• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal untuk Pengaturan “Orang Dalam” Pada Perdagangan Orang Dalam Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal untuk Pengaturan “Orang Dalam” Pada Perdagangan Orang Dalam Chapter III V"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PRAKTEK PERDAGANGAN ORANG DALAM (INSIDER TRADING)

DALAM HUKUM PASAR MODAL DI INDONESIA

A. Pengertian dan Karakteristik Perdagangan Orang Dalam

1. Pengertian dan Unsur-unsur Perdagangan Orang Dalam

Pengertian perdagangan orang dalam (insider trading) yang secara tegas tidak di tulis pada Undang-Undang Pasar Modal. Namun jelas

kegiatan tersebut di larang pada Undang-Undang Pasar Modal.

Insider trading(perdagangan orang dalam) merupakan istilah terhadap pelanggaran atau kejahatan yang hanya dapat kita lihat dan

temukan pada kasus di pasar modal. Insider trading merupakan kategori kejahatan yang berbeda dari kejahatan ataupun tindak pidana lainnya.

Insider trading adalah transaksi efek yang dilakukan oleh pihak yang telah memperoleh informasi yang sifatnya belum publik baik orang dalam

perusahaan maupun orang di luar perusahaan yang mendapatkan informasi

belum publik yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang besar

dalam waktu cepat. Karena pada waktu yang bersamaan juga orang yang

tidak mendapatkan informasi tersebut tidak bisa memilih atau mengambil

keputusan menjual atau membeli efek pada perusahaan tersebut. Hal ini

kelihatannya sepele dan cukup sederhana, namun tidak di sangka bahwa

kegiatan ini bisa menjadikan pihak yang mengambil keuntungan pada

(2)

dikategorikan sebagai suatu kejahatan yang sangat di tentang di pasar

modal.

Menurut Bismar Nasution, insider trading bertentangan dengan prinsip keterbukaan, karena yang bersangkutan membeli atau menjual

saham berdasarkan informiasi dari “orang dalam” yang tidak publik

sifatnya. Tindakan tersebut merugikan pihak lain yang tidak menerima

informasi yang sama pada waktu yang sama, sehingga ia tidak dapat

mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham yang

dipegangnya.81

Insider trading adalah perdagangan efek yang dilakukan oleh mereka yang tergolong orang dalam perusahaan (dalam arti luas),

perdagangan mana didasarkan atau dimotivasi karena adanya suatu

informasi orang dalam (inside information) yang penting dan belum di buka untuk umum. Dengan perdagangan mana, pihak pedagang insider

tersebut mengharapkan akan mendapatkan keuntungan ekonomi secara

pribadi, langsung atau tidak langsung, atau merupakan keuntungan jalan

pintas.82

Dari pengertian di atas maka secara yuridis ditemukan beberapa

elemen dari suatu pranata hukum insider trading, yaitu sebagai berikut:83 a. Adanya perdagangan efek

81

Bismar Nasution, op. cit., hlm. 159. 82

Yulfasni, Hukum Pasar Modal, (Jakarta: Iblam, 2005), hlm. 108. 83

(3)

Perdagangan efek dapat digolongkan sebagai praktik insider trading

apabila memenuhi minimal tiga unsur, yaitu:

1) Adanya orang dalam,

2) Informasi material yang belum tersedia bagi masyarakat atau

belum disclosure, dan

3) Melakukan transaksi karena informasi material.

b. Dilakukan oleh orang dalam perusahaan

Orang dalam yang dimaksud adalah orang dalam menurut Pasal 95

Undang-Undang Pasar Modal.

c. Adanya inside information

Inside information merupakan istilah teknik hanya dikenal di pasar modal. Istilah tersebut mengacu kepada praktik dimana orang dalam

(coorporate insider) melakukan transaksi sekuritas dengan menggunakan informasi eksklusif yang mereka miliki yang belum

tersedia bagi masyrakat atau investor.

d. Inside information tersebut belum tersedia untuk umum

Belum tersedianya informasi perusahaan bila dimanfaatkan oleh orang

dalam untuk keuntungan individu atau kelompok maka jelas hal

tersebut adalah pelanggaran di pasar modal.

e. Perdagangan dimotivisir oleh adanya inside information tersebut Perdagangan saham yang berlangsung di pasar modal dilakukan karena

(4)

investor. Hal ini jelas perdagangan orang dalam, karena melakukan

transaksi efek karena adanya informasi dari orang dalam.

f. Bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak layak.

Kejahatan ini dilakukan jelas mempunyai tujuan yang menguntungkan,

namun tujuan yang menguntungkan ini dilakukan dengan hal yang

membuat orang lain rugi dan mendapat keuntungan dengan waktu

yang relatif singkat tersebut jelas dilarang dalam perdagangan saham.

Orang dalam perusahaan tidak di larang melakukan perdagangan

saham perusahaan yang dipegangnya, akan tetapi jika orang dalam

perusahaan tersebut, berencana melakukan transaksi efek perusahaan

tersbut dengan melakukan perhitungan yang didasarkan pada informasi

material yang ada di perushaan, maka sebelum perdagangan itu

dilaksanakan perusahaan harus sudah mempublikasikan informasi material

tersebut secara terbuka. Jika perusahaan belum atau tidak melakukan

pengungkapan informasi, maka ada kemungkinan orang dalam tersebut

akan dapat dikenakan tuduhan melakukan perdagangan orang dalam atau

insider trading. Hal ini berkaitan dengan adanya ketentuan tentang

disclosure or abstain from trading, dimana orang dalam perusahaan harus memilih apakah ia akan melakukan disclosure atau tidak melakukan perdagangan dengan berdasarkan informasi material non-publik yang di

dapat atau di milikinya.84

84

(5)

Untuk dapat dikategorikan ke dalam perbuatan insider trading

maka harus terdapat unsur-unsur sebagai berikut:85

a. Pelaku harus menyadari adanya suatu informasi tertentu.

b. Informasi tersebut tidak tersedia untuk publik.

c. Investor yang rasional mengharapkan jika informasi di rilis ke publik,

akan membawa dampak material terhadap harga atau nilai efek suatu

perusahaan tersebut.

d. Pelaku harus mengetahui, atau patut di duga mengetahui, bahwa

informasi tersebut bersifat material dan tidak tersedia untuk publik

(informasi non publik).

Informasi non publik adalah informasi yang tidak ataupun

belum bisa di konsumsi oleh publik, kemudian informasi yang di

maskud di rasa sensitif terhadap harga efek perusahaan terkait.

2. Karateristik Perdagangan Orang Dalam

Untuk mencermati praktek insider trading dalam kegiatan perdagangan saham di pasar modal, maka hal yang harus dperhatikan

adalah terpenuhinya unsur-unsur insider trading. Pertama, siapa insider -nya: apakah yang dituduh sebagai insider dapat dikategorikan sebagai

insider. Kedua, apakah ada informasi yang mengandung fakta material, yang belum tersedia untuk publik. Dan ketiga, apakah insider itu melakukan perdagangan saham berdasarkan materiel non public

85

(6)

information. Dengan demikian praktek insider trading mustahil terjadi dalam perdagangan saham tanpa adanya ketiga unsur tersebut.86

Insider trading adalah suatu praktek yang dilakukan orang dalam

perusahaan (corporate insider) pada perdagangan saham dengan menggunakaninformasi yang mengandung fakta material yang

dimilikinya, sedangkan informasi itu belum terbuka (tersedia) untuk

umum.87

Undang-Undang Pasar Modal jelas melarang orang dalam

perusahaan yang mempunya informasi (inside information) melakukan penjualan atau pembelian saham pada perusahaan yang dia sedang bekerja

ataupun pada suatu perusahaan lain yang sedang melakukan perdagangan

saham dengan perusahaan yang di maksud.88

Kemudian Undang-Undang Pasar Modal juga menetapkan yang

termasuk orang dalam perusahaan (corporate insider) adalah komisaris, direksi, pemegang saham utama, pegawai perusahaan, orang perseorangan

yang karena kedudukan atau proofesinya atau karena hubungan usahanya

dengan emiten atau perusahaan publik memungkinkan orang tersebut

memperoleh informasi orang dalam atau pihak yang dalam waktu

86

Ibid, hlm. 42-43. 87

Ibid, hlm. 43. 88

(7)

enambulan terakhir tidak lagi menjadi pihak sebagaimana yang di maksud

di atas.89

Secara tradisional komisaris, direktur, pemegang saham utama dan

pegawai perusahaan termasuk sebagai insiders (traditional insiders). Komisaris dan direktur dikategorikan sebagai insider adalah didasarkan atas pertimbagan, bahwa mereka termasuk orang yang wajib memegang

fiduciary obligations dalam hal loyalitas kepada perusahaan. Di pihak lain mereka termasuk orang-orang yang dapaat mengendalikan serta

mengetahui kegiatan atau operasi perusahaan setiap hari, sehinnga mereka

memiliki informasi perusahaan yang paling sensitif (sensitive corporate information).90 Sedangkan kategori insider bagi pemegang saham utama (controlling sharcholders) didasarkan atas ketentuan hukum perusahaan (corporate law), yang menetapkan suatu fiduciary obligations dari suatu

fairness dan loyalitas terhadap siapa-siapa yang memiliki pengawas atau pengendali aktivitas perusahaan berdasarkan saham di perusahaan

yangmereka miliki, walaupun mereka tidak menduduki direktur atau

officers.91 Namun mereka bukan berarti tidak memiliki fiduciary.92

89

Penjelasan Pasal 95 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 90

Donald C. Langevoort, op. cit., hlm. 72-72. Pada buku, Asril Sitompul, Zulkarnain Sitompul dan Bismar Nasution, Insider Trading Kejahatan di Pasar Modal, (Jakarta: Books Terrace and Library, 2007), hlm. 44.

91

Speed V. Transamerica Corp, 71 F. Supp, 457 (D. Del 1947), dalam Langevoort, op. cit., hlm. 72. Pada buku, Asril Sitompul, Zulkarnain Sitompul dan Bismar Nasution, Insider Trading Kejahatan di Pasar Modal, (Jakarta: Books Terrace and Library, 2007), hlm. 44.

92

(8)

3. Akibat Perdagangan Orang Dalam

Akibat yang timbul dai pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan

di pasar modal akan berdampak secara meluas atau tak terputus. Akibat

dari perdagangan orang dalam ini akan berdampak bukan hanya pada

investor dan broker saja, tetapi juga berdampak pada perusahaan yang

efeknya juga diperdagangkan. Karena hal ini termasuk mempengaruhi

investor ataupun masyarakat publik dalam mengambil keputusan apakah

membeli saham atau menjualnya. Justru ini adalah hal yang sangat

merugikan beberapa pihak di pasar modal.

Kasus perdagangan orang dalam diidentikkan dengan kasus

pencurian. Bedanya bila pada pencurian konvensional objeknya adalah

materi kepunyaan orang lain, maka pada perdagangan orang dalam objek

pencurian tetap milik orang lain, tetapi dengan mempergunakan informasi

yang seharusnya milik umum, sehingga dengan begitu pelaku memperoleh

keuntungan. Pada pencurian biasa, yang menderita kerugian adalah pihak

pemilik barang, maka pada kasus perdagangan orang dalam, yang

menderita kerugian begitu banyak dan meluas, mulai dari lawan transaksi,

hingga kepada kewibawaan regulator dan kredibilitas pasar modal. Kalau

kredibilitas sudah sirna, maka kepercayaan masyarakat terhadap pasar

modal juga akan berkurang.93

93

(9)

Akibat dari perdagangan orang dalam akan berdampak kepada

beberapa pihak, yaitu sebagai berikut:

a. Emiten

Kegiatan dari kejahatan pasar modal yaitu perdagangan orang dalam

akan berdampak pada emiten. Hal ini kenapa dikaitkan dengan emiten

karena emiten adalah pihak yang melakukan perdagangan saham

modal, dimana penawaran yang dilakukan emiten untuk menjual efek

kepada masyarakat. Ketika kejahatan dilakukan oleh pihak orang

dalam perusahaan yang juga akan menjual atau membeli saham

perusahaan maka emiten akan merasakan akibat dari pengaruh orang

dalam akan informasi yang belum terbuka untuk umum. Artinya ketika

emiten menawarkan efek kepada masyarakat, ada pihak atau oraang

dalam yang malah memanfaatkan informasi perusahaannya untuk

melakukan perdagangan efek dengan curang atau tidak sesuai dengan

aturan dan jelas tujuannya mendapatkan keuntungan. Maka masyarakat

yang mendapatkan hal tersebut akan lebih tergiur dengan penawaran

berdasarkan informasi yang belum publik, dan jelas akan berdampak

pada efek yang diterbitkan oleh emiten.

b. Investor

Investor atau pemodal dapat berupa badan hukum ataupun orang

perorangan. Investor adalah pihak yang mempengaruhi jalannya

kegiatan di pasar modal. Ketika di dalam pasar modal terjadinya

(10)

adalah pemodal. Investor sebelum menyalurkan dana yang dimiliki ke

pasar modal pasti terlebih dahulu akan melakukan pertimbangan yang

mendukung tujuannya untuk ikut dalam perdagangan saham di pasar

modal. Ketika kejahatan pasar modal ini terjadi maka jelas beberapa

investor yang tidak mendapatkan informasi perusahaan akan merasa

sangat dirugikan. Hal ini terjadi karena ketika orang dalam

menyampaikan informasi yang belum publik kepada beberapa pihak

saja, maka dalam waktu bersamaan pihak yang tidak mendapatkan

informasi tersebut tidak bisa ikut dalam mempertimbangkan apakah

akan melakukan atau tidak melakukan transaksi di pasar modal.

Singkatnya investor yang tidak memperoleh informasi akan merasa

rugi karena tidak bisa menentukan apakah menjual atau membeli

saham di perusahaan berdasarkan informasi perusahaan tersebut.

c. Perekonomian

Perdagangan orang dalam selain berdampak pada emiten dan investor

juga akan berdampak pada perekonomian secara menyeluruh. Ketika

terjadi kejahatan perdagangan orang dalam di pasar modal maka

kepercayaan terhadap pasar modal semakin lama akan semakin

merosot. Maka masyarakat juga akan tidak respectterhadap kegiatan pasar modal. Ketika masyarakat atau pemilik modal tidak mau ikut

andil dalam perdagangan di pasar modal maka, akan berpengaruh pada

jalannya kegiatan di pasar modal. Hal ini juga akan berdampak pada

(11)

dalam ekonomi suatu negaa adalah sudah menjadi kebutuhan, karena

disanalah ekonomi menunjukkan aktivitasnya.

B. Informasi dalam Praktek Perdagangan Orang Dalam

1. Informasi Fakta Material

Menurut Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995

tentang Pasar Modal, Informasi atau fakta material adalah informasi atau

fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian atau fakta yang

dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan

pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang berkepentingan atas

informasi atau fakta tersebut.

Keterbukaan informasi adalah prinsip dari nadi bergeraknya

industri Pasar Modal. Prinsip yang wajib dipatuhi oleh seluruh stakeholders-nya sebagaimana diatur oleh Pasal 1 angka 25 UU No. 8

Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) yang mensyaratkan bahwa

Emiten atau Perusahaan Publik, dan pihak-pihak lain yang tunduk pada

UUPM untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang

tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal terhadap Efek dimaksud

dan atau harga dari Efek tersebut. Lebih jauh dijelaskan bahwa informasi

material adalah sebagai informasi atau fakta penting dan relevan

(12)

harga Efek pada Bursa Efek dan atau Keputusan Pemodal, Calon Pemodal,

atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.94

Sebagai contoh, Informasi atau Fakta Material, adalah antara lain

informasi mengenai:95

a. Penggabungan usaha (merger), pengambilalihan (acquisition), peleburan usaha (consolidation) atau pembentukan usaha;

b. Pemecahan saham (share split) atau pembagian dividen saham (stock dividen);

c. Pendapatan dan dividen yang luar biasa sifatnya;

d. Perolehan atau kehilangan kontrak penting;

e. Produk dan penemuan baru yang berarti

f. Perubahan tahun buku perusahaan; dan

g. Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam

manajemen.

Sepanjang informasi tersebut dapat mempengaruhi harga efek dan

atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang

berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa harga sekuritas di tentukan oleh

informasi yang tersedia. Apabila informasi mengenai perusahaan atau

emiten adalah positif, misalnya emiten memperoleh laba yang luar biasa,

94

Keterbukaan Informasi Fakta Materiel di Pasar Modal oleh Agus Riyanto, 2005, dari business-law.binus.ac.id (Diakses pada tanggal 13 Juni 2017 pukul 19.36 WIB).

95

(13)

maka harga sahamnya akan naik, demikian pula sebaliknya apabila

informasi negatif yang terjadi.96

Berdasarkan informasi material tersebut, terdapat tiga teori yang di

kenal dalam praktek perdagangan efek di pasar modal yaitu: Disclose or Abstain Theory, Fiduciary Duty Theory, dan Misappropriation Theory.97

a. Disclose or Abstain Theory

Orang yang memiliki hubungan pekerjaan (orang dalam) dengan

emiten di larang melakukan perdagangan terhadap sekuritas dari

emiten tersebut karena adanya informasi yang belum terbuka kepada

masyarakat investor.98

b. Fiduciary Duty Theory

Mendasar pada informasi yang dipunyainya, maka orang dalam ke

masalah tersebut dapat memilh antara membuka informasi tersebut

(disclose) kepada investor dan masyarakat lain ataumalah tetap tidak mempublikasikan informasi material yang dimiliknya tetapi tetap

untuk tidak dapat melakukan transaksi perdagangan saham ataupun

untuk tidak menyarankannya terhadap orang lain.

Fiduciary Duty Theorydidasarkan kepada doktrin hukum common law

yang menegaskan bahwa setiap orang yang mempunyai fiduciary duty

96

Najib A. Gisymar, Insider Trading dala Transaksi Efek, (Bandung: Citra Adytia Bakti, 1999), hlm. 38.

97

Donald C. Langervroort, Insider Trading Regulation, Clark Boardman Co.Ltd, Nashville, Tennessee, 1989, hlm. 4. Pada Buku Najib A. Gisymar, Insider Trading dala Transaksi Efek, (Bandung: Citra Adytia Bakti, 1999), hlm. 38.

98

(14)

atau hubungan lain yang berdasarkan kepercayaan (trust or confidence) dengan perusahaan.99

Orang dalam yang mempunyai informasi material tetapi tidak

membuka kepada publik dengan alasan apabila informasi tersebut di

buka maka dapat merugikan perusahaan dan berarti harus bertanggung

jawab kepada perusahaan karena pelanggaran breach of fiduciary dutymaka itu harus menahan atau tidak melakukan transaksi.100

c. Misappropriation Theory(Teori Penyalahgunaan)

Misappropriation Theoryadalah teori mengenai transaksi yang dilakukan oleh orang luar perusahaan secara tidak sengaja berdasarkan

informasi yang belum tersedia bagi masyrakat maka di anggap sama

dengan telah melakukan insider trading. Teori ini sangat komprehensf, artinya teori tersebut mampu menjangkau praktek transaksi efek yang

dilakukan oleh seseorang berdasarkan informasi secara tidak langsung

atau dengan kata lain teori tersebut dapat diterapkan terhadap orang

yang mendapat tip dari orang dalam.101

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan mengenai informasi

perusahaan adalah bahwa tidak semua informasi merskipun material

dan dapat mempengaruhi harga saham harus di disclose kepada masyarakat, antara lain yaitu:102

99

Sofyan A. Djalil, op. cit., hlm. 6. Pada buku, Najib A. Gisymar, Insider Trading dala Transaksi Efek, (Bandung: Citra Adytia Bakti, 1999), hlm. 40.

100

Yulfasni, Hukum Pasar Modal, (Jakarta: Iblam, 2005), hlm. 112. 101

Ibid, hlm. 112. 102

(15)

1) Informasi yang belum matang untuk di disclose. Misalnya sebuah perusahaan pertambangan menemukan sumur minyak baru yang

belum begitu pasti;

2) Informasi, yang apabila di disclose akan dimanfaatkan oleh pesaing-pesaingnya segingga merugikan perusahaan tersebut;

3) Informasi yang memang sifatnya rahasia. Ini yang sering di sebut

rahasia perusahaan. Misalnya jika ada kontrak dengan pihak ketiga,

tetapi dalam kontrak tersebut ada klausula yang menyatakan bahwa

apa-apa yang ada dalam kontrak tersebut adalah bersifat rahasia di

antara para pihak tersebut.

Butir ketiga mengenai klausula apa-apa yang ada dalam kontrak

tersebut adalah bersifat rahasia, sebagaimana tersebut di atas, menurut

pendapat Penulis dapat dijadikan sebagai alasan pembenar bagi pelaku

insider trading.103

103

Najib A. Gisymar, op.cit, hlm. 44.

Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal apabila

dianalasisis lebih jauh dengan memperhatikan teori-teori sebagaimana

tersebut di atas, maka masih terdapat celah hukum yang dapat di pakai

(16)

dipastikan dapat terhindar dari pelaksanaan Pasal 104 Undang-Undang

Pasar Modal.104

2. Hubungan Informasi dengan Praktek Perdagangan Orang Dalam

Informasi perusahaan adalah segala data, fakta ataupun peristiwa yang

telah, akan atau dapat terjadi di dalam atau berkaitan dengan perusahaan,

baik informasi tersebut menyangkut efek yang diterbitkan oleh perusahaan

ataupun tidak berkaitan dengan efek perusahaan.105

Bentuk informasi perusahaan:106

a. Informasi Publik. Informasi publik adalah informasi yang disediakan

oleh perusahaan untuk umum, dalam arti setiap orang boleh

mengetahuinya. Informasi publik ini dapat di peroleh dari berbagai

bentuk, antara lain: prospektus, press release (siaran pers) yang diterbitkan perusahaan, laporan keuangan, laporan tahunan,

laporan-laporan berkala, dan laporan-laporan insidentil, baik dalam bentuk tertulis

ataupun dalam bentuk konferensi persatuan publik atau public expose

lainnya.

b. Informasi Non Publik. Informasi yang termasuk informasi non publik

erat kaitannya dengan peraturan mengenai insider trading

sebagaimana telah di singgung di atas. Informasi ini adalah informasi

yang tidak disediakan untuk umu, dalam arti tidak semua orang berhak

104 Ibid. 105

Asril Sitompul, Zulkarnain Sitompul dan Bismar Nasution, op.cit, hlm. 10.

(17)

atau dapat mengetahuinya. Yang termasuk di dalam kategori ini antara

lain adalah: projeksi-projeksi bisnis ataupun financial perusahaan,

rencana-rencan managemen, rencana-rencana corporate action, dan rencana atau rencana perusahaan lainnya yang belum dilaksanakan

atau belum pasti akan dilaksanakan.

c. Informasi yang jelas. Untuk dapat dikategorikan sebagai informasi

perusahaan maka informasi tersebut bentuknya haruslah sudah jelas,

bukan sekedar rumor. Hal ini berkaitan pula dengan tanggungjawab

orang dalam perusahaan apa bila terdapat kecurigaan terjadinya

perdagangan orang dalam.

d. Informasi price sensitive. Informasi material yang sensitif terhadap harga efek perusahaan adalah informasi yang apabila diketahui oleh

suatu pihak, maka pihak tersebut, dalam keadaan yang normal, akan

terpengaruh untuk melakukan perdagangan efek perusahaan, dan

adanya informasi tersebut akan mempengaruhi turun naiknya harga

efek perusahaan.

Apabila terjadi ketimpangan informasi fakta material bagi investor

dalam perdagangan sahaam, maka pada saat tersebut dapat menjadi

(18)

terjadi, apabila insider melakukan perdagangan berdasarkan informasi yang belum disampaikan kepada publik.107

Dalam perdagangan saham tersebut insider mempunyai informasi yang mengandung fakta material yang dapat mempengaruhi harga saham.

Posisi insider yang lebih baik (informational advantages) dibandingkan dengan investor lain dalam perdagangan saham, oleh karena itu dapat

menciptakan perdagangan saham yang tidak fair, sebab harga saham pada saat perdagangan tersebut tidak direfleksikan dari informasi pasar yang

efisien.108

Jadi dapat dikatakan bahwa adanya kejahatan di pasar modal yaitu

perdagangan orang dalam terjadi bermula karena adanya informasi.

Kemudian informasi tersebut belum terbuka untuk umum sifatnya, Seperti yang telah disebutkan di atas tentang unsur-unsur yang

harus dipenuhi dalam melakukan kejahatan perdagangan orang dalam,

maka jelas seseorang yang memiliki informasi tidak diperbolehkan

melakukan perdagangan efek perusahaan sebelum informasi tersebut telah

diumumkan kepada publik. Selain di larang untuk melakukan perdagangan

efek, ia juga tidak dibenarkan untuk menunjuk atau menyuruh orang lain

untuk melakukan perdagangan efek berdasarkan informasi tersebut.

107

Jack E. Karns dan Frederick P. Schalder, op. cit., hal. 329. Pada buku, Asril Sitompul, Zulkarnain Sitompul dan Bismar Nasution, Insider Trading Kejahatan di Pasar Modal, op.cit, hlm. 55.

(19)

disalahkan oleh orang dalam untuk memperoleh keuntungan beberapa

pihak dan merugikan pihak lain yang tidak mendapatkannya.

C. Larangan Praktek Perdagangan Orang Dalam

1. Dasar Hukum Larangan Perdagangan Orang Dalam

Dalam rangka penegakan dan kepastian hukum dalam transaksi di

lantai bursa, setiap pihak harus melakukan transaksi berdasarkan

kewajaran, keteraturan, dan keterbukaan. Artinya, seseorang dilarang

menggunakan suatu informasi yang berasal dari orang dalam (insider) suatu perusahaan publik atau emiten. Biasanya informasi tersbut

mengandung suatu potensi keuntungan yang sangat besar, dalam rangka

investasi di lantai bursa. Padahal moralitas pasar sangat menjunjung

prinsip keterbukaan, di mana semua pihak wajib untuk bertindak

transparan di pasar modal. 109

Apabila diteliti secara lebih mendalam, perdagangan efek menjadi

aliran darah bagi bursa efek dan pasar modal secara keseluruhan.Berbicara

masalah perdagangan efek, maka peran investor menjadi sentral.110

Insider trading ini berbeda dengan kejahatan pasar modal lain yang umumnya adalah menyangkut perbuatan-perbuatan yang secara umum

memang dilarang, yaitu perbuatan yang berkaitan dengan pemberian

informasi yang palsu, menyesatkan, tidak benar atau perbuatan yang

109

Indra Safitri, op. cit., hlm. 228. 110

(20)

berupa penipuan dan penggelapan, atau penyiaran informasi palsu atau

menyesatkan tentang efek perusahaan emiten. Selain dilarang melakukan

perdagangan ia juga tidak diperbolehkan untuk menyuruh orang lain

melakukan perdagangan atau memberikan informasi tersebut kepada orang

lain yang patut diduganya akan melakukan perdagangan.111

Seseorang yang melakukan insider trading, biasanya termasuk kelompok masyarakat dalam lingkaran aktifitas finansial, dan umumnya

mereka adalah golongan yang memiliki akses kepada institusi pasar itu

sendiri.112

Larangan perdagangan oleh orang dalam, pada dasarnya adalah

larangan yang dimaksudkan agar informasi yang keluar dari perusahaan

dapat sampai kepada semua orang (pemodal dan calon pemodal) secara

bersamaan dan merata. Disinilah sebenarnya letak perlakuan yang adil dan

setara atas semua pihak yang terlibat di pasar modal. Karena dengan

diterimanya informasi secara bersamaan dan merata, akan memberikan

kepada setiap pihak yang membutuhkan informasi kesempatan yang sama

untuk mempergunakan informasi tersebut untuk kepentingan

masing-masing.113

Praktek insider trading menjadi sebuah kontroversi yang menarik di Amerika Serikat. Di satu pihak berpendapat bahwa insider trading tidak

111

Priyanta Putra Dkk, Jurnal tentang, Insider Trading dalam Kegiatan Pasar Modal Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995.

112

Indra Safitri, loc., cit. 113

(21)

merupakan suatu pelanggaran dalaam transaksi efek, tetapi justru

merupakan sesuatu yang positif dalam menaikkan harga efek di bursa dan

akan mendatangkan keuntungan bagi yang memiliki informasi atau

pengetahuan terlebih dahulu, sebab yang mendapatkan informasi atau

pengetahuan sudah selayaknya mendapatkan keuntungan.114

Pendapat Manne yang pertama tersebut membenarkan bahwa

insider trading akan membuat pasar lebih efisien. Apabila orng dalam diperbolehkan melakukan transaksi, mereka akan sering melakukan

transaksi saham sehingga menjadi pasti. Kritikan yang khusus ditujukan

terhadap analisis Manne tersebut adalah menuntut agar orang dalam

dilarang mendaptkan keuntungan immoral dari praktek insider trading. Manne berpendapat bahwa sesuatu dikatakan immoral adalah merupakan pernyataan normatif.115

Dua masalah dasar mengenai tanggapan Manne terhadap

keuntungan immoral yaitu:116

a. Kasus insider trading menunjukkan bahwa orang-orang di luar manajer sering dianggap sebagai insider trading;

b. Manne lalai menyatakan bahwa manajer juga dapat memperoleh

keuntungan yang tidak terduga-duga dari turunnya harga saham.

114

Anonymous, Insider Trading, tanpa tahun, hlm. 1. F. William McCarty, et. al., op., cit, hlm. 464. Pada buku, Najib A. Gisymar, op., cit, hlm. 46-47.

115

Najib A. Gisymar, op., cit, hlm. 47. 116

(22)

Dapat diibaratkan bahwa jika suatu insider trading tidak dilarang, maka berjalannya pasar seperti berjalan sebuah mobil tanpa minyak

pelumas. Hal ini di sebabkan karena:

a. Pembentukan harga pasar yang tidak fair (teori informed market), b. Perlakuan yang tidak adil diantara pelaku pasar (teori market

egalitarism atau fair play),

c. Berbahaya bagi kelangsungan hidup pasar modal.

Peraturan tentang Perdagangan orang daalam (insider trading) dapat dilihat pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar

Modal. Walaupun pada Undang-Undang Pasar Modal ini tidak terdapat

penegrtian dari perdagangan orang dalam (insider trading), namun kita dapat melihat dari pasal-pasal yang akan diuraikan sehingga kita dapat

menyimpulkan apa yang dimaksud dengan insider trading.

Pasal 95

Orang dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik yang mempunyai

informasi orang dalam di larang melakukan pembelian atau penjualan atas

Efek:

a. Emiten atau Perusahaan Publik di maksdu; atau

b. Perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau

Perusahaan Publik yang bersangkutan

(23)

Yang di maksud dengan “orang dalam” dalam pasal ini adalah:

a. Komisaris, direktur, atau pegawai Emiten atau Perusahaan Publik;

b. Pemegang saham utama Emiten atau Perusahaan Publik:

c. Orang perseorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau

karena hubungan usahanya dengan Emiten atau Perusahaan Publik

memungkinkan orang tersebut memperoleh informasi orang dalam;

atau

d. Pihak yang dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir tidak menjadi Pihak

sebagaimana di maksud dalam huruf a, huruf b, atau huruf c di atas.

Yang di maksud dengan “kedudukan” dalam penjelasan huruf c ini adalah

jabatan pada lembaga, institusi, atau badan Pemerintah.

Yang di maksud dengan “hubungan usaha” pada penjelasan huruf c ini

adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usaha, antara lain

hubungan nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, dan kreditur.

Yang di maksud dengan “informasi orang dalam” pada penjelasan huruf c

ini adalah Informasi Materiil yang dimilik oleh orang dalam yang belum

tersedia untuk umum

Sebagai contoh penjelasan huruf d adalah Tuan A berhenti sebagai

direktur pada tanggal 11 Januari. Namun demikian Tuan A masih di

anggap sebagai orang dalam sampai dengan tanggal 30 Juni pada tahun

yang bersangkutan.

(24)

Larangan bagi orang dalam untuk melakukan pembelian atau penjualan

atas Efek Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan didasarkan

atas pertimbangan bahwa kedudukan orang dalam seharusnya

mendahulukan kepentingan Emiten, Perusahaan Publik, atau pemegang

saham secara keseluruhan termasuk didalamnya untuk tidak menggunakan

informasi orang dalam untuk kepentingan diri sendiri atau Pihak lain.

Huruf b

Di samping larangan tersebut dalam huruf a, orang dalam dari suatu

Emiten atau Perusahaan Publik yang melakukan transaksi dengan

perusahaan lain juga dikenakan larangan untuk melakukan transaksi atas

Efek dari perusahaan lain tersebut, meskipun yang bersangkutan bukan

orang dalam dari perusahaan lain tersebut. Hal ini karena informasi

mengenai perusahaan lain tersebut lazimnya diperoleh karena

kedudukannya pada Emiten atau Perusahaan Publik yang melakukan

transaksi dengan Perusahaan lain tersebut.

Yang dimaksud dengn “transaksi” dalam hurf ini adalah semua bentuk

transaksi yang terjadi antara Emiten atau Perusahaan Publik dan

perusahaan lain, termasuk transaksi atas Efek perusahaan lain tersebut

yang dilakukan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan.

Pasal 96

(25)

a. Mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan

atas Efek di maksud; atau

b. Memberi informasi orang dalam kepada Pihak manapun yang patut

diduganya dapat menggunakan informasi di maksud untukk

melakukan pembelian atau penjualan atas efek.

Penjelasan Pasal 96

Orang dalam sebagaimana di maksud dalam Pasal 95 di larang

mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas

Efek dari Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan, walaupun

orang dalam di maksud tidak memberikan informasi orang dalam kepada

pihak lain, karena hal ini dapat mendorong Pihal lain untuk melakukan

pembelian atau penjulan Efek berdasarkan informasi orang dalam.

Selain itu, orang dalam di larang memberikan informasi orang dalam

kepada Pihak lain yang di duga menggunakan informasi tersebut untuk

melakukan pembelian dan atau penjualan Efek. Dengan demikian orang

dalam mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam menyebarkan

informasi agar informasi tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak pihak

yang menerima informasi tersebut untuk melakukan pembelian atau

penjualan atas Efek.

Pasal 97

(1) Setiap Pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam

(26)

memperolehnya dikenakan larangan yang sama dengan larangan yang

berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan

Pasal 96.

(2) Setiap Pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam dan

kemudian memperolehnya tanpa melawan hukum tidak dikenakan

larangan yang berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 95 dan Pasal 96, sepanjang informasi tersebut disediakan oleh

Emiten atau Perusahaan Publik tanpa pembatasan.

Penjelasan Pasal 97

Ayat (1)

Setiap Pihak yang dengan sengaja berusaha secara melawan hukum untuk

memperoleh dan pada akhirnya memperoleh informasi orang dalam

mengenai Emiten atau Perusahaan Publik, juga dikenakan larangan yang

sama seperti yang berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 95 dan Pasal 96. Artinya, mereka dilarang untuk melakukan

transaksi atas Efek yang bersangkutan, serta dilarang mempengaruhi Pihak

lain untuk melakukan pembelian dan atau penjualan atas Efek tersebut

atau memberikan informasi orang dalam tersebut kepada Pihak lain yang

patut diduga akan menggunakan informasi tersebut untuk melakukan

pembelian dan penjualan Efek.

Sebagai contoh perbuatan melawan hukum, antara lain :

(27)

b. Berusaha memperoleh informasi orang dalam dengan cara membujuk

orang dalam; dan

c. Berusaha memperoleh informasi orang dalam dengan cara kekerasan

atau ancaman.

Ayat (2)

Sebagai contoh, apabila seseorang yang bukan orang dalam meminta

informasi dari Emiten atau Perusahaan Publik dan kemudian

memperolehnya dengan mudah tanpa pembatasan, orang tersebut tidak

dikenakan larangan yang berlaku bagi orang dalam.

Namun, apabila pemberian informasi orang dalam disertai dengan

persyaratan untuk merahasiakannya atau persyaratan lain yang bersifat

pembatasan, terhadap Pihak yang memperoleh informasi orang dalam

berlaku larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96.

Pasal 98

Perusahaan Efek yang memiliki informasi orang dalam mengenai Emiten

atau Perusahaan Publik dilarang melakukan transaksi Efek Emiten atau

Perusahaan Publik tersebut, kecuali apabila :

a. transaksi tersebut dilakukan bukan atas tanggungannya sendiri, tetapi

atas perintah nasabahnya; dan

b. Perusahaan Efek tersebut tidak memberikan rekomendasi kepada

(28)

Penjelasan Pasal 98

Ketentuan Pasal ini memberi kemungkinan Perusahaan Efek untuk

melakukan transaksi Efek semata-mata untuk kepentingan nasabahnya

karena salah satu kegiatan Perusahaan Efek adalah sebagai Perantara

Pedagang Efek yang wajib melayani nasabahnya dengan sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan transaksi Efek dimaksud, Perusahaan Efek tidak

memberikan rekomendasi apa pun kepada nasabahnya tersebut. Apabila

larangan dalam Pasal ini dilanggar, Perusahaan Efek melanggar ketentuan

orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96.

Pasal 99

Bapepam dapat menetapkan transaksi Efek yang tidak termasuk transaksi

Efek yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96.

Penjelasan Pasal 99

Transaksi Efek tertentu yang tidak termasuk dalam transaksi Efek

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96 ditetapkan dengan

peraturan Bapepam. Sebagai contoh, transaksi Efek tertentu sebagaimana

dimaksud dalam Pasal ini adalah transaksi Efek antar orang dalam.

2. Pengawasan Terhadap Praktek Perdagangan Orang Dalam

Dalam industri pasar modal, kualitas pengawasan oleh pihak

(29)

perhatian guna mewujudkan kondisi perindustrian pasar modal yang stabil,

tahan uji serta likuid. Sebagaimana diketahui, pengawasan terhadap sektor

pasar modal dan lembaga keuangan non bank dilakukan oleh Bapepam

(OJK). Secara umum kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh Bapepam

(OJK) cukup beragam, mulai dari pengawasan terhadap kesesuain baik

proses maupun praktik bisnis terhadap peraturan perundang-undangan

yang berlaku, pelaksanaan uji kepatuhan, pelaksanaan terhadap aktivitas

pasar sekunder, hingga pemeriksaan rutin. Salah satu upaya yang telah di

tempuh Bapepam (OJK) dalam rangka meningkatkan efektivitas dan

efisiensi pengawasan adalah melalui penerapan sistem pengawasan

berbasis risiko (risk-based supervision).117

Adapun secara terperinci kegiatan pengawasan Bapepam LK

difokuskan kepada beberapa hal sebagai berikut:118

a. Pengawasan atas Industri Efek

1) Monitoring Harian MKBD Perusahaan Efek

Bapepam LK menggunakan indikator utama yang di sebut dengan

Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) dalam melaksanakan

pengawasan terhadap Perusahaan Efek. Penggunaan indikator ini

sebagaimana di atur dalam Peraturan V .D .5 tentang Pemliharaan

dan Pelaporan Modal Kerja Bersih Disesuaikan. Pelaksanaan

MKBD harian dilakukan melalui anlisis dengan menggunakan

aplikasi monitoring MKBD harian. Dalam sistem aplikasi

117

Inda Rahadiyan, op., cit, hlm. 102-103. 118

(30)

sebagaimana dimaksud terdapat sebuah parameter yang berfungsi

guna mengukur resiko yang dihadapi oleh Perusahaan Efek seperti

Operational Risk, Market Risk, Concentration Risk serta Liquidity Risk. Sistem ini bekerja melalui pemberian informasi atas kondisi Perusahaan Efek sehingga peningkatan pengawasan terhadap suatu

Perusahaan Efek yang ditengarai beresiko dapat segera

ditingkatkan.

2) Penelaahan atas Laporan Perusahaan Efek

Sepanjang taun 2011 Bapepam LK telah melakukan penelaahan

atas Laporan Kegiatan Perantara Pedagang Efek (LKPPE) yang

disampaikan setiap bulan dan Laporn Kegiatan Penjamin Emiten

Efek (LKPEE) penyampaiannya dilakukan setiap enam bulan.

Sementara itu untuk Laporan Keuangan Tengah Tahunan (LKTT)

dan Laporan Keuangan Tahunan (LKT), dari sejumlah 146

Perusahaan Efek, sebanyak 139 Perusahaan Efek telah

menyampaikan LKT dan sebanyak 136 Perusahaan Efek telah

menyampaikan LKTT.

3) Penialaian Kemampuan dan Kepatutan (fit and proper test) Direksi dan Komisaris serta Pemegang Saham Perusahaan Efek

Dalam rangka menindaklanjuti permohonan izin usaha sebagai

Perusahaan Efek, Bapepam akan melakukan penelitian atas

kelengkapan dokumen permohonan, mengadakan wawancara,

(31)

melakukan uji kmampuan dan kepatutan terhadap calon anggota

direksi dan komisaris.

Fit and proper test dilakukan dalam rangka mengetahui keahlian dan kompetensi di bidang pasar modal khususnya mengenai

pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan di bidang

pasar modal. Selain itu, test juga dilakukan dalam rangka mengetahui integritas dan komitmen para calon terhadap

pengembangan Perusahaan Efek yang sehat.

4) Monitoring Pedoman Prinsip Mengenal Nasabah Untuk

Perusahaan Efek

Penerapan prinsip mengenal nasabah untuk perusahaan efek

dilakukan dalam rangka mencegah dilakukannya berbagai tindak

pidana seperti pencucian uang melalui sarana pasar modal.

b. Pengawasan atas Self Regulotary Organization (SRO) dan Lembaga Efek Lainnya

Pembangunan industri pasar modal nasional dalam era global ini

senantasa dimaksudkan dalam rangka mewujudkan lembaga efek yang

tidak hanya sehat tetapi juga mampu bersaing pada tingkat global.

c. Uji Kepatuhan Lembaga Efek

Selain melakukan pemeriksaan atas laporan-laporan berkala dan

insedental, Bapepam LK juga melakukan uji kepatuhan melalui

kegiatan monitoring dan pemeriksaan terhadap lembaga efek. Kegiatan

(32)

pemeriksaan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil penelaan

atas laporan berkala atau laporan incidental sebagaimana dimaksud.

d. Pengawasan Perdagangan

Dalam rangka mewujudkan tercipatnya kegiatan pasar modal yang

teratur, wajar dan efesien serta melinungi kepentingan pemodal,

sebagaimana di amanatkan oleh Undang-Undang Pasar Modal maka

Bapepam LK telah melakukan proses pemantauan dan pemeriksaan

terhadap kegiatan perdagangan yang terjadi di lantai bursa. Proses

pemantauan dilakukan melaluo monitoring yang menghasilkan sistem

alert, database baik yang meliputi database news maupun database

yang memuat para pihak serta early warning. Dari kegiatan monitoring dimaksud, didapatkan apa yang di kenal dengan istilah alert dan watch

yang pada tahap selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk

melanjutkan pada proses penelaahan. Apabila terindikasi adanya

pelanggaran, pemantauan akan ditingkatkan pada tahap pemeriksaan.

Sepanjang tahun 2011 Bapepam LK telah menyelesaikan penelaahan

terhadap 19 indikasi perdagangan tidak wajar. Dari jumlah tersebut, 15

diantaranya telah mencukupi adanya petunjuk awal sehingga dapat

(33)

3. Sanksi terhadap Pelaku Perdagangan Orang Dalam

Sanksi terhadap perdagangan orang dalampada Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar modal mencakup tiga hal, yaitu

penegakan secara administratif, perdata, dan pidana.

a. Sanksi Administratif

Pasal 102

(1) Bapepam mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran

Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya yang

dilakukan oleh setiap Pihak yang memperoleh izin, persetujuan,

atau pendaftaran dari Bapepam.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat

berupa:

a. peringatan tertulis;

b. denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang

tertentu;

c. pembatasan kegiatan usaha;

d. pembekuan kegiatan usaha;

e. pencabutan izin usaha;

f. pembatalan persetujuan; dan

g. pembatalan pendaftaran.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan

(34)

b. Sanksi Pidana

Pasal 103

(1) Setiap Pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin,

persetujuan, atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal

6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal

50, dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara paling lama 5

(lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima

miliar rupiah).

(2) Setiap Pihak yang melakukan kegiatan tanpa memperoleh izin

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana

kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 104

Setiap Pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat

(1), dan Pasal 98 diancam dengan pidana penjara paling lama 10

(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima

belas miliar rupiah).

Pasal 105

Manajer Investasi dan atau Pihak terafiliasinya yang melanggar

(35)

pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Pasal 106

(1) Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diancam dengan pidana

penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak

Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

(2) Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diancam dengan pidana

penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak

Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Pasal 107

Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan

Pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan,

memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan,

menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari Pihak yang

memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten dan

Perusahaan Publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)

tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar

rupiah).

Pasal 108

Ancaman pidana penjara atau pidana kurungan dan denda sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 103, Pasal 104, Pasal 105, Pasal 106, dan Pasal

(36)

langsung, mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pelanggaran

Pasal-Pasal dimaksud.

Pasal 109

Setiap Pihak yang tidak mematuhi atau menghambat pelaksanaan

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 diancam dengan

pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 110

(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2),

Pasal 105, dan Pasal 109 adalah pelanggaran.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1),

Pasal 104, Pasal 106, dan Pasal 107 adalah kejahatan.

c.

Sanksi Perdata

Pasal 111

Setiap Pihak yang menderita kerugian sebagai akibat dari pelanggaran

atas Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya dapat

menuntut ganti rugi, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama

dengan Pihak lain yang memiliki tuntutan yang serupa, terhadap Pihak

atau PihakPihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut.

Undang-Undang Pasar Modal ini masi sangat kurang mendukung

perlindungan terhadap adanya resiko kejahatan yang akan di alami

(37)

Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal belum menganut

misaproprition theory (teori penyalahgunaan) sehingga terhadap praktik-praktik insider trading yang terjadi kurang efektif dalam memberikan sanksi terhadap insider dalam insider trading. Dalam hal ini Undang-Undang Pasar Modal yang ada masih menganut fiduciary duty theory (hubungan kepercayaan).

4. Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah hal penting untuk semua pelaku di pasar

modal. Penegakan hukum di pasar modal bertujuan untuk mengurangi

terjadinya kejahatan maupun pelanggaran di pasar modal. Hal ini menjadi

faktor pendorong dalam terciptanya iklim investasi yang baik bagi investor

dalam negeri dan luar negeri untuk melakukan investasi di pasar modal.

Kejahatan serta pelangaaran di pasar modal adalah salah satu resiko yang

bisa saja di alami oleh investor, maka patut hal ini menjadi alasan para

investor untuk menjadikan pertimbangan dalam berinvestasi.

Dari sisi akibat yang ditimbulkan, kasus pelanggaran dibidang

pasar modal dapat meimbulkan efek yang bersifat berantai dan meluas.

Kerugian tidak hanya terbatas di derita oleh investor atau broker yang

terlibat langsung dalam suatu transaksi, melainkan dapat meluas dan

berlanjut keperusahaan yang efeknya ditransaksikan (image perusahaan

menjadi buruk), bursa efek tempat efek tersebut ditransaksikan

(38)

modal itu sendiri (faktor kepercayaan masyarakat), hingga ke

perekonomian suatu Negara secara keseluruhan. Tidak terlalu

mengejutkan jika dibandingkan dengan pelanggaran atau kejahatan biasa,

pelanggaran dibidang pasar modal mengandung sanksi yang sangat berat

dan dapat bersifat akumulatif.119

a. hukum (undang-undang).

Keberhasilan penegakan hukum mungkin dipengaruhi oleh beberpa

faktor yang mempunyai arti yang netral, sehingga dampak negatif atau

positifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor ini

mempunyai yang saling berkaitan dengan eratnya, merupakan esensi serta

tolak ukur dari effektivitas penegakan hukum. Faktor-faktor tersebut

adalah :

b. penegak hukum, yakni fihak-fihak yang membentuk maupun

menerapkan hukum.

c. sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

d. masyarakat, yakni dimana hukum tersebut diterapkan.

e. dan faktor kebudayaan, yakni sebagai. hasil karya, cipta dan rasa yang

didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.120

119

Jusuf Anwar, Penegakan Hukum dan Pengawasan Pasar Modal Indonesia, (Bandung: PT. Alumni, 2008), hlm. 27.

120

(39)

Dari data yang ada pada lembaga pengawasan terdahulu,

berdasarkanlaporan tahunan Bapepam-LK, selama 3 (tiga) tahun

(2007-2009), di tahun 2007, Bapepam-LK telah menyelesaikan 21 kasus, dari 39

kasus yang diperiksa, kemudian pada tahun 2008, 41 kasus tahap

pemeriksaan, 15 kasus tahap penyidikan, selanjutnya di tahun 2009 terjadi

89 kasus tahap pemeriksaan, 11 kasus tahap penyidikan.121

121

Bapepam,. http://www.bapepam.go.id/pasar modal/publikasi pm/siaran-pers-pm/index.htm, diakses 7April 2014. Pada Monica Kolompoy, Jurnal tentang Penegakan Hukum Tindak Pidana Dalam Kegiatan Penyelenggaraan Pasar Modal di Indonesia, http://www.tappdf.com (di akses pada18 Mei 2017 pukul 22.45 Wib).

Ada kesan hal

ini disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, yang bisa saja terjadi

karena undang-undang dan peraturan paasar podal yang ketinggalan

dengan perkembangan bisnis pasar modal, lemahnya institusi penegak

hukum dalam melakukan law enforcement atau kurang professionalnya aparat penegak hukum itu sendiri, itulah yang perlu dicari solusinya.

Penegakan hukum yang bagaimana yang dapat diterapkan untuk

menciptakan pasar modal yang aman dan dapat dipercaya masyarakat

khususnya para investor. Kejahatan pasar modal (capital market crime/securities fraud) adalah segala pelanggaran hukum yang ada hubungannya dengan pasar modal baik pelanggaran peraturan

perundang-undangan di bidang pasar modal itusendiri, maupun pelanggaran peraturan

(40)

ada kaitannya dengan pasar modal.Jadi tindak pidana pasarmodal juga bisa

dikaitkan dengan tindak pidana di luar ketentuan pidana pasar modal.122

122

(41)

BAB IV

PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL UNTUK PENGATURAN “ORANG DALAM” PADA

PERDAGANGAN ORANG DALAM

A. Penentuan “Orang Dalam” dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dalam Praktek Insider Trading

Undang-Undang Pasar Modal Indonesia telah mengatur ketentuan

kategori seseorang di sebut insider walaupun seseorang tersebut tidak mempunyai hubungan fiduciary duty, seperti terdapatnya ketentuan dalam Undang-Undang Pasar Modal Indonesia yang menentukan “penerima

informasi” (tippee) sebagai insider. Namun Undang-Undang Pasar Modal tersebut tidak mengatur ketentuan “pihak lain yang menerima informasi

tidak langsung dari insider, tetapi informasi di terima dari tippee yang lain” (secondary tippee) sebagai kategori insider.Tidak adanya pengaturan

secondary tippee sebagai insider menandakan Undang-Undang Pasar Modal Indonesia dalam mengatur kategori insider belum secara maksimal mengatur rambu-rambu insider trading dan keadaan pengaturan tersebut membuktikan Undang-Undang Pasar Modal Indonesia belum secara

(42)

harus mempunyai hubungan fiduciary duty, tetapi mengikuti kewajiban umum keterbukaan di pasar modal.123

Masalah yang menonjol dalam ketentuan insider trading

sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Pasar Modal Indonesia

adalah berkaitan dengan ketentuan kategori insider yang belum cukup memadai. Di satu sisi, ketentuan kategori insider dalam Undang-Undang Pasar Modal tersebut telah ada kemiripannya dengan yang pernah

berkembang di pasar modal Amerika Serikat mengenai kategori insider. Namun tidak semua kategori insider sama antara Undang-Undang Pasar Modal Indonesia dan peraturan Pasar Modal Amerika Serikat. Artinya

Undang-Undang Pasar Modal Indonesia dalam menentukan kategori

insider tidak hanya menganut kategori traditional insider, seperti komisaris, direktur, pemegang saham utama dan pegawai perusahaan,

karena kategori insider didasarkan dari seseorang yang mempunyai

fiduciary duty.124

Larangan insider trading adalah hal yang penting, terlihat dari penjelasan pasal 96 Undang-Undang Pasar modal yang menyatakan

“orang dalam mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam

menyebarkan informasi agar informasi tersebut tidak disalahgunakan oleh

123

David L. Ratner dan Thomas Lee Hazen, 1, Securities Regulation Case and Materials, Fourth Edition, (St. Paul Minn: West Publishing, Co, 1991), hal. 618. Pada buku, Bismar Nasution, Keterbukaan Dalam Pasar Modal, (Jakarta: Law and Finance Institutional, 2001), hlm. 255.

124

(43)

pihak pihak yang menerima informasi tersebut untuk melakukan

pembelian atau penjualan atas Efek”.

B. Hubungan “Orang Dalam” dengan Emiten

Pada Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995

tentang Pasar Modal menyatakan bahwa “Emiten adalah pihak yang

melakukan penawaran umum”. Penawaran Umum yaitu penawaran Efek

yang dilakukan oleh Emiten untuk menjual Efek kepada masyarakat sesuai

dengan tata cara yang telah diatur oleh Undang-undang yang berlaku.

Emiten dapat berbentuk orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama,

asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. Emiten adalah perusahaan

terbuka (publik) yang menjual saham kepada publik akan tetapi

perusahaan tertutup yang menjual efek obligasi kepada publik juga dapat

dikatakan sebagai emiten.

Mengetahui tanggung jawab masing-masing dari pelaku pasar

modal adalah suatu hal yang sangat penting dalam transaksi di pasar

modal. Tanggung jawab utama dari masing-masing pelaku pasar modal

ialah mempertanggungjawabkan terjadinya fairness dalam bertransaksi. Hal ini dikarenakan bahwa pasar modal ialah pasar abstrak. Informasi di

pasar modal hanya dapat diperoleh melalui prospektus dan produk

informasi lain yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan informasi

(44)

cukup disayangkan, karena belum tentu pihak di pasar modal terlebih

investor dapat membaca informasi yang telah di muat dalam prospektus.

Bagi calon perusahaan publik, banyak sekali pihak yang terlibat

dalam merealisasikan langkah go public. Sebagian besar dari para pihak ini adalah pendukung bagi suksesnya kebijaksanaan go public, dalam arti berdiri sebagai “pihak pembela” bagi emiten. Sebaliknya investor amat

berbeda kedudukannya. Meskipun ada pelaku pasar modal yang

mendukung kepentingan investor, tidak sebanyak yang dimiliki emiten.125

Melakukan penawaran dalam bertransaksi di pasar modal butuh

pertimbangan yang cukup matang dan mendasar. Tentu profesi penunjang

pasar modal akan membantu dalam hal ini. Profesi penunjang pasar modal

yang pasti mempunyai pengalaman serta telah melewati ujian sertifikat

sebagai profesi penunjang di pasar modal. Namun, apakah semua profesi

yang telah mendapkan sertifikat menjamin bahwa transaksi yang akan

dilakukan akan berlangsung secara fair? Tidak juga dapat dikatakan akan

berjalan sangat baik. Kita bisa berkaca pada Amerika yang dapat dikatakan

bahwa bursa di negaranya sudah sangat maju serta sistem dari

pengawasannya sangat ketat namun tak pernah jauh dari kecurangan oleh

pelaku pasar modal. Sebagian besar dari pelaku pasar modal adalah kaum

intelektual dan sangat pintar, sehingga mempunyai kendala untuk dapat

mengendalikan orang yang pintar. Profesi yang bersertifikat tadi tidak

dapat dikatakan sepenuhnya akan menjamin keadilan dalam bertransaksi,

125

(45)

tapi setidaknya dapat mengurangi kecurangan yang akan maupun telah di

lakukan dalam tranksaksi di pasar modal.

Adapun peran emiten adalah:126

1. Emiten berperan menerbitkan efek, yang kemudian di jual kepada

investor, guna mendapatkan modal

2. Untuk bisa menerbitkan efek yang laku di jual, emiten harus

mempunyai prestasi yang baik dan memiliki cacat hukum. Dengan

demikian emiten berperan menjamin efek yang diterbitkannya sah

menurut hukum.

3. Emiten merupakan sumber pertama informasi mengenai efeknya.

Kebenaran informasi dari emiten merupakan tanggung jawab emiten

bersangkutan.

Dari peran emiten di atas maka terlihatlah hubungannya dengan

orang dalam suatu perusahaan. Orang dalam merupakan pihak yang

mempunyai hubungan pada suatu perusahaan yang memungkinkan

memiliki informasi perusahaan. Dalam melakukan penawaran kepada

publik orang dalam dapat mempengaruhi penawaran kepada publik yang

dilakukan oleh emiten. Apalagi hal yang telah dikatakan di atas bahwa

para investor yang berniat menjual atau membeli efek di pasar modal perlu

memperhatikan atau mengetahui informasi. Orang dalam dapat

memanfaatkan hal ini untuk mempengaruhi harga efek yang ditawarkan

oleh emiten yang tujuannya adalah untuk mendapatkan modal. Karena

126

(46)

investor merupakan sumber aktivitas bursa efek, dimana emiten bisa

mendapatkan modal dan bursa efek dapat menyelenggarkan perdagangan.

Oleh sebab itu, sangat di larang orang dalam melakukan atau

menyampaikan informasi yang sifatnya belum tersedia untuk dibukakan

kepada publik, karena ini akan berdampak kepada efek yang diterbitkan

oleh emiten.

C. Penerapan Teori Penyalahgunaam dalam Penentuan “Orang Dalam” pada Praktek Insider Trading

Ada beberapa jenis teori yang dapat dijadikan acuan pendekatan

dalam menganalisis pelanggaran di pasar modal terutama praktek insider trading. Salah satu dari teori tersebut adalah teori penyalahgunaan atau sering juga dikatakan misappropriation theory. Teori penyalahgunaan adalah teori tentang transaksi yang dilakukan oleh pihak atau orang yang

bukan orang dalam melainkan orang luar perusahaan yang tidak sengaja

berdasarkan informasi yang belum menjadi konsumsi untuk publik, maka

hal inipun dikatakan melakukan kejahatan perdagangan orang dalam atau

praktek insider trading.

Konsep hukum inside dalam UUPM ini berbeda dengan konsep Hukum Pasar Modal yang sekarang berlaku di Amerika Serikat. Pada

(47)

Chiarellasebagai karyawan perusahaan Pandick Press yang mencetak

surat-surat berharga di bidang perdagangan dan keuangan, telah

mengetahui dari dokumen yang di cetak mengenai rencana take over. Chiarella memanfaatkan informasi rencana take over ini dengan cara membeli saham perusahaan target dalam take over tersebut. Dia memperoleh keuntunganpada saat informasi take over disampaikan, karena harga perusahaan tersebut menjadi naik. Chiarella tidak

dikategorikan sebagai insiderdan tidak dapat diberikan sanksi larangan

insider trading. Walaupun pada mulanya ia di tuntut atas dasar Section 10 (b) Securities Act of 1933 dan Rule 10b-5 Securities Exchange Act of

1934, yang melarang penipuan dalam perdagangan saham. Hal ini

disebabkan Chiarella tidak memiliki fiduciary duty dengan perusahaan target dalam take over tersebut.127

Tetapi setelah mereka mengalami masalah dalam

pertangungjawaban hukum insider yang melakukan insider trading

dengan pendekatan teori tradisional ini, Securities Exchange Commission

memperluas konsep kategori insider dengan pendekatan misappropriation theory. Teori ini mendasarkan seorang tidak harus mempunyai pelanggaran dari suatu fiduciary duty, tetapi mengikuti kewajiban umum keterbukaan di pasar modal. Jadi menurut misappropriation theory

seseorang yang menggunakan informasi yang belum tersedia untuk publik

milik orang lain dalam perdagangan saham dianggap telah melakukan

127

(48)

insider trading. Seseorang tersebut adalah misappropriators sama dengan pihak yang melakukan pelanggran dari fiduciary duty atau pihak yang mempunyai hubungan trust dan confidence dengan emiten atau pemegang saham.128

Adapun kasus perdagangan orang dalam lainnya yang berkaitan

dengan penerapan misappropriation theory yaitu Newman v. United States.129

128 Ibid. 129

Bismar Nasution, op., cit, hlm. 264-265.

James M. Newman bekerja dalam over-the-counter dari sebuah perusahaan

pialang di New York. Antara tahun 1973 dan 1978, Newman menerima

informasi rahasia mengenai take over perusahaan dari karyawaan Morgan

Stanley & Co. dan Kuhn Loeb & Co., dua perusahaan investasi perbankan.

Para karyawan telah menyalahgunakan informasi rahasia majikan mereka

tentang take over.

Newman membeli saham sesuai target kedua perusahaan sebelum

melakukan keterbukaan kepada publik dan kemudian menjual sahamnya

tersebut untuk memperoleh keuntungan yang besar setelah pengumuman

kepada publik. Newman membagi keuntungan tersebut kepada karyawan

Morgan Stanley & Co. dan Kuhn Loeb & Co., Newman dan

teman-temannya dituduh melakukan konspirasi, dengan dakwaan pelanggaran

atas Rule 10b-5, Section 10 (b), fraud melalui pos, dan konspirasi untuk

(49)

Jika diamati dalam kasus Newman tersebut, maka pada intinya

mengkaji bagaimana apabila informasi non-public diambil orang lain dan

disalahgunkan dalam perdagangan saham. Kejahatan ini dapat di adili

secara hukum melalui pendekatan misappropriation theory.

Perkembangan penentuan insider dari tradisional insider kepada teori penyalahgunaan, perlu dikaji dan dipertimbangkan untuk mengisi

ketidakcukupan peraturan kategori insider di pasar modal Indonesia. Karena tanpa penerapan teori penyalahgunaan secara menyeluruh dapat

menimbulkan masalah dalam menentukan kategori insider dan sekaligus menjadi hambatan dalam mengatasi paraktek insider trading.130

D. Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam menentukan adanya Pelanggaran Perdagangan Orang Dalam

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah lembaga Negara yang di

bentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 yang

berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang

terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK dibentuk

dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan

terselenggara secara teratur, adil, transparan dan akuntabel dan mampu

mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan

stabil serta mampu melindungi kepentingan konsumen maupun masyrakat.

130

(50)

Sementara, berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011,

tugas utama dari OJK adalah melakukan pengaturan dan pengawasan

terhadap:

1. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan;

2. Kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal;

3. Kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun,

Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya.

Adapun wewenang yang dimiliki OJK adalah sebagai berikut:131

1. Terkait khusus Pengawasan dan Pengaturan Lembaga Jasa Keuangan

Bank yang meliputi:

a. Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran

dasar, rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya

manusia, merger, konsolidasi dan akuisisi bank, serta pencabutan

izin usaha bank

b. Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana,

produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa

c. Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang

meliputi: likuiditas, rentbilitas, solvabilitas, kualitas asset, rasio

kecukupan modal minimum, batas maksimum pemberian kredit,

rasio pinjaman terhadapt simpanan dan pencadangan bank; laporan

bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank; sistem

131

(51)

informasi debitur; pengujian kredit (credit testing); dan standar akuntansi bank

d. Pengaturan dan pengawasan aspek kehati-hatin bank, meliputi:

manajemen risiko; tata kelola bank; prinsip mengenal nasabah dan

anti-pencucian uang; dan pencegahan pembiayaan terorisme dan

kejahatan perbankan; serta pemeriksaan bank.

2. Terkait Pengaturan Lembaga Jasa Keuangan (Bank dan non-Bank)

meliputi:

a. Menetapkan peraturan dan keputusan OJK

b. Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa

keuangan

c. Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK

d. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah

tertulis terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu

e. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola

statute pada lembaga jasa keuangan

f. Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola,

memelihara, dan menata usahakan kekayaan dan kewajiban

g. Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangn di sektor jasa

keuangan.

3. Terkait Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (Bank dan non-Bank)

(52)

a. Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan

jasa keuangan

b. Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh

Kepala Eksekutif

c. Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan

konsumen dan tindakan lain terhadap lembaga jasa keuangan,

pelaku dan/atau penunjang kegiatan jasa keungan sebagaimana

dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa

keuangan

d. Memberikan perintah tertulis kepada lembaga jasa keuangan

dan/atau pihak tertentu

e. Melakukan penunjukan pengelola statute

f. Menetapkan penggunaan pengelola statute

g. Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan

pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa

keuangan

h. Memberikan dan/atau mencabut: izin usaha, izin orang perorangan,

efektifnya pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar,

persetujuan melakukan kegiatan usaha, pengesahan, persetujuan

atau penetapan pembubaran dan penetapan lain.

OJK berwenang untuk melakukan pemeriksaan di sektor pasar

modal. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada saat ditemukan adanya

Referensi

Dokumen terkait

Pihak yang dimaksud dalam ayat ini adalah Emiten, Perusahaan Publik, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana,

Insider trading adalah transaksi saham berdasarkan bocoran informasi rahasia dari pihak-pihak yang terkait dengan emiten, konsultan perusahaan atau. regulator

Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan

( 5) Perusahaan Efek yang menjalankan kegiatan sebagai Perantara Pedagang Efek yang mengadministrasikan rekening Efek nasabah dan Manajer Investasi yang telah memperoleh

Pihak yang dimaksud dalam ayat ini adalah Emiten, Perusahaan Publik, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan

Perdagangan orang dalam ( insider trading ) adalah perdagangan efek yang dilakukan mereka yang tergolong “orang dalam” perusahaan (dalam artian luas), perdagangan mana yang

Perdagangan orang dalam (insider trading) adalah perdagangan efek yang dilakukan mereka yang tergolong “orang dalam” perusahaan (dalam artian luas), perdagangan mana yang

32 BAB III : INSIDER TRADING DALAM PASAR MODAL DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL……….... 35 3.1 Dampak terjadinya Insider Trading Dalam Pasar Modal