ABSTRAK
STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA LULUSAN FKIP DAN NONFKIP DI SMA
KOTA YOGYAKARTA
Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan studi komparasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Populasi penelitian adalah seluruh Guru Ekonomi SMA di Kota Yogyakarta. Jumlah responden sebanyak 130 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling untuk menentukan tempat penelitian dan simple random sampling untuk menentukan jumlah sampel penelitian, serta proportional sampling untuk menentukan jumlah responden di masing-masing kelas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif serta analisis uji Independent Sample T-tes untuk data berdistribusi normal dan Uji Mann Whitney (Z test) untuk data yang tidak berdistribusi normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 2) ada perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 3) ada perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; dan 4) ada perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.
ABSTRACT
A COMPARATIVE STUDY OF HIGH SCHOOL ECONOMIC TEACHER COMPETENCE
GRADUATED FROM FKIP AND NONFKIP IN HIGH SCHOOLS YOGYAKARTA
Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma
2016
This research aims to examine and analyze the differences of High School economics teacher competence graduated from FKIP and non-FKIP in high schools. This type of research is a comparative study. The research was conducted from May to June 2016. Population in this research were all Economic teachers of High Schools in Yogyakarta. The total numbers of respondents were 130 students. The sampling technique was purposive sampling for determining the place where research and simple random sampling for determining the number of samples and proportional sampling for determining the number of respondents. Data analysis was applying descriptive analysis and test analysis of Independent Sample T-test for normal distribution of data and Mann Whitney test is for non-normal distribution of data.
The results show that: 1) there is a significant difference in pedagogic competence of graduate High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 2) there is a significant difference in professional competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 3) there is a significant difference in personality competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 4) there is a significant difference in social competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta.
STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA
LULUSAN FKIP DAN LULUSAN NONFKIP DI SMA
KOTA YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi
Oleh :
Cipluk Wido Rini 121324029
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI
JURUSAN PENDIDIDKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan untuk:
Tuhanku Yesus Kristus
Bapak (Alm.) Sutiyo Sri Raharjo dan Mamak Kasirah
Kakakku Karyo Widadi, Sri Ngati-ati dan Ayub Widodo
Keponakanku Firdaus Raka Saputra
Seluruh Keluarga Besarku
Kekasihku Adit Kurnia Setyawan
Sahabatku Anis, Deti, Charla, Vivi, Meli, Ida, Juli, Ega, Suci
Sahabat-sahabatku Brodol Family
Sahabat-sahabat Pendidikan Ekonomi 2012
MOTTO
“Iman, Pengharapan, dan Kasih”
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa”
(Roma 12: 12)
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia
tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan
yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri. Ia
tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia
tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita
karena kebenaran”
(1 Korintus 13: 4-6)
“Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk
mengurusi kesalahan orang lain”
ABSTRAK
STUDI KOMPARASI KOMPETENSI GURU EKONOMI SMA LULUSAN FKIP DAN NONFKIP DI SMA
KOTA YOGYAKARTA
Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma
2016
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan studi komparasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Populasi penelitian adalah seluruh Guru Ekonomi SMA di Kota Yogyakarta. Jumlah responden sebanyak 130 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposivesampling untuk menentukan tempat penelitian dan simple random sampling untuk menentukan jumlah sampel penelitian, serta proportional sampling untuk menentukan jumlah responden di masing-masing kelas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif serta analisis uji Independent Sample T-tes untuk data berdistribusi normal dan Uji
Mann Whitney (Z test) untuk data yang tidak berdistribusi normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 2) ada perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; 3) ada perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta; dan 4) ada perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.
ABSTRACT
A COMPARATIVE STUDY OF HIGH SCHOOL ECONOMIC TEACHER COMPETENCE
GRADUATED FROM FKIP AND NONFKIP IN HIGH SCHOOLS YOGYAKARTA
Cipluk Wido Rini Universitas Sanata Dharma
2016
This research aims to examine and analyze the differences of High School economics teacher competence graduated from FKIP and non-FKIP in high schools. This type of research is a comparative study. The research was conducted from May to June 2016. Population in this research were all Economic teachers of High Schools in Yogyakarta. The total numbers of respondents were 130 students. The sampling technique was purposive sampling for determining the place where research and simple random sampling for determining the number of samples and proportional sampling for determining the number of respondents. Data analysis was applying descriptive analysis and test analysis of Independent Sample T-test for normal distribution of data and Mann Whitney test is for non-normal distribution of data.
The results show that: 1) there is a significant difference in pedagogic competence of graduate High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 2) there is a significant difference in professional competence of High School economic teacher graduated from
FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 3) there is
a significant difference in personality competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta; 4) there is a significant difference in social competence of High School economic teacher graduated from FKIP and non-FKIP High Schools in Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas pertolongan dan
penyertaan-Nya kepada penulis dalam persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian
skripsi ini yang berjudul “Studi Komparasi Kompetensi Guru Ekonomi SMA
Lulusan FKIP dan Lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta” .
Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi BKK
Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak
terlepas dari bimbingan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan serta Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Bapak Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. selaku ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Sosial Universitas Sanata Dharma.
3. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M. Ed. selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Ekonomi BKK Pendidikan Ekonomi.
4. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
5. Bapak Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktu dan memberikan bimbingan untuk ketercapaian
skripsi ini.
6. Segenap Bapak/Ibu dosen yang telah banyak memberikan pengetahuan,
nasihat serta motivasi selama proses perkuliahan.
7. Ibu Christina Kristiani selaku tenaga administrasi Pendidikan Ekonomi yang
selalu membantu dan memberikan informasi akademik selama proses
perkuliahan.
8. Bapak Kepala Sekolah, Waka Humas, dan Guru Ekonomi SMA Negeri 2 dan
SMA Negeri 7 Yogyakarta yang telah memberikan izin dan bantuan kepada
penulis untuk melakukan penelitian.
9. Siswa-siswi kelas X MIIA 1 dan X IIS 1 SMA Negeri 2 Yogyakarta serta X-3,
X-4, X-5, X-6 SMA Negeri 7 Yogyakarta yang telah bersedia membantu
penulis dalam mengumpulkan data penelitian.
10.Bapak Sutiyo Sri Raharjo dan Ibu Kasirah terkasih, yang telah memberikan
banyak nasihat, semangat, motivasi serta doa kepada penulis selama proses
perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
11.Kakak-kakakku Karyo Widadi dan Ayub Widodo, kakak iparku Sri Ngati-ati,
keponakanku Firdaus Raka Saputra serta seluruh keluarga besarku yang telah
memberikan motivasi dan doa selama perkuliahan.
12.Adit Kurnia Setyawan terkasih yang telah banyak memberikan nasihat, kritik,
saran, kasih sayang, menemani, dan mendengarkan keluh kesah penulis dari
13.Sahabat-sahabat brodol family, Vidia Natalia, Anggi Budi Faderika, Erlina, Fransisca Cristi, Adit Kurnia, Gardika Edi, Daniel Setyawan, Agustinus
Nindya yang selalu menemani, memberikan nasihat, canda tawa, motivasi dan
selalu memberikan kasih sayang kepada penulis.
14.Sahabat selama perkuliahan Nina Cahyani, Albertus Bima, Hesti Ratna,
Fransiskus Sogen, Yosep Henri dan seluruh teman-teman Pendidikan
Ekonomi Angkatan 2012.
15.Annisaatul Qudwah, Ida Rohyani, Charla Serlita, dan Dheti Ayu Indaryani
yang telah menjadi sahabat sekaligus saudara untuk berkeluh kesah dan selalu
memberikan semangat dan motivasi selama penyelesaian skripsi ini.
16.Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada saya
selama menempuh perkuliahan dari awal hingga penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam
skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana
mestinya.
Yogyakarta, 12 Agustus 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xviii
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan Masalah ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 7
1. Kompetensi Guru ... 9
2. Karakteristik Tanggung Jawab dan Kompetensi Guru .... 36
B. Kerangka Berpikir ... 38
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 45
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 45
C. Sumber Data ... 46
1. Data Primer ... 46
2. Data Sekunder ... 46
D. Subjek dan Objek Penelitian ... 46
1. Subjek Penelitian ... 46
2. Objek Penelitian ... 46
E. Populasi,Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel... 47
1. Populasi ... 47
2. Sampel ... 47
3. Teknik Pengambilan Sampel... 49
F. Operasionalisasi Variabel ... 50
1. Variabel Kompetensi Guru ... 50
2. Variabel Kompetensi Pedagogik ... 50
3. Variabel Kompetensi Profesional ... 52
4. Variabel Kompetensi Kepribadian ... 53
5. Variabel Kompetensi Sosial ... 54
7. Variabel Kompetensi Guru Ekonomi Non FKIP ... 55
G. Teknik Pengumpulan Data ... 56
1. Kuesioner ... 56
H. Pengujian Instrumen Penelitian ... 56
1. Uji Validitas ... 56
2. Uji Reliabilitas ... 61
I. Teknik Analisis Data ... 65
1. Analisis Deskritif ... 65
2. Uji Prasyarat ... 66
3. Pengujian Hipotesis ... 67
BAB IV GAMBARAN UMUM A. SMA N 2 Yogyakarta ... 68
1. Sejarah Berdirinya SMA N 2 Yogyakarta ... 68
2. Tujuan SMA N 2 Yogyakarta ... 72
3. Sistem Pendidikan SMA N 2 Yogyakarta ... 75
4. Kurikulum SMA N 2 Yogyakarta ... 75
5. Organisasi SMA N 2 Yogyakarta ... 83
6. Sumber Daya Manusia SMA N 2 Yogyakarta ... 84
7. Siswa Satuan Pendidikan SMA N 2 Yogyakarta ... 84
8. Kondisi Fisik dan Lingkungan SMA N 2 Yogyakarta ... 86
B. SMA N 7 Yogyakarta ... 86
1. Sejarah SMA N 7 Yogyakarta... 86
3. Visi dan Misi Satuan Pendidikan ... 89
4. Tujuan SMA N 7 Yogyakarta ... 90
5. Sistem Pendidikan SMA N 7 Yogyakarta ... 91
6. Kurikulum SMA N 7 Yogyakarta ... 91
7. Organisasi Sekolah SMA N 7 Yogyakarta ... 91
8. Sumber Daya Manusia SMA N 7 Yogyakarta ... 92
9. Kondisi Fisik dan Lingkungan SMA N 7 Yogyakarta ... 92
10. Komite Sekolah SMA N 7 Yogyakarta ... 94
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ... 95
1. Kompetensi Pedagogik... 97
2. Kompetensi Profesional ... 99
3. Kompetensi Kepribadian ... 101
4. Kompetensi Sosial ... 103
B. Pengujian Prasyarat Analisis Data... 105
1. Uji Normalitas Data ... 105
C. Analisis Data ... 106
1. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Pedagogik... 106
2. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Profesional . 107 3. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Kepribadian 110 4. Kompetensi Guru ditinjau dari Kompetensi Sosial ... 112
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 114
FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 114
2. Perbedaan Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 116
3. Perbedaan Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 119
4. Perbedaan Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan FKIP dan Lulusan Non FKIP ... 121
BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 124
B. Keterbatasan ... 125
C. Saran ... 125
Daftar Pustaka ... 128
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 : Jumlah Peserta Didik ……… 48
Tabel 3.2 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Pedagogik…………. 50
Tabel 3.3 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Profesional…... 52
Tabel 3.4 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Kepribadian……….. 53
Tabel 3.5 : Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Sosial………... 54
Tabel 3.6 : Skor Pernyataan Kompetensi Guru……….. 56
Tabel 3.7 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Pedagogik……….. 58
Tabel 3.8 : Hasil Pengujian Ulang Validitas Kompetensi Pedagogik……… 59
Tabel 3.9 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Profesional………. 60
Tabel 3.10 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Kepribadian……… 60
Tabel 3.11 : Hasil Pengujian Validitas Kompetensi Sosial……….. 61
Tabel 3.12 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Pedagogik… 63
Tabel 3.13 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Profesional… 63
Tabel 3.14 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Kepribadian.. 64
Tabel 3.15 : Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Kompetensi Sosial……... 64
Tabel 3.16 : Kriteria Kompetensi Guru Berdasarkan PAP II……… 66
Tabel 5.1 : Responden Penelitian………. 96
Tabel 5.2 : Deskripsi Data Kompetensi Guru Lulusan FKIP……….. 96
Tabel 5.3 : Deskripsi Data Kompetensi Guru Lulusan Non FKIP…………. 97
Tabel 5.4 : Kriteria Kompetensi Pedagogik Guru Ekonomi Lulusan FKIP… 97
Non FKIP……….. 98
Tabel 5.6 : Kriteria Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan FKIP.. 99
Tabel 5.7 : Kriteria Kompetensi Profesional Guru Ekonomi Lulusan
Non FKIP……… 100
Tabel 5.8 : Kriteria Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan FKIP.. 101
Tabel 5.9 : Kriteria Kompetensi Kepribadian Guru Ekonomi Lulusan
Non FKIP……… 102
Tabel 5.10 : Kriteria Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan FKIP……… 103
Tabel 5.11 : Kriteria Kompetensi Sosial Guru Ekonomi Lulusan
Non FKIP……… 104
Tabel 5.12 : Hasil Uji Normalitas………... 105
Tabel 5.13 : Hasil Uji Independent Sample T-testKompetensi Pedagogik…… 106 Tabel 5.14 : Hasil Uji Independent Sample T-testKompetensi Profesional…. 109 Tabel 5.15 : Hasil Uji Mann Whitney Kompetensi Kepribadian……….. 111
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Kuesioner Penelitian………... 131
Lampiran II : Uji Validitas & Reliabilitas………. 140
Lampiran III : Data Induk Penelitian………. 147
Lampiran IV : Uji Normalitas Data……… 164
Lampiran V : Distribusi Frekuensi & PAP II……… 166
Lampiran VI : Pengujian Hipotesis Penelitian……… 182
Lampiran VII : Tabel Statistika……… 187
Lampiran VIII : Surat Ijin Penelitian………. 190
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia yang semakin meningkat menuntut pendidikan
lebih berkembang karena pendidikan merupakan salah satu faktor penting
dalam menentukan keberhasilan pembangunan sebuah negara. Oleh karena
itu, pendidikan harus dapat terencana dan terlaksana dengan baik agar dapat
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang
terencana dan terlaksana dengan baik tidak akan dapat tercapai apabila tidak
ada peran dari guru-guru ataupun tenaga pendidik yang profesional dan
berkualitas pula. Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Pasal 1, guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, dasar,
dan menengah (Musfah, 2011: 3).
Profesionalitas menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru
dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai tenaga pendidik.
Seorang guru akan dapat dikatakan profesional apabila memiliki seperangkat
kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang baik dan dapat diandalkan
serta dipertanggungjawabkan dalam proses pembelajaran. Seperangkat
kemampuan, pengetahuan dan keterampilan inilah yang disebut kompetensi.
profesionalitas. Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak (Mulyasa, 2006:37). Kompetensi guru profesional meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi
personal/kepribadian, dan kompetensi sosial.
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkaitan dengan
pemahaman guru terhadap karakteristik fisik maupun non fisik peserta didik,
serta kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, mulai dari
perancangan, pelaksanaan, dan mengevaluasi proses pembelajaran peserta
didik. Oleh karena itu seorang calon guru (pendidik) harus memiliki latar
belakang pendidikan keguruan yang relevan dengan bidang keilmuannya
(Janawi, 2012:47).
Penguasaan bidang keilmuan yang relevan dengan latar belakang
pendidikan, menjadi sesuatu yang sangat penting agar seorang guru mampu
memberikan pengetahuan yang sesuai dengan ilmu yang dikuasainya. Hal ini
berkaitan dengan kompetensi guru yaitu kompetensi profesional yang
merupakan kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran yang
akan disampaikan kepada peserta didik. Seorang guru akan disebut
profesional, jika guru tersebut mampu menguasai keahlian dan keterampilan
baik teoritik maupun praktik dalam proses pembelajaran.
Tugas seorang guru bukan hanya mampu mengajarkan keahlian dan
keterampilan teoritik serta praktik kepada peserta didik, akan tetapi
hal sikap dan perilaku baik agar menjadi teladan bagi peserta didik. meliputi
kemampuan personalitas seorang guru. Tampilan kepribadian guru akan lebih
banyak mempengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran (Asmani, 2009: 117). Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi
kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Selain menjadi panutan dan teladan bagi peserta didik, seorang guru
profesional harus memiliki kemampuan sosial yang ditunjukkan dalam
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Kemampuan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar merupakan indikator bahwa seorang
guru mampu menempatkan diri dan memiliki relasi yang baik dengan
lingkungan di sekitarnya, baik peserta didik, sesama guru/pendidik, wali
siswa, serta lingkungan masyarakat yang akan memberikan teladan baik bagi
peserta didik.
Kompetensi keguruan di atas menunjuk kualitas seorang guru dalam
dunia pendidikan. Setiap guru tentu memiliki kompetensi yang berbeda dalam
melaksanakan tugas keguruannya. Namun, banyak permasalahan pendidikan
yang muncul akibat dari guru yang tidak berkompeten yang menyebabkan
pendidikan semakin merosot dan tidak berkembang, hal ini dikarenakan belum
semua guru memiliki kompetensi dalam mempertanggungjawabkan tugasnya
sebagai tenaga pendidik. Dijelaskan dalam kompas (7 Juli 2015) bahwa mutu
guru Indonesia masih mengkhawatirkan. Dari uji kompetensi guru terhadap
nilainya dibawah 50 dari nilai tertinggi 100. Artinya, masih banyak guru
memiliki mutu dan kompetensi rendah terkait dengan dunia pendidikan.
Salah satu faktor penyebab tinggi atau rendahnya kompetensi guru
dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki. Terdapat berbagai
macam calon guru yang berasal dari lulusan sarjana dari perguruan tinggi yang
memiliki kemampuan sebagai tenaga pendidik. Guru tidak hanya berasal dari
sarjana lulusan pendidikan, akan tetapi sebagian guru berasal dari sarjana
lulusan non-pendidikan. Kenyataannya, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya melegalkan sarjana non-kependidikan
untuk menjadi guru profesional. Kebijakan pemerintah membuka akses bagi
sarjana non-kependidikan untuk menjadi guru ini tertuang dalam
Permendikbud Nomor 87 Tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru
Prajabatan (PPG). Pada dasarnya guru lulusan sarjana kependidikan (FKIP)
belum berarti memiliki kompetensi baik, dan guru lulusan sarjana
non-kependidikan (non-FKIP) memiliki kompetensi buruk, atau sebaliknya.
Kompetensi guru ini akan tercermin melalui kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan.
Guru lulusan kependidikan (FKIP) dan non-kependidikan (non-FKIP)
tentu memiliki kompetensi keguruan yang berbeda mengingat bahwa
keduanya mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda pula. Secara
teori dan pengalaman, guru lulusan FKIP lebih menguasai dan mendalami
perannya sebagai tenaga pendidik sejak dalam masa perkuliahan, karena pada
profesional. Sedangkan guru lulusan non-FKIP lebih menguasai ilmu
pengetahuan murni sesuai bidang yang dikuasainya dan tidak dipersiapkan
sebagai tenaga pendidik. Namun bukan berarti bahwa guru lulusan non-FKIP
tidak memiliki kompetensi sebagai seorang guru. Guru lulusan FKIP dan
lulusan non-FKIP memiliki kesempatan dan tugas yang sama sebagai seorang
guru.
Apabila dilihat dari pemaparan mengenai kompetensi guru yang
dimiliki oleh guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP, maka kemungkinan
akan menunjukkan perbedaan antara keduanya. Alasan memilih penelitian
mengenai studi komparasi kompetensi guru lulusan FKIP dan non-FKIP
khususnya Guru Ekonomi dikarenakan perbedaan latar belakang pendidikan
guru lulusan FKIP dan non-FKIP yang berkaitan dengan perbedaan ilmu
pengetahuan, keahlian serta kerampilan yang dimiliki, namun dalam praktik
mengajar keduanya memiliki tugas dan kewajiban yang sama sebagai tenaga
pendidik. Mengingat pentingnya kompetensi bagi seorang guru, dan melihat
fenomena bahwa guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP memiliki
kesempatan yang sama sebagai seorang pendidik khususnya dalam mata
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, peneliti akan
mengkaji tentang perbedaan kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP
dan non-FKIP. Penelitian ini memfokusan pada kompetensi pedagogik,
kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.
Lokasi penelitian hanya dibatasi di SMA Kota Yogyakarta. Dimana penulis
membatasi tempat untuk melakukan penelitian karena diharapkan penelitian
ini dapat lebih fokus dan memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan
penulis dan menjadi sebuah karya ilmiah yang baik.
C. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?
2. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?
3. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta ?
4. Apakah terdapat perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi pedagogik Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.
2. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi profesional Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.
3. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi kepribadian Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.
4. Untuk menguji dan menganalisis perbedaan kompetensi sosial Guru
Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di Kota Yogyakarta.
E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Kepala Sekolah
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan pengetahuan
kepada kepala sekolah agar lebih memperhatikan kompetensi-kompetensi
yang dimiliki oleh guru-guru di sekolah khususnya dalam penelitian ini
adalah Guru Ekonomi untuk dapat meningkatkan kualitas peserta didik
serta mutu sekolah agar mampu menciptakan dan meluluskan peserta didik
yang berkualitas.
2. Bagi guru
Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan refleksi bagi
3. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan masukan dan
juga wawasan bagi mahasiswa baik mahasiswa dari FKIP maupun
non-FKIP untuk lebih meningkatkan kompetensi yang dimiliki sebagai bekal
menjadi seorang pendidik di masa yang akan datang.
4. Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan kepada
pembaca bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi dan
profesionalitas agar mampu menciptakan peserta didik yang berkualitas.
Tidak hanya kompetensi dan profesionalitas dalam hal mengajar, akan
tetapi kompetensi yang berkaitan dengan perilaku dan juga hubungan
sosial guru dengan lingkungan sekitar.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini memberikan pemahaman bagi peneliti selanjutnya
mengenai kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru dan perbedaan
kompetensi antara guru lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP sehingga akan
menjadi acuan/referensi bagi penelitian selanjutnya untuk kemajuan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis 1. Kompetensi Guru
a. Pengertian Kompetensi
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2006:37). Kompetensi juga diartikan
sebagai suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan
seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif (Usman dalam
Kunandar, 2007:51). Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005
pasal 1 ayat 10, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai
oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keguruannya.
b. Kompetensi Guru
Menurut Mulyasa (2007: 26) kompetensi guru merupakan
perpaduan antara kemampuan personal, keilmuwan, teknologi, sosial,
dan spiritual yang secara keseluruhan membentuk kompetensi standar
profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap
peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan
perilaku, dan keterampilan yang harus dimiliki seorang guru
untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan yang dapat
diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan
memanfaatkan sumber belajar (Musfah, 2011: 27)
Kompetensi guru yang dimaksudkan dalam UU No. 14 tahun
2005 adalah (Janawi 2012: 45-46) :
1) Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
(UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1)
2) Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang
memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi
standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan
profesi (UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1)
3) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan
dengan sertifikat pendidik (UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen
pasal 2)
c. Komponen Kompetensi
Nana Sudjana (Janawi, 2012:41) menjelaskan bahwa
pembagian kompetensi yang harus dimiliki guru meliputi tiga aspek,
1) Kompetensi bidang Kognitif
Kompetensi bidang kognitif berhubungan dengan
kompetensi intelektual seperti penguasaan materi, pengetahuan
tentang cara mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah
laku individu, pengetahuan bimbingan dan penyuluhan,
pengetahuan tentang administrasi kelas, dan cara mengevaluasi
hasil belajar anak.
2) Kompetensi bidang sikap
Kompetensi bidang sikap berhubungan dengan kesiapan
dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan
tugas dan profesinya, seperti sikap mencintai pekerjaannya dan
lainnya.
3) Kompetensi perilaku/performance
Kompetensi ini berhubungan dengan keterampilan/perilaku
guru, seperti keterampilan mengajar, membimbing, menilai,
menggunakan alat bantu (teknologi pendidikan), dan
berkomunikasi dengan anak.
Lebih lanjut menurut Roestiyah, kompetensi-kompetensi dasar
yang harus dimiliki guru sebagaimana yang dilakukan pada Proyek
Pembinaan Pendidikan Guru (P3G), paling tidak meliputi sepuluh
komponen pokok (Janawi, 2012: 40-41), yaitu:
1) Menguasai bahan, meliputi bahan bidang studi dan kurikulum
metodologinya serta menguasai bahan untuk bidang studi yang
terspesialisasi.
2) Mengelola program belajar mengajar, meliputi perumusan tujuan
instruksional, menggunakan metode mengajar, memilih dan
menyusun prosedur instruksional yang tepat, melaksanakan
program belajar mengajar, mengenal potensi anak, perencanaan
dan pelaksanaan remedial.
3) Mengelola kelas, meliputi mengatur tata ruang kelas untuk
pengajaran dan menciptakan iklim belajar yang serasi.
4) Menggunakan media/sumber, meliputi kemampuan mengenal,
memilih dan melaksanakannya dalam proses belajar mengajar,
membuatnya, pengelolaan dan menggunakan laboratorium dalam
proses belajar mengajar, dan penggunaan perpustakaan sebagai
sumber belajar.
5) Menguasai landasan-landasan kependidikan, seperti psikologi
pendidikan, psikologi perkembangan anak dan lainnya.
6) Mengelola interaksi belajar mengajar.
7) Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
8) Pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.
9) Penyelenggaraan administrasi sekolah.
10)Penggunaan hasil-hasil penelitian kependidikan.
Menurut Suyanto dan Djihad Hisyam (Suyanto & Asep, 2013:
1) Kompetensi profesional, yaitu memiliki pengetahuan yang luas
pada bidang studi yang diajarkan, memilih dan menggunakan
berbagai metode mengajar di dalam proses belajar-mengajar yang
diselenggarakan;
2) Kompetensi kemasyarakatan, yaitu mampu berkomunikasi dengan
siswa, sesama guru, dan masyarakat luas dalam konteks sosial;
3) Kompetensi personal, yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu
menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran: ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Kompetensi yang dimaksudkan dalam UU Nomor 14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen adalah berkenaan dengan kompetensi
pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan
kompetensi sosial. Kompetensi ini juga secara tegas digambarkan
dalam PP No. 19 tahun 2005. Kemudian standar tersebut dipertegas
dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005
tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.
Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah RI No.74 Tahun 2008 tentang Guru pada ayat (4) sampai
dengan ayat (7) dirumuskan ke dalam:
1) Standar kompetensi guru pada satuan pendidikan di TK atau RA,
2) Standar kompetensi guru kelas pada SD atau MI, dan pendidikan
formal bentuk lain yang sederajat;
3) Standar kompetensi guru mata pelajaran atau rumpun mata
pelajaran pada SMP atau MTs, SMA atau MA, SMK atau MAK
dan pendidikan formal bentuk lain yang sederajat; dan
4) Standar kompetensi guru pada satuan pendidikan TKLB, SDLB,
SMPLB, SMALB dan pendidikan formal bentuk lain yang
sederajat.
d. Jenis-jenis Kompetensi
Jenis-jenis kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi
sosial. Berikut adalah penjelasan masing-masing kompetensi tersebut:
1) Kompetensi Pedagogik
Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi pedagogik adalah
kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi
pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta
didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi ini harus diktualisasikan oleh setiap guru dalam
menciptakan iklim pembelajaran yang mendidik sebagai
perwujudan penguasaan kompetensi utama, kompetensi pendukung
dan kompetensi lainnya secara terintegrasi dan utuh (Mulyasa,
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru berkenaan
dengan penguasaan teoritis dan proses aplikasinya dalam
pembelajaran. Kompetensi tersebut paling tidak berhubungan
dengan (Janawi, 2012:47), yaitu:
a) Menguasai karakteristik peserta didik
Siswa atau peserta didik yang dilayani oleh guru adalah
individu-individu yang unik. Mereka bukanlah sekelompok
manusia yang dapat dengan mudah diatur, didikte, diarahkan
atau diperintah menurut kemauan guru. Mereka adalah subjek
yang memiliki latar belakang, karakteristik, keunikan,
kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu pemahaman
terhadap karakteristik peserta didik dan berbagai aspek
perkembangannya dan faktor-faktor yang memengaruhinya
merupakan syarat mutlak bagi guru agar guru dapat berhasil
dalam pembelajarannya (Marselus, 2001: 30).
Menurut Raharjo, guru sebagai profesi memiliki
karakteristik profesional minimum dan berdasarkan sintesis
temuan-temuan penelitian. Beberapa karakteristik profesional
minimum guru adalah; pertama, mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya; kedua, menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara
berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar
dari pengalamannya; dan kelima, menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya (Janawi, 2012:
66)
b) Menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran
Tugas utama guru adalah memengaruhi siswa bisa
belajar. Karena itu tidak terelakkan bahwa guru juga harus
menguasai dengan baik teori belajar, dan bagaimana
teori-teori itu diaplikasikan dalam pembelajaran melalui
model-model pembelajaran tertentu. Secara umum ada tiga teori
belajar yang masih berpengatuh sampai saat ini yakni
teori-teori behaviorisme, teori-teori-teori-teori kognitivisme, dan teori-teori-teori-teori
humanistic-konstruktivis. Ketiga teori ini meletakkan dasar
bagi berbagai model pembelajaran yang ada saat ini (Marselus,
2011: 32).
Selain menguasai teori-teori belajar dan pembelajaran,
guru juga harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik. Menurut T. Raka Joni, pembelajaran yang mendidik
adalah pembelajaran yang tidak hanya berupa penerusan
informasi, melainkan pembelajaran yang lebih banyak
memberikan peluang bagi peserta didik untuk pembentukan
kecerdasan, pemerolehan pengetahuan dan keterampilan. Ini
subjek aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang mendidik
juga berarti pembelajaran yang memberikan
pengalaman-pengalaman bermakna yang tidak hanya berguna untuk
kepentingan sesaat (seperti untuk menyelesaikan soal tes agar
bisa lulus), tetapi pembelajaran yang memberikan kemampuan
bagi siswa untuk bisa belajar sepanjang hayat (learning how to learn) (Marselus, 2011: 34).
c) Mengembangkan kurikulum dan rancangan pembelajaran
Pemahaman kurikulum harus selalu mengalami
perubahan dan perkembangan di dunia pendidikan. Diskursus
kurikulum menjadi perhatian penting para pakar pendidikan,
termasuk guru yang dianggap sebagai pelaku kurikulum secara
teknis dalam proses pembelajaran. Menurut Zamroni, salah
satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah
mempertimbangkan dua model, yaitu memperkuat hidden curriculum dan mengembangkan teknik refleksi diri ( self-reflection) (Janawi, 2012: 75).
Hidden curriculum adalah proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri siswa. Proses tersebut dilakukan
melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Guru
hendaknya melakukan proses pembelajaran yangbaik menjadi
belajar mengajar yang telah dilaksanakan untuk memperoleh
umpan balik.
d) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
Untuk memunculkan pembelajaran yang mendidik,
berbagai pendekatan telah dilakukan oleh pendidik, sekolah
dan penentu kebijakan. Sebelum guru menyelenggarakan
teknik pembelajaran yang mendidik, setiap guru harus
memahami tujuan belajar itu sendiri. Conny R. Semiawan
menyatakan bahwa belajar dapat ditelaah melalui dua hal, yaitu
secara mikro dan makro (Janawi, 2012: 84-85).
Secara mikro, belajar terkait dengan proses
pembelajaran itu sendiri. Pengaruh negatif dapat datang dari
luar dinding sekolah (lingkungan luar) ditambah pula oleh
orientasi pembelaran yang ditandai oleh ciri alternatif,
keterasingan anak didik dari proses belajar sesungguhnya.
Proses ini biasanya terjadi karena proses pembelajaran hanya
berlangsung satu arah. Guru lebih dominan
(mempertanggungjawabkan the body of materials), sementara anak cenderung pasif. Secara makro, pembelajaran ditinjau dari
adanya analisis dua jalur dalam pendekatan sistemnya yang
disebut analisis dua jalur (two road analysis). Jalur pertama (front-end: muka belakang) yaitu mencakup tiga komponen;
dengan bagaimana upaya menyelaraskan sasaran dan
relevansinya, analisis pekerjaan dapat dilakukan dari muka
(front) ke belakang (end), atau sebaliknya. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan proses pembelajaran perlu dilakukan
rancangan pembelajaran (instructional planning).
e) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
untuk kepentingan pembelajaran
Menurut Nana Sudjana, belajar dan mengajar sebagai
suatu proses, mengandung tiga unsure yang dapat dibedakan,
yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman (proses)
belajar mengajar, dan hasil belajar (Janawi, 2012: 86). Tujuan
Instruksional Khusus (TIK) menjadi dasar awal kegiatan
pembelajaran. Proses pencapaian pembelajaran diukur melalui
proses pertama, yakni tercapai atau tidak TIK itu sendiri. Jika
TIK tercapai, maka tujuan-tujuan berikutnya akan mengarah
pada tujuan akhir pendidikan, yakni proses perubahan perilaku
peserta didik (behavioral changing). TIK dalam proses belajar mengajar menjadi tujuan operasional dari setiap pembelajaran
yang terfokus pada mata pelajaran tertentu. Oleh karena itu
perumusan TIK tetap mengacu kepada pencapaian aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagaimana yang
f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik
Kemampuan guru lain adalah membantu peserta didik
mengaktualisasikan segenap potensinya. Siswa sebagai
individu memiliki berbagai bakat dan kemampuan yang
beragam. Karena itu tugas guru adalah menciptakan kondisi
sedemikian rupa agar berbagai potensi dan kemampuan yang
beragam itu dapat dikembangkan secara optimal. Salah satu
wahana untuk mengembangkan kemampuan, potensi, bakat
atau minat siswa adalah melalui kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler. Guru tidak hanya menjadi fasilitator belajar di
ruang kelas, tetapi juga harus menjadi fasilitator belajar di luar
ruang kelas pada situasi-situasi nonpembelajaran. Melalui
kegiatan pengembangan minat, bakat dan kemampuan siswa
ini, para siswa merasa dihargai dan memiliki peluang untuk
mengembangkan kemampuannya secara optimal tanpa
dihambat oleh berbagai kegiatan-kegiatan akademik pelajaran
semata (Marselus, 2011: 38).
g) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan
peserta didik
Kegiatan pembelajaran adalah suatu bentuk
komunikasi. Karena esensi dari pembelajaran adalah interaksi
antara individu-individu tertentu, sehingga terjadi pertukaran
lain-lain). Agar supaya guru dapat berinteraksi dengan siswa
dan dapat melaksanakan pembelajarannya secara efektif,
kemampuan komunikasi merupakan salah satu prasayaratnya.
Guru harus bisa berkomunikasi secara efektif dengan siswa
agar pesan-pesan pembelajaran dapat dipahami, dihayati atau
diamalkan oleh para siswa (Marselus, 2011: 39).
Dalam proses pembelajaran, komunikasi dibutuhkan
ketika seorang guru akan menyampaikan pesan (the body of materials) kepada peserta didik. Deddy Mulyana menyebutkan, komunikasi terjadi stidaknya melalui suatu sumber yang dapat
membangkitkan respon pada penerima melalui penyampaian
suatu pesan. Bentuknya berupa tanda atau simbol, baik bentuk
verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (non kata-kata), tanpa
harus memastikan terlebih dulu bahwa kedua belah pihak yang
berkomunikasi punya suatu sistem simbol yang sama (Janawi,
2012: 89).
h) Menyelenggarakan dan memanfaatkan evaluasi dan penilaian
proses dan hasil belajar
Supranata dan Hatta dalam Janawi mengartikan
evaluasi atau penilaian merupakan proses menyimpulkan dan
menafsirkan fakta-fakta dan membuat pertimbangan dasar yang
profesional untuk mengambil kebijakan pada sekumpulan
90). Pada umumnya evauasi dapat dijadikan sebagai proses
umpan balik (feedback process). Pertama, evalusi menjadi dasar untuk melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan
anak baik pada tiap proses pembelajaran, semester, dan
tahunan. Dalam dunia pendidikan, evaluasi tetap harus
dilakukan. Melalui evaluasi inilah, tujuan pembelajaran dapat
diketahui berhasil atau tidaknya, mencapai sasaran atau tidak.
Kedua, evaluasi menjadi umpan balik baik bagi guru maupun anak.
i) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
pembelajaran
Tindakan reflektif dalam dunia pendidikan adalah
sangat penting dilakukan. Tindakan reflektif menjadi acuan
peningkatan kualitas pendidikan, lebih khusus lagi kualitas
proses pembelajaran. Tindakan ini sering dilupakan oleh para
guru dan pelaku dunia persekolahan. Padahal dalam paradigma
dunia pendidikan modern, tindakan reflektif menjadi bagian
yang tak terpisahkan dalam proses peningkatan kualitas
pendidikan itu sendiri (Janawi, 2012: 95).
Salah satu ciri dari tugas guru sebagai seorang
profesional adalah kemampuan untuk merefleksikan praktiknya
dan melakukan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan
Kompetensi pedagogik harus senantiasa dimiliki dan
dikembangkan oleh seorang guru. Melalui kompetensi ini, guru
dapat mengelola kegiatan pembelajaran dimulai dari pemahaman
terhadap peserta didik sampai evaluasi belajar yang dilakukan oleh
guru.
2) Kompetensi Profesional
Seorang guru harus mampu memanusiakan anak didik, dan
membuat anak didik lebih mandiri dan bertanggung jawab dengan
apa yang menjadi tugasnya (Janawi, 2012: 98). Menurut Mulyasa
(2013: 42) kompetensi profesional adalah kemampuan pendidik
dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam
yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh
kompetensi yang ditetapkan.
Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar
tenaga pendidik. Ia akan disebut profesional, jika ia mampu
menguasai keahlian dan keterampilan teoritik dan praktik dalam
proses pembelajaran. Kompetensi ini cenderung mengacu kepada
kemampuan teoritik dan praktik lapangan (Janawi, 2012: 48).
Secara rinci, kemampuan profesional dapat dijabarkan sebagai
a) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan
yang sesuai dan mendukung bidang keahlian/bidang studi yang
diampu.
Menurut S. Nasution, orang yang menguasai bidang
ilmu tertentu akan lebih sering berpikir intuitif bila
dibandingkan dengan orang yangtidak menguasainya.
Kemudian orang yang menguasai struktur atau seluk beluk
bidang ilmu memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk
berpikir intuitif (Janawi, 2012: 101). Berpikir intuitif
merupakan proses pembuktian dan kajian lebih lanjut. Berpikir
intuitif dalam proses pembelajaran dianggap berbeda dengan
berpikir analitis. Berpikir analitis dilakukan melalui prosedur
dan langkah yang bertahap. Sedangkan berpikir intuitif tidak
dapat dilakukan oleh semua orang. Berpikir intuitif hanya dapat
dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan yang luas
sehingga jalan pemikirannya dapat melakukan lompatan dan
tidak menggunakan tahapan sebagaiamana berpikir analitis.
b) Memanfaatkan teknologi informasi dan teknologi (TIK) untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai bidang studi yang
diampu.
Peran teknologi dan media dalam pembelajaran sangat
penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
implementasi dan aplikasi bidangilmu lain maupun dalam
pengembangan IPTEK itu sendiri. Teknologi dan media dapat
banyak berperan dalam pembelajaran. Instruksi dapat
tergantung pada kehadiran dan keterampilan guru, bahkan pada
situasi ini media banyak digunakan oleh guru (Janawi 2012:
104).
Penggunaan teknologi dan informasi di dunia sekolah,
khususnya proses pembelajaran, telah dilakukan, namun
penggunaan tersebut masih cenderung pada media audio visual.
Para tenaga pendidik perlu merubah paradigma teknologi dari
pemahaman penggunaan pisik kepada terapan dan non pisik.
c) Menguasai filosofi, metodologi, teknis, dan fraktis penelitian
dan pengembangan ilmu yang sesuai dan mendukung bidang
keahliannya.
Ciri guru yang profesional adalah guru yang mampu
menguasai filosofi bidang keilmuan, metodologi bidang
keilmuan, dan teknis dan praktis bidang keilmuan. Tiap bidang
keilmuan, secara khusus lagi mata pelajaran yang disajikan di
sekolah, tentu memiliki karakteristik dan bangunan keilmuan
tersendiri. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berbeda
dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPS lebih memfokuskan
pada ilmu-ilmu sosial. Sedangkan IPA memfokuskan pada ilmu
sisi filosofi, metodologi, dan teknis pelaksanaan serta
praktisnya sangat jauh berbeda (Janawi, 2012: 119).
d) Mengembangkan diri dan kinerja profesionalitasnya dengan
melakukan tindakan reflektif dan penggunaan TIK.
Tuntutan pengembangan diri bagi guru adalah suatu hal
yang tidak dapat dihindari, karena guru harus senantiasa
berupaya untuk mengadopsi perkembangan-perkembangan
baru, baik bidang teknologi informasi maupun tuntutan
masyarakat. Selain faktor tersebut, karena kurikulum selalu
mengalami perbaikan dan perubahan (Janawi, 2012: 120).
Pengembangan diri dan kinerja profesional menjadi bagian
yang tak dapat dihindari. Pengembangan diri di antaranya dapat
dilakukan melalui kajian dan inovasi bidang tugas, melanjutkan
studi ke jenjang berikutnya sesuai dengan bidang keilmuan
yang relevan dengan tugas mengajar.
e) Meningkatkan kinerja dan komitmen dalam pelaksanaan
pengabdian kepada masyarakat.
Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan,
meneruskan atau menstransmisi kebudayaan. Dalam fungsi ini
sekolah lebih bersifat konservatif dan berusaha
mempertahankan status quo demi mempertahankan nilai-nilai yang telah berkembang dan disepakati oleh masyarakat. Akan
bangsa dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
yang cepat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Nasution dalam Janawi, 2012: 122).
Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
sekolah memegang peranan penting dalam melakukan
perubahan. Masyarakat memberikan penghargaan yang sangat
besar kepada sekolah sebagai agen perubahan. Bahkan muncul
kepercayaan bahwa yang dapat menginspirasi lahirnya tatanan
masyarakat baru hanyalah institusi sekolah dengan mesinnya,
yang dikenal dengan “guru”. Sekolah memegang peranan
penting dalam melakukan sosialisasi.
Dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
dinyatakan secara tegas bahwa hak dan kewajiban guru
meliputi:
(1) Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum
dan jaminan kesejahteraan sosial;
(2) Mendapat promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas
dan prestasi kerja;
(3) Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan
hak atas kekayaan intelektual;
(5) Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana
pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas
keprofesionalan;
(6) Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut
menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi
kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan,
kode etik guru, dan peraturanperundang-undangan;
(7) Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam
melaksanakan tugas;
(8) Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi
profesi;
(9) Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan
kebijakan pendidikan;
(10) Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan
dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;
(11) Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi
dalam bidangnya.
3) Kompetensi Kepribadian
Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki
sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan panutan dalam
seluruh segi kegidupannya. Tampilan kepribadian guru akan lebih
banyak mempengaruhi minat dan antusiasme anak dalam
Kepribadian yang menarik dan mempesona sangat dibutuhkan bagi
seorang tenaga pendidik karena tenaga pendidik merupakan sosok
yang memberikan kontribusi besar bagi pencapaian
prosespembelajaran baik dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor
(Janawi, 2012: 126-127). Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi
kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
dan berakhlak mulia.
Secara khusus kemampuan ini dapat dijabarkan berupa:
a) Berjiwa pendidik dan bertindak sesuai dengan norma agama,
hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
Guru yang baik adalah guru yang mampu melakukan
proses pembelajaran bersifat konstruktif. Pola dan model
pembelajaran yang berpusat pada anak dan tingkat keberhasilan
sangat ditentukan oleh seberapa besar mereka merasa perlu
belajar dan seberapa besar mereka siap untuk belajar. Menurut
Dede Rosyada, guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya
hanyalah fasilitas yang dapat diberdayakan seoptimal mungkin
memperoleh pengalaman dalam rangka meningkatkan
kompetensi yang diinginkan melalui proses pembelajaran
(Janawi, 2012: 127).
Guru tidak hanya bekerja mentransfer ilmu pengetahuan
dianut oleh masyarakat. Ia harus menjadi garda terdepan dalam
teladan moral yang tercermin dalam sikap, perilaku dan cara
hidupnya. Karakter inilah yang menyebabkan guru dianggap
sebagai sebuah tugas yang istimewa dan mulia di mata
masyarakat. Bertindak sesuai norma agama, norma hokum dan
norma sosial serta Kebudayaan Nasional Indonesia
mengharuskan guru untuk satu dalam kata dan perbuatan. Apa
yang diajarkannya kepada murid haruslah menjadi sikap dan
cara hidupnya yang selalu diterapkan secara konsisten
(Marselus, 2011: 51).
b) Tampil sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan
menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
Tugas guru sebagai seorang pribadi profesional juga
harus Nampak dalam eksistensi didirnya sebagai pribadi yang
jujur, berakhlak mulia dan menjadi suri teladan bagi siswa dan
masyarakat (Marselus, 2011: 53).
Menjadi pribadi yang jujur berarti berani untuk
mengakui kekurangan dan kelemahannya serta bersedia untuk
memperbaiki diri. Tuntutan untuk menjadi pribadi yang jujur
c) Tampil sebagai pribadi yang mantap, dewasa, stabil, dan
berwibawa.
Guru juga haruslah individu yang memiliki pribadi
yang stabil secara emosional sehingga mampu membimbing
siswa secara efektif. Ini memprasyaratkan bahwa guru
setidak-tidaknya harus memiliki kecerdasan emosional yang cukup.
Kecakapan dan kemampuan yang dimilikinya baik pedagogis
maupun keilmuan belumlah cukup apabila tidak dibarengi
dengan kestabilan emosional guru. Menjadi pribadi yang
matang secara emosional berarti guru haruslah mampu
mengendalikan diri, hawa nafsu, dan
kecenderungan-kecenderungan tertentu yang dimilikinya. Berhadapan dengan
siswa yang berasal dari berbagai macam latar belakang, watak
dan karakter, guru haruslah dapat menempatkan diri, mengelola
diri dan emosinya sehingga dapat berinteraksi secara efektif
dengan siswa (Marselus, 2011: 54-55).
d) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab, rasa bangga sebagai
tenaga pendidik dan rasa percaya diri.
Salah satu kompetensi kepribadian guru yang tidak
boleh diabaikan adalah memiliki etos kerja, tanggung jawab
dan rasa percaya diri. Seorang guru harus memiliki etos kerja
yang tinggi, memiliki rasa tanggung jawab, dan memiliki
melaksanakan tugasnya sebagai guru seorang guru. Di samping
itu, sikap-sikap tersebut akan menentukan proses pembelajaran
yang edukatif. Etos kerja akan muncul jika guru mencintai
profesinya dan telah menjadi bagian dari kepribadiannya.
Tanggung jawab guru juga mutlak diperankan. Kemudian rasa
percaya diri akan menentukan kemampuan guru dalam
memerankan tugas-tugas pengabdiannya sebagai tenaga
pendidik (Janawi, 2012: 133-134).
4) Kompetensi Sosial
Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi sosial adalah
kemampuan pendidik dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, dan masyarakat.
Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan guru berinteraksi
dengan peserta didik dan dengan orang yang ada di sekitar dirinya.
Modal interaksi berupa komunikasi personal yang dapat diterima
oleh peserta didik dan masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam
konteks ini hendaknya guru memiliki strategi dan pendekatan
dalam melakukan komunikasi yang cenderung bersifat horizontal.
Walaupun demikian, pendekatan komunikasi lebih mengarah pada
proses pembentukan masyarakat belajar (learning community), (Janawi, 2012: 50). Selanjutnya, kemampuan sosial dirinci sebagai
a) Bersikap inklusif dan bertindak objektif
Bersikap dan bertindak objektif adalah kemampuan
yang harus dimiliki guru agar guru selalu berkomunikasi dan
bergaul dengan peserta didik. Bagi peserta didik, guru adalah
sebagai pembimbing, motivator, fasilitator, penolong, dan
teman dalam proses pendidikan. Bertindak objektif berarti guru
juga dituntut berlaku bijaksana, arif, dan adil terhadap peserta
didik. Bijaksana dan arif dalam keputusan dan pergaulan, bijak
dalam bertindak, bijak dalam berkata, dan bijak dalam
bersikap. Kemudian guru dituntut untuk objektif dalam berkata,
objektif dalam berbuat, objektif dalam bersikap, dan objektif
dalam menilai hasil belajar. Bertindak objektif dapat pula
berarti bahwasannya guru sebagai figur sentral dalam proses
pembelajaran (apalagi untuk tingkat awal) harus senantiasa
memperlakukan peserta didik secara proporsional dan tidak
akan memilih, memilah, dan berlaku tidak adil terhadap peserta
didik (Janawi, 2012: 136).
b) Beradaptasi dengan lingkungan tempat bertugas dan dengan
lingkungan masyarakat
Beradaptasi dengan lingkungan adalah kemampuan
yang dituntut pada seorang guru. Beradaptasi dengan
lingkungan berarti seorang guru perlu melakukan penyesuaian
lingkungan masyarakat umumnya. Di lingkungan sekolah, guru
diharapkan dapat beradaptasi dengan teman-teman kolegial
profesi dan menyesuaikan diri dengan anak dalam proses
pembelajaran.
Beradaptasi dengan lingkungan tugas guru berarti
proses adaptasi menjadi bagian terpenting dalam
berkomunikasi. Adaptasi berhubungan dengan konsep diri.
Sullivan dalam Janawi mengungkapkan bahwa jika diri
seseorang diterima, dihormati, dan disenangi orang lain, maka
ia akan menyenangi dirinya. Sebaliknya, bila oranlain selalu
meremehkan, menyalahkan, dan menolak keberadaan dirinya,
maka orang itu akan cenderung tidak menyenangi dirinya
sendiri (Janawi, 2012: 137).
c) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan
komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, secara lisan dan
tulisan atau bentuk lain.
Kompetensi sosial dapat dilihat dalam berkomunikasi
secara efektif. Guru sebagai inspirator dan motivator dalam
proses pembelajaran memiliki peran penting dalam melakukan
komunikasi yang efektif. Maksudnya, guru dituntut untuk
berkomunikasi dan bergaul dengan kolegialnya, anak didik,
dilakukan saling percaya bukan saling curiga di lingkungan
sosial, termasuk lingkungan belajar (Janawi, 2012: 139).
d) Berkomunikasi secara empatik dan santun dengan masyarakat
luas.
Sikap empatik dan santun menjadi barometer dalam
berkomunikasi. Sikap dan perilaku serta tutur bahasa akan
menentukan atmosphere komunikasi. Soetjipto dalam Janawi menegaskan, seorang guru akan dikatakan profesional apabila
ia memiliki citra di masyarakat. Ia layak menjadi panutan atau
teladan mayarakat sekelilingnya (Janawi, 2012: 141).
Sikap empatik dan santun dapat diaplikasikan dalam
cara melakukan kritik, teguran, dan nasihat. Bahasa menjadi
solusi alternatif dalam menyampaikan kritik, teguran, dan
nasihat tersebut. Bhkan empatik dan santun menjadi kunci
keberhasilan dalam berkomunikasi baik dengan anak didik,
sesama profesi, dan masyarakat. Empatik dan santun
merupakan cara dan pendekatan yang dilakukan guru dalam
melakukan komunikasi dengan anak, sesama kolega, dan
masyarakat.
Keempat kompetensi di atas adalah kompetensi mutlak yang
harus dikuasai oleh semua guru. Keempatnya menjadi kompetensi
standar dan menjadi standar mutu guru (pendidik) dalam bidang
mampu mengembangkan proses pembelajaran pada satuan pendidikan
(Janawi, 2012:50-51).
e. Karakteristik Tanggung Jawab dan Kompetensi Guru
Menurut Janawi (2012: 52-56), beberapa karakteristik
tanggung jawab guru yang berhubungan dengan kompetensi guru,
yaitu:
1) Tanggung jawab dan kompetensi guru
Guru adalah refleksi dari sebagian manusia yang memiliki
tugas dan fungsi sebagai tenaga pendidik. Seorang guru profesional
harus memnuhi persyaratan sebagai manusia, bertanggung jawab
dalam bidang kependidikan. Guru selaku pendidik bertanggung
jawab untuk mentransformasikan dan mewariskan nilai-nilai dan
norma-norma kepada generasi berikutnya. Transformasi tersebut
menjadi proses konversi nilai, bahkan melalui proses pendidikan
diupayakan terciptanya nilai-nilai baru yang sesuai dengan nilai
dan norma masyarkat.
Guru akan mampu melaksanakan tanggung jawabnya
apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan untuk itu. Setiap
tanggung jawab membutuhkan sejumlah kompetensi. Tanggung
jawab tersebut akan merefleksikan pribadi guru sebagai pendidik