BAB II LANDASAN TEORI. adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

II.A. Motivasi Belajar Menjadi Presenter II.A.1. Definisi Motivasi Belajar

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Pengertian belajar ialah : (1) memodifikasi atau memperteguh kelakuan melalui belajar, (2) suatu proses perubahan tingkah laku individu dengan lingkungannya (3) perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian, atau mengenai sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar, yang terdapat dalam berbagai bidang studi, atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi, (4) belajar selalu menunjukkan suatu proses perubahan perilaku atau peribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil, dorongan kebutuhan belajar dan harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik (Uno, 2007).

Menurut Sardiman (2000) motivasi belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan

(2)

belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Winkel (1996) mendefinisikan motivasi belajar sebagai keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai tujuan .

Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan yang menyebabkan seseorang belajar demi mencapai tujuan.

II.A.2.Presenter

Presenter adalah orang yang pertama berbicara dalam suatu acara, yang

harus mampu menciptakan suasana akrab, tertib, dan semarak (Naratama, 2004). Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pembawa berarti orang yang membawakan, sedangkan acara adalah suatu kegiatan yang dipertunjukkan, disiarkan program (televisi, radio, dan sebagainya) (Poerwadarminata, 1998).

Dari uraian pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa presenter atau pembawa acara adalah orang yang membawakan suatu kegiatan yang dipertunjukkan oleh suatu program di TV, radio, dan sebagainya.

Menurut Hartoko (dalam Baksin, 2006), untuk menjadi pembawa acara TV yang baik diperlukan kepribadian yang tepat. Ia menyebutkan beberapa prasyarat untuk menjadi presenter TV yang baik, yakni:

1. Penampilan yang baik dan perlu didukung oleh watak dan pengalaman.

2. Kecerdasan pikiran yang meliputi pengetahuan umum, penguasaan bahasa, daya penyesuaian, dan daya ingatan yang kuat.

(3)

3. Keramahan yang tidak berlebihan.

4. Jenis suara yang tepat dengan warna suara yang enak, menyenangkan untuk didengar.

5. Memiliki wibawa yang cukup mantap.

Selain itu, ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan oleh seorang

presenter menurut Hasan (2008), yaitu:

1. Kenali Diri (Know Your Self.

Mengetahui dengan pasti kelebihan-kelebihan dirinya yang dapat dipakai sebagai modal untuk ditonjolkan dan dipublikasikan. Jadi harus punya rasa dan percaya diri.

2. Kepribadian (Image Personality).

Penentuan brand image hendaknya dilakukan pertama kali saat akan memulai karier ini, sebagai contoh mau memilih image ‘serius’ atau ‘humoris’selanjutnya harus konsisten dengan tersebut guna memilih acara-acara yang sesuai dengan image yang image yang ingin ditonjolkan. Sebaiknya tetap konsisten pada pilihan awal, karena sekali kita terlibat dalam suatu pekerjaan akan menentukan image selanjutnya.

3. Karakter yang baik (Great Character).

Menjaga sikap-sikap tertentu agar mendapat kepercayaan rekan bisnis seperti tepat waktu, disiplin, selektif terhadap pemilihan acara, dan sebagainya.

4. Pengaturan Waktu (Time Management).

Pengaturan waktu adalah aspek penting yang harus diperhatikan oleh seorang

(4)

mencegah kemungkinan terjadinya salah persepsi ketika membawa acara, harus tepat waktu berkaitan dengan persiapan acara.

5. Sosialisasi (Networking).

Bersosialisasilah dimana-mana sehingga orang tidak lupa dengan kita dan tetap ingat dengan kita.

Beberapa aspek di atas dapat menjadi acuan tentang bagaimana menjadi seorang presenter yang baik. Berikut ini, ada beberapa penggolongan atau jenis dari

presenter itu sendiri, menurut Baksin (2006) :

1. Continuity Presenter

Presenter jenis ini adalah mereka yang bertugas mengantarkan acara-acara

televisi kepada pemirsa. Mereka berfungsi sebagai jeda atau perangkat dari satu acara ke acara lainnya. Penampilan mereka sangat santai. Biasanya mereka akan sedikit mengulas materi acara yang segera hadir, dengan tujuan mengajak dan menambat pemirsa agar tidak berganti channel ke stasiun televisi lainnya. Selain itu,

presenter ini sering memberikan kiat khusus berkaitan dengan aktivitas penonton

sehari-hari. Keberadaan continuity presenter ini cukup membantu memasarkan sebuah acara. Sebab dengan sapaan dan ajakan mereka untuk menonton sebuah acara, mereka mencoba mengikat pemirsa. Mereka harus betul-betul paham dan cermat terhadap sebuah acara yang akan diulasnya.

2. Host

Host secara umum diartikan sebagai orang yang memegang suatu acara tertentu.

Keberadaan host biasanya identik dengan acara yang dibawakannya. Dengan demikian, selain jenis acara, figur host yang bersangkutan akan memegang peranan

(5)

penting. Kehadiran seorang host yang berkarakater akan menjadi daya tarik suatu acara. Pertimbangan dalam pemilihan host tidak hanya didasarkan karena kecantikan dan popularitasnya, tetapi integritas dan karakternya.

3. Anchor

Istilah anchor khusus diberikan pada seseorang yang membawakan atau menyajikan berita. Pada radio dan televisi, faktor penyaji berita memegang peranan penting dalam menyampaikan naskah berita pada khalayak. Isi berita harus jelas dan komunikatif.

Dalam hal ini, peneliti mengambil jenis presenter dalam acara talk show atau lebih dikenal sebagai host. Alasannya ialah dikarenakan presenter dalam acara talk

show harus memiliki keahlian yang lebih dibanding dengan presenter lainnya seperti

pembaca berita (anchor) maupun continuity presenter. Seorang pembawa acara talk

show harus memiliki karakter yang menjadi daya tarik sebuah acara. Sama halnya

menurut Naratama (2004), bahwa seorang presenter talk show harus mampu melakukan beberapa tindakan yang meliputi: (1) mengambil keputusan, (2) menyusun topik dan pertanyaan dengan cepat, (3) memotong pembicaraan narasumber yang melenceng, (4) kemampuan melakukan kompromi dan meyakinkan narasumber, (5) memadukan kemasan program secara interaktif.

Dari beberapa penjelasan di atas, maka motivasi belajar menjadi presenter dapat didefinisikan sebagai dorongan atau kekuatan yang menyebabkan seseorang belajar menjadi presenter.

(6)

II.A.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan yang terlepas dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tidak akan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam yang lebih utama maupun dari luar sebagai upaya lain yang tak kalah pentingnya (Djamarah, 2002).

Menurut Elliot (1996), ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi dalam belajar:

1. Kecemasan

Kecemasan yang dimaksud adalah kecemasan situasional, yang diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk merasa cemas pada beberapa situasi tetapi tidak pada situasi lainnya. Apabila tingkat kecemasan relatif rendah atau sedang, maka hal itu akan bersifat konstruktif. Namun apabila kecemasan tersebut berada pada tingkat yang relatif tinggi, maka hal itu bisa bersifat destruktif dan non adaptif.

2. Sikap

Sikap dapat didefinisikan sebagai cara individu yang relatif permanen dalam hal merasakan, berpikir, dan bertingkahlaku terhadap sesuatu atau orang lain. 3. Keingintahuan

Keingintahuan sering digambarkan sebagai perilaku yang aktif, suka mengeksplorasi atau, memanipulasi sesuatu keadaan yang rileks,kebebasan untuk mengeksplorasi sesuatu, dan penerimaan terhadap hal-hal yang tidak biasa dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sesorang.

(7)

4. Locus of Control

Locus of control dapat diartikan sebagai penyebab terjadinya tingkah laku,

yang dapat diatribusikan terhadap diri sendiri (internal locus of control) atau dari luar diri/lingkungan (external locus of control). Jika seseorang percaya bahwa kesuksesan dan penghargaan yang mereka raih dikarenakan kemampuan mereka sendiri, maka mereka telah dianggap mampu untuk mengendalikan tujuan mereka (internal locus of control). Sebaliknya seseorang yang percaya bahwa kesuksesan dan penghargaan yang mereka raih dikarenakan faktor keberuntungan, maka mereka dianggap memiliki kontrol yang rendah terhadap tujuan mereka (external locus of control).

5. Learned Helplessness

Perasaan tak berdaya yang dipelajari adalah reaksi individu untuk merasa frustasi dan putus asa setelah kegagalan yang terjadi berulangkali.

6. Efikasi Diri

Efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki untuk mengendalikan seluruh kehidupannya, termasuk perasaan dan kompetensinya. Seseorang yang memiliki efikasi diri yang tinggi cenderung untuk memfokuskan perhatian dan usahanya pada tuntutan tugas dan berusaha meminimalisasi kemungkinan yang terjadi.

(8)

II.A.4. Prinsip – prinsip Motivasi Belajar

Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (dalam Ermida, 2002) telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut sebagai model ARCS, yaitu:

1. Perhatian (Attention)

Perhatian seseorang muncul karena didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan, sehingga individu akan memberikan perhatian selama proses pembelajaran. Rasa ingin tahu tersebut dapat dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Apabila elemen-elemen tersebut dimasukkan dalam rencana pembelajaran, hal ini dapat menstimulus rasa ingin tahu seseorang. Namun, perlu diperhatikan agar tidak memberikan stimulus yang berlebihan, untuk menjaga efektifitasnya.

2. Relevansi (Relevance)

Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi seseorang. Motivasi individu akan terpelihara apabila mereka menganggap bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.

Kebutuhan pribadi (basic need) dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu motif pribadi, motif instrumental dan motif kultural. Motif nilai pribadi (personal motif

value), menurut McClelland mencakup tiga hal, yaitu (1) kebutuhan untuk

berprestasi (needs for achievement), (2) kebutuhan untuk berkuasa (needs for

(9)

Sementara nilai yang bersifat instrumental, yaitu keberhasilan dalam mengerjakan suatu tugas dianggap sebagai langkah untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut. Sedangkan nilai kultural yaitu apabila tujuan yang ingin dicapai konsisten atau sesuai dengan nilai yang dipegang oleh kelompok yang diacu individu, seperti orang tua, teman, dan sebagainya.

3. Percaya diri (Confidence)

Merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini seringkali dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa lampau. Motivasi dapat memberikan ketekunan untuk membawa keberhasilan (prestasi), dan selanjutnya pengalaman sukses tersebut akan memotivasi untuk mengerjakan tugas berikutnya.

4. Kepuasan (Satisfaction)

Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan. Kepuasan karena mencapai tujuan dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun luar individu. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi individu, dapat menggunakan pemberian penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan, dsb.

II.A.5. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Djamarah (2002) menyatakan bahwa motivasi belajar memiliki beberapa fungsi, diantaranya:

(10)

1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah keinginannya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajari. Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Disini, anak didik mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk mencari tahu tentang sesuatu. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.

2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan sesuatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Di sini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedah nilai yang terpatri dalam wacana, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya.

3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata

(11)

pelajaran dimana sesuatu yang akan dicari itu. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar.

II. A. 6. Indikator-indikator dalam Motivasi Belajar

Uno (2007) menyatakan bahwa motivasi belajar dapat timbul karena adanya faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik dalam diri seseorang, dan pada umumnya dengan ada beberapa indikator dan unsur yang mendukung sehingga hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Faktor Intrinsik

1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil

Seseorang yang memiliki hasrat dan keinginan berhasil akan cenderung untuk berusaha menyelesaikan tugasnya secara tuntas tanpa menunda-nunda pekerjaannya. Penyelesaian tugas semacam itu bukanlah karena dorongan dari luar, melainkan upaya pribadi. Dia berani ambil resiko untuk penyelasaian tugasnya itu. Kalau terpaksa menunda pekerjaannya, maka dalam kesempatan berikutnya dia segera menyelesaikan pekerjaan itu, dengan usaha yang sama dari usaha sebelumnya.

2. Adanya dorongan dan kebutuhan belajar

Seseorang yang memiliki motivasi belajar berarti di dalam dirinya ada dorongan yang menyebabkan dia ingin belajar. Karena sesuatu yang belum

(12)

diketahui itu akhirnya mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari

tahu. 3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan

Dengan adanya harapan dan cita-cita masa depan yang harus dicapai sehingga menimbulkan motivasi dan dorongan dari dalam diri untuk belajar dan berusaha melakukan yang terbaik demi tercapainya tujuan atau cita-cita tersebut. b. Faktor Ekstrinsik

1. Adanya penghargaan dalam belajar

Penghargaan dibutuhkan juga dalam belajar untuk memberikan motivasi kepada seseorang. Penghargaan dalam belajar dapat berupa hadiah, pujian, nilai yang baik, dll.

2. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar

Belajar dengan diikuti suatu kegiatan yang menarik seperti bernyanyi, bercerita, menggunakan media, dan tidak monoton dapat meningkatkan motivasi seseorang dalam belajar.

3. Adanya lingkungan belajar yang kondusif

Lingkungan belajar turut menjadi indikator dalam motivasi belajar, jika lingkungan belajar kondusif, motivasi belajar dapat meningkat, sebaliknya lingkungan belajar yang tidak kondusif dapat menyebabkan motivasi belajar dalam diri seseorang menurun. Sebagai contoh: lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Tempat tinggal yang kumuh,

(13)

perkelahian antar siswa, akan mengganggu motivasi belajar. Sebaliknya tempat belajar yang indah, pergaulan yang rukun akan memperkuat motivasi belajar.

II.B. Minat

II.B.1. Definisi Minat

Wittig (dalam Sukadji, 2001) menjelaskan minat sebagai ”any area that

generates attention or excitement for a person”. Artinya minat ialah kecenderungan

seseorang terhadap objek-objek dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan perhatian dan menghasilkan kepuasan. Demikian pula pendapat dari Blair, Jones dan Simpson (dalam Pintrich and Schunk, 2002) yang menyatakan minat sebagai suatu perasaan suka atau tidak suka terhadap suatu kegiatan.

Minat adalah perhatian yang merupakan titik tolak timbulnya hasrat untuk melakukan kegiatan yang diharapkan (Effendy, 2003). Sedangkan menurut Poerwadaminta (1998) minat adalah kesukaan dari kecenderungan-kecenderungan yang terarah secara intensif kepada suatu objek yang dianggap penting.

Hurlock (1996) menyatakan minat sebagai sesuatu dengan apa seseorang mengidentifikasikan keberadaan pribadinya. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Bila mereka melihat bahwa sesuatu akan menguntungkan, maka mereka merasa berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasan, dan bila kepuasan berkurang maka minatpun berkurang.

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa minat ialah kecenderungan yang terarah secara intensif, keinginan yang besar pada suatu obyek yang menyenangkan,

(14)

yang berpengaruh pada kesadaran dirinya untuk berusaha melakukan sesuatu yang diinginkannya sehingga bisa memberi kepuasan pada diri individu tersebut.

II.B.2. Tayangan Talk Show

Talk Show berasal dari bahasa Inggris, yaitu talk artinya :1. percakapan, 2.

pembicaraan, perbincangan. Show berarti : pameran, tontonan (acara), pertunjukkan.

Talk show merupakan suatu sajian perbincangan yang cukup menarik yang biasanya

mengangkat isu-isu yang hangat dimasyarakat (Hanum, 2005).

Jika dilihat dari gayanya, talk show dapat dibedakan menjadi dua tipe utama:

1. Light Entertaiment

Dalam acara seperti ini, pemandu acara duduk dibelakang sebuah meja dan mewawancarai tamu acara tersebut. Acara ini selalu memiliki atmosfer positif, nyaman, ceria, dan disiarkan pada malam hari. Pertunjukkan lain yang tergolong dalam jenis ini menitikberatkan pada unsur sensasi dan drama. Mereka menampilkan orang-orang yang tidak dikenal sebagai tamu dengan permasalahan mereka yang seringkali kontroversial. Para tamu tersebut duduk menghadap penonton, sedangkan pemandu acara berdiri diantara penonton yang hadir di studio. Para penonton juga mengambil bagian dalam program tersebut dengan cara mengajukan pertanyaan maupun mengajukan komentar kepada tamu.

2. Serious Discussion

Acara talk show jenis ini lebih spesifik jika ditinjau dari materinya. Isinya

berkonsentrasi pada topik khusus dibidang politik atau sosial, atau pada seseorang yang sedang menjadi incaran berita pada saat itu (Lusia, 2006).

(15)

II.B.3. Minat terhadap Tayangan Talk Show

Selain sinetron dan reality show, talk show alias acara obrolan saat ini menjadi primadona siaran televisi di Indonesia. Berbagai stasiun TV mengedepankan acara obrolan andalan masing-masing, seperti Metro TV dengan

Oprah, Trans TV dengan Lepas Malam dan Ceriwis, serta RCTI dengan Bincang Bintang (Wintarto, 2007).

Terlepas dari pengaruh talk show buatan Amerika Serikat yang kini menjadi panduan dan anutan, acara obrolan di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak lama. Sekitar dua atau tiga dekade lalu, ketika televisi kita masih menganut “asas tunggal” TVRI, pemirsa telah disuguhi berbagai macam program obrolan yang beragam. Pada era 1970-an dan 1980-an, kita mengenal judul-judul seperti Mimbar

Televisi, Masalah Kita, atau Kami Ketengahkan. Sayang, keragaman itu hanya ada

dalam judul namun bukan dalam kemasan acara. Dari berbagai program berbeda, semua ditampilkan dengan cara dan “tradisi” yang sama. Dalam acara tersebut, tiga atau empat orang pejabat dihadirkan oleh seorang pembawa acara dalam set dekor ruang tamu yang kaku. Gaya obrolan mereka pun sangat serius dan formal, dengan alur pembicaraan hanya berupa tanya-jawab secara bergiliran, bukannya sebuah diskusi atau perdebatan yang hangat dan menarik. Selain itu, acara-acara talk show era Orde Baru itu tak pernah menyentuh suatu permasalahan yang betul-betul mendasar. Topik-topik yang dihadirkan tidak jauh berupa penerangan program pemerintah seperti intensifikasi pertanian, transmigrasi, keluarga berencana, P-4, atau posyandu (Baksin, 2006)

(16)

Memasuki era keragaman TV swasta, program-program talk show mulai memperbaiki acara untuk mencari perolehan rating dan untuk menarik minat masyarakat, dengan cara membuat acara menjadi lebih variatif, segar, penuh diskusi serta perdebatan, dan bahkan interaktif. Hal tersebut tentunya dapat terwujud dengan adanya orang-orang dibalik layar yang mampu menciptakan rangkaian acara yang menarik dan tema-tema acara yang dapat menggugah minat masyarakat untuk menontonnya. Akan tetapi rangkaian acara yang menarik itu tidak akan terlihat menarik apabila tidak dibawakan oleh presenter atau pembawa acara yang handal dalam membawakan acara tersebut. Oleh karena itu, menarik atau tidaknya suatu acara talk show tidak lepas dari kepiawaian seorang presenter seperti Indy Barends, Dorce, Farhan, dan lain sebagainya dalam membawakan acara tersebut. Kini, acara obrolan seperti empat mata atau Ceriwis telah menjadi primadona yang ditunggu-tunggu pemirsa (Wintarto, 2007)

Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa minat terhadap tayangan talk show ialah kecenderungan yang terarah secara intensif, keinginan yang besar terhadap tayangan talk show, yang berpengaruh pada kesadaran dirinya untuk berusaha melakukan sesuatu yang diinginkannya sehingga bisa memberi kepuasan pada diri individu tersebut.

II.B.4. Aspek Minat

Hurlock (1999) menyatakan bahwa semua minat memiliki dua aspek, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif.

(17)

1. Aspek Kognitif

Aspek kognitif ini meliputi perhatian seseorang terhadap hal-hal yang berhubungan dengan minatnya, selain itu aspek kognitif didasarkan pada konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Individu akan menganggap bidang tersebut sebagai suatu hal yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu mereka dan akan merasa yakin bahwa waktu dan usaha yang dihabiskannya dengan kegiatan yang berkaitan dengan minatnya akan memberi kepuasan dan keuntungan pribadi. Dan bila terbukti bahwa ada keuntungan dan kepuasan, maka minat mereka tidak saja menetap, melainkan lebih kuat.

Konsep yang membangun aspek kognitif minat didasarkan atas pengalaman pribadi, dan apa yang dipelajari dirumah, sekolah, masyarakat, dan dari berbagai jenis media massa. Dari sumber tersebut, individu belajar apa saja yang akan memuaskan kebutuhan mereka dan yang tidak.

2. Aspek Afektif

Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang membangun aspek kognitif minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Seperti halnya aspek kognitif, aspek afektif berkembang dari pengalaman pribadi dan sikap orang yang penting, seperti : orang tua, guru, dan teman sebaya, terhadap hal-hal yang berkaitan dengan minat tersebut, serta dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.

Walaupun kedua aspek, baik kognitif maupun afektif penting peranannya dalam menentukan apa yang akan dan yang tidak dikerjakan oleh individu, dan jenis penyesuaian pribadi dan sosial mereka, aspek afektif lebih penting karena dua

(18)

alasan. Pertama, aspek afektif mempunyai peran yang lebih besar dalam memotivasi tindakan daripada aspek kognitif. Suatu bobot emosional positif dari minat akan memperkuat minat itu dalam tindakan, Selain itu, aspek afektif bila terbentuk cenderung bertahan lebih lama terhadap perubahan.

II. B. 5. Ciri-ciri minat

Adapun ciri-ciri minat menurut Widjaja (2000) ialah:

1. Minat tidak dibawa sejak lahir. Minat timbul dari perasaan senang terhadap suatu objek. Slameto (dalam Djamarah, 2002) menyatakan bahwa minat dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada diri seorang anak didik. Caranya ialah dengan jalan memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran

2. Minat dapat berubah-ubah. Untuk seorang anak yang sangat muda, lamanya minat dalam kegiatan tertentu sangat pendek. karena minat yang terdapat dalam kegiatan untuk kepentingan diri sendiri lebih daripada untuk mencapai sesuatu hasil tertentu, sehingga ia mudah dikacaukan dan mudah tertarik pada kegiatan lain. Tidak demikian halnya terhadap orang yang lebih tua, mereka lebih lama dapat mempertahankan minatnya terhadap sesuatu daripada berpindah-pindah pada hal lain.

3. Minat tidak berdiri sendiri, senantiasa mengandung reaksi dengan stimulus maupun objek.

4. Objek minat itu dapat merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan-kumpulan dari hal tersebut.

(19)

II.C. Hubungan Antara Minat terhadap Tayangan Talk Show dengan Motivasi Belajar menjadi Presenter

Booming televisi swasta diakui telah mencerahkan dan mencerdaskan

masyarakat melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif, dan akurat. Dengan kata lain, masyarakat telah berhutang jasa kepada media televisi dibidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan pendidikan. Media televisi juga telah memperluas wawasan masyarakat dengan sajian acara seperti news, news feature,

talk show, dialog, dan berbagai acara informatif-edukatif lainnya (Muda, 2005). Dan

diantara sekian banyak acara yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi swasta dan nasional, acara yang paling diminati oleh penonton ialah acara talk show (Wintarto, 2007).

Talk show merupakan suatu sajian perbincangan yang cukup menarik yang biasanya mengangkat isu-isu yang hangat dimasyarakat (Hanum, 2005). Talk Show berasal dari bahasa Inggris, yaitu talk artinya :1. percakapan, 2. pembicaraan, perbincangan, dan show berarti : pameran, tontonan (acara), pertunjukkan. Talk

show dewasa ini merupakan program primadona, sebab bisa disiarkan secara

langsung atau interaktif dan atraktif, ditambah lagi dengan sifatnya yang menghibur

(entertainment). Entertaintement sebenarnya bukan sekedar mengibur, melainkan

dinamis dan hidup. Oleh karena itu, peran pemandu atau moderator sangat menentukan sukses tidaknya acara (Hanum,2005).

(20)

Menurut Hartoko (dalam Baksin, 2006), untuk menjadi presenter tv yang baik diperlukan kepribadian yang tepat. Ia menyebutkan beberapa prasyarat untuk menjadi pembawa acara televisi yang baik, yakni:

1. Penampilan yang baik dan perlu didukung oleh watak dan pengalaman. 2. Kecerdasan pikiran yang meliputi pengetahuan umum, penguasaan bahasa,

daya penyesuaian, dan daya ingatan yang kuat. 3. Keramahan yang tidak berlebihan.

4. Jenis suara yang tepat dengan warna suara yang enak, menyenangkan untuk didengar, dan memiliki wibawa yang cukup mantap.

Tugas sebagai seorang pembawa acara talk show tidaklah terlalu banyak, tetapi sangat menuntut banyak latihan dan penuh tantangan.. Menjadi pembicara yang handal membutuhkan persiapan yang matang, kemampuan merangkai kata, dan aspek penting lainnya. Namun, siapapun dapat menjadi pembicara (pembawa acara) yang handal asalkan mau belajar, baik secara langsung dengan cara berani tampil berbicara di depan umum, maupun belajar melalui buku dan belajar dengan melihat orang lain (Wintarto, 2007). Belajar pada manusia bisa dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental-psikis yang berinteraksi aktif dengan lingkungannya, dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap (Winkel, 1996). Beberapa penelitian menyatakan bahwa minat mempengaruhi proses belajar seseorang (Pintrich & Schunk, dalam Sukadji 2001). Demikian halnya dengan seseorang yang minat terhadap tayangan talk show, mereka akan belajar bagaimana menjadi seorang pembawa acara talk show/ presenter talk show yang baik.

(21)

Minat ialah kecenderungan seseorang terhadap objek-objek dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan perhatian dan menghasilkan kepuasan (Winkel, 1996). Dengan adanya minat seseorang dalam menonton televisi, berarti ada suatu perasaan suka atau tidak suka yang dimiliki seseorang terhadap adanya tayangan televisi. Slameto (dalam Djamarah, 2002) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki minat terhadap suatu objek tertentu cenderung akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap objek tersebut. Dengan demikian, maka akan timbul dorongan dari dalam diri individu untuk memuaskan kebutuhannya. Dorongan dari dalam diri untuk memuaskan kebutuhannya disebut juga dengan istilah motivasi (Winkel, 1996). Motivasi diartikan sebagai kemauan dalam diri, dalam usaha untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi Stephen (dalam Kawuryan, 2005).

Terkait dengan motivasi, Uno (2007) menyatakan bahwa motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Keberhasilan belajar seseorang turut dipengaruhi oleh kuat atau lemahnya motivasi seseorang dalam belajar (Djamarah, 2002). Dengan demikian motivasi belajar dapat disimpulkan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2000).

Dengan adanya perasaan suka terhadap tayangan talk show di televisi, maka akan ada reaksi penerimaan dan reaksi positif terhadap tayangan tersebut sehingga diharapkan akan menimbulkan motivasi belajar menjadi presenter bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan komunikasi.

(22)

II.D. Hipotesis penelitian

Ada hubungan antara minat terhadap tayangan talk show dengan motivasi belajar menjadi presenter.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :