BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. A. Orientasi Kancah dan Persiapan. diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker.

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

36 BAB IV

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan 1. Orientasi Kancah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wates 1 Kulon Progo Yogyakarta dan Puskesmas Pengasih 1 Kulon Progo Yogyakarta pada pasien penderita penyakit Kanker. Peneliti memilih untuk melakukan penelitian pada kedua tempat tersebut sebagai lokasi penelitian dengan memperhatikan beberapa pertimbangan : 1. Peneliti tinggal dan menetap di Pengasih Kulon Progo, yang dekat dengan lokasi penelitian tersebut. 2. Proses ijin yang dilakukan cukup mudah dan tidak terlau berbelit-belit sehingga mempermudah peneliti untuk melakukan proses pengambilan data.

Puskesmas Puskesmas Wates 1 Kulon Progo Yogyakarta dan Puskesmas Pengasih 1 Kulon Progo Yogyakarta merupakan salah satu layanan kesehatan yang berada wilayah kabupaten Kulon Progo. Puskesmas sendiri merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dinas kesehatan kabupaten atau kota, puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan

(2)

kabupaten atau kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia. Sehingga dapat melayani setiap masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Puskesmas Wates 1 Kulon Progo Yogyakarta dan Puskesmas Pengasih 1 Kulon Progo Yogyakarta juga melayani pengobatan menggunakan kartu jaminan kesehatan bagi pasien yang tidak mampu. Puskesmas Wates 1 Kulon Progo Yogyakarta dan Puskesmas Pengasih 1 Kulon Progo Yogyakarta melayani masyarakat yang ingin berobat sejak pukul 08.00 – 13.00 WIB. Terdapat berbagai macam poli di kedua Puskesmas tersebut, antara lain poli dokter umum, poli dokter gigi, poli ahli gizi, dan poli rekam medis.

Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada pasien penderita penyakit kanker yang datang ke puskesmas untuk berobat atau kontrol dan juga dengan mendatangi kediaman pasien satu-persatu. Pasien dengan penyakit kanker dapat diketahui dengan bantuan petugas yang memberikan daftar pasien yang memiliki penyakit kanker, ataupun ketika pasien melakukan kontrol di puskesmas maka bidan akan memberikan kesempatan pada peneliti untuk memberikan kuesioner kepada subjek. Pada proses pengambilan data, tidak semua subjek mau mengisi kuesioner yang telah diberikan oleh peneliti. Beberapa subjek lebih nyaman apabila peneliti yang membacakan kuesioner tersebut dan subjek cukup menjawabnya saja, hal tersebut dikarenakan faktor usia yang membuat penglihatan subjek kurang baik.

(3)

2. Persiapan Penelitian

Pada penelitian ini peneliti memberikan keterangan mengenai persiapan yang dilakukan melipiuti persiapan administrasi dan persiapan alat ukur:

a) Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi dalam penelitian ini mencakup pengurusan surat izin untuk persetujuan kedua belah pihak terhadap pelaksanaan penelitian. Perijinan untuk penelitian ini dikeluarkan oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Surat ijin penelitian selanjutnya diberikan kepada Kantor Bappeda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selanjutnya akan diberikan surat lanjutan yang diteruskan kepada Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kulon Progo yang selanjutnya diteruskan kepada dinas kesehatan Kabupaten Kulon Progo yang diteruskan kepada Puskesmas terkait. Selanjutnya perijinan tersebut dipergunakan sebagai syarat untuk melakukan pengambilan data penelitian. Pengambilan data penelitian dimulai tanggal 28 November 2015 hingga 10 Januari 2016. b) Persiapan Alat Ukur

Persiapan alat ukur adalah penyusunan alat ukur yang akan digunakan dalam pengambilan data. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yaitu skala World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) dan skala efikasi diri. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup adalah skala World Health Organization Quality of Life

(4)

(WHOQOL-BREF) yang dikemukakan oleh WHO (1996). Skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek kualitas hidup yang telah dikemukakan oleh WHO yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Skala ini terdiri dari 24 aitem yang mewakili masing-masing aspek. Skala ini memiliki validitas sebesar 0.9. Sedangkan efikasi diri akan diukur dengan menggunakan Skala efikasi bernama general self-efficacy scale yang dibuat oleh Barn, Schwarzer dan jerusalem (1995) berdasarkan Aspek Efikasi diri yang dikeluarkan oleh Bandura (1997). Skala Efikasi Diri ini terdiri dari 10 Pertanyaan, yang terdiri dari 10 item favorable. Efikasi Diri merujuk pada aspek-aspek Efikasi Diri Bandura (1997) yang terdiri dari aspek level, generalaity, dan strength. Skala ini memiliki validitas sebesar 0.840. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara try out terpakai, dimana dapat dijelaskan bahwa tidak ada eliminasi item dalam penelitian ini dikarenaakan sudah adanya uji coba yang dilakukan dengan kedua alat ukur tersebut.

B. Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 November 2015 sampai 10 Januari 2016. Pengambilan data dilakukan di Puskesmas Wates 1 dan Puskesmas Pengasih 2, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara keseluruhan kuesioner tersebut diberikan kepada subjek secara langsung oleh

(5)

peneliti. Selain itu peneliti juga membacakan dan menuliskan kuesioner kepada subjek yang tidak dapat mengisi kuesioner sendiri.

C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah individu yang menderita penyakit Kanker yang tercatat menjadi pasien di Puskesmas Wates 1 dan Puskesmas Pengasih 2, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 52 subjek dengan karakteristik yaitu menderita penyakit kanker, laki-laki ataupun perempuan, berusia antara 16 tahun sampai 71 tahun dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini secara sukarela.

Berikut akan dijelaskan mengenai deskripsi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, tingkat stadium kanker, pendapatan per bulan, status pernikahan, usia pernikahan, lama menderita, dan ada atau tidaknya komplikasi dengan penyakit lain.

Tabel3. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 11 orang subjek dengan persentase sebesar 21,15% dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 41 orang dengan persentase sebesar 78,85%.

Jenis Kelamin Jumlah Subjek Persentase (%) Laki-laki Perempuan 11 41 21,15 78,45 Total 52 100

(6)

Tabel4. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa subjek penelitian yang berusia <20 tahun berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 1,92%, usia 20-4 tahun berjumlah 6 orang dengan persentase sebesar 11,54%, usia 41-60 tahun berjumlah 32 orang dengan persentase sebesar 61,54%, dan yang berusia 61> tahun berjumlah 13 orang dengan persentase sebesar 25%.

Tabel5. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa subjek penelitian dengan pendidikan terakhir S1 (Sarjana) berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 9,61%, D3 (Diploma) berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 3,85%, SMA berjumlah 26 dengan persentase sebesar 50%, SMP berjumlah 9 orang dengan persentase sebesar 17,31%, dan SD berjumlah 8 orang dengan persentase sebesar 15,38%, serta pendidikan lainnya berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 3,85%.

Usia (tahun) Jumlah Subjek Persentase (%) <20 20-40 41-60 >61 1 6 32 13 1,92 11,54 61,54 25 Total 52 100

Pendidikan Terakhir Jumlah Subjek Persentase (%) S1 D3 SMA SMP SD Lainnya 5 2 26 9 8 2 9,61 3,85 50 17,31 15,38 3,85 Total 52 100

(7)

Tabel6. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Pekerjaan

Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa subjek penelitian dengan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil berjumlah 11 orang dengan persentase sebesar 21,15%, Pegawai Swasta berjumlah 4 orang dengan persentase sebesar 7,69%, Tani berjumlah 7 orang dengan persentase sebesar 13,46%, Buruh berjumlah 5 orang dengan persentase sebesar 9,62%, Wiraswasta berjumlah 8 orang dengan persentase sebesar 15,39%, Ibu rumah tangga berjumlah 12 orang dengan persentase sebesar 23,08%, Pensiunan berjumlah 3 orang dengan persentase sebesar 5,77%, Pelajar berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 1,92%, serta Fasilitator berjumlah 1 orang dengan persentase sebesar 1,92%.

Jenis Pekerjaan Jumlah Subjek Persentase (%) Pegawai Negeri Sipil

Pegawai Swasta Tani Buruh Wiraswasta Ibu Rumah Tangga

Pensiunan Pelajar Fasilitator 11 4 7 5 8 12 3 1 1 21,15 7,69 13,46 9,62 15,39 23,08 5,77 1,92 1,92 Total 52 100

(8)

Tabel7. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Stadium Penyakit Kanker

Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa subjek penelitian yang menderita penyakit kanker stadium 1 berjumlah 12 orang dengan persentase sebesar 23,08%, stadium 2 berjumlah 25 orang dengan persentase sebesar 48,07%, stadium 3 berjumlah 11 orang dengan persentase sebesar 21,15%, stadium 4 berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 3,85%, dan yang menderita penyakit kanker stadium lanjut berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 3,85%.

Tabel8. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Pendapatan per Bulan

Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa subjek penelitian yang pendapatan per bulan sebesar <Rp 1.000.000 berjumlah 23 orang dengan persentase sebesar 44,23%,dan pendapatan >Rp 1.000.000 berjumlah 29 orang dengan persentase 65,77%.

Stadium Penyakit

Kanker Jumlah Subjek Persentase (%)

Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV Stadium Lanjut 12 25 11 2 2 23,08 48,07 21,15 3,85 3,85 Total 52 100

Pendapatan per Bulan Jumlah Subjek Persentase (%) <Rp 1.000.000 >Rp 1.000.000 23 29 44,23 65,77 Total 52 100

(9)

Tabel9. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Status Pernikahan

Berdasarkan tabel 9 diketahui bahwa subjek penelitian yang belum menikah berjumlah 4 orang dengan persentase sebesar 7,69%, sudah berjumlah 40 orang dengan persentase sebesar 76,93%, pasangan bercerai berjumlah 1 orang dengan persentase 1,92% dan yang pasangannya meninggal berjumlah 7 orang dengan persentase sebesar 13,46%.

Tabel10. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Menderita Penyakit Kanker

Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa subjek penelitian yang menderita penyakit kanker selama 0-3 tahun berjumlah 30 orang dengan persentase sebesar 57,69%, dan yang menderita penyakit kanker >4 tahun berjumlah 22 orang dengan persentase sebesar 42,31%.

Status Pernikahan Jumlah Subjek Persentase (%) Belum Menikah Menikah Bercerai Pasangan Meninggal 4 40 1 7 7,69 76,93 1,92 13,46 Total 52 100 Lama Menderita

Kanker (tahun) Jumlah Subjek Persentase (%) 0-3 >3 30 22 57,69 42,31 Total 52 100

(10)

Tabel11. Tabel Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Komplikasi dengan Penyakit Lain

Berdasarkan tabel 11 diketahin bahwa subjek penelitian yang memiliki komplikasi dengan penyakit lainnya berjumlah 2 orang dengan persentase sebesar 3,85% dan subjek yang tidak memiliki komplikasi dengan penelitian lain berjumlah 50 orang dengsn persentase 96,15%.

2. Deskripsi Data Penelitian

Berdasarkan data-data yang sudah terkumpul, maka peneliti melakukan kategorisasi terhadap data yang telah diperoleh. Setelah melakukan pemberian skor, diketahui deskripsi data penelitian berupa data hipotetik dan data empirik yang disajikan dalam tabel berikut:

Tabel12. Tabel Deskripsi Data Penelitian

Variabel Hipotetik Empirik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD

Efikasi diri 10 40 25 5 13 38 29,60 5,12

Kualitas Hidup 24 120 72 16 66 103 84,98 7,55

Keterangan:

Data Hipotetik : skor yang diperoleh oleh subjek

Data Empirik : skor yang sebenarnya diperoleh dari hasil penelitian Data penelitian ini digunakan untuk membandingkan antara skor hipotetik dan skor empirik. Nilai empirik digunakan untuk mengetahui nilai yang diperoleh subjek penelitian, meliputih nilai minimal, nilai maksimal, nilai mean, dan nilai standar deviasi. Nilai hipotetik digunakan untuk mengetahui nilai yang diperoleh subjek apabila jawaban yang diberi subjek

Komplikasi dengan

Penyakit Lain Jumlah Subjek Persentase (%) Ya Tidak 2 50 3,85 96,15 Total 52 100

(11)

rata-rata. Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk memahami kondisi dubjek penelitian dengan populasi yang ada. Melihat deskripsi data penelitian yang telah di jelaskan di tabel 12, data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui kriteria kategorisasi kelompok subjek pada variabel-variabel penelitian. Menurut Azwar (2010) kategorisasi pada penelitian ini terdiri dari tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

Tabel13. Tabel Norma Kategorisasi

Norma Kategorisasi Kategori

x < μ - 1σ Rendah μ - 1σ ≤ x ≤ μ + 1σ Sedang x > μ + 1σ Tinggi Keterangan: x = Skor Total σ = Standar Deviasi μ = Mean

Berdasarkan norma kategorisasi tersebut, maka subjek penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori pada masing-masing variabel, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel14. Tabel Kategori Subjek pada Variabel Kualitas Hidup

Kategori Rentang Skor Jumlah Persentase (%)

Rendah x < 56 0 0

Sedang 56≤ x ≤ 88 40 76,92

Tinggi x > 88 12 23,08

Berdasarkan tabel 14 diketahui bahwa semua subjek penelitian memiliki kualitas hidup dengan kategori sedang berjumlah 40 orang dengan persentase sebesar 76,92% dan subjek dengan katogori tinggi berjumlah 12 orang dengan persentase sebesar 23,08%. Dengan kata lain menunjukkan bahwa mayoritas subjek memiliki tingkat kualitas hidup dalam kategori sedang.

(12)

Tabel15. Tabel Kategori Subjek pada Variabel Efikasi Diri

Kategori Rentang Skor Jumlah Persentase (%)

Rendah x < 20 3 5,77

Sedang 20 ≤ x ≤ 30 19 36,54

Tinggi x > 30 30 57,69

Berdasarkan tabel 15 diketahui bahwa subjek penelitian yang memiliki efikasi diri pada kategori rendah berjumlah 3 orang dengan persentase 5,77%, yang memiliki efikasi diri pada kategori sedang berjumlah 19 orang dengan persentase sebesar 36,54%, dan subjek yang memiliki efikasi diri pada kategori tinggi berjumlah 30 orang dengan persentase sebesar 57,69%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat efikasi diri dalam kategori tinggi.

3. Uji Asumsi

Sebelum melakukan analisis data, peneliti melakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas dan uji linearitas merupakan syarat sebelum dilakukannya uji korelasi.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran data dari suatu variabel. Pengujian normalitas dilakukan terhadap masing-masing hipotesis yang diajukan oleh peneliti. Uji normalitas dilakukan menggunakan Analyze One Sample Kolmogrov Smirnov pada program komputer SPSS 23.0 for windows. Distribusi data dikatakan normal apabila p > 0,05 sedangkan apabila p < 0,05 maka distribusi dikatakan tidak normal.

(13)

Tabel16. Tabel Uji Normalitas Variabel P Normalitas Kualitas Hidup Efikasi Diri 0,061 0,000 Normal Tidak Normal Berdasarkan tabel 16 pada variabel kualitas hidup memperoleh hasil p = 0,090 (p >0,05) dan menunjukkan bahwa variabel kualitas hidup berdistribusi normal. Sementara pada variabel efikasi diri memperoleh hasil p = 0,000 (p <0,05) menunjukkan bahwa distribusi tidak normal. Hasil tersebut memiliki arti bahwa sebaran data baik untuk variabel kualitas hidup maupun variabel efikasi diri memiliki sebaran data yang tidak normal.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel kualitas hidup dan efikasi diri pada penderita penyakit kanker memiliki hubungan yang linear. Hubungan antara kedua variabel dikatakan linear apabila p < 0,01 atau p < 0,05 sedangkan dapat dikatakan tidak linear apabila kedua variabel memiliki nilai p > 0,05.

Tabel17. Tabel Uji Linearitas

Variabel P Linearitas

Kualitas Hidup

Efikasi Diri 0,016 Linear

Berdasarkan tabel 18, didapatkan hasil p = 0,016 (p < 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel pada penelitian ini memiliki hubungan yang linear.

(14)

4. Uji Hipotesis

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah: ada hubungan positif antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui korelasi variabel pada penelitian. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan product moment dari Spearman dikarenakan hasil uji normalitas yang menunjukkan hasil bahwa kedua variabel memiliki sebaran data tidak normal . Hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel18. Tabel Uji Hipotesis

Variabel R P

Kualitas Hidup

Efikasi Diri 0,326 0,106 0,005 (p < 0,01)

Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan menunjukan bahwa ada hubungan positif antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Hal ini dilihat dari hasil p = 0,005 sehingga (p <0.01) menunjukan bahwa hipotesis yang diajukan diterima, hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi efikisi diri yang dimiliki maka semakin tinggi kualitas hidup yang dimiliki oleh penderita penyakit kanker. Begitu juga sebaliknya semakin rendah efikasi maka semakin rendah kualitas hidup yang dimiliki. 5. Sumbangan Efektif

Sumbangan Efektif adalah prosentase sebagaimana besar suatu variabel mempengaruhi variabel, dalam penelitian ini sumbangan efektif yang diberikan efikasi diri terhadap kualitas hidup sebesar 12,53%. Hal tersebut memiliki arti bahwa efikasi diri memiliki prosentase sebesar 12,53% mempengaruhi kualitas hidup.

(15)

6. Analisis Tambahan

Tabel19. Tabel Uji Beda Kualitas Hidup Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Mean Signifikansi

Laki - laki Perempuan

84,9091

84,9024 0,998

Berdasarkan analisis uji beda yang sudah dilakukan, hasil menunjukan bahwa signifikan berada pada angka p=0,998 (>0,05) dimana dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam tingkatan kualitas hidupnya, namun jika dilihat dari rata-rata nilai penderita kanker laki-laki memilki kualitas hidup yang sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 0,0067 lebih tinggi dari perempuan.

Tabel20. Tabel Uji Beda Kualitas Hidup Berdasarkan Penghasilan

Penghasilan Mean Signifikansi

≤ Rp 1.000.000 ˃ Rp 1.000.000

84,1739

85,4828 0,523

Berdasarkan analisis uji beda yang sudah dilakukan, hasil menunjukan bahwa signifikan berada pada angka p=0,523 (>0,05) dimana dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan tingkatan kualitas hidup berdasarkan penghasilan, namun jika dilihat dari rata-rata, nilai penderita kanker dengan penghasilan >Rp 1.000.000 memilki kualitas hidup yang sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 1,3089 lebih tinggi dari penderita kanker dengan penghasilan ≤ Rp 1.000.000.

(16)

Tabel21. Tabel Uji Beda Kualitas Hidup Berdasarkan Lama Menderita Penyakit

Lama Menderita Mean Signifikansi

≤ 0-3 tahun ˃ 3 tahun

86,6071

82,9167 0,073

Berdasarkan analisis uji beda yang sudah dilakukan, hasil menunjukan bahwa signifikan berada pada angka p=0,073 (>0,05) dimana dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan antara pasien kanker dengan lama menderita 0-3 tahun dan pasien kanker dengan lama menderita lebih dari 3 tahun dalam tingkatan kualitas hidupnya, namun jika dilihat dari rata-rata nilai pasien kanker dengan lama menderita 0-3 tahun memilki kualitas hidup lebih tinggi yaitu sebesar 3,6904 lebigh tinggi dari pasien kanker dengan lama menderita lebih dari 3 tahun.

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penjelasan secara empiris mengenai hubungan positif antara efikasi dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Berdasarkan hasil analisis hipotesis yang dilakukan, diperoleh hasil r= 0.325 dan p= 0,005 (p<0,01). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Semakin tinggi efikasi diri yang dimiliki maka semakin tinggi kualitas hidup yang dimiliki penderita penyakit kanker. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) (1996) yang mengatakan bahwa kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, dimana individu hidup dan hubungannya dengan harapan, tujuan, standar yang

(17)

ditetapkan dan perhatian dari individu. Selain optimisme, body image dan, Self esteem salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup adalah faktor kepribadian yaitu efikasi diri. Efikasi diri memberikan sumbangan efektif sebesar 12,53% kepada kualitas hidup.

Di dalam penlitian ini, berdasarkan hasil analisis statistik uji beda diketahui p=0,998 (>0,05) yang berarti tidak menunjukkan adanya perbedaan kualitas hidup baik penderita kanker laki-laki maupun penderita kanker perempuan, tetapi dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kualitas hidup pada perempuan dengan penyakit kanker lebih tinggi daripada nilai kualitas hidup laki-laki dengan penyakit kanker, terpaut sebesar 0,0067. Menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien perempuan jauh lebih baik dibandingkan dengan pasien laki-laki. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Geue dkk (2013) menunjukkan bahwa penderita kanker perempuan memiliki kualitas hidup yang tidak lebih baik dengan kualitas hidup yang dimiliki oleh penderita kanker laki-laki.

Di dalam penlitian ini, berdasarkan hasil analisis statistik uji beda diketahui p=0,523 (>0,05) yang berarti tidak menunjukkan adanya perbedaan kualitas hidup baik penderita kanker dengan penghasilan ≤ Rp 1.000.000 maupun penderita kanker dengan penghasilan > Rp 1.000.000, tetapi dilihat dari rata-rata, nilai penderita kanker dengan penghasilan >Rp 1.000.000 memilki kualitas hidup yang sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 1,3089 lebih tinggi dari penderita kanker dengan penghasilan ≤ Rp 1.000.000. Sejalan dengan penelitian Gupta dkk (2006) bahwa penderita kanker dengan kesulitan keuangan ataupun dengan penghasilan yang rendah memiliki kualitas hidup yang tidak lebih baik jika dibandingkan

(18)

dengan penderrita kanker yang memiliki kemudahan dalam keuangan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang dengan pendapatan rendah (< Rp 1.000.000) adalah populasi terbanyak dalam penderita penyakit kanker tersebut. Hal ini dapat dikarenkan orang dengan pendapatan rendah akan lebih susah untuk memenuhi standar-standar kesehatan di dalam hidupnya. Standar kesehatan dalam hidupnya akan lebih tidak dijadikan prioritas dan memprioritaskan kebutuhan primer lainya seperti makan. Hal tersebut sesuai dengan yang diutarakan Manalu (dalam Sejati dan Sofiana, 2015) bahwa rendahnya pendapatan dan pendapatan yang kecil dapat membuat orang tidak dapat layak memenuhi syarat syarat kesehatan.

Dapat dilihat juga berdasarkan hasil analisis statistik uji beda diketahui p=0,073 (>0,05) yang berarti tidak menunjukkan adanya perbedaan kualitas hidup baik penderita kanker dengan lama menderita 0-3 tahun maupun penderita kanker dengan lama menderita lebih dari 3 tahun, tetapi dilihat dari rata-rata nilai pasien kanker dengan lama menderita 0-3 tahun memilki kualitas hidup lebih tinggi yaitu sebesar 3,6904 lebigh tinggi dari pasien kanker dengan lama menderita lebih dari 3 tahun. Pasien dengan lama menderita lebih dari 3 tahun dimungkinkan memiliki masalah dengan kelelahan yang diakibatkan oleh pengobatan dan kemoterapi yang dilakukan, hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Byar dkk (2006) seorang pasien dengan masa kemoterapi melebihi satu tahun, menunjukan kelelahan yang diakibatkan oleh kemoterapi tersebut, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas hidup yang dimiliki.

(19)

Penelitian ini menujukkan bagaimana hubungan positf antara efikasi diri dengan kualitas hidup pada penderita penyakit kanker. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan lebih mampu mengorganisir keadaan untuk menerima serta membantu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kemampuan untuk mampu menghadapi kenyataan serta percaya akan kemampuan diri akan membuat individu tersebut mau menerima penyakit yang dideritanya dan memberikan motivasi akan kesembuhan ketika proses pengobatan akan penyakit kanker yang diderita individu tersebut. Individu dengan efikasi diri yang tinggi akan menemukan bahwa apa yang dilakukan selama dalam proses penyembuhan adalah bagian dari proses dimana proses itu nantinya akan membuat keadaan kualitas hidup dari individu tersebut menjadi lebih baik. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Huang dkk (2013) bahwa efikasi diri adalah sebuah faktor penentu dalam sebuah managemen diri dari seindividu pengidap penyaki kronik. Dimana penyakit kanker adalah salah satu penyakit kronis yang dapat diderita oleh manusia

Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan membantu meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga individu tersebut dapat menjalankan kehidupannya dengan baik meskipun menderita penyakit kanker. Kualitas hidup yang dimiliki penderita penyakit kanker juga akan membuat individu tersebut menjadi lebih rajin dalam melakukan pengobatan terhadap penyakit yang di deritanya dan tidak berpengaruh terhadap kehidupan dimana individu tersebut akan menjalani kehidupan dan kegitanya seperti biasa. Kualitas hidup juga dibutuhkan untuk membantu dalam pemulihan kesehatan baik secara fisik

(20)

maupun psikologis dari penderita penyakit kanker. Pada kasus penderita penyakit kanker, individu dengan dengan kepercayaan akan kekuatanya menghadapi penyakit yang dideritanya, akan lebih mudah untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Individu dengan keyakinan akan kekeuatnya akan lebih mudah menjalani terapi untuk menjalani terapi penyembuhan kanker yang dideritanya, lebih percaya diri untuk bersosialisasi dengan keluarganya, bersosialisasi dengan lingkungan baik lingkuangan tempat kerja ataupun lingkuangan tempat tinggal. Individu dengan kekuatan yang tinggi akan lebih memiliki kemauan untuk sembuh yang tinggi, karena individu dengan kemamauan sembuh yang tinggi akan merasa bahwa individu tersebut mampu melewati penyakit yang dideritanya. Seseuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Heckman dkk (2011) mengemukakan bahwa efikasi diri adalah sesuatu yang dapat mengukur kualitas hidup dari seindividu individu dalam menghadapi sebuah penyakit yang dideritanya. Semakin tinggi tingkatan dari efikasi diri akan membuat individu semakin percaya bahwa penyakit yang sedang diderita pada satnya setlah melakukan serangkaian proses pengobatan akan membuat individu tersebut sembuh.

Kemauan dan kekuatan untuk sembuh dari penyakit kanker berpengaruh dengan kualitas hidup dari penderita penyakit kanker tersebut karena individu dengan kekuatan yang tinggi akan lebih banyak mengahbiskan waktunya untuk mensyukuri keadaan diri, dan mencoba untuk mencari pengobatan terbaik untuk penyakitnya. Individu dengan kekuatan yang tinggi akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga dibandingkan menarik diri dari

(21)

lingkungan, untuk memikirkan tentang penyakit yang dideritanya, hal itu akan berhubungan erat dengan kualitas hidup dari penderita penyakit kanker tersebut. Dingley dan Roux (2014) mengemukakan bahwa individu dengan inner stregth mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dan membantu untuk mempercepat proses penyembuhan penyakitnya.

Penelitian ini memiliki kelemahan dan kekurangan. Kelemahan penelitian ini juga terletak pada populasi penelitian yang jumlah subjek kurang banyak, dikarenakan jumlah subjek yang terbatas dan susahnya untuk mendapatkan izin langsung untuk melakukan penelitian secara masal dikarenakan penyakit yang diderita subjek adalah penyakit yang sensitif.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :