1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalu lintas merupakan salah satu sarana komunikasi masyarakat yang memegang peranan vital dalam memperlancar kehidupan yang kita laksanakan.
Karena dengan adanya lalu lintas tersebut, memudahkan akses bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan demi memenuhi perekonomiannya. Tidak ada lalu lintas, kita bisa bayangkan betapa sulitnya bagi kita untuk pergi bekerja atau melakukan sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan jalan. Tidak ada pekerjaan yang tidak menghindari penggunaan lalu lintas. Manfaat transportasi sangat besar bagi kehidupan sehari-hari.
Pentingnya transportasi tersebut tercermin pada semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi mobilitas orang serta barang dari dan ke seluruh pelosok tanah air, bahkan dari dan ke luar negeri. Disamping itu transportasi juga berperan sebagai penunjang, pendorong, dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi, namun belum berkembang, dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya.1
1 C.S.T. Kansil, dkk, Disiplin Berlalu lintas di Jalan Raya, PT Rineka cipta, Jakarta,1995, hal., 4.
Selain bermanfaat, terdapat juga berbagai permasalahan di jalan raya yang melibatkan pengguna jalan raya. Banyaknya pengguna jalan raya setiap hari, tidak luput dari permasalahan lalu lintas. Permasalahan yang sering terjadi di yaitu kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan bisa terjadi karena banyak hal dan kecelakaan yang sering terjadi yaitu disebabkan oleh kelalaian pengemudi sendiri. Salah satu hal kecil yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas yaitu pengemudi yang menyetir dalam kondisi mengantuk yang menyebabkan tidak focus berkendara dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Masalah kecelakaan lalu lintas merupakan masalah yang berskala nasional yang selalu berkembang mengikuti perkembangan di masyarakat.
Dalam studi hukum yang menyatakan seseorang bersalah, seseorang harus mempertimbangkan masalah pertanggungjawaban pidana bagi seseorang yang karena kelalaiannya menyebabkan kematian orang lain. Pertanggungjawaban berkaitan dengan kesalah seseorang.2 Kesalahan yang di maksud disini adalah kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan (dolus) dan kealpaan (negligence).3 Dan pada pasal 359 KUHP seseorang karena kelalaianya dijatuhi pidana maksimal 5 tahun.4
Djoko Prakoso mengatakan bahwa tindak pidana adalah suatu pengertian dasar hukum pidana. Oleh karena itu memahami pengertian tindak pidana adalah hal yang sangat penting. Tindak pidana adalah suatu pengertian yuridis, lain halnya
2 Leden Marpaung. Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh, Sinar Grafika, Jakarta 2002, hal., 20.
3 Leden Marpaung, Asas Teori Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta2005, hal.,9.
4 Pasal 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
dengan istilah kejahatan (crime) yang bisa diartikan secara yuridis ataupun secara kriminologis. Mengenai pengertian tindak pidana tidak ada kesatuan pendapat diantara para sarjana.5 Dan menurut Wirjono Prodjodikoro mengatakan bahwa tindak pidana adalah: “Suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana”.6
Dalam tindak pidana juga terdapat dua unsur tindak pidana, yaitu : a) Unsur objektif atau unsur perbuatan, yaitu merupakan unsur yang
terdapat diluar diri si pelaku, yang terdiri dari adanya perbuatan,akibat perbuatan, bersifat melawan hukum dan tidak adanya alasan pembenar.
b) Unsur subjektif atau unsur pertanggungjawaban pidana, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku yang terdidi dari kesalahan (kesengajaan atau kealpaan), kemampuan bertanggung jawab dan tidak ada alasan pemaaf.7
Istilah pertanggungjawaban pidana terdiri dari dua kata yakni pertanggungjawaban dan pidana. Pertanggungjawaban berasal dari kata dasar tanggung jawab. Tanggung jawab diartikan sebagai: “keadaan wajib menanggung segala sesuatunya kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya”.8 dan menurut S.R. Sianturi mengatakan bahwa: “dalam bahasa
5Djoko Prakoso, Tindak Pidana Penerbangan Di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hal., 38.
6 A. Faud Usfa, Pengantar Hukum Pidana , Universita Muhammadiyah Malang,2004, hal., 34.
7Andi Sofyan dan Nur Azisa, Op.Cit., hal., 108.
8Desy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Amelia, Surabaya, 2003, hal., 450.
asing pertanggungjawaban pidana disebut sebagai toerekenbaarheid, criminal responsibility, criminal liability. Dikatakan bahwa pertanggungjawaban pidana
dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka atau terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi atau tidak”.9
Tujuan hukum pidana dikenal dua aliran, yaitu :10
1. Untuk menakut-nakuti agar jangan sampan orang melakukan perbuatan yang tidak baik (aliran klasik)
2. Untuk mendidik orang yang pernah melakukan tindakan tidak baik agar dapat di terima Kembali oleh lingkunganya (aliran modern)
Tetapi Vos memandang perlu adanya aliran ketiga, yang merupakan kompromi aliran modern dan klasik.11 Tujuan pemidanaan yang diatur di dalam hukum potisif merupakan orientasi dari model keadilan retributive yang dimana tujuan pemidanaan dilakukan hanya untuk balas dendam.12 C. Maya Indah S mengungkapkan pendapatnya yaitu Hukum Pidana positif (materil atau formal) walaupun memberi perhatian kepada korban secara langsung dengan pemberian ganti rugi ini pun masih bersifat sangat terbatas dan limitatif, yaitu dalam hal hakim menjatuhkan pidana bersyarat dalam Pasal 14 c KUHP hakim dapat menerapkan syarat khusus bagi terpidana untuk mengganti kerugian baik semua maupun sebagian yang ditimbulkan dari tindak pidana.13 Dari pendapat ahli tersebut dapat
9S.R. Sianturi, Op-Cit, hal,. 250.
10 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Rajawali Pers, Depok, 2017, hal.,14.
11 Ibid.
12 Ibid, hal., 15.
13 C. Maya Indah S., Perlindungan Korban: Suatu Perspektif Viktimologi dan Kriminologi, Kencana, Jakarta, 2014, h.159
dikatakan bahwa dalam penyelesaian suatu perkara pidana kedudukan korban kurang begitu penting atau hanya menonton saja, faktanya korban merupakan pihak yang paling dirugikan.
Dalam kaitannya dengan kecerobohan pengguna jalan, Wirjono Prodjodikoro menyatakan kesalahan pengemudi mobil sering dapat disimpulkan dengan mempergunakan peraturan lalu lintas misalnya, ia tidak memberikan tanda akan membelok, atau ia mengendarai mobil tidak di jalur kiri, atau pada suatu persimpangan tidak memberikan prioritas kepada kendaraan lain yang datang dari sebelah kiri, atau menjalankan mobil terlalu cepat melampaui batas kecepatan yang ditentukan dalam rambu-rambu dijalan yang bersangkutan.14.
Kealpaan dalam KUHP dijelaskan pada ketentuan pasal 359 dan 360, yaitu:
1. Pasal 359, Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.
2. Pasal 360, Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.
Dalam uraian Kitab Undang-undang Hukum Pidana pasal 359 dan 360 disimpulkan, apabila kelalaian atau kealpaan orang yang menyebabkan orang lain
14 Wirjono Projodikoro,Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2003, Hal., 81.
atau korban meninggal dunia ancaman pidananya sebagaimana diatur dalam pasal 359 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.dan dalam kealpaan kecelakaan lalulintas lex specialis nya adalah Nomor 22 Undang-Undang Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 310 dalam UULLAJ yaitu :
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).
(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).
(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
(4) Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).
Berdasar kelakuan dari pelaku tindak pidana dapat ditentukan apakah hukum pidana itu berlaku atau tidak, yaitu dengan cara membuat hubungan antara kelakuan pelaku dengan sebab-akibat yang terjadi dan menentukan kelakuan pelaku melawan hukum atau tidak. Diperlukan juga hubungan antara kelakuan yang berakibat menibulkan peristiwa melawan hukum dengan pertanggungjawaban pidana yang pelaksanaannya menurut ketentuan pidana.15 Dalam contoh kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian, dengan putusan nomor 8/Pid.Sus/2020/PN Slt., terdakwa atas nama Muhlisin bin Sumono.
Bahwa dalam khasus ini, vonis yang dijatuhkan hakim yaitu dengan pidana penjara selama 4 (empat) bulan dan denda sejumlah Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka di ganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan. Vonis tersebut terbilang cukup ringan karena dalam khasus ini, korban yaitu Abdul Salam meninggal dunia. Yang seharusnya sebagaimana dimaksud dalam UULLAJ dengan korban meninggal dunia diatur dalam Pasal 310 ayat (4) tetapi mengapa pidana yang dikenakan yaitu pada pasal 310 ayat (3) UULLAJ. Adapun yang menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana yaitu telah ada penyelesaian perdamaian antara pihak terdakwa dan pihak keluarga korban.16
Merujuk pada latar belakang penulis hendak mengkaji dan membahas mengenai pertanggung jawaban pelaku tindak pidana atas korbannya. mengangkat
15 Bambang Poernomo, Hukum Pidana Kumpulan Karangan Ilmiah, PT Bina Aksara, Jakarta, 1982, hal., 69.
16Isi Putusan Nomor: 8/Pid.Sus/2020/PN Slt., dengan terdakwa atas nama Muhlisin bin Sumono.
hal tersebut sebagai bahan penulisan hukum yang berjudul,
“PERTANGGUNGJAWABAN PELAKU TINDAK PIDANA DALAM KECELAKAAN LALU LINTAS YANG BERAKIBAT KEMATIAN ”
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam peneletian ini adalah sebagai berikut:
Bagaimana pertanggungjawaban pelaku tindak pidana dalam kecelakaan lalu lintas berat yang berakibat kematian ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Menjelaskan pertanggungjawaban pelaku tindak pidana dalam kecelakaan lalu lintas yang berakibat kematian.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang hendak penulis sampaikan berdasarkan:
1. Manfaat Teoritis
ialah meningkatkan, mengembangkan pengetahuan, dan memberikan gambaran yang jelas di bidang hukum pidana terkait pidana khusus yaitu mengenai kasus tindak pidana kecelakaan lalu lintas berat.17
2. Manfaat Praktis
17 Suratman, Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, Alfabeta, Bandung, 2015, h. 104.
ialah sebagai bahan pendukung atau referensi di bidang hukum pidana terkait pidana khusus mengenai proses hukum untuk pertanggungjawaban pelaku dalam kecelakaan lalu lintas.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang mencakup terhadap asas hukum, sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan pertimbangan hukum.18
2. Pendekatan Masalah
Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach).19 Pendekatan undang-undang (statute approach). Terkait dengan pendekatan kasus, dalam penelitian ini berfokus pada kasus kecelakaan yang menimbulkan korban meninggal dunia dengan putusan nomor 8/Pid.Sus/2020/PN Slt. Pedekatan selanjutnya yakni : 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, 3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Republik Indonesia Tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP), 4) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, 5) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Pendekatan konseptual
18 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, IJI Press, Jakarta, 1983, h. 51.
19 Mukti Fajar, Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum-Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2015, h. 184-190.
(conceptual approach) berawal dari pandangan dan doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Dengan pendekatan ini penulis akan menemukan ide, pengertian, konsep, dan asas hukum yang relevan dengan isu hukum yang penulis angkat.
3. Sumber Bahan Hukum
Bahan hukum dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu; bagian hukum primer dan bagian hukum sekunder. Bagian yang pertama, yaitu bahan hukum primer.
1. Bahan hukum primer adalah bahan hukum utama darimana asas dan kaidah dapat ditemukan, atau semua penelitian hukum normatif.
Bahan hukum primer tersebut bersifat autoritatif yaitu peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan. Adapun bahan hukum primer dalam penelitian ini yaitu : 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, 2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, 3) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1946 Republik Indonesia Tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP), 4) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, 5) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), 6) putusan pengadilan nomor 8/Pid.Sus/2020/PN Slt.
2. Bagian yang kedua adalah bahan hukum sekunder. Bahan hukum sekunder berupa buku-buku hukum terasuk skripsi, thesis, disertasi hukum, dan jurnal-junal hukum. Penulis mengambil bahan hukum
yang berhubungan dengan isu penulis yaitu pertanggungjawaban pelaku tindak pidana dalam kecelakaan lalu lintas yang berakibat kematian.
4. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum
Data atau bahan hukum yang dikumpulkan dengan metode Library Research, dan mengunduh peraturan perundang-undangan berkaitan dengan isu
hukum yang diangkat penulis.
5. Teknik Analisis
Bahan Hukum yang dikumpulkan diatas dianalisis secara kualitatif.
Analisis kualitatif artinya analisis tidak menggunakan data kuantitatif atau data statistik dengan menemukan makna atau arti dari konsep-konsep yang berkaitan dengan isu hukum penulis.