• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batang Kelapa Sawit (BKS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Batang Kelapa Sawit (BKS)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Batang Kelapa Sawit (BKS)

Menurut sistem klasifikasi yang ada kelapa sawit termasuk dalam

Kingdom plantae, Divisi Spermatophyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas

Monocotyledoneae, Family Arecaceae, Subfamili Cocoideae, Genus Elaeis dan

Spesies E. guineensis Jacq (Tomlinson, 1961). Kelapa sawit diusahakan secara

komersil di Afrika, Amerika Selatan, Asia Tenggara, Pasifik Selatan serta

beberapa daerah lain dengan skala yang lebih kecil. Tanaman kelapa sawit berasal

dari Afrika dan Amerika Selatan, tepatnya adalah Brazil (Lubis, 1992).

Perkebunan kelapa sawit telah berkembang pesat di Indonesia.

Berdasarkan penelitian Febrianto dan Bakar (2004) pada umur peremajaan tinggi

batang sawit dapat mencapai 12 m, sehingga bila 1,5 m batang dari pangkal dan 1

m batang dari ujung dikeluarkan, maka dari setiap batang dihasilkan 9,5 m log

sawit dengan diameter rata-rata 40 cm. Dengan demikian dari setiap batang

peremajaan akan dihasilkan sebanyak 1,193 m3 log sawit. Bila dalam 1 ha ada 140

batang, maka dari setiap ha peremajaan akan menghasilkan 167 m3 log sawit.

Satu hektar kebun kelapa sawit yang diremajakan dapat menghasilkan

sekitar 70 ton BKS (berat kering) dengan asumsi hanya 30 % dari batang tersebut

yang dapat diolah menjadi papan partikel. Rata-rata luas kebun kelapa sawit yang

diremajakan sekitar 15.000 ha/tahunnya. Jika dalam 1 ha kebun kelapa sawit yang

diremajakan dapat diproduksi sekitar 35 m3 papan partikel dengan kerapatan 0,6

gr/cm3, maka prospek industri papan partikel dari limbah BKS sangat menjanjikan

(2)

Bahan baku pembuatan papan partikel dihasilkan dari BKS tua umur

peremajaan yaitu setelah umur 25 tahun. Struktur BKS mempunyai sifat yang

berbeda antara bagian pangkal batang dan bagian ujung, bagian tengah batang, inti

dan bagian tepinya. Sifat-sifat dasar dari BKS yaitu kadar airnya sangat bervariasi

pada berbagai posisinya dalam batang. Kadar air batang dapat mencapai 100-500

%. Sifat lain adalah berat jenis yang juga berbeda pada setiap bagian batang.

Secara rata-rata berat jenis BKS termasuk kelas kuat IV pada bagian tepi dan

kelas kuat V pada bagian tengah dan pusat batang (Bakar, 2003). Sifat-sifat itu

dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat-sifat dasar BKS

Sifat-Sifat Penting Bagian Dalam Batang

Tepi Tengah Pusat

Salah satu sifat BKS adalah higroskopis sehingga akan menyusut dengan

turunnya kadar air dan mengembang dengan naiknya kadar air. Susut volume

BKS semakin besar pada bagian tepi ke pusat batang dan dari bagian pangkal ke

ujung batang. Volume penyusutan dapat mencapai 70% pada pusat batang

(Febrianto dan Bakar, 2004).

Sifat kimia dari BKS yaitu air, lignin dan selulosa menurun dari bagian

tepi batang ke bagian pusat dengan laju penurunan yang berbeda, sebaliknya

kadar pati meningkat dari bagian tepi ke pusat batang (Rahayu, 2001). Kandungan

(3)

proses perekatan. Dengan demikian, tidak direkomendasikan dalam pembuatan

papan sambung dan papan partikel. Hasil analisis kimia juga menunjukkan kadar

lignin dan kadar ekstraktif yang tinggi pada semua kedalaman batang (Bakar

dkk.., 1998).

Berdasarkan hasil penelitian Bakar dkk. (2000) bagian BKS yang

digunakan adalah 1/3 dari bagian terluar dan 3/4 bagian terbawah dari tinggi BKS.

Hal ini juga ditambahkan oleh Iswanto dkk. (2010) menyatakan BKS bagian tepi

cocok dipergunakan sebagai bahan konstruksi ringan dan mebel karena memiliki

sifat fisis dan mekanis yang lebih baik, sedangkan bagian tengah dan pusat

(dalam) dipergunakan sebagai bahan baku papan partikel atau produk papan

komposit lainnya.

Menurut Balfas (2003), secara umum terdapat beberapa hal yang kurang

menguntungkan dari BKS yaitu

1. Kandungan air pada batang segar sangat tinggi (dapat mencapai 500 %).

2. Kandungan patinya sangat tinggi (pada jaringan parenkim mencapai 45 %).

3. Keawetan alaminya rendah.

4. Kadar air keseimbangan relatif tinggi.

5. Pada proses pengeringan terjadi kerusakan parenkim yang disertai dengan

perubahan dan kerusakan fisik secara berlebihan.

6. Pada pengelolaan mekanik BKS lebih cepat menumpulkan pisau, gergai dan

ampelas.

7. Kualitas permukaan batang setelah pengelolaan relatif sangat rendah.

(4)

Papan Partikel

Papan partikel merupakan salah satu produk biokomposit yang dihasilkan

dari potongan kayu kecil (partikel) atau bahan berlignoselulosa lainnya, yang

diikat dengan menggunakan perekat dan dibantu oleh faktor suhu, tekanan dan

waktu kempa (Haygreen dan Bowyer, 1996). Bentuk partikel yang digunakan

dalam pembuatan partikel dapat mermacam-macam seperti bentuk serbuk,

serpihan (flake), hasil ketaman (shaving), potongan kecil (chips), untai (strand),

sliver dan wafer.

Menurut Japanese Industrial Standard (2003) papan partikel

diklasifikasikan berdasarkan variabel-variabel tertentu seperti: kondisi permukaan,

keteguhan lentur, jenis perekat yang digunakan, jumlah formaldehida yang

dilepaskan dan ketahanan bakar. FAO (1996) mengklasifikasikan papan partikel

berdasarkan kerapatannya menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Papan partikel berkerapatan rendah (Low Density Particleboard), yaitu papan

yang mempunyai kerapatan kurang dari 0,4 g/cm3.

2. Papan partikel berkerapatan sedang (Medium Density Particleboard), yaitu

papan yang mempunyai kerapatan kurang dari 0,4 – 0,8 g/cm3.

3. Papan partikel berkerapatan tinggi (High Density Particleboard), yaitu papan

yang mempunyai kerapatan lebih dari 0,8 g/cm3.

Berdasarkan tujuan penggunaannya menurut SNI 03-2105-1996 papan

partikel dikelompokkan ke dalam:

a. Papan partikel tipe I adalah papan partikel untuk penggunaan di luar ruangan

(5)

b. Papan partikel tipe II adalah papan partikel untuk penggunaan di dalam

ruangan yang tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif pendek.

Sifat papan partikel dipengaruhi oleh bahan baku pembentuknya, perekat

dan formulasi yang digunakan, serta proses pembuatan papan partikel tersebut

mulai dari persiapan bahan baku kayu, pembentukan partikel sampai proses

kempa dan penyelesaiannya. Penggunaan papan partikel yang tepat akan

berpengaruh terhadap lama dan pemanfaatan yang diperoleh dari papan partikel

yang digunakan. Sifat bahan baku berpengaruh terhadap sifat papan partikel

seperti jenis dan kerapatan kayu, bentuk dan ukuran bahan baku kayu yang

digunakan, kadar air kayu, ukuran dan geometri partikel kayu, tipe dan

penggunaan kulit kayu (Hadi, 1988).

Maloney (1993) menyatakan bahwa dibandingkan dengan kayu asalnya,

papan partikel mempunyai beberapa kelebihan diantaranya papan partikel bebas

mata kayu, ukuran dan kerapatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tebal

dan kerapatannya seragam serta mudah dikerjakan, mempunyai sifat isotropis,

kemudian sifat dan kualitasnya dapat diatur. Papan partikel juga mempunyai

beberapa kelemahan yaitu ketahanan yang rendah terhadap air yang menyebabkan

papan partikel mudah menyerap air dan dalam keadaan basah sifat-sifat yang

berhubungan dengan kekuatan menurun drastis.

Dalam proses pembuatan papan partikel, faktor yang mempengaruhi

adalah perekat, waktu kempa, suhu kempa dan tekanan kempa. Semakin tinggi

suhu kempa yang digunakan, maka pengembangan tebal dan daya serap air

semakin rendah, keteguhan lentur dan kekuatan tarik sejajar permukaan semakin

(6)

semakin baik, namun karena pertimbangan biaya produksi, biasanya kadar perekat

yang digunakan untuk produk papan partikel tidak lebih dari 12 % (Massijaya,

1997).

Perekat Urea Formaldehida (UF)

Perekat adalah suatu zat atau substansi untuk mempersatukan bahan

sejenis atau tidak sejenis melalui ikatan permukaannya. Berdasarkan cara

mengerasnya perekat dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu perekat

thermoplastic dan perekat thermosetting. Perekat thermosetting lebih disukai

dalam pembuatan papan partikel karena perekat jenis ini akan mengeras secara

permanen, sedangkan perekat thermoplastic adalah perekat yang mengeras dalam

kondisi dingin dan akan melunak jika dipanaskan (Bahtiar, 2008). Menurut

Sutigno (1994) perekat UF merupakan hasil dari reaksi antara urea dengan

formaldehida yang dijual dalam bentuk cair, berwarna jernih sampai putih dan

termasuk perekat interior.

Perekat UF mempunyai sifat-sifat yaitu berwarna putih pada kemasan dan

berwarna transparan jika sudah direkat sehingga tidak mempengaruhi warna

papan dengan kekentalan 30 centipoise. Harga UF lebih murah, tidak mudah

terbakar, mempunyai sifat panas yang baik, mudah adaptasi selama conditioning,

tahan terhadap air dingin dan tahan biodeteriorasi karena perekat ini tidak disukai

organisme perekat (Nurdiana, 2005).

Perekat UF termasuk tipe perekat tahan lembab dan setengah tahan cuaca.

Umumnya perekat urea banyak digunakan dalam industri kayu lapis. Hal ini

(7)

perekat fenol dan melamin (Ruhendi, 1988). Kelemahan perekat urea

formaldehida yaitu hanya dapat digunakan untuk kebutuhan interior, dimana tidak

dituntut daya tahan yang tinggi terhadap air dan kelembaban (Maloney, 1977).

Hal tersebut disebabkan mudahnya UF mengalami kerusakan ikatan hydrogen

karena pengaruh kelembaban dan asam khususnya pada suhu sedang dan suhu

tinggi. Dalam air dingin laju kerusakan struktur resin sangat lambat tapi pada suhu

di atas 40oC kerusakan dipercepat dan di atas 60oC prosesnya sangat cepat.

Perekat UF mempunyai viskositas (25oC) sebesar 1,0-3,0 Cps, resin solid

content 40-60 %, formaldehida bebas sebesar 1,5 %, pH 7-7,6, berat jenis (25oC)

sebesar 1,185-1,195, waktu menjadi kental (35oC) sebesar 30-120 menit, bahan

yang tidak menguap sebesar 40-51%, dan waktu simpanan (30oC) sebesar > 20

jam (Kliwon dan Iskandar, 2010). Menurut Maloney (1993), kebutuhan resin

perekat UF untuk pembuatan papan partikel berkisar antara 6-10 % berdasarkan

berat kering tanur partikel sedangkan menurut Rowell dkk. (1997), kadar resin

yang umum digunakan berkisar antara 4-15 % tetapi kebanyakan berkisar antara

6-9 %.

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), UF mempunyai pengerasan yang

singkat dalam kempa panas, warna putih, harga lebih murah, dalam pembuatan

ditambahkan 6-10 % dari berat kering oven partikel, semakin banyak perekat

ditambahkan semakin baik kualitas papan tetapi untuk efisiensi biaya perekat

harus seminimal mungkin dengan kualitas papan tinggi. Peningkatan kadar resin

dapat meningkatkan keteguhan patah dan keteguhan rekat serta menurunkan

ekspansi linier, daya absorbsi air, dan pengembangan tebal papan partikel

(8)

Pengempaan

Pengempaan bertujuan untuk membantu proses pengaliran perekat

membentuk lapisan tipis, membantu proses pemindahan perekat agar dapat

berpindah dari satu permukaan ke permukaan lain, membantu proses penembusan

perekat ke rongga sel kayu (Sutigno, 1988). Pengempaan produk perekatan

bertujuan untuk menempelkan perekat lebih rapat sehingga garis perekat dapat

terbentuk serata mungkin dengan ketebalan yang setipis mungkin. Pengempaan di

dalam proses perekatan dibagi ke dalam dua tipe yaitu pengempaan dingin

(repressing atau cold pressing) dan pengempaan panas (hot pressing) yang

dijalankan dengan suhu dan tekanan tertentu.

Perekatan partikel terjadi pada saat proses pengempaan dan dipengaruhi

oleh suhu, waktu dan tekanan pengempaan. Suhu pengempaan yang rendah perlu

diimbangi dengan waktu yang lama. Suhu yang terlalu rendah ataupun terlalu

tinggi akan mengurangi keteguhan rekatnya. Masa kempa perlu disesuaikan

dengan perekat yang digunakan serta suhu pada proses pengempaan. Tekanan

saat pengempaan biasanya berkisar 5-25 kg/cm2 (Sutigno, 1988). Suhu pada saat

proses kempa berkisar antara 130-150oC dan besarnya tekanan antara 15-35

kg/cm2 (FAO, 1997).

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pencapaian keberhasilan

proses perekatan adalah waktu pengempaan. Waktu kempa tergantung dari

beberapa faktor antara lain tipe atau jenis perekat yang dipergunakan. Prinsip

yang dipakai untuk menentukan lama waktu pengempaan adalah perilaku jenis

(9)

kempa juga dipengaruhi oleh ketebalan bahan yang direkat dan komposisi adonan

atau larutan perekat (Ruhendi dkk., 2007).

Suhu pengempaan berhubungan dengan waktu pengempaan. Suhu yang

tinggi diperlukan untuk mematangkan perekat dengan cepat tetapi kurang

ekonomis karena diperlukan biaya yang tinggi untuk membawa suhu kempa ke

suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar. Suhu yang rendah dipakai untuk

mematangkan perekat tetapi diperlukan waktu yang lebih lama. Hubungan antara

biaya dan waktu pengempaan berarti membentuk kombinasi keduanya yang

selanjutnya akan menentukan kapasitas pabrik berjalan untuk memproduksi

produk perekatan (Ruhendi dkk., 2007).

Rayap Tanah

Rayap merupakan serangga kecil berwarna putih pemakan selulosa yang

sangat berbahaya bagi bangunan yang dibangun dengan bahan-bahan yang

mengandung selulosa seperti kayu dan produk turunan kayu (papan partikel,

papan serat, plywood, blockboard dan laminated board) (Iswanto, 2005). Rayap

tanah termasuk dalam kelas Insecta, ordo Isoptera, family Rhinotermitidae dan

Termitidae (Tambunan dan Nandika, 1989). Rayap tanah adalah jenis rayap

penyerang kayu dan untuk hidupnya selalu membutuhkan kelembaban yang tinggi

dan bersifat menjauhi cahaya.

Rayap merupakan serangga sosial dan terdapat pembagian kerja di antara

kastanya. Hampir setiap jenis rayap mempunyai kasta reproduktif, kasta prajurit

(10)

sarang, mengumpulkan makanan dan memberi makan kasta reproduktif dan

prajuritnya (Sigit dan Hadi 2006).

Menurut Nandika dkk. (2003), rayap tanah memiliki ciri-ciri sebagai

berikut: kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan pronotum kuning pucat;

antena terdiri dari 15 segmen, segmen kedua dan keempat sama panjangnya,

mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung diujungnya, batas antar sebelah

dalam dari mandibel sama sekali rata; panjang kepala dengan mandibel 2,46-2,66

mm, panjang kepala tanpa mandibel 1,56-1,68 mm, lebar kepala 1,40-1,44 mm

dan panjang badan 5,5-6,0 mm. Selain itu, bagian abdomen ditutupi dengan

rambut yang menyerupai duri dan abdomen berwarna putih kekuningan.

Dalam hidupnya rayap mempunyai beberapa sifat yang penting untuk

diperhatikan yaitu:

1. Sifat trophalaxis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta

mengadakan perukaran bahan makanan.

2. Sifat cryptobiotic, yaitu sifat rayap untuk menjauhi cahaya. Sifat ini tidak

berlaku pada rayap yang bersayap (calon kasta reproduktif) dimana mereka

selama periode yang pendek di dalam hidupnya memerlukan cahaya (terang).

3. Sifat kanibalisme, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang

lemah dan sakit.

4. Sifat necrophagy, yaitu sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.

Untuk dapat mengetahui tingkat keawetan suatu jenis kayu dilakukan

pengujian dalam kondisi pemakaian sebenarnya. Cara yang dapat dilakukan untuk

menguji keawetan ini adalah dengan uji kubur (grave yard test), dimana dalam uji

(11)

hari. Lalu ditimbang beratnya pada kering tanur. Makin kecil tingkat penurunan

beratnya umumnya keawetannya makin tinggi.

Menurut Karlinasari dkk.. (2009) uji kubur diperoleh dua keuntungan

yaitu selain kayu dapat diuji dalam kondisi pemakaian, sekaligus diketahui tingkat

keawetan suatu jenis kayu. Pada pengujian ini jumlah rayap yang menyerang

contoh uji tidak dapat diketahui, sehingga untuk menilai kerusakannya dapat

dilakukan penilaian secara kualitatif. Kelemahan dari uji kubur ini adalah waktu

pengujian yang relatif lama, perlu perawatan kondisi lapangan dan sulit untuk

Gambar

Tabel 1. Sifat-sifat dasar BKS

Referensi

Dokumen terkait

Terhadap Sifat Fisis Dan Mekanis Papan Partikel Dari Limbah Batang Kelapa Sawit Dengan Perekat Phenol Formaldehida. Skripsi,

Maka papan partikel yang direkomendasikan yakni ukuran partikel 35 mesh dengan kadar perekat 10% karena nilai rata-rata daya serap air dan pengembangan tebal lebih rendah

Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa perbandingan variasi komposisi yang digunakan mempengaruhi nilai sifat fisis dan mekanis papan partikel terutama nilai kadar

Pada dasarnya sifat papan partikel dipengaruhi oleh bahan baku kayu pembentuknya, jenis perekat, dan formulasi yang digunakan serta proses pembuatan papan partikel

Pada Gambar 6 terlihat bahwa semakin banyaknya partikel BKS maka pengembangan tebal papan partikel akan semakin meningkat, terutama pada kadar perekat 12%, selain

Maka papan partikel yang direkomendasikan yakni ukuran partikel 35 mesh dengan kadar perekat 10% karena nilai rata-rata daya serap air dan pengembangan tebal lebih rendah

Papan partikel yang terbuat dari batang kelapa sawit sangat rentan terhadap serangan rayap tanah pada semua perlakuan. Berdasarkan tingkat serangan rayap semua

papan partikel antara lain jenis kayu, tipe bahan baku, tipe partikel, perekat,. jumlah dan distribusi lapisan, aditif (parafin untuk menghasilkan