DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

71 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RESMI KOMISI V DPR RI

DENGAN DIRJEN PERUMAHAN DAN DIRJEN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN

KEMENTERIAN PUPR, BP TAPERA DAN DUKUNGAN PEMBANGUNAN PERBANKAN

Tahun Sidang : 2019-2020 Masa Persidangan : IV

Rapat ke- :

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat (RDP) Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Kamis, 9 Juli 2020

Waktu : Pukul 10.10 WIB s.d. selesai

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI (KK.V) Gedung Nusantara - Jakarta

Ketua Rapat : Ir. Ridwan Bae/Wakil Ketua Komisi V DPR RI/F-PG Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H.

Acara : Membahas mengenai Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA)

Hadir : 38 orang Anggota hadir dari 53 Anggota Komisi V DPR RI dengan rincian sebagai berikut:

A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :

1. Ir. Ridwan Bae

2. H. Andi Iwan Darmawan Aras.,SE.,M.Si 3. Hj. Nurhayati

1. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

9 orang Anggota dari 11 Anggota: 1. H. Herson Mayulu,S.IP

2. Hj. Sadarestuwati.,SP.,M.MA 3. Ir.Sudjadi

4. Sukur Nababan 5. Mochamad Herviano

6. Bob Andika Mamana Sitepu.,SH 7. Sarce Bandaso Tandiasik.,SH 8. H.M. Rifqinizamy Karsayuda

(2)

9. Bambang Suryadi, SH,MH

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR: 4 orang Anggota dari 7 Anggota: 1. Drs. Hamka B Kady, MS 2. H. Ansar Ahmad, SE, MM 3. H. Hasan Basri Agus

4. H. Tubagus Haerul Jaman, SE 3. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 2 5 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Hj. Novita Wjayanti.,SE.,MM 2. Sudewo,ST, MT

3. Iis Edhy Prabowo.,S.Hum.,MM 4. Drs.H. Mulyadi.,MMA

5. Ir. Eddy Santana Putra, MT 4. FRAKSI NASDEM:

1 orang Anggota dari 4 Anggota: 1. Drs.H.Tamanuri,MM

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 4 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, S.Th.I 2. Ruslan M Daud

3. H. Dedi Wahidi.,S.Pd 4. H. Syafiuddin, S.Sos

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT: 5 orang Anggota dari 5 Anggota: 1. Willem Wandik, .S.Sos

2. H. Irwan, S.IP, MP 3. Drh. Jhoni Allen Marbun 4. Lasmi Indaryani.,SE 5. Ir.H.Ishak Mekki.,MM

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Ahmad Syaikhu

2. H. Syahrul Aidi Maazat.,Lc.,MA 3. H. Suryadi Jaya Purnama, ST

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. H.A. Bakri H.M. SE 2. Hj. Hanna Gayatri.,SH 3. Athari Ghauthi Ardi

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN:

(3)

1 orang Anggota dari 1 Anggota: 1. H. Muh Aras, S.Pd,MM

B. PEMERINTAH:

1. Dr. Ir. Eko Djoeli Heripoerwanto.,MCP (Dirjen Pembiayaan Infrastruktur PUPR) 2. Dr. Ir. H. Khalawi Abdul Hamid, M.Sc.

M.M (Dirjen Penyediaan Perumahan PUPR)

3. Drs. Adi Setianto.,MBA (Komisioner BP Tapera)

4. Eko Ariantoro (Dekom BP Tapera) 5. Dwityo Askoro (Dir SEPP DJP) 6. M. Yusuf Hari Agung (Dir KI DJP) 7. M. Hidayat (Dir RUK)

8. Adang Sutara Dir PPP) 9. Dedi SP (Setditjen DJPI)

(4)

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh,

Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semua.

Yang saya hormati Ibu Bos saya ini Bu Nuryahati juga Ibu Manoarfa Menteri Perencanaan kita,

Yang saya hormati Teman-teman Anggota Komisi V,

Yang saya hormati Pak Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR,

Kemudian Pak Dirjen Perumahan Kementerian PUPR,

Serta para pihak terkait dengan TAPERA dan Dukungan Pembangunan Perumahan Perbankan.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT., tentunya karena kebesarannyalah kita semua sehingga kita bisa bertemu pada kesempatan hari ini.

Menurut laporan dari Sekretariat Komisi V DPR RI, saat ini Rapat Komisi V DPR RI telah diikuti oleh Anggota 19 dan Fraksi ada 8, berarti, saya ulangi Anggota 19 dari 8 Fraksi dan terdiri dari lebih separuh unsur Fraksi sehingga telah memenuhi kuorum.

Sesuai hasil kesepakatan Rapat Konsultasi Pengganti Rapat Bamus tanggal 16 Juni 2020 terkait Tata Cara Komisi atau Badan masa tatanan baru

new normal pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2019-2020 ini,

pelaksanaan Raker/RDP dihadiri secara fisik maksimal 60% dari jumlah Anggota Komisi dan Badan dengan komposisi sesuai dengan jumlah suara Fraksi secara proporsional, mitra kerja/pemerintah maksimal 45 orang dari kapasitas 60 tempat duduk.

Dan lamanya pelaksanaan Raker/RDP disepakati pada saat pembukaan rapat agar lebih efisien dan efektif maksimal 4 jam. Tapi saya informasikan bahwa kalau waktu kita ditetapkan sampai dengan jam 01.00 siang, jadi inshaAllah kita mungkin barangkali jam 12.00 sudah bisa selesai.

Oleh karena itu sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 251 Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib, izinkan kami membuka rapat pada hari ini dan sesuai ketentuan Pasal 246 Ayat (1) Rapat Komisi V DPR RI pada hari ini dinyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.10 WIB)

Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada para Dirjen dan para pihak terkait yang telah memenuhi undangan kami pada hari ini untuk hadir secara fisik. Sebagaimana undangan yang telah disampaikan Rapat Dengar Pendapat pada hari ini diagendakan acara mengenai Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA).

(5)

Jadi sebelum saya sampaikan ini sebenarnya kita bicara pada hari ini lebih pada persoalan tabungan yaitu tabungan dan penyediaan pembiayaan. Sebenarnya Pak Dirjen kita ini Pak Dirjen Perumahan kita ini tidak ketemu sudah kita hari ini, tapi sudah terlanjur diundang, maka kita biarkanlah dia bicara sebentar. Terima kasih pak, saya akan memberikan gambaran kalau misalnya sudah selesai, bapak mau tinggal Alhamdulillaah, Bapak mau pulang pendalamannya juga boleh dengan pihak TAPERA maupun Dirjen Pembiayaan.

Perlu diketahui bahwa Komisi V DPR RI telah melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum pada hari Selasa, 7 Juli 2020 menerima Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (DPP APERSI). Diantaranya penyampaian mengenai data perumahan KPR untuk MBR dan pada hari Rabu, 8 Juli 2020 menerima Dewan Pengurus Pusat Aliansi Pengembang Perumahan Nasional Jaya atau disingkat (DPP APERNAS JAYA). Diantaranya penyampaian regulasi TAPERA perbankan yang berbeda-beda mekanisme dengan pembagian kuota rumah bersubsidi dan peran serta perbankan dalam pelaksanaan program KPR subsidi.

Oleh karena itu untuk menindaklanjuti RDPU dengan DPP APERSI dan DPP APERNAS JAYA serta membahas sejauh mana kesiapan pemerintah maupun lembaga perbankan dalam mengimplementasikan Tabungan Perumahan Rakyat. Maka dalam kesempatan ini Komisi V DPR RI hendak mendapatkan penjelasan dari para Dirjen dan para pihak terkait dengan TAPERA dan dukungan pembangunan perbankan terkait Tabungan Perumahan Rakyat (TAPERA).

Demikian pengantar dari kami, untuk menyingkat waktu kami persilakan kepada Dirjen Pembiayaan Infrastruktur PU dan Perumahan dan Dirjen Perumahan Kementerian PUPR untuk menyampaikan pemaparannya berkaitan Tabungan Perumahan Rakyat.

Mungkin kita persilakan Pak Dirjen duluan pak, silakan pak.

DIRJEN PENYEDIAAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. H. KHALAWI ABDUL HAMID, M.Sc. M.M.):

Terima kasih Ketua.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V yang saya hormati dan banggakan, Teman-teman kami, Pak Heri Dirjen Pembiayaan Infrastruktur dan Komisioner TAPERA dan jajarannya.

Terima kasih saya sempat diundang, karena sudah diundang tidak ngomong dan kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan informasi tentang tugas perumahan di PUPR. Saya mohon izin Bapak Ibu Anggota Komisi V yang terhormat, izin.

(6)

Lanjut, nanti TAPERA pak kewenangan beliau yang akan menyampaikan, saya mungkin lebih penyedianya yang katanya kalau saya kebanyakan nanti di RDP anggaran 2021 akan banyak kita ketemu dan bahas untuk itu.

Lanjut, ini jadi landasan hukum sesuai dengan penguatan dan kawasan...(rekaman suara kurang jelas) ada kita Undang-undang 45 sebenarnya Pasal 28 Ayat (1) itu bahwa negara harus memperhatikan ya menyiapkan hunian yang layak, nyaman dan sehat itu di sana.

Kemudian Undang-undang Nomor 1 landasannya tahun 2011 inilah yang pertama keluar ini zamannya Pak Manoarfa, sewaktu Pak Manoarfa, Bu Neneng ya mungkin waktu itu ya ini pas keluar itu kita tidak punya Undang-undang PKP. Kemudian Undang-Undang-undang Rumah Susun sekaligus dua undang-undang keluar ini. Namun memang sampai sekarang PP-nya masih agak terhambat itu ya, yang ini yang tugas kami...(rekaman suara kurang jelas).

Next lanjut Mas, ini mungkin ilustrasinya bahwa tugas program perumahan ini ada dua yaitu Direktorat, back dulu mas, ya ini di Direktorat Jenderal Perumahan kita penyedianya pak. Jadi mungkin membedakan penyedianya membangun rumah susun, membangun rumah susun swadaya ya BSPS itu. Kemudian ada bantuan stimulan PSU dan dukungan regulasi sektor perumahan dan properti, ini yang tugas kami.

Kemudian ada satu Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur jalannya adalah Direktorat Perumahan, hunian perumahan itu yang Pak Riko, itu FLPP, SSB, SBUM, ada termasuk TAPERA tadi serta dukungan regulasi untuk pembiayaan sektor perumahan dan properti.

Lanjut, Lanjut Mas. Selanjutnya kemampuan pembiayaan, ini gambaran umum untuk lima tahun ke depan saja yang tugas kita. Kami dan tentunya Komisi V ini, kami dari backlog yang ada membutuhkan program 5.000.000 membutuhkan anggaran 557 Triliun pak. Ini tidak mungkin akan ditopang oleh anggaran pemerintah.

Makanya kita berkolaborasi dengan swasta dan Pemda Daerah dan masyarakat. Kalau di Dirjen Perumahan hanya dialokasikan kurang lebih sampai lima tahun itu Rp.54 Triliun, hanya 875.000 unit. Sementara di tempat Pak Heri di DJPI ada Rp.84,7 Triliun lebih besar di sana kurang lebih 1,7 ribu unit.

Nah sisanya inilah yang kita harus begerak bersama-sama, termasuk juga mohon bantuan dari Komisi V dukungan dengan swasta ikut andil di sini. Dan ini sudah dibuktikan di periode pertama tahun 2012-2019 dengan program sejuta rumah Alhamdulillaah bisa efektif berhasil. Nah itu TAPERA salah satu solusi ke depan itu pak, nanti akan dijelaskan oleh beliau dan micro finance.

(7)

Next lanjut, nah ini gambaran backlog tadi ya, ini backlog kita 2015 saat program sejuta rumah dicanangkan di data BPS kurang lebih 11,4 juta pak. Kemudian dengan program sampai lima tahun sejuta rumah itu kita bisa menurunkan 3,76 juta dan kita masih defisit sekarang tugas dari kami dan kita semua adalah 7,64 juta ke depan. Namun ada pertumbuhan atau tambahan kebutuhan KK baru tiap tahun kurang lebih 700 ribu per tahun. Sehingga itu yang menjadi dilema kalau kita program sejuta saja tidak cukup, mesti ada inovasi lain, makanya ada seperti TAPERA, nah ini salah satunya nanti Pak Dirjen.

Lanjut, lanjut Mas. Nah ini capaian program sejuta rumah sampai lima tahun, dari target mulai dicanangkan tahun 2015. Memang awal-awal baru mungkin belum masyarakat belum paham dengan program sejuta rumah, baru mencapai 700 ribu unit. Namun pada 2018 sudah bisa melewati 1 juta dan 2019 kemarin hampir 1,3 itu jadi totalnya 4,8 juta. Artinya sangat efektiflah dari 5 juta yang kita targetkan 4,8 bisa kita capai. Namun kita masih punya...(rekaman suara kurang jelas) yang sama-sama kita harus kejar.

Lanjut, ini mungkin terakhir untuk terakhir informasi saja next lanjut. Nah ini mungkin kebijakan penyediaan perumahan masa pandemi dan pasca, jadi new normal ke depan kalau untuk di Dirjen Penyediaan Perumahan diantaranya kita akan percepat pembangunan rumah susun rumah untuk ASN TNI POLRI, ini untuk memberikan pasar juga bersama developer ya para swasta.

Kemudian kita mencoba untuk membangun hunian vertikal di kota-kota besar yang terintegrasi dengan moda transportasi yaitu TOD (Transit Oriented Development). Ini jadi kalau di Jabodetabek ada 56 titik, baru kita bangun 11 titik ini memang masih BUMN di Perumnas ya dan perumahan lain, yang diinisiasi oleh Kementerian Perhubungan. Namun ke depan sisanya memang swasta sudah mulai masuk. Yang kemudian publik housing ya ini ada program kita lima tahun ke depan kita kawal sama-sama ada 1 juta unit. Kemudian program berbasis komunitas mungkin juga ini perlu dikembangkan untuk mempercepat jadi tidak satu-satu, mungkin juga nanti apakah di Komisi V akan menjadi program ke depan bersama-sama juga kita akan bahas di RDP nanti.

Kemudian pembangunan skala besar melibatkan pengembang besar. Karena kenyataannya adalah di kota-kota besar seperti Jabodetabek lahan-lahan sudah dikuasai oleh pengembang besar. Nah kita sama-sama tahu dan untuk membangun rumah MBR sangat susah cari tanah yang murah.

Makanya kita sedang mencoba mendorong di Undang-undang Pertanahan tentang adanya pasal land banking dan land confiscation ini kira-kira zamannya bapak dulu sudah dilontarkan tidak mesti bukan untuk perumahan saja tapi untuk semua infrastruktur butuh negara mengatur atau menyiapkan tanah ini. Saya kira itu.

(8)

Untuk yang pembiayaan nanti pak sudah diusulkan nanti Pak Heri nanti akan jelaskan banyak khususnya adalah stimulus seperti yang Pak Pimpinan harapkan adalah untuk bangkitnya UMKM dan usaha perusahaan untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan dan mohon izin kalau sekiranya Bapak Pimpinan dan Anggota boleh saya anu. Saya kebetulan ada apa pembahasan LHP juga pak yang nanti akan dibahas di sini dengan BPK, tapi kalau saya harus tetap di sini saya siap diperintah begitu.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih.

Seperti yang sudah disampaikan tadi bahwa beliau ini sebenarnya kurang terlalu tepat dalam hadir dalam rapat hari ini. Yang paling tepat bicara TAPERA adalah Dirjen Penyediaan Perumahan dan TAPERA itu sendiri. Tapi namun demikian beliau menawarkan kalau misalnya beliau diizinkan untuk meninggalkan tempat karena pendalaman pasti kita di Dirjen Pembiayaan, ya kalau tidak diizinkan ya tergantung bagaimana pandangan teman-teman. Silakan.

F-PDIP (HJ. SADARESTUWATI, SP, M.MA): Pimpinan.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Silakan.

F-PDIP (HJ. SADARESTUWATI, SP, M.MA):

Pimpinan, karena memang tidak ada urgensinya dengan apa yang kita bahas pada pagi hari ini. Saya kira lebih baik Dirjen Perumahan untuk dipersilakan meninggalkan tempat supaya kita juga fokus untuk membahas yang bahasan pada pagi hari ini.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Mewakili semua yang lain?

(9)

ANGGOTA KOMISI V DPR RI:

Ya, saya setuju dengan Bu Restu, tidak perlu saya sampaikan argumentasinya Pimpinan.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Kita setuju ya kembali pak ya tinggalkan tempat. Terima kasih Pak Dirjen, silakan Pak Dirjen ya. Wa'alaikumsalam.

Selanjutnya Dirjen Pembiayaan Perumahan silakan Pak Dirjen.

DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):

Baik, terima kasih.

Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR yang kami hormati dan sangat kami banggakan.

Izinkan kami memperkenalkan diri lebih dahulu ya, bahwa kami di Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan, ini mempunyai Tusi antara lain terkait dengan pembiayaan infrastruktur. Ya ada itu Bina Marga ya terkait dengan jalan dan jembatan, kemudian terkait dengan sumber daya air, terkait dengan pemukiman dan terkait dengan perumahan. Jadi hal-hal yang sifatnya investasi ya pembiayaan itu ada di Direktorat Jenderal kami.

Nah TAPERA ini menjadi bagian dari yang Tusi kami yang terkait dengan perumahan, ya Direktorat Pelaksanaan Pembiayaan Perumahan. Jadi kalau di Kementerian PUPR hal-hal yang bersifat investasi itu ada di tempat kami dan tandemannya adalah infrastruktur dan perumahan semuanya.

Hadir pada kesempatan ini di sebelah saya adalah Pak Adi Setianto, beliau ini adalah Komisioner BP TAPERA ya, beliau nanti akan menyampaikan hal-hal yang sifatnya sangat teknis ya.

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih ya pada kesempatan ini diundang untuk mengikuti RDP ya. Memang topik TAPERA ini selama dua bulan terakhir, ya ini sangat ramai ya di media karena banyak pro dan kontra. Tetapi kami mencoba untuk meresponnya di berbagai media dan Alhamdulillaah hari ini kami bisa bertemu Bapak Ibu sekalian.

Mohon langsung di slide 5. Bapak Ibu sekalian, target RPJM dan Renstra 2020-2024 untuk bidang perumahan, ini kami ulang kami kembalikan ulang kembali dan kami sambung apa yang disampaikan oleh Bapak Khalawi tadi. Yaitu bahwa target untuk intervensi langsung pemerintah itu sebesar 5.000.000 unit rumah.

(10)

Jadi tadi ada target langsung ya, ada target tidak langsung ya, intervensi langsung dan intervensi tidak langsung. Nah dari 5.000.000 ini komposisinya akan dipenuhi melalui; pertama subsidi perumahan yaitu FLPP, SSB, SBUM ya ini sebanyak 900.000 unit ini sampai dengan tahun 2024 ya.

Lalu kemudian TAPERA itu 500.000 unit ya sekali lagi sampai dengan tahun 2024. Kemudian subsidi BP2BT ya (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan) ini 68.654 unit. Lalu kemudian SMF 50.000 unit dan sisanya ini jauh lebih besar adalah kolaborasi. Baik itu pemerintah pusat, daerah, swasta dan masyarakat, ini besarnya 3,4 juta unit.

Next, nah Bapak Ibu sekalian mengenai kebijakan pembiayaan

perumahan. Tadi sempat disinggung sedikit memang oleh Bapak Khalawi Dirjen Perumahan, kalau kita lihat rantai pasok penyediaan perumahan di slide berikutnya ini business cycle-nya adalah seperti ini ya. Jadi mulai dari penyediaan tanah, perencanaan desain, perizinan dan seterusnya.

Dan sementara di sisi kanan mulai dari MBR, penghunian dan kemudian yang di bawah itu adalah proses kepimilikan rumah prosesnya seperti itu ya. Ini kami sampaikan di sini karena nanti seandainya BP TAPERA operasional penuh ya, maka rantai pasok ini tetap seperti ini berjalan ya.

Dan ini ada berbagai peraturan yang sudah mengatur, misalnya di perizinan itu ada PP.64 ya itu terkait dengan penyederhanaan perizinan ya. Bahwa nanti misalnya BP TAPERA akan melakukan intervensi di sisi supply dalam bentuk penyediaan tanah ini nanti akan diatur di dalam kebijakan operasional mereka.

Nah selanjutnya Bapak Ibu sekalian, untuk tahun 2020 ini perbedaannya dengan tahun 2019, ini kita melanjutkan program-program yang ada sebelumnya ya, ditambahkan dengan tadi...(rekaman suara kurang jelas) ya ada TAPERA yang sudah mulai nanti mempunyai initial project ya, lalu kemudian ada juga pilot project untuk KPR ASN TNI dan POLRI.

Selanjutnya nah Bapak Ibu sekalian, saat ini ya kita masih berada pada masa pandemi Covid ya. Kemarin pemerintah ya dalam hal ini Kementerian Keuangan memberikan tambahan stimulus fiskal melalui subsidi selisih bunga untuk tahun 2020 sejumlah 175.000 unit ya.

Jadi kalau disetarakan uang sebesar Rp.1,5 Triliun setara dengan 175.000 unit. Sehingga pada tahun 2020 ini perumahan yang mendapatkan bantuan pemerintah yang sering disebut KPR subsidi yaitu jumlahnya adalah 330.000 unit ya. Yang terdiri dari FLPP 88.000 unit, kemudian BP2BT 67.000 unit dan yang terakhir tadi saya kemukakan melalui stimulus fiskal SSB 2020 sebanyak 175.000 unit.

Selanjutnya mengenai penyelenggaraan TAPERA di slide Nomor 11 Bapak Ibu sekalian. Jadi ini kami sampaikan mengenai peraturan perundangan yang terkait dengan perumahan dan TAPERA. Undang-undang

(11)

TAPERA itu ada di Undang-Undang 4 Tahun 2016 ya. Kemudian PP-nya yaitu PP.25 Tahun 2020 penyelenggaraan TAPERA itu terbitnya bulan Mei kemarin.

Nah memang ada jarak waktu cukup lama ya, padahal sebetulnya diamanatkan di Undang-Undang 4 Tahun 2016, dua tahun setelah perundangan dari Undang-Undang 4 itu seharusnya TAPERA sudah beroperasi. Artinya harusnya di tahun 2018, tetapi delay dan kemudian operasionalnya baru mulai bisa disiapkan setelah PP.25 Tahun 2020 kemarin. Nah selanjutnya untuk struktur organisasi Bapak Ibu sekalian, nanti ini bisa diperdalam dijelaskan oleh Pak Adi mengenai ada komioner, ada Deputi Komisioner, kemudian Direktorat-direktorat ini sebagai pengenalan.

Lalu Bapak Ibu sekalian di slide berikutnya mengenai dasar hukum, tujuan, asas dan visi. Slide ini kami harapkan bisa memberikan gambaran garis besar mengenai TAPERA. Yaitu undang-undang yang diacu ya peraturan perundangan yang diacu. Lalu kemudian tujuannya apa, asas pengelolaannya bagaimana dan kemudian visi BP TAPERA seperti apa.

Kami ingin sampaikan bahwa tujuan dari TAPERA itu adalah untuk menghimpun dan menyediakan dana murah jangka panjang yang berkelanjutan untuk pembiayaan perumahan dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau bagi peserta MBR. Nah ini di akhir dari tujuan ini ada kata-kata peserta MBR ya. Jadi penekanannya adalah pada peserta.

Kemudian di asasnya ini ada 12 ya, 3 yang utama adalah kegotongroyongan ya yang mampu membantu yang tidak mampu itu ciri dari kegotongroyongan. Kemudian kemanfaatan dan yang ketiga adalah nirlaba. Jadi BP TAPERA ini didirikan nirlaba, tidak diminta untuk mencari laba ya, itu 3 asas teratas ya di samping 9 asas lainnya.

Nah bagaimana penyiapan beroperasinya BP TAPERA bisa dilihat di slide berikutnya bahwa Undang-Undang Perumahan itu lahir 12 Januari 2011 itu kira-kira sekitar 9 tahun yang lalu. Lalu kemudian Undang-undang TAPERA 24 Maret 2016 ya ini 4 tahun yang lalu ya. Kemudian Pengangkatan Ketua dan Anggota Komite ya Ketua dan Anggota Komite ini melalui Keppres.

Jadi Ketua dan Anggota Komite ini unsurnya terdiri dari Menteri PUPR sebagai Ketua, kemudian Anggotanya ada Menteri Keuangan, kemudian ada Menteri Tenaga Kerja ya. Lalu kemudian ada OJK dan kemudian dari unsur profesional ya, itu Ketua dan Anggota Komite TAPERA. Lalu kemudian pengangkatan Komisioner dan Deputi Komisioner BP TAPERA itu dilakukan tanggal 13 Februari 2019 ya tahun lalu ya. Lalu kemudian 20 Mei 2020 PP-nya keluar ya. Jadi sebetulPP-nya diharapkan tadiPP-nya PP-PP-nya itu keluar sebelum tahun 2018 kalau menurut undang-undang, karena 2018 harusnya TAPERA ini sudah beroperasi.

(12)

Lalu kemudian bagaimana timeline penyelenggaraan TAPERA? Nah Bapak Ibu sekalian, ya ada 4 fase penyelenggaraan TAPERA. Di mana saat ini kami konsentrasi di fase 1,2 dan 3. Fase 4-nya kami harapkan bisa beroperasi di 2021. Nah fase 1,2 dan 3 inilah yang baru bisa kita lakukan pada saat PP.25 itu terbit. Yaitu apa saja kita melakukan likuidasi ya terhadap aset atas nama Bapertarum PNS waktu itu ya. Itu belum tuntas dilakukan ya dan ada tiga kegiatan lain di sana disebutkan.

Kemudian BP TAPERA juga nanti harus melakukan pengembalian hasil likuidasi dan dana Taperum kepada PNS aktif ya. Saat ini belum bisa dilakukan karena itu tadi PP-nya belum ada dan kemudian peraturan berikutnya belum ada.

Kemudian dukungan kebijakan yang diperlukan dalam hal ini adalah Keputusan Menteri PUPR tentang Tim Likuidasi ini sudah kami proses. Kemudian Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pengalihan dan Pengembalian Dana Taperum PNS. Ya itu di hal yang pertama ya. Kemudian juga kami lakukan yang terkait dengan dana FLPP. Lalu kemudian kami juga lakukan BP TAPERA terutama adalah melakukan pencatatan ASN TNI POLRI dan seterusnya itu adalah sebelum operasi penuh BP TAPERA tahun 2021.

Secara garis besar peraturan perundangan untuk penyelenggaraan TAPERA ini ada di slide berikutnya. Yaitu bahwa diperlukan nanti ada satu amanat Peraturan Presiden ya. Kemudian 10 amanat Peraturan Menteri, kemudian 13 amanat Peraturan BP TAPERA ya. Ini semua harus dilakukan harus ada sebelum tahun 2021 BP TAPERA beroperasi ya. Selanjutnya Bapak Ibu sekalian, terkait dengan segmentasi dan proyek kepesertaan TAPERA, mohon izin Bapak Pimpinan ada dua tiga slide terakhir ini kami minta Pak Adi sebagai Komisioner BP TAPERA untuk menyampaikan.

Silakan Pak Adi.

KOMISIONER BP TAPERA (Drs. ADI SETIANTO, M.B.A.): Terima kasih pak, mohon izin.

Bapak dan Ibu Pimpinan Komisi V DPR yang saya hormati dan kami banggakan,

Bapak dan Ibu Anggota Dewan Komisi V.

Terima kasih atas kesempatannya untuk bisa memaparkan BP TAPERA yang nanti akan diperdalam dengan tanya jawab barangkali seperti itu.

Melanjutkan presentasi Pak Dirjen, sebetulnya misi utama kita adalah menjamin tersedianya dana jangka panjang berkelanjutan dan terjangkau oleh masyarakat MBR dalam rangka untuk memiliki rumah yang layak pak.

Jadi utamanya adalah menjamin tersedianya dana jangka panjang. Sebagaimana diketahui Bapak dan Ibu sekalian, salah satu permasalahan

(13)

perumahan adalah tidak ada satu pun lembaga keuangan yang mampu menyediakan selain APBN pak, yang mampu menyediakan dana jangka panjang. Karena kalau bermain di perumahan itu KPR itu 15 tahun, 20 tahun nah itu bank ataupun multifinance pun paling lama 5 tahun, kalau pun 10 tahun pakai Bond pricing-nya mahal.

Jadi dengan adanya TAPERA inshaAllah apa namanya berbasis gotong royong, pemerintah bisa menyediakan dana jangka panjang berkelanjutan. Tapi fokusnya sekali lagi di MBR, mulai upah minimum sampai dengan 8.000.000 itu fokus kami.

Nah untuk memudahkan dari PP kita coba lihat segmentasi. Prinsipnya adalah wajib menabung. Jadi kita bagi dari kelompok kerja pekerja. Satu adalah ASN, kemudian pegawai BUMN, BUMD, dan BUMDes, yang ketiga peronil TNI dan POLRI. Kemudian pegawai swasta, kemudian wiraswasta atau pekerja mandiri, dan WNA yang telah bekerja selama 6 bulan di Indonesia.

Khusus untuk pegawai swasta, ada windows setelah 7 tahun sejak PP diterbitkan, baru teman-teman swasta wajib menjadi peserta dari TAPERA. Dan kami sudah koordinasi dengan Pak Haryadi dari APINDO, begitu selesai PP keluar. Kemudian terjadi sedikit keegoan dalam tanda kutip, kami merapat duduk bareng dengan APINDO, waktu itu Pak Haryadi diwakili didampingi oleh semua pengurus, Alhamdulillaah ada kesepakatan. Jadi untuk sementara kita mau fokus di melayani ASN, TNI POLRI, BUMDes, BUMD dan sebagainya. Itu kira-kira dari sisi kelompok pekerja.

Kemudian dari sisi tingkat penghasilan, fokus kami adalah di masyarakat berpenghasilan rendah yaitu dari upah minimum. Upah minimum kalau dari maping data dari Kementerian PUPR itu 1,7 itu ada di daerah Yogya sekitarnya. Jadi fokus kami di sana sampai dengan batas penghasilan MBR, semua mengacu pada peraturan yang ditetapkan oleh Kementerian PUPR.

Jadi di dalam hal beroperasi apapun yang kami lakukan, kami harus selalu tunduk kepada Undang-undang Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan. Alhamdulillaah kami selalu di-support oleh Pak Dirjen Pembiayaan maupun Pak Khalawi dari sisi supply...(rekaman suara kurang jelas)-nya. Itu kira-kira dari sisi tingkat penghasilan.

Nah kemudian dari sisi di atas yang MBR tetap nun sewu, manfaatnya adalah untuk masyarakat yang menjadi penabung untuk yang MBR di samping dapat pengembalian tabungan dan hasil pemupukan. Kalau masyarakat MBR mau menabung, itu nanti pada saat berhenti sebagai peserta TAPERA, entah pensiun, entah meninggal atau entah apa namanya hal-hal lain, tabungannya kita kembalikan beserta pemupukan.

Disamping mereka juga mendapat pengembalian tabungan dan hasil pemupukan, mereka eligible untuk menikmati fasilitas pembiayaan perumahan berbasis berbunga murah. Untuk kepemilikan rumah bagi yang

(14)

ingin memiliki rumah melalui KPR, kredit kita salurkan melalui bank maupun lembaga pembiayaan lainnya. Maupun untuk pembangunan kalau kebetulan masyarakat MBR sebagai penabung kami sudah memiliki tanah.

Jadi kita juga bisa memberikan pinjaman berbunga murah untuk pembangunan rumah. Dan juga untuk renovasi kalau mereka sudah punya rumah mungkin perlu renovasi kita juga bisa menyediakan fasilitas pembiayaan perumahan untuk renovasi.

Nah bagi yang penabung di atas MBR manfaatnya adalah kita kembalikan tabungannya dan hasil pemupukannya. Nah ini artinya apa? Menabung dipakai untuk gotong royong, tapi begitu mereka berhenti sebagai peserta TAPERA uang kita kembalikan, tabungan kita kembalikan plus pengembangan kira-kira seperti itu dan insentif lainnya.

Kita nun sewu dalam kesempatan ini kita juga di-support oleh teman-teman BPN. Jadi kita bisa kerja sama dengan BPN atau pun dengan SNF untuk agar bisa mereka membantu menyediakan suku bunga yang affordable pak, tidak seperti komersial tapi di atasnya yang untuk MBR.

Nah hanya dipakai untuk penabung kami. Ini kita sedang kita kerjakan bagaimana caranya supaya penabung-penabung kami yang tidak bisa memiliki manfaat pembiayaan perumahan berbunga murah, bekerja sama dengan teman-teman dari SNF maupun BPN bisa mendapat value dari kerja sama kita, itu kira-kira seperti itu.

Nah kemudian dari sisi prasyarat penerima manfaat. Dapat diambil apabila setelah berhenti menjadi peserta yaitu pengembalian tabungan dan hasil pemupukan. Untuk golongan MBR masa kepesertaan minimal 12 bulan. Kalau mereka sudah menabung rutin 12 bulan mereka berhak untuk mendapat fasilitas pembiayaan perumahan berbunga murah. Itu kira-kira seperti itu untuk MBR dan ini adalah semua untuk rumah pertama dan kami menyalurkannya lewat bank maupun lembaga pinjaman lainnya.

Kemudian kalau untuk yang di atas MBR dapat diambil apabila telah berhenti menjadi peserta atau pensiun dan insentif diberikan selama menjadi peserta. Ini kira-kira kalau dari sisi persyaratan, pra syarat penerima manfaat. Yang paling bawah adalah proyeksi kepesertaan.

Ini kondisi kami buat pada saat sebelum pandemi ini pak. Jadi nanti kita akan lakukan adjusment, tapi dari data sebelum pandemi akumulasi peserta proyeksi kami tahun 2020 4,2 Juta ini berasal dari peserta eks-Bapertarum. Jadi Bapertarum Pegawai Negeri Sipil itu ada Anggota sebanyak 4,2 Juta.

Kemudian tahun 2021 naik menjadi lima koma tiga, lima juta, tahun 2022 7,4, tahun 2023 sekitar 10,2, 2024 13,1. Ini adalah dari hasil proyeksi kelompok pekerja ASN, BUMN, BUMD, BUMDes, TNI, POLRI, itu sasarannya sampai nanti inshaAllah di tahun akhir tahun 2024 bisa terhimpun peserta TAPERA sebanyak tiga belas koma seratus tujuh puluh juta. Dengan total

(15)

dana yang dihimpun proyeksi kami dengan potongan 3%, 2,5% menjadi beban peserta yang setengah persen beban pemberi kerja. Diharapkan pada akhir tahun 2024 kita bisa menghimpun dan mengelola dana jangka panjang sebanyak Rp.60 Triliun. Itu kira-kira Pak Dirjen terkait dengan segmentasi kami.

Nah kemudian bagaimana cara kami mengelola, ini adalah lembaga pembiayaan pak. Jadi kami disupervisi oleh OJK, karena kami adalah lembaga pembiayaan keuangan, jadi bagaimana kita seperti ini modelnya. Kalau kita lihat dari sisi sumber dana TAPERA itu berasal dari tabungan peserta, simpanan peserta eks-Bapertarum. Kemudian kami juga dikhususkan dengan undang-undang kita juga ada sumber dana lain antara lain adalah fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan, tadi sudah disampaikan oleh Pak Dirjen.

Jadi nanti tahun 2021 pak ya untuk FLPP dana kelolaannya diserahkan kepada kami untuk kita kelola. Kemudian juga kami juga bisa menerima dana wakaf ataupun program pembiayaan perumahan lainnya yang berbasis tabungan misalkan perumahan TNI POLRI dan lain-lain. Itu adalah sumber dana atau program lain selain dari tabungan.

Nah dari sisi aktivitas utama pengelolaan dana TAPERA ada tiga aktivitas. Pertama adalah pengerahan dana dari peserta. Kedua adalah pemupukan. Ketiga adalah pemanfaatan. Jadi dana yang kita terima dari peserta kita pupuk melalui MI kemudian dengan custody.

Jadi setiap uang masuk ke TAPERA tercatat secara detail by name, detil berapa dia nabung, berapa hasil pengembangannya tiap hari bisa dimonitor. Itu adalah tugas kami agar kami bisa mengelola dana ini melalui BP TAPERA secara transparan dan kredibel. Itu kira-kira sistem pendanaannya seperti itu.

Nah dari hasil pengelolaan, pemupukan, ada tiga output manfaatan yaitu pertama adalah kepemilikan rumah, kedua pembangunan rumah, ketiga perbaikan rumah. Sedangkan dari hasil pemupukan adalah imbal hasil. Sasaran kami adalah individu dan komunitas. Jadi bukan hanya individu tetapi kita juga berbasis komunitas.

Misalkan khususnya ini yang untuk non fixed income pak. Jadi kita bisa membantu teman-teman pekerja-pekerja yang komunitas, kita juga bisa menghimpun tabungan dari mereka untuk nanti kita sediakan pembiayaan untuk suku bunga murah. Ini kira-kira secara selintas mengenai bagaimana kami di BP. TAPERA mengelola dana TAPERA.

Next, manfaat apa terkait dengan tabungan TAPERA bagi peserta, bagi pemberi kerja dan bagi masyarakat. Untuk peserta ada dua manfaat yaitu akses pembiayaan. Sebagaimana Bapak dan Ibu ketahui bahwa di masyarakat itu untuk MBR itu sangat sulit sekali mendapat akses kepada perbankan pembiayaan, banyak hal salah satu mungkin perizinan, kemudian surat menyurat kelengkapan.

(16)

Nah dengan bergabung menjadi peserta TAPERA kepentingan mereka diwakili oleh TAPERA. Kenapa? Karena semua data ada di kita. Jadi kita bicara dengan teman-teman perbankan tolong nanti kalau peserta TAPERA mengajukan pembiayaan kepada TAPERA melalui bank, tolong syarat-syarat yang mungkin selama ini memberatkan mereka bisa diambil alih oleh TAPERA.

Kenapa? Karena kami memiliki data detil Pak, data detil perorang dan kami juga di-support oleh Dukcapil dan lembaga-lembaga lain, sehingga akses pembiayaan terhadap peserta TAPERA khususnya yang MBR itu bisa lebih mudah. Itu kira-kira dari sisi akses pembiayaan. Jadi meningkatkan keterjangkauan akses pembiayaan perumahan bagi peserta itu adalah manfaat salah satunya bagi peserta.

Kemudian yang berikutnya ada nilai tambah. Memberikan layanan nilai tambah bagi peserta di bidang perumahan. Dengan data base yang kami miliki, kami terus terang pada saat menunggu PP, kami interaksi dengan teman-teman pengembang. Baik APERSI, APERNAS, dan kebetulan sebelum bergabung dengan BP TAPERA, saya di BPN pak jadi saya banyak kenal dengan teman-teman.

Jadi kita sering diskusi, problemnya satu pada saat mereka membangun rumah, mereka tidak tahu demand-nya di mana. Jadi dengan cara seperti ini kami memiliki penabung, dari penabung kita bisa lihat kebutuhan rumah, kebutuhan rumah itu adalah demand set. Nah itu kira-kira kita kerja sama dengan teman-teman pengembang bahwa dengan TAPERA ini mereka bisa dengan mudah melihat daerah mana yang berpotensi untuk dibangun rumahnya. Jadi dari sisi demand supply-nya berjalan dengan baik.

Nah dari data sebanyak itu pak kalau awalnya 4,1 akhir tahun kelima 17 juta, itu bagi pengembang adalah sesuatu. Karena memang betul-betul mereka bisa membangun rumah sesuai dengan di mana masyarakat membutuhkan rumah kira-kira seperti itu. Nah bagi pemberi kerja, kita lihat dari sisi pemberi kerja ada dua hal.

Pertama produktivitas, karena kita melihatnya adalah ini adalah benefit bagi karyawan yang bekerja di suatu perusahaan dengan cara perusahaan mendaftarkan sebagai peserta TAPERA dengan iuran 0,5 dari pemberi kerja.

InshaAllah benefit-nya sebagai karyawan juga meningkat, tapi kondisi normal

pak, terus terang ini kita bicara kondisi normal. Kondisi sekarang rumus ini tidak berlaku pak, karena perusahaannya sekarang bisa bertahan pun Alhamdulillaah. Jadi kalau kondisi sudah normal inshaAllah ini bisa berjalan.

Kami banyak bicara dengan teman-teman pengusaha, memang kita menyadari makanya atas saran dari Komite pak di 3 tahun atau 5 tahun pertama kami fokus 3 tahun pertama kami fokus di pembiayaan layanan untuk ASN pak. Karena ASN sudah ada 4,2 juta peserta eks-Bapertarum dengan dana sekitar Rp.11 Triliun kita akan kelola, di situ ada sekitar 1 juta ASN pak yang belum memiliki rumah.

(17)

Nah kami fokus di situ saja pak, inshaAllah kalau nanti sudah bisa berjalan, mudah-mudahan masyarakat nanti percaya dengan BP TAPERA sehingga mereka dengan sukarela menabung. Karena mendapat manfaatnya, termasuk juga dari sisi apa namanya yang dari swasta.

Kemudian dari loyalitas meningkatkan loyalitas peserta pada pemberi kerja. Nah untuk masyarakat ada dua hal juga social trust yaitu membangun social trust masyarakat kepada pemerintah. Harapan Komite kepada kami tolong dibangun BP TAPERA ini sebagai lembaga yang kredibel, orang bisa percaya kepada TAPERA untuk menyimpan tabungannya di situ dipakai untuk pembiayaan perumahan.

Dan yang berikutnya literasi inklusi yaitu meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Di sini model kami mewajibkan kami mengelola melalui MI dan custody dibantu sama...(rekaman suara kurang jelas). Kalau tahun depan inshaAllah kita sudah mulai beroperasi, Anggota KSEI yang sekarang masih 2,2 juta pak, secara individu pak dengan BP TAPERA bergabung di KSEI itu inshaAllah meningkat menjadi enam koma sekian juta pak. Jadi adalah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Ini kira-kira manfaat program TAPERA bagi peserta, pemberi kerja dan masyarakat. Mungkin itu Pak Dirjen dari kami pak.

Terima kasih, saya kembalikan kepada Pak Dirjen. Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

DIREKTUR JENDERAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN KEMENTERIAN PUPR (Dr. Ir. EKO DJOELI HERIPOERWANTO, MCP.):

Baik, terima kasih Pak Adi Komisioner BP TAPERA.

Demikian Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR yang terhormat paparan dari kami, selanjutnya kami kembalikan kepada Pimpinan.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih Pak Eko maupun Pak Adi.

Selanjutnya saya kira demikian penjelasan yang telah disampaikan oleh Dirjen PUPR dan Komisioner Badan Pengelolaan TAPERA. Selanjutnya kami persilakan kepada para Anggota Komisi V DPR RI untuk menyampaikan pertanyaan dan melakukan pendalaman. Namun seizin teman-teman semua, ada permintaan Pak Hamka minta duluan karena ada urusan ke Banggar dia pak. Diizinkan pak, Pak Hamka duluan.

(18)

F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, M.S.): Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Izin. Pimpinan yang saya hormati dan seluruh Kawan-kawan yang saya banggakan. Saya memang mohon izin untuk duluan bersamaan dengan itu karena Bank Indonesia juga dengan Menteri Keuangan akan memfinalisasi kebijakan mengenai keuangan 2021.

Pak Dirjen yang saya hormati,

Badan Pengelola ya saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya sampai ada Badan Pengelola. Tentu kalau lihat (rekaman suara kurang jelas).

Saya melihat dan mencermati beberapa kali kami RDP dengan asosiasi yang terlalu banyak. Saya juga tidak tahu bagaimana bapak memutuskan asosiasi yang mana yang diprioritaskan.

Yang ingin saya soroti di sini ada dua hal. Yang pertama keberadaan dari Tim Pengelola TAPERA dan yang kedua sumber pendanaan yang berasal dari APBN. Saya melihat data Pak Dirjen, tahun 2020 ini akan ada uang Rp.11 Triliun ya pak ya yang akan dialokasikan untuk subsidi ataukah bantuan perumahan. Ada lagi FLPP ada lagi banyak sekali lembaga-lembaga yang ada di situ yang mengelola pembiayaan.

Saya berpikir kemarin kalau apa LDPT LTTDTT ya PTDPP hadir kemarin pak, saya tidak tahu izin Pak Dirjen atau bagaimana? Dalam satu RDP dengan apa namanya APERNAS JAYA. Saya agak heran pengelolaan ini pak, tidak pernah juga kepakai ke mana duitnya yang Rp.11 triliun itu untuk diapakan sebenarnya tidak pernahlah ada laporan pertanggungjawaban kepada kami. Tahun-tahun sebelumnya juga kalau ada tidak pernah dikemukakan hanya sekilas saja. Mana lagi saya tidak ikuti semuanya, Taperum itu dananya dialihkan ke mana? Apa gabung semua di TAPERA? Bapertarum? Jadi sampai saya kemukakan semua lembaga-lembaga ini dibubarkan saja pak, dijadikan satu sumber itu masuk di TAPERA. Itu satu.

Yang kedua, pengelola TAPERA itu ya jangan ya minta maaf, orang-orang yang mengerti keuangan dan perumahan, bukan hanya yang ngerti perumahan. Ini menjadi catatan. Saya minta penjelasan dari Pak Dirjen 11T untuk 2020 itu ke mana dan progress-nya seperti apa dan sumbernya dari mana? Karena di dalam rancangan APBN 2020 tidak termasuk dari Rp.11 Triliun itu. Bapak hanya Rp.700 Miliar kedirjenan pembiayaan kalau tidak salah. Sumber uang Rp.11 Triliun itu dari mana dan diapakan dan cara membaginya kepada kontraktor seperti apa? Itu tidak pernah dikemukakan di sini pak. Apakah itu subsidi? Subsidi pemerintah? Bagaimana cara bapak untuk membagi-bagikan uang itu ya?

Nah selanjutnya mengenai pengelola. Ya memang kewenangannya kementerian, tapi kita coba atur nanti. Saya mengusulkan bahwa pengelolaan

(19)

keuangan pembiayaan perumahan yang berasal dari dana masyarakat dan subsidi pemerintah itu harusnya credible dan capable.

Kemarin tidak enaknya dari beberapa pendapat kemarin, jangan sampai uang TAPERA ini jadi modal ini disimpan kaya ASABRI, kaya Jiwasraya dan sebagainya-dan sebagainya. Rp.11 Triliun itu yang kemarin tahun 2020 sudah berapa pak? Dibagi ke mana? Tidak pernah itu tidak pernah diberikan penjelasan kepada kami. Nah memang tidak ada di dalam pembiayaan, pertanyaan saya Rp.11 Triliun itu dari mana sumbernya? Ya pak ya, jadi saya lebih senang kalau disatukan semuanya kalau memang itu suatu kebijakan.

Selanjutnya kepemilikan apa namanya pemberian subsidi atau pemberian rumah dari TAPERA itu uang yang ditabung orang itu kan tidak hilang pak ya? Jadi hak miliknya walaupun tidak memiliki rumah dan sudah punya rumah kan begitu. Nah oleh karena itu saya berharap pak karena ini adalah lembaga pembiayaan, lembaga keuangan, itu harus ada otoritasnya juga. Jangan hanya Menteri PU saja yang mengangkat ataukah dari pensiunan saja minta maaf ya, boleh-boleh saja tapi harus ada kriterianya.

Nah saya sampai kemukakan kemarin kalau perlu pengelola itu di-fit and proper test di Bank Indonesia dengan di sini. Kami tidak tahu, tahu-tahu ada TAPERA, ada pengelolanya. Nanti terbuka semua pemikiran kita setelah banyak audiensi masuk. Bayangkan asosiasi banyak sekali, banyak yang tidak dapat fasilitas, yang dapat fasilitas dari bapak berteriak jangan dibubarkan pak, ya kan. Kalau saya bubarkan semua jadikan masuk semua di TAPERA uang apapun. Supaya jangan kita bingung juga dalam pertanggungjawaban nanti. Taperum bubar, uangnya masuk di TAPERA oke. Nah oleh karena itu saya berharap banyak tentu masyarakat juga berharap banyak terhadap TAPERA ini ya. Jadikan satu, artinya tujuannya mulia ya, inilah salah satu lembaga yang bisa mengurangi gap ataukah kekurangan-kekurangan pembiayaan dari pemerintah berupa subsidi. Itu salah satu jalan keluar. Bayangkan kalau disubsidi terus pak, pemerintah kan akan mengurangi terus subsidi.

Subsidi bukan subsidi kepada perumahan dan sebagainya, subsidi diarahkan kepada objeknya bukan ke lembaganya. Subsidi ke barang bukan lagi kepada barangnya, tapi subsidi itu akan diarahkan itu kepada orangnya. Subsidi tabung 3Kg itu subsidi kepada barangnya, harusnya subsidi kepada orang. Sehingga barang ini diperjualbelikan kiri kanan, itu contoh kecil. Nah oleh karena itu kalau ada subsidi dimasuk di PU harusnya langsung masuk ke apa namanya TAPERA untuk menjadi satu sumber.

Itu saja barangkali Pimpinan ya, saya juga akan mencoba bicara dengan Gubernur Bank Indonesia dengan Menteri Keuangan. Karena ini saya melihat Pak ini lembaga pembiayaan, walaupun di bawah kendali Kementerian PU. Ini lembaga keuangan pak, harus ada otoritas-otoritas yang diberikan oleh Bank Indonesia. Lembaga finance, keberadaannya seperti apa.

(20)

Nah oleh karena itu saya berharap banyak, saya sekali lagi men-stressing Pak Dirjen semua lembaga-lembaga yang tidak jelas tadi itu bubarkan saja jadikan satu sebagai lembaga pembiayaan. Tidak ada guna-gunanya, semua bubar, semua satukan ayo. Ya saya kira itu Pak Dirjen, mohon maaf karena ini baru saya mau kuliti benar ini. Karena ada anggaran negara di situ yang selama ini kita hanya highlight saja. Ternyata banyak hal-hal yang perlu dikritisi di situ dan ini saya akan terus dan terus saya akan kritisi terus.

Saya kira demikian Pimpinan. Mudah-mudahan ada manfaatnya pertemuan kita pada hari ini. Saya menjadi catatan adalah TAPERA pengelola TAPERA, TAPERA itu sendiri adalah lembaga pembiayaan. Lembaga pembiayaan harus mendapat otoritas dari Bank Indonesia. Saya kira demikian terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Wa'alaikumsalam.

Terima kasih Pak Hamka.

Berikutnya Pak Bambang Suryadi.

F-PDIP (BAMBANG SURYADI, S.H., M.H.): Terima kasih Pimpinan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat siang,

Salam sejahtera.

Pimpinan serta Bapak Ibu Anggota Komisi V yang saya hormati, Pak Dirjen serta Komisioner BP TAPERA.

Saya sebenarnya sudah dua hari ini TAPERA ini menjadi disebut-sebut headline-lah di Komisi V di ruangan ini menjadi headline. Lahir, bongsor Mei 2020 setelah PP 25 2020 diundangkan, sebagai badan penyelenggara dan disebut sebagai komisioner. Artinya yang di dalamnya harusnya orang-orang independen, yang harus mengikuti fit and proper test. Karena ini menyangkut kegiatannya kegiatan adalah penyelenggara kegiatan fisiknya harusnya Komisi V ini ikut campur dalam seleksi komisioner BP TAPERA. Alhamdulillaah-nya saya belum baca secara penuh PP 25 sehingga bahan yang saya ingin dalami persoalan di BP TAPERA ini terbatas.

Pak Dirjen, PP 25 2020 sebagai terjemahan dari Undang-Undang per 2016 setelah Keppres 14 1993 tentang TAPERA dan Keppres 46 1994 itu

(21)

dinyatakan tidak berlaku. Yang sebelum Mei 2020 itu masih ada PPDPP hasil RDP kemarin. Apakah itu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak dari apa kemarin bukan pak. APERNAS Jaya menyampaikan bahwa PPDPP bukan ya kalau itu pesan sponsor pak, saya katakan pesan sponsor. Bahwa hasil audiensi, saya tidak menyebutkan dengan Dirjen apa, menyalahi kode etik saya, bahwa ini akan berlaku sampai dengan 2021. Sementara begitu PP ini lahir secara otomatis BP TAPERA berfungsi dengan segala kekurangannya.

Kalau tadi bapak sampaikan secara otomatis dengan lembaga-lembaga yang lain BP TAPERA berdiri. Cuma satu kalau Pak Hamka tadi menyatakan lembaga pembiayaan yang ngurusi tentang perumahan ini hanya BP TAPERA. Saya mohon penjelasan itu supaya tidak simpang siur dan tadi sudah dipertanyakan sama beliau Pak Dirjen. Kemarin saya yang nanya BP PPDPP sebagai Satker-nya Kementerian PU hadir di ruangan ini kemarin karena Komisi tidak mengundang pak. Saya kaget juga, ada Satker tidak diundang tiba-tiba datang dan presentasi. Saya minta penjelasan untuk itu juga.

Selanjutnya bapak, kalau ini memang perampingan kita setuju dan sangat setuju banget dengan tujuan memperbaiki sistem pelayanan dan lain sebagainya. Bahkan tadi kalau Pak Dirjen Perumahan menyampaikan kendala kita begini pak, begitu baru ada isu, ada sebuah pembangunan sebuah daerah, makelar itu sudah bermain masalah tanah. Bagaimana ini bisa diatur dalam sebuah regulasi? Itu yang pertama.

Yang kedua masalah kegiatan perumahan bersubsidi ini bagi daerah-daerah pinggiran, Dapil saya Lampung pak. Dari daerah-daerah-daerah-daerah pinggiran tidak begitu penting. Karena soal ya mayoritas masyarakat di daerah tersebut punya tanah atau warisan tanah. Di samping dia harus beli rumah bersubsidi yang harganya 128 sampai 136 Juta tipe 36. Begitu kuncinya dibuka, masuk, serah terima kuncinya dibuka kuncinya merotolin, mutunya yang sangat-sangat rendah. Ini menjadi masukan sebagai bahan evaluasi jangan bicara nuntut haknya saja tetapi kewajiban dari pada pengembang itu sendiri.

Jadi harapan kami kalau kawan-kawan dari penyelenggara pengadaan perumahan REI APERNAS dan lain sebagainya yang ada 21. Apa namanya asosiasi yang mengatakan soal kalau dulu PPDPP atau apa sebutannya tidak adil dalam sisi pembagian. Terus kesulitan-kesulitan masyarakat dalam mengakses perkreditan ini, ini juga sebagai bahan evaluasi kita bersama-sama.

Jadi yang tuntas, apabila nanti sudah tunggal cuma satu BP TAPERA yang menyalurkan dengan segala permintaan apa yang saya sampaikan tadi, ke depannya harus juga clear betul. Bagi asosiasi-asosiasi atau perusahaan yang memang ada catatan hitamnya, ya sudah betul-betul tidak dipakai lagi. Jangan cuma ganti bendera ternyata orangnya masih sama, pemodalnya sama harus clear betul.

Saya rasa itu Pimpinan masukan saya ada beberapa hal tadi saya tidak akan mengulang.

(22)

Terima kasih.

Wabillaahittaufik Walhidayah,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih Pak Bambang.

Berikutnya Pak Herson, siap-siap Pak Suryadi. F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.):

Baik.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat pagi,

Salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan yang saya hormati,

Teman-teman Anggota Komisi V yang saya banggakan, Pak Dirjen dari BP TAPERA,

Seluruh kita yang inshaAllah dirahmati Allah SWT.

TAPERA ini sudah dua hari, hari ketiga hari ini. Memang biasanya barang baru itu hangat, terjemahkan sendiri. Setiap memulai suatu pekerjaan itu memang sulit. Mobil baru saja ketika mau masukkan perseneling satu sulitnya minta ampun, tapi ketika pindah dua, tiga dan empat aman.

Nah kemarin kami juga sudah berdiskusi dengan asosiasi-asosiasi yang datang membicarakan TAPERA ini. Kemarin APERNAS Jaya menyinggung TAPERA, tapi sasarannya bukan ke sana, sasarannya seperti yang disampaikan oleh senior kami tadi Pak Hamka, dana yang Rp.11 Triliun itu.

Nah hari ini saya mengharapkan yang kita bahas tungas adalah TAPERA ini. Karena bagi kami ini adalah modal ketika kami turun ke Dapil untuk disampaikan kepada terutama sasaran-sasaran TAPERA yang kepesertaannya. Maka saya ingin minta kejelasan dari Pak Dirjen maupun dari BP TAPERA.

Pertama, apa yang dimaksud dengan MBR ini sebenarnya? Kita harus mendefinisikan dengan baik. MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) tapi kita batasi dulu ke ASN TNI POLRI dengan pendapatan 4 sampai 8 juta. 4 sampai 8 juta ini dilihat dari nilai gaji pokok atau apa? Karena kalau ASN dengan gaji pokok 4 sampai 7 juta ini sudah golongan IV ke atas. Walaupun kita tidak bisa pungkiri ada golongan III dengan penghasilan yang lebih dari Rp.4.000.000,-.

(23)

Ini harus jelas dulu, kalau tidak, akan ada hambatan di lapangan nanti. Nah ini tugas Pak Dirjen untuk memberi batasan MBR itu yang bagaimana. Oke ASN, biasanya yang Rp.4.000.000,- sampai Rp.8.000.000,- ini sudah punya rumah sendiri. Artinya mereka kita tarik jadi peserta TAPERA dengan nilai keikhlasan dari mereka yang memiliki nilai semangat gotong royong tadi, membantu yang lemah. Tapi mari kita melihat pegawai yang golongan I, II dan III. Ini yang seharusnya menjadi sasaran pokok, tapi penghasilan mereka tidak sampai Rp.4.000.000,- itu pertama.

Yang kedua, bagaimana dengan pekerja non-gaji? Ada satu perusahaan punya tenaga buruh sekian, gajinya saja tidak sesuai UMR, mereka ini yang butuh perumahan. Nah sekarang bagaimana kita kategorikan mereka ini dalam kelas mana, cluster mana ini? Itu yang harus jelas dulu.

Yang ketiga, oke kalau ASN tadi ada sesudah 1 tahun 12 bulan, nah bagaimana dengan yang mendekati pensiun batasannya itu berapa tahun sebelum dia pensiun boleh ikut sebagai peserta TAPERA?

Yang kedua kita menarik pengalaman dari Taperum dulu, awal-awalnya indah disampaikan, pada akhirnya yang jelek yang muncul. Terutama dalam sisi transparansi. Setiap peserta pasti ingin tahu bagaimana perkembangannya ini. Oleh karena itu saya ingin ada kejelasan transparansi model apa yang akan diterapkan oleh TAPERA ini oleh BP TAPERA? Jangan hanya indah sekarang, tapi ketika ada seorang peserta ingin mengetahui susahnya minta ampun.

Pengalaman seperti tadi Taperum yang lalu, syukur-syukur saya pensiun dapat itu, tapi yang lain sampai sekarang hilang tidak tahu ke mana. Nah saya kita akan pulihkan kembali kepercayaan mereka, kembali ke tadi aset-aset Taperum itu bagaimana bisa dimasukkan ke dalam menjadi aset TAPERA nanti. Jadi transparansi dalam model apa? Jangan hanya retorika, tapi betul-betul transparansi yang bisa diakses oleh peserta. Apalagi sekarang dunia sudah maju, jadi gampang sekali sebenarnya tidak sulit, tapi apa dari pihak BP TAPERA mau tidak?

Yang keempat, operasional BP TAPERA. Di pusat sudah ada petunjuknya ini struktur organisasi. Pertanyaannya di provinsi kabupaten kota bagaimana? Apakah di provinsi ini ada di Dinas PU Provinsi atau ada di Balai? Ini harus jelas dulu. Kemudian di kabupaten kota juga seperti itu, apa kita membentuk ada badan sendiri kaya Taperum dulu atau ada di Dinas PU Kabupaten Kota yang ada?

Saya lihat belum ada penjelasan soal itu padahal ini akan kami bawa ke Dapil untuk penjelasan kepada ASN dalam kegiatan sosialisasi undang-undang. Ini harus jelas dulu supaya kami juga di Komisi V ini bisa yakin karena mau tidak mau TAPERA ini harus berjalan. Berbagai kekhawatiran dengan struktur organisasi yang ada di pusat ini. Ada para komisioner, usulan dari teman-teman sejak kemarin komisioner ini dipilih oleh siapa? Ada usulan di-fit and proper test oleh Komisi V.

(24)

Kemudian BP TAPERA sebagai suatu badan dia bertanggung jawab kepada siapa? Apakah langsung ke Presiden atau Menteri Keuangan atau ke Menteri PUPR? Ini saya belum lihat jenjang itu belum ada. Ini mungkin yang ingin penjelasan dari Pak Dirjen dan pak dari Badan Pengelola TAPERA ini. Demikian.

Terima kasih Pimpinan.

Wallaahulmuafik illa aqwamittoriq,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih pak.

Selanjutnya Pak Suryadi, siap-siap Pak Sudewo. F-PKS (H. SURYADI JAYA PURNAMA, S.T.): Terima kasih Pimpinan.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati Pimpinan Komisi V dan seluruh Anggota, Pak Dirjen BP TAPERA dan seluruh jajarannya.

Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan pada forum ini. Yang pertama apresiasi kami secara keseluruhan kepada Kementerian PUPR khususnya dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan perumahan yang dipercepat pada tahun 2020 ini. Tadi BSPS dan program-program lainnya, karena tidak saja punya manfaat jangka panjang menyediakan rumah, juga punya manfaat jangka pendek sebagai kegiatan padat karya di saat pandemi Covid-19.

Berikutnya saya menyoroti masalah backlog kita yang angkanya sampai saat ini juga belum jelas. Karena sejak 2015 backlog kita 11,4 juta, kemudian secara sederhana dihitung capaian sampai dengan 2019 yang berjumlah 4,8 juta rumah. Kemudian diasumsikan backlog kita pada tahun ini 7,64 juta.

Saya kira ini salah kaprah Pak Dirjen, karena belum memperhatikan kebutuhan rumah pada tahun berjalan yang angkanya di atas 300 sampai dengan 500.000 per tahun ya. Karena ada pertambahan penduduk, ada rumah tangga baru dan seterusnya. Sehingga dugaan saya backlog kita masih pada angka 10.000.000 ke atas. Karenanya ini perlu diperbaiki bersama. Data ini penting sebagai langkah awal kita untuk mengambil kebijakan berikutnya.

Nah berikutnya beberapa hal yang mungkin ini terkait dengan TAPERA ya. Tadi rekan-rekan juga sudah menyampaikan memang kita heran juga ini

(25)

tiba-tiba muncul komisioner ya yang barangkali kita baru tahu ada komisionernya setelah ribut-ribut tentang PP ya TAPERA ini di tahun 2020. Banyak yang meragukan, tetapi ini perlu dijawab pak dengan integritas, dengan profesional dan kami menunggu jawaban itu supaya keraguan itu bisa terjawab dengan kinerja.

Nah oleh karena itu ada beberapa hal yang terkait dengan TAPERA ini. Pertama, ada dana sebesar Rp.9,6 Triliun pak ya yang dialihkan dari Bapertarum dan selama dua tahun lebih ini inikan vakum pak dengan peserta dari ASN atau PNS itu 317.000 dan sebagiannya juga seharusnya sudah menerima dana ini, tapi sampai saat ini mereka belum bisa mencairkan. Nah ini jangan sampai karena kesalahan dari pemerintah yang menjadi korban adalah masyarakat yang sudah menabung, toh itu uang mereka.

Nah ini harus ada kompensasi bagaimana proses pencairan dana bagi mereka yang seharusnya sudah cair gitu. Karena keterlambatan PP yang keluar kan PP ini harusnya keluar tahun 2018. Jadi ini yang pertama dan dananya cukup besar. Makanya wajar masyarakat itu curiga ya ada masalah-masalah yang terkait dengan dana-dana yang tersimpan seperti ini seperti Jiwasraya ya dan lain sebagainya .

Berikutnya kita berharap dan meminta kepada kementerian termasuk Pak Dirjen konsistensi kebijakan dan anggaran. Karena banyak sekali kebijakan termasuk juga penganggaran dalam perumahan ini yang tiba-tiba berubah ya. Karena rumah ini kan aset jangka panjang ya, persiapannya tidak bisa cepat.

Karenanya kebijakannya juga harus sejak awal punya konsistensi. Satu contoh misalnya ya ketika ditetapkan peraturan persyaratan, begitu orang melengkapi persyaratan lengkap peraturannya berubah lagi. Misalnya penerapan teknologi ya, ada si Kasep dan si Kumbang ya. Sistemnya error, aplikasinya error karena misalnya sinyal atau faktor satelit, tidak akurat di lapangan.

Padahal masyarakat secara de facto sudah memenuhi persyaratan tapi karena sistem yang tidak akurat akhirnya mereka tidak mendapatkan hak-haknya gitu. Termasuk juga kebijakan tentang hunian berimbang ya 1,2,3, 1 rumah mewah, 1 rumah sedang, dan 1 rumah sederhana. Kadang-kadang pada satu lokasi ini menyulitkan pengembang.

Kalau mendapatkan lokasi rumah mewah, maka jelas tanahnya mahal, sulit kalau di situ dibangun rumah sederhana. Demikian juga sebaliknya, ketika mendapatkan tanah yang murah, maka rumah mewah di situ tidak akan laku karena lokasinya tidak strategis.

Nah barangkali ketentuan ini harus disesuaikan supaya tidak harus pada satu titik ya, bisa saja berbasis pengembang misalnya setiap pengembang walaupun lokasinya berbeda proporsinya seperti 1,2,3 dan seterusnya. Jadi ini perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian agar tidak memberatkan pengembang dan juga masyarakat, karena konsistensi

(26)

kebijakan dan anggaran yang terus berubah. Termasuk tahun 2019 ya FLPP tiba-tiba berkurang, tiba-tiba bertambah, padahal persyaratan-persyaratan juga tidak dilengkapi. Jadi kadang-kadang dunia usaha itu memerlukan kepastian, jadi ini.

Nah selanjutnya adalah perlunya penyederhanaan persyaratan bagi masyarakat yang bisa mendapatkan fasilitas perumahan ini. Bayangkan ada 29 item yang harus dipenuhi, harus punya KTP, harus punya Kartu Keluarga. Padahal KTP dan Kartu Keluarga itu kan sebetulnya satu administrasi, begitu kita punya KTP otomatis dasarnya adalah Kartu Keluarga. Harus punya NPWP, masyarakat yang tidak punya pekerjaan tetap atau pekerja informal mereka rata-rata tidak punya NPWP.

Nah bagaimana mereka bisa mendapatkan hak untuk mendapatkan fasilitas kredit perumahan apabila persyaratan-persyaratan yang tidak penting itu kemudian membebani mereka sampai 29 item. Fotocopy surat nikah, banyaklah sekali ya, padahal adanya KTP elektronik itu kan sudah terintegrasi.

Begitu kita serahkan nama dan nomor KTP, maka harusnya pemerintah instansi apapun yang ada di pemerintah ini mereka sudah punya. Oh ini datanya sudah lengkap ya, bahkan sidik jari pun sudah ada di sana, tapi kenapa kita harus melengkapi lagi-melengkapi lagi dan seterusnya. Surat keterangan domisili, surat keterangan ini. Ini pekerjaan yang menyulitkan pekerjaan bahkan menyulitkan pemerintah sendiri karena sebetulnya pemerintah sudah ada data tentang itu.

Nah berikutnya saya mengusulkan ya beberapa hal terkait dengan persyaratan ini untuk mempermudah masyarakat mendapatkan kredit perumahan. Misalnya kalau kita perhatikan setiap orang rumah tangga baru terutama ketika dia baru berumah tangga, baru punya pekerjaan, penghasilannya relatif kecil. Seiring dengan perjalanan waktu atau usahanya berkembang maka setahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun usahanya bisa berkembang dan penghasilannya meningkat.

Nah dalam hal skema cicilan di perbankan, jangan seluruh beban selama 15 tahun misalnya jangka waktunya itu dibagi rata, bulan pertama sampai dengan bulan terakhir. Ya harusnya ini bisa disesuaikan, misalnya pada bulan bulan pertama atau tahun pertama itu cicilannya kecil. Tahun kedua dan seterusnya nanti pada 10 tahun bisa beban itu diperbesar. Karena mereka secara alamiah penghasilannya juga semakin tinggi, di samping juga ada faktor inflasi.

Nah karena harus memenuhi persentase penghasilan dengan jumlah cicilan pada bulan pertama. Ini akibatnya banyak masyarakat yang kemudian tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan kredit karena tidak memenuhi persentase jumlah gaji dengan kredit yang harus dia bayarkan.

Nah tapi kalau ini diperkecil nanti dibebankan pada 10 tahun yang akan datang atau 15 tahun misalnya, itu akan mempermudah sehingga

(27)

persyaratan itu menjadi lebih ringan. Saya kira skema-skema ini perlu dicari Pak Dirjen, termasuk juga dari BP TAPERA ya. Supaya permasalahan rumah kita ini backlog yang sebetulnya masih sangat besar ini belum yang tidak dapat datanya ini yang terdata saja sudah 11.000.000 lebih gitu.

Barangkali itu beberapa hal yang kami sampaikan ya dan tadi saya stressing pak dari komisioner kita tunggu kinerjanya pak dan komunikasi dengan Komisi V ini agar lebih. Karena kemunculannya tiba-tiba, nah mudah-mudahan itu bisa terjawab dengan kinerja bapak.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih banyak pak.

Pak Sudewo.

F-P.GERINDRA (SUDEWO, S.T., M.T.): Terima kasih Pimpinan.

Langsung saja kepada Dirjen Pembiayaan Infrastruktur PUPR dan juga Komisioner TAPERA. Saya hanya ingin mengingatkan sesuatu yang memang belum berjalan supaya apa yang terjadi nanti tidak seperti yang kita harapkan itu ternyata bermunculan. Kita berbicara TAPERA sebenarnya ini masih embrio sekali. Karena masih dalam bentuk undang-undang dan peraturan pemerintah, belum sampai pada tataran pelaksanaan.

Saya hanya ingin mengingatkan supaya dalam tataran regulasi tahapan ini adalah tahapan penyusunan regulasi. Kalau soal undang-undang dan PP sudah clear tetapi bagaimana implementasi dari pada undang-undang dan PP ini harus menjadi ketelitian dan pencermatan kita bersama. Jangan sampai pelaksanaannya nanti justru disorientasi. Bahwa TAPERA ini lahir merupakan wujud kehadiran negara terhadap warganya yang belum mendapatkan hunian yang layak. Tetapi kalau dalam pelaksanaan nanti tidak ada unsur kehati-hatian dalam tahap regulasi, tahap operasional, monitoring dan evaluasi, itu justru akan disorientasi.

Saya ingin memperdalam apa yang disampaikan oleh Dirjen Pembiayaan Infrastruktur dan Komisioner TAPERA. Apakah yang disampaikan dalam forum rapat ini sudah mengacu pada undang-undang, ya Undang-undang tentang TAPERA dan PP Nomor 25 20? Ataukah ini hanya sekedar asumsi sebuah rancangan dipersepsikan oleh kedua lembaga ini untuk perjalanan TAPERA ke depan? Karena saya melihat ada sesuatu yang perlu saya kritisi, misalnya adalah pada tahapan pengerahan dana.

(28)

Pengerahan dana di sini ada satu persyaratan bahwa warga negara yang memiliki pendapatan memiliki penghasilan paling sedikit sebesar upah minimum maka wajib menjadi peserta. Kata “wajib” itu berarti suatu harus ya, dan apabila di bawah itu dapat, dapat itu boleh ya ikut boleh tidak. Tapi kalau kata “wajib” yang mempunyai penghasilan minimal sesuai dengan upah minimum.

Itu merupakan suatu keharusan, keharusan itu konsekuensi hukum kalau memang ini undang-undang dan peraturan pemerintah. Bilamana nanti memang dia dengan sesuatu hal ya dengan pertimbangan tertentu, yang memiliki penghasilan di atas upah minimum tidak mengikuti. Apakah ada satu sanksi hukum ini perlu diperjelas, ini bunyi dalam undang-undang ataukah dalam PP? Jangan sampai ini blunder ya jangan sampai menimbulkan blunder.

Kemudian dalam penyusunan regulasi, kami berharap ini turunan dari Peraturan Pemerintah ada Permen tentunya, ada Juklak dan ada Juknis. Dalam penyusunan Permen, Juklak dan Juknis dan segala aturan yang terkait dalam mengoperasionalkan dan melaksanakan Undang-Undang dan PP ini, saya berharap pihak pemerintah dalam hal ini Komisioner TAPERA dan Dirjen Pembiayaan Infrastruktur itu juga mengundang, mendengarkan semua elemen.

Jangan karena persepsinya ya yang seolah-olah menurut dua lembaga ini sudah bagus sudah tepat, tapi nanti ketika diimplementasikan ternyata blunder. Menimbulkan sesuatu yang sulit sekali untuk disesuaikan seperti apa yang disampaikan oleh kawan saya Pak Suryadi, ada beberapa syarat yang sulit untuk dipenuhi. Maka segala situasi, segala aspek sesuai dengan kultur sesuai dengan sumber daya manusia akses infrastruktur, akses komunikasi dan segala macam geografis, demografis. Ini harus dipertimbangkan secara masak-masak dan mempertimbangkan hal itu yang lebih valid lebih afdol apabila setiap elemen itu diundang dalam rangka menyusun Peraturan Menteri dalam rangka menyusun Juklak dan Juknis, jangan hanya persepsi.

Kalau dari pihak pemerintah itu membuat suatu persyaratan yang menurut persepsinya adalah aman, tetapi itu sulit untuk dilaksanakan di tingkat masyarakat kecil. Apalagi ini sasaran kita adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Tentu dengan sumber daya manusia yang menengah ke bawah juga, pengetahuannya kurang, wawasannya kurang. Itu tolong diperhatikan jangan sampai justru mempersulit membuat mereka sulit untuk menangkap peluang ini.

Kami hanya ingin memberikan satu saran kepada dua lembaga ini kepada pemerintah khususnya. Supaya lahirnya Undang-undang TAPERA ini dalam implementasinya itu terjaga sesuai roh dan semangatnya. Supaya semangat dalam rangka upaya kita ikhtiar kita. Baik pemerintah maupun legislatif sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar dalam Pasal 28 itu betul-betul bisa tetap terjaga jangan sampai disorientasi.

(29)

Jangan sampai ada kejadian-kejadian dalam kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan seperti BPJS persepsinya masyarakat justru ini adalah orientasinya orientasi bisnis sangat kental dan yang lain. Ini saya minta komisioner dipercaya oleh pemerintah menjaga amanat ini supaya betul-betul sesuai dengan roh dan semangat lahirnya Undang-undang TAPERA.

Saya kira itu Pimpinan yang ingin saya sampaikan, mudah-mudahan menjadi perhatian kepada dua lembaga ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Terima kasih Pak Sudewo.

Berikutnya Ibu Sadarestuwati.

F-PDIP (HJ. SADARESTUWATI, SP, M.MA): Terima kasih Pimpinan.

Saya tidak bertanya karena khawatir nanti pas dijawab saya tidak ada, tapi saya ingin memberikan beberapa masukan sekaligus mengingatkan undang-undang asal usulnya Undang-undang TAPERA ini dibuat. Tadi sudah dijelaskan bahwasanya ini rentetan dari pada kita waktu itu membuat Undang-undang Perumahan PKP ya Perumahan dan Kawasan Perumahan serta Undang-undang Rusun. Kebetulan saya juga terlibat di situ.

Undang-undang ini sebenarnya maksud dan tujuannya sangat bagus, karena mengingat, ya itu backlog perumahan kita yang memang semakin tahun semakin meningkat. Akan tetapi saya ingin juga mengingatkan bahwasanya jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena ini amanah besar tanggung jawab besar yang diberikan kepada komisioner beserta juga tentunya pemerintah dalam hal ini Pak Dirjen yang nantinya langsung berhubungan.

Jadi selalu mengingatkan jangan sampai kekhawatiran-kekhawatiran yang terjadi akhir-akhir ini. Di mana pengumpulan dana masyarakat baik itu dalam bentuk tabungan perbankan di perbankan maupun di asuransi yang saat ini juga begitu apa. Lagi-lagi menjadi headline di setiap orang membahas masalah itu, jangan sampai di TAPERA ini terjadi.

Kami tentunya tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih, tetapi hanya bisa saling mengingatkan saja dan juga keperuntukkannya. Jadi keperuntukkan dari TAPERA ini adalah untuk masyarakat berpenghasilan rendah tolong itu digarisbawahi. Jangan karena ada masyarakat berpenghasilan rendah karena tidak mempunyai slip gaji kemudian tidak bisa mendapatkan ini. Tentunya tidak bisa seperti itu, karena tujuan kita dulu siapapun bisa mengakses TAPERA ini. Mereka yang punya pekerjaan baik di swasta, negeri, ataupun wiraswasta mereka harus bisa mengakses.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :