ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerahNya sehingga kami dapat menyelesaikan modul Praktik Akuntansi Manajemen. Modul ini membantu bagi mahasiswa dan pembaca pada umumnya untuk memahami dan mendapatkan gambaran yang lebih konkrit berkaitan dengan pengendalian biaya dan pengambilan keputusan bagi manajemen perusahaan atau organisasi dengan menggunakan data akuntansi keuangan dan akuntansi biaya.
Modul ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama merupakan penjelasan mendasar berkaitan dengan konsep akuntansi manajemen dan fungsinya bagi manajemen perusahaan atau organisasi, khususnya untuk pengendalian biaya dan pengambilan keputusan manajemen. Bagian kedua merupakan soal-soal kasus pada perusahaan PT Solo Mandiri yang berkaitan dengan analisis data akuntansi keuangan dan akuntansi biaya untuk kepentingan manajemen, khususnya untuk pengendalian biaya dan pengambilan keputusan. Bagian ketiga merupakan kertas kerja yang digunakan untuk mengerjakan soal-soal kasus manajerial dari perusahaan PT Solo Mandiri.
Modul ini dirancang untuk pengguna yang berkepentingan terhadap pengendalian biaya dan pengambilan keputusan dengan menggunakan data akuntansi keuangan dan akuntansi biaya. Namun demikian, modul ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, besar harapan kami atas kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan modul ini. Kiranya, semoga modul ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Surakarta, September 2019
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
INFORMASI UMUM ……… v
BAGIAN I BAB I KONSEP BIAYA DAN PERILAKU BIAYA Akuntansi Manajemen vs Akuntansi Keuangan ……….. 1
Pengertian Biaya ……….….. 2
Klasifikasi Biaya………... 2
Klasifikasi Biaya Berdasarkan Fungsi Biaya ……… 3
Klasifikasi Biaya Berdasarkan Perilaku Biaya ……… 7
Klasifikasi Biaya Berdasarkan Pembebanan Biaya ……… 15
Klasifikasi Biaya untuk Pengambilan Keputusan ……… 12
BAB II METODE PENENTUAN BIAYA DAN CVP ANALYSIS Metode Penentuan Biaya………... 17
Absorption Costing ………... 17
Variable Costing ………. 17
Klasifikasi Biaya berdasarkan Variable dan Absorption Costing……. 18
Perbandingan Biaya Produk Per unit ……… 18
Perbandingan Laporan Laba Rugi………. 18
Dampak Laba Komparatif ……….……….. 22
JIT dan Absorprtion costing……….. 24
Analisis Biaya Volume Laba..………... 24
Pendekatan Marjin Kontribusi ………... 22
Risiko dan Ketidakpastian ……… 32
BAB III BIAYA STANDAR DAN ANGGARAN FLEXIBLE Biaya Standar ……….. 35
Anggaran Fleksibel dan Analisis Kinerja..………... 42
Laporan Kinerja BOP ………... 35
Analisis Selisih BOP ……… 38
BAB IV BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS Pendahuluan……….… 50
Model Activity-based Costing ……….. 50
Perbedaan antara Tradisional Costing dan ABC Costing ………. 50
Hirarki Biaya ……… 50
Langkah Implementasi...………. 51
iv
BAB V RELEVANT COSTS DAN CAPITAL BUDGETING
Biaya Relevan ………. 60
Keputusan Menghentikan atau Mempertahankan Segmen………… 60
Keputusan Membuat atau Membeli ……… 62
Keputusan Pesanan Khusus ……… 63
Keputusan adanya Sumberdaya Terbatas ……….. 64
Keputusan Menjual Langsung atau Memproses Lanjut ………. 66
Keputusan Penganggaran Modal ………. 67
Penganggaran Modal……… 70
Metode Capital Budgeting yang Lain……...………. 75
BAB VI INFORMASI UMUM DAN KASUS-KASUS MANAJERIAL PADA PT SOLO MANDIRI Profil Perusahaan ……….. 78
Kebijakan Akuntansi ……… 78
Daftar Akun/Rekening ………. 79
Transaksi selama bulan Desember 2007 ………. 82
Kasus 1 ………. 83 Kasus 2 ………. 83 Kasus 3 ………. 84 Kasus 4 ………. 85 Kasus 5 ………. 86 Kasus 6 ………. 88 Kasus 7 ………. 88 Kasus 8 ………. 89 Kasus 9 ………. 89 Kasus 10 ………. 90 Kasus 11 ………. 90 Kasus 12 ………. 91 Kasus 13 ………. 91
v
INFORMASI UMUM
Modul Praktik Akuntansi Manajemen ini disusun dengan tujuan untuk memberikan latihan secara praktis kepada mahasiswa, khususnya dan umumnya kepada praktisi agar dapat melakukan pengendalian biaya dan pengambilan keputusan manajemen. Dengan Modul Praktik Akuntansi Manajemen ini, mahasiswa tidak hanya mengerjakan kasus secara parsial tetapi juga dapat mengerjakan kasus yang mendekati kenyataan yang sesungguhnya terjadi dalam operasi perusahaan atau organisasi.
Modul Praktik Akuntansi Manajemen ini disusun untuk kepentingan praktik mahasiswa yang memerlukan waktu pengerjaan minimal 16 kali tatap muka, masing-masing 150 menit untuk setiap tatap muka. Mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan kasus ini tepat waktu sesuai dengan jadwal seperti berikut:
PERTEMUAN
KE- MATERI
1 Penjelasan Silabus
2 Bab I: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya 3 Bab II: Variable Costing dan CVP Analysis 4 Bab III: Standard Costs dan Flexible Budget 5 Kasus 1: Klasifikasi Biaya dan Perilaku Biaya 6 Kasus 2: Variable Costing dan CVP Analysis 7 Kasus 3: Standard Costs dan Flexible Budget 8 Bab IV: Activity-based Costing
9 Bab V: Relevant Cost dan Capital Budgeting 10 Kasus 4: ABC Systems
11 Kasus 5: Keputusan Menghentikan/Mempertahankan Divisi 12 Kasus 6: Keputusan Membuat Sendiri atau Membeli
Kasus 7: Keputusan Menerima atau Menolak Pesanan Khusus 13 Kasus 8: Keputusan Menjual atau Memproses Lanjut
Kasus 9: Menerima atau Menolak Proyek Baru
14 Kasus 10: Membeli Mesin Baru atau Memperbaiki Mesin Lama 15 Kasus 11: Peringkatan Proyek Investasi
16 Kasus 12: Keputusan Investasi dengan Payback Method Kasus 13: Keputusan Investasi dengan Simple Rate of Return
BAB I
KONSEP BIAYA DAN PERILAKU BIAYA
1. AKUNTANSI MANAJEMEN VS AKUNTANSI KEUANGAN
Dalam menjalankan sebuah bisnis, manajemen selalu dihadapkan dalam pengambilan keputusan. Keputusan dalam bisnis membutuhkan informasi salah satunya informasi keuangan. Penggunadari informasi keuangan adalah pihak internal dan pihak eksternal. Informasi untuk pihak internal sering disebut dengan akuntansi manajemen sedangkan untuk pihak eksternal adalah akuntansi keuangan.
Bedasarkan Garison (2011) perbedaan utama dari akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan diantaranya terletak pada pihak pengguna dari informasi yang dihasilkan dan keharusan suatu perusahaan untuk menerapkannya. Akuntansi Keuangan mengolah data untuk menghasilkan informasi keuangan yang ditujukan kepada pihak eksternal perusahaan. Misalnya investor, kreditor, regulator, konsumen, serikat pekerja, dan lain lain. Akuntansi keuangan bersifat mandatory, yang berarti harus dilakukan. Hal ini sejalan dengan peraturan dan regulasi yang dibuat untuk diberlakukan pada suatu negara, misalnya di Indonesia terdapat Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dijadikan acuan.
Akuntansi manajemen mengolah data untuk menghasilkan informasi keuangan yang ditujukan kepada pihak internal perusahaan. Misalnya untuk manajemen perusahaan, divisi pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia. Akuntansi manajemen tidak bersifat mandatory. Tidak ada badan pengatur atau lembaga luar lainnya yang menyatakan secara spesifik terkait keharusan untuk menerapkan akuntansi manajemen pada suatu perusahaan, karena penerapan akuntansi manajemen bersifat optional. Hal ini digunakan untuk mendukung keputusan-keputusan seperti berapa penentuan harga jual suatu produk, keputusan peningkatan gaji dan upah, keputusan meneruskan atau memberhentikan suatu produk, dan lain-lain.
Berikut ini merupakan tabel perbandingan antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan,
Unsur Pembeda Akuntansi Manajemen Akuntansi Keuangan Pemakai utama
informasi Pihak internal perusahaan Pihak eksternal perusahaan Restriksi
Tidak ada aturan yang mengikat (mandatory); justifikasi berdasarkan manfaat-biaya
Prinsip akuntansi yang berlaku umum adalah aturan yang bersifat mandatory Jenis Informasi Informasi keuangan dan non
keuangan
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
2
Orientasi waktu Berorientasi masa depan Berorientasi masa lalu Lingkup
Informasi
Informasi yang disajikan terperinci
Informasi yang disajikan ringkas
Bidang pengetahuan
Terkait dengan berbagai bidang pengetahuan
Terkait dengan bidang pengetahuan akuntansi
Akuntansi manajemen berfokus pada perencanaan (planning) dan pengawasan (control). Perencanaan mencakup penetapan tujuan dan menguraikan bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut, sedangkan pengendalian mencakup langkah-langkah yang diambil untuk memastikan bahwa tujuan tersebut tercapai. Manajer membutuhkan informasi tentang perusahaan agar dapat mejalankan dengan baik tanggung jawab dari tugas perencanaan dan pengawasan. Peran akuntansi dalam kondisi ini sering berkaitan dengan aktivitas penentuan biaya-biaya pada suatu perusahaan.
2. PENGERTIAN BIAYA
Konsep kos dalam akuntansi manajemen sangat penting, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mengenai arti kos. Kos diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat masa sekarang atau masa yang akan datang. Biaya adalah kos barang atau jasa yang telah digunakan untuk memperoleh pendapatan. Saat barang dan jasa dimanfaatkan, kos akan menjadi biaya. Selisih antara pendapatan dan biaya akan menjadi laba atau rugi.
3. KLASIFIKASI BIAYA
Penggunaan istilah biaya diartikan secara berbeda-beda pada manajemen akuntansi, alasannya karena terdapat banyak tipe dari biaya-biaya. Biaya-biaya tersebut diklasifikasikan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan manajemen, seperti kebutuhan data mengenai biaya untuk pembuatan laporan keuangan eksternal, menyediakan perencanaan anggaran, atau untuk membuat keputusan. Masing-masing penggunaan data mengenai biaya mungkin menuntut jenis biaya yang berbeda pula, contohnya data biaya historis, biasanya digunakan untuk menyediakan laporan keuangan eksternal, sedangkan untuk pembuatan keputusan mungkin dibutuhkan data biaya saat ini. (Garrison, Noreen, and Brewer, 2006:35-36).
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
3
Tujuan Klasifikasi Dan Klasifikasi Biaya
NO Tujuan Klasifikasi Klasifikasi Biaya
1 Penyajian Laporan Keuangan: Laporan Laba Rugi dan Neraca
Biaya Produksi
• Bahan Baku Langsung • Tenaga Kerja Langsung • Biaya Overhead Pabrik
Biaya Nonproduksi (Biaya Periodik) • Biaya Penjualan dan Pemasaran • Biaya Administrasi
2 Prediksi Kos berkaitan dengan perubahan aktivitas
• Biaya Variabel • Biaya Tetap
• Mixed Cost / Semi-Variable Cost 3 Pembebanan Biaya
• Biaya Langsung (Direct costs) • Biaya Tidak Langsung (Indirect costs)
4 Pembuatan/Pengambilan Keputusan
• Biaya Diferensial
• Biaya Tertanam (Sunk costs) • Biaya Peluang (Opportunity costs)
3.1 KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN FUNGSI BIAYA Aliran Biaya Pada Perusahaan “Manufaktur”
Perusahaan manufaktur terlibat dalam banyak aktivitas dibandingkan dengan perusahaan tipe lainnya, karena melakukan kegiatan dari memperoleh bahan baku, memproduksi barang jadi, pemasaran, distribusi, penagihan dan seluruh kegiatan bisnis lain pada umumnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang klasifikasi biaya pada perusahaan manufaktur dapat sangat berguna untuk menentukan biaya-biaya yang termasuk dalam kegiatan operasional berupa produksi, dan biaya apa saja yang termasuk dalam biaya non produksi (periodik). Misalnya, Unilever, Indofood, Samsung, BMW, dan Adidas
Biaya produksi pada perusahaan manufaktur dibagi dalam tiga kategori, yaitu biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Sedangkan, biaya non produksi (periodik) terbagi ke dalam dua kategori, yaitu biaya penjualan dan pemasaran, serta biaya administrasi. Berikut ini merupakan bagan yang menggambarkan mengenai biaya produksi dan biaya non produksi (periodik).
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
4
Sumber: Garrison, Noreen, and Brewer, 2006. 1. Biaya Produksi
Semua biaya yang terlibat dalam membuat suatu produk, yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
• Biaya Bahan Baku, nilai bahan baku yang digunakan dalam proses produksi untuk diubah menjadi produk jadi. Contoh, kertas sebagai bahan untuk pembuatan buku.
• Biaya Tenaga Kerja Langsung, besarnya nilai gaji dan upah tenaga kerja yang yang terlibat langsung untuk mengerjakan produk. Contoh, upah buruh pabrik. • Biaya Overhead Pabrik, semua biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Contoh, depresiasi peralatan, bangunan pabrik, bahan pembantu, biaya tenaga kerja tidak langsung.
2. Biaya Nonproduksi
Biaya yang berkaitan dengan fungsi desain, pengembangan, pemasaran, distribusi, layanan pelanggan, dan adminstrasi umum. Biaya nonproduksi meliputi biaya penjualan dan pemasaran serta biaya administrasi.
• Biaya Penjualan dan Pemasaran, biaya yang terjadi untuk memasarkan produk atau jasa. Contoh, biaya iklan di tv, biaya pengiriman produk ke konsumen.
• Biaya Administrasi, biaya yang terjadi dalam rangka mengarahkan, menjalankan dan mengendalikan perusahaan. Contoh, biaya perlengkapan
Barang dijual Biaya-biaya Pembelian bahan baku Tenaga Kerja Langsung Overhead Pabrik Penjualan dan administrasi
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Persediaan bahan baku Bahan langsung yang digunakan dalam produksi
Persediaan barang dalam proses
Barang jadi (harga pokok produksi
Persediaan Barang jadi
Laporan Laba Rugi Harga pokok
penjualan Beban penjualan dan administrasi
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
5
kantor, biaya gaji karyawan kantor, biaya listrik kantor, dan lain-lain. 3.1.1 CONTOH ALIRAN BIAYA
Berikut data dan informasi pada perusahaan Manufaktur “ABC” bulan lalu: Pembelian Bahan Baku ... $ 200.000
Tenaga Kerja Langsung ... 270.000 Biaya Overhead Pabrik:
Bahan Pembantu ... 5.000 Tenaga Kerja Tidak Langsung ... 100.000 Biaya Lain-lain ... 80.000 PBB Pabrik ... 36.000 Asuransi Pabrik ... 9.000 Sewa Peralatan ... 70.000 Depresiasi Pabrik ... 120.000 Total Biaya Overhead Pabrik ... $ 420.000 Data tambahan pada perusahaan Manufaktur “ABC” :
Persediaan Bahan Baku:
Persediaan Awal Bahan Baku ... $ 10.000 Pembelian Bahan Baku ... 200.000 Persediaan Akhir Bahan Baku ... 30.000 Bahan Baku yang digunakan untuk produksi ... ? Persediaan Barang dalam Proses:
Persediaan Awal Barang dalam Proses ... $ 40.000 Total Biaya Produksi ... ? Persediaan Akhir Barang dalam Proses ... 60.000 Harga Pokok Produksi ... ? Persediaan Barang Jadi:
Persediaan Awal Barang Jadi ... $ 130.000 Harga Pokok Produksi ... ? Persediaan Akhir Barang Jadi ... 80.000 Harga Pokok Penjualan ... ? Penghitungan Bahan Baku yang digunakan untuk produksi:
Persediaan Awal Bahan Baku ... $ 10.000 + Pembelian Bahan Baku ... 200.000 – Persediaan Akhir Bahan Baku... 30.000 = Bahan Baku yang digunakan untuk produksi ... $ 180.000 Penghitungan Total Biaya Produksi:
Bahan Baku yang digunakan untuk produksi ... $ 180.000
+ Tenaga Kerja Langsung………... 270.000
+ Biaya Overhead Pabrik ... 420.000 = Total Biaya Produksi... $ 870.000
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
6
Penghitungan Harga Pokok Produksi:
Persediaan Awal Barang dalam Proses ... $ 40.000 + Total Biaya Produksi... 870.000 – Persediaan Akhir Barang dalam Proses ... 60.000 = Harga Pokok Produksi ... $ 850.000 Penghitungan Harga Pokok Barang Terjual:
Persediaan Awal Barang Jadi... $ 130.000 + Harga Pokok Produksi ... 850.000 – Persediaan Akhir Barang Jadi ... 80.000 = Harga Pokok Barang Terjual ... $ 900.000 3.1.2 SKEDUL HARGA POKOK PRODUKSI
Perusahaan Manufaktur “ABC” Laporan Harga Pokok Produksi Bahan Baku:
Persediaan Awal Bahan Baku ... 10.000 Ditambah: Pembelian Bahan Baku ... 200.000 Bahan Baku tersedia untuk produksi ... 210.000 Dikurangi: Persediaan Akhir Bahan Baku ... 30.000
Bahan Baku yang digunakan untuk produksi ... 180.000 Tenaga Kerja Langsung ... 270.000 Biaya Overhead Pabrik:
Bahan Pembantu ... 5.000 Tenaga Kerja Tidak Langsung ... 100.000 Biaya Lain-lain Pabrik... 80.000 PBB Pabrik ... 36.000 Asuransi Pabrik ... 9.000 Sewa Peralatan ... 70.000 Depresiasi Pabrik ... 120.000
Total Biaya Overhead Pabrik ... 420.000 Total Biaya Produksi... 870.000 Lanjutan:
Total Biaya Produksi... 870.000 Ditambah: Persediaan Awal Barang dalam Proses ... 40.000
910,000
Dikurangi Persediaan Akhir Barang dalam Proses ... 60,000 Harga Pokok Produksi ... 850.000
Harga Pokok Barang Terjual
Persediaan Awal Barang Jadi... 130.000 Ditambah: Harga Pokok Produksi ... 850.000 Barang tersedia dijual ... 980.000
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
7
Dikurangi: Persediaan Akhir Barang Jadi... 80.000 Harga Pokok Barang Terjual ... 900.000 3.2 KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN PERILAKU BIAYA
3.2.1 BIAYA VARIABEL
Biaya variabel adalah biaya yang berubah sebanding dengan perubahan aktivitas. Perilaku biaya variabel dapat diringkas berikut ini:
Perilaku Biaya Variabel
Dalam Total Per Unit
Total biaya variabel meningkat dan menurun dalam proporsi perubahan
aktivitas.
Biaya variabel per unit konstan.
Contoh: Perusahaan Manufaktur “ABC” membuat microwave oven. Setiap oven memerlukan alat penghitung waktu seharga $ 30. Harga per unit dan harga total dari alat tersebut pada beberapa level aktivitas adalah berikut:
Harga per Unit Jumlah Produksi Total Biaya Variabel
$ 30 1 unit $ 30
$ 30 10 unit $ 300
$ 30 100 unit $ 3.000
$ 30 200 unit $ 6.000
Contoh biaya yang umumnya bersifat variabel terhadap perubahan volume adalah berikut ini :
• Perusahaan Dagang:
Harga Pokok Barang Terjual (Cost of Good Sold) Biaya Penjualan dan Administrasi Umum :
Komisi
Biaya klerikal, misalnya invoicing Biaya pengiriman
• Perusahaan Manufaktur: Biaya Produksi :
Biaya Pokok (prime cost): Bahan Baku Langsung
Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik :
Bahan Pembantu Pelumas
Perlengkapan Listrik
Biaya Penjualan dan Administrasi Umum: Komisi
Biaya klerikal, misalnya invoicing Biaya pengiriman
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
8
• Organisasi Jasa
Perlengkapan, travel, klerikal
GRAFIK PERILAKU BIAYA VARIABLE
100 200
0 $3,000 $6,000
Microwaves produced Total Variable Cost
3.2.2 BIAYA TETAP
Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah dengan adanya perubahan aktivitas pada rentang yang relevan. Perilaku biaya tetap dapat diringkas berikut ini:
Perilaku Biaya Tetap
Dalam Total Per Unit
Total biaya tetap tidak berubah terhadap perubahan level aktivitas pada rentang
relevan (relevant range).
Biaya tetap per unit menurun bila aktivitas meningkat dan sebaliknya
biaya tetap akan meningkat bila aktivitas menurun.
Contoh: Perusahaan Manufaktur “ABC” membayar sewa pabrik sebesar $ 9.000 per bulan. Biaya sewa total dan per unit pada level aktivitas adalah berikut:
Biaya Sewa per bulan Jumlah Produksi Per unit
$ 9.000 1 unit $ 9.000
$ 9.000 10 unit $ 900
$ 9.000 100 unit $ 90
$ 9.000 200 unit $ 45
1. TIPE BIAYA TETAP
• Biaya Tetap Komitmen (committed fixed costs), biaya yang berkaitan dengan investasi aset tetap yang tidak dapat diubah secara signifikan dalam jangka waktu pendek tanpa melakukan perubahan fundamental. Contoh:
• Depresiasi aset tetap • Gaji manajemen puncak.
• Biaya Tetap Kebijakan (discretionary fixed costs), biaya ini muncul dari keputusan tahunan manajemen untuk pengeluaran dalam jumlah tertentu tanpa
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
9
dipengaruhi besar kecilnya aktivitas perusahaan. Biaya ini dapat dikurangi dalam jangka pendek. Contoh:
• Periklanan • Riset • Humas
• Program Pengembangan Manajemen. 2. GRAFIK PERILAKU BIAYA TETAP
100 200
0 $9,000
Microwaves produced Total Fixed Cost
3.2.3 BIAYA CAMPURAN (MIXED COST/SEMI-VARIABLE COST)
Biaya Campuran mengandung dua elemen biaya, yaitu biaya variabel dan biaya tetap.
Contoh: PT ABC mengeluarkan biaya listrik untuk membuat microwave $2.500 per tahun, ditambah biaya sebesar $0.02 per produksi microwave untuk biaya penerangan pabrik. . Penambahan Photo 10,000 0 $0 $2,800 Elemen Biaya Variabel Elemen Biaya Tetap $2,500 15,000 5,000 Biaya Listrik Intercept = a Slope = b X Y
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
10
Persamaan garis lurus: Y = a + bX
Y = $2,500 + $0.02X
3.2.3.1 METODE UNTUK MEMISAHKAN BIAYA SEMI VARIABEL (BIAYA CAMPURAN)
Biaya semivariabel mengandung unsur biaya variabel dan biaya tetap. Agar analisis dan estimasi biaya lebih maka biaya semi variabel harus dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Estimasi pemisahan biaya semi variabel dapat menggunakan salah satu metode berikut :
a. Metode Highest and Lowest Point method (Metode Titik Tertinggi dan Terendah)
b. Metode Scatterplot (Metode Grafik)
c. Metode Least Squares Regression Method (Regresi Kuadrat Terkecil)
A. Metode Highest and Lowest Point method (Metode Titik Tertinggi dan Terendah)
Metode titik tertinggi dan terendah adalah metode estimasi unsur variabel dan tetap dari biaya semivariabel dengan mengidentifikasi biaya yang berubah dan biaya yang tidak berubah dengan adanya perubahan aktivitas antara aktivitas tertinggi dan aktivitas terendah.
Contoh: Perusahaan Manufaktur “ABC” mengeluarkan biaya pengiriman selama 8 (delapan) bulan berikut ini.
Unit Dijual Biaya Pengiriman Januari ... 6.000 66.000 Februari ... 5.000 65.000 Maret ... 7.000 70.000 April ... 9.000 80.000 Mei ... 8.000 76.000 Juni ... 10.000 85.000 Juli ... 12.000 100.000 Agustus... 11.000 87.000
Dengan menggunakan high-low method, hanya untuk periode yang memiliki aktivitas terendah dan tertinggi yang digunakan untuk mengestimasi komponen biaya campuran menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
Unit dijual
Biaya Pengiriman Aktivitas tinggi, Juli ... 12.000 100.000 Aktivitas rendah, Februari ... 5.000 65.000 Perubahan ... 7.000 35.000 unit per unit aktivitas Perubahan biaya Perubahan Variabel Biaya $5 000 . 7 000 . 35 $ = = =
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
11
= $ 100.000 – (12.000 unit x $5 per unit) = $ 40.000
Formula biaya pengiriman adalah: Y = 40.000 + $5X . $0 $20,000 $40,000 $60,000 $80,000 $100,000 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 Units Sold S h ip p in g C o st s Y X Variable Cost $5/unit Fixed Cost $40,000 low level of activity high level of activity
Metode ini memiliki dua kelemahan utama, yaitu:
1. Hanya menganalisis dua data, yaitu titik tertinggi dan titik terendah. 2. Volume tertinggi dan terendah untuk tiap periode biasanya tidak sama 3. Aktivitas tertinggi tidak selalu diikuti biaya tertinggi dan sebaliknya Selain kelemahan terdapat kelebihan apabila menggunakan metode ini, yaitu :
1. Sederhana, hanya diperlukan data historis aktivitas dan biaya unsur variabel serta unsur biaya tetap
2. Mudah diterapkan, formula dan tahapan dari metode ini tidak rumit.
B. Metode Scatterplot (Metode Grafik)
Metode Scatterplot atau dapat disebut sebagai metode grafik adalah suatu metode penetuan persamaan suatu garis dengan menggambarkan data dalam suatu garis. Grafik biaya mencerminkan sebaran biaya untuk berbagai tingkat aktivitas.
iabel biaya elemen biaya Total tetap Biaya = − var
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
12
Contoh: Berikut data transaksi perusahaan manufaktur “ABC” pada beberapa kuartal tahun terakhir. Kuartal Jumlah Order Biaya Tahun 1—1 1.500 $ 42.000 2 1.900 $ 46.000 3 1.000 $ 37.000 4 1.300 $ 43.000 Tahun 2—1 2.800 $ 54.000 2 1.700 $ 47.000 3 2.100 $ 51.000 4 1.100 $ 42.000 Tahun 3—1 2.000 $ 48.000 2 2.400 $ 53.000 3 2.300 $ 49.000
Berdasarkan data di atas, plot pada grafik akan nampak berikut ini.
$0 $10,000 $20,000 $30,000 $40,000 $50,000 $60,000 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 $48,000 Number of Orders B ill in g C o s ts X Y Regression Line
Garis lurus yang digambarkan pada grafik diatas digunakan untuk mengestimasi elemen biaya tetap dan biaya variabel.
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
13
Y= a + bX.
• Intersepsi vertikal, kira-kira $30.000 untuk mengestimasi biaya tetap. • Slop garis lurus merupakan estimasi biaya variabel per unit.
Bila dipilih data untuk 2.000 pesanan:
Total biaya……….. $48.000
Dikurangi biaya tetap ... $30.000 Biaya variabel ... $18.000 Biaya variabel per unit = $18.000 ÷ $2.000 = $9 per pesanan.
Oleh karena itu, formula biaya adalah $30.000 per kuartal ditambah $9 per pesanan atau:
Y = 30.000 + 9X dimana X adalah jumlah pesanan.
Kelemahan metode ini adalah kurang akurat. Hal tersebut disebabkan grafik dari pola biaya yang digambarkan dianggap kasar, karena pada saat menggambar grafik hanya garis lurus tanpa menghubungkn semua titik-titik yang ada.
Sedangkan, kelebihan menggunakan metode ini adalah, 1. Visualisasi garis persamaan estimasi
2. Visualisasi ketepatan pemilihan pemicu biaya C. LEAST-SQUARES REGRESSION METHOD
Least-squares regression method adalah metode estimasi unsur variabel dan tetap biaya semivariabel dengan meregresi aktivitas terhadap biaya aktivitas tersebut. Metode ini digunakan untuk menganalisis biaya campuran dengan menggunakan formula matematis untuk menentukan garis regresi yang meminimumkan jumlah kuadrat “errors.”
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
14
Contoh: Perusahaan “Manufaktur” mengoperasikan kafe untuk karyawannya. Manajemen menginginkan untuk mengetahui bagaimana biaya kafe dipengaruhi oleh jumlah makanan yang disediakan.
Makanan yang disediakan (X) Total Biaya (Y) April ... 4000 9.500 Mei ... 1.000 4.000 Juni ... 3.000 8.000 Juli ... 5.000 10.000 Agustus... 10.000 19.500 September... 7.000 14.000
Dengan menggunakan program statistik atau spreadsheet penghitungan dapat dilakukan dengan least-squares method. Hasilnya adalah berikut ini:
Intersepsi (biaya tetap) ……… 2.433 Slop (biaya variabel) ……… 1,68
R2 ……….. 0,99
Biaya tetap sebesar $2.433 per bulan dan biaya variabel sebesar $1,68 per sajian, atau:
Y = 2.433 + 1,68X, dimana X adalah makanan yang disajikan.
R2 merupakan ukuran kesesuaian (goodness of fit) garis regresi. Hal ini mengindikasikan bahwa 99% variasi biaya kafe tergantung atas jumlah makanan yang disajikan.
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
15
Kelemahan metode least-squares regression adalah 1. Tingkat Kerumitan
2. Sumber daya manusia harus memadai untuk mengoperasikan software
Sedangkan kelebihan yang ada di metode ini adalah, Setiap titik data aktivitas dan biaya aktivitas diepertimbangkan dalam menentukan biaya variabel dan biaya tetap. 3.3 KLASIFIKASI BIAYA UNTUK PEMBEBANAN BIAYA
3.3.1 Biaya Langsung (Direct Costs)
Biaya langsung adalah biaya yang merupakan bagian dari produksi dan dapat dengan mudah ditelusur pada objek.
Contoh:
• Biaya langsung Departemen Produksi Perusahaan Manufaktur “ABC” meliputi upah buruh pabrik.
• Biaya langsung meliputi pembelian baja untuk kerangka saat memproduksi microwave Perusahaan Manufaktur “ABC”.
3.3.2 Biaya Tidak Langsung (Indirect Costs)
Biaya tidak langsung adalah biaya yang merupakan bagian dari sutau produk teapi tidak mudah ditelusur pada objek tertentu.
Contoh:
• Biaya gaji security merupakan biaya tidak langsung pada Perusahaan Manufaktur “ABC”.
• Biaya tidak langsung meliputi biaya desain microwave untuk setiap produk baru yang diluncurkan oleh Perusahaan Manufaktur “ABC”.
3.4 KLASIFIKASI BIAYA UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN 3.4.1 Biaya Diferensial (Differential Cost)
Setiap keputusan meliputi pemilihan paling tidak dua alternatif. Setiap biaya yang berbeda diantara beberapa alternatif disebut dengan biaya diferensial. Biaya ini merupakan biaya yang relevan untuk pengambilan keputusan.
Contoh: Bill sekarang bekerja menjadi sekuriti, kemudian dia ditawari bekerja di pusat jasa. Berikut pendapatan dan biaya dari dua alternatif tersebut:
Diferensial Sekuriti Pusat Jasa Pendapatan dan
Biaya Gaji Bulanan ... $ 1.200 $ 1.500 $ 300 Biaya Bulanan: Transport 30 90 60 Makan ... 150 150 0 Sewa Apartemen ... 450 450 0 Sewa Seragam ... 0 50 50 Iuran Serikat Kerja ... 10 0 (10) Total Biaya Bulanan ... 640 740 100
Bab 1: Konsep Biaya dan Perilaku Biaya
16
Pendapatn Bersih ... $ 560 $ 760 $ 200 3.4.2 Kos Peluang (Opportunity Cost)
Kos Peluang adalah manfaat yang hilang karena aktivitas yang satu dipilih atas aktivitas yang lain.
Contoh: Linda bekerja di toko buku RST dengan gaji $ 250 per hari. Pada suatu hari dia mendapat undangan wawancara beasiswa di UI. Bila dia mendatangi wawancara beasiswa tersebut maka akan kehilangan gaji sebesar $ 250 sebagai opportunity cost.
3.4.3 Biaya Tertanam (Sunk Cost)
Biaya tertanam adalah biaya yang telah terjadi dan tidak dapat diubah dengan keputusan yang dibuat sekarang atau di masa yang akan datang. Biaya tertanam merupakan biaya yang tidak relevan untuk pengambilan keputusan.
Contoh: Linda telah membeli tiket untuk melihat pameran pendidikan kampus terbaik se-Eropa seharga $ 350. Saat mendekati hari pameran pendidikan tersebut, ternyata hari itu bersamaan dengan hari dimana Linda mendapat undangan untuk wawancara beasiswa di UI. Bila dia mendatangi undangan wawancara beasiswa tersebut, maka dia tidak bisa menghadiri pameran pendidikan. Biaya sebesar $ 350 merupakan biaya tertanam yang akan diabaikan, apakah dia mau memutuskan mendatangi wawancara beasiswa atau tidak. Namun, bila tiket tersebut bisa dijual lagi, maka biaya sebesar $ 350 bukan biaya tertanam.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
17
BAB II
METODE PENENTUAN BIAYA DAN CVP ANALYSIS
1.1 METODE PENENTUAN BIAYA
Informasi profitabilitas setiap produk merupakan hal yang penting bagi perusahaan manufaktur. Hal ini dikarenakan setiap produk memiliki profitabilitas yang beragam. Oleh karena itu, manajemen perlu untuk memiliki informasi yang relevan agar dapat mengendalikan biaya. Maka akuntan harus dapat menyajikan informasi yang menunjukkan pemisahan biaya yang dapat dikendalikan dan biaya yang tidak dapat dikendalikan.
Biaya yang dapat dikendalikan adalah biaya yang dapat dipengaruhi secara memadai oleh seorang manajer. Apabila seorang manajer tidak mempunyai wewenang yang cukup terhadap timbulnya suatu biaya, maka manajer tersebut seharusnya tidak bertanggung jawab terhadap timbulnya biaya tersebut. Biaya yang tidak dapat dikendalikan adalah ketika manajer divisi tidak memiliki wewenang untuk mengotorisasi biaya R&D yang muncul di kantor pusat, sedangkan salah satu contoh dari biaya yang dapat dikendalikan adalah biaya produk.
Terdapat 2 metode penentuan biaya produk yaitu metode penentuan biaya variabel (variable costing) dan metode penentuan biaya penuh (full costing atau absorption costing). Perbedaan utama dari kedua metode penentuan biaya tersebut adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya overhead pabrik tetap. Perbedaan metode penentuan biaya produk juga akan memengaruhi nilai persediaan.
1.2 ABSORPTION COSTING
• Absorption costing diperlukan untuk laporan keuangan eksternal dan untuk pelaporan perpajakan.
• Dengan menggunakan absorption costing, biaya produk meliputi semua biaya produksi:
▪ Bahan Baku.
▪ Tenaga Kerja Langsung.
▪ Biaya Overhead Pabrik Variabel. ▪ Biaya Overhead Pabrik Tetap.
• Biaya selain biaya di atas dimasukkan ke dalam biaya nonproduksi dan dikeluarkan dari biaya produk, yaitu:
▪ Biaya Administrasi dan Penjualan Variabel. ▪ Biaya Administrasi dan Penjualan Tetap.
• Biaya overhead pabrik tetap dibebankan ke produk melalui penggunaan tarif biaya overhead pabrik tetap dan tidak diakui sebagai biaya sampai dengan produk dijual, Oleh karena itu, biaya overhead pabrik tetap dipandang melekat pada persediaan. 1.3 VARIABLE COSTING
• Variable costing merupakan alternatif pelaporan untuk manajemen internal.
• Berdasarkan variable costing, biaya produk hanya memasukkan biaya produksi variabel saja, yaitu:
▪ Bahan Baku.
▪ Tenaga Kerja Langsung.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
18
• Dengan variable costing, biaya berikut diperlakukan sebagai biaya nonproduksi dan dikeluarkan dari biaya produk:
▪ Biaya Overhead Pabrik Tetap.
▪ Biaya Administrasi dan Penjualan Variabel. ▪ Biaya Administrasi dan Penjualan Tetap.
• Biaya overhead pabrik tetap tidak dimasukkan sebagai biaya produk dan diperlakukan sebagai biaya periodik, alasannya karena biaya tersebut adalah biaya kapasitas (ketika suatu periode berlalu, maka manfaat yang disediakan oleh kapasitas juga berlalu atau hilang dan seharusnya tidak melekat pada persediaan). • Biaya overhead pabrik tetap pada suatu periode dipandang hilang manfaatnya
sejalan dengan berlalunya periode yang bersangkutan, dan semua dibebankan ke pendapatan dalam periode yang sama.
• Manfaat/keuntungan variable costing :
▪ Variable costing mudah untuk digunakan dalam analisis biaya volume laba (Cost Volume Profit (CVP).
▪ Dengan variable costing, perubahan pada persediaan tidak mempengaruhi laba operasi bersih.
▪ Variable costing lebih mudah dipahami daripada absorption costing. ▪ Variable costing lebih mudah digunakan untuk pengendalian biaya.
▪ Laba operasi bersih variable costing lebih mendekati net cash flow dibanding laba operasi bersih absorption costing.
▪ Namun, variable costing tidak dipertimbangkan untuk laporan keuangan eksternal dan pelaporan pajak karena tidak sesuai dengan PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum).
1.4 KLASIFIKASI BIAYA BERDASARKAN VARIABLE DAN ABSORPTION COSTING Perhitungan Absorption Costing Perhitungan Variable Costing Biaya Produk
Bahan Langsung Biaya
Produk
Tenaga Kerja Langsung Overhead Pabrik Variabel
Overhead Pabrik Tetap Biaya
Periodik Biaya
Periodik
Beban Penjualan dan Administrasi Variabel Beban Penjualan dan Administrasi Tetap
1.5 PERBANDINGAN BIAYA PRODUK PER UNIT
• Perbedaan pembebanan biaya produk per unit memengaruhi nilai persediaan yang disajikan dalam neraca atau laporan posisi keuangan dan laba pada laporan laba rugi.
• Penyebab utama dari perbedaan laba yang dihasilkan pada kedua metode ini adalah pembebanan biaya overhead pabrik tetap yang berbeda. Berdasarkan metode variable costing, biaya overhead pabrik tetap tergolong dalam biaya periodik, sedangkan metode absorption costing membebankan biaya overhead pabrik tetap ke dalam biaya produk.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
19
Contoh: Perusahaan Manufaktur “DEF” menghasilkan produk tunggal.
Jumlah produk yang dihasilkan per tahun ... 25.000 unit Biaya variabel per unit:
Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, Biaya Overhead Pabrik
Variabel ... $ 10 Biaya Penjualan dan Administrasi Variabel ... $ 3 Biaya tetap per tahun:
Biaya Overhead Pabrik Tetap... $ 150.000 Biaya Penjualan dan Administrasi Tetap ... $ 100.000 Biaya produk per unit dapat dihitung berikut ini:
Absorption Costing
Variable Costing Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, Biaya
Overhead Pabrik Variabel ... $ 10 $ 10 Biaya Overhead Pabrik Tetap ($ 150.000 ÷ 25.000
unit) ... $ 6 - Total biaya produk per unit ... $ 16 $ 10
• Biaya Administrasi dan Penjualan selalu diperlakukan biaya periodik dan dibiayakan pada periode sekarang. Biaya tersebut tidak diperlakukan sebagai biaya produk pada kedua metode.
• Variable costing tidak memasukkan komponen biaya overhead pabrik tetap, maka biaya persediaan akhir dalam metode ini selalu lebih rendah daripada metode absorption costing.
1.6 PERBANDINGAN LAPORAN LABA RUGI
Perusahaan Manufaktur “DEF” tidak memiliki persediaan awal, unit yang diproduksi selama setahun sebanyak 25.000 unit, dan unit yang terjual sebanyak 20.000 unit.
Absorption Costing
Penjualan (20.000 unit × $ 30 per unit) ... $ 600.000 Dikurangi Harga Pokok Barang Terjual:
Persediaan Awal ... - Ditambah Harga Pokok Produksi (25.000 unit × $ 16 per
unit) ... $ 400.000 Barang tersedia dijual ... $ 400.000 Dikurangi Persediaan Akhir ...
(5.000 unit × $ 16 per unit) ... $ 80.000 $ 320.000 Laba Kotor ... $ 280.000 Dikurangi Biaya Administrasi dan Penjualan
(20.000 unit × $ 3 per unit + $ 100.000) ... $ 160.000 Laba Bersih Operasi ... $ 120.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
20
Variable Costing
Penjualan (20.000 unit × $ 30 per unit) ... $ 600.000 Dikurangi Biaya Variabel:
Harga Pokok Barang Terjual Variabel:
Persediaan Awal ... - Ditambah Biaya Produksi Variabel
(25.000 unit × $ 10 per unit) ... $ 250.000 Barang tersedia dijual ... $ 250.000 Dikurangi Persediaan Akhir
(5.000 × $ 10 per unit)... $ 50.000 Harga Pokok Barang Terjual Variabel ... $ 200.000 Biaya Administrasi dan Penjualan Variabel
(20.000 unit × $ 3 per unit) ... $ 60.000 $ 260.000 Marjin Kontribusi ... $ 340.000 Dikurangi Biaya Tetap:
Biaya Overhead Pabrik Tetap... $ 150.000
Biaya Administrasi dan Penjualan Tetap ... $ 100.000 $ 250.000 Laba Bersih Operasi ... $ 90.000 Berdasarkan informasi pada laporan laba rugi Perusahaan Manufaktur “DEF”, laba yang diperoleh dengan metode absorption costing sebesar $120.000 dan variable costing sebesar $90.000. Selisih $30.000 berasal dari biaya overhead pabrik tetap sebesar $30.000 (5000 unit x $ 6 per unit) tidak diakui sebagai beban pada metode absorption costing, melainkan diakui sebagai nilai persediaan pada Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Ketika barang yang terjual lebih sedikit dari yang diproduksi, maka laba pada variable costing menunjukkan angka yang lebih rendah.
Harga Pokok Barang Terjual
Persediaan Akhir Absorption costing
Biaya Produksi Variabel
(20.000 unit × $ 10 per unit) ... $ 200.000
(5.000 unit × $ 10 per unit) ... $ 50.000 Biaya Overhead Pabrik Tetap
(20.000 unit × $ 6 per unit) ... $ 120.000
(5.000 unit × $ 6 per unit) ... $ 30.000 Total ... $ 320.000 $ 80.000 Variable costing
Biaya Overhead Pabrik Variabel
(20.000 unit × $ 10 per unit) ... $ 200.000
(5.000 unit × $ 10 per unit) ... $ 50.000 Total ... $ 200.000 $ 50.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
21
Rekonsiliasi Laba Bersih Operasi
Laba Bersih variable costing ... $ 90.000 Ditambah: BOP Tetap yang ditangguhkan di persediaan
pada absorption costing (5.000 unit × $ 6 per unit) ... $ 30.000 Laba Bersih absorption costing ... $ 120.000 Contoh Diperluas—Fluktuasi Penjualan
Perusahaan Manufaktur “DEF” memproduksi produk tunggal untuk penjualan selama 3 tahun, selama periode tersebut kondisinya berbeda-beda. Tahun 1, menunjukkan unit yang diproduksi sama dengan unit yang dijual. Tahun 2, menunjukkan unit yang diproduksi lebih besar daripada unit yang dijual. Kemudian di tahun 3, kondisinya perusahaan memiliki persediaan awal dan unit yang diproduksi di tahun tersebut lebih rendah dari unit yang terjual.
Jumlah unit diproduksi pertahun ... 5.000 unit Biaya Variabel per unit:
Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, BOP Variabel ... $ 5 Biaya Administrasi dan Penjualan Variabel ... $ 1 Biaya Tetap per tahun:
BOP Tetap ... $ 15.000 Biaya Administrasi dan Penjualan Tetap ... $ 21.000 Biaya produk per unit dapat dihitung berikut ini:
Absorption Variable Costing Costing Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, BOP Variabel $ 5 $ 5 BOP Tetap ($ 15.000 ÷ 5.000 unit) ... $ 3 - Total biaya produk per unit ... $ 8 $ 5
Fluktuasi Penjualan
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Unit persediaan awal ... - - $ 1.000 Unit diproduksi ... $ 5.000 $ 5.000 $ 5.000 Unit dijual ... $ 5.000 $ 4.000 $ 6.000 Unit persediaan akhir ... - $ 1.000 - Absorption costing
Penjualan ($ 15 per unit) ... $ 75.000 $ 60.000 $ 90.000 Dikurangi Harga Pokok Barang Terjual:
Persediaan awal ($ 8 per unit) ... - - $ 8.000 Ditambah Harga Pokok Produksi ($ 8 per unit) ... $ 40.000 $ 40.000 $ 40.000 Barang tersedia dijual ... $ 40.000 $ 40.000 $ 48.000 Dikurangi persediaan akhir ($ 8 per unit) ... - $ 8.000 - Harga Pokok Barang Terjual ... $ 40.000 $ 32.000 $ 48.000 Laba Kotor ... $ 35.000 $ 28.000 $ 42.000 Dikurangi biaya administrasi dan penjualan ... $ 26.000 $ 25.000 $ 27.000 Laba bersih operasi ... $ 9.000 $ 3.000 $ 15.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
22
Variable costing
Penjualan ($ 15 per unit) ... $ 75.000 $ 60.000 $ 90.000 Dikurangi biaya variabel:
Harga Pokok Produksi Variabel ($ 5 per unit) ... $ 25.000 $ 20.000 $ 30.000 Biaya administrasi dan penjualan variabel ($ 1 per
unit) $ 5.000 $ 4.000 $ 6.000
Total biaya variabel ... $ 30.000 $ 24.000 $ 36.000 Marjin Kontribusi ... $ 45.000 $ 36.000 $ 54.000 Dikurangi biaya tetap:
BOP Tetap ... $ 15.000 $ 15.000 $ 15.000 Biaya administrasi dan penjualan tetap ... $ 21.000 $ 21.000 $ 21.000 Total biaya tetap ... $ 36.000 $ 36.000 $ 36.000 Laba bersih operasi ... $ 9.000 - $ 18.000 Rekonsiliasi Laba Bersih Operasi
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Laba bersih operasi variable costing ... $ 9.000 - $ 18.000 Ditambah: BOP tetap yang ditangguhkan di persediaan pada
absorption costing (1.000 unit × $ 3 per unit)... $ 3.000 Dikurangi: BOP tetap yang dikeluarkan dari persediaan pada
absorption costing (1.000 unit × $ 3 per unit)... $ (3.000) Laba bersih operasi absorption costing ... $ 9.000 $ 3.000 $ 15.000 1.7 DAMPAK LABA KOMPARATIF — VARIABLE DAN ABSORPTION
COSTING
Hubungan antara Produksi dan Penjualan
Akibat pada Persediaan
Hubungan antara Laba Bersih Operasi Variable Costing and
Absorption Costing Produksi = Penjualan Persediaan tidak
berubah
Laba bersih operasional metode Absorption costing = Laba bersih operasional metode Variabel costing Produksi > Penjualan Persediaan
meningkat
Laba bersih operasional metode Absorption costing > Laba bersih operasional metode Variabel costing* Produksi < Penjualan Persediaan
menurun
Laba bersih operasional metode Absorption costing < Laba bersih operasional metode Variabel costing# * Laba operasi bersih akan lebih tinggi pada absorption costing karena BOP tetap akan ditangguhkan di persediaan pada absorption costing.
# Laba operasi bersih akan lebih rendah pada absorption costing karena BOP tetap akan
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
23
Contoh Diperluas—Fluktuasi Produksi
Contoh: Semua data seperti pada contoh sebelumnya kecuali produksi dan penjualan adalah berikut ini:
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Unit persediaan awal ... - - $ 1.000 Unit diproduksi ... $ 5.000 $ 6.000 $ 4.000 Unit dijual ... $ 5.000 $ 5.000 $ 5.000 Unit persediaan akhir ... - $ 1.000 - Kos produk per unit adalah berikut ini:
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Absorption costing
Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, BOP Variabel $ 5,00 $ 5,00 $ 5,00 BOP Tetap
($ 15.000 ÷ 5.000 unit) ... $ 3,00
($ 15.000 ÷ 6.000 unit) ... $ 2,50
($ 15.000 ÷ 4.000 unit) ... $ 3,75 Kos Produk per unit ... $ 8,00 $ 7,50 $ 8,75 Variable costing
Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung, BOP Variabel $ 5,00 $ 5.00 $ 5,00 Kos Produk per unit ... $ 5,00 $ 5,00 $ 5,00 Absorption costing
Penjualan ($ 15 per unit) ... $ 75.000 $ 75.000 $ 75.000 Dikurangi Harga Pokok Barang Terjual:
Persediaan awal ... - - $ 7.500 Ditambah Harga Pokok Produksi ... $ 40.000 $ 45.000 $ 35.000 Barang tersedia dijual ... $ 40.000 $ 45.000 $ 42.500 Dikurangi persediaan akhir ... - $ 7.500 - Harga Pokok Barang Terjual ... $ 40.000 $ 37.500 $ 42.500 Laba Kotor ... $ 35.000 $ 37.500 $ 32.500 Dikurangi biaya administrasi dan umum ... $ 26.000 $ 26.000 $ 26.000 Laba operasi bersih ... $ 9.000 $ 11.500 $ 6.500 Variable costing
Penjualan ($ 15 per unit) ... $ 75.000 $ 75.000 $ 75.000 Dikurangi biaya variabel:
Harga Pokok Produksi Variabel ($ 5 per unit) ... $ 25.000 $ 25.000 $ 25.000 Biaya admintrasi dan penjualan variabel ($ 1 per
unit) ... $ 5.000 $ 5.000 $ 5.000 Total biaya variabel ... $ 30.000 $ 30.000 $ 30.000 Marjin Kontribusi ... $ 45.000 $ 45.000 $ 45.000 Dikurangi biaya tetap:
BOP tetap ... $ 15.000 $ 15.000 $ 15.000 Biaya administrasi dan penjualan tetap ... $ 21.000 $ 21.000 $ 21.000 Total biaya tetap ... $ 36.000 $ 36.000 $ 36.000 Laba operasi bersih ... $ 9.000 $ 9.000 $ 9.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
24
Rekonsiliasi Laba Operasi Bersih
Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Laba operasi variable costing ... $ 9.000 $ 9.000 $ 9.000 Ditambah: BOP tetap yang ditangguhkan di persediaan
pada absorption costing (1.000 unit × 2.50 per unit) .... $ 2.500 Dikurangi: BOP tetap yang dikeluarkan dari persediaan
pada absorption costing (1.000 unit × 2.50 per unit) .... $ (2.500) Laba Operasi bersih absorption costing ... $ 9.000 $ 11.500 $ 6.500 1.8 JUST IN TIME (JIT) DAN ABSORPTION COSTING
• Perbedaan dalam laba operasi bersih antara absorption costing dan variable costing terjadi pada saat produksi tidak sama dengan penjualan.
• Dengan Just In Time (JIT), produksi belum dimulai sampai pesanan konsumen diterima. Oleh karena itu persediaan dapat dikurangi secara drastis dan perubahan dalam persediaan akan kecil.
• Akibatnya, perbedaan laba operasi bersih antara absorption dan variable costing dapat dikurangi dengan Just In Time (JIT).
2. ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA (COST-VOLUME-PROFIT / CVP) ANALYSIS)
• Cost-volume-profit (CVP) analysis merupakan analisis pengaruh faktor berikut atas laba operasi bersih:
▪ Harga jual.
▪ Volume penjualan. ▪ Biaya variabel per unit. ▪ Total biaya tetap.
▪ Campuran produk yang dijual (product mix). • CVP analysis merupakan alat yang berguna untuk :
▪ Mengidentifikasi permasalahan yang berhubungan dengan perencanaan penjualan dan penyelesaiannya.
▪ Memecahkan permasalahan terkait perencanaan jumlah unit produk yang seharusnya dijual agar mencapai titik impas (break-even point / BEP). ▪ Perhitungan dampak penurunan biaya tetap terhadap BEP.
▪ Perhitungan dampak kenaikan harga jual terhadap laba.
▪ Analisis sensitivitas melalui pengujian atas dampak berbagai tingkat harga jual dan biaya terhadap laba.
• Asumsi Utama CVP analysis :
▪ Harga jual konstan. Harga jual tidak berubah dengan adanya perubahan volume.
▪ Biaya bersifat linier dan dapat secara akurat dipisahkan menjadi elemen biaya tetap dan variabel. Total biaya tetap konstan dan biaya variabel per unit juga konstan.
▪ Campuran penjualan juga konstan pada perusahaan yang memilki produk lebih dari satu.
▪ Pada sebuah perusahaan manufaktur, persediaan tidak berubah, dan jumlah yang diproduksi sama dengan produk yang dijual.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
25
• Apabila manajemen ingin mengetahui CVP Analysis dalam hubungannya dengan unit penjualan, maka manajemen perlu menentukan komponen biaya tetap dan biaya variabel (biaya yang dimaksud adalah semua biaya yang terjadi di perusahaan) serta pendapatan dalam hubungannya dengan unit penjualan.
2.1 PENDEKATAN MARJIN KONTRIBUSI (CONTRIBUTION MARGIN APPROACH)
• Marjin kontribusi merupakan pendapatan penjualan dikurangi biaya variabel total. • Pada saat perusahaan berada pada kondisi BEP, besarnya margin kontribusi sama
dengan besarnya biaya tetap.
• Margin kontribusi per unit akan konstan selama harga jual dan biaya tetap per unit tidak berubah. Contoh: Berikut ini adalah pengembangan data transaksi bulan lalu dari perusahaan Manufaktur ”GHI” :
Total Per Unit Persentase Penjualan (500 bikes) ... $ 250.000 $ 500 100% Dikurangi biaya variabel ... $ (150.000) $ 300 60% Marjin Kontribusi ... $ 100.000 $ 200 40% Dikurangi biaya tetap ... $ (80.000)
Laba operasi bersih ... $ 20.000 2.1.1 RASIO MARJIN KONTRIBUSI
• Rasio Marjin kontribusi (Contribution Margin Ratio/CMR) adalah marjin kontribusi dibagi dengan penjualan:
• Bila perusahaan hanya memiliki satu produk, CM ratio dapat dihitung dengan cara berikut:
Contoh: Perhitungan perusahaan Manufaktur “GHI” di atas, CM ratio menunjukkan angka sebesar 40%, dihitung sebagai berikut:
Atau
CM ratio menunjukkan bagaimana marjin kontribusi akan dipengaruhi oleh perubahan total penjualan.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
26
Berdasarkan perhitungan diatas, CM Ratio dari perusahaan manufaktur “GHI” mengindikasikan bahwa setiap $1 kenaikan di penjualan, total marjin kontribusi akan meningkat sebesar $ 0,4 (40 sen)
Contoh: Asumsikan perusahaan manufaktur “GHI” di atas, mengalami kenaikan menjadi $ 150.000 pada bulan berikutnya. Apakah ada pengaruhnya terhadap (1) marjin kontribusi dan (2) laba operasi bersih?
(1) Pengaruh pada marjin kontribusi:
Kenaikan penjualan ... $ 150.000 Dikalikan dengan CM ratio ... × 40% Kenaikan marjin kontribusi ... $ 60.000 (2) Pengaruh pada laba operasi bersih:
Bila biaya tetap tidak berubah, maka laba operasi bersih dari perusahaan manufaktur “GHI” akan meningkat sebesar $ 60.000.
Present Expected Change
Penjualan (dalam unit)... 500 unit 800 unit 300 unit Penjualan (dalam rupiah) ... $ 250.000 $ 400.000 $ 150.000 Dikurangi biaya variabel ... $ 150.000 $ 240.000 $ 90.000 Marjin Kontribusi ... $ 100.000 $ 160.000 $ 60.000 Dikurangi biaya tetap ... $ 80.000 $ 80.000 $ - Laba operasi bersih ... $ 20.000 $ 80.000 $ 60.000
2.2 TITIK IMPAS (BREAK-EVEN POINT / BEP)
• BEP adalah keadaan yang menunjukkan atau titik dimana total pendapatan yang diterima sama dengan total biaya (tetap dan variabel) yang dikeluarkan.
• BEP dapat dirumuskan melalui 2 pendekatan, yaitu BEP dalam jumlah unit penjualan dan BEP dalam jumlah rupiah penjualan.
• Alasan terdapat 2 pendekatan yaitu yang pertama, rumus pendapatan penjualan memungkinkan perusahaan untuk secara langsung mencari pendapatan penjualan apabila hal tersebut memang dikehendaki, dan yang kedua, pendekatan pendapatan penjualan jauh lebih mudah digunakan dalam situasi multiproduk. • BEP dapat pula berarti titik dimana marjin kontribusi sama dengan total biaya
tetap.
• Setiap tambahan unit terjual meningkatkan laba operasi bersih dengan meningkatnya marjin kontribusi per unit.
• Salah satu manfaat BEP apabila perusahaan ingin mengetahui dampak yang akan terjadi terhadap pendapatan, biaya, dan laba sebagai akibat dari perubahan volume penjualan, maka manajemen perusahaan perlu mengetahui BEP dalam unit penjualan.
• Apabila manajemen lebih tertarik menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan dibanding unit penjualan, ukuran unit penjualan dapat dikonversi ke dalam ukuran pendapatan penjualan dengan mengalikan harga jual per unit dengan jumlah unit penjualan.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
27
• Hubungan antara pendapatan, biaya tetap, biaya variabel, titik impas (BEP), marjin kontribusi, margin of safety, dan laba dapat digambarkan sebagai berikut ini :
▪ Apabila terdapat laba/keuntungan
▪ Apabila tidak terdapat laba/keuntungan
2.2.1 ANALISIS TITIK IMPAS (BREAK-EVEN ANALYSIS) Ringkasan data perusahaan Manufaktur “GHI” :
Per Unit Persen Per Bulan Harga jual ... $ 500 100%
Biaya variabel ... 300 60 Marjin kontribusi ... $ 200 40%
Biaya tetap… ... $ 80.000 • Dalam menghitung BEP dapat menggunakan beberapa cara, yaitu metode
persamaan dan metode marjin kontribusi. Metode Persamaan (Equation Method)
Q = Break-even Kuantitas
Laba = Penjualan – (Biaya Variabel + Biaya Tetap) BEP Biaya Variabel Margin of Safety Biaya Tetap Laba Total Pendapatan Margin Contribution BEP Biaya Variabel Biaya Tetap Total Pendapatan Margin Contribution
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
28
Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba 500Q = 300Q + 80.000 + 0
200Q = 80.000
Q = 80.000 ÷ 200 per unit Q = 400 unit
X = Break-even point dalam rupiah
Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba X = 0.60X + 80.000 + 0
0.40X = 80.000
X = 80.000 ÷ 0.40 X = $ 200.000
Berdasarkan perhitungan tersebut, perusahaan manufaktur “GHI” harus menjual sebanyak 400 unit dengan harga $200.000 agar perusahaan mencapai titik impas.
Metode Marjin Kontribusi (Contribution Margin Method)
2.2.2 ANALISA TITIK IMPAS MULTI PRODUK (MULTI-PRODUCT BREAK-EVEN ANALYSIS)
• Dalam praktiknya, banyak perusahaan yang menghasilkan dan menjual sejumlah produk atau jasa. Sehingga, bila perusahaan memiliki lebih dari satu produk, keseluruhan contribution margin (CM) ratio digunakan di dalam break-even analysis.
• Dalam analisis ini, perlu diperhatikan mengenai pemisahan biaya tetap langsung (direct fixed expenses) dan biaya tetap bersama (common fixed expenses). • Biaya tetap langung adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri kepada
masing-masing segmen produk, dan dapat dihindari apabila segmen tersebut tidak melakukan aktivitas produksi.
• Biaya tetap bersama adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri kepada segmen produk, dan akan tetap terjadi meskipun segmen tersebut tidak melakukan aktivitas produksi.
Produk A Produk B Total
Penjualan….. ... $ 100.000 100% $ 300.000 100% $ 400.000 100.0% Dikurangi biaya variabel ... $ 70.000 70 $ 120.000 40 $ 190.000 47.5 Marjin Kontribusi ... $ 30.000 30% $ 180.000 60% $ 210.000 52.5% Dikurangi biaya tetap ... $ 141.750
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
29
• Proporsi relatif atas produk yang dijual disebut bauran penjualan (sales mix). Bila bauran penjualan berubah, maka overall contribution margin (CM) ratio berubah. • Contoh: Asumsikan bahwa total penjualan tidak berubah, yaitu $ 400.000.
Namun, campuran penjualan bergeser lebih banyak Produk A terjual dibanding Produk B.
Produk A Produk B Total
Penjualan….. ... $ 300.000 100% $ 100.000 100% $ 400.000 100.0% Dikurangi biaya variabel ... $ 210.000 70 $ 40.000 40 $ 250.000 62.5 Marjin Kontribusi ... $ 90.000 30% $ 60.000 60% $ 150.000 37.5% Dikurangi biaya tetap ... $ 141.750
Laba (rugi) operasi bersih $ 8.250
2.4 PERUBAHAN VOLUME DAN LABA OPERASI BERSIH Berikut marjin kontribusi untuk penjualan dari 1, 2, 400, dan 401 unit.
Total Per Unit Percent Penjualan (1 unit)... $ 500 $ 500 100% Dikurangi biaya variabel ... $ 300 $ 300 60 Marjin Kontribusi ... $ 200 $ 200 40% Dikurangi biaya tetap ... $ 80.000
Laba (rugi) operasi bersih $ (79.800)
Total Per Unit Percent Penjualan (2 unit)... $ 1.000 $ 500 100% Dikurangi biaya variabel ... $ 600 $ 300 60 Marjin Kontribusi ... $ 400 $ 200 40% Dikurangi biaya tetap ... $ 80.000
Laba (rugi) operasi bersih $ (79.600)
Total Per Unit Percent Penjualan (400 unit) ... $ 200.000 500 100% Dikurangi biaya variabel ... $ 120.000 300 60 Marjin Kontribusi ... $ 80.000 200 40% Dikurangi biaya tetap ... $ 80.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
30
Total Per Unit Percent Penjualan (401 unit) ... $ 200.500 $ 500 100% Dikurangi biaya variabel ... $ 120.300 $ 300 60 Marjin Kontribusi ... $ 80.200 $ 200 40% Dikurangi biaya tetap ... $ 80.000
Laba (rugi) operasi bersih $ 200 Dari contoh di atas dapat dijelaskan berikut:
• Pada saat menjual sebanyak 400 unit, perusahaan dalam posisi titik impas (break even), yaitu perusahaan tidak laba namun juga tidak rugi.
2.4.1 GRAFIK CVP ANALYSIS
• Grafik CVP Analysis menunjukkan hubungan antara biaya, volume, dan laba. Untuk memperoleh hubungan yang lebih terperinci, perlu dibuat grafik dua garis terpisah yaitu garis pendapatan total dan garis biaya total. Persamaannya berupa :
• Untuk menunjukkan dua persamaan tersebut dalam grafik yang sama, sumbu vertikal diukur dalam rupiah pendapatan dan biaya, serta sumbu horizontal dalam jumlah unit pernjualan.
3. TARGET PROFIT ANALYSIS
• BEP bermanfaat untuk menjadi dasar bagi perusahaan dalam merencanakan perolehan laba operasi yang ditargetkan > 0.
• Analisis ini memberikan cara untuk menentukan jumlah unit produk yang harus dijual agar perusahaan mampu memperoleh sejumlah laba yang ditargetkan. • Laba operasi yang ditargetkan dapat ditunjukkan sebagai jumlah rupiah atau
sebagai persentase dari pendapatan penjualan.
$80 $200 $300 Biaya Variabel Area Laba Area Rugi 200 400 600 Unit Dijual Titik Impas: 400 sepeda atau Penjualan senilai $200.000 Total Pendapatan Total Biaya Biaya Tetap Pen d ap at an at au B iay a
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
31
Contoh: Asumsikan sebuah perusahaan manufaktur “VWX” menargetkan laba sebesar $ 70.000 per bulan. Berapa unit produk yang harus dijual untuk mencapai target tersebut?
Metode Persamaan (Equation Method) Q = Jumlah unit yang dijual
Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba 500Q = 300Q + 80.000 + 70.000
200Q = 150.000
Q = 150.000 ÷ 200 Q = 750 unit
X = jumlah rupiah yang harus diperolah dari penjualan Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba
X = 0.60X + 80.000 + 70.000 0.40X = 150.000
X = 150.000 ÷ 0.40 X = 375.000
Metode Kontribusi Marjin (Contribution Margin Method)
• Perusahaan manufaktur “VWX” harus menjual sebanyak 750 unit produknya agar memperoleh laba sebesar $ 70.000.
• Dengan demikian perusahaan manufaktur “VWX” harus memeroleh pendapatan penjualan sebesar $ 375.000 agar dapat mencapai target laba sebesar $ 70.000. • Di atas titik impas, rasio marjin kontribusi merupakan rasio marjin yang
mencerminkan proporsi setiap nominal penjualan yang menghasilkan laba.
• Dalam perusahaan manufaktur “VWX”, setiap nominal penjualan yang diperoleh di atas titik impas akan meningkatkan laba sebesar $ 0,40 (40 sen).
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
32
4. RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN
• Risiko dan ketidakpastian merupakan bagian penting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan bisnis.
• Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh manajer dalam menghadapi masalah risiko dan ketidakpastian, konsep atau metode tersebut adalah margin of safety dan operating leverage.
4.1 MARJIN KEAMANAN (MARGIN OF SAFETY)
• Margin of safety merupakan unit penjualan atau yang diharapkan dapat dijual di atas volume impas (BEP).
• Margin of safety juga dapat didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh atau pendapatan yang diharapkan akan diperoleh perusahaan di atas volume impas. • Margin of safety dapat ditunjukkan baik dalam rupiah maupun dalam persentase.
Formula tersebut di bawah ini:
Perusahaan X Perusahaan Y
Penjualan….. ... $ 500.000 100% $ 500.000 100% Dikurangi biaya variabel ... $ 350.000 70 $ 100.000 20 Marjin Kontribusi ... $ 150.000 30% $ 400.000 80% Dikurangi biaya tetap ... $ 90.000 $ 340.000
Laba (rugi) operasi bersih $ 60.000 $ 60.000
Break-even point:
$ 90.000 ÷ 0.30 ... $ 300.000 $ 340.000 ÷ 0.80 ... $ 425.000 Margin of safety dalam rupiah:
$ 500.000 – $ 300.000 ... $ 200.000 $ 500.000 – $ 425.000 ... $ 75.000 Margin of safety dalam persentase:
$ 200.000 ÷ $ 500.000 ... 40%
$ 75.000 ÷ $ 500.000 ... 15%
• Titik impas perusahaan X adalah sebesar $ 300.000 dan perkiraan pendapatan penjualan adalah sebesar $ 500.000, maka margin of safety adalah sebesar $ 200.000.
• Titik impas perusahaan Y adalah sebesar $ 425.000 dan perkiraan pendapatan penjualan adalah sebesar $ 500.000, maka margin of safety adalah sebesar $ 75.000.
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
33
4.2 OPERATING LEVERAGE
• Pada dasarnya, suatu leverage melipatgandakan usaha yang dilakukan untuk menciptakan hasil yang lebih banyak. Semakin besar beban yang akan dipindahkan oleh sejumlah kekuatan, semakin besar manfaat yang akan diperoleh. • Operating leverage mengukur bagaimana perubahan persentase penjualan
berpengaruh terhadap laba operasi bersih.
• Operating leverage erat kaitannya dengan bauran relatif biaya tetap dan biaya variabel dalam suatu perusahaan.
• Pada situasi tertentu terjadi kemungkinan kondisi yang saling berlawanan (trade off) antara biaya tetap dan biaya variabel. Jika biaya variabel turun, marjin kontribusi per unit akan naik dan selanjutnya akan mengakibatkan kontribusi masing-masing unit yang dijual akan semakin besar.
• Kenaikan penjualan akan berdampak terhadap peningkatan profitabilitas. Perusahaan dengan biaya variabel lebih rendah, dengan meningkatkan proporsi biaya tetapnya akan dapat memperoleh manfaat berupa kenaikan laba yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki proporsi biaya tetap lebih rendah karena biaya tetap dapat digunakan sebagai leverage untuk meningkatkan laba. Sejalan dengan itu, apabila perusahaan dengan operating leverage yang tinggi mengalami penurunan penjualan maka sebagai akibatnya perusahaan juga akan mengalami penurunan laba yang lebih besar pula.
• Semakin tinggi tingkat operating leverage, semakin besar dampak perubahan tingkat aktivitas penjualan terhadap laba.
• Tingkat operating leverage (degree of operating leverage–DOL) dapat diukur dengan rumus berikut ini:
• Apabila biaya tetap digunakan untuk menurunkan biaya variabel sehingga marjin kontribusi akan meningkat dan laba akan turun, maka DOL akan meningkat. Peningkatan ini merupakan petunjuk terhadap terjadinya peningkatan risiko.
Perusahaan X Perusahaan Y
Penjualan….. ... $ 500.000 100% $ 500.000 100% Dikurangi biaya variabel... $ 350.000 70 $ 100.000 20 Marjin Kontribusi ... $ 150.000 30% $ 400.000 80% Dikurangi biaya tetap ... $ 90.000 $ 340.000
Laba (rugi) operasi bersih …………. $ 60.000 $ 60.000
Bab 2: Metode Penentuan Biaya Dan CVP Analysis
34
• Bila degree of operating leverage sebesar 2,5, kemudian penjualan diasumsikan naik 10% maka laba operasi bersih akan naik 25% (2,5 × 10%).
Contoh: Asumsikan kedua perusahaan, Perusahaan X dan Perusahaan Y terjadi kenaikan sebesar 10% pada penjualan:
Perusahaan X Perusahaan Y
Penjualan….. ... $ 550.000 100% $ 550.000 100% Dikurangi biaya variabel... $ 385.000 70 $ 110.000 20 Marjin Kontribusi ... $ 165.000 30% $ 440.000 80% Dikurangi biaya tetap ... $ 90.000 $ 340.000
Laba (rugi) operasi bersih …………. $ 75.000 $ 100.000
Kenaikan dalam laba operasi bersih 25% 67%
• Laba untuk perusahaan Y akan meningkat sebesar $ 40.000 ($ 100.000 - $ 60.000) atau naik sebesar 67%. Pada perusahaan X laba hanya meningkat $ 15.000 ($ 75.000 - $ 60.000) atau naik sebesar 25%. Perusahaan Y mengalami kenaikan persentase lebih besar karena sistem tersebut memiliki DOL yang lebih tinggi.
• Sebagaimana ditunjukkan dalam contoh, bahwa kenaikan persentase penjualan sebesar 10% memiliki dampak manfaat yang signifikan bagi masing-masing perusahaan. Namun, dampak tersebut juga berpengaruh apabila terjadi penurunan aktivitas penjualan. Apabila penjualan turun, maka perusahaan Y juga akan menujukkan besarnya penurunan persentase yang lebih tinggi.