• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. formula, jeruk, air teh madu air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. formula, jeruk, air teh madu air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASI Eksklusif

2.1.1 Pengertian ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa tambahan cairan seperti susu formula, jeruk, air teh madu air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, biskuit, bubur susu, bubur nasi dan tim. Pemberian ASI secara Eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan. Setelah bayi 6 bulan harus dimulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih 2 tahun (Roesli, 2004).

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. Sedangkan ASI Eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa pemberian cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim (Purwanti, 2004). Sedangkan menurut Suradi (2008), ASI Eksklusif adalah pemberian ASI murni tanpa bayi diberi tambahan lain seperti cairan air putih, teh, madu, buah-buahan, maupun makanan tambahan seperti bubur susu atau bubur saring dan sebagainya, sampai usia bayi 6 bulan. Non ASI Eksklusif adalah pemberian ASI

(2)

didampingi dengan makanan lain sebelum bayi berumur 6 bulan seperti teh, madu, sari buah, susu formula, bubur, buah dan lain-lain.

Rekomendasi dari lembaga-lembaga dunia ini diadopsi di Indonesia melalui UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 128 ayat 1 menyatakan “ setiap bayi berhak mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan, kecuali atas indikasi medis”. Selain itu Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 50/Menkes/SK/IV/2004 menyatakan bahwa pemberian ASI dapat dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal.

Menurut WHO dalam Inaya Abdullah (2012), merekomendasikan empat hal penting dalam pemberian makanan bayi dan anak-anak, yaitu:

1. Memberikan ASI kepada bayi segera selama waktu 30 menit setelah bayi lahir,

2. Memberi hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan (ASI Eksklusif),

3. Memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan,

4. Meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. 2.1.2 Kandungan Gizi dalam ASI

ASI memiliki komponen gizi yang cukup banyak, kompleks dan sifat yang sangat unik. Roesli ( 2009), mengatakan ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, hormon, enzim, zat kekebalan dan sel darah putih.

(3)

Komposisi ASI yaitu: karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin (Hubertin, 2004). Berikut ini dijelaskan beberapa zat yang terkandung dalam ASI yaitu:

1) Kolostrum

Segera setelah melahirkan, ASI yang keluar bewarna kekuning-kuningan, kental dan agak lengket. ASI ini disebut kolostrum dan diproduksi selama kira-kira seminggu pertama. Selanjutnya, ASI yang diproduksi bewarna putih. Dibandingkan dengan ASI yang berwarna putih, kolostrum lebih banyak mengandung protein, vitamin A, Natrium dan seng, lebih banyak mengandung immunoglubin A dan laktoferin serta sedikit lemak dan laktosa. Kolostrum mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir. Dengan demikian, saluran pencernaan bayi siap menerima makan yang datang (Roesli, 2009).

2) Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu formula. Protein dalam ASI dan susu formula terdiri dari protein whey dan casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu formula lebih banyak mengandung protein casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah casein yang terdapat di dalam ASI hanya 30%, dibanding susu formula yang mengandung protein dalam jumlah yang tinggi (80%) (Badriul, 2008).

(4)

1) Lemak

Kandungan lemak total ASI bevariasi antar ibu yang satu dengan yang lainnya dari satu fase ke fase lainya. ASI yang pertama keluar selama menyusui disebut ASI Awal (foremilk). Cairan ini mengandung kira-kira 1-2 persen lemak dan tampak encer. Air susu encer ini membantu memberikan kepuasan kepada bayi yang haus ketika mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut susu akhir (hindmilk) yang mengandung lemak empat kali lebih banyak dari foremilk. Susu hindmilk memberi hampir seluruh energi. Oleh karenanya penting bagi bayi untuk memperoleh susu belakang tersebut.

2) Laktosa

Di dalam ASI terdapat laktosa, laktosa ini merupakan karbohidrat utama dalam ASI yang berfungsi sebagai salah satu sumber untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Setelah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil. (Badriul, 2008).

3) Mineral

ASI sedikit mengandung kalsium dibandingkansusu sapi. Namun karena kalsium dalam ASI mudah diserap maka sudah cukup memenuhi kebutuhan bayi. ASI juga mengandung natrium, kalsium, fosfor, dan khlor lebih rendah dari susu sapi, tetapi jumlahnya cukup bagi bayi. Pada ASI dan susu sapi terdapat zat besi sekitar

(5)

50-75 persen zat besi dalam ASI dapat diserap bayi. Sementara dari bahan makanan lainya hanya 5-10 persen saja yang dapat diserap tubuh bayi (Inayah Abdullah, 2012). 4) Vitamin

Apabila makanan ibu cukup seimbang, maka vitamin-vitamin yang dibutuhkan bayi selama 4-6 bulan pertama dapat dipenuhi dari ASI. ASI juga mengandung mineral, vitamin K, vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin yang larut dalam air. Hampir semua vitamin larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang (Badriul, 2008).

2.1.3 Manfaat ASI bagi Ibu dan Bayi

ASI sangat bermanfaat bagi bayi jika diberikan secara Eksklusif selama 6 bulan. Ibu juga turut merasakan manfaat dari ASI. Berikut ini dijelaskan manfaat ASI yaitu:

1) Manfaat bagi Bayi

Selain itu juga, ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Dengan diberikan ASI berarti bayi sudah mendapatkan immunoglobulin (zat kekebalan atau daya tahan tubuh ) dari ibunya melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut dengan cepat akan menurun segera setelah kelahirannya. Badan bayi baru lahir akan memproduksi sendiri immunoglobulin secara cukup saat mencapai usia sekitar 4

(6)

bulan. Pada saat kadar immunoglobulin bawaan dari ibu menurun yang dibentuk sendiri oleh tubuh bayi belum mencukupi, terjadilah suatu periode kesenjangan.

ASI merangsang terbentuknya antibodi bayi lebih cepat. Jadi, ASI tidak saja bersifat imunisasi pasif, tetapi juga aktif. Suatu kenyataan bahwa mortalitas (angka kematian) dan mobiditas (angka terkena penyakit) pada bayi ASI eksklusif jauh lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI (Budiasih, 2008). Proses menyusui membuat bayi sering berada dalam dekapan ibu. Bayi akan merasa aman dan tentram karena masih mendengar detak jantung ibunya yang telah dikenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindung dan disayangi ini menjadi dasar perkembangan emosional bayi dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan spiritual yang baik (Roesli, 2009).

2) Manfaat bagi Ibu

Menyusui meupakan suatu pengambilan keputusan yang bijaksana dari orang tua, selain mengutungkan dri segi kesehatan, memberi ASI juga menguntungkan ibu secara ekonomis. Dengan menyusui Eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli makanan bayi sampai 6 bulan. Dengan demikian menyusui dapat menghemat pengeluara rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatanya. Biaya dapat dialokasikan untuk memberikan makanan yang bergizi bagi ibu yang menyusui karena pada masa menyusui memerlukan zat gizi yang lebih. ASI tidak pernah basi. ASI selalu diproduksi oleh pabriknya diwilayah payudara ibu. Bila ASI telah kosong, ASI langsung diproduksi, sebaliknya bila tidak digunakan akan diserap kembali oleh tubuh ibu (Khasanah, 2011).

(7)

Bagi ibu, manfaat menyusui itu dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post partum) akan berkurang (Siswono 2001). Karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti. Hal ini akan menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan. Selain itu juga, dengan menyusui dapat menjarangkan kehamilan pada ibu karena menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup berhasil. Selama ibu memberi ASI Eksklusif 98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak akan hamil sampai bayi merusia 12 bulan (Glasier, 2005).

Manfaat ASI bagi ibu dapat mengurangi terjadinya kanker. Beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui akan mengurangi kemungkinan terjadinya kanker payudara. Pada umumnya bila semua wanita dapat melanjutkan menyusui sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih, diduga angka kejadian kanker payudara akan berkurang sampai sekitar 25%. Beberapa penelitian menemukan juga bahwa menyusui akan melindungi ibu dari penyakit kanker indung telur. Salah satu dari penelitian ini menunjukan bahwa risiko terkena kanker indung telur pada ibu yang menyusui berkurang sampai 20-25%. Selain itu, pemberian ASI juga lebih praktis, ekonomis, murah, menghemat waktu dan memberi kepuasan pada ibu (Maulana, 2007). ASI pratis dan dapat segera diberikan dimana saja, kapan saja serta dalam suhu yang tepat, ibu tidak perlu memasak air atau mencuci botok akan lebih merepotkan ibu terutama pada malam hari, persedian susu sudah habis (Roesli, 2009).

(8)

2.1.4 Fisiologi ASI

ASI diproduksi di dalam alveoli yang merupakan bagian hulu dari pembuluh kecil air susu. Selama hamil payudara akan membesar sebesar 2-3 kali dari biasanya. Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon. Kemampuan ibu dalam menyusui/laktasipun berbeda-beda. Sebagian mempunyai kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang lain. Laktasi mempunyai dua pengertian yaitu pembentukan ASI (Refleks Prolaktin) dan pengeluaran ASI (Refleks Let Down/Pelepasan ASI) (Maryunani, 2009).

Pembentukan ASI (Refleks Prolaktin) dimulai sejak kehamilan. Selama kehamilan terjadi perubahan-perubahan payudara terutama besarnya payudara, yang disebabkan oleh adanya proliferasi sel-sel duktus laktiferus dan sel-sel kelenjar pembentukan ASI serta lancarnya peredaran darah pada payudara. Setelah persalinan, kadar estrogen dan progesteron menurun dengan lepasnya plasenta, sedangkan prolaktin tetap tinggi sehingga tidak ada lagi hambatan terhadap prolaktin oleh estrogen. Hormon prolaktin ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu ibu (Maryunani, 2009).

Penurunan kadar estrogen memungkinan naiknya kadar prolaktin dan produksi ASI pun mulai. Produksi prolaktin yang berkesinambungan disebabkan oleh bayi menyusui pada payudara ibu. Pada ibu yang menyusui, prolaktin akan meningkat pada keadaan : stress atau pengaruh psikis, anestesi, operasi, rangsangan puting susu, hubungan kelamin, pengaruh obat-obatan. Sedangkan yang

(9)

menyebabkan prolaktin terhambat pengeluarannya pada keadaan: ibu gizi buruk, dan pengaruh obat-obatan (Badriul, 2008).

Pengeluaran ASI (Refleks Letdown/pelepasan ASI) merupakan proses pelepasan ASI yang berada dibawah kendali neuroendokrin, dimana bayi yang menghisap payudara ibu akan merangsang produksi oksitosin yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel. Kontraksi dari sel-sel ini akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus untuk selanjutnya mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi sehingga ASI tersedia bagi bayi (Maryunani, 2009).

Menurut Perinasia (2004), Lama dan frekuensi menyusui sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1–2 minggu kemudian. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering

(10)

menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.

2.2. Tinjauan tentang Determinan Pemberian ASI Eksklusif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012), Determinan adalah faktor-faktor yang menentukan. Prilaku Kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor-faktor-faktor baik dari dalam diri manusia itu sendiri (faktor internal) maupun dari luar (faktor eksternal). Ada beberapa model yang menganalisis determinan perilaku kesehatan, antara lain model Karr dan model Green.

Perilaku dalam Notoadmojo (2007), kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh organisme yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku dibagi dalam 2 jenis yaitu, perilaku yang dapat diamati oleh orang lain seperti: berjalan, berpakaian, berbicara dan bereaksi, dan lain lain. Yang kedua adalah perilaku yang tidak dapat diamati oleh orang lain seperti: emosi, berfikir, persepsi dan lain sebagainya.

2.2.1 Teori Determinan

Tahun 1983, Snchandu B. Karr mengemukan teori yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan ditemukan oleh lima determinan perilaku (Notoatmodjo, 2010). Determinan tersebut adalah :

(11)

1. Niat seseorang untuk mengambil tindakan sehubungan dengan objek atau stimulus di luar dirinya

2. Dukungan sosial atau legitimasi dari masyarakat di sekitarnya yang diperlukan pada saat hendak mengambil tindakan.

3. Ketersediaan informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan yang berkaitan dengan tindakan yang akan dilakukan

4. Otonomi atau kebebasan seseorang dalam mengambil keputusan.

Situasi dan kondisi yang tepat, yang memungkinkan untuk mengambil tindakan. Hal ini bisa berarti luas seperti misalnya fasilitas yang tersedia atau kemampuan ekonomi yang dimiliki.

Menurut Soetjiiningsih dalam Ida (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI adalah: 1) faktor sosial budaya seperti: kesibukan ibu, pekerjaan ibu, meniru tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol, 2) faktor psikologis seperti: takut kehilangan kecantikan sebagai wanita, segan dengan keadaan di lingkungan sekitar, 3) Faktor fisik Ibu: keadaan sakit dan sehat Ibu, 4) faktor petugas kesehatan seperti: pemberian informasi dan penerangan tentang manfaat ASI, 5) Promosi tentang susu kaleng, dan 6) Penjelasan yang salah dari petugas kesehatan. Ada banyak hal yang mempengaruhi perilaku Ibu dalam pemberian ASI Eksklusif. Menurut Suraat madja dalam Septia Utami (2012), faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan ASI diantaranya yaitu: perubahan sosial budaya, faktor psikologi, faktor fisik Ibu, faktor kurangnya petugas kesehatan, meningkatnya promosi susu formula dan penerangan yang salah.

(12)

Pemberian ASI Eksklusif adalah suatu bentuk pilihan dari prilaku seorang Ibu. Lawrence Green dalam Notoadmojo (2007), menjelaskan ada 3 faktor yang mempengaruhi prilaku, yaitu fakor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Dalam hal ini ketiga faktor tersebut mempengaruhi prilaku Ibu dalam memberikan ASI Eksklusif pada bayinya (Inayah Abdullah, 2013).

Beberapa teori lain tentang perilaku, diantara dikemukan oleh:

1. Perilaku merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya (Notoatmodjo, 2010).

2. Perilaku merupakan fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat, keperibadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kekuatannya lebih besar dari karakteristik individu (Azwar, 2010).

Skiner dalam Notoatmodjo (2010), merumuskan perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang (faktor eksternal) dan respon merupakan faktor dalam

(13)

diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Skiner membagi perilaku menjadi dua kelompok:

a. Perilaku tertutup, dimana respon terhadap stimulus belum dapat diamati orang lain dari luar secara jelas. Respon seseorang masih terbatas pada bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan.

b. Perilaku terbuka, dimana respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan atau praktik yang dapat diamati orang lain dari luar (Notoatmodjo, 2010).

Perilaku kesehatan merupakan suatu aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati (observable) maupaun yang tidak dapat diamati (unobservable) yang bekaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan seseorang. Pemeliharan kesehatan ini mencakup melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkat kesehatan, dan mencari penyembuhan bila tekena masalah kesehatan (Notoatmodjo, 2010).

Gochman dalam Glanz dalam Rochman (2011), menifinisikan perilaku kesehatan adalah atribut-atribut seperti keyakinan, harapan, motivasi, nilai-nilai, persepsi dan elemen kognitif lainnya, Karakteristik individu termasuk pengaruh sifat dan tingkat emosional, pola perilaku terbuka, kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan, perbaikan kesehatan dan peningkatan kesehatan.

(14)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif diantaranya adalah umur, tingkat pendidikan, pengetahuan,dan sikap Ibu menyusui. Faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Umur

Umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Elizabeth, BH dalam Wahit( 2006). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Waktu reproduksi sehat adalah antara umur 20-35 tahun.Menurut Notoadmojo (2003), pada umur 25-35 tahun adalah waktu reproduksi yang paling baik. Berdasarkan hasil penelitian Kusmayanti (2005), bahwa semakin meningkat umur maka presentase berpengetahuan semakin baik karena disebabkan oleh akses informasi, wawasan dan mobilitas yang meningkat.

2. Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan penentu manusia untuk berbuat dan menigisi kehidupan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup sebagaimana umumnya, semakin tinggi pendidikan semakin mudah mendapat informasi. Pendidikan yang dimiliki oleh ibu berhubungan dengan pengetahuan yang dimilikinya, maka ibu akan berusaha untuk lebih mengetahui tentang pemberian ASI Eksklusif. Pendidikan akan membuat seseorang ingin mengetahui lebih banyak hal yang diperlukan dan lebih tanggap tentang informasi serta peka melihat perubahan-perubahan yang terjadi. Pendidikan adalah

(15)

aktivitas proses belajar mengajar yang memberikan tambahan pengetahuan, ketrampilan serta dapat mempengaruhi proses berfikir secara sistematis.

3. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga, (Notoatmodjo, 2007). Tingkatan pengetahuan menurut notoatmodjo terdiri dari tahu (know), memahami (comprehension), Aplikasi (application), Analisis (analysis), sintesis (synthesis), evaluasi (evaluation). Pengetahuan ibu tentang Asi merupakan salah satu faktor yang penting dalam kesuksesan proses menyusui. Tahaeb et al dalam Abdullah et al (2004), Menyatakan bahwa tingkat pengetahuan, pendidikan, status kerja ibu, dan jumlah anak dalam keluarga berpengaruh positif pada frekuensi dan pola pemberian ASI.

4. Sikap

Sikap dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan suatu predisposisi tindakan atau perilaku (Wahit, 2006). Alport (1954) dalam Notoatmodjo (2003), menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen utama yaitu:

a. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu obyek b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu obyek c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave)

(16)

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Penelitian Nurpelita (2007), menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara sikap Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif.

5. Ketersediaan Tempat/Fasilitas Menyusui

Mengenai ketersediaan fasilitas, Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 pada pasal 30 mengatur tentang penyediaan fasilitas khusus untuk menyusui dan memerah ASI. Pengurus tempat kerja atau penyelenggara tempat sarana umum wajib menyediakan fasilitas khusus ini.

Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberi ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap dan meleyapnya perilaku itu. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor penguat dapat berupa:

1. Dukungan Suami dan Keluarga

Keluarga adalah sebagai unit yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka dan memperlihatkan pembagian kerja menurut jenis kelamin (Potter & Perry, 2005). Suami dan keluarga memiliki peran dalam pemberian ASI eksklusif. Hal ini sesuai dengan penelitian Ramadani (2009), yang menyatakan bahwa Ibu yang didukung Suami mempunyai kecenderungan untuk menyusui eksklusif 3 kali dibandingkan dengan yang tidak didukung suami.

Menurut penelitian Diana (2007), ibu yang tinggal serumah dengan ibunya atau nenek mempunyai peluang sangat besar untuk memberikan MP-ASI dini pada

(17)

bayi, bahkan ada ibu yang memberikan MP-ASI mulai bayi usia 11 hari atau setelah tali pusat lepas. Walaupun ibu mengetahui bahwa pemberian MP-ASI terlalu dini dapat mengganggu kesehatan bayi namun mereka beranggapan bahwa jika bayi tidak mengalami gangguan maka pemberian MP-ASI dapat dilanjutkan. Selain itu kebiasaan pemberian MP-ASI dini telah dilakukan turun-temurun dan tidak pernah menimbulkan masalah.

2. Dukungan Petugas Kesehatan

Setiap kontak yang yang dimiliki oleh seorang petugas kesehatan dengan seorang Ibu adalah merupakan kesempatan untuk mendorong dan mempertahankan perilaku menyusui. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan adalah cara untuk mengetahui apakah bayi cukup mendapatkan ASI (Depkes, 2007).

2.2.2 Tanggap Darurat Bencana

Tanggap Darurat Bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008). 2.2.3 Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008, tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dikendalikan oleh Kepala BNPB atau kepala BPBD sesuai dengan kewenangannya.

(18)

Menurut Peraturan Pemeritah Nomor 21 Tahun 2008, tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pada saat tanggap darurat meliputi:

a. Pengkajian secara Cepat dan Tepat

Pengkajian secara cepat dan tepat untuk menentukan kebutuhan dan tindakan yang tepat dalam penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat dilakukan oleh tim kaji cepat berdasarkan penugasan dari Kepala BNPB atau kepala BPBD sesuai kewenangannya, dilakukan melalui identifikasi terhadap:

a. cakupan lokasi bencana b. jumlah korban bencana

c. kerusakan prasarana dan sarana

d. gangguan terhadap fungsi pelayanan umum serta pemerintahan e. kemampuan sumber daya alam maupun buatan.

b. Penentuan Status Keadaan Darurat Bencana

Penentuan status keadaan darurat bencana dilaksanakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan tingkatan bencana untuk tingkat nasional ditetapkan oleh Presiden, tingkat provinsi oleh gubernur, dan tingkat kabupaten/kota oleh bupati/walikota. Pada saat status keadaan darurat bencana ditetapkan, BNPB dan BPBD mempunyai kemudahan akses di bidang:

a. pengerahan sumber daya manusia b. pengerahan peralatan

c. pengerahan logistik

(19)

e. perizinan

f. pengadaan barang/jasa

g. pengelolaan dan pertanggungjawaban uang dan/atau barang h. penyelamatan

i. komando untuk memerintahkan instansi/lembaga. c. Penyelamatan dan Evakuasi

Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana dilakukan melalui usaha dan kegiatan pencarian,pertolongan, dan penyelamatan masyarakat sebagai korban akibat bencana, dilaksanakan oleh tim reaksi cepat dengan melibatkan unsur masyarakat dibawah komando Komandan penanganan darurat bencana, sesuai dengan lokasi dan tingkatan bencana. Dalam hal terjadi eskalasi bencana, BNPB dapat memberikan dukungan kepada BPBD untuk melakukan penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana, diprioritaskan pada masyarakat terkena bencana yang mengalami luka parah dan kelompok rentan. Terhadap masyarakat terkena bencana yang meninggal dunia dilakukan upaya identifikasi dan pemakamannya.

d. Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Pemenuhan kebutuhan dasar meliputi bantuan penyediaan: a. Kebutuhan air bersih dan sanitasi

b. Pangan c. Sandang

(20)

e. Pelayanan psikososial

f. Penampungan serta tempat hunian.

Pemenuhan kebutuhan dasar dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, lembaga usaha, lembaga internasional dan/atau lembaga asing non spemerintah sesuai dengan standar minimum sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

e. Perlindungan terhadap Kelompok Rentan

Perlindungan terhadap kelompok rentan dilakukan dengan memberikan prioritas kepada korban bencana yang mengalami luka parah dan kelompok rentan berupa penyelamatan, evakuasi, pengamanan, pelayanan kesehatan, dan psikososial. Dilaksanakan oleh instansi/lembaga terkait yang dikoordinasikan oleh Kepala BNPB dan/atau kepala BPBD dengan pola pendampingan/fasilitasi.

f. Pemulihan Segera Prasarana dan Sarana Vital

Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital bertujuan untuk berfungsinya prasarana dan sarana vital dengan segera, agar kehidupan masyarakat tetap berlangsung, dilakukan oleh instansi/lembaga terkait yang dikoordinasikan oleh Kepala BNPB dan/atau kepala BPBD sesuai dengan kewenangannya.

2.3. Landasan Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi penyebab perilaku, sampai dengan saat ini belum ada teori yang berhubungan dengan prilaku tentang fakto-faktor mempengaruhi kesehatan bencana, maka peneliti mengadopsi teori Lauwrence Green dalam Notoadmojo (2007), mencakup faktor pendorong(Predisporsing Factors) adalah umur, pendidikan,

(21)

pengetahuan, sikap. faktor pemungkin (Enabling Factors) yaitu kesediaan fasilitas kesehatan serta faktor penguat (Reinforcing Factors) yaitu dukungan suami dan keluarga, dukungan tenaga kesehatan.

2.4. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Faktor Pemungkin • Ketersedian Fasilitas Faktor Penguat • Dukungan Keluarga/Suami • Dukungan Tenaga Kesehatan Faktor Predisposisi • Umur Ibu • Pendidikan Ibu • Pengetahuan Ibu • Sikap Ibu Pemberian ASI Eksklusif: 1. Ya 2. Tidak

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Faktor Pemungkin •  Ketersedian Fasilitas Faktor Penguat •  Dukungan Keluarga/Suami •  Dukungan Tenaga Kesehatan Faktor Predisposisi •  Umur Ibu •  Pendidikan Ibu •  Pengetahuan Ibu •  Sikap Ibu  Pemberian  ASI Eksklus

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Rina Ani Sapariyah, Yanti Setyorini, dan Arief Budhi Darma (2015) membuktikan bahwa muatan etika dalam pengajaran

Dari pernyataan tersebut, dapat pula disimpulkan pada umpan campuran terdapat senyawa PAH yang berkurang kelarutannya pada kondisi pH<5 akibat pembentukan

Fungsionalisme Stuktural juga merupakan salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian

Bangsa ini hanya terdiri atas satu suku Sphagnaceae dan satu marga Sphagnum. Marga ini meliputi sejumlah besar jenis lumut yang kebanyakan hidup di tempat-tempat yang berawa-rawa dan

Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada

Dari Pasal 28 (2) huruf b Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tersebut dapat ditafsirkan bahwa terhadap suami istri yang bertindak dengan niat baik dalam arti

Riwayat persalinan yang lalu: anak pertama lahir tahun 2002, di puskesmas, cukup bulan, persalinan normal, oleh bidan, jenis kelamin laki-laki, BB: 3300 gram, PB :50 cm, nifas baik,

Oleh karena itulah perbuatan zina yang dilakukan oleh orang telah menikah (Zina muhshan) termasuk salah satu dari tiga orang yang darahnya diharamkan. Diriwayatkan oleh