GAMBARAN PELAKSANAAN PEMBERIAN IMUNISASI DASAR DI KELURAHAN KASSI KASSI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR
TAHUN 2016 Oleh: Amriani
Akademi Kebidanan Yapma Makassar ABSTRAK:
Di seluruh dunia jumlah anak usia di bawah satu tahun yang tidak mendapatkan vaksin DPT 3 sebesar 21,8 juta di mana 70% tinggal di sepuluh negara termasuk Indonesia. Cakupan imunisasi DPT-HB 3 di dunia sebesar 84% belum memenuhi target sebesar 90% (WHO, 2014). Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar .
Penelitian menggunakan penelitian deskriptif jenis survey dan evaluasi dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar lengkap, Jumlah sampel sebanyak
Hasil penelitian menjukkan bahwa : Pemberian imunisasi dasar jenis Hepatitis B terdapat 50 orang (100,0%) t. Pemberian imunisasi dasar jenis BCG terdapat 50 orang (100,0%, Pemberian imunisasi dasar jenis Polio yang diberikan 4X yaitu polio I, II, III dan IV terdapat 50 orang (100,0%). Pemberian imunisasi dasar jenis DPT yang diberikan 3X yaitu polio I, II dan III terdapat 50 orang (100,0%)
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada umumnya ibu bayi telah mengimunisasi bayinya dengan lengkap. Di harapkan pada ibu agar memperhatikan jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayinya.
Kata kunci : Imunisasi, ibu hamil PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imunisasi adalah salah satu jenis usaha memberikan kekebalan kepada anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh guna membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin adalah bahan yang digunakan untuk merangsang pembentukan zat anti, yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan (misalnya, vaksin Bacille C almette-G uerin (BCG), Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT) dan Campak) dan melalui mulut (contohnya vaksin polio) (Mahayu, 2014)
Imunisasi merupakan anti genetic yang didalamnya terdapat virus & bakteri
yang sudah dilemahkan untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh seseorang untuk jangka waktu yang cukup panjang. Berbagai penyakit infeksi berat yang dapat menyebabkan kematian dan kecatatan dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. (Idai, 2015)
Penyelenggaraan imunisasi di Indonesia dimulai sejak tahun 1956 dan diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada tahun 1977 dalam rangka pencegahan penularan terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Program imunisasi di Indonesia diatur oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang bertanggung jawab dalam menetapkan sasaran, jumlah penerima
imunisasi, kelompok umur serta tata cara memberikan vaksin pada sasaran serta ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 42/Menkes/SK/VI/2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, menyebutkan bahwa imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan (Kemenkes RI, 2013).
Di seluruh dunia jumlah anak usia di bawah satu tahun yang tidak mendapatkan vaksin DPT 3 sebesar 21,8 juta di mana 70% tinggal di sepuluh negara termasuk Indonesia. Cakupan imunisasi DPT-HB 3 di dunia sebesar 84% belum memenuhi target sebesar 90% (WHO, 2014).
Menurut ASEAN (Asosiation South Of Asian Nation) strategic framework on health and development tahun 2010 – 2015,ada empat area yang menjadi focus dari ASEAN Stategic ini, yaitu pertama keamanan pangan, kedua akses terhadap fasilitas kesehatan masyarakat yang mencakup farmasi,obat tradisional, kesehatan ibu dan anak, ketiga gaya hidup sehat dengan penekanan pada pro aktif, peningkatan ukuran kesehatan terhadap penyakit tidak menular dan kesehatan mental, keempat pencegahan terhadap penyakit menular dan kesiap siaga terhadap pandemik penyakit khususnya dalam kolaborasi yang lebih luas di sector kesehatan termasuk tindakan pencegahan melalui imunisasi. (Headine,2012)
Berdasarkan hasil Survei Demokrasi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian bayi (AKB) 34/1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita (AKBA) 44/1000 kelahiran hidup. Hasil survei Riskesdas tahun 2013 didapatkan data cakupan imunisasi HB-0 (79,1%), BCG (87,6%), DPT-HB-3 (75,6%), Polio-4 (77,0%), dan imunisasi campak
(82,1%). Survei ini dilakukan pada anak usia 12-23 bulan (Dian NH, dkk, 2016. Halaman : 2)
Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) menyebabkan 1,5 juta kematian anak. Hal ini dapat dicegah dengan memberi imunisasi dasar lengkap pada anak. Terdapat 2-3 juta kematian anak di dunia setiap tahunnya dapat dicegah dengan pemberian imunisasi, namun sebanyak 22,6 juta anak di seluruh dunia tidak terjangkau imunisasi rutin. Di Indonesia lebih dari 13% anak usia 0-11 bulan belum mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap (Depkes RI, 2014)
Berdasarkan data terakhir WHO sampai saat ini, angka kematian balita akibat penyakit infeksi yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi masih terbilang tinggi. Terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun, yang antara lain disebabkan oleh batuk rejan 294.000 (20%), tetanus 198.000 (14%) dan campak 540.000 (38%). (Majalah Farmacia Edisi September 2012 , Halaman: 54).
Di Indonesia sendiri, UNICEF mencatat sekitar 30.000-40.000 anak setiap tahun menderita serangan campak. Berdasarkan data yang diperoleh, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang termasuk angka tinggi pada kasus anak tidak diimunisasi, yakni sekitar 1,3 juta anak. (Majalah Farmacia Edisi September 2012 , Halaman: 54)
Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 32,1% bayi di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap dan 8,7% bayi tidak melakukan imunisasi, sedangkan di Jawa Timur bayi yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sebesar 21,7% dan bayi yang tidak melakukan imunisasi sebesar 3,7%. Alasan anak tidak diberikan imunisasi antara lain takut anak panas atau anak sering sakit setelah diimunisasi, keluarga tidak memperbolehkan diberi imunisasi, tempat imunisasi jauh (tidak terjangkau), kesibukan pekerjaan orang tua dan imunisasi tidak
memberikan kekebalan kepada anak 100% tidak terserang suatu penyakit (Balitbangkes, 2013).
Setiap bayi diharapkan mendapat lima imunisasi dasar secara lengkap. Cakupan imunisasi dasar lengkap adalah persentase bayi usia 0-11 bulan yang sudah mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap sesuai jumlah dan waktu pemberian imunisasi dasar. Terdapat perbedaan cakupan imunisasi dasar lengkap berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013 dan Riskesdas 2013 di mana cakupan imunisasi dasar lengkap menurut Profil Kesehatan Indonesia lebih tinggi dibandingkan cakupan imunisasi dasar lengkap menurut Riskesdas 2013. Cakupan bayi yang mendapat imunisasi dasar lengkap menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013 sebesar 90% sedangkan cakupan bayi yang mendapat imunisasi dasar lengkap di Jawa Timur pada tahun 2013 sebesar 98,62%, angka ini sudah memenuhi target Renstra pada tahun 2013 sebesar 88% (Depkes RI, 2014).
Provinsi Sulawesi Selatan sampai tahun 2014 memiliki cakupan imunisasi dasar lengkap (91%). Indonesia telah berhasil memvalidasi status elimimasi tetanus maternal dan neonatus di 3 regional yaitu : Jawa-Bali, Sumatera, dan Sulawesi-Kalimantan-Nusa Tenggara (Depkes RI, 2014)
Provinsi dengan cakupan imunisasi lengkap paling buruk adalah Sulawesi Barat (17,3%). Bila seorang anak tidak mendapatkan vaksinasi lengkap, kemungkinan terhindar dari penyakit < 80%. Tercapainya cakupan minimal 80% imunisasi lengkap bayi sebelum usia 1 tahun untuk antigen BCG 1 kali, DPT 3 kali, campak 1 kali, polio 3 kali, hepatitis B 3 kali. (Idai, 2012). Sedangkan, cakupan imunisasi dasar lengkap pada Puskesmas Kassi-Kassi tahun 2015 (109%) sudah melampaui dari target tahun 2014 sebesar 90% (Data sekunder, 2015).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai “Gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi kota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian imunisasi dasar di kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar .
2. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar BCG di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.
2. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar Hepatitis B di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.
3. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar DPT di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.
4. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar Polio di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.
5. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar Campak di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Makassar.
D. Manfaat
1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa menjadi landasan mengenai bagaimana cara mengimplementasikan imunisasi dasar. 2. Dengan adanya penelitian ini
diharapkan bisa menjadi landasan mengenai promosi kesehatan khususnya mengenai pentingnya pemberian imunisasi dasar.
3. Dan diharapkan dengan adanya penelitian ini maka fungsi sebagai health educator dapat berjalan sebagaimana mestinya.
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif jenis survey dan evaluasi dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar lengkap, dimana semua data diperoleh dari hasil pengumpulan data di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. 2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 09 Mei s/d 08 Juni 2017.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bayi yang mendapatkan imunisasi di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar pada periode Januari – Desember sebanyak 328 orang.
2. Sampel
Pengumpulan data sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Non Probability Sampling dengan teknik purposive sampling, yaitu cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah
dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya. Jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan oleh peneliti, menggunakan criteria inklusi dan eksklusi.
a. Criteria inklusi :
1) Berada di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar
2) Umur 0 – 1 tahun 3) Data pada tahun 2016 b. Criteria eksklusi : 1) Umur lebih dari 1 tahun
2) Berdomisili di luar Kelurahan Kassi Kassi
Adapun jumlah sampel yang di peroleh yaitu sebanyak 50 orang.
D. Cara pengumpulan data 1. Jenis data
Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari orang lain, organisasi tertentu, instansi atau badan ilmiah lainnya. Dalam penelitian ini data sekunder berasal dari data yang diperoleh dari pengelola Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar.
2. Instrument penelitian
Untuk mendapatkan informasi yang di inginkan, peneliti menggunakan buku laporan/register ruang imunisasi tahun 2016 untuk mendapatkan data yang akan dikembangkan oleh peneliti menurut variabel yang akan diteliti dan berdasarkan tujuan penelitian.
E. Cara pengolahan dan penyajian data 1. Pengolahan data
Data-data sekunder yang di kumpulkan diolah menggunakan program computer, yaitu program SPSS for windows versi 16.
2. Penyajian data
Setelah data diolah dengan menggunakan teknik tersebut, maka data akan di analisa dengan menggunakan tabel yang disajikan dalam bentuk persentase dan narasi untuk pembahasan masing-masing variabel penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 09 Mei sampai 08 Juni 2017 di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar. Sumber data dari penelitian ini diperoleh dari buku register kohort bayi Puskesmas Kassi Kassi pada periode Januari-Desember 2016.
Hasil penelitian ini diawali dengan proses pengumpulan data yang diperoleh dari buku register kohort bayi dengan menggunakan data sekunder lalu dilakukan pengklasifikasian data dan setelah itu dilakukan pengolahan data dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Jumlah sasaran bayi yang akan di imunisasi dasar lengkap di enam kelurahan wialayah kerja Puskesmas Kassi Kassi sebanyak 1535 orang yang terdiri dari 863 orang dengan jenis kelamin Laki-laki dan sebanyak 672 yang berjenis kelamin perempuan. Sedangkan, untuk sasaran bayi yang akan di imunisasi pada Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi sebanyak 186 orang berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 142 orang berjenis kelamin perempuan. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut :
Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa sasaran bayi berjenis kelamin laki-laki yang mendapat imunisasi dasar lengkap di Kelurahan Kassi Kassi sebanyak 186 orang (56,7%), sedangkan pada sasaran bayi yang mendapat imunisasi dasar lengkap berjenis kelamin perempuan di Kelurahan Kassi Kassi sebanyak 142 orang (43,3%).
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa yang menerima imunisasi dasar lengkap untuk jenis kelamin laki-laki terdapat 29 orang (58,0%), sedangkan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 42 orang (42,0%).
Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa kelompok umur 7 – 12 bulan
sebanyak 17 orang (34,0%), pada kelompok umur 13 –18 bulan sebanyak 24 orang (48,0%), sedangkan pada kelompok umur 19 – 24 bulan sebanyak 9 orang (18,0%).
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap jenis Hb terdapat 50 orang (100,0%)telah mendapatkan imunisasi.
Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap jenis BCG terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi
Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap jenis Polio yang diberikan 4X yaitu polio I, II, III dan IV terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap jenis DPT yang diberikan 3X yaitu polio I, II dan IIIterdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap jenis campak terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar lengkap pada kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi dari 50 orang (100,0%) status imunisasi dasarnya lengkap.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengolahan data karakteristik responden yang telah dilakukan maka di peroleh hasil distribusi imunisasi dasar lengkap menurut jenis kelamin Tabel 2 yang menunjukkan bahwa sasaran bayi berjenis kelamin laki-laki yang mendapat imunisasi dasar lengkap di Kelurahan Kassi Kassi sebanyak 186 orang (56,7%), sedangkan pada sasaran bayi yang mendapat imunisasi dasar lengkap berjenis kelamin perempuan di Kelurahan Kassi Kassi sebanyak 142 orang (43,3%).
Pada pengolahan data yang telah dilakukan maka di peroleh hasil distribusi
frekuensi umur bayi Tabel 3menunjukkan bahwa kelompok umur 7 – 12 bulan sebanyak 17 orang (34,0%), pada kelompok umur 13 – 18 bulan sebanyak 24 orang (48,0%), sedangkan pada kelompok umur 19 – 24 bulan sebanyak 9 orang (18,0%).
Teori mengatakan bahwa dengan semakin teraturnya waktu anak di imunisasi maka akan didapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan imunisasi yaitu untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering terjangkit yaitu mulai dari 0-9 bulan.
Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar jenis Hepatitis B terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi. Ini di pengaruhi oleh tingkat kesadaran orang tua bayi mengenai pentingnya pemberian imunisasi dan peran tenaga kesehatan yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses pelaksanaan pemberian imunisasi. Hal ini sependapat dengan penelitian Desita (2010) yang menunjukkan bahwa, persentase ibu yang memberikan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Jeumpa Kabupaten Aceh Jeumpa, lebih banyak pada ibu yang bersikap positif dibandingkan pada ibu yang bersifat negatif.
Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat paling tidak 3,9% ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan resiko transmisi maternal kurang lebih sebesar 45% (Sudarti & Afroh, 2012. Halaman : 158 )
Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar jenis BCG terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi. Ketertarikan orang tua bayi dalam pelaksanaan pemberian imunisasi dapat di lihat dengan kesediaan orang tua dalam membawa bayinya ke puskesmas setelah berumur satu bulan untuk mendapatkan imunisasi.Begitu pun
dengan tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, dapat di lihat kesediaannya melayani dan memberikan informasi mengenai imunisasi kepada orang tua bayi. Hal ini tidak sependapat dengan Luchytania Brajuwita Saputri (2013) yang melakukan penelitian di Posyandu Desa Pereng, Mojogedeng, Karanganyar, menunjukkan bahwa mayoritas ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 2 bulan berpengetahuan cukup, disebabkan karena kurangnya keaktifan ibu dalam mencari informasi dari media massa ataupun petugas kesehatan. Sehingga sangat dibutukan peran serta dari tenaga kesehatan untuk memberikan informasi, penjelasan dan pemahaman yang lebih baik tentang imunisasi BCG.
BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan Karena keberhasilannya diragukan (Lisnawati L, 2014.Halaman : 55-56)
Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar jenis Polio yang diberikan 4X yaitu polio I, II, III dan IV terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi. Dengan informasi yang di sampaikan tenaga kesehatan mengenai jadwal pemberian imunisasi pada orang tua bayi, maka ibu dengan kesediannya membawa kembali bayinya untuk mendapatkan imunisasi di puskesmas.Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diyah Ayu Sartika (2013), yang mengatakan bahwa adanya hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan kepatuhan orang tua dalam melaksanakan imunisasi polio pada bayinya di Desa Kragan Gondangrejo Karanganyar.
Untuk imunisasi dasar (polio 1,2,3) vaksin diberikan 2 tetes per oral dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Mengingat Indonesia merupakan daerah endemic polio, maka PPI menambahkan
imunisasi polio segera setelah lahir (polio-0 pada kunjungan 1) dengan tujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi (Sudarti & Afroh, 2012, Halaman : 161-162).
Tabel 7 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar jenis DPT yang diberikan 3X yaitu DPT I, II dan III terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.Dengan informasi yang di berikan tenaga kesehatan kepada orang tua bayi mengenai manfaat, fungsi dan penyakit yang bisa mengganggu pertahanan tubuh bayinya maka ibu bersedia membawa kembali bayinya untuk mendapatkan imunisasi. Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan Amin Dewi Fitriyani (2013) yang melakukan penelitian di Posyandu Desa Pereng, Mojogedang, Karanganyar, mengatakan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan pada kategori baik yang diperoleh dari sebagian besar ibu telah memahami pengertian imunisasi DPT, efek samping, dosis dan cara pemberian, jadwal imunisasi dan kontra indikasi imunisasi DPT.
Imunisasi DPT berfungsi untuk memberi ketahanan tubuh terhadap tiga penyakit sekaligus,yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. DPT ini berisi toksoid difteri, toksooid tetanus, dan vaksin pertama (Saputra L, 2014.Halaman : 122)
Tabel 8 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar jenis campak terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi. Dengan informasi tenaga kesehatan yang berkelanjutan kepada orang tua bayi maka ibu merasa perlu memberikan imunisasi campak karena berpikir lebih baik mencegah di bandingkan mengobati. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ririn dan Isnaini, dkk (2012), yang menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang imunisasi mengakibatkan adanya keyakinan dan kesadaran akan pentingnya imunisasi campak bagi anak.
Imunisasi campak bertujuan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit campak.Campak, measles atau rubella adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak.Penyakit ini sangat infeksius, sejak awal masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam.Infeksi disebarkan lewat udara (airbone) (Nina SM & Rinawati M, 2013.Halaman : 41)
0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas atau anterolateral paha, pada usia 9-11 bulan (Dian NH, 2016. Halaman : 24).
Hal ini menunjukkan tidak adanya kesenjangan teori dengan data yang diperoleh dari tingkat umur bayi, karena menurut teori dalam pemberian imunisasi di berikan secara teratur yakni mulai dari imunisasi Hepatitis B yang diberikan pada umur 0 -7 hari dengan jumlah pemberian satu kali, BCG diberikan pada umur 1 bulan dengan jumlah pemberian satu kali, Polio/IPV diberikan sebanyak empat kali pada umur 1,2,3,4 bulan dengan interval pemberian 4 minggu, DPT-HB-HIB diberikan sebanyak tiga kali pada umur 2,3,4 bulan dengan interval pemberian 4 minggu, dan Campak diberikan pada umur 9 bulan dengan jumlah pemberian satu kali.
Untuk keseluruhan imunisasi dasar umur 0 – 1 tahun di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi diperoleh data Lengkap sebanyak 50 orang (100,0%), Ini di sebabkan oleh umur bayi yang sudah mencapai target pemberian imunisasi.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Vivi Triana yang mengatakan motivasi orang tua dan informasi imunisasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di Kecamatan Kuranji Kota Padang tahun 2015.
Sedangkan, untuk hasil penelitian ini sejalan dengan hasil peneliian Wahyuni Hafid, dkk mengatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor penguat yaitu dukungan keluarga dan dukungan petugas
kesehatan terhadap status imunisasi dasar lengkap di Puskesmas Konang dan Geger Kabupaten Bangkalan.
Di lihat dari Tabel 9 menunjukkan bahwa pemberian imunisasi dasar pada kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi terdapat 50 orang (100,0%) status imunisasi dasarnya telah diberikan yang di pengaruhi oleh umur bayi sudah mencapai target pemberian imunisasi untuk jenis imunisasi HB 0, BCG, DPT, Polio dan campak.
Keberhasilan pemberian imunisasi di Kelurahan Kassi Kassi wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi ini tidak lepas dari peran petugas puskesmas, khususnya juru imunisasi dan Bidan yang sangat aktif memberi motivasi pada ibu-ibu atau masyarakat yang terdapat di wilayah Kelurahan Kassi Kassi. Factor lain adalah wilayah Kelurahan Kassi Kassi yang simetris untuk di jangkau dan karakteristik penduduk yang sudah maju karena berada di pusat Kota Makassar.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian tentang gambaran pelaksanaan pemberian imunisasi dasar di Kelurahan Kassi Kassi Wilayah Kerja Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016 maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pemberian imunisasi dasar jenis Hepatitis B terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
2. Pemberian imunisasi dasar jenis BCG terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
3. Pemberian imunisasi dasar jenis Polio yang diberikan 4X yaitu polio I, II, III dan IV terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
4. Pemberian imunisasi dasar jenis DPT yang diberikan 3X yaitu polio I, II dan III terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
5. Pemberian imunisasi dasar jenis campak terdapat 50 orang (100,0%) telah mendapatkan imunisasi.
B. Saran
1. Status imunisasi yang sudah baik tetap dipertahankan.
2. Memberikan penyuluhan secara continue kepada para ibu yang kurang mengetahui batas pemberian imunisasi dasar pada bayinya.
3. Di harapkan pada ibu agar memperhatikan jadwal pemberian imunisasi dasar pada bayinya.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. 2007, Promosi Susu Formula Menghambat Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Pa’baeng-baeng Makassar Tahun 2006. (online).(Akses 20 Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.ridwan-blog.org
Depdikbud.1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jilid 1. Jakartan : Balai Pustaka.
Depkes RI. 2005, Pentingnya ASI Eksklusif pada Bayi. (online). (Akses 20 Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.depkes-blog.org
Didinkaem. 2006, Permasalahan dan Pemberian Makanan Bayi. (online) (Akses 20 Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.mfe-indonesia.org
Didinkaem. 2006, Pemberian Makanan Anak Umur 0-24 Bulan yang Baik dan Benar. (online). (Akses 20 Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.mfe-indonesia.org Dinkes Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
2010, Laporan Tahunan Tahun 2008/2009.
Ikatan Bidan Indonesia. 2006, Pemberian ASI Eksklusif. (online). (Akses 20
Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.ibionline.org
Ikatan Dokter Indonesia. 2007, ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping yang Tepat Mencegah Busung Lapar. (online). (Akses 20 Desember 2009).
Avaible at : hhtp://www.idionline.org
Linkages. 2002, Melahirkan, Memulai Pemberian ASI dan 7 Hari Setelah Melahirkan. (online). (Akses 20 Desember 2009).
Avaible at:
hhtp://www.linkagesproject.org Manuaba Gde. 1999, Memahami
Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan.
Mommies R. 2006, Fisiologi Menyusui dan Faktor Tepat Pemberian ASI. (online). (Akses 20 Desember 2009). Avaible at : hhtp://www.wrm-indonesia.org Natoatmodjo. 2002, Metode Penelitan
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Puji E, dkk. 2010, Panduan Penulisan Skripsi Edisi 6. Makassar : Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Makassar.
Puskesmas Saumlaki.2010, Profil tahun 2008-2010.
Roesli, Utami. 2000, Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya.
Santoso. 2009, Metode Penelitian. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher. Soetjiningsih. 1997, Air Susu Ibu. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.
Sugiyono. 2009, Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta : Alfabeta. Suradi R. 1991.Ilmu Kesehatan Anak. Jilid
1.Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI
Simkin Penny,dkk. 2008, Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan, dan Bayi. Jakarta : Arcan.
Wiknjosastro H. 1999, Ilmu Kebidanan. Jilid 3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Lampiran :
Tabel 1 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi dasar lengkap berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Sasaran imunisasi kelurahan
Kassi Kassi Imunisasi dasar lengkap F %
Laki-laki 186 56,7
Perempuan 142 43,3
Jumlah 328 100
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 2 Distribusi frekuensi responden pelaksanaan imunisasi dasar lengkap di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Jenis kelamin F Imunisasi dasar %
Laki-laki 29 58,0
Perempuan 21 42,0
Jumlah 50 100
Tabel 3 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi dasar lengkap berdasarkan umur di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Umur (bulan) F Imunisasi dasar %
0 – 6 0 0
7 – 12 17 34,0
13 – 18 24 48,0
19 – 24 9 18,0
Total 50 100,0
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 4 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi hepatitis B di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Imunisasi Hepatitis B F Imunisasi dasar %
Diberikan 50 100
Belum Diberikan 0 0
Jumlah 50 100
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 5 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi BCG di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Imunisasi BCG F Imunisasi dasar %
Diberikan 50 100
Belum Diberikan 0 0
Jumlah 50 100
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 6 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi Polio di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016 Imunisasi Polio Imunisasi dasar I II III IV F % F % F % F % Diberikan 50 100 50 100 50 100 50 100 Belum Diberikan 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 50 50 50 50 50 50 50 50
Tabel 7 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi DPT di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016 Imunisasi DPT Imunisasi dasar I II III F % F % F % Diberikan 50 100 50 100 50 100 Belum Diberikan 0 0 0 0 0 0 Jumlah 50 50 50 50 50 50
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 8 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi Campak di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Imunisasi Campak F Imunisasi dasar %
Diberikan 50 100
Belum Diberikan 0 0
Jumlah 50 100
Sumber :Buku Kohort Imunisasi Bayi Puskesmas Kassi Kassi
Tabel 9 Distribusi frekuensi pelaksanaan imunisasi dasar lengkap di Kelurahan Kassi Kassi Kota Makassar Tahun 2016
Status imunisasi F Imunisasi dasar %
Diberikan 50 100,0
Belum Diberikan 0 0
Jumlah 50 100