Suplemen Responsi Pertemuan
ANALISIS DATA KATEGORIK (STK351)
10
Departemen Statistika – FMIPA IPB
Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Referensi Waktu
Tabel Kontingensi Struktur peluang tabel kontingensi Perbandingan proporsi pada tabel
kontingensi 2 2 Odds ratio
Review uji kebebasan khi-kuadrat Uji kebebasan untuk data ordinal Uji exact untuk contoh kecil Asosiasi dalam tabel tiga-arah
An Introduction to Categorical Data Analysis (2ndEdition) Agresti (2007) Jumat 7 Desember 2011 15.45 – 17.45
Sebagian bahasan mengenai tabel kontingensi sudah dipelajari mulai pertemuan kelima. Pada pertemuan ini, pembahasan tabel kontingensi akan diarahkan pada beberapa sub-pokok bahasan mencakup : struktur peluang, perbandingan proporsi, odds ratio, review uji kebebasan khi-kuadrat, uji kebebasan untuk data ordinal, uji exact untuk contoh kecil serta uji asosiasi dalam tabel tiga-arah. Untuk memulai pembahasan, perhatikan tabel yang merekam frekuensi contoh berdasarkan jenis kelamin dan perolehan IPK (<3.00 dan ≥3.00) berikut.
Jenis Kelamin Kelompok IPK
≥3.00 <3.00 Total
Putra 21 11 32
Putri 24 8 32
Total 45 19 64
Tabel di atas (selanjutnya disebut tabel sebaran IPK) disebut tabel kontingensi, yaitu sebuah tabel yang menampilkan frekuensi (counts) dari peubah respon dalam setiap sel. Tabel kontingensi yang menampilkan dua peubah kategorik sekaligus disebut tabel kontingensi dua-arah. sedangkan tabel kontingensi dengan I baris dan J kolom disebut tabel kontingensi
I J, disingkat tabel I J. Tabel di atas adalah tabel 2 2.
Struktur peluang untuk tabel kontingensi
Peluang bersama, marginal dan bersyarat
Misalkan sejumlah contoh diambil secara acak dari populasi tertentu dan diklasifikasikan berdasarkan peubah X dan Y. Peluang (X, Y) berada pada baris ke-i dan kolom ke-j adalah ij = P(X=i, Y=j). Maka, peluang {ij} membentuk peluang bersama (joint
probability) dari X dan Y, dalam hal ini i j,
ij 1. Peluang marginal adalah jumlah peluang bersama pada baris dan kolom tertentu. Peluang marginal untuk peubah baris dinyatakan dengan {i+} dan untuk peubah kolom dinyatakan dengan {+j}.Pada banyak tabel kontingensi, satu peubah merupakan respon (Y) dan peubah lainnya adalah penjelas (X). Sebaran peluang Y untuk setiap taraf X disebut sebagai peluang bersyarat atau conditional probabilities.
Perhatikan kembali tabel sebaran IPK. Untuk sel (1, 1) proporsi bersama adalah p11 = 11/64 = 0.172. Jika kelompok IPK adalah respon dan jenis kelamin adalah peubah penjelas maka proporsi bersyarat dapat ditentukan sebagai berikut : Untuk putra, proporsi “<3.00” adalah 11/32 = 0.344 dan proporsi “≥3.00” adalah 21/32 = 0.656, sehingga sebaran proporsi bersyarat adalah (0.344, 0.656). Sedangkan untuk putri adalah (0.250, 0.750).
Sensitivitas dan Spesifisitas
Sensitivitas dan spesifisitas merupakan salah satu alat dalam diagnosa. Awalnya, kedua statistik ini digunakan untuk melakukan diagnosa kesehatan, namun pada perkembangannya juga digunakan dalam diagnosa model-model statistika. Perhatikan tabel berikut :
Kondisi sebenarnya (S) Hasil pengujian (T) Positif (+) Negatif (-) Sakit (+) a b Sehat (-) c d
Berdasarkan tabel di atas, dapat didefinisikan :
Sensitivitas peluang bahwa hasil pengujian menunjukkan bahwa seseorang positif terjangkit penyakit apabila faktanya orang tersebut memang terjangkit penyakit, atau ditulis :
(
|
)
a
sen P T
S
a b
Spesifisitas peluang bahwa hasil pengujian menunjukkan bahwa seseorang tidak terjangkit penyakit apabila faktanya orang tersebut memang tidak terjangkit penyakit, atau ditulis :
(
|
)
d
spe P T
S
c d
Idealnya, alat uji atau model statistika mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Akan tetapi, ketika mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, kadangkala kita masih mempunyai beberapa kesalahan yaitu :
Salah positif terjadi ketika hasil pengujian menyatakan positif terjangkit penyakit untuk
orang yang sebenarnya tidak terjangkit penyakit.
(
|
)
c
F
P S
T
a c
Salah negatif terjadi ketika hasil pengujian menyatakan tidak terjangkit penyakit untuk
orang yang sebenarnya terjangkit penyakit.
(
|
)
b
F
P S
T
b d
Dalam statistika, diagnosis model menggunakan sensitivitas dan spesifisitas umumnya digunakan dalam analisis regresi logistik biner.
Kebebasan pada tabel kontingensi
Dua peubah (X, Y) dalam tabel kontingensi dikatakan saling bebas secara statistika apabila distribusi peluang bersyarat dari Y adalah identik untuk setiap level X. Jika kedua
peubah merupakan respon, maka dua peubah dinyatakan saling babas apabila semua peluang bersama sama dengan perkalian dari peluang-peluang marginalnya. Ditulis :
ij i j
untuk i = 1, 2, ..., I dan j = 1, 2, ..., JPerbandingan proporsi pada tabel 2 2
Uji beda proporsi
Misalkan untuk pengamatan pada baris ke-i, imenyatakan peluang “sukses” dan 1 –
imenyatakan peluang gagal untuk i=1, 2. Sehingga beda proporsi 1 2membandingkan
peluang sukses pada dua baris. Untuk data contoh, p1– p2merupakan penduga bagi 1 2.
Galat baku bagi p1– p2adalah :
1 1 2 2 1 2
(1
)
(1
)
p
p
p
p
SE
n
n
sehingga, untuk contoh berukuran besar selang kepercayaan 100(1α)% bagi 1 2(disebut
selang kepercayaan Wald) adalah :
2
1 2
(
p
p
)
z SE
Perhatikan kembali tabel sebaran IPK. Anggaplah bahwa sukses adalah keberhasilan memperoleh IPK IPK≥3.00, dan misalkan 1 adalah peluang mahasiswa putra memperoleh
IPK≥3.00 dan 2 adalah peluang mahasiswa putri memperoleh IPK≥3.00, maka hipotesis nol
bahwa 1= 2: p1= 21/32 = 0.656 p2= 24/32 = 0.750 p1– p2= 0.094
0.656(0.344) 0.75(0.25)
0.114
32
32
SE
selang kepercayaan 95% bagi 1 2adalah 0.094 1.96(0.114), atau 0.094 0.223.
Sehingga hipotesis nol bahwa 1= 2diterima pada taraf nyata 5%.
Risiko relatif
Beda dua proporsi penting digunakan jika nilai kedua proporsi tersebut mendekati nilai 0 atau 1. Apabilai nilai kedua proporsi berada di tengah-tengah, risiko relatif (relative risk) lebih relevan. Risiko relatif adalah :
1 2
risiko relatif =
Odds ratio
Ukuran asosiasi lain yang dapat digunakan untuk tabel 2 2 adalah odds ratio. Odds
ratio biasanya muncul disebagian besar model yang melibatkan data kategorik. Untuk
peluang “sukses” , nilai odds sukses adalah :
odds =
1
denganodds 1
Sebagai contoh, untuk = 0.60 mempunyai odds sukses sebesar 0.60/0.40 = 1.50. Ketika nilai
odds = 1.50, sukses adalah 1,5 kali gagal. Ada dengan kata lain kita berharap ada 3 kali
sukses untuk 2 kali gagal.
Pada tabel 2 2, odds sukses untuk baris ke-1 adalah
odds = / (1
1
1
1)
dan untuk baris ke-2 adalahodds =
2
2/ (1
2)
. Rasio dua odds tersebut disebut odds ratio (), yangditulis sebagai : 1 1 1 2 2 2 odds / (1 ) odds / (1 )
Odds ratio merupakan bilangan non-negatif. Jika peubah X dan Y saling bebas, 1= 2
sehingga odds1= odds2dan = odds1/odds2= 1.
Jika kedua peubah dalam tabel 2 2 merupakan peubah respon, maka odds ratio didefinisikan melalui peluang bersama :
11 12 11 22 21 22 12 21 / /
Untuk tabel sebaran IPK, odds sukses adalah odds1 = 21/11 = 1.91 untuk putra dan odds2 =
24/8 = 3 untuk putri. Sehingga odds ratio contoh adalah
1.91
0.637
3
.
Inferensia odds ratio dan log odds ratio
Sebaran penarikan contoh bagi odds ratio sangat tidak simetris (menjulur), karenanya inferensia statistika bagi odds ratio menggunakan log natural dari odds ratio, log
. Kebebasan sepadan dengan = 1 atau log
= 0. Log odds ratio contoh, log
mempunyai sebaran yang menghampiri normal dengan rataan log
dan galat baku :11 12 21 22
1
1
1
1
SE
n
n
n
n
Sehingga selang kepercayaan 100(1α)% bagi log
adalah :2
log
z SE
1
1
1
1
0.305
11 21 8 24
SE
; sehingga selang kepercayaan 95% bagi log
yang dapat dibentuk adalah 0.451 1.96(0.305) atau (1.0488, 0.1468), atau ekuivalen dengan selang bagi : [exp( 1.0488), exp(0.1468)] (0.350, 1.158)
Hubungan odds ratio dengan risiko relatif
Hubungan antara odds ratio dengan risiko relatif dituliskan dalam formula :
1 1 2
2 2 1
/ (1
)
1
odds ratio =
risiko relatif
/ (1
)
1
p
p
p
p
p
p
Perhatikan tabel sebaran IPK. Telah dihitung bahwa p1 = 21/32 = 0.656, p2= 24/32 = 0.750
dan risiko relatif = 0.875, sehingga :
0.250
odds ratio 0.875
0.637
0.344
Uji kebebasan khi-kuadrat
Uji khi-kuadrat Pearson dan statistik likelihood-ratio
Untuk menguji kebebasan dua peubah dalam tabel I J, statistik uji khi-kuadrat dan
likelihood-ratio adalah 2 2
(
)
Khi-kuadrat Pearson :
ij ij ijn
X
2 Likelihood-ratio : 2 log ij ij ij n G n
Dalam hal ini
X
2 dan G2 mengikuti sebaran khi-kuadrat dengan derajat bebas (I1)(J1)dan
adalah frekuensi harapan, yang dapat dihitung dengan rumus : j i j i ij i jn
n n
n
np p
n
n
n
n
Tiap sel pada tabel berikut menunjukkan frekuensi teramati (atas) dan frekuensi harapan (bawah) untuk tabel sebaran IPK.
Jenis Kelamin Kelompok IPK
≥3.00 <3.00 Total Putra 21 22.5 9.511 32 Putri 24 22.5 9.58 32 Total 45 19 64
Sehingga dapat diperoleh :
2 2 2 2
2 (21 22.5) (11 9.5) (24 22.5) (8 9.5) 0.674
22.5 9.5 22.5 9.5
2
2 (21) log
21
(11) log
11
(24) log
24
(8)log
8
0.676
22.5
9.5
22.5
9.5
G
Untuk derajat bebas 1 dan taraf nyata 5% diperoleh nilai tabel khi-kuadrat sebesar 3.84. Sehingga berdasarkan uji
X
2 maupun G2 jenis kelamin dan IPK saling bebas.
Sisaan dalam tabel kontingensi
Untuk menguji kebebasan, dapat juga menggunakan sisaan sel pada tabel kontingensi dengan rumus : 1
(1
)(1
)
ij ij ij ij jn
e
p
p
Penyebut pada rumus di atas merupakan galat baku bagi nij
ij. Sehingga eijmerupakan sisaan terbakukan. Untuk tabel sebaran IPK, pada sel pertama diketahuin
11
21
,
11
22.5
,1
32 / 64 0.5
p
dan pj 45 / 65 0.692 , sehingga sisaan terbakukan untuk sel iniadalah : 11
21 22.5
0.806
22.5(1 0.5)(1 0.692)
e
Uji kebebasan untuk data ordinal
Pola linier
Ketika peubah (baris dan/atau kolom) yang diuji diukur dalam skala ordinal, uji kebebasan menggunakan uji
X
2 dan G2, informasi urutan data diabaikan. Sebagaialternatif, dapat digunakan uji asosiasi pola (trend association) . Untuk memeriksa adanya asosiasi pola, analisis sederhana memberikan peringkat atau skor kepada kategori dan mengukur derajat pola linier. Statistik uji yang digunakan sensitif terhadap arah pola linier (positif atau negatif) dengan mamanfaatkan korelasi data. Misalkan
u
1
u
2
u
I adalah adalah skor danu
i iu p
i adalah rata-rata skor untuk baris, sedangkanv
1
v
2
v
Jdan v i iv pj untuk kolom. Jumlah i j, (uiu v)( iv p) ij merupakan kovarian X dan Y. Korelasi antara X dan Y merupakan kovarian dibagi dengan perkalian antara simpangan baku
X dan Y, ditulis : , 2 2 ( )( ) ( ) ( ) i j i j ij i i i j j j u u v v p r u u p v v p
Untuk menguji H0 : kedua peubah saling bebas lawan H1: kedua peubah berkorelasi (≠0)
digunakan statistik uji :
2
(
1)
2M
n
r
Untuk n besar,
M
2menyebar khi-kuadrat dengan derajat bebas 1.IPM Daerah tertinggal Ya Tidak Total 0 ≤ IPM < 60 13 0 13 60 ≤ IPM < 70 117 77 194 70 ≤ IPM < 100 29 158 187 Total 159 235 394
Pemilihan skor dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan peringkat-tengah (mid-rank). Menggunakan cara ini, pengamatan diberi skors 1 sampai n. Perhatikan tabulasi data profil daerah yang menampilkan frekuensi (n) dan frekuensi harapan (
) daerah berdasarkan IPM (indeks pembangunan manusia) dan status daerah tertinggal menurut KPDT di atas. Baris pertama, 0 ≤ IPM < 60, diberi skor (1+13)/2 = 7. Baris kedua, 60 ≤ IPM < 70, akan mempunyai skor (1+13+(13+194))/2 = 110.5, sedangkan baris ketiga akan mempunyai skor 301. Coba lanjutkan perhitungan, berapa nilai korelasi antara IPM dan status daerah tertinggal? PROC FREQ memberikan nilai r = 0.499 dan M2= 393 (0.499)2=97.943.
Fisher’s exact test untuk contoh kecil pada tabel 2 2
Selang kepercayaan dan pengujian yang dilakukan sejauh ini digunakan untuk contoh berukuran besar. Semakin besar ukuran contoh, maka
X
2, G2 danM
2 akan menghampirisebaran khi-kuadrat. Akan tetapi, jika ukuran contoh kecil, inferensia menggunakan sebaran
exact lebih tepat dibandingkan dengan hampiran contoh-besar. Pada tabel 2 2, kebebasan
dua peubah ditandai dengan = 1. Pada tabel ini, untuk jumlah baris dan kolom marginal tertentu, frekuensi pada sel pertama (n11) menentukan frekuensi pada ketiga sel lainnya.
Ketika = 1, peluang untuk nilai n11dinyatakan oleh
1 2 11 1 11 11 1
( )
n
n
n
n
n
P n
n
n
yang merupakan peluang hipergeometrik. Pada pengujian H0 : peubah saling bebas = 1
lawan H1: > 1, p-value merupakan peluang hipergeometri sebelah kanan bahwa n11 lebih
besar atau sama dengan frekuensi teramati.
Sebagai contoh, seorang peramal mengaku dapat melihat benda yang diletakkan di dalam kotak tertutup. Untuk membuktikan klaim tersebut, dilakukan percobaan sederhana sebagai berikut : sepuluh bola, lima berwarna hitam dan lima berwarna putih, dimasukkan ke dalam sepuluh kotak sedemikian sehingga satu kotak hanya berisi satu bola. Kotak semuanya ditutup rapat. Selanjutnya, sepuluh kotak tersebut diacak posisinya sehingga tidak diketahui dengan pasti di kotak mana bola warna hitam dan putih tersebut berada. Lalu, peramal diminta untuk menebak warna bola dalam kesepuluhu kotak tersebut, kemudian satu-per-satu kotak dibuka sehingga warna bola dapat diketahui. Hasilnya adalah sebagai berikut :
Warna
sebenarnya Hasil ramalanHitam Putih Total
Hitam 3 2 5
Putih 2 3 5
Total 5 5 10
Berdasarkan tabel di atas, ada tiga hasil ramalan yang cocok, sehingga :
5 5
5!/ (3!)(2!) 5!/ (2!)(3!)
3 2
(3)
0.3968
10
10!/ (5!)(5!)
5
P
Dengan perhitungan yang sama diperoleh P(4) 0.0992 dan P(5) 0.0040 . Karenanya, klaim peramal tersebut sangat diragukan (p-value=0.5). Sementara untuk membuktikan klaimnya dengan tingkat kepercayaan 85%, peramal tersebut setidaknya harus mampu menemukan 4 bola hitam dan putih secara benar (p-value=0.1032). Tabel berikut meringkas sebaran geometrik untuk percobaan meramal di atas.
n11 Peluang p-value 0 0.0000 1.0000 1 0.0992 0.9960 2 0.3968 0.8968 3 0.3968 0.5000 4 0.0992 0.1032 5 0.0040 0.0040
P-value dengan perhitungan seperti ini biasanya bersifat konservatif, dikarenakan
tingkat galat yang sebenarnya lebih kecil daripada galat yang ditetapkan. Untuk itu, disarankan menggunakan mid p-value. Untuk kasus peramal di atas, saat n11 = 3, besarnya
mid p-value = P(3)/2 + P(4) + P(5) = (0.5/2) + 0.1032 + 0.004 = 0.3572. Seandainya n11= 4,
maka mid p-value = (0.1032/2) + 0.004 = 0.0556.
Asosiasi pada tabel tiga arah
Sebuah tabel tiga arah menampilkan frekuensi dari tiga peubah, misalnya X, Y dan Z. Sebagai contoh, tabel berikut merupakan tabel kontingensi 2 2 2, terdiri dari dua kolom, dua baris dan dua lapisan, yang merekam frekuensi mahasiswa berdasarkan jenis kelamin (Z), aktivitas organisasi (X) dan tingkat IPK (Y).
Jenis Kelamin Organisasi Kelompok IPK≥3.00 <3.00 Total
Putra Aktif 5 1 6
Tidak aktif 16 10 26
Putri Aktif 7 3 10
Tidak aktif 17 5 22
Total 45 19 64
Misalkan kita ingin mempelajari pengaruh aktivitas organisasi terhadap IPK, maka dengan mengendalikan fakor jenis kelamin. Dengan demikian, tabel di atas akan terdiri dari sebuah tabel parsial 2 2 antara aktivitas organisasi dan IPK untuk setiap taraf jenis kelamin (putra dan putri). Gabungan dua tabel parsial ini akan membentuk tabel kontingensi dua
Odds ratio bersyarat dan marginal
Sepertihalnya asosiasi marginal, asosiasi bersyarat dapat dijelaskan dengan odds ratio.
Odds ratio pada tabel parsial disebut odds ratio bersyarat. Perhatikan asosiasi bersyarat
antara aktivitas organisasi dan IPK. Penduga bagi odds ratio bersyarat untuk tabel parsial pertama – mahasiswa putra adalah :
XY(1)
(5 10) / (16 1) 3.125
. Sedangkan untuk mahasiswa putri, penduga bagi odds ratio antara aktivitas organisasi dan IPK adalah(2) (7 5) / (17 3) 0.686
XY
.Untuk tabel marginal antara aktivitas organisasi dan IPK (jenis kelamin diabaikan), diperoleh odds ratio marginal :
XY
(5 7)(10 5) / (16 17)(1 3)
1.364
Kebebasan bersyarat vs. Kebebasan marginal
Jika X dan Y saling bebas untuk setiap tabel parsial, maka dapat dikatakan bahwa X dan Y bebas bersyarat untuk Z tertentu. Selanjutnya, semua odds ratio bersyarat antara X dan
Y akan bernilai 1 untuk setiap taraf Z. meskipun demikian, odds ratio marginal mungkin tidak
sama dengan 1.
Kehomogenan asosiasi
Misalkan Z terdiri dari k taraf serta X dan Y merupakan peubah biner. Peubah X dan Y dikatakan memiliki asosiasi yang homogen apabila :
(1) (2) ( )
XY XY XY k
Note :
Materi dikutip dari Agresti (2007). Apabila ada materi yang belum dibahas dapat dilihat langsung pada halaman 21–54
CUIWW (Correct Us If We’re Wrong)
Prepared by : Nur Andi Setiabudi, S. Stat Edited by : Didin Saepudin