• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan industri pada masa kini telah berada pada masa perkembangan yang sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya perusahaan ataupun industri-industri yang bermunculan. Perusahaan pun berusaha untuk meningkatkan produktivitas demi memenangkan persaingan dengan perusahaan lain. Peningkatan produktivitas perusahaan berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang kondusif sehingga mampu menciptakan efisiensi dan efektivitas pekerja.

Di dalam aktivitas pekerja di perusahaan tersebut, terkadang kegiatan penanganan material secara manual (manual material handling) oleh pekerja tidak bisa dihindarkan. Kemudahan penanganan material dengan biaya yang minimal serta tingginya tingkat fleksibilitas menjadi alasan sebuah perusahaan untuk menangani material secara manual. Dibalik kemudahan tersebut, penanganan material secara manual oleh pekerja mampu meningkatkan penyakit akibat kerja seperti nyeri punggung bawah (low back pain) maupun cidera pada otot rangka (musculoskeletal disorders). Nyeri punggung bawah dirasakan oleh kebanyakan orang dengan persentase setiap tahunnya mencapai 10%-15% menurut Anderson (1999) dalam Ghaffari (2007). Nyeri punggung bawah juga merupakan salah satu penyebab ketidakhadiran pekerja serta salah satu penyebab pensiun dini di Swedia dan negara Barat lainnya menurut Nachemson (2000) dalam Ghaffari (2007). Musculoskeletal disorders pada umumnya terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan karena beban kerja yang berat dengan durasi pembebanan yang panjang (Grandjean, 1993). Cidera otot rangka (musculoskeletal disorder) merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak kepada cost yang dikeluarkan oleh perusahaan. Menurut Norlund dan Waddell (2000) dalam Ghaffari (2007), lebih dari 50% dari keseluruhan cidera pada otot rangka adalah nyeri punggung bawah yang dirasakan oleh pekerja dimana penyakit ini berdampak kepada GNP (gross

(2)

national product) sebesar 1-2%. Menurut Ghaffari (2007), secara umum terdapat lima penyebab nyeri punggung bawah tersebut, yaitu faktor usia, faktor jenis kelamin, faktor antropometri, faktor aktivitas fisik, dan faktor kebiasaaan merokok. Selain itu, terdapat dua kategori lain penyebab nyeri punggung bawah yaitu resiko fisik dan resiko mental. Yang termasuk resiko fisik adalah aktivitas pemindahan material secara manual (manual material handling), aktivitas fisik dengan membungkuk dan memutar (bending and twisting), vibrasi pada seluruh tubuh (whole body vibration), dan posisi duduk saat bekerja (sitting position). Sedangkan untuk resiko beban mental, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri punggung bagian bawah yaitu keadaan lingkungan kerja, peraturan maupun pengambilan keputusan saat bekerja, hubungan dengan rekan kerja, dan kepuasaan dalam bekerja. Pemindahan material secara manual merupakan penyebab terbesar dari adanya nyeri punggung bawah yang dirasakan oleh pekerja sebesar 63-70% (Snook dkk, 1978; Bigos dkk, 1986; serta Murphy dan Courtney, 2000).

Karena banyaknya kasus mengenai cidera otot rangka, khususnya nyeri punggung bagian bawah, National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) berupaya untuk menurunkan angka penyakit karena nyeri punggung bawah ini. Pada tahun 1981, NIOSH melakukan penelitian dengan menemukan sebuah persamaan pembebanan yang disebut Recommended Weight Limit (RWL). Pada persamaan ini, nantinya bisa didapatkan besarnya beban yang direkomendasikan untuk dapat diangkat oleh pekerja dengan kondisi sehat serta mampu meminimalkan cidera otot rangka dalam durasi kerja hingga 8 jam (Waters dkk, 1994). NIOSH kembali memperbaiki persamaan tersebut pada tahun 1991 untuk menentukan besarnya RWL dengan menambahkan faktor asimetris dan faktor pegangan (coupling). Di dalam membangun persamaan RWL tersebut, NIOSH mempertimbangkan tiga kriteria, yaitu fisiologi, psikofisik, dan biomekanik. Untuk kriteria fisiologi, NIOSH menggunakan parameter energy expenditure di dalam menetapkan batasan aman pengangkatan beban. Batasan aman energy expenditure yang ditetapkan oleh NIOSH adalah sebesar 2,2-4,7 kkal/menit. Selain itu, skala Borg RPE merupakan salah satu metode pengukuran secara psikofisik. Skala RPE dan pengukuran denyut jantung memiliki peran yang

(3)

penting di dalam menganalisis faktor risiko pada manusia. Jika keduanya digunakan secara bersamaan untuk menganalisis faktor risiko tersebut, maka keduanya akan mampu memberikan hasil yang lebih akurat (Borg, 1982). Sejak saat itu, banyak penelitian yang dilakukan untuk membahas persamaan RWL tersebut secara lebih lanjut.

Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh NIOSH dalam membahas persamaan RWL tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Honsa dkk (1998) serta Adams dkk (2010) menyatakan bahwa beban dengan good coupling tidak selalu menghasilkan tingkat kelelahan yang paling rendah pada pekerja. Penelitian oleh Nussbaum dkk (1995) juga menyatakan bahwa faktor asimetris pada persamaan RWL tersebut tidak selalu berbanding secara linier terhadap resiko penyakit yang ditimbulkan. Penelitian yang dilakukan Ciriello (2005) menyatakan bahwa persamaan RWL yang digunakan selama ini belum termasuk aktivitas pengangkatan beban dengan kombinasi aktivitas lainnya.

Perbedaan hasil penelitian juga dikarenakan oleh latar belakang ras (suku bangsa) karena hal ini akan berpengaruh kepada ukuran antropometri responden penelitian dan mempengaruhi hasil penelitian tersebut. Menurut Nurmianto (1991) dan Stevenson (1989) dalam Nurmianto (1991), sumber variabilitas satu populasi dengan populasi lain dipengaruhi oleh keacakan walaupun memiliki kriteria yang sama, jenis kelamin, suku bangsa, usia, jenis pekerjaan, pakaian, faktor kehamilan wanita, dan cacat fisik. Wu dkk (2000), Zhu dan Zhang (1990), Wu (2003), dan Lee (1995) telah melakukan penelitian mengenai persamaan RWL di Negara Cina, sedangkan Singh dan Kumar (2010) juga telah melakukan penelitian mengenai persamaan tersebut di Negara India. Beberapa hasil penelitian itu menunjukkan perbedaan hasil dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh NIOSH pada persamaan RWL tersebut.

Pekerja dengan aktivitas pengangkatan beban secara manual masih banyak ditemukan di Indonesia. Contoh aktivitas tersebut adalah pekerja pengangkut tas koper ataupun barang lainnya (porter) di stasiun, petugas pengangkut barang yang memindahkan barang ke truk dengan pengangkatan manual, serta pekerja manual di gudang-gudang penyimpanan material. Dengan adanya perbedaan ukuran

(4)

antropometri dengan orang-orang Eropa dan Amerika yang merupakan asal dari persamaan RWL tersebut, maka akan muncul kemungkinan bahwa persamaan itu tidak sesuai dengan ukuran antropometri orang Indonesia di dalam melakukan aktivitas pengangkatan beban. Menurut Gross dkk (2000) bahwa ukuran antropometri tubuh berpengaruh secara signifikan terhadap kapasitas pengangkatan seseorang. Salah satu faktor pengali yang menarik adalah faktor pengali asimetris pengangkatan beban secara manual. Menurut Dempsey dan Fatallah (1999), faktor pengangkatan beban manual secara asimetris sebenarnya sangat dihindari dalam suatu industri karena secara ergonomi, postur pekerja akan menjadi sangat berbahaya. Namun di dalam industri, pengangkatan secara asimetris tidak dapat dihindari karena menurut Drury dkk (1982) di dalam Dempsey dan Fathallah (1999) bahwa lebih dari 80% pekerjaan dari 2038 pengangkatan beban, pekerja melakukan pengangkatan manual secara asimetris.

Oleh karena itu, peneliti berusaha untuk melakukan penelitian mengenai persamaan faktor pengali asimetris dalam RWL tersebut terhadap subyek orang Indonesia. Subyek yang dipilih di dalam penelitian ini adalah mahasiswi Indonesia karena umur mahasiswi Indonesia masih tergolong pada rentang usia produktif pekerja dimana menurut BPS (Badan Pusat Statistik, 2007) bahwa usia produktif di Indonesia berada pada kisaran umur 15-59 tahun. Selain itu, dipilih mahasiswa dengan jenis kelamin perempuan karena perbedaan kemampuan antara perempuan dan laki-laki.

1.2 Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang di atas, maka rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah bagaimana rumusan faktor pengali asimetris dengan mempertimbangkan kriteria fisiologi, yaitu denyut jantung dan energy expenditure, serta skala Borg RPE (rating of perceived exertion) terhadap mahasiswi Indonesia.

(5)

1.3 Asumsi dan Batasan

Agar nantinya penelitian yang dilakukan ini tidak melebar ke fokus pembahasan lain, maka berikut ini adalah asumsi dan batasan yang ada di dalam penelitian ini.

1.3.1 Asumsi

Asumsi di dalam penelitian ini adalah:

a. Semua responden berada dalam kondisi yang baik dan sehat saat melakukan penelitian.

b. Suhu ruang dan kelembaban relatif di dalam penelitian ini sesuai dengan kondisi pada umumnya dan tidak berpengaruh terhadap hasil penelitian.

c. Enam responden melakukan aktivitas pengangkatan dengan selang waktu < 2 jam setelah makan (buka puasa), dan hal ini dianggap tidak berpengaruh pada hasil penelitian.

d. Saat waktu istirahat selama 10-20 menit, denyut jantung responden dianggap sudah berada pada kondisi stabil dan normal.

1.3.2 Batasan

Batasan yang ada di dalam penelitian ini adalah:

a. Responden di dalam penelitian ini adalah mahasiswi Indonesia. b. Variabel yang diteliti adalah mengenai faktor asimetris pada

aktivitas pengangkatan beban terhadap denyut jantung, energy expenditure, dan nilai rating of perceived exertion (RPE).

c. Sudut asimetris pada penelitian ini diukur dari garis sagital tubuh terhadap titik tengah beban.

d. Sudut twisting tubuh responden lebih kecil daripada sudut beban. e. Responden di dalam penelitian ini melakukan aktivitas

pengangkatan dengan kedua tangan.

f. Saat mengangkat beban, kaki responden selalu menghadap ke depan dan tidak ikut melakukan twisting maupun pivot.

(6)

g. Denyut jantung yang diambil untuk pengukuran adalah denyut jantung pada 5 menit terakhir, baik saat denyut jantung istirahat maupun denyut jantung aktivitas.

h. Faktor pengali perpindahan, faktor pengali vertikal, dan faktor pengali coupling di dalam penelitian ini dibuat sebesar 1 agar tidak berpengaruh kepada hasil penelitian terhadap faktor pengali asimetri.

i. Frekuensi di dalam penelitian ini adalah 1 kali pengangkatan per menit dengan durasi aktivitas pengangkatan selama 30 menit. j. Pengangkatan dilakukan dari ketinggian 75 cm di atas lantai ke

ketinggian 100 cm di atas lantai. k. Jarak horisontal awal sebesar 50 cm.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan di dalam penelitian ini adalah:

a. Menganalisis lebih lanjut mengenai sudut pengangkatan beban dengan subyek mahasiswi Indonesia terhadap denyut jantung dan energy expenditure, serta nilai Skala Borg RPE (rating of perceived exertion).

b. Mendapatkan faktor pengali asimetris (AM) usulan dengan mempertimbangkan kriteria RPE dan kriteria fisiologi dengan subyek mahasiswi Indonesia.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

a. Memberikan masukan, gambaran, dan pertimbangan mengenai pekerjaan pengangkatan beban atau material secara manual bagi pekerja berdasarkan pada persamaan RWL dalam hal faktor pengali asimetris dengan subyek mahasiswi Indonesia.

(7)

b. Meminimalkan cedera tulang belakang dan otot rangka dengan memberikan rekomendasi mengenai usulan rumusan faktor pengali asimetris di dalam persamaan RWL dengan subyek mahasiswi Indonesia.

c. Memberikan rekomendasi mengenai pengangkatan beban secara asimetri terhadap perancangan sistem kerja di dunia industri.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

PSEKP selain merupakan institusi penelitian dan kebijakan di Indonesia yang sangat responsif dalam melakukan kajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian dan telah banyak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

anita usia subur - cakupan yang tinggi untuk semua kelompok sasaran sulit dicapai ;aksinasi rnasai bnntuk - cukup potensial menghambat h-ansmisi - rnenyisakan kelompok

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang

• Senyawa yang dikonjugasi pada antigen atau antibodi untuk dapat mem-visualisasi reaksi Ag-Ab.. • Dapat berupa enzim, senyawa berfluoresensi,