• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelenggaraan Makanan RS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penyelenggaraan Makanan RS"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

52

GAMBARAN SISTEM PENYELENGGARAAN MAKANAN

PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH (RSUD) PASAR REBO

TAHUN 2010

LAPORAN MAGANG

OLEH:

Nur Hidayah

NIM: 106101003347

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H/2010 M

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam proses kehidupan seorang manusia baik sejak awal konsepsi, tumbuh kembang sampai usia lanjut tidak pernah dapat dilepaskan dari pengaruh gizi. Kekurangan atau kelebihan gizi dengan berbagai bentuk variasinya, menyebabkan pengaruh yang berarti dalam perkembangan seseorang. Makanan merupakan faktor penting yang dibutuhkan seseorang agar dapat hidup sehat dan bugar. Kandungan berbagai unsur dalam makanan berfungsi untuk membangun tubuh, mensuplai energi dan berbagai zat gizi sehingga tubuh dapat menjalankan berbagai aktivitas. Konsumsi makanan harus beragam karena tidak ada satu jenis makanan pun yang mengandung komposisi gizi lengkap (Milyandra, 2007).

Penyelenggaraan makanan merupakan salah satu hal penting dalam meningkatkan status gizi pasien di rumah sakit karena merupakan bagian dari penyembuhan penyakitnya. Mengingat risiko kurang gizi yang dapat muncul secara klinis selama pasien mendapat perawatan di rumah sakit, maka penyelenggaraan makanan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Rumah sakit yang menyediakan pelayanan penyelenggaraan makanan harus merencanakan berbagai hal penting yang dapat meningkatkan mutu pelayanan penyelenggaraan makanannya. Sebagian besar umumnya rumah sakit membentuk sebuah unit yang

(3)

bernama instalasi gizi untuk mengelola penyelenggaraan makanan (Depkes RI, 2007).

Rumah sakit sebagai salah satu institusi kesehatan mempunyai peran penting dalam melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakn secara serasi dan tepadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan. Pelayanan gizi di rumah sakit melalui penyediaan makanan merupakan bagian integral dari upaya penyembuhan penyakit pasien. Mutu pelayanan gizi yang baik akan mempengaruhi

indicator mutu pelayanan rumah sakit yaitu meningkatkan kesembuhan serta

memperpendek lama rawat inap (Depkes RI, 2007).

Fungsi utama rumah sakit adalah menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit bagi pasien dan penyelenggaraan kesejahteraan bagi petugas rumah sakit tersebut. Upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit pada pasien, Salah satunya adalah dengan penyediaan makanan yang bergizi dan bersanitasi sehat. Pengelolaan makanan rumah sakit, sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit mempunyai tugas mendukung upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit melalui penyelenggaraan makanan yang bermutu dan sehat (Djarismawati, 2004).

Tujuan dari pelayanan gizi rumah sakit adalah untuk memperbaiki atau mempertahankan status gizi pasien. Salah satu kegiatan dari pelayanan gizi yang sangat berperan adalah penyelenggaraan makanan.

(4)

RSUD Pasar Rebo merupakan rumah sakit yang dalam pelaksanaan sistem penyelenggaraan makanannya berbentuk swakelola. Bentuk penyelenggaraan makanan seperti ini tentunya akan membutuhkan suatu sistem khusus dalam penyelenggaraan makanannya, dimana dalam sistem ini merupakan tanggung jawab penuh oleh instalasi gizi dalam proses kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana gambaran sistem penyelenggaraan makanan pasien di RSUD Pasar Rebo tahun 2010.

1.2 Tujuan Magang

1.2.1 Tujuan Umum

Diketahuinya gambaran sistem penyelenggaraan makanan pasien rawat inap di RSUD Pasar Rebo Tahun 2010.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran umum RSUD Pasar Rebo tahun 2010.

b. Diketahuinya gambaran input sistem penyelenggaraan makanan di RSUD Pasar Rebo tahun 2010, yaitu meliputi: sumber daya manusia, sumber dana, sarana prasarana, dan peraturan pemberian makan rumah sakit. c. Diketahuinya gambaran proses sistem penyelenggaraan makanan di RSUD

Pasar Rebo tahun 2010 yaitu meliputi gambaran mengenai penyusunan standar makanan, perencanaan anggaran bahan makanan, perencanaan menu, perencanaan bahan makanan, perhitungan harga makan, penyediaan

(5)

bahan makanan, pemesanan bahan makanan, pembelian makanan, penerimaan bahan makanan, dan penyaluran bahan makanan.

d. Diketahuinya informasi tentang output sistem penyelenggaraan makanan pasien rawat inap di RSUD Pasar Rebo tahun 2010 yaitu pengawasan mutu makanan dan kepuasan pasien.

1.3 Manfaat Magang

1.3.1 Bagi Penulis

Kegiatan magang ini dapat memberikan pengalaman berharga untuk mengaplikasikan ilmu tentang penyelenggaraan makanan di Rumah sakit yang selama ini diperoleh dari proses perkuliahan. Selain itu sebagai wadah untuk dapat mengukur kemampuan dalam bidang yang di dapatkan saat kuliah. Serta sebagai suatu kegiatan yang dapat dijadikan pengalaman untuk adaptasi ke dunia kerja yang sesungguhnya, mengerti dan memahami berbagai masalah kesehatan masyarakat secara nyatata di Institusi kerja sebagai bagian dari kesiapan dalam memasuki dunia kerja.

1.3.2 Bagi RSUD Pasar Rebo

Hasil laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan, serta bahan evaluasi terhadap sistem penyelenggaraan makanan pasien, untuk kemudian dilakukan tindak lanjut, memberikan kontribusi bagi RSUD Pasar Rebo.

1.3.3 Bagi FKIK UIN Khususnya Program Studi Kesehatan Masyarakat

Hasil dari kegiatan magang ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi tambahan bagi civitas akademik Program Studi Kesehatan Masyarakat

(6)

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai penyelenggaraan makanan di Rumah sakit, serta dapat terbinanya suatu jaringan kerja sama yang berkelanjutan antara pihak fakultas dengan institusi magang.

1.4 Ruang Lingkup

Kegiatan magang ini dilakukan oleh mahasiswa semester VIII peminatan gizi masyarakat, program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam rangka memenuhi mata kuliah semester delapan. Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD Pasar Rebo, dan dilaksanakan pada 01 Februari sampai 04 Maret tahun 2010. Kegiatan magang ini dilaksanakan untuk mengetahui gambaran sistem penyelenggaraan makanan pasien rawat inap.

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyelenggaraan Makanan Rumah Sakit

2.2.1 Definisi

Penyelenggaraan makanan rumah sakit adalah rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan sampai ke konsumen, termasuk kegiatan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dengan tujuan untuk mencapai status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yang tepat (Depkes RI, 2003).

Menurut Liswarti Yusuf (2006), penyelenggraan makanan adalah usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan penyediaan makanan, dimulai dari penyusunan anggaran (bahan makanan, peralatan, tenaga/personel, dll) penyediaan/pembelian bahan makanan, penyimpanan dan penyaluran bahan makanan, sampai dengan pencatatan pelaporan dan evaluasi yang dilaksanakan dalam rangka penyediaan makanan.

2.2.2 Tujuan

Tujuan penyelenggaraan makanan di rumah sakit adalah untuk menyediakan makanan dengan kualitas yang baik dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan gizi pasien dan untuk memberikan pelayanan yang layak bagi konsumen (Depkes RI, 2003)

(8)

Menurut Moehyi (1992), tujuan dari penyelenggaraan makanan di rumah sakit adalah untuk penyembuhan penyakit yang tidak jarang digunakan sebagai acuan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan menurut Depkes RI (1991), tujuan penyelenggaraan makanan di Rumah sakit adalah tersedianya pelayanan gizi yang berdaya guna dan berhasil guna serta terintegrasinya dengan pelayanan kesehatan lain di Rumah sakit .

2.2.3 Bentuk

Menurut Depkes RI (2007), dalam buku pedoman sistem penyelenggaran makanan rumah sakit bentuk penyelenggaraan makanan dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a. Swakelola

Penyelenggaraan makanan merupakan tanggung jawab penuh instalasi gizi dalam pelaksanaan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi.

b. Out-Sourching

Penyelenggaraan makanan dilaksanakan dengan bantuan perusahaan jasa boga atau catering. Out-sourching dibedakan menjadi dua kategori yaitu semi out-sourching dan full out-sourching. Pada rumah sakit yang menyediakan sarana dan prasarana untuk perusahaan catering dalam melaksanakan kegiatan penyelenggaraan makanan disebut semi

(9)

dan prasarana karena perusahaan catering menggunakan sarana dan prasarana yang disediakan oleh perusahaannya sendiri.

c. Sistem kombinasi

Sistem kombinasi merupakan perpaduan antara swakelola dan

out-sourching dipilih sebagai upaya memaksimalkan sumberdaya yang ada

dengan segala keterbatasannya dimana sebagian jenis makanan dikelola oleh pihak jasa boga atau catering. Bisa berdasarkan kelas rawatnya, misalnya makanan kelas VIP saja atau mengelola makanan pegawai atau mengelola snack. Karena ada dua sistem pengelolaan, maka sebaiknya pencatatan dan pelaporan setiap sistem dipisahkan agar memudahkan pengawasan dan pengendaliannya.

2.2.4 Sasaran

Sasaran dari penyelenggaraan makanan rumah sakit yaitu: pasien rawat inap, pasien rawat jalan, pengunjung rumah sakit, dan petugas rumah sakit. kegiatan pelayanan gizi rumah sakit meliputi: Pengadaan makanan, penyuluhan/konsultasi gizi, pelayanan gizi, dan penelitian dan pengembangan gizi (Depkes RI, 1991).

Menurut Depkes RI (1991), mekanisme pelayanan gizi rumah sakit dibagi dalam dua kategori, yaitu:

(10)

1. Pasien Rawat Inap

Berdasarkan pemeriksaan fisik, antropometri, laboratorium, dan

pemeriksaan lain, dokter akan menentukan apakah pasien memerlukan terapi diet atau tidak.

2. Pasien Rawat Jalan

Bila tidak memerlukan terapi diet pasien yang berminat dapat memperoleh penyuluhan gizi umum tentang makanan. Bila memerlukan terapi diet, pasien dikirim ke poliklinik untuk memperoleh penyuluhan.konsultasi gizi. Tindak lanjut seterusnya dilakukan oleh poliklinik.

2.3 Sistem Penyelenggaraan Makanan

Penyelenggaraan makanan umumnya memiliki standar input berupa tenaga, pengetahuan dan keterampilan, material, peralatan, dana dan informasi. Standar proses berupa perencanaan pelayanan makanan, penyiapan makanan, penyelenggaraan pelayanan untuk konsumen beserta pengawasan dan pengendaliannya. Standar output berupa makanan yang bermutu (Moehyi, 1992). Penyelenggaraan rumah sakit memiliki standar input berupa biaya, tenaga, sarana dan prasarana (termasuk peralatan di dalamnya) dan metoda. Standar proses berupa penyusunan anggaran bahan makanan, perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, pembelian bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, persiapan bahan makanan, pengolahan

(11)

makanan, dan pendistribusian makanan. Standar output berupa mutu makanan dan kepuasan pasien (Depkes RI, 2003).

2.3.1 Input

Menurut Depkes RI (2007), input dalam sistem penyelenggaraan makanan

meliputi:

a. Sumber Daya Manusia

Tenaga merupakan salah satu sumberdaya penting karena menjadi

kunci dalam keberhasilan kegiatan penyelenggraan di rumah sakit . Berbagai fungsi dan keberhasilan kegiatan penyelenggaraan rumah sakit meliputi fungsi perencanaan, dan penentuan kebutuhan staff (staffing), rekruitmen, seleksi, pengembangan dan pembinaan karir, penilaian kinerja serta sistem imbal jasa (Depkes RI, 2007).

1. Kualifikasi tenaga gizi dalam penyelenggaraan rumah sakit

Sesuai dengan bidang kegiatannya, maka tenaga yang diperlukan dalam kegiatan meliputi tenaga profesi gizi, tenaga profesi non-gizi serta tenaga pelaksanan teknis. Tenaga profesi gizi dibutuhkan untuk memastikan kualitas pelayanan gizi yang diberikan kepada konsumen, antara lain semua permintaan dan modifikasi diet dapat dipenuhi, semua makanan (diet dan non-diet) dapat diproduksi sesuai kebutuhan pasien. Sedangkan, tenaga profesi non gizi dan tenaga pelaksana teknis dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pelayan gizi kepada

(12)

konsumen, misalnya makanan dapat diberikan sesuai ketentuan yang berlaku (peraturan pemberian makanan), kepuasan konsumen terhadap makanan yang diberikan, makanan dapat diproduksi dan disajikan sesuai dengan keinginan konsumen.

Tenaga profesi gizi adalah tenaga dengan latar belakang pendidikan gizi (D1 gizi dan D4 gizi) serta S1/S2 gizi yang berpengalaman di bidang penyelenggaraan makanan. Tenaga profesi non-gizi adalah tenaga profesi lain yang dibutuhkan untuk kelancaran kegiatan penyelenggaraan makanan seperti akuntan, perhotelan, administrasi, teknik, dsb. Sedangankan tenaga pelaksanan teknis meliputi tenaga dengan latar belakang pendidikan tataboga (SMKK), SMA/SMP, dan sebagainya.

Berdasarkan kualifkasi tenaga tersebut, maka peran dan fungsi setiap kualifikasi tenaga sesuai tanggung jawabnya meliputi:

a) Kepala unit penyelenggaraan makanan

Adalah penanggung jawab umum organisasi dalam penyelenggaran makanan di rumah sakit, yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit dengan berdasarkan ketentuan dan peraturan kepegawaian yang berlaku.

b) Supervisor

Bertugas mengawasi dan mengendalikan proses penyelenggaran makanan di rumah sakit mulai dari perencanaan sampai dengan pendistribusian makanan.

(13)

c) Pelaksana

Adalah petugas gizi yang berperan sebagai juru masak, perbekalan, pranata komputer dan ketatausahaan.

(1) Juru masak: tenaga pengolah bahan makanan yang bertugas mulai dari persiapan bahan makanan hingga pendistribusian.

(2) Urusan gudang/perbekalan: bertugas pada unit penyimpanan bahan makanan untuk menjamin ketersediaan dan kesiapan bahan makanan sesuai dengan pesanan harian, serta kondisi fisik bahan makanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan. (3) Operator komputer: bertugas terutama pada unit perencanaan dan

evaluasi untuk mendukung formulasi dan akurasi perencanaan anggaran serta kebutuhan bahan makanan. Selain itu juga diperlukan dalam pengorganisasian data untuk mendukung efektifitas pelaporan.

(4) Tata usaha: Bertugas meliputi registrasi pesanan, pembukuan keuangan, penyiapan laporan berkala, penyiapan laporan khusus serta pengaturan hal-hal yang berkaitan dengan kepegawaian. (5) Juru masak ruangan: pelaksana kegiatan penyajian makanan di

ruang-ruang rawat inap, mulai dari penataan di dapur ruangan sampai menyajikan kepasien.

(14)

(6) Pekarya: pelaksana yang membantu tugas-tugas operasional dalam penyelenggaraan makanan dan dapur ruang rawat inap.

2. Staffing

Adalah penentuan jenis dan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanankan suatu kegiatan. Penetuan tenaga ini dimulai dengan mengidentifikasi dan menentukan kegiatan atau pekerjaan yang akan dilakukan, mengidentifikasi keahlian atau skill yang diperlukan sesuai dengan kegiatan atau pekerjaan tersebut, kemudian menjabarkannya dalam spesifikasi dan uraian tugas.

3. Penetuan Kebutuhan Tenaga

Tenaga profesi gizi dibutuhkan untuk memastikan kualitas pelayanan gizi yang diberikan kepada konsumen, antara lain semua permintaan dan modifikasi diet dapat dipenuhi, semua makanan (diet dan non diet) dapat diproduksi sesuai kebutuhan pasien. Sedangkan tenaga profesi non gizi dan tenaga pelaksana teknis dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pelayanan gizi kepada konsumen, misalnya makanan dapat diberikan sesuai ketentuan yang berlaku (peraturan pemberian makanan), kepuasan konsumen terhadap makanan yang

(15)

diberikan, makanan dapat di produksi dan disajikan sesuai keinginan konsumen.

Dalam menghitung kebutuhan tenaga dalam penyelenggaraan makan, diperlukan beberapa penyesuaian, antara lain :

a) Penyesuaian hari libur atau cuti b) Produktifitas

c) Pola kedatangan pasien d) Training Need Analisis

Beberapa metode perhitungan ketenagaan menurut Depkes RI (2004) dalam pedoman penyusunan rencana SDM (Sumber Daya Manusia) kesehatan rumah sakit, yaitu:

a) Berdasarakan rasio tempat tidur pasien, contoh :

(1) SK Menkes no 363/Menkes/Per/VII/1979 tentang perhitungan kebutuhan tenaga berdasarkan perbandingan antara jumlah tempat tidur yang tersedia di kelas rumah sakit tertentu dengan kategori tenaga tertentu.

(2) Standar kebutuhan tenaga minimal dasar perhitungannya adalah standar pelayanan dan upaya pelayanan.

b) Indicator Staffing Needs (ISN)

Dalam metode ini kebutuhan jumlah tenaga dihitung berdasarkan jenis kegiatan dan volume pelayanannya. Tiap unit

(16)

harus dapat memproyeksikan kegiatan atau keluaran apa yang akan dihasilkan pada masa mendatang untuk kemudian dapat memproyeksikan kebutuhan tenaganya.

Rumus ISN adalah :

Kelebihan dari metode ini adalah perhitungan dibedakan

atas jenis tenaga yang ada sesuai dengan tingkat pendidikannya serta memperhitungkan satu persatu jenis tenaga yang dibutuhkan. Perhitungannya juga sudah mempertimbangkan bobot serta beban kerjanya.

c). Recomendation Full Time Equivalents (rekomendasi)

Direkomendasikan kebutuhan tenaga kerja dalam

penyelenggaraan makanan Institusi adalah 1,5 full time equivalent/ shift (1,5 FTE/ shift) = 1,5 x jumlah tenaga yang diperlukan waktu operasional karena faktor 7 hari kerja/ minggu dan faktor cuti, libur, ijin, sakit dan lain-lain.

d). US Departemen and Human Service : (1). Berdasarkan jumlah konsumen

(a). Ratio tenaga pemasak : konsumen = 1: 25 (b). Koreksi faktor hari keja : 7/5 hari/ minggu.

Kebutuhan tenaga = beban kerja dalam 1 tahun x bobot Kapasitas kerja tenaga /tahun

(17)

(c). Koreksi faktor cuti :0,2

(d). Jam kerja = 8 jam/ hari dan istirahat 1 jam (jam kerja efektif = 7 jam/hari)

(2). Berdasarkan menit kerja/ porsi hidangan

Dari penelitian yang dilakukan pada 100 klien, diperlukan waktu untuk penyelenggaraan makan siang adalah 14 menit/ porsi hidangan.

e) Workload Indicator Staffing Need

Metode perhitungan kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja ini merupakan suatu metode perhitungan kebutuhan tenaga berdasarkan beban pekerjaan nyata yang dilaksanakan oleh setiap kategori tenaga pada tiap unit kerja. Metode perhitungan ini telah telah diadaptasi dan digunakan oleh Departemen Kesehatan RI dan

disahkan dalam keputusan menteri kesehatan RI no

81/Menkes/SK/2004.

4. Proses Penerimaan Tenaga Kerja

Menurut Depkes RI (2007), pada dasarnya proses penerimaan tenaga harus dilakukan dengan baik dan efektif sehingga dapat menentukan tenaga sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan serta dapat mengeliminasi berbagai hal yang berkaitan dengan penyelesaian pekerjaan yang tidak benar.

(18)

Pada umumnya seleksi tenaga dilakukan melalui seleksi administrasi, tes tulis dan interview (wawancara). Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses ini antara lain : intelegensia, attitude (sikap), keterampilan, personality (kepribadian, fisik dan kesehatan secara umum.

5. Pembinaan Tenaga Kerja Melalui Pendidikan dan Pelatihan

Tujuan pendidikan dan pelatihan bagi pegawai adalah meningkatkan kinerja, meningkatkan pengetahuan dan wawasan ilmiahnya, meningkatkan keterampilan serta diharapkan terjadi perubahan sikap dan perilaku yang positif terhadap pekerjaannya.

Peningkatan jenjang pendidikan bagi tenaga gizi perlu mempertimbangkan kebutuhan ilmu dan perkembangan ilmu dan teknologi yang terkait dalam peningkatan pelayanan gizi. Pada umumnya jenis diklat meliputi diklat formal dan diklat non formal. a) Diklat formal

Pendidikan dan pelatihan yang bersifat formal merupakan diklat yang berkesinambungan, yang menunjang keprofesian, serta kedudukan jabatan, baik fungsional maupun structural.

b) Diklat non formal

Diklat non formal meliputi: (1) Orientasi tugas

(19)

Orientasi tugas mempunyai tujuan untuk mempersiapkan calon pegawai dalam mengenal lingkungan tempat bekerja, sistem yang ada di unit pelayanan gizi, serta tugas-tugas yang akan diembannya. Materi program orientasi meliputi organisasi dan tugas pokok unit pelayanan gizi, kesekretariatan dan pergudangan bahan makanan, perencanaan.

(2) Kursus-kursus

Pegawai perlu diikutsertakan dalam kursus-kursus yang sesuai dengan kebutuhan dan kualifikasinya untuk mempersiapkan menjadi tenaga professional yang handal sehinga dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan.

(3) Simposium, seminar dan sejenisnya.

Keikutseraan pegawai dalam kegiatan ini dimaksudkan untuk menigkatkan kapasitas dan wawasan keilmuan pegawai agar menjadi tenaga yang lebih professional sehingga mampu menigkatkan kinerja pelayanan gizi di tempat ia bekerja.

b. Sarana dan Prasarana

1) Perencanaan Fisik, Peralatan, dan Perlengkapan

Perencanaan fisik adalah perancangan bangunan sebagai suatu

system shingga bangunan beserta komponen-komponennya sebagai

lingkungan binaan di yang mengakomodasi kegiatan penyelenggaraan rumah sakit (Depkes RI, 2007).

(20)

Perencanaan harus dikoordinasikan dengan melibatkan semua unsur terkait dalam suatu tim kerja. Dari perencanaan ini pihak manajemen, yaitu pemilik, pemakai, pengelola kegiatan pembangunana sarana fisik, administrator merupakan pihak yang bertanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan dari perencanaan yang telah dibuat (Depkes RI, 2007).

2) Langkah-langkah perencanaan sarana fisik dan peralatan

Menurut Depkes RI (2007), langkah-langkah perencanaan sarana fisik dan perlatan antara lain :

a) Sarana fisik

Agar penyelenggaraan makanan di Rumah sakit dapat dilakukan dengan baik, mutlak diperlukan sarana fisik yang memenuhi syarat (Moehji, 1990).

(1) Dasar dari perencanaan

Perencanaan harus dilakukan bersama dan menyeluruh serta dibahas dalam suatu tim yang lengkap.

(21)

(3) Mengidentifikasi kegiatan dalam penyelenggaraan makanan, yang meliputi perencanaan menu, persiapan bahan makanan, pengolahan dan distribusi makanan, kebersihan dan sanitasi makanan, sistem pelayanan makanan, dan perhitungan biaya makan.

(4) Mengidentifikasi macam ruangan yang diperlukan

Menurut Depkes RI (2007), besar ruangan penyelenggaraan makanan yang dianjurkan digambarkan pada tabel 2.1

Tabel 2.1

Pedoman Luas Bagian Ruangan Penyelenggaraan Makanan

No Macam Ruangan Dapur

Pelayanan Gizi Institusi

Kapasitas Pelayanan/Orang (m2)

1000-2500 500-1000 100-500 50-100

1 Tempat penemuan bahan-bahan

dilengkapi precleaning

60 40 30 30

2 Ruang penerimaan/registrasi

tempat timbangan

60 40 30 20

3 Gudang besar bahan kering 100 80 40 30

4 Gudang kering harian 75 50 20 -

5 Gudang bumbu-bumbu 25 20 20 -

6 Penyimpanan dingin 20 20 20 -

7 Penyimpanan daging 20 20 20 -

8 Persiapan daging 40 40 20 20

9 Persiapan sayur dan bumbu 40 40 20 20

10 Pemasakan makanan biasa 200 150 60 60

11 Pemasakan makanan khusus 80 80 50 -

12 Pemasakan makanan bayi 50 50 20 -

13 Pembagian makanan biasa 80 60 60 50

(22)

15 Pembagian makanan bayi 40 30 - -

16 Pembuatan minuman 20 20 - -

17 Tempt cuci peralatan 40 40 20 15

18 Tempat pembuangan sampah 30 30 20 15

19 Ruang loker pegawai 100 80 40 30

20 Ruang istirahat pegawai 100 80 - -

21 Kantor dan klinik gizi

Ruang kepala instalasi gizi dan staff

Ruang administrasi

Ruang rapat dan perpustakaan Ruang poliklinik gizi

Loker staff 30 40 70 40 20/200 22 Gudang peralatan 50 50 30 20 23 Mekanikal 60 60 20 15

24 Ruang pengawas produksi

makanan

25 25 20 -

Total 1635 1340 550 345

Sumber: Depkes RI 2007

(a) Menentukan skema arus kerja.

Flow chat harus menunjukan arah langsung dari kegiatan

penerimaan sampai ke meja pembagian makanan, sehingga mengurangi kesimpangsiuran dalam pekerjaan sehari-hari.

Bagan 2.1

Skema Arus Kerja Penyelenggaraan Makanan

Penerimaan n Penyimpanan b.m segar Penyimpanan b.m kering Fasilitas pegawai Persiapan b.m Pemasakan Pembuangan sampah sementara Pencucian alat

(23)

Sumber : Buku Pedoman Gizi Rumah sakit, 1991

b) Letak dapur

Faktor yang harus diperhatikan, yaitu:

(1) Ruang pengolahan makanan hendaknya mudah dicapai dari semua unit pelayanan sehingga distribusi makanan dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

(2) Terletak strategis sehingga terhindar gangguan oleh kegiatan pemasakan ataupun akibat gangguan lainnya.

(3) Mudah dicapai dengan kendaraan dari luar institusi dalam rangka pengadaan bahan makanan

(24)

(4) Memiliki sinar dan pergantian udara yang cukup dan pemandangan yang nyaman. Ventilasi udara yang baik adalah 20% dari luas lantai dan ditata menyilang (Depkes, 2004)

(5) Tidak berdekatan dengan tempat sampah, kamar mandi ataupun lingkungan yang dapat mencemarkan makanan. Jarak minimal antara dapur dan sumber pencemar adalah 500 meter. Jika jarak tidak mencukupi sebaiknya diberi dinding pemisah antara sumber pencemar dengan dapur (Depkes, 2004).

c) Bangunan pengolahan dan fasilitas ruang yang dibutuhkan

Perencanaan bangunan ruang pengolahan ini dipengaruhi oleh macam institusi, macam kegiatan yang akan dilakukan, macam pelayanan, pola menu, macam dan jumlah bahan makanan yang dibeli dan yang disimpan, macam dan jumlah peralatan perlengkapan dapur yang akan dibeli, macam dan jumlah pekerja yang bekerja di dapur, arus kerja, susunan ruangan, alat serta penerapan anggaran belanja untuk sarana fisik dan peralatan yang tersedia.

Ruang/tempat yang diperlukan di unit pengolahan makanan terdiri dari :

(1) Ruang/tempat penerimaan bahan makanan

Ruangan ini digunakan untuk penerimaan bahan makanan dan mengecek kualitas serta kuantitasnya. Letak ruangan ini

(25)

sebaiknya mudah dicapai kendaraan, dekat dengan ruang penyimpanan serta persiapan bahan makanan.

(2) Tempat/ruang penyimpanan bahan makanan

Tempat penyimpanan bahan makanan terdiri dari dua jenis penyimpanan bahan makanan segar (ruang pendingin) dan penyimpanan bahan makanan kering. Peralatan diruang ini sebaiknya tersedia lemari kayu, rak untuk menyimpan bahan makanan kering, timbangan kapasitas 20-100 kg.

(3) Tempat persiapan bahan makanan

Ruang ini hendaknya dekat dengan ruang penyimpanan serta pemasakan, ruang harus cukup luas untuk menampung bahan, alat, pegawai dan alat transportasi. Lantai dengan konstruksi yang kuat, tidak licin, kedap air, rata, tahan asam serta bebas binatang pengerat.

(4) Tempat pencucian dan penyimpanan alat

Tempat pencucian alat, hendaknya terletak terpisah dengan ruang pencucian bahan makanan, Menyediakan fasilitas pengering/ rak dan penimpanan sementara yang bersih, dilengkapi alat untuk mengatasi sumbatan vector, dilengkapi air mengalir dalam jumlah cukup, disediakan sabun dan lap pengering yang bersih.

(26)

Sedangkan tempat pencucian alat makan, hendaknya terletak terpisah dengan ruang pencucian bahan makanan dan keperluan, tersedia air mengalir dengan jumlah cukup, tersedia air panas dan alat pembersih seperti sabun dan detergen.

(5) Tempat pemasakan dan distribusi makanan

Tempat pemasakan ini harus dilengkapi dengan cerobong asap di atas kompor, biasanya makanan dikelompokan menurut kelompok bahan makanan yang dimasak. Misalnya makanan biasa dan makanan khusus. Tempat pembagian makanan juga dilengkapi dengan alat pemanas.

(6) Tempat pembuangan sampah

Diperlukan tempat yang cukup untuk menampung sampah dan harus segera dikosongkan begitu sampah terkumpul.

(7) Ruang fasilitas pegawai

Tempat ini digunakan untuk ganti pakaian pegawai istirahat, kantin, kamar mandi dan kamar kecil. Ruangan ini dapat terppisah dari tempat kerja, tetapui perlu dipertimbangkan agar dengan tempat kerja tidak terlalu jauh letaknya.

(8) Ruang pengawas

Ruangan ini hendaknya terletak cukup baik untuk mengawasi semua kegiatan di dapur.

(27)

Luas ruangan tergantung dari macam kegiatan, macam dan jumlah staff, volume kerja pelayanan gizi institusi lainnya. d) Peralatan dan pengolahan di unit penyelenggaraan makanan

Peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam

penyelenggaraan makanan terdiri dari peralatan besar, peralatan kecil, alat-alat makan, peralatan khusus untuk pemberian formula makanan bayi.

Faktor yang perlu diperhatikan, dalam kebutuhan peralatan penyelenggaraan makanan yaitu:

(1) Ada tidaknya menu dan siklus menu

(2) Jumlah porsi dan macam makanan yang diselenggarakan (3) Waktu yang diperlukan untuk penyediaan makanan (4) Arus kerja

c. Anggaran Dana Makanan Rumah sakit

Dalam penyelenggaraan rumah sakit yang akan semakin bersaing di masa depan harus disadari perlu adanya keungggulan kompetitif (competitive

advantage). Keunggulan itu tidak lain kecuali bersumber pada seni kemampuan

(28)

1) Biaya (Cost), 2) Mutu (Quality),

3) Penyampaian jasa (Delivery).

Biaya makanan adalah biaya bahan-bahan yng dipakai untuk

menghasilkan makanan yang diperlukan. Biaya ini merupakan variable langsung, karena mempunyai hubungan langsung terhadap pelayanan makanan yang diselnggarakan. Unsur-unsur biaya dalam penyelenggaraan makanan adalah: 1) Perhitungan biaya makanan

Biaya bahan makanan merupakan unsur dalam biaya bahan baku atau bahan dasar atau bahan langsung dalam rangka memproduksi makanan. 2) Perhitungan biaya tenaga kerja

Tenaga kerja yang perlu diperhitungkan dalam biaya ini adalah tenaga kerja di unit perbakalan serta unit pengolahan penyaluran makanan. Biaya tenaga kerja ini merupakan biaya tetap karena pada batas tertentu tidak dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dihasilkan.

3) Biaya Overhead

Biaya overhead meliputi biaya barang dan biaya pemeliharaan. Biaya barang yaitu seluruh biaya barang yang telah dikeluarkan untuk operasional penyelenggaraan makanan misalnya alat tulis kantor, alat masak, alat makan dan alat rumah tangga lainnya. Sedangkan biaya pemeliharaan meliputi biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharan gedung, dan peralatan yang digunakan untuk operational penyelenggaraan makanan.

(29)

d. Peraturan Pemberian Makanan

Peraturan pemberian makanan rumah sakit adalah suatu pedoman yang ditetapkan pimpinan rumah sakit sebagai salah satu acuan dalam memberikan pelayanan gizi pada pasien dan karyawan yang memuat: pola makan sehari, nilai gizi yang mengacu pada buku penuntun diet, standar makanan, jenis konsumen yang dilayani. Peraturan pemberian makan rumah sakit ditetapkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan rumah sakit .

2.3.2 Proses

Proses penyelenggaraan makanan rumah sakit meliputi penyusunan

standar makanan, perencanaan anggaran bahan makanan, perencanaan menu, perencanaan bahan makanan, perhitungan harga makan, penyediaan bahan makanan, pemesanan bahan makanan, pembelian makanan, penerimaan bahan makanan, dan penyaluran bahan makanan

a. Penyusunan Standar Makanan

Standar bahan makanan adalah susunan macam/contoh bahan makanan serta jumlahnya (berat kotor) yang digunakan sebagai standar dalam sistem penyelenggaraan makanan institusi, disesuaikan dengan dana yang tersedia dan kecukupan gizi (Depkes RI, 2007).

Tujuan dari penyusunan standar bahan makanan adalah tercapainya kecukupan gizi yang selaras dengan dana yang tersedia. Besar kecilnya dana yang tersedia akan mempengaruhi standar makanan, namun demikian

(30)

sebagai seorang manajer bertanggung jawab terhadap tercapainya kecukupan gizi minimal.

Langkah-langkah menyusun standar makanan (Depkes, 2007):

1) Terjemahkan kecukupan gizi yang telah dihitung kedalam item-item/ nama macam bahan makanan.

a) Sehari 9-12 item

b) Makan pagi/ makan siang/ makan malam 4-5 item

c) Buat alternative-alternatif bahan makanan yang digunakan dengan mempertimbangkan dana yang tersedia serta bahan makanan yang umum/ sering digunakan dan “refuse”.

d) Untuk menterjemahkan ke dalam zat gizi digunakan daftar penukar bahan makanan.

e) Setelah diperkirakan sesuai dengan sumber daya, konversikan ke dalam berat kotor. Harga bahan makanan yang digunakan dihitung harganya dengan berdasarkan berat kotor.

2) Menetapkan standar makanan

Setelah ditentukan standar kecukupan gizi pasien, maka selanjutnya rumah sakit dapat mengkonversikan kecukupan gizi dalam bentuk makanan, yang disebut sebagai standar makanan rumah sakit . Standar makanan rumah sakit dapat disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan keberadaan bahan makanan setempat.

(31)

Menurut Depkes RI (2007), perencanaan anggaran harga bahan makanan adalah rangkaian kegiatan perhitungan anggaran berdasarkan laporan penggunaan bahan makanan tahun sebelumnya dengan mempertimbangkan fluktuasi harga, fluktuasi konsumen dan tren penyakit. Adanya rencana anggaran belanja berfungsi untuk mengetahui perkiraan jumlah anggaran bahan makanan yang dibutuhkan selam periode tertentu (satu bulan, enam bulan, satu tahun).

Tujuan dari perencanaan anggaran bahan makanan adalah tersedianya usulan anggaran yang cukup untuk pengadaaan bahan makanan sesuai dengan standar kecukupan gizi yang ditetapkan.

Syarat-syarat yang diperlukan dalam merencanakan anggaran bahan makanan menurut (Depkes RI, 2007):

1) Adanya kebijakan rumah sakit

2) Tersediannya data peraturan pemberian makanan rumah sakit . 3) Tersediannya data standar makanan untuk pasien

4) Tersedianya data standar harga bahan makanan

5) Tersedianya data rata-rata jumlah konsumen /pasien yang dilayani. 6) Tersedianya siklus menu.

7) Tersedianya anggaran makanan yang terpisah dari biaya perawatan.

(32)

Menurut Depkes RI (1991), Menu adalah serangkaian rincian hidangan yang dipersiapkan untuk setiap waktu makan. Perencanaan menu merupakan suatu kegiatan yang kritis, artinya menu yang ditampilkan mempunyai dampak pada kegiatan penyelenggaraan makanan selanjutnya. Selain itu perencanaan menu akan menjadi factor penentu dan citra dari institusi penyelenggaraan makanan. Tujuan perencanan menu adalah tersedianya menu sesuai dengan tujuan system penyelenggaraan makanan, baik komersial maupun non komersil.

Berdasarkan buku pedoman PGRS Depkes RI (2003), syarat-syarat yang harus dimiliki untuk melakukan penyusunan menu antara lain:

1) Peraturan pemberian makan rumah skait 2) Standar porsi dan standar resep

3) Standar bumbu

Sedangkan menurut Depkes RI (2007) menyatakan bahwa tujuan institusi dan tenaga juga harus dipertimbangkan dalam penyusunan menu.

Langkah-langkah penyususnan menu menurut Depkes RI (2007): 1) Menetapkan macam menu

Pada tahap awal dengan mengacu kepada tujuan institusi, maka perlu ditetapkan macam menu, apakah menu standar atau menu pilihan.

2) Menetapkan siklus menu

Bila menu yang ditetapkan adalah standar, maka perlu ditetapkan macam siklus menu yang cocok dengan tipe system penyelenggaraan makanan

(33)

yang sedang berjalan. Macam siklus menu lima hari, tujuh hari atau sepuluh hari.

3) Menetapkan periode siklus menu

Periode siklus menu adalah lamanya siklus menu berlaku dan perlu penggantian atau modifikasi kembali. Pada menu yang baru disusun, dimana keadaan konsumen belum terlalu dipahami oleh manajemen, biasanya diberlakukan lebih cepat, misalnya tiga bulan. Pada institusi yang telah lama dibentuk dan pihak manajemen telah melakukan perbaikan-perbaikan dapa t diberlakukan lebih lama, misalnya enam bulan atau satu tahun.

4) Menetapkan pola menu

Pola menu yang dimaksud adalah golongan macam hidangan yang direncanakan untuk setiap waktu makan. Tujuan dibuat pola menu adalah agar dalam siklus menu dapat dipastikan mengunakan bahan makanan sumber zat gizi yang dibutuhkan konsumen. Selain itu dengan penetapan pola dapat dikendalikan bahn makanan sumber zat gizi yang diperlukan. 5) Menetapkan besar porsi

Besar porsi adalah banyaknya golongan bahan makanan yang direncanakan setiap kali makan dengan menggunakan satuan penukar berdasarkan standar makanan yang berlaku di rumah sakit.

(34)

Master menu adalah alokasi item bahan makanan kedalam matrix dalam siklus menu. Tujuan dibuatnya master menu adalah agar distribusi bahan makanan yang digunakan tersebar lebih harmonis, sehingga pengulangan penggunaan bahan makanan tertata dengan baik.

Selain itu dengan adanya master menu mudah dilakukan pengawasan penggunan bahan makanan harian dan pengawasan harga bahan makanan. Manfaat master manu adalah mudah dalam melakukan modifikasi menu pada kegiatan perencanaan ulang, apabila suatu saat terjadi perubahan dana. Maka modifikasi biasanya dilakukan pada master menu.

7) Inventarisasi golongan hidangan, macam hidangan dan resepnya

Resep-resep makanan sebaiknya tersedia resep yang telah terstandarisasi. Oleh karena itu kegiatan penelitian dan pengembangan resep harus selalu ada pada dana system penyelenggaraan makanan.

8) Merancang menu dalam siklus yang ditetapkan (format menu)

Yaitu memadukan/ mengkombinasikan berbagai macam hidangan menjadi susunan yang harmonis dan rasa yang diterima.

d. Perencanaan Bahan Makanan

Perencanaan bahan makanan merupakan salah satu langkah penting dalam kegiatan penyelenggaraan makanan dan dalam upaya mengendalikan harga makanan pasien. Ketepatan dalam merencanakan bahan makanan sangat membantu kelancaran terlaksanya pengadaan bahan makanan yang lancar dan baik (Depkes RI, 2007).

(35)

Langkah-langkah perhitungan kebutuhan bahan makanan:

1) Susun macam bahan makanan yang akan dibeli, lalu golongkan bahan makanan apakah termasuk dalam bahan makanan segar, bahan makanan kering

2) Hitung kebutuhan semua bahan makanan satu persatu

e. Perhitungan Harga Makanan

Harga makanan adalah harga rata-rata makanan sehari pada periode tertentu berdasarkan standar makanan yang direncanakan dan menurut jenis konsumen. Tujuan perhitungan harga makanan adalah tersedianya standar harga makanan pasien berdasarkan kelas perawatan per waktu makan per porsi. Harga makanan dapat berupa harga setiap masakan /hidangan atau harga porsi makan berdaarkan waktu makan atau porsi makanan sehari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan harga bahan makanan menurut (Depkes RI, 2007):

1) Peraturan pemberian makan 2) Standar gizi dan standar makanan 3) Standar waste (berat kotor) 4) Standar porsi(berat bersih) 5) Standar resep

(36)

6) Harga kontrak bahan makanan.

f. Penyediaan Bahan Makanan

Penyediaan bahan makanan adalah proses pnyediaan bahan makanan melalui prosedur dan peraturan yang berlaku. Fungsi penyediaan bahan makanan yaitu menyelenggarakan pengaturan kegiatan pembelian bahan makanan dalam jumlah, macam serta kualitas yang sesuai dengan di rencanakan (Depkes RI, 1991).

Pada penyediaan bahan makanan dilakukan perencanaan pengadaan bahan makanan yang meliputi penetapan spesifikasi bahan makanan dan melakukan survey pasar.

1) Spesifikasi bahan makanan

Adalah standar bahan makanan yang ditetapkan oleh peminta (instansi, perorangan) sesuai dengan ukuran, besar, untuk mempertahankan kualitas bahan makanan. Dalam menetapkan macam/item bahan makanan serta kualitasnya biasanya diperoleh dari standar resep.

2.) Survey pasar

Adalah kegiatan untuk mengetahui harga bahan makanan yang sesuai dengan spesifikasi yang ada dipasaran sebagai dasar perencanaan

(37)

anggaran perkiraan harga tersebut meliputi harga terendah, harga tertinggi, harga tertimbang dan harga perkiraan maksimal.

g. Pemesanan Bahan Makanan

Pemesanan bahan makanan adalah penyusunan permintaan (order) bahan makanan berdasarkan menu atau pedoman menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang dilayani dan dengan memperhitungkan stok bahan makanan yang ada. Tujuannya adalah tersedianya daftar pesanan bahan makanan sesuai dengan standar atau spesifikasi yang ditetapkan (Depkes 2007)

Pemesanan dapat dilakukan sesuai dengan kurun waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan). Persyaratan:

1) Adanya kebijakan rumah sakit tentang pengadaan bahan makanan.

2) Adanya surat perjanjian antara rumah sakit dengan rekanan atau pemasok. 3) Adanya spesifikasi bahan makanan.

4) Adanya daftar pesanan bahan makanan. 5) Tersedianya dana.

h. Pembelian Bahan Makanan

Pembelian bahan makanan merupakan serangkaian kegiatan penyediaan macam, jumlah, spesifikasi/kualitas bahan makanan merupakan sesuai ketentuan/policy yang berlaku di institusi/rumah sakit yang bersangkutan. Pembelian bahan makanan merupakan prosedur penting untuk memperoleh bahan makanan, biasanya terkait dengan produk yang benar, jumlah yang

(38)

tepat, waktu yang tepat dan harga yang benar. Untuk rumah sakit kelas pemerintah, berlaku ketentuan pemerintah yang mengatur dan menetapkan bahwa pembelian bahan makanan dilakukan secara kontrak berdasarkan pelelangan.

Menurut Depkes RI (2007), Prosedur/sistem pembelian yang sering dilakukan antara lain:

1) Pembelian langsung ke pasar

Cara pembelian ini hanya dilaksanakan bila institusi melayani 50 klien, sehingga beban penyediaan bahan makanan masih cukup mampu diatasi. Prosedurnya sederhana, tidak komplek. Tetapi cara ini kurang memenuhi ketentuan administrasi keuangan yang tetap. Prinsip dan prosedur pembelian bahan makanan mengikuti peraturan yang berlaku (Depkes, 1991).

2) Pembelian dengan musyawarah (the negotiated of buying) waktu tertentu Cara pembelian setengah resmi, cara ini hanya dilakukan untuk bahan makanan yang hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu, jumlahnya terbatas dan merupakan bahan makanan yang dibutuhkan klien (Depkes, 1991).

3) Pembelian yang akan datang (Fiture contrak)

Pembelian ini di rancang untuk bahan makanan yang telah terjamin, pasti, terpercaya mutu, keadaan dan harga. Produk bahan makan dibatasi karena

(39)

itu pembeli berjanji membeli bahan makanan tersebut dengan kesepakatan harga saat ini, tetapi bahan makanan dipesan sesuai waktu dan kebutuhan pembeli (Depkes, 1991).

4) Pembelian tanpa tanda tangan (unsigned contrak/ auction)

a) Firm at the opening price (FAOP), dimana pembelian memesan bahan makanan pada saat dibutuhkan harga disesuaikan pada saat transaksi berlangsung.

b) Subject approval of price (SAOP), dimana pembeli memesan bahan makanan pada saat dibutuhkan, harga sesuai dengan yang ditetapkan terdahulu.

5) Pembelian melalui tender/ pelelangan (The Formal Competitive).

Menurut Moehyi (1992), pengadaan bahan makanan yang diperlukan dalam penyelenggaraan makanan institusi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut:

a) Pengadaan bahan makanan dapat dilakukan dengan cara membeli sendiri bahan makanan yang diperlukan dipasar atau di toko-toko. b) Pengadaaan bahan makanan melalui pemasok bahan makanan atau

leveransir bahan maknanan. Biasanya pengadaaan bahan makanan untuk penyelenggaraan institusi dan rumah sakit sesuai dengan peraturan yang berlaku, yaitu melalui pemasok yang dipilih setelah diadakan pelelangan atau tender.

(40)

Menurut Depkes RI (2007), Ada tiga bentuk pelelangan untuk memilih pemasok bahan makanan bagi institusi atau rumah sakit , yaitu sebagai berikut:

a) Pelelangan umum, yaitu pelelangan yang terbuka untuk semua pemasok bahan makanan. Pelelangan diumumkan secara luas melalui bahan makanan. Pelelangan diumumkan secara luas melalui berbagai media massa sehingga semua pemasok yang berminat dapat mengikuti pelelangan itu. Kesukaran memilih pemasok dari pelelangan umum adalah bonafiditas pemasok sering kurang diketahui karena tidak dinilai terlebih dahulu. Selain itu, juga tidak diketahui konduite dan prestasi pemasok terdahulu.

b) Pelelangan terbatas, yaitu pelelangan yang diikuti oleh rekanan calon pemasok tertentu yang sudah diteliti oleh pihak yang berwenang, seperti pemerintah daerah, Departemen perdagangan.

c) Pelelangan dengan perbandingan harga penawaran, yaitu beberapa calon pemasok yang sudah di prakualifikasi dan sudah terdaftar sebagai rekanan pemerintah (biasanya paling sedikit tiga calon) diminta mengajukan penawaran harga. Calon yang mengajukan penawaran harga yang terendah akan ditunjuk sebagi pemasok kebutuhan bahan maknan bagi institusi itu.

(41)

Penerimaan bahan makanan merupakan suatu kegiatan yang meliputi pemeriksaan/penelitian, pencatatan dan pelaporan tentang macam, kualitas dan kuantitas bahan makanan yang diterima sesuai dengan pesanan serta spesifikasi yang telah ditetapkan dalam perjanjian jual beli.

Prinsip penerimaan bahan maknan adalah jumlah yang diterima harus sesuai dengan yang dipesan, mutu yang diterima harus dengan spesfifikasi yang disepakati dalam perjanjian dan harga bahan makanan yang tercantumdalam faktur pembelian harus sama dengan harga bahan makanan yang tercantum dalam perjanjian jual beli.

Syarat penerimaan bahan makanan antara lain :

1) Tersedianya rincian pesanan bahan makanan harian berupa macam dan jumlah bahan makanan yang akan diterima.

2) Tersediannya spesifikasi bahan makanan yang telah ditetapkan.

Menurut Depkes RI (2007), bentuk atau cara menerima bahan makanan secara umum ada dua macam, yaitu :

1) Blind receiving atau cara buta

Dimana petugas penerimaan bahan makanan tidak menerima spesifikasi bahan makanan serta faktur pembelian dari penjualan/vendor. Petugas penerimaan langsung mengecek, menimbang dan menghitung bahan makanan yang datang di ruang penerimaan kemudian mencatat di buku laporan atau formulir yang telah dilengkapi dengan jumlah, berat dan spesifikasi lain jika diperlukan.

(42)

2) Conventional atau konvensional

Dimana petugas penerimaan bahan makanan menerima faktur dan spesifikasi satuan dan jumlah bahan makanan yang dipesan. Jika jumlah dan mutu tidak sesuai, petugas penerima berhak mengembalikannya. Namun petugas penerima harus mencatat semua bahan makanan yang dilaporkan kepada bagian pembalian atau pembayaran. Prosedur pengembalian bahan makanan, sebaiknya petugas pengiriman bahan makanan ikut mengakui adanya ketidak cocokan pesanan dengan pengiriman yang ditandai dengan membubuhkan tanda tangan di formulir pengembalian bahan makanan. Disamping itu perlu diberi catatan bahwa makanan yang dikembalikan tersebut harus segera diganti atau mengubah isi faktur pengiriman.

Pencatatan bahan makanan yang diterima harus dilakukan secara teliti, sistematis dan teratur. Hal ini merupakan salah satu faktor penting sebagai dokumentasi tertulis tentang jumlah, mutu bahan makanan yang diterima. Data tersebut dapat dijadikan bahan monitoring, pengawasan dan pengendalian kegiatan atau bahkan dapat dijakan bahan perencanaan kebutuhan yang akan datang.

Langkah penerimaan bahan makanan menurut (Depkes RI, 2007): 1) Bahan makanan diperiksa sesuai dengan datar pesanan (yang memuat

(43)

2) Bahan makanan basah langsung didistribusikan ke bagian pengolahan, bahan makanan kering disimpan di gudang/ penyimpanan kering. 3) Bahan makanan yang tidak langsung dipergunakan saat itu dilakukan

penyimpanan di rung pendingin (freezer/chiller)

Menurut Moehyi (1992), Tugas dan tanggung jawab tim penerima bahan makanan, adalah sebagai berikut:

1) Meneliti apakah bahan makanan yang diserahkan oleh pemasok sesuai dengan ketentuan-ketentuan (spesifikasi) sebagaimana tercantum dalam kontrak kerja.

2) Mencocokan jumlah dan jenis bahan makanan yang diserahkan oleh pemasok apakah sudah sesuai dengan pesanan yang tercantum dalam DPMP (Daftar Pesanan Bahan Makanan)

3) Mengambil keputusan menerima atau tidak menerima bahan makanan yang diserahkan oleh pemasok.

j. Penyimpanan Bahan Makanan

Penyimpanan bahan makanan adalah sutu tata cara menata, menyimpan, memelihara keamanan bahan makanan kering dan basah baik kualitas maupun kuantitas di gudang bahan bhan makanan kering dan basah serta pencatatan dan pelaporannya.

Fungsi dari penyimpanan bahan makanan adalah menyelenggarakan pengurusan bahan makanan agar setiap waktu diperluka dapat melayani dengan tepat, cepat dan aman digunakan dengan cara yang efisien. Prinsip

(44)

dasar dalam penyimpanan bahan makanan adalah: tepat tempat, tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah dan tepat nilai. Sesuai jenis bahan makanan gudang operasional dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1) Gudang bahan makanan kering

Merupakan tempat menyimpan bahan makanan kering yang tahan lama seperti beras, gula, tepung-tepungan, kacang hijau, minyak, kecap, makanan dalam kaleng dan lain-lain.

Syarat utama untuk menyimpan bahan makanan kering adalah ruangan khusus kering, tidak lembab, pencahayaan cukup, ventilasi dan sirkulasi udara baik, serta bebas dari serangga dan binatang pengerat lainnya. Penyimpanan bahan makanan dalam kondisi gelap dan lembab akan mendorong pertumbuhan organisme tertentu seperti jamur. Suhu ruangan yang dianjurkan adalah 19-20 oC, yang harus sering dikontrol untuk menjaga kestabilan.

Dalam penataan/penempatan barang, bahan makanan harus disusun beraturan, diberi tanggal penerimaan dan setiap jenis bahan makanan diberi pembatas. Bahan makanan yang peraturannya cepat, diletakkan dekat dengan tempat penyaluran dan sebaliknya. Bahan makanan yang berbau tajam seperti terasi, harus dipisahkan dan tidak berdekatan dengan bahan makanan yang mudah menyerap bau seperti tepng-tepungan. 2) Gudang bahan makanan segar

(45)

Merupakan tempat penyimpanan bahan makanan yang masih segar seperti daging, ikan unggas, sayuran dan buah. Bahan makanan yang mudah rusak, sehingga perlu dilakukan tindakan untuk untuk memperlambat kerusakan terutama disebabkan oleh mikroba.

Secara umum setiap jenis bahan makanan segar memiliki suhu

penyimpanan tertentu yang optimal untuk menjaga kualitas.

Pengelompokkan bahan makanan segar sesuai dengan suhu penyimpanan adalaha:

Penyimpanan segar (Fresh cooling), bahan makanan disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu ayng berkisar antara 1-4oC.

Penyimpanan dingin (chilly), bahan makanan disimpan di lemari es dengan suhu antara suhu (-5--0oC) Suhu ini dibutuhkan untuk menyimpan daging ikan atau unggas tidak lebih dari 3 (tiga) hari.

Penyimpanan beku (Freezer), suhu di ruang penyimpanan ini sangatlah dingin yaitu sekitar (-10)oC, dapat digunakan untuk menyimpan daging dalam waktu lama.

Suhu ruangan gudang bahan makanan segar diperiksa dua kali sehari, yaitu pada saat gudang dibuka dan ditutup sehingga keamanan bahan makanan didalamnya dapat terkontrol. Selain karakteristik bahan sebagai persediaan, alat penumpuk yang digunakan dalam gudang akan mempengaruhi sistem pergudangan. Alat tersebut mempunyai fungsi

(46)

untuk memudahkan penanganan suatu bahan sebagai suatu kesatuan, dibandingkan apabila bahan tersebut didatangi sendiri-sendiri.

Menurut Depkes RI (2007), syarat penyimpanan bahan makanan, antara lain:

1) Adanya sistem penyimpanan barang

2) Tersedianya fasilitas ruang penyimpanan bahan makanan sesuai persyaratan.

3) Tersedianya kartu stock/ buku catatan keluar masuknya bahan makanan.

Menurut Depkes RI (2007), langkah-langkah penyimpanan bahan makanan:

1) Setelah bahan makanan yang memenuhi syarat diterima, harus segera dibawa ke ruangan penyimpanan, gudang atau pendingin ruangan. 2) Apabila bahan makanana langsung akan digunakan, setelah ditimbang

dan diawasi oleh bagian penyimpanan bahan makanan setempat dibawa keruang persiapan bahan makanan. Untuk semua kelas rumah sakit diperlukan ruang penyimpanan untuk bahan makanan kering (gudang bahan maknan) dan ruang pendingin, serta ruang pembeku (freezer). Luas macam dan jenisnya berbeda menurut rumah sakit masing-masing. Freezer (pembeku) umumnya dimiliki oleh instansi yang besar yang dimaksudkan untuk menyimpan bahan makanan dalam jangka waktu yang agak lama.

(47)

k. Persiapan Bahan Makanan

Persiapan bahan makanan adalah serangkaian kegiatan dalam penanganan bahan makanan, yaitu meliputi berbagai proses antara lain membersihkan, memotong, mengupas, mengocok, merendam dan sebagainya.

Tujuan dari persiapan bahan makanan adalah tersedianya racikan yang tepat dari berbagai macam bahan makanan unutk berbagai hidangan dalam jumlah yang sesuai dengan menu yang berlaku, standar porsi dan jumlah konsumen. Tersedianya racikan bumbu sesuai dengan standar bumbu atau standar resep yang berlaku, menu dan jumlah konsumen.

Menurut Depkes RI (2007) pertimbangan dalam persiapan bahan makan: 1) Peralatan

Peralatan yang diperlukan dalam persiapan ini adalah alat-alat mekanik, container dengan berbagai ukuran serta perlatan kecil. Peralatan mekanik diperlukan untuk mempermudah pengupasan, pencucian, menghaluskan, mencampur (mixer), alat pencincang dan pemarut. Kapasitas peralatan hendaknya disesuaikan dengan volume bahan yang dipersiapkan.

2) Jadwal penyajian dan distribusi

Hal ini disebabkan setiap masakan perlu persiapan yang berbeda-beda. 3) Pengawasan porsi

Pengawasan porsi biasanya dilakukan dengan alat ukur, misalnya gelas ukur, sendok teh dan timbangan. Pengawasan porsi dilakukan dalam proses persiapan bahan makanan.

(48)

Syarat-syarat persiapan bahan makanan:

1) Tersedianya bahan makanan yang akan dipersiapkan 2) Tersedianya peralatan persiapan

3) Tersedianya protap/ mekanisme persiapan 4) Tersedianya standar potongan dan bentuk 5) Tersedianya standar porsi dan standar resep.

l. Pengolahan Bahan Makanan

Pengolahan bahan makanan adalah suatu kegiatan atau memasak bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, berkualitas dan aman untuk dikonsumsi.

Proses pemasakan pada institusi berbeda dengan pemasakan jumlah porsi sedikit. Pada system penyelenggaraan makanan institusi, dimana bahan yang sudah dipersiapkan dalam porsi banyak. Oleh karena itu, agar tercipta rasa hidangan dapat dipertahankan kualitasnya, maka diperlukan tahap-tahap yang berbeda bila pemasakan dalah jumlah sedikit. Cita rasa yang dimaksud disini adalah kualitas hidangan dilihat dari aspek penampilan dan rasa. Pada proses pemasakan dalam jumlah besar diperlukan tahap-tahap agar bentuk bahan makanan tetap terjaga sesuai dengan resep dan tingkat kematangan.

Menurut Depkes RI (2007), syarat-syarat dalam pengolahan makanan, antara lain:

1) Tersedianya siklus menu

(49)

3) Tersedianya peralatan pengolahan bahan makanan 4) Tersedianya standar resep

5) Tersedianya protap pengolahan

6) Tersedianya aturan penilaian makanan

Menurut Depkes RI (2007), pengawasan pada pemasakan yaitu: 1) Temperatur

2) Waktu 3) Rasa

Pada pemasakan awal dalam jumlah banyak, untuk mempertahankan agar makanan tidak hancur, tingkat kematangan merata juga mencegah kontaminasi bahan terhadap mikroorganisme pembusuk, maka beberapa bahan makanan perlu dilakukan pemasakan awal atau balanching yaitu Memasukan bahan air mendidih dengan waktu sekitar 1-3 menit, kemudian langsung diangkat dan diinginkan. Fungsinya adalah mengeluarkan darah dan lemak seperti pada ayam, ikan dan sebagainya, memperoleh warna yang lebih cerah untuk sayuran dan buah, menginefektifkan enzim bahan, membunuh mikroorganisme dan mempermudah pengulitan seperti tomat.

Macam-macam teknik pemasakan/pengolahan antara lain yaitu: 1) Boiling

Memasak dalam cairan banyak sampai bahan terendam dengan suhu 100°C (mendidih). Contoh: sup, sayur asem, sayur lodeh, soto, gulai, dsb

(50)

Merebus dalm air mendidih perlahan-lahan dengan api sedang dan suhu 100°C. Contoh kalio: semur, bumbu bali,dsb

3) Poaching

Merebus dalam air mendidih, api dikecilkan. Air perebus dapat ditambah cuka untuk mempertahankan bentuk. Contoh: poach egg, poach fish, dsb 4) Steaming

Memasak dengan uap air (mengukus). Bahan dapat diletakkan langsung pada alat pengukus atau ditempatkan dulu dalam wadah atau dibungkus kemudian diletakkan dalam kukusan. Contoh: pepes, botok, srikaya, dsb. 5) Pressure cooking

Memasak dengan tekann dan temperature tinggi (15 Psi dengan suhu 121 °C). Cara ini paling efektif membunuh mikroorganisme pathogen dengan waktu yang relative singkat. Contoh bandeng presto

m. Distribusi Makanan

MenurutDepkes RI (2007), pendistribusian makanan adalah serangkaian kegiatan penyaluran makanan sesuai dengan jumlah porsi dan jenis makanan konsumen yang dilayani (makanan biasa maupun makanan khusus). Distribusi juga dapat diartikan sebagai subsistem atau komponen dalam sistem penyelenggaraan makanan yang mempunyai kegiatan penerimaan hidangan, penungguan, penyajian, pelayanan, pencucian alat dan pembuangan sampah. Merupakan rangkaian kegiatan penyaluran makanan sesuai dengan jumlah

(51)

porsi dan jenis makanan konsumen yang dilayani (makanan biasa maupun makanan khusus).

Disini dapat diartikan menyangkut kegiatan hidangan yang telah dikemas dengan alat tertentu diterima, disimpan sementara sampai waktu makan. Disajikan dengan alat-alat makan atau disampaikan kepada konsumen dengan cara pelayanan tertentu. Sedangkan cara pelayanan dapat diartikan sebagai cara menyampaikan hidangan yang telah ditata kepada konsumen. Semua kegiatan ini berada pada ruang distribusi.

Persyaratan dalam pendistribusian makanan, antara lain:

1) Tersedianya standar pemberian makanan rumah sakit, menyangkut standar penyediaan energi dan zat gizi lainnya serta dietetika. 2) Tersedianya standar porsi yang ditetapkan rumah sakit ,. 3) Adanya peraturan pengambilan/pembagian makanan 4) Adanya bon permintaan makanan

5) Tersedianya makanan sesuai dengan ketentuan diet pasien/ kebutuhan konsumen.

6) Tersedianya peralatan makan

7) Tersedianya sarana pendistribusian makanan 8) Tersedianya tenaga pramusaji

9) Adanya jadwal pendistribusian makanan di dapur utama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam distribusi dan penyajian makanan menurut Moehyi (1992), antara lain:

(52)

1) Makanan harus didistribusikan dan disajikan kepada konsumen tepat waktu pada waktunya.

2) Makanan yang disajikan harus sesuai dengan jumlah atau porsi yang telah ditentukan.

3) Kondisi makanan yang disajikan juga harus sesuai. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah temperature makanan pada waktu disajikan.

Sistem penyaluran makanan yang digunakan sangat memperngaruhi makanan yang disajikan, tergantung pada jenis dan jumlah tenaga, perlatan dan perlengkapan yang ada. Terdapat 3 (tiga) sistem penyaluran makanan yang biasa dilaksanakan di rumah sakit , yaitu:

1) Penyaluran makanan yang dipusatkan (Sentralisasi).

Cara ini lazim disebut dengan cara distribusi “sentralisasi” dengan ketentuan ini, makanan pasien dibagi dan disajikan dalam alat makan di tepat pengolahan makanan.

Keuntungan cara sentralisasi yaitu tenaga lebih hemat, sehingga lebih menghemat biaya dan pengawasan. Pengawasan dapat dilakukan langsung dengan mudah dan teliti. Makanan dapat disampaikan langsung ke pasien dengan sedikit kemungkinan kesalahan pemberian makanan. Ruangan pasien terhindar dari keributan pada waktu pembagian makanan serta bau makanan , dan pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Kelemahan cara sentralisasi yaitu Memerlukan tempat, paralatan dan perlengkapan makanan yang lebih banya (tempat harus luas, kereta

(53)

pemanas mempunyai rak, adanya tambahan biaya untuk peralatan, perlengkapan serta pemeliharan, makanan sampai ke pasien sudah agak dingin, makanan mungkin sudah tercampur serta kurang mearik, akibat perjalan dari dapur utama ke dapur ruangan.

2) Penyaluran makanan yang tidak dipusatkan (Desentralisasi)

Cara ini lazim disebut dengan sistem distribusi “desentralisasi”. Makanan pasien dibawa dari tempat pengolahan ke dapur ruang perawatan pasien, dalam jumlah banyak/besar, untuk selanjutnya disajikan dalam alat makan masing-masing pasien sesuai dengan permintaan makanan.

Keuntungan cara desentralisasi yaitu tidak memerlukan tempat yang luas, peralatan makan yang ada didapur ruangan tidak banyak,makanan dapat dihangatkan kembali sebelum dihidangkan ke pasien, makanan dapat disajikan lebih rapid an baik serta dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Kelemahan cara desentralisasi yaitu memerlukan tenaga lebih banyak di ruangan dan pengawasan secara menyeluruh agak sulit, makanan dapat rusak bila petugas lupa untuk menghangatkan kembali, besar porsi sukar diawasi, khususnya bagi pasien yang menjalankan diet, pengawasan harus lebih banyak dilakukan, ruangan pasien dapat terganggu oleh keributan pembagian makanan serta bau masakan.

(54)

Penyaluran makanan kombinasi dilakukan dengan cara sebagian makanan ditempatkan langsung ke dalam alat makanan pasien sejak dari tempat produksi (dapur), dan sebagian lagi dimaskkan kedalam wadah besar, pendistribusian dilaksanakan setelah sampai dirung perawatan.

2.3.3 Output

Output dalam proses sistem penyelenggaraan makanan rumah sakit yaitu pengawasan mutu produksi dan kepuasan pasien.

a. Pengawasan mutu produksi makanan

Faktor yang mempengaruhi kualitas makanan pada tahap produksi adalah:

1) Suhu, waktu dan metoda pemasakan sesuai dengan standar resep 2) Besar porsi harus sesuai dengan standar porsi yang ditetapkan

3) Rasa, penampilan dan tingkat kematangan

b. Kepuasan Pasien

Penilaian mutu makanan oleh konsumen dan manajemen melalui evaluasi kepuasan pasien atau daya terima pasien terhadap makanan yang disajikan

(55)

BAB III

ALUR DAN JADWAL MAGANG

3.1 Alur Magang

Bagan 3.1

Alur Kegiatan Magang di RSUD Pasar Rebo tahun 2010

Persiapan Kegiatan Magang:

1. Datang ke RSUD Pasar Rebo untuk mencari Informasi tentang magang 2. Pengajuan surat magang ke fakultas

3. Pembuatan proposal magang

4. Mengirim proposal dan surat pengajuan magang ke RSUD Pasar Rebo 5. Di terima magang di RSUD Pasar Rebo

6. Bimbingan dengan dosen pembimbing

Sumber: Data Primer

Pelaksanaan kegiatan magang:

1. Apel pagi, Pengantar profil RSUD Pasar Rebo, perkenalan dengan staff instalasi gizi dan penentuan pembimbing lapangan.

2. Ikut serta dalam proses penyelenggaraan makanan mulai dari penerimaan bahan makanan sampai dengan pendistribusian makanan ke pasien

3. Melakukan observasi

4. Melakukan wawancara terkait tentang penyelenggaraan makanan 5. Pengambilan data:

a. Profil RSUD Pasar Rebo b. Profil Instalasi gizi

c. Standar menu, standar porsi, standar bumbu, standar resep, dll. 6. Ikut serta dalam kegiatan di poliklinik gizi, rawat inap

7. Bimbingan dengan pembimbing lapangan dan dosen pembimbing

Pasca kegiatan magang:

1. Penyusunan laporan magang

2. Mengumpulkan referensi-referensi terkait dengan penyelenggaran makanan rumah sakit

3. Bimbingan dengan pembimbing fakultas serta pembimbing lapangan 4. Persentasi laporan magang

(56)

3.2 Jadwal Kegiatan

Tabel 3.1

Jadwal Kegiatan Magang di RSUD Pasar Rebo Tahun 2010

No. Hari

ke-

Hari/Tanggal Keterangan Tempat

1. 1 Senin, 01

Februari 2010

● Apel pagi dan perkenalan

● Pengantar profil RSUD Pasar Rebo

● Konsultasi dan pengantar profil instalasi gizi ● Perkenalan dengan staff gizi

● Ikut serta dalam penyajian makan siang pasien ● Ikut serta dalam persiapan bahan makanan ● Ikut serta dalam persiapan snack sore pasien ● Bimbingan dan konsultasi dengan pembimbing

lapangan Lapangan Rumah Sakit, Instalasi gizi 2. 2 Selasa, 02 Februari 2010

● Ikut serta dalam proses penerimaan bahan makanan ● Rekap makanan pasien

● Persiapan snack siang

● Input data permintaan bahan makanan ● Ikut serta dalam penyajian snack siang ● Persiapan bahan makanan untuk makan sore ● Wawancara tentang pemesanan bahan makanan

Instalasi gizi

3 3 Rabu, 03

Februari 2010

● Penyajian snack pagi ● Rekap makan pasien ● Pendistribusian snack pagi

● Persiapan bahan makanan untuk makan siang ● Persiapan bumbu

Instalasi gizi

4 4 Kamis, 04

Februari 2010

● Rekap makan pasien

● Persiapan bahan makananuntuk makan siang ● Penyajian makan siang

● Persiapan snack siang ● Input data bahan makanan

● Persiapan bahan makanan untuk makan sore

Instalasi gizi

5 5 Jum’at, 05

Februari 2010

● Rekap makan pasien

● Persiapan bahan makanan untuk makan siang ● Penyajian makan siang

● Penomoran ekspedisi pemeriksa barang

● Wawancara tentang alur pemesanan makan untuk pasien sampai kepada pendistribusian makan pasien

● Pengambilan data standar menu

Instalasi gizi

(57)

Tabel 3.1

Jadwal Kegiatan Magang di RSUD Pasar Rebo Tahun 2010 (Lanjutan)

No. Hari ke- Hari/Tanggal Keterangan Tempat

1 6 Sabtu, 06

februari 2010

● Rekap makan pasien

● Input data pemesanan bahan makanan ● Persiapan snack pagi

● Persiapan bahan makanan untuk makan siang

● Penyajian makan siang ● Persiapan snack siang

● Bimbingan dengan pembimbing lapangan serta pengisian form I oleh pembimbing lapangan

Instalasi gizi

2 7 Senin, 08

Februari 2010

● Rekap makan pasien

● Input data pemesanan bahan makanan ● Ekspedisi pemeriksaan barang

● Penyajian makan sore

● Pengambilan data profil RSUD Pasar Rebo

Instalasi gizi

3 8 Selasa, 09

Februari 2010

● Rekap makan pasien

● Persiapan bahan makanan untuk makan siang

● Penyajian makan siang pasien ● Persiapan snack siang

● Persiapan bahan makanan untuk makan sore

● Pengambilan data profil instalasi gizi ● Wawancara dengan kepala instalasi gizi

tentang SDM di Instalasi gizi

Instalasi gizi

4 9 Rabu, 10

Februari 2010

● Rekap makan pasien

● Persiapan bahan makanan untuk makan siang

● Pengamtan penyuluhan laktasidan konsultasi gizi

● Ekspedisi pemeriksaan barang ● Input data pengajuan bahan makanan

Instalasi gizi dan Poli gizi

5 10 Kamis, 11

Februari 2010

● Pengamatan kegiatan di poli gizi ● Ekspedisi pemeriksaan barang ● Pengambilan data SOP Instalasi gizi ● Pemorsian makan sore

Instalasi gizi

6 11 Jum’at, 12

Februari 2010

● Rekap kunjungan pasien di poligizi berdasarkan jenis penyakit tahun 2009

Instalasi gizi Sumber: Data Primer

Referensi

Dokumen terkait

7HODK GLODNXNDQ IDEULNDVL PDWHULDO QDQRNRPSRVLW &17 0Q2 2 VHEDJDL PDWHULDO HOHNWURGD VXSHUNDSDVLWRU GHQJDQ UHDNVL UHGR[ DQWDUD &17 GDQ .0Q2 4 9DULDVL NRPSRVLVL GDUL NHGXD

sesuai dengan isi lembar kerja yang telah siswa tuliskan. Setelah kelompok terbentuk dan setelah diskusi dilakukan maka hasil diskusi disepakati bersama, sehingga hasil

Sun Tzu dalam bukunya “The Art of War” yang termashyur itu pernah menulis, “seni tertinggi dalam peperangan adalah mengalahkan musuh tanpa pertempuran”. Da- lam sejarah

Dalam Tugas Akhir ini dibuat sistem pedometer yang Wearable dengan menggunakan ATMega 328 sebagai otak dari alat ini, untuk menampilkan data yang telah

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Hasil simulasi dan implementasi menunjukan kontroler FS-PID dapat memberikan respon yang lebih baik dibandingkan dengan kontroler PID dengan parameter tetap ditinjau dari nilai

daripa ipada da lua luas s dae daerah rah aus auskul kultas tasi i yan yang g ter terken kena5 a5 pada pada per perkus kusi i ser sering ing ti tidak dak dit

SMKK diterapkan untuk menjamin penyelenggaraan Jasa Konstruksi yang sesuai dengan standar keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan demi terciptanya HASIL JASA KONSTRUKSI