RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP 5)
Nama Sekolah : SMK N 2 Depok Mata Pelajaran : Sejarah Wajib Kelas / Semester : X / 1
Materi Pokok : Strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20 Sub Materi Pokok : Mengevaluasi Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang
(abad ke-16 sampai abad ke-18) Alokasi Waktu : 2 x 45Menit
A. Tujuan Pembelajaran :
Setelah mengikuti proses pembelajaran peserta didik dapat:
1. Menjelaskan perkembangan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore 2. Menganalisis strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
terhadap bangsa Eropa (Portugis dan Belanda)
3. Mempresentasikan laporan hasil diskusi kelompok di depan kelas mengenai strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa
(Portugis dan Belanda)
4. Membuat laporan hasil diskusi tentang strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadapterhadap bangsa Eropa (Portugis dan Belanda) dalam bentuk cerita sejarah
5. Membuat peta konsep tentang silsilah raja-raja dari kerjaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Indikator
3.2 Menganalisis strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20
4.2 Mengolah informasi tentang strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) sampai dengan abad ke-20 dan menyajikannya dalam bentuk cerita sejarah
3.8.1 Menjelaskan perkembangan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
Menganalisis strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa
(Portugis dan Belanda)
4.2.1 Mempresentasikan laporan hasil diskusi kelompok di depan kelas mengenai strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa(Portugis dan Belanda)
4.2.3 Membuat peta konsep tentang silsilah raja-raja dari kerjaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
C. Materi Pembelajaran:
Mengevaluasi Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang (abad ke-16 sampai abad ke-18)
Fakta Wilayah, Istana Kerajaan, Surat
Konsep Konflik, Peperangan, Monopoli
Prinsip
-Prosedural
-Nilai Melawan Penjajahan
D. Metode Pembelajaran:
1. Pendekatan Pembelajaran : Scientifik Learning 2. Model Pembelajaran : Mind Mapping
3. Metode pembelajaran : Diskusi, Tanya Jawab, Presentasi
E. Media dan Alat Pembelajaran Media:
1. Video 2. LKPD
3. Buku yang relevan 4. Power Point
Alat:
1. Laptop 2. LCD projector
F. Sumber Belajar
Buku siswa hal 64-74
G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-1
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
waktu
Pendahuluan Menyapa siswa….
Guru membuka kelas dengan mengajak peserta didik untuk
berdoa sebelum pelajaran dimulai.
Guru menyapa siswa dan menanyakan kondisi siswa
(menanyakan apa kabar, ada yang sakit atau tidak, sekarang hari apa tanggal berapa dsb)
Guru memberi motivasi dan menyanyikan lagu Nasional
atau menayangkan video lucu atau video senam pendek untuk diparktekkan oleh siswa sebelum kegiatan belajar dimulai.
Guru melakukan presensi.
Guru mereview pelajaran sebelumnya
Guru Memberi orientasi pelajaraan yang akan dilaksanakan
Guru membagi para peserta didik kedalam kelompok yang
berjumlah 4 kelompok beserta LKPD dan lembar jawaban.
Guru menyampaikan tujuan dan manfaat yang akan dicapai
dan dipelajari.
Guru menyampaikan tema/sub tema dan skenario kegiatan
yang akan dilakukan hari ini. Kegiatan Inti Model: Mind Mapping
A. Mengamati
Guru membagi para peserta didik kedalam kelompok
yang berjumlah 4 kelompok beserta LKPD dan lembar jawaban
Guru memutarkan video tentang strategi perlawanan
kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)
Peserta Didik mengamati video yang ditayangkan oleh
guru.
B. Menanya
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
bertanya terkait video yang ditayangkan oleh guru
Peserta Didik menanyakan kepada guru tentang video
yang ditayangkan oleh guru
Jika peserta didik tidak ada yang bertanya, maka guru
akan memberi rangsangan kepada peserta didik agar mau bertanya
Jika tidak ada yang bertanya setelah diberi rangsangan
maka gur yang akan bertanya kepada peserta didik
C. Mengumpulkan Informasi
Peserta Didik mengumpulkan informasi dari video
yang telah ditayangkan serta membaca buku teks siswa yang berkaitan dengan materi dan mencari sumber-sumber yang relevan melalui media internet, serta mecari sumber buku yang relevan di Perpustakaan
D. Mengasosiasi
Peserta didik mengidentifikasi permasalah yang
diberikan oleh guru lewat LKPD melalui kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 orang (satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok). Kemudian guru meminta peserta didik untuk mengerjakan LKPD dengan materi sebagai berikut:
Kelompok I bertugas mendiskusikan dan
menganalisis materi tentang strategi perlawanan kerajaan Aceh terhadap bangsa (Portugis dan Belanda)
Kelompok II bertugas mendiskusikan dan
menganalisis materi tentang strategi perlawanan kerajaan Mataram terhadap bangsa Eropa
(Portugis dan Belanda)
Kelompok III bertugas mendiskusikan dan
menganalisis materi tentang tentang strategi perlawanan kerajaan Ternate terhadap bangsa Eropa (Portugis dan Belanda)
Kelompok IV bertugas mendiskusikan dan
menganalisis materi tentang strategi perlawanan kerajaan Tidore terhadap bangsa Eropa (Portugis) Peserta didik melalukan asosiasi dan pengolahan data
E. Mengkomunikasikan (melaporkan hasil diskusi) Peserta didik (Kelompok) mempresentasikan dan
menjelaskan hasil diskusi kelompok pada siswa yang lain, serta siswa yang lain diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, saran atau masukan dan sanggahan.
Guru mengawasi jalannya diskusi.
Guru memberi evaluasi serta mengkonfirmasi hasil
analisis diskusi.
Penutup Guru melakukan evaluasi dengan memberi pertanyaan
secara lisan kepada para peserta didik secara acak
Peserta didik menjawab pertanyaan dari guru
Guru bersama peserta didik melakukan refleksi materi
pembelajaran yang telah dilakukan.
Guru memfasilitasi peserta didik untuk menggali dan
menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaran hari ini untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Guru menanyakan manfaat pelajaran hari ini kepada
siswa.
Siswa mengumpulkan hasil kerja.
Guru memberi tugas pekerjaan
Guru memberi tahu materi pelajaran selanjutnya.
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dilanjutkan
menutup pelajaran.
10 menit
F. Penilaian Hasil Belajar
a. Jenis dan Teknik Penilaian:
1) Jenis nilai aspek Sikap dengan Teknik Pengamatan/observasi. 2) Jenis nilai aspek pengetahuan dengan Teknik Tes Tulisan. 3) Jenis nilai ketrampilan dengan Teknik Portofolio
b. Bentuk Instrumen 1) Penilaian Sikap
a) Bentuk : Pengamatan sikap b) Instrumen : Jurnal Penilaian sikap
2) Penilaian Pengetahuan
a) Bentuk : Tes Tertulis b) Instrumen : LKPD Uraian
b)Instrumen : Portofolio
Yogyakarata , Mei 2017
Guru Mata Pelajaran
ALFAJRI, S.Pd
Materi
1. Aceh Versus Portugis
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, justru membawa hikmah bagi Aceh. Banyak para pedagang Islam yang menyingkir dari Malaka menuju ke Aceh. Dengan demikian perdagangan di Aceh semakin ramai. Hal ini telah mendorong Aceh berkembang menjadi bandar dan pusat perdagangan. Perkembangan Aceh yang begitu pesat ini dipandang oleh Portugis sebagai ancaman, oleh karena itu, Portugis berkehendak untuk menghancurkan Aceh. Pada tahun 1523 Portugis melancarkan serangan ke Aceh di bawah pimpinan Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpin oleh de Sauza. Beberapa serangan Portugis ini mengalami kegagalan. Portugis terus mencari cara untuk melemahkan posisi Aceh sebagai pusat perdagangan. Kapal-kapal Portugis selalu mengganggu kapal-kapal dagang Aceh di manapun berada. Misalnya, pada saat kapal-kapal dagang Aceh sedang berlayar di Laut Merah pada tahun 1524/1525 diburu oleh
kapal-kapal Portugis untuk ditangkap. Sudah barang tentu tindakan Portugis telah merampas kedaulatan Aceh yang ingin bebas dan berdaulat berdagang dengan siapa saja, mengadakan hubungan dengan bangsa manapun atas dasar persamaan. Oleh karena itu, tindakan kapal-kapal Potugis telah mendorong munculnya perlawanan rakyat Aceh. Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah antara lain:
1. Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan, meriam dan prajurit
2. Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada tahun 1567.
3. Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.
Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di Formosa/ Benteng. Portugis harus mengerahkan semua kekuatannya sehingga serangan Aceh ini dapat digagalkan. Sebagai tindakan balasan pada tahun 1569 Portugis balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini juga dapat digagalkan oleh pasukan Aceh.
2. Maluku Angkat Senjata
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama berselang orang-orang Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan kedudukannya di Tidore. Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak. Persaingan itu semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan Ternate dan Spanyol bersahabat dengan Tidore.
Sementara itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol dilaksanakan perjanjian damai, yakni Perjanjian Saragosa pada tahun 1534. Dengan adanya Perjanjian Saragosa kedudukan Portugis di Maluku semakin kuat. Portugis semakin berkuasa untuk memaksakan kehendaknya melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Kedudukan Portugis juga semakin mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Pada tahun 1565 muncul perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Khaerun/Hairun.
3. Sultan Agung Versus J.P. Coen
Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung antara lain: (1) mempersatukan seluruh tanah Jawa, dan (2) mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara. Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia, yakni:
1. tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka,
3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
4. keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.
Lampiran 2
PENILAIAN PENGETAHUAN
Kisi-kisi Soal
Mata Pelajaran : Sejarah(Peminatan) Kelas/ Semester : X/1
Bentuk Soal : Uraian Jumlah Soal : 5 butir
Tujuan Pembelajaran Indikator No. Soal
Peserta didik mampu:
1. Menjelaskan perkembangan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
2. Menganalisis strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa
(Portugis dan Belanda)
3. Membuat peta konsep tentang silsilah raja-raja dari kerjaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore
1. Jelaskanlah perkembangan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore! 2. Analisislah strategi perlawanan
kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa
(Portugis dan Belanda)!
3. Buatlah peta konsep tentang silsilah raja-raja dari kerjaan Aceh,
Mataram, Ternate dan Tidore!
1
2
3
SOAL
1. Jelaskanlah perkembangan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore!
2. Analisislah strategi perlawanan kerajaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)!
3. Buatlah peta konsep tentang silsilah raja-raja dari kerjaan Aceh, Mataram, Ternate dan Tidore!
Kunci Jawaban:
1.
a. Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh yang terletak di ujung barat pulau Sumatera pernah diperintah oleh raja-raja berikut ini:
1. Sultan Ali Mughayat Syah
Ali Mughayat Syah adalah raja pertama kerajaan Aceh. Ia memerintah dari tahun 1514-1528 M. dibawah kekuasaannya Kerajaan Aceh melakukan perluasan ke beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatera Utara, seperti di daerah Daya dan Pasai. Bahkan ia mengadakan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka serta menyerang kerajaan Aru.
2. Sultan Salahudin
berkuasa, Sultan Salahudin kurang memperhatikan kerajaannya. Akibatnya, kerajaaan mulai goyah dan mengalami kemunduran oleh sebab itu pada tahun 1537 M sultan Salahudin digantikan saudaranya yang bernama Sultan Alaudin Riayat Syah.
3. Sultan Alaudin Riayat Syah
Sultan Alaudin Riayat Syah memerintah Aceh sejak tahun 1537-1568 M. dibawah pemerintahannya Aceh berkembang menjadi Bandar utama di Asia bagi pedagang Muslim mancanegara. Sejak Malaka direbut Portugis, mereka menghindari selat Malaka dan beralih menyusuri pesisir Barat Sumatera, ke selat Sunda, lalu terus ke timur Indonesia atau langsung ke Cina. Kedudukan strategis Aceh menjadikan sevagai Bandar transit lada dari Sumatera dan rempah-rempah dari Maluku. Kedudukan itu bukan tanpa hambatan. Aceh harus menghadapi rongrongan Portugis. Guna memenangkan persaingan, Aceh membangun angkatan laut yang kuat. Kerajaan itupun membina hubungan diplomatic dengan turki ottoman yang dianggap memegang kedaulatan Islam tertinggi waktu itu.
4. Sultan Iskandar Muda
Pemerintahan Sultan Iskandar Muda menandai puncak kejayaan kerajaan Aceh. Ia naik tahta pada awal abad ke-17 menggantikan Sultan Alaudin Riayat Syah. Untuk memperkuat kedudukan Aceh sebagai pusat perdagangan Ia memelopori sejumlah tindakan sebagai berikut. Sultan Iskandar Muda merebut sejumlah pelabuhan penting di pesisir barat dan timur Sumatera, serta pesisir barat semenanjung melayu. Misalnya Aceh sempat menaklukan Johor dan Paahang Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan kapal-kapalnya yang melalui selat Malaka. Aceh sempat memenangkan perang melawan armada Portugis di sekitar pulau Bintan pada tahun 1614. Sultan Iskandar Muda bekerjasama dengan Inggris dan Belanda untuk memperlemah pengaruh Portugis. Iskandar Muda mengizinkan persekutuan dagang kedua di negara itu untuk membuka kantornya di Aceh.
5.Sultan Iskandar Thani
Berbeda dengan pendahulunya, Sultan Iskandar Thani lebih memperhatikan pembangunan dalam negeri dari pada politik ekspansi. Oleh sebab itu, meskipun hanya memerintah selama 4 tahun, Aceh mengalami suasana damai. Hukum yang berdasarkan syariat Islam ditegakkan, bukannya kekuasaan yang sewenang-wenang. Hubungan dengan wilayah taklukkan dijalan dengan suasana liberal, bukan tekanan politik atau militer. Masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani juga ditandai oleh perhatian terhadap studi agama Islam. Berkembangnya studi Agama Islam turut didukung oleh Nuruddin Arraniri, seorang ulama besar dari Gujarat yang menulis buku sejarah Aceh yang berjudul Bustanu’s Salatin. Sepeninggalan Iskandar Thani, Aceh mengalami kemunduran. Aceh tidak mampu berbuat banyak saat sejumlah wilayah taklukan melepaskan diri. Kerajaan itupun tidak mampu lagi berperan sebagai pusat perdagangan. Meskipun demikian, kerajaan Aceh tetap berlanjut sampai memasuki abad ke-20.
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat Kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram yaitu : Penembahan Senopati (1584-1601), Panembahan Seda Krapyak (1601-1677). Dalam sejarah Islam,Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islam di Nusantara (Indonesia). Hal ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama, hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di Jawa. Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan.
Selanjutnya, oleh ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan. Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya. Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya. Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun memburuk.Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan.
Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.
c. Kerajaan Ternate
Awal PerkembanganKerajaan Ternate Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.
A. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan
pemerintahan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate mengalami puncak kejayaannya. Wilayah kerajaan Ternate meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas.
B. Aspek Kehidupan Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan
Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun laut yang cukup kuat. Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Ternate dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam . Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Hairun dari Ternate dengan De Mesquita dari Portugis melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah dibawah kitab suci Al-Qur’an. Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari kerajaan Ternate adalah keahlian masyarakatnya membuat kapal, seperti kapal kora-kora.
C. Kemunduran Kerajaan Ternate
Kemunduran Kerajaan Ternate disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa asing ( Portugis dan Spanyol ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
d. Kerjaan Tidore
Kerajaan Ternate Tidore atau Kesultanan Tidore adalah kerajaan Islam yang berada di wilayah Kota Tidore atau sekarang adalah Maluku Utara, Indonesia. Berdiri pada 1081 hingga pada 1950.
Kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, Raja Ampat, dan sebagian pulau lainnya di wilayah pesisir Papua barat. Menurut silsilah raja-raja Tidore, Raja Tidore pertama adalah Muhammad Naqil yang naik tahta pada tahun 1081. Ketika pada akhir abad ke-14, agama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Tidore oleh Raja Tidore ke-11, Sultan Djamaluddin, yang bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.
pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah satu kerajaan paling merdeka di wilayah Maluku yang saati itu dipimpin oleh Sultan Saifuddin (memerintah 1657-1689).
Pada tahun 1521, Sultan Mansur pernah menjadikan Spanyol sebagai sekutu untuk mengimbangi kekuatan Kerajaan yang memiliki saingan yaitu dengan Portugal. Setelah Spanyol mundur dari wilayah tersebut pada tahun 1663.
Karena Kerajaan Tidore merupakan sebuah kesultanan Islam, maka dalam kehidupan sehari-harinya pun mereka banyak menerapkan hukum Islam. Yang salah satu contoh penerapanya adalah ketika saat Sulan Nuku melakukan sebuah perjanjian damai dengan De Mesquita dari Portugal, perjanjian dilakukan dengan nengangkat sumpah Al-Qur’an. Masyarakat Tidore terkenal dengan rempah-rempahnya. yang memang daerah maluku adalah salah satu daerah penghasil rempah-rempah.
Kemunduran Kesultanan Tidore disebabkan oleh adu domba dengan Kesultanan Terntate yang dilakukan oleh bangsa asing (Spanyol dan Portugis). Namun tak lama kedua kesultanan ini sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Spanyol dan Portugis dan akhirnya mereka bersatu dan berhasil mengusir Spanyol dan Portugis dari wilayah mereka. Akan tetapi kemenangan mereka tidak berlangsung begitu lama karena VOC telah menguasai Perdangangan rempah-rempah di maluku. Pada akhirnya Belanda berhasil menaklukan Kesultanan Ternate & Tidore dengan strategi ini.
2.
Dari semua perjuangan kerajaan yang melawan Portugis ada yang berhasil mengusir Portugis dan ada juga yang tidak berhasil. Hal itu dikarenajan karena factor strategi yang dgunakan oleh kerajaan nusantara berhasil diantisipasi oleh Portugis dan Portugis menggunakan senjata yang lebih modern. Selain itu untuk kerajaan Aceh telah mampu melakukan hubungan dengan Negara-negara penguasa dunia pada masa itu
Skor Penilaian Tes Tertulis
No. Soal Skor Maksimal
1 25
2 25
3 50
Jml Skor Maksimal 100
Indikator:
Peserta didik dikatakan tuntas jika mencapai nilai ≥ KKM(75) Peserta didik yang tidak mencapai KKM maka akan diberikan Remidi Peserta didik yang mencapai KKM maka akan diberikan Pengayaan
NA= Skor Perole h an
Jumla h Skor Maksimal×100 = Nilai Akhir
Keterangan:
Lampiran 3
Penilaian Keterampilan:
RUBRIK OBSERVASI
KEGIATAN DISKUSI KELOMPOK
Mata Pelajaran : Sejarah (Peminatan) Tahun Pelajaran : 2017/2018 Kelas / Semester : XI / 1 Waktu Pengamatan :
NO Nama Peserta Didik Menghargaipendapat 1-4
a. Keterampilan mengomunikasikan adalah kemampuan peserta didik untuk mengungkapkan atau menyampaikan ide atau gagasan dengan bahasa lisan yang efektif. b. Keterampilan mendengarkan dipahami sebagai kemampuan peserta didik untuk tidak
menyela, memotong, atau menginterupsi pembicaraan seseorang ketika sedang mengungkapkan gagasannya.
c. Kemampuan berargumentasi menunjukkan kemampuan peserta didik dalam mengemukakan argumentasi logis ketika ada pihak yang bertanya atau mempertanyakan gagasannya.
d. Kemampuan berkontribusi dimaksudkan sebagai kemampuan peserta didik memberikan gagasan-gagasan yang mendukung atau mengarah ke penarikan kesimpulan termasuk di dalamnya menghargai perbedaan pendapat.
e. Kriteria
Skor rentang antara 1 – 4 Rentang Nilai 0-100
• 91 – 100 = 4(Amat Baik) • 81 – 90 = 3(Baik)
• 75 – 80 = 2(Cukup) • 0 – 74 = 1(Kurang)
Indikator:
Peserta didik dikatakan tuntas jika mencapai nilai ≥ KKM(75) Peserta didik yang tidak mencapai KKM maka akan diberikan Remidi Peserta didik yang mencapai KKM maka akan diberikan Pengayaan
Keterangan:
NA : Nilai Akhir NA= Skor Perole h an
Lampiran 4
Penilaian Keterampilan:
RUBRIK OBSERVASI
KEGIATAN PRESENTASI
Mata Pelajaran : Sejarah (Peminatan) Tahun Pelajaran : 2017/2018 Kelas / Semester : XI / 1 Waktu Pengamatan :
NO Nama Peserta Didik Menjelaskan1-4 Percaya Diri0-1 Merespon1-4 JumlahSkor 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
a. Keterampilan menjelaskan adalah kemampuan menyampaikan hasil observasi dan diskusi secara meyakinkan.
b. Keterampilan memvisualisasikan berkaitan dengan kemampuan peserta didik untuk membuat atau mengemas informasi seunik mungkin, semenarik mungkin, atau sekreatif mungkin.
f. Keterampilan merespon adalah kemampuan peserta didik menyampaikan tanggapan atas pertanyaan, bantahan, sanggahan dari pihak lain secara empatik.
g. Kriteria
Skor rentang antara 1 – 4 Rentang Nilai 0-100
• 91 – 100 = 4(Amat Baik) • 81 – 90 = 3(Baik)
• 75 – 80 = 2(Cukup) • 0 – 74 = 1(Kurang)
Indikator:
Peserta didik dikatakan tuntas jika mencapai nilai ≥ KKM(75) Peserta didik yang tidak mencapai KKM maka akan diberikan Remidi Peserta didik yang mencapai KKM maka akan diberikan Pengayaan
Keterangan:
NA : Nilai Akhir NA= Skor Perole h an
Lampiran 5
PENILAIAN KETERAMPILAN
Penilaian untuk Tugas Portofolio
Mata Pelajaran : Tahun Pelajaran : 2017/2018
Kelas / Semester : X I / 1 Waktu
Pengamatan :
NO Nama Peserta Didik Kebersihan1-4 Sistematis1-4 Relevansi1-4 Jumlah Skor
Nilai = Jumlah skor dibagi 3
Keterangan :
b. Relevansi, kelengkapan, dan kebahasaan diperlakukan sebagai indikator penilaian kegiatan mengamati.
Relevansi merujuk pada ketepatan atau keterhubungan fakta yang diamati dengan informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Kompetensi Dasar/Tujuan Pembelajaran (TP).
Kebersihan dalam arti dalam pembuatan peta konsep itu peserta didik membuat dengan bersih tanpa ada coretan yang tidak perlu.
c. Sistematis menunjukan bagaimana peserta didik dalam menyusun urutan fakta itu secara berurutan..
d. Kriteria
Skor rentang antara 1 – 4 Rentang Nilai 0-100
• 91 – 100 = 4(Amat Baik) • 81 – 90 = 3(Baik)
• 75 – 80 = 2(Cukup) • 0 – 74 = 1(Kurang)
Indikator:
Peserta didik dikatakan tuntas jika mencapai nilai ≥ KKM(75) Peserta didik yang tidak mencapai KKM maka akan diberikan Remidi Peserta didik yang mencapai KKM maka akan diberikan Pengayaan
Keterangan:
NA : Nilai Akhir NA= Jumla h Skor MaksimalSkor Perole h an ×100
Lampiran 6
Lembar Kerja Peserta Didik
Mata Pelajaran : Sejarah (Peminatan) Materi Pokok : Kerajaan Islam di Jawa
Sub Materi Pokok : Kerajaan Demak dan Mataram Tugas sebagai berikut:
Kelompok I bertugas mendiskusikan dan menganalisis materi tentang strategi
perlawanan kerajaan Aceh terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)
Kelompok II bertugas mendiskusikan dan menganalisis materi tentang strategi
perlawanan kerajaan Mataram terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)
Kelompok III bertugas mendiskusikan dan menganalisis materi tentang tentang
strategi perlawanan kerajaan Ternate terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)
Kelompok IV bertugas mendiskusikan dan menganalisis materi tentang strategi
perlawanan kerajaan Tidore terhadap bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda)
Kelas : ………
Kelompok : ………
Pembahasan : ...
Ketua :
……….. Anggota :
1.
……… ………
2.
……… ………
3.