• Tidak ada hasil yang ditemukan

B1J010075 9.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "B1J010075 9."

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1

I.

PENDAHULUAN

Familia Solanaceae terdiri dari sekitar 90 genera dan 3000 spesies dengan distribusi yang luas terutama di daerah tropis dan subtropis di Amerika Selatan. Selain itu, spesies dari familia Solanaceae memiliki banyak keuntungan dari segi ekonomi seperti tomat (Lycopersicum esculentum Mill.), kentang (Solanum

tuberosum L.), terong (S. melongena L.) dan tembakau (Nicotiana tabacum L.)

(Silva et al, 2004). Selain ekonomis beberapa dari spesies familia Solanaceae juga ada yang beracun namun beberapa buah dapat dimakan (Lashin, 2012)

Palinologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang polen dan spora, baik fosil maupun yang masih segar. Polen merupakan alat penyebaran dan perbanyakan generatif pada bunga. Sebutir polen merupakan sebuah sel yang memiliki inti dan protoplasma yang terbungkus oleh dinding sel yang terdiri dari dua lapisan dasar, yaitu lapisan intin dan eksin (Kapp, 1969). Daya tahan polen sangat tinggi karena memiliki eksin yang keras dan secara kimia tidak mudah hancur oleh aktifitas mikroba, tingkat salinitas, kondisi basah, oksigen rendah, dan kekeringan (Aprianty & Kriswiyanti, 2008).

Beberapa karakter dari morfologi polen adalah simetri, ukuran dan bentuk, struktur dinding polen (pollen wall), stratifikasi eksin, ornamentasi eksin, kerutan/alur dan lubang (Agashe & Caulton, 2009). Struktur polen yang bervariasi menunjukkan karakter yang dapat digunakan untuk identifikasi atau klasifikasi. Secara ringkas, identifikasi tumbuhan adalah menentukan persamaan dan perbedaan antara dua unsur tumbuhan. Tumbuhan yang belum diketahui jenisnya biasanya diidentifikasikan dengan kunci identifikasi, atau dibandingkan dengan spesimen herbarium yang telah diketahui (Irawan et al., 2013).

Aplikasi analisis polen bermacam-macam terutama dalam membantu cabang ilmu lain. Dari analisis polen untuk menentukan spesies tumbuhan yang terdapat di daerah tertentu dan juga kehidupan spesies tumbuhan, tidak terdapat peninggalan lainnya yang sudah diawetkan pada permulaan masa geologi. Analisis polen kuantitatif yang dibuat pada lapisan-lapisan geologi yang baru-baru ini telah banyak membantu dalam pengertian sejarah tentang flora pada banyak tempat di bumi ini. Butir polen adalah salah satu penyebab utama dari penyakit alergi, khususnya yang berhubungan dengan sistem pernapasan, maka banyak perhatian yang diberikan untuk menganalisis polen yang terkandung di udara pada berbagai musim. Banyak

(2)

2

kepentingan juga berpaut pada determinsai polen yang dikumpulkan oleh lebah pada penelitian terhadap tumbuhan yang mengandung madu. Sebagai akibat dari penelitian yang cukup luas ini, didasarkan atas variabilitas butir polen, telah dikembangkan nomenklatur yang sangat rinci tentang ciri–ciri struktural polen yang memungkinkan deskripsi morfologi yang tepat dan harus dilakukan terhadap butir polen yang beragam (Fahn, 1991).

Secara alamiah ketika polen telah matang maka kotak sari akan pecah karena adanya proses higroskopis dan dengan bantuan angin akan bergerak menyebar di udara dan tanpa sengaja akan terhirup (inhalasi) dan masuk melalui sistem pernafasan. Pada sebagian orang hal ini tidak memiliki efek yang berarti namun ada sebagian kecil yang akan mengalami reaksi alergi hebat oleh karena masuknya alergen tersebut. Polen yang merupakan bagian utama dari suatu bunga yang di dalamnya berisi inti sperma yang berperan dalam polinasi atau penyerbukan dimana polen ini memiliki molekul protein yang dapat menimbulkan reaksi alergi tersebut. Kandungan protein pemicu alergi dimana konsentrasi dan jenis protein adalah faktor utama pada hipersensitivitas (Bharuddin, 2012). Selain kandungan protein, karbohidrat dan zat-zat lainnya yang tinggi juga mempengaruhi kualitas madu. Analisis kimia dari butir–butir polen yang masak menunjukan komposisi protein sebanyak 7,0 – 26,0%, karbohidrat 24,0 – 48,0%, lemak 0,9 – 14,5%, abu 0,9 – 5,4% dan air 7,0 – 16,0% (Fahn, 1991).

Selama ini para ahli taksonomi mengelompokkan tumbuhan menggunakan morfologi akar, batang, daun, bunga, dan alat tambahan. Karakterisasi yang didasarkan pada penanda morfologi biasanya dipengaruhi lingkungan dan umur

tanaman. Karakterisasi morfologi perlu didukung oleh karakterisasi menggunakan

penanda molekuler. Penanda molekuler dapat memberi gambaran hubungan

kekerabatan yang lebih akurat, karena analisis deoxyribo nucleid acid (DNA) sebagai

material genetik tidak dipengaruhi kondisi lingkungan. Sistematika molekuler

merupakan disiplin ilmu yang mengklasifikasikan organisme-organisme ke dalam taksa-taksa tertentu berdasarkan kemiripan (similaritas) dan ketidakmiripan (disimilaritas) karakter asam nukleat (DNA dan RNA), dan protein yang dimiliki organisme tersebut. Penggunaan data-data molekuler sebagai penunjang data morfologi akan dapat menjadi dasar yang lebih kuat dalam penentuan klasifikasi (Dwiatmini , 2003 ; Listiani, 2014). Morfologi serbuk sari dapat digunakan untuk

(3)

3

mengidentifikasi takson di tingkat familia, genus, spesies, dan sebagai penguat bukti yang lain.Variasi yang diperlihatkan polen antara lain jumlah, letak alur, dan lubang (apertur) di permukaannya, begitu pula bentuk maupun ukuran serta bentuk dan ukuran eksinnnya, dapat menjadi sumber bukti taksonomi yang penting (Des et al., 2013). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang karakterisasi morfologi polen beberapa genus dari familia Solanaceae yaitu, Solanum, Capsicum dan Physalis.

Berdasarkan uraian tersebut maka permasalahan yang perlu dikaji lebih lanjut adalah bagaimana karakter morfologi polen dari beberapa anggota familia Solanaceae dari genus Solanum, Capsicum, dan Physalis dan bagaimana perbedaan morfologi polen dari genus Solanum, Capsicum, dan Physalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi polen dari genus Solanum, Capsicum, dan Physalis dan mengetahui perbedaan morfologi polen dari genus Solanum, Capsicum, dan Physalis.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai karakterisasi beberapa anggota familia Solanaceae berdasarkan morfologi polen. Selain itu juga sebagai salah satu data untuk membantu klasifikasi dalam taksonomi.

Referensi

Dokumen terkait

62 10 Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik

Temuan yang diperoleh dari hasil analisis bahwa Ranti’s Generic IS/IT Business Values dapat digunakan dalam mengidentifikasi manfaat bisnis SI/TI.Tujuan penelitian pada

Metode Ranti’s Generic IS/IT Business Values dapat digunakan dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi manfaat bisnis SI/TI dari implementasi investasi SI/TI yang

Pelabuhan Indonesia IV (cabang) Kelas IV Tolitoli menjalankan proses bisnisnya dengan melakukan pencatatan laporan keuangan dari perusahaan secara manual. Hal ini terjadi

Pada tahun pertama sistem informasi Manajemen persekutuan yang nantinya akan dibangun terlebih dahulu karena berdasarkan analisa kebutuhan sistem informasi manajemen

Peserta lelang yang diundang agar dapat membawa dukumen asli atau dokumen yang dilegalisir oleh pihak yang berwenang dan copy 1 (satu) rangkap sesuai dengan pada isian

(2) Dalam daftar akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris setiap hari mencatat semua akta yang dibuat oleh atau di hadapannya, baik dalam bentuk Minuta Akta

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, teknis dan kewajaran harga serta formulir isian Dokumen Kualifikasi untuk penawaran paket pekerjaan tersebut diatas,