STUDI KEBERADAAN OBJEK WISATA PANTAI CAROLINE DAERAH BUNGUS
TELUK KABUNG KOTA PADANG
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Strata Satu (S1)
Disusun Oleh :
ANDHIKA WIERA DINATA
NIM.09030202
Disetujui Oleh.
Pembimbing 1
Pembimbing 2
(Drs. Bakaruddin,MS)
(Ade Irma Suryani, M.Pd)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI PADANG SUMATERA BARAT
STUDI KEBERADAAN OBJEK WISATA PANTAI CAROLINE DAERAH BUNGUS
TELUK KABUNG KOTA PADANG
Andhika Wiera Dinata¹, Bakaruddin², Ade Irma Suryani³
1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Geografi STKIP
PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang keberadaan objek wisata yaitu meliputi (1) sapta pesona (2) sarana dan prasarana objek wisata pantai caroline daerah kecamatan bungus teluk kabung kota padang.
Jenis penelitian ini tergolong dalam jenis deskriptif kualitatif. Populasi penelitian adalah wisatawan, masyarakat, dan instansi-instansi yang terakit dengan penelitian ini secara langsuang dengan objek wisata pantai caroline di kecamatan bungus teluk kabung kota padang. Penarikan sampel yang dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling bola salju dengan cara menanyakan subjek secara bergulir.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut. 1) penelitian ini menemukan bahwa keberadaan objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang adalah sapta pesona tergolong baik. 2) keberadaan sarana dan prasarana objek wisata pantia caroline daerah bungus teluk kabung kota padang tergolong baik
STUDY ON THE EXISTENCE OF TOURISM BEACH CAROLINE BUNGUS
SACKCLOTH BAY PADANG CITY
Andhika Wiera Dinata¹, Bakaruddin², Ade Irma Suryani³
1). Collage Students STKIP PGRI West Sumatra
2). 3). Lecturer Geography Education Program STKIP
PGRI West Sumatra
Abstract
This study aimed to describe the existence of tourist attractions which include (1) Sapta charm (2) Attraction infrastructure caroline coastal bay area subdistrict bungus mourning desert city. This type of research is classified in this type of qualitative descriptive. The study population are tourists, communities, and agencies are assembled in this study langsuang with tourist beach in the district bungus caroline bay cities desert scarf. Sampling is done by using a snowball snowball sampling method by asking the subject of a rolling basis.
Based on the results of the data analysis and discussion of conclusions obtained as follows. 1) This study found that the presence of attraction bungus gulf coast area caroline mourning desert city is relatively good Sapta charm. 2) the existence of infrastructure attractions pantia caroline bay area bungus mourning desert city quite well
PENDAHULUAN
Dunia terdiri dari 5 benua besar yang di bentuk oleh negara-negara maju maupun negara-negara berkembang yang mempunyai prioritas dalam memperkenalkan keistimewaan masing-masing, misalnya melalui pemerintahannya, pembangunannya, perekonomiannya, masyarakatnya, kemampuan masyarakat, cara berfikir, sejarah, maupun daerahnya, termasuk industri pariwisatanya. Menurut catatan yang dikeluarkan The Travel and Tourism
CompetitivenessReport 2009, industri
pariwisata di Indonesia berada di urutan 81 dunia.
Menyadari keadaan demikian, pemerintah memanfaatkan seluruh potensi yang ada dengan diterapkannya sektor wisata sebagai salah satu andalan sehingga mampu mendatangkan banyak devisa bagi negara Indonesia, karena halnya sektor pariwisata tidak akan habis walaupun dikonsumsikan dalam jangka waktu yang lama.
Pada saat sekarang ini pariwisata berperan penting dalam memperbaiki perekonomian bangsa karena pariwisata mempunyai tiga keuntungan yaitu pertama dari segi ekonomis sebagai devisa, pajak-pajak, kedua segi sosial sebagai pencipta lapangan kerja, dan ketiga kebudayaan yaitu memperkenalkan kebudayaan kepada wisatawan asing. Ketiga keuntungan diatas tidak berlaku saja pada wisatawan mancanegara tetapi juga wisatawan domestik.
Kebijakan pemerintah dalam bidang pariwisata artinya menjadikan sektor ini sebagai leading sektor (sektor andalan), di samping industri kecil dan agroindustri juga sebagai instrument untuk menghasilkan devisa. Diharapkan sektor pariwisata sekaligus mampu memperluas dan meratakan kesempatan kerja. Pasar yang di utamakan dari pariwisata Indonesia yaitu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, walaupun keadaan Indonesia terpuruk namun wisatawan yang berkunjung tidak mengalami penurunan yang drastis, ( Dinas Pariwisata Seni dan Budaya, 2012).
Sektor pariwisata sebetulnya telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan bahkan menjadi tumpuan harapan dalam
pembangunan, khususnya dalam pengumpulan devisa. Basis pengembangan kebijakan kepariwisataan mengalami pergeseran, Di masa lalu kebijakan kepariwisataan dilakukan oleh dan dalam kendali ketat dari pemerintah pusat. Sehubungan dengan diimplementasikannya kebijakan desentralisasi melalui UU No. 22 tahun 1999, kewenangan menyelenggarakan kebijakan kepariwisataan berada di tingkat lokal.
Sektor pariwisata yang menempati urutan kelima sebagai penyumbang devisa negara tahun 2012 juga mengalami peningkatan progresif pada triwulan pertama 2013. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan jumlah wisatawan mancanegara yang mencapai 1,29 juta orang pada Januari-Februari 2013, naik 3,82% dibanding periode yang sama tahun lalu (Kemenprekraf, 2012).
Provinsi Sumatera Barat yang kaya akan keindahan alam telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) Indonesia. Bentangan alam Sumatera Barat yang bergelombang, dihiasi bukit dan lembah. Serta pepohonan hijau memiliki potensi lebih untuk menunjang pariwisata yang tak kalah memikat.
Secara geografi Kota Padang terletak di pesisir pantai Barat Pulau Sumatera, keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², dan lebih dari 60% dari luas tersebut, (sekitar ± 434,63 km²) merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung, sementara selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan (Badan Pusat Statistik Kota Padang, 2014). Garis pantai Kota Padang panjangnya ±84 Km dengan luas kewenangan pengelolaan perairan ±72.000 Ha dan terdapat 19 pulau-pulau kecil (Badan Pusat Statistik Kota Padang, 2013).
Kota padang yang berada di daerah pantai barat pulau Sumatera sangat beruntung karena ini membuat Kota Padang memiliki banyak pantai. Menurut data dari badan pusat statistik Kota Padang memiliki 19 pantai yang telah diajadikan objek wisata (Badan Pusat Statistik Kota Padang, 2013).
Objek wisata Pantai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung Padang salah satunya adalah Pantai Caroline. Pantai Caroline terletak di kelurahan Bungus Timur sekitar 25
km di Selatan Kota Padang yang merupakan tempat penginapan dengan aktifitas wisata pantai dengan pelayanan banana boat, penyewaan benen apung, dan penyewaan tikar, serta penyewaan boat menuju pulau- pulau kecil Kota Padang (Badan Pusat Statistik Kota Padang, 2013).
Pengembangan kepariwisataan tentu harus didukung oleh segenap lapisan, baik itu pemerintah, kalangan swasta maupun masyarakat. Hasil observasi yang penulis lakukan di lapangan, Pantai Caroline memiliki potensi alam yang bagus untuk menjadi objek wisata unggul di Indonesia akan tetapi sampai saat ini pantai caroline masih belum bisa menjadi objek wisata unggul jangankan di Indonesia bahkan di Sumatera Barat Pantai Caroline juga tidak populer. Potensi alam berlimpah yang ada akan percuma tanpa didukung dengan SDM yang berkualitas dalam hal ini mencakup Pemerintah, Masyarakat dan wisatawan itu sendiri. Pantai yang Kotor, dan masih adanya preman yang berkeliaran di sekitar pantai itu membuktikan masih lemahnya peran pemerintah dan kesadaran masyarakat terhadap menjaga objek wisata Pantai Caroline.
Berdasarkan uraian yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk mengangkat hal ini dalam sebuah penelitian yang berjudul “Studi Keberadan Objek Wisata Pantai Caroline Daerah Bungus Teluk Kabung Kota Padang”.
penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi, mengolah dan menganalisa data serta membuat deskripsi tentang :1.Sapta Pesona Objek Wisata Pantai Caroline Kelurahan Bungus Barat Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang..2Sarana dan Prasarana Objek Wisata Pantai Caroline Kelurahan Bungus Barat Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang.
Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata (Bakaruddin 2009 : 12). Jadi pengertian wisata tersebut mengandung unsur yaitu :a. Kegiatan perjalanan, b. Dilakukan secara sukarela, c. Bersifat sementara
Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut (Bakaruddin, 2009 : 12).
Dalam buku (Irawan, 2010 : 12) menurut Guyer Freuler (1996) merumuskan pengertian Pariwisata dengan memberikan batasan sebagai berikut : Pariwisata dalam arti modern adalah fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian haa, penilaian yang sadar dan menumbuhkan cinta terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas manusia sebagai hasil dari perkembangan perniagaan, industri, serta penyempurnaa dari alat-alat pengangkutan.. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggara pariwisata (Bakaruddin, 2009 : 14). Kepariwistaan dilihat dari segi sifatnya (Bakaruddin, 2009 : 28) dapat dibagi : 1.Wisata Budaya, 2.Wisata Kesehatan, 3. Wisata Olahraga, 4.Wisata Komersial
Kegiatan kepariwisataan merupakan kegiatan yang lintas sektoral dan menyentuh berbagai unsur baik pemerintah, kalangan dunia usaha (swasta) maupun masyarakat. Bahkan pariwisata alam merupakan salah satu bisnis yang menawarkan budaya, keunikan, kenyamanan dan berbagai pelayanan kepada wisatawan sebagai pembeli jasa pariwisata. Untuk mewujudkan kenyamanan pengunjung tersebut pemerintah mencanangkan program sapta pesona. Dalam program ini semua pihak diharapkan memberikan dukungan bagi terciptanya suasana nyaman, asri, dan menyenangkan bagi dunia pariwisata tanah air.
Sapta pesona merupakan inti dari program pemerintah dalam meningkatkan sadar wisata masyarakat dan merupakan dalam meningkatkan sadar wisata masyarakat dan merupakan syarat mutlak
6
dalam usaha pembangunan pariwisata kearah yang lebih mantap oleh karenanya sapta pesona dijadikan program nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran serta tanggung jawab segenap lapisan pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Sapta pesona yang mengandung tujuh unsur yang menentukan citra baik tentang objek wisata yaitunya: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, dan Ramah tamah serta kenangan, kehadirannya memang sangat begitu terasa penting dan sudah saatnya dibutuhkan, bukan hanya sebagai kebutuhan pokok wisatawan, tetapi juga sebagai tolak ukur dalam meningkatkan kualitas pariwisata. Pelaksananaan sapta pesona merupakan inti dari program dalam meningkatkan sadar wisata masyarakat dan merupakan syarat dalam usaha pengembangan pariwisata kearah yang lebih baik.
Wujud dari kampanye sadar wisata bertujuan untuk meningkatkan peran masyarakat, menggalang sikap perilaku untuk menjadi tuan rumah yang ramah serta meningkatkan citra mutu produk dan pelayanan pariwisata yang dilandasi atas meningkatnya penerapan Sapta Pesona pariwisata. Sapta pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisata berkunjung ke suatu daerah atau wilayah Indonesia dan harus ciptakan secara indah yang mempesonakan pengunjung, kapan dan dimana saja dan khususnya pada DTW sehingga menarik dan nyaman, betah tinggal lebih lama dan merasa puas serta memberikan kenangan yang dalam hidupnya (Barakuddin, 2011:74).
Adapun tujuan sapta pesona yang ditetapkan oleh Deparpostel dalam Linda (1995) ada tujuh pesona yaitu:
a. Keamanan dimaksudkan agar para wisatawan dapat melaksanakan suasana aman dimanapun berada dalam perjalanan wisatanya. Penciptaan unsur aman tergantung sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang pesona aman tentang objek wisata itu. Dengan adanya
pengetahuan akan pentingnya terhadap pemberian keamanan itu para wisatawan akan merasakan suasana aman didalam lokasi objek wisata selama melakukan kunjungan. b. Ketertiban dimaksudkan agar para
wisatawan dapat merasakan suasana tertib dalam kehidupan masyarakat serta adanya kepastian pelayanan yang adil dan tertib di manapun ia berada. penciptaan ketertiban yang ada di objek wisata tergantung sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap pemeliharaan dan suasana tertib di wilayah objek wisata, sehingga wisatawan pada dasarnya memperoleh suasana tertib dan teratur serta berdisiplin dan ikut bertanggung jawab selama dilokasi objek wisata. c. Kebersihan, agar para wisatawan
dapat menikmati suasana yang bersih, baik dalam arti hygiene dan sanitasi dimanapun ia berada, lebih-lebih pada objek wisata alam dan penginapan serta tempat-tempat perbelanjaan. Penciptaan kebersihan objek wisata juga sangat tergantung sejauh mana pengetahuan masyarakat dalam menjaga kebersihan objek wisata, dengan melakukan berbagai usaha yang menunjang yang berkaitan dengan kebersihan. Sehingga wisatawan akan sangat suka menikmati lingkungan yang bersih dan bebas dari hama penyakit, sampah, limbah, pencemaran dan sebagainya.
d. Kesejukan yaitu suasana yang sejuk dan tenang karena adanya penanaman pohon pelindung, penataan lingkungan yang asri dan bersih. Penciptaan kesejukan objek wisata bisa terbentuk dari keadaan dan lokasi objek itu sendiri, namun juga sangat tergantung sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap objek wisata dalam mempertahankan dan memenuhi pesona sejuk seperti panorama yang sejuk, bebas polusi, berkesan tenang, tentram serta damai. Sehingga wisatawan akan merasa
sejuk, nyaman, dan tentram dari lingkungan objek wisata yang ada. e. Keindahan suasana yang indah
dapat memberikan kenikmatan dari hasil karya manusia, pelayanan masyarakat dan keadaan alamnya. Keadaan objek wisata yang didukung oleh alamnya yang indah sangat banyak memberikan dampak positif bagi objek wisata itu sendiri, hanya tinggal dari sejauh mana pengetahuan masyarakat dalam mempertahankan pesona indah sehingga pesona keindahan itu akan tetap di nikmati, dan sekaligus mensyukuri sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa.
f. Keramahtamahan yaitu
memberikan kesan bahwa wisatawan dapat diterima dengan senang hati dan tidak adanya sikap yang menunjukkan kurang hormat atau memusuhi atau sejenisnya. Untuk mewujudkan sikap keramah-tamahan ini khususnya pada objek yang diolah perusahaan (swasta), sangat diharapkan kepada pengelola dan masyarakat dapat menjadi tuan rumah yang baik,yang siap membantu dan melayani pengunjung wisata. Dan memberikan dan mendukung dalam usaha menciptakan dan mengarahkan sikap dan prilaku pengelola operasional objek wisata yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum, menarik hati dan ramah tamah.
g. Kenangan yaitu dapat memberikan kenangan yang mengesankan wisatawan di tempat-tempat yang dikunjunginya seperti akomodasi yang bersih, nyaman dan pelayanan yang ramah, pertunjukan seni budaya yang tinggi nilainya. Berkesan atau tidak berkesannya kenangan yang diberikan oleh objek wisata juga tergantung sejauh mana pengetahuan masyarakat menciptakan kenangan yang baik bagi objek wisata.
1. Sarana dan Prasarana
Sarana kepariwisataan, adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanankepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan kehidupannyatergantung kepada kedatangan wisatawannya. Sarana kepariwisataan ini harus tetap dijaga dan ditingkatkan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan perkembangan kebutuhan wisatawan. Untuk mendukung pencapaian yang lebih baik perlu adanya kemampuan pengelolaan yang memadai sesuai dengan kondisi objek dan kebutuhan pengunjung. Ada 3 (tiga) bagian yang penting dalam sarana kepariwisataan, yaitu :
1). Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Suprastructure)
Yang dimaksud dengan sarana kepariwisataan adalah perusahaan yang hidup dan kehidupannya sangat tergantung kepada kedatangan orang yang melakukan perjalanan wisata, yang termasuk di dalamnya adalah :
1) Travel Agent. 2) Tour Operator.
3) Perusahaan Transportasi. 4) Restoran, Bar, objek dan
atraksi wisata.
1) Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Supplementing Tourism Suprastructure)
Perusahaan yang menyediakan fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak hanya melengkapi sarana pokok kepariwisataan, tetapi yang terpenting adalah untuk membuat agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal, di tempat atau daerah yang dikunjunginya. Yang termasuk dikelompok ini adalah :
1) Lapangan tenis. 2) Lapangan golf.
3) Lapangan bola kaki, kolam renang, bilyard, dan lain-sebagainya.
2) Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Suprastructure)
Perusahaan yang menunjang sarana pokok dan sarana pelengkap yakni fasilitas-fasilitas yang diperlukan wisatawan khususnya tourism business yang berfungsi untuk membuat para wisatawan lebih lama tinggal di daerah yang dikunjungi agar lebih banyak mengeluarkan atau membelanjakan uangnya di daerah tersebut. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah : 1). Night Club. 2). Casino. 3). Steambath. Prasarana (infrastructure) kepariwisataan sesungguhnya merupakan tourist supply yang perlu dipersiapkan atau disediakan bila akan mengembangkan industri pariwisata, karena kegiatan pariwisata pada hakekatnya tidak lain adalah salah satu kegiatan dari sektorperekonomian juga. Yang dimaksud prasarana (infrastucture) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses perekonomian dapat berjalan dengan lancar sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya. Jadi fungsi dari prasarana adalah untuk melengkapi sarana kepariwisataan sehingga dapat memberikan pelayanan sebagai mana mestinya.
Adapun beberapa prasarana yang dapat menunjang pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan, meliputi :
1. Pelayanan makan dan minum, yang dapat menyajikan makanan
dan minuman yang khas setempat.
2. Pelayanan tenaga kerja, yang sangat dominan sekali dibutuhkan karena salah satu kunci keberhasilan pembangunan objek wisata adalah kemampuan para tenaga kerja untuk mengelola dengan baik suatu kawasan objek wisata.
3. Pelayanan informasi, agar dapat mengatur pengunjung yang datang ke objek wisata Untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak unsur objek wisata yang dikunjungi, maupun yang dapat mengganggu ketenangan pengunjung itu sendiri mengingat arus kunjungan yang datang cenderung akan lebih meningkat. (Editor : N. Raymond Frans),-
Menurut Syaukani (2003) prasarana adalah merupakan fasilitas untuk kebutuhan masyarakat umumnya merupakan suatu usaha besar, sehingga harus ditangani oleh pemerintah dengan menggunakan keuangan negara, sedangkan pembangunan sarana dapat ditangani oleh pihak swasta. Sedangkan sarana adalah kelengkapan daerah tujuan wisata (DTW) yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan.
Yoeti (1996)
mengemukakan bahwa untuk dijadikan pariwisata sebagai penghasil devisa negara diperlukan pengembangan dan penambahan sarana dan prasarana. Prasarana adalah semua fasilitas yang dapat memungkinkan proses perekonomian berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya.
Lothar A. Kreck dalam bukunya “Internasional Tourism” yang dikutip oleh Yoeti (1996)
membagi prasarana atas dua bagian yaitu :
a. Prasarana perekonomian 1) Pengangkutan
Yang di maksud dengan pengangkutan ialah pengangkutan yang dapat membawa para wisatawan dari Negara dimana ia biasa tinggal, ke tempat atau negara yang merupakan daerah tujuan wisata. Hal ini dapat di lakukan dengan menggunakan pesawat udara, kapal laut, kereta api, bus, taxi, dan kendaraan lainnya. 2) Prasarana komunikasi
Yang termasuk ke dalam kelompok ini diantaranya : telepon, telegraf, radio, televisi, surat kabar dan pelayanan kantor pos. Dengan tersedianya prasarana komunikasi akan dapat mendorong para wisatawan untuk mengadakan perjalanan jauh. Dengan demikian wisatawan tidak akan ragu-ragu meninggalkan rumah dan anak-anaknya karena tersedianya prasarana komunikasi di daerah yang dikunjungi.
3) Kelompok yang termasuk “utilities”
Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah : penerangan listrik, persediaan air bersih, sistem irigasi dan sumber-sumber energi.
4) Sistem perbankan
Dengan adanya pelayanan bank bagi para wisatawan berarti bahwa wisatawan mendapat jaminan untuk dengan mudah menerima atau mengirim uangnya dari negeri asalnya, tanpa mengalami birokrasi pelayanan.
b. Prasarana sosial
Yang di maksud prasarana sosial adalah semua faktor penunjang kemajuan atau menjamin kelangsungan prasarana sosial yang ada. 1) Faktor keamanan
Adanya perlakuan yang tidak wajar dari penduduk setempat, seakan-akan wisatawan yang datang mengganggu ketentraman masyarakat setempat. Contohnya sering terjadi pencopetan, pencurian, dan penipuan.
2) Petugas yang langsung
melayani wisatawan (Government Apparatus) Yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain, petugas imigrasi, petugas bea dan cukai, petugas kesehatan, polisi dan pejabat lainnya yang berkaitan dengan pelayanan para wisatawan.
3) Pelayanan kesehatan
Merupakan suatu jaminan bahwa di daerah tujuan wisata harus tersedia pelayanan bagi suatu penyakit yang mungkin di derita dalam perjalanan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu berusaha mengungkapkan bagaimana kondisi Objek Wisata Pantai Caroline Kelurahan Bungus Barat Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang.
Sugiyono (2005:1) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh, jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Informan penelitian ini diambil secara snow ballsampling yaitu bola salju,pengambilan subjek penelitian dilakukan secara langsung dan menanyakan kepada subjek secara bergulir. Sehubungan penelitian ini maka yang dijadikan subjek penelitian adalah: (1) Subjek yang sudah lama dan telah lama menyatu dengan kegiatan atau aktivitas yang menjadi sasaran perhatian penelitian, (2) Subjek yang terlibat secara aktif pada lingkungan kegiatan yang menjadi sasaran perhatian penelitian, (3) Subjek yang mempunyai kesempatan untuk dimintai informasi, (4) Subjek yang dapat dipercayai untuk memberikan informasi apa adanya, dalam artian subjek yang jujur memberikan informasi yang tidak merekayasa informasi yang diberikan. Informan kunci diambil yakni dari masyarakat yang berada di sekitar objek wisata, meliputi Dinas Pariwisata Kota Padang, Lurah, Camat, pengunjung dan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar objek wisata Pantai Caroline kelurahan Bungus Barat Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Studi Keberadaan Sapta Pesona Objek
Wisata Pantai Caroline Daerah
Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Berdasarkan penjabaran dari hasil penelitian 7 sapta pesona diatas maka studi keberadaan sapta pesona di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang tergolong baik
Hal ini sesuai dengan wawancara dengan informan dengan SM (20) yang mengungkapkan Saya suka mendatangi tempat ini karena masyarakat disini ramah-ramah, saya sering duduk di warung kopi yang banyak terdapat di sekitar objek wisata ini. Sambutan masyarakat terhadap wisatawan yang datang umumnya baik, masyarakat sering mengingatkan kami pengunjung untuk berhati-hati karena di kebuh teh ini sering terjadi tindak kejahatan yang dilakukan
oleh pemuda yang bukan berasal dari daerah sini
Dan diperkuat dengan wawancara dengan saudara HB (43) Keindahan objek wisata ini telah diketahui oleh orang, sehingga banyak wisatawan yang datang berkunjung kesini. Kami juga telah merencanakan berkunjung ke sini jauh hari sebelumnya. Kami disini satu rombongan dari Padang dan kegiatan kami disini diantaranya mengambil foto keindahan alam
2. Studi Keberadaan Sarana dan Prasarana Objek Wisata Pantai Caroline Daerah Bungus Teluk Kabung Kota Padang.
Sarana dan prasarana di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung Kota Padang cukup baik seperti sudah adanya musholla, aula, akomodasi penginapan, restoran walaupun masih ada sarana dan prasarana yang belum terpenuhi. Sarana yang belum terpenuhi antara lain pada sarana pokok yaitu travel agent, tour operator, dan perusahaan transportasi, pada sarana pelengkap juga masih banyak kekurangan seperti belum ada nya lapangan olahraga.
Hal ini sesuai dengan Wawancara dengan saudara RT (46) yang mengungkapkan secara keseluruhan sarana dan prasarana yang ada di pantai caroline tidak begitu lengkap misalnya ATM yang tidak ada, lalu lahan parkir yang masih berantakan, Money changer yang juga belum ada tetapi sarana yang lain seperti mushalla, WC, restoran, penginapan semua sudah bagus.
KESIMPULAN
1. Sapta Pesona objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang tergolong baik, hal ini dapat dilihat dari : Keamanan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang belum begitu baik, Ketertiban di objek wisata pantai caroline daerah bungus
teluk kabung kota padang belum baik, Kebersihan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang baik, Kesejukan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang sangat baik, Keindahan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang baik, Keramahtamahan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang baik, dan Kenangan di objek wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung kota padang baik .
2. Sarana dan Prasarana pada wisata pantai caroline daerah bungus teluk kabung Kota Padang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari : sarana dan prasarana objek wisata pantai caroline yang sudah ada seperti musholla, aula, akomodasi penginapan, restoran walaupun masih ada sarana dan prasarana yang belum terpenuhi. Sarana yang belum terpenuhi antara lain pada sarana pokok yaitu travel agent, tour operator, dan perusahaan transportasi, pada sarana pelengkap juga masih banyak kekurangan seperti belum ada nya lapangan olahraga
SARAN
1. Pengelola harus meningkatkan keberadaan sapta pesona pada objek wisata Pantai caroline hal ini dapat menjadi penunjang perkembangan objek wisata ini menjadi objek wisata unggul di sumatera barat ataupun Indonesia.
2. Pengelola juga harus melengkapi sarana dan prasarana yang ada di objek wisata pantai caroline agar menambah kenyamanan dan mengurangi rasa bosan ketika berkunjung..
DAFTAR PUSTAKA
Bakaruddin. 2011. Perkembangan
danPermasalahan Kepariwisataan.
Padang: UNP Press
C. Yosevita Th. Latupapua dengan judul Persepsi Masyarakat terhadap Potensi objek daya tarik wisata Pantai di
kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara.
Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Solok. Renstra Kab. Solok., 2012 Florida, Linda (1995). Partisipasi Masyarakat
dalam Menjaga Kelestarian Kawasan
Taman Nasional Kerinci Seblat
(TNKS) di Kecamatan kayu Aro Kabupaten Kerinci (Skripsi). Padang: FIS UNP
Mainizar. 1994. Partisipasi Masyarakat dalam Memelihara Sapta Pesona Objek Wisata Pagaruyung di Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar (skripsi). Padang: FIS UNP Matthew B. Milles & Huberman. 1992.
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Bumi Aksara
Moleong, J. Lexi. (2002). Tahap-tahap Penelitian, Edisi Revisi. Remaja Rosda Karya, Bandung
Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya
Salahudin Nasution dengan judul Persepsi wisatawan manca Negara terhadap kualitas ojek wisata dan daya tarik wisata (ODTW) Sumatera Utara. Skripsi
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Edisi Revisi. Jakarta : Rineka Cipta
Soekadijo, 1997: Anatomi Pariwisata. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sugiyono, 2005. Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Syaukani HR, (2003). Pesona Pariwisata Indonesia. Jakarta. Nuansa Madani.
Thoha, Miftah. 2011. Perilaku Organisasi,
Konsep Dasar dan Aplikasinya.
Jakarta: Raja Grafindo
Yoeti, A. Oka ( 1996 ). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung : Angkasa.
http://safira-fitriani.blogspot.com/Manusia dan tanggungjawab, diakses tanggal 15 Februari 2013
(http://alfinnitihardjo.ohlog.com/pengertian tindakan diakses tanggal 15 Februari 2013.