• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERILAKU PRO LINGKUNGAN DI USAHA MIKRO KOTA MEDAN DENGAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS TESIS OLEH: ARRAZY ELBA RIDHA /TI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PERILAKU PRO LINGKUNGAN DI USAHA MIKRO KOTA MEDAN DENGAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS TESIS OLEH: ARRAZY ELBA RIDHA /TI"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH:

ARRAZY ELBA RIDHA 177025011/TI

l

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Teknik

dalam Program Studi Teknik Industri pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

OLEH:

ARRAZY ELBA RIDHA 177025011

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Ir. Nazaruddin, MT, Ph.D

Anggota : M. Haikal Karana, ST, M.Eng, Ph.d Prof. Dr. Ir. Harmein Nasution, MSIE Dr. Ir. Juliza Hidayati, MT

Dr. Ir. Meylita Tryana Sembiring, MT

(5)

Analisis Prilaku Pro-lingkungan Pada Usaha Mikro di Kota Medan Dengan Metode Principal Component Analysis

Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.

Medan, Januari 2020 Yang Membuat Pernyataan,

Arrazy Elba Ridha NIM : 177025011

(6)

pertumbuhan Usaha Mikro (UMKM) dalam dekade terakhir ini mengalami peningkatan yang sangat drastis dan signifikan, peningkatan Usaha Mikro (UMKM) yang semakin tumbuh dan berkembang, diiringi dengan juga dengan peningkatan limbah usaha yang tidak terkendali dan kerusakan lingkungan yang terjadi.

Disamping itu berdasarkan literatur penelitian terdahaulu, diketahui bahwa sangat rendahnya kesadaran perilaku pelaku usaha dalam menjaga lingkungan dari hasil literature penelitian terdahaulu manjadi acuan penelitian ini untuk mengevaluasi perilaku pro-lingkungan pada Usaha Mikro (UMKM) dengan klasifikasi sektor Usaha makanan & minuman didaerah Kota Medan.

Observasi perilaku pro-lingkungan dilakukan pada 300 Responden (N=300) Usaha Mikro (UMKM) dengan teknik convenience sampling, yang tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan, dengan 6 indikator perilaku pro-lingkungan yaitu 1.

Penghematan energi, 2. Mobilitas, 3. Penanganan limbah, 4. Daur ulang 5.

Konsumerisme, 6. Prilaku pelestarian lingkungan. Hasil didasarkan pada survei empiris yang dilakukan pada 21 Kecamatan yang ada di Medan, mendapatkan hasil persentase perilaku pro-lingkungan tertinggi dengan total 34% berada pada Kecamatan Medan Timur, sedangkan hasil terendah dengan total 6% berada pada Kecamatan Medan Belawan. Selanjutnya pada penelitian ini didukung dengan analisis komponen utama (PCA), pengujian analisis komponen utama juga dilakukan pada 21 Kecamatan yang ada di Kota Medan, yang bertujuan untuk melihat perilaku pro-lingkungan yang paling menonjol atau, prilaku yang menjadi komponen utama.

Disamping itu dari hasil pengujian secara keseluruhan dari 21 Kecamatan yang ada di Kota Medan, menunjukkan bahwa perilaku pro-lingkungan, didasari oleh pengentahuan dan kesadaran yang menajadi faktor utama dalam membentuk Habits perilaku pro-lingkungan pada pelaku Usaha Mikro.

Kata Kunci : Perilaku pro-lingkungan, Usaha Mikro (UMKM), Analisis Komponen Utama (PCA).

(7)

Enterprises (MSMEs) in the past decade has experienced a very drastic and significant increase, the increase in Micro Enterprises (MSMEs) which is growing and developing, accompanied by also an increase in uncontrolled business waste and environmental damage that occurs. Besides that, based on the past research literature, it is known that very low awareness of the behavior of business actors in protecting the environment from the results of the earlier research literature became the reference of this research to evaluate the pro-environment behavior in Micro Enterprises (MSMEs) with the classification of the food & beverage business sector in the Medan City area.

Pro-environment behavior observation was carried out on 300 Respondents (N = 300) Micro Business (MSME) using the convenience sampling technique, which is spread in 21 Districts in Medan City, with 6 pro-environment behavior indicators namely 1. Energy saving, 2. Mobility, 3. Waste management, 4. Recycling 5.

Consumerism, 6. Environmental preservation behavior. The results are based on an empirical survey conducted on 21 Subdistricts in Medan, which results in the highest percentage of pro-environment behavior with a total of 34% in the East Medan District, while the lowest results with a total of 6% in the Medan Belawan District.

Furthermore, this research is supported by principal component analysis (PCA).

Testing of principal component analysis is also carried out in 21 subdistricts in the City of Medan, which aims to see the most prominent pro-environment behavior or, the behavior that is the main component. Besides that, from the overall test results from 21 Subdistricts in Medan City, it shows that pro-environment behavior is based on knowledge and awareness which is the main factor in forming Pro-environment Behavior Habits in Micro Business actors.

Keywords: Pro-environment behavior, Micro Business (MSME), Principal Component Analysis (PCA)

(8)

RIWAYAT HIDUP

Arrazy Elba Ridha lahir di Langsa pada tanggal 13 Desember 1994 dari pasangan Bapak Raja Bangsawan, S.ag, MA dan Ibu Elvira, S.kep, Ners.

Penulis memiliki dua orang saudara kandung yaitu Anggun Tiara Islamy dan Ayu Fathia Sugra.

Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 2006 di SD Negri 3 Langsa, menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama pada tahun 2009 di Madrasah Tsanawiyah (MTS) Ulumul Qur’an, menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas pada tahun 20012 di SMA Negeri 1 Langsa.

Pada tahun 2016 menyelesaikan pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan LPP Medan dengan Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan. Pada tahun 2017 penulis melanjutkan pendidikan di Magister Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara

Penulis memiliki riwayat pekerjaan di PT. Dinamika Lubsindo Utama pada tahun (2017-2018), dan pada tahun 2018 pernah menjadi anggota tim pelaksana pekerjaan jasa pendamping penyusunan Rencana Jangka Panjang (RJP) PT. PLN (Persero) UPHK Medan.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur hadirat Allat SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Analisis Perilaku Pro-lingkungan Pada Usaha Mikro di Kota Medan Dengan Metode Principal Component Analysis”. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan untuk pelaku Usaha Mikro (UMKM) di Kota Medan, dan juga sebagai masukan untuk Kementrian Lingkungan Hidup dalam meningkatkan upaya menjaga lingkungan hidup di Kota Medan.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis, baik dalam penelitian, proses penyusunan tesis, maupun selama menjalankan S2 ini. Terima kasih kepada Bapak Ir. Nazaruddin Matondang, MT, Phd selaku Ketua Jurusan Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Sumatera Utara dan sekaligus menajadi pembimbing utama penulis yang telah banyak memberikan dukungan, arahan, dan petunjuk dalam penyelesaian tesis ini. dan juga sebagai anggota komisi pembimbing kedua yaitu Bapak M. Haikal Karana Sitepu, ST, M.Eng, Ph.d, saya ucapkan terima kasih atas bantuan, dukungan, arahan, dan petunjuk dalam penyelesaian tesis ini.

Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Ir.

Harmein Nasution, MSIE, Ibuk Dr. Ir. Juliza Hidayati, MT dan Ibuk Dr. Ir.

Meylita Tryana Sembiring, MT, sebagai tim penguji yang telah banyak memberikan masukan serta saran yang membangun dan menyempurnakan tesis ini. Untuk bapak Dana Prima Tarigan sebagai Direktur Eksekutif WALHI Sumut, saya ucapkan terima kasih atas partisipasi dan masukan yang diberikan, sehingga membantu penulis dalam mengumpulkan data-data yang dibutuhkan selama penelitian.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Staf di Magister Teknik Industri yang telah membantu penulis dalam memberikan informasi dan dukungan selama peneliti mengikuti pendidikan.

(10)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis Ayahanda Raja Bangsawan, S.ag, MA dan Ibunda Elvira, S.kep, Ners, yang tidak henti-hentinya memberikan semangat, doa dan dukungan secara moril dan materil selama penulis menyelesaikan studi S2 dan dalam penyelesaian tesis ini.

Terimakasih juga penulis sampaikan untuk teman-teman khususnya angkatan 25 dan 26 atas kerja samanya dalam menjalani perkuliahan dan penyelesaian tesis ini, dan kepada sahabat-sahabat penulis, penulis ucapkan terimakasih atas bantuannya selama ini, dalam proses pembuatan tesis ini. Serta ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan dan doanya dalam penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kelemahan dan kekurangan pada laporan penelitian ini.Sesungguhnya kekhilafan ada di manusia dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.Penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Medan, Januari 2020 Penulis

Arrazy Elba Ridha 177025011

(11)

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN... . xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 10

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ... 11

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah ... 11

1.6 Asumsi – Asumsi ... 12

BAB 2 LITERATURE REVIEW 2.1 Usaha Mikro ... 13

2.1.1 Lingkup Jenis Usaha ... 14

2.1.2 Peranan Etika Lingkungan Pada Usaha Mikro ... 15

2.2 Pembangunan Berkelanjutan ... 17

2.3 Prilaku Pro-lingkungan (Peb ... 22

2.3.1 Aspek-Aspek Prilaku Pro-lingkungan... 26

2.4 Principle Component Analysis (PCA) ... 29

2.4.1 Penerapan PCA ... 30

2.5 Kerangka Konsep ... 33

2.6 Defenisi Variabel Operasional ... 34

2.7 Hipotesis ... 35

(12)

3.3.1 Tahapan Penelitian ... 36

3.4 Pengumpulan Data ... 38

3.4.1 Sumber Data ... 38

3.4.2 Instrumen Pengumpulan data ... 38

3.5 Analisa ... 41

BAB IV RANCANGAN PENELITIAN 4.1 Analisis dan Evaluasi ... 44

4.2 Hasil ... 44

4.2.1 Tata Letak Geografis Usaha Mikro ... 45

4.2.2 Karakteristik Jenis kelamin Responden ... 47

4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 48

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Sektor Usaha 48 4.2.5 Karakteristik Berdasarkan Modal Usaha ... 49

4.2.6 Karakteristik Berdasarkan Jumlah Karyawan ... 50

4.2.7 Karakteristik Berdasarkan Penghasilan Perbulan . 50 4.2.8 Karakteristik Berdasarkan Jumlah Tanggungan ... 51

4.2.9 Karakteristik Berdasarkan Pendidikan Terakhir... 52

4.2.10 Karakteristik Frekuensi Sumber Listrik ... 52

4.2.11 Karakteristik Frekuensi Peralatan Listrik ... 53

4.2.12 Karakteristik Frekuensi Sumber Air ... 54

4.2.13 Karakteristik Frekuensi Sumber Air Minum ... 54

4.2.14 Karakteristik Frekuensi Biaya Air Minum Perbulan 55 4.2.15 Frekuensi Tagihan Biaya Air, Listrik dan Gas ... 56

4.2.16 Frekuensi Akses Ketempat Usaha/Jualan ... 57

4.2.17 Frekuensi Biaya Bahan Bakar perbulan ... 57

4.2.18 Frekuensi Jenis Operasi Usaha ... 58

4.2.19 Frekuensi Jenis Kendaraan Untuk Berkeliling ... 59

4.2.20 Frekuensi Tempat Pembuangan Sampah ... 60

(13)

4.3.1 Persentase Variabel Perkecamatan ... 64

4.3.2 Persentase Prilaku Pro-lingkungan Perkecamatan.. 66

4.3.3 Persentase Prilaku Pro-lingkungan Kota Medan .. 68

4.4 Analisis Komponen Utama Perkecamatan ... 70

4.4.1 Kecamatan Medan Area ... 70

4.4.2 Kecamatan Medan Amplas ... 73

4.4.3 Kecamatan Medan Barat ... 74

4.4.4 Kecamatan Medan Baru ... 76

4.4.5 Kecamatan Medan Deli ... 77

4.4.6 Kecamatan Medan Denai ... 79

4.4.7 Kecamatan Medan Helvetia ... 81

4.4.8 Kecamatan Medan Johor ... 82

4.4.9 Kecamatan Medan Kota ... 84

4.4.10 Kecamatan Medan Maimun ... 85

4.4.11 Kecamatan Medan Petisah ... 87

4.4.12 Kecamatan Medan Selayang ... 89

4.4.13 Kecamatan Medan Sunggal ... 90

4.4.14 Kecamatan Medan Tuntungan ... 91

4.4.15 Kecamatan Medan Timur ... 93

4.4.16 Kecamatan Medan Tembung ... 94

4.5 Analisis Statistik ... 97

4.5.1 Uji Rank Spearman ... 97

4.5.2 Analisis Faktor ... 99

4.6 Interprestasi Hasil Analisis Komponen Utama (PCA) ... 110

4.7 Pembahasan PCA ... 113

4.8 Model Structural (SEM) ... 117

4.9 Analisis Hipotesis ... 119

(14)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(15)

1.1 Pertumbuhan Usaha Mikro dan Industri Kecil atau UMKM menurut

kabupaten dan kota ... 3

1.2 Perbandingan Sampah Tiap Kecamatan Kota Medan... 4

1.3 Persentase UMKM Industri Ramah lingkungan... 7

3.1 Variabel dan Item Penelitian... 39

4.1 Jumlah Responden Usaha Mikro Perkecamata... 45

4.2 Rating Skala... 62

4.3 Total Perkecamatan... 63

4.4 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Area... 71

4.5 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Amplas... 73

4.6 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Barat... 74

4.7 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Baru... 76

4.8 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Deli... 77

4.9 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Denai... 79

4.10 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Helvetia... 81

4.11 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Johor... 82

4.12 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Kota... 84

4.13 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Maimun... 85

4.14 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Petisah... 87

4.15 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Selayang... 89

4.16 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Sunggal... 90

4.17 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Tuntungan... 91

4.18 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Timur... 93

4.19 Rotasi Matrik Kecamatan Medan Tembung... 95

4.20 Hubungan Korelasi Variabel... ... 98

4.21 Nilai KMO... ... 101

4.22 Rekap Nilai MSA... ... 102

4.23 Rekap Nilai MSA Perbaikan Model... 103

4.24 Nilai KMO Perbaikan Model... 104

(16)

4.29 Kesimpulan Uji Hipotesa Structural (SEM)... 118

(17)

1.1 Komposisi Limbah dan Sampah Kota Medan... 6

2.1 Scope of Sustainable Development... 20

2.2 framework for sustainable lifestyles... 22

2.3 Model Penelitian... 25

2.2 Matrix Principal Component Analysis... 32

2.3 Kerangka Konsep Penelitian... 34

3.1 Tahapan Penelitian... 37

4.1 Letak Usaha Mikro Berdasarkan Kordinat... 46

4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 47

4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur... 48

4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Sektor Usaha... 48

4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Modal Usaha... 49

4.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan... 50

4.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan perbulan... 50

4.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan... 51

4.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir... 52

4.10 Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi Sumber Listrik. 52 4.11 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Pralatan Listrik... 53

4.12 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Sumber Air... 54

4.13 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Sumber Air Minum... 54

4.14 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Biaya Air Minum... 55

4.15 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Tagihan Air, Listrk, dan Gas... 56

4.16 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Akses Ketempat Usaha/Jualan... 57

4.17 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Biaya Bahan Bakar Perbulan..... 57

4.18 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Jenis Operasi Usaha...... 58

4.19 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Jenis Kendaraan Saat Berkeliling. 59 4.20 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Tempat Pembungan Sampah....... 60

4.21 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Kertas...... 60 4.22 Karakteristik Berdasarkan Frekuensi Perlakuan Barang Tidak Terpakai. 61

(18)

4.27 Diagram Scree Plot Pembentukan Komponen... 108 4.28 Model Program Peningkatan Perilaku pro-lingkungan... 116 4.29 Model Structural Perilaku pro-lingkungan (Standardized Solution) 117 4.30 Model Structural Perilaku pro-lingkungan (T-values)... 108

(19)

1. Lampiran I... . 123 2. Lampiran II... . 128 3. Lampiran III... . 160

(20)

1.1 Latar Belakang

Pencemaran lingkungan yang terjadi di Indonesia dalam dekade terakhir ini sangat menuai kontroversi, hal ini menjadi perhatian dan tanngung jawab khususnya, badan lingkungan hidup dan masyarakat sekitar. Perubahan dan pencemaran lingkungan di Indonesia sangat erat berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak hanya membawa dampak baik tetapi, juga membawa dampak buruk bagi lingkungan, contohnya ialah pratik tidak ramah lingkungan, perilaku percemaran lingkungan, dan ketidak pedulian kepada lingkungan yang membuat pembuangan limbah tidak terkendali dan juga pemakaian energi yang sangat konsumtif.

Beragamnya industri yang tumbuh merupakan permintaan atas semakin beragamnya gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat. Dampak yang dihasilkan dari meningkatnya aktifitas usaha dan industri adalah semakin beratnya pengelolaan dan penanganan limbah hasil usaha. Selain meningkatnya jumlah limbah, beragamnya pola konsumsi mempengaruhi komposisi material kandungan limbah menjadi semakin sulit diurai secara alami, mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Saat ini. Indonesia masuk dalam kategori sebagai negara yang perekonomiannya terus membaik, demikian pula timbunan sampah yang dihasilkan akan terus bertambah. Pertumbuhan limbah yang semakin tinggi sudah tidak dapat dihindari, oleh sebab itu perlu dilakukan pengurangan dan penanganan sampah karena banyak permasalahan yang diakibatkan dari

(21)

sampah, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pencemaran air, udara, dan tanah, meningkatkan gas rumah kaca (GRK), sumber penyakit seperti diare, bencana banjir, dan permasalahan lainnya.(Badan Pusat Statistik, 2018)

Sebagai Negara berkembang, Indonesia terus memacu pertumbuhan ekonominya. Tren pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari tahun 2001 yaitu 4,90 persen, mencapai puncak pada tahun 2011 sebesar 6,98 persen, dan sampai tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 5,07 persen. Didukung dengan jumlah penduduk yang besar, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, membawa perubahan pada jumlah industri di Indonesia baik industri besar dan industri makro semakin meningkat. Peningkatatan pertumbuhan ekonomi dalam perindustrian di Indonesia tidak hanya dialami oleh industri besar saja, akan tetapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap pendapatan devisa nasional melalui ekspor nonmigas mengalami peningkatan sebesar Rp 40,75 triliun atau 28,49 persen yaitu dengan tercapainya angka sebesar Rp183,76 triliun atau 20,17 persen dari total nilai ekspor nonmigas nasional. Selanjutnya pada tahun 2008, produk domestik bruto (PDB) nasional atas harga konstan tahun 2000 sebesar Rp1.997,73 triliun, kontribusi UMKM sebesar Rp1.165,26 triliun atau 58,33 persen dari total PDB.(Bank Indonesia dan LPPI, 2015)

Kontribusi UMKM dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah suatu pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang tersebar diseluruh provinsi di Indonesia.

Pada provinsi Sumatra Utara, khususnya di Kota Medan, pertumbuhan

(22)

peningkatan Usaha Mikro di Kota Medan, pada tahun 2015 s/d 2017 mengalami peningkatan yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari jumlah peningkatan industri kecil atau Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) yang diterbitkan oleh BPS- Statistik Provinsi Sumatra Utara berikut:

Tabel 1.1 Pertumbuhan Usaha Mikro dan Industri Kecil atau UMKM menurut kabupaten dan kota 2017.

Sumber : (Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatra Utara 2017, 2017)

Dapat dilihat pada Tabel 1.1, bahwa pertumbuhan banyaknya usaha mikro dikota Medan pada tahun 2017 berjumlah 12.196 Usaha mikro, hal itu menunjukan dengan jelas bahwa kota Medan menduduki posisi ketiga di Provinsi Sumatra

(23)

Utara dengan pertumbuhan usaha mikro yang pesat, hal ini berdampak positif dan negatif bagi Kota Medan. Dampak positifnya ialah tumbuh dan meningkatnya perekonomian kota Medan, dan dampak negatifnya adalah semakin besarnya buangan limbah usaha mikro, maka semakin besarnya resiko pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah usaha mikro.

Disamping itu pertumbuhan limbah dan sampah di Kota Medan mecapai angka yang masuk ke katagori sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari tabel pertumbuhan sampah kota Medan per Kecamatan yang diterbitkan oleh Institute For Global Environmental Strategies (IGES) , adalah sebagai berikut;

Tabel 1.2 Perbandingan sampah dan limbah, di tiap kecamatan Kota Medan

Sumber : ((IGES), 2019)

Dari tabel 1.2 diatas memperlihatkan timbunan sampah tertinggi berasal di Kecamatan Medan Deli dengan jumlah sampah dan limbah mencapai (129,3 ton/hari), kemudian diikuti oleh Medan Marelan, Medan Helvetia, Medan Denai,

(24)

Medan Tembung dan Medan Johor. Pada Kecamatan lain dilihat bahwa, beban lingkungan tertinggi (timbulan sampah per Kecamatan) diperkirakan berada di Kecamatan Medan Perjuangan (16.4 ton/hari/km2), diikuti oleh Medan Area dan Medan Tembung. Data tersebut menunjukan area-area perkecamatan dengan tingkat timbunan sampah, dan limbah yang tinggi memerlukan perhatian yang lebih besar terhadap penanganan dan pemecahan masalah untuk meminimalisir pertumbuhan sampah dan limbah.

Data-data terkait dengan pertumbuhan limbah dan jenis-jenis sampah, masih tegolong sedikit dan masih dalam tahapan penelitian, Berdasarkan perkiraan kasar dari DKP dapat diasumsikan bahwa sekitar 70% sampah dihasilkan dari sektor rumah tangga dan sektor usaha pinggiran (kaki lima), disamping itu terdapat penelitian pada tahun 2011, komposisi sampah yang dilakukan secara komprehensif oleh Japan International Cooperation Agency (JICA), sampel sampah diambil secara acak dari 33 truk sampah, dan sampah diambil dari 12 kecamatan didaerah selatan Medan (Medan Tuntungan, Medan Amplas, Medan Area, Medan Kota, Medan Maimun, Medan Polonia, Medan Baru, Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Helvetia, Medan Petisah, Medan Barat) dengan jumlah sampah 559,73 kg. Sampah didapatkan dari TPA Namo Bintang (sudah ditutup saat ini), ketika truk sampah membuang sampah ke area TPA, sebelum didaur ulang oleh para pemulung. Sampah basah dipisahkan dalam 9 kategori. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar setengahnya (48%) adalah sampah makanan, sementara proporsi terbesar selanjutnya adalah kertas (17%)

(25)

dan plastik (14%) yang merupakan sampah daur ulang. Dapat dijelaskan dengan gambar 1.1, sebagai berikut;

;

Sumber : ((IGES), 2019)

Gambar 1.1 Komposisi limbah dan sampah Kota Medan.

Disamping itu penelitian mengenai perilaku lingkungan, semakin dikembangkan, dikarenakan tingginya jumlah sampah atau limbah yang semakin banyak dan tidak terkendali, sangat berpengaruh signifikan dengan perilaku individual dalam kesadaran kepedulian, untuk menjaga serta melestarikan lingkungan. Hal ini dijelaskan dari laporan kajian kesiapan ramah lingkungan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, dijelaskan bahwa dari 141 UMKM sektor industri yang berada di daerah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Utara. Diklasifikasikan menjadi 3 Strata yaitu, 9 UMKM diantaranya berada pada Strata 1 (6%), 17 UMKM (12%) masuk ke dalam Strata

(26)

2, dan 115 UMKM (82%) berada pada strata 3, Yang akan ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 1.3 Persentase UMKM Ramah Lingkungan Sektor Industri.

Sumber : (BankIndonesia, 2012)

Terlihat dari Gambar 1.3 bahwa, Secara keseluruhan hanya 8,1% aktivitas ramah lingkungan yang dilakukan oleh UMKM sektor industri (Makanan). Terkait hal itu, UMKM pada strata 1 merupakan kelompok dengan aktivitas ramah lingkungan yang sudah mencapai 45,5%. UMKM pada strata 2 baru melaksanakan 20,9%, sedangkan UMKM pada strata 3 yang merupakan kelompok mayoritas masih sangat sedikit dalam melaksanakan aktivitas ramah lingkungan yakni 3.2%. Berdasarkan hasil ini, UMKM sektor industri yang merupakan kelompok aktivitas terbesar masyarakat masih jauh dari ketaatannya dalam melakukan usaha yang ramah lingkungan. Oleh karena upaya yang cukup besar yang memerlukan perhatian dan kerjasama berbagai pihak untuk mendorong mereka lebih menghargai lingkungan sebagai ekosistem yang perlu dijaga kelestariannya. (Bank Indonesia, 2012)

Ditinjau dari sisi kesadaran perilaku pelestarian lingkungan di Kota Medan, pada tahun 2018 kota Medan dinobatkan sebagai Kota terkotor di

(27)

Provinsi Sumatra Utara yang dimuat oleh beberapa media cetak dan artikel online yang ada di Kota Medan, dan membuat citra dan prediket kota Medan menjadi turun, dan hal ini menjadi problematika yang harus diidentifikasi dampak penyebab sampah yang menumpuk di Kota Medan. Maka oleh itu dibutuhkan penelitian dalam mengidentifikasi pencemaran lingkungan yang terjadi di Kota Medan yang ditinjau dari perilaku yang tidak ramah lingkungan dan kesadaran lingkungan yang akan diidentifikasi pada pelaku Usaha mikro di Kota Medan.

Dalam beberapa literatur jurnal dijelaskan bahwa penggaruh perilaku pro- lingkungan sangat berpengaruh positif pada pencemaran lingkungan, hal ini dijelaskan pada jurnal sebagai berikut:

Menurut Lin & dkk (2018). Perilaku pro-lingkungan, adalah sebuah perilaku yang bermanfaat untuk mengurangi berbagai masalah lingkungan, serta mengurangi dampak negatif lingkungan, perilaku Pro-lingkungan, merupakan perilaku yang berpihak untuk menjaga dan melestarian lingkungan dengan meminimalisir dampak negatif seperti, pemborosan penggunaan energi, peningkatan emisi karbon (banyaknya penggunaan kendaraan bermesin bakar dalam), menggunakan produk yang berbahan plastik dan beracun, penebangan pohon dan pembungan sampah sembarangan. Penerapan perilaku pro-lingkungan mampu meningkatkan perhatian kepada kepedulian lingkungan. Dalam prakteknya penerapan Peb (Pro-evironmental behavior), dapat terealisasi, ketika Peb (Pro-evironmental behavior) lain mendapat dukungan kebijakan lingkungan dari berbagai elemen pemerintahan dan masyarakat, sementara ketidak realisasinya tercapainya Peb (Pro-evironmental behavior) dikarenakan tidak

(28)

adanya kebijakan lingkungan. Terlebih dalam membuat kebijakan penerapan Peb (Pro-evironmental behavior), diperlukan insentif atau imbalan untuk mendorong warga untuk melakukan penerapan Peb (Pro-eviromental behavior), insentif atau imbalan yang lebih besar dalam memicu pengaruh positif dalam cepatnya terealisasinya Peb (Pro-evironmental behavior). (Xu, Zhang and Ling, 2018)

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku pro-lingkungan merupakan, perilaku yang memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan secara keberlanjutan (Sustainable Development), dalam menjadikan lingkungan, sosial dan ekonomi menjadi suatu keseimbangan dinamis. Dari data pertumbuhan sampah serta jenis sampah yang paling mendominasi di Kota Medan dan juga perilaku pro-lingkungan yang masih tergolong sangat rendah, dan ditinjau dari kegiatan Usaha Mikro yang beroprasi dan tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan dan memenuhi setiap sudut daerah dan Kecamatan di Kota Medan, yang berpotensi melakukan pencemaran lingkungan.

Dari fenomena dan realita diatas, identifikasi pencemaran lingkungan yang terjadi di Kota Medan dengan melihat aspek perilaku pro-lingkungan merupakan suatu indikator dalam mencari penyebab dari penumpukkan limbah dan pecemaran lingkungan yang terjadi, dan juga sangat sedikit sekali penelitian yang mengidentifikasi perilaku Usaha Mikro di kota Medan terutama perilaku pro- lingkungan. Maka penelitian ini bertujuan mengobservasi pelaku Usaha Mikro yang bersektor di usaha makanan & minuman yang tersebar di 21 Kecamatan di Kota Medan, dan untuk menganalisi komponen utama perilaku pro-lingkungan pada pelaku Usaha Mikro Kota Medan, dengan menggunakan bantuan metode

(29)

Principal Component Analysis, yang bertujuan untuk menganalisis perilaku pro- lingkungan pada Usaha Mikro.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan diatas, bahwa perilaku pro- lingkungan pada Usaha Mikro masih sangat kecil dengan total 8%, dan didukung dengan pernyataan Kota Medan sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia, dinyatakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), maka sehubung dengan permasalahan diatas, maka rumusan masalah yang akan dicari adalah:.

1. Bagaimana persentase perilaku pro-lingkungan di Kota Medan?

2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi analisis komponen utama pada perilaku pro-lingkungan di Usaha Mikro Kota Medan?

3. Bagaimana pengaruh perilaku pro-lingkungan terhadap pembentukan perilaku pelestarian lingkungan di Usaha Mikro?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis persentase perilaku pro-lingkungan di Kota Medan.

2. Untuk menganalisis komponent utama dari variabel perilaku pro-lingkungan pada Usaha Mikro dengan Principal Component Analysis.

3. Untuk menganalisis pengaruh hubungan antara kegiatan perilaku pro- lingkungan terhadap pembentukan perilaku pelestarian lingkungan di Usaha Mikro.

(30)

1.4 Manfaat Hasil Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:

1. Bagi peneliti

penelitian sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya dan sebagai tambahan literatur ilmiah yang mendukung pengembangan pengetahuan.

2. Bagi Usaha Mikro

Penelitian dapat memberi masukan dan rujukan bagi Usaha Mikro untuk dapat menerapkan perilaku pro-lingkungan agar bisa terus melestarikan dan menjaga lingkungan hidup.

3. Bagi Mahasiswa

Peneliti memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk pemecahan masalah nyata secara ilmiah.

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah, mudah dipahami dan topik yang dibahas tidak meluas, maka perlu adanya pembatasan lingkup penelitian, dimana batasan- batasan masalah yang diambil sebagai berikut:

1. Penelitian ini berfokus pada identifikasi bagaimana persentase perilaku pro-lingkungan, dan mengetahui komponen utama pada perilaku pro- lingkungan di Usaha Mikro kota Medan yang bersektor di usaha Makanan

& Minuman.

2. Penelitian ini berfokus pada variabel perilaku pro-lingkungan yaitu, penghematan energi, mobilisasi, penanganan limbah, daur ulang, konsumerisme, dan perilaku pelestarian lingkungan.

(31)

3. Data historis Usaha Mikro diambil dengan wawancara langsung, kuisioner dan survei langsung ke lokasi.

4. Penelitian ini hanya menggunakan Metode Tingkat Capaian Responden (TCR), Analisis Komponen Utama (PCA) dan pengujian pengaruh dengan Structural Equation Modeling (SEM)

1.6 Asumsi – Asumsi

Adapun asumsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kondisi perilaku pro-lingkungan di Usaha Mikro yang sangat rendah.

2. Banyaknya limbah industri makanan yang tidak terkendali di Kota Medan 3. Kegiatan didalam survey ke Usaha Mikro tidak terjadi perubahan selama

penelitian.

(32)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1. Usaha Mikro

Menurut keterangan UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Usaha Mikro atau UMKM adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria.

Statistik (BPS) memberikan definisi UMKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja.

Usaha Mikro merupakan usaha yang biasanya memiliki jumlah tenaga kerja kurang dari 5 orang termasuk juga tenaga keluarga yang berkerja secara sukarela.

Usaha Kecil merupakan usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja sampai dengan 19 orang. Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan, Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per tahun. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp50.000.000,00.

Ciri-ciri usaha mikro adalah:

1) Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap sewaktu-waktu dapat berganti.

2) Tempat usahanya tidak selalu menetap sewaktu-waktu dapat pindah tempat.

3) Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan uang modal dan uang operasional.

(33)

4) sumber daya manusianya masih belum memadai.

5) Rata-rata pendidikan relatif rendah.

6) Kebanyakan belum memulai untuk pengajuan kredit usaha ke perbankan

7) Umumnya tidak memiliki kelengkapan legalitasi Usaha dan NPWP.

(Delphi & Rating, 2014)

Dalam penelitian ini akan dilakukan identifikasi pada perilaku pelaku Usaha Mikro, yang bertujuan untuk mengetahui persentase tingkat perilaku Usaha Mikro (UMKM) terhadap kepedulian lingkungan, sesuai dengan aspek dan kriteria perilaku pro-lingkungan dalam aspek, melindungi, dan melestarikan ekologi lingkungan.

2.1.1. Lingkup Jenis Usaha

Berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Peraturan Menteri Perindustrian No 64/M- IND/PER/7/2016 tentang besaran jumlah tenaga kerja dan nilai investasi untuk klasifikasi Usaha Industri, maka lingkup penilaian dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok sebagai berikut:

a) Kategori Usaha Mikro.

i. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;

atau

ii. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)

b) Kategori Usaha Kecil.

i. Mempekerjakan paling banyak 19 (sembilan belas) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi kurang dari Rp 1,000,000,000,00

(34)

(satu milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

c) Kategori Usaha Menengah.

i. Mempekerjakan paling banyak 19 (sembilan belas) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi paling sedikit Rp 1,000,000,000,00 (satu milyar rupiah)

ii. Mempekerjakan paling sedikit 20 (dua puluh) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi paling banyak Rp 15,000,000,000,00 (lima belas milyar rupiah).

d) Kategori Usaha Besar

i. Mempekerjakan paling sedikit 20 (dua puluh) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi lebih dari Rp 15,000,000,000,00 (lima belas milyar rupiah). (UU No. 20 Tahun 2008, 2008).

2.1.2. Peranan Etika Lingkungan Pada Usaha Mikro

Sebagai sebuah entitas dari elemen lingkungan, tanggung jawab pelaku Usaha Mikro sangat dibutuhkan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pemenuhan tanggung jawab lingkungan adalah sebuah (environmental attitudes) atau Etika lingkungan yang menjadi sebuah indikator pada komponen perilaku lingkungan. Salah satu contoh sederhana menilai sikap seseorang dilihat dari tanggapan mereka terhadap upaya proteksi lingkungan yakni setuju atau tidaknya menyisikan sebagian penghasilan untuk membeli bibit pohon dan melakukan penanaman tanaman hijau.

Dari sikap tersebut mencerminkan sikap yang mengarah terhadap perilaku lingkungan. Hal ini akan semakin baik apabila aspek lingkungan lain bisa

(35)

diwujudkan dalam bentuk perilaku pro-lingkungan seperti melakukan upaya daur ulang (recycling), dan menggunakan kembali (reuse) produk-produk yang masih layak pakai, perilaku konsumsi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, penghematan energi, perilaku menggunakan sarana transportasi umum guna mengurangi emisi kendaraan. Perilaku Pro-lingkungan dinilai positif dalam penerapan pengurangan dampak negatif lingkungan, karena sampai saat ini tiada cara atau teknologi yang muthakir dalam, mengurangi dampak buruk lingkungan seperti polusi udara, terbatasnya bahan bakar fosil, pencemaran laut dan sungai, dan banyaknya sampah plastik yang mengancam keberlangsungan lingkungan hidup planet ini. (Faize & Akhtar, 2020)

Dari penjabaran diatas, dilihat dari prespektif kegiatan Usaha Mikro, mulai dari penggunaan energi listrik, penggunaan kendaraan bermotor, limbah hasil usaha, penggunaan barang-barang untuk kegiatan usaha, sampai tanggung jawab kebersihan lingkungan disekitar area usaha, merupakan aspek-aspek lingkungan yang harus diidentifikasi bagaimana perilaku pro-lingkungan pada keseharian pelaku Usaha mikro, apakah sudah sesuai dengan aspek lingkungan yang diharapkan atau masih jauh dari yang diharapkan. Disamping itu perilaku pro- lingkungan tidak serta merta hanya menuntut kepedulian pelaku Usaha Mikro dalam manjaga lingkungan, melainkan perilaku pro-lingkungan di dunia bisnis atau usaha kecil dan menengah berpengaruh positif pada peningkatan kinerja lingkungan dan mendorong reaksi positif terhadap citra dan daya saing perusahaan. Perbaikan lingkungan juga sebagai faktor strategis yang merupakan kunci kinerja daya saing bisnis, dan relevansi yang meningkatkan kepedulian

(36)

sosial terhadap lingkungan. Berikut adalah beberapa keuntungan penerapan perilaku pro-lingkungan pada Usaha mikro;

1. Peningkatan citra nama Usaha.

2. Menciptakan tren baru pada pasar dengan menonjolkan produk-produk ramah lingkungan dan organik.

3. Menghemat pembiayaan seperti, mengurangi tagihan listrik, air dan gas, serta menghemat penggunaan bahan bakar.

4. Serta dengan membuat lingkungan usaha bersih dan nyaman merupakan srategi pemikat konsumen yang datang. (Larrán Jorge, Herrera Madueño, Martínez-Martínez, & Lechuga Sancho, 2015) 2.2. Pembangunan Berkelanjutan

Dari pengertiannya Sustainable Development ialah, pembangunan berkelanjutan yang merupakan proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dan sebagainya) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi dimasa depan”. Secara sederhananya Sustainable Development adalah aspek pembangunan berkelanjutan berorentasi pada 3P (Profit, People, dan Planet) dan untuk dapat mengetahui beberapa perspektif dalam Sustainable development beberapa literatur riview akan dijabarkan sebagai berikut.

Menurut Paola (2018) pembangunan berkelanjutan telah menjadi wacana terpenting dalam perencanaan, untuk memecahkan masalah lingkungan yang menunjukkan perilaku manusia, dan kemajuan teknologi. Kemajuan dalam informasi dan teknologi komunikasi, mendorong pendekatan pengembangan

(37)

cerdas dalam pengembangan berkelanjutan, yang menandakan perubahan dari yang tradisional menjadi lebih modern, dan juga tentu saja mengikuti peraturan narasi hijau yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Mobilisasi pembangunan berkelanjutan melalui perencanaan pada dasarnya menghasilkan pengembangan strategi dan pendekatan penghijauan yang mengakui bahwa lingkungan adalah sumber barang dan jasa untuk digunakan, dan aset untuk ditingkatkan dalam perencanaan untuk pengambilan keputusan dalam mencapai hasil, sampai batas tertentu, dan meminimalisir kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi.(Gazzola, 2019)

Menurut Vlado (2018) pembangunan berkelanjutan, adalah salah satu prinsip utama kehidupan modern. Dari sudut pandang lingkungan, masyarakat semakin meningkat dan menempatkan nilai pada teknologi, proses dan produk yang berkelanjutan memiliki dampak positif pada ekosistem, atau berfungsi dalam mejaga ekologi lingkungan. Dari sudut pandang sosial, masyarakat adalah makhluk yang peka terhadap masalah yang mempengaruhi kehidupan manusia.

Bisnis pada era ini didorong untuk merangkul keberlanjutan dalam cara yang bermakna. Konsep bisnis berkelanjutan relatif baru. Pada tahun 1987, Komisi The Brundtland menciptakan istilah "Pembangunan Berkelanjutan", didefinisikan sebagai pengembangan yang “memenuhi kebutuhan masa kini tanpa membebankan ke generasi mendatang untuk terus memenuhi kebutuhan mereka sendiri.(Vivoda & Kemp, 2019)

Menurut Bruno (2019). Sustainable Development menekankan saling ketergantungan antara sosial, ekonomi, dan dimensi kelestarian lingkungan,

(38)

menggunakan yang disebut "triple bottom line," menunjukkan hal yang sama harus diberikan kepada ekonomi, lingkungan, dan dimensi sosial ketika membuat keputusan bisnis dan kebijakan. Beberapa penelitian mengamati bahwa wacana keberlanjutan telah berkembang dari hubungan antara parameter ekonomi dan lingkungan untuk juga memasukkan dampak sosial juga mengakui perlunya menganalisis interaksi yang kompleks antara ketiga dimensi. Mereka menyimpulkan bahwa sifat keberlanjutan yang berkembang membutuhkan adaptasi proses yang melibatkan partisipasi aktif semua pemangku kepentingan.(Silvestre & Ţîrcă, 2019)

Menurut Nour (2019) kesadaran lingkungan dimulai dengan "gerakan hijau" itu mendukung pembangunan keberlanjutan dalam keterlibatan ekologis dan sosial, manajemen berkelanjutan dan praktik-praktiknya, dimana berupaya mengembangkan manajemen sumber daya manusia berkelanjutan (SHRM).

Dalam penelitian ini berfokus pada operasionalisasi pergerakan ideologis untuk menjadi aplikasi bisnis. Oleh karena itu, tujuan SHRM adalah untuk mencapai target organisasi, sambil menyerang keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pelestarian sumber daya lingkungan. Tindakan dan proses untuk menghindari hasil yang tidak diinginkan yang dapat membahayakan masyarakat atau lingkungan, dan menghasilkan sistem pemantauan untuk mengevaluasi praktik organisasi yang berkelanjutan.(Chams & García-Blandón, 2019)

Dari konsep dan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable development ini berorientasi pada pengelolaan lingkungan sosial dan ekonomi dalam barang dan jasa, dimana prinsip Sustainable

(39)

development ini adalah mengembangkan suatu lingkungan atau siklus kehidupan untuk mendapatkan suatu sinergitas untuk dapat menngoptimalkan efisiensi dan efektifitas, ramah lingkungan dan tercapainya keinginan sosial yang diharapkan.

Sustainable Development (SD)

Environment

Social

Economy

Gambar 2.1 Scope of Sustainable Development

Dalam menjalankan konsep Sustainable Development dibutuhkan konsep framework for sustainable atau kerangka berkelanjutan yang digunakan untuk mengidentifikasi pendekatan yang efektif untuk mengembangkan Perilaku-pro lingkungan, umtuk menguraikan serangkaian perilaku utama yang membentuk gaya hidup berkelanjutan, mengidentifikasi praktik terbaik untuk memengaruhi perilaku dan wawasan utama tentang mengapa orang bertindak dan, semua mempunyai bukti yang kuat.

Menurut organisasi Department for Environment, Food and Rural Affairs atau dikenal dengan sebutan Defra yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan alam, mendukung industri pertanian dan pangan terkemuka dunia, dan mempertahankan ekonomi pedesaan yang berkembang pesat serta mengembangkan perilaku pro-lingkungan. Defra mengemukan bahwa terdapat

(40)

keberlanjutan gaya hidup pro-ekologi merupakan perilaku utama dan yang paling relevan dalam mengembangkan perilaku pro-lingkungan yang berkelanjutan diantaranya adalah.

a. Meminimalkan limbah.

b. Menikmati dan melindungi lingkungan alam.

c. Makanan: menanam, membeli, memasak dan makan makanan yang berkelanjutan dan sehat.

d. Menggunakan air dan energy dengan bijak di dalam rumah.

e. Eco-upgrade rumah Anda - fokus pada peningkatan efisien dan retrofit energi dan air.

f. Melakukan Perjalanan dengan kendaraan umum (Mobilisasi).(DEFRA, 2011)

Dalam menetapkan pendekatan, Defra memahami perilaku lingkungan dan membuat konsep krangka kerja lingkungan yang bertujuan untuk menguraikan wawasan dari analisis basis bukti untuk pendekatan yang efektif, motivasi dan hambatan bertindak untuk menginformasikan pengembangan intervensi yang efektif. Dalam mengembangkan krangka kerja 2011, Defra menggunakan;

1) Membangun berdasarkan kerangka 2008 untuk laporan perilaku ro- lingkungan.

2) Menggunakan perkembangan dalam basis bukti selama 2 tahun terakhir.

3) Memenuhi komitmen untuk meninjau serangkaian perilaku kunci untuk gaya hidup ramah lingkungan dalam 2 tahun dan

4) Mendapat umpan balik tentang nilai kerangka dari para pemangku kepentingan (seperti organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan

(41)

otoritas lokal serta Pemerintah dan organisasi di luar negeri) dan jasa.

Defra menyadari bawah banyak faktor yang mempengaruhi manusia, maka oleh itu pembuatam model kerangka kerja bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh secara signifikan, dalam perilaku dan, dengan mengetahui fakto-faktor tersebut akan mempermudah untuk dapat mengidentifikasi problem solving dalam perilaku lingkungan. Berikut adalah kerangkan perilaku berkelanjutan yang sudah diidentifikasi oleh Defra.

Sumber : (DEFRA, 2011)

Gambar 2.2 framework for sustainable lifestyles.

2.3. Perilaku Pro-Lingkungan (Peb)

Pengertian dari Perilaku pro-lingkungan atau yang dikenal dengan istilah peb (Pro-eviromental behavior), dari penelitian terdahulu telah mengalami perubahan terminologi pada istilah perilaku pro-lingkungan, yang dikutip dari (Larson & dkk, 2015), berikut adalah beberapa istilah yang pernah dikemukakan:

a. Ecological behavior oleh Kaiser pada tahun 1998

(42)

b. Environmentally responsible behaviors oleh De young pada tahun 2000,

c. Pro-environmental behaviors oleh Bamberg pada tahun 2007 dan d. Conservation behaviors oleh Huddart-Kennedy pada tahun 2009.

(Larson, Stedman, Cooper, & Decker, 2015)

Dari pemaparan istilah diatas memiliki pengertian yang sama yaitu berbagai istilah tersebut merujuk pada suatu konsep yang sama yaitu ramah lingkungan. Perilaku pro-lingkungan bertujuan untuk mengurangi atau memberikan solusi terkait permasalahan lingkungan hidup. Menurut Mary Pothitou dkk, (2016) perilaku pro-lingkungan merupakan bentuk perpaduan keperibadian dan aksi kepedulian lingkungan untuk meminimalkan dampak negatif dari tindakan masyarakat/individual pada alam, yang mengacu pada tindakan-tindakan pribadi yang secara langsung berkaitan dengan perbaikan lingkungan. Tindakan lingkungan tersebut dapat dilakukan secara individual, kolektif, dan mungkin langsung atau tidak langsung dalam pendekatan untuk mengurangi bahaya, dan meningkatkan lingkungan. Perilaku pro-lingkungan juga dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti kesadaran lingkungan, nilai-nilai sikap dan, faktor eksternal seperti norma-norma sosial, interaksi dengan individu lain dan keuangan.(Pothitou, Hanna, & Chalvatzis, 2016)

Perhatian akan sumber daya yang tidak bisa diperbaharui menjadikan pada awal mulanya perilaku pro-lingkungan berorientasi pada pemborosan energi terutama energi listrik dan bahan bakar mesin, dikarenakan keterbatasan sumber daya energi dan fosil, yang tidak dapat diperbaharui. Hal ini dijelasan oleh

(43)

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bahwa tidak hanya ketersedian energi fosil yang semakin menipis disamping itu juga, perubahan iklim yang berasal akibat emisi karbon dari penggunaan bahan bakar fosil merupakan ancaman yang berpotensi merusak lingkungan. Efisiensi energi industri adalah salah satunya cara paling sentral untuk mengurangi ancaman ini, dengan memanfaatkan efisiensi dalam penggunaan energi di industri, serta menciptakan energi berinovasi dalam menciptakan pembangkit energi yang lebih terbarukan dan ramah lingkungan. (Metz, Meyer, & Bosch, 2007)

Dalam penelitian (Tang & dkk, 2019), menjelaskan bahwa perilaku hemat energi di tempat kerja pada karyawan. Dengan menganalisa data dari 330 karyawan di Negara Inggris, mengatakan bahwa lingkungan sosial pada tempat kerja yang menggunakan peralatan ramah lingkungan, ditentukan pada komitmen dan perilaku kebiasaan mereka untuk penghematan energi di tempat kerja. dengan menggunakan model TPB (Teory Planed Behavior). Hasilnya mengemukakan bahwa karyawan yang melakukan penghematan energi di tempat kerja ditentukan oleh norma – norma aturan yang berlaku serta moral pribadi individu. Perilaku secara langsung penghematan energi di tempat kerja sangat berpengaruh positif pada niat dan kebiasaan perilaku energy-saving mereka.

(44)

Sumber : (Tang, Warkentin, & Wu, 2019) Gambar 2.3 Model penelitian TPB

Menurut Heather barnes truelove & Ashley jade gillis, (2018). Perilaku ramah lingkungan bisa memberikan dampak besar dalam mengurangi dampak lingkungan, termasuk mitigasi perubahan iklim yang diakibatkan emisi karbon dan limbah yang tidak terkendali. Akan tetapi disisi lain meskipun secara psikologi lingkungan, masyarakat atau badan pemerintahan banyak belajar tentang bagaimana nilai-nilai, norma pengaruh perilaku pro-environmental (Peb), tetapi banyaknya penelitian yang jarang terfokus bagaimana orang bisa menerapkan berbagai bentuk dari peb (Pro-evironmental behavior). asumsi-asumsi mengenai bagaimana banyak orang bisa mengaplikasikan peb (Pro-evironmental behavior).

Menjadikan pengaplikasian peb (Pro-evironmental behavior), mungkin tidak efektif karena mereka tidak menjelaskan tentang hambatan peb (Pro-evironmental behavior), yang harus dipahami dengan wawasan dan literasi yang luas.

Rancangan dan pelaksanaan kebijakan untuk mempromosikan penerapan peb (Pro-evironmental behavior) pada saat ini masih dalam perkembangan dalam mengintegratedkan sistem terpadu tersebut antara masyarakat, pelaku usaha atau bisnis, dan pemerintahan. (Truelove & Gillis, 2018)

(45)

Penelitian berikutnya dalam meningkatkan pemahaman perilaku pro- lingkungan disampaikan oleh (Nguyen & dkk, 2016), dalam meningkatkan pemahaman mengenai penentu perilaku Pro-environmental, dengan memeriksa pengaruh Biospheric (lingkungan tempat tinggal), pada efesiensi nilai pembelian dalam pengunaan energi pada peralatan. Mendorong dan mempercepat adopsi dari tipe produk yang telah diidentifikasi sebagai puncak darurat, pengaruh iklm global, juga amat penting terhadap perubahan iklim dan kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon dioksida. Secara khusus, studi ini dicari untuk lebih memahami bagaimana konsumen nilai-nilai Biospheric (lingkungan tempat tinggal), mempengaruhi sikap lingkungan, norma subjektif, dari perilaku consumer mengenai hubungan antara mereka dan penentu perilaku Pur-chase (pembelian) terhadap produk.(Nguyen, Lobo, & Greenland, 2016)

Dari literatur review diatas disimpulkan bahwan Pro-environmental Behavior (Peb), atau dikenal dengan sebutan perilaku Pro-lingkungan adalah konsep lingkungan yang dimana perilaku, pelaku lingkungan yang diharuskan untuk melestarikan, menjaga, mengembangkan, dan membudayakan lingkungan guna untuk keberlangsungan hidup dan meningkat efisiensi pada jangka pannjang untuk menciptakan Benefit Income bagi perilaku Pro-environmental behavior (Peb).

2.3.1. Aspek-Aspek Perilaku Pro-Lingkungan (Peb)

Banyak sumber yang memberikan penjelasan tentang aspek dan tujuan Perilaku pro-Lingkungan (Pro-eviromental behavior), salah satunya menurut Faye (2014), menjelaskan tujuan dari Perilaku pro-Lingkungan (Pro-eviromental behavior), adalah edukasi untuk dapat mengubah keterlibatan dalam perilaku

(46)

lingkungan untuk menghasilkan kesadaran lingkungan. Pendidikan lingkungan mengklaim bahwa individu yang tidak menyadari dampak buruknya dalam tindakan terhadap lingkungan atau yang dapat mereka lakukan untuk secara positif mengingatkan perilaku mereka, untuk dapat terlibat dalam kegiatan Pro- lingkungan. Solusinya sering terlihat terletak pada ketentuan penyebaran informasi dan pengetahuan melalui pembelajaran dan pendidikan, karena disimpulkan bahwa jika individu sadar akan masalah dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam menyelesaikannya, mereka akan berubah.(McDonald, 2014) Dari penjabaran tentang perilaku pro-lingkungan dapat ditentukan dari pola perilaku pro-lingkungan meliputi, perilaku seperti menghemat energi listrik, bahan bakar fosil yang tidak dapat di perbaharui, pengurangan pencemaran polusi udara dengan pengurangan penggunaan kendaraan ber emisi, pembelian produk organik, produk ramah lingkungan dan sampai menjaga lingkungan hidup dari kerusakan, semua itu adalah aspek perilaku pro-lingkungan secara komperhensif.

Dari semua aspek perilaku pro-lingkungan tersebut, Kaiser mengklasifikasikan enam aspek perilaku pro-lingkungan (Kaiser,&dkk 2007), ialah:

a. Penghematan energi

Perilaku dan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menghemat pemakaian energi, mulai dari energi yang bisa diperbaharui sampai energi yang bisa diperbaharui yang bertujuan untuk keberlanjutan sumber daya energi manusia. Contohnya yaitu tidak menghidupkan lampu pada siang hari, mematikan pendingin ruangan apabila keluar, dan mencabut peralatan yang masih tersambung di stopkontak.

(47)

b. Mobilitas dan transportasi

Mobilitas dan transportasi terkait dengan perilaku dan atau tindakan- tindakan yang bertujuan untuk menggunakan alat transportasi secara efektif dan efisien guna untuk bisa menghemat bahan bakar yang berasal dari fosil yang tidak bisa diperbaharui dan juga pengurangan emisi karbon yang mencemari udara. Contohnya misalnya menggunakan transportasi umum, naik sepeda atau berjalan kaki untuk jarak yang dekat dan lain-lain.

c. Penanganan limbah

Penanganan limbah terkait dengan perilaku dan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menangani limbah-limbah yang mencemari lingkungan. Contohnya seperti misalnya meminimalisir penggunaan plastik, membeli barang atau produk jenis isi ulang dan lain-lain.

d. Daur ulang

Daur ulang terkait dengan perilaku dan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mendaur ulang bahan-bahan bekas yang sudah tak terpakai, misalnya mengumpulkan kertas yang sudah terpakai untuk didaur ulang, serta membawa barang yang tidak terpakai ke pemulung.

e. Konsumerisme

Konsumerisme terkait dengan perilaku dan atau tindakan-tindakan yang bertujuan untuk memilih dan menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan, misalnya memilih produk organik, menggunakan bahan – bahan yang sudah berlebel produk ramah lingkungan, dll.

(48)

f. Perilaku Pelestarian Lingkungan

Perilaku pelestarian lingkungan ialah tindakan-tindakan yang secara umum yang tidak merugikan bagi lingkungan di sekitarnya, misalnya Selasai berjualan meninggalkan tempat tersebut dengan kondisi bersih seperti sebelumnya, terlibat pada suatu organisasi lingkungan hidup, belajar tentang isu-isu lingkungan melalui berbagai media dan lain-lain.(Kaiser, Oerke, & Bogner, 2007)

2.4. Principal Component Analysis

Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) adalah analisis multivariate yang mentransformasi variabel-variabel asal yang saling berkorelasi menjadi variabel-variabel baru yang tidak saling berkorelasi dengan mereduksi sejumlah variabel tersebut sehingga mempunyai dimensi yang lebih kecil namun dapat menerangkan sebagian besar keragaman variabel aslinya.

Banyaknya komponen utama yang terbentuk sama dengan banyaknya variabel asli. Pereduksian (penyederhanaan) dimensi dilakukan dengan kriteria persentase keragaman data yang diterangkan oleh beberapa komponen utama pertama.

Apabila beberapa komponen utama pertama telah menerangkan lebih dari 75%

keragaman data asli, maka analisis cukup dilakukan sampai dengan komponen utama tersebut.

Analisis Komponen Utama merupakan metoda statistik deskriptif yang dapat digunakan untuk menampilkan data dalam bentuk grafik dan informasi maksimum yang terdapat dalam suatu matrik data. Matrik data yang dimaksud terdiri dari stasiun penelitian sebagai individu statistik (baris) dan variabel lingkungan, yang berbentuk kuantitatif (kolom). Metode ini bertujuan

(49)

mendeterminasi sumbu-sumbu optimum tempat diproyeksikannya individu- individu dan atau variabel-variabel. Untuk menentukan hubungan antara dua variabel digunakan pendekatan matrik korelasi yang dihitung dari indeks.

sintetik yaitu:

Rs x s = As x n At n x s

Dimana:

Rs x s = Matrik korelasi rij As x n = Matrik indeks sintetis rij

At n x s = Matrik transpose (pertukaran bariskolom)

dari matrik A. (Ulqodry, Bengen, & Kaswadji, 2014)

Dalam buku “Applied Multivariate” yang dikarang oleh Richard (2014), menjelaskan bahwa Analisis komponen utama itu berkaitan dengan struktur varian dari serangkaian variabel melalui beberapa kombinasi linier. Analisis komponen utama sering mengungkapkan hubungan yang sebelumnya tidak dicurigai dan dengan demikian memungkinkan interprestasi yang tidak akan menghasilkan ordinari. Analisis komponen utama lebih merupakan sarana untuk mencapai tujuan dari pada tujuan itu sendiri. Karena mereka sering berfungsi sebagai langkah mengengah dalam langkah penyelidikan yang lebih besar.(Beckett, Eriksson, Johansson, & Wikström, 2017)

2.4.1 Penerapan Principal Component Analysis

Penggunaan penerapan metode Principal Component Analysis (PCA), digunakan untuk mereduksi variabel dan menentukan komponen utama, dalam penelitian ini, komponen utama yang ditentukan ialah perilaku pro-lingkungan

(50)

dengan aspek penghematan energi, mengurangi emisi dan mengdaur ulang limbah. dapat dilihat pada penelitian photitou(2016). Menjelaskan bahwa Sebuah penggunaan analisis komponen utama (PCA) pada 17 variabel, menggunakan rotasi dan metode menghitung nilai faktor, dan diasumsikan perilakunya berkorelasi dengan satu sama lain. Asumsi dan premis dianggap sesuai untuk data survei nilai-nilai dan lingkungan pengetahuan, dan erat terkait sikap, perilaku dan kebiasaan.

Kecukupan dalam pengambilan sampel untuk tes PCA berada pada (Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) nilai 0,79) berada dalam kisaran 0,7-0,8 dinilai sebagai 'Bagus' oleh Hutcheson dan Sofroniou, dan data berkriteria bagus untuk dilanjutkan dalam pengolahan faktor selanjutnya, enam komponen variabel perilaku menggunakan kriteria Kaiser, dengan penuntuan nilai eigen minimum 1, sehingga bersama-sama, komponen yang diekstraksi menyumbang 62,3% dari varian, yang berarti variabel perilaku lingkungan yang dianalisis dapat menjelaskan fonomena sebanyak 62,3%.

(51)

Sumber : (Pothitou et al., 2016)

Gambar 2.4 Matrix Principal Component Analysis

Gambar 2.4 menyajikan hubungan antar variabel dan komponen, dalam matrik pola dan struktur yang dihasilkan oleh rotasi miring. Sedangkan pola dan strukturnya berupa matrik menunjukkan kontribusi relatif dari variabel yang memuat ke spesifik komponen, matrik struktur juga mencerminkan hubungan antar komponen. Semua pemuatan faktor mencapai minimum level 0,4 harus dianggap signifikan secara statistik. Cluster pemuatan faktor menunjukkan bahwa enam komponen masing-masing mewakili:

1. Mengurangi penggunaan energi rumah tangga.

(52)

2. Pengetahuan, mengurangi penggunaan energi rumah tangga dan gender.

3. Mengadopsi teknologi dan lapangan kerja yang efisien energi.

4. Mengurangi penggunaan energi rumah tangga dan gender.

5. Menilai lingkungan dan ekonomi dan membayar lebih untuk listrik dari pada berubah tingkah laku.

6. Mengadopsi teknologi hemat energi, mengatur suhu pemanasan dan perubahan kebiasaan hemat energi.(Pothitou et al., 2016)

2.5. Kerangka Konsep

Menurut sinulingga (2014), kerangka konseptual merupakan sebuah model yang ditunjukan dalam bentuk diagram yang menggambarkan struktur dan sifat hubungan logis antar variabel penelitian yang telah diidentifikasi dari teori dan review artikel yang akan digunakan dalam menganalisis masalah penelitian.

Penelitian ini diawali dengan menganalisa Perilaku pro-lingkungan pada Usaha Mikro dikota Medan, untuk mengetahui persentase Perilaku lingkungan pada pelaku Usaha Mikro. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Perilaku pro-lingkungan pada Usaha Mikro yang ada dikota Medan, dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Dalam penelitian Perilaku pro-lingkungan merupakan variabel utama, dimana akan dijelaskan dengan variabel yang terkait lainnya. Adapun variabel- variabel yang yang terkait dengan Perilaku pro- lingkungan dapat dilihat pada gambar

(53)

Usaha MIkro Perilaku pro-lingkungan 1. Energy saving

2. Mobilitas 3. Waste Prevention

5. Konsumerisme

6. Environmental Conserve Behavior 4. Recycle

Sumber : Pengolahan data

Gambar 2.5 Kerangka Konsep Penelitian 2.6. Defenisi Variabel Operasional

Adapun definisi variabel operasional pada penelitian ini yang merujuk dari Aspek-aspek Perilaku Pro-lingkungan (Kaiser, 2007), dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Energy saving ialah suatu variabel indikator yang menjadi parameter keberhasilan dalam penerapan penghematan energy pada Perilaku pro- lingkungan.

2. Mobilitas suatu Indikator Perilaku pro-lingkungan, untuk mengengurangi emisi karbon pada lingkungan yang menyebabkan pulisi udara dan berbagai penyakit pernafasan.

3. Waste Prevention ialah suatu variabel yang sangat berpengaruh pada peningkatan Perilaku pro-lingkungan dalam indikator kepedulian pencegahan limbah.

4. Recycle ialah suatu variabel Perilaku pro-lingkungan yang mengidentifikasi Perilaku perlakuan daur ulang barang dan sampah.

5. Konsumerisme didefenisikan sebagai suatu variabel yang memperhatikan pembelian barang – barang organik dan ramah lingkungan dalam di Usaha Mikro.

6. Environmental Conserve Behavior didefenisikan sebagai suatu variabel indikator yang sangat menentukan kemajuan dan pengembangan suatu

(54)

industri, dimana mengembangkan pelestarian lingkungan. (Kaiser et al., 2007).

2.7. Hipotesis

Defenisi hipotesis adalah suatu pernyataan hubungan logis antara dua atau lebih variabel yang dinyatakan secara kuantitatif sehingga dapat diuji kebenarannya (Sinulingga, 2014). Berdasarkan kerangka konseptual diatas, maka dapat diajukan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut;

H1 = Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Hppl (Habit prilaku pro-lingkungan) dengan peningkatan perilaku pro-lingkungan pelaku Usaha Mikro.

H2 = Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Kpsde (Konservasi penghematan sumber daya energi) dengan peningkatan perilaku pro- lingkungan pelaku Usaha Mikro.

H3 = Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Kpl (Konservasi pengendalian lingkungan) dengan peningkatan perilaku pro-lingkungan pelaku Usaha Mikro.

H4 = Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Pdbl (Pengurangan dampak buruk lingkungan) dengan peningkatan perilaku pro- lingkungan pelaku Usaha Mikro.

H5 = Terdapat hubungan positif yang signifikan antara Kppl (Kegiatan perilaku pro-lingkungan) dengan peningkatan perilaku pro-lingkungan pelaku Usaha Mikro.

(55)

36 3.1. Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik survey. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematik, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek atau populasi tertentu dengan pendekatan kuantitatif. Teknik survey dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual untuk mendapatkan kebenaran.

3.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Usaha Mikro makanan & minuman yang berada di Kota Medan Sumatera Utara. Penelitian ini dimulai dari bulan Juli - November 2019.

3.3 Metodologi Penelitian

Tahap penelitian merupakan rangkuman seluruh kegiatan yang dilakukan selama penelitian berlangsung. Dilengkapi dengan penyajian bagan diagram untuk mengetahui dan memahami tahapan penelitian yang terjadi.

3.3.1 Tahapan Penelitian.

Penelitian ini dimulai dari melihat gejala penumpukan sampah yang ada di Kota Medan, kemudian dirumuskan permasalahannya dan dibuat tujuan dari penelitian ini. Hasil akhir dari penelitian ini adalah identifikasi bagaimana persentase perilaku pro-lingkungan pada Usaha Mikro di Kota Medan.. Adapun tahapan penelitian dijelaskan pada Gambar 3.1.

Gambar

Tabel  1.1  Pertumbuhan  Usaha  Mikro  dan  Industri  Kecil  atau  UMKM  menurut  kabupaten dan kota 2017
Tabel  1.2  Perbandingan  sampah  dan  limbah,  di  tiap  kecamatan  Kota  Medan
Gambar 1.1 Komposisi limbah dan sampah Kota Medan.
Tabel 1.3  Persentase UMKM Ramah Lingkungan Sektor Industri.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian ini maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1) Niat Berwirausaha di kalangan mahasiswa FEB UNUD dan FEB UNWAR termasukdalam

Dari pemaparan mengenai pernikahan perkawinan dapat ditarik garis lulus dan disimpulkan bahwasanya pernikahan adalah suatu akad antara sorang pria dengan seorang wanita atas

PSG Rayon 1 24 Universitas Negeri Makassar.. menyayat kulit dahan, tetapi apabila pisau ini dianggap mahal, dapat saja menggunakan pisau biasa asalkan cukup

Berkaitan dengan orang yang melaksanakan anamnesa, Westhoff & Kluck (1995, dalam Kubinger & Deegener, 2001) mengemukakan beberapa hal yang sebaiknya

Tujuan penelitian ini antara lain untuk menentukan tingkat kesadahan air tanah di Kecamatan Pati dan menganalisis kesesuaian pola persebaran tingkat kesadahan air tanah

Dengan menyesuaikan nilai produk tersebut, maka pesan yang ingin disampaikan dalam promosi wisata alam hutan mangrove muara tawar yaitu menangkap perasaan masyarakat

4.1 Pengaruh Konsentrasi Lactobacillus plantarum dan Lama Fermentasi terhadap Nilai Kadar Asam Sianida Tepung Kulit Singkong Manihot esculenta Terfermentasi Penambahan

Sumbing bibir (dengan atau tanpa sumbing langit-langit) merupakan kelainan pada orofasial yang tidak disertai kelainan pada kepala dan leher, memiliki fungsi