Ketersediaan air tanah di kota Semarang ditentukan oleh laju pemanfaatan air tanah dan laju imbuhan. Laju pemanfaatan air tanah meliputi: penggunaan untuk domestik, industri, dan hotel, sedangkan laju imbuhan meliputi imbuhan dari air hujan. Namun hal yang perlu diketahui bahwa air hujan yang jatuh di daerah imbuhan (recharge) tidak semuanya akan menjadi air tanah, tetapi ada yang kembali ke atmosfer melalui evaporasi, dan sebagian lagi mengalir di permukaan sebagai run-off dan langsung mengalir ke laut. Keberadaan air tanah berdasarkan UU No. 7 tahun 2004 berada dalam suatu Cekungan Air Tanah (CAT), dan berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 13 tahun 2009 tentang pedoman penyusunan rancangan penetapan CAT, air tanah kota Semarang tersusun atas 2 CAT yakni: (a) CAT Semarang Demak, dan (b) CAT Ungaran.
5.1.1. Cekungan Air Tanah (CAT) Semarang Demak
Air hujan yang jatuh diatas permukaan tanah, kemudian masuk ke tanah melalui infiltrasi, dan perkolasi, akhirnya berkumpul membentuk air tanah. Keberadaan air tanah disebut Cekungan Air Tanah (CAT) (PP No. 43 tahun 2008). Pasal 1 ayat 3 PP No. 43 tahun 2008 menyebutkan bahwa CAT adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasdan air tanah berlangsung.
CAT Semarang Demak berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 13 tahun 2009, merupakan salah satu cekungan air tanah lintas Kabupaten di Jawa Tengah yang secara geografis terletak pada koordinat antara 110013’35" dan 111021’50" Bujur Timur serta 06046’18” dan 07014’33" Lintang Selatan, dengan luas kurang lebih 1.915 km2. Wilayahnya meliputi 7 (tujuh) daerah administratif, yaitu: Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, Grobogan, Blora, dan Kudus. Letak CAT Semarang Demak disajikan dalam Lampiran 3.
CAT Semarang Demak merupakan salah satu dari 4 (empat) CAT yang ditetapkan sebagai CAT kritis, yang meliputi: CAT Jakarta Tangerang, Bandung, Semarang Demak, dan CAT Pasuruan (Ditjen Minerba. 2003). CAT Semarang Demak dijumpai 2 (dua) sistem akuifer yakni sistem akuifer tidak tertekan atau akuifer bebas (unconfined aquifer) dan sistem akuifer tertekan (confined aquifer). Kedudukan sistem akuifer tidak tertekan umumnya kurang dari 30 m bmt (bawah
muka tanah), dan sistem akuifer tertekan dengan kedalaman antara 30 - 150 m bmt.
Daerah imbuhan air tanah tidak tertekan meliputi seluruh wilayah cekungan. Sedangkan daerah imbuhan air tanah tertekan menempati daerah kaki Gunung Ungaran yang terletak dibagian barat daya cekungan pada ketinggian antara 50 – 300 m dpl (diatas permukaan laut), meliputi daerah Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu (Kabupaten Kendal), daerah Manyaran di Kecamatan Semarang Barat, daerah-daerah di Kecamatan Ngalian, Kecamatan Mijen, Kecamatan Candisari, Kecamatan Tembalang, dan Kecamatan Banyumanik serta Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Jumlah imbuhan air tanah ke dalam sistem akuifer tidak tertekan (bebas) yang diprediksikan secara kumulitatif dengan metode prosentase curah hujan di cekungan ini terhitung 783 x 106 m3, sedangkan jumlah aliran air tanah pada sistem akuifer tertekan dihitung dengan jejaring aliran (flow net) dan melalui persamaan Darcy terhitung sebanyak 91,00 x 106 m3.
5.1.2. CAT Ungaran
CAT Ungaran wilayahnya lebih kecil dibandingkan dengan CAT Semarang Demak. Wilayahnya meliputi: Boja, Cangkiran, Gunung Pati, dan Genuk, dengan luas 340 km2. Seperti CAT Semarang Demak, CAT Ungaran juga terdiri dari 2 akuifer, yakni akuifer bebas atau air tanah bebas, dan akuaifer tertekan atau air tanah dalam. Berdasarkan peta cekungan air tanah propinsi jawa tengah dan daerah istimewa Yogyakarta (2006), volume air tanah bebas sebesar 145 x106 m3, sedangkan volume air tanah tertekan atau air tanah dalam sebesar 8,00 x 106 m3.
Akuifer bebas (air tanah dangkal) kedalamannya kurang dari 10 m bmt, kualitas airnya umumnya baik dan layak digunakan sebagai sumber air bersih, sedangkan akuifer dalam (air tanah tertekan) kedalamannya antara 75 – 100 m bmt, dan bahkan lebih dari 100 m bmt, kualitas airnya umumnya baik dan layak digunakan sebagai sumber air bersih (Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan Departemen ESDM. 2006). Kedudukan CAT Ungaran disajikan dalam Lampiran 4.
Konservasi di air tanah di kota Semarang bertumpu pada aspek teknis antara lain dapat dilakukan dengan membatasi daerah pengambilan. Konservasi air tanah di daerah Semarang dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 6 (enam) zonasi konservasi air tanah yaitu (Wahid, H. 1996):
a. Zona konservasi air tanah I (Zona I)
Pada zona ini kedudukan muka air tanah statis lebih dari 10 m dml (dari muka laut). Penyebarannya terutama pada Semaang Utara mulai dari muara kali Garang sampai ke sebelah barat kali Ongko Rawe berbentuk melingkar kearah selatan. Umumnya pada daerah pusat perdagangan, perkantoran, industri. Akuifer yang disadap dari endapan delta Garang dengan kedudukan muka air tanah 10 – 20 meter dml. Terdapat indikasi penurunan tanah (land subsident), intrusi air laut yang sudah sampai pada Tanah Mas,Tugu muda, Jl. Pandanaran, dan Simpang Lima. Untuk zona ini dilarang melakukan pemboran baru bagi sumur produksi bagi keperluan industri.
b. Zona konservasi air tanah II (Zona II)
Pada zona ini kedudukan muka air tanah statis bervariasi, umumnya kurang dari 10 meter dml. Penurunan muka air tanah cukup bervariasi, umumnya kurang dari 1 meter setiap tahun. Penyebarannya dari zona I kearah timur sepanjang pantai utara dan menyempit di bagian tengah sekitar selatan Simpang Lima, dan melebar kearah timur sampai ke Demak. Akuifer yang diijinkan untuk disadap pada kedalaman > 75 m dengan debit pengambilan maksimum 216 m3/hari untuk 1 sumur bor produksi.
c. Zona konservasi air tanah III (zona III)
Pada zona ini kedudukan muka air tanah statis umumnya cukup dalam sekitar 50 meter dari muka tanah setempat dan pada daerah-daerah yang serasi dijumpai pemunculan mata air berdebit cukup besar. Penyebarannya meluas kearah timur dan barat dari zona I, dan menyempit di bagian tengah atau selatan kota Semarang. Pemanfaatan air tanah dalam dengan membuat sumur bor produksi dengan kedalaman > 60 m debit maksimal 200 L/menit atau 216 m3/hari (pemompaan selama 18 jam/hari) setiap1 sumur bor dan berjarak minimal 1 km antar sumur bor.
d. Zona konservasi air tanah IV (zona IV)
Pada zona ini mempunyai kandungan air tanah bebas maupun tertekan dengan kualitas yang kurang baik karena akuifer berasal dari endapan tersier yang berupa lempung napalan yang banyak mengandung cangkang kerang yang mencerminkan lingkungan pengendapan marin, sehingga airnya payau sampai asin. Penyebarannya bagian tengah dan timur dari zona I, atau timur kali Blorong, pertemuan kali Kripik dan Paranasan atau barat Jatingaleh, dan sepanjang kali Garang.
e. Zona konservasi air tanah V (Zona V)
Pada zona ini penyebarannya meliputi daerah puncak dan lereng bagian utara gunung Ungaran, dengan ketinggian umumnya lebih dari 225 m dpl. Di beberapa tempat banyak dijumpai mata air dengan debit cukup besar (± 280 L/dt atau 24.192 m3/hari). Secara hidrogeologi zona ini merupakan wilayah resapan (imbuhan) dari air tanah, sehingga dihimbau tidak dilakukan pembuatan sumur bor baru.
f. Zona konservasi air tanah VI (zona VI)
Pada zona ini penyebarannya di bagian selatan yang tersusun atas batuan tufa (tersier). Secara hidrogeologi zona ini termasuk wilayah dengan air tanah produktivitas kecil sampai langka, dan mutu air tanah kurang baik, sehingga perlu dipertimbangkan sebagai wilayah resapan (imbuhan) dan tidak dapat dikembangkan.
5.1.3. Volume Air Tanah Dalam Kota Semarang
Volume air tanah dalam di kota Semarang dihitung berdasarkan hasil penelitian dari Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan Bandung (Peta Cekungan Air Tanah Jawa Tengah 2006), menunjukkan bahwa potensi air tanah dalam di kota Semarang tersusun atas 2 CAT yaitu CAT Semarang Demak dan CAT Ungaran. Volume CAT Semarang Demak adalah 91,00 x 106 m3, sedangkan kedudukan kota Semarang terhadap CAT Semarang Demak adalah 19%, sehingga berdasarkan interpolasi, maka potensi atau volume air tanah dalam (tertekan) di kota Semarang hasil sumbangan dari CAT Semarang Demak adalah sebesar 17,29 x 106 m3.
Volume CAT Ungaran adalah 8,00 x 106 m3, sedangkan kedudukan kota Semarang terhadap CAT Ungaran adalah 15%, sehingga berdasarkan interpolasi, maka volume air tanah dalamnya adalah 1,20 x 106 m3. Jadi total volume air tanah dalam kota Semarang adalah 17,29 x 106 m3 + 1,20 x 106 m3 = 18,49 x 106 m3.
5.1.4. Nilai Aman (Safety Yield) Pemanfaatan Air Tanah
Nilai aman air tanah dalam (Safety yield) adalah angka yang menunjukkan batas maksimum pengambilan air tanah dalam disuatu daerah, sehingga tidak semua cadangan air tanah dalam di kota Semarang bisa dieksploitasi, agar supaya tidak menimbulkan dampak yang sangat luas, antara lain: amblesan tanah (subsident), intrusi air laut, dan rob, yang kesemuanya akan
mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar, maka diperlukan aturan atau tata cara agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan. Menurut David K.Todd (1980), menyebutkan bahwa batas maksimum air tanah yang dapat diambil (Safety yield) adalah: 0.5 dikalikan volume air tanah atau dengan formula:
Nilai aman (SY) = 0.5 x (volume air tanah).
Berdasarkan hasil perhitungan, menunjukkan bahwa nilai aman air tanah (safety yield) di kota Semarang adalah sebesar 18,49 x 106 m3 x 0,5 = 9,245 x 106 m3.
5.1.5. Imbuh Air tanah
Ketersediaan air tanah dalam kota Semarang berasal dari daerah imbuhan air tanah yaitu air hujan yang jatuh di atas daerah lereng utara pegunungan Ungaran. Berdasarkan PP No. 43 tahun 2008, pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa daerah imbuhan adalah daerah resapan air yang mampu menambah air tanah secara alamiah pada cekungan air tanah (CAT).
Sumber utama imbuhan air tanah adalah curah hujan. Daerah tangkapan hujan untuk daerah penelitian tidak berada diatas kota Semarang, melainkan dari air hujan yang jatuh di daerah Ungaran. Oleh karena itu dalam perhitungan volume air tanah dan ketersediaan air tanah faktor imbuh air tanah sangat diperhitungkan, dan berdasarkan formula 3 (tiga) diketahui besarnya imbuh air tanah dalam di kota Semarang adalah 3,28 x 106 m3.
5.2. Identifikasi Kebijakan Pemanfaatan Air Tanah Kota Semarang
Dalam pemanfaatan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih seperti di kota-kota lain di Indonesia yaitu dengan memanfaatkan potensi air tanah melalui Cekungan Air Tanah, demikian juga pemanfaatan air tanah di kota Semarang melalui potensi cekungan air tanah Semarang Demak dan CAT Ungaran.Dalam pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih telah diatur dalam peraturan perundangan, mulai dari Undang-undang, Peraturan Pemerintah, sampai ke Surat Keputusan Gubernur, dan bahkan Peraturan Wali Kota Semarang. Banyak peraturan perundangan yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya air, namun yang berkaitan dengan konservasi pemanfaatan air khususnya air tanah di kota Semarang hanya ada 5 (lima) peraturan perundangan yang digunakan sebagai acuan, yaitu:
1. Undang undang No. 7 tahun 2004 tentang sumberdaya air,
2. Undang undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi daerah, 3. Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 2008 tentang Air Tanah,
4. SK Gubernur Jawa Tengah No. 5 tahun 2003 tentang nilai perolehan dan harga dasar untuk menghitung pajak pengambilan air bawah tanah, dan 5. Peraturan Wali Kota Semarang No. 32 tahun 2008 tentang penjabaran tugas
dan fungsi dinas pengelolaan sumberdaya air dan energi sumberdaya mineral kota Semarang.
Untuk mengetahui kaitan antara peraturan perundangan dengan konservasi pemanfaatan air tanah disajikan dalam Tabel 19.
5.3. Ketersediaan Air Tanah di Kota Semarang
Air tanah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota Semarang bersumber dari 2 (dua) air tanah, yaitu: air tanah bebas atau tanah dangkal, dan air tanah tertekan atau air tanah dalam. Air tanah dalam kota Semarang berasal dari imbuhan (recharge) dari pegunungan Ungaran di sebelah barat yang mengalir mengikuti pola aliran DAS Garang dan sebelah timur yang mengalir mengikuti pola aliran DAS Babon. Sedangkan air tanah bebas atau air tanah dangkal imbuhannya berasal dari curah hujan yang jatuh di atas kota Semarang, sehingga potensinya lebih besar, dan sebagian besar (80%) masyarakat kota Semarang memanfaatkan jenis air tanah bebas ini, karena disamping mudah dan murah untuk memperolehnya juga kualitasnya lebih baik. Penggunaan air tanah di kota Semarang meliputi: penggunaan untuk domestik (penduduk dan fasilitas umum), industri, dan hotel.
5.3.1. Kebutuhan Air untuk Domestik
Penggunaan air tanah untuk kebutuhan domestik sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan fasilitas umum.
a. Kebutuhan Air Penduduk
Jumlah penduduk di kota Semarang yang meliputi 16 Kecamatan pada tahun 2008 adalah sebesar 1.481.644 jiwa. Kota Semarang dengan jumlah penduduk > 1,4 juta jiwa adalah termasuk kategori Kota metropolitan, dengan syarat kebutuhan air bersih sebesar 150 - 200 liter per orang per hari (Kimpraswil, 2003) dan berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk diketahui bahwa kebutuhan air bersih penduduk kota Semarang adalah sebesar :
Tabel 19 Penerapan Indikator Konservasi Pemanfaatan Air Tanah dalam Peraturan Perundangan No. Peraturan Perundangan Pasal Pemanfaatan Aspek Konservasi Indikator Konservasi Jenis Komponen Konservasi Komponen Kebutuhan 1. UU No.7 th. 2004, tentang sumberdaya air 37 ayat 1 &2
Ayat (1) Air tanah keberadaannya sangat terbatas dan kerusakannya dpt mengakibatkan dampak yg luas dan pemulihannya sulit dilakukan - penghematan - muka air tanah Reduce Domestik Industri Hotel Ayat (2) Ayat (2) pengemb air tanah di CAT dilaksanakan secara terpadu dlm pengemb. SDA dlm wilayah sungai dlm upaya pencegahan thd kerusakan air tanah
- penghematan - muka air tanah Reduce Domestik Industri Hotel 2. UU No. 28 th 2009, tentang pajak dan retribusi daerah 69 ayat 2 NPA mempertimbangkan tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh pengambilan
Penghematan Reduce Industri Hotel 3. PP No.43 th 2008, tentang air tanah 35 - perlindungan dan pengawetan - pengelolaan kualitas dan pencemaran
Penghematan Reduce Industri Domestik 4. SK Gub Jateng No. 5 th 2003, tentang nilai perolehan & harga dasar unt menghitung pengambilan air tanah
Lampiran Pengenaan pajak Penghematan Reduce Industri Hotel 5. Peraturan Wali Kota Semarang No. 32 th 2008, tentang: penjabaran tupoksi Dinas SDA dan SDM kota Semarang Bab 2, pasal 2 dan pasal 8 Pembagian bidang dan seksi, dimana terdapt seksi konservasi dan eksploitasi SDA. Terdapat kasi monitoring sumberdaya air Penghematan Reduce Industri Hotel Domestik
150 L/orang/hari, sehingga kebutuhan air untuk domestik pada tahun 2008 sebesar 80,01 x 106 m3/th. Berdasarkan hasil proyeksi eksponensial, maka jumlah penduduk pada tahun 2010 adalah sebesar 1.520.417 jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,68%, sedangkan besarnya jumlah penduduk pada tahun 2050 sebesar 2.548.828 jiwa, sehingga besarnya kebutuhan air bersih warga kota Semarang sebesar 137,64 x 106 m3/tahun. Untuk mengetahui proyeksi pertumbuhan penduduk beserta kebutuahn air bersih kota Semarang disajikan dalam tabel 20.
Untuk memenuhi kebutuhan domestik air bersih kota Semarang, disamping memanfaatkan air tanah, juga memanfaatkan air permukaan melalui sungai Garang, sungai Babon, dan bendung Kudu.
Tabel 20 Proyeksi Jumlah Penduduk beserta Kebutuhan Air Kota Semarang
No. Tahun Jml Penduduk Kebutuhan air ( 106 m3/th) 1. 2008 1.481.644 80,01 2. 2010 1.520.417 82,10 3. 2015 1.621.847 87,58 4. 2020 1.730.044 93,42 5. 2025 1.845.459 99,65 6. 2030 1.968.574 106,30 7. 2035 2.099.901 113,39 8. 2040 2.239.990 120,96 9. 2045 2.389.425 129,03 10. 2050 2.548.828 137,64
Sumber: Hasil analisa. 2010
Selain itu, pemerinah telah membangun PDAM Tirta Moedal.PDAM Kota Semarang mentargetkan jumlah pelanggan 185.000 di tahun 2007, namun baru dapat terealisasi 153.000 pelanggan, dengan cakupan pelayanan saat ini 56,10% (Selayang Pandang PDAM Kota Semarang, 2008) Tidak tercapainya target jumlah pelanggan disebabkan terjadi penurunan pasokan air produksi di beberapa IPA, dari 900 liter per detik saat musim hujan hanya 600 liter per detik saat kemarau, diantaranya IPA Kudu, dan IPA Pucang Gading, sedangkan penurunan produksi pada IPA Gajah Mungkur disebabkan karena faktor usia (PDAM kota Semarang, 2008).
Dalam melayani kebutuhan air bersih kota Semarang, PDAM Tirta Moedal telah memanfaatkan air tanah dalam, air kali Garang, kali Babon, sungai Klambu dengan bendung Kudu, dan mata air (Ditjen Cipta Karya. 2007) dengan perincian:
1. Pemanfaatan air tanah dalam yaitu dengan membuat sumur bor yang jumlahnya mencapai 30 buah yang terletak di Kecamatan Candisari. Dari 30 buah sumur dalam tersebut, 6 sumur tidak beroperasi karena kualitas airnya kurang memenuhi syarat sebagai sumber air bersih (kandungan Fe melebihi standar kualitas). Debit pengambilan air tanah masing-masing sumur adalah 10 L/dt atau volume mencapai 62.208 m3/tahun dengan lama pemompaan ± 24 jam. Kontribusi air tanah untuk memasok sumber air baku PDAM Tirta Moedal adalah 19%.
2.
Kali Garang: selain memanfaatkan air tanah, PDAM juga memanfaatkan air kali Garang yang membelah kota Semarang dengan alirannya sepanjang tahun. Kali Garang dibagi menjadi 4 unit produksi (IPA) dengan total kapasitas terpasang 1.130 L/dt, dan debit rata-rata 915,79 L/dt,3.
Kali Babon; pengambilan air kali Babon melalui intake Pucang Gading yaitu pada waktu musim kemarau intake yang digunakan berkapasitas 50 L/dt, sedangkan pada waktu musimpenghujan digunakan intake berkapasitas 70 L/dt,4.
Instalasi Pengolah Air (IPA) Kudu yang terletak di kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk. Air IPA Kudu sumber airnya dari bendungan Kedung Ombo yang dialirkan melalui saluran terbuka (sungai Klambu). Kapsitas IPA ini adalah 1.250 L/dt dan masih bisa ditingkatkan lagi, dengan debit rata-rata 759,29 L/dt,5.
Mata air yang terletak di kecamatan Candisari, dan Banyumanik, dengan volume pengambilan 382,58 L/dt, dengan jumlah mata air adalah 11 buah.b. Kebutuhan Air untuk Fasilitas Umum
Kota Semarang disamping menjadi ibu kota propinsi Jawa Tengah, juga menjadi kota metropolitan, maka kota Semarang fungsi kotanya menjadi pusat pemerintahan, kegiatan industri, perdagangan, transportasi, pendidikan, pariwisata dan lingkungan permukiman. Perkembangan kota tersebut perlu ditunjang dengan tersedianya sarana dan prasarana seperti pelabuhan udara, pelabuhan laut, dan terminal bus antar kota, sehingga arus barang maupun orang yang keluar dan masuk kota Semarang sangat lancar.
Disamping sarana dan prasarana taransportasi, untuk memperlancar kegiatan perekonomian kota Semarang diperlukan fasilitas-fasilitas lainnya, yang meliputi: tempat ibadah, pendidikan, fasilitas umum, komersial, dan institusional,
hotel, rumah sakit, dan sekolah, Fasilitas tersebut tentunya membutuhkan air bersih. Menurut Sarwoto, dalam Setyanto, Oky. 2006, menyebutkan bahwa kebutuhan air bersih untuk fasilitas umum dihitung dengan pendekatan jumlah KK.
Diperkirakan rata-rata penggunaan air untuk fasilitas umum sekitar 10 – 15% dari penggunaan air untuk satu rumah tangga (KK) (Oky Setyanto. 2006). Berdasarkan hasil perhitungan Dinas Kesehatan kota Semarang (2009), bahwa rata-rata dalam 1 KK terdiri dari 4 jiwa, sehingga besarnya penggunaan air untuk fasilitas umum diambil rata-rata tertimbang yaitu sebesar 12,5 % dari penggunaan satu rumah tangga. Tipikal konsumsi air untuk fasilitas umum disajikan dalam Tabel 21.
Tabel 21 Tipikal Konsumsi Air untuk Fasilitas Umum
No. Katagori Kebutuhan Air Jumlah Air
1. Tempat Ibadah
Masjid/Musolla 30 L/kapita/hari 200 Orang
Gereja 10 L/kapita/hari 150 Orang
Vihara 10 L/kapita/hari 50 Orang
Pura 10 L/kapita/hari 50 Orang
2. Pendidikan
SD 10 L/kapita/hari 250 Orang
SMP 20 L/kapita/hari 150 Orang
SMU 25 L/kapita/hari 250 Orang
Perguruan Tinggi 50 L/kapita/hari 500 Orang
3. Umum
Terminal 15 L/kapita/hari 100 Orang
Rumah Sakit 250 L/kapita/hari 100 Orang
Bank 25 L/kapita/hari 500 Orang
Puskesmas 1.000 L/kapita/hari -
4. Komersial
Bioskup 15 L/kapita/hari 100 Orang
Restoran 70 L/kapita/hari 100 Orang
Toko 20 L/kapita/hari 20 Orang
Pasar 1.000 L/kapita/hari -
5. Institusional
Kantor 30 L/kapita/hari -
LP 50 L/kapita/hari 100 Orang
Sumber: Sarwoto, dalam Oky Setyanto. 2006
Berdasarkan tabel 5.4. terlihat bahwa kebutuhan air untuk fasilitas umum pada tahun 2008 sebanyak 10,00 x 106 m3/tahun, dan berdasarkan proyeksi eksponensial, maka kebutuhan air bersih fasilitas umum pada tahun 2050 sebanyak 17,20 x 106 m3/tahun. Sedangkan kebutuhan air domestik pada tahun 2008 sebesar 74,01 x 106 m3/tahun, dan pada tahun 2050 sebesar 127,31 x 106
m3/tahun. Hasil perhitungan jumah kebutuhan air bersih fasilitas umum dan domestik disajikan dalam Tabel 22.
Tabel 22 Kebutuhan Air Fasilitas Umum dan Domestik di kota Semarang
No. Tahun Keb.Air Fas.Umum (106 m3/th) Kebutuhan air penduduk ( 106 m3/th) Kebutuhan air Domestik (106 m3/th) 1. 2008 10,00 80,01 90,01 2. 2010 10,26 82,10 92,37 3. 2015 10,95 87,58 98,53 4. 2020 11,68 93,42 105,10 5. 2025 12,46 99,65 112,11 6. 2030 13,29 106,30 119,59 7. 2035 14,17 113,39 127,57 8. 2040 15,12 120,96 136,08 9. 2045 16,13 129,03 145,16 10. 2050 17,20 137,64 154,84
Sumber : Hasil Analisis. 2010
5.3.2. Kebutuhan Air untuk Industri
Sesuai dengan visi kota Semarang yaitu sebagai kota investasi, maka perdagangan dan industri pengolahan berperan amat dominan dalam perekonomian Kota Semarang. Kontribusi kedua sektor tersebut terhadap PDRB lebih dari 65 persen. Kota Semarang merupakan pusat industri besar dan sedang terbesar di Propinsi Jawa Tengah.
Klasifikasi Industri di Kota Semarang menurut bidang usahanya pada tahun 2008 didominasi industri yang bergerak dibidang usaha pengolahan yang beragam jenisnya. Begitu pula halnya dalam penyerapan atau jumlah tenaga kerja. baik untuk industri besar, sedang maupun kecil pada tahun 2008. Pada tahun 2009 keadaannya hampir tidak berubah dimana industri pengolahan masih mendominasi baik ditinjau dari jumlah unit usahanya maupun penyerapan tenaga kerjanya.
Industri di kota Semarang dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu industri besar/sedang dan industri kecil. Berdasarkan Laporan tahunan Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Semarang (2009) diketahui bahwa jumlah industri besar/sedang adalah sebesar 781 unit, sedangkan jumlah industri kecil adalah 15.347 unit, namun dalam analisa penelitian ini penggunaan air bersihnya tidak dibedakan antara industri besar/sedang dan industri kecil.
Perkembangan jumlah unit usaha atau industri ini tentu tidak lepas dari adanya berbagai insentif yang ada di Kota Semarang, selain memilki beberapa
Kawasan Industri yang siap huni juga insentif lainnya baik dari faktor keamanan, kelancaran distribusi, maupun kemudahan dalam perijinan dan lain-lain.
Berdasarkan hasil perhitungan (proyeksi) eksponensial, untuk tahun 2010, jumlah industri di kota Semarang adalah 17.514 unit.dengan tingkat pertumbuhan 6%, dan jumlah industri untuk tahun 2050 adalah 177.777 unit. Kebutuhan air untuk industri besar/sedang adalah sebesar 222.5 m3/unit/tahun, sedangkan untuk industri kecil sebesar 180 m3/unit/tahun. Dalam analisa penelitian ini tidak dibedakan kebutuhan air antara industri besar/sedang dan industri kecil, karena air digunakan sebagai bahan proses industri, bukan sebagai bahan baku industri, sehingga kebutuhan akan air hampir sama. Kebutuhan air untuk industri ditentukan berdasarkan rata-rata timbang kebutuhan air antara kedua jenis industri tersebut dan berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku industri yaitu sebesar 201,25 m3/unit/tahun, sehingga kebutuhan air bersih untuk industri pada tahun 2008 sebesar 3,33 x 106 m3/unit/tahun, dan pada tahun 2050 sebesar 35,78 x 106 m3/unit/tahun. Untuk lebih jelasnya kebutuhan air industri beserta proyeksinya disajikan dalam Tabel 23.
Tabel 23 Kebutuhan Air untuk Industri di Kota Semarang
Sumber: Hasil analisis. 2010 5.3.3. Kebutuhan Air untuk Hotel
Untuk memperlancar kegiatan perekonomian kota Semarang yang telah dicanangkan sebagai kota investasi, diperlukan fasilitas-fasilitas yang memadai, yang salah satunya adalah hotel. Berdasarkan data yang ada, jumlah hotel di kota Semarang pada tahun 2008 adalah 83 buah dengan klasifikasi 27 berbintang dan 56 kelas melati. Jumlah kamar adalah 3.280, dan jumlah tempat tidur adalah 6.248 buah.
No. Tahun Jml Industri Kebutuhan air (106m3/th) 1. 2008 16.528 3,33 2. 2010 17.514 3,52 3. 2015 23.399 4,71 4. 2020 31.262 6,29 5. 2025 41.766 8,41 6. 2030 55.800 11,23 7. 2035 74.549 15,00 8. 2040 99.599 20,04 9. 2045 133.065 26,78 10. 2050 177.777 35,78
Dalam pemakaian air bersih hotel, diasumsikan bahwa hotel terisi 75%, dan tiap kamar memiliki 2 tempat tidur. Jumlah kebutuhan air bersih untuk penghuni hotel dianggap sama dengan kebutuhan air bersih penduduk yaitu sebesar 150 L/orang/hari, sehingga kebutuhan air bersih hotel pada tahun 2008 sebesar 253.044 m3/tahun. Untuk perencanaan selanjutnya diasumsikan bahwa perkembangan tingkat pertumbuhan hotel di kota Semarang adalah 2% per tahun, maka berdasarkan hasil proyeksi eksponensial jumlah hotel pada tahun 2010 sebesar 86, dan pada tahun 2050 sebesar 191 buah, sehingga kebutuhan air pada tahun 2010 adalah sebesar 263.267 m3/th, dan pada tahun 2050 sebesar 581.304 m3/th. Hasil analisa disajikan dalam Tabel 24.
Tabel 24 Kebutuhan air bersih hotel di kota Semarang
No. Tahun Jml Hotel Jml Kamar Jml Tempat Tidur Kebutuhan air (m3/th) 1. 2008 83 3.124 6.248 253.044 2. 2010 86 3.187 6.374 263.267 3. 2015 95 3.280 6.699 290.668 4. 2020 105 3.520 7.040 320.921 5. 2025 116 3.700 7.400 354.323 6. 2030 128 3.889 7.777 391.201 7. 2035 142 4.087 8.174 431.917 8. 2040 156 4.296 8.591 476.872 9. 2045 173 4.515 9.029 526.505 10. 2050 191 4.745 9.489 581.304 Sumber:Hasil analisis. 2010 5.3.4. Ketersediaan Air Tanah
Asumsi Kebutuhan Air Domestik disupali dari PDAM (19% dari air tanah), dan hotel maupun industri 90% dari Air Tanah.
Kebutuhan air bersih total kota Semarang ditentukan oleh tiga sektor (pelaku), yaitu: sektor domestik, industri, dan hotel seperti terlihat dalam Lampiran 3. Apabila kebutuhan air tanah dari setiap pelaku tersebut seluruhnya disuplai dari air tanah dalam, maka kota Semarang sudah mengalami kekeringan sejak tahun 2008, karena kebutuhan air tanah setiap tahun terus meningkat, namun kenyataan di lapangan (eksisting) menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih untuk domestik tidak ada yang memanfaatkan air tanah dalam karena disamping biayanya terlalu tinggi juga pengambilannya sangat sulit, dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat kota Semarang dapat memanfaatkan air tanah dangkal melalui sumur gali maupun sumur pantek, air permukaan dalam hal ini air sungai Garang, dan dari PDAM Tirta Moedal.
Penggunaan air tanah dalam dilakukan oleh industri dan hotel, yang masing-masing pemanfaatannya sebesar 90%. Akibatnya adalah terjadi penurunan muka air tanah (MAT), yang setiap tahun terus mengalami penurunan, hingga saat ini telah mencapai 8,0 – 9,5 meter, dan apabila hal ini diteruskan, maka akan terjadi kerusakan lingkungan yang berupa turunnya tanah (subsident).
Subsiden di kota Semarang menunjukan selama 2000 - 2001 dengan kecepatan 2 – 8 cm/tahun. Daerah yang mengalami penurunan dengan laju lebih dari 8 cm/tahun terbentang di sepanjang pantai mulai dari pelabuhan Tanjungmas ke arah timur hingga wilayah pantai utara Demak (Mamlucky Susana, 2008). Disamping itu, dengan turunnya muka tanah, maka air laut akan mudah masuk ke daratan (rob), dan intrusi air laut. Kerusakan lingkungan tersebut tentunya akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, sehingga apabila tidak diikuti dengan konservasi pemanfaatannya akan terjadi defisit air air tanah. Kondisi tersebut apabila dibiarkan, maka akan terjadi penurunan muka air tanah. Hasil perhitungan kebutuhan air total di Kota Semarang disajikan dalam Lampiran 5, sedangkan hasil analisis ketersediaan air tanah di kota Semarang disajikan dalam Lampiran 6 dan Gambar 12.
Dalam perhitungan ketersediaan air untuk domestik digunakan asumsi bahwa layanan PDAM untuk sumber air bersih domestik hanya 56.1%, dan menggunakan air tanah dalam hanya 19%, sedangkan untuk kebutuhan air bersih industri dan hotel menggunakan 90% dari air tanah.
Berdasarkan hasil perhitungan terlihat bahwa ketersediaan air tanah secara keseluruhan pada tahun 2030 telah mengalami defisit air tanah dalam, karena ketersediaan air tanah telah melampaui volume air tanahnya, sedangkan sejak tahun 2010 pemanfaatan air tanah dalam telah melampai nilai amannya, seharusnya sejak tahun 2010 pemerintah kota Semarang sudah harus membatasi pengambilan air tanah dalam yaitu dengan jalan ijin pengambilan air tanah dihentikan, dan pajak air tanah dinaikkan agar dapat dikembalikan pada air tanah, karena telah melampaui kapasitasnya. Dengan adanya pegambilan air tanah yang melebihi kapasitas tersebut secara terus menerus juga akan berdampak pada penurunan muka air tanah (MAT), yang terlihat dari tahun ke tahun turun semakin besar. Pada tahun 2008 kedudukan muka air tanah dalam berkisar antara 7,68 meter dari dasar akuifer, dan berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada tahun 2030 MAT dalam sudah sampai dasar akuaifer,
artinya daerah kota Semarang cadangan air tanahnya betul-betul sudah mempunyai dasar akuifer, tidak ada air sama sekali yang ada hanyalah lumpur.
Gambar 12 Ketersediaan Air Tanah Dalam dengan kebutuhan domestik 56,1% dari PDAM, dan industri serta Hotel 90% dari Air Tanah
5.4. Strategi Konservasi Pemanfaatan Air Tanah di Kota Semarang
5.4.1. Indikator Keberlanjutan Pemanfaatan Air TanahDalam penilaian air tanah dalam di kota Semarang apakah masih layak untuk diekstrak/dieksploitasi sebagai sumber air bersih atau tidak, dilakukan analisis kualitatif diskritif keberlanjutan pemanfaatan air tanah yaitu dengan menguraikan elemen-elemen/indikator penting dalam pemanfaatan air tanah. Penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan pakar, yaitu dengan menggunakan skoring antara 1 – 4. Angka 1 menunjukkan air tanah tidak baik, 2 menunjukkan kurang baik, 3 menunjukkan sedang, dan 4 menunjukkan baik. Untuk mengetahui keberlanjutan pemanfaatan air tanah digunakan indikator: 1 baik, 2 rusak ringan, dan 3 rusak berat. Penilaian masing-masing indikator disajikan dalam Tabel 25.
Berdasarkan analisis keberlanjutan pemanfaatan air tanah menunjukan bahwa air tanah di kota Semarang telah mengalami kerusakan berat (skor 3) akibat eksploitasi yang melampuai daya dukungnya yaitu sebesar 12,12 x 106 m3/tahun dengan jumlah sumur 5.409 buah, sehingga diperlukan konservasi baik konservasi untuk daerah tangkapan (recharge area) maupun konservasi dalam pemanfaatannya.
Tabel 25 Indikator Keberlanjutan Pemanfaatan Air Tanah di Kota Semarang
No. Indkator Nilai Skor
1 Debit pengambilan masing-masing sumur pompa
> 10 L/dt 4
2. Lama pemompaan 18 jam/hari 3
3. Jarak antar sumur pompa 500 meter 3
4. Volume 3
5. WTP Rp. 2.750/m3 3
6. Kebutuhan air bersih dari air tanah
81% 3
7. Penuruan muka air tanah < 12 m 3 8. Penuruan tanah (amblesan) 3 cm/tahun 3
9. Sumur resapan - 4
10. Sumur pantau - 4
Jumlah 33
Sumber: Hasil analisis.2010.
5.4.2. Nilai Ekonomi
Manfaat atau nilai air tanah kota Semarang dapat dihitung dengan pendekatan produktivitas yaitu dengan menghitung volume air yang digunakan oleh masyarakat kota Semarang dengan subsitusi nilai harga pasar air sesungguhnya yaitu dari PDAM Tirta Moedal kota Semarang.
Berdasarkan data sebaran penduduk dari 16 kecamatan secara keseluruhan terdapat 370.411 KK. Rata-rata pemanfaatan air apabila mengacu pada kota metropolitan bahwa pemakaian air adalah 150 L/orang/hari (Kimpraswil. 2003), maka dalam 1 KK adalah 600 L/hari atau 18.0 m3/bulan dan 216 m3/tahun yang digunakan untuk memasak, minum, mandi, mencuci dan lain-lain. Apabila pemanfaatan air tersebut dilakukan pendekatan dengan tarif harga air yang bertlaku di PDAM Tirta Moedal kota Semarang, serta berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk, maka kesediaan membayar (WTP) penduduk terhadap air termasuk kedalam golongan II A yaitu klasifikasi langganan rumah tangga II, dan hasil perhitungannya disajikan dalam Tabel 26.
Berdasarkan Tabel 5.8. terlihat bahwa, jumlah nilai air yang dirasakan oleh masyarakat kota Semarang adalah sebesar Rp. 229.514.063.820,- per tahun, dan apabila di hitung sampai dengan tahun 2050 dengan nilai diskon rate 10% (sesuai dengan suku bunga bank), maka mencapai nilai Rp. 335.343.581.206,-. Hasil analisanya disajikan dalam Table 27.
Tabel 26 Nilai Ekonomi Air Tanah dalam 1 tahun kota Semarang GOL Klasifikasi Langganan Jumlah Rata-Rata Penggunaan m3 Tingkat Pemakaian (m3) 0 -1 11-20 Jumlah II NON NIAGA
A Rumah Tangga I 18,00 m3/Bulan 2.165 49.470 51.635
Nilai Ekonomi Air Per Bulan 51.635
Penggunaan Air Selama 1 tahun 216 m3/Thn 619.620 JUMLAH PENGGUNA AIR SEBANYAK 370.411 KK 229.514.063.820 Sumber: Hasil Laporan tahunan PDAM Moedal. 2010, dan hasil perhitungan 2010
Asumsi :
1) Penduduk yang memanfaatkan air adalah 370.411 KK 2) Harga Air 0 – 1 m3
= Rp. 2.165,- 3) Harga Air 11 – 20 m3
= Rp. 2.910,- 4) Harga Air > 30 m3 = Rp. 4.125,-
Apabila nilai ekonomi tersebut dikonversikan dengan nilai perolehan air (NPA) dari Dinas ESDM Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar Rp. 26.412.586.708,- dengan volume pengambilan sebesar 9.617.198 m3/tahun (Nilai NPA tersebut berdasarkan pada SK Gubernur Jawa Tengah No. 5 tahun 2003), maka NPA tersebut masih jauh lebih kecil dari pada nilai ekonomi air tanah. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan pajak pengambilan air bawah tanah di kota Semarang belum memikirkan jasa lingkungan, tetapi hanya untuk kepentingan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Tabel 27 Nilai Ekonomi Air Tanah kota Semarang dengan Discont Rate10% No. Tahun Pengguna Air
Tanah (KK)
Nilai Ekonomi Air Tanah (Rp) Diskon rate 10% (Rp) 1. 2008 370.411 229.514.063.820 206.562.657.438 2. 2010 380.104 235.520.040.480 211.968.036.432 3. 2015 405.461 251.231.744.820 226.108.570.338 4. 2020 432.511 267.992.465.820 241.193.219.238 5. 2025 461.365 285.870.981.300 257.283.883.170 6. 2030 492.143 304.941.645.660 274.447.481.094 7. 2035 524.975 325.285.009.500 292.756.508.550 8. 2040 559.997 346.985.341.140 312.286.807.026 9. 2045 597.356 370.133.724.720 333.120.352.248 10 2050 637.207 394.826.201.340 355.343.581.206 Sumber: Hasil perhitungan. 2010.
Disamping mempunyai manfaat ekonomi, pemanfaatan air tanah yang berlebihan seperti kota Semarang yang mencapai 80%, akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, dan akhirnya akan mengakibatkan dampak ekonomi yang besar. Menurut Neher (1990) dalam Ahmad Fauzi (2006) melihat deplesi air tanah akibat eksploitasi yang berlebihan akan mengakibatkan dampak ekonomi, yaitu:
1. Air tanah akan menjadi langka (extind) melalui pemanfaatan yang berlebihan (overuse) yang pada gilirannya akan mengakibatkan keringnya sumur-sumur penduduk dan aliran air sungai yang bisa berakibat pada biaya ekonomi yang sangat mahal.
2. Air tanah dapat diibaratkan uang di bank yang dapat dijadikan cadangan pada saat curah hujan menurun (kecil) akibat musim kemarau. Jika cadangan ini habis karena deplesi, hal ini akan mengakibatkan bencana yang menimbulkan biaya ekonomi yang sangat mahal.
3. Ketika ketersediaan air tanah habis, biaya ekstraksi akan meningkat. Dalam rejim pengelolaan yang tidak terkendali, biaya ini sangat mahal, sehingga salah satu tujuan utama konservasi pemanfaatan air tanah adalah bagaimana mengendalikan biaya tersebut.
5.4.3. Kelembagaan
Analisa kelembagaan yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Interpretatif structural Model (ISM), karena merupakan suatu proses pengkajian kelompok (group learning process) dimana model-model struktural dihasilkan guna memotret perihal kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafik dan kalimat (Eriyatno. 2007). Disamping itu, sesuai dengan salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun strategi kebijakan konservasi pemanfaatan air tanah, maka elemen yang dipilih adalah elemen Lembaga yang terkait dengan konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang.
Berdasarkan pendapat pakar, dan tupoksi masing-masing subelemen ditemukan 12 sub elemen, yaitu: (1) Pemerintah Pusat, (2) Pemerintah Propinsi, (3) Pemerintah Kota, (4) Dinas ESDM Propinsi, (5) PDAM, (6) Industri, (7) Hotel, (8) Masyarakat pemakai air tanah, (9) Dispenda, (10) Dinas Tata kota, (11) LSM, dan Perguruan Tinggi (12). Hasil analisis lembaga yang terkait dengan konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang disajikan dalam Lampiran 7, dan posisi setiap subelemen hasil analisis dengan menggunakan ISM seperti terlihat pada Gambar 13.
Pada Gambar 13 terlihat bahwa subelemen Lembaga pemerintah kota Semarang (3), Dinas ESDM propinsi Semarang (4), dan PDAM (5) terletak pada sector III (Linkage) yang merupakan subelemen pengait (linkage) dari subelemen lainnya. Subelemen pada sektor ini memiliki kekuatan pendorong (driver power) yang besar terhadap suksesnya program konservasasi pemanfaatan air tanah
kota Semarang, dan memiliki ketergantungan (dependent) yang besar pula terhadap lembaga lainnya terutama terhadap lembaga pemerintah.
Gambar 13 Driver Power dari Lembaga yang terkait dalam Konservasi Pemanfaatan Air Tanah di Kota Semarang.
Namun demikian, setiap perubahan terhadap tujuan pada subelemen ini akan mempengaruhi suksesnya program konservasi pemanfaatan air tanah, dan sebaliknya apabila subelemen ini mendapat perhatian yang kurang, maka dapat berpengaruh terhadap kegagalan program konservasi pemanfaatan air tanah yang berkelanjutan.
Kedua lembaga ini merupakan obyek dan sekaligus subyek dalam konservasi pemanfaatan air tanah. PDAM merupakan pemanfaat terbesar dibandingkan 2 sektor lain (industri dan hotel), sedangkan ESDM merupakan lembaga yang mengeluarkan ijin pengambilan air tanah, dan Pemkot Semarang merupakan penerima dampak dan sekaligus pengontrol dari pemanfaat air tanah, sehingga sub elemen ini merupakan subelemen kunci terhadap lembaga yang terkait dalam konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang.
Sedangkan subelemen Industri (6), hotel (7) terletak pada sector IV (independence). Subelemen ini mempunyai kekuatan penggerak (driven power) yang besar dalam konservasi pemanfaatan air tanah, tetapi memiliki ketergantungan (dependent) yang besar terhadap lembaga lainnya terutama terhadap pemerintah baik pemerintah propinsimaupun kota. Dan subelemen Pemerintah Pusat (1), Pemerintah Propinsi (8), masyarakat (9), Dispenda (10),
Dependence Dri ve r P o w er Sektor IV Independence Sektor III Linkage Sektor II Dependence Sektor I Automous • E 6,7 • E 3,4,5 • E 1,2,8,9,10,11,12
Dinas Tata Kota (11), dan Perguruan Tinggi (12), terletakdi Sektor I (Automous). Subelemen ini mempunyai keterkaitan dengan konservasi pemanfaatan air tanah yang sangat kecil, keterlibatan Lembaga Swadaya Masyarakat, dan perguruan tinggi bisa penting karena dapat berperan dalam memberikan pengawasan perjalanan kebijakan konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang. Struktur hierarkhi hubungan subelemen lembaga yang terkait dalam konservasi pemanfaatan air tanah d kota Semarang secara rinci disajikan dalam Gambar 14.
Gambar 14 Struktur Hierarkhi Subelemen Lembaga yang Terkait dalam Konservasi Pemanfaatan Air Tanah yang Berkelanjutan di Kota Semarang.
Pada Gambar 14 terlihat bahwa terdapat lima tahap atau level keterlibatan setiap lembaga dalam konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang. Lembaga yang diharapkan sangat berperan dalam konservasi pemanfaatan air tanah adalah pemerintah Kota yang kemudian disusul Dinas ESDM, dan PDAM. Ketiga subelemen tersebut merupakan elelem kunci yang sangat diharapkan perannya untuk mendukung keberhasilan konservasi pemanfaatan air tanah. Peran yang diharapkan adalah komitmen yang kuat dari pemerintah propinsi melalui penerapan kebijakan pemanfaatan air tanah, melalui penerapan pajak air tanah yang tinggi, memperketat ijin pembuatan sumur pompa, pengawasan pengambilan air tanah yang ketat, dan mengusulkan kepada Bappeda dan Dinas Tata Ruang bahwa zona kritis untuk pemanfaatan air tanah menjadi kawasan konservasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Semarang untuk periode 2010 - 2020, karena hal ini sesuai dengan Level 4 Level 3 Level 2 Level 1 Keterangan: E1 = Pemerintah Pusat E2 = Pemerintah Propinsi E3 = Pemerintah Kota E4 = Dinas ESDM E5 = PDAM E6 = Industri E7 = Hotel E8 = Masyarakat
pemakai air tanah E9 = Dispenda
E10 = Dinas Tata Kota E11 = LSM
E12 = Perguruan Tinggi
E8
E9
E10
E11
E12
E4
E6
E7
E3
E5
E1
E2
Level 5bunyi pasal 1 ayat 1 Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penatataan Ruang yang berbunyi ”Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya”, sehingga sangat tepat untuk memasukkan zona konservasi air tanah ke dalam kawasan konservasi. Peran masing-masing subelemen tersebut dalam konservasi pemanfaatan air tanah di kota Semarang apabila dihubungkan dengan komponen konservasi yaitu reuse, reduse, recycle, dan recharge (4 R) dapat dijelaskan dalam Tabel 28.
Tabel 28 Peran masing-masing subelemen dalam konservasi pemanfaatan air tanah dalam di kota Semarang
No. Subelemen Komponen konservasi
Reuse Reduse Recycle Recharge
1. Pemerintah Pusat Penerbitan regulasi 2. Pemerintah Propinsi -Pembatasan ijin -Penerbitan regulasi
3. Pemerintah Kota - Pengawasan sumur
- Zonasi daerah kritis
4. Dinas ESDM - Pengawasan sumur
- Pembatasan ijin 5. PDAM
Pemanfaatan air permukaan sbg sumber air baku
Sumur resapan 6. Industri Pemakaian kembali air produksi Memakai PDAM sebagai sumber air baku Pengolah an air limbah Sumur resapan 7. Hotel Pemakaian kembali sisa air untuk siram tanaman Memakai PDAM sebagai sumber air bersih
Sumur resapan
8. Masyarakat Pengawasan sumur Sumur
resapan
9. Dispenda Pajak air tanah
10. Dinas Tata Kota Zonasi air tanah dlm RTRW (daerah kritis) 11. LSM Pengawasan Sumur Pengemb. Teknologi sumur resapan 12. Perguruan Tinggi Pengemb teknologi reuse Pengemb teknologi recycling Pengemb. Tek. sumur resapan Sumber: Hasil Analisis 2010.
5.4.4. Skenario Kebijakan Konservasi Pemanfaatan Air Tanah
Untuk meminimalisir dampak yang sangat luas akibat pemanfaatan air tanah dalam di kota Semarang yang melampaui ambang batasnya, maka dibuatlah strategi konservasi pemanfaatan, dengan tujuan agar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk konservasi sumberdaya air tanah di kota Semarang. Ada 4 (empat) strategi konservasi pemanfaatan air tanah yaitu: (a) strategi pembatasan pertumbuhan hotel dan hemat air, (b) strategi dengan pembatasan pertumbuhan industri yang menggunakan air tanah dalam, (c) strategi dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik, dan (d) startegi dengan peningkatan kapasitas produksi PDAM. Uraian dari masing-masing skenario adalah:
a Strategi Konservasi Pemanfaatan Air Tanah dengan pembatasan pertumbuhan hotel dan hemat air
Dalam strategi konservasi pemanfaatan air tanah ini, ada dua jalan yang dapat dilakukan, yaitu: cara pertama adalah dengan membatasi pertumbuhan hotel. Laju pertumbuhan hotel yang tadinya 2% per tahun, diturunkan menjadi 1% per tahun, sedangkan cara yang ke dua adalah dengan mengurangi satuan pemakaian air tamu hotel (hemat air). Pemakaian air untuk tamu hotel diturunkan yang tadinya 1 orang 150 L/hari diturunkan menjadi 120 L/orang/hari (sesuai dengan penggunaan air bersih untuk penduduk).
Berdasarkan hasil analisa dan dibandingkan dengan Gambar 12 terlihat bahwa pembatasan pertumbuhan hotel dan hemat air tidak signifikan terhadap ketersediaan air tanah secara keseluruhan, dimana pada tahun 2030 sudah mengalami defisit air tanah, karena ketersediaan air tanah telah melampaui volume air tanahnya, dan apabila dihubungkan dengan kondisi eksisting (Gambar 5.1), dimana pada tahun 2030 juga sudah mengalami defisit air tanah. Kondisi ini bisa terjadi karena konservasi pemanfaatan air tanah tidak dibarengi dengan konservasi dari dua sektor (domestik, dan industri). Penurunan ketersediaan air tanah diikuti juga oleh penurunan muka air tanahnya (MAT) yang pada tahun 2030 juga sudah sampai pada dasar akuifernya. Hasil analisis/simulasi dengan pembatasan pertumbuhan hotel dan hemat air disajikan dalam Lampiran 8, dan Gambar 15.
Gambar 15 Hasil Simulasi Ketersediaan Air Tanah dengan Pembatasan pertumbuhan hotel dan hemat air
b. Strategi Konservasi pemanfaatan air tanah dengan pembatasan laju pertumbuhan industri
Setelah dicanangkan kota Semarang menjadi kota investasi, maka pertumbuhan industri kota Semarang terus mengalami peningkatan, dan saat ini telah mencapai 6% per tahun, selain itu, juga ditunjang dengan berbagai insentif, yang salah satunya adalah kemudahan ijin, dan tersedianya sarana dan prasarana industri. Industri-industri tersebut hampir semua (90%) dalam mengolah dan penunjang industri menggunakan air tanah, maka berpengaruh sangat besar terhadap ketersediaan air tanah, sehingga diperlukan strategi dalam pemanfaatan air tanah agar tidak terjadi over exploited air tanah.
Salah satu skenario untuk konservasi pemanfaatan air tanah adalah dengan pembatasan pertumbuhan industri. Pertumbuhan industri di kota Semarang yang semula 6% per tahun, diturunkan menjadi 3% pertahun. Dengan asumsi pembatasan pertumbuhan industri akan terjadi pengurangan (hemat) terhadap penggunaan air tanah. Berdasarkan hasil simulasi dan dibandingkan dengan Gambar 12 menunjukkan: Secara keseluruhan ternyata berpengaruh secara signifikan terhadap ketersediaan air tanah, karena defisit air tanah baru akan terjadi pada tahun 2042. Kondisi seperti ini bisa terjadi, karena pemakaian air baik untuk domestik, maupun hotel tetap. Kondisi ketersediaan air tanah tersebut diikuti juga oleh turunnya muka air tanah. MAT akan mencapai dasar akuifer pada tahun 2042. Hasil simulasi konservasi pemanfaatan air tanah
dengan pembatasan pertumbuhan industri yang menggunakan air tanah disajikan dalam Lampiran 9 dan Gambar 16.
Gambar 16 Hasil Simulasi Ketersediaan Air Tanah dengan Pembatasan pertumbuhan industri yang menggunakan air tanah
c. Strategi dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik
Strategi konservasi pemanfaatan air tanah dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu cara pertama adalah dengan mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk, dan cara yang ke dua adalah dengan mengurangi satuan pemakaian air atau hemat air. Kedua cara ini dilakukan dalam scenario yaitu dengan mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk yang semula 1,68% per tahun diturunkan menjadi 1% per tahun, dan dengan mengurangi satuan pemakaian air (hemat air), yaitu dengan mengurangi pemakaian air yang semula 150 L/orang/hari diturunkan menjadi 120 L/orang/hari. Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa pada tahun 2008 pemanfaatan air tanah total berkurang menjadi 9,80 x 106 m3/th, dan pada tahun 2010 turun menjadi 10,13 x 106 m3/th, serta pada tahun 2050 pemanfaatan air tanahnya menjadi 45,19 x 106 m3/th. Hasil perhitungan/simulasi dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik disajikan dalam Lampiran 10.
Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa eksploitasi air tanah untuk memenuhi kebutuhan total air bersih dengan mengurangi satuan
pemakaian air domestik sampai pada tahun 2032 kota Semarang sudah mengalami devisit air tanah dan bahkan kekeringan air tanah dalam.
Apabila hasil simulasi ini (Gambar 17) dibandingkan dengan pemanfaatan air tanah total (Gambar 12), dimana pada tahun 2030 kota Semarang sudah mengalami defisit air akibat eksploitasi yang besar-besaran, maka dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik kurang berpengaruh secara signifikan terhadap ketersediaan air tanah secara keseluruhan, karena pada tahun 2032 volume air tanah sudahmengalami defisit air tanah, dan kebutuhan air tanah mencapai nilai aman pada tahun 2015. Selain itu, terjadi juga penurunan muka air tanah (MAT) akibat pengambilan air tanah yang melebihi kapasitasnya, yaitu pada tahun 2035 muka air tanah sudah sampai dasar akuifer artinya akuifer mengalami kekeringan.
Gambar 17 Ketersediaan Air Tanah dengan mengurangi satuan pemakaian air domestik
d. Strategi peningkatan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal
Strategi konservasi pemanfaatan air tanah dalam dengan meningkatkan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu: cara pertama dengan meningkatkan layanan, dan cara yang kedua adalah dengan mengurangi pemanfaatan air tanah dalam. Kedua cara tersebut dilakukan dalam skenario ini dengan tujuan untuk meminimalisir pemanfaatan air tanah dalam yang sudah merupakan barang langka. Kedua cara yang dilakukan tersebut yaitu: pertama meningkatkan layanan pelayanan kepada pelanggan yang dahulu 56,1% ditingkatkan menjadi 70%, sedangkan cara yang kedua
adalah dengan mengurangi pemanfaatan air tanah sebagai sumber bahan baku air bersih, dimana yang dahulu pemanfaatan air tanah dalam sebesar 19%, dikurangi menjadi 15%, sisanya dengan meningkatkan pemanfaatan air permukaan melalui kali Garang, kali Babon melalui IPA Pucang Gading, dan bendung Kudu yang sumber airnya dari bendungan Kedung Ombo.
Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa pada tahun 2008 pemanfaatan air tanah total berkurang menjadi 7,35 x 106 m3/th, dan pada tahun 2010 turun menjadi 7,64 x 106 m3/th, serta pada tahun 2050 pemanfaatan air tanahnya menjadi 39,64 x 106 m3/th. Hasil perhitungan/simulasi dengan peningkatan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal disajikan dalam Lampiran 11, dan Gambar 18.
Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa eksploitasi air tanah untuk memenuhi kebutuhan total air bersih dengan meningkatkan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal sampai pada tahun 2038 kota Semarang baru mengalami defisit air tanah dalam dan bahkan kekeringan air tanah dalam. Apabila hasil simulasi ini (Gambar 18) dibandingkan dengan pemanfaatan air tanah total (Gambar 12), dimana pada tahun 2030 kota Semarang sudah mengalami defisit air akibat eksploitasi yang besar-besaran, maka dengan meningkatkan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal berpengaruh sangat signifikan terhadap ketersediaan air tanah secara keseluruhan, karena baru pada tahun 2038 volume air tanah baru terlampaui.
Hal lain yang bisa digambarkan adalah dengan pengambilan air tanah yang melebihi kapasitasnya terlihat juga terjadi penurunan muka air tanah, yaitu penurunan muka air tanah terus menurun sesuai dengan penggunaannya yang akhirnya pada tahun 2040 akan mencapai dasar akuifer, artinya akuifer mengalami kekeringan, dan hal ini akan berdampak pada penurunan muka tanah (subsiden).
Gambar 18 Ketersediaan Air Tanah dengan meningkatkan kapasitas produksi PDAM Tirta Moedal