PENDIDIKAN MILITER AKADEMI ANGKATAN UDARA Studi Kualitatif Naratif di Yogyakarta
Ajeng Sandra Loveta
ABSTRAK
Terjadi perubahan pada sistem TNI yang membuka peluang untuk perempuan menyandang status sebagai prajurit mulai tahun 2013. Mereka yang memilih pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara merupakan orang-orang pilihan dari seluruh Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menjabarkan bentuk-bentuk coping stress Taruna Putri yang masih tergolong baru sebagai TNI AU dalam menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara. Peneliti melihat mulai dari awal saat menempuh pendidikan, kondisi terkait coping stress dan tahapannya, serta jenis-jenis strategi koping. Peneliti mewawancarai 4 orang Taruna Putri, terdiri dari 3 orang Mayor Taruna Putri dan 1 orang Sersan Taruna Putri. Data akan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini adalah informan memiliki bentuk-bentuk coping stress yang berbeda satu dengan yang lain, sesuai dengan persepsi dari masing-masing Taruna Putri. Narasi deskripsi informan diketahui melalui pengalaman Taruna Putri selama menjalani pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara, dengan struktur progresif/optimistik. Gejala stres yang muncul pada setiap informan berbeda, walaupun penyebab dan jenis stres yang dialami oleh keseluruhan informan sama. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada pola yang sama dari faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress.
Narative Qualitative Study in Yogyakarta
Ajeng Sandra Loveta
ABSTRACT
There was a changing system on TNI that open opportunities for women to be student since 2013. The people that took military education on Air Force Academy are the best from entire of Indonesia. This research was purposed to spell out Taruna Putri’s coping stress form who are beginner on military education. The researcher inspect from the beginning of their study, coping stress condition and its step, and also the types of coping strategy. The researcher interviewed 4 person, consist of 3 Major Taruna Putri, and 1 Sergeant Taruna Putri. Tematik data analysis would been used to analyze the datas. The result of this research, each informants descriptive narrative were known from Taruna Putri’s experience in taking military education on Air Force Academy with progressive/optimistic structure. Symptoms that occured on each participan was also different, altough the causes and type of stress was the same. This study also showed that there was a same pattern of the factors that give effect to coping stress.
Studi Kualitatif Naratif di Yogyakarta
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun Oleh : Ajeng Sandra Loveta
109114014
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu,
Carilah, maka kamu akan mendapatkan,
Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu
(Matius 7:7)
Hidup itu seperti pergelaran wayang,
Dimana kamu menjadi dalang,
Atas naskah semesta yang dituliskan oleh TuhanMu
(Sujiwo Tejo)
If you have a very beautiful dream,
So remember that God give you strength to make it real
v
Hasil karya ini kupersembahkan kepada keluargaku,
Orang tuaku yang sungguh hebat tiada duanya,
Br. Dwi Yuliantoro dan S. Sari Mulyani
Adik-adiku Yolanda dan Sherren,
Sekaligus orang-orang yang selalu menopangku,
Keluarga besar,
someone,
dan para sahabatku,
Terimakasih atas segala dukungan, doa, pelajaran hidup yang telah kalian
berikan
vii
Studi Kualitatif Naratif di Yogyakarta
Ajeng Sandra Loveta
ABSTRAK
Terjadi perubahan pada sistem TNI yang membuka peluang untuk perempuan menyandang status sebagai prajurit mulai tahun 2013. Mereka yang memilih pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara merupakan orang-orang pilihan dari seluruh Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menjabarkan bentuk-bentuk coping stress Taruna Putri yang masih tergolong baru sebagai TNI AU dalam menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara. Peneliti melihat mulai dari awal saat menempuh pendidikan, kondisi terkait coping stress dan tahapannya, serta jenis-jenis strategi koping. Peneliti mewawancarai 4 orang Taruna Putri, terdiri dari 3 orang Mayor Taruna Putri dan 1 orang Sersan Taruna Putri. Data akan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini adalah informan memiliki bentuk-bentuk coping stress yang berbeda satu dengan yang lain, sesuai dengan persepsi dari masing-masing Taruna Putri. Narasi deskripsi informan diketahui melalui pengalaman Taruna Putri selama menjalani pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara, dengan struktur progresif/optimistik. Gejala stres yang muncul pada setiap informan berbeda, walaupun penyebab dan jenis stres yang dialami oleh keseluruhan informan sama. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada pola yang sama dari faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress.
viii
Narative Qualitative Study in Yogyakarta
Ajeng Sandra Loveta
ABSTRACT
There was a changing system on TNI that open opportunities for women to be student since 2013. The people that took military education on Air Force Academy are the best from entire of Indonesia. This research was purposed to spell out Taruna Putri’s coping stress form who are beginner on military education. The researcher inspect from the beginning of their study, coping stress condition and its step, and also the types of coping strategy. The researcher interviewed 4 person, consist of 3 Major Taruna Putri, and 1 Sergeant Taruna Putri. Tematik data analysis would been used to analyze the datas. The result of this research, each informants descriptive narrative were known from Taruna Putri’s experience in taking military education on Air Force Academy with progressive/optimistic structure. Symptoms that occured on each participan was also different, altough the causes and type of stress was the same. This study also showed that there was a same pattern of the factors that give effect to coping stress.
x
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih-Nya yang melipah kepada peneliti untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam proses penyelesaiannya, peneliti
menyadari bahwa tanpa kerja keras, doa, dukungan, tekad yang kuat, dan bantuan dari semua pihak, peneliti tidak dapat segera menyelesaikan skripsi ini.
Peneliti berharap agar skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi
pendidikan militer AAU di Yogyakarta berkaitan dengan bentuk coping stress terhadap calon perwiranya. Sebagai peneliti awal yang belum terampil dalam melakukan penelitian, peneliti
menerima banyak dukungan serta bimbingan baik secara moral maupun material. Oleh karena itu, dengan segala hormat peneliti ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
2. Bapak P. Eddy Suhartanto, M.Si. selaku Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
3. Ibu Debri Pristinella, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi, yang selalu sabar dalam
memberikan bantuan serta dukungannya jika penulis sedang mengalami kesulitan dan kebimbangan.
xi
akademiknya agar segera mendapakan gelar sarjana.
6. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, yang telah
memberikan serta mengajarkan berbagai pengalaman berharga selama 5 tahun ini.
7. Bapak Marsekal Muda TNI Tabri Santoso, S.IP selaku Gubernur AAU periode 2013-2014, yang telah membantu penulis dalam melancarkan perijinannya ke AAU di
Yogyakarta.
8. Bapak Mayor Muhammad Reza, selaku KadisBin Taruna, yang telah membantu dalam
sharing, mengagendakan pertemuan, serta memberikan saran kepada penulis.
9. Bapak Letkol Rony Widodo, selaku Pembina Taruna dan Taruna Putri, yang telah mengijinkan penulis untuk meluangkan waktu dan bertemu kepada para informan
penelitian.
10.Seluruh anggota keluarga, papa dan mama yang selalu memberikan dukungan
moral-material, tak henti-hentinya mendoakan penulis, serta adik-adikku yolanda dan sherren, yang selalu bawel agar penulis cepat menyelesaikan skripsi ini.
11.Special Someone, yang selalu memotivasi dan meluangkan waktunya untuk mendampingi
penulis dalam proses penyelesaian skripsi serta memberikan bahunya untuk bersandar ketika penulis lelah.
xii apapun.
14.Para pejuang KKN “Dorgos 1946” : Tyas, Fiona, Jepe, Anwar, Anto, terimakasih atas pengalaman kehidupan yang telah kita lewati hingga menjadi keluarga baru.
15.Teman seperjuangan : Metha, Angel, Desi, Agnes Dita, Chacha, Kak Ria, Tirza, terimakasih kalian telah banyak membantu dalam segala hal.
16.Teman-teman pejuang skripsi yang tergabung dalam group whatsapp. Semangat untuk menggapai cita-cita untuk mendapatkan sebuah gelar sarjana S.Psi.
17.Alam semesta. Terimakasih alam semesta kami bahagia!
Akhir kata, peneliti menyadari bahwa skripsi yang dibuat masih banyak kekuarngan dan jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, peneliti bersedia membuka diri untuk menerima
saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan karya ini.
Yogyakarta, 24 Februari 2016 Peneliti,
xiii
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ...v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
LEMBAR PESETUJUAN PUBLIKASI ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
DAFTAR TABEL ... xix
DAFTAR SKEMA ... xx
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
xiv
A. Stres ... 14
1. Definisi stres ... 14
2. Gejala stres ... 16
3. Penyebab stres ... 20
4. Jenis stres ... 21
B. Coping Stress ... 21
1. Pengertian coping stress ... 21
2. Bentuk-bentuk coping stress ... 22
3. Proses coping stress ... 26
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress ... 29
C. Taruna Putri ... 36
1. Definisi Taruna Putri ... 36
2. Syarat pendaftaran Taruna Putri ... 36
3. Kegiatan atau aktivitas Taruna Putri ... 38
D. Akademi Angkatan Udara ... 39
E. Bentuk Coping Stress pada Taruna Putri yang Sedang Menempuh Pendidikan Militer di Akademi Angkatan Udara ... 41
F. Pertanyaan Penelitian ... 45
xv
D. Metode Pengumpulan Data ... 50
E. Metode Analisis Data ... 55
1. Tahap organisasi data ... 55
2. Tahap analisis tematik ... 56
3. Tahap interpretasi ... 58
F. Verifikasi Penelitian ... 59
1. Kredibilitas ... 59
2. Dependabilitas ... 61
3. Transferabilitas ... 62
4. Konfirmabilitas ... 63
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ... 64
1. Proses pengumpulan data ... 64
2. Proses analisis data ... 65
B. Hasil Narasi Deskripsi Informan ... 67
1. Narasi informan A ... 67
2. Narasi informan B ... 75
3. Narasi informan C ... 83
4. Narasi informan D ... 89
xvi
D. Ringkasan dan Integrasi Hasil ... 124
E. Pembahasan ... 125
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 131
B. Saran ... 134
1. Bagi pihak AAU ... 134
2. Bagi partisipan ... 134
3. Bagi peneliti lain ... 135
DAFTAR PUSTAKA ... 136
xvii
Guide Wawancara Key Informan ... 140
Daftar Panduan Pertanyaan ... 142
Catatan Lapangan Informan A 1. Wawancara 1 (CL A/1) ... 148
2. Wawancara 2 (CL A/2) ... 150
3. Wawancara 3 (CL A/3) ... 152
Catatan Lapangan Informan B 1. Wawancara 1 (CL B/1) ... 154
2. Wawancara 2 (CL B/2) ... 156
3. Wawancara 3 (CL B/3) ... 158
Catatan Lapangan Informan C 1. Wawancara 1 (CL C/1) ... 160
2. Wawancara 2 (CL C/2) ... 162
3. Wawancara 3 (CL C/3) ... 164
Catatan Lapangan Informan D 1. Wawancara 1 (CL D/1) ... 166
2. Wawancara 2 (CL D/2) ... 168
Transkrip Wawancara Informan A (TR A/V) ... 170
Transkrip Wawancara Informan B (TR B/V) ... 204
Transkrip Wawancara Informan C (TR C/V) ... 229
xviii
Berkaitan tentang Coping Stress dan Tahapannya (AT A/b) ... 292 Jenis-jenis Strategi Coping (AT A/c) ... 300
Analisis Tematik Informan B
Saat Awal Menempuh Pendidikan Militer di AAU (AT B/a) ... 311 Berkaitan tentang Coping Stress dan Tahapannya (AT B/b) ... 318
Jenis-jenis Strategi Coping (AT B/c) ... 328 Analisis Tematik Informan C
Saat Awal Menempuh Pendidikan Militer di AAU (AT C/a) ... 337 Berkaitan tentang Coping Stress dan Tahapannya (AT C/b) ... 343 Jenis-jenis Strategi Coping (AT C/c) ... 350
Analisis Tematik Informan D
Saat Awal Menempuh Pendidikan Militer di AAU (AT D/a) ... 363
xix
Tabel 1. Panduan Pertanyaan Wawancara ... 51
Tabel 2. Contoh Tabel Analisis Tematik ... 57
Tabel 3. Identitas Informan ... 65
Tabel 4. Proses Kegiatan Analisis Data ... 66
Tabel 5. Ringkasan Narasi Deskripsi Informan ... 97
xx
Skema 1. Proses Coping Stress ... 27 Skema 2. Bentuk Coping Stress Taruna Putri ... 44
Skema 3. Bentuk Coping Stress terhadap Narasi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Akademi Angkatan Udara (AAU) adalah sekolah pendidikan TNI
Angkatan Udara di Yogyakarta, Indonesia. Akademi Angkatan Udara mencetak Perwira TNI Angkatan Udara. Secara organisasi, Akademi
Angkatan Udara berada di dalam struktur organisasi TNI Angkatan Udara, yang dipimpin oleh seorang Gubernur Akademi Angkatan Udara (Katalog AAU, 2005).
Sistem Pendidikan di Akademi Angkatan Udara menganut sistem Tri Tunggal Terpadu. Artinya sistem pendidikan yang dilaksanakan meliputi
kegiatan pengajaran, jasmani militer, dan latihan serta pengasuhan secara terpadu dengan satu tujuan yaitu menghasilkan perwira berpangkat Letnan Dua yang mempunyai sifat "Tri Sakti Wiratama" (Makayasa, 2006). Tri Sakti
Wiratama merupakan prajurit yang memiliki sifat tanggap (penguasaan ilmu pengetahuan), tanggon (kepribadian yang luhur), dan trengginas
(kesemaptaan jasmani). Hal tersebut merupakan ciri khas lembaga pendidikan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan tinggi umum lainnya. Seorang calon Perwira juga harus tertanam dalam jiwanya “Dwi
Warna Purwa Cendekia Wusana” artinya seorang calon Perwira terlebih
dengan intelegensia atau kecerdasan serta profesionalisme (Katalog AAU, 2008).
Dalam rangka mendukung tercapainya tujuan, untuk membentuk prajurit yang profesional, maka Akademi Angkatan Udara Yogyakarta
memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada Taruna. Lembaga pendidikan militer ini, bertujuan agar Taruna dapat menjadi perwira TNI AU sebagai pejuang Sapta Marga. Hal tersebut didukung dengan
kualifikasi akademis potensial dasar matra udara, memiliki kesamaptaan jasmani dan kemiliteran sebagai penunjang tugas pengabdian selaku prajurit
TNI AU, serta mampu mengembangkan kader pemimpin bangsa atau didalam TNI AU (Mulyanto, 2007).
Istilah Taruna atau Karbol untuk laki-laki dan Taruna Putri untuk
perempuan yang tergolong masih baru dalam Akademi Angkatan Udara diwajibkan mengikuti program pendidikan AAU yang dilaksanakan selama
empat tahun, meliputi satu tahun program pendidikan integratif di Resimen Chandradimuka Magelang dan tiga tahun di Akademi Angkatan Udara. AAU
menyelenggarakan tiga program studi atau majoring meliputi Teknik Aeronautika, Teknik Elektronika, dan Teknik Manajemen Industri (Makayasa, 2006).
Saat Tentara Nasional Indonesia (TNI) genap berusia 68 tahun, berbagai perubahan dilakukan termasuk membuka peluang untuk perempuan
Taruna Putri. Hanya saja, kuota bagi perempuan belum banyak. Perubahan ini dilakukan dengan pertimbangan, sudah saatnya wanita memiliki posisi
yang setara dengan pria. Namun, tetap tidak memberikan hak khusus pada wanita. Kebijakan ini bertujuan agar ada kesetaraan gender (Miftah dkk,
2013).
Namun, sebelum kebijakan baru tersebut dibuat, sebelumnya sudah ada TNI AU wanita atau sering disingkat Wanita Angkatan Udara (WARA).
Awal terbentuknya, sudah ada sejak 12 Agustus 1963 dan merupakan realisasi emansipasi wanita. Saat itu posisi yang diberikan sebatas bidang
administrai, guru bahasa, dokter, dan di bidang hukum. Mulai tahun 1982, WARA mulai diberi kepercayaan tidak hanya sebagai pengatur penerbang tetapi sebagai pengemudi pesawat terbang. Bahkan mulai ada wanita yang
menjadi teknisi pesawat terbang (Ariandra, 2012).
Berdasarkan catatan sejarah, kaum wanita terkadang diposisikan
sebagai pelengkap dan hanya berperan di dalam urusan domestik. Namun, seiring perkembangan jaman dan dengan kemajuan teknologi, Wara (Wanita
Angkatan Udara) dituntut dua peran, yakni sebagai prajurit TNI AU dan peran dalam rumah tangga, yakni berperan ganda. Dalam rumah tangga, wanita harus membina putra-putrinya agar menjadi generasi penerus yang
berguna bagi nusa dan bangsa. Wanita Angkatan Udara, meski sebagai wanita yang feminine, tidak menghalangi Wara untuk mengukir prestasi
Kini, TNI Angkatan Udara telah menerima 12 calon Taruna Putri untuk dididik secara militer. Mereka di didik bersama-sama prajurit pria untuk
melaksanakan pendidikan tinggi dalam Akademi Militer di Magelang. Mereka para wanita itu di gembleng bersama dengan calon taruna dari ketiga
angkatan. Mereka masuk asrama, dan sedang menjalani pendidikan dengan Taruna laki-laki di Magelang selama satu tahun. Mereka akan dikembalikan ke masing-masing angkatan dan akan mengikuti pendidikan di angkatan
masing-masing selama tiga tahun. Sehingga pada 2017 nanti mereka sudah resmi menjadi perwira TNI AU dengan pangkat Letnan Dua (Gemilang,
2013).
Pendidikan dalam AAU memiliki peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh Taruna Putri. Selama masa pendidikan tersebut, tidak
selamanya kehidupan para Taruna Putri berjalan baik-baik saja, tenang, dan penuh kegembiraan. Kadangkala para Taruna Putri menghadapi berbagai
hambatan, rintangan, persoalan, dan konflik sederhana yang dapat mudah diselesaikan. Selain itu, ada beberapa hal tersebut yang cukup kompleks dan
sulit untuk diselesaikan. Hal ini dapat menimbulkan keadaan yang tidak seimbang dan tekanan psikologis dalam diri Taruna Putri tersebut. Seperti yang diungkapan oleh partisipan MC yang mengatakan bahwa 3 bulan
pertama pendidikan dirasa cukup berat :
Menurut sebuah penelitian (Annisa, 2012), beberapa hambatan dalam pendidikan militer antara lain sistem senioritas yang kuat, penerimaan
hukuman-hukuman, disiplin diri yang tidak kenal kompromi, tanggung jawab dalam manajemen diri dan junior, dan belum lagi kegiatan latihan yang
berbahaya. Hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan militer berbeda dengan pendidikan yang ditempuh oleh masyarakat sipil pada umumnya. Hal ini dapat membuat Taruna Putri AAU belajar di bawah kondisi tekanan yang
mengakibatkan perasaan takut, nervous, hati-hati, waspada bahkan terkadang mengganggu pola tidur mereka, sehingga hal tersebut berdampak pada
kualitas hidup selama menjalani pendidikan kemiliteran di Akademi Angkatan Udara.
Perbedaan pendidikan militer dengan pendidikan yang ditempuh oleh
masayarakat sipil pada umumnya tampak pada aktivitas yang sedang dijalankan oleh Taruna Putri di Akademi Angkatan Udara. Hal ini seperti
yang diungkapkan oleh ketiga partisipan yang mengatakan perbedaan pendidikan yang sedang dihadapi :
cuti kadang hal-hal itu sampai kebawa semua” (UO, MC, dan DA, 23 & 24 Februari 2015).
Walaupun tampak ada perbedaan pendidikan dalam masyarakat sipil dengan pendidikan di Militer, tetapi hal ini tidak berlaku ketika Taruna Putri
sedang menjalankan pendidikannya di AAU. Dalam masa pendidikan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Taruna pria maupun wanita. Seperti yang diungkapkan oleh partisipan DA yang mengatakan hanya sedikit
perbedaannya:
“Kalau disini sih kita sama. Semua kegiatannya pun sama. Apalagi kalau Binsik (Pembinaan Fisik), kita juga melakukannya kok. Namun, hanya berbeda takarannya saja. Perbedaannya cuma bagian itu sih. Kalau kegiatan mulai dari bangun pagi sampai menjelang tidur itu sama, kan pisahnya cuma waktu tidur saja, beda flat” (DA, 24 Februari, 2015).
Namun, secara biologis tubuh seorang wanita terdiri dari tulang-tulang
yang relatif lebih kecil, otot juga lebih kecil, akan tetapi lebih banyak lemak dan memberi kesan membulat dan lebih halus. Memang hal inilah yang menyebabkan sebutan “kaum lemah” bagi wanita. Selain itu, kekuatan tenaga
atau daya fisik pria jauh lebih banyak daripada tenaga fisik kaum wanita. Tubuh wanita yang besar dan gemuk belum tentu menjamin adanya tenaga
dan daya fisik yang lebih dibandingkan dengan seorang pria yang sebaliknya mungkin jauh lebih kurus (Gunarsa dan Gunarsa, 2004).
Kepribadian seorang wanita merupakan suatu kesatuan yang
terintegrasikan antara aspek-aspek emosionalitas, rasio, dan suasana hati. Biasanya kesatuan ini pada wanita adalah kuat dan menyebabkan logika
seolah-olah berpikir dengan mengikutsertakan perasaan dan tak ketinggalan pula suasana hatinya. Apabila kesedihan sedang meliputi dirinya, maka pikirannya
terhambat oleh kegelapan suasana hati dan sulit memperoleh penyelesaian persoalan. Pikiran, perasaan, dan kemampuan yang erat berhubungan satu
sama lain menyebabkan kaum wanita cepat mengambil tindakan atas dasar emosinya (Gunarsa dan Gunarsa, 2004). Namun, sebagai Taruna Putri yang menyandang status prajurit, hal tersebut tidak berlaku. Taruna Putri di latih
dan di didik agar sama dengan Taruna, yaitu mengatasi persoalan menggunakan rasio. Seperti yang diungkapan oleh partisipan UO mengenai
pelatihan dan didikan sebagai tentara tidak mengenal laki-laki atau perempuan :
“Kita diajarkan bagaimana sikap kita sebagai seorang Tentara, kita harus tahan terhadap apapun itu, apapun itu bentuknya kita harus hadapi. Tidak peduli kita laki-laki ataupun perempuan, kita harus bisa mengontrol diri kita. Kita sudah diajarkan dari awal, jadi begitu kita masuk kesini kita sudah terbiasa untuk membentengi diri kita dengan segalam macam. Mungkin emosional, mungkin kita ketahui perempuan pada umumnya mudah menangis atau segala macam, kita disini sudah bisa mengatasi hal-hal itu. Seperti itu cengeng bisa di bilang begitu sudah tidak, karena kita sudah terlatih, jadi kita bukan bisa tapi kita terlatih melakukannya” (UO, 23 Februari 2015).
Stimulus lingkungan baik fisik, psikologis, atau sosial yang diterima
Taruna Putri AAU dapat menyebabkan stres atau penegangan dalam sistem yang sering disebut stresor. Stres adalah tuntutan atau overtax terhadap sistem, yang menghasilkan ketegangan, kecemasan, dan kebutuhan energi,
usaha fisiologis, dan usaha psikologi ekstra (Sundberg, Winebarger, dan Taplin, 2007). Menurut Prawirohusodo (dalam Annisa, 2012) stres adalah
bermakna sebagai akibat ketimpangan antar tuntutan hidup dan kemampuan penyesuaian individu.
Stres yang muncul pada Taruna Putri tampak pada masa awal pendidikan yang dirasa cukup berat dan berpengaruh pada metabolisme tubuh
Individu tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh partisipan MC mengatakan sempat bermasalah terhadap siklus bulanannya:
“Dulu saya hampir 5 bulan nggak menstruasi. Soalnya ya stres. Dulu waktu di Magelang itu lho yang masa peralihan dari sipil ke militernya itu. Mungkin metabolisme kitanya yang masih menyesuaikan” (MC, 24 Februari 2015).
Saptoto (2010) menyatakan bahwa keadaan tersebut akan membuat individu melakukan berbagai usaha untuk menguasai, meredakan, atau
menghilangkan berbagai tekanan yang dialaminya. Menurut Parry (1992) berbagai usaha yang dilakukan individu tersebut dikenal dengan istilah
coping. Folkman & Lazarus (1980) mengatakan bahwa coping merupakan sekumpulan pikiran dan perilaku yang dimiliki individu dalam menghadapi situasi yang menekan. Coping pada dasarnya menggambarkan proses
aktivitas kognitif yang disertai dengan aktivitas perilaku (Lazarus, dalam Folkman, 1984).
Coping merupakan pikiran-pikiran atau tindakan-tindakan untuk beradaptasi terhadap stres dalam kehidupan sehari-hari (Hardjana, 2007). Kemudian coping yang berorientasi pada masalah lebih efektif dibandingkan
coping yang beroerientasi pada emosi kerena dapat langsung mengenai sumber masalah, adapun coping yang berorientasi pada emosi hanya bersifat
dan distraksi (Scheier dalam Parry, 1990; Gibbon, 1999; Lestari & Lestari, 2005).
Lazarus & Folkman (dalam Saptoto, 2010) mengklasifikasikan coping menjadi dua bagian, yaitu approach coping dan avoidance coping. Approach
coping yang juga disebut problem focused coping memiliki sifat analitis logis, mencari informasi, dan berusaha untuk memecahkan masalah dengan penyesuaian yang positif. Sedangkan Avoidance coping yang juga disebut
emotion focused coping mempunyai ciri represi, proyeksi, mengingkari, dan berbagai cara untuk meminimalkan ancaman (Hollahan & Moos, 1987).
Secara umum berbagai penelitian yang ada menunjukkan bahwa strategi problem focused coping, yang bertujuan mengelola beberapa aspek dalam situasi yang penuh tekanan atau stres, berhubungan dengan hasil yang
lebih positif hanya jika usaha tersebut secara nyata dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya untuk stresor yang relatif tidak dapat
dikontrol, strategi emotion focused coping yang berorientasi ke arah pengaturan emosi atau penilaian kembali ancaman terlihat paling adaptif
(Saptoto, 2010).
Menurut Annisa (2012) untuk meminimalkan atau menghilangkan stressor yang ditimbulkan dari berbagai masalah yang dihadapi, para Taruna
Putri AAU membutuhkan perilaku coping yang sesuai, sehingga mereka dapat berfungsi dengan baik sebagai Taruna Putri yang penuh dengan prestasi
Taruna Putri diharapkan dapat mengelola coping stressnya. Dalam hal ini, khususnya pada Taruna Putri di Akademi Angkatan udara. Cohen (dalam
Smet, 1994) mendefinisikan coping stress sebagai suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan
baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stress.
Pada dasarnya, coping stress adalah usaha perubahan kognitif dan perilaku secara konstan sebagai respon yang dilalui individu dalam
menghadapi situasi yang mengancam dengan mengubah lingkungan atau situasi yang stresful untuk menyelesaikan masalah (Farida, 1994). Kemudian, Sarason (1999) mengartikan coping stress sebagai cara untuk menghadapi
stres, yang mempengaruhi bagaimana seseorang mengidentifikasi dan mencoba untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, Pramadi (2003)
mengartikan coping stress sebagai respon yang bersifat psikologis untuk mengurangi tekanan dan sifatnya dinamis.
Melihat fenomena dalam dunia pendidikan militer di Akademi Angkatan udara, di mana tuntutan yang diharapkan oleh AAU yaitu menjadi Perwira AU yang profesional dalam pengoperasian dan pemeliharan senjata
AU yang memerlukan ketrampilan tinggi serta asumsi dimasyarakat tentang perempuan yang menjadi anggota TNI AU masih belum populer, maka
progamkan untuk menciptakan situasi yang cocok dengan kondisi pertempuran, sehingga tidak jarang pendidikan di AAU tersebut
menimbulkan beberapa tuntutan yang menyebabkan perubahan secara mendasar baik sikap maupun tindakan para Taruna Putri. Seperti yang
diungkapkan oleh partisipan UO mengatakan bahwa semua perlakuan saat menjalani pendidikan di AAU hak dan kewajibannya sama:
“Jadi dari waktu kita masuk awal sebagai Taruna Putri, semua barang-barang sipil itu di stop. Kemudian pembagian barang-barang mulai atas sampai bawah tuh dari TNI. Tujuannya itu sendiri agar disamaratakan, jadi tidak ada kesenjangan sosial disni. Tidak terlihat seseorang itu asalnya dari tingkat ekonominya. Baik yang rendah, sedang, maupun tinggi karena semua sama disini. Sampai mulai dari jumlah, model,
merk semuanya sama. Lalu hak dan kewajibannya pun juga sama”
(UO, 23 Februari 2015).
Keadaan yang menuntut para Taruna Putri sebagai pajurit perempuan angkatan pertama terjadi kesenjangan kodrat. Pada dasarnya kodrat seorang
perempuan yaitu, lemah lembut, faktor emosi yang lebih dominan, dan suasana hati yang cepat berubah, tidak berlaku bagi Taruna Putri. Taruna Putri dituntut sebagai perempuan dalam pendidikan militer yang tegas,
tanggap, dan disiplin. Hal tersebut sering berdampak pada kondisi psikologis mereka dalam menjalani pendidikan militer di AAU. Oleh karena itu peneliti
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan
sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana bentuk-bentuk coping stress pada Taruna Putri yang masih tergolong baru dalam TNI AU di Akademi Angkatan Udara”.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah untuk menjabarkan bentuk-bentuk coping stress Taruna Putri yang masih tergolong
baru sebagai TNI AU dalam menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terbagi menjadi dua macam, yaitu manfaat teoretis
dan manfaat praktis. 1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pengembangan teori psikologi klinis maupun perkembangan di dunia militer. Khususnya memberi gambaran tentang
2. Manfaat Praktis
a) Bagi psikologi AAU
Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan kontribusi akademis bagi dunia Psikologi Angkatan Udara, untuk
memperkaya hasil penelitian dan pengembangan di bidang psikologi Angkatan Udara.
b) Bagi partisipan
Diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai coping stress ketika menempuh pendidikan militer sehingga
mampu menyesuaikan dirinya dengan segala tuntutan yang ada selama pendidikan guna mencegah terjadinya stres ketika menempuh pendidikan militer.
c) Bagi peneliti lain
Mengingat bahwa hasil penelitian mengenai coping stress
pada Taruna masih jarang di Indonesia, bahkan untuk Taruna Putri tergolong penelitian baru, maka hasil penelitian ini diharapkan
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Stres
1. Definisi Stres
Secara umum stres dapat diartikan sebagai suatu keadaan tertekan atau suatu keadaan dimana individu mengalami ketegangan yang disebabkan
oleh faktor eksternal dari lingkungan dan faktor internal dari individu itu sendiri. Menurut Nevid, dkk (2003) stres adalah suatu tekanan atau tuntutan yang dialami oleh individu atau organisme agar individu dapat
beradaptasi atau menyesuaikan diri.
Pada dasarnya, stres yang optimal akan membuat individu memiliki
motivasi yang tinggi, menjadi lebih bergairah, daya tangkap dan persepsi yang tajam, serta menjadi lebih tenang. Sedangkan, stres yang terlalu rendah akan mengakibatkan kebosanan, motivasi menjadi turun, sering
bolos, serta mengalami kelesuan. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi (timbal balik) antara rangsangan lingkungan dan respon individu
(Siswanto, 2007).
Stres menurut Selye (dalam Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000) adalah suatu respon tubuh yang tidak spesifik terhadap beberapa tuntutan
yang ada. Dengan kata lain yaitu, tubuh bereaksi secara sama ketika menghadapi stres, tidak memperdulikan apapun jenis dari stressornya.
berolahraga dengan seseorang yang cemas ketika akan menghadapi ujian. Dalam dua kondisi tersebut memungkinkan tubuh memunculkan respon
yang sama, seperti hati berdebar, nafas lebih cepat, dan keringat bercucuran. Meskipun hasil respon tubuh yang dihasilkan bisa sama, tetapi
stressornya berbeda. Hal itu yang dimaksud dengan respon tubuh yang tidak spesifik. Jika dijabarkan sebagai berikut, reaksi pertahanan fisiologis yang dilakukan oleh tubuh ketika menghadapi stressor merupakan
pola-pola reaksi yang universal atau sama pada setiap orang. Reaksi pertahanan fisiologis ini bertujuan melindungi organisme dan menjaga integritasnya
supaya organisme tersebut tetap survive (Siswanto, 2007).
Stres dapat dialami oleh individu dan hal tersebut sulit untuk dihindari dalam proses kehidupan manusia. Oleh karena itu, stres menjadi
permasalahan yang menarik untuk dibahas karena tidak akan ada hentinya. Menurut Gerrig dan Zimbardo (2008) mengungkapkan bahwa stres
merupakan pola respon organisme terhadap stimulus yang mengganggu keseimbangan dan memerlukan kemampuan untuk mengatasinya.
Berdasarkan definisi-definisi yang telah dijabarkan, maka dapat disimpukan bahwa stres merupakan suatu keadaan dimana individu mengalami ketidak seimbangan antara tekanan atau tuntutan yang
2. Gejala Stres
Stres dapat dialami oleh individu tanpa terkecuali. Menurut Khairani
(2013), memaparkan beberapa ulasan mengenai gejala utama stres yang tiba-tiba muncul dan tidak diketahui sebabnya:
- Jantung sering berdebar tanpa sebab diketahui - Berkeringat dingin atau merasa menggigil - Ke toilet lebih sering dari biasanya
- Mulut terasa kering
- Sakit atau nyeri perut bagian atas
- Mudah lelah walaupun mengerjakan pekerjaan yang ringan - Merasa sakit seluruh otot badan yang tidak biasa
- Sakit kepala tanpa sebab
- Mudah tersinggung - Kurang rasa humor
- Kurang selera terhadap makanan, kesenangan ataupun seks - Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit tanpa disadari
- Kurang punya waktu menjalankan hobi atau kebiasaan - Merasa tidak mampu mengatasi permasalahan apapun - Kurang tertarik berkomunikasi dengan orang lain, selalu
menghindar
- Kurang percaya terhadap penampilan diri
- Pelupa
- Sulit tidur, tidur tidak nyaman atau mudah terbangun, dan bangun
merasa tidak segar
Berikut beberapa gejala stres juga akan dijabarkan menurut Looker
dan Gregson (2005) :
a) Sistem Pernafasan : Penyakit jantung koroner (angina dan serangan jantung), Hipertensi (tekanan darah tinggi), Stroke, dan Migren.
b) Sistem Pencernaan : Gangguan pencernaan, Nausa, Rasa panas dalam perut (pirosis), Bisul dalam perut dan usus dua belas jari,
Radang usus besar (sindroma usus besar berat), Diare, Sembelit, dan Perut Kembung.
c) Otot dan Sendi : Pusing, Kram, Kejang otot, Nyeri punggung, dan
Nyeri leher.
d) Lain-lain : Diabetes, Kanker, Encok (rheumatoid arthritis), Asma,
Masuk angin biasa dan flu, Gangguan seksual (diantaranya yaitu, dorongan seks berkurang, ejakulasi dini, gagal mencapai orgasme,
kemandulan), Penyakit kulit, dan Gangguan tidur.
e) Perilaku : Makan terlampau banyak (obesitas), Hilang selera makan (anoreksia), Meningkatnya frekuensi merokok, Meningkatnya
konsumsi kafein, Meningkatnya konsumsi alkohol, dan Penyalahgunaan obat-obatan.
Berdasarkan pendapat dari dua para ahli mengenai gejala stres tersebut, maka peneliti membuat kesimpulan bahwa gejala stres dapat
dikategorikan sebagai berikut : a. Sistem Pernafasan :
Jantung sering berdebar, tanpa sebab yang jelas Sakit kepala tanpa sebab
Hipertensi (Tekanan darah tinggi)
b. Otot dan Sendi :
Merasa sakit seluruh otot badan, tetapi bukan hal yang
biasa
Kram tanpa sebab yang jelas Nyeri pada punggung, leher
c. Sistem Pencernaan :
Ke Toilet lebih sering dari biasanya Mulut terasa kering
Sakit atau nyeri perut bagian atas Gangguan pencernaan
Perut kembung
d. Perilaku :
Kurang selera makan
e. Emosional :
Mudah tersinggung
Kecemasan, misalnya sering merasa ketakutan, fobia
berlebihan, dan obsesi Depresi
f. Lain-lain :
Berkeringat dingin atau merasa menggigil Pelupa
Gangguan seksual, contohnya dorongan seks berkurang Merasa tidak mampu mengatasi permasalahan apapun Kurang tertarik berkomunikasi dengan orang lain, mencoba
selalu menghindar
Kurang peraya terhadap penampilan diri Merasa segala sesuatu tidak berguna Selalu merasa kehilangan dan sedih
Sulit tidur, tidur tidak nyaman atau mudah terbangun, dan
bangun merasa tidak segar
Kurang punya waktu menjalankan hobi atau kebiasaan Mudah lelah walaupun pekerjaan ringan
Mudah masuk angin biasa dan flu Kurang rasa humor
3. Penyebab Stres
Siswanto (2007) mengungkapkan bahwa stresor adalah sesuatu yang
menyebabkan stres. Menurut Passer dan Smith (2007), penyebab stres adalah suatu jenis stimulus tertentu, baik bersifat fisik atau psikologis,
dapat mengakibatkan suatu tuntutan yang mengancam kesejahteraan dan menuntut individu untuk beradaptasi dengan cara tertentu. Karakteristik stressor yang menjadikan suatu peristiwa dapat menimbulkan stres adalah
intensitas, lama atau jangka waktu kejadian, terduga atau tidak terduga, besar atau kecilnya kontrol seseorang, serta lamanya dampak peristiwa
tersebut dirasakan oleh seseorang. Menurut Resick (2005), macam-macam stressor berdasarkan tingkatannya (dalam Passer dan Smith, 2007), yaitu :
a) Microstressor
Berkaitan dengan masalah yang dihadapi sehari-hari dan gangguan kecil yang ada dalam keseharian individu.
b) Major Negative Event
Berkaitan dengan peristiwa-peristiwa negatif besar yang sangat
membebani dan menuntut usaha yang besar pula untuk mengatasinya.
c) Catastrophic Events
Berkaitan dengan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dan cukup
4. Jenis Stres
Semua perubahan dalam hidup individu dapat menyebabkan stres.
Stres dapat dibagi menjadi 2 yaitu, stres yang positif dan stres yang negatif. Stres yang positif, dapat memberi motivasi dan dapat memberi
semangat bagi kehidupan seseorang, bisa disebut dengan eustress. Kemudian stres yang justru melemahkan individu atau stres yang negatif, dapat disebut dengan distress (Huffman, Vernoy dan Vernoy, 2000).
Dalam hal ini, peneliti hanya akan melihat jenis stres yang muncul dan tampak pada Taruna Putri seperti apa, ketika sedang menempuh
pendidikan militer di akademi angkatan udara.
B. Coping Stress
1. Pengertian Coping Stress
Penyesuaian diri untuk menghadapi stres, dalam konsep kesehatan
mental dikenal dengan istilah coping. Secara harafiah, coping bermakna sebagai pengatasan atau penanggulangan. Coping sering disamakan
dengan adjustment (penyesuaian diri). Selain itu, coping sering dimaknai juga untuk problem solving (memecahkan masalah). Coping menurut Siswanto (2007) adalah bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres
atau tekanan. Coping didefinisikan Aldwin (2007) sebagai strategi yang digunakan untuk hal yang berkaitan dengan kenyataan atau antisipasi
Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000), coping stress adalah penilaian kognitif dan perilaku yang dapat
berubah secara konstan, lalu dapat digunakan oleh individu untuk mengatur berbagai tuntutan spesifik baik eksternal maupun internal, serta
dapat dinilai mengganggu atau melampaui kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut. Selain berfungsi untuk mengatur stres, menurut Lavine coping stress mempunyai fungsi yang lain, yaitu merupakan sebuah usaha
penyesuaian diri terhadap kondisi stres (dalam Setyaningsih, 2003). Delongis dan Puterman (dalam Fink, 2007) mengemukakan bahwa
coping stress merupakan usaha yang berupa kognitif dan perilaku, untuk mengelola situasi stres yang tergantung pada sejumlah faktor. Berdasarkan beberapa penjelasan mengenai coping stress, maka dapat disimpulkan
bahwa coping stress merupakan suatu usaha yang berupa penyesuaian diri, pemecahan masalah, penilaian kognitif, perilaku, dan reaksi individu
dengan lingkungan, saat menghadapi situasi yang mengancam untuk mengatasi atau mengurangi tekanan.
2. Bentuk-bentuk Coping Stress
Beberapa ahli berusaha untuk membagi dan mengorganisasi
bentuk-bentuk coping stress untuk memperjelas penggolongannya. Oleh karena itu, terdapat beberapa penggolongan bentuk coping stress. Dalam
penggolongannya cukup jelas dan mampu membedakan masing-masing strategi berdasarkan cara coping itu sendiri. Carver, Scheier, dan
Weintraub (1989) membagi macam-macam coping stress menjadi 13 bentuk yang terdiri dari 5 bentuk yang termasuk ke dalam problem focused
coping dan 8 bentuk tergolong ke dalam emotion of coping. Adapun bentuk-bentuk coping stress sebagai berikut :
A) Problem Focused Coping (PFC)
1. Active Coping (Koping Aktif)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya
langkah nyata yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan atau menghadapi masalah serta adanya keputusan untuk mengambil langkah yang bijaksana sebagai pemecah masalah.
2. Planning (Membuat Rencana)
Merupakan coping yang ditandai dengan adanya usaha untuk
memikirkan cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi stressor atau dapat juga berupa usaha untuk membuat rencana penyelesaian
masalah.
3. Suppression of Competing Activities (Menekan Aktivitas Lain)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya
usaha individu untuk mengurangi perhatian dari aktivitas lain sehingga individu dapat lebih memfokuskan diri pada permasalahan
4. Restraint Coping (Mengendalikan Tindakan)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan usaha
individu untuk menunggu waktu dan kesempatan yang tepat untuk bertindak. Individu berusaha untuk menahan diri dan tidak
tergesa-gesa dalam bertindak.
5. Seeking Social Support for Instrumental Reasons (Mencari
Dukungan Sosial untuk Alasan Instrumental)
Merupakan salah satu bentuk coping yang terwujud dalam usaha individu untuk mencari saran, bantuan, dan informasi dari orang lain
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
B) Emotion Focused Coping (EFC)
1. Seeking Social Support for Emotional Reasons (Mencari Dukungan
Sosial untuk Alasan Emosional)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya
usaha individu untuk mencari dukungan moral, simpati, dan pehamaman dari orang lain. Dukungan simpati dan perhatian dari
orang lain ini, diharapkan dapat menjadi kekuatan bagi individu dalam menghadapi masalahnya.
2. Positive Reinterpretation (Memaknai Kembali Secara Positif)
Merupakan strategi coping yang ditandai dengan adanya usaha untuk memaknai semua kejadian yang dialami sebagai sesuatu hal
3. Acceptance (Penerimaan)
Merupakan sebuah sikap untuk menerima kejadian dan peristiwa
sebagai suatu kenyataan yang harus dihadapi.
4. Denial (Penyangkalan)
Merupakan usaha individu untuk menolak atau menyangkal kejadian sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi.
5. Turning to Religion (Kembali ke Agama)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai oleh adanya usaha untuk mencari kenyamanan dan rasa aman dengan cara
kembali ke agama. Biasanya diwujudkan dalam doa, meminta bantuan kepada Tuhan, dan adanya sikap pasrah pada Tuhan.
6. Focusing on and Venting Emotions (Berfokus pada Emosi dan
Penyaluran Emosi)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan usaha
untuk meningkatkan kesadaran akan adanya tekanan emosional dan secara bersamaan melakukan upaya untuk menyalurkan atau
meluapkan perasaan-perasaan tersebut.
7. Behavioral Disengagement (Pelepasan Perilaku)
Merupakan salah satu bentuk coping yang ditandai dengan adanya
penurunan usaha untuk menghadapi stressor (menyerah terhadap situasi yang dialami). Bentuk coping ini juga dikenal dengan istilah
tindakan individu untuk minum alkohol, hingga mabuk-mabukan sebagai cara pelarian dari masalah.
8. Mental Disengagement (Pelepasan Secara Mental)
Merupakan usaha individu untuk mengalihkan perhatian dari
permasalahan yang dialami dengan melakukan aktivitas lain seperti berkhayal atau tidur.
Coping stress memberikan dampak baik secara psikologis, sosial, dan
fisiologis. Hasil penggunaan coping secara psikologis meliputi reaksi emosional, seperti depresi dan kecemasan, kesejahteraan, dan perfomansi
kerja. Sedangkan secara sosial, proses coping berdampak pada perubahan hubungan interpersonal dan kemampuan untuk memenuhi peranan sosial. Hasil secara fisiologis meliputi jangka pendek, yaitu seperti gangguan
sistem saraf autonomic, hormonal dan reaksi fisiologis jangka panjang, misalnya perkembangan penyakit jantung coronaer (Cohen, 1987). Hasil
akhir dari penggunaan proses coping dapat dilihat dari kemampuan individu untuk melanjutkan kehidupan.
3. Proses Coping Stress
Lazarus (dalam Santrock, 2003), menjelaskan bahwa proses coping
stress diawali dengan adanya penilaian kognitif terhadap stressor, yang dilanjutkan dengan perilaku individu dalam menghadapi sebuah
Lazarus (dalam Bart Smet, 1994), menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses coping stress. Sebelum
individu akhirnya menentukan cara merespon masalah dan strategi coping yang akan dipilih, beberapa hal yang dapat berpengaruh adalah sumber
potensi yang dimiliki individu. Sumber kemampuan yang dimiliki individu seperti uang dan waktu, dukungan sosial yang didapatkan, ada atau tidaknya stressor lain dalam kehidupan, cara coping stress yang berbeda
antara individu yang satu dengan individu yang lain, faktor kepribadian yang dapat mempengaruhi individu dalam memberikan respon coping dan
memilih strategi coping.
Selain beberapa hal yang telah dijabarkan diatas, kejadian yang menimbulkan stress serta tahapan-tahapannya dan cara individu
melakukan antisipasi juga akan turut berpengaruh pada proses coping stress selanjutnya, terutama dalam memberikan penilaian dan interpretasi
terhadap stressor yang dirasakan oleh individu. Setelah individu memberikan penilaian dan interpretasinya inilah baru kemudian individu
tersebut akan memberikan respon dan memilih strategi coping yang paling sesuai, misalnya dengan mencari informasi, melaukan aksi langsung, dan mencari dukungan dari orang lain. Respon dan strategi coping yang dipilih
individu, kemudian individu tersebut melakukan tugas-tugas coping stress yang berguna untuk mengurangi kondisi lingkungan yang dirasakan
yang terjadi. Akhirnya dari tugas-tugas coping stress yang dilakukan individu, maka akan muncul sebuah hasil coping stress (coping outcomes).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Coping Stress
Kemampuan individu untuk melakukan coping stress berbeda-beda dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor dari stressornya yaitu, kompleksitas, intensitas, dan lamanya peristiwa itu terjadi. Lazarus dan
Folkman (1984, dalam Huffman, Vernoy dan Vernoy, 2000) mengemukakan adanya beberapa sumber daya coping yang dimiliki oleh
individu berdasarkan pengaruh penggunaan coping stress, yaitu : a) Kesehatan
Semua jenis stres dapat menyebabkan perubahan fisiologis. Oleh
karena itu, kesehatan seorang individu secara signifikan dapat mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan coping stress.
Semakin kuat dan sehat seseorang tersebut, maka akan semakin baik pula kemampuannya dalam melakukan coping stress. Seorang ahli,
yaitu Hans Selye (dalam Davidson dkk, 2006), mengulas bahwa respon biologis untuk bertahan dan mengatasi stres fisik yang dikenal sebagai general adaptation syndrom (GAS), digambarkan sebagai
berikut :
a. Fase pertama (alarm reaction)
adrenalin membesar, dan thimus menjadi lemah. Perubahan-perubahan ini digambarkan sebagai “fight or flight” (melawan
atau melarikan diri). b. Fase kedua (resistance)
Fase ini yaitu organisme beradaptasi dengan stres melalui berbagai mekanisme coping yang dimiliki. Tubuh akan berusaha menolak atau mengatasi stresor yang tidak dapat dihindari.
Respon fisiologis yang terjadi pada fase alarm terus berlangsung, sehingga tubuh rentan terhadap stresor-stesor lain.
c. Fase ketiga (exhaustion)
Fase ini terjadi ketika stresor menetap atau organisme tidak mampu merespon secara efektif. Menurut Selye (1950), Tahap
ini merupakan fase kelelahan yang amat sangat dan bisa jadi organisme tersebut mati atau menderita kerusakan yang tidak
dapat diperbaiki.
Dalam hal ini, Taruna Putri dihadapkan pada kegiatan yang padat
dan rutin setiap harinya. Kesehatan dan cara bertahan mereka cukup berpengaruh untuk melakukan coping stress selama menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.
b) Kepercayaan Positif
Citra diri positif dan sikap positif, merupakan sumber yang sangat
meningkatkan harga diri dan dapat mengurangi tingkat kecemasan yang disebabkan oleh kejadian yang penuh dengan stres (Greenberg et
al., 1989 dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000).
Kepercayaan positif seperti halnya harapan, juga dapat
mempengaruhi individu dalam menggunakan coping stress untuk menghadapi situasi yang berat. Misalnya, individu yang menghadapai rintangan yang nampaknya tidak mungkin dapat dilakukannya,
ternyata bisa dilakukan. Menurut Lazarus dan Folkman, harapan itu dapat berasal dari kepercayaan diri sendiri, yang dapat memungkinkan
individu untuk merancang strategi coping stress bagi dirinya. Selain itu, kepercayaan individu tersebut pada orang lain yang memberi sugesti positif, juga dapat mempengaruhi keyakinan yang positif.
Contohnya, dokter yang memberikan sugesti positif pada pasiennya, bahwa individu tersebut akan sembuh, maka pasien tersebut memiliki
keyakinan positif dapat sembuh, dan akhirnya benar-benar sembuh. Kepercayaan positif ini penting dimiliki oleh Taruna Putri. Jika
seorang Taruna Putri ini memiliki kepercayaan yang positif, maka dalam merancang strategi coping untuk mengatasi stressnya, dapat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu, Taruna putri tidak akan
c) Locus of Control Internal
Perbedaan individu yang memiliki locus of control external dengan
individu yang memiliki locus of control internal, tampak pada contoh kasus seseorang yang sedang menderita penyakit serius. Ketika
individu tersebut memiliki locus of control external, maka individu tersebut hanya terfokus pada penyakitnya. Individu merasa tidak berdaya untuk mengubah keadaannya. Sedangkan individu yang
memiliki locus of control internal, akan mencoba untuk mengumpulkan informasi tentang penyakitnya, dan tetap mengikuti
program kesehatan yang sedang dijalankannya. Menurut Cohen dan Edwards (1989, dalam Huffman, Vernoy, dan Vernoy, 2000), menjelakan bahwa locus of control internal adalah salah satu cara
sebagai penyangga stres dalam keadaan dan kendala apapun. Oleh karena itu, individu yang memiliki locus of control internal tinggi,
akan lebih mudah memilih cara copingnya untuk menghadapi situasi stres.
Menurut sebuah penelitian oleh Strickland (1978, dalam Huffman,Vernoy, dan Vernoy, 2000) menunjukkan bahwa individu yang memiliki locus of control internal akan lebih berhasil melakukan
coping, daripada individu yang tidak mempunyai kontrol tersebut. Hal ini didukung pula dari penelitian di China dan Belgia, yang
memiliki locus of control internal lebih tinggi, akan kurang mengalami stres psikologis dibandingkan dengan mereka yang memiliki locus of
control external lebih tinggi.
Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan locus of control sebagai
tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Locus of control internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang
terjadi pada diri mereka. Sedangkan, untuk locus of control extrenal adalah individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri
mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan. Kemudian menurut Kreitner dan Kinichi (2005) mengatakan hasil yang dicapai locus of control internal dianggap
berasal dari aktivitas dirinya, sedangkan locus of control external menganggap bahwa keberhasilan individu yang dapat dicapai
merupakan kontrol dari keadaan sekitarnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan locus of
control internal yaitu, individu yang memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu merupakan kendali dari dirinya sendiri dan hal itu sebagai salah satu cara penyangga stres dalam keadaan maupun kendala
apapun, serta lebih berhasil untuk melakukan coping. Sedangkan, locus of control external yaitu, individu yang yakin kendali dirinya
d) Keterampilan Sosial
Individu yang memiliki keterampilan sosial dengan baik, memiliki
tingkat kecemasan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan individu yang memiliki keterampilan sosial kurang baik. Keterampilan
sosial yang seharusnya dimiliki oleh individu, kurang lebih seperti hal-hal berikut; melakukan tindakan yang tepat pada situasi tertentu, memulai percakapan, dan berekspresi dengan baik.
Keterampilan sosial yang efektif, tidak hanya akan membantu individu untuk berinteraksi dengan orang lain, namun juga membantu
mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan individu. Selain itu, dapat juga membantu individu ketika membutuhkan dan menurunkan permusuhan dalam situasi yang penuh dengan ketegangan. Hal ini
dapat membantu individu dalam mengatasi coping stressnya. Ketika individu tersebut butuh beradaptasi memahami lingkungan, caranya
bisa saja dengan mengamati individu lain, meminta saran dari individu yang telah mumpuni dalam keterampilan sosialnya, dan terus-menerus
berlatih agar semakin terasah keterampilan sosialnya.
Ketrampilan sosial yang mungkin dimiliki oleh Taruna Putri adalah sosialisasi yang baik dengan rekan-rekannya, pengasuh, pelatih, dan
e) Dukungan Sosial
Winnubst, Buunk, dan Marcelissen (1988, dalam Huffman, Vernoy,
dan Vernoy, 2000) mengemukakan bahwa dukungan sosial dapat menahan pengaruh keadaan stres dari perceraian, kehilangan orang
yang dicintai, penyakit kronis, kehamilan, kehilangan pekerjaan, dan tuntutan kerja yang berlebihan. Dukungan sosial juga dapat berupa saran maupun perhatian dari teman, keluarga, dan dukungan
kelompok.
Dukungan sosial erat kaitannya dengan individu dalam mengatasi
coping stress. Perlu adanya dukungan sosial dari orang-orang terdekat untuk memberi kekuatan pada individu ketika sedang menghadapi stres. Pada dasarnya manusia memang makhluk sosial. Sehingga
dukungan dari orang sekitar sangat penting bagi individu tersebut. Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial merupakan cara untuk
menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan untuk orang lain. Individu yang menerima dukungan sosial akan merasa dirinya
dicintai, dihargai, berharga, dan merupakan bagian dari lingkungan sosialnya.
Dukungan sosial yang mungkin didapat oleh Taruna Putri adalah
dari keluarga, saudara, teman, pemimpin, pelatih, dan pengasuh. Hal tersebut cukup mendukung mereka, agar cepat beradaptasi dengan
C. Taruna Putri
1. Definisi Taruna Putri
Menurut KBBI edisi keempat, 2011, Taruna yaitu Pemudi. Taruna atau biasa disebut Taruna Putri merupakan pelajar (Siswa) sekolah calon
perwira (Kadet). Dalam hal ini individu yang berjenis kelamin perempuan. Perempuan yang menjalani pendidikan sebagai Taruna Putri di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.
2. Syarat Pendaftaran Taruna Putri
a) Warga Negara RI (Bukan anggota/mantan prajurit TNI/Polri dan
PNS).
b) Berusia sekurang-kurangnya 17 tahun 9 bulan dan setinggi-tingginya 22 tahun pada saat pembukaan Dikma.
c) Sehat jasmani dan rohani, tidak sedang kehilangan hak untuk menjadi prajurit.
d) Berijazah SMA/MA jurusan IPA dengan ketentuan nilai UAN sebagai berikut :
- Lulusan tahun 2013 nilai akhir rata-rata IPA minimal 6,87. - Lulusan tahun 2014 nilai akhir rata-rata IPA minimal 6,25. - Lulusan tahun 2015 ditentukan setelah hasil UAN selesai.
e) Berijazah SMK tahun 2015 jurusan :
- Teknik penerbangan. - Teknik mesin.
f) Tinggi badan calon sekurang-kurangnya 160 cm dengan berat seimbang.
g) Belum pernah kawin dan sanggup tidak kawin selama Dikma. h) Harus ada persetujuan/ijin dari orang tua/wali.
i) Bersedia menjalani ikatan dinas pertama (IDP) 10 tahun terhitung saat dilantik menjadi letnan dua.
j) Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah Negara kesatuan RI (Katalog
AAU, 2014).
Dalam syarat pendaftaran Taruna Putri diatas, batasan usia masuk
kedalam masa remaja akhir. Menurut Monks, Knoers, & Haditono (2002), batasan usia masa remaja akhir, yaitu 18-21 tahun. Remaja ada dalam status interim sebagai akibat daripada posisi yang sebagian diberikan oleh
orang tua dan sebagian diperoleh melalui usaha sendiri yang selanjutnya memberikan prestise tertentu pada remaja. Pada syarat juga nampak
dijelaskan bahwa perlu adanya persetujuan atau ijin dari orang tua/wali. Hal ini menunjukkan bahwa Taruna Putri tersebut berada dalam masa
remaja akhir yang masih menjadi tanggung jawab dari orang tua, walaupun mereka dapat mengambil keputusannya sendiri. Namun, dalam batas usia tersebut, seseorang juga mendapatkan hak-haknya sebagai
warga Negara. Dengan begitu individu dapat melakukan kewajiban-kewajiban tertentu tidak tergantung pada orang tuanya seperti halnya
3. Kegiatan atau Aktivitas Taruna Putri
Setiap hari Taruna Putri diwajibkan untuk bangun pada pukul 04.00
WIB dan istirahat malam pada pukul 22.00 WIB. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Taruna Putri yang sedang mendapatkan tugas dinas.
Sebelum melakukan segala aktivitasnya, Taruna Putri diberi waktu untuk ibadah. Setelah itu, kegiatan pagi yang dilaksanakan adalah latihan drum band, olahraga, lari maupun aerobic. Kemudian kegiatan pembersihan
dilanjutkan dengan makan pagi dan apel pagi. Selesai apel pagi, Taruna Putri melaksanakan ground school (kuliah) di Viratama sampai siang hari
(Katalog AAU, 2008).
Pada siang hari jeda kuliah, Taruna Putri diberi waktu untuk melakukan ibadah siang dan makan siang. Setelah itu, kembali ke
Viratama untuk melaksanakan kuliah lanjutan. Selesai ground school, Taruna Putri diberikan waktu untuk mandi sore dan melaksanakan
kegiatan sore sesuai jadwal perharinya. Malam hari, Taruna Putri diberikan waktu untuk belajar malam dan sebelum semua kegiatan off,
mereka diwajibkan untuk melaksanakan apel malam. Kegiatan ini dimulai dari hari senin sampai jumat. Pada hari sabtu dan minggu, Taruna Putri diberikan kesempatan untuk melakukan pesiar sesuai dengan waktu yang
D. Akademi Angkatan Udara
Sesuai dengan surat ketetapan KSAU No. 57/45/Pen/KS/52 sejak tanggal
1 april 1954, tersenggaralah susunan dan penyatuan sekolah atau pendidikan AURI. Sekolah itu adalah sekolah penerbang yang berada dalam kesatuan
pendidikan 001 di Pangkalan Angkatan udara Kalijati. Kemudian pada tahun 1958, sekolah penerbang Lanud Kalijati pindah ke Lanud Adi sucipto. Hal tersebut dilakukan karena adanya penyempurnaan organisasi dalam tubuh
AURI, sehingga komando pendidikanpun mengalai perubahan (Katalog AAU, 2005).
Selama dalam masa pendidikan ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh Taruna Putri. Tahapan-tahapan itu sebagai berikut (dalam katalog AAU, 2005) :
a) Semester I (Tahap Integratif Pertama) :
- Latihan dasar kemiliteran “Chandradimuka” Selama 17
minggu di Akmil, Magelang.
- Pekan orientasi dan matrikulasi, selama 3 minggu di AAU,
Yogyakarta. Taruna Putri masih berpangkat prajurit Taruna. b) Semester II (Taruna Putri telah berpangkat Kopral Taruna)
Para Taruna dibagi kedalam 3 jurusan, yaitu : Jurusan Aeronautika,
Elektronika, dan Administrasi.
c) Semester III-IV (Taruna Putri berpangkat Sersan Taruna)
jam pelajaran tatap muka dan terstruktur, 6 jam ekstrakulikuler (sore hari), dan 16 jam mandiri (malam hari).
d) Semester V-VI (Taruna Putri berpangkat Sersan Mayor Taruna) Menempuh pendidikan sesuai dengan jurusannya selama 180 hari
dengan beban study sebanyak 232 SKS. Dimana setiap minggunya relatif sama dengan di tingkat III.
e) Semester VII (Telah diwisuda dan berpangkat Letnan Dua)
Menempuh pendidikan lanjutan profesi sesuai dengan jurusannya masing-masing di AAU. Dimana prosesnya dilakukan selama 154
hari (22 minggu) dengan beban study bidang profesi sebanyak 20 SKS. Oleh karena itu, pendidikan pada semester VII ini dinamakan dengan pendidikan Akademi lanjutan dan masih dilaksanakan di
Akademi TNI-AU. Menjelang akhir dari pendidikan Akademi lanjutan, para Perwira Siswa tersebut diseleksi di Lembaga Kesehatan
Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) “Saryanto” di Jakarta, untuk menentukan siapa saja yang kemudian setelah lulus Akademi
E. Bentuk Coping Stress pada Taruna Putri yang Sedang Menempuh Pendidikan Militer di Akademi Angkatan Udara
Berdasarkan uraian beberapa teori di atas, maka diperoleh suatu konsep mengenai penelitian ini. Taruna Putri yang sedang menempuh pendidikan
Militer di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta. Segala aktivitas setiap harinya mulai dari bangun pagi hingga akan istirahat malam yang telah diatur, menjadi sebuah kewajiban bagi Taruna Putri. Aktivitas yang dialami oleh
Taruna Putri setiap harinya di Akademi Angkatan Udara selama menempuh pendidikan militernya, akan menjadi pengalaman mereka sebagai proses dari
coping stress. Proses coping stress diawali dengan penilaian kognitif terhadap stressor, yang dilanjutkan dengan perilaku individu dalam menghadapi sebuah permasalahan. Pengalaman Taruna Putri sebagai pelajar dan calon perwira
tersebut, akan berbeda dengan wanita pada umumnya.
Proses pengambilan keputusan awal Taruna Putri yang memilih masuk ke
dalam Akademi Angkatan Udara pada masa usia remaja akhir, menjadi keputusan penting bagi mereka. Pada masa tersebut, Taruna Putri sudah
dibebaskan memilih untuk masa depan dirinya, tetapi tetap dengan adanya ijin dari orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja dalam status interim. Oleh sebab itu, ketika Taruna Putri melaksanakan pendidikan di Akademi
Angkatan Udara, akan mengalami berbagai pengalaman yang mungkin dari pengalaman tersebut merupakan stressornya. Dari pengalaman tersebut, yang