MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Konsep Relasi Islam Dengan
Alam
KELOMPOK 11
DISUSUN OLEH :
Febriansyah Rachmat Prasetya
(1705617079)
Rifda adila
(1706617097)
Rahma Nur Maretyana
(4123164125)
Rizki Purnami Desi
Dosen MKU PAI
: Abdul Fadhil, M.ag.
A.
MANUSIA
1. PENGERTIAN MANUSIA
Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara etimologi, manusia berasal dari kata manu (bahasa Sanskerta), mens (bahasa Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Menurut Quraish Shihab mengutip dari Alexis Carrel dalam “Man the Unknown” mengatakan bahwa banyak kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat sebenarnya manusia karena keterbatasan-keterbatasan manusia itu sendiri. Sedangkan menurut Al Qur’an, banyak istilah-istilah yang digunakan untuk menunjukkan pengertian manusia. Mulai dari istilah basyar, al-insan,an-nas, dan bani adam.
Kata basyar disebut dalam Al Qur’an sebanyak 27 kali.Sesuai dengan QS. Ali ‘Imran [3]:47, kata basyar merujuk pada pengertian
manusia sebagai makhluk biologis yang memberi pengertian kepada sifat biologis manusia yaitu makan, minum, hubungan seksual, dan lain-lain.
Kata al-insan disebut dalam Al Qur’an sebanyak kurang lebih 65 kali yang diklasifikasikan dalam tiga kategori.Pertama,al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS.Al Ahzab [33]:72), kedua al-insandihubungkan dengan sifat negatif dalam diri manusia seperti sifat kikir, iri (QS. Al Ma’arij [70]:19-21), dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS. Al Hijr [15]:28-29). Semua konteks al-insan menunjuk pada sifat psikologis dan spiritual manusia.
Kata an-nas disebutkan dalam Al Qur’an sebanyak 240 kali yang memberi pengertian manusia sebagai makhluk sosial yang bergantung kepada makhluk yang lain.
Sedangkan kata bani adammempunyai pengertian manusia dengan keturunannya. Kata bani adam disebut dalam Al Qur’an sebanyak 8 kali.
A. Penciptaan Adam
Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya seperti yang tercantum dalam QS. At Tin ayat 5: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Adam sebagai manusia pertama tercipta dari komponen-komponen:
1. Tanah, diterangkan dalam QS. Ali Imran [3]:59.
2. Saripati yang tersaring dari tanah (QS. Al Mu’minun [23]:12).
3. Tanah kering seperti tanah tembikar yang terbakar (QS. Ar Rahman [55]:14).
4. Tanah liat kering yang berasal dari lumpur (QS. Al Hijr [15]:26).
5. Air, dijelaskan dalam QS. Al Furqan [25]:54.
6. Roh, dijelaskan dalam QS. Al Hijr [15]:29.
Dari ayat-ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia itu terbentuk dari komponen-komponen yang terkandung dari tanah dan air, serta komponen yang tak kalah penting yaitu roh. Setelah
proses-proses fisik berlangsung dalam penciptaan manusia, peniupan roh merupakan unsur penentu yang membedakan manusia dengan makhluk lain.
B. Penciptaan Hawa
Penciptaan Hawasebagai istri Adam telah dibicarakan secara singkat dalam QS. An-Nisa’ [4]: 1 yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya. Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.Pasalnya mereka tercipta dari tulang rusuk.Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.”(HR. Bukhari Muslim)
3. PENCIPTAAN KETURUNAN ADAM DAN
REPRODUKSI MANUSIA
Menurut hasil diskusi panel tentang Al Qur’anul Karim dan Penciptaan Manusia oleh Sekolah Tinggi Kedokteran YARSI, menyimpulkan bahwa reproduksi manusia dalam Al Qur’an melalui tahapan-tahapan:
1. Sel kelamin
Keturunan manusia diciptakan dari al-ma’ artinya air (QS. Al Furqan [25]:54). Al-ma’ yang dimaksud adalah sperma laki-laki.
2. Pembuahan
Pembuahan yang dimaksud adalah bertemunya sel sperma dengan sel telur (ovum) yang disebut nutfah/zygote.
3. Perkembangan Janin
Selanjutnya nutfah/zygote tersebut akan tumbuh dan berkembang di rahim yakni tempat yang kokoh, tempat yang aman, tempat yang tersedia apa yang diperlukan. Kemudian nutfah tersebut akan menjadi ‘alaqah. Dari ‘alaqah kemudian menjadi mudlghah/embrio. Selanjutnya akan ditiupkan roh.
Masa kehamilan dijelaskan dalam QS. Al Ahqaf [46]:15 yang menyebutkan bahwa masa menyusui ditambah masa kehamilan selama 30 bulan, dengan rincian 24 bulan masa menyusui dan 6 bulan masa hamil minimal.
1. Tujuan penciptaan manusia
Di sini sudah jelas bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah/mengabdi kepada Allah.Pengertian ibadah di sini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut masyarakat pada umumnya, seperti syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji, tetapi seluas pengertian melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya seperti belajar, bekerja, tidak mencuri, dan lain-lain.
2. Fungsi dan kedudukan manusia
Allah telah berfirman dalam QS. Al Baqarah [2]:30 yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi khalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin yang mengatur dan memakmurkan apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya,
gunungnya, lautnya, perikanannya dan manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SWT.
B
.
ALAM
1. PENGERTIAN ALAM
Berbicara tentang alam, pandangan manusia terbagi menjadi dua yang saling kontradiktif. Pertama, alam terjadi secara kebetulan, tanpa ada yang menciptakan.
Dalam Al Quran kata ‘alam seakar dengan kata ‘ilm (pengetahuan) dan ‘alamah (tanda). Kata alam dengan ‘ilm (pengetahuan) ini menjelaskan bahwa manfaat yang terkandung dalam alam baru bisa diperoleh bila manusia mempunyai ilmu dan teknologi. Demikian pula kata alam dengan ‘alamah (tanda) yang menekankan bahwa alam semesta menjadi ayat-ayat (tanda-tanda) sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia. Maka siapa yang dengan bersungguh-sungguh melakukan penelitian terhadap alam dengan sikap apresiasi terhadap alam itu sendiri akan mengantarkannya kepada kenyataan bahwa alam sebagai tanda-tanda adanya Allah SWT.
2. KONSEP ALAM SEMESTA
Al Qur’an dapati kesimpulan yang cukup besar peluang kebenarannya bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalam Al Qur’an. Gambaran jelasnya, bahwa semua proses alam semesta ini mengikuti dan mengekor pada segala yang tertuang dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya oleh manusia.
Dengan kata lain, kejadian dunia ini adalah sebagai “cermin manifestasi” dan “kenyataan lahir” dari rencana Allah yang sebenarnya sudah diberitahukan kepada manusia lewat Al Qur’an, sebelum kejadian tersebut terjadi, dengan tidak ada tekanan apakah manusia mau atau tidak memahaminya guna mendapatkan takwil isyarat-Nya.
Al Qur’an diturunkan bukan hanya kepada umat Islam, tetapi sebagai mediator menyampaikan pesan Tuhan Pencipta Alam kepada semua makhluk-Nya. Al Qur’an yang sedemikian sempurna ini memberi kabar dan cerita semua kejadian di alam semesta ini.
Kemukjizatan Al-Qur'an ditandai dengan keorisinilannya sejak diturunkan . Kitab suci ini juga tidak dapat ditandingi oleh siapa pun di dunia ini hingga akhir zaman. Ia tidak akan lekang dimakan pergeseran masa dan dapat diuji dari sudut mana pun juga. Sekarang pun, saat ilmu pengetahuan berkembang pesat, ternyata Al-Qur'an sanggup menjawab tantangan sains modern.
Al-Qur'an dan sains (ilmu pengetahuan) modern. Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk milyaran matahari dengan planet-planetnya, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang pertama kali mengemukakan teori di atas bernama Laplace dari Perancis dan Immanue Kant dari Jerman.
Meskipun demikian, ratusan tahun sebelum ilmuwan itu mengemukakan teorinya, Al-Qur'an telah menyebutkan secara gamblang. sebagaimana tertulis dalam Surat Al Anbiya ayat 30: "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?"
Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).
Artinya : “11. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."
Teori alam semesta ini berasal dari kabut gas yang panas, dapat juga dibaca dalam surat Fushillat ayat 9-12.
Ada beberapa kesimpulan penting yang dapat kita petik dari ayat-ayat di atas,yaitu:
1. Disebutkan bahwa antara langit dan bumi (kosmos) semula merupakan satu kesatuan (ratg) lalu mengalami proses pemisahan (fatg). Perlu ditegaskan di sini, bahwa fatg dalam bahasa Arab artinya memisahkan dan ratg artinya perpaduan atau persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen. 2. Disebutkan adanya kabut gas (dukhan) sebagai materi penciptaan kosmos.
Apabila dikaitkan dengan sejumlah teori seputar terjadinya kosmos menurut sains modern, maka konsep penciptaan semesta yang tertera dalam Al-Qur'an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Adanya kumpulan kabut gas dan terjadinya pemisahan-pemisahan kabut gas tersebut atau dikenal dengan proses evolusi terbentuknya alam semesta, sudah dipaparkan secara jelas oleh Al-Qur'an jauh sebelum sains modern mengemukakannya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah penjelasan tentang proses terciptanya alam semesta menurut ilmu pengetahuan modern.
Semula alam semesta ini terdiri dari satu kumpulan gas, yakni gas hidrogen dan sedikit helium yang berputar secara pelan. Itu terjadi pada zaman kuno, bermilyar-milyar tahun yang lalu. Kumpulan gas tersebut kemudian menjasi potongan-potongan yang sangat besar dan banyak. Ahli-ahli astrofisika (fisika bintang) memperkirakan tiap potongan tersebut besarnya satu milyar sampai seratus milyar kali dari matahari. Sedangkan besarnya matahari sekitar 300.000 kali dari bumi.
3. PENGERTIAN HUKUM ALAM
Hukum Alam (Qauni’ah, Ghair Mathluwwi) atau disebut hukum tidak tertulis, tetapi pastinya melekat pada alam semesta ini dengan kata terbentuk dengan sendiri atas kebesaran Allah swt.
Demikian juga didalam tubuh manusia hukum alam berjalan secara otomatis. Manusia sudah menaati hukum alam itu baik secara sukarela ataupun dengan paksaan, sadar atau tidak sadar seperti hukum alam dalam tubuh tetap berlaku.
Hukum alam memiliki beberapa pengertian, yaitu :
- Ketentuan menurut kodrat alam.
- Hukum dari mulai alam ini terbentuk dan tidak bisa dilanggar.
- Hukum yang ada sejak alam ini terbentuk serta makhluk-makhluk yang ada didalamnya secara alami sudah terbentuk hukum-hukum tersendiri, tatanan hidup terbentuk sendiri. Alam merupakan tempat dimana setiap makhluk hidup berkembang biak, mencari makan dan menentukan hidup. Itu semua hukum alam yang tercipta.
Alam semesta yaitu segala sesatu yang ada di Langit dan Bumi dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung didalamnya merupakan suatu kenyataan yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal dan hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau disebut Al-kaum yang diciptakan oleh Allah swt.
Segala sesuatu yang berada dalam Alam Semesta merupakan ciptaan Allah swt. sebagai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt. dengan segala sifat kesempurnaannya.
4. PENGERTIAN HUKUM AGAMA
Hukum Agama (Qur’aniyah) atau yang disebut dengan hukum tertulis yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Contohnya : Berzikir, Shalat, Zakat, Sabar, Tawakkal, dan menjauhi Zina, Riba, dll.
Hukum agama, artinya hukum yang mengatur segala sesuatu di dunia yang berkaitan dengan agama masing-masing.
Hukum islam, artinya yaitu peraturan dan ketentuan yang berkenaan dengan kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist.
5. PERBEDAAN HUKUM ALAM DAN HUKUM
AGAMA
Adapun perbedaan kedua hukum ini dalam hal reaksi waktu yaitu, reaksi atau akibat hukum Alam jauh lebih cepat dari pada hukum Agama.
Baik hukum alam maupun hukum agama sama-sama mempunyai akibat yang buruk jika manusia melanggarnya. Hukum alam yang dilanggar akan dapat langsung dirasakan akibatnya dan cepat terbukti
6. RELASI HUKUM AGAMA DAN HUKUM ALAM
(Al-Qur’an).
Antara hukum Alam dan hukum Agama, Kedua hukum ini sama-sama bersifat Absolut.
Untuk mengatur keberjalanan alam semesta atau roda kehidupan di Dunia ini, Allah swt. menurunkan beberapa aturan yang dikenal dengan hukum, yaitu hukum Alam dan hukum Agama.
Hukum alam atau hukum Qauni’ah adalah segala aturan yang berlaku pada alam, tidak tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an dan berfungsi untuk mengatur segala hal yang berhubungan dengan alam yang kita kenal secara fisik.
Menguasai berbagai ilmu memerlukan satu lagi nikmat Allah yang disebut dengan hidayah. Ada empat macam nikmat hidayah, yaitu hidayah ilham, hidayah hawas, hidayah ‘Aqli (akal), dan hidayah Ad Din (agama).
Hidayah ilham diberikan oleh Allah kepada semua makhluk-Nya, atau yang disebut dengan insting. Semua bayi yang baru lahir memiliki insting untuk mencari air susu ibunya, hewan dan tumbuhan diberi insting oleh Allah untuk dapat beradaptasi dan bertahan di lingkungannya masing-masing.
Hidayah Yang kedua adalah Hidayah Hawas. Hidayah ini berupa nikmat panca indera. Allah SWT memberikan nikmat ini sebagai salah satu nikmat yang tidak bisa tertandingi. Bayangkan saja betapa susahnya hidup kita jika Allah mengambil nikmat melihat dari kedua mata kita, atau betapa sengsaranya hidup kita jika lidah sebagai indra pengecap rasa tidak bisa lagi merasakan nikmat masakan.
Hidayah yang ketiga adalah hidayah ‘Aqli atau akal. Allah SWT hanya menurunkan nikmat ini kepada umat manusia dan tidak kepada makhluk yang lain, bahkan malaikat sekalipun. Dengan akal, manusia dikaruniai kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan, memilih hal yang baik atau buruk bagi dirinya, untuk terus belajar mencari ilmu dan untuk mengenali pencipta-Nya. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dan selalu menjaga nikmat ini.
Hidayah yang keempat adalah hidayah berupa agama ( Ad Din). Dari seluruh umat manusia yang diciptakan Allah untuk menghuni bumi, hanya sekitar sepertiganya yang mendapatkan hidayah agama berupa Islam. Sebagian di dapat karena keturunan orang tua dan sebagian lagi karena telah dibalikkan hatinya oleh Allah untuk menemukan Islam.
hidayah itu, Allah masih menurunkan nikmat satu lagi yaitu hidayah taufik.
7. KONSEP TAUHID TENTANG ALAM
Konsep tauhid Islam melarang kita untuk mensakralkan atau bahkan menuhankan alam. Islam memberikan petunjuk yang konkrit bahwa alam harus dippandang apa adanya secara objektif dan tidak ada peluang sama sekali untuk mensakralkan alam, karena mensakralkan alam akan berakibat fatal yaitu tersungkur di lembah syirik.Allah berfirman dalam QS. An Nisa’ [4]:48 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
Pemikiran alam sebagai Tuhan pernah dialami oleh Nabi Ibrahim. Sebelum menemukan Tuhan yang sebenarnya, Ibrahim semula memandang alam sebagai Tuhan hingga pada suatu saat ia membebaskan pandangannya yang keliru dan menggantinya dengan ajaran tauhid.
8. PROSES KEJADIAN ALAM SEMESTA
Allah swt telah mengatur semua proses penciptaan bumi. Dan Allah telah memberitahukan kepada umatnya mengenai penciptaan bumi dan alam semesta melalui Al-quran. Kitab suci umat islam inilah sumber dari segala macam ilmu pengetahuan.
Di dalamnya semua ilmu pengetahuan tertulis untuk membantu kita mencari pengetahuan dan terus mengimani isi-isinya. Dalam hal ini saya berupaya untuk sedikit menkaji mengenai ayat dalam al-quran yang membahas megenai penciptaan bumi.
Dalam surat An Naaziat (79) ayat 27 – 33 menerangkan proses penciptaan bumi dan alam semesta. Dalam ayat tersebut tertulis bumi dan alam semesta tercipta dalam enam masa. Masih dalam perdebatan mengenai enam masa yang dimaksud. Entah itu enam tahun, enam hari, enam periode, ataupun enam tahapan. Dalam hal ini kami mencoba mengkaji enam masa yang dimaksud. Tulisan ini kami ambil dari berbagai sumber.
1. Dalam surat Al baqarah ayat 2 dijelaskan:
”Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
Sangat jelas di dalam al quran tidak keraguan seluruh isi di dalamnya. Semuanya isinya telah terbukti berdasarkan alam yang telah ada, dan juga melalui ilmu pengetahuan. jika kita terus berpegang teguh pada Al Quran insya Allah kita termasuk orang yang bertaqwa.
2. Al quran tidak hanya untuk sekadar di baca, namun diperlukan pengkajian lebih dalam mengenai segala macam isi-isinya. Di dalamnya terdapat segala macam ilmu pengetahuan yang bisa terus kita gali.
3. Segala sesuatu mengenai kehidupan di bumi ini, telah diatur oleh Allah SWT. Kita tinggal bertaqwa kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk kebenaran dalam hidup ini.
Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok.:
1. Kelompok pertama beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah.
2. Kelompok kedua dan yang paling diakui saat ini beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau beruba dan sampai saat ini masih terus mengembang/membesar.
Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya big bang, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.
lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan dominan
Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses pengembungan ini energi sinar banyak terpakai dan materi semakin dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari materi dan sinar menjadi sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air. Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, materi dan gravitasi dominan, terdapat differensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola gas masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian berdifferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti, dan bintang itupun mulai bercahaya.
Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran di
ruang angkasa dan makin lama makin besar sehingga terbentuk planet-planet ataupun benda angkasa lainnya selain bintang.
Diperkirakan proses pengembangan alam semesta tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Dimana setiap galaksi satu dan galaksi lainnya saling berjauhan satu sama lain setiap waktunya. Proses ini akan terus berlangsung hingga akhir jaman, dimana alam semesta sudah tidak memiliki energi yang menopangnya lagi dan alam ini sudah mencapai batas akhir dari proses pengembangannya. Hingga akhirnya alam semesta ini runtuh. Tak bisa kita bayangkan kerusakan apa yang akan terjadi ketika bumi, planet yang menjadi rumah bagi manusia, tertimpa reruntuhan alam semesta yang tak terhingga besarnya.
C . HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM
1. ALAM DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA
mudah memahami alam semesta diciptakan dan dikendalikan oleh Allah yang semuanya diperuntukkan pada manusia.
Allah swt. berfirman mengenai penciptaan alam,
Surah Shad ayat 27 :
Artinya:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Surah Yâsin ayat 43 :
Artinya:
“Dan Kami ciptakan untuk mereka (apa) yang mereka kendarai seperti bahtera itu.”
2. MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
Manusia dilahirkan ke dunia hanya membawa diri,tanpa bekal harta. Tidak bisa apa pun kecuali sedikit hal. Namun Allah memelihara dan merawat kita dengan menurunkan kasih sayang-Nya melalui orang lain. Kita memerlukan orang lain. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan tugas besar kita? Allah membekali kita dengan otak (akal, pikiran dan nafsu). Itulah bekal terbesar kita. Dengan adanya
bekal tersebut, manusia dapat menciptakan budaya, dimana budaya manusia terus berevolusi menuju budaya yang semakin maju dan kompleks.
Selain itu terdapat kemuliaan lain yang Allah berikan kepada manusia, yaitu sebagai berikut:
a. Allah telah memuliakan eksistensi manusia dari semua makhluk yang lain, baik itu secara struktur tubuh maupun psikologis
b. Allah memuliakan manusia dengan memberikan kemampuan untuk menundukkan sumber daya alam yang ada di bumi dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di bumi dengan baik.
c. Allah memuliakan manusia dengan kemampuan untuk menilai dirinya sendiri. Manusia pun dapat mangarahkan semua perilaku dan apa yang ia kerjakan. Dengan kemampuan inilah, manusia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah ia lakukan selama hidupnya.
tidak bertindak sewenang -wenang kepada semua makhluk sehingga hubungan yang selaras antara manusia dan alam mampu memberikan dampak positif bagi keduanya. Oleh karena itu manusia diperintahkan untuk mempelajari dan mengembangkan pengetahuan alam guna menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalam pelajaran ekologi manusia, kita akan dikenalkan pada teori tentang hubungan manusia dengan alam. Salah satunya adalah anthrophosentis. Di sana dijelaskan mengenai hubungan manusia dan alam. salah satu bentuknya adalah anthoposentris. dimana manusia menjadi pusat dari alam. maksudnya semua yang ada dialam ini adalah untuk manusia. Kalau dipikir-pikir emang benar sih. buat apa coba, ada sapi, ikan, padi, kalau bukan untuk makanan kita. buat apa ada kayu, batu, pasir, kalau bukan buat bangunan untuk manusia. buat apa ada emas, berlian kalau gak dipakai oleh manusia sebagai perhiasan.
Allah SWT. juga menjelaskannya dalam Al Qur’an, bahwa semua yang ada dialam ini memang sudah diciptakan untuk kepentingan manusia.
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (al baqarah: 29)
Tapi berbeda dengan anthoroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa yang memiliki hak tidak terbatas terhadap alam, maka islam menempatkan manusia sebagai rahmat bagi alam.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(al anbiyaa’:107)
walaupun kita diberi kelebihan oleh Allah atas segala sesuatu di alam ini, tapi kelebihan itu tidak menjadikan kita sebagai penguasa atas alam dan isinya. Karena alam dan isinya tetaplah milik Allah. Kita hanya diberikan kekuasaan atas alam tersebut sebagai pengelola dan pemelihara, dan pemakmur.
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al an’am:141)” kita tidak boleh berlegih-lebihan dalam memanfaatkannya, sehingga menimbulkan kerusakan. seharusnya semua yang ada dialam ini kita jadikan sebagai sarana untuk berpikir akan kebesaran Allah SWT.
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.(ar ra’du: 4)”
Ada fungsi utama manusia di dunia, yaitu 'abdun' dan khalifah Allah dibumi.Esensi dari 'abdun' adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada dan kecenderungan kepada perbuatan fasik.Sebagaimana firman Allah, faalhamaha fujuroha watakwaha.Artinya "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia kefasikan dan ketakwaan".Dengan kedua kecenderungan tersebut Allah berikan petunjuk berupa agama sebagai alat manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Untuk itu Allah berfirman "wahadainahu najdaini"."Aku tunjukan kamu dua jalan".Akal memiliki kemampuan untuk memilih salah satu yang terbaik bagi dirinya.
Fungsi yang kedua sebagai Khalifah Allah di bumi, ia punya tanggung jawab untuk menjaga alam.Manusia diberikan kebebasan untuk memanfaatkan sumberdaya.Oleh karena itu perlu adanya ilmu dalam memanfaatkan sumberdaya agar tetap terdapat keseimbangan dalam alam.
Kerusakan alam lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri.Sebagaimana firman Allah dalam Qs.Arrum 41.
Artinya: “41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Untuk melaksanakan tanggung jawabnya, manusia diberikan keistimewaan berupa kebebasan untuk berkreasi sekaligus menghadapkan dengan tuntutan kodratnya sebagai makhluk psikofisik.Namun ia harus sadar akan keterbatasannya yang menuntut ketaatan dan ketundukan terhadap aturan Allah, baik dalam konteks ketaatan terhadap perintah beribadah secara langsung (fungsi sebagai abdun) maupun konteks ketaatan terhadap sunatullah (fungsi sebagai khalifah).Perpaduan antara tugas ibadah dan khalifah inilah yang akan mewujudkan manusia yang ideal yakni manusia yang selamat dunia akherat
bingkai sumber pengetahuan berdasarkan urutan kebenarannya sebagai berikut : Al-Qur’an dan as-Sunnah : Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala vested interest apapun, karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat NYA dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal.
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat manusia adalah makhluk biologis, psikologis, dan sosial yang mengemban tugas sebagai hamba Allah (QS. Adz Dzariyat [51]:56) dan fungsinya sebagai khalifahdi bumi (QS. Al Baqarah [2]:30)
yang memiliki kewajiban memakmurkan dan mengatur segala sesuatu yang ada di bumi ini untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri.
Allah menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kepentingan manusia.Sudah seharusnya manusia menjaga dan melestarikannya.Konsep tauhid Islam melarang kita memandang alam secara berlebih-lebihan atau bahkan menyembah dan mensakralkan karena itu dapat membawa kita ke lembah syirik yang tidak terampuni. Na’udzubillah.
Manusia diberi hidup oleh Allah tidak secara outomatis dan langsung, akan tetapi melalui proses panjang yang melibatkan berbagai faktor dan aspek. Ini tidak berarti Allah tidak mampu atau tidak kuasa menciptakannya sekaligus. Akan tetapi justru karena ada proses itulah maka tercipta dan muncul apa yang disebut “kehidupan” baik bagi manusia itu sendiri maupun bagi mahluk lain yang juga diberi hidup oleh Allah, yakni flora dan fauna.
Kehidupan yang demikian adalah proses hubungan interaktif secara harmonis dan seimbang yang saling menunjang antara manusia, alam dan segala isinya utamanaya flora dan fauna, dalam suatu “tata nilai” maupun “tatanan” yang disebut ekosistem. Tata nilai dan tatanan itulah yang disebut pula “moral dan etika kehidupan alam” yang sering dipengaruhi oleh paradigma dinamis yang berkembang dalam komunitas masyarakat disamping pengaruh ajaran agama yang menjadi sumber inspirasi moral dan etika itu.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim
Mansoer, Hamdan. 2004. Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Jakarta : DIKTI.
Zuhairini, dkk, 1991. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara,.
http: ferdahartanti.blogspot.com
www. untukku.com
http: koesandi. Wordpress.com
http: /atd. eprints. ums.ac.id
http: dkmfahutan. Wordpress.com
http://www.anekamakalah.com
Supadie, Didiek Ahmad – Sarjuni, Pengantar Studi Islam (Edisi Revisi), (Jakarta: Rajawali Pers, 2011).