• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - 13.11.0062 STEVEN CHRISTIANTO MENSINGA (9.8)2.BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - 13.11.0062 STEVEN CHRISTIANTO MENSINGA (9.8)2.BAB I"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

Restaurant

Apung di Semarang

1.1. Latar Belakang Projek

Asal-usul restaurant dimulai pada abad ke-16, istilah restaurant

pertama ditemukan di Prancis. Istilah restaurant berasal dari bahasa

Prancis yaitu restaurer/restore mempunyai arti tempat untuk

beristirahat dan memulihkan kembali tenaga atau energi. Spesifiknya

hal ini digunakan untuk sajian sup yang banyak mengandung kaldu.

Hal ini berbeda dengan perkembangan arti kata restaurant pada

akhir abad ke-18, dimana pada masa ini restaurant memiliki arti ruang

kecil atau pondokan (tavern), yang digunakan untuk para pelancong

mengisi perut. Makanan yang disajikan adalah hidangan sederhana

yang bahan-bahan baku dari sekitar pondokan.

Di Indonesia, rumah makan biasa disebut dengan istilah restoran.

Peluang usaha membuka restaurant di indonesia sangatlah diminati

oleh masyarakat, khususnya dipulau Jawa karena pulau Jawa

merupakan pulau yang paling padat penduduknya di Indonesia.

Dengan latar belakang ini maka akan dibuat restaurant apung

disemarang, dengan membuat restaurant apung adalah salah satu

upaya untuk membuat inovasi restauraant yang berbeda dari

(2)

1.1.2. Alasan dan Motivasi Pemilihan Judul.

- Ketertarikan ( Interest )

Ingin menciptakan suatu karya arsitektur yang ekologis pada

bangunan restaurant apung dan dapat diterima oleh masyarakat.

Desain restaurant apung ini memiliki kekhasan yang berbeda dari

desain bangunan restaurant pada umumnya. Desain bangunan ini

dapat menjadi bahan pembelajaran bangunan ekologis dan ramah

lingkungan bagi masyarakat untuk lebih memahami suatu karya

arsitektur. Dan juga ingin menciptakan sebuah karya yang menjadi

sarana dan prasarana rekreasi bagi masyrakat kota.

- Kepentingan Mendesak ( Urgency )

Kota Semarang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah

sedang mengalami proses pertumbuhan. Perkembangan

perekonomian di kota Semarang beralih dari fase perekonomian

primer (agraris dan nelayan) dan mulai memasuki fase

perekonomian sekunder (industri dan bangunan) juga fase

perekonomian tersier (perdagangan, jasa, perbankan).

Hal ini menyebabkan kondisi aktifitas masyarakat kota

semarang menjadi sangat padat. Kondisi aktifitas yang padat dapat

menyebabkan kejenuhan dan stres bagi masyarakat. Jika kondisi

tersebut dibiarkan, dapat mengakibatkan tekanan mental bagi

(3)

Dengan adanya permasalahan ini, maka dibutuhkan sarana

dan prasarana rekreasi untuk mengatasinya, penduduk kota

membutuhkan rekreasi,keluar dari rutinitas untuk mendapatkan

kesenangan hati dan menyegarkan pikiran.

Dalam hal ini tempat rekreasi yang akan dibuat adalah

restaurant apung yang terintegrasi dengan pemancingan,

restaurant dan pemancingan ini dapat menjadi solusi tempat

rekreasi dan juga sebagai tempat berkumpul dengan keluarga dan

kerabat.

- Kebutuhan ( Need )

Kebutuhan untuk mengurangi tingkat kejenuhan pada

penduduk kota semarang. Kota yang manusiawi harus

menyediakan ruang-ruang publik sebagai sarana rekreasi, tempat

masyarakat berkumpul, bersosialisasi dan menjalankan aktivitas

rekreatif. Maka pemenuhan kebutuhan akan sarana rekreasi

haruslah terpenuhi oleh karena itu dibuatlah sarana rekreasi yang

terbuka bagi umum dan dapat diakses dengan mudah oleh

masyarakat kota.

Sarana rekreasi yang akan dibuat adalah restaurant

terapung diatas kolam air yang berfungsi juga sebagai kolam

pemancingan. Hasil pancingnya bisa dapat langsung diolah dan

dikonsumsi di restaurant apung ini.

Hal ini didukung dengan lingkungan kota semarang yang

(4)

danau, kolam tambak yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai

lokasi dari projek restaurant apung ini.

- Keterkaitan ( Relevancy )

Projek yang akan dilaksanakan berdasarkan atas peluang

pemanfaatan lahan di atas air berupa waduk, danau, ataupun

kolam-kolam tambak di wilayah semarang.

Terkait dengan potensi dari lahan di atas air yang dapat

dijadikan tempat rekreasi berupa restaurant apung dan juga

pemancingan.

Potensi dari lahan di atas air yang dimiliki masih bisa

dimanfaatkan dieksplorasi sebagai sarana rekreasi. Sarana

rekreasi berupa restaurant apung ini dapat menjadi alternatif bagi

masyarakat kota untuk melepas penat dan kejenuhan pada rutinitas

sehari-hari.

- Motivasi

Motivasi pemilihan judul Restaurant Apung di Semarang

adalah ingin menciptakan suatu karya arsitektur berupa bangunan

yang didirikan diatas permukaan air, dan ingin mempelajari

(5)

1.2. Tujuan dan Saran Pembahasan

1.2.1. Tujuan

Tujuan dari projek kompleks bangunan restaurant apung di

Semarang adalah sebagai sarana dan prasarana untuk memenuhi

kebutuhan rekreasi/wisata kuliner masyarakat kota Semarang.

Selain sebagai wisata kuliner, tempat ini juga bisa menjadi

behan pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal sebuah

karya desain arsitektur yang ekologis dan ramah lungkungan.

1.2.2. Sasaran

Sasaran dari projek kompleks bangunan restaurant apung di

Semarang adalah masyarakat kota Semarang dan wisatawan dari

luar kota Semarang. Sasaran utama pada projek ini adalah

masyarakat yang termasuk dalam golongan masyarakat usia kerja.

Sasaran juga menuju kepada kalangan muda mudi yang

membutuhkan tempat untuk berekreasi saat hari libur ataupun saat

ingin mengerjakan tugas. Projek ini juga ditujukan untuk menjadi

tempat rekreasi bagi keluarga.

1.3. Lingkup Pembahasan

Projek perancangan kompleks Restaurant apung di Semarang

membahas hubungan restaurant apung sebagai fungsi utama dengan

fasilitas-fasilitas pendukung dan peunjang kegiatan yang disediakan.

(6)

dan ramah lingkungan, juga mengenai jenis struktur apung apa yang

cocok digunakan untuk lahan tersebut.

Sedangkan pembahasan non-arsitektural digunakan untuk

mendukung pembahasan utama, yaitu untuk menambah wawasan

masyarakat mengenai pentingnya ilmu ekologis untuk kehidupan

masyarakat.

1.4. Metode Pembahasan

1.4.1. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data menggunakan metode

pengumpulan data primer dan data sekunder, dapat dilihat pada

diagram 1

Metoda pengumpulan data

Primer Sekunder

Studi

Studi Studi Browsing

lapangan

banding literatur internet

Studi

Diagram 1. 1 :Skema Bagan Metoda pengumpulan data

lapangan

Sumber : Analisa Pribadi, 2017

Data yang digunakan Metode yang digunakan dalam pengumpulan

(7)

Metode Pengumpulan Data Primer

Metode pengumpulan data primer adalah metode pengumpulan

data yang dilakukan dengan melaluai kegiatan survey, observasi,

dan wawancara

- Studi Observasi

Studi observasi adalah melakukan pengumpulan data dengan

studi observasi lapangan atau survey lapangan pada beberapa

projek sejenis yaitu bangunan restaurant apung antara lain

restaurant apung kampung rawa, dan restaurant apung waduk Jati

Luhur. Lalu mengumpulkan data tentang data tapak yang akan

dipilih. Tapak yang dipilih harus memperhatikan point-point dan

aspek yang sesuai dengan kebutuhan projek. Hasil dari studi

observasi dan survey lapangan berupa data-data seperti foto-foto

dan informasi yang berhubungan dengan projek restaurant apung.

- Wawancara

Wawancara adalah mengumpulkan data di dengan cara

melakukan tanya jawab secara langsung kepada narasumber yang

berada dilokasi survey. Wawancara dilakukan kepada pengelola

restaurant apung kampung rawa, dan pengelola restaurant apung

waduk Jati Luhur

Metode Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data

(8)

media internet ataupun media masa mengenai data dan teori yang

berhubungan dengan obyek studi projek sejenis.

1.4.2. Metode Penyusunan dan Analisa

Metode yang dipakai untuk penyusunan penulisan dan

analisa antara lain:

Metode Induktif

Metode induktif adalah metode pengumpulan data yang

bersifat khusus atau konkrit yang berkaitan langsung dengan projek

restaurant apung. Metode induktif ini dapat dilakukan dengan

melakukan studi banding untuk menbandingkan data dari instansi

terkait, melakukan wawancara, dan mendokumentasikan projek

sejenis(restaurant apung kampoeng rawa dan restaurant apung

waduk Jati Luhur) projek sejenis yang didatangi dengan tujuan

melakukan hal-hal berikut:

 Studi Banding antar restaurant apung 

 Mengamati fungsi antar restaurant apung, 

 Mengamati pola sirkulasi, 

 Mengamati sistem struktur bangunan, 

 Mengamati kebutuhan ruang , 

 Mengamati sistem utilitas bangunan antar restaurant apung, 

 Mengamati material bangunan yang digunakan, 

 Mengamati pencahayaan dan penghawaan dan lain

(9)

Kemudian kesimpulan dari pengamatan menjadi suatu asumsi dan

digunakan dalam proses penyusunan data.

Metode Deduktif

Metode deduktif adalah metode pengumpulan data yang

bersifat umum yang menuju konkrit dan berkaitan dengan projek

restaurant apung.

Setelah semua data-data terkumpul, terkumpul maka akan

dilakukan analisa data yang akan diolah menjadi landasan teori dan

pemrograman arsitektur.

1.4.3. Metode Pemrograman

Metode yang diguanakan dalam pemrograman antara lain:

Analisa

Analisa yang dilakukan adalah analisa data terhadap

restaurant apung dan juga tentang keadaan eksiting tapak yang

akan dipilih. Dari hasil anlisa ini akan dijadikan sebagai dasar

dalam menentukan kebutuhan ruang, fasilitas bangunan projek

restaurant apung di Semarang ini.

Sintesa

Sintesa dilakukan setelah analisa data tapak eksisting dan

bangunan restaurang apung yang sudah ada kemudian dapat

dibuat suatu desain bangunan yang dapat memenuhi aspek-aspek

yang sesuai data dari hasil analisa yang dibutuhkan seperti

kebutuhan ruang, pola sirkulasi, dan fasilitas-fasilitas pada projek

(10)

1.4.4. Metode Perancangan Arsitektur

Metode yang dipakai untuk perancangan arsitektur antara lain:

Asistensi

Melakukan banyak asistensi dengan dosen pembimbing,

dimana setelah mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan

kebutuhan ruang, fasilitas, dan bahan material, serta mengamatai

projek sejenis, mencari literatur dan banya referensi, dan juga

memperhatikan keadaan lingkungan pada site projek sejenis baik

eksterior ,interior dan lingkungan di sekitar site tersebut, emudian

menganalisanya.

Konsep

Konsep dari projek restaurant apung di Semarang ini adalah

mendesain bangunan restaurant yang berada diatas air. Konsep

dari desain bangunan ini menggunakan pendekatan desain

arsitektur ekologis yang juga dipadukan dengan langgam arsitektur

lokal.

Konsep ini tidak hanya fokus pada bentuk bangunan tetapi

juga memperhatikan material yang akan digunakan dan fungsi

bangunan. Fungsi bangunan pada bangunan restaurant apung di

semarang ini menggabungkan antara fungsi restaurant sebagai

tempat untuk makan dan berasntai dengan fungsi rekreasi seperti

(11)

Rancangan Skematik

Rancangan skematik pada projek restaurant apung di

Semarang dilakukan dengan sketsa tangan ataupun dengan

bantuan teknologi computer untuk menampilkan konsep desain dari

skematik pada projek restaurant apung di Semarang ini. Ide-ide dan

gagasan yang digambarkan dalam sketsa tangan maupun dengan

komputer disesuaikan dengan kebutuhan dari projek ini.

Pembuatan Detail

Pembuatan detail diambil pada bagian-bagian konstruksi dan

utilitas bagunan yang dirasa cukup menarik untuk menjadi bahan

pembahasan dari segi desain arsitektur , missal dapat diambil pada

bagian struktur apung yang digunakan juga pada bagian utilitas

bangunan ini.

Presentasi

Presentasi dapat dilakukan dengan memvisualisasikan

desain dengan berbagai macam cara atau media penyampaian

seperti dengan menggunakan media gambar 2D ( dua dimensi )

berupa gambar kerja, media power point, dan media gambar 3D (

tiga dimensi ) yang berupa gambar atupun maket yang dapat

menunjukan keseluruhan tampilan desain secara 3 dimensi

(12)

1.4.5. Kerangka Pemikiran

Dalam penyusunan landasan teori untuk projek Restaurant

apung di semarang terdapat kerangka pemikran yang dapat dilihat

pada diagram

Diagram 1. 2 :Skema Skenario Metoda Pemrograman

(13)

1.5. Sisematika Pembahasan

Sistematika Pembahasan dalam Landasan Teori dan

Pemrograman adalah sebagai berikut:

1.5.1. BAB I PENDAHULUAN

BAB I membahas tentanng pendahuluan , pendahuluan

tersebut memiliki beberapa inti yang dibahas yaitu menjelaskan

tentang Latar Belakang Projek, kemudian Tujuan dan Sasaran

Pembahasan, Lingkup Pembahasan , Metoda Pembahasan, dan

Sistematika Pembahasan.

1.5.2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II membahas tentang Tinjauan Umum, Tinjauan Khusus

dari “Restaurant Apung Di Semarang, Jawa Tengah “ serta

Kesimpulan Batasan dan Anggapan mengenai projek.

1.5.3. BAB III ANALISA PENDEKATAN PROGRAM ARSITEKTUR

BAB III membahas tentang analisa pendekatan arsitektur

seperti analisa pendekatan secara arsitektur yang berisi tentang

studi aktifitas ,studi fasilitas ( kebutuhan, pola, besaran ,

indoor/outdoor ) studi ruang khusus, studi citra arsitektural,

pendekatan sistem bangunan yang berisi sistem struktur , sistem

utilitas, pemanfaatan teknologi yang dipakai pada bangunan, dan

(14)

1.5.4. BAB IV PROGRAM ARSITEKTURAL

BAB IV membahas tentang program arsitektur yang berisi

konsep program, tujuan perancangan, faktor penentu perancangan

, dan persyaratan . Selain itu konsep program aspek citra, fungsi,

dan teknologi dibahas pada BAB IV.

1.5.5. BAB V KAJIAN TEORI

BAB V membhas tentang kajian teori , kajian teori yang

menekankan pada penekanan desain atau tema desain dan

mengkaji tentang teori permasalahan dominan yang dikaitan

dengan bentuk , teknologi, dan lingkungan budaya.

1.1.6. DAFTAR PUSTAKA

Berisi daftar kepustakaan yang digunakan sebagai sumber

studi literatur. Kepustakaan bersumber dari buku, karya tulis, jurnal,

Peraturan Pemerintah dan media internet.

1.1.7. LAMPIRAN

Berisi data-data dapat berupa gambar, tabel, dan lain-lain

yang berhubungan dengan isi Landasan Teori dan Pemrograman

Referensi

Dokumen terkait

Identifikasi senyawa golongan tanin penotolan ekstrak etil asetat konsentrasi 25000 µg/ml pada KLT menggunakan fase diam silika gel F254 dan fase gerak n-heksan : etil asetat

Gelatin tipe A adalah gelatin yang umumnya dibuat dari kulit hewan muda (kulit babi, dan juga sisik ikan), sehingga proses pelunakannya dapat dilakukan dengan

Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Bidang Cipta Karya Kabupaten. Lampung Timur,

Seluruh penerimaan bahan baku kayu PT Pindo Deli Pulp And Paper Mills Karawang didukung dengan dokumen angkutan hasil hutan yang sah, hasil uji petik stock

Dana pinjaman ini berasal dari zakat dan infaq beberapa pihak yang digulirkan oleh pengelola kepada masyarakat, atas dasar ini penulis menduga bahwa model

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Fatimah Zahrah, menyatakan bahwa skripsi dengan judul : Pengaruh Diversifikasi Perusahaan dan Praktik Manajemen Laba terhadap

Dengan keahlian yang terbatas, implementasi kegiatan rehabilitasi ditemukan masalah yaitu rumah yang direhabilitasi tidak sesuai dengan kriteria fisik dan non fisik

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul “Pengaruh Karakteristik Kepala Desa terhadap Ketepatwaktuan Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan