SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S1) Ilmu Komunikasi
Program Studi Ilmu Komunikasi
Oleh :
NINA PRASETYANINGSIH
NIM. 6662120845
KONSENTRASI HUMAS
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Nama NIM
Tempat Tanggal Lahir Program Studi
Nina Prasetyaningsih 6662120845
Sragen, 08 November 1993 Ilmu Komunikasi
Menyatakan bahwa skripsi ini yang berjudul .'Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani (Sebuah Analisis Semiotika Model Roland Barthes)" adalah hasil karya saya sendiri, dan dan seluruh sumber yang dikutip maupun yang ditujuk telah saya nyatakan benar. Apabila dikemudian hari skripsi ini terbukti mengandung unsur plagiat" maka gelar kesarjanaan saya bisa dicabut.
NIM
:6662120845Judul Skripsi : Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani (Sebuah Analisis Semiotika Model Roland Barthes)
Serang, September 2016
Draft skripsi ini telah disetujui untuk diujikan
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
I
Dosen Pembimbing IINeka Fifiivarr. S.#s.. rvr.SI.
NIP. I 977081 1 2005012003
NAMA I\'IM Judul
LEMBAR PENGSATIAN SKRIPSI
: NINA PRASETYANINGStrI :6662124845
: REPRESENTASI MAKNA TEKAD DALAM FILM
KAHAANI (SEBUAII ANALISIS SEMIOTIKA MODEL
ROLAND BARTHES)
Telah diuji di Hadapan dewan Penguji Sidang Skripsi di Serang, tanggal 28 bulan September tahun 2016 dan dinyatakan LULUS.
Ketua Penguji :
Yearrv Panii Setianto. S.Sos.., M.Si. 4hD
NrP. 19821231200801 1018
Anggota :
Da_rwis Sagita. S.LKom." M.I.Kom NrP. 198305132008121002
Anggota:
Ilusnan Nuriumap" S.As.. M.Si NrP. 1978082s2010121003
Mengetahui,
Serang, 28 September 2A16
?'
/N
:ffi_
, t rr'[
' 1bi
ti:-*
Fr"odi Ilmu I(omunikasr
, -i)" -".q Ks
./',.i .'..r..l,-,:
:."a'*i(t
**j .frfi:
, . , a'.rf i'-, tc4
"
fji.,*,'t;'
,-a'^..
,'; r'l'
Barthes). Pembimbing I: Neka Fitriyah, S.Sos., M.Si; Pembimbing II: Husnan
Nurjuman, S.Ag., M.Si.
Penelitian ini berfokus padarealitas kehidupan manusi4 yakni sikap tekad. Tekad merupakan sikap yang harus dimiliki setiap manusia untuk mencapai tujuan hidup. Tujuan penelitian
ini
adalah mengidentifikasi proses bertekad seseorang dan memahami makna tekad dalam film Kahaani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis semiotika dengan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif. Unit analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalahfilm
Kahaani dengan mengobservasi gambar dan suara atau dialog yang didalamnya terdapat unsur tanda yang menggambarkan makna tekad. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis semotika model Roland Barthes, yffig menganalisis secara dua tahap, yaitu tahap denotasi dan tahap konotasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film Kahaani secara denotasi, makna tekad terepresentasi melalui dialog antar pemain, adanya niat keyakinan, pengambilan keputusan dan tindakan merupakan landasan dari tekad untuk mencapai tujuan. Secara konotasi, makna tekad terepresentasi melalui mimik wajah, kefokusan tatapanmata dan intonasi suara pemeran utama.Barthes). aniversity-level instructor
I:
Neha Fitriyah,^S. ^Sos., M.Si;
University-level instructor
II:
Husnan Nurjumnn, S.Ag.,M.SiFocus of this thesis is the reality of human life, namely determination attitude. Determination is an attitude that sltauld be owned by everyone to achieve the life goals. The purpose of this research is to identify futermination attitude process and to understand the meaning of determination attitude in the Kahoani Film. The method used in this research is semiatic analysis with a qualitative approach and descriptive with the object af observation are scenes on Kahasni movie duration
182 minutes. The unit of analysis in this research is a Kahaani movie with observing the images and sounds or dialogue that sign can describe determination attitude. Then analysis used semiotic analysis Roland Barthes models, that analyzed in two stages, stage denotation and connotation stage. Detntation meaning understood as literal meanings, then connotations is the hidden meaning or implicitly contained in tlp film. Ihis research concluded that the Kahaani fiIm con represented
of
determination meaning to the onlooker. In denotation, meaning a determination is represented through a dialogue between players, their intentions, beliefs, decisions and actions are the cornerstones of the determination to achieve the goal. In connotations, meaning s determination is represenled through face expressions, eye gaze and tone afvoice the main character.Kqwords: freprtsentation Film" Determination Attitude, Semiotics
Alhamdulillahirabbil'alamin, segalapuji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa, Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta, dan sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW,
keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zantan nanti.
Alhamdulilah wasyukurilah, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Representasi Makna Tekad dalam
Film
Kahaani (Sebuah Analisis SemiotikaModel Roland Barthes).
Penyrsunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana strata satu
(Sl)
pada konsentrasi Hubungan Masyarakat, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik,Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Penelitian
ini
bertujuan untuk mengungkap bagaimana makna dan prosesbertekad pada seseorang yang terepresentasi melalui film Kahaani. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan didalam penyusunan skripsi ini karena keterbatasan kemampuan dari penulis. Oleh karena
itu kritik
dan saran membangun sangat diperlukan sebagai motivasi penulis kedepannyaagar lebih baik lagi.September,2016
Penulis
viii
Hadirnya skripsi ini tak lepas dari banyak pihak yang telah mendukung penulis.
Alhamdulillah, dengan rahmat serta kemurahan Tuhan Yang Maha Esa yang tiada hentinya serta semangat dari ketauladanan Rasulullah SAW pada penulis, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Dr. Agus Sjafari, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Dr. Rahmi Winangsih, M.Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Darwis Sagita, M.Ikom, selaku Sekertaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Neka Fitriyah, S.Sos,. M.Si, selaku pembimbing I skripsi yang sangat banyak membantu memberikan pemahaman dalam penyusunan skripsi ini, serta dorongan semangat yang diberikan kepada penulis.
5. Husnan Nurjuman, S.Ag., M.Si, selaku pembimbing II skripsi yang telah banyak memberikan semangat dan membantu serta memberikan pemahaman dalam penyusunan skripsi ini.
6. Puspita Asri Praceka, S.Sos., M.I.Kom, selaku pembimbing mata kuliah seminar proposal tahap dua, terimakasih bu atas dorongan motivasi, kritik dan sarannya.
7. Seluruh Bapak Ibu Dosen yang telah membekali penulis dengan pengetahuan yang sangat berharga serta tak ternilai.
10. Ibu Bapak, Ana, Nisa, serta seluruh keluarga besar Mbah Karso Wiyono yang
selalu memberikan dukungan dan semangatnya kepada penulis dari awal
hingga akhir penyusunan skripsi ini.
11. Arinditha, Devi, Emma, Ebot, Ayu dan Rima, sahabat seperjuangan sejak SMP
yang telah banyak menginspirasi dan selalu siap menampung ke-galau-an
penulis ketika penulis merasa tak berguna, ehehehehe..
12. Asri, Jannah dan Eko, pecahan sahabat perbojakan yang selalu kompak buat magang, nyusun skripsi bareng, s{Lmpe nangis bareng masalah diduain. Oh my best deh ya!
13. SahabatPerbojakan. Dian Silitong4 Yohana, Rahel Mutia, Ardi, makasihuntuk semangatnya yang terus membara
di
grup chatting, meskipun kita jarang kumpul lengkap, kita tetap satu. (katanya sih grtu).14. Ri?fty Agung Alharis, aaaaaakmakasih banyak Gung atas semua bantuannya, dilematik pencarian motivator terpecahkan olehmu, atrahahaha..
15. Erdana Nur Prasetyo, yang kembali.. cieee, makasih yaa, selalu siap diganggu dan srap nemenin kemanapun, thankyou!
16.
UKM
PSM Gita Tirtayasa Untirta yang telah memberikan pengalaman berorganisasi dan saya bangga pernah menjadi anggota PSM Gita Tirtayasa. 17. Seluruh teman seperjuangan angkatan 2012Yrogam Studi Ilmu KomunikasiUntirta yang selama ini telah banyak memberikan pelajaran dalam hidup di
dunia perkuliahan.
kamu
tidak
akan mencng.(Dcuid il. Schwontz)
Terkadang mencintai proses itu melelahkan dan sering kali diportenglahan proses itu menyedihkan, namun percayalah pnoses tidak pernah
menghianati hasil. -Ninspras
Skripsi
ini
ku
persembahkan
untuk
lbu
dan Bapakku, kedua
adikku serta
COVER
LEMBAR PERNYATAT\N OzuSINALITAS LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
1t
ul
1V
V1
vll vlll
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENCANTAR
UCAPAN TERIMAKASIH
MOTTO
DAFTAR ISI xl
DAFTAR TABEL xlv
xv
xvr DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
l.l
Latar Belakang 1.2 Rumusan MasalahI 6 6 6 7 7 1.3 Identifikasi Masalah
1.3.1 Batasan Masalah 1.4 Tujuan Penelitian
xl DAFTAR LAMPIRAN
2.1 Film
2.2 Representasi ...
2.3 Teori Representasi... 2.4 Tekad
2.5 Semiotika Film... 2.6 Semiotika Roland Bamhes 2.7 Kerangka Berfi kir...
2. 8 Penelitian Terdahulu...
BAB
tII
METODE PENELITIAN3.i Metode Penelitian 3.2 Fokus Penelitian
3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.4 Unit Analisis Data
3.5 Teknik Analisis Data 3.6 Jadwal Penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN
4. I Deskripsi Subjek Penelitian 4.1.1 Profil Pembuat Film
4. 1 .2 Penokohan dalam Film Kahaani...
4. 1.3 Sinopsis Film... 4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.1 Analisis Tanda Representasi Makan Tekad dalam Film Kahaani
4.2.2Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani 4.3 Pembahasan
5. 1 Simpulan...
5.2 Saran... DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
76 77
78
84
Tabe13.1 Tabel S Bahan Scene
Analisis....-
39Tabel 3.ZTabe,l Jadwal
Penelitian..
44Tabel 4.L Scene
Bandara...
..
51Tabel 4.2 Scene Kantor Polisi
Kalight...
53 Tabel 4.3 Scew Vidya berda diPenginapan
55 Tabel 4.4 Scene Vidya berada di Halaman Kantor NDC...
57 Tabel 4.5 Scerp Vidya berada di Kantor PolisiKolkata...
59 Tabel 4.6 Scene Vidya berada diPenginapan...
6l Tabel 4.7 SceneVidyaberadadiTringularPark...
64 Tabel 4.8 Scene Hubungan Kekuatan Tekad dalam Mencapai Tujuan... 66xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada umumnya film merupakan media hiburan dalam masyarakat. Perkembangan seni film selalu mempunyai sisi kemajuan yang sangat pesat dan mampu menunjukkan keberhasilannya untuk menampilkan kelayakan alur cerita, keindahan seni pengambilan latar dan sudut kamera, hingga keelokkan budaya disuatu tempat. Di tengah perkembangan perfilman yang pesat ini, tentu banyak para sineas perfilman baik dalam negeri maupun luar negeri yang mewarnai dunia ini, salah satunya yang terkenal adalah film Bollywood. Film Bollywood merupakan film yang cukup diminati di masyarakat karena penyajian pesan dari sang pembuat film diselipkan melalui keunikannya berupa kebudayaan anggukan kepala, logat bahasa yang digunakan, dan yang melekat sekali ialah gerakan tari-tarian hingga nyanyian lagu-lagu menawan yang diselipkan didalamnya. Namun dengan beberapa keunikan tersebut, tak sedikit masyarakat menilai film Bollywood terlalu tertele-tele dan membosankan dengan adegan tari-tarian dan nyanyian lagu-lagunya. Untuk itu, masyarakat memerlukan gebrakan terbaru agar masyarakat kembali tertarik dengan film Bollywood, tentunya dengan tidak menghilangkan sekali keunikan dan ciri khasnya. Film Kahaani merupakan salah satu film Bollywood yang mencoba sedikit keluar dari jalur unik Bollywood. Dalam film ini, tidak terdapat ciri khas nyanyian, lagu serta gerakan tari, namun didalam film ini tetap menampilkan ciri khas logat India dan tak lupa memperkenalkan budaya India berupa acara hari besar Puja Durga.
Film juga berkembang menjadi media komunikasi yang ampuh. Berbagai macam pesan dapat tersaji dengan baik di dalam sebuah film. Film dapat membawa dampak bagi penikmatnya, dampak tersebut dapat bersifat positif maupun negatif,
tergantung bagaimana cara penonton menyerap dan menonton sebuah film. Selain dianggap sebagai refleksi dari kehidupan, film juga dianggap sebagai media yang baik untuk merepresentasikan realitas kehidupan masyarakat. Realitas kehidupan masyarakat sangatlah banyak dan beragam. Dalam kehidupan bermasyarakat sering kali kita menemukan dan melihat orang-orang dengan segala keterbatasan, baik secara ekonomi hingga keterbatasan kita sebagai manusia dalam memerankan peran kita sebagai manusia di muka bumi. Kita seringkali menganggap diri kita tidak bisa melakukan satu hal sebelum kita mencobanya. Setiap keterbatasan yang dimiliki oleh manusia hendaknya tidak dijadikan penghalang dalam menjalani kehidupan.
Seringkali keterbatasan yang dimiliki menjadikan banyak manusia patah semangat dan tidak bergairah serta pasrah dalam menghadapi kehidupannya, padahal disetiap kehidupan manusia, sudah semestinya manusia memiliki tujuan hidup untuk lebih mewarnai hidupnya. Semua orang pasti memiliki cita-cita, memiliki harapan dan tujuan hidup. Namun untuk mencapai itu semuanya membutuhkan proses. Dari mulai proses yang sederhana hingga proses yang rumit. Contoh tujuan hidup manusia adalah mencari kebahagiaan. Untuk menggapainya, manusia haruslah memiliki semangat dan tekad yang kuat demi mendapatkan kebahagiaan tersebut. Semua manusia memiliki kekuatan yang luar biasa, seperti raksasa dalam dirinya. Kekuatan itu biasa disebut dengan inner power. Kekuatan itu bisa muncul ketika kita hendak menggunakannya, walaupun belum tentu kita merasa mampu melakukannya.1
Tujuan hidup yang tertanam dalam diri manusia akan membuat seorang manusia terus bertahan dalam menghadapi apapun cobaan yang terjadi dihidupnya. Hidup tanpa tujuan sama dengan hidup tanpa perjuangan dan tentunya kebahagiaan yang diidamkan, tidak akan tercapai. Dalam berbagai ajaran agama, sebagai manusia tidaklah diperbolehkan memiliki sikap patah semangat dan justru harus memiliki tekad kuat dalam menjalankan kehidupan dan juga demi mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Sikap tekad merupakan sebuah sikap yang harus dimiliki
1 Purnadina. 2010. Remaja Revo Tekad Pantang Menyerah. Cetakan Pertama. Yogyakarta:
setiap manusia. Sikap tekad dapat memotivasi seseorang agar dapat menggapai tujuan yang diinginkan. Tekad merupakan kesungguhan hati untuk keluar dari sesuatu yang negatif yang ada dihidup kita. Tekad mampu membangkitkan manusia dari kegagalan, rasa tidak puas dan semangat menggapai tujuan didalam hidup. Tekad bukan sebuah talenta dasar yang dimiliki oleh manusia, tekad merupakan sikap yang sudah semestinya harus dimiliki oleh manusia. Dengan tekad yang teguh, kuat, dan ditambah sifat tidak patah semangat, seorang manusia pasti mampu menjalani segala cobaan yang berat sekalipun.
Kurangnya film bergenre motivasi di Indonesia serta banyaknya film bergenre horror berbalut sex, membuat pecinta film Indonesia banyak tertarik pada film-film luar negeri yang bergenre motivasi, salah satunya adalah film Bollywood. Sebanyak 10 juta orang Indonesia menyukai film India karena memiliki banyak kesamaan dalam hal budaya, nilai-nilai dan selera.2 Film Bollywood tak kalah bergengsinya dengan Hollywood. Bagi pecinta Bollywood tentunya sudah tidak asing lagi dengan film motivasi India berjudul Taare Zameen Par yang rilis di tahun 2007, yang merupakan peringkat kedua film India terbaik dengan rating 8.5 dari skala 10, berhasil merepresentasikan motivasi belajar.3 Ditahun 2012, muncul dua film motivasi berjudul English Venglish dan Kahaani. Dari kedua film tersebut, penulis tertarik pada film Kahaani karena dalam penyajiannya berbeda dengan film English Venglish, film Kahaani dengan peringkat kesepuluh film India terbaik dengan rating 8.2 dari skala 10 tidak menyelipkan keunikan film Bollywood pada umumnya dan jalan ceritanya juga jauh lebih menarik dan terlihat berbeda jika dibandingkan dengan film India biasanya.4 Film dengan genre motivasi diharapkan mampu menyulut semangat penontonnya untuk selalu positif dan selalu menumbuhkan semangat bertekad khususnya, agar segala tujuan dalam hidupnya dapat tercapai dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Pesan-pesan dan simbol yang digambarkan baik secara tersurat maupun tersirat dalam suatu film dapat menggambarkan atau menceritakan suatu kisah dan makna yang terkandung didalamnya.
Film Kahaani ini merupakan film motivasi dengan membawa nilai-nilai yang berdampak positif bagi yang menonton. Nilai-nilai memotivasi seperti sikap tekad yang ditunjukkan dalam film tentunya dapat memberikan insprasi kepada yang menontonnya. Film-film motivasi memberikan semangat untuk menjalani hidup yang penuh dengan semangat dan penuh dengan kegigihan dalam
2 Ria Pratiwi. 2014. Channel Khusus Film Bollywood Rambah Televisi Berbayar Indonesia.
Business Portal. via swa.co.id/swa/capital-market/corporate-action/channel-khusus-film-bollywood-rambah-televisi-berbayar-indonesia diakses pada 16 Oktober 2016 03:17 p.m
3 Jaafar3m. 2013. Top Rated Indian Movies. www.imdb.com/list/ls053237568 diakses pada 16
Oktober 2016 3:23 p.m
4 Jaafar3m. 2013. Top Rated Indian Movies. www.imdb.com/list/ls053237568 diakses pada 16
menjalankan kehidupan yang cerah. Apalagi ketika film tersebut mampu memberikan sebuah solusi untuk sebuah masalah dan hambatan dalam menjalani setiap kahidupan ini. Namun, sebaik apapun film yang ditonton, motivasi yang anda perlukan biasanya hanya terdapat dalam diri sendiri.5 Berlatar belakang pada acara hari besar Puja Durga di India, film Kahaani mengisahkan tentang seorang wanita yang berusaha dan bertekad menemukan kebenaran yang terjadi pada suaminya yang hilang. Kesabaran dan kekuatan tekadnya untuk membuka misteri kehilangan suaminya membuahkan hasil. Film Kahaani mengajarkan penonton film bagaimana cara menyikapi permasalahan dalam kehidupan. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari film Kahaani ini, dan dalam penelitian ini akan lebih membahas sikap tekad dalam diri seseorang. Alasan pemilihan tema tekad karena peneliti merasa tema tersebut sesuai dengan pesan-pesan yang ditampilkan dalam film tersebut. Kesamaan budaya seperti budaya biasanya orang Asia menjadikan film ini dapat dijadikan bahan referensi mengenai tekad. Ketetapan universal mimik wajah dan intonasi yang ada juga mendukung referensi mengenai makna tekad itu sendiri. Tekad merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap individu, namun tetap kembali lagi kepada niat dari individu itu sendiri.
Latar belakang itulah yang membuat menarik peneliti untuk mengkaji tentang bagaimana representasi makna tekad dalam film Kahaani. Banyaknya tanda yang mempunyai pesan tersirat yang merepresentasikan tekad seseorang dalam film Kahaani. Adegan-adengan yang tersaji menampilkan tanda yang memiliki makna. Untuk mengkaji tanda penyusun film tersebut diperlukan analisis secara semiotika. Analisa semiotika dipilih karena pada dasarnya manusia hidup berdampingan dengan tanda. Tanda tersebut diharapkan dapat bekerja sama untuk mencapai efek yang diharapkan dari komunikator kepada komunikan. Dengan demikian semiotika digunakan untuk mempelajari hakikat keberadaan suatu tanda.6 Analisa ini digunakan agar dapat melihat bagaimana sebenarnya proses gejala penandaan yang
5 Setia Furqon. 2015. Film Motivasi Islam. Setiafurqon.com/film-motivasi-islami.html diakses
pada 16 Oktober 2016 pada 3:34 p.m
6Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis
ada pada film tersebut. Alur film yang dibuat agak berliku, dan tanda atau adegan yang tersaji sangat menarik, menjadikan film Kahaani pantas dijadikan sebagai objek penelitian yang mampu menjadi inspirasi dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata, khususnya dalam merepresentasikan kekuatan tekad dalam menggapai tujuan hidup dan kebagahiaan yang diidamkan. Dari pemaparan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani (Analisis Semiotika Model Roland Barthes)”.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjabaran latar belakang yang telah dijabarkan, penulis membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut : “Bagaimanakah Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani?”
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana makna denotasi tentang tekad yang terdapat dalam film
Kahaani?
2. Bagaimana makna konotasi tentang tekad yang terdapat dalam film
Kahaani?
1.3.1 Batasan Masalah
1.4Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi proses bertekad seseorang dan memahami makna tekad dalam film Kahaani.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna bagi pengembangan kajian penelitian komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, khususnya bagi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi mengenai penggunaan analisis semiotika dalam pemaknaan simbol pada sebuah film. Disamping itu penulis juga ingin menyumbangkan bahan perpustakaan dengan harapan dapat menjadi tambahan referensi tulisan yang bermanfaat.
1.5.2 Manfaat Praktis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Film
Kata film dalam kamus lengkap bahasa Indonesia berarti gambar hidup.7 Definisi film menurut UU 8/1992 adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asa sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan system proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.8
Oey Hong Lee menyebutkan :
“Film sebagai alat komunikasi masa yang kedua muncul didunia, mempunya masa pertumbuhannya pada akhir abad ke-19, dengan perkataan lain pada waktu unsur-unsur yang merintangi perkembangan surat kabar, dibikin lenyap. Ini berarti bahwa dari perm ulaan sejarahnya film dengan lebih mudah dapat menjadi alat komunikasi yang sejati, karena ia tidak mengalai unsure-unsur teknik, politik, ekonomi, sosial dan demografi yang merintangi kemajuan surat kabar pada masa pertumbuhannya dalam abad ke-18 dan permulaan abad ke-19. Dan mencapai puncaknya diantara perang dunia 1 dan perang dunia 2, namun kemudian merosot tajam setelah tahun 1945, seiring dengan munculnya medium televisi.”9
Secara harfiah, film (sinema) adalah cinematographie yang berasal dari kata
cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau graph (tulisan, gambar, citra). Jadi, dalam pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya, harus
7
Ali, Muhammad. 2010. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, Jakarta: Pustaka Amani, hlm. 97
8 Undang-undang Perfilman No.8 Tahun 1992 Pasal 1 Bab 1
9Sobur, Alex. 2009. Semiotika Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm. 126
menggunakan alat khusus, yang biasa disebut dengan kamera. Itulah mengapa seperti yang telah diutarakan tadi bahwa film tidak akan jauh dari kata ‘kamera’ dengan menggunakan konsep sinematografi dalam pembuatannya baik dengan atau tanpa suara. Dalam Tjasmadi terdapat tiga fungsi film, yaitu10 :
1. Film sebagai medium ekspresi seni peran yang berkaitan erat hubungannya dengan seni.
2. Film sebagai tontonan yang bersifat dengar-pandang (audio-visual) atau bisa dibilang sebagai hiburan.
3. Film sebagai piranti penyampaian pesan apa saja yang bersifat dengar pandang, oleh karenanya film berkaitan erat dengan informasi.
Film secara struktur terbentuk dari sekian banyak shot, scene dan sequence. Tiap shot membutuhkan penempatan kamera pada posisi yang paling baik bagi pandangan mata penonton dan bagi setting secara action pada saat tertentu dalam perjalanan cerita, itulah sebabnya seringkali film disebut gabungan dari gambar-gambar yang dirangkai menjadi satu kesatuan utuh yang bercerita kepada penontonnya. Sebagai alat komunikasi massa untuk bercerita film memiliki beberapa struktur, yaitu11 :
a) Shot selama produksi film memiliki arti proses perekaman gambar sejak kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off) atau juga sering diistilahkan satu kali take (pengambilan gambar). Sementara shot setelah film telah jadi (pasca produksi) memiliki arti satu rangkaian gambar untuh yang tidak terinterupsi oleh potongan gambar (editing).
b) Adegan (scene), adegan adalah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya terdiri dari beberapa shot yang saling berhubungan.
c) Sekuen (sequence), salah satu adegan besar yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan.
Dalam sinematografi, unsur visual merupakan “alat” utama dalam berkomunikasi. Maka secara konkrit bahasa yang digunakan dalam sinematografi adalah suatu rangkaian beruntun dari gambar bergerak yang dalam pembuatannya
10 Tjasmadi, Johan HM. 2008. 100 Tahun Sejarah Bioskop di Indonesia, Bandung: PT. Megindo
Tunggal Sejahtera. hlm. 44
memperhatikan ketajaman gambar, corak penggambarannya, memeprhatikan seberapa lama gambar itu ditampilkan, iramanya dan sebagainya yang kesemuanya merupakan alat komunikasi non verbal. Setiap pembuatan program pada gambar yang bergerak, pada hakekatnya adalah ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain/pemirsa; itu berarti pembuat program ingin berkomunikasi dengan menggunakan audio visual kepada orang lain.12
Film adalah salah satu media komunikasi massa, film merepresentasikan realitas dari kehidupan masyarakat. Film dapat menggambarkan sebagai dimensi kehidupan dimasyarakat termasuk representasi seorang tokoh Vidya dalam Film Kahaani, sebagai seseorang yang memiliki tekad kuat untuk mencapai seseuatu. Menurut Bittner, dalam Psikologi Komunikasi Jalaludin Rakhmat, komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang.13 Sebagaimana media massa umumnya film merupakan cermin atau jendela masyarakat dimana media massa itu berada. Nilai, norma, dan gaya hidup yang berlaku pada masyarakat akan disajikan dalam film yang diproduksi. Film juga berkuasa menetapkan nilai-nilai budaya yang “penting” dan “perlu” dianut oleh masyarakat, bahkan nilai-nilai yang merusak sekalipun.14 Menurut Cultural Norm
Theory, media tidak berpengaruh langsung terhadap individu-individu melainkan juga mempengaruhi kebudayaan, pengetahuan, norma-norma dan nilai-nilai suatu masyarakat. Semuanya ini membentuk citra, ide-ide, evaluasi dimana audiens menentukan tingkah lakunya sendiri.15 Film juga sebagai salah satu bentuk komunikasi massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari cerita yang ditayangkan. Unsur intrinsik dan ekstrinsik dari filmlah yang mampu menarik perhatian khalayak untuk menonton film terutama adalah untuk memperoleh fungsi informatif maupun edukatif, bukan persuasif. Hal ini pun sejalan dengan misi perfilman nasional sejak tahun 1979, bahwa selain media hiburan, film nasional
12 Setyawati, Irma Fitri. 2012. Moral Anak dalam Film Hafalan Sholat Delisa. UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta. hlm. 1
13 Rakhmat. Jalaludin. 2009. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. hlm.
155
14
Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjajaran. hlm. 89
digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka
nation and character building.16
Sesuatu yang diceritakan, tentu saja perihal kehidupan. Disinilah lantas menyebut film sebagai konstruksi dunia nyata, dunia yang kita tinggali. Dibanding media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari. Tentu yang dimaksud disini adalah film live in action (film yang dimainkan tokoh nyata bukan film animasi) sekaligus film yang bercerita (film naratif, bukan fil eksperimental yang tak mengandung narasi atau cerita.17
2.2 Representasi
Istilah representasi merupakan penggambaran (perwakilan) kelompok-kelompok dan institusi sosial. Penggambaran itu tidak hanya berkenaan dengan tampilan fisik (appearance) dan deskripsi, melainkan juga terkait dengan makna (atau nilai) dibalik tampilan fisik. Tampilan fisik representasi adalah suatu jubah yang menyembunyikan betuk makna sesungguhnya yang ada di baliknya.18 Representasi secara definisi lain adalah segala aktifitas yang membentuk ilmu pengetahuan yang dimungkinkan kapasitas otak untuk dilakukan oleh semua manusia.19 Representasi dapat didefinisikan lebih jelasnya sebagai penggunaan tanda (gambar, bunyi, dan lain-lain) untuk menghubungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu.20 Danesi mencontohkan representasi dengan sebuah konstruksi X yang dapat mewakilkan atau memberikan suatu bentuk kepada suatu materil atau konsep tentang Y. Sebagai contoh misalnya konsep sex diwakili
16 Ardianto, Elvaro & Lukiati Komala. 2007. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar, Bandung:
Simbiosa Rekatama Media. hlm.134
17 Irwansyah, Ade. 2009. Seandainya Saya Kritikus Film, Yogyakarta: Humorian Pustaka. hlm. 17 18 Burton, Graeme 2007. Membincangkan Televisi, Yogyakarta & Bandung: JalaSutra. hlm.41-42
19
Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra. hlm. 24
atau ditandai melalui gambar sepasang sejoli yang sedang berciuman secara romantis.21
Representasi berarti menggunakan bahasa untuk menyatakan sesuatu secara bermakna, atau merepresentasikan pada orang lain. Representasi dapat berupa kata, gambar, sekuen, cerita dan sebagainya yang ‘mewakili’ ide, emosi, fakta dan sebagainya. Representasi bergantung pada tand dan citra yang sudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pembelajaran bahasa dan penandaan yang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik. Hal ini melalui fungsi tanda ‘mewakili’ yang kita tahu dan mempelajari realitas.22
Menurut Stuart Hall seperti yang dikutip Nuraini Juliastuti, ada 2 proses representasi: pertama, representasi mental, yaitu tentang seseuatu yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Kedua, “bahasa”, yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam “bahasa” yang lazim supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan symbol-simbol tertentu.23 Representasi bekerja pada hubungan tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru. Menurut Nuraini Julianti representasi berubah-ubah akibat makna yang juga berubah-ubah. Setiap waktu terjadi proses negosiasi dalam pemaknaan.24
Jadi representasi bukanlah suatu kegiatan atau proses statis tapi merupakan proses dinamis yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelktual dan kebutuhan para pengguna tanda yaitu manusia sendiri yang juga terus bergerak dan berubah. Representasi merupakan suatu bentuk usaha konstruksi, karena pandangan
21
Wibowo, Indiawan Seto Wahyu. 2013. Semiotika Komunikasi, Aplikasi Praktis Penelitian dan Skripsi Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media. hlm. 148
22 Hartley, John. 2010. Communication, Culture, and Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta:
Jalasutra. hlm. 265
23 Juliastuti, Nuraini. Maret 2000. Representasi, Newsletter KUNCI No.4 (online)
(http://ia700106.us.archive.org/15/items/NewsletterKunci4BudayaMateri/Newsletter_KUNCI_4_ Budaya_Materi.pdf, diakses pada 17 Agustus 2016)
baru yang menghasilkan pemaknaan baru juga merupakan hasil pertumbuhan konstruksi pemikiran manusia. Juliastuti mengatakan bahwa melalui representasi makna diproduksi dan dikonstruksi. Ini terjadi melalui proses penandaan, praktik yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu.25
2.3 Teori Representasi
Dalam bab 3 buku Studying Culture: A Practical Introduction dalam Nurzakiyah26, terdapat tiga definisi dari kata ‘to represent’, yakni :
1. To stand in for (untuk menandakan). Hal ini dapat dicontohkan dalam peristiwa bendera suatu negara, yang jika dikibarkan dalam suatu event
olahraga, maka bendera tersebut menandakan keberadaan negara yang bersangkutan dalam event tersebut.
2. To speak or act on behalf of (untuk berbicara atau bertindak atas nama sesuatu). Contohnya adalah Paus menjadi orang yang berbicara dan bertindak atas nama umat Katolik.
3. To re-present (untuk mewakili). Dalam arti ini, misalnya tulisan sejarah atau biografi yang dapat menghadirkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu.
Dalam praktiknya, ketiga makna dari representasi ini bisa menjadi saling tumpang tindih. Oleh karena itu, untuk mendapat pemahaman lebih lanjut mengenai apa makna dari representasi dan bagaimana caranya beroperasi dalam masyarakat budaya, teori Hall akan sangat membantu. Menurut Hall sendiri dalam bukunya
Representation: Cultural Representation and Signifying Practices, “Representation connects meaning and language to culture. . . Representation is an essential part of the process by which meaning is produced and exchanged between members of culture.” (Representasi: Representasi Budaya dan Praktek Penandaan, “Representasi menghubungkan makna dan bahasa dengan budaya. . . Representasi merupakan bagian penting dari proses dimana makna diproduksi dan dipertukarkan antara anggota budaya.”). 27
Melalui representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar anggota masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, representasi secara singkat adalah
25Ibid,. hlm. 150
26 Ahmad, Nurzakiyah. 2009. Representasi Maskulinitas Baru Pada Iklan Produk Kosmetik Pria
dalam Majalah Berbahasa Jerman Brigitte dan Stern. Depok: FIB UI hlm. 12
salah satu cara untuk memproduksi makna. Representasi bekerja melalui sistem representasi yang terdiri dari dua komponen penting, yakni konsep dalam pikiran dan bahasa. Kedua komponen ini saling berkorelasi. Konsep dari sesuatu hal yang dimiliki dan ada dalam pikiran, membuat manusia atau seseorang mengetahui makna dari sesuatu hal tersebut. Namun, makna tidak akan dapat dikomunikasikan tanpa bahasa, sebagai contoh sederhana, konsep ‘gelas’ dan mengetahui maknanya. Maka seseorang tidak akan dapat mengkomunikasikan makna dari ‘gelas’ (benda yang digunakan orang untuk tempat minum) jika seseorang tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, yang terpenting dalam sistem representasi adalah bahwa kelompok yang dapat berproduksi dan bertukar makna dengan baik adalah kelompok tertentu yang memiliki suatu latar belakang pengetahuan yang sama sehingga dapat menciptakan suatu pemahaman yang (hampir) sama. Menurut Stuart Hall, dalam Nurzakiyah,
Member of the same culture must share concepts, images, and ideas which enable them to think and feel about the world in roughly similar ways. They must be share, broadly speaking, the same ‘cultural codes’. In this sense, thinking and feeling are themselves ‘sistem of representations’. (Anggota dari budaya yang sama harus berbagi konsep, gambar, dan ide-ide yang memungkinkan mereka untuk berpikir dan merasa tentang dunia dengan cara yang kurang lebih sama. Mereka harus berbagi, umumnya, sama dengan 'kode budaya' tersebut. Dalam hal ini, pikiran dan perasaan mereka adalah 'sistem representasi’.). 28
Berfikir dan merasa menurut Hall juga merupakan sistem representasi. Sebagai sistem representasi berati berfikir dan merasa juga berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan hal tersebut, diperlukan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural codes).
Pemaknaan terhadap sesuatu bisa sangat berbeda dalam budaya atau kelompok masyarakat yang berlainan, karena pada masing-masing budaya, kelompok, dan masyarakat tersebut tentunya ada cara-cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang
pemahaman yang tidak sama terhadap kode-kode budaya tertentu tidak akan bisa memahami makna yang diproduksi oleh kelompok masyarakat lain.
Makna tidak lain adalah suatu konstruksi. Manusia mengkonstruksi makna dengan sangat tegas sehingga suatu makna terlihat seolah-olah alamiah dan tidak dapat diubah. Makna dikonstruksi melalui sistem representasi dan difiksasi melalui kode. Kode inilah yang membuat masyarakat yang berbeda dalam suatu kelompok budaya yang sama mengerti dan menggunakan nama yang sama, yang telah melewati proses konvensi secara sosial. Misalnya, ketika kita memikirkan ‘rumah’ atau dalam bahasa Inggris ‘home’ yang bereati rumah, maka kita menggunakan kata RUMAH atau HOME untuk mengkomunikasikan apa yang ingin kita ungkapkan kepada orang lain. Hal ini karena kata RUMAH atau HOME adalah kode yang telah disepakati dalam masyarakat untuk memaknai suatu konsep mengenai ‘rumah’ yang ada di pikiran kita (tempat berlindung atau berkumpul dengan keluarga). Kode, dengan demikian, membangun korelasi antara sistem konseptual yang ada dalam pikiran kita dengan sistem bahsa yang kita gunakan dan kita mengerti. Teori representasi seperti ini memaknai pendekatan konstruksionis, yang berargumen bahwa makna dikonstruksi melalui bahasa. Menurut artikel Stuart Hall dalam Nurazakiyah,
“things don’t mean: we construct meaning, using representational systems-concepts and signs.”(Sesuatu tidak berarti: kita membangun makna, menggunakan sistem-konsep representasi dan tanda-tanda.). 29
Oleh karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian yang penting yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna. Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama untuk dapat memaknai sesuatu dengan cara yang nyaris sama.
Penelitian ini ingin menjelaskan bagaimana proses representasi ini bekerja
pada film Kahaani dengan membedahnya melalui tanda yang tersaji dengan memaknai tanda kedalam makna denotasi, makna konotasi dan mitos yakni bagaimana makna denotasi (gambaran sebuah pertanda) yang bersifat langsung yang dilanjutkan dengan makna konotasi yang bersifat subjektif yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan yang kemudian dikaitkan dengan mitos yakni bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.
2.4 Tekad
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tekad diartikan sebagai kemauan (kehendak) yang pasti; kebulatan hati; iktikad.30
Determination is simply not giving up. No matter how hard things get, or how badly you want to just give up, you keep on going. (Sederhananya, tekad adalah tidak menyerah. Tidak peduli bagaimana sulitnya mendapatkan atau bagaimana buruknya seseorang untuk menyerah, namun tetap menjalankannya.). 31
Tekad adalah keteguhan seseorang dalam memegang prinsip untuk mencapai maksud dan tujuan yang sudah ditetapkannya. Tekad adalah kekuatan niat. Tekad adalah bersegera dalam memanfaatkan kesempatan yang ada, bersegera dalam melaksanakan niat, dan tidak berlambat-lambat dalam mengejar sesuatu yang dikhawatirkan dapat terlewatkan.32 Dalam sebuah struktur, awal mula tindakan seseorang bertekad selalu diawali dari perkataan dari dalam dirinya sendiri atau seringkali disebut dialog internal diri sendiri. Ketika dialog internal terkumpul dan membulat menjadi sesuatu keinginan kuat, maka setelah itu seseorang akan mengumpulkan dalil, alasan serta motivasi-motovasi sehingga setelah itu seseorang menjadi semakin yakin akan niatnya. Niat terbagi atas dua tingkatan, pertama niat dengan kesungguhan dan kedua adalah niat yang terbentuk biasa saja tidak terlalu
30 Kbbi.web.id/tekad
31 Abdumac. 2006. Top Definition; Determination.
http://www.urbandictionary.com/define.php?term=determination diakses pada 16 Oktober 2016 3:40 p.m.
32 Ust. Novel Alaydrus. 2010. Kalam Habib Muhammad Bin Abdullah Alaydrus: Kekuatan Niat.
menggebu. Kekuatan niat seseorang ini dapat dilihat dari gerakan, suara hingga tindakan yang sedang dilakukannya untuk menggapai niat tersebut. Tekad menjadi penting didalam kehidupan manusia karena dengan adanya tekad, dapat menjadi energi positif bagi manusia untuk mencapai sebuah tujuan.
Tekad tidak muncul begitu saja, tekad muncul dari kekuatan karakater yang sengaja dibangun oleh manusia itu sendiri agar manusia itu dapat menggapai tujuan hidupnya dengan cara yang diinginkannya. Semua manusia memiliki kekuatan yang luar biasa, seperti raksasa dalam dirinya. Kekuatan itu biasa disebut dengan
inner power. Kekuatan itu bisa muncul ketika kita hendak menggunakannya, walaupun belum tentu kita merasa mampu melakukannya.33
Life is made out of our determinations. (Hidup kita terbuat dari tekad.).34
Semua orang pasti memiliki cita-cita, memiliki harapan dan tujuan hidup. Namun untuk mencapai itu semuanya membutuhkan proses. Dari mulai proses yang sederhana hingga proses yang rumit35. Terlepas dari kenyataan bahwa pencapaian tujuan kita adalah penting untuk dicapai, tidak jarang bagi banyak orang gagal dalam memenuhi target mereka. Dalam penerapannya, tekad berawal dari sebuah niat, keyakinan dalam diri, lalu pengambilan keputusan dan berakhir tindakan. Keempat penerapan tekad diatas merupakan konsep dari bertekad. Berikut pemaparannya :
a. Pertama, niat. Niat merupakan sesuatu yang dilakukan dengan cara menyengaja atau menyadari dengan total atas keinginan tertentu.
b. Kedua, yakin. Dalam proses yakin, setiap manusia mulai memvisualisasikan dan mengembangkan secara kinestiknya mengenai niat yang ingin digapainya didalam pikirannya Pikiran kita adalah
33 Purnadina. 2010. Remaja Revo Tekad Pantang Menyerah, Cetakan Pertama, Yogyakarta:
Leutika. hlm. 6
34 Sarah. 2016.
https://www.linkedin.com/pulse/determination-your-life-rui-enes-alves?articleId=7441129728695531620
35 Muhammad, Rifqi.. 2015. Ketika Hidup Tak Seperti Jalan Tol. Cetakan I, Fikri Press,
kekuatan besar yang mampu memberikan semua yang kamu inginkan, ia dipengaruhi oleh semua yang kita masukkan ke dalam pikiran. Apa yang dipikirkan, maka itulah yang terjadi.36. Keyakinan dalam diri menjadi penting, karena jika seseorang tidak memiliki keyakinan penuh untuk menggapai niatnya, maka yang terjadi visualisasi serta kinestiknya akan sering berubah-ubah dan mendatangkan dua kemungkinan motivasi kepada dirinya, yakni motivasi baik dan motivasi buruk. Jika motivasi baik yang hadir, maka seseorang yang bertekad akan mendekati bayangan yang baik-baik dan semakin semangat untuk mewujudkan niatnya. Sedangkan jika motivasi buruk yang hadir, maka seseorang yang bertekad akan menjauhi bayangan yang buruk-buruk dan semakin menjauh serta mengurungkan niatnya untuk diwujudkan. Keyakinan akan kemampuan diri sendiri harus diimbangi dengan semangat untuk meraihnya. Karena semangat dan keyakinan akan mengalahkan segalanya. Keyakinan akan melahirkan kekuatan akan kemampuan diri sendiri. kemudian semangat akan membakar keyakinan itu untuk menuntaskan segala rintangan, tantangan dan hambatan yang ada didepan sana.37
c. Ketiga adalah keputusan. Setelah melalui niat dan keyakinan yang kuat sehingga motivasi baik hadir, maka seseorang akan membuat keputusan-keputusan yang akan dijalani untuk membuat niat menjadi kenyataan. Peluang selalu menggoda siapa saja yang ada didekatnya38. Keputusan yang dibuat ini juga memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi dalam penggapaian tujuan yang ingin digapai. Semua yang telah sedang dan akan terjadi dalam hidup, kuncinya terdapat dalam diri kita masing-masing yang memutuskan. Karena apapun alasannya, kitalah yang menjalani hidup ini.39
36Purnadina. 2010. Remaja Revo Tekad Pantang Menyerah, Cetakan Pertama, Yogyakarta:
Leutika. hlm. 57
37Ibid,
. hlm. 127
d. Keempat adalah tindakan. Tindakan ini adalah hasil akhir dari proses bertekad. Tindakan yang dilakukan ini akan membuktikan berhasil atau tidaknya atas niat yang diinginkan. Meskipun gagal, seseorang yang memiliki tekad kuat akan melakukan tindakan apa saja untuk menggapai keinginan dan tujuan hidupnya.
Tekad adalah awal mula dari sebuah tindakan. Tidak ada tindakan jika tidak ada tekad dalam diri. Tindakan yang dilakukan bukan tindakan omong kosong, tetapi merupakan tindakan yang benar-benar komitmen dan totalitas dari apa yang dia miliki untuk menggapai tujuan hidupnya dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Tekad yang kuat juga merupakan kunci dari keberhasilan dalam kehidupan, tak tergoyahkan oleh berbagai kesulitan dan masalah yang ada. Ilmuwan sendiri tak bisa memberi ciri-ciri pada hal ini namun dalam beberapa kasus, jelas sekali tekad itu sikap penting yang dapat memberi seseorang kekuatan di luar batas manusia normal. Berikut ada tiga ciri seseorang yang memiliki tekad kuat menurut beberapa surat dalam kitab Al-Qur’an, diantaranya :
a. Pertama, orang yang memiliki tekad tidak akan mudah tergoda, sebesar apapun godaan yang datang kepadanya.
b. Kedua, tekad yang kuat tidak cukup mengantarkan seseorang pada tujuannya, jika tidak dibarengi dengan amal sholeh.
c. Ketiga, tawakal. Sebab tawakal akan menjadikan seseorang bersyukur jika sukses mencapai tujuan dan menjadikan seseorang tetap berbaik sangka kepada Tuhan.
dibutuhkan tekad. Karena tekad merupakan ruh atau landasan dari seseorang untuk mencapai dan meraih impian.
Determination is closely associated with resilience: the ability to bounce back from setbacks, rather than giving up. When the going gets tough, the tough get going! Perseverance and persistence are also highly related.
(Tekad erat kaitannya dengan ketahanan: kemampuan untuk bangkit kembali dari kemunduran, daripada menyerah. Ketika akan menjadi sulit, yang sulit pergi! Kekuatan hati dan ketekunan juga sangat terkait.). 40
Tekad yang terbentuk didalam diri manusia tentunya memiliki fungsi bagi manusia itu sendiri, diantaranya dengan adanya tekad, seseorang dapat mencapai apa yang diinginkannya dan apa yang ingin di tujunya. Tekad juga sebagai landasan awal agar manusia mau melakukan dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sehingga menciptakan keyakinan yang total yang akhirnya menghasilkan sebuah perbuatan atau tindakan. Dalam hal menggapai tujuan hidup, manusia sering kali melawan rintangan dan banyak kesulitan yang menghadang. Namun rintangan dan kesulitan tersebut akan dapat terlewati dengan mudah jika setiap manusia memiliki semangat serta tekad yang kuat untuk menghadapinya demi menggapai tujuan hidup tersebut. Kemauan, optimis, antusias dan keyakinan untuk mau bertindak nyata adalah bagian yang harus dipersiapkan untuk merevolusi diri.41 Tekad pantang menyerahlah yang akan mengantarkan kamu menuju tangga-tangga impian yang selama ini diidamkan.42
2.5 Semiotika Film
Sebagai sebuah ilmu (pengetahuan), semiotika memiliki makna atau arti yang beragam. Semiotic adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna.43 Pada umumnya, semiotika dipahami
40Josey Wales. 2015. Determination. https://www.kent.ac.uk/careers/sk/determination.htm diakses
pada 16 Oktober 2016
41Purnadina. 2010. Op.Cit. hlm. 110 42
Ibid,. hlm. 107
43 Hoed, Benny H. 2008. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Fakultas Ilmu
sebagai ilmu yang mempelajari tentang tanda atau signifikansi. Sedangkan signifikansi itu sendiri, menurut A. J. Greimas dan J. Courte, adalah pengetahuan yang hanya menekankan aspek tertentu dari jangkauan pengetahuan tanda.44 Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan. Semiotik adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda atau teori tentang pemberian tanda.
Film merupakan bidang kajian yang amat relevan bagi analisis structural atau semiotika. Seperti yang dikemukakan oleh van Zoest, film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan fotografi statis, rangakaian gambar dalam film menciptakan imaji dan sitem penandaan. Pada fil digunakan tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu. Ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditunjuknya. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang didenitasikannya.45 Film menuturkan ceritanya dengan cara khususnya sendiri. kekhususan film adalah mediumnya, cara pembuatannya dengan kamera dan pertunjukkannya dengan proyektor dan layar. Ada hal-hal yang dapat dilakukan film yang tidak dapat dilakukan cerita tertulis dan sebaliknya.46
Film dan televisi memiliki bahasa sendiri dengan sintakis dan tata bahasa yang berbeda. Tata bahasa itu terdiri atas semacam unsur yang akrab, seperti pemotongan (cut), pemotreran jarak dekat (close-up), pemotretan dua (two shot), pemotretan jarak jauh (long shot), pembesaran gambar (zoom-in), pengecilan gambar (zoom-out), memudar (fade), pelarutan (dissolve), gerakan lambar (slow motion), gerakan yang dipercepat (speeded-up), efek khusus (special effect).47
44
Baidhowi,2009. Antropologi Al-Quran. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta. hlm. 24
45
Sobur, Alex. 2009. Op.Cit. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm.128
Semiotika sebagai suatu cara untuk mengkaji tentang film. Semiotika beroperasi dalam wilayah tanda. Film dikaji melalui sistem tanda, yang terdiri dari lambang baik verbal maupun berupa ikon-ikon atau gambar. Dalam membaca tanda-tanda yang terdpat dalam representasi, maka dibutuhkan alat untuk membacanya, yaitu melalui studi semiotika. Menurut Umberto Eco, teori semiotika mampu menjelaskan ranah fenomena tanda secara lebih luas. Semiotika lebih memperhatikan makna pesan dan cara pesan disampaikan melalui tanda-tanda. Tanda adalah segala sesuatu yang berdasarkan konvensi sosial yang telah ada sebelumnya, dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain.48
Dari berbagai tanda dalam semiotika film, dikenal pula istilah mise en scene
yang terkait dengan penepatan posisi dan pergerakan actor pada set (blocking), serta sengaja dipersiapkan untuk menciptakan sebuah adegan (scene) dan sinematografi yang berkaitan dengan penempatan kamera. Mise en scene berarti menempatkan sesuatu pada satu layar, unsur-unsurnya antara lain actor’s performance yang terdiri dari script adalah sebuah naskah yang berisi semua kalimat yang diucapkan oleh pemain film, dan movement yaitu semua hal dan berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemain film.49
Selain itu mise en scene juga terdiri dari unsur suara (sound). Sound yaitu latar belakang suara pemain, lagu, sound effect, atau nat sound (suara disekeliling pemain film). Suara yang dapat didengar mendampingi visualisasi gambar pada layar.50 Adapun kategori suara antara lain: spoken word berupa perkataan, komentar, dialog, maupun monolog dari seorang pemain film. Natural sound
berupa semua suara selain ucapan pemain film dan musik yang berfungsi sebagai ilusi realitas dan simbolisasi keadaan. Serta, music berupa instrument atau nyanyian yang berfungsi untuk membantu transisi antar sequence, membentuk suasana latar
48 Umberto, Eco. 2009. Teori Semiotika Signifikasi Komunikasi. Jakarta: Kreasi Wacana. hlm. 22 49 Widhiastuti, Chistina Ineke. 2012. Representasi Nasionalisme dalam Film Merah Putih.
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang. hlm. 22-23
tempat, membentuk kesan emosi pemain lebih hidup, untuk membentuk atmosfer, menambah kesan dramatis ataupun sekedar menyampaikan pesan non verbal.51
Unsur selanjutnya dalam mise en scene yaitu production design. Production design yang terdiri dari setting berupa lokasi pengambilan gambar, property berupa segala peralatan atau barang yang mendukung pelaksanaan produksi film, dan costum berupa segala pakaian yang dipakai oleh pemain film.52 Penerapan metode semiotika dalam film berkaitan erat pula dengan media televisi. Karena televise merupakan medium yang kompleks yang menggunkan bahasa verbal, gambar dan suara untuk menghasilkan impresi dan ide-ide para orang. Aspek-aspek yang diperhatikan dari medium yang berfungsi sebagai tanda, untuk membedakan sebagai pembawa tanda. Apa yang menarik dari TV adalah pengambilan gambar dari kamera yang dilakukan.53
Tabel 2.1 Rumusan Konsep Pemaknaan Berger
Penanda
(pengambilan gambar) Definisi Petanda (makna)
Close up Hanya wajah Keintiman
Medium shot Hampir seluruh tubuh Hubungan personal Long shot Setting dan karakter Konteks, skope, jarak
publik
Full shot Seluruh tubuh Hubungan sosial
Penanda
(pergerakan kamera) Definisi Petanda (makna)
Pan down Kamera mengarah ke
bawah Kekuasaan, kewenangan
Pan up Kamera mengarah ke
atas Kelemahan, pengecilan
Dolly in Kamera bergerak ke
dalam Observasi, fokus
Penanda
(teknik penyutingan) Definisi Petanda (makna)
Fade in Gambar kelihatan pada
layar kosong Permulaan
Fade out Gambar di layar menjadi
hilang Penutupan
Cut Pindah dari gambar satu
ke yang lain Kebersambungan, manarik
Wipe Gambar terhapus dari
layar “penentuan” kesimpulan
Sumber : Artur Asa Berger. 2000. Media Analysis Techniques, hal. 33-3454 Hal diatas menunjukkan semacam “tata bahasa” televisi seperti pengambilan gambar, kerja kamera, dan teknik penyutingan. Hal tersebut membantu kita untuk memahami apa yang terjadi pada sebuah program, begitu pula dalam sebuah film. Terdapat pula hal lain yang mungkin juga menarik, seperti teknik pencahayaan, penggunaan warna, efek suara dan musik. Semua penanda tersebut menolong kita untuk menerjemahkan apa yang kita lihat dan yang kita dengar dari televisi dan sebuah film.
“Tanda” dan “makna” merupakan kata kunci yang menghubungkan antara semiotika dan komunikasi. Didalam komunikasi terdapat unsur pesan yang berbentuk tanda-tanda. Dan tanda-tanda ini mempunyai struktur tertentu yang dilatarbelakangi oleh keadaan sosiologi ataupun budaya ditempat komunikasi itu hidup sehingga untuk mempelajari bagaimana struktur pesan atau konteks di balik pesan-pesan komunikasi diperlukan studi semiotika terlebih dalam lapangan komunikasi massa.55
2.6 Semiotika Roland Barthes
Semiotik adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan didunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.56 Semiotik
54Loc.Cit
berasal dari kata Yunani yaitu semeion, yang berarti tanda.57 Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika.”Tanda” pada masa itu masih bermakna suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain.58
Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan bagaimana tanda disusun. Secara umum, studi tentang tanda merujuk kepada semiotika.59
Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang rajin mempraktikan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektualdan kritikus sastra Prancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.60 Untuk itulah, Barthes meneruskan pemikiran Saussure dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “Two Order of Signification” (Signifikansi Dua Tahap). Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna dan dengan demikian, sensor atau represi politis. Sedangkan konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.61
57 Tinarbuko, Sumbo. 2008. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra. hlm. 11 58Ibid., hlm 16-17
59Ibid.,
hlm 16
Gambar 2.1 Signifikansi Dua Tahap Roland Barthes
Sumber : John Fiske dalam Sobur, Analisis Teks Media, 2004, hlm. 127
Melalui gambar di atas, Barthes, seperti dikutip Fiske, menjelaskan signifikansi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk signifikansi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.62
a. Makna Denotasi:
Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan sebagainya.Makna ini tidak dibisa dipastikan dengan tepat, karena makna denotasi merupakan generalisasi. Dalam terminologi Barthes, denotasi adalah sistem signifikansi tahap pertama. Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal, dan dalam semiotika Barthes, ia menyebutnya sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda. Maka dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Dalam hal ini, denotasi diasosiasikan
62Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis
dengan ketertutupan makna.63 Denotasi dimaknai secara nyata. Nyata diartikan sebagai makna harfiah, makna yang sesungguhnya atau terkadang dirancukan dengan referensi atau acuan. Proses signifikasi denotasi biasanya mengacu pada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Misalnya ketika seseorang mengucapkan kata “monyet” maka yang dimaksudkan dari pengucapan kata “monyet” tersebut adalah konsep tentang monyet, seperti berkaki dua, mamalia, bewarna gelap seperti coklat, hitam serta berekor. Dalam semiologi Roland Barthes, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, yang kemudian dilanjutkan oleh sistem signifikasi konotasi yang berada di tingkat kedua.
b. Makna Konotasi:
Konotasi digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif, dengan kata lain denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana cara penggambarkan. Makna konotatif adalah gabungan antara makna denotatif dengan segala gambar, ingatan dan perasaan yang muncul ketika indera kita bersinggungan dengan petanda. Sehingga akan terjadi interaksi saat petanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Contohnya ketika kita menyebutkan kata “vespa”, makna denotasi “vespa” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah skuter, kendaraan bermotor beroda dua yang rodanya lebih kecil daripada sepeda motor. Namun secara konotatif kata “vespa” akan dimaknai sebagai sesuatu yang membuat bahagia, mengingatkan akan perjalanan ke suatu tempat dan identik dengan seseorang yang terlibat dalam ingatan akan kata “vespa” tersebut. Jika ditelaah melalui
kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebut sebagai mitos serta berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Konotasi mengacu pada makna yang menempel pada suatu kata karena sejarah pemakainya, oleh karena itu dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap individu. Jika denotasi sebuah kata dianggap sebagai objektif kata tersebut, maka konotasi sebuah kata dianggap sebagai makna subjektif atau emosionalnya. Arthur Asa Berger menyatakan bahwa konotasi melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan emosional. Makna konotatif bersifat subjektif dalam pengertian bahwa terdapat pergeseran dari makna umum (denotatif) karena sudah ada penambahan rasa dan nilai tertentu.64 Kalau makna denotatif hampir bisa dimengerti banyak orang, maka makna konotatif hanya bisa dicerna oleh mereka yang jumlahnya lebih kecil.
2.7 Kerangka Berfikir
Kerangka berpikir merupakan upaya suatu alur penelitian yang jelas dan diterima secara akal. Kerangka berfikir penelitian ini menjabarkan realitas kekuatan tekad dalam mencapai tujuan sebagai dasar dari penelitian. Bagaimana kekuatan tekad dalam mencapai tujuan hidup menjadi sangat penting dan harus menjadi sifat yang dimiliki oleh setiap manusia.
Realitas yang ada disekitar kita kini tidak hanya dapat dilihat secara real, tetapi realitas yang ada juga dapat diangkat kedalam media masa seperti film. Film merupakan salah satu media komunikasi yang tepat dalam penyampaian pesan melalui audio-visualnya. Kita dapat menyaksikkan representasi dari sebuah realitas yang terjadi dimasyarakat dalam bentuk karya yang disebut film. Disetiap karya film, terkandung pesan-pesan yang sengaja ingin disampaikan oleh sang pembuatnya.
Dibawah ini merupakan kerangka berfikir peneliti dalam melaksanakan penelitian yang berjudul Representasi Makna Tekad dalam Film Kahaani. Dalam film Kahaani ditemukan adegan-adengan yang mempunyai makna tertentu. Berdasarkan analisis semiotika Roland Barthes ditemukan sejumlah penanda (signifier) dan petanda (signified) berupa setting lokasi, properti, aktor dan kostum (mise en scene) dan penempatan kamera (sinematografi) dengan didukung dari audio, visual dan sejumlah tanda lainnya yang menunjukkan representasi kekuatan tekad dalam film tersebut.
2.2 Gambar Kerangka Berfikir Realitas pentingnya sikap tekad yang harus dimiliki oleh seseorang
Sikap tekad tergambarkan dalam film Kahaani melalui tanda visual (gambar, bahasa non verbal/gesture/mimik wajah, serta latar) dan tanda audio (suara, bahasa verbal, dialog tokoh, musik
dan sound efek) dan audio
Analisis Semiotika Roland Barthes
Denotasi Konotasi
Makna Tekad Konsep bertekad
Teori Representasi
2.8 Penelitian Terdahulu
Untuk menghindari kesamaan terhadap penelitian yang telah ada sebelumnya, maka peneliti mengadakan peninjauan terhadap penelitian yang telah ada sebelumnya, sebagai berikut :
1. Skripsi berjudul “Representasi Iklas dalam Film “Emak Ingin Naik Haji” (Analisis Semiotik terhadap Tokoh Emak)” yang disusun oleh Rosyid Rochman Nur Hakim jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2012. Film Emak Ingin Naik Haji merupakan film yang menceritakan ketulusan niat naik haji seorang tokoh Emak. Penelitian ini mengangkat bagaimana representasi iklas melalui tokoh emak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian ini menggunakan analisis semiotik dengan menggunakan model semiotika Roland Barthes.
keenam tidak membeda-bedakan dalam pergaulan, ketujuh tawakal dan kedelapan bersyukur.
2. Skripsi berjudul “Representasi Semangat Hidup dalam Film Surat Kecil Untuk Tuhan (Analisis Semiotika Roland Barthes)” yang disusun oleh Muhammad Zakariya, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2013. Fokus masalah yang diteliti pada skripsi ini yaitu bagaimana representasi semangat hidup dalam film Surat Kecil Untuk Tuhan. Untuk mengungkapkan masalah tersebut secara menyeluruh dan mendalam, dalam penelitian ini digunakan metode paradigm kritis dengan pendekatan analisa semiology komunikasi, yang berguna untuk memberikan fakta dan data kemudian data tersebut dianalisis secara kritis dengan dasar pemikiran Roland Barthes. Penelitian ini mengacu pada teori Roland Barthes yang menganalisis secara signifikasi dua tahap, yaitu tahap denotasi dan tahap konotasi. Makna denotasi dimengerti sebagai makan harfiah atau makna sesungguhnya sedangkan makna konotasi adalah makna yang tersembunyi yang terdapat dalam film tersebut sehingga diperoleh makna yang mendalam tentang semangat hidup yang direpresentasikan dalam film surat kecil untuk tuhan.
bagi orang lain. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dan gagasan ilmiah untuk pengembangan studi ilmu komunikasi.
semua orang walaupun berbeda ras, status sosial dan ekonomi perlu diperlakukan dengan hormat dan tidak dihakimi. Makna pesan moral yang terdapat dalam film ini terdiri dari moral sopan santun, bersyukur, menghormati, kejujuran, pendidikan dan keberanian.
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
No Item Rosyid Rochman
Nur Hakim Muhammad Zakariya Jaquiline Melisa Renysef 1 Judul Representasi Iklas
dalam Film “Emak Ingin Naik Haji” (Analisis Semiotik terhadap Tokoh Emak)
Representasi Semangat Hidup dalam Film “Surat Kecil Untuk Tuhan” (Analisis Semiotika Roland Barthes)
Pesan Moral dalam Film To Kill A Mockingbird (Analisis Semiotika pada Film To Kill A Mockingbird)
2 Tahun 2012 2013 2014
3 Tujuan
Penelitian Untuk mengetahui bagaimana iklas direpresentasikan tokoh emak dalam film Mengetahui bagaimana semangat hidup melalui berbagai simbol-simbol direpresentasikan dalam film surat kecil untuk tuhan.
Untuk mengetahui pesan moral dan memahami makna pesan mor