• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah FILSAFAT DAN P ERENNIALISME.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah FILSAFAT DAN P ERENNIALISME.pdf"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT PERENNIALISME PERSPEKTIF SEYYED HOSSEIN NASR

Makalah:

Disusun untuk melengkapi tugas matakuliah

Filsafat Perennial

Oleh :

Muhammad Ali Faiz : E97216023

Nailah Zubdiyyatil Fakhiroh : E97216024

Nurhalimah : E97216025

Rana Ekawati : E97216026

Risky Legi Yahya : E97216027

Dosen Pengampu;

Suhermanto Ja’far, M.ag

PROGRAM STUDI ILMU TASAWUF FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada

kita. Tuhan yang Maha Pengasih dan Tak Pilih Kasih, Maha Penyayang yang tak

pandang sayang. Yang telah memberikan akal dan hati sebagai salah satu

instrumen untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hanya atas rahmat-Nya, penulis

mampu menyelesaikan tugas makalah ini, guna memenuhi tugas mata kuliah

Filsafat Perennial. Dan tak lupa shalawat serta salam tetap kita curah, limpahkan kepada sang revolusioner dunia, pemberi syafa’at kelak di hari kiamat The Leader of World Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa kita dari zaman kegelepan menuju terang benderang dengan adanya agama Islam.

Penulis ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak. Terutama dosen

pembimbing kami Suhermanto Ja’far M.ag. yang senantiasa membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini, dan teman-temanku yang selalu memberikan

motivasi. Makalah yang berjudul Filsafat Perennial Perspektif Seyyed Hosein Nasr ini, masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi susunan bahasa, isi, yang tak lain penulis masih belajar. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan

saran yang sangat membangun untuk kemajuan penulis kelak di masa depan

terutama dari Dosen Pembimbing.

Surabaya, 31 Mei 2017

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan ... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Biografi Seyyed Hossein Nasr ... 4

B. Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr ... 6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 9

B. Saran ... 9

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kerukunan dan ketentraman dalam kehidupan yang plural ini, amatlah

sangat dibutuhkan. Hidup beriringan, tanpa adanya gejolak pertentangan dan

permusuhan merupakan cita-cita yang diharapkan oleh setiap manusia, baik dari

zaman dahulu hingga sekarang. Keberagaman dan perbedaan dalam hal

mengemukakan pendapat, budaya, dan agama merupakan rahmat bagi setiap

manusia. Dengan keberagaman inilah, manusia dituntut untuk menyadari

kekuasaan Tuhan yang tiada bandingannya. Agar setiap individu tidak

beranggapan, hanya dirinyalah yang paling benar. Termasuk pula dalam hal

keyakinan, yakni antara manusia yang satu dengan yang lainnya memiliki

perbedaan. Dalam hal ini, menuntut peran agama dalam merealisasikannya, agar

tidak mudah mengklaim agama yang lain.

Agama diturunkan ke dunia untuk menyeimbangkan kehidupan manusia,

termasuk agama Ibrahim, juga mengajarkan hal ini. Di dalam ajaran agama Islam

pun demikian. Nabi Muhammad saw diutus ke dunia dengan membawa misi

menciptakan perdamaian, ketentraman, harmoni, kebahagiaan, dan persaudaraan

antara manusia yang satu dengan yang lainnya.1 Inilah cita-cita yang selalu

didambakan setiap anak manusia.

Dari dahulu hingga kini, setiap Agama kerap memandang hanya agama

dirinyalah yang paling benar dan menilai agama yang lain salah. Sehingga dalam

agama terkesan tidak ada titik temu, cinta, dan kearifan perennial antar agama

yang satu dengan agama yang lainnya. Bahkan tak jarang agama dijadikan sebagai

instrumen pemuas legitimasi politik.2 Tentu nilai agama sangatlah terlihat

terdistorsi dari ajaran yang sebenarnya. Agama yang sejatinya membawa

perdamaian, malah telihat menakutkan. Begitupula tentang ketuhanan, yang selalu mendapat garda terdepan dari masa ke masa untuk dipermasalahkan. Bahkan tak

1

Armia, “Kesatuan Agama-agama dan Kearifan Perennial dalam Perspektif Tasawuf”, dalam Jurnal Al-Tahrir:Vol. 13, tahun 2013, 128.

2

(5)

jarang mengalami pertentangan, permusuhan, dan berakhir dengan penumpahan

darah. Bagi seorang yang beriman, tentu hati nuraninya tergerak untuk tidak

melakukan penumpahan darah antar umat beragama, bukan malah saling

bermusuhan.

Pakar sejarah menegaskan, gejolak munculnya masa renainsance di Barat, sebagai titik awal manusia menjauhi nilai-nilai illahi. Dengan sains modernnya,

barat membawa dekadensi nilai ilmu pengetahuan dan nilai spiritual dalam

kehidupan sosial. Sehingga masyarakat cenderung dalam kehidupan sekuler dan

mendominasi alam, yang muncul sebagai konsekuensi cara pandang manusia

terhadap alam ini.3 Dalam menanggapi hal ini, madzhab postmodernisme

mengkritik habis, terhadap gejolak pasca renainsance yang dianggapnya gagal dalam mengkonstruksikan, sehingga kehidupan masyarakat cenderung sekuler,

materialistik, dan hedonistik. Oleh karena itu, lahirnya kembali filsafat perennial

atau filsafat keabadian untuk menjadi solusi terhadap masalah ini. Seorang tokoh

kontemporer Nasr juga tak kalah andil, ikut berpartisipasi dalam menanggapi hal

ini. Nasr melihat realitas yang terjadi, ternilai jauh dari horizon spiritual.4

Manusia modern dinilai lebih memperhatikan kehidupan eksternel dan bukan

pada hakikat yang sebenarnya. Hal inilah, yang membuat Nasr berusaha

mengkonstruksikan kembali, agar manusia modern kembali kepada tradisi

kesejatian.

Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan pemikiran Seyyed Hossein

Nasr dalam mengkaji filsafat perennial. Pemikirannya tentang Transendent Unity of Religions yang mengarah pada pentingnya keselamatan dunia, namun tidak dapat dikonstruksikan sesuai dengan zaman.5 Seorang Nasr mengutarkan teorinya, yang dikenal “Tradisionalisme” berusaha mengembalikan manusia kembali kepada nilai illahi. Selain teori “Tradisionalnya”, Nasr juga mengutarkan tentang

3

Afith Akhwanudin, “Tradisionalisme Seyyed Hossein Nasr (Kritik Terhadap Sains Modern)”,

(Yogyakarta: UINSUKA), Vii.

4

Seyyed Hossein Nar, “Islam dan Nestapa Manusia Modern”,(Bandung: Pustaka, 1983, cetakan I), 4.

5

(6)

Javidan Khirad atau Sophia Perennis. Dengan ini Nasr menghendaki agar manusia modern memikirkan kembali kehadirat Tuhan, yang merupakan dasar

dari kehidupan. Nasr ingin menyelarasakan semua agama dengan melihat segi

esoterik. Dalam segi eksoterik, agama terlihat jelas berbeda, akan tetapi dari segi

esoterik adalah sama. Sesuatu yang keluar dari yang satu adalah sama. Nasr

berusaha menyatukan, bukan berarti mencetuskan agama baru, dan tidak seperti

yang disinyalir oleh tokoh barat dengan new religion dengan agama baru

idealisme.6 Sedangkan yang dimaksud Nasr adalah “menyelaraskan antar agama”, bermaksud agar tidak terjadi truth claim antara agama yang satu dengan agama yang lainnya.

B. Rumusan Masalah

1. Siapakah Seyyed Hossei Nasr?

2. Bagaimana pandangan Seyyed Hossein Nasr terhadap Filsafat Perennial?.

C. Tujuan

1. Agar memahami biografi Seyyed Hossein Nasr.

2. Agar mengetahui pandangan Nasr dalam filsafat Perennial.

6

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Biografi Seyyed Hossein Nasr

Tokoh ini tidaklah terlalu asing didengar, seorang profesor dari bidang

filsafat, sains, dan seorang tradisionalis.7 Nama lengkapnya adalah Seyyed

Hossein Nasr lahir pada tanggal 17 April 1933 di Teheren, Iran, sebuah tempat

lahirnya para sufi, filosof, ilmuwan, dan penyair muslim terkemuka.8 Nasr berasal

dari keluarga ahli bait yang terpelajar, ibunya keturunan ulama’ sedangkan

Ayahnya bernama Seyyed Valilullah Nasr. Ayahnya seorang pendidik, sekaligus

dokter dan menjadi menteri pendidikan di akhir masa dinasti Qajar di bawah

kekuasaan Reza Shah.

Semenjak kecil ia sudah dibina untuk belajar al-Qur’an, baik menghafal al-Qur’an dan syair-syair Persia terkemuka seperti dari Sa’di dan Hafiz.9 Selain itu, Ayahnya mengirimnya untuk belajar kepada sejumlah ulama’ di Qum (kota suci umat Syi’ah) seperti Thabathaba’i (penulis tafsir) untuk belajar filsafat, ilmu kalam, maupun tasawuf.10Ia belajar kepada Allamah Husain Thabathaba’i selama

20 tahun. Selain informal, Nasr juga belajar ilmu formal. Ia pernah mengenyam

pendidikan di dua lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Amerika Serikat,

Massachusetts Institute of Techonology (MTI) dan Harvard University.11

Pada masa awal mengenyam pendidikan, Nasr di Iran, telah diwarnai

dengan pergolakan dan ketegangan antara dunia Barat dan Timur. Peradaban

Barat yang sekuler, mulai menyelundupkan dirinya secara samar-samar ke dalam

dunia muslim. Ayah Nasr, sekalipun tidak pernah mengunjungi Barat, namun ia

cukup paham dengan kejadian yang terjadi di Barat, yang bertentangan dengan

nilai tradisionalis dalam Islam. Hal inilah, yang membuat ayah Nasr keras dalam

7

Ainur Rofik Al-Amin, “BersamaJavidan Khirad Seyyed Hossein Nasr”, dalam jurnal ISLAMICA, Vol. 1, No. 2, Maret 2007, 182.

8

Ali Maksum, Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern Telaah signifikansi Konsep “Tradisionalisme Islam Setted Hossein nasr. (Surabaya”, 35

9

Ainur Rofik Al-Amin, “BersamaJavidan..., 182.

10

Ahmad Hariyadi, Konsep Ketuhanan Seyyed Hossei Nasr dalam Perspektif Filsafat Perennial,

(Surabaya: Uinsa, 2011), 14-15.

11

(8)

mendidik Nasr, untuk membekalinya doktrin-doktrin Islam secara kuat sejak masa

kecil. Bagi Ayahnya, tidak cukup hanya di sini, untuk dapat melawan pemikiran

sekuler, tetapi harus belajar ke sarangnya. Inilah, barangkali yang melatar

belakangi Nasr belajar di Barat. Setelah selesai belajar di Qum, dalam usia 13

tahun, Nasr dikirim ke Amerika untuk melanjutkan sekolah menengah atas.

Namun beberapa bulan berada di Amerika, Ayahnya meninggal. Sehingga ia tidak

sempat melihat keberhasilan putranya.12

Setelah lulus dari sekolah menengah atas, Nasr melanjutkan

pendidikannya di Massacheusets Institute of Technology (MIT), ia menekuni

bidang fisika dan matematika teoritis , di bawah bimbingan seorang filosof

terkenal, yakni Betrand Russel (w.1970 M). Di bawah asuhan Russel, Nasr

diperkenalkan tentang pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh filosof modern.13 Di

samping mendalami jurusannya, Nasr juga mempelajari ilmu-ilmu tradisioanal

agama timur secara ototidak, di bawah asuhan George De Satillana. Selain itu,

Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran tradisi timur lewat tulisan

Rene Guenon, A.E. Comaraswamy, Frithjouf Suchoun, dan T. Burckhardt.14

Pada tahun 1954 Nasr lulus dari MIT dengan menyandang gelar B.S dan

M.A di bidang fisika dan matematika. Karena ia tidak puas dengan matematika,

maka Nasr melanjutkan studinya ke Harvad University. Awalnya ia masuk bidang

geologi dan geofisika, akan tetapi Nasr lebih tertarik terhadap ilmu tradisional.

Maka dari itu, Nasr memutar arah dan menekuni bidang filsafat dan Sejarah Ilmu

Pengetahuan (Philoshopia and History of Sciences). Di Harvard ia mempelajari Sejarah dan Pemikiran Islam dari H.A.R Gibb, George Sarton, Hary Wolfson.

Dan pada tahun 1958 Nasr mendapat gelar Doktor (Ph. D), dan disertasinya di

bawah bimbingan H.AR Gibb diterbitkan pada tahun 1964 setelah direvisi.15

Nasr merupakan seseorang yang produktif dalam menulis, salah satu

magnum opusnya adalah “Science and Civiliziaion in Islam” sebuah buku yang

12

Arqom Kuswanjono, Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia, (Yogyakarta: CV. Arindo Nusa Media, Cetakan 1, 2006), 37-38.

(9)

diangkat dari desertasinya tentang sejarah sains.16Nasr merupakan seorang

pembicara madzhab perenialisme dengan memperkenalkan kembali kebijakan

abadi (Sophia perennis, al-hikmah al-khalidah) dalam Islam tradisional di barat.17 Nasr dalam menanggapi masalah di dunia barat, ia menggagas sebuah pembaruan

yang ia sebut Tradisionalisme Islam (TI atau “Islam Tradisional”) di sisi lain Nasr

berharap dengan Universal dan perennialnya, dapat mampu menjawab krisis dunia

modern, agar manusia kembali kepada nilai-nilai tradisionalisme atau

perennialisme.18

B. Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr

Filsafat Perennial atau Philoshopia perennis, secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu perennis, yang artinya kekal, selama-lamanya atau abadi, sehingga acapkali disebut filsafat keabadian. “Philoshophy Perennis is the universal gnosis which always has existed and always will exist”.19

Nasr pernah

mengatakan bahwa Filsafat Perennial adalah pengetahuan yang selalu ada dan

akan selalu bersifat universal. Maksudnya “ada” adalah akan selalu ada dalam

setiap zaman dan setiap tempat, mengingat sifatnya yang universal.20

Filsafat Perennial muncul pertama kali disinyalir oleh Augustinus

Steuchus sebagai judul karyanya De Perenni Philoshopia yang diterbitkan pada tahun 1540. Kemudian term ini dibumingkan oleh Leibnitz melalui suratnya pada

tahun 1715, dengan membicarakan jejak kebenaran dikalangan filosof kuno dan

tentang pemisahan antara yang gelap dan terang.21 Sebenarnya pokok kajian

filsafat perennial telah ada sejak masa-masa sebelumnya. Hanya saja, tertutupi

dengan masa setelahnya. Masa dimana manusia lebih mementingkan kehidupan

16

Arqom Kuswanjono, Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama Di Indonnsia, (Yogyakarta: CV. Arindo Nusa Media, Cetakan 1, 2006), 21.

17

Muhammad Subhi, “Doktrin Manusia Universal dalam Antropologi Metafisis Seyyed Hossein

Nasr”, dalam jurnal, 1129.

18

Ali Maksum, Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern Telaah Signifikansi Konsep “Tradisionalisme Islam” Seyyed Hossein Nar, (Surabay: Pustaka Pelajar, 2003, Cetakan I), 7.

19

Filsafat Perennial adalah suatu pengetahuan mistis universal yang telah ada dan akan selalu ada selamanya. Arqom Kuswanjono, Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama Indonesia, (Yogyakarta: CV. Arindo Pustaka, 2006, Cetakan I), 10.

20

Arqom Kuswanjono, Ketuhan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia, (Yogyakarta: CV. Arindo Nusa Media, 2006, Cetakan I), 21.

21

(10)

materialistik sehingga jauh dari nilai spiritualitas. Hal ini, ditandai pula dengan

munculnya filsafat baru di barat, yang pemikirannya lebih menekanakan pada evolusi pemikiran dan “kemajuan”. Muncul pula modernitas, yang menjanjikan kehidupan yang lebih dari sebelumnya. Akan tetapi, realitanya menyimpang dari

jargonnya. Jargon modernisme ditentang sengit oleh postmodernisme.

Postmodernisme beranggapan bahwa modernitas telah gagal melaksanakan

tugasnya.

Filsafat Perennial dilatar belakangi oleh masalah agama, yang selalu

mengklaim dirinya adalah yang terbaik, sehingga sering terjadi pergejolakan dan

pertentangan. Filsafat perennial hadir, bukan untuk menyamakan semua agama,

akan tetapi, untuk menyelaraskan dan menyadarkan. Bahwa setiap agama adalah

sama. Sesuatu yang keluar dari yang satu pada hakikatnya adalah sama. Hadirnya

filsafat perennial, bukan berarti menyamakan antara agama yang satu dengan yang

lain, akan tetapi bertujuan untuk menumbuhkan rasa toleransi antar manusia.

Filsafat perennial dalam hal ini bukanlah berarti menyamakan semua

agama atau ingin menciptakan agama universal. Akan tetapi, justru membuka

jalan terhadap pendakian spiritual melalui tradisi-tradisi keagamaan yang

berkembang dalam setiap agama. Nasr berpendapat, filsafat perennial mengakui

adanya tradisi sakral sebagai sesuatu yang berasal dari surga (heaven) atau asal ilahiah (divine origin) yang harus dihargai dan dihormati dengan layak.22

Filsafat perennial dalam telaahnya menggunakan dua pendekatan, yakni

pendekatan eksoteris dan pendekatan esoteris. Pendekatan eksoteris berfungsi sebagai pijakan terhadap pemahaman tentang Tuhan melalui wahyu, sedangkan

esoteris adalah pemahaman langsung tentang Tuhan melalui penyatuan seluruh potensi kemanusiaan atau yang dikenal “mistik”. Wilayah eksoteris meliputi tradisi, ritual, persepsi moral, dan bidang institusi. Sedangkan esoterisme meliputi

hikmah transendental dan kesatuan mistik, kesadaran yang bersumeber dari

pengetahuan secara langsung.23 Dua aspek inilah yang diterapkan filsafat

22

Arqom Kuswanjono, Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama Indonesia, (Yogyakarta: CV. Arindo Pustaka, 2006, Cetakan I), 4.

23

Ahmad Hariyadi, Konsep Ketuhanan Seyyed Hossein Nasr dalam Perspektif Filsafat Perennial,

(11)

perennial dalam mengenal Tuhan, karena untuk memahami Tuhan tidak boleh

menafikan salah satunya.24

Pemikiran Nasr terpengaruh dalam tradisional syi’ah yang masih kental dalam hidupnya. Apalagi ia hidup dalam ketegangan antara pemikiran Barat dan

Timur. Dan peradaban Barat yang mulai mempengaruhi umat muslim. Pergolakan

dimulai setelah pasca renainsance di barat dengan jargonnya menderivasi antara pengetahuan, sains, dan agama. Yang dikenal dengan masa modernitas. Hal ini,

dimulai pada abad XVII, sekaligus puncak kemenangan supremasi rasionalisme,

empirisme, positivisme dari dogma kristen. Nasr berpendapat, krisis peradaban

Barat modern bersumber dari penolakan (negation) terhadap hakekat manusia dan penyingkiran nilai spiritual secara gradual dalam kehidupan mereka.25

Modernitas mencanangkan bahwa dirinya mampu menyelesaikan

masalah-masalah dalam hidupnya. Akan tetapi, janji sang modernitas bukan

menentramkan, malah menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritualisme. Nasr

berpendapat, akibat terlalu mengagungkan rasio sehingga manusia modern mudah

dihinggapi penyakit kehampaan spiritualitas. Kemajuan yang pesat dalam ilmu

pengetahuan dan filsafat rasionalisme abad 18 dirasakan tidak mampu mencukupi

kebutuhan nilai-nilai transenden, suatu kebutuhan ilahi yang hanya mampu

diperoleh dari wahyu.26

Dekadensi humanistik pada zaman modern diakibatkan hilangnya

pengetahuan langsung manusia mengenai diri dan keakuan yang senantiasa

dimilikinya, karena ia hanya menyandarkan dirinya pada pengetahuan yang tidak

langsung atau pengetahuan eksternal. Pengetahuan ini sifatnya masih dinilai

dangkal, yang senantiasa menghadang manusia kepada matahari illahi.27

24

Ibid.., 8-9.

25

Ali Maksum, Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern Telaah Signifikansi Konsep “Tradisionalisme Islam” Seyyed Hossein Nar, (Surabay: Pustaka Pelajar, 2003, Cetakan I), 8.

26

Ibid.., 83.

27

(12)

Menurut Nasr manusia modern hanya berkutat sebatas eksistensinya saja. Tidak pada “ Pusat spiritualitas dirinya” sehingga ia lupa siapa dirinya.28 Oleh karena itu, timbullah pertanyaan siapakah manusia, asal-muasal, dan untuk apa di

dunia ini. Dalam menanggapi pertanyaan ini, sejak dari Descartes berusaha

menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi, bukan keberhasilan yang diperoleh

malah jauh dari nilai eksistensi dan jauh dari mengenal hakikat dirinya.29

Term yang dikemukakan Nasr tentang “Tradisionalisme” atau Javidan

Khirad atau Sanatha Darma dalam agama Hindu dan al-Khikmah al-Khalidah

dalam bahasa Arab atau Sophia Perenis. Nasr menginginkan baik di dunia Barat maupun timur khususnya Islam. Kepada dunia Barat, ia menyarankan ajaran

esoterisme Islam sebagai jalan alternatif untuk keluar dari krisis tersebut. Dengan

kembali kepada hikmah spiritual agama, manusia modern akan dapat

membimbing dirinya sendiri dari pinggiran lingkaran menuju ke arah titik pusat

(center). 30

Termasuk dalam agama, yang hadir untuk menyatukan dan

memperbaiki umat, malah keluar dari esensi yang sebenarnya. Hal ini, juga

dialami oleh Agama Islam, Nasrani, Yahudi, dan agama lainnya. Sehingga

timbullah pemikiran manusia untuk menanggulangi problem-problem yang terjadi

disetiap agama.

Nasr juga menyinggung terma Scientia Sacra yakni suatu pengetahuan

suci (Sacred Knowledge) yang berada dalam jantung setiap wahyu. Dan ia adalah pusat dari segala wahyu. Sekaligus sebagai sentral dalam tradisi lingkungan. Nasr

mencanangkan tradisi sebagai al-din al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang didasarkan atas model-model sakral yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun

dikalangan masyarakat tradisional. 31

28

Komaruddin Hidayat & Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 2003), 2.

29

Ahmad Hariyadi, Konsep Ketuhanan Seyyed Hossein Nasr dalam Perspektif Filsafat Perennial,

(Surabaya: UINSA, 2011), 2.

30

Ali Maksum, Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern Telaah Siignifikansi...,201.

31

(13)

BAB III PENUTUP

A Kesimpulan

Manusia modern dianggap tidak mampu menyelesaikan

problem-problem yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan dikatakan bahwa manusia modern

berada dalam luar eksistensi dan bukannya mendekat kepada pusat eksistensi.

Nasr dalam teorinya tidak terlepas dengan istilah tradisi, agama, Javidan Khirad,

dan Scientia sacra.

Nasr menyarankan agar semua agama memahami dengan adanya

perbedaan-perbedaan yang terjadi. Seandainya semua umat beragama memahami

filsafar perennial, tentu tidak akan ada pertentangan dan permusuhan dalam setiap

agama yang ada di muka bumi ini. Pemikiran Nasr lebih menekankan terhadap

tradisi, hal ini bermula ketika Nasr melihat cara pandang masyarakat modern yang

lebih cenderung mendistorsi hal yang sangkral dan bisa dikatakan mereka

kehilangan nilai spiritualnya. Yang terjadi pada manusia modern pada saat itu,

manusia modern kehilangan spiritualnya. Manusia berada di luar eksistensi dan

berusaha menjauh dari pusatnya, yang terjadi ternyata manusia modern tidak

mampu menanggulangi masalah-masalah yang dialaminya. Dari sinilah Nasr

berusaha mengembalikan nilai-nilai yang hilang dalam masyarakat modern.

Mengenai teori Nasr tentang Javidan Khirad, atau disebut hikmah al-khalidah atau sanatha dharma atau shopia perennis, Nasr menginginkan baik negara barat maupun timur memahami antara eksoterisme dan esoterisme antar

agama. Seandainya semua memahami bahwa dalam setiap agama terdapat sisi

kesamaan yakni common platform dari segi esoterisme. Hanya saja dalam hal pembungkusan atau syariah mengalami perbedaan.

B Saran

1. Pembaca tidak hanya mempelajari, akan tetapi berusaha menerapkan dalam

kehidupan sehari-hari.

2. Pembaca tidak hanya ranah universitas yang membacanya, akan tetapi semua

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Akhwanudin, Afith. t.t. Tradisionalisme Seyyed Hossein Nasr (Kritik Terhadap Sains Modern). Yogyakarta: Uinsuka

Al-Amin, Ainur Rofik. 2007. “Bersama Javidan Khirad Seyyed Hossein Nasr, dalam Jurnal Islamica, Vol. 1. Surabaya: t.p

Armia. 2013.“Kesatuan Agama-agama dan Kearifan Perennial dalam Perspektif Tasawuf”. dalam Jurnal Al-Tahrir. Sumatera Utara: t.p

Hariyadi, Ahmad. 2011. Konsep Ketuhanan Seyyed Hossein Nasr dalam Perspektif Filsafat Perennial. dalam skripsi. Surabaya: t.p

Hidayat, Komaruddin & Muhammad Wahyuni Nafis. 2003. Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum

Kuswanjono, Arqom. 2006. Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perennial Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia. Yogyakarta: CV. Arindo Nusa Media

Maksum, Ali. 2003. Tasawuf sebagai Pembebasan Manusia Modern Telaah

Signifikansi Konsep “Tradisionalisme Islam” Seyyed Hossein Nasr.

Surabaya: Pustaka Pelajar

Nasr, Seyyed Hossein. 1983. Islam dan Nestapa Manusia Modern. Bandung: Pustaka

Referensi

Dokumen terkait

Tujuannya diharapkan mahasiswa mengetahui dan mengerti bahwa konflik horizontal yang terjadi akibat klaim kebenaran (truth claim) merupakan tanggung jawab bersama dan

Sedangkan Agama mengajarkan kebenaran atau mencari jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu atau kitab suci yang breupa firman tuhan Kebenaran yang

Dan yang terakhir, yakni metode intuisi/irfani atau konsepsi bathin dalam mengkaji hal-hal mistis dalam agama yang sering dikenal tasauf dengan melakukan

Pada umumnya pembagian agama dibagi menjadi dua, yaitu agama samawi (langit) dan agama budaya. sedangkan yang dimaksud dengan agama budaya adalah agama yang lahir dari pemikiran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang

Malaysia yang menganut Islam sebagai agama resmi negara, sedangkan Indonesia yang menempatkan Islam sebagai agama yang memiliki posisi sama dengan agama-agama lainnya tentu

24 tahun 2013 Pasal 64 ayat 5 yang berbunyi “Elemen data penduduk tentang agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama

Sedangkan karakteristiknya antara lain; a Sebagai Filsafat Religius-Spiritual, b bersifat rasional, c bersumber dari al-Qur’an dan hadis, d objek yang dikaji; yakni kajian mengenai