• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Karate a. Sejarah Karate

Karate merupakan salah satu olahraga beladiri yang berasal dari negara jepang, menurut sejarah karate berasal dari To te(berasal dari Okinawa) di demonstrasikan pertama kali di luar okinawa pada bulan mei 1922 di Eksebisi Atletik Nasional yang diselenggarakan di Tokyo, kementrian pendidikan Jepang waktu itu Master Gichin Funakoshi yang pada waktu itu menjabat presiden Okinawa Shobu Kai (masyarakat yang bergerak untuk mempromosikan atau mempopulerkan beladiri) diundang untuk mendemonstrasikan Tote yang sampai saat ini tidak pernah terlupakan.

Tote´ (juga disebut Te, yang berarti tangan) adalah suatu seni beladiri yang lahir dan berkembang di Okinawa selama berabad-abad, terjadinya perdagangan dan hubungan yang lainnya antara Okinawa dan dinasti Ming di China sangat memungkunkan bahwa Tote juga di pengaruhi oleh teknik perkelahian China (Chuan-fa) tapi sampai saat ini tidak ada catatan tertulis yang menerangakan asal mula di kembangkannya Tote.

Menurut catatan sejarah, Okinawa pada tahun 1429 dikuasai oleh Raja Shoshin dari Chu zan dan kemudian selama pemerintahannya, semua praktek ilmu beladiri dilarang demikian juga dengan penggunaan senjata dilarang. Perintah ini di umumkan oleh Satsuma, suatu kelompok (klan) dari Kagoshima, setelah klan ini menguasai Okinawa pada tahun 1609, Tote

menjadi alternatif bagi masyarakat Okinawa untuk melakukan

(2)

commit to user

menjadi seni beladiri yang mematikan sampai saat ini yang kemudian kita kenal dengan nama karate

Pada tahun 1905 Karate mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah umum di Shuri dan Prefectual Firs Midle School yang mengadopsi karate sebagai salah satu mata pelajaran dalam hal ini pendidikan fisik. Akan tetap bagaimanapun juga pada waktu itu hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui secara persis untuk apa sebenarnya karate ini dikembangkan. Kerahasiaan tetap masih dijaga sampai-sampai dikatakam sebagai rezimnya Tote yang berarti keajaiban beladiri dan shimpi Tote yang berarti seni beladiri yang misterius.

Tote kemudian dikenal sebagai karate-jutsu dan kemudian pada tahun 1929 Master Gichin Funakhosi mengambil langkah perubahan besar dengan merubah namanya secara resmi menjadi Karate-Do, dan akhirnya karate diubah dan ditransformasikan dalam segala hal dari teknik asli Okinawa menjadi seni beladiri baru bagi orang-orang Jepang.

Selama tahun 1920an sampai 1930an seni beladiri ini berkembang dengan pesat dan populer dikalangan masyarakat, para pelajar sangat antusias dengan karate-do sampai-sampai kalangan olahragawan, judoka, pengacara, artis, pengusaha kendoko, dan banyak lagi lainnya sangat antusias untuk mempelajari olahraga beladiri ini. Dojo-dojo mulai banyak berdiri di pusat pendidikan Jepang, seperti di perguruan tinggi Tokyo Imperial University, Nikon Collage of Medicine dan lain-lain. Pada tahun 1930an Mabuni dan Miyagi, guru-guru dari Okinawa juga mendirikan Dojo di Ritsumeikan dan Kausai Univercity.

Popularitas karate di kalangan intelektual merupakan suatu keberuntungan bagi karate itu sendiri karena dapat membantu karate bertrasformasi dari seluruh keajaiban dan kemisteriusannya menjadi karate yang modern dan dapat diterima oleh semua kalangan di Jepang dan bahkan dianggap sebagai Scientific Martial Art.

Proses perubahan nama Tote menjadi Karate-Do tidaklah mudah, minggu demi minggu, artikel-artikel para ahli beladiri Okinawa, mengkritisi

(3)

commit to user

dan mempertanyakan mengapa mengubah nama seni beladiri dari Okinawa ini. Artikel-artikel ini secara terus-menerus diterbitkan oleh Okinawa Times. Dengan gaya yaang elegan Gichin Funakhosi membalas artikel-artikel tersebut dan berusah amempertahankan posisinya, ini berlangsung hingga beberapa tahun. Akhirnya dengan diterbitkannya buku karate berjudul Karate-Do´ Kyohan oleh Master Gichin Funakhosi pada tahun 1935, karate-do secara institusi dan resmi berdiri dan diakui keberadaanya. Dengan berdirinya japan Martial Art Assosiation dan kemudian mendirikan cabang di Okinawa.

Master Gichin Funakhosi tidak hanya mengubah nama dari seni beladiri asal Okinawa ini saja tetapi semua pengucpan semua tekniknya yang pada awalnya menggunakan bahasa Cina dan Okinawa diubah menjadi bahasa Jepang. Tidak hanya itu metode latihannya yang pada awalnya hanya kata diperbaharui lagi dengan menambahkan tentang teknik-teknik dasr karate dan teknik-tejnik kumite.

Masa-masa emas Karate-Do pertama kali adalah pada tahun 1940 dimana semua Universitas-universitas besar dan berpengaruh di Jepang mempunyai Dojo karate sendiri-sendiri. Masa-masa setelah perang Dunia ke-II juga telah ikut andil dalam menyebarkan karate keseluruh Dunia dan berkembang pesat sampai sekarang. Kejuaraan karate pertama kali diadakan di Jepang -First All- Japan Karate-Do Championship Tournament bulan Oktober 1957 yang diadakan oleh Japan Karate Assosiation (JKF) dan All Japan Student Karate Federation.

Dari perjalanan yang begitu panjang dan berliku tersebut akhirnya benar-benar memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan karate menjadi olahraga senibeladiri yang modern dan diakui oleh dunia hingga saat ini.

b. Tehnik Dasar Karate

Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga

(4)

commit to user

diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).

1. Kihon

Kihon secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap DAN atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.

2. Kata

Kata secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda.

3. Kumite

Kumite secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai. Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding. Untuk aliran full body contact seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan

(5)

commit to user

untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.

Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, dimana yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, dimana semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian dan menyerang titik vital. Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.

2. Organisasi

FORKI merupakan induk organisasi prestasi olahraga karate Indonesia. Sebuah organisasi dapat dikatakan mempunyai kriteria baik tentunya memiliki berbagai persyaratan didalamnya seperti mempunyai: bentuknya jelas, asas, struktur, unsur dan manajemen. Hal ini bertujuan agar organisasi tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Adapun pengertian, bentuk, asas, struktur, unsur, dan manajemen dari organisasi akan dijelaskan di bawah ini:

(6)

commit to user

Perkembangan prestasi olahraga tidak dapat lepas dari organisasi yang menaunginya. Hal itu, di karenakan organisasi mempunyai peran yang sangat penting dalam mengakomodasi segala keperluan atlet-atletnya untuk itulah diperlukan sebuah organisasi yang sehat dan bersih. Sehat dalam arti bahwa organisasi yang berdiri tersebut benar–benar di bentuk dengan tujuan untuk memasyarakatkan olahraga dan memperoleh prestasi yang tinggi tanpa menyalahi prosedur-prosedur yang telah dibuat sebagai keputusan bersama dan tercemin dari kultur dan produktivitasnya. Bersih di sini lebih berarti organisasi yang dibentuk tidak melakukan hal-hal yang dianggap menyalahi unsur.

Banyak ahli mengemukakan berbagai pendapat mereka tentang pengertian dari organisasi itu dari Schluze dalam Sutarto,2002: 23 menyatakan bahwa organisasi adalah penggabungan dari orang-orang, benda-benda, alat-alat perlengkapan, ruang kerja dan segala sesuatu yang bertalian dengannya, yang dihimpun dalam hubungan yang teratur dan efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dale dalam Sutarto,2002: 25menyatakan bahwa organisasi adalah suatu proses perencanaan. Ini bertalian dengan hal menyusun, mengembangkan dan memelihara suatu struktur atau pola hubungan-hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu badan usaha. Harley Trecker dalam Sutarto,2002: 24 juga menyatakan organisasi adalah perbuatan atau proses menghimpun atau mengatur kelompok-kelompok yang saling berhubungan dari instansi menjadi suatu keseluruhan yang bekerja.

Dengan kalimat yang lebih sederhana Sutarto (2002:40) menyatakan, “Organisasi adalah 9unsur saling pengaruh antar orang dalam kelompok yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu”. Lain halnya dengan Husdarta (2009:38) yang menyatakan, “Organisasi itu sendiri adalah sebuah pengertian abstrak yang mencerminkan himpunan sejumlah orang yang bersepakat untuk bekerjasama dan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan”. Menurut Winardi (2003:15)” sebuah organisasi merupakan sebuah sistem yang terdiri dari aneka macam elemen atau

(7)

commit to user

subsistem, di antara mana subsistem manusia mungkin merupakan subsistem terpenting, dan di mana terlihat bahwa masing-masing subsistem saling berinteraksi dalam upaya mencapai sasaran-sasaran atau tujuan-tujuan organisasi yang bersangkutan”. Para pendapat dari para ahli diatas tidak berbeda jauh dari pendapat Jones dalam (Harsuki, 2012 : 106) bahwa organisasi adalah suatu alat yang dipergunakan oleh orang-orang untuk mengoordinasikan kegiatannya untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan atau nilai, yaitu mencapai tujuannya. Agus Kristiyanto (2012: 28) yang menyatakan bahwa, “Organisasi olahraga adalah sekumpulan orang

yang menjalin kerjasama dengan membentuk organisasi untuk

penyelenggaraan olahraga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Dari pendapat para ahli di atas tentang pengertian organisasi ada beberapa unsur yang melatarbelakangi adanya sebuah organisasi yaitu adanya sekelompok orang, adanya kerjasama dari orang-orang tersebut, dan adanya tujuan bersama. Akan tetapi untuk memajukan sebuah organisasi di bidang olahraga tidak cukup dengan unsur –unsur di atas karena ada beberapa hal yang lebih dalam yang harus dipahami dari setiap individu di dalam kelompok, karena individu di dalam sebuah organisasi harus mampu melaksanakan setiap tugas yang diberikan secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk melaksanakannya. Dan juga, Adanya sarana dan prasarana yang harus diperhatikan agar organisasi dapat berjalan. Dapat disimpulkan bahwa organisasi olahraga adalah sekumpulan orang orang yang melakukan kerjasama sesuai dengan bidangnya keahliannya untuk memajukan cita-cita mereka bersama dalam mengembangkan dan meningkatkan prestasi di bidang olahraga.

b. Bentuk Organisasi

Dalam setiap organisasi mempunyai kekhasan tersendiri dalam menyusun susunan kepengurusannya ini. Hal ini dikarenakan organisasi mempunyai kewenangan untuk membuat bentuk organisasi itu sendiri yang

(8)

commit to user

disesuaikan dengan cita-cita maupun tujuan dari terbentuknya organisasi. Menurut Sutarto (2002:200), “bahwa bentuk organisasi dapat dibedakan menjadi bentuk jalur,fungsional, staff dan satuan pelayanan, jalur dan staff, jalur dan staff fungsional, jalur dan staff fungsional dan panitia, staff, panitia”.

Untuk lebih jelasnya Sutarto menggambarkannya dalam bentuk skema di bawah ini:

Bentuk-bentuk organisasi

Ditinjau dari jumlah pucuk pimpinan:

Ditinjau dari saluran wewenang: 1). Bentuk tunggal

2). Bentuk jamak

1). Bentuk jalur 2). Bentuk fungsional 3). Bentuk jalur dan staff 4). Bentuk fungsional dan staff 5). Bentuk fungsional dan jalur 6).Bentuk jalur, fungsional, dan staff Gambar 1 .Bentuk-bentuk organisasi

(Sumber: Sutarto ,2002:201)

Adapun pengertian ataupun penjelasan dari bentuk-bentuk organisasi diatas, Sutarto (2002:201) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

(1) Bentuk organisasi tunggal

Organisasi yang pucuk pimpinannya ada di tangan seseorang. Sebutan jabatan untuk bentuk tunggal antara lain presiden,

direktur, kepala, ketua; didalam struktur organisasi

pemerintahan dikenal sebutan jabatan menteri, gubernur, bupati, walikota, walikotamadya, camat, lurah; dalam struktur organisasi abri dikenal sebutan jabatan panglima, komandan; dalam struktur organisasi perguruan tinggi dikenal sebagai sebutan jabatan rektor, dekan.

(9)

commit to user

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinannya ada di tangan beberapa orang sebagai satu kesatuan. Sebutan jabatan yang sering digunakan antara lain Presidium, Direksi, Dewan, Direktorium, Majelis.

(3) Bentuk organisasi jalur

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam semua bidang pekerjaan, baik pekerjaan pokok maupun pekerjaan bantuan.

(4) Bentuk organisasi fungsional

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu; pimpinan tiao bidang berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya.

(5) Bentuk organisasi jalur dan staff

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinn dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam semua bidang pekerjaan baik pekerjaan pokok maupun pekerjaan bantuan, dan di bawah pucuk pimpinan atau pimpinan satuan organisasi yang memerlukan diangkat penjabat yang tidak memiliki wewenang komando tetapi hanya dapat memberikan nasihat tentang bidang keahlian tertentu.

(6) Bentuk organisasi fungsional dan staff

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satua-satuan organisasi di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu, pimpinan tiap bidang kerja dapat memerintah semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya, dan dibawah pucuk pimpnan atau pimpinan satuan diangkat pejabat yang tidak memiliki wewenang komando tetapi hanya dapat memeberikan nasihat tentang bidang keahlian tertentu.

(7) Bentuk organisasi fungsional dan jalur

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu, pimpinan tiap bidang kerja berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya, dan tiap-tiap satuan pelaksana ke bawah memiliki wewenang dalam semua bidang kerja.

(8) Bentuk organisasi jalur, fungsional dan staff

Organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentupimpinan tiap bidang berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepnjang menyangkut bidang kerjanya, dan tiap-tiap satuan pelaksana ke bawah memiliki wewenang dalam semua bidang kerja, dan di bawah

(10)

commit to user

pucuk pimpinan atau pimpinan bidang diangkat pejabat yang tidak memiliki wewenang komando tetapi hanya dapat meberikan nasihat tentan bidang keahlian tertentu.

Antara bentuk organisasi berdasarkan jumlah pucuk pimpinan dengan bentk organisasi berdasarkan saluran wewenang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dalam pemakainannya. Artinya tiap-tiap bentuk organisasi berdasarkan saluran wewenang dapat dipimpin tunggal maupun jamak. Hubungan ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.Hubungan antara bentuk-bentuk organisasi (Sumber: Sutarto ,2002:202)

Dari pendapat ahli di atas terlihat bahwa setiap organisasi tidak hanya menggunakan satu bentuk organisasi saja, akan tetapi menggunakan kolaborasi antara bentuk organisasi yang satu dengan yang lain, hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerjanya sehingga dapat mencapai tujuan yang dinginkan organisasi tersebut.

c. Asas-Asas Organisasi

Setiap organisasi yang baik pastilah mempunyai asas agar organisasinya dapat berjalan secara baik dan efisien. Perlu diketahui seorang yang berada di dalam sebuah organisasi harus mengetahui asas-asas organisasi hal ini diperlukan agar tidak terjadi berbagai masalah kelak. Masalah yang sering dihadapi dalam sebuah organisasi terbilang kompleks antara lain masalah sering kali penjabat yang ada didalam organisasi tidak mengetahui tujuan dari organisasi itu, adanya pembentukan organisasi yang kurang berlandaskan pada pengembangan tunggal

jamak

Jalur fungsional jalur dan staff fungsional dan staff fungsional dan jalur jalur, fungsional, dan staff

(11)

commit to user

volume kerja, tiap-tiap penjabat tidak mempunyai rincian tugas yang jelas sehingga mereka bingung apa yang harus dikerjakan dan lain sebagainya. Oleh karena itu diperlukan asas organisasi agar organisasi tersebut dapat terus berkembang secara sehat dan efisien.

Menurut Sutarto (2002,61) mengemukakan pendapatnya tentang asas-asas organisasi yaitu asas:

(1) Perumusan tujuan dengan jelas

Tujuan adalah kebutuhan manusia baik jasmani maupun rohani yang diusahakan untuk dicapai dengan kerjasama sekelompok orang. Kebutuhan manusia hendak dicapai itu harus dirumuskan secara jelas. Tujuan yang telah dirumuskn secara jelas akan memudahkan untuk dijadikan pedoman dalam menetapkan haluan organisasi, pemilihan bentuk organisasi, pembentukan struktur organisasi, penentuan macam pekerjaan yang akan dilakukan, kebutuhan penjabat. Tujuan yang terumus dengan jelas haruslah diyakini oleh setiap penjabat dalamorganisasi sejak dari pucuk pimpinan sampai dengan penjabat yang berkedudukan paling rendah. Hanya penjabat yang mengetahui serta menyakini tujuan dari organisasinya akan dapat bekerja dengan sugguh-sungguh, dapat saling menyumbangkan idenya,

pengalamannya, kecakapannya, daya kreasinya, demi

tercapainya tujuan yang telah ditentukan. (2) Departemensasi

Yang dimaksud departemensasi adalah aktivitas untuk menyusun satuan-satun orgnisasi yang akan diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu.

(3) Pembagian kerja

Pembagian kerja dapat dihubungkandenagn satuan organisasi dan dapat pula dihubungkan dengan pejabat. Oleh karena itu pembagian kerja dapat diartikan dua macam, yaitu:

a) Pembagian kerja adalah rincian serta pengelmpokan

aktivitas-aktivitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh satuan organisasi tertentu. b) Pembagian kerja adalah rincian serta pengelompokan

tugas-tugas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh seorang pejabat tertentu.

(4) Koordinasi

Inti dari sebuah koordinasi dapat diartikan sebagai keselarasan, baik kesatuan tindakan, kesatua usaha, penyesuaian antar

bagian, keseimbangan antarbagian maupun sinkrinisasi

semuanya bersasaran keselarasan. Ats dasar itu dapatlah kiranya asas koordinasi dapat diartikan sebagai berikut, yaitu di dalam

(12)

commit to user

organisasi harus ada keselarasan aktivitas antar satuan organisasi atau keelarasan tugas antar pejabat.

(5) Pelimpahan wewenang

Asas organisasi yang kelima adalah pelimpahan wewenang. Yang dimaksud dengan wewenang adalah hak seorang pejabat untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas dan tanggungjawabnya dapat dilaksanakan dengan baik. Pelimpahan sam dengan penyerahan. Jadi pelimpahan wewenang berarti penyerahan sebagian hak untuk mengambil tindakan yang

diperlukan agar tugas dan tanggungjawabnya dapat

dilaksanakan dengan baik dari pejabat yang satu kepada pejabat yang lain. Jadi tegas bahwa pelimpahan wewenang itu bukan penyerahan tugas dariatasan kepada bawahan, melainkan penyerahan hak dari pejabat kepada pejabat.

(6) Rentangan kontrol

Yang dimaksud dengan asas rentangan kontrol adalah jumlah terbanyak bawahan langsung yang dapat dipimpin dengan baik oleh seorang atasan tertentu.

(7) Jenjang organisasi

Yang dimaksud dengan jenjang organisasi adalah tingka-tingkat satuan organisasi yang di dalamnya terdapat pejabat, tugasserta wewenang tertentu menurt kedudukannya dari atas ke bawahdalam fungsi tertentu. Para pejabat yang berkedudukan pada tingkat yang lebih atas mengawasi para pejabat yang berkedudukan pada tingkat di bawahnya demikian seterusnya hingga hubungan-hubungan yang dilakukan antara para pejabat sejauh mungkin melewati tingkat-tingkat yang telah ditentukan. (8) Kesatuan perintah

Yang dimaksud dengan kesatuan perintah adalah tiap-tiap pejabat dalam organisasi hendaknya hanya dapt diperintah dan bertanggung jawab kepada seorang pejabat atasan tertentu.

(9)Flexibilitas

Struktur organisasi hendaknya mudah dirobah untuk disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa mengurangi kelancaran aktivitas yang sedang berjalan.Perubahan-perubahan yang mungkin dihadapi oleh organisasi misalnya penambahan tujuan, perluasan daerah aktivitas, volume kerja, peralatan baru, tuntutan masyarakat lingkungan misalnya berupa perubahan selera terhadap produksi pabrik, perubahan mode, perubahan ekonomi, perubahan teknologi, perubahan peraturan dan lain-lain.

(10) Berkelangsungan

Suatu organisasi harus dapat menyediakan berbagai sarana agar dapat melakukan aktivitas operasinya secara terus-menerus. Suatu organisasi yang dibentuk, oleh para pembentuknya tentu diharapkan dapat berjalan terus makin lama makin maju dan

(13)

commit to user

makin berkembang.tidak ada keinginan dari para pembentuknya setelah oarganisasi didirikan lalu ingin dimatikan. Oleh karena itu harapan para pembentuk ini harus disertai sarana-sarana tertentu misalnya selalu meningkatkan mutu kecakapan mutu para pegawainya, mendatangkan peralatan baru yang lebih modern, mencari berbagi sumber baru, menyesuaikan dengan

keinginan masyarakat, menyesuaikan dengan tuntutan

kebutuhan pembangunan. (11) Keseimbangan

Asas kesebelas dari organisasi adalah asas keseimbangan yaitu: satuan-satuan organisasi hendaknya ditempatkan pada truktur organisasi sesuai dengan perannya.

Dari asas-asas organisasi di atas perlu dicermati dan dilaksanakan oleh setiap pejabat di dalamnya agar apa yang menjadi tujuan dari berdirinya organisasi dapat tercapai dan organisasi tersebut dapat terus berkembang, tanpa memahami asas-asas organisasi maka sulit bagi sebuah organisasi untuk terus berkembang.

d. Struktur dan bagan organisasi

Desain struktur organisasi yang baik sangat diperlukan dalam sebuah organisasi karena dengan desain struktur organisasi yang baik akan memberikan solusi yang paling mendukung dan mempermudah secara efektif dan efisien bagi anggotanya untuk melakukan kegiatan organisasinya dalam mencapai sasaran organisasi. Hal ini sesuai dengan pengertian struktur organisasi yang dikemukakan Rivai (2004:409) bahwa, “struktur organisasi adalah pola formal mengelompokkan orang dan pekerjaan, pola formal aktivitas dan hubungan antara bebagai subunit organisasi yang sering digambarkan melaui bagan organisasi”.

Dalam menentukan struktur organisasi agar mudah dipahami oleh para pejabat di dalam organisasi tentunya harus memiliki dasar dalam

menetapkan tugas pekerjaan yang dibagi, dikelompokan dan

dikoordinasika secara formal. Menurut Rivai (2004:409) ada enam unsur yang harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi yaitu :

(1) Spesialisasi kerja

Hakikat dari spesialisasi kerja adalah bahwa daripada dilakukan oleh satu individu, lebih baik seluruh pekerjaan dipilah-pilah

(14)

commit to user

menjadi sejumlah langkah, dengan tiap langkah diselesaikan oleh individu yang berlainan.

(2) Departementalisasi

Departementalisasi merupakan dasar yang dipakai dalam mengelompokan pekerjaan bisa berdasarkan proses pekerjaan, fungsi pekerjaan, tipe produk, dan daerah

(3) Rantai komando

Garis tidak putus dari wewenang yang menjulur dari puncak organisasi ke eselon terbawah dan memperjelas siapa melapor ke siapa.

(4) Rentang kendali

Berapa banyak bawahan secara efektif dan efisien oleh seorang manajer berkaitan dengan rentang kendali (span of control). Ini penting karena sangat menentukan banyaknya tingkat dan manajer yang harus dimiliki oleh suatu organisasi. Bila makin luas atau besar rentang itu maka semakin efisien organisasi itu. (5) Sentralisasi dan desentralisasi

Dalam beberapa organisasi, manajer puncak mengambil semua keputusan. Manajer tingkat bawah semata-mata hanya melaksanakan petunjuk-petunjuk manajer puncak. Pada keadaan yang lain ada organisasi yang di mana pengamilan keputusan ditekan ke bawah ke manajer-manajer yang paling dekat dengan tindakan organisasi pertama sangat tersntralisasikan yang kedua didesentralisasikan.

(6) Formalisasi

Mengacu kepada sampai tingkat mana pekerjaan dlam organisasi itu dibakukan. Jika suatu pekerjaan sangat diformalkan, maka pelaksanaan pekerjaan itu akan mempunyai kuantitas keleluasaan yang minimum mengenai apa yang harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan seharusnya bagaiman ia mengerjakan.

Dari struktur organisasi diatas biasanya digambarkan dalam bentuk bagan organisasi untuk mempermudah memahami wewenang dan tugas masing-masing pejabat dalam organisasi. Bagan organisasi adalah gambar struktur organisasi yang ditunjukkan dengan kotak-kotak atau garis-garis yang disusun menurut kedudukannya yang masing-masing memuat fungsi tertentu dan satu sama lain dihubungkan dengan garis-garis saluran wewenang.

Bagan organisasi tentunya dibuat dengan memiliki kegunaan yang jelas seperti pendapat Sutarto (2002:217) yang menyebutkan kegunaan bagan organisasi sebagai berikut :

(15)

commit to user

(1) Dapat untuk mengetahui besar kecilnya organisasi. (2) Dapat untuk mengetahui garis-garis saluran wewenang.

(3) Dapat untuk mengetahui berbagi macam satuan organisasi yang ada.

(4) Dapat untuk mengetahui rincian aktivitas masing-masing satuan organisasi.

(5) Dapat untuk mengetahui setiap jabatan yang ada. (6) Dapat untuk mengetahui rincian tugas para pejabat.

(7) Dapat untuk mengetahui nama, pangkat, golongan pangkat para pejabat.

(8) Dapat untuk mengetahui jumlah pejabat. (9) Dapat untuk mengetahui photo para pejabat. (10) Dapat untuk mengetahui kedudukan setiap pejabat.

(11) Dapat untuk menilai apakah sesuatu organisasi telah

menerapkan asas-asas organisasi dengan baik,misalnya dapat diketahui dengan jelas ketepatan rentangan kontrolnya, jenjang organisasinya, kesinmbangan kedudukan satuan organisasinya, keseimbangan aktivitas atau tugasnya.

Dengan mengetahui kegunaan dari bagan suatu organisasi, maka perlu dibuat suatu bentuk bagan oraganisasi yang disesuaikan dengan isi dari bagan organisasi tersebut untuk mempermudah dalam memahami isi dari bagan tersebut adapun bentuk bagan organisasi menurut Sutarto (2002:228) dapat digambarkan sebagai berikut:

(1) Bagan piramid (2) Bagan mendatar

(3) Bagan menegak

(4) Bagan lingkaran

(5) Bagan setengah lingkaran (6) Bagan elip

(7) Bagan setengah elip (8) Bagan sinar

Penggambaran bentuk bagan suatu organisasi biasanya

disesuaikan dengan isi dari bagan itu sendiri isi bagan yang sering muncul dalam bagan organisasi menurut Sutarto (2002:229) dapat dirinci sebagai berikut:

(1) Bagan struktur

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan susunan organisasi dari pucuk pimpinan sampai dengan satuan organisasi yang terendah dengan menyebutkan sebutan satuan organisasi serta nama masing-masing satuan organisasi.

(16)

commit to user (2) Bagan aktivitas

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan rincian kegiatan dari masing-masing satuan organisasi. Bagan aktivitas biasanya dibuat untuk melengkapi bagan struktur.

(3) Bagan jabatan

Bagan organisasi yang isinya menunukkan sebutan jabatan dan nama satuan organisasi.

(4) Bagan tugas

Bagan organisasi yang isinya rincian tugas masing-masing pejabat.

(5) Bagan nama

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan nama masing-masing pejabat. Bagan nama biasanya dibuat bersama dengan bagan jabatan.

(6) Bagan pangkat dan golongan pangkat

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan masing-maising pangkat dan golongan pangkat para pejabat. Bagan pangkat dan golongan pangkat biasanya dibuat bersama dengan bagan pangkat.

(7) Bagan photo

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan photo masing-masing pejabat.

(8) Bagan berkode

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan tanda penunjuk berupa angka atau huruf tertentu pada tiap kotak sedang rincian uraian masing-masing kotak ditulis di bawah gambar bagan. Bagan berkode dibuat apabila kotak-kotaknya berukuran kecil karena struktur organisasinya besar sedang urainnya cukup panjang

(9) Bagan lukisan

Bagan yang isinya menunjukkan gambar terteentu yang dengan jelas dan tepat menggambarka aktivitas masing-masing satuan atau tugas tiap-tiap pejabat.

(10) Bagan serbaguna

Bagan organisasi yang isinya menunjukkan jabatan, nama satuan, nama pejabat, pangkat/golongan pangkat, dan rincian tugas para pejabat.

Struktur, bentuk, dan isi bagan organisasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pembuatan bagan organisasi karena komponen ini saling melengkapi. Bagan organisasi merupakan sebuah kelengkapan dari organisasi yang menandakan bahwa organisasi tersebut telah menerapkan asas-asas organisasinya dengan baik dan benar.

(17)

commit to user e. Unsur-Unsur Dalam Organisasi

Dalam sebuah organisasi tentunya memiliki unsur-unsur yang harus ada supaya organisasi tersebut dapat berjalan secara baik, unsur di sini adalah berkaitan dengan pengurus, anggota, AD/ART, rencana kerja dan anggaran belanja. Setiap komponen dalam unsur tersebut hatus saling berkaitan agar dpat mencapai tujuan yang ingin di capai, adapun penjelasan dari setiap komponan tadi dapat dijelaskan seperti dibawah ini: 1) Pengurus

Pengurus dalam sebuah organisasi merupakan orang-orang yang terpilih dari anggota untuk menjalankan AD/ART organisasi agar organisasai tersebut dapat berjalan dengan baik, berkembangnya suatu organisasi tergantung dari komitmen pengurus itu sendiri dalam menjalankan mandat yang diberikan. Dalam sebuah organisasi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) melalui Peraturan Menteri Negara Pemuda Dan Olahraga Republik Indonesia ,Nomor : Per-0342.J/Menpora/Ix/2009, pasal 7 (4) menyebutkan bahwa susunan organisasi dapat dibagi menjadi berikut :

a) Pembina; b) Pembina Harian; c) Penasehat; d) Ketua Umum; e) Ketua Harian; f) Sekretaris Jenderal; g) Wakil Sekretaris Jenderal; h) Bendahara Umum;

i) Hubungan Masyarakat;

j) Bidang Pembinaan dan Pengembangan;

k) Bidang Pengawasan dan Pengendalian; l) Bidang Kelembagaan dan Bisnis; m) Sub-sub Bidang.

2) Anggota

Anggota dalam sebuah organisasi sangat diperlukan karena anggota inilah yang nantinya akan menjadi kepanjangan tangan pengurus setiap melaksanakan kebijaksanaannya. Walau trkadang peran anggota ini tidak trlalu aktif dalam sebuah organisasi tetapi

(18)

commit to user

sangat dibutuhkan keberadaannya. Setiap anggota harus mematuhi segala peraturan dalam sebuah organisasi.

3) Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

Anggaran dasar merupakan roh dari sebuah organisasi dapat dikatakan demikian karena dalam anggaran dasar berisi tentang peraturan-peraturan organisasi yang dijelaskan dalam bentuk pasal demi pasal dan pasal inilah yang menjadi pijakan dalam menjalankan organisasi. Anggaran rumah tangga merupakan petunjuk-petunjuk kegiatan yang harus dijalankan oleh pengurus dalam mengurus organisasinya. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga harus ada dalam sebuah organisasi agar batasan-batasan tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana. Penetapan AD/ART inipun biasanya ditetapkan secara musyawarah yang melibatkan seluruh elemen dalam setiap organisasi.

4) Rencana Kerja

Rencana kerja merupakan sebuah kebijakan yang dibuat oleh

pengurus dengan memperhatikan AD/ART sehingga tidak

bertentangan. Rencana kerja ini dibuat agar tujuan yang ingin dicapai tidak melenceng sehingga memudahkan dalam pembagian tugas antar pengurus serta menciptakan tata kelola organisasi yang berlangsung secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan organisasi sesuai waktu periode kepengurusan.

5) Anggaran Belanja

Anggaran belanja merupakan bagian dari rencana kerja yang berisi tentang rencana pegeluaran dana untuk menjalankan kegiatan yang telah ditetapkan. Dalam penyusunan rencana belanja harus memperhatikan berbagai sifat seperti pengeluaran harus realistis, logis, luwes dan berkelanjutan. Anggaran yang dibuat harus juga memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan dapat berubah sesuai keadaan sehingga tidak terjadi defisit.

(19)

commit to user f. Manajemen Olahraga

Fungsi manajemen dalam sebuah institusi olahraga selalu berkaitan dengan kegiatan menyeleksi, menempatkan, mengorientasikan, serta tindakan mengevaluasi kinerja institusi tersebut. Di dalam sebuah instansi olahraga hal tersebut sangat diperlukan agar instansi olahraga tersebut dapat terus berjalan bahkan berkembang kearah yang lebih baik. Menurut Agus Kristiyanto (2012: 28)” fungsi manajemrn dalam sebuah institusi olahraga selalu berkaitan dengan kegiatan menyeleksi, menempatkan, mengorientasikan, serta mengevaluasi kinerja institusi tersebut”, sedangkan Husdarta (2009: 37) menyatakan,“Manajemen itu, tidak lain adalah proses kelangsungan fungsi yang meliputi : perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan (leading), dan evaluasi”.

Dari keempat unsur pendapat ahli di atas yang meliputi fungsi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan evaluasi dapat di jabarkan sebagai berikut :

1) Perencanaan

Husdarta (2009: 37) menyatakan, “Perencanaan adalah penentuan lebih dulu tujuan yang ingin dicapai dan alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu”. Perencanaan yang baik dan matang sangat diperlukan dan dipahami bersama agar tiap anggota dalam kelompok mempunyai satu pandangan tentang tujuan yang akan dicapai, sehingga tidak kan terjadi perbedaan pandan akan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam kegiatan olahraga khususnya perencanaan yang baik dan benar sangat diperlukan agar prestasi yang diperoleh dapat terus bertkembang bukan malah mengalami kemunduran baik prestasi yang oleh atletnya maupun prestasi yang diperoleh oleh organisasinya. 2) Pengorganisasian

Husdarta (2009:37) menyatakan,“Pengorganisasian adalah

menciptakan hubungan antara aktivitas yang akan dikerjakan, personel yang akan melakukannya dan faktor fisik yang dibutuhkan”. Dari definisi diatas dapat diperjelas maknanya dengan meletakkan seseorang

(20)

commit to user

sesuai dengan bidang ataupun keahliannya. Sehingga orang yang bersangkutan dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya penuh dengan tanggung jawab dan hasilnya pun akan berbeda dengan orang yang tidak menempatkan posisinya tidak sesuai dengan bidangnya.

3) Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan cara atau sikap dari seorang pemimpin untuk mengkondisikan anak buahnya agar dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan efisisen sesuai dengan program kerja yang telah direncanakan. Husdarta (2009: 39) menyatakan, “Dalam kepemimpinan terkandung beberapa aspek penting yaitu membuat keputusan, mengarahkan, membangkitkan motivasi”. Hal itu berarti bahwa sebuah organisasi tergantung bagaimana kondisi kepemimpinannya jika kepemimpinannya baik maka baik pula organisasinya begitupun sebaliknya.

4) Evaluasi.

Husdarta (2009: 39) menyatakan,”Proses penentuan sebab dan faktor yang menimbulkan kesenjangan antara rencana dan hasil, termasuk proses pelaksanaan, disebut evaluasi. Sebuah evalusi sangat diperlukan dalam sebuah organisasi agar tidak terjadi pelanggaran alur yang telah direncanakan sehingga dapat menghambat tujuan yang ingin dicapai.

Manajemen itu sendiri berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas program kerja yang dibuat. Kedua istilah ini terkait langsung dengan sasaran dan tujuan pembinaan. Efisiensi dalam kerja sangat dibutuhkan sehingga dapat menghemat anggaran dana dan efektifitas berhubungan dengan waktu sehingga target yang di tentukan bisa dicapai secara tepat waktu.

3. Sarana dan Prasrana Olahraga

Sarana dan prasarana olahraga merupakan salah satu dari bagian pokok dalam pembinaan olahraga prestasi, adapun pengertian sarana dan

(21)

commit to user

prasarana olahraga para ahli menyampaikan pendapatnya antara lain definisi dari Agus Kristiyanto (2012:28) menyatakan, “Sarana olahraga adalah peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan olahraga sedangkan prasarana olahraga adalah tempat atau ruang termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan olahraga dan/atau penyelenggaraan olahraga”. Sarana dan prasarana olahraga merupakan penunjang dalam kegiatan olahraga tanpa adanya sarana dan prasarana olahraga kegiatan olahraga tidak akan dapat berjalan secara wajar. Kelengkapan dan kondisi sarana dan prasarana didalam olahraga prestasi merupakan hal yang penting karena hal itu dapat menentukan prestasi atlet itu sendiri. Selain itu rasio antara jumlah atlet dengan jumlah sarana dan prasarana harus seimbang agar atlet dapat berlatih secara maksimal.

a. Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan karate :

1. Pakaian karate (karategi) untuk kontestan 2. Pelindung tangan

3. Pelindung tulang kering

4. Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao

5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah: Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan) Pelindung tubuh untuk kontestan putri

Pelindung selangkangan untuk kontestan putera 6. Peluit untuk arbitrator/alat tulis

7. Seragam wasit/juri Baju putih Celana abu-abu Dasi merah

Sepatu karet hitam tanpa sol 8. Papan nilai

(22)

commit to user

10. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).

Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah pelindugn selangkangan untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.

b. Lapangan

Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi. Arena pertandingan harus rata dan

terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.

Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akarate-kan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.

Kebanyakan karate yang diperkenalkan pada masa kini merupakan satu olahan kepada peringkasan seni beladiri yang terdahulu seperti kempo dan sebagainya. Ramai pengamal karate tidak mengetahui bahawa di dalam karate, seni dan pergerakan yang ditawarkan adalah jauh lebih hebat dan unik daripada apa yang dipamerkan dewasa ini. Padahal karate adalah sebuah seni bela diri yang harus terus dijaga keasrianya.

4. Pembinaan Prestasi Olahraga

khususnya prinsip-prinsip pendidikan, secara teratur dan terencana sehingga mempertinggi kemampuan dan kesiapan olahragawan (Ambarukmi,

(23)

commit to user

et.al, 2007:1). Dari berbagai kutipan diatas Ambarukmi et.al. menyimpulkan bahwa latihan olahraga pada hakekatnya adalah:

1) Proses sistematis untuk menyempurnakan kualitas kinerja atlet berupa: kebugaran, keterampilan dan kapasitas energi.

2) Memperhatikan aspek pendidikan

3) Menggunakan pendekatan ilmiah.

Sudjarwo ( 1995:12) mendefinisikan, ”latihan sebagai suatu proses penyempurnaan peraturan olahraga secara ilmiah, penempatan pendidikan dan prinsip-prinsip. Proses yang dimaksud adalah adanya sistematika dan perencanaan, peningkatan kesiapan untuk pembentukan, dan kemampuan atlet”.

Dengan demikian latihan dapat disimpulkan sebagai suatu kebutuhan atlet yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tingkat beban yang selalu meningkat sehingga diperoleh kemampuan optimal seorang atlet untuk menghadapi pertandingan agar memperoleh prestasi yang maksimal. Dengan menerapkan kaidah-kaidah keilmiahan dan prinsip-prinsip latihan sehingga kemampuan atlet dapat meningkat

Pembinaan prestasi olahraga merupakan suatu program yang terencana dan terstruktur secara rapi serta berkelanjutan untuk mendapatkan atlet yang benar-benar matang sesuai usia perkembangan atlet itu sendiri. Tanpa adanya pembinaan yang terstruktur dengan baik dan dilakukan sepanjang waktu mustahil dapat diperoleh atlet yang dapat bertahan lama di puncak prestasi. Menurut Husdarta (2010:75) menyatakan bahwa atlet-atlet yang mampu menghasilkan prestasi yang intensif hanyalah atlet-atlet yang :

a) Memiliki fisik prima

b) Menguasai teknik yang sempurna

c) Memiliki karakteristik psikologis dan moral yang diperlukan oleh cabang olahraga yang ditekuninya

d) Cocok untuk cabang olahraga yang dilakukannya.

e) Sudah berpengalaman berlatih dan bertanding bertahun-tahun.

Untuk mendapatkan atlet yang berkualitas itulah diperlukan sebuah pembinaan. Pembinaan Olahraga prestasi biasanya dibagi melalui

(24)

tahapan-commit to user

tahapan yang berjenjang untuk mendapatakan atlet yang terbaik. Menurut Ambarukmi et.al (2007:5), “Pembinaan atlet menuju puncak prestasi dilakukan berdasarkan piramida prestasi olahraga terdiri atas 3 tahapan : (1) pemasalan (2) pembibitan (3) prestasi”.

Berdasarkan beberapa kutipan dari para ahli di atas dapat di simpulkan bahwa untuk mendapatkan atlet yang baik diperlukan beberapa faktor yaitu faktor pembinaan olahraga dan faktor pelatih. Faktor pembinaan pun terbagi menjadi pemasalan, pembibitan dan pemanduan bakat. Faktor – faktor tesebut mutlak harus dapat di penuhi untuk mendapatkan atlet yang terbaik dan dapat berprestasi maksimal.

a) Pemasalan Olahraga.

Pemasalan olahraga dapat diartikan sebagai upaya untuk memperkenalkan suatu cabang olahraga kepada khalayak umum baik anak –anak maupun dewasa sehingga mendorong terciptanya suatu ajang kompetisi maupun kejuaraan di dalam masyarakat dan di situ akan terlihat para pemain yang mempunyai bakat di bidang tersebut untuk selanjutnya di bina dalam suatu klub atau organisasi untuk dapat mengembangkan kemampuannya sehingga menghasilkan atlet yang dapat berprestasi di tingkat dunia. Berikut ini pendapat para ahli antara lain, menurut Ambarukmi et.al (2007:6), “Pemassalan adalah menggerakan anak usia dini untuk berolahraga secara menyeluruh agar diperoleh bibit-bibit olahragawan handal”. Sedangkan, menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:36),“ Pemasalan olahraga adalah suatu proses dalam upaya mengikutsertakan peserta sebanyak mungkin supaya mau terlibat dalam kegiatan olahraga dalam rangka pencarian bibit-bibit atlet yang berbakat yang dilakukan dengan cara teratur dan terus-menerus”.

Tujuan dari pemasalan olahraga secara umum tidak hanya mencari bibit-bibit atlet yang berkualitas akan tetapi juga untuk menyehatkan masyarakat melalui aktivitas olahraga. Itu sesuai dengan

(25)

commit to user

menegemukakan pendapatnya bahwa tujuan dari pemasalan olahraga adalah untuk:

(1) Membina dan meningkatkan kesegaran jasmani

(2) Meningkatkan kesegaran rohani atau untuk mendapatkan

kegembiraan

(3) Pembentukan watak atau kepribadian

(4) Menanamkan dasar-dasar keterampilan gerak dalam usaha pencapaian prestasi yang tinggi.

Dalam pemasalan olahraga diperlukan strategi pemasalan, adapun strategi pemasalan menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:39) dapat dilakukan dengan cara:

(1) Menyediakan sarana dan prasarana olahraga yang memadai sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Apabila pemalasan olahraga ini akan diterapkan di sekolah-sekolah, maka di sekolah-sekolah itu perlu disediakan sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan kemampuan untuk masing-masing tingkatnya.

(2) Menyiapkan pengadaan tenaga pengajar atau pelatih olahraga yang benar-benar memiliki kemampuan untuk menggerakkan olahraga pada anak-anak usia muda di sekolah-sekolah.

(3) Mengadakan berbagai bentuk pertandingan cabang olahraga bagi anak-anak sekolah, baik dalam pertandingan antarklas, sekolah, maupun antar perkumpulan.

(4) Mengadakan domontrasi pertandingan antar atlet-atlet yang berprestasi

(5) Mengadakan kerjasama antara sekolah dengan orang tua siswa.

(6) Memberikan motivasi kepada para siswa untuk mau

berolahraga.

(7) Merangsang minat para siswa dengan melaui media masa, vidio, televisi, radio dan lain-lain

Dengan strategi pemasalan yang tepat akan dpat dilihat para calon bibit atlet yang benar-benar berkualitas untuk selanjutnya diarahkan untuk dapat berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi.

b) Pembibitan Atlet

Pembibitan atlet merupakan tahap lanjutan setelah terjadi pemasalan olahraga. Dalam pembibitan atlet seorang pelatih harus dapat

(26)

commit to user

dengan jeli melihat kemampuan tiap calon atlet mana yang berpotensi lebih untuk dapat dkembangkan kemampuannya sehingga menghasilkan prestasi yang tinggi nantinya. Karakteristik atlit bibit unggul menurut Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:60) adalah :

(1) Tingkat atau derajat atau mutu (kualitas) bawaan sejak lahir. (2) Bentuk tubuh (poster tubuh) yang baik, sesuai dengan cabang

olahraga yang diminatinya. (3) Fisik dan mental yang sehat

(4) Fungsi organ-organ tubuh yang baik seperti jantung, paru-paru, otot, syaraf, dan lain-lain.

(5) Kemampuan gerak dasar yang baik seperti kekuatan, kecepatan, kelincahan, daya tahan, koordinasi, daya ledak, dan sebagainya. (6) Penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik maupun

mental terhadap pengalaman-pengalaman yang baru dan dapat membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipergunakan apabila dihadapkan pada fakta-fakta atau kondisi-kondisi yang baru atau dengan istilah lain “intelegensi tinggi”

(7) Sifat-sifat kejiwaan (karakter) bawaan sejak lahir yang dapat mendukung terhadap pencapaian prestasi yang prima, antara lain watak berkompetitif tinggi, kemauan keras, tabah, ulet, tahan uji, pemberani, dan semangat juangnya tinggi.

(8) Kegemaran untuk berolahraga.

Untuk memperoleh atlet yang berprestasi tinggi harus dimulai pembibitan sejak usia dini dan pembibitan itu haruslah sesuai dengan karakteristik calon atlet yang dapat berprestasi. Dan selanjutnya atlet tadi diberi program latihan yang tepat sesuai tumbuh kembangnya.atau dengan pengertian lain, pembibitan atlet merupakan upaya dari seorang pelatih olahraga untuk mendapatkan atlet yang berkualitas dengan cara membina dan melatihnya sejak usia dini.

c) Pemanduan Bakat

Bakat pada umumnya diartikan sebagai suatu kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang perlu untuk dikembangkan lebih lanjut dan dilatih, yaitu agar bakat itu dapat terwujud Pengertian diatas menerangkan pentingnya pembinaan seorang atlet yang berbakat, seorang atlet yang berbakat dalam suatu cabang olahraga tertentu tidak dapat

(27)

commit to user

berprestasi maksimal tanpa adanya pembinaan yang berkelanjutan. Bakat itu sendiri merupakan bawaan manusia sejak lahir yang merupakan turunan dari orang tuanya. Adapun tujuan dari pemanduan bakat menurut Syarifuddin1996:53):

Pemanduan bakat bertujuan untuk memprediksi dengan

probabilitas yang tinggi, seberapa besar peluang seseorang untuk berhasil mencapai prestasi maksimalnya, dan apakah seorang atlet muda mampu untuk secara sukses menyelesaikan atau melewati program latihan dasar untuk kemudian ditingkatkan latihannya menuju prestasi puncaknya. Semakin dini seseorang menmpakan bakatnya, semakin cepat dan besar kemungkinan baginya untuk memasuki tahap latihan puncak prestasi, sehingga puncak prestasinya bisa dicapai dalam usia yang lebih muda (Harsono, dalam Hadisasmita dan Syarifuddin)

Dari pendapat ahli diatas perlunya diadakannya pemanduan bakat sejak usia dini agar melahirkan atlet-atlet yang berbakat diusia muda. Adapun langkah-langkah dalam pemanduan bakat menurut Hadisasmita dan Syarifuddin, (1996:53) adalah:

(1) Adakan pengamatan terhadap sikap dari peserta didik terhadap kegiatan olahraga, baik di sekolah maupun di luar sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya.

(2) Adakan pengamatan terhadap karakteristik dari peserta didiknya, baik mengenai kemampuan fisiknya, bentuk fisiknya, ukuran fisik/tubuhnya sifatnya, maupun asal usunya.

(3) Adakan pengamatan terhadap perkembangan fisik dari peserta didik tersebut.

(4) Setelah kita mengadakan pengamatan yang dilakukan secara cermat dan penuh ketelitian, maka untuk lankah yang berikutnya coba adakan pemilihan/penyaringan/seleksi secara umum maupun khusus dengan menggunakan alat yang dipakai untuk mengukur (instrumen) dan cabang olahraga yang bersangkutan. (5) Di dalam mengadakan seleksi tersebut, hendaknya di dasarkan

pada karakteristik antropometrik, serta kemampuan dan perkembangan dan fisik peserta didik.

Langkah-langkah pemanduan bakat sangat diperlukan untuk mendapatkan bibit atlet yang berkualitas pemanduan bakat ini bisa juga dilakukan di sekolah-sekolah biasa maupun luar biasa dengan melihat kemampuan siswanya saat melakukan olahraga.

(28)

commit to user d) Pelatih

Pelatih adalah seorang yang berada di garis depan dalam pembinaan seorang atlet. Pelatih juga harus memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang cabng olahraga yang akan dilatihnya serta memiliki jiwa kepemimpinan agar dapat mengatur para atletnya.

Banyak ahli di bidang pelatihan telah memberikan pandangannya tetang kualifikasi yang harus dipenuhi bilamana seorang pelatih mengiginkan dirinya menjadi seorang pelatih yang baik, diantaranya seperti berikut pendapat dari (Rice dalam,Hadisasmita dan Syarifuddin, 1996: 26) yang menyebutkan bahwa terdapat 4 kualitas yang memberi ciri-ciri pelatih yang baik, yaitu :

(1) Kemampuan profesional sebagai guru, baru kemudian menjadi pelatih.

(2) Mengetahui cara melatihnya. (3) Kepribadian yang baik.

(4) Karakter. Salah satu kualitas dasar yang harus dipenuhi oleh pelatih adalah masalah karakter.

McKinney dalam Yusuf Hadisasmita dan Syarifuddin, 1996: 27 berpendapat bahwa pelatih yang baik mempunyai kemampuan sebagai berikut :

(1) Mempunyai kemampuan untuk membantu atlet dalam

mengaktualisasikan potensinya.

(2) Bila membentuk tim, didasarkan pada ketrampilan individu yang telah diajarkannya.

(3) Mempunyai pengetahuan dan keterampilan teknis yang

seimbang.

(4) Mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkat

intelektual dengan keterampilan neoromuskuler atletnya. (5) Mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dalam membentuk

kondisi atlet.

(6) Lebih mementingkan pada unsur pendidikan secara utuh, baru kemudian pada unsur pelatihan.

(7) Membenci kekalahan, tapi tidak mencari kemenangan dengan berbagai cara yang tidak etis.

(8) Mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dirinya ke arah

penyimpangan profesinya.

(9) Mempunyai kemampuan untuk melakukan penilaian dengan

(29)

commit to user

(10) Mampu menyatakan bahwa keberhasilan adalah kerja timnya kepada media komunikasi.

(11) Mempunyai kemampuan untuk slalu dihormati oleh atlet dan teman-temanya.

(12) Mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap profesinya.

Hadisasmita dan Syarifuddin (1996:28) menyatakan bahwa pada dasarnya untuk memperoleh keberhasilan dalam kepelatihan dibutuhkan 3 kemampuan utama, yaitu 1) Pengetahuan 2) Keterampilan dan 3) Sikap Hidup (fisafat).

(1) Pengetahuan/ilmu diperlukan untuk melakukan pengkajian teoretis mengenai masalah yang berhubungan dengan pelatih.

(2) Seorang pelatih harus mempunyai keterampilan yang

memadai, diantaranya adalah : a. Keterampilan teknis. b. Keterampilan konseptual. c. Keterampilan manajerial.

d. Keterampilan hubungan antarpersonal.

(3) Sikap hidup/filsafat. Pelatih harus sadar di mana ia berada, sehingga sikap serta perilaku yang dibawakannya tidak berbeda dengan sitem yang dianut atletnya dan masyarakat sekitarnya.

Sedangkan syarat pelatih yang baik menurut Sudjarwo (1995:7) sebagai berikut :

(1) Harus mempunyai latar pendidikan yang sesuai dengan tugasnya sebagai pelatih olahraga.

(2) Menguasai keterampilan cabang olahraga yang diminati, baik secara teori maupun praktek.

(3) Memiliki kondisi fisik yang baik, seperti kesegaran jasmani, kemampuan gerak, dan proporsi tubuh yang sesuai dengan cabang olahraga yang dibinanya.

(4) Mempunyai pengalaman yang cukup dan selalu berusaha meningkatkan ilmunya, terutamadalam cabang olahraga diminati.

(5) Dapat bekerja sama dengan atlet, pembantu-pembantunya, dan para ahli di bidang lain yang yang menunjang peningkatan prestasi.

(6) Mempunyai sikap kepemimpinan yang berwatak dan

berkepribadian.

Pelatih yang baik adalah pelatih yang menerapkan prinsip-prisip latihan secara baik dan benar serta memberi teladan yang baik kepada

(30)

commit to user

atlet-atletnya serta mampu memberi motivasi untuk bangkit dikala para atletnya sedang mengalami gangguan psikologis.

e) Kondisi Fisik

Peningkatan prestasi maksimal dapat dicapai apabila atlet tersebut dapat meningkatkan kondisi fisik seluruh komponen tersebut dan di kembangkan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu pembinaan atlet di perlukan berbagai persiapan dengan prioritas urutan adalah persiapan fisik, persiapan teknik, persiapan taktik, dan persiapan mental. Artinya persiapan fisik merupakan suatu yang sangat penting untuk direncanakan dan di kerjakan mendahului aspek lainnya, karena fisik merupakan dasar kelancara pembinaan.

M. Sajoto (1995) mengatakan bahwa : “unsur-unsur kondisi fisik di tingkatkan seoptimal mungkin bagi setiap atlet dan kekuatan merupakan unsur yang lebih dominan di banding lainnya, perlu mendapat prioritas utama dalam pelaksaan program latihan”. Hal ini cukup beralasan karena dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam keterampilan gerak. Seperti yang dikatan oleh jenssen dkk (1984) di kutip oleh M. Sajoto (1995:34) “Hampir semua keterampilan gerak yang cukup berat tergantung pada ketepatan pelaksanaan menahan beban”.

Dalam meningakatkan kondisi fisik kita harus mengetahui kondisi fisik seseorang dengan cara penilaian yang berbentuk tes kemampuan. Sebagai seorang pelatih yang bertanggung jawab atas prestasi atletnya, maka pengetahuan tentang cara-cara menilai status kondisi fisik seorang perlu diketahui dengan baik. Seperti yang dikutip M. Sajoto 91995:8-10) kondisi fisik dalam tubuh manusia terdiri dari sepuluh komponen antara lain:

(1) Kekuatan (strenght)

(2) Daya tahan (endurance)

(31)

commit to user (4) Kecepatan (speed)

(5) Daya lentur (flexibility) (6) Kelincahan (agility)

(7) Keseimbangan (balance)

(8) Ketepatan (accuracy)

(9) Reaksi (reaction)

(10)Koordinasi (coordination)

Mengingat setiap cabang olahraga memerlukan keadaan kondisi fisik yang berbeda, maka dalam kegiatan pembinaan sangat tergantung pada komponen mana yang dominan untuk cabang olahraga tersebut. Agar kondisi fisik selalu terjaga maka harus dilakukan latihan fisik secara teratur, terprogram dan menurut prisip-prisip dasar latihan.

5. Latihan

a) Pengertian latihan

Seorang atlet tidak mungkin dapat mencapai puncak prestasi yang tinggi tanpa adanya kesungguhan dan kedisiplinan yang tinggi untuk berlatih. Latihan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seorang atlet dapat berprestasi karena dengan latihan seorang atlet akan siap menghadapi segala bentuk rintangan dan halangan yang akan dihadapi saat pertandingan nanti. Kemampuan seorang atletakan meningkat dengan latihan yang benar dan sudah di rencanakan atau dengan dosis yang tepat. Proporsi latihan yang tepat akan memberikan efek yang sangat bagus bagi kondisi fisik. Dalam melaksanakan atau melakukan aktivitas olahraga membutuhkan programlatihan yang benar serta dalam pelaksanaanya harus memperhitungkan alokasi waktu yang digunakan.

b)Program latihan

Latihan yang terprogram secara baik dan benar akan menghasilkan atlet-atlet yang berkualitas, dengan atlet yang berkualitas bukan tidak mungkin prestasi maksimalpun dapat diraih. Program latihan yang baik

(32)

commit to user

harus memperhatikan sasaran latihan sebagai pedoman dan arah yang diacu oleh pelatih maupun atlet dalam menjalankan program latihan. Menurut Ambarukmi et al (2007:2) sasaran latihan meliputi:

(1) Perkembangan fisik multilateral.

(2) Perkembangan fisik khusus cabang olahraga. (3) Faktor teknik.

(4) Faktor taktik. (5) Aspek psikologis. (6) Faktor kesehatan . (7) Pencegahan cedera.

Dengan memperhatiakan sasaran yang akan dituju maka pelatih berkewajiban membuat program latihan yang benar yaitu dengan memperhatikan takaran jumlah set,seri, repetisi, volume, interval, sesi, densitas dan durasi saat latihan. Adapun pengertian dari kata-kata diatas menurut Ambarukmi et.al (2007: 20-21) adalah :

(1) Set adalah kumpulan jumlah ulangan.

(2) Seri adalah serngkaian latihan yang terdiri beberapa pos/ station.

(3) Repetisi adalah jumlah ulangan per item latihan.

(4) Volume adalah ukuran kuantitaslatihan, meliputi: jumlah waktu latihan (durasi), jumlah jarak tempuh dalam satu sesi ltihan,jumlah beban yang diangkat per unit waktu.

(5) Interval adalah jedah waktu anta latihan (antar repetisi, antar set, antar sesi).

(6) Sesi adalah banyaknya jumlah uni latihan.

(7) Densitas adalah ukuran derajat kepadatan latihan.

Program latihan itu sendiri dibagi menjadi beberapa tahap yang meliputi tahap persiapan umum dan persiapan khusus. Tahap persiapan umum di mulai dengan latihan yang menitik beratkan pada peningkatan kemampuan fisik seorang atlet agar siap secara fisik dalam menghadapi pertandingan barulah pada tahap persiapan khusus diberi latihan yang berguna untuk meningkatkan teknik, taktik maupun mental atlet. Biasanya dalam tahap persiapan khusus ini berisi tentang simulasi-simulasi pertandingan seungguhnya maupun mencari try out atau lawan untuk latih tanding yang berguna untuk menguji seberapa siap atlet dalam menghadapi pertandingan.

(33)

commit to user

Berkaitan dengan itu pembutan program latihan juga harus memperhatikan periodesasi latihan dan prinsip-pinsip latihan. Hal ini dikarenakan latihan harus dilakukan sepanjang tahun bukan hanya saat akan menghadapi pertandingan saja. Karena atlet yang berlatih sepanjang tahun dengan program latihan yang benar akan menjadi atlet yang memperoleh prestasi maksimal dan dapat mempertahankan prestasi tersebut secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang relatif lama.

c) Periodesasi latihan

Untuk memperoleh prestasi yang tinggi dan penampilan atlet pada puncak kemampuannya maka dibutuhkan periodesasi latihan. Ambarukmi et al (2007: 109) menyatakan bahwa, “Periodesasi latihan mempunyai

pengertian suatu perencanaan latihan dan kompetisi

(pertandingan/perlombaan) yang disusun sedemikian rupa sehingga kondisi puncak (peak performance) dapat dicapai pada waktu (tanggal) yang ditetapkan/ direncanakan sebelumnya.

Dengan manfaat yang dapat dicapai melalui periodesasi latihan maka perlu seorang pelatih membuat periodesasi latihan yang tepat dengan memperhatikan berbagai unsur seperti waktu pertandingan akan berlangsung. Hal ini dikarenakan dalam periodesasi latihan dalam satu tahun mempunyai beberapa tahapan menurut Ambarukmi et al (2007: 109) yang terdiri dari :

(1) Periode (Tahap) persiapan

a) Periode persiapan umum

b) Periode persiapan khusus

(2) Periode (tahap) kompetisi (perlombaan/pertandingan) a) Periode pra kompetisi (perlombaan/pertandingan) b) Periode kompetisi utama (perlombaan/pertandingan) (3) Periode (tahap) transisi (pemulihan)

Setiap periode disusun dalam waktu satu tahun sehingga pengaturan periodesasi harus tepat karena hal ini berpengaruh pada prestasi atlet. Dan juga periodesasi merupakan petunjuk utama dari seorang pelatih untuk membuat program latihan yang baik dan benar

(34)

commit to user

dengan memperhatikan tahapan didalam periodesasi latihan. Hal ini dikarenakan, program latihan yang dijalankan oleh seorang pelatih pastilah berbeda dan mempunyai tujuan sendiri-sendiri pada setiap tahapan periodesasi latihan. Adapun tujuan dari tiap periodesasi menurut Ambarukmi et al (2007: 110):

(1) Periode persiapan umum

a) Tujuan latihan secara fisik adalah membangun : (1) Kelenturan yang lebih baik

(2) Daya tahan aerobic yang lebih tinggi (3) Pembentukan kecepatan gerak yang baik

(4) Kekuatan maksimal yang lebih besar dan daya tahan kekuatan yang lebih tinggi.

b) Tujuan latihan secara teknik adalah membangun kemampuan gerak keterampilan dasar dalam koordinasi yang baik dan benar.

c) Selain itu, secara psikologis atlet dipersiapkan untuk mampu mengatasi masalah psikis dan bersikap, berperilaku, dan berfikir positif

Poin penting dalam periode ini :

a) Volume tinggi dan ditingkatkan secara bertahap. b) Intensitas berkisar antara rendah dan sedang

c) Penekanan latihn fisik (terutama daya tahan : cardio dan otot) lebih dominan.

d) Teknik dasar untuk menjadikan keterampilan (skill yang sempurna.

(2) Periode persiapan khusus

a) Tujuan latihan secara fisik adalah meningkatkan dan mengembangkan kemampuan fisik dasar menjadi istimewa (eksklusif) sesuai dngan kebutuhan cabang olahraga, sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga, seperti kemampuan SAQ-nya untuk olahraga permainan, kekuatan maksimalnya untuk cabang judo dan gulat, power endurancenya untuk pembalap sepeda, fleksibilitas dinamisnya untuk pesenam ritmik, special speed endurancenyapelari 800, atau aerobic maksimalnya pelari 5000-10000 meter.

b) Tujuan latihan teknik (spesifik) sudah mengarah pada kemampuan keterampilan (skill) tinggi yang dibutuhkan saat taktik (individu maupun tim) berlangsung, mematangkan teknik.

c) Latihan taktik khusus sudah mulai diberikan dan

dikembangkan secara intensif sampai periode kompetisi. d) Secara psikologis, atlet dipersiapkan bukan hanya untuk

kebutuhan latihan tetapi juga kesiapan mental dalam menghadapi kompetisi.

(35)

commit to user (3) Periode pra kompetisi

a) Latihan fisik diarahkan untuk lebih maksimal peningkatannya kemudian dipelihara (maintenance physically).

b) Penekanan untuk cabang olahraga yang berlangsung lama dan sangat dominan secara taktik lebih difokuskan pada unsur tersebut.

c) Secara psikologis, atlet menjaga kemampuan psikis agar tetap stabil.

(4) Periode kompetisi utama

a) Di periode ini memelihara kondisi fisik yang sudah dicapai agar tetap berada dalam kondisi puncak (peak condition) b) Kematangan secara taktik harus sudah muncul.

c) Pengendalian diri, motivasi berprestasi, dan percaya diri merupakan modal psikologis yang penting untuk tampil dalam kompetisi.

Dengan periodesasi latihan diharapkan prestasi atlet dapat mengalami peningkatan kearah yang lebih baik. Hal itu dikarenakan pada setiap tahapan periodesasi mempunyai mempunyai penekanan masing – masing pada aspek yang dilatih sehingga pada waktu kompetisi tiba atlet menampilkan penampilan terbaiknya.

d)Prinsip-Prinsip Latihan

Prinsip latihan merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk menyusun program latihan, dengan mengetahui prinsip-prinsip latihan maka pelatih dapat menyusun program latihan yang baik sehingga dapat memaksimalkan kemampuan atlet agar bisa meraih prestasi yang tinggi. Secara individu prinsip-prinsip ini juga dengan baik menyajikan bimbingan dalam rencana jangka panjang dan dapat memberikan dasar untuk mengubah program latihan bila muncul keadaan yang tidak di inginkan. Adapun prinsip-prinsip latihan menurut Ambarukmi et al ( 2007: 9) sebagai berikut :

(1) Partisipasi aktif

Pencapaian prestasi merupakan perpaduan usaha atlet itu sendiri dan kerja keras pelatih, sehingg keduanya lah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program latihan untuk mrnghasilkan prestasi yang tinggi.

(36)

commit to user

Tahap perkembangan multilateral diletakkan pada awal program pembinaan sebelum memasuki tahapan spesialisasi, yakni pada usia: 6-15 tahun, bertujuan: mengembangkan dan mengoreksi gerak dasar (jalan, Lari, lompat, loncat, lempar, tangkap).

(3) Individual

Setiap atlet memiliki pntensi yang berbeda-beda dan berkarakter unik, setiap latihan menimbulkan respon yng berbeda pula.

(4) Overload

Untuk meningkatkan kemampuan atlet perlu latihan dengan beban lebih (overload), yakni beban yang diberikan cukup menanyang atau benar-benar membebani pada wilayah ambang batas kemampuan atlet (critical point).

(5) Spesifikasi

Program latihan hendaknya dirancang khusus sesuai dengan: a) Cabang olahraga (permainan, beladiri dll)

b) Peran olahragawan (penjaga gawang, smasher, pithcer) c) Sistem gerak (anaerobik, aerobik)

d) Pola gerak ( close skill-openskill, siklis-asiklis) e) Keterlibatan otot (otot pada organ apa saja) f) Biomotor (kekuatan, kecepatan, daya tahan dll) (6) Kembali asal (Reversible)

“bila anda tidak menggunakan, anda akan kehilangan” itulah filosofi prinsip reversibilitas (kembali asal) yang diartikan sebagai kemunduran kemampuan atlet yang diakibatkan ketidaterturan dalam menjalankan program latihan.

(7) Variasi

Model dan metode latihan yang monoton akan mengakibatkan kebosanan sehingga sasaran latihan tidak dapat dicapai, untuk itu perlu dirancang model dan metode latihan yang beraneka ragam, dengan tetap mengacu pada sasaran latihan

Russel R. Pate et. al yang diterjemahkan oleh Kasiyo Dwijowinoto (1993; 317-320), menjelaskan bahwa prinsip-prinsip latihan adalah sebagai berikut :

(1) Pembebanan berlebih

Azas latihan yang sangat mendasar adalah “pembebanan berlebih”. Hal ini dibuktikan dengan baik bahwa sebagian besar sistem fisiologi dapat menyesuaikan diri pada tuntutan fungsi yang melebihi dari apa yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. (2) Konsistensi

Tidak ada pengganti konsistensi dalam suatu program latihan. Olahragawa yang berhasil hampir tanpa perkecualian, taat pada cara-cara latihan yang teratur selama beberapa tahun atau lebih. (3) Kekhususan

Gambar

Gambar 2.Hubungan antara bentuk-bentuk organisasi   (Sumber: Sutarto ,2002:202)
Gambar 3.Bagan kerangka berpikir FORKI WONOGIRI

Referensi

Dokumen terkait

Setiap atlet harus dipersiapkan fisiknya (termasuk daya tahan aerobik) sebaik mungkin agar dalam pertandingan- pertandingan dia tidak kehabisan tenaga dan tidak semakin

Kedisiplinan adalah fungsi operatif dari Manajemen SumberDaya Manusia yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin baik tinggi prestasi kerja yang

Dari penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa merk(brand) salah satu elemen yang paling penting dalam membuat suatu perancangan khususnya kemasan karena

Menurut Schwalble (2007) Salah satu faktor utama suksesnya manajemen proyek adalah adanya komitmen dari manajemen puncak karena manajemen puncak dapat membantu manajer

Salah satu penerapan teknologi guna mencapai tujuan meningkatkan efektifitas kerja adalah dengan meningkatkan kedisiplinan kerja yaitu dengan menggunakan mesin

Menurut Sunarto dan Hartono dalam Djamarah (2008), bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan,

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Lokananta Teguh HW (2007) , yang berjudul “Pengaruh latihan pliometrik stride jump

Kerangka Konsep Efektivitas Media Edukasi Gemar Sayur Dan Buah Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pada Anak Sekolah Dasar Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan