• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU DENGAN PENDEKATAN VISUAL KOMIK KITAB SUCI DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU DENGAN PENDEKATAN VISUAL KOMIK KITAB SUCI DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU

DENGAN PENDEKATAN VISUAL KOMIK KITAB SUCI DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA

S K R I P S I

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik

Oleh:

Norvi Meliza Tinambunan NIM: 161124048

PROGRAMSTUDIPENDIDIKANKEAGAMAANKATOLIK JURUSANILMUPENDIDIKAN

FAKULTASKEGURUANDANILMUPENDIDIKAN UNIVERSITASSANATADHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

PERSEMBAHAN

Penulis mempersembahkan tulisan ini untuk:

1. Keluarga besar Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, Sanata Dharma yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan pendampingan kepada

penulis.

2. Keluarga besar Kongregasi Suster Santo Yosef (KSSY) Medan.

3. Kedua orangtua, abang, dan adik-adikku tercinta.

4. Teman-teman Mahasiswa PENDIKKAT angkatan tahun 2016 maupun sahabat lainnya.

5. Keluarga besar Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

(5)

v

MOTTO

“Tuhan adalah gembalaku takkan kekurangan aku”

(Mazmur 23:1)

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU DENGAN PENDEKATAN VISUAL KOMIK KITAB SUCI DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA”. Judul ini dipilih karena adanya keprihatinan penulis atas kurangnya pelayanan Gereja terhadap anak tunarungu khususnya yang tinggal di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Sebagai anggota Gereja, mereka berhak mendapatkan pelayanan iman meskipun mereka bisu dan tuli. Mereka masih memiliki perkembangan pada aspek penglihatan. Artinya, mereka dapat didampingi dengan metode lain seperti media visual. Yesus Kristus dapat diwartakan dengan berbagai metode sesuai dengan karakteristik anak. Penulis tertarik pada komik Kitab Suci sebagai media dalam katekese. Komik merupakan media yang dilengkapi dengan gambar dan teks, murah dan sederhana, menarik, lucu, serta menghibur. Media ini dapat membantu pendamping dalam melakukan katekese bersama anak tunarungu.

Tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana katekese dilakukan dan sejauhmana dampak penggunaan media komik Kitab Suci dalam katekese bersama anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Untuk itu penulis melakukan observasi agar memperoleh fakta yang akurat. Anak tunarungu belum mendapat pelayanan katekese sesuai karakteristiknya dari pendamping dan Gereja. Selanjutnya, penulis mengadakan katekese menggunakan komik Kitab Suci bersama anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Setelah itu, penulis melakukan wawancara mendalam dengan tujuh anak tunarungu. Penulis juga melakukan uji kredibilitas dengan metode triangulasi yaitu dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media komik Kitab Suci berdampak pada perasaan, harapan, dan niat peserta. Mereka merasa senang mengikuti kegiatan membaca komik Kitab Suci karena mengajarkan ajaran Tuhan dan hal-hal baik. Mereka berharap agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan kembali. Selain itu, mereka juga berniat untuk tidak berbohong lagi, tidak berantem, tidak boros dengan uang yang diberikan orangtua, dan meminta maaf kepada orangtua dan pembina asrama. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyampaikan rekomendasi agar pendamping secara berkelanjutan menggunakan komik Kitab Suci sebagai media alternatif dalam katekese bersama anak tunarungu.

Kata-kata Kunci: Katekese, anak tunarungu, komik Kitab Suci, alternatif media.

(9)

ix

ABSTRACT

This undergraduate thesis entitles "CATECHESIS AMONG DEAF AND MUTE CHILDREN USING VISUAL SCRIPTURES COMIC IN DORMITORY SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA" . This title was chosen because of the writer's concern about the lack of Church services for deaf and mute children, especially those who live in Dormitory SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. As members of the Church, they are entitled to receive faith services even though they are mute and deaf. They still have developments in the aspect of vision. It means that, they can be accompanied by other methods such as visual media. Jesus Christ can be proclaimed by various methods according to characteristics of children. The author is interested in scriptures comic as a medium in catechesis. Comics are media that are equipped with images and text, which are cheap and simple, interesting, funny, and entertaining. This media can assist the boarding supervisor in doing catechesis with deaf and mute children. The purpose of this thesis is to find out how catechesis is carried out and the extent of the impact of the use of the scriptures comic in catechesis among deaf and mute children in Dormitory SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. For this reason, the writer did some observations in order to obtain accurate facts. Children who are deaf and mute have not received catechetical services specifically according to their characteristics from the boarding supervisor and the Church. Then, the writer held a catechesis using the scriptures comic with a deaf and mute children in Dormitory SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. After that, the writer conducted in-depth interviews with seven deaf and mute children. The author also tested the credibility with the triangulation method, namely the questionnaire. The results showed that the use of the scriptures comic had an impact on participants feelings, hopes and intentions. They felt happy to follow the activities of reading scriptures comic because of the teachings of God and good things. They hoped that this activity can be carried out again. In addition, they also intended not to lie anymore, not to fight, not wasteful money given by their parents, and to apologize to parents and boarding supervisors. Based on the results of the study the author submit some recommendations that the supervisors use the scriptures comic continuously as an alternative medium in catechesis among deaf and mute children.

Keywords: Catechesis, deaf and mute children, scriptures comic, alternative media

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Bapa Yang Mahabaik, karena berkat kasih setia-Nya dan penyertaan-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU DENGAN PENDEKATAN VISUAL KOMIK KITAB SUCI DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan kuliah dan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Romo Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. selaku Kaprodi PENDIKKAT-USD dan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) serta selaku penguji II yang memberikan motivasi, inpirasi dan masukan dalam menyelesaikan tugas skripsi ini.

2. Romo Drs. Yoseph Ispuroyanto Iswarahadi, S.J., M.A. selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan perhatian, memberi sumbangan pemikiran, bersedia meluangkan waktu, membimbing penulis dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Romo Drs. FX. Heryatno WW, S.J, M.Ed selaku penguji III yang memberikan masukan, motivasi, dan dukungan dalam menyelesaikan tulisan skripsi.

(11)

xi

4. Segenap Romo, Bapak, dan Ibu dosen, serta Karyawan-Karyawati Prodi PENDIKKAT-USD Yogyakarta yang telah memberikan dukungan, semangat dan motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan kuliah dengan baik.

5. Pemimpin Umum dan Dewan Penasehat Pemimpin Umum Kongregasi Suster St.

Yosef Medan yang telah memberikan izin penelitian di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta, serta para suster KSSY yang secara langsung dan tidak langsung memberikan dukungan kepada penulis selama perkuliahan sampai selesai penulisan skripsi ini.

6. Sr. Henrika Gultom KSSY selaku Pimpinan Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta yang memberikan izin penelitian, Sr. Klementina Manullang KSSY yang banyak membantu penulis dalam pelaksanaan kegiatan penelitian, para suster pendamping anak tunarungu, dan karyawan-karyawati asrama yang memberikan dukungan dan perhatian, sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dengan baik.

7. Teman-teman anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta yang telah bersedia ikut ambil peran dalam pelaksanaan penelitian skripsi ini hingga selesai.

(12)

xii

(13)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR SINGKATAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 9

C.Pembatasan Masalah ... 9

D.Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 10

G.Metode Penulisan ... 11

H.Sistematika Penulisan ... 14

BAB II. KOMIK KITAB SUCI SEBAGAI MEDIA VISUAL DALAM KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU ... 16

A.Katekese Bersama Anak Tunarungu ... 16

1.Hakikat Katekese ... 16

2.Tujuan Katekese ... 17

3.Dasar-dasar Katekese Tunarungu ... 19

(14)

xiv

B.Hakikat Anak Tunarungu ... 20

1.Konsep Anak Tunarungu ... 20

2.Keadaan Inteligensi, Bahasa dan Bicara, Emosi dan Sosial. ... 21

3.Klasifikasi Anak Tunarungu ... 24

4.Karakteristik Anak Tunarungu ... 25

5.Maksud dan Tujuan Katekese Bersama Anak Tunarungu ... 26

C. Komik Kitab Suci sebagai Media Visual ... 27

1.Pengertian Media ... 27

2.Pengertian Komik/Cerita Bergambar ... 31

3.Kitab Suci ... 38

D.Rangkuman ... 43

BAB III. PENGGUNAAN KOMIK KITAB SUCI DALAM KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU DI ASRAMA SLB-B GRAHA MURNI LUHUR JAKARTA ... 44

A. Sejarah Singkat Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta ... .44

B. Gambaran Umum Anak Tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakara ... 45

C.Penelitian ... 46

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 54

A.Pelaksanaan Katekese ... 54

1.Proses Pelaksanaan Katekese ... 54

2.Hasil Pengamatan ... 55

3.Hasil Pelaksanaan Katekese. ... 59

B.Hasil Wawancara dengan Anak Tunarungu dan Pendamping ... 59

1.Perasaan dan Harapan Anak Tunarungu ... 60

2.Niat Anak Tunarungu ... 61

3.Hasil wawancara dengan Pendamping Anak Tunarungu. ... 62

C.Validasi Data ... 63

D.Pembahasan Hasil Penelitian ... 72

1.Dampak Komik Kitab Suci dalam Katekese terhadap Anak Tunarungu dari Segi Perasaan dan Harapan. ... 72

2. Dampak Komik Kitab Suci terhadap Niat Anak Tunarungu. ... 77

(15)

xv

E. Usulan Kegiatan ... 84

BAB V. PENUTUP ... 98

A.Kesimpulan ... 98

B.Saran ... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian...(1)

Lampiran 2 : Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian...(2)

Lampiran 3 : Satuan Pertemuan Program Katekese Bersama Anak Tunarungu I...(3)

Lampiran 4 : Satuan Pertemuan Program Katekese Bersama Anak Tunarungu II...(6)

Lampiran 5 : Cerita Komik Kitab Suci 1...(9)

Lampiran 6 : Cerita Komik Kitab Suci 2...(17)

Lampiran 7 : Pertanyaan Wawancara...(25)

Lampiran 8 : Hasil Wawancara ...(26)

Lampiran 9 : Kuesioner Penelitian sebagai Pengecek Valid/Tidak Data ...(36)

Lampiran 10 : Hasil Kuesioner ...(38)

Lampiran 11 : Daftar Nama Anak Tunarungu ...(39)

Lampiran 12 : Daftar Nama Anak Tunarungu ...(40)

Lampiran 13 : Cerita Komik Kitab Suci Usulan Kegiatan ...(42)

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel1: Kisi-kisi ... 49

Tabel 2: Panduan Wawancara ... 50

Tabel 3: Identitas Responden ... 53

Tabel 4: Hasil Wawancara dengan Pendamping... 62

Tabel 5: Kuesioner... 63

Tabel 6: Susunan Acara... 86

Tabel 7: Matriks Kegiatan... 87

(17)

xvii

DAFTAR SINGKATAN

A. Singkatan Kitab Suci

Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat

Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA Sarana Proyek Keagamaan Katolik). Ende: Arnoldus, 1984/1985 hlm. 8.

B. Singkatan Dokumen Gereja

CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979

GE : Gravissimum Educationis, Pernyataan Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen, 28 Oktober 1965

C. Singkatan-Singkatan Lain Art : Artikel

SLB-B : Sekolah Luar Biasa bagian B

dB : Desibel

R : Responden

PENDIKKAT : Pendidikan Keagamaan Katolik

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuhan menciptakan manusia di dunia ini dengan derajat yang sama, namun manusia itu sendirilah yang membedakan di antara sesama manusia, baik berwujud sikap, perilaku, maupun perlakuannya. Pembedaan ini masih sangat dirasakan oleh mereka yang mengalami keterbatasan secara fisik, mental, dan fisik-mental, sejak lahir sampai setelah dewasa. Kecacatan tersebut tentunya tidak diharapkan oleh semua manusia, baik yang menyandang cacat maupun yang tidak menyandang cacat.

Manusia yang memiliki kecacatan fisik atau mental terkadang membuat dirinya merasa tidak percaya diri dalam melakukan semua hal kegiatan dan rutinitas sehari-hari. Meskipun demikian, mereka juga bagian dari warga Negara Indonesia yang mempunyai hak, dan kewajiban yang sama dengan warga Negara yang tidak menderita cacat tubuh maupun psikis. Setiap anak memiliki Hak Asasi Manusia termasuk di dalamnya anak yang berkebutuhan khusus. Hak Asasi Manusia juga diakui oleh bangsa-bangsa di dunia ini dan merupakan landasan bagi kemerdekaan, keadilan dan perdamaian di seluruh dunia. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memperhatikan kesejahteraan hidup mereka. Anak-anak, terutama dalam masa pertumbuhan secara fisik dan mental, akan membutuhkan perawatan, perlindungan yang khusus, serta perlindungan hukum baik sebelum

(19)

lahir maupun sesudah lahir. Agar mereka mempunyai kemampuan dalam menjalani kegiatan sehari-hari, mereka perlu mendapatkan perhatian serius.

Pada Abad keduapuluh, hampir di semua masyarakat Barat, anak penyandang disabilitas telah dihubungkan dengan orang kekurangan pikiran dan tubuh, yaitu meliputi orang pincang, duduk di kursi roda, menjadi korban keadaan seperti kebutaan, kekurangan pendengaran atau disebut anak tunarungu, sakit jiwa dan gangguan jiwa. Sebagian besar dari penyandang cacat tersebut adalah mereka yang masih dikategorikan anak. Anak-anak butuh perhatian khusus terlebih lagi keadaan sosial mereka masih sangat rentan untuk mengalami diskriminasi dari lingkungan mereka yang tergolong normal. Keluargalah yang berperan penting dalam perkembangan sosial anak agar menjadi pribadi yang baik pada masa depannya. Keluarga sangat berperan penting dalam mengembangkan sikap sosial anak, karena anak pada awalnya memulai sosialisasi dengan keluarga, setelah itu meluas ke masyarakat sekitarnya. Apalagi anak yang memiliki kelainan fisik atau mental yang menyebabkan sangat rentan mendapatkan perlakuan diskriminsi dari teman-temannya. Pihak keluarga harus memberikan perhatian yang lebih kepada anak agar anak tidak merasa dikucilkan.

Anak berkebutuhan khusus seperti cacat pendengaran dan kebisuan yang dialami oleh seseorang akan menimbulkan berbagai permasalahan dalam aspek sosial, emosional, dan mental (Mohammad Effendi, 2006:71). Masalah yang muncul akibat ketunarunguan antara lain masalah perkembangan bahasa, ketrampilan berbicara, sosial, emosi, dan intelektual, yang pada akhirnya akan

(20)

menghambat perkembangan dalam segala aspek kehidupan dan kemanusiaannya, juga mempersempit kesempatan pendidikan.

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seperti anak tunarungu juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat (2) berbunyi “Warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.” Pemerintah telah memfasilitasi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dengan adanya lembaga pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Pemerintah menyediakan satuan pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan, baik pada jenjang pendidikan dasar maupun pendidikan menengah, seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 133 (Atmaja, 2018:3). Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa pemerintah memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat memperoleh layanan pendidikan yang sama dengan siswa reguler. Selain menempuh pendidikan dengan satuan pendidikan khusus, siswa berkebutuhan khusus juga dapat menempuh pendidikan pada sekolah terpadu. Sekolah terpadu merupakan sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, sarana prasarana yang sama untuk seluruh peserta didik. Sekolah terpadu saat ini lebih dikenal dengan sekolah inklusif.

Melalui pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus dididik bersama anak normal lainnya dan dapat dilatih untuk mengoptimalkan potensi yang

(21)

dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, anak berkebutuhan khusus perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan. Ada anak berkebutuhan khusus memang perlu untuk merasakan pendidikan di sekolah inklusi karena melihat fenomena yang banyak terjadi di sekolah luar biasa sekarang ini dinilai kurang begitu efektif (Atmaja, 2018:4).

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa bertujuan mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal agar mereka dapat hidup mandiri dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat mereka berada.

Menurut Atmaja (2018:4), hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa anak- anak berkebutuhan khusus yang telah dan sedang mengikuti pendidikan di sekolah luar biasa pada umumnya belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan.

Gereja dalam memberikan perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus juga belum menunjukkan perkembangan seperti yang diharapkan. Ignatius Suharyo, Kardinal dan Uskup Agung Jakarta dalam surat gembala yang ditulisnya pada Minggu Adven II, 4 Desember 2016 dengan tegas mengatakan bahwa Gereja merasa dibutakan oleh realitas banyaknya penyandang disabilitas di lingkungan keagamaan. Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas adalah 11.580.117 orang (Prayogo, 2016). Belum ada angka yang pasti mengenai hal ini di Keuskupan Agung Jakarta. Tetapi jika diambil angka lima persen saja, ada kira-kira 25 ribu penyandang disabilitas di

(22)

Keuskupan Agung Jakarta ini. Mereka tampak sedikit, karena mereka hanya berdiam diri di rumah. Mereka tidak mendapat akses untuk beribadah di rumah ibadahnya. Ternyata di dalam agama Katolik ada kaum minoritas yang perlu perhatian, sapaan, bantuan, dan pengakuan. Mereka ada dan memiliki martabat yang sama dengan umat normal lainnya. Mereka juga ciptaan Tuhan yang istimewa.

Dalam rangka menganggapi keprihatinan tersebut Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta merupakan salah satu bagian dari Yayasan Seri Amal Medan yang bekerja sama dengan lembaga pendidikan SLB-B Pangudi Luhur Jakarta dalam memberikan pendidikan formal maupun non-formal terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus, khususnya anak tunarungu. Secara formal, anak-anak tunarungu yang tinggal di Asrama Graha Murni Luhur memperoleh pendidikan di SLB-B Pangudi Luhur. Sedangkan secara non-formal, anak-anak tunarungu dibimbing dan didampingi di Asrama oleh para Suster dari Kongregasi Suster St.

Yosef, Medan dan para pendamping lainnya. Secara non-formal, anak-anak dilatih mulai dari hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari. Selain dilatih, mereka juga didampingi secara penuh agar mereka mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Namun dalam pendampingan hidup beriman, anak tunarungu belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendampingan khusus yang sesuai dengan karakteristik mereka.

Berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatan penulis pada tanggal 12-30 Juni 2017, anak tunarungu khususnya yang tinggal di asrama masih kurang mendapatkan pelayanan dari Gereja. Kurangnya perhatian Gereja dalam

(23)

memberikan pendampingan iman yang khusus bagi anak-anak cacat seperti anak tunarungu. Misalnya, pada hari Minggu dan perayaan besar Gereja lainnya saat dimana seluruh umat beriman dan termasuk anak tunarungu merayakan iman mereka di gereja. Biasanya anak tunarungu bergabung bersama-sama dengan umat pada umumnya untuk merayakan perayaan Ekaristi. Gereja masih kurang memberikan perhatian yang khusus bagi anak tunarungu agar mereka dapat merayakan imannya dengan baik. Perayaan masih berlangsung seperti biasanya, artinya bahasa maupun cara mengomunikasikan perayaan itu hanya bisa dipahami oleh umat yang normal atau tidak cacat seperti anak tunarungu. Padahal anak tunarungu memiliki keterbatasan pada pendengaran dan bahasa. Keterbatasan itu tentu menjadi suatu halangan yang sangat besar bagi mereka dalam memahami dan mengikuti perayaan tersebut. Namun mereka tidak memiliki pilihan selain hanya ikut perayaan bersama umat secara umum. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja masih kurang dalam memberikan perhatian dan pelayanan terhadap anak tunarungu. Itulah sebabnya anak tunarungu masih kurang mendapat akses untuk beribadah maupun pendampingan dari Gereja.

Menyadari hal itu, seharusnya anak tunarungu mendapatkan pelayanan pendidikan atau pendampingan iman dari pihak Gereja. Mereka membutuhkan bantuan dari pihak Gereja dalam menumbuhkan, memahami dan mengembangkan iman mereka. Dilihat dari keistimewaannya, anak tunarungu memiliki perbedaan yang sangat jauh dari anak-anak normal lainnya. Perbedaan ini mengandaikan adanya pendekatan yang berbeda mengenai katekese di setiap situasi, kondisi, atau keadaan umat yang dituju katekese. Karena ketidakmampuan dalam

(24)

mendengar dan berbicara, anak tunarungu lebih tertarik pada hal-hal yang bersumber pada penglihatan. Seperti melihat gambar-gambar unik yang disertai dengan tulisan-tulisan. Dengan begitu, mereka dapat memahami sesuatu halnya dengan baik. Artinya, perlu adanya cara khusus atau pewartaan yang memampukan pewarta menyampaikan ajaran iman kepada anak tunarungu. Dan sebaliknya, anak tunarungu juga mampu menerima dan memahami isi pewartaan tersebut dengan baik. Dalam hal ini seorang pewarta atau katekis dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengemas materi pewartaan yang hendak disampaikan agar anak tunarungu mudah menerima dan mampu memahaminya dengan baik.

Menilik situasi atau keterbatasan anak tunarungu, satu hal yang sangat penting ialah bagaimana pewartaan iman dapat tersampaikan dengan baik kepada mereka. Anak tunarungu memiliki keterbatasan pada pendengaran, dimulai dengan cacat pendengaran, keterlambatan berbahasa dan berbicara bahkan tunawicara. Akan tetapi keterbatasan itu tidak menutup kemungkinan bahwa mereka dapat belajar. Anak tunarungu dapat dididik dengan menggunakan media visual atau bahasa isyarat bibir/tangan. Salah satu media visual yang cocok untuk anak tunarungu adalah media stimulasi visual melalui gambar (Pratiwi, dkk, 2013:29). Media gambar yang disertai dengan tulisan dapat mudah dipahami anak tunarungu karena semua materi diterima berdasarkan apa yang mereka lihat.

Menyadari situasi dan keterbatasan anak tunarungu, maka salah satu cara agar pewartaan yang hendak disampaikan kepada mereka dapat diterima dan dipahami dengan baik harus dikemas lewat media gambar dan tulisan. Salah satu

(25)

media yang memiliki gambar dan tulisan adalah komik Kitab Suci. Komik merupakan sebuah buku yang berisikan cerita bergambar dan tulisan teks. Dalam bahasa Indonesia komik disebut juga cerita bergambar. Dan Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh manusia atas ilham dari Allah yang isinya tentang sabda Allah. Dengan demikian komik Kitab Suci merupakan cerita bergambar yang menceritakan sabda Allah.

Pentingnya katekese terhadap anak tunarungu tentu berdasar pada pandangan teologis yang mendalam yaitu Markus 7:32-35 yang berbunyi:

Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya:

Terbukalah!. Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Dengan demikian sudah sepatutnya Gereja memberikan perhatian yang serius terhadap anak tunarungu. Mereka memerlukan bantuan dalam menemukan dan memahami imannya akan Yesus Kristus. Perlu sarana dan wadah untuk membantu menumbuhkan dan mengembangkan iman mereka. Hal itu dapat dilakukan melalui kegiatan pendampingan iman yang diselenggarakan oleh pihak Gereja.

Gereja menjadi penyambung bagi anak yang tunarungu untuk mengantar pada pertumbuhan dan pemahaman akan imannya. Gereja perlu memandang bahwa pendampingan iman terhadap anak tunarungu sangat penting agar mereka mampu menemukan imannya melalui pengalaman hidup sehari-hari. Anak

(26)

tunarungu yang tinggal di asrama memiliki kesempatan dalam memperoleh pendampingan iman atau katekese. Oleh sebab itu, penulis membuat sebuah model katekese yang sesuai konteks anak tunarungu dengan menggunakan visual gambar dan teks berupa komik Kitab Suci. Dengan demikian tulisan ini diberi judul Katekese Bersama Anak Tunarungu dengan Pendekatan Visual Komik Kitab Suci di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang dikemukakan di atas, maka penulis mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

1. Keterbatasan anak tunarungu dalam mendengar suara atau bunyi dan keterbatasan dalam bahasa menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam mengikuti dan mendapatkan pendidikan serta pendampingan iman dari Gereja.

2. Kurangnya perhatian Gereja terhadap pendampingan atau pendidikan iman terhadap anak tunarungu.

3. Kurangnya pelayanan Gereja dalam memberikan pendidikan dan pendampingan iman terhadap anak tunarungu.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada sejauhmana pelaksanaan katekese bersama anak tunarungu dan dampak katekese bersama anak tunarungu dengan pendekatan visual komik Kitab Suci serta manfaat bagi pendampingan anak-anak

(27)

tunarungu. Penelitian ini dilakukan terhadap anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta Barat.

D. Rumusan Masalah

Berdasakan latar belakang yang sudah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana katekese bersama anak-anak tunarungu dilakukan di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta?

2. Bagaimana dampak katekese dengan pendekatan visual komik Kitab Suci bagi anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam tulisan ini antara lain:

1. Mengetahui bagaimana katekese bersama anak tunarungu dilakukan di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

2. Mengetahui dampak katekese dengan pendekatan visual komik Kitab Suci bagi anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penulisan ini antara lain:

1. Bagi Penulis

Melalui tulisan ini, penulis semakin menyadari pentingnya membuka diri bagi orang-orang yang memiliki kelemahan atau keterbatasan dalam berbagi pengetahuan dalam pelayanan iman. Penulis juga menyadari bahwa

(28)

setiap orang, bagaimanapun bentuknya dan keadaannya berhak mendapatkan pendidikan dan pelayanan iman karena mereka adalah gambar dan rupa Allah (Imago Dei).

2. Bagi Gereja dan Prodi PENDDIKAT

Dalam usaha mewujudkan katekese yang kontekstual, Gereja berusaha untuk memberikan pelayanan, pembinaan maupun pendidikan iman bagi semua umat sesuai dengan situasi umat. Melalui tulisan ini katekese kontekstual dapat digunakan bersama anak tunarungu dengan menggunakan media komik Kitab Suci demi pembinaan dan pendidikan iman mereka.

3. Bagi Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta

Pembina atau pendamping anak-anak tunarungu memperoleh metode pembinaan iman yang baru bersama anak tunarungu dengan menggunakan media komik Kitab Suci. Selain itu, anak tunarungu juga mendapatkan pelayanan dan pembinaan iman yang sederhana demi perkembangan iman mereka.

G. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripsi analisis. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Sedangkan untuk validasi data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode trianggulasi. Untuk memperoleh data maka penulis melakukan katekese, wawancara, dan divalidasi dengan kuesioner.

(29)

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya dampak penggunaan media visual komik Kitab Suci dalam katekese bersama anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Observasi situasi anak tunarungu

Observasi dilakukan untuk mengetahui situasi anak-anak tunarungu yang menjadi sasaran penelitian. Proses yang dilakukan dalam bentuk wawancara sederhana terhadap anak tunarungu. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan data juga diperoleh dari pendamping anak-anak tunarungu. Selain itu, observasi juga dilakukan saat penulis mendapat tugas untuk membantu mendampingi anak tunarungu pada pada tanggal 12-30 Juni 2017, yang sampai saat ini mereka masih ada di asrama. Data juga diperoleh melalui kuesioner dengan mempersiapkan pedoman pertanyaan. Hasil wawancara dan kuesioner tersebut disusun untuk menjadi pedoman awal penentuan tema-tema pendampingan dan media yang sesuai dengan minat anak tunarungu.

2. Menyusun kegiatan katekese untuk tunarungu dengan memanfaatkan komik Kitab Suci yang telah dipilih.

Setelah mengetahui situasi anak tunarungu dan telah menentukan tema- tema yang sesuai dengan minat anak tunarungu, kegiatan katekese untuk anak tunarungu dapat disusun. Tema-tema yang dipilih dalam katekese tersebut sesuai dengan kondisi atau keadaan anak tunarungu. Penulis mulai menganalisis beberapa cerita komik Kitab Suci yang dipilih untuk menemukan kedalaman makna, kemenarikan, dan hiburan cerita sesuai dengan karakteristik anak

(30)

tunarungu untuk dapat dimanfaatkan sebagai media visual. Kegiatan katekese bersama anak tunarungu disusun dengan satuan perencanaan yang sistematis, sehingga memudahkan pelaksanaan program katekese untuk tunarungu.

3. Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan beberapa persiapan di antaranya:

perencanaan kegiatan katekese bersama anak tunarungu, tempat, waktu, sarana, dan pra sarana. Pendamping katekese yang mengatur jalannya proses katekese bersama anak tunarungu adalah penulis sendiri dengan didampingi evaluator yang bertugas untuk memantau dan mengevaluasi jalannya katekese untuk anak tunarungu. Dalam hal ini yang bertugas menjadi evaluator adalah salah satu pendamping anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

4. Penelitian

Penelitian dilakukan dengan mewawancarai beberapa anak tunarungu dan pendamping asrama dengan pertanyaan yang sesuai dengan penelitian. Hasil wawancara dari anak tunarungu dan pendamping anak tunarungu di Asrama SLB-B dapat digunakan untuk mendeskripsikan proses katekese untuk anak tunarungu yang telah berlangsung. Untuk memperoleh hasil data yang valid penulis menggunakan kuesioner untuk mengecek data yang diperoleh berdasarkan kegiatan katekese dan wawancara.

5. Merangkum hasil penelitian

Hasil penelitian dirangkum untuk mengetahui adanya dampak penggunaan media visual komik Kitab Suci dalam katekese bersama anak tunarungu di

(31)

Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Hasil rangkuman tersebut dideskripsikan sebagai hasil penelitian terhadap dampak media visual komik Kitab Suci dalam katekese bersama anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta.

H. Sistematika Penulisan

Tulisan ini diberi judul Katekese Bersama Anak Tunarungu dengan Pendekatan Visual Komik Kitab Suci di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta. Judul tersebut diuraikan menjadi lima bab. Gambaran umum yang dibahas dalam tulisan ini diperinci sebagai berikut:

Bab I: Dalam bab ini penulis memaparkan latar belakang penulisan skripsi, baik berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sumber lainnya. Rumusan masalah, manfaat dan tujuan penulisan skripsi dirumuskan juga dalam bab ini.

Bab II: Dalam bab ini penulis menjelaskan hakikat katekese, karakteristik anak tunarungu, katekese bersama anak tunarungu, bagaimana penggunaan media komik Kitab Suci dalam katekese bersama anak tunarungu. Bab ini juga menguraikan kerangka teori yang merujuk pada referensi berbagai ahli tertentu maupun berbagai teori-teori yang ada akan mendasari hasil dan pembahasan secara detail, dapat berupa definisi-definisi yang langsung berkaitan dengan tema atau masalah yang diteliti.

Bab III: Dalam bab ini penulis menjelaskan sejarah singkat Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta dan gambaran umum anak tunarungu di Asrama tersebut, serta menjelaskan metode dan langkah penelitian.

(32)

Bab IV: Dalam bab ini penulis menyajikan pelaksanaan penelitian, hasil penelitian terhadap anak tunarungu di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta dan usulan kegiatan.

Bab V: Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari penulis sehubungan dengan

“Katekese Bersama Anak Tunarungu dengan Pendekatan Visual Komik Kitab Suci di Asrama SLB-B Graha Murni Luhur Jakarta”.

(33)

BAB II

KOMIK KITAB SUCI SEBAGAI MEDIA VISUAL DALAM KATEKESE BERSAMA ANAK TUNARUNGU

A. Katekese Bersama Anak Tunarungu

Dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (art. 35-44), Sri Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa orang-orang perlu mengalami katekese.

Mereka adalah anak kecil, anak-anak remaja, kaum muda, kaum dewasa, para katekumen, dan penyandang cacat fisik atau mental. Perbedaan-perbedaan yang mereka miliki baik dari segi usia, segi fisik atau mental, dan berbagai konteks lainnya membuat pendekatan dalam berkatekese juga berbeda. Secara khusus, dalam bahasan ini penulis mengungkapkan bahwa katekese bersama anak cacat fisik seperti anak tunarungu tentu berbeda dengan berkatekese dengan anak yang normal atau tidak cacat. Berkatekese bersama anak tunarungu memerlukan beberapa pemahaman yaitu hakikat dan isi katekese, karakteristik anak tunarungu menyangkut intelektual, bahasa dan bicara dalam katekese. Oleh sebab itu, katekese bersama anak tunarungu diuraikan sebagai berikut:

1. Hakikat Katekese

Kata katekese berasal dari Yunani katekeo yang berarti bergema (Rukiyanto, BA, 2012:59). Dalam umat Kristiani istilah ini digunakan mewartakan Injil dan penyampaian ajaran Gereja. Menurut Dapiyanta dalam Madya Utama (2018:135), katekese merupakan salah satu karya pewartaan Gereja yang bersumber pada Sabda Allah. Dalam pewartaan tersebut terdapat tiga

(34)

hal pokok yang perlu dipahami yaitu Sabda Allah sebagai sumber pewartaan, iman sebagai jawaban manusia akan Sabda Allah itu, dan Gereja sebagai komunitas dan subjek penerima Sabda tersebut. Dalam hal ini katekese dapat dipahami sebagai pendidikan atau pembinaan iman umat dalam pewartaan Sabda Allah.

Dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (art. 18), Sri Paus Yohanes Paulus II menegaskan: ”Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen”. Katekese dipahami sebagai usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya akan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Usaha tersebut membutuhkan perencanaan yang jelas dan terarah. Hal itu dilakukan agar katekese yang dilaksanakan sungguh mampu menjawab kebutuhan dan kerinduan umat.

2. Tujuan Katekese

Dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (art. 5-6), mengatakan bahwa semua katekese bersifat kristosentris artinya menempatkan Yesus Kristus sebagai pusatnya. Secara khusus dalam Catechesi Tradendae (art. 5) ditekankan bahwa yang menjadi jantung atau pusat katekese adalah pribadi Yesus Kristus sendiri atau sering disebut Kristosentris. Dengan demikian jantung hati katekese

(35)

adalah Yesus Kristus. Tekanan pada Kristonsentris selalu digemakan, dan ditegaskan bahwa:

Pertama-tama maksudnya menekankan, bahwa sebagai jantung katekese pada hakekatnya kita jumpai seorang pribadi, yakni pribadi Yesus dari Nazaret “Putera Tunggal Bapa…..penuh rahmat dan kebenaran (Yoh 1:14)”, yang menderita sengsara dan wafat demi kita, dan yang sekarang, sesudah bangkit mulia, hidup beserta kita selama-lamanya. Itulah Yesus….

Artikel ini memberikan pemahaman bagi penyelenggara katekese bahwa dalam katekese yang ditawarkan adalah Yesus Kristus sendiri. Metode atau cara apa pun yang dilakukan dalam berkatekese tidak boleh mengurangi isi atau menyimpang dari isi katekese. Seperti ungkapan Santo Paulus dan teologi masa kini yaitu “misteri Kristus”, menegaskan bahwa katekese mencakup arti mengajak sesama mendalami Misteri dalam segala dimensinya (CT, 5):

Untuk menunjukkan kepada semua orang makna rencana yang terkandung dalam misteri…bersama dengan segala orang kudus memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus…mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan…dan dipenuhi dalam segala kepenuhan Allah.

Sejalan dengan itu, tujuan katekese bukan saja menghubungkan umat dengan Yesus Kristus, melainkan mengundangnya untuk memasuki persekutuan hidup mesra dengan-Nya. Seluruh hidup kita dibimbing-Nya menuju pada cinta kasih Bapa dalam Roh, dan mengajak kita ikut serta dalam menghayati hidup Tritunggal Kudus.

(36)

3. Dasar-dasar Katekese Tunarungu

Katekese bersama anak tunarungu dalam Gereja merupakan urgensi penting dalam pewartaan karena mereka juga merupakan bagian Gereja. Adapun pandangan Gereja tentang pentingnya pendidikan iman terhadap anak penyandang tunarungu berdasar pada Kitab Suci dan dokumen-dokumen resmi Gereja, yaitu sebagai berikut:

a. Tunarungu Berdasar Kitab Suci

Dasar utama penyelenggaraan pendidikan iman terhadap anak penyandang tunarungu tentu berakar pada Kitab Suci. Perikop yang mengemukakan pentingnya pendidikan iman terhadap anak penyandang tunarungu antara lain Markus 7:32-35.

b. Katekese Berdasar Dokumen Gereja

Meneladan sikap Yesus terhadap anak penyandang cacat tunarungu, Gereja juga terdapat dokumen-dokumen yang secara khusus menegaskan soal pentingnya pendidikan iman anak, tidak terkecuali anak tunarungu. Dokumen- dokumen itu antara lain, Gravissimum Educationis (GE) dan Catechesi Tradendae (CT).

Ajaran tentang Pendidikan Kristen dalam Dokumen Konsili Vatikan II menyatakan bahwa “semua orang dari suku, kondisi atau usia manapun juga, berdasarkan martabat mereka selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu-gugat atas pendidikan” (GE, art. 1). Ajaran ini mengatakan bahwa anak tunarungu juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami mereka.

(37)

Paus Yohanes Paulus II dalam anjuran apostoliknya dalam dokumen Cateshesi Tradendae (CT) secara khusus menyinggung orang perlu mengalami

katekese, termasuk anak yang cacat. Hal tersebut dapat dilihat dalam dokumen CT artikel 41 yang menyatakan bahwa:

Yang pertama-tama meminta perhatian ialah anak-anak dan kaum muda yang menyandang cacat fisik atau mental. Seperti teman-teman sebaya, mereka berhak mengenal „misteri iman‟. Kesulitan-kesulitan lebih besar yang mereka hadapi membuahkan pahala yang lebih besar pula bagi usaha mereka dan jerih-payah para pembina mereka.

Sungguh menggembirakan, menyaksikan bahwa organisasi-organisasi Katolik yang secara khas membaktikan diri bagi para penyandang cacat yang masih muda…….Organisasi-organisasi itu layak mendapat dukungan yang hangat dalam usaha mereka.

Paus sangat mendesak Gereja untuk memberikan perhatian dan mengutamakan kebutuhan anak-anak dan kaum cacat demi mengenal iman mereka. Oleh karena itu, anak tunarungu merupakan bagian dari anak kaum cacat yang juga seharusnya mendapat perhatian yang serius dari pihak Gereja dalam mengenalkan iman kepada mereka dan melakukan pendampingan secara khusus terhadap mereka.

B. Hakikat Anak Tunarungu 1. Konsep Anak Tunarungu

Bahasa bagi manusia mempunyai peranan penting dalam menempuh hidupnya, antara lain untuk berusaha mengembangkan diri, menyesuaikan diri, dan kontak sosial dalam memenuhi kehidupan serta proses belajarnya. Anak berkebutuhan khusus tunarungu mengalami hambatan dalam proses bicara dan bahasanya yang disebabkan oleh kelainan pendengaran (Mohammad Effendi,

(38)

2006:79). Sebagai akibat terhambatnya perkembangan bicara dan bahasa, anak tunarungu akan mengalami keterlambatan dan kesulitan dalam hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi.

Tunarungu adalah suatu kondisi dimana anak atau orang dewasa tidak dapat memfungsikan alat pendengarannya untuk mempresepsi bunyi dan menggunakannya dalam berkomunikasi. Hal ini diakibatkan karena adanya gangguan dalam alat dengar baik dalam kondisi ringan, sedang, berat dan berat sekali. Kirk dalam Mohammad Effendi (2006:59) memberikan batasan untuk dua istilah tunarungu berdasarkan seberapa jauh seseorang dapat memanfaatkan sisa pendengaran dengan atau bantuan amplikasi oleh alat bantu mendengar sebagai berikut.

Kelompok lemah pendengaran (hard of hearing) adalah mereka yang a.

kehilangan kemampuan pendengarannya sehingga mengalami kesulitan mendengar suara orang lain secara wajar, tetapi masih mampu memahami bicara orang lain, dan masih bisa dibantu dengan alat bantu dengar.

Kelompok tuli (deafness) adalah mereka yang kehilangan pendengaran atau b.

tidak dapat menggunakan pendengarannya sebagai sarana utama guna mengembangkan kemampuan bicara, walaupun menggunakan alat bantu dengar.

2. Keadaan Inteligensi, Bahasa dan Bicara, Emosi dan Sosial

Anak tunarungu apabila dilihat dari segi fisiknya tidak ada perbedaan dengan anak pada umumnya, tetapi sebagai dampak dari ketunarunguan mereka

(39)

memiliki karakteristik yang khas. Menurut beberapa ahli dalam Delphie (2006:102) karakteristik anak tunarungu dilihat dari segi inteligensi, bahasa dan bicara, serta emosi dan sosial.

a. Karakteristik dalam segi inteligensi

Secara potensial anak tunarungu sama dengan inteligensi anak normal pada umumnya, ada yang pandai, sedang, dan ada yang kurang pandai. Secara fungsional inteligensi mereka berada di bawah anak normal. Hal ini disebabkan oleh kesulitan anak tunarungu dalam memahami bahasa.

Perkembangan inteligensi anak tunarungu tidak sama cepatnya dengan anak yang mendengar, karena anak yang mendengar belajar banyak dari apa yang mereka dengar. Dalam hal tersebut merupakan proses dari latihan berpikir.

Keadaan tersebut tidak terjadi pada anak tunarungu, karena mereka memahami sesuatu lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Oleh sebab itu, sering kali anak tunarungu disebut sebagai “insan permata”. Dengan kondisi seperti itu anak tunarungu lebih memerlukan banyak waktu untuk memahami suatu hal, seperti memahami suatu pembelajaran di sekolah.

Dalam dunia pendidikan prestasi belajar anak tunarungu berada dalam posisi rendah namun bukan berasal dari kemampuan intelektual yang rendah, tetapi pada umumnya disebabkan oleh inteligensinya yang tidak mendapat kesempatan untuk berkembang secara optimal. Tidak semua aspek inteligensi anak tunarungu terhambat, yang mengalami hambatan hanya yang bersifat verbal, misalnya merumuskan pengertian, menarik kesimpulan, dan meramalkan

(40)

kejadian. Aspek yang bersumber dari penglihatan, dan yang berupa motorik tidak banyak mengalami hambatan bahkan dalam perkembangan sangat cepat.

b. Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara.

Anak tunarungu dalam segi bicara dan bahasa mengalami hambatan. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan yang erat antara bahasa dan bicara dengan ketajaman pendengaran. Bahasa dan bicara merupakan hasil proses peniruan. Karena anak tunarungu mengalami masalah dalam ketajaman pendengaran, anak tunarungu sulit mengartikan arti kiasan dan kata-kata yang bersifat abstrak.

Karakteristik dalam segi emosi dan sosial c.

Keterbatasan yang terjadi dalam komunikasi pada anak tunarungu mengakibatkan perasaan terasing dari lingkungannya. Anak tunarungu mampu melihat semua kejadian, akan tetapi tidak mampu memahami dan mengikutinya secara menyeluruh sehingga menimbulkan emosi yang tidak stabil, mudah curiga, dan kurang percaya diri. Dalam pergaulan anak tunarungu cenderung memisahkan diri terutama dengan anak normal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan untuk melakukan komunikasi secara lisan. Berikut ini sifat-sifat anak tunarungu dilihat dari segi emosi dan sosial anak tunarungu:

1) Umumnya anak tunarungu memiliki sifat yang polos, sederhana, dan tidak banyak masalah.

2) Lebih mudah marah dan cepat tersinggung.

(41)

3. Klasifikasi Anak Tunarungu

Untuk keperluan layanan pendidikan khusus, para ahli berpendapat klasifikasi mutlak diperlukan. Hal ini sangat menentukan dalam pemilihan alat bantu mendengar yang sesuai dengan sisa pendengarannya dan menunjang pembelajaran yang efektif. Menentukan tingkat kehilangan pendengaran dan pemilihan alat bantu dengar serta layanan khusus yang tepat akan menghasilkan akselerasi secara optimal dalam mempersepsi bunyi bahasa dan wicara.

Klasifikasi ketunarunguan sangat bervariasi menurut ISO dalam Mohammad Effendi (2006:59) seperti pada gambaran dan karakteristik ketunarunguan di bawah ini didasarkan pada:

a. Kelompok I: Kehilangan 20-30 dB (slight losses) atau ketunarunguan ringan, mampu memahami pembicaraan manusia normal.

b. Kelompok II: Kehilangan 30-40 dB (mild losses) atau ketunarunguan yang masih mampu memahami percakapan biasa namun pada jarak yang sangat dekat, mampu mengekspresikan isi hatinya.

c. Kelompok III: Kehilangan 40-60 dB (moderato hearing losses) atau ketunarunguan sedang, masih mempunyai daya tangkap percakapan namun harus pada jarak yang sangat dekat, kira-kira 1 meter, daya tangkap terhadap percakapan manusia hanya sebagian karena mereka kelainan bicara terutama pada huruf konsonan.

d. Kelompok IV: Kehilangan 60-75 dB (severe loses) atau ketunarunguan berat, daya tangkap terhadap percakapan manusia tidak ada.

(42)

e. Kelompok V: Kehilangan 75 dB ke atas (profoundly losses) atau ketunarunguan sangat berat, daya tangkap terhadap suara percakapan manusia tidak ada sama sekali.

4. Karakteristik Anak Tunarungu

Menurut Delphie (2006:102) karakteristik anak tunarungu antara lain:

a. Tidak mampu mendengar

b. Memiliki keterlambatan dalam bahasa

c. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi d. Kurang atau tidak tanggap bila diajak berbicara e. Ucapan kata tidak jelas

f. Kualitas suara monoton dan kurang baik

g. Sering memiringkan suara untuk mencari sumber bunyi h. Banyak perhatian terhadap getaran

i. Cepat tersinggung

j. Irama bahasa dan irama gerak kurang baik k. Sulit memahami bahasa yang abstrak.

Perkembangan fisik anak tunarungu tidak mengalami hambatan untuk dapat melakukan aktivitas gerak dengan baik hanya keseimbangannya yang kurang baik. Pada aktivitas sehari-hari yang sangat terlihat sekali pada anak tunarungu adalah dalam kegiatan bicara dan bahasa. Anak tunarungu sulit

(43)

memahami bahasa dalam berkomunikasi. Mereka sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi.

5. Maksud dan Tujuan Katekese Bersama Anak Tunarungu

Dasar-dasar katekese bersama anak tunarungu dari berbagai dokumen Gereja di atas menegaskan pentingnya pendidikan iman terhadap anak tunarungu.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orangtua yang melalaikan tanggung jawabnya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak. Selain itu, orangtua juga mengalami kesulitan dalam melakukan pendampingan iman terhadap anak yang demikian karena memiliki keterbatasan dalam mendengar dan berkomunikasi. Melihat keprihatinan dan keterbatasan tersebut, Gereja sebagai tergerak untuk membantu orangtua dalam hal perkembangan iman anak. Dalam hal ini Gereja sifatnya hanya membantu karena pembimbing dalam lembaga menyadari bahwa akhirnya orangtua dan anak-anak sendiri yang perlu mendidik diri (Gorreti, 1999:18)

Anak tunarungu harus memperoleh pendampingan khusus, baik dari orangtua maupun dari orang lain untuk menumbuhkan iman mereka. Sebagai anggota Gereja, mereka juga berhak untuk mendapatkan pendampingan dan pendidikan iman supaya mereka mampu menjadi saksi Kristus dengan cara dan keunikan yang ada dalam diri mereka. Oleh karena itu, Gereja perlu melakukan pendampingan iman yang khusus dan sesuai dengan kondisi mereka. Kegiatan pendampingan itu bermaksud untuk menciptakan suasana yang mendukung perkembangan pribadi dan iman mereka, mengembangkan kesadaran akan nilai-

(44)

nilai moral kristiani, mengembangkan pemahaman dan penghayatan liturgi, meningkatkan harga diri yang sehat dan wajar, mengembangkan bakat dan ketrampilan anak tunarungu.

C. Komik Kitab Suci sebagai Media Visual 1. Pengertian Media

Sebelum masuk pengertian media dalam katekese, maka terlebih dahulu mengetahui arti dan pengertian media. Secara harafiah, media berasal dari bahasa Latin medium yang berarti “perantara”. Menurut Gerlach dan Ely dalam Arsyad Azhar (2015:3) secara garis besar media merupakan manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat anak mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap. Dalam pengertian ini katekis, komik Kitab Suci, dan lingkungan asrama merupakan media. Secara khusus pengertian media dalam proses katekese diartikan sebagai alat-alat untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Fleming dalam Arsyad Azhar (2015:3) menyatakan bahwa media sering disebut sebagai mediator untuk menunjukkan fungsi atau perannya yaitu untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar anak dan isi yang dipelajari. Dengan demikian media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan atau menghantarkan pesan-pesan pembelajaran.

Secara implisit, Gagne dan Briggs dalam Arsyad Azhar (2015:4) mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran seperti buku, film, slide (gambar

(45)

bingkai), gambar dan lain-lain. Atau dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar yang mengandung materi dan rangsangan bagi anak untuk mau belajar. Oleh sebab itu, media katekese adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi dengan penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil pemahaman anak dan membuat proses katekese menjadi menarik serta menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.

Menurut Arif Sadiman (2003:6), media adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk menyalurkan atau mengantar pesan dari sesuatu ke penerima pesan. Media merupakan salah satu sumber belajar dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat anak dalam proses belajar. Media sebagai sarana dapat membantu anak tunarungu untuk dalam aktivitas katekese. Jadi media tidak bisa dipandang sebagai alat bantu belaka bagi katekis untuk berkatekese tetapi lebih dari itu, media sebagai penyalur pesan ke penerima pesan. Dalam hal ini katekis dan media hendaknya bahu-membahu dalam memberi kemudahan dalam berkatekese secara khusus terhadap anak tunarungu. Berikut ini penulis membahas ciri-ciri umum media, jenis-jenis media, dan manfaat pengembangan media.

a. Ciri-ciri Umum Media

Adapun ciri-ciri umum media antara lain sebagai berikut.

1) Dilihat dari segi fisik, media dikenal dengan istilah hardware (perangkat keras) yaitu sesuatu yang dapat didengar dan dilihat dengan menggunakan panca indera.

Gambar

Ilustrasi  sangat  dekat  sekali  dengan  komik.  Jika  ilustrasi  hanya  terdiri  dari  beberapa  gambar  yang  melukiskan isi cerita, komik adalah  gambar-gambar  yang  memvisualisasikan keseluruhan cerita
gambar  kartun/karikatur  menampilkan  sosok  atau  tokoh  tertentu.  Karikatur  juga  dapat  digunakan  sebagai  sarana  untuk  menyampaikan  kritik  yang  sehat  dengan  menggunakan gambar-gambar yang lucu dan menarik
Tabel 1. Kisi-kisi Panduan Pertanyaan Wawancara dengan Anak  Tunarungu.
Tabel 2. Panduan Pertanyaan Wawancara dengan Anak  Tunarungu.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Bapa yang Maha Pengasih, karena berkat dan kasih-Nya telah memperkenankan penulis untuk dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini

Puji syukur setinggi - tingginya kepada Allah Bapa di surga, karena berkat dan penyertaan kasih-Nya yang tak terhingga selama penyusunan skripsi ini, akhirnya

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat serta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang mengambil judul “Pengaruh

Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat, penyertaan, dan kasih sayang-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengembangan

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, kasih karunia, dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan

Puji syukur setinggi-tingginya kehadirat Allah Bapa, karena berkat dan limpahan kasih karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang Pengaruh

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah, dan karunia-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Puji syukur kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan berkat dan kasih – Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “KONSEP DIRI LESBIAN DALAM