• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODUKSI BIBIT CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) BEBAS VIRUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PRODUKSI BIBIT CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) BEBAS VIRUS"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

PRODUKSI BIBIT CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) BEBAS VIRUS

OLeh:

I Gusti Ngurah Raka, Anak Agung Made Astiningsih, dan I Ketut Siadi Staf Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana

ABSTRAK

Infeksi penyakit virus pada bibit tanaman cabai dapat terjadi melalui serangga vektor dan akan menjadi sumber inokulum di tempat penanaman. Hal ini perlu diantisipasi dengan cara: 1) aplikasi dry heat treatment (DHT) pada benih agar benih bebas virus; dan 2) memelihara pembibitan pada tempat pembibitan kedap serangga.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan tempat pembibitan kedap serangga untuk menangkal infeksi virus selama pembibitan.

Metode pengujian dengan sistem berpasangan antara tempat pembibitan kedap serangga dan tempat pembibitan terbuka diterapkan dalam penelitian ini dengan menggunakan uji-t. Setiap variabel pengamatan diulang sebanyak 20 kali dan tiap-tiap ulangan diwakili oleh 3 tanaman sampel. Variabel tegakan bibit yang diamati, meliputi:

1. tinggi, 2. jumlah daun, 3. kandungan klorofil daun, 4. panjang akar, 5. berat segar, dan 6. berat kering oven. Konfirmasi infeksi virus dilakukan dengan uji ELISA.

Tempat pembibitan kedap serangga menghasilkan bibit yang lebih berkualitas (kandungan khlorofil daun dan berat kering oven bibit lebih tinggi) dibandingkan dengan tempat pembibitan terbuka. Berdasarkan uji ELISA, bibit pada tempat pembibitan kedap serangga tidak menunjukkan adanya infeksi virus, sedangkan bibit pada tempat pembibitan terbuka terinfeksi virus CMV, TMV dan Potyvirus dengan persentase berturut-turut 26%, 18%, dan 20%.

Kata kunci: cabai rawit, tempat pembibitan, kualitas bibit

ABSTRACT

SEEDLINGS PRODUCTION OF CHILI PEPPER (Capsicum frutescens L.) FREE OF VIRUS

Viral infections of chili seedlings can occur through a vector insect and will be a source of inoculum at the plant site. This should be anticipated by: 1) the application of dry heat treatment (DHT) to seeds to be virus free seed; and 2) maintaining nurseries at insect- hardened nurseries. The objective of the study was to determine the effectiveness of insect- proof nurseries to ward off viral infections during nurseries.

Paired testing methods between insect-proof breeding and open breeding sites were applied in this study using the t-test. Each observation variable was repeated 20 times and each replication was represented by 3 sample plants. Variable of seed stand observed, including: 1.

high, 2. number of leaves, 3. leaf chlorophyll content, 4. root length, 5. fresh weight, and 6.

oven dry weight . Confirmation of viral infection was done by ELISA test.

Insect-proof nurseries produce higher quality seeds (leaf chlorophyll content and higher oven dry weight) than open breeding sites. Based on the ELISA test, the seedlings in the insect-proof nurseres do not show any viral infection, whereas the seedlings in the open breeding area are infected with CMV, TMV and Potyvirus with the percentage of 26%, 18%, and 20% respectively.

Keywords: chili pepper, nurseries, seedlings quality

(2)

2 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) termasuk kelompok tanaman hortikultura jenis sayuran semusim, dan merupakan komoditas sangat penting di Indonesia (Dirjen Hortikultura, 2014). Kegunaannya selain sebagai penyedap masakan, juga dapat digunakan dalam pembuatan ramuan obat-obatan, industri kosmetika serta penghasil minyak atsiri (Cahyono, 2003; Sherly, dkk., 2010).

Bisnis benih siap tanam yang banyak diproduksi dan dijual di kios-kios pertanian. Perhatian tentang kesehatan benih-benih seperti ini apakah terinfeksi penyakit atau tidak perlu mendapat penekanan. Infeksi dini pada tanaman umur muda, yang biasanya terjadi melalui benih berdampak negatif lebih parah daripada infeksi yang terjadi pada tanaman yang berumur lebih tua (Raka et al., 2016). Antisipasi terhadap kejadian infeksi dini perlu dilakukan, dan hal ini dapat dilakukan dengan penerapan teknologi produksi benih sehat. Salah satu upaya berupa perlakuan panas (dry heat treatment) terhadap benih yang akan dipakai dapat diaplikasikan untuk membebaskan benih dari infeksi patogen.

Dry heat treatment adalah terobosan teknologi dengan sentuhan bioteknologi yang efektif, aplikatif, murah dan ramah lingkungan dalam usaha produksi benih bermutu dan sehat. Selain dapat menginaktifkan beberapa penyakit yang ditularkan melalui biji, dry heat treatment juga tidak menyebabkan penurunan mutu benih (Toyoda, et al., 2004). Nyana, et al., (2008) juga melaporkan hasil penelitiannya bahwa dry heat treatment mampu menginaktifkan penyakit virus TMV pada benih cabai.

Selain untuk menghilangkan kontaminan virus TMV, dry heat treatment juga memberikan cekaman lingkungan terhadap benih yang berdampak meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, meningkatkan viabilitas benih tanpa menyebabkan menurunkan unsur mutu benih yang lain (Toyoda, et al., 2004). Pembudidayaan cabai rawit dengan menggunakan benih sehat diharapkan mampu menunjang pertumbuhan yang baik dan hasil yang tinggi di lapangan.

Pengokeran adalah pemisahan bibit dari tempat persemaian ke media baru secara mandiri. Bibit tanaman hortikultura khususnya tanaman cabai, bisa dipindah tanam ke lapangan tanpa pengokeran maupun dengan pengokeran terlebih dahulu. Benih selama proses pengokeran mengalami pengerasan (hardening off) yang menyebabkan

(3)

3

menebalnya dinding sel dan jaringan menjadi lebih kuat (Aegerter et al., 2016; Kennel, et al., 1998). Dengan demikian, pengokeran diharapkan mampu meningkatkan kualitas tegakan benih sehingga lebih siap menghadapi perubahan kondisi lingkungan pada saat dipindahkan ke lapangan.

Produsen bibit umumnya memproduksi dan melihara bibitnya pada rumah pembibitan dengan para-para sangat sederhana hanya sekedar untuk menghindari terpaan sinar matahari. Namun di lapangan serangga vektor penular patogen virus keberadaannya sangat berlimpah. Hal ini perlu diantisipasi agar bibit yang sudah dipersiapkan sejak perlakuan benih agar bebas dari patogen terutama virus, tidak terinfeksi pada saat pemeliharaan bibit di pesemaian. Untuk itu sangat penting dilakukan penelitian pemanfaatan tempat pembibitan kedap serangga. Keefektifan tempat pembibitan kedap serangga akan tercermin dari bibit siap tanam bebas penyakit virus yang dihasilkannya. Hasil bibit yang diproduksi pada tempat pembibitan kedap serangga perlu dibandingkan dengan hasil bibit yang diproduksi dengan kebiasaan hanya menggunakan para-para saja (tempat pembibitan terbuka).

1.2 Tujuan Khusus

Kejadian infeksi virus pada benih tanaman cabai atau terjadi infeksi pada umur dini akan menjadi sumber inokulum primer bagi pertanaman cabai di lapangan.

Kejadian tersebut akan sangat merugikan pertumbuhan dan hasil tenaman cabai, dan oleh karenanya perlu diantisipasi. Hal ini perlu dilakukan terhadap benih karena benih merupakan komponen sangat vital dalam sistem agronomi yang menentukan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan komponen agronomi lainnya seperti lahan, air, pupuk, tenaga dan biaya.

Inaktivasi virus pada benih dengan menerapkan teknologi dry heat treatment yang merupakan teknologi ramah lingkungan dan murah sangat perlu diaplikasikan.

Benih sehat menjamin pencegahan penyebaran sumber inokulum secara dini di lapangan. Teknologi pengokeran berpengaruh terhadap tegakan benih sebelum benih tersebut ditanam di lapangan. Teknik pengokeran benih memberikan dampak pengerasan terhadap benih (seeds hardening) sebelum benih tersebut ditanam pada lingkungan lapang. Teknik pengokeran yang tepat berpengaruh positif terhadap penguatan jaringan tanaman baik akar, batang, maupun daun. Benih-benih demikian

(4)

4

apabila ditanam di lapangan akan lebih siap beradaptasi termasuk memiliki ketahanan lebih terhadap infeksi penyakit karena tidak disenangi vektor. Proses pengokeran sampai benih ditanam di lapangan bisa berlangsung antara 2 – 4 minggu. Selama proses pengokeran, pemeliharaan bibit pada tempat pembibitan kedap serangga harus dilakukan untuk menghindari serangan vektor pembawa virus.

Secara khusus penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efektivitas tempat pembibitan kedap serangga untuk menghasilkan bibit bebas virus dibandingkan dengan tempat pembibitan terbuka.

1.3 Urgensi Penelitian

Infeksi patogen virus pada benih cabai umur dini merupakan sumber inokulum primer bagi pertanaman cabai di lapangan. Hal ini berdampak negatif dan sangat fatal terhadap tejadinya gangguan pertumbuhan dan produksi. Dengan demikian menghindari infeksi penyakit virus pada umur dini pada tanaman cabai dipandang sangat penting.

Penyakit virus diketahui dapat menyebar melalui benih maupun melalui perantara serangga vektor. Benih pembawa penyakit virus harus ditangani dengan baik karena dapat menjadi sumber penyakit utama dan berpeluang besar terjadi pada umur dini.

Inaktivasi sumber penyakit yang disebabkan oleh virus pada benih sangat strategis dilakukan. Benih bebas virus akan menghasilkan bibit dan tanaman yang bebas virus pula, paling tidak sampai terjadinya infeksi baru. Perlu diketahui bahwa di lapangan berpeluang terdapat sumber penyakit selain pada benih, karena virus memiliki inang yang yang sangat banyak di samping inang utama juga ada inang alternatif seperti gulma. Dalam hal ini penggunaan benih bebas virus tidaklah terlalu aman karena infeksi pada umur dini masih memungkinkan terjadi di lapangan, yaitu saat bibit ditanam di lapangan. Dengan demikian setelah didapatkan benih bebas virus selanjutnya perlu dilakukan penyiapan bibit sebelum dipindah tanam ke lapangan. Pengokeran merupakan proses pemisahan bibit dari pesemaian ke media khusus secara individu.

Teknik pengokeran bibit memberikan dampak pengerasan terhadap bibit (seeds hardening) sebelum bibit tersebut ditanam pada lingkungan lapang. Teknik pengokeran berpengaruh positif terhadap penguatan (pengerasan) jaringan tanaman baik akar, batang, maupun daun. Bibit-bibit demikian apabila ditanam di lapangan akan lebih siap beradaptasi termasuk memiliki ketahanan lebih terhadap infeksi penyakit karena tidak disenangi vektor.

(5)

5

Bibit sejak pesemaian dan setelah pengokeran sampai bibit siap tanam harus dipelihara pada tempat pembibitan kedap serangga untuk menghindari serangan vektor pembawa virus. Mengingat bahwa pengendalian virus tanaman terutama pada tanaman cabai belum sepenuhnya dapat ditangani di tingkat petani, hasil penelitian ini diharapkan dapat menemukan suatu paket teknologi budidaya yang lebih efektif, bersahabat dengan lingkungan dan dapat diterapkan oleh petani di lapangan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Produktivitas Tanaman Cabai

Produktivitas tanaman cabai di Indonesia tergolong masih rendah. Pada tahun 2009 rata-rata produksi cabai 5,07 ton/ha, pada tahun 2010 turun menjadi 4,56 ton/ha, dan pada tahun 2011 produksi menjadi 5,01 ton/ha. Rataan hasil cabai rawit nasional sekitar 4,35 ton /ha, sementara potensi produksi dapat mencapai lebih 10 ton/ha (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010; Biro Pusat Statistik, 2011), dan rataan hasil cabai rawit nasional tahun 2014 mencapai 5,93 ton/ha (Dirjen Hortikultura, 2015).

Gangguan hama dan penyakit merupakan kendala penyebab rendahnya produktivitas cabai di Indonesia (Semangun, 2000). Syukur et al. (2009) menyatakan bahwa beberapa jenis patogen yang dominan menyerang cabai adalah antraknosa, layu bakteri dan virus. Penyakit virus, penyakit bulai dan penyakit kerdil yang disebabkan oleh virus gemini merupakan penyakit utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas cabai di Indonesia (Syamsidi et al., 1997; Sudiono et al., 2005).

Penurunan hasil akibat infeksi virus pada tujuh kultivar cabai berkisar antara 32% sampai 75% (Sulyo et al., 1995). Hasil penelitian Sari dkk., (1997) menunjukkan bahwa jumlah dan bobot buah per tanaman menurun berturut-turut sebesar 81,4% dan 82,3%. Hasil penelitian Nyana (2012) menunjukkan bahwa infeksi virus pada tanaman cabai dapat menurunkan hasil mencapai 68,22%. Dampak penurunan hasil akibat serangan penyakit virus, sangat tergantung pada umur tanaman saat terjadinya infeksi.

Hasil panen menurun sebesar 80% akibat adanya infeksi virus yang terjadi saat tanaman berumur dua minggu (Semangun, 2000 ; Sastrahidayat, 1992; Oka, 1993).

Penggunaan varietas berdaya hasil rendah dan rentan terhadap hama penyakit juga sebagai penyebab rendahnya produktivitas tanaman cabai rawit (Kusandriani,

(6)

6

1996). Di samping itu, serangan penyakit virus pada tanaman cabai juga mengakibatkan kualitas dan kuantitas hasil menurun dan bahkan menyebabkan kegagalan panen (Syamsidi., 1997).

Kualitas dan kuantitas hasil yang baik didapat dari penggunaan bibit yang baik, dimana penggunaan bibit yang baik tentunya berasal dari benih yang sehat ataupun bermutu tinggi. Benih yang bermutu tinggi yaitu benih yang memiliki viabilitas dan vigor yang tinggi. Bagi petani tradisional benih didapatkan dengan cara mengambil benih dari biji buah cabai yang dikeringkan dan disimpan untuk ditanam di musim yang tepat, sedangkan beberapa petani modern lebih memilih membeli benih yang sudah bersertifikat yang kualitas benihnya sudah terjamin.

2.2 Pembibitan Tanaman Cabai

Komoditas hortikultura merupakan kelompok komoditas pertanian yang sangat banyak ragamnya. Kementerian Pertanian telah menetapkan sebanyak 323 jenis produk hortikultura yang meliputi 60 jenis buah-buahan, 80 jenis sayuran, 66 jenis biofamaka (tanaman obat) dan 117 jenis tanaman hias (florikultura). Jumlah produk hortikultura ini tentu saja akan bertambah banyak di masa mendatang. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 90 jenis produk hortikultura yang secara komersial dan luas dikembangkan yang terdiri dari 25 jenis sayuran, 26 jenis buah-buahan, 24 jenis tanaman hias dan 15 jenis tanaman biofarmaka. Kementerian Pertanian telah menetapkan 40 komoditas unggulan nasional, 11 diantaranya adalah komoditas hortikultura, yaitu: cabai, bawang merah, kentang, jeruk, mangga, manggis, salak, pisang, durian, rimpang dan tanaman hias (Dirjen Hortikultura, 2013).

Sejumlah permasalahan ditemui dalam pengembangan usaha agribisnis hortikultura di Indonesia, di antaranya rendahnya produksi, produktivitas dan mutu produk; lokasi usaha yang terpencar; serta skala usaha yang sempit dan belum efisien Hal ini menyebabkan produk hortikultura nasional kurang mampu bersaing dengan produk hortikultura yang berasal dari negara lain. Dengan demikian perlu dilakukan revitalisasi pertanian dengan fokus terhadap tujuh aspek dasar yaitu: (1) lahan; (2) perbenihan dan perbibitan; (3) infrastruktur dan sarana; (4) sumber daya manusia; (5)

(7)

7

pembiayaan petani; (6) kelembagaan petani; (7) teknologi dan industri hilir (Kementan,2014).

Pembibitan sangat strategis untuk ditangani dengan baik, karena benih atau bibit merupakan komponen vital usaha budidaya suatu tanaman khususnya tanaman cabai.

Pembibitan adalah regenerasi buatan suatu tanaman melalui penggunaan bahan tanam seperti biji, stek daun, stek batang, maupun okulasi. Pembibitan adalah teknik di mana bahan tanam dibesarkan sampai mereka siap untuk ditanam di lapangan (Hazra et al., 2006). Untuk menghsilkan bibit yang baik diperlukan tindakan manajemen yang intensif.

Pengokeran adalah pemisahan bibit dari tempat persemaian ke media baru secara mandiri. Media oker dapat berupa campuran tanah dan pupuk kandang perbandingannya 1:1. Teknik pengokeran ada beberapa macam yaitu bisa dibuat dari bumbungan pisang, polibag ataupun dikepal. Selama dalam oker bibit mengalami proses pengerasan (hardening off) (Bhujbal et al., ?).

Pengerasan bibit (seed hardening) bermanfat untuk menyiapkan bibit agar mampu beradaptasi secara aman dengan lingkungan tempat penanamannya. Jika bibit tiba-tiba ditanam pada kondisi yang ekstrim maka akan mengalami cekaman, walaupun bibit tersebut biasanya dapat tumbuh normal kembali. Namun demikian, pengerasan (harderning off) dianggap lebih baik untuk kondisi yang secara tiba-tiba berubah (Aegerter et al., 2016).

Pengerasan dapat menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, salah satunya adalah menyebabkan permukaan daun menebal dan mampu mengurangi tingkat kehilangan air. Lignin pada dinding sel berkembang dan jumlah karbohidrat cadangan makanan yang tersimpan dalam jaringan tanaman meningkat. Pengerasan ini akan menyebabkan tanaman menjadi lebih tebal dan kuat.

Dalam proses pengerasan, pada bibit terjadi pertumbuhan akar yang dipaksa keluar dari media oker untuk mencari nutrisi dalam tanah. Proses pengerasan ini menyebabkan tanaman akan lebih tahan terhadap cekaman setelah dipindahkan ke lapangan (Kennel, et al., 1998).

2.3 Teknologi Dry Heat Treatment

(8)

8

Chiba-Ken Agricultural Experiment Station, Jepang sampai tahun 1981 telah melakukan beberapa penelitian tentang seed treatment dengan aplikasi dry heat treatment terhadap tomat dan cabai. Dari penelitian-penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa aplikasi dry heat treatment pada suhu 70OC efekti untuk menghilangkan infeksi virus TMV (Nagai, 1981). Selanjutnya hasil penelitian Nyana, et al. (2008), bahwa aplikasi dry heat treatment pada suhu 70OC selama 72 jam cukup efektif untuk menginaktifasi kontaminasi virus TMV pada benih cabai.

Toyoda et al. (2004) menjelaskan bahwa dry heat treatment bertujuan untuk menginaktivasi penyakit tular benih dan meningkatkan viabilitas benih. Dry heat treatment merupakan teknologi dengan memberikan perlakuan suhu tinggi pada benih sebelum benih tersebut dikecambahkan. Penyakit yang dapat diinaktivasi oleh dry heat treatment adalah penyakit yang disebabkan oleh virus serta dapat pula mengeliminasi jamur dan bakteri yang terbawa benih.

Menurut Ulfah (2006), salah satu cara untuk mendeteksi keberadaan patogen virus pada benih adalah dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assays). Dasar pengujian serologi ini adalah reaksi antigen dan antibodi yang bersifat spesifik. Metode ELISA sangat sensitif, cepat, dan dapat mendeteksi virus yang terdapat pada tanaman dengan konsentrasi yang sangat rendah yaitu sekitar 0,25 ng/ml.

Keuntungan lain adalah ekonomis dalam penggunaan anti serum dan jumlah sampel yang diuji dapat berjumlah banyak dalam satu pengujian.

(9)

9

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan untuk produksi bibit akan dilaksanakan Mei sampai dengan September 2017, di Desa Kerta Kecamatan Payangan Gianyar. Tempat ini dipilih karena merupakan sentra penanaman sayur mayur termasuk tanaman cabai sehingga cocok digunakan sebagai tempat pembuatan bibit tanaman cabai. Sedangkan pengujian laboratorium akan dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan dan Teknologi Benih dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Denpasar.

3.2 Persiapan Benih

Varietas cabai yang digunakan dalam percobaan ini adalah cabai rawit lokal yang biasa ditanam petani setempat. Benih cabai ini diberikan perlakuan dry heat treatment pada suhu 70OC selama 72 jam. Sebelum disemai, dilakukan uji daya kecambah dengan metode uji di atas kertas di dalam germinator. Media yang digunakan adalah kertas merang. Kertas merang yang telah dilembabkan diletakkan di dalam petridish dan 100 butir benih dideder di atas media tersebut dan dibuat sebanyak 4 ulangan. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui daya kecambah benih setelah diberi perlakuan DHT. Setelah pengujian daya kecambah dilakukan penyemaian benih, yang didahului dengan perendaman selama lebih kurang 12 jam. Benih cabai disemai dalam media steril dalam sebuah tray dan dilakukan penyiraman setiap hari. Pembibitan sebagian dilakukan di rumah kaca kedap serangga untuk menghindari terjadinya infeksi virus terhadap bibit sebelum tanam, dan sebagian lagi dilakukan pada umah pembibitan yang tidak kedap serangga (terbuka). Setelah bibit cabai mencapai stadia berdaun empat (umur bibit 3 minggu) dilakukan pengokeran dengan teknik dikepal (sesuai kebiasaan petani), baik untuk pembibitan kedap serangga maupun pembibitan secara terbuka

(10)

10

(tanpa pelindung serangga). Media pengokeran sesuai dengan kebiasaan petani dan sama dengan media pesemaian sebelumnya yaitu berupa campuran media tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Bibit di dalam rumah pembibitan yang kedap serangga maupun rumah pembibitan terbuka, dipelihara dngan cara yang sama sampai bibit siap dipindahkan ke lapangan (umur 4 minggu). Konfirmasi infeksi virus pada bibit dilakukan melalui pengujian serologi dengan teknik ELISA.

3.3 Rancangan Percobaan

Metode yang digunakan dalam penlitian ini adalah metode pengujian dengan sistem berpasangan antara pembibitan pada tempat yang kedap serangga dan pembibitan pada tempat terbuka (tidak kedap serangga). Pada setiap variabel yang diamati diulang sebanyak 20 kali dan tiap-tiap ulangan diwakili oleh 3 tanaman sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji-t (Setiawan, 2013).

3.4 Pengamatan

Untuk mengetahui efektivitas perlakuan terhadap perkembangan penyakit virus, maka dilakukan pengamatan terhadap perkembangan gejala virus yang terjadi pada semua individu bibit baik pada pembibitan kedap serangga maupun pada pembibitan terbuka. Konfirmasi infeksi virus pada tanaman bergejala dilakukan melalui pengujian serologi. Dilakukan pula pengamatan terhadap variabel tegakan bibit, meliputi: 1.

tinggi bibit (cm), 2. jumlah daun bibit (helai), 3. kandungan klorofil daun bibit (SPAD), 4. panjang akar bibit (cm), 5. berat segar dan berat kering oven bibit (g).

3.5 Konfirmasi Infeksi Virus Melalui Pengujian Serologi.

Untuk mengkonfirmasi infeksi virus pada jaringan tanaman cabai dilakukan melalui uji ELISA sebagai berikut: Sebanyak 0,5 ul antiserum terhadap virus TMV, CMV dan ChiVMV (Agdia, USA) di campurkan ke dalam 100 ul coating buffer (0.1 g magnesium klorid, 0,2 g sodium azid, dan 97 ml dietanolamin dilarutkan dalam 1000 ml dengan ph akhir 9,8) dan dimasukkan ke plat mikrotiter sebanyak 100 ul tiap sumuran plat kemudian diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 2 jam atau -4ºC selama semalam.

Selanjutnya plat mikrotiter dicuci sebanyak 6 kali dengan bafer PBST 1X (8 g sodium klorid, 1,15 g sodium fosfat dibasic, 0,2 g potassium fosfat monobasic, dan 0,5 g tween-

(11)

11

20 yang dilarutkan dalam 1 l air dengan pH 7,4). Sebanyak 0,1 g jaringan daun tanaman cabai bergejala dilumatkan dengan mortar dalam 1 ml general extract buffer ( 1,3 g sodium sulfite, 20 g polyvinylpyrolidone, 0,2 g sodium azide, 2 g powdered egg (chiken) albumin, dan 20 g tween-20 yang dilarutkan ke dalam 1 l PBST 1X dengan pH 7,4. Cairan perasan (sap) yang dihasilkan diambil sebanyak 100 ul kemudian dimasukkan ke dalam sumuran plat mikrotiter dan kemudian diinkubasikan selama waktu seperti tahap sebelumnya. Selanjutnya plat mikrotiter dicuci lagi sebanyak 6 kali dengan PBST 1X. Setelah dicuci dengan bufer PBST 1X, pada sumuran yang sama diisi 100 ul enzim konjugat yang sudah diencerkan dengan buffer ECI (2 g bovine serum albumin, 20 g polyvinylpyrrolidone, dan 0,2 g sodium azide yang dilarutkan dalam 1 l PBST 1X dan ph 7,4) dan diinkubasi pada 37ºC selama 2 jam. Setelah pencucian, sumuran kemudian ditambah 100 ul larutan PNP (1 mg/ml p-nitrophenyl phosphate dalam 10% triethanolamine, pH 9,8) dan diinkubasi sampai muncul warna kuning (+ 30 menit). Nilai absorban diukur pada 405 nm dengan ELISA Reader.

(12)

12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHSAN

Rekapitulasi hasil perhitungan uji t terhadap variabel tegakan bibit pengaruh tempat pembibitan kedap serangga dan tempat pembibitan terbuka disajikan pada Tabel 4.1. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa antara tempat pembibitan kedap serangga dan tempat pembibitan terbuka, menghasilkan beberapa variabel tegakan pertumbuhan bibit seperti tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan berat segar bibit berbeda tidak nyata. Tetapi pada variabel kandungan khlorofil daun dan berat kering oven bibit berbeda nyata. Pada tempat pembibitan kedap serangga menghasilkan daun dengan kandungan khlorofil lebih tinggi, demikian juga terhadap variabel berat keing oven bibit dibandingkan dengan yang dihasilkan pada tempat pembibitan terbuka.

Variabel kandungan klorofil yang lebih tinggi berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme fotosintesis daun menjadi lebih tinggi. Proses metabolisme fotosintesis yang lebih baik pada bibit akan sangat mempengaruhi proses pembentukan dan pemanfaatan fotosintat, yang mempunyai peran penting untuk pertumbuhan tanaman selanjutnya sampai memasuki periode generatif (Agrios, 2005).

Tabel 4.1

Rekapitulasi hasil uji t terhadap variabel pertumbuhan bibit cabai rawit

No Variabel Satuan Tempat Pembibitan t hitung

Kedap Serangga

Terbuka

1 Tinggi tanaman Cm 16,7 15,8 -1,90 ns

2 Jumlah daun helai 9,2 8,9 1,19 ns

3 Kandungan khlorofil SPAD 35,7 30,1 1,97 *

4 Panjang akar Cm 8,3 7,6 1,43 ns

5 Berat segar bibit G 1,95 1,87 1,52 ns

6 Berat kering oven bibit

G 0,25 0,15 2,15 *

Keterangan: * = berbeda nyata menurut uji t

(13)

13 ns = berbeda tidak nyata menurut uji t t tabel 5% = 1,729

t tabel 1% = 2,539

Berat kering tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan tanaman.

Berat kering tanaman merupakan akumulasi pertumbuhan bagian vegetatif tanaman seperti pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, pertambahan akar, dan pertambahan bagian-bagian tanaman lainnya. Berat kering sebagai indikator pertumbuhan tanaman merupakan cerminan kemampuan tanaman untuk menghasilkan fotosintat dari proses fotosintesis (Goldsworthy dan Fisher, 1992). Sutedjo dan Kartasapoetra (1988) menyatakan bahwa laju fotosintesis dipengaruhi oleh kondisi daun yang salah satunya terkait dengan kandungan khlorofil daun. Semakin tinggi kandungan khlorofil daun maka laju fotosintesis juga semakin tinggi dan menyebabkan karbohidrat yang dihasilkan tanaman menjadi lebih banyak. Hal ini selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya penumpukan bahan organik di dalam tubuh tanaman yang tercermin pada variabel berat kering tanaman.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa bibit yang ditumbuhkan pada tempat pembibitan kedap serangga lebih berkualitas dibandingkan dengan bibit yang ditumbuhkan pada tempat pembibitan terbuka. Walaupun tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan berat segar bibit berbeda tidak nyata antar kedua perlakuan tetapi nilai rata-rata keempat variabel tersebut cenderung lebih tinggi pad tempat pembibitan kedap serangga dibandingkan dengan tempat pembibitan terbuka.

Pernyataan tersebut diperkuat lagi oleh variabel kandungan khlorofil daun dan berat kering oven bibit. Kedua variabel terakhir ini pada tempat pembibitan kedap serangga menunjukkan nilai rata-rata yang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan yang dihasilkan pada tempat pembibitan terbuka.

(14)

14

Berat kering tanaman selain dipengaruhi oleh kadar air, juga dipengaruhi oleh adanya gangguan pada daun akibt serangan penyakit virus. Infeksi virus secara umum akan mengurangi total klorofil dan malformasi bentuk kloroplas yang selanjutnya akan mengurangi efisiensi fotosintesis tanaman sehingga dapat berpengaruh pada total berat kering tanaman (Goodman et al.,1986). Dalam penelitian ini didapatkan bahwa bibit yang ditumbuhkan pada tempat pembibitan terbuka menunjukkan tanaman bergejala mosaik yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bibit yang ditumbuhkan pada tempat pembibitan kedap serangga (Tabel 4.2).

Tabel 4.2

Persentase tanaman terinfeksi virus dari tanaman bergejala mosaik berdasarkan uji ELISA

Tempat pembibitan

Jumlah tanaman bergejala mosaik

(batang)

Persentase virus yang menginfeksi tanaman (%)

Mosaik CMV TMV Potyvirus

Pembibitan kedap seangga

5 - - -

Pembibitan terbuka

30 26 18 20

Data pada Tabel 4.2 tersebut juga menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji ELISA, bibit pada tempat pembibitan kedap serangga terbebas dari infeksi virus, yang berbeda dengan bibit pada tempat pembibitan terbuka ditemukan infeksi virus baik CMV, TMV, maupun potyvirus dengan persentase berturut-turut 26%, 18%, dan 20%.

Gejala mosaik yang ditimbulkan akibat infeksi virus menyebabkan terganggunya proses fotosintesis sehingga berat kering bibit pada tempat pembibitan terbuka lebih rendah dibandingkan dengan bibit pada tempat pembibitan kedap serangga.

Fakta penelitian menunjukkan bahwa perlindungan bibit pada tampat pembibitan kedap serangga sebelum dipindah ke lapangan efektif menanggulangi infeksi virus umur

(15)

15

dini. Di samping itu, pemeliharaan bibit pada tempat pembibitan kedap serangga merupakan tindak lanjut dari perlakuan dry heat treatment terhadap benih. Benih diberikan perlakuan panas pada suhu 70OC selama 72 jam sebelum dikecambahkan, dan terbukti efektif menginaktifkan virus pada benih (Widayanthi dkk., 2017). Benih yang tersebut selanjutnya ditumbuhkan menjadi bibit. Untuk mencegah terjadinya infeksi virus terhadap bibit yang baru ditumbuhkan maka pemeliharaannya harus dilakukan pada tempat pembibitan kedap serangga, karena slah satu penularan virus di lapangan dapat terjadi melalui vector serangga. Dengan demikian, tempat pembibitan kedap serangga berperan mengamankan bibit dari infeksi virus umur dini sampai fase umur bibit siap pindah ke lapangan.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

(16)

16

Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tempat pembibitan kedap serangga menghasilkan bibit yang lebih berkualitas (kandungan khlorofil daun dan berat kering oven bibit lebih tinggi) dibandingkan dengan tempat pembibitan terbuka. Berdsarkan uji ELISA pada tempat pembibitan kedap serangga tidak terdeteksi adanya infeksi virus pada bibit, sedangkan pada tempat pembibitan terbuka bibit terinfeksi virus CMV, TMV dan Potyvirus dengan persentase berturut- turut 26%, 18%, dan 20%.

5.2 Saran

Berdasarkn hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa untuk tanaman yang rawan dengan serangan penyakit virus sebaiknya pesemaian dan pemeliharaan bibitnya dilakukan pada tempat pembibitan kedap serangga agar pada saat tanam betul-betul menggunakan bibit sehat.

DAFTAR PUSTAKA

(17)

17

Aegerter, Steve, Colorado Master Gardener. 2016. Get Ready to Harden Off Your Transplants. Hardening Off Isn’t Hard. Colorado State University Cooperative Extension, Denver County, Colorado.

Bhujbal, B., M.P.K. Vidyapeeth, Rahuri. ?. Resource Book on Horticulture Nursery Management. The Registrar, Yashwantrao Chavan Maharashtra Open University, Nashik. Pp. 264.

Biro Pusat Statistik. 2011. Production of Fruits in Indonesia. Jakarta: Biro Pusat Statistik.p.34-35.

Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya Cabai Rawit dan Analisis Usaha Tani. Kanisius.

Yogyakarta.

[DBPH] Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. 2015. Luas Panen, Ratarata Hasil dan Produksi Tanaman Hortikultura di Indonesia. Departemen Pertanian, Jakarta.

Direktorat Jenderal Hortikultura. 2014, Statistik Hortikultura Tahun 2010, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Jakarta, 125 hal.

Hazra P., S.K. Ghosh, T.K. Maity, M.K. Pandit, and M.G. Som. 2006. Glossary of Horticulture. Kalyani Publishers, New Delhi, India. pp. 126-136.

Kementerian Pertanian. 2014. Kebijakan Pembangunan Pertanian 2015 ‐ 2019.

Disampaikan pada Workshop Aplikasi e‐proposal 2015 dan e‐monev 2014 Indonesia Wilayah Barat, Bandung, 5‐7 Maret 2014. Biro Perencanan Kementerian Pertanian.

Kennel, Holly S. WSU Extension Agent. King County. 1998. Hardening Off. Michigan State University Extension. Ornamental Plants plus Version 2.0 -00001574, 1/01/98.

Kusandriani, Y. 1996. Botani Tanaman Cabai Merah.hal.20-27. Dalam Duriat, A.S.,A.W.W. Hadisoeganda., T.A.Soetiaso dan L. Prabaningrum. 1996.

Teknologi Produksi Cabai Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.

Nyana, D.N. 2012. “Isolasi dan Identifikasi Cucumber Mosaic Virus Lemah untuk Mengendalikan Penyakit Mosaik pada Tanaman Cabai (Capsicum spp.)”.

(disertasi). Program Studi Ilmu Pertanian Program Pascasarjana Universitas Udayana. Denpasar.

Nyana, D.N., G.Suastika, K.T.Natsuaki and H.Sayama. 2008. Control of Cucumber Mosaic Virus on Tobacco by Attenuated-CMV. ISSAAS Journal 11 (3) : 97- 102.

Oka, I.N. 1993. Pengantar Epidemiologi Penyakit Tanaman. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 92 hal.

(18)

18

Raka, I G.N., I.A. Mayun, A.A.M. Astiningsih, and K. Arsa Wijaya. 2016. Effect of Difference Age of Seedling and Seeds Dry Heat Treatment on Yield of Chilli Pepper (Capsicum frutescens L.). International Conference on Bioscience and Biotechnology (7th ICBB 2016), Denpasar, Bali, Indonesia.

Sari, C. I. N., R. Suseno, Sudarsono, M. Sinaga. 1997. Reaksi Sepuluh Galur Cabai terhadap Infeksi Isolat Cucumber mosaic virus (CMV) dan Potato virus Y (PVY) asal Indonesia. In: Prosiding Konges Nasional XIV dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Palembang 27-29 Oktober 1997. pp:

116-119.

Semangun, H. 2000. Penyakit - Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.

Universitas Gajdah Mada. Yogyakarta. 850 Hlm.

Sherly,S,P,, T, Ariarti, E, Yuni, F, P, H, Rudi, 2010, Budidaya dan Pascapanen Cabai Merah,Badan Pengembangan dan Penelitian Balai Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Jawa Tengah, 68 hal.

Sulyo, Y., E. Sofiari, A.H. Permadi. 1995. Pengujian ketahanan varietas cabai terhadap chili veinal mottle virus. J Penel Hort 16: 90-96

Sudiono, Yasin, N., Hendrastuti, S., dan Hidayat, P. 2005. Penyebaran dan Deteksi Molekuler Virus Gemini Penyebab Penyakit Kuning pada Tanaman Cabai di Sumatera. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 5 (2):113-121.

Syamsidi, S.,R.T.Hasdiatono, dan S.S.Putra, 1997. Ketahanan Cabai Merah terhadap Cucumber Mosaic Virus (CMV), pada Umur Tanaman pada saat inokolasi.

Syukur, M., Sujiprihati, S., Koswara, J., dan Widodo, J. 2009. Ketahanan terhadap Antraknosa yang Disebabkan oleh Colletotrichum acutatum pada Beberapa Genotipe Cabai (Capsicum annuum L.) dan Korelasinya dengan Kandungan Kapsaicin dan Peroksidase. Jurnal Agronomi Indonesia. 37 (3):233-239.

Toyoda, K., Y. Hikichi, S. Takeuchi, A. Okumura, S. Nasu, T. Okuno and K. Suzuki.

2004. Efficient Inactivation of Pepper Mild Mottle Virus (PMMoV) in Hervested Seed in Green Pepper (Capsium annum.L) Assessed by a Reverse Transcription and Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Based Amplification. Scientific Reports of The Fakulty of Agriculture. Okayama University. Vol. 29.

Ulfah Nuzulullia. 2006. Limit Deteksi Tobacco mosaic virus dan Cucumbar mosaic virus Patogen Tular Benih pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.).

http://hpt.unpad.ac.id/. Pengambilan tanggal 12 Januari 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat komputer client akan menghubungkan diri dengan jaringan maka server Radius akan meminta identitas user (username dan password) untuk kemudian dicocokkan dengan data

Hasil pengamatan terhadap aroma jahe instan pada perlakuan menunjukkan pemakaian sumber sukrosa memberikan nilai aroma yang berbeda, dimana dengan variasi

network client dan masalah otoritas keamanan aplikasi berupa manajemen password user didalam aplikasi server agar tidak terjadi penyalahgunaan aplikasi, serta

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cendawan penyebab penyakit layu daun pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) yang dibudidayakan di Bogor

Evaluasi karakter kualitatif dan kuantitatif generasi F1 hasil persilangan cabai hias Fish Pepper (Capsicum annuum L.) dengan cabai rawit (Capsicum frutescens).. Transcription

Dari seluruh strategi yang dipenelitian ini, strategi sub kontrak merupakan strategi paling mahal yang digunakan oleh Koperasi Batur Jaya Maka Penulis Menyarankan Koperasi

2.3 Jika Peserta didapati tidak layak sama ada sepanjang atau selepas tempoh kempen berlangsung seperti yang dinyatakan di bawah, PDB berhak untuk membatalkan

MENGANTI LIDAH