Abstrak–Penentuan konsentrasi dua komponen secara simultan pada campuran CoCl2.6H2O dan Cr(NO3)3.9H2O menggunakan teknik analisis secara spektrofotometri yang bertujuan untuk menghitung konsentrasi komponen Co (II) dan Cr (III). Pada campuran dua larutan tersebut terjadi percampuran (overlapping) daerah serapan antara Co (II) dan Cr (III). Analisis dilakukan pada masing-masing panjang gelombang maksimum Co (II) dan Cr (III) sehingga besar serapan merupakan jumlah dari serapan dua komponen tersebut pada masing-masing panjang gelombang maksimumnya. Percobaan dilakukan dengan melarutkan padatan CoCl2.6H2O dan Cr(NO3)3.9H2O, pengenceran bertingkat, serta
pengukuran absorbansi menggunakan
spekrofotometer UV-Vis. Dari data absorbansi dibuat grafik sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang diterapkan pada persamaan Hukum Lambert-Beer. Hasil analisis menunjukkan pada campuran unknown 1 terdapat lebih banyak komponen Co (II) dibandingkan komponen Cr (III) yaitu Co (II) sebanyak 0,07751 M dan Cr (III) sebanyak 0,00117 M dengan recovery pada Co (II) sebesar 77,51% dan Cr (III) sebesar 11,70%. Berdasarkan percobaan didapatkan bahwa nilai absorbansi berbanding lurus terhadap konsentrasi larutan.
Kata Kunci–Absorbansi, Hukum Lambert-Beer, panjang gelombang, pengenceran bertingkat, spektrofotometri UV-Vis
I. PENDAHULUAN
onsentrasi campuran dua zat dapat ditentukan dengan spektrofotometer UV-Vis tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat yang bercampur harus memiliki panjang gelombang maksimum yang berimpit. Absorbansi dari larutan campuran di panjang gelombang tertentu merupakan jumlah absorbansi dari masing-masing zat tunggalnya. Kemudian kadar masing-masing zat dapat ditentukan secara simultan [1].
K
Spektrofotometer adalah sebuah instrumen yang mengukur absorbsi atau penyerapan cahaya dengan energi (panjang gelombang) tertentu oleh suatu atom
atau molekul. Spektrofotometer yang digunakan dalam daerah spektrum UV (ultraviolet) dan visual (sinar tampak). Molekul dalam daerah energi ini akan mengalami transisi elektron. Spektroskopi UV-Vis merupakan suatu spektroskopi absorpsi berdasarkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang 160 sampai 780 nm. Spektrofotometer UV-VIS pada prinsipnya terdiri dari sumber radiasi (source), monokromator, sel, fotosel (radiation transducer), dan detector [2].
Spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, diemisikan, atau direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Secara umum spektrofotometer UV-Vis memiliki 3 tipe yaitu rancangan berkas tunggal (single beam), rancangan berkas ganda (double beam), dan multichannel [3].
Absorbans dari larutan sampel yang diukur Spektrofotometer UV-Vis digunakan untuk mengukur intensitas sinar yang dilalui menuju sample (I) dan membandingkannya dengan intensitas sinar sebelum dilewatkan ke sampel tersebut (I0). Rasio I/I0 disebut
transmitan (T), sedangkan absorbans diperoleh dari transmitan tersebut dengan rumus A= -log T sesuai dengan hukum dasarnya yaitu Hukum Lambert Beer.
Hubungan antara absorbansi (A) dengan konsentrasi (c) secara umum mengikuti Hukum Lambert-Beer sebagai berikut:
A = ɛ b c (1)
dimana ɛ merupakan absortivitas larutan, b merupakan panjang sinar yang dilewati menuju larutan dan c merupakan konsentrasi larutan tersebut. Jika grafik yang dihasilkan berupa garis lurus yang linier maka garis ini memenuhi persamaan Lambert-Beer pada kisaran konsentrasi yang teramati [4].
Hukum Lambert-Beer ini juga memiliki kelemahan, yaitu kenaikan konsentrasi menjadi dua kali atau tiga kali konsentrasi tidak mengubah nilai serapan menjadi dua kali atau tiga kali serapan mula-mula. Ketidaklinieran hubungan antara serapan dengan konsentrasi tersebut dinamakan penyimpangan dari hukum Lambert-Beer [5].
Pengukuran konsentrasi zat dalam sampel dengan UV-VIS dapat dilakukan dengan dua cara yaitu single komponen dan multi komponen. Pada percobaan ini,
Analisis Spektroskopi UV-VIS
“Analisis Dua Komponen Secara Simultan”
Taufik Qodar Romadiansyah, Suprapto, Ph.D
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
digunakan sistem multi komponen. Pada sistem multi komponen, tiap komponen dianggap tidak saling mempengaruhi absorbansi satu sama lain sehingga absorbansinya bersifat aditif. Spektrum absorpsi untuk campuran I dan II merupakan jumlah dari masing-masing kurva individual [6].
Kromium adalah logam berbentuk kristal dan berwarna putih bening yang dilambangkan dengan Cr, mempunyai nomor atom 24 dan mempunyai berat atom 51,996, massa jenis 650 gr/cm3, titik lebur 1903°C pada tekanan 1 atm, titik didih 2642°C pada tekanan 1 atm [7]. Nilai serapan optimum untuk Cr(III) yaitu pada panjang 575 nm [8]. Sedangkan kobalt merupakan logam feromagnetik yang digunakan terutama untuk paduan tahan panas dan magnetik. Nilai serapan optimum untuk Co (II) yaitu pada panjang 510 nm Biasanya, kobalt digunakan untuk memberikan warna biru pada glasir dan keramik [9].
Terdapat dua kemungkinan apabila dua komponen yang berlainan dicampurkan dalam satu larutan. Adanya interaksi akan merubah spektrum absorpsi dimana absorpsi larutan campuran akan merubah jumlah aljabar dari absorpsi dua larutan dari masing – masing komponen yang terpisah. Jadi spektrum absorpsinya merupakan campuran bersifat aditif. Bila menggunakan kuvet yang sama maka A = k C
Karena dalam percobaan ini hanya ada dua komponen maka diperlukan dua persamaan dari dua panjang gelombang yang berlainan agar C1 dan C2
dapat juga dihitung, jadi :
A1 = k1C1 + k3C2 (2)
A2 = k2C1 + k4C2 (3)
k dapat diperoleh dari kemiringan kurva standar sedangkan A dari hasil pengukuran [10]. Dalam percobaan, adanya intersep pada persamaan regresi linier yang diperoleh dari grafik mempengaruhi nilai konsentrasi campuran larutan unknown yang dihitung. Sehingga pada penentuan konsentrasi komponen Co (II) dan Cr (III) larutan unknown, digunakan intersep pada persamaan.
A1 = (k1C1 + b) + (k3C2 + b) (4)
A2 = (k2C1 + b) + (k4C2 + b) (5)
II. METODE PENELITIAN
2.1 Alat dan bahan 2.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah spektrofotometer UV-Vis, neraca analitik, labu semprot, kuvet, labu ukur, pipet ukur, pipet tetes, pengaduk, corong, kaca arloji, botol timbang, dan propipet.
2.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Cr(NO3)3.9H2O, CoCl2.6H2O, dan aquades.
2.1.3 Prosedur Percobaan
A. Sifat aditif dari absorbansi untuk campuran larutan Cr (III) dan Co (II)
Pembuatan larutan induk Co (II) 0.2 M dilakukan dengan cara ditimbang CoCl2.6H2O 4,7587 gram pada
neraca analitik menggunakan botol timbang, kemudian larutan induk tersebut dilarutkan dengan aquades dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas 100 mL dan dikocok. Dari larutan induk tersebut diencerkan menjadi 0,1 M. Setelah itu, dilakukan pengenceran bertingkat untuk larutan Co (II) untuk konsentrasi 0,2 M; 0,1 M; 0,08 M; 0,06 M; 0,04 M; dan 0,02 M.
Pembuatan larutan induk Cr 0.05 M dilakukan dengan cara ditimbang Cr(NO3)3.9H2O 2,00053 gram
pada neraca analitik menggunakan botol timbang, kemudian larutan induk tersebut dilarutkan dengan aquades dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas 100 mL dan dikocok. Setelah itu, dilakukan pengenceran bertingkat untuk larutan Cr (III) untuk konsentrasi 0,04 M; 0,03 M; 0,025 M; 0,02 M; 0,01 M.
Diukur absorbansi larutan Cr (III) 0,025 M dan larutan Co (II) 0,1 M pada panjang gelombang 400-700 nm dengan interval 5 nm untuk menentukkan panjang gelombang maksimum.
Setelah itu, dibuat campuran larutan Cr (III) 0,02 M dan Co (II) 0,2 M sebanyak masing-masing 5 mL. Kemudian diukur absorbansi campuran larutan tersebut pada panjang gelombang 400-700 nm dengan interval 5 nm.
Setelah pengukuran semua larutan, dibuat grafik hubungan antara konsentrasi terhadap panjang absorbansi pengukuran untuk mendapatkan nilai K untuk langkah selanjutnya.
standar deviasi pada tiap konsentrasi untuk mengetahui penyimpangan pada masing-masing konsentrasi dari tiga kali pengulangan. Dari hasil plotting hubungan antara konsentrasi dan absorbansi, diperoleh empat persamaan yang mewakili masing-masing larutan Co (II) dan Cr (III) pada λmaks Co (II) dan λmaks Cr (III).
C. Analisa campuran unknown
Uji ini dilakukan dengan cara diukur absorbansi larutan campuran unknown CoCl2.6H2O dan
Cr(NO3)3.9H2O yang diberikan pada λmaks Co (II) dan
λmaks Cr (III). Kemudian dihitung konsentrasi Cr (III)
dan Co (II) yang terdapat pada campuran unknown dengan menggunakan persamaan yang didapatkan dari prosedur B.
III. HASIL DAN DISKUSI
Pada percobaan analisis spektrofotometer UV-Vis ini digunakan 2 larutan yaitu larutan Cr (III) dan larutan Co (II). Percobaan analisis komponen secara simultan ini bertujuan untuk menghitung konsentrasi komponen Co (II) dan Cr (III). Pada campuran dua larutan tersebut terjadi percampuran (overlapping) daerah serapan antara Co (II) dan Cr (III).
A. Sifat aditif dari absorbansi untuk campuran larutan Cr (III) dan Co (II) Pengukuran absorbansi dilakukan pada panjang gelombang maksimum untuk masing-masing komponen. Pengukuran panjang gelombang maksimum dari larutan awal Co (II) 0,02 M dan Cr (III) 0,01 M menunjukkan hasil panjang gelombang maksimum untuk Co (II) adalah 510 nm dengan absorbansi sebesar 0.219, serta panjang gelombang maksimal untuk Cr (III) adalah 575 nm dengan absorbansi sebesar 0.019.
Pada campuran larutan Co (II) dan Cr (III) dilakukan pengukuran absorbansi untuk campuran antara 5 mL larutan Co (II) 0,20 M dengan 5 mL Cr (III) 0,02 M. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui absorbansi larutan campuran pada panjang gelombang maksimum dari Cr (III) dan Co (II). Dari pengukuran tersebut didapatkan hasil sebagai berikut:
Grafik 1. Hubungan Absorbansi dan Panjang Gelombang pada Campuran Co (II) 0.2 M dan Cr (III)
0.02 M
Tabel 1.
Data pengukuran spektrofotometer UV-VIS Konsentrasi
Larutan Absorbansi λ
Campuran Co (II) 0,20 M dan Cr (III) 0,02 M
0,317 575
0,703 510
Dari hasil pengukuran yang diperoleh, didapatkan absorbansi tertinggi larutan campuran pada 515 nm yaitu sebesar 0,706. Hasil tersebut menunjukkan bahwa larutan bersifat aditif dikarenakan larutan campuran menghasilkan panjang gelombang maksimum yang berbeda dengan panjang gelombang maksimum Co dan Cr sebenarnya, karena campuran tersebut dikatakan aditif apabila menghasilkan absorbansi berbeda dari komponennya.
A. Penentuan nilai K dari larutan Cr (III) dan Co (II)
Dilakukan pengenceran bertingkat untuk larutan Cr (III) dengan membuat larutan induk 0,05 M menggunakan labu ukur 100 mL, kemudian diencerkan dari konsentrasi 0,05 M; 0,04 M; 0,03 M; 0,02 M; 0,01 M menggunakan labu ukur 100 mL. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada larutan Co (II), yaitu diencerkan dari konsentrasi 0,2 M; 0,1 M; 0,08 M; 0,06 M; 0,04 M; 0,02 M menggunakan labu ukur 100 mL. Pengenceran bertingkat ini dilakukan untuk menghindari faktor kesalahan yang berbeda pada berbagai variasi konsentrasi pengenceran. Namun, pada pengenceran bertingkat jika konsentrasi pada pembuatan larutan induk tidak tepat, maka kesalahan akan berlipat hingga pada konsentrasi yang terkecil.
Tabel 2.
Data nilai absorbansi larutan Cr (III) pada λmaks Co (II)
510 nm
[Cr3+] Absorbansi
Run 1 Run 2 Run 3
0,05 0,210 0,210 0,210
0,04 0,166 0,167 0,167
0,03 0,120 0,120 0,119
0,02 0,720 0,720 0,720
0,01 0,019 0,019 0,023
400 450 500 550 600 650 700 0
0.2 0.4 0.6
Grafik Campuran Co (II) 0.2 M dan Cr (III) 0.02 M
Panjang Gelombang
A
bs
or
ba
ns
Tabel 3.
Data rata-rata nilai absorbansi dan standar deviasi larutan Cr (III) pada λmaks Co (II) 510 nm
[Cr3+] Absorbansi rata-rata Standardeviasi
0,05 0,210 0
0,04 0,16667 0,00058
0,03 0,11967 0,00058
0,02 0,072 0
0,01 0,02033 0,00231
Tabel 4.
Data nilai absorbansi larutan Cr (III) pada λmaks Cr (III)
575 nm
[Cr3+] Absorbansi
Run 1 Run 2 Run 3
0,05 0,593 0,593 0,592
0,04 0,473 0,474 0,474
0,03 0,347 0,348 0,346
0,02 0,229 0,229 0,229
0,01 0,095 0,094 0,097
Tabel 5.
Data rata-rata nilai absorbansi dan standar deviasi larutan Cr (III) pada λmaks Cr (III) 575 nm
[Cr3+] Absorbansi rata-rata Standardeviasi
0,05 0,59267 0,00058
0,04 0,47367 0,00058
0,03 0,347 0,001
0,02 0,229 0
0,01 0,09533 0,00153
Tabel 6.
Data nilai absorbansi larutan Co (II) pada λmaks Co (III)
510 nm
[Co2+] Absorbansi
Run 1 Run 2 Run 3
0,1 0,604 0,604 0,605
0,08 0,509 0,510 0,509
0,06 0,408 0,408 0,408
0,04 0,319 0,318 0,317
0,02 0,219 0,219 0,218
Tabel 7.
Data rata-rata nilai absorbansi dan standar deviasi larutan Co (II) pada λmaks Co (II) 510 nm
[Co3+] Absorbansi rata-rata Standardeviasi
0,1 0,60433 0,00058
0,08 0,50933 0,00058
0,06 0,408 0
0,04 0,318 0,001
0,02 0,21867 0,00058
Tabel 8.
Data nilai absorbansi larutan Co (II) pada λmaks Cr (III)
575 nm
[Co2+] Absorbansi
Run 1 Run 2 Run 3
0,1 0,188 0,188 0,188
0,08 0,173 0,174 0,173
0,06 0,155 0,155 0,155
0,04 0,144 0,144 0,144
0,02 0,132 0,132 0,131
Tabel 9.
Data rata-rata nilai absorbansi dan standar deviasi larutan Co (II) pada λmaks Cr (III) 575 nm
[Co3+] Absorbansi rata-rata Standardeviasi
0,1 0,188 0
0,08 0,17333 0,00058
0,06 0,155 0
0,04 0,144 0
0,02 0,13167 0,00058
Grafik 2. Hubungan Absorbansi dan Panjang Gelombang pada Cr (III)
Grafik 3. Hubungan Absorbansi dan Panjang Gelombang pada Co(II)
Berdasarkan grafik hubungan absorbansi dan panjang gelombang, semakin besar konsentrasi, maka semakin besar pula nilai absorbansinya.
Nilai K didapatkan dari grafik persamaan hubungan absorbansi terhadap konsentrasi. Untuk konsentrasi hasil percobaan pada masing-masing panjang gelombang maksimum didapatkan dari persamaan y = ax + b, dimana y adalah absorbansi rata-rata (dari ketiga run) dan x adalah konsentrasi hasil percobaan. Dari data tersebut, maka dapat diketahui recovery masing-masing konsentrasi larutan Cr (III) dan Co (II).
Grafik 4. Hubungan konsentrasi dengan absorbansi Cr (III) pada λmaks Co (II)
rata-rata K percobaanM Cr (III)
Recovery
Grafik 5. Hubungan konsentrasi dengan absorbansi Cr (III) pada λmaks Cr (III)
rata-rata K percobaanM Cr (III)
Recovery
Grafik 6. Hubungan konsentrasi dengan absorbansi Co (II) pada λmaks Co (II)
Grafik hubungan panjang gelombang terhadap absorbansi Cr (III)
0,01 M
400 450 500 550 600 650 700 0
0.2 0.4 0.6 0.8
Grafik hubungan panjang gelombang terhadap absorbansi Co (II)
0.02 M
Grafik hubungan konsentrasi terhadap absorbansi Cr (III) pada λmaks 510 nm
Konsentrasi (M)
Grafi hubungan ionsentrasi terhadap absorbansi Cr (III) pada λmais 575 nm
Konsentrasi (M)
Grafik hubungan konsentrasi terhadap absorbansi Co (II) pada λmaks 510 nm
Tabel 12.
Data nilai K untuk Co (II) pada λmax 510 nm
M Co (II)
Absorbansi
rata-rata K percobaanM Cr (III)
Recovery
Grafik 7. Hubungan konsentrasi dengan absorbansi Co (II) pada λmaks Cr (III)
rata-rata K percobaanM Cr (III)
Recovery menunjukka bahwa konsentrasi berbanding lurus dengan absorbansi.
Dari hasil pengukuran absorbansi tersebut didapatkan 4 (empat) kurva standar yaitu kurva standar Cr (III)pada λmaks Cr(III), kurva standar Cr (III)pada
λmaks Co (II), kurva standar Co (II)pada λmaks Co(II),
dan kurva standar Co (II)pada λmaks Cr (III). Nilai K
masing–masing adalah ; 4.474; 12,393; 4,8133; 0,71. Dari hasil tersebut, diperoleh bahwa nilai K dari larutan akan selalu lebih tinggi nilainya apabila
dilakukan pengukuran pada panjang gelombang maksimum komponen itu sendiri.
B. Analisa cuplikan campuran
Penentuan komposisi konsentrasi dari cuplikan campuran larutan unknown CoCl2.6H2O dan
Cr(NO3)3.9H2O menggunakan nilai K pada
masing-masing panjang gelombang maksimum. Cuplikan yang digunakan yaitu larutan unknown 1. Selanjutnya dari data absorbansi yang diperoleh dari grafik, dilakukan perhitungan dengan menggunakan intersep dan tanpa intersep.
Grafik Campuran Unknown Co (II) dan Cr (III)
Panjang Gelombang
Grafik 8. Hubungan Absorbansi dan Panjang Gelombang pada Campuran Unknown Co (II) dan Cr
(III)
575 nm 0,477 0,477 0,477 0,477
510 nm 0,161 0,161 0,161 0,161
Dari perhitungan untuk cuplikan unknown menggunakan intersep didapatkan hasil perhitungan C1
sebesar 0,07751 M dan C2 0,00117 M dengan C1
adalah Co(II) dan C2 adalah Cr (III). Sedangkan untuk
perhitungan tanpa intersep hasil perhitungan mendekati konsentrasi sebenarnya yaitu C1 0,09147 M
dan C2 0,00775 M, sehingga dapat dijelaskan bahwa
pengukuran tanpa intersep akan mendekati nilai yang sesungguhnya dibandingkan dengan menggunakan intersep. Namun, ketelitian perhitungan dengan menggunakan intersep lebih tinggi daripada tanpa simultan, didapatkan hasil panjang gelombang maksimum untuk Co (II) adalah 510 nm dan panjang
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Grafik hubungan konsentrasi terhadap absorbansi Co (II) pada λmaks 575 nm
gelombang maksimum untuk Cr (III) adalah 575 nm. Nilai K yang didapat untuk masing-masing komponen yaitu: K1 sebesar 0,71, K2 sebesar 4,8133, K3 sebesar
12.393 dan K4 sebesar 4.74.
Nilai konsentrasi cuplikan campuran dengan intersep untuk C1 (Co(II)) sebesar 0,07751 M dengan
recovery 77,51% dan untuk C2 (Cr(III)) konsentrasinya
sebesar 0,00117 M dengan recovery sebesar 11,70%. Sedangkan Nilai konsentrasi cuplikan campuran tanpa intersep untuk C1 (Co(II)) sebesar 0,09147 M dengan
recovery 91,47% dan untuk C2 (Cr(III)) sebesar
0,00775 M dengan recovery sebesar 77,50% Nilai konsentrasi cuplikan campuran mendekati konsentrasi yang sebenarnya yaitu pada perhitungan konsentrasi tanpa menggunakan intersep.
Hubungan antara konsentrasi dan absorbansi adalah berbanding lurus. Sehingga semakin besar konsentrasi suatu komponen akan semakin besar pula absorbansinya
.
LAMPIRAN Pembuataan Larutan Stock
Pembuatan larutan Cr 0.05 M
M
=
massa
Mr Cr
(NO
3
)3.9
H
20
x
1000
100
0,05
mol
L
¿
massa
400,14832
mol
g
x
1000
100
1
L
massa Cr = 2,007416 g dimasukkan dan ditambah aqua DM hingga batas labu ukur 100 ml
Pembuatan larutan Co 0.2 M
M
=
Mr CoCl
massa
2
.
6
H
20
x
1000
100
0,2
mol
L
¿
massa
237.93088
mol
g
x
1000
100
1
L
massa Co = 4,7586176 g dimasukkan dan ditambah aqua DM hingga batas labu ukur 100 mL
Pembuatan Larutan Sampel
Dari larutan Cr 0,05 M, dilakukan pengenceran bertingkat untuk pembuatan larutan Cr 0,04 M; 0,03 M; 0,02 M; 0,01 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,05 M x V1 = 0,04 M x 100 mL V1 = 80 mL
Dan seterusnya
Tabel 15.
Data volume pengenceran larutan Cr
Dari larutan Co 0,2 M, Dilakukan pengenceran bertingkat untuk pembuatan larutan Co 0,10 M; 0,08 M; 0,06 M; 0,04 M, 0,02 M.
Tabel 16.
Data volume pengenceran larutan Co
P
erhitungan Konsentrasi percoban dan % Recovery tiap sampel
Diketahui:
Konsentrasi Co teoritis = 0,02 M
Absorbansi rata-rata pada λmaks 510 nm = 0,2186667 Pers garis Grafik hubungan konsentrasi terhadap absorbansi Co (II) pada λmaks 510 nm adalah y = 4,8133x + 0,1229
Ditanya: Konsentrasi Co percobaan dan recovery Jawab:
y = 4,8133x + 0,1229
0,2186667 = 4,8133x + 0,1229 x = 0,019896
Co percobaan = 0,019896 M
Recovery
%
Recovery
=
Co percobaan
Co teoritis x
100 %
%
Recovery
=
0.019896
0.02
M
M
x
100 %
%
Recovery
= 99.48%Dengan cara yang sama, dilakukan perhitungan recovery untuk semua masing-masing konsentrasi.
Perhitungan Konsentrasi dan Recovery Co (C1) dan Cr (C2)
Perhitungan Konsentrasi Co (C1) dan Cr (C2)
dengan menggunakan intersep - λ maks Cr
A Cr = (k1.C1 + b) + (k3.C2 + b)
0.161 = (0.71C1 + 0.1158) + (12.393C2 - 0.0243)
0.0695 = 0.71C1 + 12.393C2 Konsentrasi Cr
(M2)
Volume Cr yang diperlukan (V1)
0,04 M 80 mL Cr 0,05 M
0,03 M 75 mL Cr 0,04 M
0,02 M 66.67 mL Cr 0,03 M
0,01 M 50 mL Cr 0,02 M
Konsentrasi Co (M2)
Volume Co yang diperlukan (V1)
0,10 M 50 mL Co 0,20 M
0,08 M 80 mL Co 0,10 M
0,06 M 75 mL Co 0,08 M
0,04 M 66.67 mL Co 0,06 M
- λ maks Co
A Co = (k2.C1 + b) + (k4.C2 + b)
0.477 = (4.8133C1 + 0.1229) + (4.74C2 -0.0245)
0.3786 = 4.8133C1 + 4.74C2
Dengan cara eliiminasi, maka didapatkan 0.0695 = 0.71C1 + 12.393C2 × 1
0.477 = 4.8133C1 + 4.74C2 × 2,615
0.0695 = 0.71C1 + 12.393C2
1.2474 = 12.5868C1 + 12.393C2
--- 1.1779 = --- 11.8768C1
C1 = 0.09917 M
Substitusi C1 ke pers λ maks Cr
0.0695 = 0.71C1 + 12.393C2
0.0695 = 0.71(0.07751) + 12.393C2
0.0695 = 0.05503 + 12.393C2
0.01447 = 12.393C2
C2 = 0.00117 M
Perhitungan recovery konsentrasi unknown - C1
% Recovery
C
1 =C
1percobaan
C
1teori × 100 %
% Recovery
C
1 =0.07751
0.1
× 100 %% Recovery
C
1 = 77.51 %- C2
% Recovery
C
2 =C
2percobaan
C
2teori × 100 %
% Recovery
C
2 =0.00117
0.01
M
× 100 %% Recovery
C
2 = 11.70 % Perhitungan Konsentrasi Co (C1) dan Cr (C2)
dengan tanpa intersep - λ maks Cr
A Cr = k1.C1 + k3.C2
1.161 0.71C1 + 12.393C2
- λ maks Co
A Co = (k2.C1 + b) + (k4.C2 + b)
0.477 = 4.8133C1 + 4.74C2
Dengan cara eliiminasi, maka didapatkan 0.161 = 0.71C1 + 12.393C2 × 1
0.477 = 4.8133C1 + 4.74C2 × 2.615
0.161 = 0.71C1 + 12.393C2
1.2474 = 12.5868C1 + 12.393C2
-- 1.0864 = -- 11.8768C1
C1 = 0.09147 M
Substitusi C1 ke pers λ maks Cr
0.161 = 0.71C1 + 12.393C2
0.161 = 0.71(0.09147) + 12.393C2
0.161 = 0.06494 + 12.393C2
0.09606 = 12.393C2
C2 = 0.00775 M
Perhitungan recovery konsentrasi unknown - C1
% Recovery
C
1 =C
1percobaan
C
1teori × 100 %% Recovery
C
1 =0.09147
0.1
M
M
× 100 %% Recovery
C
1 = 91.47 %- C2
% Recovery
C
2 =C
2percobaan
C
2teori × 100 %
% Recovery
C
2 =0.00775
0.01
M
× 100 %% Recovery
C
2 = 77.50%DAFTAR PUSTAKA
[1] Widjaja, I. N. K., dan N. P. L Laksmiani, Petunjuk Praktikum Analisis Fisiko Kimia. Jimbaran: Universitas Udayana (2009).
[2] Skoog D. A, West D. U, Holler F. J, Crouch S. R., Fundamentals of Analytical Chemistry, Ed. Ke-8. Belmont: Thomson Learning (1998). [3] Skoog D. A, Holler F. J, Niemann T. A,
Principle of Instrumental Analysis, Ed. Ke-5. Florida: Saunders College (1998).
[4] Gandjar, I. G. dan A. Rahman, Kimia Farmasi Analis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (2008). [5] Harvey D., Modern Analitycal Chemistry, Ed
Internasional. Boston: McGraw-Hill (2000). [6] Sikanna, R., Penuntun Praktikum Analisis
Instrumen. Jurusan kimia FMIPA UNTAD. Palu (2012).
[7] Darwono, Logam Dalam Sistem Biologi Hidup. Jakarta: UI-Press (1995).
[8] Puri B.K., Gautam M., Spectrophotometric Determination of Chromium (III) and Rhodium (III) After Extraction with Oxine into Molten Naphthalene. Talanta, 25 (1978) 484-485.
[9] Wiryawan, A dkk, Kimia Analitik Untuk SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (2008).