PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GAME FOR
UNDERSTANDING (TGFU) PADA PEMBELAJARAN DODGEBALL TERHADAP KETERAMPILAN LEMPAR TANGKAP
Tesis
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Memperoleh Gelar Magister
Oleh :
AGUS RIJALULLOH 0908091
JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA SEKOLAH PASCA SARJANA (SPS) UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (Tgfu) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Halaman Hak Cipta
==================================================================
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
TGFU PADA PEMBELAJARAN
DODGEBALL TERHADAP
KETERAMPILAN LEMPAR TANGKAP
Oleh
Agus Rijalluloh S.Pd UPI Bandung, 1999
Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Olahraga
© Agus Rijalluloh 2013 Universitas Pendidikan Indonesia
Agustus 2013
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
LEMBAR PENGESAHAN
Disetujui dan disahkan oleh pembimbing
Pembimbing 1
Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A. NIP. 196306181988031002
Pembimbing 2
Dr. H.Munajat Saputra, M.Ed NIP. 196303121989011002
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (Tgfu) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING
Pembimbing I
Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A NIP: 196306181988031002
Pembimbing II
Dr. H. Yudha Munaiat Saputra, M.Ed NIP. 196303121989011002
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa laporan penelitian dengan judul
"Pengaruh Model Pembelajaran Tgfu Pada Permainan Dodgeball Terhadap
Keterampilan Lempar Tangkap", beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya
sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara
yang tidak sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.
Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko / sanksi yang dijatuhkan
kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran atas etika keilmuan
dalam karya saya ini, atau ada klaim terhada keaslian karya saya ini.
Bandung, Agustus 2013
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ABSTRAK
Pengaruh Model Pembelajaran TGFU Pada Permainan Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Agus Rijalulloh
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model TGFU dengan menggunakan media dodgeball terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 9, 10, dan 11 tahun di SDN Bulakan II Cilegon.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain pre test post test. Instrumen yang dipakai adalah tes keterampilan lempar tangkap bola. Populasi penelitian adalah semua siswa SDN Bulakan II Cilegon yang berumur 9, 10, dan 11 tahun. Jumlah keseluruhan sampel adalah 42 orang. Sampel penelitian dibagi menjadi tiga kelompok (siswa yang berumur 9, 10, dan 11 tahun). Semua kelompok akan mendapatkan perlakuan sebanyak 16 kali. Teknik analisis data menggunakan t test untuk uji rata-rata dua sampel berpasangan (pre-post test) dan ANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan lempar tangkap yang signifikan di semua kelompok umur. Berdasarkan kepada perhitungan dengan SPSS diperoleh hasil untuk t hitung uji t untuk perbandingan pre test dan post test kelompok siswa yang berumur 9 tahun adalah 7.171. Hasil t hitung uji t untuk perbandingan pre test dan post test kelompok siswa yang berumur 10 tahun 6.938. Hasil t hitung uji t untuk perbandingan pre test dan post test kelompok siswa yang berumur 11 tahun 5.977. Ketiganya menunjukkan nilai t hitung yang lebih besar daripada t tabel (2.160). Hasil analisis ANOVA selanjutnya menunjukkan bahwa nilai f hitung keterampilan lempar tangkap nilai rerata post test kelompok siswa yang berumur 9,10, dan 11 tahun adalah (2.974) lebih kecil dari nilai f tabel (3.21). Hasil ini menunjukkan bahwa nilai rerata post test keterampilan lempar tangkap kelompok siswa yang berumur 9, 10, dan 11 tahun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Teaching Game For Understanding (TGFU) dengan menggunakan media permainan dodgeball ini dapat meningkatkan serta mengembangkan keterampilan lempar tangkap.
ABSTRAK
Effect of TGFU Learning Model in Dodgeball Game on Throwing-catching Skills
by
Agus Rijalulloh
The purpose of this research is to understand the effect of TGFU learning model in dodgeball game on SDN Bulakan II Cilegon students (ages 9, 10, and 11 years old) throwing-catching skills.
This research employs quasi experimental design method with pre test post test design. Throwing-catching skills are measured by using ball throwing-catching skills test. Population of this research is all students at SDN Bulakan II Cilegon ages ages 9, 10, and 11 years old. The total samples are 42 students. The samples were divided into three groups (students who ages 9, 10, and 11 years old). All groups will get 16 sessions of treatment. Techniques of data analysis using two paired samples t test (pre-post test) and ANOVA.
The results of this study indicate that there are significant increase on all groups’ throwing-catching skills. Base on spss calculation, calculated t value from two paired samples t test (pre-post test) for 9 years old students group is 7.171. Calculated t value from two paired samples t test (pre-post test) for 10 years old students group is 6.938. Calculated t value from two paired samples t test (pre-post test) for 11 years old students group is 5.977. All calculated t values are higher than t table (2.160). Next, ANOVA analysis shows that calculated f value from three independent samples (students who ages 9, 10, and 11 years old) (5.766) is smaller than f table (3.21). Hasil ini menunjukkan bahwa nilai rerata post test keterampilan lempar tangkap kelompok siswa yang berumur 9, 10, dan 11 tahun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. This result shows that post test average value of these three groups (students who ages 9, 10, and 11 years old) does not indicate significant difference. Overall, this research result indicates that Teaching Game For Understanding (TGFU) Learning Model in Dodgeball Game will give positive effect on throwing-catching skills.
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Alloh. Atas segala karunia dan ni’mat yang telah dilimpahkan-Nya, rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan, rejeki, penerangan lahir dan batin, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul "Pengaruh Model Pembelajaran Tgfu Pada Permainan Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap”.
Penulisan tesis ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat penyelesaian studi pada Program Pendidikan Olahraga Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui kegiatan eksperimen yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar SDN Bulakan 2 Cibeber Kota Cilegon Banten.
Penulis sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan tesis ini, namun penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan. Walaupun demikian, penulis berharap semoga penulisan tesis ini dapat menambah khasanah perbendaharaan pengetahuan dan memberi manfaat dalam pengembangan dunia Pendidikan baik tingkat daerah atau Nasional.
Bandung, Agustus 2013
Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Atas segala karunia dan ni’mat yang telah dilimpahkan-Nya, rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan, rejeki, penerangan lahir dan batin, sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang tulus serta ikhlas dari lubuk hati yang terdalam kepada yang terhormat :
1. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Bapak Prof. Dr. Sunaryo M.Pd, bersama dengan para pembantu rektor yang mau memberi kesempatan Studi.
2. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bapak Dr. Didi Suryadi, M.Ed, bersama para Asisten Direktur yang telah memberikan kelancaran dalam menyelesaikan studi.
3. Bapak Prof. Dr. Adang Suherman M.A, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga dan pembimbing I dalam penulisan tesis ini, yang telah memberikan kelonggaran, perhatian, dorongan, serta saran yang membesarkan hati penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
4. Bapak Dr. H. Munajat Saputra, M.Ed, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran, motivasi, kesabaran, dan perhatian yang sangat besar kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini. Penulis juga tidak lupa berterima kasih untuk berbagai pengalaman, cerita, dan ide-ide yang memberikan inspirasi bagi penulis untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
5. Ibu Dr. dr. Neng Tine K Almuktabar M.Kes, yang telah memberi kepercayaan, dukungan, dan kesempatan belajar di dunia yang benar-benar baru bagi penulis.
6. Bapak dan Ibu dosen SPs (S2) Program Studi Pendidikan Olahraga UPI yang dengan kerelaan hati memberikan ilmunya dalam upaya menyelesaikan studi
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8. Bapak, Ibu, dan kakak adik serta sahabat-sahabat penulis yang selalu memberikan untaian doa, kepercayaan, dukungan, dan cinta dengan ketulusan sehingga penulis selalu termotivasi dalam menyelesaikan studi.
9. Bapak Kepala Sekolah SDN Bulakan 2 Cibeber Kota Cilegon Banten, untuk persahabatan, kerja sama, bantuan, serta motivasi selama melakukan penelitian dan saat penulisan tesis.
10.Rekan-rekan Mahasiswa SPs (S2 dan S3) Program Studi Pendidikan Olahraga angkatan 2009 yang telah menjalin kerja sama dalam menempuh studi.
Bandung,
Agustus 2013
DAFTAR ISI
B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 35
C. Kerangka Pemikiran ... 37
D. Hipotesis ... 38
BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 39
B. Variabel dan Definisi Operasional ... 41
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 48
1. Deskripsi Data ... 48
a. Deskripsi Data Hasil Pre-Test Lempar Tangkap Umur 9 Tahun ... 50
b. Deskripsi Data Hasil Post-Test Lempar Tangkap Umur 10 Tahun ... 52
c. Deskripsi Data Hasil Post-Test Lempar Tangkap Umur 11 Tahun ... 54
2. Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas ... 55
a. Uji Normalitas... 55
b. Uji Homogenitas ... 57
c. Uji Hipotesis ... 59
B. Didkusi Temuan Penelitian ... 63
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... 67
B. Implikasi ... 67
C. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA..….. ... 70
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Pengelompokkan Eksperimen ... 40
3.2 Jadwal Pertemuan Kegiatan Belajar Mengajar ... 42
3.2 Materi Program Pembelajaran Eksperimen ... 46
4.1 Rata-rata Hasil Observasi Pre dan Post Test ... 48
4.2 DeskripsiPre-Post Test Lempar Tangkap Umur 9 Tahun ... 50
4.3 Distribusi Kemampuan Lempar Tangkap Pre-Post Test Umur 9 Tahun ... 51
4.4 Deskripsi Pre Test-Post Test Lempar Tangkap U 10 Tahun... 52
4.5 Distribusi Kemampuan Lempar Tangkap Pre-Post Test Umur 10 Tahun ... 52
4.6 Deskripsi Pre-Post Test Lempar Tangkap Umur 11 Tahun ... 54
4.7 Distribusi Kemampuan Lempar Tangkap Pre-Post Test Umur 11 Tahun ... 54
4.8 Penghitungan Pre-Post Test Ket.Lempar-Tangkap Umur 9 Tahun ... 56
4.9 Penghitungan Pre-Post Test Ket.Lempar-Tangkap Umur 10 Tahun ... 56
4.10 Penghitungan Pre-Post Test Ket.Lempar-Tangkap Umur 11 Tahun ... 57
4.11 Uji Homogenitas Lempar Tangkap Umur 9 Tahun ... 57
4.12 Uji Homogenitas Lempar Tangkap Umur 10 Tahun ... 58
4.13 Uji Homogenitas Lempar Tangkap Umur 11 Tahun ... 58
4.14 Uji Homegenitas Varian Antar Kelompok Umur ... 59
4.15 Kriteria Untuk Uji Hipotesis Kelompok Umur 9 Tahun ... 60
4.16 Kriteria Untuk Uji Hipotesis Kelompok Umur 10 Tahun ... 61
4.17 Kriteria Untuk Uji Hipotesis Kelompok Umur 11 Tahun ... 62
4.18 Uju Anova ... 62
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Pembelajaran Konsep Bermain ... 20
2.2 Lapangan Permainan Dodgeball Versi FDOI ... 28
2.3 Lapangan Permainan Dodgeball Versi NDL USA ... 29
2.4 Bola Dodgeball... 30
2.5 Bersiap Untuk Melakukan Lemparan / Serangan ... 32
2.6 Menyusun serangan secara tim. ... 33
2.7 Menghindari Lemparan / Tembakan Bola ... 34
2.8 Teknik Bertahan / Berlindung ... 35
3.1 Desain Penelitian ... 40
3.2 Lapangan Tes Lempar Tangkap Bola. ... 43
3.3 Langkah-langkah penelitian ... 44
3.4 Materi Program Pembelajaran Eksperimen ... 46
4.1 Perbandingan Skor Tes Lempar Tangkap Siswa Pre & Post Test ... 49
4.2 Deskripsi Kemampuan Lempar Tangkap Pre-Post Test Usia 9 Tahun... 51
4.3 Deskripsi Kemampuan Lempar Tangkap Pre-Post Test Umur 10 Tahun... 53
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran 1. Instrumen Penelitian ... 74
Lampiran 2. Data Hasil Penelitian ... 75
Lampiran 3. Data Hasil-hasil Analisis SPSS 17.0 ... 76
Lampiran 4. Model Pembelajaran Taktis ... 102
Lampiran 5. Surat Keputusan Pembimbing Tesis ... 129
Lampiran 6. Surat Pengantar Penelitian ... 131
Lampiran 7. Surat Bukti Penelitian ... 132
Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian ... 133
1
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fungsi dan peran utama pendidikan jasmani pada jenjang pendidikan
sekolah dasar, selain sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional. Secara khusus pendidikan jasmani menyumbang pendidikan melalui
media gerak, hal ini seperti apa yang dikatakan Pangrazi (1992:1) : ” Pendidikan
jasmani merupakan pendidikan melalui dan tentang gerak.”
Pendidikan jasmani (penjas) sebagai bagian integral dari proses
pendidikan secara keseluruhan. Penjas di sekolah mempunyai peran unik di
banding bidang studi lainnya, karena melalui penjas selain dapat digunakan untuk
pengembangan aspek fisik dan psikomotor, juga ikut berperan dalam
pengembangan aspek kognitif dan afektif secara serasi dan seimbang.
Menurut Melograno (1996: 31) dan AAHPERD (1999: 76) :
Penjas adalah suatu proses pendidikan yang unik dan paling sempurna dibanding bidang studi lainnya, karena melalui pendidikan jasmani seorang guru dapat mengembangkan kemampuan setiap peserta didik tidak hanya pada aspek fisik dan psikomotor semata, tetapi dapat dikembangkan pula aspek kognitif, afektif dan sosial secara bersama-sama.
Dari laporan hasil diskusi kajian kurikulum pendidikan dasar oleh Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pusat Kurikulum tahun 2008 menjelaskan Hakikat
kebutuhan anak usia Sekolah Dasar sesuai dengan prinsip Developmentally
Appropriate Parctice (DAP) bahwa : “Anak usia SD membutuhkan 5 hal yang
perlu di stimulasi oleh pendidik di SD, meliputi: Pengembangan Knowledge,
Pengembangan Speech, Pengembangan Emosi, Pengembangan Life Skill, dan
2
Pendidikan jasmani di sekolah meskipun telah diakui perannya dalam
pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia yang sempurna oleh pakar
pendidikan di manapun berada, termasuk di Indonesia. Namun dalam kenyataan
di lapangan, penjas di Indonesia belum mampu berbuat banyak dalam ikut
menciptakan manusia yang handal dari segi fisik maupun nonfisik. Fenomena ini
terjadi karena dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait, diantaranya:
Pertama, kebijakan pemerintah mengenai kurikulum penjas di sekolah
yang harus diberlakukan tidak sepadan dengan tujuan yang akan dicapai. Hal ini
ditandai oleh:
1) Perubahan nama bidang, namun tidak diikuti isi program yang harus diajarkan,
2) Tidak diperhitungkan dalam menentukan kenaikan kelas,
3) Pengurangan jam pelajaran pada sekolah menengah umum atau hanya
dijadikan sebagai bidang studi pilihan,
4) Penilaian hasil belajar tidak melibatkan aspek kognitif,
5) Tidak tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, dan
6) Kurangnya dukungan yang positif dari pihakpihak yang terkait, misalnya
kepsek, guru bidang studi lain, dan orang tua siswa.
Kedua, kondisi yang terkait langsung di lapangan, diantaranya adalah :
1) Terbatasnya kemampuan guru penjas dan sumber-sumber yang digunakan
untuk mendukung proses pembelajaran,
2) Sistem penilaian kinerja guru dalam rangka kenaikan pangkat tidak dilakukan
oleh orang yang mampu di bidangnya, sehingga tidak memacu guru untuk terus
mengembangkan karier profesional,
3) Jumlah guru bidang studi di sekolah relatif masih kurang, terutama pada
sekolah dasar,
4) Model praktek pembelajaran penjas yang dikerjakan oleh guru mulai dari TK
sampai perguruan tinggi cenderung masih bersifat tradisional dan terpusat pada
guru,
5) Guru penjas pada umumnya pasif dalam mengantisipasi pengembangan
3
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6) Kurangnya dukungan dari kepala sekolah maupun guru bidang studi lain.
Dengan adanya berbagai kendala tersebut, akibat secara langsung yang
dapat kita lihat dari hasil pendidikan jasmani adalah:
1) Makin menurunnya tingkat kebugaran jasmani siswa. Hasil penelitian
secara nasional menunjukkan bahwa pelajar usia 16-19 tahun 45,9%
memiliki tingkat kebugaran jasmani kurang atau kurang sekali, pelajar
13-15 tahun 37% memiliki tingkat kebugaran jasmani kurang atau kurang
sekali. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan juga bahwa tidak satu
persen pun pelajar usia 13 – 19 tahun berkategori baik sekali, hanya 11%
pelajar usia 16-19 tahun dan 14,8% pelajar usia 13- 15 tahun berkategori
baik (Kantor Menpora, 1997),
2) Tingkat kebrutalan remaja makin meningkat, dan
3) Kemampuan berkompetensi dengan negara lain baik dibidang olahraga
maupun bidang nasional lain makin menurun.
Menurut Golleman (1995: 73) : “Dalam kehidupan seseorang, IQ ternyata
hanya memberikan sumbangan sebesar 20% terhadap kesuksesan seseorang,
sedangkan yang 80% tentunya masih ditentukan faktor lain.” Oleh karena itu,
menurut Gardner (2003: 65) :
Intelegensi harus dipahami sebagai serangkaian kemampuan, bakat dan keterampilan yang dimiliki seseorang, termasuk di dalamnya kemampuan gerak (bodily-kinesthetic intelligence). Intelegensi ini mencakup tiga kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para atlet, penari, atau pemburu dalam mengaktualisasikan kemampuan mereka masing-masing yang tidak mudah begitu saja ditiru oleh orang lain.
Penguasaan keterampilan gerak dasar ini penting untuk dikuasai oleh anak
agar dia bisa mengikuti tugas gerak selanjutnya yang semakin kompleks. Ketika
anak menguasai gerak dasar yang beragam dengan baik maka analoginya akan
memiliki modal untuk bergerak lebih banyak.
Kesimpulan peneliti pada akhirnya pasti ada sesuatu yang salah berkaitan
dengan proses pembelajaran pendidikan jasmani. Beberapa kecurigaan peneliti
tentang kesalahan itu dimungkinkan adalah beberapa hal berikut:
4
2. Permasalahan kurangnya waktu pendidikan jasmani yang hanya 1 kali
seminggu.
3. Pembelajaran masih sistem pendekatan teknis.
4. Penilaian evaluasi yang masih menuntut skill kecabangan.
5. Kurang menariknya pembelajaran pendidikan jasmani.
6. Kurang terkuasai modal keterampilan gerak dasar ataupun teknik dasar.
7. Tersingkirnya nilai pentingnya pendidikan jasmani di mata pendidik.
Beberapa permasalahan ini harus mendapat perhatian dan solusi. Dalam
penelitian ini disoroti tentang penguasaan motorik dasar sebagai pondasi untuk
melaksanakan kegiatan olahraga. Menurut Anita Harrow (1972; dalam Agus
Mahendra, 2007: 47) Pembagian gerakan manusia menurut teori taksonomi belajar
gerak adalah sebagai berikut:
1) Refleks Bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi karena suatu latihan. Contoh gerakannya adalah keterampilan menangkis pukulan yang dilakukan atlet karate.
2) Refleks Tak Bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi secara otomatis tanpa melalui proses latihan. Contoh gerakanya adalah mata akan berkedip ketika ada suatu benda menuju ke arahnya.
3) Gerakan-gerakan Dasar Fundamental
4) Gerakan dasar fundamental adalah gerakan-gerakan dasar yang berkembang sejalan dengan proses pertumbuhan dan tubuh dan tingkat kematangan anak-anak. Gerakan Dasar fundamental diklasifikasi menjadi tiga jenis yaitu: a. Gerakan lokomotor. b. Gerakan nonlokomotor. c. Gerakan manipulatif adalah gerakan yang mempermainkan obyek tertentu sebagai medianya, jenis gerakan dibagi menjadi:
a) Gerakan prehension, yaitu kombinasi dari beberapa refleks dan koordinasi dengan kemampuan pengamatan.
b) Gerakan deksterilas, yaitu kemampuan tangan dan jari-jari seperti menyusun dadu, menggambar, dan mempermainkan bola.
Sesuai dengan hal tersebut maka harus ada penekanan dalam setiap
tingkatan yang dilalui siswa dalam hal isi pelajaran yang harus terkuasai. Agar isi
pelajaran terkuasai maka dibutuhkan cara yang cocok untuk menyampaikan
kepada siswa. Sudah menjadi tradisi guru pendidikan jasmani, cara penyampaian
secara langsung atau direct masih merupakan senjata utama dalam pendidikan
5
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Model pembelajaran yang selama ini menjadi panutan sebagian besar guru
yang mengajar pendidikan jasmani dan kesehatan sangat perlu untuk diperbaharui.
Pembaharuan model pembelajaran ini dimaksud untuk lebih meningkatkan serta
menghasilkan mutu pendidikan jasmani dan kesehatan yang lebih oftimal. Untuk
mewujudkan tujuan pembelajaran tersebut, diperlukan pendekatan-pendekatan
pembelajaran yang tepat. Sehubungan dengan hal itu telah banyak bermunculan
model pembelajaran dalam pendidikan jasmani.
Menurut Metzler (2000: 159 – 365) terdapat tujuh model pembelajaran
pendidikan jasmani, model-model tersebut adalah: “(1) Direct Instruction Model,
(2) Personalized System for Instruction, (3) Cooperatif Learning Model, (4) The
Sport Education Model, (5) Peer Theaching Model, (6) Inquiri Teaching Model,
dan (7) The Tactical Games Models.”
Pemilihan model pembelajaran ini sangat menentukan tingkat ketercapaian
dari tujuan pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu guru dituntut kreativitasnya
dalam merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran dengan strategi
pembelajaran yang tepat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan siswa.
Model pembelajaran dengan pendekatan permainan memang telah melekat
dalam praktek pendidikan jasmani di Indonesia. Hal ini mungkin sebabkan karena
Indonesia memiliki inventarisasi permainan tradisional yang sangat melimpah.
Namun konseptualisasi metode permainan sulit ditemui dalam literatur permainan
tradisional Indonesia.
“Proses pembelajaran permainan yang sering terjadi di sekolah adalah mengkombinasikan proses pembelajaran keterampilan teknik dengan proses
pembelajaran bermain secara terpisah.” (Amirullah, 2007: 46).
“Di samping itu, masih terdapat ketidakseimbangan antara proses pembelajaran yang menekankan pada penguasaan keterampilan teknik dengan
proses pembelajaran yang menekankan pada usaha untuk meningkatkan
6
Hal serupa dikemukakan Thorpe dan Bunker (Metzler, 2000: 179) yang
melihat banyaknya pengajaran permainan lebih banyak pada pengembangan
teknik.
Mereka mengamati bahwa di sekolah pendidikan jasmani, pengembangan teknik mendapatkan porsi yang lebih banyak dalam seluruh kegiatan pembelajarannya dan hanya sedikit dalam mengaktualisasikan bermain dalam permainan. Oleh sebab itu, sebuah pendekatan yang dapat memadukan atau mengkombinasikan pendekatan keterampilan teknik dengan pemahaman bermain (kesadaran taktik) secara bersamaan, sangat diperlukan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani.
Holt , et al. (2002:163) menyatakan bahwa :
Model Pembelajaran Teaching Game for Understanding (TGfU) yang terangkum dalam model pembelajaran permainan taktikal dalam pengajaran pendidikan jasmani mengusulkan bahwa taktik pemainan untuk dapat dimengerti sebagai pengenalan pertama, siswa harus mengetahui kenapa dan kapan keterampilan itu diperlukan dalam konteks permainan, pelaksanaan teknis dalam keterampilan permainan itu ditampilkan. Munculnya model pembelajaran TGFU ini sebagai reaksi atas keprihatinan bahwa anak-anak berada di sekolah dengan:
(1) kurang memperhatikan penampilannya, (2) mengetahui sangat sedikit tentang permainan, (3) sebagian yang mencapai daya tahan,
(4) tergantung pada pelatih dan guru, dan
(5) kurangnya pengembangan pada pemahaman sebagai penonton dan pengetahuan administrasi
Untuk itu perlu adanya pembaharuan dalam sistem pengajaran di semua
jenjang sekolah karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Hal ini salah
satunya ditandai dengan tingkat penguasaan keterampilan gerak dasar yang belum
terkuasai dengan benar oleh siswa-siswa khususnya pada jenjang Sekolah Dasar.
Hasil observasi langsung serta pengalaman penulis sebagai praktisi pendidikan,
pada saat melaksanakan tugas pertama mengajar disalahsatu sekolah dasar
kondisinya cukup memprihatinkan dengan keterampilan gerak dasar yang
dikuasai siswa-siswanya. ketika materi pembelajaran permainan dengan bola kecil
(kasti) diberikan pada siswa kelas V dari jumlah siswa dalam satu kelas 40 (20
7
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sikap lari dengan baik, 20 % yang mampu efektif melempar bola, 15 % yang
mampu efektif menangkap bola, dan 5 % yang efektif dalam lempar & tangkap.
Pengembangan kemampuan gerak dasar merupakan dasar bagi
pengembangan gerak anak. Berbagai macam pengalaman gerak memberikan
mereka kekayaan informasi yang mendasari persepsi mereka tentang diri mereka
sendiri dan dunia mereka.
Menurut para David L.Gallahue (1982: 23):
Kematangan gerak yang efisien tidak dengan sendirinya terjadi. Agar kematangan itu terjadi, maka dibutuhkan pengalaman yang bermakna. Kemampuan gerak dasar dan kematangan gerak ditentukan oleh banyaknya kesempatan yang diberikan pada anak untuk melakukan sebanyak mungkin pengalaman. Oleh karena itu program pengajaran pendidikan jasmani yang diselenggarakan di sekolah dasar hendaknya dapat mengembangkan berbagai bentuk keterampilan gerak dasar agar dapat berkembang secara baik.
Gerak dasar yang perlu dikuasai yaitu jalan, lari, lompat dan lempar.
Menurut Syarifuddin dan Muhadi (1992: 24) : “Pada dasarya gerak dasar manusia
adalah jalan, lari, lompat dan lempar.Bentuk gerakan dasar tersebut harus dimiliki
oleh murid-murid sekolah dasar.” Oleh karena itu penting untuk dikaji bagaimana
cara menanamkan dan mengembangkan bentuk-bentuk rangsangan untuk
peningkatan kemampuan gerak dasar yang telah dimilikinya itu, agar dapat
dilakukan dengan baik dan benar.
Benelli et al. (1995: 217) mengemukakan bahwa:
Since early childhood teachers often think that a child's motor skills will develop on their own, they do not plan for motor skill development. The importance of motor skill development is examined, and specific guidelines for adults working with 3-, 4- and 5-year-old children are recommended.
Dalam terjemahan bebas dapat diartikan bahwa perkembagan motor skill
anak menurut orang dewasa akan berkembang sesuai dengan perkembangannya
dan mereka (orang dewasa) tidak memiliki rencana yang khusus untuk
perkembangan gerak. Hal yang peting dari perkembangan gerak ini adalah
meneliti dan memberikan arahan untuk anak yang berumur 3 sampai 5 tahun.
8
Failure to achieve fundamental motor skills can have long-term negative effects on children, as the lack of these skills may prevent children from joining in group games and other sports throughout the school years and into adulthood
Kegagalan dalam keterampilan gerak dasar dapat berakibat negative pada
anak dalam jangka panjang, keterbatasan dalam keterampilan ini menyebabkan
anak tidak bergabung dalam kelompok-kelompok bermain dan olahraga di
sekolah.
Gabbard, C. (1988: 69) “Children from ages 2 through 6 or 7 frequently engage in fundamental movement activities such as running, jumping, throwing
and catching.” Anak dari usia 2 sampai dengan 7 tahun seharusnya telah menguasai beberapa aktivitas seperti berlari, melompat, melempar dan
menangkap. keterampilan gerak dasar yang harus sudah dikuasai oleh anak usia
2-7 tahun. Jika kurang terkuasai maka anak dicurigai akan cenderung tidak
berpartisipasi dalam aktivitas yang membutuhkan keterampilan tersebut.
Salah satu gerak dasar yang penting untuk dikuasai adalah keterampilan
lempar tangkap. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam berbagai permainan
olahraga. Keterampilan lempar tangkap dapat diajarkan melalui kegiatan belajar
mengajar pendidikan jasmani dan olahraga atau permainan bola besar dan bola
kecil diantaranya bola basket, bola tangan, soff ball dan kasti.
Sebuah penelitian yang berjudul The Association Between Motor Skill
Competence and Physical Fitness in Young Adults yang dilakukan oleh Stodden et al. (2009: 223). Memberikan gambaran sebagai berikut: kemampuan
menendang,melompat dan melempar. “Diperoleh hasil for jumping (74%), kicking (58 %), and throwing (59%) predicted 79% of the variance in overall fitness.” Dan disimpulkan:” These data represent the strongest to date on the relationship between motor skill competence and physical fitness. “
Dikatakan bahwa keterampilan jumping menyumbang 74% menendang
58% dan melempar 59% terhadap kebugaran. Dari penelitian diatas, maka dapat
dikatakan bahwa kemampuan melempar memiliki posisi yang penting untuk
9
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
keterampilan lempar tangkap yang baik akan semakin diterima oleh teman
sebayanya dalam bermain atau semakin percaya diri untuk bermain.
Roberton dan Mary Ann (2001: 11) melakukan penelitian berjudul
Predicting children's overarm throw ball velocities from their developmental levels in throwing. Penelitian ini menganalisis perkembangan kemampuan
kecepatan melempar dari anak usia 6 – 13 tahun dengan menggunakan sampel 17
putri dan 22 putra. Instrument penelitian menggunakan instrumen yang disusun
oleh (Roberton & Halverson, 1984) terdiri dari lima komponen yaitu; humeri,
forearm, trunk, stepping and stride length. Hasil penelitian menunjukkan
peningkatan kecepatan melempar antara 69-85% per tahun.
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan
melempar pada dasarnya mengalami peningkatan dalam setiap tahunnya. Namun
dalam peneltian ini tidak disebutkan apakah selama beberapa kurun waktu
penelitian dilihat keterlibatan anak dalam aktivitas olahraga atau yang lain yang
mungkin mempengaruhi. Masih ada pertanyaan apakah peningkatan ini sebagai
efek dari kegiatan harian yang biasa atau karena keikutsertaan dalam aktivitas
tertentu atau sebagai pengaruh dari pertumbuhan struktur tubuh yang semakin
matang.
Davids et al. (Mar 2000: 3) meneliti kendala yang mempengaruhi
kemampuan menangkap. Secara tradisional kemampuan anak dalam menangkap
ditentukan oleh kematangan dalam mengolah informasi dan persefsinya, anak usia
4 – 10 tahun ada yang melempar menggunakan satu atau dua tangan, hal tersebut
mengindikasikan tingkat kematangan dan keterampilan anak tersebut. Dikatakan
terampil dan matang kemampuannya dalam menangkap ditandai dengan penilaian
visual yang cepat dan akurat dalam membaca objek dan merencanakan gerakan
untuk memotong atau menangkap dengan jari sebelum objek mendekat ke tubuh.
Peper et al. (1994: 69) dalam artikelnya sebagai berikut:
This is an important observation, because successful catching involves
10
Sebuah pengamatan yang penting, bahwa keberhasilan dalam menangkap
melibatkan bukan saja penempatan kedua tangan pada tempat dan waktu yang
benar tetapi juga koordinasi dari beberapa system gerak untuk mempertahankan
posisi tubuh selama menunggu.
Lebih lanjut Muchisky, Gershkoff-Cole, Cole & Thelen, (1996: 73)
menjelaskan:
With respect to understanding catching behavior in children, a major implication of the dynamic systems approach to movement coordination and control is that the constraints on the developing movement system are many and cannot be isolated to unique influences, such as perceptual skill.
Untuk memahami anak berperilaku dalam gerakan menangkap, salah satu
implikasi dari pendakatan sistem dinamis untuk mengkoordinasikan pengontrolan
gerak ada banyak kendala pada system gerakan yang berkembang dan harus
dilihat secara keseluruhan, seperti keahlian mempersepsikan sesuatu.
Artikel ini mengidinkasikan bahwa kemampuan menangkap merupakan
kemampuan yang tidak mudah dan melibatkan beberpa system dalam tubuh
diantaranya visual system, dan system gerak. Visual system menghasilkan
keputusan apa yang harus dilakukan dan motor system menghasilkan koordinasi
antara posture, koordinasi mata tangan yang pada akhirnya menangkap sebagai
hasil akhir gerakan.
Dari beberapa artikel terkait mengindikasikan bahwa keterampilan
melempar dan menangkap adalah dua diantara beberapa keterampilan gerak dasar
anak. Keterampilan ini merupakan dasar dari kemampuan yang harus dimiliki
anak sebagai bekal anak untuk mempelajari gerakan yang lebih kompleks serta
permainan dalam cabang–cabang olahraga selanjutnya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kemampuan lempar tangkap masih
sangat lemah/kurang terkuasai. Padahal menurut penelitian Stodden et al.,
(2009:71) melempar memiliki sumbangan 59% terhadap kebugaran. Serta
kemampuan menangkap sangat ditentukan oleh pengalaman gerak. “Gerakan
menangkap membutuhkan tingkat keterampilan yang kompleks karena tidak
11
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pada tingkat pendidikan sekolah dasar, Pendidikan Jasmani (Penjas) dapat
dijadikan media untuk mentransper dan membentuk kemampuan dasar anak
dalam keterampilan jalan, lari, lempar dan lompat, sebagai bekal anak dalam
mengikuti permainan dan olahraga yang sebenarnya. Lutan (2001: 21)
menyatakan bahwa:
Kemampuan gerak dasar dapat diterapkan dalam aneka permainan, olahraga, dan aktivitas jasmani yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.Melalui aktivitas bermain, sangatlah tepat untuk mengembangkan keterampilan gerak dasar anak di sekolah dasar, karena padadasarya dunia anak-anak adalah bermain.
Salah satu bentuk permainan yang dapat menunjang bagi peningkatan
kemampuan lempar tangkap anak adalah permainan dodgeball. Permainan ini
sangat membantu anak untuk meningkatkan akurasi lemparan, melatih gerak
refleks untuk menghindar dan menangkap serangan lawan serta berbalik
menyerang. Vail dan Kathleen (2001: 62) mengatakan:
Dodgeball is a game which involves throwing balls at the opposition as hard as possible. The game was initiated by „popular demand‟ when the PE teacher asked the class what they wanted to do, numerous boys demanded the game. The result was that 12 pupils declined to play (8 girls and 4 boys).
Permainan ini adalah permainan dengan melibatkan melempar bola ke
lawan dengan keras. Permainan ini biasanya diminta dalam pelajaran pendidikan
jasmani dan disukai oleh siswa putra. Yang menjadi kontroversial adalah ada
beberapa anak yang kurang suka sehingga ada yang mengundurkan diri. Melihat
dari cara bermainnya permainan ini akan lebih aman jika dimainkan dalam
kelompok putra saja atau putri saja dengan peraturan yang lebih aman.
Selanjutnya Vail dan Kathleen (2001: 63)menjelaskan bahwa:
12
Game ini adalah permainan yang menyenangkan dan memasukkan
beberapa unsur pendidikan gerak dan mengajarkan kepada anak-guru untuk
belajar sesuatu yang besar dari dodgeball. Dalam dodgeball itu diajarkan
menangkap, melempar, berlari, melempar dan tentu saja menghindar. Jauh dari
rasa takut, dan banyak anak menyukai permainan ini. Lebih lanjut Vail dan
Kathleen (2001: 66) menyatakan:
This is very good for encouraging team co-operation as in most of these games the person throwing the ball is not able to move and if they delay, those avoiding being tagged have moved well out of the way, so the aim of the game is to throw to another team member who is closest to players trying not to get tagged... that is keep the ball moving around!
Dalam terjemahan bebas dapat diartikan bahwa permainan ini dapat
meningkatkan kerjasama sepeti hal game lainnya, seseorang melempar bola dan
dapat berpindah atau tanpa berpindah, berusaha agar tidak terkena bola agar tidak
keluar dari permainan, sehingga tujuan dari permainan ini adalah untuk
melemparkan bola ke anggota team lain dan mencoba agar tidak terkena lemparan
dan menjaga agar bola tetap selalu bergerak.
Berdasarkan pada pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa permainan ini
merupakan permainan yang menarik dan menantang bagi anak-anak. Hal yang
perlu diperhatikan adalah perlunya dimodifikasi permainan agar aman untuk
dilakukan bagi anak sekolah dasar sehingga diperlukan peraturan dan peralatan
yang lebih menjaga keselamatan siswa. Permainan ini merupakan salah satu
permainan yang dapat dipergunakan untuk membelajarkan melempar, menangkap,
melompat, meloncat. Dengan bermain dodgeball ini, diharapkan siswa dapat
belajar sekaligus bermain.
Sesuai dengan pemaparan di atas, maka dalam penelitian ini, jenis
permainan yang akan dipergunakan untuk mengatasi permasalahan keterampilan
gerak dasar tersebut adalah permainan dodgeball dengan menggunakan model
pembelajaran Teaching Game for Understanding (TGfU). TGfU dalam
13
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
mengapresiasi kesenangan bermain sehingga mendorong keinginan anak untuk
belajar teknik bermain dan meningkatkan penampilan dalam permainannya.
B. Rumusan Masalah
Masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah model TGFU dengan menggunakan media dodgeball berpengaruh
terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 9 tahun di SDN
Bulakan II Cilegon ?
2. Apakah model TGFU dengan menggunakan media dodgeball berpengaruh
terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 10 tahun di SDN
Bulakan II Cilegon ?
3. Apakah model TGFU dengan menggunakan media dodgeball berpengaruh
terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 11 tahun dan diatasnya
di SDN Bulakan II Cilegon ?
4. Apakah model pembelajaran TGfU dengan menggunakan dodgeball
memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kelompok umur siswa antara
umur 9 tahun, 10 tahun dan 11 tahun?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh model TGFU dengan menggunakan media
dodgeball terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 9 tahun di
SDN Bulakan II Cilegon ?
2. Untuk mengetahui pengaruh model TGFU dengan menggunakan media
dodgeball terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 10 tahun
tahun di SDN Bulakan II Cilegon ?
3. Untuk mengetahui pengaruh model TGFU dengan menggunakan media
dodgeball terhadap kemampuan lempar tangkap siswa umur 11 tahun di
SDN Bulakan II Cilegon ?
4. Apakah model pembelajaran TGFU dengan menggunakan media
dodgeball memiliki pengaruh yang berbeda terhadap siswa yang berumur
14
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk:
1. Manfaat Secara Teoritis
a. Sebagai bahan informasi dan sumbangan bahan pemikiran untuk kajian ilmu
olahraga mengenai pentingnya permainan dodgeball dalam menunjang
kemamampuan gerak lempar dan tangkap anak-anak tingkat sekolah dasar.
b. Sebagai salah satu bahan masukan untuk pembuat kebijakan para penyusun
dan pelaksana Kurikulum Pendidikan Jasmani (Penjaskes) pada khususnya
untuk guru-guru pendidikan jasmani dan pelatih di lapangan.
c. Sebagai bahan rujukan untuk penelitian lebih lanjut bagi pengembangan
ilmu olahraga.
2. Manfaat Secara Praktis
a. Sebagai rujukan bagi Guru-guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
tingkat Sekolah Dasar dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
b. Sebagai masukan untuk pihak-pihak yang terkait dengan pembinaan
olahraga usia sekolah dasar.
c. Sebagai bahan argumentasi untuk meyakinkan orang tua murid mengenai
pentingnya olahraga bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik siswa
39
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Metode penelitian yang dipakai adalah eksperiment cross-sectional dengan
desain quasi. Ruseffendi (2006 : 36). menyatakan bahwa :
Seperti pada penelitian percobaan, yang ingin diketahui dalam penelitian kuasi percobaan adalah juga hubungan sebab-akibat. Bedanya dengan penelitian eksperimen, pada penelitian eksperimen biasanya subjek dikelompokkan secara acak dan perlakuan dimanipulasi. Secara sengaja, perlakuan dan kontrol pada penelitian eksperimen diatur, sedangkan pada penelitiaan kuasi percobaan perlakuan itu sudah terjadi dan pengawasan (kontrol) tidak bisa dilakukan.
Desain eksperimental semu dipilih karena peneliti tidak memiliki
kebebasan mengambil sampel secara acak dan harus menerima keadaan subjek
seadanya. Sekolah telah membagi para siswa ke dalam kelas-kelas dan peneliti
tidak mendapat kewenangan untuk membuat kelompok-kelompok kelas baru
secara acak.
Cross sectional atau Transversal atau studi Prevalensi adalah penelitian
yang dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan obyek
studi hanya dilakukan sekali.
“Method of research in which samples of subjects form different age groups are selected in order to assess the effects of maturation.” (Thomas, 2001: 314). Dapat diartikan bahwa penelitian ini dengan menggunakan subyek (orang)
dari kelompok umur yang berbeda yang telah dipilih untuk menilai efek dari
pematangan. Sehingga penelitian ini akan membedakan hasil dari pengaruh
model pemelajaran TGFU dengan menggunakan pemainan dodgeball terhadap
kemampuan lempat tangkap anak sekolah dasar kelas 3, 4 dan 5 yang masuk
40
Pretest post test desain dan pembagaian eksperimen sebagai berikut:
Gambar 3.1
Desain Penelitian (Gay et.al., 2006 : 258).
Keterangan gambar :
A : Kelompok yang ingin diteliti
O : Pre Test
X1 : Treatment
O : Post test
Dan pengelompokan eksperimen sebagai berikut:
Tabel 3.1 Pengelompokkan Eksperimen
Umur Treatment
9
Pretest TGFU dodgeball postes 10
11
Pengelompokan kelas diatas merepresentasikan tingkatan umur. Dengan
data yang diperoleh bahwa kelas 3 umur sembilan tahun dengan rentang interval
kelahiran 8,6 tahun sampai dengan 9,5 tahun. Kelas 4 umur sepuluh tahun dengan
rentang interval kelahiran 9,6 tahun sampai dengan 10,5 tahun. Kelas 5 umur
sebelas tahun dengan rentang interval kelahiran 10,6 tahun sampai dengan 11,5
41
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu B. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel-variabel Penelitian
Variabel-variabel penelitian di dalam tesis ini adalah sebagai berikut :
A.Variabel bebas (X) (Independent Variabel) adalah : Model Pembelajaran TGFU
dan Permainan Dodgeball
B.Variabel Terikat (Y) (dependent variabel) adalah : Kemampuan lempar
tangkap Siswa Sekolah Dasar
2. Definisi operasional
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga
diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Seorang
guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses
pembelajaran yang dijalaninya.
Model pembelajaran TGfU adalah cara penyampaian materi game
dodgeball dengan menggunakan model yang dikatakan oleh metzler (2000) dengan acuan “game teach game“.
Kemampuan lempar tangkap adalah Kemampuan melempar dan
menangkap bola, Siswa Sekolah Dasar yang didefinisikan sebagai kemampuan
melakukan lemparan dan tangkapan bola yang dinyatakan dengan tes lempar
tangkap (ketepatan dan lempar tangkap) bola karet dan menangkap kembali bola
setelah memantul pada dinding selama 30 detik.
Permainan Dodgeball merupakan suatu olahraga tim yang dimainkan
dengan melemparkan bola karet ke lawan. Ada tiga sistem permainan yang
berbeda untuk menentukan pemenang, yaitu sistem eliminasi, sistem waktu, dan
sistem skor. Pada sistem eliminasi, tim pemenang adalah tim pertama yang
berhasil mengeliminasi seluruh anggota tim lawan. Sementara itu, sistem waktu
menggunakan waktu sebagai pembatas permainan dan tim dengan jumlah pemain
terbanyak yang masih bertahan adalah pemenangnya. Dalam sistem skor,
penghitungan nilai dilakukan pada akhir pertandingan dengan melihat jumlah
pemain yang masih berada di dalam lapangan. Masing-masing tim Dodgeball
42
berukuran 6 x 12 m. Pemain tidak diperbolehkan menyeberang ke daerah lawan.
Tim lawan yang terkena lemparan bola harus keluar, namun bila bola berhasil
ditangkap maka si pelempar bola harus keluar lapangan.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri
Bulakan II Cilegon Jalan Jeruk Tipis Kelurahan Bulakan Kecamatan Cibeber Kota
Cilegon Banten. Dalam penelitian ini tidak ada kelompok kontrol. Penelitian ini
lebih pada penelitian eksperimen cross secional. Sehingga akan mencoba untuk
melihat perkembangan kemampuan melempar dan menangkap dengan klasifikasi
umur. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Juni, dengan jumlah pertemuan
sebanyak 16 kali pertemuan. Subyek penelitian semua menerima treament
permainan dodgeball dengan pendekatan TGFU
Tabel 3.2.Jadwal Pertemuan Kegiatan Belajar Mengajar.
Pertemuan Pagi / Sore Hari
Umur 9 tahun Umur 10 tahun Umur 11 tahun
Tanggal Tanggal Tanggal
43
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu D. Alat Pengumpul Data
Data dikumpulkan dengan menggunakan tes keterampilan menangkap dan
melempar bola karet diukur dengan tes:
1. Keterampilan Lempar Tangkap Bola
Tujuan : Mengukur Koordinasi mata dan tangan.
Alat/fasilitas : Bola Karet dan stop watch serta dinding tembok.
Pelaksanaan : Subyek berdiri dibelakang garis batas lemparan, bola
dipegang di depan dada. Setelah ada aba-aba, subyek harus
melempar bola ke tembok, kemudian menangkapnya
kembali dan seterusnya selama 30 detik (boleh melempar
dengan tangan kanan atau tangan kiri).
Penilaian : Skor satu diberikan apabila subyek telah dapat menangkap
bola dari setiap kali lemparan. Dinyatakan gagal bila: 1.
Menginjak/ melewati garis batas lemparan pada waktu
melempar. 2. Bola tidak tertangkap.
2 m
Pelempar
Gambar 3.2.Lapangan Tes Lempar Tangkap Bola.
E. Sumber Data
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama,
yang kemudian diamati dan dicatat. Dalam penelitian ini data primer didapat dari
hasil pelaksanaan tes keterampilan melempar dan menangkap pada Sekolah Dasar
44
Peneliti membatasi penelitian ini sebagai berikut, untuk menghindari
kemungkinan timbulnya bias: Yang menjadi orang coba untuk penelitian ini
adalah umur 9, 10 dan 11 tahun di SDN Bulakan II Cilegon, dengan jumlah 14
orang setiap kelompoknya. Pengelompokan sampel penelitian dilakukan
berdasarkan umur.
F. Prosedur Penelitian
Langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini mengikuti
alur bagan sebagai berikut:
Gambar 3.3 Langkah-langkah Penelitian
Ada 3 kelompok eksperimen dalam penelitian ini adalah :
a. Kelompok siswa-siswa yang diberikan pengajaran dengan model TGFU
dodgeball umur 9 tahun
b. Kelompok siswa-siswa yang diberikan pengajaran dengan model TGFU
dodgeball umur 10 tahun
c. Kelompok siswa-siswa yang diberikan pengajaran dengan model TGFU
45
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu G.. Teknik Analisa Data
1. Uji Homogenitas, digunakan untuk mengetahui apakah data yang
dihubungkan sejenis (homogen) dengan menggunakan teknik anova
satu jalur (one way anova).
Jika signifikansi hitung yang diperoleh > 0.05 , maka variansi setiap
sampel sama (homogen)
Jika signifikansi yang diperoleh < 0.05 , maka variansi setiap sampel
tidak sama (tidak homogen)
2. Uji Normalitas, digunakan untuk mengetahui apakah data yang
dihubungkan berdistribusi normal, dengan menggunakan perhitungan
uji kolmogorov smirvov, kriteria pengujian, bila FhitungFtabel atau bila
asymtop signifikan > 0,05 maka distribusi data normal (Riduwan,
2003:191).
3. Uji hipotesis dengan menggunakan 4 hipotesis.
H. Program Pembelajaran
Program pembelajaran yang akan dilakukan pada penelitian ini disusun
dalam rencana pertemuan sebanyak 16 kali pertemuan, dilakukan dalam rentang
waktu 8 minggu mulai tanggal 17 April - 8 Juni 2013 dengan frekuensi pertemuan
dua kali per minggu. Uraian lebih rinci dari program pembelajaran dapat dilihat di
lampiran 4. Program Pembelajaran Eksperimen halaman 102. Adapun ringkasan
dari materi program pembelajaran dengan model tgfu dalam permainan dodgeball
diuraikan pada table 3.2 sebagai berikut:
1. Jumlah pertemuan/ materi : 16 x pertemuan
2. Lama pertemuan/ minggu : 8 minggu
3. Frekuensi pertemuan/ minggu : 2 x pertemuan
46
Tabel 3.3 Materi Program Pembelajaran Eksperimen
NO MATERI PERTEMUAN PERTEMUAN
1. Persiapan Pola Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar dengan system eliminasi.
Kesatu
2. Persiapan Pola Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar dengan system waktu.
Kedua
3. Persiapan Menghindari Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar dengan system eliminasi.
Ketiga
4. Persiapan Pertahanan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar dengan system waktu
Keempat
5. Persiapan Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan menghindari lemparan bola dengan system eliminasi.
Kelima
6. Persiapan Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan menghindari lemparan bola dengan system waktu.
Keenam
7. Persiapan Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan menangkap dengan system eliminasi.
Ketujuh
8. Persiapan Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan menangkap dengan system waktu.
Kedelapan
9. Persiapan Serangan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar bola dengan berbagai teknik melempar dalam permainan dengan system eliminasi tunggal.
Kesembilan
10. Persiapan pertahanan - Siswa mampu melakukan gerakan melempar bola dengan berbagai teknik melempar dalam permainan dengan system eliminasi ganda.
Kesepuluh
11. Persiapan pertahanan - Siswa mampu melakuka gerakan menangkap bola dengan berbagai teknik menangkap dengan system eliminasi.
Kesebelas
12. Menyerang - Siswa mampu melakuka gerakan menangkap bola dengan berbagai teknik menangkap dengan system waktu. strategi bertahan dalam permainan dodgeball.
Keempatbelas
15. Pertahanan Tim - Siswa mampu melakukan
47
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dodgeball.
16. Pertahanan Tim - Siswa mampu melakukan kombinasi pertahanan untuk melakukan serangan dalam permainan dodgeball.
67
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil pengolahan data, pengujian hipotesis dan pembahasan
penelitian sebagaimana dikemukakan sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan
bahwa penggunaan produk permainan dodgeball bagi siswa memberikan dampak
atau pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan lempar tangkap siswa
yang berumur 9, 10, dan 11 tahun. Oleh karena itu, bisa dikatakan model
pembelajaran Teaching Game For Understanding (TGFU) dengan menggunakan
media permaianan dodgeball ini dapat meningkatkan serta mengembangkan
keterampilan lempar tangkap.
Kesimpulan lain yang dapat diambil adalah bahwa hasil post test dari
ketiga kelompok umur (9, 10, 11 tahun ) menunjukkan perbedaan hasil yang tidak
signifikan.
B. Implikasi
Suatu kenyataan bahwa program pembelajaran yang dirancang berisikan
berbagai macam keterampilan gerak, karena itu selayaknya para guru penjas dan
olahraga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menerapkan
model-model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan keadaan sekolah.
Pengembangan model permainan dodgeball sebagai produk yang telah dihasilkan
dari penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif materi pembelajaran
permainan di sekolah dasar
Implikasi dari hasil penelitian ini berdampak secara teoritis dan terhadap
penerapan praktis. Implikasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Implikasi penelitian berdampak secara teoritis
68
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pembelajaran permainan khususnya permainan dodge ball. Dalam
pelaksanaannya model pembelajaran taktis sangat memberi keleluasaan
pada anak untuk mengembangkan atau untuk mengeksplorasi kemampuan
geraknya tanpa anak merasa terdikte atau terbebani degan tugas-tugas
gerak yang diintruksikan guru. Hal ini terjadi karena model pembelajaran
TGfU menekankan pada situasi bermain. Dengan bermain anak belajar
sesuatu yang baru.
b. Dalam proses belajar mengajar, mengharuskan guru untuk membuat suatu
program kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan siswa, sehingga potensi yang sudah dimiliki siswa misalnya
kemampuan motorik dapat benar-benar direalisasikan ke dalam bentuk
aktivitas siswa yang efektif dan produktif. Untuk itu guru harus mampu
memilih dan menerapkan media belajar dalam model pembelajaran yang
tepat guna mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
2. Implikasi hasil penelitian terhadap penerapan praktis
a. Kegiatan belajar mengajar hendaknya dilaksanakan dalam kondisi yang
menguntungkan, diantaranya dengan memperhatikan kesiapan siswa
dalam menjalankan aktivitas serta dinamika kelompok atau kelas yang ikut
mempengaruhi kelancaran dari proses belajar mengajar yang lebih efektif.
b. Tugas belajar gerak hendaknya disusun dan dikembangkan menurut
urutan, yaitu dari yang sederhana ke yang lebih kompleks sehingga
69
C. Saran dan rekomendasi
Berdasarkan pengalaman peneliti meneliti di lapangan dan analisis data
yang telah dilakukan maka dapat disarankan dan direkomendasikan beberapa hal
sebagai berikut:
1. Berkaitan dengan model pembelajaran TGfU disarankan jika ada yang
ingin meneliti lebih lanjut baik dengan permainan dodgeball ataupun
yang lain penilaian yang dilakukan sebaiknya menggunakan GPAI.
2. Penentuan tes sebagi variable penelitian dilihat secara komponen
kualitas gerak apa yang dibutuhkan. Misalnya untuk dodgeball perlu
ditambah tes kelincahan, koordinasi mata tangan, tes lempar sendiri dan
tes menangkap tersendiri
3. Perlu ada penyamaan kemampuan sehingga dapat dilihat perubahannya
4. Bagi guru-guru sekolah dasar yang akan menggunakan permainan ini
selayaknya terlebih dahulu mempelajari permainan tersebut dengan
seksama untuk menyesuaikan dengan karakteristik dan perkembangan
anak didiknya.
5. Permainan ini dapat disesuaikan dengan kurikulum di sekolah (KTSP)
sehingga permainan ini dapat dimasukkan ke dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) setelah sebelumnya guru menyusun silabus.
6. Permainan dodgeball dapat dilaksanakan diberbagai tempat baik di
dalam atau di luar ruangan, karena membutuhkan lapangan yang tidak
begitu luas dan ada beberapa alternatif pilihan sesuai dengan kondisi
sekolah.
7. Guru-guru sekolah dasar dapat menggunakan permainan dodge ball ini,
baik di kelas rendah (Kelas I, II, III) dan kelas tinggi (IV, V, VI) dengan
70
Agus Rijalulloh , 2013
Pengaruh Model Pembelajaran Game For Understanding (TGFU) Pada Pembelajaran Dodgeball Terhadap Keterampilan Lempar Tangkap
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
AAHPERD, (1999).Physical Education for Lifelong Fitness.USA : Human Kinetic.
Andi Suntoda, (2007). Pedoman Dan Instrumen Praktikum Tes Dan Pengukuran OLahraga.
Benelli, Cecelia, Yongue, Bill, (1995). Supporting young children's motor skill
development.Childhood Education. Olney: Summer . Vol. 71, Iss. 4; pg. 217, 4
pgs.
Bunker, David and Thorpe, Rod. (1982).The purpose of this is to outline a new and improved curriculum model for Physical Education teachers. by Luc Roberge.
Bunker, David and Thorpe, Rod. (1986). Rethinking Games Teaching. Loughborough, Leicestershire : Dept. of Physical Education and Sports Science, University of Technology
David L, Gallahue, (1982). Developmental Movement ExperiencesPor
Children..Jhon Wiley & Sons, Inc. Canada.
Davids, Keith; Bennett, Simon; Kingsbury, Damian; Jolley, Lorraine; Brain, Tina, (Mar 2000). Effects of postural constraints on children's catching behavior. Research Quarterly for Exercise and Sport 71. 1 : 69-73.
David Stodden, Stephen Langendorfer, Mary Ann Roberton, (Jun 2009).The
Association BetweenMotor SkillCompetence and Physical Fitness in Young Adults. Research Quarterly for Exercise and Sport. Washington:. Vol. 80, Iss.
2; pg. 223, 7 pgs
Dasuki, Moch. (2004). Pendidikan Jasmani Kelas 4 SD & MI . Klaten: CV Sahabat.
Dick, Frank, W. (1989) Sport Training Principles, Second Edition, A & C Black London.
Dryden, Gordon and Vos, Jeanette. (2005). The New Learning Revolution. Network Continuum Education, UK.
Gabbard, C. (1988). Early childhood physical education. The essential elements. Journal of Physical Education, Recreation and Dance, 59(7), 65-69.
Gardner, H. 2003. Multiple Intelligences : Kecerdasan Majemuk dalam Praktik.
71
Gay, L.R. et al. (2006). Educational Research.New Jersey : Pearson Prentice Hall.
Griffin, Mitchel, dan Oslin (1997). Teaching Sport Concept and Skills a Tactical Games Approach. New Zeland: Human Kinetics.
Goleman, Daniel. (1999) Working With Emotional Intelligence. London: Clays Ltd.
Hari Amirullah Rachman. (2007). Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif. (Bahan Diklat Profesi Guru Sertfikasi Guru Rayon 11 DIY & Jateng). Yogyakarta: UNY
Hoedaya, D. (2001) Pendekatan Keterampilan Taktis dalam Pembelajaran Bola
Voli. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Bekerjasama dengan Direktorat Jendral Olahraga.
Holt, D. 2002. "Why Do Brands Cause Trouble? A Dialectical Theory of Consumer Culture and randing." Journal of Consumer Research 29.
Kiram, Yanuar.(1992). Belajar Motorik. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dik
Kirk, D. Dan McPhail, A. 2002. Teaching Games for Understanding andSituated learning: Rethinking yhe Bunker-Thorpe Model. Journalof Teaching in Physical Education, 21 (2).
Lane, Andy (2008). Sport and Exercise Psychology.London : Hodder Education
Lutan Rusli, (2001), Mengajar Pendidikan Jasmani, Pendekatan Pendidikan
Gerak di Sekolah Dasar, Depdiknas.
Lutan.Rusli, (2001).Asas-Asas Pendidikan Jasmani.Jakarta: Depdiknas
Lutan, R. (1988).Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Mahendra, Agus (2007). Teori Belajar Mengajar Motorik. Bandung. FPOK UPI.
Melograno, Vincent. (1996). Physical education and training; Curriculum planning; Curricula; United States.
Malim, Tony. (1997). Social Psychology.England: Macmillan Press Ltd.