Peneliti telah menemukan pola dari keseluruhan informan yang memilih menjadi Taruna Putri. Keseluruhan informan memilih masuk pendidikan militer atas dasar passion mereka. Sejak awal mereka memang sudah tertarik memasuki dunia pendidikan militer yang sudah ada ikatan dinas. Ketertarikan mereka dengan dunia militer inilah yang menyebabkan mereka mampu cepat beradaptasi dengan segala kedisiplinan yang diterapkan oleh pihak AAU. Sehingga informan Taruna Putri tersebut dapat menorehkan beberapa prestasi yang dapat melebihi dari Tarunanya. Hal ini juga membuktikan bahwa Taruna Putri yang notabene perempuan,
merupakan orang-orang yang tangguh dan kemampuannya dapat diandalkan.
Gejala stres yang muncul pada informan A, seperti jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, pelupa, sulit tidur atau tidur mudah terbangun sehingga bangun merasa tidak segar, dan asma tanpa sebab yang jelas, mulai dirasakan oleh informan semenjak menjadi senior. Hal tersebut dirasakan karena informan mulai memiliki tanggung jawab yang lebih pada juniornya. Informan merupakan angkatan pertama Taruna Putri di AAU, sehingga merasa harus menjadi senior yang bisa memberikan turunan yang baik kepada juniornya. Tidak jauh berbeda dengan informan A, informan B juga merasakan gejala stres pada dirinya. Namun, informan B hanya merasa kurang memiliki waktu menjalankan hobi atau kebiasaan. Hal tersebut juga dirasakan oleh informan C. Selain merasa kurang memiliki waktu untuk menjalankan hobi atau kebiasaan, informan C juga merasakan nyeri pada punggung dan leher tanpa sebab yang jelas, kemudian informan C merasa jika dirinya mudah masuk angin biasa dan flu. Dari ketiga informan tersebut, berbeda dengan yang dirasakan oleh informan D. Informan D yang merupakan junior dari ketiga informan A, B, dan C, belum merasakan gejala stres.
Peneliti telah menemukan pola penyebab stres yang dialami oleh keseluruhan informan, yaitu penyebab stres yang tergolong dalam macam stres microstressor. Hal ini dikarenakan penyebab stres yang dialami oleh informan merupakan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-
hari dan gangguan kecil yang ada dalam keseharian informan. Macam stres tersebut, sesuai dengan teori menurut Resick (2005) yang ada di dalam Passer dan Smith (2007).
Pada dasarnya, dalam menjalankan pendidikan militer di AAU, para informan mengalami masa penyesuaian diri yang terkadang tanpa disadari muncul gejala-gejala stres. Namun, stres yang dirasakan oleh para informan tersebut, merupakan jenis stres yang positif, yaitu eustress. Dalam hal ini stres yang dialami oleh informan, stres yang dapat membangun mereka dan dapat memberi motivasi serta semangat agar lebih bisa menjalankan pendidikan militer di AAU dengan baik. Jenis stres dan pengertiannya tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Huffman, Vernoy dan Vernoy (2000).
Strategi jenis coping yang digunakan oleh informan, yaitu problem
focused coping dan emotion focused coping juga merupakan kesesuaian
dari teori Carver, Scheier, dan Weintraub (1989). Coping stress memberikan dampak yang baik secara psikologis, sosial, dan fisiologis bagi informan. Hasil dari penggunaan coping stress yang kecenderungan dipilih oleh informan berfungsi untuk memampukan informan dalam menjalankan kehidupannya sebagai Taruna Putri di AAU. Seperti informan A dan D yang cenderung balance dalam menggunakan strategi
coping yang digunakan saat menghadapi masalah selama menempuh
pendidikan militer di AAU. Hal tersebut nampak berbeda dengan informan B yang cenderung menggunakan emotion focused coping, sedangkan
informan C cenderung menggunakan problem focused coping dalam menanggapi masalah selama menempuh pendidikan militer di AAU.
Proses coping stress yang dilakukan oleh keseluruhan informan, melalui beberapa tahap, sesuai dengan teori dari Lazarus (dalam Bart Smet, 1994). Ketika menghadapi permasalahan, informan perlu menyadari sumber kemampuan apa yang dimilikinya. Secara keseluruhan, informan memiliki sumber kemampuan waktu, walaupun waktu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi cukup singkat, kemudian dukungan sosial yang cukup berpengaruh dan berperan besar bagi keseluruhan informan dalam menghadapi masalah, cara coping stress walaupun berbeda satu dengan yang lainnya, serta faktor kepribadian yang dapat mempengaruhi informan dalam memberikan respon coping dalam memilih strategi coping.
Faktor-faktor yang mempengaruhi coping stress yang muncul dari keseluruhan informan tampak sama. Beberapa sumber daya coping yang dimiliki oleh informan sesuai dengan teori dari Lazarus dan Folkman (1984, dalam Huffman, Vernoy dan Vernoy, 2000), muncul pada keseluruhan informan, seperti pengaruh kesehatan yang cukup baik, kepercayaan positif yang cukup tinggi, ketrampilan sosial yang cukup baik, dan dukungan sosial dari orang-orang disekitar yang cukup tinggi. Hal tersebut membuat pola narasi dari keseluruhan informan sama, yaitu narasi bernuansa progresif/optimistik.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa gejala stres yang muncul bukan menjadi masalah berarti bagi para informan, karena mereka memiliki cara kecenderungan memilih strategi coping yang sesuai dengan persepsi mereka, sehingga dapat mengolah stress menjadi hal yang baik dan dapat membangun serta memotivasi bagi dirinya.
Skema 3. Bentuk Coping Stress terhadap Narasi Progresif/Optimistik Memilih menjadi Taruna Putri
di AAU
Gejala stres yang muncul:
*Jantung sering berdebar tanpa sebab yang jelas, pelupa, sulit tidur, asma tanpa sebab yang jelas (Informan A)
*Kurang memiliki waktu menjalankan hobi atau kebiasaan (Informan B dan C)
*Nyeri pada punggung, leher (Informan C) *Mudah masuk angin biasa dan flu (Informan C)
Penyebab stres:
*Microstressor.
Jenis stres:
*Eustress.
Bentuk-bentuk coping stress:
*Kecenderungan balance menggunakan problem focused coping dan emotion focused coping (Informan A dan D)
*Kecenderungan menggunakan emotion focused coping (Informan B)
*Kecenderungan menggunakan problem focused coping (Informan C)
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
*Kesehatan fisik yang cukup baik. *Kepercayaan positif yang tinggi. *Ketrampilan sosial yang cukup baik.
*Dukungan sosial dari orang disekitar yang besar.
Merasa memiliki motivasi diri yang tinggi, mampu menyesuaikan diri dengan segala kedisiplinan yang diterapkan, tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam setiap aktivitas yang
131
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KesimpulanPengalaman yang dialami oleh Taruna Putri selama menempuh pendidikan milter di Akademi Angkatan Udara cukup beragam. Walaupun pada dasarnya, mereka melakukan segala aktivitas dan kegiatan yang sama, namun pengalaman yang dialami berbeda satu dengan yang lainnya. Seperti halnya informan A, selalu memiliki motivasi diri yang tinggi dan prinsip yang teguh. Motivasinya yang ingin menjadi seorang penerbang tempur dan ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menjadi seorang yang tangguh, tidak pernah mematahkan semangatnya dalam menghadapi setiap tantangan yang ada. Namun, kondisi tersebut membuat
informan A selalu menerapkan “fake smile” dalam keadaan apapun.
Pengalaman dari informan A berbeda dengan informan B, yang tidak
pernah “ngoyo” dalam mendapatkan sesuatu. Informan B merupakan siswa yang berprestasi, terbukti dari serangkaian prestasinya dalam bidang akademik maupun samapta. Dalam bidang akademik informan pernah mendapat kesempatan exchange visit ke Australia selama 2 minggu. Kemudian pretasinya dalam bidang menembak juga tidak perlu diragukan lagi, karena pernah mendapat 2 bintang dari 3 bintang yang ada. Namun, kemampuannya tersebut baru informan sadari setelah menjadi Tauna Putri di AAU.
Pengalaman yang dirasakan oleh informan C yang juga merupakan siswa berprestasi seperti informan B, tampak ada perbedaannya. Prestasi yang sudah informan torehkan dari bidang akademik dan samapta. Informan C dalam bidang akademik pernah memperoleh peringkat kedua di kelasnya dan peringkat tiga pararel dalam majoring Teknik Manajemen Industri. Selain itu, dalam samapta di bidang olahraga informan pernah beberapa kali menjuarai perlombaan yang diadakan, sehingga informan pernah meraih pin emas trengginas. Dalam kesenian drumband, informan juga merupakan penataramanya, yaitu komandan yang mengatur jalannya
drumband agar tetap rapi dalam barisan dan mengikuti instruksi iraman
yang dimainkan.
Pengalaman yang dirasakan oleh informan D, belum cukup beragam seperti informan A, B, dan C. Hal ini dikarenakan, informan D merupakan junior dari ketiga informan tersebut. Namun, informan D juga merupakan siswa yang berprestasi. Hal ini terbukti dari bidang samapta, informan D pernah meraih pin perunggu trengginas. Informan D juga memiliki bakat menembak seperti informan B. Sama dengan kakak tingkatnya, informan D baru menyadari bakatnya tersebut setelah menjadi Taruna Putri di AAU. Stres selama menjalani pendidikan militer di AAU pernah dialami oleh Taruna Putri. Namun, cara mengatasi stres atau sering disebut dengan
coping yang dimiliki oleh Taruna Putri cukup baik. Sehingga mereka
masih mampu mengatasi stres yang dialaminya. Bentuk coping stress yang digunakan informan A dan D cenderung balance, yaitu menggunakan
problem focused coping dan emotion focused coping. Sedangkan informan
B cenderung menggunakan bentuk coping stres, emotion focused coping dan informan C cenderung menggunakan bentuk coping stress, problem
focused coping. Dalam hal ini, Taruna Putri memiliki kecenderungan
dalam bentuk coping stress yang berbeda merupakan hal yang wajar karena tergantung dari persepsi masing-masing saat menghadapi persoalan yang dihadapinya.
Faktor-faktor coping stress yang tampak pada Informan A selama menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara yaitu, kesehatannya yang baik, kepercayaan positif dirinya yang tinggi, ketrampilan sosial yang cukup baik, dan dukungan sosial dari orang disekitarnya yang besar. Sedangkan pada informan B yaitu, kesehatannya yang baik, kepercayaan positif dirinya yang cukup baik, ketrampilan sosial yang baik, dan dukungan sosial dari orang disekitanya yang sangat besar. Kemudian pada Informan C yaitu, kesehatannya yang cukup baik, kepercayaan positif yang tinggi, ketrampilan sosial yang baik, dan dukungan sosial dari orang disekitar yang sangat besar. Terakhir bagi informan D yaitu, kesehatannya yang sangat baik, kepercayaan positif yang tinggi, ketrampilan sosial yang cukup baik, dan dukungan sosial dari orang disekitar yang besar.
Secara keseluruhan jenis stres yang tampak dari informan Taruna Putri, terdapat pola yang sama. Jenis stres yang dialami oleh informan adalah eustress. Eustress merupakan jenis stres yang positif. Dalam hal ini stres yang dialami oleh informan, merupakan stres yang dapat
membangun, menambah semangat, dan memberi motivasi bagi mereka dalam menjalankan pendidikan militer di Akademi Angkatan Udara. Gejala stres yang muncul dari informan A yaitu, jantung sering berdebar tanpa sebab yang jelas, pelupa, sulit tidur, dan asma tanpa sebab yang jelas. Sedangkan gejala stres yang muncul pada informan B yaitu, kurang memiliki waktu menjalankan hobi atau kebiasaan. Hal tersebut dirasakan pula oleh informan C. Selain itu, gejala stres lain yang dirasakan oleh informan C yaitu, nyeri pada punggung, leher dan mudah masuk angin biasa (flu). Namun, gejala stres belum nampak pada informan D, selama berada di Akademi Angkatan Udara.