• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH METODE TUTOR SEBAYA DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN KOMPUTER DAN

PENGELOLAAN INFORMASI SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PAINAN

ERI YANTI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI PADANG Wisuda Periode September 2012

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

PENGARUH METODE TUTOR SEBAYA DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN KOMPUTER DAN

PENGELOLAAN INFORMASI SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PAINAN

ERI YANTI

Jurnal ini disusun berdasarkan Tesis Eri Yanti untuk persyaratan wisuda periode September 2012 yang telah direviu dan disetujui oleh kedua pembimbing.

(3)

1

PENGARUH METODE TUTOR SEBAYA DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN KOMPUTER DAN

PENGELOLAAN INFORMASI SISWA KELAS X SMK NEGERI 1 PAINAN

Eri Yanti1, Fahmi Rizal2, Ambiyar3

Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan FT Universitas Negeri Padang

Email: [email protected]

Abstrak

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh metode tutor sebaya dan gaya kognitif pada pembelajaran Keterampilan Komputer hasil dan Informasi Manajemen kelas X SMK Negeri 1 Painan. Jenis penelitian adalah eksperimental semu dengan 2 x 2 desain faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) hasil belajar siswa yang diajar dengan metode tutor sebaya lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang diajar dengan metode konvensional, 2) Ada interaksi antara metode pembelajaran dan gaya kognitif pada hasil belajar siswa, 3) hasil belajar siswa yang memiliki medan gaya kognitif tergantung diajarkan dengan metode tutor sebaya lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang diajar dengan metode konvensional, 4) hasil belajar siswa yang memiliki lapangan gaya kognitif independen diajarkan dengan metode tutor sebaya lebih rendah dari hasil belajar siswa yang diajar dengan metode konvensional.

Abstract

The research objective was to determine the effect of peer tutoring methods and cognitive style on learning outcomes Computer Skills and Information Management class X SMK Negeri 1 Painan. Type of research is a quasi experimental with 2 x 2 factorial design. The result of the research shows that: 1) The learning outcomes of student who are taught by peer tutoring method is higher than the learning outcomes of students who are taught by conventional methods, 2) There are interaction between the methods of learning and cognitive style on student learning outcomes, 3) The learning outcomes of student who has a field dependent cognitive style taught by peer tutoring method is higher than the learning outcomes of students who are taught by conventional methods, 4) The learning outcomes of student who has a field independent cognitive styles taught by peer tutoring method is lower than the learning outcomes of students who are taught by conventional methods.

(4)

Pendahuluan

Mata pelajaran KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi)

merupakan salah satu mata pelajaran di SMK yang dalam pelaksanaannya lebih

dominan dalam bentuk praktikum untuk itu dibutuhkan sarana yang lengkap

dalam pembelajaran, sementara sarana atau komputer yang tersedia di sekolah

terbatas dimana satu komputer digunakan oleh tiga atau empat orang anak. Salah

satu karakteristik mata pelajaran keterampilan komputer dan pengelolaan

informasi (KKPI) adalah pembelajaran komputer yang bersifat individual oleh

sebab itu agar siswa dapat memahami dan terampil dalam penggunaan dan

pemanfaatan komputer, guru hendaknya dapat membimbing siswa satu persatu.

Hal tersebut tentu sangatlah sulit mengingat keterbatasan waktu dan jumlah

komputer yang ada.

Oleh sebab itu guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang

memperhatikan perbedaan individual siswa dalam belajar, dimana siswa dapat

belajar lebih aktif, kooperatif dan dapat bertanya meskipun tidak kepada guru

secara langsung sehingga kriteria ketuntasan minimal dapat tercapai, untuk

mengantisipasi permasalahan di atas, penulis mencoba memberikan alternatif

yang dapat mengoptimalkan pembelajaran keterampilan komputer dan

pengelolaan informasi dengan sarana dan waktu yang terbatas bagi guru untuk

membimbing siswa secara individual, yaitu dengan menerapkan suatu metode

pembelajaran, yang memanfaatkan siswa yang lebih pandai untuk membimbing

(5)

Salah satu metode pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dalam

rangka membimbing siswa secara individual untuk mencapai ketuntasan hasil

belajar dengan tetap memperhatikan kerjasama antara sesama siswa adalah

metode tutor sebaya.

Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta

didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan

pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang

mampu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Udin S. Winataputra (1999:380),

“Tutor sebaya adalah seorang teman atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh

guru (sesuai kriteria tutor sebaya) dan ditugaskan untuk membantu siswa yang

mengalami kesulitan belajar”. Pelaksanaan pembelajaran ini membutuhkan waktu

khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik dapat saling membantu

dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.

Tutor sebaya merupakan salah satu pembelajaran untuk membantu

memenuhi kebutuhan peserta didik. Tutor sebaya merupakan pendekatan

kooperatif bukan kompetitif, rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara

peserta didik yang bekerja bersama.

Siswa yang berperan sebagai tutor sebaya akan merasa bangga atas

perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat

apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan

kepadanya. Ketika mereka belajar dengan tutor sebaya, siswa juga

mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan,

(6)

Menurut Suharsimi Arikunto (2006:62), metode tutor sebaya dipilih karena

kebanyakan siswa lebih mudah menerima bantuan atau pengajaran dari

teman-temannya daripada menerima bantuan atau pengajaran dari gurunya meskipun

guru sudah memilih metode mengajar yang lebih sesuai dengan siswa-siswanya.

Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil

dibandingkan guru. Siswa melihat masalah dengan cara yang berbeda

dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Guru dalam memilih metode pembelajaran, perlu mempertimbangkan

perbedaan individual siswa atau karakteristik siswa, salah satu karakteristik siswa

yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menerapkan metode

pembelajaran adalah gaya kognitif siswa. Gaya kognitif sangat berhubungan

dengan gaya siswa dalam belajar yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.

Menurut Woolfolk (1998), “Gaya kognitif merupakan cara seseorang dalam

menerima dan mengorganisasi informasi”. Bentuk atau pola gaya kognitif cukup

banyak sehingga pengelompokan gaya kognitif oleh para ahli juga mempuyai

perbedaan meskipun pada dasarnya terdapat kesamaan. Winkel (1995:147)

membagi gaya kognitif atas 4 macam yaitu (1) kecendrungan untuk mengamati

dan berfikir secara sistematis, terdiri atas ketergantungan pada medan (field

dependency) dan ketidaktergantungan pada medan (field independency), (2)

ketahanan terhadap kecendrungan untuk meninggalkan arah atau cara yang telah

dipilih dalam mempelajari sesuatu, (3) luas-sempitnya pembentukan pengertian

(konseptualisasi), dan (4) kecendrungan untuk sangat memperhatikan atau kurang

(7)

Atas dasar penelitiannya Witkin membedakan gaya kognitif itu menjadi dua

macam, yaitu gaya field dependent dan gaya field independent.

1. Gaya field dependent, orang dengan gaya ini cendrung mempersepsi suatu pola

sebagai suatu keseluruhan, sukar baginya untuk memusatkan pada satu aspek

situasi atau menganalisis suatu pola menjadi bermacam-macam bagian.

2. Gaya field independent, orang yang bergaya ini cendrung mempersepsi

bagian-bagian yang terpisah dari suatu pola menurut komponen-komponennya.

(Wittrock, 1978).

Ada dua kecendrungan gaya kognitif yang akan ditelaah dalam penelitian

ini yakni gaya kognitif field independent dan field dependent. Antara kedua gaya

kognitif tersebut memiliki pebedaan sebagaimana yang dikemukakan oleh Crowl

dkk. (1997:100) bahwa: Field independent adalah gaya kognitif seseorang dengan

tingkat kemandirian yang tinggi dalam mencermati suatu ransangan tanpa

ketergantungan dari faktor-faktor luar, sedangkan field dependent cendrung ‘to

look out side’ dan sangat tergantung pada sumber informasi dari luar. Dengan kata

lain orang yang mempunyai gaya kognitif field independent cendrung bekerja

lebih baik dalam situasi yang tidak terstruktur rapi dan bekerja sendiri, sebaliknya

field dependent akan lebih baik bekerja sama dengan orang lain dalam situasi

organisasi yang terstruktur dengan baik.

Setiap gaya kognitif memiliki kelebihan dan kelemahan dalam pencapaian

hasil belajar. Proses pembelajaran menuntut guru untuk dapat memahami dan

mengetahui gaya kognitif siswa, kemudian memilih dan menerapkan metode yang

(8)

kogntif field independent umumnya lebih mandiri dalam belajar, mereka

menyukai pembelajaran yang melibatkan aktifitas mereka dalam menemukan

suatu pengetahuan. Pengetahuan yang diperolehnya sendiri akan lebih cepat

dipahami dan akan lebih lama tersimpan dalam ingatannya. Siswa yang memiliki

gaya belajar field dependent umumnya memerlukan bantuan orang lain dalam

memahami suatu informasi pembelajaran, mereka lebih menyukai belajar sesuatu

yang telah pasti, kurang menyukai tugas-tugas mandiri.

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengungkapkan:

1) Perbedaan hasil belajar KKPI siswa yang diajar menggunakan metode tutor

sebaya dibandingkan dengan metode konvensional, 2) Ada tidaknya interaksi

antara metode pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar KKPI

siswa kelas X SMK N 1 Painan, 3) Perbedaan hasil belajar KKPI siswa yang

memiliki gaya kognitif field dependent diajar menggunakan metode tutor sebaya

dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent diajar

dengan metode konvensional, 4) Perbedaan hasil belajar KKPI siswa yang

memiliki gaya kognitif field independent diajar dengan metode tutor sebaya

dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya kognitif field independent diajar

dengan metode konvensional.

Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental

semu dengan rancangan disain faktorial 2x2 yang melibatkan dua variabel bebas

(9)

Variabel bebas metode pembelajaran terdiri atas tutor sebaya dan konvensional.

Variabel bebas gaya kognitif terdiri atas gaya kognitif field dependent dan field

independent. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X SMK Negeri 1 Painan.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 1 Painan,

Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan Propinsi Sumatera Barat Tahun

Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 353 siswa. Teknik penarikan sampel yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu multi stage random sampling.

Ada dua macam instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

instrumen gaya kognitif yang digunakan untuk mengukur gaya kognitif siswa dan

instrumen hasil belajar keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (KKPI)

untuk mengukur hasil belajar KKPI siswa.

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian adalah

Anava dua jalur yang terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan

menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas dengan menggunakan Anava dan

uji Bartlet. Uji hipotesis interaksi antara metode pembelajaran dan gaya kognitif

digunakan analisis Varians (ANAVA), kalau terjadi interaksi dilanjutkan dengan

uji Tuckey.

Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian

Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

analisis varians (ANAVA) dua jalur, untuk itu dilakukan uji persyaratan ANAVA,

(10)

adalah dengan menggunakan uji Lilliefors dengan melihat nilai pada

Kolmogorov-Smirnov yang telah di program dalam SPSS Versi 12.0. Kriteria pengujiannya

adalah jika Signifikansi > 0,05 maka data berdistribusi normal dan jika

signifikansi < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.

Hasil perhitungan uji signifikan normalitas secara keseluruhan dirangkum

pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar KKPI

Kelompok N Signifikansi Keterangan

A1 42 0,200 Normal

A2 42 0,200 Normal

B1 42 0,200 Normal

B2 42 0,125 Normal

Keterangan :

A1 = siswa yang diajar dengan metode tutor sebaya A2 = siswa yang diajar dengan metode konvensional

B1 = siswa yang memiliki kecendrungan gaya kognitif field dependent B2 = siswa yang memiliki kecendrungan gaya kognitif field independent

Taraf signifikansi untuk keseluruhan kelompok data ternyata lebih besar

dari taraf signifikansi α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua

kelompok data pada penelitian ini diambil dari populasi yang berdistribusi normal

sehingga dapat digunakan statistik inferensial parametrik dalam pengujian

hipotesis penelitian ini.

Pengujian homogenitas yang dilakukan pada 3 kelompok data dalam

penelitian ini yaitu : pertama pengujian homogenitas data hasil belajar KKPI dua

(11)

Test of Homogeneity of Variances Hasil Belajar

,108 1 82 ,743

Levene

Statistic df1 df2 Sig.

homogenitas dua kelompok kategori atribut subjek penelitian (antara kelompok B1

dengan B2) dan ketiga uji homogenitas empat kelompok sel dalam rancangan

penelitian (antara A1B1, A1B2, A2B1, A2B2).

a. Uji Homogenitas Varians Dua Kelompok Perlakuan

Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih

kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama.

Pengujian dua kelompok perlakuan ini dilakukan dengan melihat nilai

signifikasi, jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka data memiliki

variansi yang sama (data homogen). Hasil perhitungan uji homogenitas varians

pada dua kelompok perlakuan terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Uji Homogenitas Kelompok Metode Tutor Sebaya dengan Kelompok Konvensional

Tabel di atas memperlihatkan bahwa Test of Homogeneity of Variances, sig =

0,743 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kelompok A1 dan A2 adalah

homogen.

b. Uji Homogenitas Varians Dua Kelompok Atribut Subjek Penelitian

Pengujian homogenitas dua kelompok kategori atribut subjek penelitian (antara

kelompok B1 dengan B2) dilakukan dengan melihat nilai signifikasi, jika nilai

(12)

Test of Homogeneity of Variances Hasil Belajar

2,250 1 82 ,137

Levene

Statistic df1 df2 Sig.

homogen). hasil perhitungan uji homogenitas varians pada dua kelompok

perlakuan terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Uji Homogenitas Kelompok Field Dependent dengan Kelompok

Field Independent

Tabel 4.12 di atas memperlihatkan bahwa Test of Homogeneity of Variances,

sig = 0,137 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa kelompok B1 dan B2 adalah

homogen.

c. Uji Homogenitas Varians Keempat Sel Rancangan Perlakuan

Pengujian homogenitas varians dari keempat kelompok data yang

dibandingkan dilakukan dengan menggunakan uji Barlett. Kriteria

pengujiannya ialah: Jika χ2 hitung lebih kecil dari χ2 tabel pada taraf

signifikansi α = 0,05 maka keempat sel rancangan perlakuan adalah homogen.

Tabel. 4. Ringkasan Uji Homogenitas Varians Keempat kelompok Rancangan Perlakuan Kelompok Varians S2 Variansi Gabungan S2 Harga B χ2 Hitung χ 2 tabel Kesimpulan A1B1 A1B2 A2B1 A2B2 17,56 13,65 11,26 20,76 15,81 95,90 2,16 7,815 Homogen

Berikut ini disajikan rangkuman deskripsi data semua hasil penelitian pada

(13)

Tabel 5. Rata-rata Hasil Belajar KKPI

Metode Pembelajaran (A)

Metode Tutor Sebaya (A1) Metode Konvensional (A2) Total Gaya Kognitif (B) Field Dependent (B1) N = 21 Mean = 27,52 SD = 4,191 N = 21 Mean = 20,48 SD = 3,356 N = 42 Mean = 24 SD = 5,175 Field Independent (B2) N = 21 Mean = 26,43 SD = 4,556 N = 21 Mean = 24,62 SD = 3,694 N = 42 Mean = 25,52 SD = 4,198 Total N = 42 Mean = 26,98 SD = 4,359 N = 42 Mean = 22,55 SD = 4,068

Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

analisis variansi (ANAVA) dua jalur, kemudian dilakukan uji lanjut dengan

menggunakan uji Tukkey. Hasil perhitungan analisis data disajikan dalam tabel

berikut ini.

Tabel 6. Rangkuman Hasil ANAVA Data Hasil Belajar KKPI Siswa

Sumber Jumlah Kuadrat (JK) Dk Rata-rata Kuadrat (RK) Fh Ft 0,05 0,01 Metode Pembelajaran (A) Gaya Kognitif (B) Interaksi (AB) 144,05 48,76 411,86 1 1 1 411,86 48,76 144,05 26,055** 3,085 9,112** 3,96 3,96 3,96 6,96 6,96 6,96

Kekeliruan dalam sel (D) 1264,57 80 15,807 Total 1869,24 83

(14)

Hasil perhitungan Anava dua jalur, antar kolom atau antar kelompok

perlakuan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran (A) menunjukkan

nilai Fhitung sebesar 26,055 dan Ftabel sebesar 3,96 pada taraf signifikansi (α =

0,05). Terlihat bahwa nilai Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel berarti hipotesis nol

(H0) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Hal ini menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan hasil belajar KKPI siswa yang dalam pembelajarannya

menggunakan metode tutor sebaya (A1) dengan yang menggunakan metode

konvensional (A2), dengan demikian metode tutor sebaya lebih baik dan dapat

meningkatkan hasil belajar KKPI siswa. interaksi antara metode pembelajaran (A)

dan gaya kognitif (B), diperoleh Fhitung sebesar 9,122 dan Ftabel sebesar 3,96 pada

taraf signifikansi (α = 0,05). Terlihat bahwa nilai Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel

berarti hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima.

Disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan metode

pembelajaran (A) dan gaya kognitif (B) terhadap hasil belajar KKPI. Interaksi

antara penggunaan metode pembelajaran (A) dan gaya kognitif (B) secara

signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar KKPI siswa. Terbuktinya hipotesis

penelitian yang menyatakan bahwa terdapat interaksi maka analisis dilanjutkan

dengan uji Tuckey untuk mengetahui kelompok mana yang unggul.

Hasil uji Tuckey pada taraf sifnifikansi (α) = 0,05 disajikan rangkumannya

(15)

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Tuckey Pada Taraf Signifikansi α = 0,05

No. Uji Tuckey Perbandingan Taraf

perbedaan QHitung Tanda QTabel

1. 5,10 > 2,95 A1 dengan A2 Signifikan 2. 1,75 < 2,95 B1 dengan B2 Tidak signifikan 3. 8,123 > 2,86 A1B1 dengan A2B1 Signifikan 4. 2,08 < 2,86 A1B2 dengan A2B2 Tidak signifikan

Berdasarkan hasil perhitungan uji tuckey diperoleh nilai Qhitung sebesar

8,123 dan nilai Qtabel 2,86 pada taraf signifikansi (α = 0,05). Hal ini menunjukkan

bahwa nilai Qhitung lebih besar dari nilai Qtabel berarti hipotesis nol (H0) ditolak dan

hipotesis alternatif (H1) diterima. Disimpulkan bahwa hasil belajar KKPI siswa

yang memiliki gaya kognitif field dependent yang mengikuti pembelajaran

menggunakan metode tutor sebaya (A1B1) lebih tinggi dibandingkan siswa yang

memiliki gaya kognitif field dependent yang mengikuti pembelajaran

menggunakan metode kovensional (A2B1). berdasarkan hasil perhitungan uji

tuckey diperoleh nilai Qhitung sebesar 2,08 dan nilai Qtabel 2,86 pada taraf

signifikansi (α = 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa nilai Qhitung lebih kecil dari

nilai Qtabel berarti hipotesis nol (H0) diterima dan hipotesis alternatif (H1) ditolak.

Disimpulkan bahwa hasil belajar KKPI siswa yang memiliki gaya kognitif field

independent yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya

(A1B1) tidak berbeda dibandingkan siswa yang memiliki gaya kognitif field

independent yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode kovensional

(16)

Pembahasan

Perbedaan hasil belajar KKPI siswa yang diajar menggunakan metode tutor sebaya dibandingkan dengan metode konvensional

Hasil pengujian hipotesis pertama membuktikan bahwa secara keseluruhan

siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode tutor sebaya memperlihatkan

hasil belajar KKPI yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran dengan metode konvensional. Hal ini didukung oleh kajian teori

bahwa metode tutor sebaya merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada

siswa, meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif. Metode pembelajaran yang

memanfaatkan siswa yang memiliki kemampuan lebih untuk dapat membimbing

siswa lain yang lambat dalam memahami materi pembelajaran, sehingga siswa

yang pandai atau memiliki kemampuan lebih memiliki tanggung jawab untuk

membimbing temannya, dan diharapkan dapat menghilangkan rasa jenuh mereka

dalam proses belajar. Begitu juga dengan siswa yang lambat, mereka akan lebih

leluasa belajar dengan seorang tutor yang tidak lain adalah teman mereka sendiri.

Menurut Suharsimi Arikunto (1992:62), metode tutor sebaya dipilih karena

kebanyakan siswa lebih mudah menerima bantuan atau pengajaran dari

teman-temannya daripada menerima bantuan atau pengajaran dari gurunya meskipun

guru sudah memilih metode mengajar yang lebih sesuai dengan siswa-siswanya.

Siswa-siswa tersebut tidak mempunyai rasa enggan atau rendah diri untuk

bertanya atau meminta bantuan terhadap teman-temannya sendiri apalagi teman

(17)

Dengan demikian dapat dimengerti hasil belajar siswa yang diajar dengan

metode tutor sebaya lebih tinggi dari siswa yang diajar dengan metode

konvensional.

Interaksi antara metode pembelajaran dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar KKPI siswa kelas X SMk N 1 Painan

Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa ada interaksi antara metode

pembelajaran dengan gaya kognitif siswa dalam pengaruhnya terhadap hasil

belajar Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI).

Kelompok siswa yang memiliki kecendrungan gaya kognitif field dependent

dan memperoleh metode pembelajaran tutor sebaya lebih tinggi dibandingkan

dengan siswa yang memperoleh metode konvensional. Hal ini menunjukkan

bahwa pengaruh metode pembelajaran berkaitan dengan gaya kognitif siswa yang

mengikuti pembelajaran.

Hasil penelitian Nila Meutia (2008:90) juga menunjukkan bahwa siswa

yang memiliki gaya belajar field dependent umumnya memerlukan bantuan orang

lain dalam memahami suatu informasi pembelajaran. Mereka lebih menyukai

belajar sesuatu yang telah pasti, kurang menyukai tugas-tugas mandiri.

Sesuai dengan karakteristik yang dimiliki, siswa dengan gaya kognitif field

dependent dalam pembelajaran menginginkan materi pelajaran yang terstruktur

dengan baik, tujuan pembelajaran yang tersusun dengan baik, motivasi eksternal,

(18)

Akan tetapi pemberian metode tutor sebaya pada siswa yang memiliki

kecendrungan gaya kogntif field independent menunjukkan hasil belajar tidak

berbeda dengan kelompok siswa field dependent. Hal ini disebabkan oleh siswa

yang memiliki kecendrungan gaya kognitif field independent memiliki

karakteristik yang lebih mandiri dalam belajar dan memiliki motivasi internal.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nila Meutia (2008:89) bahwa individu yang

memiliki gaya kognitif field independent umumnya lebih mandiri dalam belajar

dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang suatu bidang dan permasalahan

yang disukainya. Dengan demikian dapat diketahui siswa yang memiliki gaya

kognitif field independent diajar dengan metode tutor sebaya belum memberikan

pengaruh terhadap hasil belajar KKPI yag dicapai.

Hasil belajar KKPI siswa yang memiliki gaya kognitif Field dependent diajar dengan metode tutor sebaya dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar field dependent diajar dengan metode konvensional

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa siswa yang memiliki gaya

kognitif field dependent diajar dengan metode tutor sebaya memperlihatkan hasil

belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar menggunakan

metode konvensional. Hal ini didukung oleh teori bahwa siswa dengan gaya

kognitif field dependent dalam pembelajaran menginginkan materi pelajaran yang

terstruktur dengan baik, tujuan pembelajaran yang tersusun dengan baik, motivasi

eksternal, penguatan eskternal dan membutuhkan bimbingan baik dari guru atau

(19)

Pembelajaran tutor sebaya merupakan pembelajaran dimana untuk bisa

memperoleh sebuah pengetahuan atau keterampilan dibutuhkan teman sebaya atau

teman sekelas. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nurita Putranti (2007)

bahwa pengajaran tutor sebaya dapat dipandang sebagai reaksi terhadap

pengajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat, sehingga guru

atau tenaga pengajar tidak dapat memberikan bantuan individual. Oleh sebab itu

diperlukan seorang tutor yang berasal dari siswa sendiri untuk membantu

temannya memahami materi pelajaran.

Siswa dengan gaya kognitif field dependent cocok dengan tutor sebaya,

karena ia belajar memerlukan kerjasama dengan orang lain. Dengan demikian

dapat dimengerti bahwa apabila siswa field dependent ini diajar dengan

menggunakan metode tutor sebaya diduga hasilnya lebih tinggi dibandingkan

diajar dengan metode konvensional.

Hasil belajar KKPI siswa yang memiliki gaya belajar Field Independent diajar menggunakan metode tutor sebaya dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar Field Independent diajar dengan metode konvensional

Hasil pengujian hipotesis keempat membuktikan bahwa hasil belajar siswa

yang memiliki gaya kognitif field independent yang mengikuti pembelajaran

menggunakan metode tutor sebaya tidak berbeda dibandingkan dengan siswa

yang memiliki gaya kognitif field independent yang mengikuti pembelajaran

menggunakan metode konvensional. Hal ini sesuai pendapat Nila Meutia

(20)

umumnya lebih mandiri dalam belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang besar

tentang suatu bidang dan permasalahan yang disukainya. metode tutor sebaya

merupakan pembelajaran dimana untuk bisa memperoleh sebuah pengetahuan

atau keterampilan dibutuhkan teman sebaya atau teman sekelas. Metode

konvensional merupakan metode pembelajaran dimana guru mentransformasikan

informasi atau keterampilan secara langsung kepada siswa dengan pembelajaran

yang berorientasi kepada tujuan serta distrukturkan oleh guru dan siswa

mencobakan atau mempraktekkan keterampilan dibimbing oleh guru. Siswa

dengan gaya kognitif Field independent cocok dengan metode konvensional.

Dengan demikian dapat dimengerti bahwa siswa field independent diajar dengan

menggunakan metode tutor sebaya hasilnya lebih rendah dibandingkan ia diajar

dengan metode konvensional.

Simpulan dan saran

Kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengujian hipotesis

dan pembahasan hasil penelitian adalah terdapat perbedaan hasil belajar siswa

yang diajar dengan metode tutor sebaya dibandingkan dengan siswa yang diajar

dengan metode konvensional. Terdapat pengaruh interaksi metode pembelajaran

dengan gaya kognitif terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada mata pelajaran

KKPI. Hasil belajar siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent yang

diajar dengan metode tutor sebaya lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang

(21)

kognitif field independent yang diajar dengan metode tutor sebaya rendah

dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan metode konvensional.

Berdasarkan temuan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka

dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Guru hendaknya memilih dan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya

untuk peningkatan hasil belajar siswa.

2. Guru hendaknya dapat memperhatikan gaya kognitif siswa baik yang memiliki

gaya kognitif field dependent maupun gaya kognitif field independent dalam

menerapkan suatu metode pembelajaran.

3. Guru hendaknya dapat mengkombinasikan berbagai metode pembelajaran

untuk dapat melayani berbagai perbedaan karakteristik gaya kognitif siswa.

4. Bagi para peneliti, pada dasarnya penerapan metode pembelajaran ini tidak

hanya terbatas pada metode tutor sebaya dan konvensional saja, tetapi dapat

juga menggunakan metode pembelajaran yang lain.

5. Untuk kesempurnaan penelitian ini maka diharapkan adanya penelitian sejenis

maupun lanjutan dengan melibatkan variabel yang lebih banyak seperti

motivasi belajar, minat belajar dan IQ.

Daftar Rujukan

Crowl, Thomas K, Sally Kaminsky, and David M. Podell. 1997. Educational

Psycholog: windows on Teaching. Madison : Brown & Benchmark

Publisher.

Nila Meutia. 2008. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap

(22)

Nurita Putranti. 2007. Tutor Sebaya. http://Nuritaputranti.wordpress.com . Akses tanggal 10 September 2011.

Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.

Udin S. Winataputra. 1999. Pendekatan Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Winkel, W. S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Woolfolk, Anita E. 1998. Educational Psychology. New York: Simon and Schuster Macmillan.

Persantunan: Artikel ini diolah dari tesis Eri Yanti dengan judul Pengaruh Metode Tutor Sebaya Dan Gaya Kognitif Terhadap Hasil Belajar Keterampilan Komputer Dan Pengelolaan Informasi Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Painan dan

ucapan terima kasih kepada Pembimbing I Dr. Fahmi Rizal, M.Pd, M.T dan

Pembimbing II Dr. Ambiyar, M.Pd yang telah membantu memberikan arahan

Gambar

Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar KKPI
Tabel 3. Uji Homogenitas Kelompok Field Dependent dengan Kelompok  Field Independent
Tabel 5. Rata-rata Hasil Belajar KKPI
Tabel 6.   Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Tuckey Pada Taraf   Signifikansi α = 0,05

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis univariat dan bivariat dapat diperoleh informasi dari tabel 14 di atas bahwa pendidikan responden pernah berkunjung ke layanan kesehatan untuk

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah stasiun kerja dokter gigi di Klinik Taman Anggrek yang efektif dan efisien adalah dengan memerhatikan antropometri

Problem-problem ini juga berdasarkan pada asumsi bahwa gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia disadari sedang mengalami stagansi atau lebih tepat time out, setelah

Nagasakti Furnindo meningkatkan kemampuan kompetisinya dengan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen dengan memenuhi order mereka sesuai pesanan sehingga

Untuk Koperasi Sekunder dihadiri minimal 3 (tiga) Koperasi yang berbadan hukum yang diwakili oleh kuasanya.. Dihadiri oleh Pejabat Dinas Koperasi UKM

Hasil wawancara dengan Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan pada salah satu kelurahan di Kecamatan Tampan (23/7 2011), yang menyatakan bahwa: “Sebagian besar Ketua RW dan

Lafaz talak kinayah jika seorang suami melafazkan seperti „kamu haram ke atasku‟ tidak akan gugur talak melainkan dengan niat untuk ceraikan isterinya baru dikira talak. Dalil

(2) Basis Akrual digunakan untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam Neraca dan pengakuan pendapatan dan beban dalam Laporan Operasional. 3) Periode