• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi komparasi kompetensi guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan NonFKIP di SMA Kota Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi komparasi kompetensi guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan NonFKIP di SMA Kota Yogyakarta."

Copied!
230
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA LULUSAN FKIP DAN NONFKIP DI SMA

KOTA YOGYAKARTA

Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan studi komparasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Populasi penelitian adalah seluruh Guru Ekonomi SMA di Kota Yogyakarta. Jumlah responden sebanyak 130 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling untuk menentukan tempat penelitian dan simple random sampling untuk menentukan jumlah sampel penelitian, serta proportional sampling untuk menentukan jumlah responden di masing-masing kelas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif serta analisis uji Independent Sample T-tes untuk data berdistribusi normal dan Uji Mann Whitney (Z test) untuk data yang tidak berdistribusi normal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 2) ada perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 3) ada perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; dan 4) ada perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

(2)

ABSTRACT

A COMPARATIVE STUDY OF HIGH SCHOOL ECONOMIC TEACHER COMPETENCE

GRADUATED FROM FKIP AND NONFKIP IN HIGH SCHOOLS YOGYAKARTA

Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma

2016

This research aims to examine and analyze the differences of High School economics teacher competence graduated from FKIP and non-FKIP in high schools. This type of research is a comparative study. The research was conducted from May to June 2016. Population in this research were all Economic teachers of High Schools in Yogyakarta. The total numbers of respondents were 130 students. The sampling technique was purposive sampling for determining the place where research and simple random sampling for determining the number of samples and proportional sampling for determining the number of respondents. Data analysis was applying descriptive analysis and test analysis of Independent Sample T-test for normal distribution of data and Mann Whitney test is for non-normal distribution of data.

The results show that: 1) there is a significant difference in pedagogic competence of graduate High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 2) there is a significant difference in professional competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 3) there is a significant difference in personality competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 4) there is a significant difference in social competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta.

(3)

STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA

LULUSAN FKIP DAN LULUSAN NONFKIP DI SMA

KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi

Oleh :

Cipluk Wido Rini 121324029

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIDKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

Tuhanku Yesus Kristus

Bapak (Alm.) Sutiyo Sri Raharjo dan Mamak Kasirah

Kakakku Karyo Widadi, Sri Ngati-ati dan Ayub Widodo

Keponakanku Firdaus Raka Saputra

Seluruh Keluarga Besarku

Kekasihku Adit Kurnia Setyawan

Sahabatku Anis, Deti, Charla, Vivi, Meli, Ida, Juli, Ega, Suci

Sahabat-sahabatku Brodol Family

Sahabat-sahabat Pendidikan Ekonomi 2012

(7)

MOTTO

“Iman, Pengharapan, dan Kasih”

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,

dan bertekunlah dalam doa”

(Roma 12: 12)

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia

tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan

yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri. Ia

tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia

tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita

karena kebenaran”

(1 Korintus 13: 4-6)

“Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk

mengurusi kesalahan orang lain”

(8)
(9)
(10)

ABSTRAK

STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA LULUSAN FKIP DAN NONFKIP DI SMA

KOTA YOGYAKARTA

Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan studi komparasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Populasi penelitian adalah seluruh Guru Ekonomi SMA di Kota Yogyakarta. Jumlah responden sebanyak 130 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivesampling untuk menentukan tempat penelitian dan simple random sampling untuk menentukan jumlah sampel penelitian, serta proportional sampling untuk menentukan jumlah responden di masing-masing kelas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif serta analisis uji Independent Sample T-tes untuk data berdistribusi normal dan Uji

Mann Whitney (Z test) untuk data yang tidak berdistribusi normal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 2) ada perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 3) ada perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; dan 4) ada perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

(11)

ABSTRACT

A COMPARATIVE STUDY OF HIGH SCHOOL ECONOMIC TEACHER COMPETENCE

GRADUATED FROM FKIP AND NONFKIP IN HIGH SCHOOLS YOGYAKARTA

Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma

2016

This research aims to examine and analyze the differences of High School economics teacher competence graduated from FKIP and non-FKIP in high schools. This type of research is a comparative study. The research was conducted from May to June 2016. Population in this research were all Economic teachers of High Schools in Yogyakarta. The total numbers of respondents were 130 students. The sampling technique was purposive sampling for determining the place where research and simple random sampling for determining the number of samples and proportional sampling for determining the number of respondents. Data analysis was applying descriptive analysis and test analysis of Independent Sample T-test for normal distribution of data and Mann Whitney test is for non-normal distribution of data.

The results show that: 1) there is a significant difference in pedagogic competence of graduate High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 2) there is a significant difference in professional competence of High School economic teacher graduated from

FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 3) there is

a significant difference in personality competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 4) there is a significant difference in social competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta.

(12)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas pertolongan dan

penyertaan-Nya kepada penulis dalam persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian

skripsi ini yang berjudul “Studi Komparasi Kompetensi Guru Ekonomi SMA

Lulusan FKIP dan Lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta” .

Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK

Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak

terlepas dari bimbingan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan serta Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Sosial Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M. Ed. selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Ekonomi.

4. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

(13)

5. Bapak Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing yang telah

banyak meluangkan waktu dan memberikan bimbingan untuk ketercapaian

skripsi ini.

6. Segenap Bapak/Ibu dosen yang telah banyak memberikan pengetahuan,

nasihat serta motivasi selama proses perkuliahan.

7. Ibu Christina Kristiani selaku tenaga administrasi Pendidikan Ekonomi yang

selalu membantu dan memberikan informasi akademik selama proses

perkuliahan.

8. Bapak Kepala Sekolah, Waka Humas, dan Guru Ekonomi SMA Negeri 2 dan

SMA Negeri 7 Yogyakarta yang telah memberikan izin dan bantuan kepada

penulis untuk melakukan penelitian.

9. Siswa-siswi kelas X MIIA 1 dan X IIS 1 SMA Negeri 2 Yogyakarta serta X-3,

X-4, X-5, X-6 SMA Negeri 7 Yogyakarta yang telah bersedia membantu

penulis dalam mengumpulkan data penelitian.

10.Bapak Sutiyo Sri Raharjo dan Ibu Kasirah terkasih, yang telah memberikan

banyak nasihat, semangat, motivasi serta doa kepada penulis selama proses

perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.

11.Kakak-kakakku Karyo Widadi dan Ayub Widodo, kakak iparku Sri Ngati-ati,

keponakanku Firdaus Raka Saputra serta seluruh keluarga besarku yang telah

memberikan motivasi dan doa selama perkuliahan.

12.Adit Kurnia Setyawan terkasih yang telah banyak memberikan nasihat, kritik,

saran, kasih sayang, menemani, dan mendengarkan keluh kesah penulis dari

(14)

13.Sahabat-sahabat brodol family, Vidia Natalia, Anggi Budi Faderika, Erlina, Fransisca Cristi, Adit Kurnia, Gardika Edi, Daniel Setyawan, Agustinus

Nindya yang selalu menemani, memberikan nasihat, canda tawa, motivasi dan

selalu memberikan kasih sayang kepada penulis.

14.Sahabat selama perkuliahan Nina Cahyani, Albertus Bima, Hesti Ratna,

Fransiskus Sogen, Yosep Henri dan seluruh teman-teman Pendidikan

Ekonomi Angkatan 2012.

15.Annisaatul Qudwah, Ida Rohyani, Charla Serlita, dan Dheti Ayu Indaryani

yang telah menjadi sahabat sekaligus saudara untuk berkeluh kesah dan selalu

memberikan semangat dan motivasi selama penyelesaian skripsi ini.

16.Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada saya

selama menempuh perkuliahan dari awal hingga penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam

skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi

kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana

mestinya.

Yogyakarta, 12 Agustus 2016

Penulis

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan Masalah ... 7

E. Manfaat Penelitian ... 7

(16)

1. Kompetensi Guru ... 9

2. Karakteristik Tanggung Jawab dan Kompetensi Guru .... 36

B. Kerangka Berpikir ... 38

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 45

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 45

C. Sumber Data ... 46

1. Data Primer ... 46

2. Data Sekunder ... 46

D. Subjek dan Objek Penelitian ... 46

1. Subjek Penelitian ... 46

2. Objek Penelitian ... 46

E. Populasi,Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel... 47

1. Populasi ... 47

2. Sampel ... 47

3. Teknik Pengambilan Sampel... 49

F. Operasionalisasi Variabel ... 50

1. Variabel Kompetensi Guru ... 50

2. Variabel Kompetensi Pedagogik ... 50

3. Variabel Kompetensi Profesional ... 52

4. Variabel Kompetensi Kepribadian ... 53

5. Variabel Kompetensi Sosial ... 54

(17)

7. Variabel Kompetensi Guru Ekonomi Non FKIP ... 55

G. Teknik Pengumpulan Data ... 56

1. Kuesioner ... 56

H. Pengujian Instrumen Penelitian ... 56

1. Uji Validitas ... 56

2. Uji Reliabilitas ... 61

I. Teknik Analisis Data ... 65

1. Analisis Deskritif ... 65

2. Uji Prasyarat ... 66

3. Pengujian Hipotesis ... 67

BAB IV GAMBARAN UMUM A. SMA N 2 Yogyakarta ... 68

1. Sejarah Berdirinya SMA N 2 Yogyakarta ... 68

2. Tujuan SMA N 2 Yogyakarta ... 72

3. Sistem Pendidikan SMA N 2 Yogyakarta ... 75

4. Kurikulum SMA N 2 Yogyakarta ... 75

5. Organisasi SMA N 2 Yogyakarta ... 83

6. Sumber Daya Manusia SMA N 2 Yogyakarta ... 84

7. Siswa Satuan Pendidikan SMA N 2 Yogyakarta ... 84

8. Kondisi Fisik dan Lingkungan SMA N 2 Yogyakarta ... 86

B. SMA N 7 Yogyakarta ... 86

1. Sejarah SMA N 7 Yogyakarta... 86

(18)

3. Visi dan Misi Satuan Pendidikan ... 89

4. Tujuan SMA N 7 Yogyakarta ... 90

5. Sistem Pendidikan SMA N 7 Yogyakarta ... 91

6. Kurikulum SMA N 7 Yogyakarta ... 91

7. Organisasi Sekolah SMA N 7 Yogyakarta ... 91

8. Sumber Daya Manusia SMA N 7 Yogyakarta ... 92

9. Kondisi Fisik dan Lingkungan SMA N 7 Yogyakarta ... 92

10. Komite Sekolah SMA N 7 Yogyakarta ... 94

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 95

1. Kompetensi Pedagogik... 97

2. Kompetensi Profesional ... 99

3. Kompetensi Kepribadian ... 101

4. Kompetensi Sosial ... 103

B. Pengujian Prasyarat Analisis Data... 105

1. Uji Normalitas Data ... 105

C. Analisis Data ... 106

1. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Pedagogik... 106

2. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Profesional . 107 3. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Kepribadian 110 4. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Sosial ... 112

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 114

(19)

FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 114

2. Perbedaan Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 116

3. Perbedaan Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 119

4. Perbedaan Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 121

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 124

B. Keterbatasan ... 125

C. Saran ... 125

Daftar Pustaka ... 128

(20)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : Jumlah Peserta Didik ……… 48

Tabel 3.2 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Pedagogik…………. 50

Tabel 3.3 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Profesional…... 52

Tabel 3.4 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Kepribadian……….. 53

Tabel 3.5 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Sosial………... 54

Tabel 3.6 : Skor Pernyataan Kompetensi Guru……….. 56

Tabel 3.7 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Pedagogik……….. 58

Tabel 3.8 : Hasil Pengujian Ulang Validitas Kompetensi Pedagogik……… 59

Tabel 3.9 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Profesional………. 60

Tabel 3.10 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Kepribadian……… 60

Tabel 3.11 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Sosial……….. 61

Tabel 3.12 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Pedagogik… 63

Tabel 3.13 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Profesional… 63

Tabel 3.14 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Kepribadian.. 64

Tabel 3.15 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Sosial……... 64

Tabel 3.16 : Kriteria Kompetensi Guru Berdasarkan PAP II……… 66

Tabel 5.1 : Responden Penelitian………. 96

Tabel 5.2 : Deskripsi Data Kompetensi Guru Lulusan FKIP……….. 96

Tabel 5.3 : Deskripsi Data Kompetensi Guru Lulusan Non FKIP…………. 97

Tabel 5.4 : Kriteria Kompetensi Pedagogik Guru Ekonomi Lulusan FKIP… 97

(21)

Non FKIP……….. 98

Tabel 5.6 : Kriteria Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan FKIP.. 99

Tabel 5.7 : Kriteria Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan

Non FKIP……… 100

Tabel 5.8 : Kriteria Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan FKIP.. 101

Tabel 5.9 : Kriteria Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan

Non FKIP……… 102

Tabel 5.10 : Kriteria Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan FKIP……… 103

Tabel 5.11 : Kriteria Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan

Non FKIP……… 104

Tabel 5.12 : Hasil Uji Normalitas………... 105

Tabel 5.13 : Hasil Uji Independent Sample T-testKompetensi Pedagogik…… 106 Tabel 5.14 : Hasil Uji Independent Sample T-testKompetensi Profesional…. 109 Tabel 5.15 : Hasil Uji Mann Whitney Kompetensi Kepribadian……….. 111

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kuesioner Penelitian………... 131

Lampiran II : Uji Validitas & Reliabilitas………. 140

Lampiran III : Data Induk Penelitian………. 147

Lampiran IV : Uji Normalitas Data……… 164

Lampiran V : Distribusi Frekuensi & PAP II……… 166

Lampiran VI : Pengujian Hipotesis Penelitian……… 182

Lampiran VII : Tabel Statistika……… 187

Lampiran VIII : Surat Ijin Penelitian………. 190

(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dunia yang semakin meningkat menuntut pendidikan

lebih berkembang karena pendidikan merupakan salah satu faktor penting

dalam menentukan keberhasilan pembangunan sebuah negara. Oleh karena

itu, pendidikan harus dapat terencana dan terlaksana dengan baik agar dapat

menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang

terencana dan terlaksana dengan baik tidak akan dapat tercapai apabila tidak

ada peran dari guru-guru ataupun tenaga pendidik yang profesional dan

berkualitas pula. Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Pasal 1, guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, dasar,

dan menengah (Musfah, 2011: 3).

Profesionalitas menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru

dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pendidik.

Seorang guru akan dapat dikatakan profesional apabila memiliki seperangkat

kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang baik dan dapat diandalkan

serta dipertanggungjawabkan dalam proses pembelajaran. Seperangkat

kemampuan, pengetahuan dan keterampilan inilah yang disebut kompetensi.

(24)

profesionalitas. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,

keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan

bertindak (Mulyasa, 2006:37). Kompetensi guru profesional meliputi

kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi

personal/kepribadian, dan kompetensi sosial.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkaitan dengan

pemahaman guru terhadap karakteristik fisik maupun non fisik peserta didik,

serta kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, mulai dari

perancangan, pelaksanaan, dan mengevaluasi proses pembelajaran peserta

didik. Oleh karena itu seorang calon guru (pendidik) harus memiliki latar

belakang pendidikan keguruan yang relevan dengan bidang keilmuannya

(Janawi, 2012:47).

Penguasaan bidang keilmuan yang relevan dengan latar belakang

pendidikan, menjadi sesuatu yang sangat penting agar seorang guru mampu

memberikan pengetahuan yang sesuai dengan ilmu yang dikuasainya. Hal ini

berkaitan dengan kompetensi guru yaitu kompetensi profesional yang

merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran yang

akan disampaikan kepada peserta didik. Seorang guru akan disebut

profesional, jika guru tersebut mampu menguasai keahlian dan keterampilan

baik teoritik maupun praktik dalam proses pembelajaran.

Tugas seorang guru bukan hanya mampu mengajarkan keahlian dan

keterampilan teoritik serta praktik kepada peserta didik, akan tetapi

(25)

hal sikap dan perilaku baik agar menjadi teladan bagi peserta didik. meliputi

kemampuan personalitas seorang guru. Tampilan kepribadian guru akan lebih

banyak mempengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran (Asmani, 2009: 117). Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi

kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif,

dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Selain menjadi panutan dan teladan bagi peserta didik, seorang guru

profesional harus memiliki kemampuan sosial yang ditunjukkan dalam

berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Kemampuan

berinteraksi dengan lingkungan sekitar merupakan indikator bahwa seorang

guru mampu menempatkan diri dan memiliki relasi yang baik dengan

lingkungan di sekitarnya, baik peserta didik, sesama guru/pendidik, wali

siswa, serta lingkungan masyarakat yang akan memberikan teladan baik bagi

peserta didik.

Kompetensi keguruan di atas menunjuk kualitas seorang guru dalam

dunia pendidikan. Setiap guru tentu memiliki kompetensi yang berbeda dalam

melaksanakan tugas keguruannya. Namun, banyak permasalahan pendidikan

yang muncul akibat dari guru yang tidak berkompeten yang menyebabkan

pendidikan semakin merosot dan tidak berkembang, hal ini dikarenakan belum

semua guru memiliki kompetensi dalam mempertanggungjawabkan tugasnya

sebagai tenaga pendidik. Dijelaskan dalam kompas (7 Juli 2015) bahwa mutu

guru Indonesia masih mengkhawatirkan. Dari uji kompetensi guru terhadap

(26)

nilainya dibawah 50 dari nilai tertinggi 100. Artinya, masih banyak guru

memiliki mutu dan kompetensi rendah terkait dengan dunia pendidikan.

Salah satu faktor penyebab tinggi atau rendahnya kompetensi guru

dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki. Terdapat berbagai

macam calon guru yang berasal dari lulusan sarjana dari perguruan tinggi yang

memiliki kemampuan sebagai tenaga pendidik. Guru tidak hanya berasal dari

sarjana lulusan pendidikan, akan tetapi sebagian guru berasal dari sarjana

lulusan non-pendidikan. Kenyataannya, Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya melegalkan sarjana non-kependidikan

untuk menjadi guru profesional. Kebijakan pemerintah membuka akses bagi

sarjana non-kependidikan untuk menjadi guru ini tertuang dalam

Permendikbud Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru

Prajabatan (PPG). Pada dasarnya guru lulusan sarjana kependidikan (FKIP)

belum berarti memiliki kompetensi baik, dan guru lulusan sarjana

non-kependidikan (non-FKIP) memiliki kompetensi buruk, atau sebaliknya.

Kompetensi guru ini akan tercermin melalui kegiatan pembelajaran yang

dilaksanakan.

Guru lulusan kependidikan (FKIP) dan non-kependidikan (non-FKIP)

tentu memiliki kompetensi keguruan yang berbeda mengingat bahwa

keduanya mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda pula. Secara

teori dan pengalaman, guru lulusan FKIP lebih menguasai dan mendalami

perannya sebagai tenaga pendidik sejak dalam masa perkuliahan, karena pada

(27)

profesional. Sedangkan guru lulusan non-FKIP lebih menguasai ilmu

pengetahuan murni sesuai bidang yang dikuasainya dan tidak dipersiapkan

sebagai tenaga pendidik. Namun bukan berarti bahwa guru lulusan non-FKIP

tidak memiliki kompetensi sebagai seorang guru. Guru lulusan FKIP dan

lulusan non-FKIP memiliki kesempatan dan tugas yang sama sebagai seorang

guru.

Apabila dilihat dari pemaparan mengenai kompetensi guru yang

dimiliki oleh guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP, maka kemungkinan

akan menunjukkan perbedaan antara keduanya. Alasan memilih penelitian

mengenai studi komparasi kompetensi guru lulusan FKIP dan non-FKIP

khususnya Guru Ekonomi dikarenakan perbedaan latar belakang pendidikan

guru lulusan FKIP dan non-FKIP yang berkaitan dengan perbedaan ilmu

pengetahuan, keahlian serta kerampilan yang dimiliki, namun dalam praktik

mengajar keduanya memiliki tugas dan kewajiban yang sama sebagai tenaga

pendidik. Mengingat pentingnya kompetensi bagi seorang guru, dan melihat

fenomena bahwa guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP memiliki

kesempatan yang sama sebagai seorang pendidik khususnya dalam mata

(28)

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, peneliti akan

mengkaji tentang perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP

dan non-FKIP. Penelitian ini memfokusan pada kompetensi pedagogik,

kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.

Lokasi penelitian hanya dibatasi di SMA Kota Yogyakarta. Dimana penulis

membatasi tempat untuk melakukan penelitian karena diharapkan penelitian

ini dapat lebih fokus dan memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan

penulis dan menjadi sebuah karya ilmiah yang baik.

C. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan rumusan masalah

sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?

2. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?

3. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?

4. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi

(29)

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi pedagogik Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.

2. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi profesional Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.

3. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi kepribadian Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.

4. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi sosial Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Kepala Sekolah

Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan pengetahuan

kepada kepala sekolah agar lebih memperhatikan kompetensi-kompetensi

yang dimiliki oleh guru-guru di sekolah khususnya dalam penelitian ini

adalah Guru Ekonomi untuk dapat meningkatkan kualitas peserta didik

serta mutu sekolah agar mampu menciptakan dan meluluskan peserta didik

yang berkualitas.

2. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan refleksi bagi

(30)

3. Bagi Mahasiswa

Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan masukan dan

juga wawasan bagi mahasiswa baik mahasiswa dari FKIP maupun

non-FKIP untuk lebih meningkatkan kompetensi yang dimiliki sebagai bekal

menjadi seorang pendidik di masa yang akan datang.

4. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan kepada

pembaca bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi dan

profesionalitas agar mampu menciptakan peserta didik yang berkualitas.

Tidak hanya kompetensi dan profesionalitas dalam hal mengajar, akan

tetapi kompetensi yang berkaitan dengan perilaku dan juga hubungan

sosial guru dengan lingkungan sekitar.

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini memberikan pemahaman bagi peneliti selanjutnya

mengenai kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru dan perbedaan

kompetensi antara guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP sehingga akan

menjadi acuan/referensi bagi penelitian selanjutnya untuk kemajuan

(31)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis 1. Kompetensi Guru

a. Pengertian Kompetensi

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,

keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan

berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2006:37). Kompetensi juga diartikan

sebagai suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan

seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif (Usman dalam

Kunandar, 2007:51). Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005

pasal 1 ayat 10, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,

keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai

oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keguruannya.

b. Kompetensi Guru

Menurut Mulyasa (2007: 26) kompetensi guru merupakan

perpaduan antara kemampuan personal, keilmuwan, teknologi, sosial,

dan spiritual yang secara keseluruhan membentuk kompetensi standar

profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap

peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan

(32)

perilaku, dan keterampilan yang harus dimiliki seorang guru

untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan yang dapat

diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan

memanfaatkan sumber belajar (Musfah, 2011: 27)

Kompetensi guru yang dimaksudkan dalam UU No. 14 tahun

2005 adalah (Janawi 2012: 45-46) :

1) Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur

pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

(UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1)

2) Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang

memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi

standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan

profesi (UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1)

3) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan

dengan sertifikat pendidik (UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen

pasal 2)

c. Komponen Kompetensi

Nana Sudjana (Janawi, 2012:41) menjelaskan bahwa

pembagian kompetensi yang harus dimiliki guru meliputi tiga aspek,

(33)

1) Kompetensi bidang Kognitif

Kompetensi bidang kognitif berhubungan dengan

kompetensi intelektual seperti penguasaan materi, pengetahuan

tentang cara mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah

laku individu, pengetahuan bimbingan dan penyuluhan,

pengetahuan tentang administrasi kelas, dan cara mengevaluasi

hasil belajar anak.

2) Kompetensi bidang sikap

Kompetensi bidang sikap berhubungan dengan kesiapan

dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan

tugas dan profesinya, seperti sikap mencintai pekerjaannya dan

lainnya.

3) Kompetensi perilaku/performance

Kompetensi ini berhubungan dengan keterampilan/perilaku

guru, seperti keterampilan mengajar, membimbing, menilai,

menggunakan alat bantu (teknologi pendidikan), dan

berkomunikasi dengan anak.

Lebih lanjut menurut Roestiyah, kompetensi-kompetensi dasar

yang harus dimiliki guru sebagaimana yang dilakukan pada Proyek

Pembinaan Pendidikan Guru (P3G), paling tidak meliputi sepuluh

komponen pokok (Janawi, 2012: 40-41), yaitu:

1) Menguasai bahan, meliputi bahan bidang studi dan kurikulum

(34)

metodologinya serta menguasai bahan untuk bidang studi yang

terspesialisasi.

2) Mengelola program belajar mengajar, meliputi perumusan tujuan

instruksional, menggunakan metode mengajar, memilih dan

menyusun prosedur instruksional yang tepat, melaksanakan

program belajar mengajar, mengenal potensi anak, perencanaan

dan pelaksanaan remedial.

3) Mengelola kelas, meliputi mengatur tata ruang kelas untuk

pengajaran dan menciptakan iklim belajar yang serasi.

4) Menggunakan media/sumber, meliputi kemampuan mengenal,

memilih dan melaksanakannya dalam proses belajar mengajar,

membuatnya, pengelolaan dan menggunakan laboratorium dalam

proses belajar mengajar, dan penggunaan perpustakaan sebagai

sumber belajar.

5) Menguasai landasan-landasan kependidikan, seperti psikologi

pendidikan, psikologi perkembangan anak dan lainnya.

6) Mengelola interaksi belajar mengajar.

7) Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.

8) Pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.

9) Penyelenggaraan administrasi sekolah.

10)Penggunaan hasil-hasil penelitian kependidikan.

Menurut Suyanto dan Djihad Hisyam (Suyanto & Asep, 2013:

(35)

1) Kompetensi profesional, yaitu memiliki pengetahuan yang luas

pada bidang studi yang diajarkan, memilih dan menggunakan

berbagai metode mengajar di dalam proses belajar-mengajar yang

diselenggarakan;

2) Kompetensi kemasyarakatan, yaitu mampu berkomunikasi dengan

siswa, sesama guru, dan masyarakat luas dalam konteks sosial;

3) Kompetensi personal, yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu

menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran: ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Kompetensi yang dimaksudkan dalam UU Nomor 14 tahun

2005 tentang Guru dan Dosen adalah berkenaan dengan kompetensi

pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan

kompetensi sosial. Kompetensi ini juga secara tegas digambarkan

dalam PP No. 19 tahun 2005. Kemudian standar tersebut dipertegas

dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005

tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.

Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud dalam Peraturan

Pemerintah RI No.74 Tahun 2008 tentang Guru pada ayat (4) sampai

dengan ayat (7) dirumuskan ke dalam:

1) Standar kompetensi guru pada satuan pendidikan di TK atau RA,

(36)

2) Standar kompetensi guru kelas pada SD atau MI, dan pendidikan

formal bentuk lain yang sederajat;

3) Standar kompetensi guru mata pelajaran atau rumpun mata

pelajaran pada SMP atau MTs, SMA atau MA, SMK atau MAK

dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat; dan

4) Standar kompetensi guru pada satuan pendidikan TKLB, SDLB,

SMPLB, SMALB dan pendidikan formal bentuk lain yang

sederajat.

d. Jenis-jenis Kompetensi

Jenis-jenis kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,

kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi

sosial. Berikut adalah penjelasan masing-masing kompetensi tersebut:

1) Kompetensi Pedagogik

Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi pedagogik adalah

kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi

pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta

didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi ini harus diktualisasikan oleh setiap guru dalam

menciptakan iklim pembelajaran yang mendidik sebagai

perwujudan penguasaan kompetensi utama, kompetensi pendukung

dan kompetensi lainnya secara terintegrasi dan utuh (Mulyasa,

(37)

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru berkenaan

dengan penguasaan teoritis dan proses aplikasinya dalam

pembelajaran. Kompetensi tersebut paling tidak berhubungan

dengan (Janawi, 2012:47), yaitu:

a) Menguasai karakteristik peserta didik

Siswa atau peserta didik yang dilayani oleh guru adalah

individu-individu yang unik. Mereka bukanlah sekelompok

manusia yang dapat dengan mudah diatur, didikte, diarahkan

atau diperintah menurut kemauan guru. Mereka adalah subjek

yang memiliki latar belakang, karakteristik, keunikan,

kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu pemahaman

terhadap karakteristik peserta didik dan berbagai aspek

perkembangannya dan faktor-faktor yang memengaruhinya

merupakan syarat mutlak bagi guru agar guru dapat berhasil

dalam pembelajarannya (Marselus, 2001: 30).

Menurut Raharjo, guru sebagai profesi memiliki

karakteristik profesional minimum dan berdasarkan sintesis

temuan-temuan penelitian. Beberapa karakteristik profesional

minimum guru adalah; pertama, mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya; kedua, menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara

(38)

berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar

dari pengalamannya; dan kelima, menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya (Janawi, 2012:

66)

b) Menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran

Tugas utama guru adalah memengaruhi siswa bisa

belajar. Karena itu tidak terelakkan bahwa guru juga harus

menguasai dengan baik teori belajar, dan bagaimana

teori-teori itu diaplikasikan dalam pembelajaran melalui

model-model pembelajaran tertentu. Secara umum ada tiga teori

belajar yang masih berpengatuh sampai saat ini yakni

teori-teori behaviorisme, teori-teori-teori-teori kognitivisme, dan teori-teori-teori-teori

humanistic-konstruktivis. Ketiga teori ini meletakkan dasar

bagi berbagai model pembelajaran yang ada saat ini (Marselus,

2011: 32).

Selain menguasai teori-teori belajar dan pembelajaran,

guru juga harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran yang

mendidik. Menurut T. Raka Joni, pembelajaran yang mendidik

adalah pembelajaran yang tidak hanya berupa penerusan

informasi, melainkan pembelajaran yang lebih banyak

memberikan peluang bagi peserta didik untuk pembentukan

kecerdasan, pemerolehan pengetahuan dan keterampilan. Ini

(39)

subjek aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang mendidik

juga berarti pembelajaran yang memberikan

pengalaman-pengalaman bermakna yang tidak hanya berguna untuk

kepentingan sesaat (seperti untuk menyelesaikan soal tes agar

bisa lulus), tetapi pembelajaran yang memberikan kemampuan

bagi siswa untuk bisa belajar sepanjang hayat (learning how to learn) (Marselus, 2011: 34).

c) Mengembangkan kurikulum dan rancangan pembelajaran

Pemahaman kurikulum harus selalu mengalami

perubahan dan perkembangan di dunia pendidikan. Diskursus

kurikulum menjadi perhatian penting para pakar pendidikan,

termasuk guru yang dianggap sebagai pelaku kurikulum secara

teknis dalam proses pembelajaran. Menurut Zamroni, salah

satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah

mempertimbangkan dua model, yaitu memperkuat hidden curriculum dan mengembangkan teknik refleksi diri ( self-reflection) (Janawi, 2012: 75).

Hidden curriculum adalah proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri siswa. Proses tersebut dilakukan

melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Guru

hendaknya melakukan proses pembelajaran yangbaik menjadi

(40)

belajar mengajar yang telah dilaksanakan untuk memperoleh

umpan balik.

d) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

Untuk memunculkan pembelajaran yang mendidik,

berbagai pendekatan telah dilakukan oleh pendidik, sekolah

dan penentu kebijakan. Sebelum guru menyelenggarakan

teknik pembelajaran yang mendidik, setiap guru harus

memahami tujuan belajar itu sendiri. Conny R. Semiawan

menyatakan bahwa belajar dapat ditelaah melalui dua hal, yaitu

secara mikro dan makro (Janawi, 2012: 84-85).

Secara mikro, belajar terkait dengan proses

pembelajaran itu sendiri. Pengaruh negatif dapat datang dari

luar dinding sekolah (lingkungan luar) ditambah pula oleh

orientasi pembelaran yang ditandai oleh ciri alternatif,

keterasingan anak didik dari proses belajar sesungguhnya.

Proses ini biasanya terjadi karena proses pembelajaran hanya

berlangsung satu arah. Guru lebih dominan

(mempertanggungjawabkan the body of materials), sementara anak cenderung pasif. Secara makro, pembelajaran ditinjau dari

adanya analisis dua jalur dalam pendekatan sistemnya yang

disebut analisis dua jalur (two road analysis). Jalur pertama (front-end: muka belakang) yaitu mencakup tiga komponen;

(41)

dengan bagaimana upaya menyelaraskan sasaran dan

relevansinya, analisis pekerjaan dapat dilakukan dari muka

(front) ke belakang (end), atau sebaliknya. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan proses pembelajaran perlu dilakukan

rancangan pembelajaran (instructional planning).

e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)

untuk kepentingan pembelajaran

Menurut Nana Sudjana, belajar dan mengajar sebagai

suatu proses, mengandung tiga unsure yang dapat dibedakan,

yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman (proses)

belajar mengajar, dan hasil belajar (Janawi, 2012: 86). Tujuan

Instruksional Khusus (TIK) menjadi dasar awal kegiatan

pembelajaran. Proses pencapaian pembelajaran diukur melalui

proses pertama, yakni tercapai atau tidak TIK itu sendiri. Jika

TIK tercapai, maka tujuan-tujuan berikutnya akan mengarah

pada tujuan akhir pendidikan, yakni proses perubahan perilaku

peserta didik (behavioral changing). TIK dalam proses belajar mengajar menjadi tujuan operasional dari setiap pembelajaran

yang terfokus pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena itu

perumusan TIK tetap mengacu kepada pencapaian aspek

kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagaimana yang

(42)

f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik

Kemampuan guru lain adalah membantu peserta didik

mengaktualisasikan segenap potensinya. Siswa sebagai

individu memiliki berbagai bakat dan kemampuan yang

beragam. Karena itu tugas guru adalah menciptakan kondisi

sedemikian rupa agar berbagai potensi dan kemampuan yang

beragam itu dapat dikembangkan secara optimal. Salah satu

wahana untuk mengembangkan kemampuan, potensi, bakat

atau minat siswa adalah melalui kegiatan-kegiatan

ekstrakurikuler. Guru tidak hanya menjadi fasilitator belajar di

ruang kelas, tetapi juga harus menjadi fasilitator belajar di luar

ruang kelas pada situasi-situasi nonpembelajaran. Melalui

kegiatan pengembangan minat, bakat dan kemampuan siswa

ini, para siswa merasa dihargai dan memiliki peluang untuk

mengembangkan kemampuannya secara optimal tanpa

dihambat oleh berbagai kegiatan-kegiatan akademik pelajaran

semata (Marselus, 2011: 38).

g) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan

peserta didik

Kegiatan pembelajaran adalah suatu bentuk

komunikasi. Karena esensi dari pembelajaran adalah interaksi

antara individu-individu tertentu, sehingga terjadi pertukaran

(43)

lain-lain). Agar supaya guru dapat berinteraksi dengan siswa

dan dapat melaksanakan pembelajarannya secara efektif,

kemampuan komunikasi merupakan salah satu prasayaratnya.

Guru harus bisa berkomunikasi secara efektif dengan siswa

agar pesan-pesan pembelajaran dapat dipahami, dihayati atau

diamalkan oleh para siswa (Marselus, 2011: 39).

Dalam proses pembelajaran, komunikasi dibutuhkan

ketika seorang guru akan menyampaikan pesan (the body of materials) kepada peserta didik. Deddy Mulyana menyebutkan, komunikasi terjadi stidaknya melalui suatu sumber yang dapat

membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian

suatu pesan. Bentuknya berupa tanda atau simbol, baik bentuk

verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (non kata-kata), tanpa

harus memastikan terlebih dulu bahwa kedua belah pihak yang

berkomunikasi punya suatu sistem simbol yang sama (Janawi,

2012: 89).

h) Menyelenggarakan dan memanfaatkan evaluasi dan penilaian

proses dan hasil belajar

Supranata dan Hatta dalam Janawi mengartikan

evaluasi atau penilaian merupakan proses menyimpulkan dan

menafsirkan fakta-fakta dan membuat pertimbangan dasar yang

profesional untuk mengambil kebijakan pada sekumpulan

(44)

90). Pada umumnya evauasi dapat dijadikan sebagai proses

umpan balik (feedback process). Pertama, evalusi menjadi dasar untuk melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan

anak baik pada tiap proses pembelajaran, semester, dan

tahunan. Dalam dunia pendidikan, evaluasi tetap harus

dilakukan. Melalui evaluasi inilah, tujuan pembelajaran dapat

diketahui berhasil atau tidaknya, mencapai sasaran atau tidak.

Kedua, evaluasi menjadi umpan balik baik bagi guru maupun anak.

i) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas

pembelajaran

Tindakan reflektif dalam dunia pendidikan adalah

sangat penting dilakukan. Tindakan reflektif menjadi acuan

peningkatan kualitas pendidikan, lebih khusus lagi kualitas

proses pembelajaran. Tindakan ini sering dilupakan oleh para

guru dan pelaku dunia persekolahan. Padahal dalam paradigma

dunia pendidikan modern, tindakan reflektif menjadi bagian

yang tak terpisahkan dalam proses peningkatan kualitas

pendidikan itu sendiri (Janawi, 2012: 95).

Salah satu ciri dari tugas guru sebagai seorang

profesional adalah kemampuan untuk merefleksikan praktiknya

dan melakukan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan

(45)

Kompetensi pedagogik harus senantiasa dimiliki dan

dikembangkan oleh seorang guru. Melalui kompetensi ini, guru

dapat mengelola kegiatan pembelajaran dimulai dari pemahaman

terhadap peserta didik sampai evaluasi belajar yang dilakukan oleh

guru.

2) Kompetensi Profesional

Seorang guru harus mampu memanusiakan anak didik, dan

membuat anak didik lebih mandiri dan bertanggung jawab dengan

apa yang menjadi tugasnya (Janawi, 2012: 98). Menurut Mulyasa

(2013: 42) kompetensi profesional adalah kemampuan pendidik

dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam

yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh

kompetensi yang ditetapkan.

Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar

tenaga pendidik. Ia akan disebut profesional, jika ia mampu

menguasai keahlian dan keterampilan teoritik dan praktik dalam

proses pembelajaran. Kompetensi ini cenderung mengacu kepada

kemampuan teoritik dan praktik lapangan (Janawi, 2012: 48).

Secara rinci, kemampuan profesional dapat dijabarkan sebagai

(46)

a) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan

yang sesuai dan mendukung bidang keahlian/bidang studi yang

diampu.

Menurut S. Nasution, orang yang menguasai bidang

ilmu tertentu akan lebih sering berpikir intuitif bila

dibandingkan dengan orang yangtidak menguasainya.

Kemudian orang yang menguasai struktur atau seluk beluk

bidang ilmu memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk

berpikir intuitif (Janawi, 2012: 101). Berpikir intuitif

merupakan proses pembuktian dan kajian lebih lanjut. Berpikir

intuitif dalam proses pembelajaran dianggap berbeda dengan

berpikir analitis. Berpikir analitis dilakukan melalui prosedur

dan langkah yang bertahap. Sedangkan berpikir intuitif tidak

dapat dilakukan oleh semua orang. Berpikir intuitif hanya dapat

dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan yang luas

sehingga jalan pemikirannya dapat melakukan lompatan dan

tidak menggunakan tahapan sebagaiamana berpikir analitis.

b) Memanfaatkan teknologi informasi dan teknologi (TIK) untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai bidang studi yang

diampu.

Peran teknologi dan media dalam pembelajaran sangat

penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

(47)

implementasi dan aplikasi bidangilmu lain maupun dalam

pengembangan IPTEK itu sendiri. Teknologi dan media dapat

banyak berperan dalam pembelajaran. Instruksi dapat

tergantung pada kehadiran dan keterampilan guru, bahkan pada

situasi ini media banyak digunakan oleh guru (Janawi 2012:

104).

Penggunaan teknologi dan informasi di dunia sekolah,

khususnya proses pembelajaran, telah dilakukan, namun

penggunaan tersebut masih cenderung pada media audio visual.

Para tenaga pendidik perlu merubah paradigma teknologi dari

pemahaman penggunaan pisik kepada terapan dan non pisik.

c) Menguasai filosofi, metodologi, teknis, dan fraktis penelitian

dan pengembangan ilmu yang sesuai dan mendukung bidang

keahliannya.

Ciri guru yang profesional adalah guru yang mampu

menguasai filosofi bidang keilmuan, metodologi bidang

keilmuan, dan teknis dan praktis bidang keilmuan. Tiap bidang

keilmuan, secara khusus lagi mata pelajaran yang disajikan di

sekolah, tentu memiliki karakteristik dan bangunan keilmuan

tersendiri. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berbeda

dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPS lebih memfokuskan

pada ilmu-ilmu sosial. Sedangkan IPA memfokuskan pada ilmu

(48)

sisi filosofi, metodologi, dan teknis pelaksanaan serta

praktisnya sangat jauh berbeda (Janawi, 2012: 119).

d) Mengembangkan diri dan kinerja profesionalitasnya dengan

melakukan tindakan reflektif dan penggunaan TIK.

Tuntutan pengembangan diri bagi guru adalah suatu hal

yang tidak dapat dihindari, karena guru harus senantiasa

berupaya untuk mengadopsi perkembangan-perkembangan

baru, baik bidang teknologi informasi maupun tuntutan

masyarakat. Selain faktor tersebut, karena kurikulum selalu

mengalami perbaikan dan perubahan (Janawi, 2012: 120).

Pengembangan diri dan kinerja profesional menjadi bagian

yang tak dapat dihindari. Pengembangan diri di antaranya dapat

dilakukan melalui kajian dan inovasi bidang tugas, melanjutkan

studi ke jenjang berikutnya sesuai dengan bidang keilmuan

yang relevan dengan tugas mengajar.

e) Meningkatkan kinerja dan komitmen dalam pelaksanaan

pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan,

meneruskan atau menstransmisi kebudayaan. Dalam fungsi ini

sekolah lebih bersifat konservatif dan berusaha

mempertahankan status quo demi mempertahankan nilai-nilai yang telah berkembang dan disepakati oleh masyarakat. Akan

(49)

bangsa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan

yang cepat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi (Nasution dalam Janawi, 2012: 122).

Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,

sekolah memegang peranan penting dalam melakukan

perubahan. Masyarakat memberikan penghargaan yang sangat

besar kepada sekolah sebagai agen perubahan. Bahkan muncul

kepercayaan bahwa yang dapat menginspirasi lahirnya tatanan

masyarakat baru hanyalah institusi sekolah dengan mesinnya,

yang dikenal dengan “guru”. Sekolah memegang peranan

penting dalam melakukan sosialisasi.

Dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

dinyatakan secara tegas bahwa hak dan kewajiban guru

meliputi:

(1) Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum

dan jaminan kesejahteraan sosial;

(2) Mendapat promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas

dan prestasi kerja;

(3) Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan

hak atas kekayaan intelektual;

(50)

(5) Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana

pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas

keprofesionalan;

(6) Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut

menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi

kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan,

kode etik guru, dan peraturanperundang-undangan;

(7) Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam

melaksanakan tugas;

(8) Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi

profesi;

(9) Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan

kebijakan pendidikan;

(10) Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan

dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;

(11) Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi

dalam bidangnya.

3) Kompetensi Kepribadian

Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki

sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan panutan dalam

seluruh segi kegidupannya. Tampilan kepribadian guru akan lebih

banyak mempengaruhi minat dan antusiasme anak dalam

(51)

Kepribadian yang menarik dan mempesona sangat dibutuhkan bagi

seorang tenaga pendidik karena tenaga pendidik merupakan sosok

yang memberikan kontribusi besar bagi pencapaian

prosespembelajaran baik dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor

(Janawi, 2012: 126-127). Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi

kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil,

dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,

dan berakhlak mulia.

Secara khusus kemampuan ini dapat dijabarkan berupa:

a) Berjiwa pendidik dan bertindak sesuai dengan norma agama,

hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

Guru yang baik adalah guru yang mampu melakukan

proses pembelajaran bersifat konstruktif. Pola dan model

pembelajaran yang berpusat pada anak dan tingkat keberhasilan

sangat ditentukan oleh seberapa besar mereka merasa perlu

belajar dan seberapa besar mereka siap untuk belajar. Menurut

Dede Rosyada, guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya

hanyalah fasilitas yang dapat diberdayakan seoptimal mungkin

memperoleh pengalaman dalam rangka meningkatkan

kompetensi yang diinginkan melalui proses pembelajaran

(Janawi, 2012: 127).

Guru tidak hanya bekerja mentransfer ilmu pengetahuan

(52)

dianut oleh masyarakat. Ia harus menjadi garda terdepan dalam

teladan moral yang tercermin dalam sikap, perilaku dan cara

hidupnya. Karakter inilah yang menyebabkan guru dianggap

sebagai sebuah tugas yang istimewa dan mulia di mata

masyarakat. Bertindak sesuai norma agama, norma hokum dan

norma sosial serta Kebudayaan Nasional Indonesia

mengharuskan guru untuk satu dalam kata dan perbuatan. Apa

yang diajarkannya kepada murid haruslah menjadi sikap dan

cara hidupnya yang selalu diterapkan secara konsisten

(Marselus, 2011: 51).

b) Tampil sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan

menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

Tugas guru sebagai seorang pribadi profesional juga

harus Nampak dalam eksistensi didirnya sebagai pribadi yang

jujur, berakhlak mulia dan menjadi suri teladan bagi siswa dan

masyarakat (Marselus, 2011: 53).

Menjadi pribadi yang jujur berarti berani untuk

mengakui kekurangan dan kelemahannya serta bersedia untuk

memperbaiki diri. Tuntutan untuk menjadi pribadi yang jujur

(53)

c) Tampil sebagai pribadi yang mantap, dewasa, stabil, dan

berwibawa.

Guru juga haruslah individu yang memiliki pribadi

yang stabil secara emosional sehingga mampu membimbing

siswa secara efektif. Ini memprasyaratkan bahwa guru

setidak-tidaknya harus memiliki kecerdasan emosional yang cukup.

Kecakapan dan kemampuan yang dimilikinya baik pedagogis

maupun keilmuan belumlah cukup apabila tidak dibarengi

dengan kestabilan emosional guru. Menjadi pribadi yang

matang secara emosional berarti guru haruslah mampu

mengendalikan diri, hawa nafsu, dan

kecenderungan-kecenderungan tertentu yang dimilikinya. Berhadapan dengan

siswa yang berasal dari berbagai macam latar belakang, watak

dan karakter, guru haruslah dapat menempatkan diri, mengelola

diri dan emosinya sehingga dapat berinteraksi secara efektif

dengan siswa (Marselus, 2011: 54-55).

d) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab, rasa bangga sebagai

tenaga pendidik dan rasa percaya diri.

Salah satu kompetensi kepribadian guru yang tidak

boleh diabaikan adalah memiliki etos kerja, tanggung jawab

dan rasa percaya diri. Seorang guru harus memiliki etos kerja

yang tinggi, memiliki rasa tanggung jawab, dan memiliki

(54)

melaksanakan tugasnya sebagai guru seorang guru. Di samping

itu, sikap-sikap tersebut akan menentukan proses pembelajaran

yang edukatif. Etos kerja akan muncul jika guru mencintai

profesinya dan telah menjadi bagian dari kepribadiannya.

Tanggung jawab guru juga mutlak diperankan. Kemudian rasa

percaya diri akan menentukan kemampuan guru dalam

memerankan tugas-tugas pengabdiannya sebagai tenaga

pendidik (Janawi, 2012: 133-134).

4) Kompetensi Sosial

Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi sosial adalah

kemampuan pendidik dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara

efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, dan masyarakat.

Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan guru berinteraksi

dengan peserta didik dan dengan orang yang ada di sekitar dirinya.

Modal interaksi berupa komunikasi personal yang dapat diterima

oleh peserta didik dan masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam

konteks ini hendaknya guru memiliki strategi dan pendekatan

dalam melakukan komunikasi yang cenderung bersifat horizontal.

Walaupun demikian, pendekatan komunikasi lebih mengarah pada

proses pembentukan masyarakat belajar (learning community), (Janawi, 2012: 50). Selanjutnya, kemampuan sosial dirinci sebagai

(55)

a) Bersikap inklusif dan bertindak objektif

Bersikap dan bertindak objektif adalah kemampuan

yang harus dimiliki guru agar guru selalu berkomunikasi dan

bergaul dengan peserta didik. Bagi peserta didik, guru adalah

sebagai pembimbing, motivator, fasilitator, penolong, dan

teman dalam proses pendidikan. Bertindak objektif berarti guru

juga dituntut berlaku bijaksana, arif, dan adil terhadap peserta

didik. Bijaksana dan arif dalam keputusan dan pergaulan, bijak

dalam bertindak, bijak dalam berkata, dan bijak dalam

bersikap. Kemudian guru dituntut untuk objektif dalam berkata,

objektif dalam berbuat, objektif dalam bersikap, dan objektif

dalam menilai hasil belajar. Bertindak objektif dapat pula

berarti bahwasannya guru sebagai figur sentral dalam proses

pembelajaran (apalagi untuk tingkat awal) harus senantiasa

memperlakukan peserta didik secara proporsional dan tidak

akan memilih, memilah, dan berlaku tidak adil terhadap peserta

didik (Janawi, 2012: 136).

b) Beradaptasi dengan lingkungan tempat bertugas dan dengan

lingkungan masyarakat

Beradaptasi dengan lingkungan adalah kemampuan

yang dituntut pada seorang guru. Beradaptasi dengan

lingkungan berarti seorang guru perlu melakukan penyesuaian

(56)

lingkungan masyarakat umumnya. Di lingkungan sekolah, guru

diharapkan dapat beradaptasi dengan teman-teman kolegial

profesi dan menyesuaikan diri dengan anak dalam proses

pembelajaran.

Beradaptasi dengan lingkungan tugas guru berarti

proses adaptasi menjadi bagian terpenting dalam

berkomunikasi. Adaptasi berhubungan dengan konsep diri.

Sullivan dalam Janawi mengungkapkan bahwa jika diri

seseorang diterima, dihormati, dan disenangi orang lain, maka

ia akan menyenangi dirinya. Sebaliknya, bila oranlain selalu

meremehkan, menyalahkan, dan menolak keberadaan dirinya,

maka orang itu akan cenderung tidak menyenangi dirinya

sendiri (Janawi, 2012: 137).

c) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan

komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, secara lisan dan

tulisan atau bentuk lain.

Kompetensi sosial dapat dilihat dalam berkomunikasi

secara efektif. Guru sebagai inspirator dan motivator dalam

proses pembelajaran memiliki peran penting dalam melakukan

komunikasi yang efektif. Maksudnya, guru dituntut untuk

berkomunikasi dan bergaul dengan kolegialnya, anak didik,

(57)

dilakukan saling percaya bukan saling curiga di lingkungan

sosial, termasuk lingkungan belajar (Janawi, 2012: 139).

d) Berkomunikasi secara empatik dan santun dengan masyarakat

luas.

Sikap empatik dan santun menjadi barometer dalam

berkomunikasi. Sikap dan perilaku serta tutur bahasa akan

menentukan atmosphere komunikasi. Soetjipto dalam Janawi menegaskan, seorang guru akan dikatakan profesional apabila

ia memiliki citra di masyarakat. Ia layak menjadi panutan atau

teladan mayarakat sekelilingnya (Janawi, 2012: 141).

Sikap empatik dan santun dapat diaplikasikan dalam

cara melakukan kritik, teguran, dan nasihat. Bahasa menjadi

solusi alternatif dalam menyampaikan kritik, teguran, dan

nasihat tersebut. Bhkan empatik dan santun menjadi kunci

keberhasilan dalam berkomunikasi baik dengan anak didik,

sesama profesi, dan masyarakat. Empatik dan santun

merupakan cara dan pendekatan yang dilakukan guru dalam

melakukan komunikasi dengan anak, sesama kolega, dan

masyarakat.

Keempat kompetensi di atas adalah kompetensi mutlak yang

harus dikuasai oleh semua guru. Keempatnya menjadi kompetensi

standar dan menjadi standar mutu guru (pendidik) dalam bidang

(58)

mampu mengembangkan proses pembelajaran pada satuan pendidikan

(Janawi, 2012:50-51).

e. Karakteristik Tanggung Jawab dan Kompetensi Guru

Menurut Janawi (2012: 52-56), beberapa karakteristik

tanggung jawab guru yang berhubungan dengan kompetensi guru,

yaitu:

1) Tanggung jawab dan kompetensi guru

Guru adalah refleksi dari sebagian manusia yang memiliki

tugas dan fungsi sebagai tenaga pendidik. Seorang guru profesional

harus memnuhi persyaratan sebagai manusia, bertanggung jawab

dalam bidang kependidikan. Guru selaku pendidik bertanggung

jawab untuk mentransformasikan dan mewariskan nilai-nilai dan

norma-norma kepada generasi berikutnya. Transformasi tersebut

menjadi proses konversi nilai, bahkan melalui proses pendidikan

diupayakan terciptanya nilai-nilai baru yang sesuai dengan nilai

dan norma masyarkat.

Guru akan mampu melaksanakan tanggung jawabnya

apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan untuk itu. Setiap

tanggung jawab membutuhkan sejumlah kompetensi. Tanggung

jawab tersebut akan merefleksikan pribadi guru sebagai pendidik

Gambar

Tabel 3.1 Jumlah Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 2 dan SMA
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Pedagogik
Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Variabel Profesional
Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Kepribadian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) perbedaan persepsi guru pamong terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa PPL ditinjau dari pengalaman membimbing; (2)

Permasalahan dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh kompetensi profesional dan kompetensi sosial guru ekonomi akuntansi terhadap prestasi belajar siswa SMA di kota

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kompetensi guru SMA Swasta Katolik di Kota Yogyakarta berdasarkan jenis kelamin, usia,

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDASARKAN KURIKULUM 2013 (STUDI KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU SEJARAH DI SMA NEGERI 6 SURAKARTA). Fakultas Keguruan

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kemampuan Teknis memiliki perbedaan antara tenaga kerja lulusan SMA dan SMK, sedangkan Kemampuan Konseptual dan Kemampuan Sosial

Dari hasil analisis jalur ditemukan pula pengaruh secara tidak langsung dari variabel Kompetensi Profesional melalui Kompetensi Pedagogik terlebih dahulu

Bagi guru khususnya guru ekonomi sudah seharusnya untuk terus meningkatkan kompetensi guru dengan terus mengasah materi ekonomi yang berguna untuk Ujian Kompetensi Guru

Berdasarkan data hasil angket tentang persepsi siswa kelas XI terhadap kompetensi pedagogik guru PPKn di SMA Negeri Kota Mojokerto dari lulusan PTS, menunjukkan bahwa