis Anak Sekolah / mahasiswa Supir PNS Narapidana Penjaja seks Petani/peternak/nelayan Buruh Kasar Wiraswasta Tenaga non profesional…

(3)

commit to user

yang terinfeksi berarti menunjukkan bahwa kelompok resiko rendah juga perlu mendapat perhatian khusus dalam masalah HIV/AIDS, khususnya di masyarakat umum karena merekalah yang lebih dekat dan mengenal mereka.

Selain itu adanya remaja dengan NAPZA suntik, masyarakat dengan IMS (Infeksi Menular Seksual), penjaja seks yang belum semua mau memakai kondom, ada ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) dan OHIDHA (Orang Hidup Dengan HIV AIDS) yaitu kelompok keluarga yang terinfeksi HIV/AIDS yang hidup ditengah masyarakat, dimana stigma masih tinggi karena kekurangan informasi yang benar di masyarakat tentang HIV & AIDS sehingga mereka merasa dikucilkan. Mereka juga perlu mendapat perhatian. Karena hal-hal itulah penanggulangan HIV/AIDS perlu dilakukan oleh semua pihak.

Kasus HIV/AIDS ini juga menjadi salah satu target MDG’s (Millenium Development Goals) dalam aspek kesehatan. Targetnya pada tahun 2015, terjadi penurunan epidemi HIV/AIDS menuju zero growth. Oleh karena itu target-target MDG’s mulai dievaluasi dan diukur capaian targetnya lalu mulai diintervensi melalui program peraturan perundangan. Dalam hal ini perlu adanya pertisipasi masyarakat secara langsung dalam menanggulangi HIV AIDS. Hal ini dirasa perlu karena selama ini program penanggulangan HIV AIDS belum banyak melibatkan masyarakat secara langsung, baik dalam mengidentifikasi, merumuskan dan melaksanakan program. Selama ini yang lebih banyak bergerak aktif adalah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) serta KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dengan lebih banyak menekankan kasus pada populasi kunci seperti waria, wanita pekerja seks, laki suka laki. LSM dan

(4)

commit to user

KPA juga punya keterbatasan dimana mereka tidak mungkin bisa terus mengawasi mereka secara terus menerus. Oleh karena itu perlu adanya partisipasi dari masyarakat untuk ikut serta dalam penanggulangan HIV/AIDS khususnya di kalangan masyarakat itu sendiri dengan konsep dari masyarakat, oleh masyarakat untuk masyarakat melalui pembentukan gerakan Warga Peduli AIDS (WPA) di tingkat kelurahan. Dengan adanya gerakan Warga Peduli AIDS ini mereka bisa lebih mengawasi daerah mereka masing-masing.

Hal ini terkait dengan arah dari kebijakan nasional dalam PERPRES No 75 Tahun 2006 menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan instansi Pemerintah Pusat maupun instansi Pemerintah Daerah, dunia usaha, organisasi non pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, badan internasional, dan/atau pihak-pihak lain yang dipandang perlu, serta melibatkan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa perlu adanya peran aktif multi pihak yaitu dari pemerintah, swasta (termasuk masyarakat), mereka yang terinfeksi dan terdampak. Area program mulai dari pencegahan, perawatan, dukungan pengobatan dan juga mitigasi serta dukungan lingkungan yang kondusif.

Berdasarkan Materi Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Penanggulangan HIV&AIDS salah satu peran yang

penting adalah peran serta dari masyarakat. dalam peraturan ini tertera:

1. Masyarakat bertanggung jawab untuk berperan serta dalam kegiatan penanggulangan HIV-AIDS serta perlindungan ODHA (Orang Dengan

(5)

commit to user

HIV AIDS) & OHIDHA (Orang Hidup Dengan HIV AIDS), dengan cara berperilaku hidup sehat, meningkatkan ketahanan keluarga, mencegah stigma & diskriminasi pada ODHA, OHIDHA dan keluarganya, aktif dalam kegiatan pencegahan, dan pendampingan.

2. Tokoh masyarakat melakukan sosialisasi

3. Masyarakat mendorong setiap orang yang beresiko terhadap penularan HIV & IMS (Infeksi Menular Seksual) untuk memeriksakan kesehatannya ke klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing)

4. Setiap orang yang terinfeksi HIV-AIDS agar mengikuti rehabilitasi.

Selain itu dalam strategi nasional penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2007-2010 yang ditetapkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ditegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat sipil dan pemerintah berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat sipil termasuk LSM, KDS dan ODHA serta OHIDHA menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Oleh karena diperlukan adanya dukungan dari masyarakat dalam penanggulangan HIV AIDS yang bisa berwujud Gerakan Warga Peduli AIDS.

Warga Peduli AIDS (WPA) adalah Kelompok masyarakat yang terdiri dari berbagai komponen dalam suatu lingkungan masyarakat, baik di tingkat Desa, Kelurahan, Rukun Warga (RW), Dusun, Blok dan tingkatan yang sejenis yang ada di suatu lingkungan tempat tinggal. Tujuan dari Warga Peduli AIDS

(6)

commit to user

ini adalah terbangunnya kesadaran kritis dan kesadaran publik dalam merespon HIV-AIDS. Peran utama WPA adalah menggerakkan masyarakat untuk ikut serta terlibat secara langsung dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. WPA ini bisa dibilang berhasil apabila terorganisirnya kelompok masyarakat peduli AIDS, dan seluruh lapisan masyarakat mengetahui cara pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS seperti cara penularannya, cara memperoleh layanan kesehatan/pengobatan, dan kemana harus rehabilitasi (KPAN, 2008: 15-19). Sehingga diharapkan tahun 2015 penyebaran HIV/AIDS menurun.

Sebagai kota budaya dan pariwisata, Kota Surakarta juga sangat rentan terhadap paparan virus HIV/AIDS. Bahkan kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta menempati urutan kedua se-Jawa Tengah setelah Semarang. Hal tersebut bisa dilihat dalam grafik berikut.

Gambar I.2

Grafik Kasus Kumulatif HIV & AIDS Yang Dilaporkan 20 Besar Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah 1993 S/D 31 Des 2011

Sumber : KPA Provinsi Jawa Tengah (http://aidsjateng.or.id)

Sm g Ska By ms Ck Pati Jpr Sm g Kdl Tgl Tm g Grb g Blg Sltg Kb mn Dm k Srg Rm bg Tg Wn sb Kry r AIDS 212 140 89 117 85 159 45 73 73 92 101 25 58 78 77 60 58 33 46 50 HIV 693 376 306 166 155 62 140 78 69 50 39 100 66 17 9 20 22 44 21 12 0 200 400 600 800 1000

(7)

commit to user

Tabel I.1

Kasus Temuan HIV/AIDS di Kota Surakarta Tahun 2005-2011

Tahun Jumlah temuan

2005 4 2006 46 2007 52 2008 107 2009 108 2010 175 2011 200 Total 692

Sumber: KPA Kota Surakarta

Temuan kasus HIV-AIDS dari tahun ke tahun di Surakarta sendiri selalu bertambah setiap tahun. Dari tahun 2005 sampai 2011 telah ditemukan 692 kasus HIV-AIDS (Tabel I.1). Mengikuti strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS yang telah ditetapkan Komisi Penanggulangan AIDS nasional maka kelurahan-kelurahan di kota Surakarta mulai tahun 2011 juga mulai membentuk gerakan Warga Peduli AIDS. Kalau mungkin selama ini yang menangani kasus HIV/AIDS di kota Surakarta adalah KPA dan LSM-LSM terkait, sekarang masyarakat sudah mulai dilibatkan. Karena masyarakat sekitarlah yang lebih mengenal lingkungan dan anggota masyarakat di sekitar mereka, sehingga penanggulangan dan pengawasan lebih bisa terkendali.

Saat ini di Kota Surakarta sudah terbentuk WPA di 6 kelurahan yaitu kelurahan Mangkubumen, Punggawan, Baluwarti, Setabelan, Gilingan, Kestalan dan Semanggi (http://joglosemar.com, 4 Oktober 2012). Disini

(8)

commit to user

peneliti ingin mengambil studi kasus efektivitas Warga Peduli AIDS di Kelurahan Kestalan. Peneliti mengambil studi kasus di Kelurahan Kestalan karena Kelurahan ini merupakan kelurahan yang cukup rentan terhadap paparan HIV/AIDS dibandingkan wilayah lainnya. Kelurahan Kestalan merupakan kelurahan yang cukup terkenal di wilayah Surakarta akan prostitusi ilegalnya yang sangat berdekatan dengan masyarakat umum. Selain itu Kelurahan Kestalan ini merupakan pilot project gerakan Warga Peduli AIDS di Kota Surakarta. Sehingga jika Warga Peduli AIDS di Kelurahan Kestalan ini berhasil bisa menjadi percontohan bagi gerakan Warga Peduli AIDS di Kelurahan - Kelurahan lain di Surakarta.

Gerakan Warga Peduli AIDS di kelurahan ini sendiri sudah dibentuk sejak tahun 2009 dengan nama sebelumnya adalah Pokja Penanggulangan HIV/AIDS, dan mulai tahun 2011 berganti nama menjadi Warga Peduli AIDS. Kegiatan yang dilakukan Warga Peduli AIDS di Kelurahan ini antara lain pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Sosial) rutin yang diadakan setiap bulan, pemeriksaan VCT, pertemuan rutin dengan stakeholder, serta penyuluhan dan sosialisasi ke seluruh warga di Kelurahan Kestalan tentang HIV AIDS. Dengan kegiatan – kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik khususnya warga di Kelurahan Kestalan terhadap HIV/AIDS sehingga bisa memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS.

Melihat permasalahan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji sejauh mana efektivitas pelaksanaan gerakan Warga Peduli AIDS (WPA) di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, apakah organisasi

(9)

commit to user

yang berbasis partisipasi masyarakat bisa berhasil khususnya dalam hal penanggulangan HIV/AIDS.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka peneliti merumuskan masalah yang menjadi pokok kajian utama, yaitu “Bagaimana efektivitas Warga Peduli AIDS (WPA) di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Tujuan Operasional

Mengetahui gambaran terkait efektivitas Warga Peduli AIDS (WPA) di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.

2. Tujuan Fungsional

Untuk melengkapi tugas akhir sebagai salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana pada jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi gerakan Warga Peduli AIDS Kelurahan Kestalan, hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan kepada Warga Peduli

(10)

commit to user

AIDS Kelurahan Kestalan dalam memperbaiki strategi – strategi dalam penanggulangan HIV/AIDS.

2. Bagi akademisi , hasil penelitian ini diharapkan memberikan tambahan pengetahuan dan masukan untuk penelitian selanjutnya mengenai strategi-strategi dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Gambar

Grafik Kasus Kumulatif HIV & AIDS Yang Dilaporkan 20 Besar  Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah 1993 S/D 31 Des 2011

Referensi

Dokumen terkait

 Balon resusitasi neonatus dengan katup pelepas tekanan  Reservoar oksigen untuk memberikan O2 90-100%..  Sungkup wajah dengan bantalan pinggir,

Efisiensi reduksi pada ketinggian medium filter 50 cm adalah yang paling besar karena jumlah mikroba denitrifikasi dalam media biofilter lebih banyak secara kuantitas dibandingkan

Hal ini diduga karena pengolahan tanah mini- mum dengan penutupan mulsa 30 % sampai 60 % dapat melindungi permukaan tanah dari cahaya matahari langsung, mengendalikan kelembaban

Pihak kedua akan melakukan supervisi yang diperlukan serta akan melakukan evaluasi terhadap capaian kinerja dari perjanjian ini dan mengambil tindakan yang diperlukan dalam

30 menit sebelum datang ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa pasien mengalami kejang, kejang berlangsung selama 5 menit, kejang terjadi di sebagian tubuh pasien yaitu tangan

Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segalanya sesuatunya

Hal ini juga dapat dihubungkan dengan saat muncul gejala awal serangan virus yang lebih lambat (Tabel 1) dan pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi (Tabel 2)

1.3 Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.. Memahami klasifikasi zat 2.1