39
ASUHAN KEPERAWATAN DALAM PEMENUHAN
KEBUTUHAN DASARA
PADA AN. F DENGAN DENGUE HEAMORAGIC FEVER
DI PAVILIUN BADAR RUMAH SAKIT ISLAM
CEMPAKA PUTIH JAKARTA PUSAT
Disusun Oleh :
AMALIA PUTRI AZIZAH
2014750003
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
iii
KATA PENGANTAR
Bimillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada An. F dengan DHF di Paviliun Badar Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih”.
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh ujian akhir Program Diploma III Keperawatan di Akademi Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Penulis menyadari dalam penilisan makalah ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh penulis. Namun berkat bantuan dan bimbingan serta arahan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Muhammad Hadi, SKM.,M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Ibu Ns. Titin Sutini, M.Kep.,Sp.Kep.An, selaku Ka. Prodi Program DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan pembimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
3. Bapak Drs. Dedi Muhdiana, M.Kes, selaku wali angkatan Program DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
4. Seluruh staff dosen Program DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
iv
5. Kepala Ruangan Ns. Endah. W, S.Kep sebagai pembimbing klinik dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
6. Yang tersayang ibu dan bapak yang telah memeberikan dukungan dalam hal apapun serta do’a yang tak pernah putus, sehingga dapat menyelesaikan kuliah program DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
7. Adikku Nadzar dan Faris yang telah mendo’akan dan selalu memberikan support selama ini.
8. Teman seperjuanganku (kelompok anak: Rafidah, Hurfa dan Indah) yang sudah mensupport satu sama lain dan saling bertukar pikiran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
9. Teman-teman seperjuangan mahasiswa DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 32, terima kasih atas semua bantuan dan dukungan.
10.Sahabat-sahabatku tersayang Anak Cantik (Rafidah, Indah, Hurfa, Ayu, Sonia, Hanny, Widya, Fitriani, Dwi) yang selalu ada disaat suka maupun duka.
11.Adik kelasku Fadah, Amalia, Devi yang selalu mensupport dan mendo’akan.
12.Anom Irraras Noor yang selalu memberi support dari jauh.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan dengan tangan terbuka kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan pada masa yang akan datang, semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat pada umummnya bagi pembaca dan khususnya bagi tenaga kesehatan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Jakarta, 05 Juni 2017
v DAFTAR ISI
Hal
LEMBAR PERSETUJUAN... i
LEMBAR PENGESAHAN... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI... v BAB I PENDAHULUAN... A. Latar Belakang... B. Tujuan Penulisan... 1. Tujuan Umum... 2. Tujuan Khusus... C. Ruang Lingkup... D. Metode Penulisan... E. Sistematika Penulisan ……….. 1 1 3 3 3 4 4 5 BAB II TINJAUAN TEORITIS... A. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia... B. Konsep Dasar Heamoragic Fever... 1. Pengertian... 2. Etiologi... 3. Patofisiologi... 4. Klasifikasi... 5. Manifeatasi Klinis... 6. Komplikasi... 7. Penatalaksanaan... 8. Pemeriksaan Penunjang... C. Konsep Tumbuh kembang Anak... D. Konsep Dampak Hospitalisasi... E. Konsep Asuhan Keperawatan... 1. Pengkajian Keperawatan... 2. Diagnosa Keperawatan... 3. Intervensi Keperawatan... 4. Implementasi Keperawatan... 5. Evaluasi Keperawatan... 7 7 9 9 9 10 12 12 16 20 22 25 29 32 32 35 35 37 38 BAB III TINJAUAN KASUS... A. Pengkajian Keperawatan... B. Diagnosa Keperawatan... C. Intervensi Keperawatan... D. Penatalaksanaan Keperawatan... E. Evaluasi Keperawatan... 39 39 44 44 48 76 BAB IV PEMBAHASAN... A.Pengkajian Keperawatan... B. Diagnosa Keperawatan... C.Perencanaan Keperawatan... D.Penatalaksanaan Keperawatan... E. Evaluasi Keperawatan... 87 87 88 90 91 92 BAB V PENUTUP... 93
vi A. Kesimpulan... B. Saran... 93 94 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN FORMAT PENGKAJIAN LAMPIRAN SAP DHF
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD), (Aziz Alimul, 2006).
Manifestasi klinik pada infeksi virus dengue sama seperti pada infeksi virus yang lain, infeksi virus dengue juga merupakan suatu self limiting infectious disease yang akan berakhir sekitar 2-7 hari. Infeksi virus dengue
pada manusia mengakibatkan suatu spektrum manifestasi klinik yang bervariasi antara penyakit yang paling ringan (mild underferentiated febrile illness), dengue fever, Dengue heamoragic fever (DHF/DBD) dan
Dengue syok syndrome (DSS/SSD) (Rampengan, 2007).
Demam berdarah dengue (DBD) dan Sindrom syok dengue (SSD) merupakan penyakit infeksi yang masih menimbulkan masalah kesehatan di negara sedang berkembang, khususnya Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya angka mordibitas dan mortalitas (Rampengan, 2007).
Komplikasi DHF, gejala klinis yang semakin berat pada penderita DHF dan DSS dapat berkembang menjadi gangguan pembuluh darah dan gangguan hati. Hal ini tentu dapat mengancam jiwa. DHF disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi: Nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah turun (≤ 120 mmHg), hipotensi (dibandingkan standar sesuai umur), kulit dingin, lembab dan gelisah. DSS, menurut sumber lain pada penderita DHF yang disertai syok, setelah demam berlangsung selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk.
2
Menurut WHO, Dengue adalah penyakit virus yang paling umum ditularkan oleh nyamuk ke manusia, yang beberapa tahun terakhir telah menjadi masalah kesehatan utama masyarakat internasional. Secara global 2,5 miliar orang tinggal di daerah di mana virus dengue dapat ditransmisikan. Penyebaran geografis antara vektor nyamuk dan virus telah menyebabkan epidemi demam berdarah secara global dan kedaruratan demam berdarah dengue dalam 25 tahun terakhir dengan perkembangan hiperendemisitas di pusat-pusat perkotaan daerah tropis.
Sekitar 2,5 miliyar (2/5 penduduk dunia) mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan subtropis pernah mengalami letusan demam berdarah. Kurang dari 500.000 kasus setiap tahun di rawat di RS dan ribuan orang meninggal (Mekadiana, 2007).
Pada bulan Januari hingga Februari 2016 di Indonesia tecatat 8.487 orang penderita DHF dengan jumlah kematian mencapai 108 orang. Kelompok usia terbanyak yang mengalami DHF di Indonesia yaitu usia 5-14 tahun mencapai 43,44% dan usia 15-44 tahun mencapai 33,25% (Kemenkes RI, 2016).
Dalam kurun waktu satu bulan (per 12 Februari 2016), jumlah warga Jakarta yang terkena penyakit DHF mencapai 1.337 kasus. Di DKI Jakarta kasus paling banyak terjadi di Jakarta Selatan yakni mencapi 389 kasus, disusul Jakarta Timur dengan 382 kasus, Jakarta Barat sebanyak 245 kasus, Jakarta Utara sebanyak 213 kasus dan Jakarta Pusat sebanyak 108 kasus (Dinas Kesehatan).
Berdasarkan data yang di peroleh dari data medical record Rumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta didapatkan data yang menderita DHF khususnya di Paviliun Badar Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih dari 2 bulan terakhir yaitu bulan Maret-April 2017 didaptakan kasus DHF
3
sebanyak 33 anak meliputi, usia infant: 5 anak, usia toddler: 9 anak, usia prasekolah: 10 anak dan usia sekolah: 9 anak.
Pada umumnya anak dengan DHF mengalami gangguan dalam pemenuhan kebutuhan dasar diantaranya adalah, kekurangan volume cairan, resiko terjadinya perdarahan, resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik, gangguan perubahan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh hingga dapat terjadi komplikasi seperti: perdarahan luas, syok, ensefalopati
dengue, kelainan ginjal, odema paru, penurunan kesadaraan hingga kematian.
Berdasarkan hal tersebut peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan secara komperhensif. Salah satunya adalah upaya promotif dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan atau penjelasan tentang penyakit, penyebab, gejala, perawatan, pencegahan dan pengobatan pada DHF. Sedangkan untuk upaya preventif pada kasus DHF dapat dilakukan dengan cara 3M (menguras, menutup, mengubur), memelihara ikan pemakan jenik-jentik nyamuk, tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Sedangkan dalam upaya kuratif adalah tindakan pengobatan, hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan perawatan secara maksimal kepada anak, menganjurkan kepada klien atau keluarga untuk tetap menjaga kebersihan. Aspek rehabilitatif merupakan tindakan yang dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan dengan meneruskan program pengobatan di rumah, melakukan kontrol sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk meningktakan daya tahan tubuh dan mempercepat prosses penyembuhan.
Saat ini angka kejadian DHF di RS semakin meningkat terutama pada kasus anak. Oleh karena itu diharapkan perawat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan DHF. Keterampilan yang sangat dibutuhkan adalah
4
kemampuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda syok dan kecepatan dalam menangani anak yang mengalami DSS. Maka penulis termotivasi untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada An. F dengan DHF”.
B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama empat hari diharapkan penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan DHF melalui pendekatan proses keperawatan tanpa mengabaikan aspek tumbuh kembang anak.
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan pemenuhan kebutuhan dasar diharapkan penulis: a. Mampu melakukan pengkajian kebutuhan dasar pada anak dengan:
DHF.
b. Mampu merumuskan masalah keperawatan pada anak dengan: DHF.
c. Mampu merumuskan rencanakan tindakan keperawatan pada anak dengan: DHF.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada anak dengan: DHF.
e. Mampu melakukan evaluasi pada anak dengan: DHF.
f. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus dalam praktik keperawatan.
g. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusi.
h. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan asuhan keperawatan pada anak dengan: DHF.
C. Lingkup Masalah
Mengingat banyak kasus DHF yang terjadi pada anak dan keterbatasan waktu yang ada serta kemampuan penulis, maka penulis membatasi hanya
5
pada satu kasus yaitu “Asuhan Keperawatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada An. F dengan: Dengue Heamoragic Fever (DHF) di Paviliun Badar Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Jakarta Pusat” dengan lama asuhan keperawatan 4x24 jam mulai tanggal 11-14 Mei 2017.
D. Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang mempelajari, menganalisa dan menarik kesimpulan dan hasil pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dan membandingkan dengan hasil studi kepustakaan. Adapun data diperoleh dengan menggunakan tehnik:
1. Studi Kepustakaan
Suatu kegiatan untuk memperoleh data dengan cara mempelajari buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada anak dengan DHF.
2. Studi Kasus
a. Observasi: observasi kasus melalui partisipasi aktif terhadap klien yang bersangkutan mengenai penyakit, pengobatan dan keperawatan serta hasil dari tidakan yang dilakukan.
b. Wawancara: wawancara dan diskusi dengan klien, keluarga klien, perawat, dokter dan petugas kesehatan lain yang terkait.
E. Sitematika Penulisan
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun secara sistematika ysng terdiri dari 5 bab dengan urutan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Meliputi latar belakang, masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan Teoritis
a. Kebutuhan dasar manusia
b. Konsep dasar terdiri dari: Pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, komplikasi,
6
penatalaksanaan (medis dan keperawatan), pemeriksaan penunjang.
c. Konsep tumbuh kembang d. Dampak hospitalisasi
e. Asuhan Keperawatan: Pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi.
BAB III : Tinjauan Kasus
Merupakan laporan hasil asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan DHF yang meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan. Pelaksanaan dan evaluasi sesuai dengan kasus yang di dapat.
BAB IV : Pembahasan
Membahas kesenjangan dan mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah yang terjadi antara bab II dan bab III yang meliputi: pengkajian diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan
BAB V : Penutup
Pada bab ini meliputi kesimpulan dan saran.
a. Kesimpulan berisi asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan DHF dan permasalahan yang muncul.
b. Saran tentang harapan masukkan dari penulisan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar pada anak dengan DHF yang bertujuan untuk peningkatan kualitas pelayanan dan perawatan yang di berikan.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
7 BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostatis, baik fisiologis maupun psikologis. Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau di perlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Sekitar tahum 1950, Abraham Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih di kenal dengan isitilah Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia Maslow (Wolf, Lu Verne, dkk,1984). Hierarki tersebut meliputi lima kategori kebutuhan dasar, yakni:
1. Kebutuhan Fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hierarki Maslow, yaitu: kebutuhan oksigenasi, kebutuhan cairan, kebutuhan nutrisi, kentuhan eliminasi urine dan alvi, kebutuhan istirahat tidur, kebutuhan aktivitas, kebutuhan kesehatan temperatur tubuh serta kebutuhan seksual. Kebutuham seksual tidak diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup seseorang, tetapi penting untuk mempertahankan kelangsungan umat manusia.
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.
a. Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup. Ancaman tersebut dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan, dan sebagainya.
b. Perlidungan psikolgis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya.
3. Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, mendapatkan kehangatan
8
keluarga, memiliki sahabat, diterima oleh kelompok sosial, dan sebagainya.
4. Kebutuhan harga diri ataupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri, dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontibusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.
Kebutuhan aktualisasi diri
Harga diri
Rasa cinta memiliki dan dimiliki
Rasa aman dan perlindung
Kebutuhan Fisiologis
Gambar Kebutuhan Dasar Manusia menurut Maslow
Adapun gangguan kebutuhan dasar pada anak dengan DHF meliputi: a. Kebutuhan fisiologis
Pada anak dengan DHF biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan cairan, karena anak dengan DHF akan mengalami peningkatan dinding permeabilitas yang dapat menyebabkan cairan intravaskuler keluar ke ekstravaskuler, dapat juga dikarenakan peningkatan suhu tubuh. Anak dengan DHF akan mengalami kebutuhan nutrisi, karena biasanya anak dengan DHF akan mengalami mual dan muntah yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.
9 b. Kebutuhan rasa aman nyaman
anak dengan DHF akan mengalami resiko perdarahan yang disebabkan trombositopenia, karena trombosit berfungsi untuk pembekuan darah, maka ketika trombosit menurun sangat mudah terjadinya perdarahan.
B. Konsep Dasar 1. Pengertian
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD) (Aziz Alimul, 2006).
Dengue Hemoragic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Rekawati, 2013).
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, da dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam berdarah dengue sering di sebut pula Dengue Heamoragic Fever (DHF) (Desmawati, 2013).
2. Etiologi
Penyebab penyakit DHF adalah virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes. Di Indonesia hingga sekarang telah dapat diisolasi 4 serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 merupakan serotipe yang paling banyak sebagai penyebab. Di Indonesia dikenal dua jenis nyamuk Aedes, yaitu:
10 a. Aedes Agypti
1) Paling sering ditemukan.
2) Nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah, yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air di sekitar rumah.
3) Nyamuk ini sepintas tampak berlurik, berbintik-bintik putih. 4) Biasanya menggigit pada siang hari, terutama pada pagi dan
sore hari.
5) Jarak terbang 100 meter. b. Aedes Albopictus
1) Tempat habitatnya di air jernih. Biasanya di sekitar rumah atau pohon-pohon, tempat yang menampung air hujan yang bersih,seperti pohon pisang, pandan, kaleng bekas.
2) Menggigit pada waktu siang hari. 3) Jarak terbang 50 meter.
(Rampengan, 2007)
3. Patofisiologi
Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk
aedes aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan erbentuklah kompleks virus antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplement. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan di lepas C3a dan C5a, dua peptida yang berada untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trombositpenia, menrunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX. X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
11
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurnnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositpenia dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersaman dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma kllien mengalami hypovelemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian (Desmawati, 2013).
Patofisiologi DHF pada anak
Virus dengue Viremia Hyperthermia Hepatomegali -Anoreksia -muntah Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Resiko kekurangan volume cairan
Depresi sumsumtulang
Manifestasi perdarahan
Kehilangan
Hipovolemia
Resiko syok hipovelemia
Syok Kematian Permeabilitas kapiler meningkat Resiko perdarahan Efusi pleura acites hemokonsentrasi Perdarahan perfusi jaringan perifer
12
Menurut Desmawati (2013) perubahan patofisiologi pada DHF antara lain yaitu:
a. Meningkatnya permeabilitas kapiler yangmenyebabkan bocornya plasma kedalam rongga pleura dan rongga peritoneal. b. Hemostatis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati,
trombositopenia, koagulopati. c. Renjatan.
d. Menurunnya fungsi agregasi trombosit karena fungsi imunoligis yang dibuktikan dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaraan darah.
e. Kelainan sistem koagulasi karena hati yang terganggu karena aktivitas sistem koagulasi.
4. Klasifikasi
Menurut Suriadi (2010) klasifikasi DHF dibagi menjadi 4, yiatu: a. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji tourniquet positif, trombositopeneia dam hemokonsentrasi.
b. Derajat II
Derajat I disertai pendarahan spontan di kulit dan atau perdarahan yang lain.
c. Derajat III
Kegagalan sirkulasi: nadi cepat dan lemah. Hipotensi, kulit dingin lembab, gelisah.
d. Derajat IV
Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur.
5. Manifestasi Klinis
Menurut Desmawati (2013), penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit kepala berat, akit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam-ruam demam berdarah yang mempunyai ciri-ciri merah terang, petekia, ia menyebar
13
hampir meliputi seluruh tubuh. Selain itu radang peut juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera berobat apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga passien dianggap afebril.
Sesudah masa tunas/inkubasi selama 3-15 hari orang yang tertular dapat mengalami /menderita penyakit ini dalam salah satu dai 4 bentuk berikut ini:
a. Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun. b. Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi salam 4-7 hari,
nyeri-nyeri pada tulang diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
c. DHF gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epitaksis/mimisan), mulut, dubur dan sebagainya.
d. Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DHF ditambah dengan syok persyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian. Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap penderita yang diduga menderita penyakit demam berdarah dalam tingkat yang manapun harus ssegera dibawa ke Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok/kematian.
14
Penyebab demam berdarah menunjukan demam yang tinggi, pendarahan, trombositopenia dan hemokonsentrasi. Sejumlah kasus kecil bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi.
a. Gejala utama demam berdarah menurut Desmawati (2013) yaitu:
1) Demam
Penyakit didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus menerus, berlangsung 2-7 hari, naik turun tidak mempan dengan obat antiseptic
a) Kadang suhu tubuh sangat tinggi sampai 40oC dan dapat terjadi kejang demam.
b) Saat fase demam mulai cenderung dan klien tampak seakan sembuh, tetapi juga sebagai awal kejadian syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.
c) Hari ke 3, 4 dan 5 adalah fase krisis yang harus di ceermati pada hari ke 6 dapat terjadi syok, kemungkinan terjadi perdarahan dan kadar trombosit sangat rendah.
2) Tanda-tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada DHF adalah: trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit serta koagulasi intravascular yang menyeluruh. Jenis perdarahan terbanyak adalah perdarahan kulit seperti uji tourniuquet positif, petechia, purpura ekimasis, dan perdarahan kunjungtiva. Petechia merupakan tanda khas perdarahan yang sering ditemukkan. Tanda ini dapat ditemukan pada epitaksis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis dan dapat perdarahan subkonjungtiva atau hematuria.
3) Hepatomegali
Ditemukan pada permulaan penyakit, bervariasi dan hanya sekedar dapat diraba sampai 2 cm di bawah lengkungan iga kanan. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan pada daerah tepi hati,
15
berhubungan dengan adanya perdarahan, pada sebagian kecil kasus dapat dijumpai ikterus.
4) Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang setelah demam turun. Demam turun di sertai dengan keringat, perubahan denyut nadi dan tekanan darah, ujung ektermitas teraba dingin, disertai kongesti kulit. Perubahan ini memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi sebagai akibat dari perembesan plasma beberapa saat setelah suhu turun antara lain hari ke 3-7 erdapat tanda kegaga;an sirkulasi.
a) Kulit teraba kasar dan lembab terutama di ujung jari dan kaki.
b) Sianosis di sekitar mulut. c) Klien menjadi gelisah.
d) Nadi cepat, lemah kecil sampai tak teraba.
e) Pada saat akan syok beberapa klien tampak sangat lemah, gelisah dan sakit perut.
Syok dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat, klien dapat meninggal dalam waktu 12-24 jam atau cepat sembuh setelah penggantian cairan. Apabila syok tidak dapat diatasi akan terjadi kompilkasi asidosis metabolik.
a) Perdarahan saluran cerna hebat.
b) Kejang dan koma (pada klien dengan perdarahan intraserebral).
b. Gejala tambahan pada DHF, menurut Desmawati (2013) yaitu: 1) Perdaarahan.
2) Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. 3) Peningkatan suhu secara tiba-tiba.
4) Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada supra orbital dan tetra orbital.
16
5) Nyeri hebat pada otot dan tulang bila tendon dan otot perut ditekan.
6) Mual dan muntah. 7) Batuk ringan.
8) Pada masa ditemukan pembengkakan, infeksi konjungtiva lakrimasi dan fotofobia dan otot-otot sekitar mata terasa pegal. 9) Eksontem muncul pada awal demam, terlihat pada muka dan
dada yang berlangsung pada beberapa jam emudian muncul kembali pada hari ke 3-6.
10) Bercak di tangan dan kaki lalu seluruh tubuh.
11) Pada hari ke 4 dan ke 5, nadi cepat kemudian normal/lebih lambat.
12) Brakardi menetap pada masa penyembuhan. 13) Lidah kotor dan konstipasi.
14) Hari ke 3 dan ke 5 muncul petheki, purpura, ecomosis, hematemesis, melena, dan eptaksis.
15) Hati membesar dan nyeri tekan (+) 16) Gejala syok.
17) Sianosis perifer terutama pada ujung hidung, jari-jari tangan dan kaki.
6. Komplikasi
a. Perdarahan luas
Infeksi virus dengue menyebaabkan terbentuknya antigen dan antibodi yang dapat mengaktivasi sistem kompelem. Juga menyebabkan agregasi, trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut menyebabkan perdarahan pada DHF. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari porlekatan kompleks antigen-antibodi pada membrane trombosit mengeluarkan ADT. Hal ini menyebabkan trombosit akan dihancurkan oleh RES, sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan
17
pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan koagulopati konsumtif, ditandai dengan peningkatan FDT, sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan. Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan ganggguan fungsi trombosit sehingga walaupun jumlah trombossit cukup banyak, namun tidak berfungsi dengan baik. Aktivitas koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi faktor Hageman maka sistem kinin teraktivasi yang memicu peningkatan permeabilitas kapiler yang mempercepat terjadinya syok.
Jadi perdarahan massif pada DHF diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan faktor pembekuan, kelainan fungsi trombosit dan kerusakan dinding endotel kapiler. Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) merupakan suatu perdarahan yang terjadi pada klien DHF terjadi karene trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen). Perdarahan hebat dapat terjadi terutama pembekuan intravaskular yang megaktifkan mekanisme fibrinolitik, akibatnya enzim proteolitik yaitu plasmin aktif. Sebagai subtrat untuk plasmin, fibrin dipecah menjadi beberapa polipetida fibrin split product (FDP). Pada keadaan fibrinolisis patologis terjadi pemecahan fibrinogen dan faktor beku lain, terutama faktor V, VII dan fibrin. FDP merupakan antikoagulasi yang menghambat reaksi trombin fibrinogen. Gangguan pembekuan dapat terjadi karena antikoagulasi yang beredar di daerah yang menyebabkan DIC.
b. Syok
Infeksi sekunder oleh virus dengue akan menyebabkan respon antibodi amnestic yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tertinggi antibodi IgG anti dengue. Di samping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang
18
bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Kemudian terbentuklah sistem komplemen, pelepasan C3aC5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskuler ke ruang extravaskuler. Pada klien dengan syok berat volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30% dan berlangsung selama 2-28 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar natrium dan terdapatnya cairan di dalam rongga srose (efusi pleura, ascites). Syok yang iidak ditanggulangi menyebabkan asidosis dan anoksia yang dapat berakhir fatal yaitu kematian.
Sindrom Syok Dengue (SSD) Seluruh kriteria DHF disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi:
1) Nadi yang cepat dan lemah. 2) Tekanan darah turun (≤ 20mmHg)
3) Hipotensi (dibandingkan standar sesuai umur). 4) Kulit dingin dan lembab.
5) Gelisah.
c. Ensefalopati dengue
Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan pendarahan, tetapi dapat juga terjadi pada DHF yang tidak disertai syok. Gangguan metabolic seperti hipoksemia, hiponatremia, atau perdarahan, dapat menjadi penyebab terjadinya ensefalopati. Melihat ensefalopati DHF bersifat sementara, maka kemungkinan dapat juga disebabkan oleh tromboisis pembuluh darah-otak, sementara sebagai akibat dari koagulasi intravaskular yang menyeluruh. Dilaporkan bahwa virus dengue dapat menembus sawar darah-otak. Dikatakan pula bahwa keadaan ensefalopati berhubungan dengan kegagalan hati akut. Kerusakan hati/pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit, bervariasi dari hanya sekedar dapat
19
diraba (just palpable) sampai 2-4 cm dibawah lengkung iga kanan, derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit, untuk menemukan pembesaran hati, harus dilakukan perabaan setiap hari. Nyeri tekan di daerah hati sering kali ditemukan dan pada sebagian kecil kasus dapat disertai ikterus. Nyeri tekan di daerah hati tampak jelas pada anak besar dan ini berhubungan dengan adanya perdarahan.
Pada ensefalopati cenderung terjadi udem otak dan alkalosis, maka bila syok telah teratasi cairan diganti dengan cairan yang tidak mengandung HCO3- dan jumlah cairan harus segera dikurangi. d. Kelainan Ginjal
Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal, sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi dengan baik. Dapat dijumpai sindrom uremik hemolitik walaupun jarang, untuk mencegah gagal ginjal maka setelah syok diobati dengan menggantikan volume intravaskular, penting diperhatikan apakah benar syok telah teratasi dengan baik. Diuresis merupakan parameter yang penting dan mudah dikerjakan untuk mengetahui apakah syok telah teratasi. Diuresis diusahakan >1ml/kg berat badan/jam. Oleh karena bila syok belum teratasi dengan baik, sedangkan volume cairan telah dikurangi dapat terjadi syok berulang. Pada keadaan syok berat sering kali dijumpai acute tubular necrosis, ditandai penurunan jumlah urin dan peningkatan kadar ureum dan kreatinin.
e. Oedema Paru
Oedema paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat pemberian cairan yang berlebihan. Pemberian cairan pada hari sakit ketiga sampai kelima sesuai panduan yang diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan udem paru oleh karena perembesan plasma masih terjadi. Tetapi pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ruang ekstravaskuler, apabila cairan diberikan berlebih (kesalahan terjadi bila hanya melihat penurunan
20
hemoglobin dan hematokrit tanpa memperhatikan hari sakit), klien akan mengalami distress pernapasan, disertai sembab pada kelopak mata dan ditunjang dengan gambaran udem paru pada foto rontgen dada.
Komplikasi demam berdarah biasanya berasosiasi dengan semakin beratnya bentuk demam berdarah yang dialami, perdarahan dan shock syndrome. Komplikasi paling serius walaupun jarang terjadi adalah sebagai berikut:
1) Dehidrasi 2) Perdarahan
3) Jumlah platlet yang rendah 4) Bradikardi
Efusi Pleura disebabkan oleh infeksi virus dengue yang bias memecahkan membrane kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan yang kemudian masuk ke dalam rongga pleura secara cepat dan akumulasi cairan ini disebut efusi pleura. f. Penurunan Kesadaran
Saat terjadi infeksi virus dengue kemudian mengalami replikasi maka terbentuk kompleks virus antibody yang menyebabkan efek salah satunya permeabilitas kapiler yang mengikat sehingga terjadi penurunan transportasi O2 ke otak, sehingga terjadi penurunan kesadaran.
7. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
a. Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue:
1) Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang-kejang
2) Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif/negtif, kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan PCV meningkat .
21 4) Panas disertai renjatan
b. Penatalaksanaa sebelum atau tanpa renjatan: 1) Grade I dan II
a) Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75ml/KgBB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml/KgBB/hari, untuk anak dengan BB < 10 kg bersama-sama diberikan minuman oralit, air buah atau susu secukupnya, untuk kasus yang menujukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin.
Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesui dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut:
(1) 100 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25kg (2) 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg (3) 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg (4) 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41- 50 kg (5) Obat-obatan lain: antibiotik apabila ada infeksi lain,
antipiretik untuk anti panas, darah 15cc/kgBB/hari perdarahan hebat.
2) Grade III
a) Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam
Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/menit dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1 jam. Jika nadi dan tensi stabil dilanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi waktu yang dipkai untuk mengatasi renjatan). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jam diperhitungkan sebagai berikut:
22
(1) 100 mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 kg (2) 75 mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB 26-30 kg (3) 60 mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 kg (4) 50 mL/KgBB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 kg b) Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL
20mL/KgBB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10mL/KgBB/1 jam dan dapat diulang maksimalkan 30mL/kgBB/dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membaik dilanjutkan cairan RL sebanyak kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
c) Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10mL/KgBB/1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 mL/KgBB/1 jam dan dapat di ulang maksimal 30 mL/KgBB dalam kurun waktu 24 jam.
8. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium
1) Darah:
a) Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia) 100.00mm atau kurang.
b) Hematokrit meningkat lebih dari 20%, merupakan indikator akan timbulnya rejatan.
c) Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.
d) Lekosit menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga. e) Masa perdarahan memanjang.
23
f) Protein rendah (hipoproteinemia). g) Natrium rendah (hiponatremia). h) SGOT/SGPT bisa meningkat.
2) Pemeriksaan Dengue Blood (metode Rapid)
Fungsi pemeriksaan dengueblood untuk melihat anti body Ig G dan Ig M. Pemeriksaan Ig G itu untuk melihat infeksi pertama kalinya pasien terkena DHF. Pemeriksaan IgM itu untuk melihat infeksi kedua kalinya pasien terkena DHF. Nilai normal: (-) negatif.
3) Hasil pemeriksaan kimia darah: a) Hipoproteinemia
b) Hiponatremia
c) Hipoktoremia pada hari kedua dan ketiga terjadi leukopenia, nekropenia, aneosinofilia,
d) Peningkatan limfosit, monosit dan basofil.
4) Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis metabolik:
a) PCO2 < 35-40 mmHg.
b) HCO3 rendah Base excess (-).
5) Urine: Kadar albumin urine positif (albuminuria). b. Pemeriksaan NS 1
Fungsi pemeriksaan NS 1 untuk melihat antigen. Nilai normal: (-) negatif
c. Tes Inhibisi Hemaglutinasi (HI)
Tes Inhibisi Hemaglutinasi adalah pemeriksaan yang sederhana, sensatif dan dapat ulang serta mempunyai keuntungan karena dapat menggunakan reagen yang disiapkan secara local. Kerugiannya adalah bahwa sampel sera harus melalui pra-penanganan dahulu dengan aseton atau kolin, untuk menghilangkan inhibitor non spesifik hemaglutinasi dan kemudian diserap dengan sel-sel gender atau sel-sel darah meerah manusia O, untuk menghilangkan agglutinin non-spesifik. Lebih jauh lagi penggunan optimal tes HI
24
memerlukan sera berpasangan. Sera berpasangan paling mudah didaptakan saat penerimaan di rumah sakit (akut) dan saat pemulangan (konvalen): bila interval antara serum pertama dan kedua kurang dari 7 hari, tes HI mungkin tidak membantu dalam diagnosis infeksi primer. Tes ini juga biasanya gagal untuk membedakan antara infeksi dengan flavivirus yang sangat berkaitan, misalnya antara virus dengue dan ensefalitis jepang, atau virus dengue dan west nile.
Virus dengue mengaglunitasi eritrosit gander dan eritrosit dari spesies tertentu lainnya juga sel-sel darah manusia golongan O yang diberikan tripsin. Tes HI didasarkan pada kemampuan antibody virus dengue untuk menghambat aglutinasi ini. Tes ini menggambarkan pada kebanyakan virology manual. Respon terhadap infeksi primer ditandai oleh evolasi lambat antibodi hemaglutinasi-inhibisi. Karena esei HI, tidak dibedakan diantara isotope imunoglobilin, identifikasi respons antibodi primer harus disimpulkan dari antibody dengan kadar rendah dengan atau tidak terdeteksi pada serum fase akut yang diambil sebelum hari kelima, juga dari kadar titer antibody yang timbul. Respons sekuder antibody terhadap dengue ditandai oleh evolusi cepat antibody hemaglutinasi-inhibisi. Semua antibody adalah reaktif-flavirus luas sehingga diagnosis spesifik tidak memungkinankan hanya berdasarkan pada tes ini saja. Pada tes positif terhadap peningkatan titer 4 kali lipat atau lebih antara sera akut dan konvalen, dengan titer puncak selalu melebihi 1: 1280 pada respons sekunder dan secara umum turun dibawah rasio ini pada respons primer.
d. Tes Netralisasi
Meskipun beberapa tes netralisasi telah diuraikan untuk virus dengue, metode yang paling sensitive dan spesifik adalah pemelarutan serum, virus konstan, tes reduksi-plaque. Setelah infeksi dengue primer, antibody penetralisasi yang secara relative
25
spesifik terdeteksi pada konvalen awal. Setelah infeksi sekunder, antibody penetralisasi titer tinggi diproduksi terhadap sedikitnya dua dan biasanya keempat serotype virus dengue, serta terhadap flavirus lainnya. Pada banyak kombinasi infeksi sekuensial bila specimen dengan tepat waktu diuji, titer antibody penetralisasi yang paling tinggi pada serum konvalesen diarahkan terhadap virus pada pasien yang sebelumnya terinfeksi (biakan paling baru). e. Imunoesei dot-blot
Teknologi imonoesei dot blot adalah teknik yang relative baru dan reagen serta procedur tes terus berkembang. Sedikitnya satu immunoesei dot-blot untuk antibody dengue tersedia secara komersial, immonoesei dot-blot lainnya kemungkinan mamasuki pasaran.
f. Tes Fiksasi Komplomen
Dapat juga digunakan pada diagnosis serologis, meskipun tes ini adalah esei serologis paling kurang sensitive dan esei lain secara umum telah menggantikan metode ini. Antibody pemiksasi komplomen secara khas timbul belakangan dibanding antibody IgM atau HI dan biasanya lebih spesifik, karenanya tes ini dapat bermanfaat dalam memastikan infeksi dengue pada pasien dengan sample serum berpasangan yang diambil pada akhir infeksi. Peningkatan empat kali lipat antibody pemfiksasi-komplomen, dimana interval antara serum akut dan konvalsen kurang dari 2 minggu, memperkuat pola serorespons sekunder.
g. Pemeriksaan Rumple Leed Tes (tourniquet test)
Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trambosit.
26 h. Rontgen Toraks
Fungsi rontgen torak untuk melihat efusi pleura.
C. Konsep Tumbuh Kembang
1. Konsep tumbuh kembang pada anak usia praseolah 4-6 tahun a. Pertumbuhan pada anak usia prasekolah (4-6 tahun)
Periode prasekolah adalah periode antara usia 4-6 tahun. Ini adalah waktu kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan. Anak prasekolah yang sehat tergolong ramping dan cekatan dengan pstur tubuh tegak. Perkembangan mayor terjadi di area koordinasi motorik halus. Perkembangan psikososial berfokus pada pencapaian inisiatif. Pikiran prakonsepsi dan intuitif mendominasi perkembangan kognitif. Anak prasekolah adalah pelajar yang penuh rasa ingin tahu dan menyerap konsep baru seperti spons menyerap air.
1) Motorik kasar: anak praseklah tangkas keika berdiri, berjalan, berlari, dan melompat. Ia dapat naik dan turun tangga serta berjalan ke depan dan ke belakang dengan mudah. Berdiri pada ujung jari atau pada satu kaki tetap memerlukan konsentrasi ekstra. Anak prasekolah tampak berada dalam gerakan konstan. Ia juga menggunakan tubuh untuk memahami konsep yang baru (seperti menggunakan lengan dalam gerakan “merangkak” ketika mendeskripsikan roda kereta bekerja).
2) Motorik halus: anak usia 3 tahun dapat menggerakan seiap jari tangannya secara bebas dan mampu memegang sendok-garpu dan krayon dengan cara seperti orang dewasa, dengan ibu jari pada satu sisi dan jari lain di sisi yang lain. Ia juga dapat menulis dengan bebas, menyalin sebuah lingkaran, menjiplak sebuah kotak, dan memberi makan dirinya sendiri tanpa banyak menumpahkannya. Keterampilan ini menjadi halus dalam 2 tahun selanjutnya dan pada usia 5 tahun, anak dapat menulis
27
angka, memotong dengan gunting secara lebih akurat, serta mengikat tali sepatu.
b. Perkembangan pada usia prasekolah (4-6 tahun), meliputi: 1) Perkembangan Psikososial
Menurut Erik Erikson, tugas psikososial masa prasekolah adalah membina rasa inisiaitif vesus bersalah. Anak prasekolah adalah seorang pelajar yang ingin tahu/penasaran, sangat antusias untuk mempelajari hal-hal baru. Anak prasekolah merasa sensasi pencapaian ketika berhasil melakukan aktivitas, dan perasaan bangga dalam pencapaian seseorang membantu anak untuk menggunakan inisiatif. Akan tetapi, ketika anak memperluas dirinya lebih lanjut dari kemampuannya saat ini, ia dapat merasakan rasa bersalah. Perkembangan superego atau kesadaran telah sempurna selama periode prasekolah, dan ini adalah dasar untuk perkembangan moral (memahami benar dan salah).
2) Perkembangan psikoseksual
Usia prasekolah ini termasuk fase falik, genetalia menjadi area yang menarik dan are tubuh yang sensitif. Disini mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin perempuan dan jenis kelamin laki-laki, dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin, fase ini anak sering meniru ibu dan ayahnya. Misalnya dengan pakaian ayah/ibunya secara psikologis pada fase ini mulai berkembang superego, yaitu anak mlai berkurang sifat egosentrisnya.
3) Perkembangan kognitif
Pemikiran praoperasional mendominasi selama tahaap ini dan berdasarkan pada pemahaman dunia yang berpusat pada diri sendiri. Pada fase prakonseptual dari pemikiran praoperasional, anak tetap bersifat egosentrik dan mampu mendekati masalah hanya dari satu sudut pandang. Anak prasekolah muda dapat
28
memahami konsep perhitungan dan mulai terlibat dalam permainan fantasi (Papalia & Felman, 2011).
Pemikiran magis adalah bagian normal dalam perkembangan prasekolah. Anak prasekolah yakin bahwa pemikiran ini memiliki kekuatan hebat. Fantasi yang dialami melalui pemikiran magis memungkinkan anak prasekolah membuat ruangan dalam dunianya untukk yang aktual ataupun nyata. Melalui pemainan berppura-pura dan bepikir magis, anak praseklah memuaskan rasa ungun tahu mereka tentang perbedaan dalam dunia di sekitar mereka (Papalia & Felman, 2011).
4) Perkembangan moral dan spiritual
Anak prasekolah dapat memahami konsep benar dan salah dan mengembangkan kesadaran. Suara dari dalam diri yang memberi peringatan atau ancaman berkembang di masa prasekolah. Anak prasekolah melihat moralitas sebagai sesuatu yang berada di luar dari diri mereka, mereka menyerah pada kekuasaan orang dewasa. Standar moral anak adalah standar moral orang tua mereka dan orang dewasa lain yang memengaruhi mereka, tidak selalu menjadi standar moral diri mereka sendiri. Anak prasekolah mematuhi standar tersebut untuk memndapat penghargaan atau menghindari hukuman. Karena anak prasekolah menghadapi tugas psikososial berupa inisiatif versus bersalah, anak umumnya mengalami rasa bersalah ketika sesuatu berjalan secara tidak benar. Anak mungkin memiliki keyakinan kuat bahwa jika seseorang sakit atau meninggal, ia mungkin bersalah dan sakit atau kematian berua hukuman (Ford, 2007).
Selama fase praoperasional dalam perkembangan kognitif, konsep kepercayaan anak prasekolah adalah bersifat intuitif dan
29
proyektif (Ford, 2007). Anak prasekolah memiliki pengalaman hidup terbatas sehingga mereka dapat memproyeksikan perasaan kepada orang atau situasi yang baru. Mereka dapat menggunakan proyeksi iniuntuk membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Anak prasekolah dapat memproyeksikan perasaan orang tua atau pengasuh mereka atau mengkarakteristikkan “Tuhan”: jika ibu marah, Tuhan juga kemungkinan akan marah.
Keyakinan agama keluarga dapat memengaruhi diet anak, gaya disiplin yang digunakan orang tua, dan bahkan bagaimana orang tua memandang anak mereka. Mengetahui tentang praktik berdoa atau meditasi keluarga akan sangat membantu, bagi perawat pediatrik, yang dapat membantu melanjutkan ritual ketika anak sakit atau dirawat di rumah sakit (Ford, 2007).
D. Konsep hospitalisasi
Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis yang utama tampak pada anak. Anak yang dirawat di rumah sakit mudah mengalami krisis, sebab: (1) anak mengalami perubahan, baik erhadap status kesahatan maupun lingkungannya dari kebiasaan sehari-hari; (2) anak mempunyai sejumlah keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah kejadian kejadian yang bersifat menekan. Reaksi anak dalam mengatasi krisis tersebut di pengaruhi oleh ingkat perkembangan usia, pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan di rawat, sistem pendukung yang tersedia, serta keterampilan koping dalam menangani stres.
1. Stresor pada anak yang dirawat pada ank yang dirawar di rumah sakit. a. Cemas Disebabkan Perpisahan
Sebagian besar stress yang terjadi pada bayi usia pertengahan sampai anak periode pra sekolah khususnya anaka yang berumur 6-30 bulan adalah cemas karena perpisahan (Nursalam, Susilaningrum, Utami, 2005).
30
Kanak-kanak (toddler) belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan pengertian terhadap realita terbatas. Hubungan anak dengan ibu sangat dekat sehingga perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan terhadap orang yang terdekat bagi diri anak. Selain itu, lingkungan yang belum dikenal akan mengakibatkan perasaan tidak aman dan rasa cemas. Respons perilaku anak akibat perpisahan dibagi dalam tiga tahap berikut.
1) Tahap protes (phase of protest)
Pada tahap ini dimanifestasikan dengan menangis kuat dan menjerit dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif, misalnya; menendang, menggigit, memukul, mencubit, mencoba untuk membuatt orang tuanya tetap tinggal dan menolak perhatian orang lain. Secara verbal anak menyerang dengan rasa marah, misalnya mengatakan “pergi”. Perilaku tersebutdapat berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari. Perilaku protes tersebut seperti menangis akan terus berlanjut dan berhenti hanya bila anak merasa kelelahan. Pendekatan dengan orang asing yang tergesa-gesa akan meningkatkan protes.
2) Tahap putus asa (phase of despair)
Pada tahap ini anak tampak tegang, menangi berkurang, tidak aktif, kurag minnat untuk bermain, tidak nafsu makan, menarik diri, tidak mau berkomunikasi, sedih, apatis dan regresi (misalnya, mengompol atau menghisap jari). Paada tahap ini kondisi anak mengkhawatirkan karena anak menolak untuk makan, minum, atau bergerak.
3) Tahap menolak
Pada tahap ini secara samar-samar anak menerima perpisahan, mulai tertarik dengan yang ada di sekitarnya, dan membina hubungan dangkal dengan orang lain. Anak mulai kelihatan
31
gembira. Tahapan ini biasanya terjadi setelah perpisahan yang lama dengan orang tua.
b. Kehilangan kontrol
Kanak-kanak berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan otonominya. Hal ini terlihat jelas dalam perilaku meereka dalam hal kemamuan motorik, bermain, melakukan hubungan interpersonal, melakukan aktivitas hidup sehari-hari (activity daily living/ADL), dan komunikasi. Kanak-kanak telah mampu menunjukan kestabilan dalam mengonrol dirinya dengan memepertahankan kegiatan-kegiatan rutin tersebut. Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak akan kehilangan kebebasan pandangan egosentrisnya dalam mengembangkan otonominya. Hal ini akan menimbulkan regresi. Ketergantungan merupakan karakteristik dari peran sakit. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan cara negatif, anak akan menjadi cepat marah dan agresif. Jika terjadi ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronis), maka anak akan kehilangan otonominya.
2. Reaksi Keluarga terhadap Anak yang Sakit dan Dirawat di Rumah Sakit
a. Reaksi orang tua
Reaksi orang tua terhadap anaknya yang sakit dan dirawat di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai mamcam faktor berikut 1) Tingkat keseriusan penyakit anak
2) Pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit.
3) Prosedur pengobatan.
4) Sistem pendukung yang tersedia. 5) Kekuatan ego individu.
6) Kemampuan dalam penggunaan koping. 7) Dukungan dari keluarga.
32 8) Kebudayaan dan kepercayaan. 9) Komunikasi dalam keluarga.
a) Marah atau merasa bersalah atau keduanya. Setelah mengetahui anaknya sakit, maka reaksi orang tua adalah marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa tidak merawat anaknya dengan benar. Mereka mengingat-ingat kembali tentang hal-hal yang telah mereka lakukan dan kemungkinan dapat mencegah anaknya agar tidak menjadi sakit atau mengingat kembali tentang hal-hal yang menyebabkan anaknya sakit. Jika anaknya dirawat di rumah saki, orang tua menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menolong mengurangi rasa sakit yang di alami poeh anaknya.
b) Takut, cemas dan frustasi. Ketakutan dan kecemasan di hubungkan dengan tingkat keseriusan penyakit dan jenis prosedur medis. Frustasi dihubungkan dengan kurangnya informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiar dengan peraturan rumah sakit.
c) Depresi biasanya depresi ini terjadi setelah masa krisi anak berlalu. Ibu sering mengeluh merasa lelah, beik fisik maupun mental. Orang tua mulai erasa khawatir terhdap anak-anak mereka yang lain yang dirawat oleh anggota keluarga yang lain, teman atau tetangga. Hal-hal lain yang membuat orang tua cemas dan depresi adalah mengenai kesehatan anaknya dimasa-masa yang akan datang, misalnya, efek dari prosedur pengobatan dan biaya pengobatan.
b. Reaksi saudara (sibling)
Reaksi saudara terhadap anak yang sakit dan dirawat di rumah saki adalah kesepian, ketakutan, khawatir, marah, cemburu, benci, dan merasa bersalah. Orang tua sering kali mencurahkan perhatiannya lebih besar terhadapanak yang skait dibandingkat dengan anak
33
yang sehat. Hal ini akan menimbulkan perasaan cemburu pada anak yang sehat dan anak mmerasa ditolak.
c. Penurunan peran anggota keluarga
Dampak dari perpisahan dalam peran keluarga adalah kehilangan peran orang tua, saudara, anak cucu. Perhatian orang tua hanya tertuju pada anak yang sakit. Saudaranya yang lain menggagap hal tersebut tidak adil. Respons tersebut biasanya tidak disadari dan idak disengaja. Orang tua sering menyalahkan saudara sebagai perilaku antisosial. Sakit akan membuat anak kehlangan kebersamaan mereka dengan anggota keluarga yang lain atau teman sekelompok.
E. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan DHF 1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Tujuan pengkjian adalah untuk mengumpulkan informasi dan membuat data dasar klien. Data yang diperoleh sangat berhuna untuk tahap selanjutnya dalam proses keperawatan.
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama oang tua, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua.
b. Keluhan utama
Alasan atau keluhan yang menojol pada klien DHF untuk datang ke rumah sakit adalah panas tinggi anak lemah.
c. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak disertai menggigil, saat demam kesadaran komposmentis. Panas menurun terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, sementara anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksia, doare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya
34
manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemesis.
d. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada Dengue Haemoragic Fever, anak bisa mengalami serangan ulangan Dengue haemoragic Fever dengan tipe virus yang lain.
e. Riwayat imunisasi
Bila anak mempunyai kekebalan yang baik, kemungkinan timbul kompilkasi dapat di hindarkan.
f. Riwayat gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan stauts gizi baik, maupun buruk dapat beresiko apabila terdapat faktor predisposisinya. Pada anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila konndisi ini berlanjut, dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat anak dapat mengalami penurunan berat badan, sehingga status gizinya menjadi kurang.
g. Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya, lingkungan yang kurang kebersihannya (air yang menggenang), dan gantungan baju dikamar.
h. Pola kebiasaan.
d. Nutrisi dan metabolisme, yaitu frekuensi,jeni, pantangan, nafsu makan berkurang/menurun.
e. Eliminasi alvi (buang air besar) kadang-kadang anak mengalami diare/konstipasi. DHF pada grade III-IV bisa terjadi melena.
f. Eliminasi urin (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit/banyak, sakt/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
g. Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena sakit/nyeri otot dan persendian, sehingga kuantitas dan kualitas tidur, serta istirahat kurang.
35
h. Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama tempat sarangnya nyamuk
aedes aegypti.
i. Tanggapan bila ada keluarga yang sakit dan upaya untuk menjaga kesehatan.
i. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambur sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak sebagai berikut.
j. Grade I: kesadaran composmentis; keadaan umum lemah; tanda-tanda vital; nadi lemah.
k. Grade II: keasadaran composmentis; keadaan umum lemah; adanya perdarahan spontan petekia; perdarahan gusi dan telinga; nadi lemah, kecil, tidak teratur,
l. Grade III: kesadaran apatis; somnolen; keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, tidak teratur; tensi menurun.
m. Grade IV: kesadaran koma; nadi tidak teraba; tensi tidak teratur; pernapasan tidak teratur; ektermitas dingin; berkeringat; dan kulit nampak biru.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Desmawati (2013), Suriadi (2010), Nanda (2009), menyatakan diagnosa keperawatan DHF yaitu:
a. Hipertermi berhubungsn proses infeksi virus dengue.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilias dinding plasma.
c. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan
trombositopenia.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
e. Takut pada anak berhubungan dengan dampak hospitalisasi (procedure tindakan)
36
f. Cemas pada orang tua berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk.
3. Intervensi
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan: suhu tubuh normal
Kriteria hasil: suhu tubuh antara 36-37oC Intervensi:
1) Kaji saat timbulnya demam.
2) Observasi tanda-tanda vital, seperti suhu, nadi, tensi, pernapasan setiap 3 jam atau lebih sering.
3) Berikan kompres hangat di daerah aksila (ketiak).
4) Anjurkan klien untuk minum 1500-2000cc/har (sesuai toleransi).
5) Kolaborasikan pemberian obat dan cairan intravena sesuai program.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
Tujuan: Tidak terjadi defisit volume cairan.
Kriteria hasil: Input dan output balance, akral hangat, capilarry refil kurang dari 2 detik.
Intervensi:
1) Observasi capilarry refill. 2) Monitor intake dan output
3) Anjurkan klien untuk minum 1500-2000cc/hari (sesuai toleransi).
4) Kolaborasikan pemberian cairan intravena.
c. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan trombositopenia. Tujuan: Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut.
Kriteria hasil: Pulsasi kuat, tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, tombosit meningkat.
37
1) Monitor tanda-tanda penurunan trombosit disertai dengan tanda klinis.
2) Monitor jumlah trombosit setiap hari.
3) Berikan penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada orang tua klien.
4) Anjurkan klien banyak istirahat.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.
Tujuan: tidak terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Kriteria hasil: tidak ada penurunan berat badan.
Intervensi:
1) Kaji keluhan mual dan muntah yang dialami klien.
2) Berikan makanan yang mudah di telan, seperti bubur, tim, dan dihidangkan saat masih hangat.
3) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. 4) Catat jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh klien setiap
hari.
e. Takut pada anak berhubunga dengan dampak hospitalisasi (procedure tindakan).
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di rumah sakit diharapkan anak tidak merasa takut pada saat hospitalisasi. Krtiteria hasil: Anak mau berkomunikasi dengan perawat, anak kooperatif saat dilakukan procedure tindakan, merasa nyaman saat hospitalisasi.
Intervensi:
1) Bina hubungan saling percaya. 2) Lakukan komunikasi terapeutik.
3) Berikan penjelasan sesuai usia anak tentang prosedur yang akan dilihat.
4) Tanyakan pada anak dan orangtua tentang aktivitas pengalihan yang disukai.
38
f. Cemas pada orang tua berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk.
Tujuan: Setelah diakukan tindakan keperawatan selama di rumah sakit diharapkan kecemasan orang tua dapat teratasi.
Kriteria hasil: Orang tuat tampak rileks, orang tua dapat mengetahui tentang (pengertian, tanda dan gejala, penyebab, pencegahan dan cara perawatan)
Intervensi:
1) Kaji tingkat kecemasan orang tua.
2) Kaji tingkat pengetahuan orang tua tentang penyakit klien. 3) Identifikasi koping yang biasa digunakan dan seberapa besar
keberhasilannya dalam mengatasi keadaan. 4) Memenuhi kebutuhan dasar anak.
4. Implementasi keperawatan
Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan keluarga ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Berdasarkan rencana keperawatan yang dibuat, maka pelaksanaan dari diagnosa masing-masing sebagai berikut:
a. Mempertahankan suhu tubuh normal.
b. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan. c. Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. d. Memberikan kebutuhan nutrisi yang adekuat. e. Memberikan rasa nyaman pada orang tua klien.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang di buat pada tahap perencanaan.
39 a. Suhu tubuh normal.
b. Kebutuhan cairan terpenuhi. c. Tidak terjadi perdarahan. d. Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
40 BAB III TINJAUAN KASUS
Dalam BAB ini, penulis melaporkan kasus dengan Demam Berdarah Dengue pada klien An. F yang dirawat di Paviliun Badar Rumah Sakit Islam Jakarta. Dalam kasus ini, penulis melaporkan perawatan selama 4 hari terhitung mulai tanggal 11-14 Mei 2016, untuk melengkapi data-data ini. Penulis melakukan wawancara dengan klien dan keluarga, perawat yang bertugas, data-data dan catatan medis serta catatan perawat.
Laporan ini sesuai dengan tahap proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan tahap evaluasi.
A. Pengkajian Keperawatan 1. Data dasar (terlampir) 2. Resume
An. F berusia 6 tahun berjenis kelamin laki-laki datang ke UGD Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih bersama orangtuanya pada tanggal 11 Mei 2017 pukul 12.05 WIB. Ibu mengatakan anak demam sudah 4 hari, suhu tubuh mencapai 41oC, makan hanya 3 sendok, minum hanya 5 gelas, hari ini belum BAB, muntah 4 kali sekitar setengah gelas, ada bintik-bintik merah di tangan. Saat pengkajian diperoleh data: kesadaran composmentis, nadi 100x/menit, pernapasan 18x/menit, suhu 37,8oC, konjungtiva ananemis, mukosa bibir dan mulut kering, capilarry refill < 2 detik, akral teraba hangat, hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 11 Mei 2017 pukul 12.23 WIB didapatkan data: Hemoglobin 14,7 g/dL (10,8-15,6), leukosit 7,32 103/µL (5,00-14,50 103/µL), Hematokrit 41% (33-45%), Trombosit 97 103/µL (181-521 103/µL). Masalah keperawatan pada An. F yaitu resiko defisit volume cairan, sudah dilakukan tindakan keperawatan yaitu diberikan terapi cairan Assering 16 Tpm dan therapy injeksi Ondansentron 20mg.