PROCEEDING MATHEMATICS, SCIENCE, & EDUCATION NATIONAL CONFERENCE (MSENCo)”2016 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung May 19th, 2016 ISBN: 978-602-74581-0-9
49
Efektivitas Pembelajaran Fisika Dengan Model
Learning Cycle
Dan Model
Contextual Teaching Learning
(CTL) Terhadap Hasil Belajar Fisika Kelas
XI Di SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir Barat
Melisa Sari
(1), Antomi Saregar
(2),Romlah
(3)(1) Mahasiswa SI Prodi Pendidkan Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung
([email protected]) (2)
Prodi Pendidikan Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung (3) Prodi Pendidikan Manejemen Pendidikan Islam IAIN Raden Intan Lampung
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar peserta didik menggunakan model learning cycle dan model contextual teaching learning serta mengetahui efektivitas kedua model. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Desain pada penelitian ini menggunakan Desain Pretest- postest kelompok Statis (The Static Group Pretest-Postest Design). Hasil penelitian ini menunjukan peningkaatn hasil belajar peserta didik pada kedua model, hal ini dilihat dari hasil pretest dan postest. Pada kelas eksperimen 1 skor rata- rata nilai hasil belajr peserta didik adalah 75,2 dan kenaikan skor rata- rata sebesar 27,1 dengan N- gain sebesar 0,51 kategori sedang. Pada kelas eksperimen 2 skor rata- rata hasil belajar peserta didik adalah 68,2 dan kenaikan skor rata- rata sebesar 20,8 dengan N- gain sebesar 0,38 kategori sedang. Hasi penelitian menunjukan adanya perbedaan hasil belajar peserta didik menggunakan model learning cycle dan model Contextual Teaching Learning (CTL) dilihat dari hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji t yaitu , dan lebih efektif menggunakan model Learning Cycle untuk materi fluida statis di kelas XI dilihat dari hasil rata- rata N- gain yang diperoleh.
Kata kunci: learning cycle, contextual teaching learning (CTL), hasil belajar
PENDAHULUAN
Hasil observasi dan wawancara yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Karya Penggawa menunjukan bahwa model pembelajaran yang di gunakan pada pembelajaran fisika selama ini masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Penerapan model pembelajaran konvensional belum sepenuhnya berhasil, karena hasil belajar fisika siswa di SMA Negeri 1 Karya Penggawa masih rendah. Rendahnya hasil belajar ditunjukan oleh rata- rata nilai yang kurang dari 70. Hasil belajar adalah pola- pola perbuatan, nilai- nilai, pengertian, sikap- sikap, apresiasi dan keterampilan (Agus Suprijono,2015), Lima kemampuan yang dikatakakan sebagai hasil belajar menurut Gagne yaitu: 1) keterampilan intelektual; 2) strategi kognitif; 3) sikap; 4) informasi verbal; 5) keterampilan motorik (Ratna Willis Dahar, 2011). Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran yang diterapkan. Menurut Agus Suprijono (2015,65) Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi,
50
Akhir- akhir ini, jurnal terkait dengan model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning (CTL) yang sudah diterbitkan dari beberapa penulis diantaranya: 1) Siti Aisyah dkk (2013) yang berhasil menerapkan model learning cycle sehingga peningkatan hasil belajar siswa; 2) Penelitian Akinwumi & Bello (2015) dalam jurnalnya yang membandingkan model learning cycle & pendekatan inquiry ternyata lebih berpengaruh model learning cycle dalam meningkatkan hasil belajar; 3) Penelitian U. Kulsum & Hindarto (2011) dalam jurnalnya yang berjudul penerapan model learning cycle, berhasil sehingga hasil belajar siswa meningkat; 4) Penelitian model Contextual Teaching Learning (CTL) oleh M. Fayakun dan Joko (2015) dalam jurnalnya menyatakan bahwa model kontekstual meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Beda penelitian ini dengan penelitian yang lain yaitu, peneliti akan meneliti dua model yang akan diterapkan dalam penelitian, sedangkan peneliti sebelumnya hanya menerapkan satu model saja dan model pembanding atau kelas kontrolnya menggunakan model konvensional. Kedua model tersebut yang akan diterapkan peneliti adalah model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning ( CTL).
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model Learning Cycle dan model pembelajaran Contextual Teaching Learning( CTL) ? (2) Model pembelajaran manakah yang paling efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Fluida Statis kelas XI semester II di SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir Barat?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mengetahui hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model Learning Cycle dan model pembelajaran Kontextual Teaching Learning( CTL) pada materi pokok Fluida kelas XI semester II di SMAN 1 karya penggawa Krui Pesisir Bara. (2) Mengetahui efektivitas dari kedua model, model pembelajaran manakah yang paling berpengaruh dan digunakan untuk meningkatkan hasil belajar pada materi pokok Fluida Statis kelas XI semester II di SMAN 1 karya penggawa Krui Pesisir Barat.
Pretest- postest kelompok Statis (The Static Group Pretest-Postest Design). Desain dapat dilihat pada tabel 1, pada desain ini terdapat tes awal sebelum diberi perlakuan dan tes akhir setelah diberi perlakuan.
Tabel 1. Desain Penelitian Menurut Nana Syaodih
Sukmadinata( 2011,209)
Kelompok Pratest Perlakuan pascatest
IPA 1 0 X1 0
IPA 2 0 X2 0
Penelitian ini terdiri dari tiga variabel, 2 variabel bebas dan 1 variabel terikat. Variabel bebas yang pertama adalah model Learning Cycle dan variabel bebas 2 adalah model Contextual Teaching Learning sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar peserta didik.
Tempat penelitian di SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir Barat kelas XI IPA semester II tahun 2015/2016. Tekhnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling karena populasi homogen (Sugiono,2012). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen 1 dengan model Learning Cycle dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen 2 dengan model Contextual Teaching Learning (CTL). Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah efektivitas model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning pada sub pokok bahasan fluida statis.
Tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes hasil belajar kognitif, tes yang digunakan yaitu tes objektif berbentuk pilihan jamak dengan 5 alternatif berjumlah 25 soal. Sebelum soal digunakan sebagai instrumen penelitian, peneliti terlebih dahulu uji cobakan untuk pengujian mengetahui validitas, uji tingkat kesukaran, uji daya beda, reliabilitas soal.
Tekhnik analisis data hasil belajar peserta didik digunakan skor gain yang ternormalisasi. N- gain diperoleh dari pengurangan skor postest dan pretest dibagi skor maksimum dikurang skor
51 menguji sampel berdistribusi normal,
menggunakan uji normalitas dengan rumus lilliefors (Budiono, 2009). Data yang diperoleh berdistribusi normal selanjutnya diujikan homogenitasnya menggunakan uji homogenitas dua varians atau uji Fisher (Nana Sudjana, 2001) analisis ini untuk menguji homogen atau tidaknya varian data. Hipotesis diuji menggunakan uji-t, uji ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua model. Kriteria pengujiannya yaitu ≥ t- tabel, berarti ditolak. ≤ t- tabel, berarti diterima.
HASIL
Sebelum melaksanakan penelitian peneliti menguji validitas instrumen yang akan digunakan agar layak untuk digunakan dalam penelitian. Berdasarkan hasil uji validitas soal terdapat 25 butir soal yang valid dari 31 soal yang diuji cobakan.
Tabel 2. Rekapitulasi nilai pretest dan postest kelas eksperimen 1
Eksperimen 1 (model Learning Cycle)
Pretest Keterangan Postest
68 Nilai Tertinggi 80
36 Nilai Terendah 68
968 1504
48,4 Rata- rata 75,2
Tabel 3. Rekapitulasi nilai pretest dan postest kelas eksperimen 2
Eksperimen 2 (model CTl)
Pretest Keterangan Postest
68 Nilai Tertinggi 76
32 Nilai Terendah 60
948 1364
47,4 Rata- rata 68,2
Berdasarkan tabel 2 dan 3, terlihat bahwa terdapat kenaikan hasil belajar peserta didik setelah diberi perlakuan di kedua model.
Uji Normalitas
Langkah pertama yang dilakukan dalam tekhnik analisis data adalah uji normalitas data pada kedua kelas. Untuk menguji normalitas menggunakan microsoft Excel dengan rumus lilliefors. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi hasil perhitungan uji normalitas
Kls J. Sam
pel
Nilai rata- rata
STDEV Simpulan
X1
20 75,2 5,44 0,17 0,19 Berdistri-busi normal X2 68,2 5,72 0,17 0,19
Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa dari uji normalitas kedua sampel berdistribusi normal, karena keduanya .
Uji Homogenitas
Langkah selanjutnya setelah melakukan uji normalitas dan data berdistribusi normal adalah melakukan uji homogenitas dengan uji Fisher untuk melihat apakah data homogen atau tidak. Adapun hasil dari uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 5 berikut,
Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Uji Homogenitas KLS Rata-
rata
Varians Hasil Interpre-tasi
X1 26,8 74,27 1,028 2,1 9
Homogen
X2 20,8 74,48
Berdasarkan tabel 5, data berdistribusi homogen. Terlihat dari hasil perhitungan bahwa
yaitu 1,028 < 2,19.
Uji Normalitas Skor N- gain
setelah menghitung uji normalitas dan homogenitas, maka menghitung skor N- gain menggunakan microsoft excel menggunakan rumus postest dikurang pretest dibagi skor maksimum dikurang nilai pretest. Hasil uji normalitas N- gain dapat dilihat pada tabel 6 berikut,
Tabel 6. Data N- gain
Kelas N- gain Kriteria
X1 0,5119 Sedang
X2 0,383 Sedang
Berdasarkan tabel 6, terlihat dari hasil N- gain yaitu 0,5119 pada klas X1 dan 0,383 pada kelas X2 memenuhi syarat kriteria sedang yaitu
0,3≤g≤0,7.
Uji Hipotesis
52
Kelas Keterangan
X1 17, 26836 1,6860
X2
Berdasarkan tabel 7, dari perhitungan yang telah dilakuakn yaitu 17,2683> 1,6860 artinya diterima dan ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik antara model Learning Cycle dan model Contextual teaching Learning (CTL).
PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan dua kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan menerapkan model Learning Cycle, sedangkan kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen 2 menerapkan model Contextual Teaching & Learning (CTL). Materi yang diajarkan pada penelitian ini adalah materi fluida statis. Penelitian ini dilaksanakan pada 3 kali pertemuan dengan masing –masing 2 jam pelajaran pada setiap kali pertemuannya. Pada setiap pertemuan peserta didik melaksanakan diskusi kelompok dan tanya jawab.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning (CTL) terhadap hasil belajar peserta didik pada materi fluida statis. Hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari nilai pretest dan postest. Pretest diberikan diawal pertemuan sebelum diberikan materi fluida statis. Dari data hasil penelitian pada kelas eksperimen 1 terdapat nilai terendah 36 dan nilai tertinggi 68 dengan nilai rata-rata 48,4. Sedangkan nilai pretest pada kelas eksperimen 2 terdapat nilai terendah 36 dan nilai tertinggi 56 dengan nilai rata 47,4. Dilihat dari nilai rata-rata pretest tersebut baik kelas eksperimen 1 maupun kelas eksperimen 2, maka hasil belajar peserta didik pada materi fluida statis dikatakan masih rendah, dan kedua kelas mempunyai kemampuan awal yang sama mengenai materi fluida statis.
Pada akhir pembelajaran peserta didik diberikan postest. Nilai postest mengalami peningakatan baik pada kelas eksperimen 1 maupun kelas eksperimen 2. Nilai postest pada
dengan nilai rata-rata 68,2. Jika dilhat dari nilai postest, baik kelas eksperimen 1 maupun kelas eksperimen 2 maka hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan.
Berdasarkan hasil uji N-Gain (tabel 6), menunjukkan terdapat selisih antara nilai pretest dan nilai postest baik pada kelas eksperimen 1 dengan nilai rata- rata N-Gain (0,511) dan kelas eksperimen 2 (0,383) dengan kriteria sedang baik kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2.
Dilihat dari nilai rata- rata N- Gain pada tabel 6, kelas eksperimen 1 lebih besar nilainya menggunakan model Learning Cycle dibandingkan dengan eksperimen 2 menggunakan model Contextual Teaching Learning. Dapat disimpulkan bahwa lebih efektif menggunakan model Learning Cycle untuk materi fluida statis.
sesuai dengan penelitian yang dilakukan Penelitian Siti Asiyah,dkk (2013) mengenai penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar Peserta didik kelas XI IPA. Adapun hasil penelitian model Learning Cycle dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar Peserta didik. Karena model learning cycle mengharuskan peserta didik yang aktif.
Selanjutnya Penelitian Akinwumi dan Bello (2015) mengenai perbandingan dua model membandingkan model learning cycle & pendekatan inquiry untuk meningkatkan hasil belajar Peserta didik. Adapun hasil penelitian model learning cycle lebih berpengaruh untuk meningkatkan hasil belajar Peserta didik.
Model Learning Cycle ini mempunyai ciri khas adalah setiap peserta didik secara individu belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru kemudian, hasil belajar individual di bawa ke kelompok untuk didiskusikan oleh anggota kelompok dan semua anggota kelompok bertanggung jawab secara bersama-sama atas keseluruhan jawaban.
53 eksperimen 1 membutuhkan 3 kali pertemuan
sama dengan kelas eksperimen 2 walaupun penerapan model yang berbeda. Pada pertemuan awal peneliti melakukan fase undangan (Engagement) agar peserta didik tertarik dengan materi yang akan disampaikan dan membuat kelas yang kondusif dan berkonsentrasi, disamping itu peneliti melakukan fase ini adalah guna menjambatani proses menghidupkan gelombang alfa pada setiap peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu peneliti melakukan tanya jawab dengan memperlihatkan gambar yang terjadi di kehidupan sehari- hari yang berhubungan dengan fluida statis. Dalam fase undangan (Engagement) pada tahap ini menunjukan gambar tentang peristiwa yang terjadi di sekitar lingkungan yang berhubungan dengan materi fluida statis untuk membangkitkan minat peserta didik.
Fase berikutnya masuk ke dalam kegiatan inti yang diawali dengan fase eksplorasi (exploration) ini adalah fase menggali informasi, dalam kegiatan ini peneliti menjelaskan sedikit tentang materi fluida statis, dan selanjutnya peserta didik diberikan pertanyaan untuk mengukur pemahaman materi lalu peserta didik diberikan tugas diskusi dengan membuat kelompok 3-4 orang, selama diskusi dan melaksanakan tugas peneliti selaku pendidik mengawasi dan menjadi faslitator dalam materi fluida statis.
Pada fase penjelasan (explanation) peserta didik diminta utuk menjelaskan hasil diskusi yang telah dilakukan oleh setiap kelompok dengan menggunakan cara yang mereka suka sehingga tidak terdapat beban ketika menjelaskan setiap jawaban hasil diskusi. Dan setelah dilakukannya diskusi dan penjelasan disetiap kelompok, peneliti memberi keseempatan kepada kelompok lain jika ingin bertanya tentang materi atau konsep yang belum mereka pahami kepada teman sendiri, dan selama diskusi berlangsung ternyata tidak ada ketegangan dan masing-maasing kelompok menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Pada fase berikutnya masih dalam kegiatan inti yaitu fase elaboraasi (Elaboration) dimana tahap ini adalah tahap bagaimana cara kecakapan pendidik dan peserta didik dalam menghubungkan konsep yang telah diterima pada hari ini dengan situasi dan keadaan sehari-hari. Pada fase ini peneliti mencoba untuk mengajak peserta didik untuk menyimpulkan hasil
pembelajaran tiap kelompok diminta untuk menyimpulkan.
Pada fase berikutnya tahap evaluasi (Evaluation) tahap evaluasi ini adalah memberikan soal kepada peserta didik untuk mengukur pemahan materi yang mereka dapat dari hasil proses pembelajaran.
Namun pada kelas eksperimen 2 yang menggunakan model Contextual Teaching Learning peneliti menggunakan fase- fase yang ada. Akan tetapi Selama penelitian berlangsung peneliti memiliki keterbatasan dalam melaksanakan penelitian. Keterbatasan yang pertama yaitu kurang fokusnya peserta didik secara keseluruhan karena waktu penelitian bersamaan dengan kegiatan sekolah sehingga ada beberapa peserta didik yang tidak mengikuti penelitian dengan maksimal. Lalu faktor yang kedua adalah saat melakukan proses belajar mengajar peserta didik tidak dihadapkan dengan guru mata pelajaran yang biasanya, namun peserta didik dihadapkan dengan peneliti yang dianggap sosok baru di lingkungan mereka.
Meskipun seperti itu tidak melupakan tujuan dari penelitian yaitu melihat efektivitas dalam menerapkan model Learning Cycle pada kelas Eksperimen 1 dan model Contextual Teaching Learning pada kelas eksperimen 2, sebelum melihat sebuah efektivitas terlebih dahulu menguji normalitas dan homogenitas dari setiap data dan itu telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, maka langkah selanjutnyaa adalah menguji hipotesis dengan hasil perhitungan uji hipotesis menggunakan uji t atau t- test yang telah dilakukan didapat = 17,26836 dan = 1,6860 sehingga artinya ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar antara model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning.
Dengan demikian hipotesis peneliti diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik dengan penggunaan model Learning Cycle dan model Contextual Teaching Learning.
54
didik meningkat, karena peserta didik tidak sekedar mengetahui informasi atau pelajaran dari penjelasan guru di dalam kelas, akan tetapi peserta didik langsung menggali pemahaman dengan aktif mencari dan menemukan sendiri konsep-konsep materi yang diajarkan. Dalam hal ini peserta didik mendapatkan lembar kegiatan siswa yang digunakan untuk memahami materi yang ada dengan kegiatan perkelompok .
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir Barat pada kelas XI IPA semester genap tahun ajaran 2015/2016, hasil analisa dan pembahasan diketahui bahwa nilai rata-rata postest pada kelas eksperimen 1 lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pada kelas eksperimen 2 ( 75,2> 68,2). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lebih efektif model pembelajaran menggunakan Learning Cycle dibandingkan dengan model Contextual Teaching Learning. Dan melalui uji t terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik baik menggunakan model learning cycle dan model Contextual Teaching Learning, Fisika peserta didik kelas XI IPA pada materi Fluida Statis di SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir barat Tahun Ajaran 2015/2016.
Ucapan Terimakasih
Terimakasih pada pihak- pihak yang telah membantu kesuksesan makalah ini, terutama ke dua orang tua penulis, dosen pembimbing , keluarga besar SMA Negeri 1 Karya Penggawa Krui Pesisir Barat yang tidak bisa disebutkan satu persatu oleh penulis. Penulis mengucapkan banyak terimakasih.
Daftar Pustaka
Agus Suprijono.2015.Cooperative Learning Edisi Revisi.Yogyakarta: Pustaka Belajar
Akinwumi Mojeed Olaoluwa,Bello Theodora,
“Relative Effectiveness of Learning- Cycle
Model and Inquiry-Teaching Approaches in Improving Students’ Learning Outcomes in
Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter.Bogor: Ghalia Indonesia
Kulsum.U, Hindarto, “Penerapan Model Learning
Cycle pada Sub pokok Bahasan Kalor untuk meningkatkan Keaktifan dan hasil belajar
siswa Kelas VII SMP”.Jurnal Pendidikan
Fisika Indonesia (JPFI).vol.7 juli 2011
Made Wena.2011.Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer.Jakarta: Bumi Aksara
M.Fayakun, P. Joko, “Efektivitas Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Kontekstual (CTL) Dengan MetodePredict, Observe, Explain terhadap kemampuan berpikir
tingkat tinggi”.Jurnal Pendidikan Fisika
Indonesia (JPFI), Vol. 11 No. 1 Januari 2015
Nana Syaodih Sukmadinata.2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ngalimun.2014.Strategi dan Model Pembelajaran.Yogyakarta: Aswaja Pressindo
Ratna Wilis Dahar.2011.Teori- Teori Belajar & Pembelajaran.Jakarta: Erlangga
Siti Asiah,Sri Mulyani,Nanik Dwi,” Penerapan
model pembelajaran Learning Cycle 5E Berbantuan Macromedia Flash Dilengkapi LKS Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Siswa Pokok Bahasan Zat Adiktif Dan Psikotropika Kelas VIII SMPN 4 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012”.Jurnal Pendidikan Kimia.Vol. 2 No. 2 2013