• Tidak ada hasil yang ditemukan

LA SPEKTROFOTMETRI 02

N/A
N/A
RA@023_Zeanetta Anaya Gustri

Academic year: 2025

Membagikan "LA SPEKTROFOTMETRI 02"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

METODE PENGUKURAN DAN ANALISIS

Materi :

Spektrofotometri

Disusun Oleh : KELOMPOK 2

Zeanetta Anaya Gustri (123280023) Arifin Maulana Saputra (123280025) Khafiyya Fathimah Z.P. (123280031)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA

2024

(2)

ii ABSTRAK

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang didasarkan pada interaksi Cahaya dengan materi. Spektrofotometri uv-vis serapan Cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan visibile tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk menganalisis kalor suatu zat dalam larutan berdasarkan absorbansi terhadap penjang gelombang. Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui metode Analisa spektrofotometri, pengaplikasian metode analisa spektrofotometri dan mengetahui suatu kadar sulfat suatu sampel. Di percobaan preparasi larutan, larutan yang digunakan yaitu larutan kalium sulfat (K2SO4) dan asam klorida (HCl).

Pada percobaan kedua yaitu larutan Panjang gelombang maksimum diperoleh besarnya nilai absorbansi dan Panjang gelombang 410 nm hingga 520 nm disertai hubungan antara keduanya. Pada spektrofotometri uv-vis menunjukkan Panjang kalibrasi dengan konsentrasi larutan sebesar 20,40,60,80 ppm yang disertai dengan grafik hubungan antara konsentrasi dan asborbansi. Praktikum ini memberikan pemahaman mendalam tentang aplikasi spektrofotometri dalam analisis kuantitatif.

Metode ini sangat bermanfaat dalam berbagai bidang, termasuk farmasi, kimia lingkungan, dan industri makanan. Spektrofotometri memungkinkan identifikasi dan kuantifikasi zat dengan akurasi tinggi, asalkan kondisi eksperimen terkontrol dengan baik. Hasil praktikum menunjukkan bahwa spektrofotometri merupakan alat yang efektif dan andal dalam analisis kimia, selama prinsip dasar dan prosedur penggunaannya dipahami dengan baik.

Kata kunci : absorbansi, kalibrasi, preparasi, spektrofotometri, transmitan

(3)

iii DAFTAR ISI

ABSTRAK ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Percobaan ... 2

1.3 Manfaat Percobaan ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Pengertian Spektrofotmetri ... 3

2.2 Hukum Lambert-Beer ... 4

2.3 Jenis-jenis Spektrofotometri ... 5

2.4 Instrumentasi Spektrofotmetri UV-Vis ... 6

2.5 Kelebihan Spektrofotometri ... 7

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ... 8

3.1 Alat dan Bahan ... 8

3.2 Diagram Alir ... 9

3.3 Prosedur Percobaan ... 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15

4.1 Hasil ... 15

4.2 Pembahasan ... 16

(4)

iv

BAB V PENUTUP ... 19

5.1 Kesimpulan ... 19

5.2 Saran ... 19

DAFTAR PUSTAKA ... 20

LAMPIRAN A PERHITUNGAN ... 22

LAMPIRAN B PERTANYAAN MODUL ... 29

LAMPIRAN C DOKUMENTASI & BUKTI SITASI ... 31

LAMPIRAN D RANGKUMAN MSDS... 33

LAMPIRAN E RISK ASSESSMENT ... 37

(5)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagian Alat Spektrofotometer... 6

Gambar 3.1 Diagram Alir Preparasi Larutan ... 9

Gambar 3.2 Diagram Alir Menentukan Panjang Gelombang Maksimum... 10

Gambar 3.3 Diagram Alir Pembuatan Kurva Kalibrasi ...11

Gambar 3.4 Diagram Alir Pengukuran Sampel Larutan ... 12

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Panjang Gelombang Dan Nilai Absorbansi nya ... 17

Gambar 4.2 Grafik Antara Hubungan Absorbansi dan Konsentrasi ... 17

Gambar 4.3 Reaksi Antara Kalium Sulfat dengan Barium Klorida ... 18

Gambar C.1 Proses Preaparasi Larutan ... 31

Gambar C.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 31

Gambar C.3 Preparasi Semua Larutan ... 31

Gambar C.4 (Eka, 2017) ... 32

Gambar C.5 (Abriyani, 2022) ... 32

Gambar C.6 (Handoyono, 2020) ... 32

(6)

vi DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Percobaan Menentukan Panjang Gelombang Maksimum ... 15 Tabel 4.2 Hasil Percobaan Kurva Kalibrasi ... 15 Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Sampel Larutan ... 16

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Spektrofotometri adalah teknik analisis yang sangat penting dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk kimia, biologi, dan farmasi, yang digunakan untuk mengukur absorbansi atau transmitansi cahaya oleh suatu larutan pada panjang gelombang tertentu. Prinsip dasar dari spektrofotometri didasarkan pada hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi zat terlarut dan panjang lintasan cahaya yang dilalui. Teknik ini memungkinkan penentuan konsentrasi senyawa dalam larutan dengan akurasi tinggi dan telah menjadi metode standar dalam laboratorium analisis [1].

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menunjukkan pengembangan metode spektrofotometri derivatif untuk analisis senyawa kompleks, seperti kombinasi hidrokortison asetat dan nipagin dalam sediaan krim, yang menawarkan kecepatan dan efisiensi lebih tinggi dalam analisis[1]. Selain itu, spektrofotometri juga digunakan untuk menentukan panjang gelombang serapan maksimum pada larutan, seperti Fe(SCN)3 dan CuSO4, yang membantu dalam karakterisasi senyawa berdasarkan spektrum serapan mereka[2]. Metode ini tidak hanya terbatas pada analisis kimia tetapi juga diterapkan dalam pengidentifikasian senyawa gas seperti karbon monoksida dan uap bahan bakar petrodiesel, menunjukkan fleksibilitasnya dalam aplikasi lingkungan dan kesehatan[3].

Penelitian terbaru juga menyoroti penggunaan spektroskopi inframerah dan spektrofotometri UV-Vis dalam identifikasi senyawa bioaktif ekstrak tumbuhan, yang semakin memperluas cakupan aplikasinya di bidang bioteknologi dan farmasi[4]. Dengan kemajuan teknologi dan metodologi analisis, spektrofotometri terus menjadi alat yang esensial dalam penelitian ilmiah dan industri.

(8)

2

Dengan demikian, spektrofotometri tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis yang akurat dan efisien, tetapi juga sebagai metode yang terus berkembang, beradaptasi dengan kebutuhan penelitian modern dan aplikasi praktis di berbagai bidang, menjadikannya salah satu teknik analisis yang paling relevan dan penting dalam ilmu pengetahuan saat ini.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini, yaitu :

1. Mengetahui metode Analisa spektrofotometri 2. Mengetahui aplikasi Analisa pada spektrofotometri 3. Penentuan kadar sulfat dakam sampel.

1.3 Manfaat Percobaan

Manfaat percobaan spektrofotometri adalah :

1. Praktikan/mahasiswa mengetahui spektrofotometri dapat digunakan dan diaplikasikan dalam penelitian dan kehidupan

2. Praktikan/mahasiswa mengetahui aplikasi analisis pada spektrofotometri 3. Praktikan/mahasiswa memahami prinsip kerja spektra uv-vis

4. Praktikan/mahasiswa memahami informasi kualitatif dan analisis kuantitatif

(9)

3 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Spektrofotmetri

Spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis yang menggunakan panjang gelombang UV dan Visible sebagai area serapan untuk mendeteksi senyawa.

Pada umumnya senyawa yang dapat diidentivikasi menggunakan Spektrofotometri UV-Vis adalah senyawa yang memilki gugus gugus kromofor dan gugus auksokrom.

Pengujian dengan Spektrofotometri UV-Vis tergolong dan cepat cepat jika dibandingkan dengan metode lain [5].

Spektrofotometri uv-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200- 400 nm) dan sinar tampak (400-800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya UV atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi electron [5].

Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometri adalah berdasarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu melalui suatu larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan konsentrasinya. Proses ini disebut

“absorbsi spektrofotometri”, dan jika panjang gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai kolorimeter. Spektrofotometri juga menggunakan panjang gelombang pada gelombang ultra violet dan infra merah.

Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah cahaya yang diabsorbsi oleh larutan sebanding dengan konsentrasi kontaminan dalam larutan. Spektrofotometri Serapan Atom pada Alat ini umumnya digunakan untuk analisis logam sedangkan untuk non logam jarang sekali, mengingat unsur non logam dapat terionisasi dengan adanya kalor, sehingga setelah dipanaskan akan sukar didapat unsur yang terionisasi.

Spektrofotometri UV-Vis memiliki ketepatan dan ketelitian yang masih dapat diterima

(10)

4

dengan baik dengan nilai presisi sebesar 0,201% dan akurasi sebesar 121,73% dengan RSD sebesar 0,2033% [6].

2.2 Hukum Lambert-Beer

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer, berbunyi: “Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan” [6].

Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung banyaknya cahaya yang hamburkan:T = atau %T = x 100 % dan absorbansi dinyatakan dengan rumus :

A= - log T = -log……….(2.1)

Dimana I0 merupakan intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel. Rumus yang diturunkan dari Hukum-Beer dapat ditulis sebagai [7] :

A= a . b . c atau A = ε . b . c……….(2.2)

dimana:

A = absorbansi

b / l = tebal larutan (tebal kuvet

diperhitungkan juga umumnya 1 cm) c = konsentrasi larutan yang diukur II. = tetapan absorptivitas molar (jika

konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)

a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm)

(11)

5 2.3 Jenis-jenis Spektrofotometri

Spektrofotometri terdiri dari beberapa jenis berdasarkan sumber cahayay yang digunakan, antara lain : [7]

1. Spektrofotometri Visible ( Spektro Vis)

Spektrofotometri ini menggunakan cahaya tampak (visible) sebagai Sumber energi atau sumber cahaya. Cahaya visible termasuk spektrum Elektromagnetik yang ditangkap oleh mata manusia. Panjang Gelombang sinar tampak (visible) berkisar antara 380 nm sampai 750 nm.

2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Pada spektrofotometri UV berdasarkan pada interaksi sampel dengan Sinar ultraviolet. Sinar UV memiliki panjang gelombang yang berkisar Antara 200 nm sampai 400 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan Lampu deutrium.

Deutrium disebut juga heavy hidrogen, karena sinar Uv tidak dapat dideteksi oleh mata, maka senyawa yang dapat Menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki Warna.

3. Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV Dan visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber Cahaya UV dan sumber cahaya visible (tampak). Meskipun untuk alat Yang lebih tinggi atau canggih sudah menggunakan hanya satu sumber Sinar sebagai sumber UV dan vis yaitu photodiode yang dilengkapi Dengan monokrometer.

4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan Pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 700 nm. Pada Spektro IR, bisa digunakan untuk analisis kuantitatif, umumnya Digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, Terutama senyawa organik.

(12)

6 2.4 Instrumentasi Spektrofotmetri UV-Vis

Instrumentasi spektrofotometer UV-Vis atau spektrofotometer ultraviolet- sinar tampak memanfaatkan sinar dengan panjang gelombang 180-380 nm untuk daerah UV dan 380-780 nm untuk daerah visible atau sinar tampak.

Spektrofotometer ini jenisnya terdiri dari berkas tunggal (single beam) dan berkas rangkap (double beam). Perbedaan pada keduanya adalah pada spektrofotometer double beam pengukuran dapat dilakukan secara bersamaan antara kuvet yang berisi larutan contoh atau standar dan kuvet yang berisi blanko dalam satu ruang sehingga pembacaan serapan zat tidak dipengaruhi oleh perubahan tegangan listrik karena blangko dan zat diukur pada saat yang bersamaan. Secara umum, sistem spektrofotometer terdiri atas sumber radiasi, monokromator, sel, foto sel, detektor, dan tampilan.

Gambar 2.1 Bagian Alat Spektrofotometer

Sumber radiasi berfungsi memberikanenergi radiasi pada daerah panjang gelombang yang tepat untuk pengukuran dan mempertahankan intensitas sinar yang tetap pada pengukuran. Sumber radiasi untuk spektrofotometer UV-Vis adalah lampu hidrogen atau deuterium dan lampu filamen. Lampu hidrogen digunakan untuk mendapatkan radiasi di daerah ultraviolet sampai 350 ran.

Lampu filamen digunakan untuk daerah sinar tampak sampai inframerah dekat dengan panjang gelombang 350 nm sampai sekitar 250 nm[1].

(13)

7 2.5 Kelebihan Spektrofotometri

Keuntungan dari penggunaan spektrofotometri, yaitu [3] : 1. Penggunaannya luas

Dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organic, dan biokimia, Yang diabsorbsi di daerah ultra lembahyang atau daerah tampak.

2. Sensitivitas yang tinggi

Batas deteksi untuk mengabsorbansi pada jarak 10-4Nm sampai jarak Diperpanjang menjadi 10-6 Sampai 10-7 nm dengan prosedur modifikasi Yang pasti.

3. Selektivitas sedang hingga tinggi

Jika panjang gelombang dapat ditemukan dimana analit Mengabsorbansi sendiri, persiapan pemisahan jadi tidak perlu Diklakukan.

4. Ketelitian yang baik

Kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan tipe Spektrofotometer uv-vis ada pada jarak dari 1% sampai 5%.

5. Mudah

Spektrofotometer mengukur dengan mudah, modern dan kinerja cepat.

(14)

8 BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1. Batang pengaduk

2. Beaker glass 3. Botol akuades 4. Indicator pH 5. Kuvet 6. Erlenmeyer 7. Gelas arloji 8. Gelas ukur 9. Karet penghisap 10. Neraca analitik 11. Labu ukur 12. Pipet volume 13. Pipet tetes

14. Spektrofotometer uv-vis 15. Spatula

16. Corong 3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan adalah : 1. Aquades (H2O)

2. Asam kalorida (HCl) 3. Kalium sulfat (K2SO4)

4. Barium klorida (BaCl2.2H2O) 5. Alumunium foil

6. Air keran

(15)

9 3.2 Diagram Alir

3.2.1 Preparasi Larutan

Gambar 3.1 Diagram Alir Preparasi Larutan Mulai

Dibuat larutan K2SO4 100 PPM sebanyak 1000

ml

Dibuat larutan HCL 1 m sebanyak 50 ml

Selesai

(16)

10 3.2.2 Menetukan Panjang Gelombang Makasimum

Gambar 3.2 Diagram Alir Menentukan Panjang Gelombang Maksimum

Mulai

Pipet K2SO4 100 PPM sebanyak 50 ml

Tambahkan 0,2 gr padatan BaCl2.3H2O

Kocok sampai membentuk endapan lalu didiamkan selama 5 menit

Ukur nilai %T dan A dengan spektrofotometer sinar tampang pada panjang gelombang 410-520

nm

Gunakan larutan blangko untuk mengenalkan harga %T sebelum pengukuran serapan larutan

standar pada setiap pergantian panjang gelombang

Membuat kurva hubungan panjang gelombang dengan % T (absorbansi) dan menentukan panjang

gelombang maksimum

Selesai

(17)

11 3.2.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi

Gambar 3.3 Diagram Alir Pembuatan Kurva Kalibrasi Mulai

Encerkan larutan K2SO4 100 ppm menjadi 20,40,60 dan 80 ppm

sebanyak 100 ml

Kocok sampai membentuk endapan barium sulfat lalu didiamkan selama 5 menit

Ukur besar transmitan pada panjang gelombang maksimum

Selesai

Tambahkan 0,2 gr padatan BaCl2.2H2O pada masing-

masing larutam

Buat kurva kalibrasi antara panjang gelombang & konsentrasi

(18)

12 3.2.4 Pengukuran Sampel Larutan

Gambar 3.4 Diagram Alir Pengukuran Sampel Larutan Mulai

Pipet 10 ml sampel ke dalam lalu ukur sebanyak 50 ml

Tambahkan asam klorida 1 N untuk mengukur pH hingga 1

Tambahkan 0,2 gr padatan barium klorida Tambahkan aquades

sampai tanda batas

Kocok sampai membentuk endapan kalium sulfat lalu didiamkan selama 5

menit

Ukur besar transmitan pada panjang gelombang maksimum

Selesai

(19)

13 3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Preparasi Larutan

Berikut adalah Langkah-langkah nya :

1. Buat larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 1000 ml 2. Buat larutan asam klorida 1 M sebanyak 50 ml

3.3.2 Menentukan Panjang Gelombang Maksimum Berikut Langkah-langkah nya :

1. Pipet larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 50 ml tambahkan 0,2 gram padatan barium kalorida

2. Kocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, diamkan selama 5 menit

3. Mengukur nilai % T dan A dari larutan 100 ppm dengan spektrofotometer sinar tampak pada Panjang gelombang 410 sampai 520 nm

4. Menggunakan larutan blangko untuk mengenolkan harga % T sebelum pengukuran serapan larutan standar pada setiap penggantian Panjang gelombang

5. Membuat kurva hubungan antara Panjang gelombang dengan absorbansi (%T) dan menentukan Panjang gelombang maksimum

3.3.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi Berikut Langkah-langkah nya :

1. Pipet larutan kalium sulfat 100 ppm untuk di encerkan menjadi 20,40,60 dan 80 ppm sebanyak 50 ml

2. Pada masing-,asing larutan tambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum ditambahkan akuades sampai tanda batas

3. Kocok selama kurang lebuh 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, diamkan selama 5 menit

(20)

14

4. Ukur besarnya transmitan pada Panjang gelombang maksimum 5. Buat kurva kalibrasi antara Panjang gelombang dan konsentrasi 3.3.4 Pengukuran Sampel Larutan

Berikut Langkah-langkah nya :

1. Pipet 10 ml sampel ke dalam labu ukur 50 ml, tambahkan asam klorida 1 N untuk mengukur pH hingga 1

2. Tambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum menambahkan akuades sampai tanda batas, kocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat (BaSO4) , diamkan selama 5 menit 3. Ukur besarnya transmitan pada Panjang gelombang 480 nm

(21)

15 BAB IV

HASIL DAN PEMABAHASAN 4.1 Hasil

Hasil yang diperoleh dari praktikum spektrofotometri adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Hasil Percobaan Menentukan Panjang Gelombang Maksimum

Tabel 4.2 Hasil Percobaan Kurva Kalibrasi Konsentrasi Absorbansi

0 0

20 0,128

40 0,232

60 0,339

80 0,228

Panjang gelombang (nm) A %T

410 0,288 51,52%

420 0,285 51,88%

430 0,282 52,23%

440 0,279 52,60%

450 0,275 53,08%

460 0,273 53,33%

470 0,269 53,83%

480 0,269 54,20%

490 0,263 54,57%

500 0,26 54,95%

510 0,257 55,33%

520 0,253 55,84%

(22)

16

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Sampel Larutan

Panjang gelombang (nm) Absorbansi (A) Kosentrasi (ppm)

480 0 0

4.2 Pembahasan

Praktikum spektrofotometri memiliki 4 prosedur percobaan, yang pertama adalah preparasi larutan. Pada percobaan ini dilakukan pembuatan dua larutan, yaitu K2SO4 100 ppm sebanyak 1000ml dengan melakukan pengenceran 0,1 gram kalium sulfat dengan akuades. Larutan kedua adalah larutan asam klorida 1M s32% sebanyak 50ml, dengan menggunakan asam klorida sebanyak 4, 83ml yang dilarutkan dengan akuades.

Percobaan kedua adalah penentuan panjang gelombang maksimum.

Percobaan jni mulanya dilakukan dengan mencampurkan 50ml larutan K2SO4 100 ppm dengan 0,2 gram BaCl2, kemudian larutan dikocok hingga homogen dan terbentuk endapan bariumsulfat, lalu didiamkan selama 5 menit. Kemudian diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 410-520 nm.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, panjang gelombang maksimum ditentukan dengan melihat nilai absorbansi maksimum yang terukur pada spektrofotometer UV-Vis untuk panjang gelombang tertentu [10].Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum karena pada panjang gelombang maksimum perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi paling besar, akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimum [11].

(23)

17

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Panjang Gelombang dan Nilai Absorbansinya

Berdasarkan pada hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi panjang gelombang, maka nilai absorbansinya akan semakin menurun [12].

Hal ini dapat terjadi akibat adanya efek elektrolisis [13].

Gambar 4.2 Grafik Antara Hubungan Absorbansi dan Konsentrasi 0,23

0,24 0,25 0,26 0,27 0,28 0,29 0,3

410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520

Absorbansi

Panjang Gelombang

Panjang Gelombang & Absorbansi

0 0,1 0,2 0,3 0,4

0 20 40 60 80

A

Konsentrasi

Absorbansi & Konsentrasi

(24)

18

Percobaan ketiga adalah pembuatan kurva kalibrasi. Mulanya, pipet larutan K2SO4 100 ppm untuk diencerkan menjadi 0, 20, 40, 60, 80 ppm yang masing- masing sebanyak 50ml. Kemudian ditambahkan 0,2 gram BaCl2 sebelum ditambah akuades sampai tanda batas. Setelah itu, kocok sampai terbentuk endapan barium sulfat dan didiamkan selama 5 menit. Ukur besar transmitan pada panjang gelombang maksimum menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

Diperoleh nilai absorbansinya secara berurut adalah 0; 0,128; 0,232; 0,339; 0,228.

Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan maka akan semakin besar pula nilai absorbansinya. Nilai absorbansi yang diperoleh juga telah memenuhi range absorbansi yang baik atau dikenal dengan hukum Lambert-Beer yaitu 0,2 ≤ A < 0,8 [14]. Percobaan keempat adalah Pengukuran Sampel Larutan. Pertama, pipet 10ml sampel ke dalam labu ukur 50ml, tambahkan asam klorida 1N untuk mengukur Ph hingga 1. Lalu tambahkan 0,2 gram BaCl2 sebelum menambahkan akuades sampai tanda batas.

Kocok sampai terbentuk endapan barium sulfat, diamkan selama 5 menit. Ukur besar transmitan pada panjang gelombang 480 nm. Berikut merupakan reaksi yang terjadi.

K2SO4 + BaCl2 → 2KCl + BaSO4

Gambar 4.3 Reaksi Antara Kalium Sulfat dengan Barium Klorida

Prinsip penentuan sulfat secara spektrofotometri adalah dengan mereaksikan ion sulfat yang ada di dalam sampel air dengan larutan BaCl2 sehingga terbentuk suspensi BaSo4 [15]. Berdasarkan teori, panjang gelombang maksimum dipilih karena di sekitar panjang gelombang maksimum akan terbentuk garis kurva linier sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi dengan baik. Jika hukum Lambert-Beer terpenuhi, maka kesalahan yang ditimbulkan pengukuran dapat diperkecil atau dengan kata lain hasil pengukuran absorbansi tepat [16].

(25)

19 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan praktikum kali ini adalah :

1. Percobaan penentuan Panjang gelombang maksimum menunjukkan bahwa Panjang gelombang maksimum antara 410-520 nm memiliki nilai absorbansi 0,288-0,253

2. Percobaan nilai konsentrasi dan absorbansi menunjukkan bahwa kosentrasi 0,20,40,80 dan 60 ppm menghasilkan nilai abosrbansi 0-0,228 3. Percobaan penentuan kadar asam sulfat dalam sampel menunjukkan hasil absorbansi 0 dan transmitan 100% menandakan tidak adanya sulfat dalam sampel.

5.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan praktikum kali ini yaitu :

1. Praktikan harus lebih memahami dasar teori dan prinsip kerja materi praktikum

2. Praktikum harus mempelajari lebih dalam terkait prosedur percobaan yang akan dilakukan

3. Praktikan harus lebih teliti dalam menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

(26)

20

DAFTAR PUSTAKA

[1] A.B.M. Wahyuni, M. H. Afthoni, and R. Rollando, “Pengembangan dan Validasi Metode Analisis Spektrofotometri UV Vis Derivatif untuk Deteksi Kombinasi Hidrokortison Asetat dan Nipagin pada Sediaan Krim,” Sainsbertek J. Ilm. Sains Teknol., vol. 3, no. 1, pp. 239–247, 2022, doi:

10.33479/sb.v3i1.181.

[2] R. Afandi and A. Purwanto, “Spektrofotometer Cahaya Tampak…(Riski Afandi)161 Spketofrmeter Cahaya Tampak Sederhana Untuk Menentukan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Larutan Fe(SCN) 3 DAN CuSO 4 Simple Visible Light Spectroscopy to Determine The Maximum Absorbance Wavelength of,” J. Spektrofotom. Cahaya Tampak, vol. 2, no. 4, pp. 161–166, 2018.

[3] H. Nugroho, E. Sarwono, and A. Rinaldi, “Aplikasi Metode Spektrofotometri pada Klasifikasi Gas Karbon Monoksida (CO) dan Uap Bahan Bakar Petrodiesel (C14H30),” Progress. Phys. J., vol. 1, no. 1, p. 1, 2020, doi:

10.30872/ppj.v1i1.559.

[4] W. Nurhamidah, E. Mindawati, A. Y. Geralda, and E. Abriyani, “Aplikasi Penggunaan Spektroskopi Infrared dan Spektrofotometri UV-Vis Dalam Identifikasi Senyawa Bioaktif Ekstrak Tumbuhan : Literature Review Article,”

J. Soc. Sci. Res., vol. 4, no. 1, pp. 3612–3622, 2024.

[5] M. Handoyo Sahumena, R. Ruslin, A. Asriyanti, and E. Nurrohwinta Djuwarno, “Identifikasi Jamu Yang Beredar Di Kota Kendari Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis,” J. Syifa Sci. Clin. Res., vol. 2, no. 2, pp.

65–72, 2020, doi: 10.37311/jsscr.v2i2.6977.

[6] L. Eka Putri and P. Konsentrasi Senyawa Berwarna KmnO, “Penentuan Konsentrasi Senyawa Berwarna KmnO 4 Dengan Metoda Spektroskopi UV Visible,” Nat. Sci. J., Vol. 3, no. 1, pp. 391–398, 20.

(27)

21

[7] L. Eka Putri and P. Konsentrasi Senyawa Berwarna KmnO, “Penentuan Konsentrasi Senyawa Berwarna KmnO 4 Dengan Metoda Spektroskopi UV Visible,” Nat. Sci. J., vol. 3, no. 1, pp. 391–398, 2017.

[8] B. Paisol, “Reformulasi Yuridir pengaturan produk pangan halal,”

Spektrofotometer, 2013.

[9] N. N. Khasanah, Studi aplikasi metode spektrofotometri pada penentuan Kandungan logam besi dalam sampel air, Bandung: UIN Sunan Djati Bandung, 2014.

[10] S. Ziga, “Penentuan panjang gelombang maksimum dengan Spektrofotometri UVVis,” Spektrofotometer, 2013

[11] S. A. Apriyani, Y. Martono, C. A. Riyanto, Muthmainah and Kusmita Lia,

“Validation of UV-Vis spectrophotometric methods for determination of inulin levels from lesser yam (dioscorea esculenta L.),” Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi, vol. 21, no. 4, pp. 161-165, 2018.

[12] N. D. Gusnedi, “Analisis nilai absorbansi dalam penentuan kadar flavonoid untuk Tanaman obat,” analisa tanaman obat, 2013.

[13] C. Wahyudi and B. Dwandaru, “Preparasi dan sintesis graphene oxide (GO) yang Berasal dari limbah kertas berdasarkan liquid mechanical exfoliation (CLME) lucutan Listrik dengan variasi tegangan,” Jurnal Fisika, vol. 6, no. 5, pp. 361-378, 2017.

[14] Ahriani, Zelviani, S., Hernawati, Fitriyanti. 2021. “ANALISIS NILAI ABSORBANSI UNTUK MENENTUKAN KADAR FLAVONOID DAUN JARAK MERAH (JATROPHA GOSSYPIFOLIA L.) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS,” Jurnal Fisika dan Terapannya (2021) Vol.

8 (2): 56 – 64.

[15] A. Dodi, “Penentuan kadar sulfat dalam sampel secara spektrofotometri,” lab kimia, 2014.

[16] W. Asmarani, “Absorbansi larutan blanko,” Spektrofotometri, 2020.

(28)

22 LAMPIRAN A PERHITUNGAN

A. Preparasi Larutan

1. Membuat larutan kalium sulfat (K2SO4) 100 pm sebanyak 1000 ml Diketahui :

V = 1000 mL = 1 L Ppm = 100 ppm Ditanya : massa ? Jawab :

Ppm = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎𝑛(𝑚𝑔)

𝑉

100 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 (𝑚𝑔)

1

2. Membuat larutan asam klorida (HCl) Diketahui :

HCl = 32%

Mr HCl= 36,5 g/mol 1 HCl = 1,18 g/mol Ditanya : M1 dan V1 ? Jawab :

M1 = 10 % M1 = 10 ×32×1,18

36,5

(29)

23 M1 = 10,345 mol

𝑀1 × 𝑉1 = 𝑀2 × 𝑉2 10,345 × 𝑉1 = 1 × 50 V1 = = 50

10,345 = 4,833 𝑚𝑙

A.2 Menentukan Panjang Gelombang Maksimum

1. Transmitan (%T) pada Panjang gelombang 410 nm, A = 0,233

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,288× 100%

% T = 51,52 %

2. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 420 nm, A = 0,285

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,285× 100%

% T = 51,88 %

3. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 430 nm, A = 0,282

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,282× 100%

% T = 52,33 %

4. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 440 nm, A = 0,279

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,279× 100%

% T = 52,60 %

(30)

24

5. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 450 nm, A = 0,275

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,275× 100%

% T = 53,08 %

6. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 460 nm, A = 0,273

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,273× 100%

%T = 53,33%

7. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 470 nm, A = 0,269

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,269× 100%

% T = 53,83%

8. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 480 nm, A = 0,266

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,266× 100%

% T = 54,20%

9. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 490 nm, A = 0,263

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,263× 100%

% T = 54,57%

10. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 500 nm, A = 0,260

(31)

25

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,260× 100%

% T = 54,95%

11. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 510 nm, A = 0,257

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,257× 100%

% T = 55,33%

12. Perhitungan %T pada Panjang gelombang 520 nm, A = 0,253

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0,253× 100%

% T = 55,84%

A.3 Kurva Kalibrasi A.3.1 Pengenceran 1. 100 ppm ke 80 ppm

V1 = 𝑀2×𝑉2

𝑀1

V1 = 80 ×50

100

V = 40 mL

2. 100 ppm ke 60 ppm V =60 ×50

100

(32)

26 V = 30 ml

3. 100 ppm ke 20 ppm V =40 ×50

100

V = 20 ml

4. 100 ppm ke 20 ppm V =20 ×50

100

V = 10 ml

A.3.2 Regrasi Linier X

Konsentrasi

Y Absorbansi

X2 Y2 X.Y

0 0 0 0 0

20 0,128 400 0,016 2,56

40 0,292 1600 0,115 9,28

60 0,339 3600 0,052 20,34

80 0,228 6400 0,052 18,24

∑ 𝑋 = 2002 ∑ 𝑌 = 0,927 ∑ 𝑋2 = 1200 ∑ 𝑌2 = 0,257 ∑ 𝑋𝑌 = 54,90

Menghitung Persamaan Regresi Linier Ditanya :

Mencari nilai a dan b menggunakan regresi linier

(33)

27 Jawab : y = a+bx

a = (∑ 𝑦)(∑ 𝑥2).(∑ 𝑥)(∑ 𝑥𝑦) 𝑛(∑ 𝑥2). (∑ 𝑥)2

a = (0,927)(12000).(200)(50,42) 5(12000).(200)2

a = 11.124−10.084 20.000

a = 0,052

b = 𝑛(∑ 𝑥𝑦)−(∑ 𝑥).(∑ 𝑦) 𝑛(∑ 𝑥2). (∑ 𝑥)2

b = 5(50,42)−(200)(0,927) 5(12000).(200)2

y = a + bx

y = 0,052 + 0,003335x

A.4 Uji Sampel Pada Panjang Gelombang Maksimum A.4.1 Kadar K2SO4 dalam sampel

Diketahui :

Panjang gelombang maksimum = 480 nm Absorbansi = 0

y = 0,052 + 0,002225x Ditanya : x ?

Jawab :

y = 0,052 + 0,003335x 0 = 0,052 + 0,003335 x

(34)

28 x =0−0,052

0,003335

x = 15,59 mg/L x = 15,59 ppm

A.4.2 % T Larutan Sampel Diketahui :

Panjang gelombang maksimum = 480nm Absorbansi = 0

Ditanya : %T?

Jawab :

%T pada Panjang gelombang 480 nm, A = 0

% T = 10−𝑛× 100%

% T = 10−0× 100%

% T = 100%

(35)

29 LAMPIRAN B PERTANYAAN MODUL

1. Apa itu Cahaya ?

Jawab : Cahaya adalah radiasi elektromagnetik yang dilihat oleh mata manusia dengan Panjang gelombang yang berkisaran antara 380 hingga 750 nm. Cahaya itu terdiri dari berbagai warna yang membentuk spektrum tampak, dan juga mencakup sinar ultraviolet (uv) dibawag 380 nm dan inframerah (IR) diatas 750 nm.

2. Apa itu spectrometer uv-vis?

Jawab : Spectrometer uv-vis adalah alat yang digunakan untuk mengukur intensitas Cahaya dalam dua rentang Panjang gelombang, yaitu ultraviolet (190-400 nm) dan Cahaya tampak (400-800 nm). Alat ini berfungsi untuk menganalisis senyawa kimia dengan mengukur seberapa banyak Cahaya yang diserap oleh sampel.

3. Apa itu spektrofotometri uv-vis ?

Jawab : spektrofotometri uv-vis adalah Teknik analisis yang memanfaatkan transmitansi suatu larutan. Metode ini sering digunakan untuk menentukan konsentrasi senyawa kimia berdasarkan hukum lambert-beer, yang menyatakan bahwa absorbansi sebanding dengan kosentrasi larutan.

4. Bagaimana cara kerja spektrofotometri uv-vis?

Jawab : cara kerja spektrofotometri uv-vis melibatkan beberapa Langkah : 1) sumber Cahaya : Cahaya dari sumber (lampu deuterium untuk uv dan lampu

tungsten untuk tampak) dipanaskan ke sampel.

2) penyerapan Cahaya : Sebagian Cahaya diserap oleh molekul dalam larutan, yang menyebabkan transisi electron ke Tingkat energi lebih tinggi.

(36)

30

3) pengukuran : intensitas Cahaya yang tersisa diukur oleh detector dan data itu diolah untuk menghasilkan spektrum absorbansi atau transmitansi

5. Apa fungsi kuvet dalam praktikum spektrofotometri ?

Jawab : kuvet berfungsi sebagai wadah untuk menampung larutan yang akan di analisis, yang terbuat dari bahan transparan seperti kaca atau kuarsa yang memungkinkan Cahaya melewati tanpa banyak hambatan. Penggunaan kuvet penting untuk memastikan bahwa pengukuran

(37)

31 LAMPIRAN C

DOKUMENTASI & BUKTI SITASI

Gambar C.1 Proses Preaparasi Larutan

Gambar C.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Gambar C.3 Preparasi Semua Larutan

(38)

32

Gambar C.4 (Eka, 2017)

Gambar C.5 (Abriyani, 2022)

Gambar C.6 (Handoyono, 2020)

(39)

33 LAMPIRAN D RANGKUMAN MSDS Barium Klorida

Informasi Bahan Nama : Barium Chloride Dihydrate

CAS-NO : 10326-27-9 Merk : SMART-LAB

Berat Molekul : 244.27 g/mol

Sifat Fisik Bentuk : Padat

Warna : Putih Bau : Tak Berbau

Sifat Kimia Titik Didih : - Densitas : 3.86 g/cm3

Rumus Kimia : BaCl2.2H2O Penanggulangan yang Dilakukan Jika

Terkena Tubuh

Mata : Dibilas dengan air yang banyak Kulit : Dibilas dengan air

Penanggulanga yang Dilakukan Jika Tertelan atau Terhirup

Terhirup : Hirup udara segar Tertelan : Minum air yang banyak Penjelasan Tentang Warna dan Level Pada

Bahan

Health Hazard : 2 Reactivity : 0 Explosive :- Flammable :0 Toxic : √

Corrosive :- Irritant : √ Oxidizng :-

(40)

34 Akuadest

Informasi Bahan Nama : Aquadest CAS-NO : 1132-18-5

Merk : SMART-LAB Berat Molekul : 18,02 g/mol

Sifat Fisik Bentuk : Cair

Warna : Tak Berwarna Bau : Tak Berbau

Sifat Kimia Titik didih : 100℃ Densitas : 1 g/cm3 Rumus Kimia : H2O

pH : netral pada suhu 25℃

Penanggulangan yang Dilakukan Jika Terkena Tubuh

Tidak ada penanganan khusus untuk bahan ini

Penganggulangan yang Dilakukan Jika Terhirup dan Tertelan

Tidak ada penangangan khusus untuk bahan ini

Penjelasan Tentang Warna dan Level Pada Bahan

Health Hazard : 0 Reactivity : 0 Explosive :- Flammable 0 Toxic : - Corrosive :- Irritant : - Oxidizng :-

(41)

35 Asam Klorida

Informasi Bahan Nama : Asam Klorida CAS-NO : 7647-

Merk : SMART-LAB Berat Molekul : 36.46 g/mol

Sifat Fisik Bentuk : Padat

Warna : Tak Berwarna Bau: Tak Berbau

Sifat Kimia Titik Didih : 50.5℃

Densitas : 1 g/cm3 Rumus Kimia : HCl Penanggulangan

yang Terkena Tubuh

Dilakukan Jika Mata : Dicuici dengan air mengalir Tangan : Dicuci dengan air mengalir

Penanggulanga yang

Tertelan atau Terhirup

Dilakukan Jika Terhirup : Segera hirup udara segar Tertelan : Minum air yang banyak

Penjelasan Tentang Warna dan Level Pada Bahan

Health Hazard : 1 Reactivity : 0 Explosive:-

Flammable:0 Toxic : √ Corrosive: √ Irritant : √ Oxidizng :-

(42)

36 Kalium Sulfat

Informasi Bahan Nama : Potassium Sulphate CAS-NO : 231-915-5 Merk : SMART-LAB Berat Molekul : 174.26 g/mol

Sifat Fisik Bentuk : Padat

Warna : Tak Berwarna Bau : Tak Berbau

Sifat Kimia Titik Didih : 1689℃ Densitas : 2.66

g/cm3

Rumus Kimia : K2SO4 Penanggulangan yang Dilakukan Jika

Terkena Tubuh

Kulit : Dicuici dengan air mengalir

Penanggulanga yang Dilakukan Jika Tertelan atau Terhirup

Terhirup : Segera hirup udara segar Tertelan : Beri korban air putih Penjelasan Tentang Warna dan Level

Pada Bahan

Health Hazard : 1 Reactivity : 0 Explosive :- Flammable :0 Toxic : √ Corrosive : - Irritant : - Oxidizng :-

(43)

37 LAMPIRAN E RISK ASSESSMENT

(44)

38

(45)

39

(46)

40

(47)

41

(48)

42

(49)

43

(50)

44

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian screening panjang gelombang serapan maksimum siprofloksasin dengan menggunakan spektrofotometer UV- Vis ini bersifat kualitatif yaitu dengan cara

Hal ini sangat penting dilakukan dalam analisis secara spektrofotometri UV-Vis karena pada panjang gelombang maksimum dihasilkan absorbansi tertinggi

dilakukan dalam analisis secara spektrofotometri UV-Vis karena pada panjang gelombang maksimum dihasilkan absorbansi tertinggi yang menunjukkan kepekaan

Percobaan ini bertujuan mengetahui panjang gelombang maksimum untuk larutan KMnO 4 0.001 M dan K 2 Cr 2 O 4 0.001 M dengan menggunakan spektronik 20D+ dan spektrofotometer

Percobaan ini bertujuan mengetahui panjang gelombang maksimum untuk larutan KMnO 4 0.001 M dan K 2 Cr 2 O 4 0.001 M dengan menggunakan spektronik 20D+ dan spektrofotometer

Percobaan ini bertujuan mengetahui panjang gelombang maksimum untuk larutan KMnO 4 0.001 M dan K 2 Cr 2 O 4 0.001 M dengan menggunakan spektronik 20D+ dan spektrofotometer

koloid nanopartikel emas hasil sintesis dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan mengukur panjang gelombang maksimum dari nanopartikel emas kemudian

Berdasarkan pengukuran absorbansi yang telah dilakukan menggunakan Spektrofotometer UV- Visible, didapatkan panjang gelombang maksimum yaitu 550 nm dengan hasil persentase stabilitas