HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemanfaatan Tumbuhan Hutan
Masyarakat sekitar hutan TWA Ruteng memiliki suatu cara tertentu dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Hampir seluruh kebutuhan hidupnya tergantung pada hasil hutan yang terlihat dari beragamnya jenis tumbuhan liar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini telah diterapkan secara turun temurun dan menjadi karakteristik dalam berinteraksi dengan kawasan hutan.
Pemanfaatan tumbuhan hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat di sekitar TWA Ruteng dikategorikan sebagai: tumbuhan obat, pangan, pewarna, pestisida nabati, tumbuhan hias, pakan ternak, bahan tali dan kerajinan, kayu bakar, minuman, bahan bangunan, pemenuhan adat, budaya dan kebutuhan lainnya.
Masyarakat sekitar TWA Ruteng memanfaatkan sejumlah 133 spesies dalam 67 famili tumbuhan hutan. Sebagian besar pemanfaatan spesies yaitu sebanyak: 69 spesies (42,07%) dalam 44 famili (43,14%) dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat, kemudian sebagai pangan sebanyak 38 spesies (23,17%) dalam 17 famili (16,67%) dan bahan bangunan sebanyak 28 spesies (17,07%) dalam 16 famili (15,69%). Jumlah spesies dan famili tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng disajikan pada Tabel 6.
Pengelompokan kegunaan spesies tumbuhan oleh masyarakat adalah berdasarkan cara penggunaannya sehingga satu spesies tumbuhan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok penggunaan yang berbeda. Suatu spesies tumbuhan dianggap sebagai bumbu bila digunakan untuk penyedap masakan. Jenis yang sama dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit tertentu dengan proses pengolahan tertentu atau dicampur dengan bahan-bahan lainnya. Sebagai contoh kulit batang ndingar (Cinnamomum burmanii) biasa dimanfaatkan sebagai bumbu masak dan juga dapat digunakan sebagai tumbuhan obat untuk pengobatan penyakit asma.
Tabel 6 Jumlah spesies dan famili tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng
Kegunaan Tumbuhan Jumlah Spesies % Jumlah Famili %
Tumbuhan Obat 69 42.07 44 43.14 Pangan 38 23.17 17 16.67 Bahan Bangunan 28 17.07 16 15.69 Pakan Ternak 8 4.88 4 3.92 Pestisida Nabati 4 2.44 4 3.92 Tumbuhan Hias 4 2.44 4 3.92
Bahan Tali & Kerajinan 3 1.83 3 2.94
Adat/Budaya 3 1.83 3 2.94 Pewarna 2 1.22 2 1.96 Kayu Bakar 2 1.22 2 1.96 Minuman 1 0.61 1 0.98 Lainnya 4 1.22 4 1.96 Jumlah Keseluruhan 133 100 67 100
Jumlah spesies tumbuhan hutan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di TWA Ruteng tergolong rendah. Dibandingkan dengan pemanfaatan tumbuhan misalnya oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Ka yan Mentarang (CIFOR 2001), maka jumlah spesies tumbuhan hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar TWA Ruteng tidak mencapai sepertiganya. Hal ini disebabkan jumlah spesies tumbuhan hutan yang tumbuh atau berada di dalam kawasan hutan TWA Ruteng tergolong rendah. Hal ini terlihat apabila dibandingkan dengan pemanfaatan tumbuhan di wilayah lainnya di NTT misalnya masyarakat Mollo Amanatun Timor Barat (Pulunggono 1999), maka jumlah spesies tumbuhan hutan yang dimanfaatkan masyarakat sekitar TWA Ruteng terbilang lebih banyak spesies dan juga lebih beragam jenis pemanfaatannya. Pemanfaatan tumbuhan hutan oleh masyarakat sekitar hutan di beberapa wilayah di Indonesia disajikan pada Tabel 7.
Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagian besar adalah daunnya sebanyak 57 spesies, kulit batang 30 spesies dan batang kayu sebanyak 28 spesies. Pemanfaatan batang kayu adalah yang tergolong kurang lestari untuk pemanfaatan kayu bangunan dan kayu bakar. Jumlah spesies bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat TWA Ruteng disajkan pada Gambar 6.
Tabel 7 Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan hutan oleh masyarakat sekitarnya di beberapa wilayah di Indonesia
Lokasi Jumlah Spesies Sumber
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
TWA Ruteng 69 38 28 8 4 4 3 3 2 2 1 Penelitian ini TN Kayan Mentarang 129 175 82 - - - 65 47 - 49 - CIFOR (2001) Gunung Salak Jawa Barat 112 97 - - - Suwena (2006) Peg. Meratus Kab.
Hulu Sungai Tengah
137 107 33 - - - 21 16 8 - 11 Kartikawati (2004) Mollo-Amanatun-Timor 22 - 55 27 - - - 21 - Pulunggono (1999) Suku Hatam, HutanTuwanwowi -Manokwari (Pohon saja) 4 6 41 - - - - 8 - - - Yeni et al. (2006)
Keterangan: 1 = Tumbuhan obat, 2 = Pangan, 3 = Bahan bangunan, 4 = Pakan ternak, 5 = Pestisida nabati, 6 = Tumbuhan hias, 7 = Bahan tali dan kerajinan 8 = Adat/Budaya, 9 = Pewarna, 10 = Kayu bakar, 11 = Minuman
Kayu bangunan yang dimanfaatkan sebanyak 28 spesies juga memiliki kegunaan lainnya. Kegunaan lain tersebut adalah untuk kayu bakar yaitu larang (Weinmannia blumei), dimakan buahnya yaitu damu (Elaeocarpus floribundus) dan kempo (Palaquium obovatum) yang juga diambil daunnya untuk sayuran dan untuk tanaman obat, yaitu: wuhar (Cryptocarya densiflora), ajang (Toona sureni), kenda (prunus arborea), rukus (Adinandra javanica) dan redong (Trema
orientalis).
Beberapa spesies kayu bangunan yang biasa diambil dari dalam kawasan saat ini mulai langka dan persediaan yang ada berada cukup jauh dari pemukiman masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan ini masyarakat sudah mulai membudidayakan pohon penghasil kayu bangunan seperti ampupu (Eucalyptus
urophylla), mahoni (Switenia mahagoni) dan sengon (Paraserianthes falcataria).
Sedangkan kebutuhan kayu bakar dengan menanam kaliandra (Calliandra
calothryrsus). Spesies-spesies ini mulai masuk ke Kabupate n Manggarai sejak
tahun 1990-an melalui proyek rehabilitasi lahan TWA Ruteng dan juga pemberdayaan masyarakat. Luas areal yang ditanam untuk rehabilitasi di dalam kawasan TWA Ruteng saat itu adalah 1.642 ha sedangkan yang ditanam pada lahan milik masyarakat sekitar kawasan TWA Ruteng adalah seluas 5.789 ha (Departemen Kehutanan 1995).
Gambar 7 Jumlah spesies bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng.
Spesies lainnya untuk kebutuhan kayu bangunan yang sudah mulai dibudidayakan di lahan masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan kayu bangunan adalah ajang (Toona sureni), yang keberadaannya di dalam kawasan TWA Ruteng merata di semua ketinggian dan tidak termasuk jenis dominan dan mera (Melia
azedarach) yang biasa tumbuh di hutan-hutan lindung dataran rendah dekat
dengan wilayah pantai. Untuk kebutuhan pangan yang sudah mulai dibudidayakan adalah uwi (Dioscorea alata).
Gambar 8 Persentase responden mengenai upaya membudidayakan spesies hutan. Sebagian besar responden yaitu sebesar 41% menyatakan pernah membudidayakan spesies hutan dan berhasil hidup, 30% beberapa kali berupaya untuk membudidayakan tetapi gagal atau mati, 8% pernah sekali membudidayakan tetapi gagal/mati, 8% merasa tidak perlu membudidayakan
41%
30% 8%
8%
13% Pernah dan berhasil
hidup
Pernah beberapa kali tapi gagal/mati Pernah sekali tapi gagal/mati
Belum pernah karena masih banyak di hutan Tidak peduli atau tidak pernah memikirkan 28 57 9 30 14 6 4 9 0 10 20 30 40 50 60 Batang kayu
Daun Akar Kulit Batang
Buah Umbi Getah Semua Bagian Herba Bagian Tumbuhan
karena masih banyak di hutan dan 12 orang (13%) merasa tidak peduli atau tidak pernah memikirkan (Gambar 8).
Sejak tahun 1993 sampai akhir Maret tahun 2000 pengelola TWA Ruteng melalui proyek ADB (Asian Development Bank) telah melakukan penyuluhan, bimbingan teknis serta demplot (demonstrasi plot) untuk pembibitan dan penanaman. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kayu bangunan dengan spesies bukan asli seperti sengon (Paraserianthes falcataria) dan ampupu (Eucalyptus urophylla), karena lebih mudah untuk pemeliharaan.
Kebutuhan untuk spesies hutan lainnya seperti tumbuhan obat, pewarna, pakan ternak, pestisida nabati dan adat/budaya tidak dibudidayakan oleh masyarakat karena disamping tidak adanya bimbingan teknis mengenai cara pembudidayaan juga kegunaan spesies tersebut dapat disubtitusikan dengan spesies lainnya. Misalnya untuk kebutuhan tumbuhan obat mengatasi penyakit malaria tercatat ada lima spesies yang dapat digunakan yaitu: boto (Tabarnaemontana sphaerocarpa), loi (Alstonia spectabilis), mera (Melia
azedarach), lui (Fraxinus griffithii), tambar (Tinospora crispa). Disamping itu
juga masuknya subtitusi dari produk modern misalnya obat-obat kimia dan plastik, karung dan tali pengganti kerajinan keranjang dan tali dari hasil hutan.
Seringnya penyuluhan dan kegiatan penelitian yang menjelaskan pentingnya fungsi ekologi hutan memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam pemanfaatan hasil hutan dengan hati-hati. Di beberapa tempat larangan penebangan pohon di areal sekitar mata air, kemiringan yang terjal dilakukan melalui lembaga adat dengan cara dikaitkan dengan berbagai mitos kepercayaan nenek moyang. Peran lembaga agama melalui ceramah saat ibadah juga berperan penting dan merupakan salah satu strategi pengelola kawasan selama bertahun-tahun.
Kebutuhan kayu untuk kota Ruteng seharusnya dari luar kawasan dan merupakan pekerjaan utama petugas kehutanan untuk melakukan pemutusan mata rantai perdagangannya. Pemanfaatan untuk kebutuhan subsisten misalnya pemenuhan adat/budaya masyarakat dapat dipenuhi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar hutan.
Pemanfaatan hasil hutan secara menyeluruh memberikan potensi pendapatan yang bersifat lestari dan merupakan suatu cara untuk mengkonservasi dengan perhatian yang terarah pada kearifan lokal. Keanekaan budaya lokal berkaitan dengan sistem pengetahuan dalam pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati. Pengakuan akan adanya pengetahuan tradisional berdampak pada penyelesaian konflik pemanfaatan sumberdaya yang sangat berperan dalam pemanfaatan lestari sumberdaya hutan (Evans 1993).
Kesadaran akan fungsi ekologi suatu tegakan memungkinkan penilaian satu pohon tidak hanya didasarkan pada nilai kayunya tetapi juga nilai-nilai lain yang apabila ditambahkan akan mempunyai nilai tambah yang besar. Hasil hutan memberikan kontribusi pada berbagai bidang kehidupan dan kesejahteraan, menyediakan makanan, obat-obatan dan lainnya serta sebagai suatu sumber penghidupan, memberikan keuntungan ekonomi pada tingkatan masyarakat bawah (lokal) sehingga memberikan dampak tidak langsung pada ketahanan konservasi.
Pemanfatan tumbuhan oleh masyarakat dibedakan berdasarkan fungsi kegunaannya, yaitu: sebagai tumbuhan obat, pangan, pewarna, pestisida nabati, tumbuhan hias, pakan ternak, bahan tali dan kerajinan, kayu bakar, minuman, bahan bangunan, pemenuhan adat, budaya dan kebutuhan lainnya:
Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat didefinisikan sebagai spesies tumbuhan yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat (sel) tersebut digunakan sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan (Zuhud 1994). Obat-obatan tradisional biasanya dibuat dari daun, kulit kayu dan akar-akaran tumbuhan hutan. Di kebanyakan tempat di wilayah sekitar TWA Ruteng penggunaan obat tradisional merupakan pengetahuan yang sudah umum diketahui oleh sebagian besar masyarakat. Pemanfaatannya dibedakan atas penyakit luar, penyakit ringan dan penyakit dalam yang cukup berat. Terdapat 69 spesies dari 43 famili tumbuhan di dalam hutan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Spesies tumbuhan obat yang digunakan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Bagian tumbuhan hutan yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat sebagian besar adalah dari daunnya yaitu sejumlah 31 spesies, kulit batang 25 spesies, akar 9 spesies, selebihnya sebanyak 10 spesies adalah pengambilan getah 3 spesies, umbi 2 spesies, buah 1 spesies dan herba yang dimanfaatkan seluruh bagiannya sekaligus sebanyak 4 spesies (Gambar 9).
Gambar 9 Persentase bagian tumbuhan sebagai tumbuhan obat.
Pemanfaatan yang kurang lestari adalah pengambilan seluruh bagian herba untuk obat. Sebanyak 4 spesies herba yang dimanfaatkan seluruhnya (dicabut) adalah liti (Drymaria cordata), ta’i ntala (Viscum ovalifolium), kolong jarang (Plectranthus teysmanni) dan legi (Paspalum conjugatum).
Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng bila dibandingkan dengan wilayah lain di Nusa Tenggara dapat dikatagorikan tinggi. Suku Samawa NTB memanfaatkan 44 spesies tumbuhan obat, Suku Dawam Timor Barat 12 spesies (Aliadi dan Roemantyo 1994) dan Suku Mollo Amanatun Timor Barat 22 spesies. Tetapi jumlah spesies tumbuhan obat hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng lebih sedikit dari masyarakat Kalimantan. Masyarakat kampung Harowu Kalteng memanfaatkan 100 spesies, Apo Kayan Kaltim 213 spesies (Aliadi dan Roemantyo 1994) dan TN Kayan Mentarang 129 spesies (CIFOR 2001). Demikian juga bila dibandingkan dengan Suku Tanimbar Kei Maluku sebanyak 164 spesies maka spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat TWA Ruteng tergolong rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai jumlah spesies yang dapat dimanfaatkan untuk tumbuhan obat sangat dipengaruhi oleh jumlah spesies tumbuhan yang ada di
0 5 10 15 20 25 30 35
Daun Akar Kulit Batang
Buah Umbi Getah Semua Bagian Herba Bagian Tumbuhan
wilayah tersebut. Data jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia disajikan seperti Tabel 8.
Pengambilan bagian tumbuhan obat yang digunakan untuk pengobatan biasanya menggunakan ukuran kepalan tangan atau jari tangan orang yang sakit. Untuk jenis obat yang diminum biasanya direbus terlebih dahulu dengan air sebanyak 5 gelas untuk dijadikan 3 gelas dan diminum tiga kali sehari. Jenis-jenis penyakit yang umumnya dikeluhkan oleh masyarakat adalah malaria, flu dan sakit kepala, juga penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan seperti disentri. Data mengenai sepuluh spesies tumbuhan obat yang paling sering digunakan dan kelimpahannya selengkapnya disajikan pada Tabel 9. Dari sepuluh spesies tumbuhan obat yang sering digunakan, sensus (Eupatorium inulifolium) merupakan spesies yang paling mudah ditemukan. Tumbuhan ini biasa hidup di tempat terbuka sebagai tumbuhan pioner. Spesies lainnya yang mudah ditemui adalah wuhar (Cryptocarya densiflora) yang juga digunakan sebagai kayu bangunan.
Tabel 8 Jumlah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia
Lokasi Jumlah
Spesies
Sumber
TWA Ruteng 69 Penelitian ini
Kampung Marpunga dan Gumpang Aceh 158 Aliadi dan Roemantyo (1994) Siberut, Sumatera Barat 223 Aliadi dan Roemantyo (1994) Kampung Harowu, Kalteng 100 Aliadi dan Roemantyo (1994) Apo Kayan, Kaltim 213 Aliadi dan Roemantyo (1994)
TN Kayan Mentarang 129 CIFOR (2001)
Dumoga Bone, Sulut 99 Aliadi dan Roemantyo (1994) TN Lore Lindu Sulawesi Tengah 401 Gailea (2005)
Tanimbar-Kei, Maluku 164 Aliadi dan Roemantyo (1994) Suku Dani, Irian Jaya 28 Aliadi dan Roemantyo (1994) Gianyar dan Karang Asem, Bali 87 Aliadi dan Roemantyo (1994) Suku Samawa, NTB 44 Aliadi dan Roemantyo (1994) Suku Dawam – Timor Barat 12 Aliadi dan Roemantyo (1994) Suku Mollo – Amanatun - Timor Barat 22 Pulunggono (1999)
Gunung Salak – Jawa Barat 112 Suwena (2006)
Spesies yang paling sulit ditemukan adalah sandal (Drymis piperita). Spesies ini tidak ditemukan pada jalur pengamatan. Menurut masyarakat sekitar TWA Ruteng, tumbuhan perdu ini hanya dapat ditemukan pada ketinggian di atas
2.000 m dpl. Selain digunakan untuk berbagai keperluan penyakit dalam daun tumbuhan ini juga dipercaya sebagai penolak bala atau pena ngkal penyakit non medis.
Tabel 9 Spesies tumbuhan obat yang paling sering dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng dan lokasi penyebarannya
Nama Spesies/Famili/lokal Bagian Digunakan Penggunaan Lokasi pengamatan (m dpl) Alstonia spectabilis/ Apocynaceae/Loi Akar, kulit batang Malaria 1.700, 1.800 Eupatorium inulifolium/ Asteraceae/Sensus
Daun Luka baru 1.500, 1.600
Caesalpinia sappan/
Caesalpiniaceae/Cepang
Kulit batang Cuci buah Pinggang
-
Drymis piperita/
Winteraceae/Sandal
Daun Luka dalam -
Cinnamomum burmanii/
Lauraceae/Ndingar
Kulit batang Bersih darah, Asma
1.600 , 1.800
Tinospora crispa/
Menispermaceae/Tambar
Batang liana Malaria -
Myrica esculenta/
Myricaceae/Lasang
Kulit batang Flu/Pilek 600, 900, 1.000
Fraxinus griffithii/ Oleaceae/Lui Kulit batang, Getah Malaria 1.100, 1.200, 1.500, 1.600, 1.700 Geniostoma rupestre/ Loganiaceae/Tepotai
Daun Kepala Pusing 900, 1.100, 1.200, 1.300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.100
Cryptocarya densiflora/
Lauraceae/Wuhar
Kulit batang Disentri, TBC, sakit pinggang
600, 700, 800, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.400, 1.500, 1.600, 1.700
Dalam memanfaatkan tumbuhan obat dicatat sebanyak 40 jenis penyakit dikenal oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng. Jenis penyakit dengan jumlah spesies terbanyak yang dapat digunakan untuk pengobatan adalah lever dan sakit perut masing-masing sebanyak 7 spesies. Untuk penyakit lever tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan, yaitu: sensus (Eupatorium inulifolium), renggong (Emilia sonchifolia), cawat (Bidens sp), garit (Canarium sp), kadung (Jastropha curcas), ta’i ntala (Viscum ovalifolium), narong (Zingiber sp) dan untuk sakit perut spesies yang digunakan untuk pengobatan, yaitu: mene (Vernonia cinerea), kadung (Jastropha curcas), wase nol (Anamirta cocculus), raci (Leucosyke capitellata), pandu kadul (Ricinus communis), wuhar (Cryptocarya densiflora), waso (Hibiscus tiliaceus).
Tabel 10 Pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng Jenis penyakit yang diobati Jumlah Spesies Tumbuhan Obat
Batuk 2 Malaria 5 Demam 2 Kanker payudara 2 Usus buntu 2 Luka baru 4 Luka dalam 3 Lever 7 Sakit perut 7
Cuci buah pinggang 3
Cuci perut 1 Cuci darah 4 Kencing manis 3 Mata 1 Ginjal 2 Biri-biri 3 Kejang/ayan 1 Sariawan 4 TBC 3 Mandi segar 1 Lancar BAB 2 Sakit pinggang 2 Asma 4 Masuk angin 4 Maag 3 Pusing 3 Kanker 1 Tumor 1 Patah tulang 1 Bisul 2 Cacingan 1 Nafsu makan 1 Obat kuat 2 Sakit gigi 3 Ketombe 1 Flu/pilek 1
Nafas sesak anak-anak 1
Migran 2
Muntaber 1
Rematik 1
Tumbuhan Sumber Pangan
Tumbuhan di dalam TWA Ruteng digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sumber karbohidrat yaitu: cue (Dioscorea pentaphylla), engal (Dioscorea sp), raut (Dioscorea hispida) dan uwi (Dioscorea alata) (Gambar 9). Jenis-jenis umbi ini biasa digunakan untuk memenuhi pangan terutama pada saat musim paceklik atau kekurangan pangan.
Dari keempat jenis umbi tersebut, yang sudah mulai dibudidayakan yaitu uwi (Dioscorea alata). Umbi berduri ini mulai ditana m masyarakat walaupun masih sedikit dibandingkan dengan ubi kayu atau ubi jalar.
Gambar 10 Spesies tumbuhan sumber pangan di TWA Ruteng.
Umbi yang beracun adalah raut (Dioscorea hispida), spesies ini mengandung zat alkaloid padat dioscorine yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan keracunan (Heyne 1987). Cara yang dilakukan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng untuk menghilangkan racun didalamnya adalah dengan merendamnya dalam air sungai mengalir selama tiga hari tiga malam. Setelah itu baru kemudian dikupas, diiris-iris dan dijemur di bawah sinar matahari.
Menurut masyarakat, sebelum ada beras untuk makanan pokok sekitar tahun 1960-an keempat jenis umbi ini dahulunya merupakan makanan sehari-hari masyarakat. Namun saat ini makanan beras dianggap memiliki status yang lebih tinggi sehingga menjadi makanan pokok meskipun menurut orang-orang tua desa umbi memiliki rasa yang lebih enak.
Tabel 11 Spesies tumbuhan hutan sumber karbohidrat di TWA Ruteng
Nama Famili Nama Ilmiah Nama
Lokal
Lokasi Ditemukan (m dpl) Dioscroreaeae Dioscorea sp Engal -
Dioscorea pentaphylla Cue -
Dioscorea hispida Raut -
Dari keempat spesies umbi hutan tersebut yang ditemukan di dalam kawasan hutan TWA Ruteng selama penelitian adalah uwi (Dioscorea alata) dengan nilai INP sebesar 5,57% pada ketinggian 600 m dpl. Ketiga spesies lainnya tidak ditemukan karena menurut masyarakat ketiga umbi tersebut lebih banyak ditemukan pada wilayah terbuka pinggiran hutan atau wilayah hutan terganggu yang sudah sangat terbuka.
Hutan TWA Ruteng juga menyediakan spesies tumbuhan yang digunakan untuk sayur atau lalapan untuk masyarakat disekitarnya. Tercatat ada 25 spesies dari 16 famili tanaman yang digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sayuran. Pengambilan sayuran ini lebih intensif dilakukan pada waktu musim kemarau saat tanaman hasil kebun di sekitar rumah kurang memberikan hasil untuk kebutuhan sayuran.
Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sayuran yang memiliki penyebaran paling luas adalah boto (Tabarnaemontana sphaerocarpa). Pohon ini ditemukan pada ketinggian 600 sampai dengan 1500 m dpl dengan dominansi atau INP yang cukup tinggi.
Spesies yang memiliki kelimpahan tinggi adalah lawi (Justicia sp) dan kunang (Strobilanthes crispus). Kedua spesies ini memiliki kelimpahan yang tinggi dan dominan pada ketinggian 1.700 sampai 2.100 m dpl. Beberapa spesies yang tidak ditemukan dalam jalur pengamatan, yaitu: selada (Nasturtium
officinale) yang banyak terdapat di tempat wisata Danau Ranamese kemudian
puni Cyathea tenggerensis, ruteng (Ficus benjamina), mere meki (Embelia
ardisia), namut (Celtis tetandra) dan tao (Indigofera sp).
Selain sayuran juga terdapat 13 spesies dari 7 famili tumbuhan yang diambil masyarakat dari hutan untuk dimakan buahnya. Dari 13 spesies tersebut, 10 spesies merupakan jenis pohon dan 7 diantaranya merupakan juga kayu penghasil bahan bangunan, 1 spesies liana dan 1 spesies herba.
Tabel 12 Spesies tumbuhan hutan TWA Ruteng yang dimanfaatkan sebagai sayuran dan lokasi penyebarannya.
Nama Famili Nama Ilmiah Nama
Lokal Lokasi Ditemukan (m dpl) Apocynaceae Tabarnaemontana
spaerocarpa
Boto 600, 1.000, 1 .100, .1300, 900, 1.100, 1.300, 1.200, 1.500, 1200.
Acanthaceae Justicia sp Lawi 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900
Strobilanthes crispus Kunang 900, 1.600, 1.800, 2.000, 2.100 Begoniaceae Begonia muricata Lungar 900, 1.000, 1.100, 1200, 1300, 1500,
1700, 1800, 2.000, 2100
Begonia isoptera Milos 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800
Brassicaceae Nasturtium officinale Selada - Cyatheceae Cyathea tenggerensis Puni -
Euphorbiaceae Bischofia javanica Uwu 900, 1.200
Gesneriaceae Cyrtandra cuneata Rempo 600, 1.100, 1.200, 1.300, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000 Melastomaceae Medinilla speciosa Kuncang 900, 1.100, 1.500, 1.900
Melastoma setigerum Ndusuk -
Moraceae Ficus variegata Ara 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.400, 1.500 1.700
Ficus fistula Labe 600, 1.000, 1600, 900, 1 .200, 1300, 1700, 1800, 1100, 1500
Ficus fulva Lento 1.000
Ficus benyamina Ruteng -
Myrsinaceae Embelia ardisia Mere Meki
-
Polypodiaceae Asplenium sp Paku 1.100, 1500, 1.800
Polypodiaceae Asplenium nidus Tikel 600, 900, 1.200, 1.300, 1.400
Polystichum aculeatum Paku mundung 1.200, 1.300 Diplazium sp Kenda Saung 2.000, 2.100
Polygonaceae Polygonum chinense Longe 900, 1.100, 1.500, 1.600, 1.700 Papilionaceae Indigofera sp Tao -
Sapotaceae Palaquium obovatum Kempo 600, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300 Ulmaceae Celtis tetandra Namut -
Zingiberaceae Amomum sp Pane 900, 1600
Spesies penghasil buah yang paling disukai diantaranya adalah buah kempo (Palaquium obovatum) yang mirip dengan buah advokat. Pohon ini dapat ditemukan pada ketinggian 600 sampai dengan 1.300 m dpl dan tidak termasuk dalam spesies dominan. Kelimpahan tertinggi ditemukan pada ketinggian 1300 m dpl dengan nilai INP pohon 14, 93%, INP tiang 16,51%, INP pancang 17,24% dan INP anakan dan tumbuhan bawah 3,92%. Spesies lainnya yang disukai buahnya adalah sejenis liana, yaitu menca (Ficus punctata). Menyebar merata dan tidak termasuk spesies dominan pada hutan pegunungan dan sub pegunungan yang ditemukan pada ketinggian 900 m dpl (INP 98%), 1200 (1,52%), 1500 (2,27%), 1700 (2,48%), 1800 (1.05%), 2100 (3,49%). Spesies tumbuhan yang dimakan buahnya oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Spesies tumbuhan hutan yang dimakan buahnya dan lokasi penyebarannya.
Nama Famili Nama Ilmiah
Nama Lokal
Lokasi Ditemukan (m dpl) Anacardiaceae Mangifera applanata Pau Poco 1.300, 1800
Clusiaceae Calophyllum soulattri Ntorang 600, 900, 1000
Garcinia dulcis Ngampur 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1900
Elaeocarpaceae Elaeocarpus floribundus Damu 600, 900, 1.600, 1500, 1700, 1800
Elaeocarpus sphaericus Ninto 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.500, 1.600, 1700, 1800, 600, 1800
Moraceae Ficus variegata Ara 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.400, 1.500 1.700
Ficus fistula Labe 600, 1.000, 1600, 900, 1 .200, 1300, 1700, 1800, 1100, 1500
Ficus fulva Lento 1.000
Ficus punctata Menca 900, 1200, 1500, 1.700, 1.800, 2.100
Sapindaceae Elattostachys verrucosa Lowe api 1600, 2000
Sapotaceae Palaquium obovatum Kempo 600, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300 Myrtaceae Syzygium laxiflorum Mpui
Merik
1.000, 1.100, 1200, 1700 Zingiberaceae Amomum sp Pane 900, 1600
Tumbuhan Penghasil Pewarna
Terdapat dua spesies tumbuhan hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pewarna yaitu untuk pewarna pakaian menggunakan daun tao (Indigofera sp) dan kayu cepang (Caesalpinia sappan). Tao (Indigofera sp) digunakan dalam mewarnai benang yang dipintal dari kapas. Warna hitam dihasilkan dengan cara merebus daun merupakan warna dasar pakaian adat orang Manggarai.
Saat ini warna hitam alami sudah jarang digunakan kecuali untuk pesanan kain khusus yang cukup mahal. Untuk pembuatan kain tenun hitam saat ini menggunakan benang jadi buatan pabrik yang sudah lazim dijual di kota. Kulit kayu cepang (Caesalpinia sappan) biasa digunakan untuk mewarnai air minum sehingga berwarna merah seperti sirup. Kulit kayu biasa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam air minum karena dipercaya dapat memurnikan air dan juga berkhasiat untuk mencuci buah pinggang. Kedua spesies pewarna ini tidak ditemukan dalam jalur pengamatan.
Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati
Masyarakat sekitar TWA Ruteng menggunakan tumbuhan beracun untuk keperluan hidup sehari-hari. Berkebo (Ternstroemia toquin) dan juga raut (Dioscorea hispida) untuk insektisida nabati. Kulit pohon berkebo (Ternstroemia
toquin) atau umbi raut (Dioscorea hispida) direndam semalaman kemudian
disemprotkan ke tanaman untuk membasmi hama. Masyarakat merendam kulit kayu berkebo (Ternstroemia toquin) di sawah untuk mencegah data ngnya hama. Untuk menangkap ikan di sungai, spesies yang biasa digunakan adalah berkebo (Ternstroemia toquin), tuwa (Croton tiglium) dan lareng (Derris elliptica). Spesies tumbuhan di TWA Ruteng yang merupakan penghasil pestisida nabati disajikan pada Tabel 14.
Berkebo (Ternstroemia toquin) menyebar merata pada berbagai ketinggian hutan pegunungan dan tidak termasuk spesies dominan dengan INP pohon 3,06% (1800 m dpl), INP tiang 8,87% (1500 m dpl), 6,33% (1600 m dpl), 4,37% (1800 m dpl), 4,27% (1900 m dpl), INP anakan dan tumbuhan bawah 1,43% (1600 m dpl), 1,82% (1800 m dpl), 1,64% (2000 m dpl). Lareng (Derris elliptica) sulit untuk ditemukan di dalam TWA Ruteng, tuwa (Croton tiglium) lebih banyak
ditemukan di wilayah hutan adat di luar kawasan TWA Ruteng sedangkan raut (Dioscoresa hispida) biasa ditemukan di wilayah hutan terbuka di TWA Ruteng.
Gambar 11 Kulit kayu berkebo dan umbi raut dimanfaatkan masyarakat sekitar TWA Ruteng sebagai pestisida nabati pembasmi hama.
Tabel 14 Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pestisida nabati
Nama Famili Nama Ilmiah Nama
Lokal Kegunaan
Dioscoreaceae Dioscorea hispida Raut Pembasmi hama dan racun ikan Euphorbiaceae Croton tiglium Tuwa Racun ikan
Papilliaceae Derris elliptica Lareng Racun ikan
Theaceaec Ternstroemia toquin Berkebo Pembasmi hama dan racun ikan
Tumbuhan Hias
Masyarakat sekitar kawasan TWA Ruteng pada umumnya kurang memanfaatkan tanaman hias. Halaman sekitar rumah biasa hanya ditanami ubi kayu, ubi jalar, bumbu empon-empon dan tanaman keperluan sehari-hari lainnya. Jenis yang biasanya diambil dari hutan adalah cemara hutan atau yang biasa disebut kenti (Leptospermum flavescens). Tanaman ini disukai karena bentuknya yang mirip pohon cemara sehingga memiliki hubungan dengan agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat yaitu Katholik.
Tumbuhan hias ditanam oleh masyarakat di kota Ruteng terutama masyarakat pendatang. Spesies tumbuhas hias yang ditanam umumnya tidak diambil dari hutan. Beberapa spesies dari hutan yang sudah mulai dimanfaatkan diantaranya adalah anggrek semar (Paphiopedilum schoseri), lungar (Begonia
isoptera) dan puni (Cyathea tenggerensis).
Kenti (Leptospermum flavescens) ditemukan pada ketinggian 2000 dan 2100 m dpl dengan jumlah yang cukup melimpah, nilai INP 7,92% dan 14,85%. Lungar ditemukan menyebar merata pada ketinggian 900 sampai dengan 1700 m
dpl dan bukan merupakan spesies dominan. Dari keempat spesies yang biasa dimanfaatkan masyarakat sebagai tumbuhan hias ini anggrek semar (Paphiopedilum schoseri) yang ditemukan pada ketinggian 1200 dan 1700 m dpl dengan nilai INP 1,52% dan 1,14%.
Gambar 12 Beberapa spesies tumbuhan hias di TWA Ruteng, dari kiri ke kanan adalah anggrek semar, Calanthe dan kenti.
Tabel 15 Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tumbuhan hias
Nama
Famili Nama Ilmiah
Nama
Lokal Lokasi Ditemukan Begoniaceae Begonia isoptera Lungar 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300,
1.500, 1.600, 1.700 Cyatheaceae Cyathea tenggerensis Puni -
Myrtaceae Leptospermum flavescens
Kenti 2.000, 2.100
Orchidaceae Paphiopedilum schoseri Anggrek
Semar
1.200, 1.700
Tumbuhan Penghasil Pakan Ternak
Masyarakat sekitar TWA Ruteng menggunakan beberapa spesies tumbuhan untuk pakan ternak. Spesies yang paling disukai adalah kaliandra (Calliandra
calothyrsus). Menurut masyarakat pemberian daun kaliandra sangat baik setiap
hari baik untuk kesehatan ternak dan tidak pernah mendapati keluhan pencernaan. Pengambilan daun tumbuhan ini untuk makanan ternak dilakukan bersamaan juga pada saat pengambilan batang kayunya untuk kayu bakar. Spesies lainnya yang juga biasa diambil untuk makanan ternak, yaitu: ara (Ficus variegata), cangkar
(Eleusine indica), ri’i (Imperata cylindrica), sensor (Panicum caudiglume), legi (Paspalum conjugatum) dan lajar (Pennisetum purpureum).
Pengambilan daun tumbuhan untuk pakan ternak biasa dilakukan pada wilayah hutan TWA Ruteng yang sudah terbuka kecuali ara (Ficus variegata). Pemberian pakan tidak selalu dilakukan dengan membawa pakan pulang ke rumah tetapi juga dilakukan dengan mengikat ternak ke dalam kawasan.
Tumbuhan Penghasil Bahan Tali dan Anyaman Kerajinan
Pengambilan spesies tumbuhan dari hutan yang digunakan sebagai bahan anyaman dan kerajinan terbatas hanya pada spesies rotan yaitu wua (Calamus
heteracanthus), werek (Lygodium circinnatum) dan liana wase mulu (Freycinetia scandens). Dalam pemanfaatannya untuk kerajinan wua lebih disukai karena
lebih keras dan tahan lama serta lebih mudah untuk ditemukan di dalam kawasan hutan TWA Ruteng. Spesies lainnya diambil dari hasil kebun adalah re’a (Pandanus tectorius) dan berbagai jenis bambu.
Kerajinan dari pandan atau re’a (Pandanus tectorius) biasanya dibuat oleh wanita sedangkan pria membuat kerajinan dari bahan wua (Calamus
heteracanthus), werek (Lygodium circinnatum) dan mulu (Freycinetia scandens).
Kerajinan dibuat untuk kebutuhan peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari antara lain keranjang kopi, tudung saji dan tempat sirih pinang. Hasil kerajinan biasa ditukar dengan padi atau jagung sebanyak besarnya wadah yang dibeli terisi penuh.
Wua (Calamus heteracanthus) ditemukan menyebar merata pada ketinggian 900 sampai dengan 1900 m dpl dan tidak termasuk spesies dominan. Mulu (Freycinetia scandens) hanya ditemukan pada ketinggian 900, 1000, 1200 dan 1900 m dpl dengan nilai INP atau dominansi yang lebih besar dari wua. Dan werek (Lygodium circinnatum) tidak ditemukan di dalam jalur pengamatan, menurut masyarakat sekitar TWA Ruteng werek sudah mulai sulit untuk ditemukan semenjak beberapa tahun sebelumnya banyak dikirim ke Bali.
Gambar 13 Kerajinan dari wua (Calamus heteracanthus) yang dimanfaatkan masyarakat sekitar TWA Ruteng.
Tabel 16 Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan tali dan kerajinan
Nama Famili Nama Ilmiah Nama Lokal
Lokasi Ditemukan (m dpl)
Arecaceae Calamus heteracanthus Wua 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900 Schizaeaceae Lygodium circinnatum Werek -
Pandanaceae Freycinetia scandens Mulu 900, 1.000, 1.200, 1.900
Tumbuhan Penghasil Kayu Bakar
Kebutuhan kayu bakar setiap hari sebagian diambil dari hutan. Pengambilan kayu bakar ini semakin hari semakin meningkat dengan kenaikan harga minyak tanah dan permintaan masyarakat untuk membeli kayu bakar. Pada umumnya masyarakat sekitar TWA Ruteng menggunakan semua spesies kayu yang sudah dikeringkan sebagai kayu bakar, namun yang paling disukai, yaitu: kayu larang (Weinmannia blumei) dan akasia (Calliandra calothyrsus) serta kayu kopi yang sudah tua dan tidak produktif lagi.
Calliandra calothyrsus merupakan tumbuhan asli Amerika Tengah dan
diperkenalkan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1936 lewat Guatemala. Sejak tahun 1950 dimanfaatkan oleh Perum Perhutani hingga mencapai luas 30.000 ha di wilayah Jawa. Tumbuhan ini disukai untuk penggunaan kayu bakar karena nyala apinya yang lebih panas dan dapat dibuat arang yang baik. Pertumbuhannya yang cepat serta diameter batangnya yang tidak terlalu besar memudahkan
masyarakat membudidayakan dan melakukan pemanenan dengan alat sederhana seperti parang atau golok (Ayensu 1980). Akasia (Calliandra calothyrsus) ditemukan dalam jumlah yang cukup melimpah pada areal hutan TWA Ruteng yang direhabilitasi. Tumbuhan ini juga biasa tumbuh pada lahan-lahan kosong kurang produktif milik masyarakat.
Gambar 14 Penjualan kayu bakar kayu larang di jalan raya pinggir kawasan TWA Ruteng dan kebutuhan kayu bakar kota Ruteng.
Kayu larang (Weinmannia blumei) di TWA Ruteng tumbuh pada semua habitat hutan dataran rendah, sub pegunungan dan pegunungan. Pada tingkatan pohon spesies ini dominan pada beberapa ketinggian, yaitu: ketinggian 600 m dpl (INP 21,02%), 900 m dpl (INP 34,96%), 1000 m dpl (INP 23,99%) dan pada ketinggian 1200 m dpl dengan nilai INP 26,02%. Spesies di TWA Ruteng yang dimanfaatkan sebagai kayu bakar disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang disukai masyarakat oleh masyarakat sebagai penghasil kayu bakar
Nama Famili Nama Ilmiah Nama Lokal
Lokasi Ditemukan (m dpl)
Cunonaceae Weinmannia blumei Larang 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.500, 1.600, 1.900, 2.000 Mimosaceae Calliandra calothyrsus Akasia -
Tumbuhan Penghasil Minuman
Tumbuhan penghasil minuman yang sudah umum dimanfaatkan di wilayah Ruteng adalah enau (Arenga pinnata). Di wilayah TWA Ruteng spesies ini banyak ditemukan di wilayah terbuka di pinggiran batas hutan. Pengambilan air
nira dilakukan dengan cara memotong bagian bunga pada saat mulai mekar. Cairan yang keluar ditampung dalam bambu sepanjang kurang lebih 1 meter. Air nira hasil sedapan selain dimanfaatkan sebagai minuman segar juga diolah dengan proses fermentasi untuk menjadi tuak atau minuman keras.
Pada saat penyimpanan untuk proses fermentasi pembuatan tuak, air nira yang dihasilkan biasanya berasa asam dan tidak baik untuk lambung. Untuk menghilangkan rasa asam ini masyarakat mencampurkan kulit kayu damer (Pterospermum diversifolium) pada saat proses fermentasi sehingga tidak lagi berasa asam tetapi agak pahit dan lebih aman untuk lambung.
Tumbuhan Penghasil Bahan Bangunan
Pengambilan kayu-kayu berkualitas untuk bahan bangunan rumah pada masa lalu jumlahnya terbatas karena disamping kepadatan penduduk yang rendah, pola tinggal masih dalam satu rumah besar, ya ng dikenal dengan rumah gendang, alat-alat untuk menebang pohonpun hanya berupa parang, kampak dan gergaji tangan. Namun saat ini pengambilan kayu dalam hutan meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, pergeseran pola hidup dari keluarga besar (dalam satu rumah adat) ke keluarga kecil dan peningkatan pembangunan kota Ruteng yang membutuhkan kayu serta penggunaan gergaji mesin. Pengambilan kayu di dalam hutan untuk dijual tidak lagi tunduk di bawah aturan-aturan adat istiadat yang amat mengikat, seperti pada masa lalu.
Selain kayu konstruksi rumah-rumah di desa-desa juga menggunakan bambu yang juga acap kali dijadikan sebagai pagar. Untuk bagian atap banyak menggunakan ijuk dari jenis enau (Arenga pinnata). Konstruksi kayu atau bambu ini diakui memberikan dampak suhu yang lebih hangat dari pada rumah tembok sehingga masih banyak digunakan hingga saat ini. Tetapi mempunyai rumah tembok memberikan status sosial lebih tinggi di desa untuk saat ini sehingga orang yang lebih mampu mulai membangun rumah tembok.
Kayu bahan bangunan yang biasa digunakan sebagai papan dan balok adalah sebanyak 28 spesies dari 16 famili. Sebanyak 17 spesies yang digunakan sebagai papan, 18 spesies yang digunakan sebagai balok, 7 spesies diantaranya biasa digunakan baik sebagai balok maupun sebagai papan bangunan. Data
spesies penghasil papan dan balok bangunan selengkapnya seperti disajikan pada Tabel 18 dan 19.
Spesies penghasil papan bangunan sebagian besar memiliki kelimpahan yang tinggi pada ketinggian lebih dari 1600 m dpl. Hal ini disebabkan letak kawasan yang cukup jauh dan sulit untuk dijangkau oleh masyarakat. Namun demikian beberapa spesies yang memiliki penyebaran yang sempit seperti worok (Dysoxylum nutans) dan maras (Pometia sp) memiliki kelimpahan yang cukup tinggi, worok (Dysoxylum nutans) nilai INP 8,99% dan maras nilai INP sebesar 41,60%. Maras (Pometia sp) merupakan spesies dominan untuk tingkatan pohon pada ketinggian 600 m dpl ini.
Spesies yang memiliki penyebaran paling luas dan juga kelimpahan paling besar adalah mess (Syzygium polyanthum). Spesies ini ditemukan pada ketinggian 600 m dpl dengan nilai INP 27,45% untuk tingkat pohon, pada ketinggian 900 m dpl nilai INP 5,31%, ketinggian 1600 m dpl (5,31%), 1700 m dpl (21,05%), 1800 m dpl (24,62%), 1900 m dpl (31,09%), 2000 m dpl (21,58%), pada ketinggian 2100 m dpl spesies ini paling dominan dengan nilai INP 50,96%.
Spesies papan bangunan yang ditemukan di dua ketinggian pada jalur pengamatan adalah natu (Buchanania arborescens) dan damu (Elaeocarpus
floribundus). Keduanya bukan merupakan spesies yang dominan.
Natu (Buchanania arborescens) ditemukan yaitu pada ketinggian 600 m dpl dengan nilai INP 11,5% dan pada ketinggian 1000 m dpl dengan nilai INP 8,71%. Damu (Elaeocarpus floribundus) ditemukan pada ketinggian 600 m dpl dengan nilai INP 6,90% dan ketinggian 1600 m dpl dengan nilai INP 7,04%.
Famili yang paling banyak keberadaan spesiesnya sebagai papan bangunan adalah Meliaceae dengan 3 spesies, yaitu: dora (Dysoxylum alliaceum), worok (Dysoxylum nutans) dan ajang (Toona sureni) dan Podocarpaceae dengan 3 spesies yaitu: pinis (Podocarpus amarus), ruu (Podocarpus imbricatus) dan ruas (Podocarpus neriifolius).
Spesies penghasil papan bangunan sebagian besar memiliki kelimpahan yang tinggi pada ketinggian lebih dari 1600 m dpl. Hal ini disebabkan letak kawasan yang cukup jauh dan sulit untuk dijangkau oleh masyarakat. Namun demikian beberapa spesies memiliki penyebaran yang sempit seperti worok
(Dysoxylum nutans) dan cie (Maesa sp). Worok (Dysoxylum nutans) nilai INP 8,99% dan cie (Maesa sp) nilai INP sebesar 1,39%. Keduanya bukan merupakan spesies dominan.
Tabel 18. Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai papan bangunan
Nama Famili Nama Ilmiah Nama Lokal
Lokasi Ditemukan (m dpl) Anacardiaceae Buchanania arborescens Natu 600, 1.000 Elaeocarpaceae Elaeocarpus floribundus Damu 600, 1.600 Lauraceae Cryptocarya densiflora Wuhar 600, 1.100, 1.300
Litsea glutinosa Sewang 600, 1.100, 1.300
Lecythidaceae Planchonia valida Ngancar 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.600, 1.700 Magnoliaceae Manglietia glauca Lumu 900, 1.000, 1.100, 1.200,
1.300
Meliaceae Dysoxylum alliaceum Dora 600, 1.000, 1.500, 1.700, 1.800, 1.900
Dysoxylum nutans Worok 600
Toona sureni Ajang 1000, 1100, 1300
Myrtaceae Syzygium polyanthum Mess 600, 900, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000, 2.100
Podocarpaceae Podocarpus amarus Pinis 1.200, 1.300, 1.600
Podocarpus imbricatus Ruu 900, 1.000, 1.500, 1.700,
1.800, 1.900, 2000
Podocarpus neriifolius Ruas
1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1900 Sapotaceae Palaquium obovatum Kempo 600, 1200, 1300
Sapindaceae Pometia sp Maras 600
Theaceae Adinandra javanica Rukus 900, 1.200, 1.300, 1.600, 1.700, 2.000, 2.100 Ulmaceae Trema orientalis Redong 1.300, 1.600, 1.800
Spesies penghasil balok bangunan yang memiliki penyebaran paling luas adalah welu (Platea exelsa) walaupun bukan merupakan spesies dominan. Menyebar pada ketinggian 600 m dpl dengan nilai INP Pohon 3,03, ketinggian 900 m dpl dengan nilai INP 5,02%, 1000 m dpl dengan nilai INP 7,81%, 1100 m dpl INP 5,51%, 1300 m dpl 3,01%, 1500 m dpl 6,24%, 1600 m dpl 3,96%, 1700 m dpl INP 19,82%, 1800 m dpl INP 4,74%, 1900 m dpl 14,26% dan pada ketinggian 2000 m dpl dengan nilai INP 11,42%.
Tabel 19 Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai balok bangunan
Nama Famili Nama Ilmiah Nama Lokal Lokasi Ditemukan (m dpl) Anacardiaceae Buchanania arborescens Natu 600, 1.000
Cunonaceae Weinmannia blumei Larang 600, 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1.600, 1.900, 2.000 Elaeocarpaceae Elaeocarpus floribundus Damu 600, 1.600
Euphorbiaceae Glochidion parakense Ngantol 1.000, 1.100, 1.300, 1.500, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000 Icacinaceae Platea exelsa Welu 600, 900, 1.000, 1.100,
1.300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000
Lauraceae Cryptocarya densiflora Wuhar 600, 1.100, 1.300
Lecythidaceae Planchonia valida Ngancar 1.000, 1.100, 1.200, 1.300, 1.600, 1.700 Meliaceae Dysoxylum caulostachyum Wuapuu 1.000, 1.300, 1.500, 1.600, 1.900
Dysoxylum alliaceum Dora 600, 1.000, 1.500, 1.700, 1.800, 1.900
Dysoxylum nutans Worok 600
Myrtaceae Decaspermum fruticosum
Mpui Misar 1.900, 2000
Decaspermum triflorum Mpui 1200, 1.300, 1.500, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000
Eucalyptus urophylla Ampupu -
Syzygium sp Lokom 900, 1.000, 1.100, 1.200,
1.300, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000, 2.100
Myrsinaceae Maesa sp Cie 600
Podocarpaceae Podocarpus amarus Pinis 1.200, 1.300, 1.600 Rosaceae Prunus arborea Kenda 600, 1.300, 1.700
Theaceae Eurya acuminata Malawae 1.300, 1.600, 1.700, 1.800, 1.900, 2.000
Spesies yang memiliki dominansi paling tinggi yaitu: lokom (Syzygium sp) yang ditemukan pada ketinggian 900 m dpl dengan nilai INP 10,62%, kemudian 1000 m dpl dengan nilai INP 3,97%, 1100 m dpl4,98%, 1200 m dpl 8,70%, 1300 m dpl 16,01%,1700 20,44%, 1800 m dpl 20,28%, 1900 m dpl 13,95%, 2000 m dpl 28,92% (2000), dan pada ketinggian 2100 m dpl dengan nilai INP tertinggi sebesar 53,84%.
Famili penghasil balok bangunan yang paling banyak spesies adalah Myrtaceae, sebanyak 4 spesies, yaitu: mpui misar (Decaspermum fruticosum),
mpui (Decaspermum triflorum), ampupu (Eucalyptus urophylla) dan lokom (Syzygium sp). Satu spesies yaitu ampupu (Eucalyptus urophylla) tidak ditemukan dalam jalur pengamatan karena tumbuhan ini tumbuh di wilayah kawasan rehabilitasi. Tiga spesies lainnya merupakan spesies-spesies dominan pada ketinggian lebih dari 1700 m dpl.
Tumbuhan Untuk Pemenuhan Adat/Budaya
Pengambilan kayu di dalam hutan untuk membuat rumah gendang dilakukan selektif dan hati-hati disertai tata aturan upacara adat, membutuhkan waktu lama dan banyak hewan korban pada setiap tahapan upacara. Jenis kayu yang digunakan lumu (Manglietia glauca) terutama tiang penyangga utama yang dalam bahasa daerah disebut dengan siri bongkok. Kayu ini sangat disukai untuk rumah gendang karena tidak menyerap air, tidak terlalu keras tetapi tahan lama. Kayu yang menyerap air dipercaya akan menyerap rejeki dan yang terlalu keras dipercaya terlalu panas atau tidak nyaman untuk tinggal sehingga tidak digunakan untuk rumah gendang. Bangunan sangat tahan lama, lebih dari 30 tahun kecuali pada bagian atap yang terbuat dari ijuk.
Lumu (Manglietia glauca) sudah mulai jauh berkurang jumlahnya di dalam TWA Ruteng. Penebangan pohon ini pada masa lalu dilakukan secara bersama-sama di bawah pimpinan tokoh adat. Penebangan dilakukan setelah dilaksanakan upacara adat yang untuk saat ini nilai dan norma yang terkandung di dalamnya sulit untuk ditelusuri karena sudah mulai jarang dilakukan.
Di dalam kawasan TWA Ruteng, jenis kayu ini penyebarannya merata hampir di semua wilayah hutan, tidak termasuk jenis dominan, baik pada tingkat pohon, tiang, pancang, maupun anakan. Jenis ini terancam punah, sebagai akibat dari pengambilan yang dilakukan terus-menerus.
Pada jalur pengamatan lumu (Manglietia glauca) ditemukan pada ketinggian 900 m dpl dengan nilai INP 10,62% untuk tingkat pohon, ketinggian 1000 m dpl dengan nilai INP 5,24%, 1100 m dpl INP 3,09%, 1200 m dpl INP 4,66 dan ketinggian 1300 dengan nilai INP 4,07%
Di depan rumah adat selalu ditanam pohon langke (Ficus benjamina). Pohon ini merupakan salah satu pohon adat yang penting sebagai tanda
keberadaan pusat suatu kampung yang juga menunjukkan keberadaan tempat melakukan ritual adat bersama -sama.
Jenis tumbuhan adat yang ketiga adalah nao (Cordyline terminalis). Pohon ini ditanam sebagai penanda batas suatu lahan kepemilikan. Jenis perdu ini saat ini banyak ditemukan di luar kawasan di berbagai tempat sebagai tanda batas lahan pertanian milik suku ataup un pribadi.
Jenis tumbuhan adat yang keempat adalah teno (Melochia umbellata). Batang tanaman ini ditancapkan di tengah-tengah atau pusat pembagian lahan yang akan dibagi pada saat akan melakukan pembagian tanah warisan. Tokoh adat yang bertugas melakuka n pembagian tanah warisan dinamakan tu’a teno yang diambil dari nama tumbuhan ini.
Tumbuhan untuk Penggunaan Lainnya
Beberapa spesies memiliki kegunaan selain yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu: damer (Pterospermum diversifolium), ndingar (Cinnamomum
burmannii), sandal (Drymis piperita) dan puni (Cyathea tenggerensis). Data
mengenai spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan untuk penggunaan lainnya selengkapnya seperti disajikan pada Tabel 20.
Puni biasa ditemukan pada hutan sub pegunungan pada wilayah pinggiran hutan. Spesies ini dimanfaatkan batangnya untuk pagar kebun. Bagian atas batang ditutup dengan seng atau plastik untuk mencegah agar air hujan tidak masuk ke dalam batang sehingga lebih awet.
Ndingar (Cinnamomum burmanii) ditemui pada ketinggian 1.800 m dpl pada tingkat pertumbuhan pancang dengan INP 0,91% dan ketinggian 1.600 m dpl pada tingkat pertumbuhan anakan dengan nilai INP 0,92%. Pada tahun 1930 Heyne menemukan spesies ini di TWA Ruteng dominan pada berbagai ketinggian (Heyne 1987). Pemanenan kulit batang dilakukan dengan cara menebang pohon dan pemanfaatannya untuk dijual di pasar Ruteng membuat spesies ini semakin langka di dalam kawasan. Menurut masyarakat sekitar kawasan spesies ini masih mudah ditemui di dalam kawasan hingga akhir tahun 1990-an.
Tabel 20 Spesies tumbuhan TWA Ruteng yang dimanfaatkan oleh untuk penggunaan lainnya
Nama Famili Nama Ilmiah Nama Lokal
Kegunaan Lokasi Ditemukan (m dpl) Cyatheaceae Cyathea tenggerensis Puni Pagar kebun -
Lauraceae Cinnamomum burmanii Ndingar Bumbu masak 1.800 1.600 Sterculiaceae Pterospermum diversifolium Damer Campuran tuak 600
Winteraceae Drymis piperita Sandal Luka dalam guna-guna
-
Sandal (Drymis piperita) dipercaya untuk menyembuhkan luka dalam bukan hanya karena penyakit medis tetapi juga non medis yang disebabkan oleh guna-guna. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara menjemur daun tumbuhan ini hingga kering dan menumbuknya hingga halus dan diseduh dengan air panas. Spesies sejenis perdu ini menurut masyarakat hanya dapat ditemui pada wilayah dekat puncak gunung dengan ketinggian sekitar 2000 m dpl.
Damer (Pterospermum diversifolium) ditemui pada ketinggian 600 m dpl pada tingkat pertumbuhan pohon nilai INP 9,81% dan tiang nilai INP 4,52%. Tidak ditemukannya spesies ini pada tingkat pertumbuhan pancang dan anakan menunjukkan bahwa tidak adanya regenerasi sehingga pada beberapa tahun mendatang akan sulit ditemukan spesies ini pada wilayah hutan dataran rendah. Masyarakat sekitar TWA Ruteng memanfaatkan kulit batang damer (Pterospermum diversifolium) untuk campuran minuman keras (tuak) agar tidak berasa asam tetapi lebih pahit. Masyarakat yang tinggal di hutan sub pegunungan biasa menukar kulit batangnya dengan tuak karena spesies ini hanya ditemukan pada hutan dataran rendah.
Tumbuhan Potensial di Dalam TWA Ruteng
Tumbuhan potensial yang dimaksud adalah spesies tumbuhan yang ada di dalam TWA Ruteng yang dari studi literatur memiliki potensi untuk dimanfaatkan tetapi saat ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng. Potensi tumbuhan hutan TWA Ruteng bila ditinjau dari Heyne (1987), maka terdapat 3
jenis kegunaan yang belum dimanfaaatkan masyarakat sekitar TWA Ruteng, yaitu: tumbuhan penghasil pewarna, aromatik dan pestisida nabati.
Tumbuhan potensial sebagai pewarna terdapat 6 spesies untuk beberapa kegunaan antara lain: mewarnai anyaman, kerajinan rotan, sutera dan jala ikan, data selengkapnya disajikan pada Tabel 23. Tumbuhan aromatik spesies yang dapat dimanfaatkan adalah kenti (Leptospermum flavescens) dan untuk tumbuhan pestisida nabati spesies yang dapat dimanfaatkan adalah uwu (Bischoffia javanica). Spesies yang masih belum diketahui manfaatnya ini dapat memperkaya atau dijadikan sebagai tambahan pengetahuan bagi masyarakat sekitar kawasan TWA Ruteng.
Tabel 21 Spesies tumbuhan di TWA Ruteng yang memiliki potensi sebagai pewarna
Nama
Daerah Nama Ilmiah Nama Famili
Bagian Tumbuhan dan Kegunaan Ngampur Garcinia dulcis Clusiaceae Kayu untuk warna hijau
anyaman
Uwu Bischoffia javanica Euphorbiaceae Kulit batang untuk merah
kerajinan rotan Rebak Macaranga tanarius Euphorbiaceae Kulit batang untuk
mewarnai merah muda jala Puser Mallothus philippinensis Euphorbiaceae Buah untuk warna merah
sutera
Mpui Wara Syzygyum jamboloides Myrtaceae Kulit untuk cat warna hitam Mess Syzygium polyanthum Myrtaceae Kulit untuk warna hitam
anyaman
Spesies Endemik dan Memiliki Status Perlindungan
Spesies tumbuhan yang rentan terhadap kepunahan biasanya yang memiliki sebaran geografi yang sempit (endemik), yang memiliki populasi kecil dan yang diburu atau dipanen oleh manusia (Primack et al. 1998). Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah kepunahan suatu spesies adalah dengan menetapkan status perlindungan secara hukum. Di wilayah TWA Ruteng ditemukan sebanyak 3 spesies yang mendapatkan status perlindungan dan 1 spesies endemik. Spesies yang memiliki status perlindungan ata u endemik di wilayah TWA Ruteng disajikan pada Tabel 22.
Tabel 22 Spesies yang memiliki status perlindungan ata u endemik di wilayah TWA Ruteng
Nama
Daerah Nama Ilmiah/Famili Status
Lokasi Ditemukan (m dpl) Enau/tuak Arenga pinnata/
Arecaceae SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 (dilarang menebang diameter di bawah 40 cm) -
Cepang Caesalpinia sappan/
Caesalpiniaceae SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 (dilarang menebang diameter di bawah 10 cm) - Ndingar Cinnamomum burmanii/ Lauraceae SK Mentan No. 54/Kpts/Um/2/1972 (dilarang menebang diameter di bawah 25 cm) 1600, 1800
Giro Saurauia verheyenii/
Actinidiaceae
Endemik TWA Ruteng 900, 1.000, 1.100, 1.200, 1300, 1.500 1600
Enau (Arenga pinnata) biasa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk minuman tradisional. Keberadaan tumbuhan ini di wilayah TWA Ruteng biasa ditemukan di pinggiran hutan dataran rendah dan sub pegunungan. Di luar wilayah TWA Ruteng spesies ini banyak ditemui pada lahan milik masyarakat terutama pada wilayah sekitar hutan dataran rendah.
Kayu cepang (Caesalpinia sappan) biasa digunakan untuk memberikan warna merah air minum dan dipercaya dapat memurnikan air dan membersihkan ginjal. Menurut masyarakat tumbuhan ini sangat sulit ditemukan di dalam kawasan TWA Ruteng dan membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan kayunya. Masyarakat sekitar biasa menyimpan potongan kayu tumbuhan yang berwarna kemerahan ini dalam bentuk potongan kecil-kecil.
Ndingar (Cinnamomum burmanii) digunakan untuk bumbu masakan dan juga obat. Saat ini spesies ini mulai sulit untuk ditemukan di wilayah TWA Ruteng karena pemanenan dengan cara menebang pohon untuk mendapatkan kulit batangnya.
Spesies endemik TWA Ruteng yang ditemukan adalah giro (Saurauia
verheyenii). Menurut catatan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat dan mudah
ditemui di dalam kawasan. Spesies endemik ini pada jalur pengamatan ditemukan pada berbagai ketinggian mulai dari 900 sampai dengan 1600 m dpl, mendominasi pada tingkat pertumbuhan tiang ketingggian 1500 m dpl dengan INP sebesar 23%.
Pada tingkat pertumbuhan anakan ditemukan pada dua ketinggian yaitu: 1100 m dpl dengan INP sebesar 1,49%, dan 1300 m dpl dengan INP sebesar 2,68%. Hal ini menunjukkan bahwa dominansi pada tingkat pertumbuhan diatasnya tidak diikuti oleh tingkat pertumbuhan anakan sehingga keberadaannya di dalam kawasan untuk waktu yang akan datang perlu untuk mendapatkan perhatian.
Pola Waktu Pemanfaatan
Aktivitas pertanian masyarakat di lahan hutan telah memiliki pola waktu yang dipengaruhi oleh musim kegiatan pertanian di luar hutan. Bagi masyarakat yang bermatapencaharian pokok sebagai petani dan buruh tani, bulan Maret – April dan September – Oktober adalah saat dimana mereka harus berada di kebun untuk panen dan kemudian menanam kembali untuk tanaman padi. Demikian juga dengan kebun kopi yang ditanam oleh sebagian besar masyarakat selama bulan Maret – April merupakan saat panen yang tidak dapat ditinggalkan. Pola pemanfaatan waktu masyarakat sekitar TWA Ruteng disajikan pada Tabel 23. Tabel 23 Pola pemanfaatan waktu kegiatan masyarakat sekitar TWA Ruteng
Bulan Kegiatan
Di Luar Hutan Di Dalam Hutan
Januari R A Februari R A Maret P A April T A Mei R A Juni R A Juli R A Agustus R A September P A Oktober T A Nopember R A Desember R A
Keterangan: R = Merawat tanaman kebun campuran, P = Panen padi, T = Menanam padi, A = Aktivitas di dalam hutan
Jumlah penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian adalah sebesar 86% (BPS Manggarai 2005), dengan demikian di wilayah pedesaan sekitar TWA Ruteng dapat diperkirakan bahwa jumlah masyarakat selama empat bulan yaitu Maret – April dan September – Oktober setiap tahun
yang melakukan kegiatan pemanfaatan di dalam hutan adalah akan menurun drastis dibandingkan delapan bulan lainnya.
Masyarakat sekitar TWA Ruteng menerapkan pola kebun campuran untuk menjamin adanya aktivitas yang terus menerus dalam kebun walaupun dengan intensitas yang rendah. Di samping itu pola ini memberikan jaminan pendapatan, jika satu komoditi gagal panen maka masih ada harapan dari komoditi yang lain. Pemilik kebun tidak merawat tanaman secara intensif, seperti pemupukan, pemangkasan dan pengendalian hama penyakit, sehingga tanaman terkesan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Perawatan tidak memerlukan waktu lama sehingga waktu luang dilakukan untuk mengambil hasil hutan. Kegiatan masyarakat di kebun intensif hanya menjelang musim tanam dan panen tanaman padi.
Intensitas Pemanfaatan
Intensitas pemanfaatan hutan TWA Ruteng memiliki kaitan dengan budaya, kondisi minimnya lahan pertanian, iklim dan ekonomi penduduk sekitarnya. Kurangnya lahan yang produktif, kemiringan lahan dan juga terbatasnya lahan yang mendapatkan suplai air dari irigasi teknis menyebabkan kurang tingginya produksi lahan pertanian. Disamping itu masyarakat tidak memiliki alternatif usaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selain bertani dan memanfaatkan hasil hutan. Sebagian besar frekuensi pengambilan hasil hutan TWA Ruteng dilakukan untuk pengambilan jenis kayu bakar, yaitu sebesar 58% dan pengambilan kayu untuk bahan bangunan sebesar 12%, selebihnya sebesar 30% adalah untuk kebutuhan lainnya seperti pangan, pakan ternak, bahan tali dan kerajinan minuman dan kebutuhan lainnya (Gambar 15).
Kegiatan pemanfaatan kayu bakar dan kayu bangunan dibandingkan dengan pemanfaatan jenis hasil hutan lainnya berdampak kerusakan hutan atau pemanfaatan yang kurang lestari. Pemanfaatan kayu bangunan banyak dilakukan bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan subsisten tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan kayu pembangunan kota Ruteng yang tidak mendapatkan suplai kayu dari luar daerah. Pengambilan kayu bangunan dilakukan secara tersembunyi tanpa sepengetahuan petugas kehutanan.
Gambar 15 Frekuensi pemanfaatan tiap jenis hasil hutan TWA Ruteng. Keterangan: TO = tumbuhan obat, KBH = karbohidrat, S = sayur, B = buah,
BB = bahan bangunan, PT = pakan ternak, PN = pestisida nabati, TH = tumbuhan hias, L = lainnya, BTK = bahan tali dan kerajinan, PW = pewarna, KB = kayu bakar, M = minuman
(hasil pengisian kuesioner 90 responden dan tiap responden melakukan lebih dari satu jenis pengambilan hasil hutan).
Pemanfaatan kayu bakar, saat ini juga dilakukan untuk meme nuhi kebutuhan kayu bakar masyarakat kota Ruteng. Dengan naiknya harga bahan bakar minyak tanah, masyarakat dan juga terutama rumah makan di kota Ruteng mulai menggunakan kayu bakar untuk memasak dan membutuhkan jumlah kayu bakar yang cukup besar setiap hari.
Pengambilan kayu bakar tidak hanya dilakukan pada kayu yang sudah kering tetapi juga dilakukan dengan cara menebang pohon hidup, membiarkannya kering di hutan dan untuk kemudian dibawa keluar hutan seminggu kemudian dalam keadaan kering. Hal ini dilakukan untuk megelabuhi petugas kehutanan. Penjualan kayu bakar marak dilakukan di tepi-tepi jalan luar kota. Data jenis tumbuhan dan frekuensi pengambilan selengkapnya disajikan pada Lampiran 11.
Gambar 16 Persentase Frekuensi pemanfaatan kayu bangunan dan kayu bakar selama setahun di TWA Ruteng
Kayu Bangunan
46% 29% 25% Hutan pegunungan Hutan sub pegunungan Hutan dataran rendah29% 34% 37%
Kayu Bakar
5% 1% 7% 2% 12% 5% 1% 0% 4% 0% 58% 1% 4% TO KBH S B BB PT PN TH BTK PW KB M LFrekuensi pemanfaatan tumbuhan untuk keperluan bahan bangunan yang dilakukan oleh masyarakat sebagian besar berada di wilayah sekitar hutan pegunungan, yaitu sebesar 46% dan hutan sub pegunungan sebesar 29% dan yang terakhir adalah di hutan dataran rendah sebesar 25% (Gambar 9). Besarnya frekuensi pemanfaatan kayu bangunan di wilayah pegunungan dimungkinkan oleh potensi kayu di hutan pegunungan lebih besar daripada di wilayah sub pegunungan dan dataran rendah. Untuk pengelolaan kawasan atau pengembangan wilayah desa penyangga, diperlukan perhatian yang lebih besar untuk pengembangan tumbuhan penghasil kayu di wilayah sub pegunungan dan dataran rendah.
Gambar 17 Frekuensi pemanfaatan tumbuhan TWA Ruteng selama setahun Keterangan: TO = tanaman obat, KH = karbohidrat, S = sayur, B = buah, BB = Bahan
Bangunan, PT = pakan ternak, PN = pestisida nabati, TH, Tumbuhan hias, BTK = bahan tali dan kerajinan, PW = pewarna, KB = Kayu Bakar, M = minuman, L = lainnya (hasil pengisian kuesioner 90 responden dan tiap responden melakukan lebih dari satu jenis pengambilan hasil hutan).
Persentase pemanfaatan kayu bakar di ketiga wilayah pengamatan tidak jauh berbeda. Di wilayah sub pegunungan persentase pengambilan sedikit lebih besar yaitu: 37%, pegunungan 34% dan dataran rendah 29%. Hal ini disebabkan pemanfaatan kayu bakar yang dapat dilakukan untuk semua spesies tumbuhan berkayu yang dapat dikeringkan sehingga besar pemanfaatan tidak tergantung pada potensi kayu di dalam hutan.
Frekuensi pemanfaatan tumbuhan obat, sumber karbohidrat, dan pakan ternak sebagian besar dilakukan masyarakat di sekitar hutan pegunungan. Pemanfaatan sayuran, pestisida nabati, bahan tali dan kerajinan dan minuman
347 75 527 182 861 336 65 20 321 10 4300 69 306 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 TO KH S B BB PT PN TH BTK PW KB M L Jenis Pemanfaatan Frekuensi Setahun
sebagian besar dilakuka n oleh masyarakat yang hidup di wilayah sub pegunungan dan pemanfaatan sayuran, bahan tali dan kerajinan dan kebutuhan lainnya banyak dilakukan oleh masyarakat ang bermukim di wilayah dataran rendah. Besar kecilnya intensitas pemanfaatan spesies tumbuhan hutan tersebut terkait dengan potensi tumbuhan yang ada di dalam kawasan hutan, misalnya masyarakat di dataran rendah lebih banyak memanfaatkan tumbuhan kegunaan lain yaitu damer (Pterospermum diversifolium) yang hanya tumbuh di wilayah itu. Demikian juga masyarakat di sub pegunungan lebih banyak memanfaatkan sayuran yang dengan mudah didapatkan di sekitar Danau Ranamese yaitu selada (Nasturtium officinale). Frekuensi pemanfaatan tumbuhan TWA Ruteng selama setahunyang dilakukan oleh 90 orang responden disajikan pada Gambar 17.
Rata-rata frekuensi pemanfaatan sumberdaya tumbuhan hutan TWA Ruteng yang paling banyak adalah di wilayah hutan sub pegunungan yaitu sebanyak 52,67 kali selama setahun untuk setiap individu, kemudian wilayah pegunungan sebanyak 49,20 kali per individu per tahun dan terakhir untuk wilayah dataran rendah sebanyak 41,47 kali per individu per tahun (Gambar 18).
Gambar 18 Rata-rata frekuensi pemanfaatan setahun per individu tumbuhan hutan di TWA Ruteng.
Masyarakat di wilayah sub pegunungan lebih banyak memanfaatkan kayu bakar, dalam jumlah besar memiliki nilai uang tunai yang cukup tinggi sehingga lebih banyak masuk hutan untuk mendapatkannya. Masyarakat di pegunungan walaupun lebih sedikit frekuensi memanfaatkan sumberdaya hutan namun mendapatkan lebih banyak nilai uang dari hasil pengambilan kayu bangunan.
49.20 52.67 41.47 0 10 20 30 40 50 60 HUTAN PEGUNUNGAN HUTAN SUB PEGUNUNGAN HUTAN DATARAN RENDAH
Dalam upaya pengelolaan pengambilan kayu bakar dan kayu bangunan perlu untuk mendapatkan perhatian serius karena dapat memberikan dampak pada pemanfatan hutan secara tidak lestari, bahkan dapat berakibat kepunahan pada spesies yang disukai.
Nilai Ekonomi Hasil Hutan
Pengambilan hasil hutan pada umumnya hanya digunakan untuk keperluan sendiri atau subsisten. Untuk keperluan uang tunai hasil hutan yang diambil adalah kayu bakar dan kayu bangunan. Pemanfaatan kayu bangunan dari hutan TWA Ruteng disebabkan tidak adanya suplai kayu dari luar daerah dan terbatasnya hasil kayu di luar hutan. Satu buah papan atau balok biasanya dijual seharga Rp. 20.000,-. Sedangkan kayu bakar biasa dijual per satu ikat seharga Rp. 1.000,-, Rp 2.000,- atau Rp. 3.000,- tergantung banyaknya kayu dalam satu ikatan. Pengambilan rotan untuk anyaman kerajinan biasanya ditukar dengan gabah. Banyaknya gabah sejumlah besarnya wadah yang ditukar terisi penuh.
Rata-rata pendapatan selama satu tahun dari hasil pengisian responden 90 orang responden adalah sebagai berikut:
a) pendapatan pokok = Rp. 4.055.000,- b) pendapatan sampingan = Rp. 3.500.000,-
c) pendapatan total di luar hasil hutan = Rp. 7.555.000,-
Kontribusi pendapatan dari hasil hutan didapat dari persentase antara pendapatan dari jenis hasil hutan dibagi dengan total pendapatan di luar hasil hutan ditambah pendapatan dari hasil hutan tersebut. Contoh untuk perhitungan kontribusi pendapatan dari jenis hasil hutan adalah sebagai berikut:
Pendapatan dari hasil bahan bangunan selama setahun = Rp. 7.632.000,- maka kontribusi pendapatan dari kayu bakar = (7.632.000 : (7.555.000 + 7.632.000)) x 100%, pada perhitungan ini didapatkan hasil 50,25%. Dengan cara ya ng sama maka kontribusi pendapatan untuk tiap-tiap jenis hasil hutan adalah seperti disajikan pada Tabel 24.
Hasil perhitungan kontribusi didapatkan hasil bahwa yang memberikan kontribusi pendapatan keluarga tertinggi dalam setahun adalah kayu bangunan sebesar 50,36%, kayu bakar sebesar 21,78% dan bahan kerajinan sebesar 15,04%.
Tabel 24 Jenis-jenis pemanfaatan tumbuhan hutan dan nilai kontribusinya terhadap total pendapatan keluarga
Jenis Pemanfaatan Tumbuhan Volume (ikat/ batang/ lembar) Rata-rata Frekuensi setahun Harga Penjualan Rp. Pendapatan (Rp/th) Rata-rata Kontribusi Pendapatan dari Hutan % Tanaman Obat 1 6,20 15.000,- 93.000,- 0,012 Karbohidrat 3 8,33 5.000,- 124.950,- 0,016 Sayur 5 20,3 2.000,- 203.000,- 0,026 Buah 2 15,2 5.000,- 151.600,- 0,020 Papan/Balok 10 31,9 20.000,- 7.664.000,- 50,36 Pakan ternak 1 30,5 15.000,- 458.100,- 0,057 Pestisida Nabati 3 3,25 5.000,- 49.750,- 0,006 Tanaman Hias 5 1,25 10.000,- 65.000,- 0,009 Bahan Kerajinan 2 26,8 25.000,- 1.337.500,- 15,04 Pewarna 2 2,50 6.000,- 30.000,- 0,004 Kayu bakar 25 47,8 2.000,- 2.103.200,- 21,78 Minuman 1 13.8 15.000,- 207.000,- 0,026 Lainnya 1 8.74 15.000,- 130.000,- 0,017
Rata-rata frekuensi pengambilan hasil hutan berupa kayu bangunan sebesar 31,9 walaupun lebih rendah dari kayu bakar sebesar 47,5 namun memberikan kontribusi pendapatan yang jauh lebih besar. Hal ini menyebabkan pemanfaatan hasil hutan untuk kayu bangunan lebih diminati daripada pengambilan untuk kegunaan lainnya sehingga dalam pengelolaan kawasan upaya pemenuhan kebutuhan kayu bangunan memerlukan perhatian yang lebih besar daripada penggunaan untuk kebutuhan lainnya.
Sebagian besar masyarakat yang mendapatkan kontribusi pendapatan dari hasil hutan sebesar Rp. 10 – 20 juta dan lebih dari Rp. 20 juta per tahunnya berada di wilayah pegunungan, besarnya kontribusi ini didapatkan dari hasil penjualan kayu bangunan yang rata-rata dapat memberikan kontribusi terhadap total pendapatan sampai sebesar 50,35%
Sebagian besar masyarakat mendapatkan kontribusi dari hasil hutan sebesar Rp. 0-2 juta pertahun, dan yang terbesar diantaranya adalah pada wilayah hutan dataran rendah. Besarnya jumlah masyarakat yang mendapatkan kontribusi pendapatan minimum dari hasil hutan tersebut disebabkan sebagian besar masyarakat memanfaatkan sumberdaya tumbuhan hutan hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri (subsisten). Pemanfaatan subsisten meliputi tumbuhan obat,
pangan, pakanternak, pestisida nabati, tumbuhan hias, bahan tali dan kerajinan, pewarna, minuman dan lainnya mencukupi lebih banyak aspek kebutuhan dan sedikit kontribusinya terhadap pendapatan tunai yang disebabkan kebutuhan tersebut tidak memiliki nilai jual di pasar.
Pemanfaatan subsisten ini lebih lestari dibandingkan kayu bangunan dan kayu bakar meskipun memberikan kontribusi pendapatan yang lebih kecil, sehingga dalam upaya pengelolaan perlu untuk mendapatkan perhatian sebagai suatu sarana penyuluhan dan penyadaran masyarakat akan pemanfaatan lestari. Pemanfaatan subsisten acap kali lebih menyentuh pada budaya masyarakat setempat sehingga dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan rasa ikut memiliki hutan dan upaya pelestarian.
Gambar 19 Kontribusi pendapatan dari hasil hutan masyarakat sekitar TWA Ruteng.
Keterangan: 1 = Rp. 0-2juta, 2 = Rp. 2-4juta, 3 = Rp. 4-6 juta, 4 = Rp. 6-8 juta, 5 = Rp. 8-10 juta, 6 = Rp.10-20 juta, 7 = > Rp. 20 juta.
Tingkat Ketergantungan Masyarakat terhadap Hutan
Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan ditentukan dengan menghitung nilai persentase dari penjumlahan antara: Y1 = jumlah jenis hasil
hutan yang diambil Y2 = frekuensi pengambilan hasil hutan dan Y3 = kontribusi
pendapatan dari hasil hutan terhadap total pendapatn keluarga. Hasil perhitungan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan diperoleh nilai antara 20% sampai dengan 87% dengan nilai rata-rata 68,22%.
0 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 1 2 3 4 5 6 7 Kontribusi Pendapatan
Hutan Pegunungan Hutan Sub Pegunungan Hutan Dataran Rendah Jumlah Responden
Masyarakat yang tingkat ketergantungannya terhadap sumberdaya hutan sangat tinggi (81-100%) sebagian besar tinggal di wilayah pegunungan, sedangkan tingkat ketergantungan sangat rendah (0-20%) sebagian besar tinggal di wilayah dataran rendah. Tinggi atau rendahnya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan tergantung dari jumlah jenis, frekuensi pengambilan dan nilai kontribusi jenis yang diambil. Masyarakat di wilayah pegununga n mendapatkan kontribusi pendapatan yang lebih besar karena wilayah ini lebih banyak memanfaatkan kayu bangunan yang memiliki nilai uang lebih besar.
Masyarakat yang berada di sub pegunungan mendapatkan kontribusi 21-40% dan 41-60% terbanyak dibandingkan wilayah lainnya disebabkan pemanfaatan kayu bakar sebagian besar berada di wilayah ini. Nilai kayu bakar memberikan kontribusi kedua terbesar dibandingkan dengan kayu bangunan yang lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di pegunungan.
Gambar 20 Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan. Keterangan : 1 = (0-20%), 2 = (21-40%), 3 = (41-60%), 4 = (61-80%), 5 = (81-100%)
Persamaan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan TWA Ruteng adalah : Y = 0,708 + 0,0261 X3 + 0,0216 X4 – 0,162 X8. Faktor-faktor yang
memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat ketergantungan masyarakat pada hasil hutan adalah jumlah tanggungan keluarga, jenis mata pencaharian pokok dan jarak tempat tinggal dengan sumberdaya hutan.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 0 - 20% 21 - 40% 41 - 60% 61 - 80% 81 - 100% Tingkat Ketergantungan
Hutan Pegunungan Hutan Sub Pegunungan Hutan Datan Rendah Jumlah Responden