PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA
TERHADAP MATA PELAJARAN AL-ISLAM Oleh : Arizal Eka Putra
ABSTRAK
Dalam proses kegiatan belajar mengajar suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk tercapainya tujuan pendidikan yang diharapakan, dengan adanya model pembelajaran tersebut diharapkan apa yang disampaikan oleh guru dapat diserap oleh siswa dan dapat menghasilkan yang lebih baik.
Penguasaan guru dalam penerapan model pembelajaran merupakan sarana terpenting dalam meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran Al-Islam, dalam proses belajar mengajar menggunakan penerapan pendekatan Cooperative Learning. Namun upaya ini belum sepenuhnya berhasil dalam meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran Al-Islam.
Dari hasil analisa data bisa ditarik kesimpulan bahwa dengan menggunakan penerapan pendekatan pembelajaran tersebut di atas dapat meningkatkan minat belajara siswa terhadap mata pelajaran Al-Islam , melalui penerapan pendekatan Cooperative Learning sangat signifikan dalam meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Al-Islam.
Kata Kunci : Pendekatan Cooperative Learning Dalam
UU Sistem Pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan Meningkatkan Minat Belajar Siswa
rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.1 Upaya meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran Al-Islam sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan baik sebab tidak menarik baginya. Siswa akan malas belajar dan tidak akan mendapatkan kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari sehingga dapat mingkatkan prestasi belajar.
Minat terhadap suatu hal tidak merupakan yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. Membangkitkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari
pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya.2
Kedudukan Al-Islam dalam kurikulum sangat penting dan strategis dalam pelaksanaan pendidikan di setiap jenis dan jenjang pendidikan. Bahwa kedudukan Al- Islam dalam berbagai tingkatan mempunyai kedudukan yang penting dalam Sistem Pendidikan Nasional untuk mewujudkan siswa yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia.3
Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga dan masyarakat. Hal ini ditegaskan dalam UUSPN No 20 tahun 2003 pasal 25 ayat 1-2, bahwa “pada dasarnya pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Kenyataan menunjukkan bahwa “Sistem Pendidikan Nasional dewasa ini diwarnai oleh kontradiksi antara cita-cita ideal yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional dengan pratisnya di sekolah/madrasah” (lihat, Mimbar Pendidikan No. 1 Tahun XIX, 2000), misalnya hasil belajar siswa dalam Al-Islam di sekolah-sekolah belum sesuai dengan tujuan kurikuler Al-Islam. Hal ini terbukti tidak adanya kesesuaian antara minat belajar yang diraih peserta didik dalam pelajaran agama dengan perilaku peserta didik. Pendidikan Nasional belum sepenuhnya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius,
2 Asrori Muhammad Psikologi Pembelajaran, (Bandung : CV Wacana Prima, 2007 ) hlm. 44
3 Azyumardi Azra, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos.1999 ) hlm. 57
berakhlak, berwatak kesatria dan patriotik. Kenyataan lainnya terlihat dalam proses pembelajaran akhlak di sekolah dan madrasah disampaikan sebatas teori, padahal yang diperlukan menciptakan suasana keagamaan dan juga pembinaan akhlak bagi peserta didik yang membutuhkan kerjasama antara penanggungjawab pendidikan di lingkungan pendidikan.4
Dari paparan di atas dapat diperoleh gambaran bahwa tuntutan bagi siswa terhadap Al-Islam di SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung luas sekali. Untuk itu guru yang mengajar Al- Islam di haruskan menguasai materi, dan dalam menyajikan materi harus terampil dan menguasai berbagai strategi dan metode mengajar yang sasarannya membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Tenaga Pengajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran. Para ahli menyatakan bahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum (official) hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan guru dalam kelas (actual).5 Kualitas pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu kurikulum Al-Islam dipengaruhi pula oleh sikap guru yang kreatif untuk memilih dan mengembangkan berbagai pendekatan dan penerapan pembelajaran. Karena itu “profesi guru menuntut sifat kreatif dan kemauan untuk mengadakan
4Soedijarto Memantapkan Kinerja System Pendidikan Nasional
dalam menyiapkan Manusia Indonesia Abad Ke-21,Bandung.IKIP.1999.
hlm.3
5 Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teory Praktik, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
improvisasi”. Atas dasar itu, guru harus selalu menumbuhkan dan mengembangkan sikap kreatifnya dalam mengelola pembelajaran, misalnya dalam memilih dan menetapkan berbagai pendekatan, metode, media pembelajaran yang relevan dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran, karena itu guru harus menyadari bahwa secara pasti belumlah ditemukan suatu pendekatan tunggal yang berhasil menangani semua siswa dan dapat mencapai berbagai tujuan.6 Sebagai mana Firman Allah yang berbunyi:
Artinya : “dan Kami tidak mengutus sebelum engkau
(Muhammad), melainkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”(Q.S. An-Nahl 43).7
Dalam kurikulum Al-Islam disebutkan bahwa “Pendidikan Al-Islam bertujuan memberikan kemampuan kepada peserta didik tentang Al-Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia
6 Dahlan, Model-Model Mengajar,(Bandung CV. Diponegoro, 1990). Hlm. 23
7Departemen Agama RI Al-qur’an dan Terjemahan, (Bandung CV : Diponegoro, 2012). hlm 217
sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warganegara serta untuk mengikuti pendidikan selanjutnya”.
Pada tingkat SMP tujuan Pendidikan Agama Islam diberikan melalui empat mata pelajaran: Aqidah-Akhlak, Fiqh, Al-Qur’an-Hadits dan SKI. Dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, digunakan beberapa pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
b. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama.
c. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya.
d. Pendekatan rasional, yaitu usaha memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agamanya.
e. Pendekatan fungsional, yaitu menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya.8
8 Departemen Agama RI, Kurikulum Berbasis Kompetensi Fiqh SMP, (Jakarta : TP, 2003) hlm 23
Kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih upaya meningkat minat siswa dengan pendekatan Cooperative
Learning yang menunjang pencapaian tujuan kurikulum dan
sesuai dengan potensi siswa merupakan bagian dari kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Hal ini berdasarkan kepada asumsi bahwa ketepatan guru dalam memilih upaya pendekatan Cooperative Learning akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, karena pembelajaran yang digunakan guru berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar yang dilakukan. Dengan kata lain bahwa kualitas hasil belajar siswa merupakan dampak langsung dari kualitas proses. Berdasarkan kajian teoritik yang dilakukan penulis dan relevan dengan permasalahan di atas, terdapat beberapa model pendekatan Cooperative Learning yang dapat meningkatkan minat belajar bersama dan menekankan pada pemberian kesempatan yang luas, suasana yang kondusip dan nyaman kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak di masyarakat, antara lain ”meningjatkan minat melalui pendekatan cooperative learning“. Meningkatkan minat melalui pendekatan Cooperative Learning adalah model diskusi yang dibimbing oleh guru, terdiri dari beberapa kelompok di dalam kelas dimana suatu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang. Model ini akan membuka suasana
belajar yang berkembang, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar siswa.9
Proses belajar mengajar Al-Islam, masih menekankan pada aspek pengetahuan dan sangat sedikit melibatkan siswa. Bahkan belajar agama identik dengan menghafal ayat-ayat dan hadits. Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar dalam Pendidikan Agama Islam merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilakukan. Salah satu model pembelajaran yang diduga dapat menjembatani keresahan tersebut adalah model
Cooperative Learning. Implementasi pendekatan pembelajaran
ini berangkat dari dasar pemikiran getting better learning yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosisal yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Belajar dengan menggunakan Implementasi pendekatan Cooperative Learning akan menumbuhkan kegairahan belajar, karena dengan cara belajar model ini, akan terjadi kompetisi atau persaingan di antara sesama anggota kelompok. Maka terjadilah suasana belajar yang saling mengisi dari segi pengetahuan dan siswa yang percaya diri tentunya mendapat kebutuhan intelektualitas, sosial dan emosi.
9 Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning Analisis
Dalam model pendekatan Cooperative Learning, guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya narasumber dalam pembelajaran, melainkan berperan sebagai fasilitator, mediator dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi siswa untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang diajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan hasil belajar siswa akan semakin meningkat.
10 Soemanto Watsy, Psikologi Pendidikan, (Malang : PT Rineka Cipta, 1983) hlm. 30
Minat berperan sangat penting dalam kehidupan peserta didik dan mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan perilaku. Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan siswa yang kurang berminat. Jadi minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.10
II. PEMBAHASAN
11 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka Cipta Cet. Ke. 4 2003) hlm. 57
12 Slameto, Op Cit hlm. 180
13 Djaali Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009) hlm. 121
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik denga bahan pelajaran yang dipelajarinya itu.11
Minat adalah suatu rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Mengembangkan minat pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya.12
Minat adalah berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Jadi minat bisa diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula di manifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian.13 Sedangkan yang penulis maksud dengan minat belajar
Siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
2)Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
14 M. Dalyono Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009) hlm. 235
di sini adalah suatu kemampuan umum yang dimiliki siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal yang dapat ditunjukkan dengan kegiatan belajar.
Minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak akan sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimbulkan problema pada dirinya. Karena itu pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbul kesulitan. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam pelajaran itu. Dari tanda-tanda itu seorang petugas diagnose apakah sebab kesulitan belajarnya disebabkan tidak adanya minat, atau oleh sebab yang lain.14
2. Indikator minat dalam belajar
1) Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
3) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. 4) Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri orang yang belajar dan ada pula dari luar dirinya.
a. Faktor internal (yang berasal dari dalam diri)
15 Op Cit hlm. 33
16 Syaiful Bahri Djamarah Psikologi Belajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002) hlm. 15
5)Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
Pada hakikatnya minat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka ada beberapa15
perubahan tertentu yang di masukan kedalm cirri-ciri minat dalam belajar :
1. Perubahan yang terjadi secara sadar
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif, aktif 4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara 5. Perubahan dalm belajar bertujuan atau terarah 6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku16
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang selalu tidak sehat, sakit kepala, demam, pilek, batuk, dan sebagainya. Demikian pula halnya kesehatan rohani (jiwa) kurang baik, mislanya mengalami gangguan pikiran, perasaan kecewa, karna pacar, orang tua, yang dapat mengurangi semangat belajar.
b. Faktor Exsternal (yang berasal dari luar diri)
Keluarga adalah ayah ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah. Faktor orangtua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar, jadi peran orangtua sangat penting untuk keberhasilan anak dalam belajar kurangnya perhatian orangtua terhadap anak sangat berpengaruh dalam hasil pencapaian prestasi anak.17 Jadi menurut penulis keberhasilan seorang anak bukan hanya tanggung jawab guru saja, tetapi peran orangtua sangat penting untuk pencapaian keberhasilan anak dalam meraih prestasi dan cita-citanya.
Data yang akan di analisa merupakan data kualitatif penulis akan menerangkan pengolahan data yang telah penulis peroleh dari proses penelitian dengan menggunakan metode pengumpulan data, seperti interview, observasi, dan dokumentasi.
Dalam penelitian ini penulis mengolah dan menganalisa data yang diperoleh selama mengadakan penelitian dilapangan sebagai proses penyelesaian semua data yang dikumpulkan. Adapun banyaknya obyek dilokasi penelitian yang di ambil berjumlah 43 Peserta didik kelas VII. b SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung
yang diamatai oleh peneliti adalah peserta didik kelas VII. b sedangkan penulis sebagai Observasi atau mengamati langsung dilapangan.
Pada siklus I ada beberapa siswa yang belum aktif dalam kegiatan pembelajaran, terdapat 2 siswa tidak memperhatikan guru menjelaskan, 2 siswa tidak mencatat materi, 2 siswa pasif pada saat diskusi dan terdapat 3 kelompok tidak maju kedepan mempresentasikan hasil diskusinya karena masih malu.
Dari hasil pengamatan Observasi pada kegiatan siklus 1 ditemukan hal-hal sebagai berikut :
Keaktifan peserta didik masih kurang pada saat berdiskusi bersama kelompoknya karena belum terbiasa dengan pembelajaran Cooperative Learning teknik-berpasangan-berlima yang diterapkan peneliti. Begitupun dengan guru dalam mengajar masih belum terbiasa. Kendala-kendala yang dirasakan guru pada pelaksanan siklus I adalah masih banyak peserta didik belum jelas tentang prosedur pembelajaran
Cooperative Learning dengan baik berfikir-berlima-berpasangan.
Waktu yang digunakan pada saat diskusi terbatas dan masih ada peserta didik yang kurang serius mengerjakan lembar kerja dan kurangnya aktivitas peserta didik dalam memperhatikan penjelasan teman, bertanya dan menyanggah pendapat teman pada saat presentasi, serta masih meras takut, malu, apabila salah dan masih kurang percaya diri, dan keadaan kelas belum kondusif ada beberapa siswa yang masih ribut dan
main-main. Pada siklus II masih ada siswa yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran terdapat 1 siswa tidak memperhatikan guru menjelaskan, 1 siswa tidak mencatat materi, 2 siswa pasif pada saat diskusi, dan 1 kelompok tidak maju kedepan mempresentasikan hasil diskusinya mereka karena masih malu.
Dari hasil penelitian pada siklus II diketahui bahwa tindakan pembelajaran dengan menggunakan penerapan Cooperative Learning sudah cukup baik dan berhasil baik secara individu maupun kelompok dibandingkan dengan siklusi I masih kurang baik dan maksimal maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Siswa menjadi paham terhadap bahan pengajran yang diajarkan mencapi prestasi tinggi,baik secara individu maupun kelompok b. Siswa lebih bersemangat untuk bekerjasama dalam kelompok
III. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan anilisa data yang dikumpulkan minat siswa kelas VII. b. terhadap mata pelajaran Al-Islam di SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dari hasil penelitian penerapan pembelajaran Cooperative
Learning dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata
pelajaran Al-Islam di SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung. 2. Penerapan Cooperative Learning sangat signifikan dalam
meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Al-Islam di SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung.
Sehubungan dengan penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa rekomendasi sebagai berikut :
1. Kepada kepala sekolah SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung, agar selalu memberikan pengarahan kepada dewan guru dalam pembelajaran selalu menerapkan penerapan pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan minat siswa
2. Kepada guru Al-Islam agar selalu menerapkan penerapan pembelajaran Cooperative Learning untuk meningkatkan minat siswa
3. Bagi dewan guru, sebaiknya penerapan pembelajaran
Cooperative Learning dapat dijadikan sebagai alternative
pembelajaran dalam meningkatkan minat siswa khususnya pada mata pelajaran Al-Islam
4. Kepada siswa SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung agar selalu lebih meningkatkan minat belajarnya, supaya dapat menghasil prestasi yang memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Asrori Muhammad, Psikologi Pembelajaran, (Bandung : CV Wacana Prima, 2007)
Azyumardi Azra, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos.1999 ) Dahlan,Model-Model Mengajar,(Bandung:CV Diponegoro,
1990)
Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009) Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. (CV:
Bandung Diponegoro, 2012)
Etin Solihatin dan Raharjo, Cooperative Learning Analisis
Pembelajaran (Bumi Aksara, Cetakan Ketiga Bandung,
2008)
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2009)
Soemanto Watsy, Psikologi Pendidikan, (Malang : PT Rineka Cipta, 1983)
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka Cipta Cet. Ke. 4 2003)
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teory Praktik, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1997)
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002)
Soedijarto, Memantapkan Kinerja System Pendidikan Nasional
dalam menyiapkan Manusia Indonesia Abad Ke-21,
(Bandung : IKIP, 1999)