• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kegiatan Tenaga Ahli Perencanaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Kegiatan Tenaga Ahli Perencanaan"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN ANTARA

2017

TENAGA AHLI PERENCANAAN DAN ANGGARAN-PROGRAM

PAMSIMAS PHASE III

TIAR PANDAPOTAN PURBA, ST, IAP

(2)

~i~

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Anugerah-Nya Laporan Antara Tenaga Ahli Perencanaan dan Penganggaran Program Pamsimas Tahap III dengan Judul Kegiatan: “Penyusunan Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Daerah Terkait Program Prioritas Nasional “Penyediaan Akses Air Minum dan Sanitasi” Yang Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan Daerah”, dapat selesai pada waktunya.

Pada periode ini, tenaga ahli perencanaan dan penganggaran lebih memfokuskan pada penyiapan analisis, draf rekomendasi dan pelaksanaan tugas fungsi subdit perumahan dan permukiman, Ditjen Bina Pembangunan Daerah.

Beberapa hasil kajian telah dihasilkan termasuk mempelajari Aide Memoire yang merupakan hasil evaluasi Pamsimas periode I dan II yang menjadi baseline pekerjaan pada Pamsimas III.

Konsultan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Antara ini, masukan dan saran sangat diharapkan guna perbaikan.

Salam.

Jakarta, Oktober 2017

Penulis,

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... i

Bab 1 Pendahuluan ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Maksud dan Tujuan ... 4

1.3 Sasaran ... 5

1.4 Ruang Lingkup Pekerjaan ... 5

1.5 Keluaran ... 6

1.6 Sistematika Laporan ... 6

Bab 2 Tinjauan Kebijakan Bidang Air Minum ... 1

2.1 Undang-Undang Dasar 1945 ... 1

2.2 Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 ... 1

2.3 Undang-Undang No. 24 Tahun 2014 ... 2

2.4 Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 ... 2

2.5 Peraturan Pemerintah No. 121 Tahun 2015 ... 3

2.6 Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2017 ... 3

2.7 Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 ... 4

2.8 Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017 ... 5

2.9 Peraturan Presiden No. 185 Tahun 2014 ... 8

2.10 Permendagri No. 86 Tahun 2017 ... 8

Bab 3 ANALISIS ... 1

3.1 Analisis dan Rekomendasi ... 1

3.2 Evaluasi Alokasi dan Realisasi APBD ... 3

(4)

~1~

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk melanjutkan keberhasilan capaian target Millennium Development Goals sektor Air Minum dan Sanitasi (WSS-MDG), yang telah berhasil menurunkan separuh dari proporsi penduduk yang belum mempunyai akses air minum dan sanitasi dasar pada Tahun 2015. Sejalan dengan itu, di Tahun 2014, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional [RPJMN] 2015-2019, Pemerintah Indonesia telah mengambil inisiatif untuk melanjutkan komitmennya dengan meluncurkan program nasional Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019 dengan capaian target 100% akses air minum dan sanitasi bagi seluruh penduduk Indonesia.

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) telah menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat. Program Pamsimas I yang dimulai pada Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012 dan Pamsimas II dari Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2015 telah berhasil meningkatkan jumlah warga miskin perdesaan dan pinggiran kota yang dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi, serta meningkatkan nilai dan perilaku hidup bersih dan sehat di sekitar 12.000 desa yang tersebar di 233 kabupaten/kota.

Untuk terus meningkatkan akses penduduk perdesaan dan pinggiran kota terhadap fasilitas air minum dan sanitasi dalam rangka pencapaian target Akses Universal Air Minum dan Sanitasi Tahun 2019, Program Pamsimas dilanjutkan pada Tahun 2016 sampai dengan Tahun 2019 khusus untuk desa-desa di Kabupaten. Program Pamsimas III dilaksanakan untuk mendukung dua agenda nasional untuk meningkatkan cakupan penduduk terhadap pelayanan air minum dan sanitasi yang layak dan berkelanjutan, yaitu (1) 100 - 100, yaitu 100% akses air minum dan 100% akses sanitasi, dan (2) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Pada tahun 2017, target capaian akses air minum layak yaitu 84%, sedangkan akses sanitasi layak sebesar 83,2%, yaitu 70,7% akses layak dan 12,4% akses dasar.

Program Pamsimas dilaksanakan dengan pendekatan berbasis masyarakat melalui keterlibatan masyarakat (perempuan dan laki-laki, kaya dan miskin, dan lain-lain) dan pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (demand responsiveapproach). Kedua pendekatan tersebut dilakukan melalui proses pemberdayaan masyarakat untuk menumbuhkan prakarsa, inisiatif, dan partisipasi aktif masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, menyiapkan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun, serta melanjutkan kegiatan peningkatan derajat kesehatan di masyarakat termasuk di lingkungan sekolah.

Ruang lingkup Program Pamsimas mencakup lima komponen program:

1. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan daerah dan desa; 2. Peningkatan perilaku higienis dan pelayanan sanitasi;

3. Penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum; 4. Hibah Insentif; dan,

(5)

Percepatan pencapaian akses universal air minum dan sanitasi tahun 2019 membutuhkan upaya bersama dari pemerintah pusat sampai dengan pemerintah desa dan masyarakat, termasuk donor dan swasta (CSR). Pamsimas menjadi program air minum dan sanitasi yang dapat digunakan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk menjadi program bersama dalam rangka pencapaian akses universal air minum dan sanitasi pada Tahun 2019.

Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 9 Ayat (1) dan Ayat (3), Pasal 11 Ayat (3) dan Pasal 12 Ayat (1), pelayanan air minum dan sanitasi (air limbah) telah menjadi urusan wajib Pemerintah Daerah karena sebagai pelayanan publik yang mendasar. Untuk mendukung kapasitas Pemerintah Daerah dalam menyediakan layanan air minum dan sanitasi yang memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), Program Pamsimas berperan dalam menyediakan dukungan finansial baik untuk investasi fisik dalam bentuk sarana dan prasarana, maupun investasi non-fisik dalam bentuk manajemen, dukungan teknis, dan pengembangan kapasitas.

Kementerian Dalam Negeri sebagai salah satu Tim Pengarah berperan penting dalam a). merumuskan kebijakan, strategi, dan program, b). melakukan koordinasi dan pengendalian pelaksanaan, c). memberi arahan dalam pencapaian target Akses air Minum dan Sanitasi 2019, d). mengembangkan potensi pembangunan dengan sumber dana dalam dan luar negeri. Dalam rangka program PAMSIMAS, Tim pengarah bertugas untuk menetapkan kebijakan umum, kabupaten sasaran, serta pedoman dan petunjuk pelaksanaan program PAMSIMAS.

Ditjen Bina Bangda sebagai salah satu pelaksana program PAMSIMAS (CPIU) mempunyai tugas utama menyelenggarakan komponen/sub komponen Program Pamsimas, yaitu:

1. Mengelola seluruh kegiatan dalam komponen 1. Pemberdayaan Masyarakat, dan Pengembangan Kelembagaan Daerah, termasuk memastikan kecukupan unit pengelola program (kelembagaan dan sumber daya manusia), penyusunan rencana alokasi anggaran, dan rencana kegiatan, pengelolaan bantuan teknis. Serta pengelolaan kegiatan pengembangan kapasitas;

2. Mengendalikan pencapaian indikator kinerja kunci PAMSIMAS untuk komponen program yang berada dalam tanggungjawabnya;

3. Bertanggungjawab terhadap kualitas dan akuntabilitas pelaksanaan serta pengembangan program dalam komponen program;

4. Melaksanakan kegiatan pemantauan dan evaluasi untuk pelaksanaan dan hasil komponen program; 5. Bersama CPMU, memantau dan mengevaluasi kinerja bantuan teknis (konsultan dan fasilitator); 6. Mensinkronkan kebijakan program dan alokasi anggaran untuk Pamsimas dengan kebijakan

masing-masing kementerian dalam rangka pencapaian akses universal air minum dan sanitasi pedesaan, termasuk dalam penyusunan kerangka regulasi dan perencanaan program regular, dan sinkronisasi antar program dalam Kementarian Dalam Negeri;

7. Melaporkan kemajuan pelaksanaan program (keuangan, pengadaan, pengembangan kapasitas, dan fisik) kepada CPMU.

Indikator kunci kinerja PAMSIMAS yang dapat dikawal oleh Ditjen Bina Bangda dalam pencapaiannya adalah:

(6)

~3~

2. Minimal 60% Pemerintah kabupaten mempunyai peningkatan belanja di bidang air minum dan sanitasi dalam rangka pemeliharaan sistem pelayanan air minum dan sanitasi saat ini serta pencapaian akses universal air minum dan sanitasi.

Dalam pencapaian indikator kunci kinerja, tantangan utama dalam pengelolaan kegiatan penyediaan air minum dan sanitasi perdesaan berbasis masyarakat antara lain adalah:

1. Belum memadainya dukungan program dan anggaran daerah yang memberikan fokus pada peningkatan kinerja pelayanan air minum dan sanitasi perdesaan berbasis masyarakat.

2. Belum sinkronnya perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan berbagai program dan anggaran untuk air minum dan sanitasi perdesaan;

3. Belum memadainya pemanfaatan pendanaan dari sumber lainnya (swasta dan masyarakat) bagi sistem penyediaan air minum dan sanitasi perdesaan berbasis masyarakat;

4. Belum optimalnya lembaga yang menangani pengelolaan air minum dan sanitasi di perdesaan; 5. Belum optimalnya pemanfaatan sistem data/ informasi air minum dan sanitasi perdesaan untuk

menjadi bagian dari sistem informasi kinerja penyelenggaraan pembangunan daerah sebagai basis pengambilan keputusan program dan anggaran pembangunan air minum dan sanitasi perdesaan.

Selama ini banyak program-program pembangunan yang tidak optimal akibat tidak dilakukannya sinkronisasi terhadap perencanaan dan penganggaran. Jika pembangunan terus dilakukan tanpa sinkronisasi, maka capaian program pembangunan tidak akan maksimal, yaitu secara sektoral akan bagus, tetapi secara keseluruhan kurang optimum. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan Nomenklatur Program Kegiatan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah yang menjadi kendala sinkronisasi pembangunan, dimana Pemerintah Pusat berdasarkan fungsi, sedangkan Pemerintah Daerah berdasarkan Urusan (Permendagri No.13/2006). Oleh karena itu perlu harmonisasi perencanaan pusat dan daerah untuk memudahkan sinergitas perencanaan pembangunan dan capaian target pembangunan nasional terhadap sasaran dan indikator Program/Kegiatan.

Selain itu, masih terdapat sebagian program pembangunan yang ada dalam APBD, bukan merupakan program yang direncanakan dalam RPJMD maupun RKPD. Artinya program tersebut muncul bukan dari mekanisme perencanaan yang semestinya dan melibatkan para stakeholders dalam forum-forum musrenbang. Hal tersebut tidak lepas dari sistem perencanaan dan penganggaran yang terpisah semenjak berlakunya UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan. Tahapan politis dalam penyusunan anggaran, selain teknokratik dan administratif, menjadi tahapan yang krusial berpengaruh terhadap konsistensi perencanaan dan penganggaran. Oleh karena itu, penentuan prioritas harus jelas dan fokus. Kualitas perencanaan dan kualitas penganggaran betul-betul ditingkatkan detilnya sehingga setiap lembaga bisa mengendalikan langsung perencanaan dan penganggaran di lembaga masing-masing.

(7)

Pada tingkat kabupaten, perencanaan air minum dan sanitasi disusun dalam Rencana Aksi Daerah bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD AMPL). RAD AMPL adalah nama generik untuk dokumen perencanaan daerah lima tahunan yang memuat strategi, program dan investasi prioritas lima-tahunan untuk air minum dan sanitasi termasuk untuk perdesaan dan berbasis masyarakat, yang melibatkan berbagai sumber pendanaan, seperti pemerintah, pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten), pemerintah desa, swasta, dan masyakat. RAD AMPL merupakan payung bagi pemerintah kabupaten bagi seluruh program air minum dan sanitasi di wilayahnya dalam rangka pencapaian akses universal air minum dan sanitasi pada tahun 2019.

RAD AMPL memuat lima program kunci, diantaranya: penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). RAD AMPL berorientasi kepada RPJMD, dan dijabarkan dalam RKPD, untuk dapat menjadi acuan bagi SKPD terkait guna menyusun Renstra SKPD dan anggaran tahunan untuk pelaksanaan program dan kegiatannya (Renja SKPD).

Sesuai dengan Permendagri No. 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2017, Bab VI Konsistensi Perencanaan dan Penganggaran, guna menjamin konsistensi antara Perencanaan dan Penganggaran dan Efektivitas serta efisiensi pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan nasional dan daerah, Program dan Kegiatan yang ditetapkan dalam RKPD menjadi Landasan Penyusunan KUA dan PPAS untuk menyusun RAPBD. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 17 ayat (2), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (3) UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara; Pasal 25 ayat (2) UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; dan Pasal 16 Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Dengan adanya konsistensi antara perencanaan dan anggaran pusat hingga daerah, maka strategi-strategi yang ditetapkan dalam Pedoman Umum PAMSIMAS III dapat dilakukan dengan maksimal oleh daerah sehingga adanya kepastian program dan kegiatan yang akan dilakukan oleh daerah untuk mencapai target universal access penyediaan air minum dan sanitasi yang layak dapat terpenuhi.

Kemendagri melalui Ditjen Bina Pembangunan Daerah, mempunyai fungsi dalam melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 373 UU No. 23 Tahun 2014 yang bersifat umum meliputi: a) pembagian Urusan Pemerintahan; b) kelembagaan Daerah; c) kepegawaian pada Perangkat Daerah; d) keuangan Daerah; e) pembangunan Daerah; f) pelayanan publik di Daerah; g) kerja sama Daerah; h) kebijakan Daerah; i) kepala Daerah dan DPRD; dan j) bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pembinaan tersebut dilakukan dalam bentuk fasilitasi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.

Dalam rangka mendukung optimalisasi pelaksanaan kegiatan PAMSIMAS di tahun anggaran 2017 pada komponen input Dukungan Penyusunan RAD-AMPL di Daerah - Pamsimas III yang berada di Subdit Perumahan dan Kawasan Permukiman, Direktorat SUPD II, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, maka diperlukan jasa konsultan perseorangan bidang perencanaan dan penganggaran untuk Program PAMSIMAS Phase III, yang bersumber dari Loan IBRD Tahun Anggaran 2017, yang tertuang dalam DIPA Ditjen Bina Pembangunan Daerah.

1.2 MAKSUD DAN TUJUA N

(8)

~5~

Sedangkan tujuannya adalah membantu tugas dan fungsi Subdit Perumahan dan Kawasan Permukiman pada Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri dalam :

1. Menyusun konsep dan strategi RAD AMPL secara teknis dalam Perencanaan dan Penganggaran yang sesuai dengan peraturan dan perundang undangan (UU, PP, PMK, Perdirjen, dll) yang berlaku; 2. Menyusun mekanisme sinkronisasi dan koordinasi pusat dan daerah dalam perencanaan dan

penganggaran, sehingga rencana kerja dan pembiayaan yang disusun ada sinergitas antara pelaksana pusat dan daerah (provinsi, kabupaten/ kota);

3. Melakukan analisis alokasi dan realisasi APBD Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan serta rumusan rekomendasi perbaikan tahap perencanaan dan penganggaranan pada pemerintah provinsi/kabupaten/kota penerima program nasional PAMSIMAS agar indikator kunci yang dikawal Ditjen Bina Bangda dapat tercapai;

1.3 SASARAN

Sasaran dari kegiatan Jasa konsultan perseorangan perencanaan dan penganggaran adalah: 1. Tersusunnya konsep dan strategi AMPL secara teknis dalam Perencanaan dan Penganggaran yang

sesuai dengan peraturan dan perundang undangan (UU, PP, PMK, Perdirjen, dll) yang berlaku; 2. Tersusunnya mekanisme sinkronisasi dan koordinasi pusat dan daerah dalam perencanaan dan

penganggaran, sehingga rencana kerja dan pembiayaan yang disusun ada sinergitas antara pelaksana pusat dan daerah (provinsi, kabupaten/ kota) sehingga dua (2) target indicator kunci yang dikawal oleh Ditjen Bina Bangda dapat terakselerasi. Akselerasi yang dimaksud adalah terjadinya keterpaduan, keharmonisan dan percepatan pencapaian;

3. Tersusunnya analisis alokasi dan realisasi APBD Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan serta rumusan rekomendasi perbaikan pada tahap perencanaan dan penganggaranan pada provinsi/kabupaten/kota yang mendapat program nasional PAMSIMAS sebagai upaya pencapaian dua (2) target indikator kunci yang dikawal oleh Ditjen Bina Bangda;

1.4 RUANG LINGKUP PE KERJAAN

Ruang lingkup kegiatan Jasa Konsultan Perseorangan bidang Perencanaan dan Penganggaran untuk Program PAMSIMAS III adalah sebagai berikut :

1. Review dan sinkronisasi arah kebijakan, strategi, sasaran, program dan kegiatan dalam RPJMN 2015-2019 dan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota Penerima Program PAMSIMAS III;

2. Penyusunan evaluasi alokasi dan realisasi APBD Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Provinsi/Kabupaten Penerima Program PAMSIMAS;

3. Penyusunan analisa kebutuhan, permasalahan, dan rekomendasi tindak lanjut hasil kajian mendalam bidang perencanaan dan penganggaran di daerah Tahun 2017 berupa usulan program dan kegiatan yang dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan daerah;

4. Melakukan pertemuan internal (Internal Coordination Meeting);

5. Menyiapkan bahan koordinasi lintas KL pelaksana program PAMSIMAS III (Implementing Agency); 6. Menyiapkan bahan koordinasi pengintegrasian RAD-AMPL dalam dokumen perencanaan daerah

Program dengan stakeholder di tingkat provinsi/kabupaten/ kota; dan

(9)

1.5 KELUARAN

Output (keluaran) yang dihasilkan pada kegiatan Jasa Konsultan Perseorangan bidang Perencanaan dan Penganggaran untuk Program PAMSIMAS III adalah sebagai berikut :

 hasil analisis dan rekomendasi sinkronisasi arah kebijakan, strategi, sasaran, program dan kegiatan dalam RPJMN 2015-2019 dan RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota Penerima Program PAMSIMAS III;  hasil evaluasi alokasi dan realisasi APBD Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Provinsi/Kabupaten/Kota Penerima Program PAMSIMAS;

 hasil analisa kebutuhan, permasalahan, dan rekomendasi tindak lanjut berupa usulan program dan kegiatan terpadu yang dapat diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan daerah.

1.6 SISTEMATIKA LAPO RAN

Adapun sistematika laporan pendahuluan ini terdiri atas empat (4) bab, sebagai berikut:

1. Bab I Pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, dan ruang lingkup pekerjaan.

2. Bab II Pemahamana terhadap pekerjaan, yang menguraikan tentang pemahaman mengenai pamsimas dan Indikator Kinerja Utama yang dikawal oleh Ditjen Bina Pembangunan Daerah. 3. Bab III Metodologi Pekerjaan, yang menguraikan tentang pendekatan teknis pekerjaan

mengadobsi dari petunjuk teknis perencanaan rencana aksi daerah aksi air minum dan penyehatan lingkungan. (RAD AMPL), kerangka pekerjaan dan metodologi pekerjaan.

(10)

~1~

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN BIDANG AIR MINUM

2.1 UNDANG -UNDANG DASAR 1945

Kebijakan pembangunan bidang air di dalam Undang-Undang Dasar 1945 terdapat pada Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Pada pasal 33 tersebut terdapat lima (5) butir ayat yang dalam kerangka untuk ekonomi nasional dan kesejahteraan social rakyat Indonesia, diantaranya: (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan; (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara; (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat; (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional; dan (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Dalam amanat UUD ’45 tersebut sangat jelas menyatakan bahwa air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran (kesejahteraan) rakyat. Oleh karenanya Pemerintah, mulai dari pusat, hingga daerah harus memastikan bahwa seluruh rakyat mendapatkan akses air untuk kesejahteraannya.

2.2 UNDANG -UNDANG NO. 11 TAHUN 1974

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang lahir di zaman Kepemimpinan Presiden Soeharto ini merupakan landasan hukum penting dalam pengelolaan air untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam batang tubuh undang-undang ini mengatur soal fungsi, perencanaan dan perencanaan teknis, pembinaan, pengusahaan, eksploitasi dan pemeliharaan, perlindungan, pembiayaan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.

Dalam pasal dua (2) tentang Fungsi, dijelaskan bahwa air beserta sumber-sumbernya berfungsi untuk sosial dan digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kemudian, dalam pasal dua (2) dijelaskan negara memberikan wewenang kepada pemerintah untuk: (a). Mengelola serta mengembangkan kemanfaatan air dan atau sumber-sumber air; (b). Menyusun, mengesahkan, dan atau memberi izin berdasarkan perencanaan dan perencanaan teknis tata pengaturan air dan tata pengairan; (c). Mengatur, mengesahkan, dan atau memberi izin peruntukan, penggunaan, penyediaan air, dan atau sumber-sumber air; (d). Mengatur, mengesahkan, dan atau memberi izin pengusahaan air, dan atau sumber-sumber air; (e). Menentukan dan mengatur perbuatan-perbuatan hukum dan hubungan-hubungan hukum antara orang dan atau badan hukum dalam persoalan air dan atau sumber-sumber air. Dalam pelaksanaannya pertimbangan masyarakat adat setempat dan pertimbangan kepentingan nasional menjadi perhatian.

(11)

terhadap daerah-daerah sekitarnya; (e). Menyelenggarakan penelitian dan penyelidikan sumber-sumber air; (f). Mengatur serta menyelenggarakan penyuluhan dan pendidikan khusus dalam bidang pengairan.

Muatan penting dalam undang-undang ini adalah tentang Pengusahaan, dimana pada pasal 11 menyatakan bahwa pengusahaan air dan atau sumber-sumber air untuk kesejahteraan rakyat, dilakukan oleh Pemerintah, baik pusat dan daerah. Jika ada badan usaha hukum yang ingin melakukan pengusahaan air harus mendapatkan izin dari pemerintah, dengan berpedoman pada azas usaha bersama dan kekeluargaan.

Muatan tentang eksploitasi dan pemeliharaan juga diatur pada pasal 12, yang menyatakan bahwa untuk menjamin fungsi dan kelestarian dilakukan eksploitasi dan pemeliharaan. Dijelaskan, bangunan-bangunan pengairan yang memberi manfaat langsung kepada masyarkat dilakukan dengan melibatkan masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun sosial dan perorangan. Sedangkan bangunan-bangunan air untuk kesejahteraan dan keselamantan umum dilakukan oleh pemerintah.

Pada Bab VIII tentang perlindungan, dijelaskan juga pentingnya perlindungan terhadap air dan sumber-sumber air beserta bangunan-bangunan pengairan. Upaya-upaya perlindungan tersebut dilakukan dengan cara: (a) melakukan usaha penyelamatan tanah dan air; (b) melakukan pengamanan dan pengendalian daya rusak air; (c) melakukan pencegahan terhadap pengotoran air; dan (d) pengamanan dan perlindungan terhadap bangunan air.

2.3 UNDANG -UNDANG NO. 24 TAHUN 2014

Amanat penting dalam Undang-Undang nomor 24 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah pembagian urusan antar pemerintahan dan pengaturan soal urusan wajib konkuren dan pilihan. Pada pasal 12 dinyatakan bahwa urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar meliputi enam (6) hal yang meliputi: (a) pendidikan; (b) kesehatan; (c) pekerjaan umum dan penataan ruang; (d) perumahan rakyat dan kawasan permukiman; (e) ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat; dan (f) sosial.

Pembangunan bidang air (air bersih dan air minum) terkait dalam urusan bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang serta perumahan rakyat dan kawasan permukiman. Selanjutnya dalam lampiran pembagian urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan penataan ruang dijelaskan bahwa pemerintah pusat berwenang dalam: (a) penetapan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara nasional; (b) Pengelolaan dan pengembangan SPAM lintas Daerah provinsi, dan SPAM untuk kepentingan strategis nasional. Pemerintah Provinsi berwenangan dalam Pengelolaan dan Pengembangan SPAM Lintas Daerah Kabupaten/Kota. Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota berwenang dalam Pengelolaan dan Pengembangan SPAM di Daerah Kabupaten/Kota.

Secara spasial, rakyat Indonesia yang berada di kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan harus mendapat akses terhadap air dan air minum, oleh karenanya adalah peran pemerintah untuk memastikan bahwa seluruh rakyat terakses dan terlayani.

2.4 UNDANG -UNDANG NO. 6 TAHUN 2 014

(12)

~3~

dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata air dalam Undang-Undang Desa hanya terdapat pada pasal 76 ayat (1) yang menyatakan bahwa Aset Desa dapat berupa tanah kas Desa, tanah ulayat, pasar Desa, pasar hewan, tambatan perahu, bangunan Desa, pelelangan ikan, pelelangan hasil pertanian, hutan milik Desa, mata air milik Desa, pemandian umum, dan aset lainnya milik Desa.

Kemudian, kata ‘sanitasi’ terdapat pada lampiran penjelasan undang-undang yang menjelaskan pasal 19 huruf b yang menjelaskan, tentang “kewenangan lokal berskala Desa” adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah dijalankan oleh Desa atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembangan Desa dan prakasa masyarakat Desa, antara lain tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian umum, saluran irigasi, sanitasi lingkungan, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar, serta perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa. Penjelasan tersebut bermaksud untuk menguraikan kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Desa, yang dinyatakan dalam pasal 18 dengan bunyi: Kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat Desa. Yang artinya pemerintahan desa juga bertanggungjawab dalam bidang pembangunan air minum dan sanitasi rakyat agar seluruh warga desa terakses air, sehingga kesejahteraan masyarakat terjamin.

2.5 PERATURAN PEMERINTAH NO. 121 TAHUN 2015

Program Pamsimas yang sudah memasuki fase ketiga (3) sangat mempermasalahkan penyerahan aset-aset yang telah dibangun di 7000 lebih desa di Indonesia. Walaupun anggaran tersebut bersumber dari APBN, APBD dan Dana Masyarakat penerima program, namun persoalan aset program harus diyakinkan tidak bermasalah jika diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Peraturan Pemerintah Nomor 121 Tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air menjelaskan bahwa pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan memperhatikan prinsip: (a). tidak mengganggu, mengesampingkan, dan meniadakan hak rakyat atas Air; (b). perlindungan negara terhadap hak rakyat atas Air; (c). kelestarian lingkungan hidup sebagai salah satu hak asasi manusia; (d). pengawasan dan pengendalian oleh negara atas Air bersifat mutlak; (e). prioritas utama pengusahaan atas Air diberikan kepada badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah; dan (f). pemberian Izin Pengusahaan Sumber Daya Air dan Izin Pengusahaan Air Tanah kepada usaha swasta dapat dilakukan dengan syarat tertentu dan ketat setelah prinsip sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf e dipenuhi dan masih terdapat ketersediaan Air.

Pada pasal 13 dinyatakan bahwa pengusahaan sumber daya air dapat dilakukan oleh BUMN, BUMD, BUMDes, Koperasi, Perseorangan, atau kerjasama antar badan usaha. Kemudian di pasal 30 dinyatakan izin pengusahaan sumber daya air kepada pemegang dan berhak untuk; (a) memperoleh dan mengusahakan Air Permukaan, Sumber Air Permukaan, dan/atau Daya Air Permukaan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam izin, dan (b) membangun prasarana dan sarana sumber daya air dan bangunan lain sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam izin.

2.6 PERATURAN PEMERINTAH NO. 12 TAHUN 2017

(13)

Muatan utama dalam Peraturan Pemerintah ini adalah terkait pemberian sanksi administratif sebagaimana amanat di dalam pasal 383 UU 23/2014. Pemberian sanksi administratif diberikan akibat dari pelanggaran yang dilakukan oleh kepala daerah, wakil kepala daerah, anggota DPRD dan daerah karena: (a) tidak melaksanakan program strategis nasional; (b) tidak menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan ringkasan laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam waktu 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun paling lambat 3 (tiga) bulan setelah anggaran berakhir; (c) kepala daerah tidak menyampaikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD dalam waktu 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir; (d) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah menjadi pengurus suatu perusahaan, baik milik swasta maupun milik negara/daerah atau pengurus yayasan bidang apa pun; (e) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa izin dari menteri; (f) kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah meninggalkan tugas dan wilayah kerja lebih dari 7 (tujuh) hari kerja turut atau tidak berturut-turut dalam waktu 1 (satu) bulan tanpa izin dari Menteri untuk gubernur dan wakil gubernur serta tanpa izin dari gubernur untuk bupati dan wakil bupati atau wali kota dan wakil wali kota, kecuali jika dilakukan untuk kepentingan pengobatan yang bersifat mendesak; (g) kepala daerah tidak menyampaikan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah kepada Menteri/gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan; (h) kepala daerah dan anggota DPRD serta daerah masih memberlakukan peraturan daerah yang telah dibatalkan oleh Menteri atau oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat; (i) daerah masih memberlakukan peraturan daerah mengenai pajak daerah dan/atau retribusi daerah yang dibatalkan oleh Menteri atau dibatalkan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat; (j) kepala daerah tidak menyebarluaskan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah yang telah diundangkan; (k) kepala daerah dan anggota DPRD tidak menetapkan peraturan daerah tentang rencana pembangunan jangka panjang daerah dan rencana pembangunan jangka menengah daerah; (l) kepala daerah tidak menetapkan peraturan kepala daerah tentang rencana kerja Pemerintah Daerah; (m) kepala daerah melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang diatur dalam undang-undang; (n) kepala daerah tidak mengajukan rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah kepada DPRD sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan; (o) kepala daerah dan anggota DPRD tidak menyetujui bersama rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah sebelum dimulainya tahun anggaran setiap tahun; (p) kepala daerah tidak mengumumkan informasi tentang pelayanan publik kepada masyarakat melalui media dan tempat yang dapat diakses oleh masyarakat luas; (q) kepala daerah tidak memberikan pelayanan perizinan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; (r) kepala daerah tidak melaksanakan rekomendasi Ombudsman sebagai tindak lanjut pengaduan masyarakat; dan (s) kepala daerah tidak mengumumkan informasi pembangunan daerah dan informasi keuangan daerah kepada masyarakat serta tidak menyampaikan informasi keuangan daerah kepada Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2.7 PERATURAN PRESIDEN NO. 2 TAHUN 2015

(14)

~5~

Selain itu, disampaikan dalam laporannya bahwa untuk mencapai UA di tahun 2019, terdapat gap yang harus ditangani yakni akses air minum sebesar 95,6 juta jiwa, sanitasi (air limbah) sebesar 120 juta, dan sanitasi persampahan perkotaan sebesar 88 juta jiwa. Kemudian, nilai strategis yang didapat jika rakyat Indonesia mencapai UA adalah (a) mencegah Rp. 56 Triliun/tahun kerugian ekonomi; (b) menghemat Rp. 40 Triliun/tahun pengeluaran jika kondisi sanitasi baik.

Beberapa modal yang telah ada dalam upaya untuk mencapai universal akses meliputi: kelembagaan, perencanaan teknis (dokumen strategis) dan pembiayaan. Kelembagaan di tingkat pusat dan daerah meliputi: Pokja AMPL Sanitasi, AKKOPSI, NAWASIS. Sedangkan perencanaan teknis meliputi dokumen strategis seperti RISPAM, SSK, MPS, RAD AMPL, Jakstrada dan RPIJM CK. Kemudian, pembiayaan program yang meliputi: APBD untuk Air Minum, Air Limbah (Sanitasi), Masyarakat dan peluang pendanaan lainnya seperti DAK, CSR dan Dana Desa.

Kemudian, untuk mencapai UA tersebut disusun arah dan kebijakan yang meliputi empat (4) hal yaitu: menjamin ketahanan air melalui peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku dalam pemanfaatan air minum dan pengelolaan sanitasi; penyediaan insfrastruktur produktif melalui penerapan manajemen aset baik di perencanaan, penanggaran dan investasi serta pemeliharaan dan pembaruan infrastruktur terbangun; penyelenggaraan sinergi air minum dan sanitasi yang dilakukan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota dan masyarakat; peningkatan efektfitas dan efisiensi pendanaan infrastruktur air miinum dan sanitasi melalui sinergi dan koordinasi antar pelaku program dan kegiatan.

2.8 PERATURAN PRESIDEN N O. 59 TAHUN 2017

Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, menggaris-bawahi tentang pembangunan air minum dan sanitasi dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, sehingga perlu penyelarasan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang Nasional.

Tujuan Global Sasaran Global Sasaran Nasional RPJMN

2015-2019 Instansi Pelaksana terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi semua.

Meningkatnya akses terhadap layanan air minum layak pada prasarana air baku untuk melayani rumah tangga, perkotaan dan industri pada tahun 2019 menjadi 118,6 m3/detik (2015: 51,44 m3/detik) dan penyediaan air baku untuk 60 pulau Pada tahun 2030, mencapai

akses terhadap sanitasi dan kebersihan yang memadai dan merata bagi semua, dan menghentikan praktik buang air besar di tempat terbuka, memberikan perhatian khusus pada kebutuhan kaum perempuan, serta kelompok masyarakat rentan

Meningkatnya akses terhadap sanitasi yang layak pada tahun 2019 menjadi 100% (2014: 60,9%).

Kementerian Koordinator Bidang Rakyat; Kementerian Kesehatan; Pemerintah Daerah Provinsi; Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Meningkatnya jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total

(15)

Tujuan Global Sasaran Global Sasaran Nasional RPJMN

2015-2019 Instansi Pelaksana

Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi 45.000 pada tahun 2019 Rakyat; Pemerintah Daerah Provinsi; Pemerintah Daerah setengah proporsi air limbah yang tidak diolah, dan secara signifikan meningkatkan daur ulang, serta penggunaan kembali barang daur ulang yang aman secara global.

Terbangunnya infrastruktur air limbah dengan sistem terpusat skala kota, kawasan, komunal Pemerintah Daerah Provinsi; Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

Peningkatan kualitas pengelolaan air limbah sistem setempat melalui peningkatan kualitas pengelolaan lumpur tinja perkotaan dan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di 409 kabupaten/kota.

sungai, waduk, danau, situ, muara sungai, pantai termasuk perbaikan sistem monitoring hidrologis dan kualitas air dengan indikator membaiknya kualitas air di 15

Peningkatan kualitas air sungai sebagai sumber air baku menuju baku mutu rata-rata air sungai kelas II.

Pada tahun 2030, secara signifikan meningkatkan efisiensi penggunaan air di semua sektor, dan menjamin penggunaan dan pasokan air tawar yang berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air, dan secara signifikan

mengurangi jumlah orang yang menderita akibat kelangkaan air.

Pengendalian dan penegakan hukum bagi penggunaan air tanah yang berlebihan yang diiringi dengan percepatan penyediaan dan pengelolaan air baku kawasan perekonomian, dan penerapan kebijakan pengenaan tarif air industri yang kompetitif.

Pemberian insentif penghematan air pertanian/perkebunan dan industri termasuk penerapan prinsip reduce, mengembangkan reuse dan recycle, serta pengembangan konsep pemanfaatan air limbah yang

(16)

~7~

Tujuan Global Sasaran Global Sasaran Nasional RPJMN

2015-2019 Instansi Pelaksana

aman untuk pertanian (safe use of astewater in agriculture). sumber daya air terpadu di semua tingkatan, termasuk melalui kerjasama lintas batas yang tepat.

Internalisasi 108 Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai jaringan informasi sumber daya air di 8 Wilayah Sungai.

Pembentukan jaringan informasi sumber daya air di 8 Wilayah Sungai.

Meningkatnya jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang meningkat jumlah mata airnya dan 19 DAS yang memiliki Memorandum of Understanding (MoU) lintas Negara pada tahun 2019.

Pemulihan kesehatan DAS melalui pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Kemasyarakat (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Adat dan Hutan Rakyat (HR) serta peningkatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seluas 12,7 Juta Ha. masyarakat dalam pengelolaan daerah tangkapan sungai dan danau di 10 Wilayah Sungai. Melanjutkan penataan kelembagaan sumber daya air, antara lain dengan:

Mensinergikan pengaturan kewenangan dan tanggung jawab di semua tingkat pemerintahan beserta seluruh pemangku kepentingan serta menjalankannya secara konsisten; Meningkatkan kemampuan komunikasi, kerjasama, dan koordinasi antarlembaga serta antarwadah

koordinasi pengelolaan sumber daya air yang telah terbentuk; dan Meningkatkan kapasitas kelembagaan pengelolaan sumber daya air

(17)

Tujuan Global Sasaran Global Sasaran Nasional RPJMN

2015-danau pada tahun 2019. Perekonomian; Kementerian Perencanaan Pembangunan

Meningkatnya danau yang menurun tingkat erosinya menjadi 15 danau pada tahun 2019. Mengurangi luasan lahan kritis melalui rehabilitasi di dalam KPH seluas 5,5 juta hektar pada tahun Bengawan Solo dan DAS Brantas) dan 10 DAS prioritas lainnya sampai dengan tahun 2019.

2.9 PERATURAN PRESIDEN N O. 185 TAHUN 2014

Peraturan Presiden Nomor 185 Tahun 2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi, mengamanat beberapa hal penting dalam mendorong SPM Bidang Air Minum dan Sanitasi, diantaranya:

 Pada pasal tujuh (7) diamanatkan, pemerintah untuk menyusun kebijakan dan strategi nasional pengembangan sistem air minum dan sanitasi. Kebijakan dan strategi dijabarkan dalam bentuk Peta Jalan (Road Map) Air Minum Nasional dan Peta Jalan (Road Map) Sanitasi Nasional.

 Untuk pemerintah provinsi, juga menyusun Peta Jalan Air Minum dan Sanitasi yang mengacu kepada Peta Jalan Nasional.

 Untuk Pemerintah Kabupaten/Kota, menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disebut RISPAM dan Strategis Sanitasi Kabupaten/Kota yang selanjutnya di singkat SSK.  Amanat selanjutnya adalah (pasal 12), dibentuknya gugus tugas yang berkedudukan di bawah dan

bertanggungjawab kepada Presiden. Sedangkan di level Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota membentuk Kelompok Kerja Air Minum dan Sanitasi atau kelompok kerja lain. Ketentuan mengenai keanggotaan, tugas, dan tata kerja Kelompok Kerja Air Minum dan Sanitasi diatur oleh Gubernur di level provinsi, sedangkan di level kabupaten/kota diatur oleh Bupati/Walikota.

 Amanat selanjutnya adalah pemantauan, evaluasi dan pelaporan yang harus dilakukan secara berkala dan berjenjang. Bupati/Walikota melaporkan kepada Gubernur satu (1) kali dalam satu (1) tahun, selanjutnya Gubernur melaporkan kepada Menteri.

2.10 PERMENDAGRI NO. 86 TA HUN 2017

(18)

~9~

 Menteri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan Daerah provinsi, berupa pemberian pedoman, bimbingan, supervisi, fasilitasi, konsultasi dan evaluasi (Ps. 369 dan 370)

 Gubernur melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah lingkup provinsi dan kabupaten/kota (Ps. 369)

(19)

BAB 3 ANALISIS

3.1 ANALISIS DAN REKOMEN DASI

Pada sub bab ini, dilakukan analisis sinkronisasi kebijakan, strategi, sasaran, program dan kegiatan pada dokumen perencanaan daerah (RPJMD) Provinsi terhadap Dokumen Perencanaan Pembangunan Nasional (RPJMN). Berdasarkan hasil analisis dari dua puluh enam (26) Provinsi, terdapat beberapa provinsi yang belum sinkron dengan perencanaan pembangunan nasionalnya.

 Jumlah RPJMD Provinsi yang dikaji sejumlah dua puluh enam (26).

 Jumlah RPJMD Provinsi yang sinkron dengan arah kebijakan, strategi, sasaran, program dan kegiatan Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebanyak dua puluh dua (22) atau prosentasenya mencapai 65%.

 Jumlah RPJMD Provinsi yang belum sinkron dengan arah kebijakan, strategi, sasaran, program dan kegiatan Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebanyak empat (4) atau prosentasenya mencapai 12%.

 Jumlah RPJMD Provinsi yang belum menyerahkan RPJMD sebanyak tujuh (7) atau prosentasenya mencapai 23%.

 Beberapa permasalahan yang menyebabkan belum sinkronnya dokumen perencanaan daerah (RPJMD) belum sinkron dengan RPJMN karena kesalahan dalam menetapkan capaian kinerja sehingga gagal dalam mengaggregat-kan angka baseline jumlah masyarakat yang belum terakses air minum dan penyehatan lingkungan. Walaupun hal ini merupakan kegagalan minor, namun aggregasi angka (baseline) merupakan langkah awal dalam penyusunan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran.

 Kegagalan berikutnya adalah dalam menetapkan kebijakan umum, tujuan dan sasaran yang mengarahkan pembangunan bidang air minum dan penyehatan lingkungan. Dokumen perencanaan dan anggaran sebaiknya harus lengkap dan terstruktur sehingga pelaksana kegiatan mengerti dan memahami maksud dan tujuan dari program dan kegiatan sehingga menjadi penting/prioritas daerah.  Kegagalan berikutnya adalah permasalahan dalam menempatkan kegiatan bukan pada programnya.

Semisal kegiatan air minum dan sanitasi (penyehatan lingkungan) tidak ditempatkan di program sumber daya air, melainkan di program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah.

Grafik Prosentase Analisis Sinkronisasi RPJMD dengan RPJMN Bidang AMPL 2017

Sumber: Analisis, 2017

65% 12%

23%

Sinkron

Belum Sinkron

(20)

~2~

Tabel Analisis Sinkronisasi RPJMD dengan RPJMN Bidang AMPL

No Provinsi Hasil Analisis

1 Provinsi Aceh S

2 Provinsi Sumatera Utara S 3 Provinsi Sumatera Barat BMD

4 Provinsi Riau S

5 Provinsi Kepulauan Riau S

6 Provinsi Jambi S

7 Provinsi Sumatera Selatan S 8 Provinsi Bangka Belitung S

9 Provinsi Bengkulu BMD

10 Provinsi Lampung S

11 Provinsi DKI Jakarta S 12 Provinsi Jawa Barat S

13 Provinsi Banten S

14 Provinsi Jawa Tengah S 15 Provinsi DI Yogyakarta S 16 Provinsi Jawa Timur S

17 Provinsi Bali S

18 Provinsi Nusa Tenggara Barat S 19 Provinsi Nusa Tenggara Timur BS 20 Provinsi Kalimantan Barat S 21 Provinsi Kalimantan Tengah BMD 22 Provinsi Kalimantan Selatan S 23 Provinsi Kalimantan Timur BMD 24 Provinsi Kalimantan Utara S 25 Provinsi Sulawesi Utara S 26 Provinsi Sulawesi Barat BMD 27 Provinsi Sulawesi Tengah BS 28 Provinsi Sulawesi Tenggara S 29 Provinsi Sulawesi Selatan BMD 30 Provinsi Gorontalo BS

31 Provinsi Maluku BS

32 Provinsi Maluku Utara S

33 Provinsi Papua BMD

34 Provinsi Papua Barat BMD

Sumber: Analisis, 2017

(21)

(RAD) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL), dipastikan seluruh peserta Pamsimas telah memiliki dokumen perencanaan dan pembangunan daerah (RPJMD). Namun, sebagai prasyarat dalam pelaksanaan (komitmen) daerah disusunlah Dokumen Strategis Lima Tahunan yaitu RAD AMPL untuk memberikan input antara kepada RPJMD. Dokumen antara ini bertujuan sebagai roadmap program dan kegiatan bidang AMPL yang memadukan seluruh dokumen sektor AMPL seperti RISPAM, SSK, RPIJM, RPKPKP dan JAKSTRADA yang memuat hal yang sama sehingga RAD AMPL menjadi dokumen yang komprehensif.

Beberapa catatan hasil pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian indikator ini meliputi:  Jumlah peserta pemerintah Kabupaten Pamsimas III sebanyak 365, dengan peserta yang baru

mencapai 146 Kabupaten.

 Sebanyak 225 Kabupaten sudah memiliki RAD AMPL.  Sebanyak 120 Kabupaten sudah Perkada RAD AMPL.

Grafik Pencapaian RAD AMPL Tahun 2017

Sumber: CPMU, 2017

3.2 EVALUASI ALOKASI DAN REALISASI APBD

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap alokasi dan realisasi APBD Peserta Pamsimas III terdapat beberapa catatan yang meliputi:

 Jumlah peserta pemerintah Kabupaten Pamsimas III sebanyak 365, dengan peserta yang baru mencapai 146 Kabupaten.

 Realisasi peningkatan belanja APBD bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2016 yang mencapai lebih dari 2% sebanyak 5% atau sama dengan 18 Kabupaten

 Realisasi peningkatan belanja APBD bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2016 yang kurang dari 2% sebanyak 39% atau sama dengan 142 Kabupaten

 Realisasi peningkatan belanja APBD bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2016 yang realisasinya lebih kecil dari tahun 2015 sebanyak 34% atau sama dengan 124 Kabupaten

(22)

~4~

3.3 ANALISA KEBUTUHAN, PERMASALAHA N DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil analisis pada sub bab diatas, maka diperlukan rekomendasi yang harus ditindaklanjut agar Indikator Komponen Utama/KPI Ditjen Bina Pembangunann Daerah dapat tercapai. Berikut adalah tabel yang memuat tindak lanjut hasil dari analisis dan temuan permasalahan yang ada.

Tabel Rekomendasi Permasalahan dan Kebutuhan

Permasalahan Kebutuhan Rekomendasi/Tindaklanjut

Rendahnya komitmen pemerintah daerah dalam alokasi dan realisasi belanja pembangunan bidang pembiayaan lain di luar APBD

(23)
(24)
(25)
(26)
(27)

Gambar

Grafik Prosentase Analisis Sinkronisasi RPJMD dengan RPJMN Bidang AMPL 2017
Tabel Analisis Sinkronisasi RPJMD dengan RPJMN Bidang AMPL
Grafik Pencapaian RAD AMPL Tahun 2017
Tabel Rekomendasi Permasalahan dan Kebutuhan

Referensi

Dokumen terkait

(2) RPJMD 2016-2021 akan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) sebagai rencana pembangunan tahunan daerah, dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana

RPJMD RKPD Penyusunan KAK Rancangan Kebijakan Umum APBD Nota kesepakatan Kepda dan DPRD Pedoman Penyusunan RKA-SKPD Daftar Riwayat Kebutuhan Barang/Jasa Database Barang Milik

Renstra selanjutnya akan dijabarkan kedalam Rencana Kerja (Renja) Kecamatan Samarinda Kota sebagai dokumen perencanaan tahunan SKPD yang memuat kebijakan, program

RKPD digunakan sebagai pedoman pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan tahunan bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja SKPD,

Isu perubahan iklim penting untuk diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah seperti RPJMD, Renstra, RKPD, dan RENJA, agar program atau kegiatan

Penjelasan : Dokumen Perencanaan (Renstra dan Renja SKPD) berisi program, kegiatan selaras dgn RPJMD dan RKPD serta dokumen perencanaan lainnya dgn indikator dan target kinerja

Rencana program prioritas beserta indikator keluaran program dan pagu per SKPD sebagaimana tercantum dalam rancangan awal RPJMD, selanjutnya dijabarkan SKPD kedalam rencana

PENDAHULUAN Dalam rangka menyusun perencanaan pembangunan tahunan daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat diwajibkan menyusun dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah RKPD,